Beautiful Stranger [Chapter One]

Beautiful Stranger

“SENA, kau tidak perlu melakukan ini.”

Suara Amy memenuhi isi kepala. Aku pernah dengar sebuah teori yang mengatakan bahwa manusia akan selalu mengingat kalimat terakhir yang diucapkan oleh lawan bicaranya. Dan itu memang benar, Amy mengatakan itu di bandara beberapa belas jam yang lalu saat ia mengantarku.

Bukan aku yang merasa berat meninggalkannya meskipun itu benar, tetapi Amy yang jauh lebih cemas melepasku dari pengawasannya. Ia tak pernah membayangkan bagaimana harus membiarkanku yang kikuk, labil, dan temperamen ini pergi menyeberangi samudera seorang diri. Ia membutuhkan satu pil obat penenang ketika aku memberitahunya ingin kembali ke Seoul.

Seumur hidupku, sudah tiga kota di tiga benua di dunia ini yang kutinggali yakni Seoul, Vancouver, dan Paris. Terdapat banyak kisah di antara mereka dan sejauh ini kutemukan kenyamanan di Perancis. Mendapatkan seorang sahabat seperti Amy adalah hal paling indah yang pernah kumiliki di dalam hidup. Gadis cantik bermata hijau keturunan Perancis-Inggris itu memperlakukanku seperti saudari kandungnya. Padahal aku tak jauh berbeda dengan seorang pengemis saat menginjakkan kaki di Paris.

Memakan waktu belasan jam untuk terbang dari Perancis ke Korea Selatan dan itu tidak terlalu sulit bagiku. Namun ketika turun dari pesawat dan menginjakkan kaki di tanah kelahiran, ada sesuatu yang mengganjal, muncul perasaan khawatir bagaimana aku akan tinggal di sini. Tidak ada yang kukenal kecuali mantan suami ibuku. Ya, ayah kandungku. Terakhir bertemu dengannya ketika umurku masih delapan tahun, sebelum ibuku memenangkan hak asuhku dan membawaku ke Vancouver, Kanada. Lima belas tahun terpisah, seperti apa wajahnya saat ini?

Kuhirup udara sedalam-dalamnya. Suara-suara bising berbahasa Korea terdengar merdu di telinga. Kurasakan orang-orang berlalu-lalang di sekitarku. Terasa sangat familier meski tak satupun dari mereka yang kukenal. Cahaya matahari merambat masuk melalui dinding kaca gedung Incheon Airport yang mendarat lembut di wajah, berusaha menyambutku.

Aku kembali, terima kasih untuk sambutan kecilnya, Mentari.

Beberapa waktu lalu aku menghubungi Appa, kubilang akan kembali ke Seoul dan ia tidak dapat menyembunyikan nada girangnya. Yang membuatku lega adalah mendapati kenyataan bahwa ia tidak mengganti nomor teleponnya juga tidak pindah dari rumah lama kami. Namun, ada kekhawatiran lain, bagaimana jika keluarga barunya tidak bisa menerimaku?

Aku tak ingin diasingkan lagi seperti yang terjadi di rumah baru ibuku di Kanada ketika ia menikah dengan seorang pria Korea yang memiliki satu putri. Ibu berhenti memperhatikanku dan lebih peduli pada putri barunya yang lebih muda dariku dua tahun. Anak yang sangat cantik, jauh jika dibandingkan denganku.

Di umur delapan belas aku melarikan diri, memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Paris bermodalkan ide gila dan keberanian yang entah muncul dari mana. Hanya kecintaanku pada dunia fashion yang memberanikanku memeluk banyak mimpi dan terbang ke kota full-of-romantic itu sendirian.

Aroma kental kopi dari “Gloria Jean’s Coffees” membuatku tertarik untuk mampir ke sana. Ketika masuk ke dalam, beberapa pegawai juga mengucapkan selamat datang. Nuansa klasik langsung didapat ketika melihat beberapa meja bulat dan kursi terbuat dari kayu dengan potongan sederhana, bukan sofa ataupun kursi minimalis-modern lainnya. Ruangan yang didominasi dengan warna cokelat ini juga memberikan kesan hangat dan akrab bagi siapapun yang menghabiskan waktunya di sini.

“Maaf, meja-meja sudah penuh. Boleh aku duduk di sini?”

Seorang gadis berambut merah membuyarkan lamunan. Aku mengangguk lalu menarik tasku dari atas meja dan menaruhnya di pangkuan, kembali melemparkan pandangan ke luar jendela besar yang ada di samping mejaku.

“Aku sudah di Incheon.” Pembicaraan gadis itu refleks membuatku menoleh, ia menempelkan ponsel ke telinganya. “Jadi menjemputku tidak?”

Sambil menyesap Chamomile Tea, kupalingkan lagi wajahku menikmati pemandangan orang berlalu-lalang menyeret koper-koper besar mereka di balik jendela.

Aku sangat suka aroma kopi, tapi sayang tidak bisa meminumnya. Tubuhku tak kuat terhadap kafein. Jika memaksakan diri untuk minum bisa terjaga semalaman.

Dulu pernah mencoba menenggak seteguk Americano. Akibatnya, aku tak bisa tidur semalaman dan hampir melewatkan ujian penting keesokan harinya karena mengantuk. Sejak saat itu aku bersumpah takkan pernah lagi menyentuh kopi dan berbagai jenisnya. Yang tak kalah konyol, aku bahkan pernah hampir pingsan karena pusing setelah memakan permen kopi di kelas Desain Pola.

“Kau penggemar Onew?”

Pertanyaan itu membuatku tersentak. Aku lupa ada seseorang di hadapanku. Ia melirik gantungan ponselku yang tergeletak di atas meja. Aku buru-buru memasukkannya ke dalam tas.

“B-bukan.”

“Dia pasti senang memiliki penggemar secantikmu,” godanya.

“Ini tidak seperti yang kau pikirkan.”

Ia mengangguk-angguk dengan ekspresi menyebalkan. “Akan kusampaikan padanya kalau ia memiliki penggemar yang sangat cantik.”

Mau tak mau aku menatap matanya. Aku baru sadar kalau dia gadis yang sangat cantik, matanya berkilat penuh gairah. Rambut lurusnya yang berwarna kemerahan menjuntai indah di punggung. Bando beludru hitam mempermanis penampilannya. Selera fashionnya juga tidak buruk.

Inilah mengapa aku tidak suka bergaul. Ada banyak tipe manusia yang senang mencampuri urusan orang lain. Itu melanggar privasi menurutku, bukan membantu.

Kualihkan tatapanku ke minuman. “Maaf, kurasa ini bukan urusanmu.”

“Ah,” ia tertunduk malu, “maaf.”

It’s okay.”

Ia menghabiskan minumannya dan melirik jam. Kemudian ponselnya berbunyi dan buru-buru melihat ke luar jendela. Aku mengikuti arah pandangnya.

Beberapa meter dari kami, berdiri seorang pria bertubuh jangkung dengan syal abu menutupi hampir sebagian wajahnya. Aku tahu di luar sedang turun hujan, tapi menggunakan syal tebal di tengah summer-rain seperti ini kurasa terlalu berlebihan.

“Sudah dijemput. Terima kasih tumpangannya. Senang bertemu denganmu,” pamitnya.

Aku mengangguk.

Ia berjalan ke pintu keluar. Kami bahkan tidak sempat bertukar nama gara-gara debat konyol tadi. Tapi toh tidak penting juga. Jika nantinya kami bertemu, itu takdir.

Gadis itu melompat untuk bisa memeluk pria jangkung yang menjemputnya. Suasana menghangat, ini seperti sedang melihat sebuah adegan drama dari jendela tempat kursiku berada. Pria itu sedikit menurunkan syalnya dari wajah dan mengecup singkat pipi gadisnya.

Tunggu… kurasa aku pernah melihat pria itu. Dia seperti SHINee Minho.

Seorang pria lainnya yang bertubuh sangat tinggi menarik lelaki-yang-diduga-Minho-itu untuk pergi dari sana. Mereka menghilang dari pandangan. Kemudian aku melihat pria berumur sekitar 40-an berdiri kaku di pagar pembatas. Ia mencari seseorang, ekspresinya bingung. Di tangannya terdapat selembar kertas berukuran A4 bertuliskan ‘Kim Sena’.

Itu ayahku.

***

Perjalanan dari bandara menuju rumah adalah hal paling canggung yang pernah kualami. Aku bukan tipe orang yang senang berbicara apalagi mencari-cari topik untuk dibicarakan. Aku lebih suka diam. Sudah kubilang sebelumnya, aku tidak suka bergaul, lebih senang mengasingkan diri karena itu lebih nyaman. Begitupula dengan ayahku, ia memang bukan orang pendiam sepertiku, hanya saja aku mengerti perasaannya saat ini. Bertemu dengan anak gadisnya setelah lima belas tahun terpisah pasti agak sulit untuk memulai pembicaraan. Bahkan jari-jarinya tak berhenti mengetuk-ngetuk stir ketika mobil terjebak dalam traffic light.

Ia mengurangi laju mobilnya, seperti yang selalu ia lalukan―kebiasaannya tidak berubah. Hujan masih tidak berhenti turun, dan inilah pembicaraan konyol kami.

“Hujan,” ujar Appa membuka pembicaraan.

Yeah.”

“Kau suka hujan?” tanyanya.

“Tidak.”

“Oh.”

Seperti itu. Kosong, tidak ada isi, tidak ada unsur makna di dalamnya. Sehingga kami memutuskan untuk menutup mulut dan menyudahi obrolan konyol mengenai cuaca.

Mobil berhenti di depan sebuah rumah yang sangat familier di mataku. Rumah lama kami. Aku sangat bersyukur ia tidak pernah pindah dari sini. Setidaknya kenangan lama kami yang berharga masih tersisa.

Aku keluar dari mobil dan berlari kecil menuju pagar. Air hujan menetes-netes di rambutku. Appa juga berlari menghampiriku dan membuka kunci pagar. Kami masuk ke dalam.

Ketika pintu rumah terbuka, seperti de javu, keping-keping bayangan masa kecilku berkelebat di dalam pikiran. Seharusnya aku tidak terlalu ingat pernah tinggal di sini dengan formasi keluarga yang lengkap karena masih terlalu kecil. Tapi semuanya terasa begitu nyata. Tiba-tiba air mata sudah menggenang di pelupuk mata.

“Selamat datang kembali,” ucap Appa. Aku menoleh dan ia memelukku canggung dengan sebelah tangannya. “Senang bisa melihatmu lagi, Sena-ya.”

“Aku juga senang bisa ketemu denganmu, Appa,” kataku kaku.

“Bagaimana ibumu?”

Seperti ada palu besar tak terlihat yang menghantam keras jantungku.

Aku tidak tahu seperti apa kabarnya saat ini dan tidak mau tahu. Sudah tidak ada lagi rasa simpatik terhadapnya. Dalam beberapa tahun ini aku menganggap sudah tidak memiliki ibu.

Eomma baik-baik saja,” jawabku bohong, “terakhir aku menghubunginya dia bilang sangat sehat.”

Aku tidak pernah menghubunginya ketika sudah menginjakkan kaki di Paris. Ia juga tidak pernah berusaha mencariku.

Aku membawa dua koper dan Appa menyeret keduanya ke lantai atas. Rupanya kamarku masih sama. Sejauh ini kesanku terhadapnya sangat baik. Ia sangat menghargaiku. Tapi aku tidak akan pernah melupakan kesalahan terbesarnya dulu yang sudah menduakan ibuku dan membuat kebahagiaan keluarga kecil kami hancur.

Sebelum naik ke atas, aku berkeliling di lantai bawah. Tidak ada lagi foto keluarga kami terpajang di dinding keluarga. Yang tersisa hanyalah foto-fotoku yang masih kecil terpampang di atas meja kecil di samping televisi. Aku juga tidak menemukan foto keluarga barunya.

“Kopermu sudah kuletakkan di dalam kamar,” teriak Appa dari lantai atas.

“Ya,” sahutku dan buru-buru menyusulnya.

Rasanya mata akan berair lagi karena takjub melihat kamarku yang tidak berubah, kecuali ia mengganti kertas dindingnya dengan warna pastel dan tempat tidur yang lebih besar.

“Kau istirahat saja dulu. Aku harus kembali ke kantor. Sampai jumpa sebelum makan malam.”

Aku mengangguk. “Er, Appa,” panggilku kaku, ia menghentikan langkahnya. “Tidak apa-apa kah aku tinggal di sini? Maksudku… keluargamu…”

Ia tidak menjawab, hanya tersenyum dan mengacak lembut rambutku lalu pergi.

Baiklah kuanggap itu sebagai jawaban ‘tidak apa-apa’. Mungkin keluarga barunya bisa menerimaku untuk tinggal di sini. Semoga saudara-saudara tiriku tidak semenyebalkan Jiyul―adik tiri yang menjadi kebanggaan ibuku.

Aku mulai membongkar koper dan merapikan bawaanku satu per satu ke dalam lemari dan meja rias. Pakaian-pakaian kecil bekasku pun bahkan masih tersimpan di dalam lemari. Ayahku benar-benar membuat memori usang di dalam otakku kembali bekerja. Aku memeluk erat pakaian musim panas bergambar potongan-potongan semangka favoritku. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir ini, aku merindukan keluargaku yang utuh.

Ponsel kutaruh di atas meja rias, gantungan kecil bertuliskan “Onew” berkelotakan.

Onew… aku melihatnya beberapa waktu lalu di Paris saat menghadiri konser SM Town. Mataku tak lepas darinya. Kulit seputih susu, deretan gigi yang memikat ketika ia tersenyum benar-benar membuatku mabuk. Ia adalah salah satu alasan mengapa aku kembali kemari.

Aku melompat ke kasur dan meregangkan tubuh di sana. Jet lag sungguh menyiksa…

Mataku terbuka spontan ketika bau masakan menyeruak ke dalam hidung. Sepertinya seseorang di bawah sedang memasak. Entah sudah berapa lama aku tertidur yang jelas langit di luar sudah gelap.

Aku menarik handuk dari hanger dan menyeret tubuhku masuk ke kamar mandi. Setelah selesai, aku ke bawah menuju dapur. Berjalan pelan-pelan, sedikit gugup bertemu ‘ibu baru’.

Namun di dapur hanya tubuh tinggi besar yang kutemukan di sana menggunakan apron hijau pucat. Itu Appa

“Sudah bangun? Ayo cepat duduk, makan malam segera siap,” perintahnya saat menyadari aku memasuki dapur.

Aku menuruti permintaannya untuk duduk di meja makan.

Ia terlihat sangat telaten mengaduk masakan. Aku tak berhenti memperhatikannya. Suasana senyap, kami saling diam, yang terdengar hanyalah suara gemerisik tumisan daging di atas wajan.

Appa…,” panggilku, “…di mana istrimu? Apa dia tidak pulang karena aku ada di sini?”

Ia menaruh kain serbet di atas meja makan dan meletakkan wajan berisi daging di atasnya. Aku buru-buru mengambilkan nasi untuknya. Ia terlihat sangat senang, seperti baru menemukan teman makan.

“Setelah bercerai dari ibumu, aku belum menikah lagi,” ia mengakui malu-malu.

Benarkah? Lalu bagaimana dengan wanita perusak rumah tangga kami? Ingin sekali menanyakan itu tapi rasanya sangat tidak etis.

“Kudengar ibumu sudah menikah lagi.”

Aku meliriknya singkat. “Hm, benar.”

“Baguslah kalau begitu. Cepat makan sebelum semuanya dingin. Aku senang akhirnya tidak lagi makan sendirian.” Appa terlihat memaksakan diri untuk tidak muram.

Kami mulai makan dalam diam.

“Aksen Koreamu sangat buruk, Sena-ya,” ujar appa tiba-tiba.

“Benarkah? Er, lima tahun kemarin aku tinggal di Paris.”

“Seharusnya itu tidak berpengaruh banyak, kan. Apa sama sekali tidak bicara Korea di sana bersama ibumu?”

Aku membeku. Mata terpaku ke mangkuk tidak berani menatap wajahnya. “Hm… a-aku…”

“Ya sudah, lupakan. Makan yang banyak!”

“Ya. Selamat makan.”

Aku masih ingat bahasa Korea, hanya saja aku jarang memakainya. Selama tinggal di Vancouver pun aku hanya menggunakan bahasa Inggris dengan orang sekitar, karena ibuku tidak mau lagi bicara denganku. Ia bilang melihatku mengingatkannya pada appa dan itu membuat hatinya sakit. Cara terbaik mengubur masa lalunya adalah dengan menikah, dengan begitu ia bisa dengan cepat melupakan appa, termasuk aku.

“Apa rencanamu selanjutnya?” tanya appa membuyarkan lamunan.

“Bekerja. Sebuah perusahaan memanggilku untuk interview.”

“Benarkah? Di mana?”

“SM Entertainment.”

***

Paginya setelah melalui momen sarapan penuh keheningan, appa bersikeras mengantarku ke kantor SM yang berpusat di daerah Gangnam. Aku tidak keberatan. Menyenangkan mendapat tumpangan gratis berhubung aku tidak hafal daerah sini yang berpotensi besar membuatku tersesat. Hubungan kami masih canggung, jadi sepanjang perjalanan kami habiskan dalam diam.

Dari jauh aku sudah bisa melihat bangunan persegi panjang berwarna kuning pucat yang memiliki empat lantai. Tiga puluh jendela yang menghiasi wajah gedung tersebut menarik perhatianku. Bangunan ini terlalu sederhana. Bahkan tidak menarik sama sekali dan tidak merefleksikan kemewahan para artis di dalamnya.

Namun benar apa kata pepatah, “Don’t jugde a book by it’s cover”, bangunan SM memang tidak semenarik bangunan agensi lainnya, tapi lihatlah orang-orang yang bekerja di dalamnya. Dari bangunan tidak menarik itu telah lahir manusia-manusia hebat yang dikenal dunia. Mereka jugalah yang berperan sebagai “jembatan” menciptakan Hallyu Wave di berbagai belahan dunia.

That’s why I chose to work in SM. I love this agency no matter what.

Appa menepikan mobil, dengan hati-hati aku keluar karena tedapat kubangan-kubangan kecil bekas hujan semalam.

“Bertemu saat makan malam?” tanya appa dengan nada sok akrab.

Aku menoleh. “Ya.”

Ia melambaikan tangannya dan mobil melesat pergi.

Aku berbalik menghadap gedung. Tulisan besar ‘SMTOWN’ dengan hiasan tiga bintang raksasa di atas pintu masuk seakan-akan tersenyum menyambutku. Aku pernah melihat gambar itu di internet. Tidak menyangka sama sekali akan melihatnya sedekat ini.

Setelah melewati interkom dan resepsionis di pintu masuk, akhirnya aku duduk di sini, di hadapan seorang pria yang terlihat seumur dengan ayahku. Ia berpakaian sangat rapi, bisa kucium jas yang ia kenakan berharga ratusan dolar.

“Selamat datang di Seoul,” katanya basa-basi sambil memegang selembar kertas yang kuyakini sebagai curriculum vitae milikku. “Kim Sena, benar?”

Aku mengangguk. “Ya, benar.”

“Baiklah,” katanya sambil kembali membaca kertas di tangannya. “Aku sudah pernah mendengar cerita tentangmu. Kau salah satu siswa unggulan di universitasmu di mana beberapa karyamu telah dipakai artis lokal. Kenapa kau tidak mengembangkan kariermu di sana?”

Aku memandangnya seperti orang bodoh. Karena ia benar, aku bisa menangkap maksudnya. Paris jauh lebih baik dari Korea Selatan. Aku sudah meninggalkan kota fashion dunia dan itu bodoh di matanya.

“Aku ingin berkarya di tanah kelahiranku,” jawabku.

Terdapat jeda sedikit. “Oh,” sahutnya dan tidak meneruskan.

“Alasan mengapa aku memilih SM semuanya tertulis di sana.”

Ia mengangguk-angguk sambil terus mengarahkan matanya ke kertas. “Begini,” ujarnya tiba-tiba sambil menatapku. “Pengalamanmu masih kurang jika kau menginginkan posisi sebagai desainer. Lagipula saat ini kami sudah bekerjasama dengan beberapa desainer ternama. Jadi kami hanya bisa memberimu posisi sebagai stylist.”

Tubuhku melemas di kursi.

Sepertinya ekspresi kecewa tergurat jelas di wajahku karena ia menambahkan cepat-cepat. “Aku tahu mungkin posisi ini tidak membuatmu puas, tapi aku ingin kau belajar dari tahap paling awal. Kuharap kau mengerti.”

“Tidak apa-apa.”

Pria itu tersenyum. Ia mengambil beberapa berkas dari dalam laci meja dan menyerahkannya padaku.

“Ini beberapa peraturan yang harus kau ikuti. Silakan dibaca dulu. Jika setuju, tanda tangani kontrak kerja ini!” katanya sambil menyerahkan lagi beberapa lembar kertas.

Peraturan-peraturan yang berjumlah puluhan poin kubaca perlahan. Jika dipikirkan ulang, rasanya percuma sekolah tinggi dan berjarak ribuan mil dari sini tetapi bekerja sebagai stylist. Sedikit memalukan jika Amy mengetahuinya. Tapi akan lebih memalukan lagi jika tidak bekerja dan menggulung diri di balik selimut di rumah.

Akhirnya, aku menandatangani kontrak kerja.

Pria itu mengajakku keluar ruangan untuk berkeliling menunjukkan isi gedung. Beberapa trainee tengah berlatih di beberapa ruangan berbeda.

“Apa tidak apa-apa kalau aku memintamu untuk bekerja hari ini juga? Kami sangat membutuhkan tenaga, ini darurat.”

My pleasure!” sahutku antusias. Tak terbayangkan apa yang harus kulakukan di rumah selama menunggu.

“Bagus. Itu jawaban yang kuharapkan. Kemarilah!”

Ia memintaku memasuki sebuah ruangan besar di mana terdapat enam flower boys di dalamnya. Mereka langsung membungkuk memberi salam pada pria di sampingku.

“Anak-anak, noona ini akan bekerjasama dengan kalian mulai hari ini,” katanya yang berhasil membuat bola mataku hampir melompat. “Sena-ssi, aku memasukkanmu dalam tim EXO-K.”

***

Aku dan beberapa anak-anak super tampan EXO-K melakukan pendekatan dengan mengangkat tema ‘Paris’ sebagai topik pembicaraan.

Kubilang aku tinggal di Paris. Mereka sangat tertarik dengan Paris baik dari segi bahasa, budaya, makanan, dan lain-lain. Bahkan Kai rela tengkurap di atas lantai demi mendengar cerita membosankan dariku. Wajahnya sangat serius, tetapi sangat kekanakan ketika mulai berbicara. Mereka sangat menjagaku sebagai orang baru. Sangat terbuka dan ramah. Secara keseluruhan mereka sangat menyenangkan, baik, sopan, dan jinak.

Aku sempat salah menebak umur leader. Kukira ia seumuran denganku karena sikapnya yang terlalu kolot. Mengejutkan karena ternyata kami memiliki selisih dua tahun. Ia lebih muda dariku.

“Ayo bersiap, Anak-anak!” Panggilan manajer memutus obrolan kami.

Aku buru-buru menghampirinya untuk mengenalkan diri. Ia hanya bilang sudah mendengar tentangku dan mengucapkan selamat bergabung, setelah itu sibuk menyeret anak-anak keluar ruangan.

Hari ini mereka memiliki jadwal di acara “Olympic Welcome Back Concert” yang sengaja diadakan untuk menyambut kepulangan para atlet yang selesai menunaikan tugasnya mengharumkan nama bangsa di London.

Sesampainya di venue, aku dikejutkan oleh barikade penggemar yang berjajar memenuhi halaman belakang gedung area parkir. Kamera dengan lensa berkualitas tinggi sudah siap di tangan untuk membidik gambar para idola yang keluar dari van. Bagiku ini luar biasa untuk ukuran EXO yang baru debut. Mereka benar-benar terlahir untuk menciptakan sejarah.

Hari ini aku tidak melalukan apapun kecuali diam, menonton situasi, ataupun sekedar membawakan beberapa kostum dan aksesoris. Mereka masih belum mempercayaiku melakukan pekerjaan ini, jadi aku diminta untuk melihat bagaimana mereka bekerja.

Kai menghampiriku ketika perform selesai.

Noona,” panggilnya dengan wajah dibanjiri keringat.

“Apa?”

Aku diam. Menonton keringat Kai yang melakukan racing di wajahnya.

      “’Apa’, apanya?” protesnya. “Tolong lap keringatku. Seperti itu…”

      Ia memutar bahuku ke arah Chanyeol di mana anak itu sedang dilayani seorang coordi juga.

“Kau ingin aku melakukan itu?” Mataku membesar dua kali lipat. “Oh, baiklah,” tambahku buru-buru setelah melihatnya merengut.

Kai memilin rambutku.

“Betapa beruntungnya noona yang satu ini. Semua penggemar memburu keringatku dan kau mendapatkannya dengan mudah.”

“Apa?!” protesku galak.

Si Dancing Machine tertawa keras. “Bercanda.”

Aku mendelik memalingkan muka untuk menahan tawa. Anak ini… luar biasa nakal dan tatapan matanya sangat mengganggu.

Suho adalah member terakhir yang masuk ke ruangan. Ia mengambil beberapa helai tisu dan membersihkan wajahnya sendiri. “Seseorang datang dari Amerika, kita diundang ke perayaannya,” katanya kepada para member.

Call!” teriak mereka semua.

“Si-siapa?” tanyaku.

Suho berjalan mendekat dan berbisik. “Kim Jira.”

“Siapa Kim Jira?”

“Pacar Minho-hyung,” sahut Kai.

Minho… SHINee Minho? Oh, jadi dia punya pacar. Jika kita pergi ke sana, apa akan ada Onew juga? Tapi pertanyaannya, apa aku diundang?

***

God bless, Kim Junmyeon!

Ia mengajakku ke perayaan dengan dalih agar aku lebih cepat beradaptasi dengan anak-anak. Ide bagus. Aku semakin menyukai anak ini. Pemimpin grup yang baik.

Perjalanan benar-benar menyenangkan. Chanyeol dan Baekhyun sangat berisik, mereka tak berhenti bernyanyi, rapping, dan beatboxing. Entah batrai apa yang mereka kenakan, semangat mereka tak pernah surut. Leader yang duduk di kursi co-diver hanya pasrah.

Sekitar pukul sembilan kami tiba di tempat tujuan. Chanyeol mengalengkan lengannya di bahuku dan menyeretku masuk ke dalam dengan langkah besarnya.

Excuse me, Park Chanyeol, aku noona stylist-mu!” geramku dan Chanyeol hanya tertawa.

Pintu café terbuka. Semua orang yang ada di dalam menoleh ke arah kami. Aku bisa melihat Jonghyun dan Taemin duduk di salah satu meja. Mereka masih mengenakan kostum panggung, sangat tampan. Benar-benar berbeda dan terlihat mencolok. Sedangkan aku terjepit di antara lengan dan ketiak Chanyeol. Rasanya ingin menangis, ini terlalu memalukan.

Minho keluar dari dapur tertutup, ia membawa secangkir minuman dan duduk bersama teman satu timnya. Mataku menyapu ruangan. Dia tidak di sini.

Chanyeol melepaskan sergapannya dariku. Ia berjalan ke sebuah meja diikuti member lain kecuali Suho dan Kai yang memilih bergabung bersama SHINee.

Pintu terbuka, denting lonceng terdengar.

Belum sempat aku menoleh, seseorang menghamburku dengan pelukan. Deru napasnya terdengar keras di telingaku. Ia tak memberiku kesempatan untuk berbalik karena tangan kuatnya memeluk tubuhku erat. Ini pelukan belakang terkuat yang pernah kudapatkan.

“Akhirnya kau kembali,” katanya.

Jantungku berdegup kencang. Aku mengenali suara ini. Ia mengeratkan pelukannya.

Bola mataku hampir keluar menatap liar orang-orang di ruangan untuk mencari petunjuk apakah pria yang sedang memelukku ini sesuai dengan yang kupikirkan.

Jonghyun berdiri dari kursinya.

“Onew-hyung apa yang kau lakukan?”

“…”

GOTCHA!

-to be continued

Author’s Note:

Ada kejanggalan mengapa Jira tidak begitu terkejut ketika mengetahui Sena memiliki gantungan ponsel bertuliskan “Onew”. Nadanya terdengar biasa saja, santai, bahkan sempat menggoda Sena. Gadis tipe Jira biasanya tidak akan sanggup menyembunyikan antusiasmenya pada hal yang ia minati. Onew adalah salah satu member yang paling berpengaruh dalam hidupnya, tentunya ia memiliki minat pada Onew. Dan menemukan seorang desainer terbaik Paris menyukai Onew pastinya sedikit banyak akan membuatnya ‘berisik’ di hadapan Sena. Tapi ini tidak…

Tidak ada yang tahu kalau Jira tidak sengaja melihat gambar Sena di salah satu majalah mode Paris milik ibunya saat masih di Amerika. Dalam gambar itu Sena menenteng ponselnya, gantungan “Onew” terlihat jelas.

Pertemuan pertama mereka di bandara memiliki kesan tersendiri bagi Jira. Karakter kuat yang dimiliki Sena membuatnya menyukai gadis itu.

Beautiful stranger,” batin Jira saat Sena mempersilakannya berbagi tempat duduk.

# Yay, chapter one! Masih menjelaskan asal-usul Sena mengenai latar belakang hidupnya di masa lalu, juga apa yang baru dia dapatkan di masa kini. Jadi SHINee baru muncul di akhir. Hero selalu keluar terakhir ‘kan? Hehe.

# Sampai jumpa tanggal 6 Maret🙂

©2011 SF3SI, Diya.

sf3si-signature-diya

Officially written by Diya, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

98 thoughts on “Beautiful Stranger [Chapter One]

  1. Wow~ udah lama gak baca ff sekeren ini..
    Baru baca udah langsung dapet feelnya, good job thor ^^

    Masalahnya udah mulai kelihatan.. pengenalan tokohnya bagus, bacanya jadi enak😀

    Keren ^^

  2. semua ff yang dibuat sama diya itu jempolan semua…..keren…daebak…awesome….sumpah bagus baenget….. sepuluh jempol…dari dulu saya penggemar dari ff diya walaupun dimulai dari silent reader…mianhae diya but ur ff is awesome!!!!!

  3. aq tau blog nie ada yg rekomendasi baca ff yg ini , dan bener” gg salah deh , aq ikutin ide nya bwt bca , ini emang benran keren padahal bru part 1 tp aq udda suka >.<
    uuu beruntung tuh bssa dipeluk idola nya , huhuhu
    aigoo kai bandel yeh , kkkkk
    next chapt ^^

  4. belum juga selesa baca ff ‘We Walk’ eh udah baca ff yg ini. abis ga sabar baca story onew. banyak yg ngasih rekomendasi kalo ff ini wajib dibaca, makin maksa diri buat baca (curcol deh kayanya, bukan komen.haha #mian)

  5. Omegat ahhh onew kenapa tiba2 meluk si sena dehhh??!!! Bikin penasaran aja nihhh sumpahh tapi keren bgt dehh ssma gaya bahasa authornya dan cara penyampaian keren bgt berasa baca novel 😂😂😂😂

  6. Annyeong author,slm kenal
    Awal q liat jdul ff ini q gk trtarik sbnrnya v stlh bca chapter 1 dan mnurut q ff nya punya penggambran crita yg bgus,mmang q bkn ahlinya dlm tulis mnenulis v q suka cra author menyampaikan cerita
    Ini ff bgus dan smoga chpater selanjutnya mkin mkin bgus lg
    😊😊😊😊😘

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s