You

you

Title: You

Author: Ayachaan

Main cast: Lee Jinki, Kim Eun-hyo (OC)

Length: Ficlet

Genre: Fluff, Romance, Friendship

Rating: PG

A.N: Italic font dan dalam tanda […] artinya alur flashback ya. Pernah di-publish di blog pribadiku (November Rain)

Hai, aku Ayachaan. Selamat membaca yaa, kritik dan saran kalian aku tunggu ^^

==================

YOU

 

Kamu tersimpan dalam kamuflase musim semi*

Kuperhatikan wajahnya yang tenang. Mata sipitnya yang dinaungi alis tebal tertutup rapat. Mulutnya tak mengeluarkan satu kata pun. Dia seolah tanpa kehidupan ketika kau tidak memperhatikan gerakan teratur dadanya yang kembang-kempis. Dia sedang tidur dengan pulasnya.

Kelopak sakura gugur menyentuh hidungku sebelum akhirnya menyapa tanah. Setelahnya, beberapa kelopak sakura kembali berjatuhan, menerpa tubuhku dan tubuh namja di sampingku.

Tiba-tiba sebelah bahuku terasa berat. Kutolehkan kepalaku ke samping kanan dan aku mendapati pundakku menjadi sandaran tidur si namja sipit ini. Aku mengulum senyumku. Pelan-pelan kugerakkan tanganku hingga menyentuh permukaan pipi putihnya yang halus. Aku segera menghentikan kegiatanku tatkala kurasakan gerakan dari tubuhnya. Dia sedikit terganggu, tapi tidak terbangun dari tidurnya.

Seperti inilah hari-hari yang kulewati bersama namja sipit ini. Duduk bersama di bawah pohon sakura sembari mendengarkan musik, membaca bersama atau bercerita tentang apapun yang terjadi di kehidupan kami.

***

Kamu yang menjelajahi hatiku tanpa akhir.

“Aku akan merepotkanmu, Jinki-ya,”

Jinki mencondongkan tubuhnya hingga aku harus mundur selangkah. “Aku tak masalah jika kau yang membuatku repot,” katanya penuh penekanan.

“Tapi—“

“Tidak ada tapi-tapian. Kajja,” potongnya cepat.

Jinki meraih tanganku dan menyematkan jemari kami. Dia menarikku menuju perpustakaan fakultas dan bersedia membantuku mencari bahan makalah diantara ribuan buku tanpa pamrih.

Kupandangi tanganku yang nampak mungil dalam genggamannya. Aku selalu kehilangan kendali atas detak jantungku setiap aku bersentuhan dengan Jinki. Ah, bahkan akhir-akhir ini, ketika Jinki berada sangat dekat saja aku sudah tidak mampu lagi mengendalikan dentuman dalam dadaku.

Lee Jinki, kau namja tak tahu diri yang mengobrak-ambrik keseimbangan detak jantungku!

***

Kamu bernyanyi, lalu menyusupkan melodi ke relung hatiku tanpa permisi.

Denting piano masih menggema dari panggung outdoor di belakang danau Kyunghee Global Campus. Disana seorang namja berkemeja biru muda dengan lengan yang digulung hingga siku sedang duduk di balik sebuah grand piano hitam. Jemarinya yang sedikit gempal menari lincah di atas tuts-tuts hitam dan putih, menghasilkan nada demi nada yang memukau seluruh penonton.

Hari ini adalah perayaan ulangtahun kampus. Beberapa jadwal belajar sengaja dikosongkan, termasuk fakultasku. Aku berdiri diantara sekitar tiga ratus orang, menyaksikan Lee Jinki yang bermain apik di atas panggung. Dia membawakan lagu Lucky dari Jason Mraz, sebuah tembang yang kusukai karena maknanya.

Aku selalu menikmati permainan piano Jinki. Dia tak pernah belajar khusus, namja itu hanya belajar secara otodidak di waktu senggangnya. Namun, aku tak pernah meragukan keahliannya. Dan ketika dentingan piano itu dipadu bersama suara Jinki, maka aku tidak bisa lagi mendengar suara-suara lain kecuali suara Jinki. Dia membuatku tak mampu mengendalikan perasaanku, hingga tanpa kusadari aku telah jatuh terlalu dalam di kubangan asa akan secercah kasih.

.

“Ayo makan mandu,” ajak Jinki ketika kami berkeliling di festival makanan.

Ada beragam camilan khas Korea disini. Dari yang biasanya gampang ditemukan, seperti, Goon Mandu, Dakkochi, Soondae, Jajangmyeon, Odeng, Tteokbokki, dan Kimbab. Hingga makanan khusus seperti Gujeolpan (구절판) yang terdiri atas beberapa sayuran dan daging yang disajikan dalam lapisan panekuk, biasa disajikan saat perayaan dan pernikahan. Juga Sinseollo (신선로) yang acap kali disajikan sebagai menu makanan pada Dinasti Joseon.

Aku mengunyah sepotong mandu ketika Jinki berbisik di telingaku, “Lagu tadi untukmu, Hyo-ya.”

Aku tersedak dan Jinki cepat-cepat menepuk punggungku. Kubuka botol air mineral yang sejak tadi kupegang dan meneguk isinya. Ketika batukku tela berhenti, kurasakan usapan lembut di punggungku. Aku menoleh dan mendapati wajah Jinki sangat dekat dengan wajahku.

“Kuharap kau suka,” katanya.

Dia tersenyum lebar, membuat matanya melengkung lucu.

Aku terkesima menatap Jinki yang telah kembali sibuk mencomot beragam camilan. Tidak ‘kah dia berpikir kata-katanya barusan semakin membuatku menaruh segenggam asa padanya?

***

Kamu, lelaki pertama yang membuatku mengetahui tentang baik-buruk dirimu.

Lelucon milik Jinki itu selalu garing. Kutekankan sekali lagi, selalu! Beberapa orang butuh waktu sekian detik untuk mencerna apa yang dia katakan, sebelum akhirnya menemukan titik lucu dari kata-katanya.

Namun, dari sekian banyak orang tersebut, entah bagaimana aku selalu dapat merespon lelucon Jinki dengan cepat dan tertawa lepas.

“Dum… dumm… dung~,” gumam Jinki.

Aku meletakkan pulpen yang sedari tadi kugunakan untuk mencatat bahan makalah. Inilah sisi lain dari seorang Lee Jinki yang kadang kala membuatku mengelus dada.

“Bisakah kau hentikan gumamanmu itu?” tanyaku langsung.

Jinki mengalihkan pandangannya dari jendela besar di sampingnya dan menoleh padaku. “Kau terganggu?” dia balik bertanya dengan polosnya.

“Aku hanya mendengar suaramu dan itu—“

“Terang saja! Di lantai tiga ruang perpustakaan ini hanya ada kita berdua,” potong Jinki cepat.

“Tsk, justru karena itu. Cobalah untuk diam dan aku akan menyelesaikan catatanku sedikit lebih cepat,” sahutku tak kalah cepat.

Jinki bangkit dari duduknya. “Kutunggu kau di taman saja, ya?” ujarnya sambil menyampirkan tas dan hendak berlalu meninggalkanku.

Aku sigap meraih pergelangan tangan Jinki. “Aku… takut sendirian,” ucapku nyaris tak terdengar.

Jinki kembali duduk dengan tampang sok pentingnya. Aish, dia benar-benar membuatku gemas.

“Kalau begitu bertahanlah dengan gumamanku, Hyo-ya,” titahnya.

Dia terkekeh dan kembali bergumam tak jelas. Sementara aku kembali menekuri catatan dan buku literatur di hadapanku sembari berusaha keras mengulum senyumku.

“Hyo-ya, gwenchana? Mukamu merah,” seloroh Jinki.

Aku menggeram tertahan. Namja ini, dia polos atau sedang mengejekku, eoh? Dia tahu pasti kenapa wajahku memerah dan mengapa dia harus bertanya?

“Lee Jinki,” desisku.

“Haha, lupakan.” Jinki tertawa lepas.

***

Kamu yang tak pernah membuatku berpikir untuk pergi dari sisimu barang sejengkal.

            “Ini es krimmu.” Jinki menaruh satu cup es krim vanilla di hadapanku. Dia duduk di sampingku dan mulai menyantap es krim cokelatnya.

Kami sedang duduk di sudut siktang yang lumayan sepi. Hal ini karena jam makan siang baru saja lewat beberapa menit yang lalu.

Gomawo,” ucapku dan disahut Jinki dengan anggukan.

Jinki tahu apa yang ingin kusantap di siang hari seperti ini. Kecuali saat musim dingin, es krim selalu jadi pilihan camilan kami sebelum menyantap makan siang.

Mungkin banyak orang mengira aku dan Jinki adalah sepasang kekasih. Namun, bukan hubungan seperti itu yang terjali antara kami. Kami berteman, sangat dekat sejak di bangku sekolah menengah pertama.

Saat itu, banyak gadis yang menaruh hati pada Jinki, namun dia tak pernah menerima setiap pernyataan cinta yang datang padanyaentah karena apa. Lalu tanpa kusadari, aku menjadi salah satu dari gadis-gadis itu. Aku jatuh cinta pada sahabatku sendiri. Namun, tak perlu berselang lama, aku tahu perasaanku bertepuk sebelah tangan. Semua itu berawal dari sebuah percakapanku bersama Jinki di suatu sore ketika kami duduk di tingkat pertama sekolah menengah atas.

            [“Kau benar-benar terkenal di kalangan wanita,” kataku sembari duduk santai di atas ayunan.

            Jinki yang tengah berayun di sampingku sontak berhenti dan menatap tajam padaku. “Kau juga sangat terkenal di kalangan kakak kelas,” balasnya.

            Aku tergelak. Tiba-tiba saja terlintas sebuah pemikiran di benakku. “Aku tahu itu. Ah, jika suatu hari nanti salah satu dari mereka adalah pasanganku, bagaimana ya?” tanyaku—lebih terdengar seperti pertanyaan untuk diri sendiri.

            Aku tersentak ketika Jinki mengelus rambutku dengan lembut. “Jika saat itu datang, aku akan menjadi orang pertama yang memberi lelaki itu pelajaran jika dia berani menyakitimu,” jawabnya dengan senyum khasnya.

            Aku ikut tersenyum walau hatiku terasa sedikit sesak. Bukankah kata-kata Jinki barusan sudah merefleksikan perasaannya terhadapku?]

 

“Kau masih saja seperti dulu, Hyo-ya,” kata Jinki.

Aku mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

Jinki tidak menjawab. Dia malah merubah posisi duduknya hingga sepenuhnya menghadapku. Aku semakin bingung dengan perilakunya. Tidak biasanya Jinki seperti… he-hei! Apa ini? Kenapa wajah Jinki semakin mendekat?

Aku menahan napas ketika hidungku terantuk ujung hidung bangir Jinki. Aku memejamkan mataku ketika jarak wajah kami semakin menipis. Detik berikutnya kurasakan sesuatu menusuk-nusuk sudut bibirku. Heh? Kenapa bukan kelembaban bibir Jinki yang kurasakan?

Aku sigap membuka mataku. Dan aku terperangah begitu mendapati Jinki duduk di depanku sembari mengarahkan ujung sumpitnya ke wajahku. Tsk, pasti ujung sumpit tadi yang menusuk-nusuk sudut bibirku. Tapi tunggu, kenapa aku merasa berbeda ya?

Kuperhatikan pakaian Jinki, dia memakai kemeja kelabu dan cardigan biru gelap. Berbeda jauh dengan dia beberapa saat lalu—ketika dia ingin… ingin… yah, itu. Mataku bergerak ke bawah, meneliti apa yang tersaji di hadapanku. Sekotak bento? Bukankah tadi aku makan es krim? Bagaimana mungkin dua cup es krim berubah menjadi sekotak bento hanya dalam hitungan detik?

“Tsk, Hyo-ya, ada apa denganmu? Jangan bingung seperti itu,” decak Jinki, dia telah menurunkan sumpitnya dari wajahku.

Aku mendelik pada Jinki. “Apa maksudmu?”

Jinki tidak mengindahkan pertanyaanku, dia malah balik bertanya dengan wajah gelinya. “Kau kenapa? Kau tidur sambil duduk sementara aku mengambilkan makanan. Dan ketika aku datang, kau memajukan bibirmu seperti ini,” Jinki memajukan bibirnya secara berlebihan—sengaja untuk mengejekku.

Aku mendengus. Jadi semua hal-hal manis barusan hanya bunga tidur? Sebuah mimpi yang tercampur dengan kejadian-kejadian kecil bersama Jinki.

“Kau mimpi berciuman ya?” tanya Jinki. Wajahnya nampak menyiratkan keingintahuan yang besar.

Aku menggigit bibirku menahan malu. Bagaimana bisa aku bermimpi seperti itu di hadapan Jinki? Oh, Tuhan….

Kudengan Jinki menahan tawanya. “Benar ‘kan tebakanku? Kau mimpi berciuman dengan siapa, Hyo-ya?”

“Tsk, berhenti bertanya tentang hal itu, Lee Jinki,” delikku.

Jinki masih berusaha menahan tawanya. Tiba-tiba dia berdiri dan kejadian selanjutnya berlangsung dengan sangat cepat, hampir tak terdeteksi oleh diriku sendiri. Jinki mencondongkan tubuhnya ke arahku, lalu mengecup kedua belah bibirku dengan sangat lembut.

“Agar kau tidak harus bermimpi, Hyo-ya,” ucap Jinki tepat di depan wajahku.

Dia kemudian berlalu begitu saja sembari berujar santai, “Aku mau mengambil air minum dulu.”

Aku masih terpaku. Sisa-sisa kelembutan Jinki serasa masih menempel di permukaan bibirku. Dan detik berikutnya aku baru menyadari satu hal. Lee Jinki, kau mencuri ciuman pertamaku!

***

EPILOG

            Jinki berlalu dari hadapan Eun-hyo yang masih terpaku. Dia berusaha meredam detak jantungnya yang tak terkendali. Jinki tidak pernah berbuat senekad ini sebelumnya, dia selalu menjaga perilakunya di hadapan Eun-hyo. Namun kali ini, Jinki membiarkan instingnya yang bertindak.

Diam-diam Jinki menarik secarik kertas dari saku celananya dan membacanya dalam diam.

            Kamu tersimpan dalam kamuflase musim semi*

            Kamu yang menjelajahi hatiku tanpa akhir.

            Kamu bernyanyi, lalu menyusupkan melodi ke relung hatiku tanpa permisi.

            Kamu, lelaki pertama yang membuatku mengetahui tentang baik-buruk dirimu.

            Kamu yang tak pernah membuatku berpikir untuk pergi dari sisimu barang sejengkal.

You by Kim Eun-hyo.

 

            Jinki mencuri kertas itu dari catatan kuliah Eun-hyo. Entah mengapa dia begitu penasaran ketika melihat kertas itu terselip di antara lembaran diktat yang dia pinjam dari Eun-hyo. Ketika membacanya, Jinki tahu siapa yang sedang dibicarakan Eun-hyo dalam puisi itu; dirinya.

Jinki tahu bahwa Eun-hyo—entah sejak kapan—berhenti memandangnya sebagai sahabat. Dia sadar gadis itu telah memandangnya sebagai namja. Dan Jinki siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi setelah kejadian suddenly-kiss barusan. Jika harus meresmikan hubungan mereka, Jinki siap. Dia sudah membuang segala bentuk keraguannya selama ini. Dia siap menjalin hubungan satu tingkat lebih tinggi dari biasanya bersama Eun-hyo.

FIN

Ayachaan #121230

*) dikutip dari Hanami by Fenny Wong.

Fluff gagal ya ini? Mianhae, kasih aku masukan ya, bagian mana yang bisa kuperbaiki J

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

33 thoughts on “You”

    1. haha… fluff banget ya ini XD
      pengen kayak Eun-hyo, boleh kok bayangin aja kamu Eun-hyo *saran sesat*
      Makasih ya untuk komen dan udah sempetin baca 🙂

  1. masuk daftar fanfic fluff favorit aku. nunjukin kriteria dari “apa-itu-fluff” feel nya dapet,ringan,singkat dan bikin readers bisa ngerti ending dari ceritanya tanpa musti dijelasin secara detail + main cast nya jinki !! ultimate ❤ keep writing yah 🙂

    1. Aduh, aku jadi bingung mau balas komen kamu gimana.. hehehe
      tapi makasih banyak ya karena udah suka cerita ini. syukur banget kalo ternyata mampu mewakili fluff dengan baik. thank you 🙂

  2. … Shock berat pas baca Jinki nyium Eun Hyo. Soalnya aku nggak mikir ada bagian kissnya (?)

    Sweet fic~ um, apa ya? Kayaknya udah bagus dan… Kayaknya udah pas, nggak ada bagian yang perlu dikritik. Simple and cute FF~

    Keep writing *thumbs up*

    1. salahkan Jinki karena dia yang nyium Eun-hyo terus kamu shock! haha
      Makasih yaa udah suka dan sempetin baca plus lagi udah ninggalin komen 🙂

    1. *sembunyiin Jinki* jangan dicium Jinkinya, dielus-elus aja ya (?)
      hehe.. makasih yaa udah ninggalin komen 🙂

    1. Hehe… cie Jinki dibilangin Swanty polos XD
      Sequel? eum, sampai sini aja nggak apa-apa ya? hehe
      Makasih udah ninggalin komen 🙂

  3. Ayaachaann, ini manis, saking manisnya aku malah ingin nangis,

    Lucky I’m in love with my best friend… Lalalala

    bikin lagi yg beginian ya…

  4. gagal. nggak kok. cuman mungkin dari pada fluff lebih nyangkut ke hjjf kali ya. dikutip dari komik? bagus kok. keep writing ya!

    1. bukan dikutip dari komik chingu, tapi dan novel Hanami karya Fenny Wong dan yg dikutip sebenarnya cuma kalimat “kamu yg tersimpan dalam kamuflase musim semi” aja 🙂
      makasih yaa udah sempetin baca dan ninggalin komen

  5. telat enggak nihh komen nya? jujur aku suka suka bangetttttttttttt
    dan sedih banget ternyata enggak bisa lebih lama bacanya 😦
    komentarnya, enggak tau kenapa, ff fluff nya kurang ngena ehehehe

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s