Toy Store – Part 1

Toy Store [Part 1]

Sequel of House Next Door

Main Cast: Kim Jonghyun, Lee Jinki, Lee Taemin

Support Cast: Choi Minho, Kim Kibum

Length: Sequel

Genre: AU, Friendship, Horror, Mystery

Rating: General

~~~~~~~~

Malam itu tak lagi sunyi lantaran serangkaian angin mendadak mengamuk tanpa sebab. Lolongannya menggema di relung-relung bangunan yang kosong, kekuatannya menggetarkan kaca-kaca jendela pemukiman warga. Bahkan, koloni awan kelabu yang sedari tadi tenang-tenang saja di angkasa kelam turut berarak mengikuti himbauan angin ke suatu tempat antah-berantah. Ada yang ganjil: dimanakah sang bulan? Langit terlihat seperti mimpi buruk anak-anak yang begitu mencekam tanpa kehadiran siluet keperakan itu.

Bagi sebagian orang, malam itu adalah fenomena biasa yang selalu terjadi di awal bulan pertengahan musim gugur. Bagaimana tidak, ilmu pengetahuan telah mengendap dalam otak mereka hingga kepercayaan lama tak lagi merisaukan. Hal serupa terjadi pula pada satu orang. Seseorang yang termenung-menung di kursi rotan halaman rumahnya, bersama seorang wanita berambut panjang yang bersimpuh di tanah dan merebahkan kepala ke pangkuan orang yang duduk di kursi.

Mata rabun pria itu mengarah pada rerumputan liar yang tumbuh lebat di wilayah teritorinya. Berturut-turut pintu gerbang, jalan setapak, serta patung-patung kecil penjaga kebun menjadi pengamatannya. Malam memang meresahkan, tapi dengan tenang seuntai senandung mengalun dari celah bibirnya. Seolah angin ribut tidak membuat bulu kuduknya meremang, seakan kegelapan total adalah temannya bercengkerama. Ia tenang, mengutak-atik leher wanita itu  menggunakan kedua tangan keriputnya.

“Kang Hyeorin, Kang Hyeorin,” senandungnya berbelok arah menjadi ratapan sebuah nama. “Kang Hyeorin, kenapa kau pergi? Kembalilah pada suamimu, kembalilah pada suamimu.”

Angin mendesau mengikuti senandungnya. Lampu jalan nun jauh disana menyiram beberapa jahitan yang tertanam rapi di leher si wanita, masih baru saja dikerjakan.

“Kang Hyeorin, Kang Hyeorin. Kau sudah sembuh; kembalilah pada suamimu.”

Si wanita perlahan mengangkat kepala dengan gerakan kaku. Ia menegakkan punggung, lantas menoleh ke arah si lelaki. Kedua matanya menyorot biru pucat dan seulas seringai terpatri di bibirnya.

~~~

“Jonghyun-a, tangkap!”

Sebuah bola baseball melayang di udara, lalu jatuh secara tiba-tiba ke puncak kepala seorang anak lelaki yang berjalan ogah-ogahan. Peristiwa ini sontak membuat si anak lelaki menggeram sebal dan menggerutu panjang-pendek ketika memungut bola.

“Payah kau, Jinki. Masa’ melempar bola saja tidak bisa?” Jonghyun mendengus sebagai penutup sindiran pedasnya, lalu menyimpan bola ke dalam tas. Mungkin khawatir teman sepermainannya ini akan melukai orang lain.

Yang ditegur malah terkekeh girang. “Ya, aku memang tidak bisa,” akunya gamblang, membuat Jonghyun makin sebal dibuatnya.

Tetapi kekesalan Jonghyun tidak bertahan lama karena kemudian setetes air jatuh dari langit ke aspal di depannya, tanpa komando disusul sekoloni besar air merangkai hujan yang cukup lebat. Tampaknya cuaca yang cukup panas menyebabkan awan berkondensasi dini. Jonghyun mendorong Jinki ke bawah kanopi sebuah bangunan lawas yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya, hanya agar pakaiannya tidak kuyup diresapi hujan.

“Benar juga, di acara ramalan cuaca pagi tadi mengatakan siang ini akan hujan,” ungkap Jinki lalu mengangguk-angguk seakan baru saja menyelesaikan soal Matematika. Tangannya terulur ke depan untuk memerangkap salah satu tetes hujan ke dalam telapak tangannya.

“Jadi kau bawa payung?” tanya Jonghyun sambil menepuk-nepuk pundak serta celananya, menghalau air yang sudah telanjur bertengger disana. Ia bahkan sudah mengerang sebelum Jinki menggeleng dengan amat polos.

“Tak apa, Jonghyun-a. Besok hari Sabtu; tidak masalah kalau kita sedikit pulang terlambat, kan?”

Jonghyun berpikir sejenak. “Ya,” ia menyetujui dengan berat, kemudian memutar tubuh ke jendela buram tempatnya menyandarkan punggung. Ia harus sedikit berjinjit agar dapat mensejajarkan mata dengan kaca jendela, lalu matanya menyipit. Di dalam gelap sekali, juga penuh debu –tipikal bangunan kuno yang sudah ditelantarkan.

Kendatipun demikian, ia dapat mendeteksi siluet-siluet benda yang ada di dalam sana. Konter kayu panjang berbentuk melengkung berada di sudut terjauh, beberapa rak tanpa punggung ditata di tengah dan pinggir ruangan, serta pigura-pigura kuno yang menjejali dinding. Kandelir penuh karat tergantung di tengah-tengah dan beralih-fungsi menjadi hunian beberapa generasi laba-laba. Tak jauh dari jendela tempat Jonghyun mengintip, satu set kereta mainan lengkap dengan relnya disusun di lantai kayu.

“Ini toko mainan yang dibuka tahun tiga-puluhan,” ujar Jinki tiba-tiba dengan nada misterius, menjawab pertanyaan yang mulai menggelantung di benak Jonghyun. Jonghyun menoleh heran sekaligus takjub, tetapi juga sangsi.

“Darimana kau tahu?”

“Mudah, ada tulisannya disana,” jawab Jinki rileks seraya menuding plang kayu di atas pintu yang juga kayu. Jajaran alfabet membentuk wacana ‘Toy Storesince 1936’ terpatri di permukaan plang, meski sekarang sudah hampir tak terbaca lagi.

“Hish, kupikir kau benar-benar tahu!” sembur Jonghyun. Ia meluruskan pandangan dan menembus bayangan dirinya sendiri di permukaan kaca jendela menuju ruangan luas berlangit-langit tinggi di dalam. Toko bergaya Eropa ini pasti dulunya digandrungi anak kecil karena, jika diperhatikan lebih saksama, beberapa boneka serta mainan masih tertinggal di dalamnya. Bentuknya unik, kualitasnya tak usah ditanya walaupun sudah ditinggal pemiliknya.

“Tapi aneh, ya,” Jinki membuka percakapan sambil memposisikan diri di sebelah Jonghyun, ikut mengintip ke dalam, “Kenapa toko sebagus ini harus tutup, padahal kelihatannya milik orang kaya.”

Jonghyun mengiyakan dengan menyambung, “Dan isinya masih utuh.”

“Hah?”

“Saat bibiku pindah ke Daegu bulan lalu,” Jonghyun menjelaskan, “Semua benda di rumah lamanya ikut diangkut. Jika orang ini pindah, kenapa isinya tidak ikut dibawa?”

Jinki mulai berekspektasi, “Mungkin karena pemiliknya terburu-buru, atau neneknya di desa meninggal hingga ia harus segera kembali kesana.”

“Atau dikejar penagih hutang,” lanjut Jonghyun setelah mengingat berita di televisi tentang usaha yang gulung tikar karena tak mampu membayar hutang pada bank.

“Benar juga. Kau jenius, Jonghyun-a,” decak Jinki kagum. Selagi mereka bercakap-cakap, tak sekali pun mereka bersitatap karena boneka serta mainan yang tersisa di dalam sungguh menggiurkan.

“Tapi setidaknya dia harus membawa mainan-mainan itu, kan?” Jonghyun mengerutkan kening lantaran tak ada jawaban. “Jinki-ya?” Ia memutar kepala ke samping, dan terperanjat melihat Jinki sudah menaik-turunkan kenop pintu masuk.

Ya! Kau sedang apa?” pekik Jonghyun panik dan segera menghampiri Jinki. Ia bertambah panik kala Jinki mulai mendorong pintu menggunakan salah satu bahu. “Kau kesetanan, ya? Ini toko siapa dan kau siapa; kenapa seenaknya mendobrak toko orang lain?” dampratnya kencang.

“Aku ingin tahu kenapa pemiliknya meninggalkan toko dalam kondisi bagus,” kata Jinki keras kepala. “Lagipula aku melihat ada boneka teddy di dalam; aku menginginkannya.”

Jonghyun menarik paksa lengan Jinki agar anak lelaki itu tak lagi bersentuhan dengan pintu –atau jalan masuk lainnya. “Jangan bertingkah gila! Bagaimana kalau polisi melihat kita dan kau dituduh melakukan kejahatan?”

“Kau mulai terdengar seperti ibuku,” gumam Jinki khidmat. Ia menoleh ke arah trotoar dan mendapati hujan tinggal berupa rinai-rinai lembut yang menyejukkan. “Karena hujan sudah reda, kita pulang saja,” usulnya.

“Oh, syukurlah kau sudah sadar,” gerutu Jonghyun. Matanya tanpa sengaja menangkap gambar di salah satu pigura di dalam toko. Foto satu keluarga dengan dua anak laki-laki; ada sesuatu yang familiar dalam foto itu, tapi Jonghyun tak mengerti apa.

“Jonghyun-a? Ayo, kita pulang!”

Jonghyun tergeragap. “Oke, oke. Tunggu aku.”

Seiring dengan cahaya matahari yang mulai bersinar kembali, dua anak lelaki itu berlari-lari kecil menuju rumah masing-masing.

~~~

“Yong Minri …”

“Hadir.”

“Lee Jinki …”

Hening.

“Lee Jinki?” Mata sang ibu guru berpindah dari daftar presensi pada dua puluh enam siswanya yang duduk manis di meja masing-masing. Dan ya, Jonghyun tampak duduk sendirian di belakang sana. “Jinki … dimana dia? Ada yang tahu?”

Keheningan berevolusi menjadi kasak-kusuk ribut. Ada yang bertanya-tanya kemana si murid teladan pergi, beberapa melanjutkan pembicaraan yang sempat terputus karena bel masuk berbunyi. Sisanya tidak peduli, atau masih sibuk menyalin pekerjaan rumah –Jonghyun contohnya.

“Jonghyun-a, dimana Jinki?”

Jonghyun lekas mendongak dan menjatuhkan pensil ke atas meja sekaligus. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, lalu menoleh ke bangku sebelahnya yang masih kosong. Sebenarnya Jonghyun terlambat masuk karena mobil ayahnya mogok di tengah jalan, jadi ia tidak tahu-menahu soal absennya Jinki.

“Saya tidak tahu, Seonsaengnim,” ia memilih jujur.

“Kalian, kan, selalu bersama. Masa’ tidak tahu kemana Jinki pergi?” celetuk seseorang dari belakang. Jonghyun memutar kepala ke arah si pelaku dan melayangkan tatapan tajam.

“Aku bukan pacarnya, mana aku tahu!” balas Jonghyun sengit, merasa tak terima dengan nada meremehkan teman sekelasnya itu. Pernyataannya sontak mengundang tawa dari seisi kelas.

“Anak-anak, tolong tenang!” tegas ibu guru seraya mengetukkan penghapus papan tulis ke mejanya. Setelah dirasa kehebohan cukup mereda, ia menatap Jonghyun dan berkata, “Bisa tanyakan pada Jinki nanti? Katakan padanya, jika memang berhalangan hadir, tolong kirimkan surat atau telepon ke sekolah. Mengerti?”

Jonghyun mengiyakan malas, lalu melanjutkan pekerjaan rumahnya yang belum selesai. Jinki baru absen sehari, kenapa ibu guru harus khawatir? Jonghyun ingat saat dirinya terserang flu berat hingga harus istirahat di rumah selama seminggu dan salah seorang temannya baru bertandang ke rumahnya di hari kelima, saat ia sudah merasa baikan. Terkadang ia tidak mengerti mengapa Jinki harus diperlakukan istimewa oleh semua orang.

Walaupun begitu, Jonghyun tetap menyempatkan diri berkunjung ke rumah Jinki setelah jam pelajaran terakhir usai. Jarak rumah mereka tidak terlalu jauh –hanya beberapa blok– tetapi Jonghyun merasa sudah berjalan amat jauh. Tak heran, matahari bersinar amat cerah di puncak langit, menyalahi aturan karena seharusnya sekarang sudah masuk musim gugur.

Jonghyun mengetuk pintu sebanyak sembilan kali hanya untuk mendengar seruan seorang wanita, “Ha! Tumben kau mengetuk pintu; masuklah! Kenapa kau pulang sangat terlambat, Jinki-ya?”

Jonghyun meringis pelan; perasaannya mulai tidak enak, tetapi perlahan ia membuka pintu dan berkata, “Maaf, tapi aku bukan Jinki, Ajumma.”

Wanita yang berdiri di ambang pintu sekat antara ruang keluarga dengan dapur itu mematung. Berbeda dari Jinki yang pucat, ibunya justru memiliki kulit kecoklatan. Mata sipit di balik kacamata itu berkilat, antara kecewa dan khawatir. “Jonghyun-a? Jinki tidak pulang bersamamu?”

 “Ajumma, aku kesini untuk bertanya mengapa Jinki tidak masuk sekolah,” ungkap Jonghyun bingung.

“Apa? Jinki jelas-jelas pamit akan berangkat sekolah pagi tadi!” tandas ibu Jinki, nadanya meninggi dan tegas. Jonghyun tahu wanita itu tidak bermaksud memarahinya –semua ibu yang terkejut pasti menjadi seperti itu.

“Tapi dia tidak ada di sekolah …” gumaman Jonghyun menggantung di udara. Kelebatan prasangka buruk mulai bergentayangan di benaknya. Di sisi lain, ibu Jinki tampak semakin panik.

“Apa dia kecelakaan? Tapi dia berangkat bersama Appa –jika ada sesuatu, pasti aku akan dihubungi. Lalu dia kemana?” Ibu Jinki mengerem ocehannya begitu melihat teman anaknya masih berdiri di depan pintu, terdiam meski mungkin hampir sama khawatir dengan dirinya. “Oh, masuklah dulu, Jonghyun-a. Aku akan menghubungi suamiku dan kau bisa makan beberapa keping biskuit.”

~~~

“Jinki?” Ibu Taemin mengepit telepon tanpa kabel di bahu dan telinga kanan sementara kedua tangannya berkutat dengan penggorengan dan sebotol merica bubuk. “Tidak, ia tidak datang kesini. Apa? Dia belum pulang? Aku tidak tahu, dia tidak kesini … ha? Taemin?”

Taemin menoleh dari kertas gambarnya begitu mendengar dirinya disangkut-pautkan. “Ada apa, Eomma?”

“Jinki hyeong tidak datang kesini, kan?” ibunya meminta konfirmasi, lalu kembali berbicara pada pihak seberang setelah mendapat gelengan dari Taemin. “Tidak, aku yang menjemput Taemin tadi. Oh, oke. Semoga dia baik-baik saja. Sampai jumpa.”

“Jinki hyeong kenapa, Eomma?” Taemin mengulang pertanyaan setelah ibunya meletakkan telepon di konter. Baru kemarin dirinya, Jonghyun, dan Jinki bermain ke perumahan sebelah untuk melihat kucing berbulu lembut yang sudah sering mereka lihat saat pulang sekolah.

“Dia belum pulang sampai semalam ini,” ungkap ibunya dengan nada menyesal. “Kuharap dia tidak tersesat di suatu tempat –oh Tuhan, hindarkanlah anak baik itu dari segala bahaya.”

“Kenapa belum pulang?” tanya Taemin polos.

“Karena itulah ibu Jinki hyeong sedih; karena tidak tahu mengapa Jinki hyeong belum pulang,” jelas sang ibu sabar. Wanita itu memutar kenop kompor hingga mati dan berbalik menghadap Taemin. “Taemin berjanji tidak pergi tanpa izin Eomma, kan?”

“Tentu, Eomma. Aku tidak akan pergi kemana-mana tanpa Eomma,” jawabnya tegas, nyaris tanpa berpikir. Ia tidak bisa membayangkan ibunya sedih lantaran dirinya keluyuran sampai pukul delapan malam.

Kemudian ingatan Taemin berkelana ke pagi hari, di saat ia berangkat sekolah diantar ibunya. Seperti biasa, mereka berhenti di perempatan untuk menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, tetapi ada sesuatu yang lain hari ini. Taemin menatap ke luar jendela mobil dan menangkap sosok anak lelaki yang mengenakan ransel memunggunginya. Anak itu mengintip ke jendela panjang bangunan yang tidak pernah dikenal Taemin, kemudian mendorong pintunya dan masuk. Sekilas saja, tapi jika diingat, postur anak lelaki itu hampir sama dengan Jinki.

Taemin turun dari kursi dan berjinjit untuk mengambil telepon di atas konter. Perbuatan yang membuat sang ibu menaikkan sebelah alis bingung.

“Mau menelepon siapa, Sayang?”

“Jonghyun hyeong,” jawab Taemin serius sambil menekan serangkaian angka di gagang telepon.

~~~

Jonghyun membungkuk sebagai ucapan terima kasih pada ayah Jinki yang mengantarkannya pulang. Karena jam sudah menunjuk pukul setengah sembilan, ibu Jinki memaksa Jonghyun yang bermaksud tetap disana sampai Jinki diketemukan untuk pulang. Akhirnya ia berada di gerbang depan rumahnya, lelah dan lapar, tetapi sangat khawatir tentang keberadaan Jinki.

“Aku pulang …” ujarnya lesu. Terdengar langkah kaki tergesa dari dalam, menghampirinya.

“Oh, akhirnya kau datang! Eomma sangat cemas padamu, Sayang,” sambut ibu Jonghyun seraya mengelus-elus pundak Jonghyun. Sang ibu menatap anaknya prihatin, “Eomma sudah menyiapkan makan malam, juga air hangat. Kau makan dulu, kemudian mandi. Mengerti?”

“Ya …”

“Jangan terlalu dipikirkan, Jonghyun-a, mungkin Jinki pergi ke rumah saudaranya dan lupa pamit pada ibunya,” hibur sang ibu selagi menggiring Jonghyun ke ruang makan.

“Kuharap begitu,” dusta Jonghyun. Ia sendiri yang mendengar percakapan ibu Jinki dengan para kerabat lewat telepon, dan semuanya nihil. Tapi ia tidak ingin ibunya khawatir karena ia khawatir pada Jinki –ya ampun, sungguh berbelit!

Telepon di ruang tengah berdering saat Jonghyun menelan suapan pertama. Baru kali ini ia melihat ibunya sendiri yang bergegas mengangkat telepon –dalam kondisi normal, ia yang bertugas mengangkat telepon. Mungkinkah ia tampak sangat menyedihkan hingga ibunya tidak tega?

Yoboseyo? Oh, Taemin. Jonghyun hyeong? Dia ada disini. Tunggu sebentar, Sayangku.”

Sebelum dipanggil, Jonghyun sudah ada di belakang ibunya, siap menerima gagang telepon putih itu. Tidak biasanya tetangga kecilnya menelepon malam-malam. Dengan perasaan tidak menentu Jonghyun menempelkan telepon ke telinga.

“Ya?”

“Hyeong,  kupikir aku tahu dimana Jinki hyeong bera –”

Jonghyun menghela napas. “Jangan sekarang, Taemin-a, aku sangat lelah. Besok saja bagaimana?”

~~~

Desingan mesin serta bebauan minyak yang tajam merangsang otak Jinki untuk segera sadar dari tidur panjangnya. Kelopak matanya berkedut pelan sebelum merangkak naik. Apa yang terbentang di depan alat pengelihatannya kini hanyalah kegelapan total, ditemani udara yang amat pengap seolah ia dikurung dalam bagasi mobil tua. Perlahan-lahan Jinki dapat menentukan tubuhnya tengah berbaring di atas dipan keras dan dingin, seperti logam yang dilapisi selembar plastik tipis.

Kemudian derit pintu terdengar sayup di telinga kanan Jinki, disusul cahaya benderang dari lampu tabung tepat di atas Jinki. Kedua mata anak lelaki itu refleks terpejam, namun seretan langkah dari arah pintu memaksanya kembali mempekerjakan inderanya; susah-payah ia membuka mata, lalu menemukan sosok bungkuk berjalan tertatih-tatih memasuki ruangan.

Sosok itu adalah pria tua renta dengan pakaian kerja biru lusuh dan topi menutupi rambutnya yang memutih. Pria itu menyenandungkan lagu aneh, yang terdengar seperti rintihan di telinga Jinki. Mungkin ia tidak menyadari ada orang lain di ruangan –atau tak tahu Jinki sudah sadar– karena pembawaannya begitu tenang dan cenderung santai.

“Kang Hyeorin, Kang Hyeorin. Wanita cantik, rambut indah. Oh,  sungguh jelita …”

Jinki mengernyitkan kening begitu otaknya mampu merangkai gumaman-gumaman yang ia dengar menjadi kalimat padu. Kang Hyeorin? Siapa yang dibicarakan orang ini? Jinki berusaha membersit hidung dengan tangan, tapi yang terjadi justru gemerincing keras dan memekakkan. Ia memutar kepalanya ke samping dan melihat kedua tangan dan kakinya terikat oleh rantai yang menjadi satu dengan tempat tidur.

Tapi keributan yang mampu membangunkan kucing tidur itu tak digubris oleh pria tua yang kini asyik berkutat dengan sesuatu di atas meja yang terletak di sudut ruangan. Ia masih bernyanyi, “Kang Hyeorin, Kang Hyeorin. Wanita cantik, rambut indah. Oh,  sungguh jelita …”

Perasaan asing dan ketakutan menjadi pemicu kepanikan tak berujung Jinki. Anak lelaki itu berusaha melepaskan diri dengan mengguncang-guncang kedua tangannya, tetapi tubuhnya tetap bergeming. Hanya udara kosong yang mengalir saat ia mencoba merangkai kalimat dari bibirnya. Jinki berupaya mendudukkan diri, tapi tulang belakangnya terasa selemas agar-agar.

 “Kang Hyeorin, Kang Hyeorin. Wanita cantik, rambut indah. Oh,  sungguh jelita …”

Pria itu berbalik menghadap Jinki. Cahaya hanya mampu menyiram separo wajahnya; seringai lebar terpampang mengerikan, membuat kulit wajahnya makin berkerut-merut. Jinki tidak tahu apa yang akan dilakukan pria itu, yang jelas gergaji di tangan kanan dan sejenis tang di tangan yang lain bukanlah pertanda baik.

“Kang Hyeorin, Kang Hyeorin. Lihatlah, anak kita!”

..::To be Continued::..

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

52 thoughts on “Toy Store – Part 1”

  1. Aaaaa! bener-bener tunggu horror.
    keren thor. semoga tak terjadi sesuatu yang buruk sama Jinki.
    ya, ampun. itu kakek hantu apa orang yang punya penyakit kejiwaan, ya?
    lumayan tegang tu di akhirnya. bikin penasaran.

    tapi di awal ada kata, antah-berantah. bukannya ‘entah berantah’ ya? dan, tulisan selain bahasa indo harusnya bercetak miring? mungkin sampe di sini aja kasih kritik. selebihnya, sukaaaaaaaaaaa!
    ditunggu part selanjutnya!

    1. Yang bener antah-berantah. Artinya tempat yg jauh, atau tidak dikenal. Terus kata asing yg harusnya dicetak miring emang kontroversi (?). Pernah baca novel yg pake istilah asing dlm direct speech? Biasanya cuma dimiringin sekali pas jelasin artinya, selanjutnya enggak lagi. Yah, aku juga belum tau mana yg bener u.u

      tapi makasih banyak buat kritiknya. Next part ditunggu yaa ^^

      1. oh gtu yah? berarti yang aku denger salah.

        but….
        ada tiga alasan huruf bercetak miring, salah satunya adalah: huruf bercetak miring dipakai untuk menulis kata ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang sudah disesuaikan ejaannya.#dikutip dari buku bahasa indo-ku

        aku juga baca di novel. cetakkan inggrisnya miring kok. tapi seinget aku kata langsung juga pake deh. zaky cari-cari info dlu aja. jangan asal percaya sama aku #maklum masih berlajar.

        itu aja. buat aku ini keren banget lah. #manusia kebelet horror

  2. eeehh.. lelaki tua itu pemilik rumah kosong yg di depan rumah Taemin ya? jangan2 dia jg pemilik toko mainan itu… ckck.. sok tau nih… 😉
    Kenapa juga Jinki masuk ke toko itu, sendirian pula… Deg-degan ni bacanya, penasaran buat apa lelaki tua itu megang gergaji sama tang, si Jinki mau diapain ya?? aaahhh..
    Zaky, ditunggu lanjutannya ya… 🙂

  3. mesti selamat kan thor si ayam sangtae satu itu?
    thor 😥 lanjutanya aku tunggu dengan setia
    ga tega aku thor ama ayam itu
    next next next 🙂

  4. Penasaran dengan tuh pria apa yg bakal dia lakukan sama jinki.
    semoga ngak knapa-napa deh itu si jinki.
    Bakalan seru nih…
    bahasanya bagus, cuma mungkin agak sedikit ribet. Tpi bagus kok.
    ditunggu next chapnya.

  5. Excited waktu bc sequel HND, dan amazing, narasiny kece membahana!
    baca ini mengingatkan sy sm fil House of Wax, menjadikan manusia jd boneka idup dgn pake lilin. jdny sy mikir, ap si istri jg dijadiin boneka semcam gitu waktu masih hidup gitu yah? jika ya, this guy totally a psycho!

    suka sm karakter jinki yg kentel bangetpolosny, rasa ingin tahuny yg ciri khas ank” skali, suka deh!
    oke next part GAPAKELAMA!

    1. Haha, aku juga masih belajar pake narasi. Sometimes it sucks, tapi alhamdulillah ada yg suka 🙂

      Cerita anak agak psycho gapapa kan? Haha. Thank you for give me an oxygen. Next part ditunggu ajaa

  6. Pria tua itu psti si pmilik rumah itu kn..
    Jangan² dia sendiri yg udh ngubah istri & ank²nya jd makhluk mengerikan. Trus sekarang dia mau ngubah Jinki?!! O.O hwaa JjongTae cpet selamatkan Jinki..
    Lanjuttt thorrr!!

  7. Woaaaahhhh, jd deg2an gini bacanya, mana gelap, ujan deres.
    Mendukung banget nih.

    Zaky, paragraf awal itu kakek nenek yg punya Toy Store ya? Dan si Nenek Kang Hyorin udh meninggal? Tp dijadiin boneka hidup sama kakek tua?*plak*mulai nglantur,kkk

    dan Jinki itu dikira anaknya?

    aku udh baca yg House Next Door, itu juga nyeremin,,
    akankah Toy Store juga seperti itu?huhu,, knp ini gak diikutin FF party?apa MA gak blh ikutan?

    1. Hemm.. nggak tau yaa, aku kan bukan anak mereka (?). Mungkin bakal lebih nyeremin dari HND, haha.

      Sebenernya siapa aja boleh ikut kok, cuma event FF Party bertepatan aku bener2 nggak bisa, hoho 😀

      thank you, ditunggu next partnya yaa ^^

  8. Omomomoo… Jinki-a kenapa kamu nekat sayang(?) Jadi gini kan akibatnya(?)
    Haha! Maaf sedang error! Tapi ini keren! Lanjutkan!

  9. bener-bener penasaran sama kelanjutannya! dan aku penasaran kenapa onew penasaran banget sama toko mainan itu hmm
    ditunggu kelanjutannya thor!!

  10. Apa yg bakal terjadi sama onew? Jadi penasaran, kasian taemin belum selesai ngomong udah dipotong sama jonghyun. bahasanya keren thor…
    lanjut terus ya:D

  11. ITU ENDING CHAPTER INI KOK HOROR! #menekancapsdenganemosi (?)

    waaaaa ngaku-ngaku Jinki anakmu. Dasar sarap. Btw, jahitan di leher? Jgn2 cewek hantu yg mati di House Next Door? Ya kalo bukan juga, yg pasti mah mungkin mayat atau apa gitu…

    Ihiw, OnJongTae masih kecil unyu banget ih xD

    btw, aku merindukan ffmu, eon! Dan kayaknya diksimu makin bagus aja eon, super sekali (?) ‘-‘)d

    1. Iya, itu cewek yang dulu napsu sama Jinki. Haha 😀

      Aku masih belajar ini, makanya bahasanya labil abis -_- Makasih udah komen, Vania. Next part ditunggu ya ^^

  12. Maygaattt jinkiii 😮 ngapain dia ada disituuu:'( suka iseng aah si bebeb:'(
    Lucu ya tapi disinii, jonghyun onew taemin nya jadi anak kecil gituu. Kuciik:33
    Jonghyun, Taemin selamatkan Jinki!! Ppalli pallihae~~
    Lanjut eon!:D

  13. si jinki keras kepala!! rasain sekarang lo harus berhadapan dg kakek” gk waras
    -_- *justkidding oppa 🙂

    good! aku suka yg bergenre mystery seperti ini, di baca gk membosankan malah bikin penasaran XD

    cepet2 dilanjutin ya…zaKy – ssi 🙂

    1. Haha, sasileun aku nggak begitu bagus nulis romance, jadi bikin yang horror aja :3

      Makasih sudah nyempatin komen, next part ditunggu yaa 😀

  14. ya ampun, aku lagi asik-asik baca, lagi bener-bener masuk ke dalam ceritanya tiba-tiba nemu bacaan ‘To be continued’ =_=
    Author Zaky, ditunggu ya next chapter nyaaa. Aku penasaran banget hehe. Ide ceritanya keren sih, ada adventure+thrillernya (?) gitu terus bahasanya juga bagus banget kaya bahasa2 novel hehe.

    next chapter juseyooo~~

  15. Ahhh akhirnya ada sequel dari House Next Door
    Bagus thor sequelnya! Rada greget gara” asik asik baca taunya ‘To Be Continued’ .___. lagunya cukup serem ya, malah aku bacanya malem2 lagi haha
    Ditunggu part slanjutnya :))

  16. hebat author ngebuat aq merinding disko~~ bahkan kartun hatori ttp ngebuat suasana rmh jd gk enk #lebay-.-‘

    karna penasaran, dilanjut ke chap brktnya dulu ya…

  17. mian baru baca 🙂 huaaa penasaran..
    authorr keren bahasanya, alurnya juga 😀 suka sama ffnya 🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s