Draw The Harmony – 1st Note: The Intro

draw-the-harmony

Title : Draw The Harmony – 1st Note: The Intro

Author : Lumina

Main Cast :

  • Lee Taemin (Shinee)
  • Lee Jinki (Shinee)
  • Song Hana (OC)
  • Han Hyejin (OC)

Support Cast : –

Rating : G

Genre : romance, drama, dream

Ps : Setelah pertama Lumie post ff abang Jjong, truz dilanjut sama ff Minho-Key yang memperebutkan Lumie *digetok pake martil* sekarang giliran uri leader, Onew, dan uri magnae, Taemin, beraksi! Enjoy😉

Disclaim : -Don’t take any part of this fiction without permission-

 =============================================

Cinta itu tak lebih dari sekedar imaginasi

Bahkan aku pun bisa berimaginasi tanpa cinta

Cinta itu adalah inspirasi

Alunan nada yang mengalun di tiap detak jantungku

Ketika ia datang artinya suatu saat ia akan pergi

Ketika ia datang artinya dia menjadi bagian dari dirimu

Percaya padanya, maka ia akan meremukkan hatimu menjadi serpihan debu yang terbang tertiup angin

Jika kau percaya pada cinta, bahkan ia mampu mencairkan hatimu yang beku seperti es

Cinta bukan sesuatu yang pantas untuk dihargai

Cinta adalah sesuatu yang tak ternilai oleh harta apapun di dunia

Aku tidak percaya pada eksistensi cinta, keberadaannya semu tak terlihat

Bagiku cinta itu nyata dan dapat dirasakan di tiap hembusan nafasku

***

Draw The Harmony adalah kisah tentang eksistensi cinta dalam dunia. Ketika hatimu bahkan tak percaya pada keberadaan cinta. Ketika “cinta” hanya menjadi sebuah kata yang menambah perbendaharaan kata dalam otakmu, namun tidak dalam hatimu.

Draw The Harmony adalah kisah tentang kekecewaan dan pengkhianatan. Ketika cinta itu datang, mampukah ia mencairkan hati yang telah beku? Bahkan mampukah ia menyembuhkan hati yang terluka?

Draw The Harmony adalah ketika cinta itu dilukiskan dalam sebuah alunan melodi yang membuka pintu hati yang telah tertutup rapat. Memberi secercah harapan pada relung hati yang gelap. Tentang keajaiban yang terjadi ketika cinta itu hadir, di hatimu…

***

Musim semi adalah musim di saat bunga-bunga bermekaran. Musim ketika kau bisa bernyanyi bersama kicauan burung yang bertengger di dahan pohon. Musim di mana cahaya matahari terasa begitu hangat menerpa setiap inci kulitmu yang tipis. Kau akan suka ketika berjalan di bawah bayangan pohon yang rindang sambil menatap bayangan dari daun yang gemerisik tertiup angin. Langit biru terbentang menaungi kepalamu, dihiasi awan putih yang berarak perlahan seperti mengikuti langkah kakimu pergi.

“Hana-ya, kau mau kemana?”

Seorang gadis cantik dengan tubuh ramping terbalut kulit putih bercahaya yang halus menoleh ke arah suara yang memanggilnya.

“Aku ingin mencari udara segar sejenak, Hyejin-ah,” jawabnya sambil kembali membalikkan tubuhnya. Angin sepoi-sepoi bertiup, memainkan helaian rambutnya yang tipis dan halus. Bercahaya kecoklatan di bawah sinar mentari pagi di musim semi.

“Hana-ya, tunggu,” gadis bernama Hyejin itu mengejar Hana yang telah melangkah pergi, tangannya mencoba menahan bahu Hana dari belakang, “Kau lupa sebentar lagi ada kelas vocal?”

Hana menghentikan langkahnya, menatap wajah sahabatnya sambil tersenyum tipis, “Arra, aku tidak ikut kelas hari ini,” jawabnya singkat seraya menurunkan tangan Hyejin dari bahunya lalu berjalan pergi sambil memasang earphone di telinganya.

“Lagi-lagi kau cari masalah Hana-ya,” desah Hyejin pelan sebelum berbalik untuk kembali masuk ke dalam asrama.

***

Pemandangan di sekitar danau dekat asrama selalu indah. Air memantulkan warna biru langit yang membentang di atas cakrawala. Hijaunya dedaunan di pohon memberikan perasaan teduh pada siapa pun yang datang. Bunga-bunga beraneka warna memiliki keindahan tiada tara yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun.

Hana mulai mengambil pensil warna di sampingnya. Ia duduk di tepi sungai—di atas rerumputan hijau yang sedikit  basah oleh embun pagi. Perlahan ia mulai menorehkan pensilnya di atas kertas putih—mencoba mengabadikan setiap detail keindahan alam yang hadir di depan matanya.

“Apa yang kau lukis?” tanya seorang namja tiba-tiba, membuat gadis itu menghentikan gerakan tangannya.

Hana menatap namja di hadapannya. Namja itu tampak tidak asing baginya, senyumannya, pakaian trainingnya yang berwarna putih, rambutnya yang coklat dengan poni yang menutupi dahi, serta postur tubuhnya yang tidak begitu tinggi.

Nugu?” tanya Hana pelan.

“Ah, kau lupa padaku? Lee Taemin imnida,” jawab namja itu sambil tersenyum. Hana bisa melihat susunan giginya yang putih dan rapih, ia mempunyai senyum yang manis.

“Tidak ingat,” ujar Hana datar.

“Aku juga siswa di kelasmu, lebih tepatnya siswa baru. Minggu lalu aku telah memperkenalkan diri kepadamu,” jelas Taemin, berharap gadis di hadapannya sedikit mengingatnya.

“Sepertinya begitu, tapi aku lupa,” kata Hana sambil kembali memperhatikan pemandangan di depannya dan mencoba merekamnya dalam kepala sebelum menunduk untuk melukiskannya pada kertas.

“Tidak apa, wajar kau lupa karena jumlah siswa di kelas cukup banyak,” lanjut Taemin sambil tersenyum getir.

Hana terus melukis pemandangan di hadapannya. Sementara Taemin memperhatikan Hana dengan seksama. Memperhatikan gerakan tangannya yang luwes ketika menorehkan garis di atas kertas, memperhatikan bola matanya yang berbinar ketika  memandang lukisan hidup di depannya. Taemin merekam setiap ekspresi dan gerakan Hana dalam otaknya seolah ada sebuah kotak memori dalam kepalanya yang khusus tercipta untuk dipenuhi bayang gadis itu.

Taemin sadar siapa yang ada di hadapannya. Song Hana adalah putri tunggal dari Song Jaewon—pemilik sekolah dan asrama musik tempatnya menuntut ilmu. Gadis dengan bakat musik luar biasa—suara merdu, tubuh yang luwes ketika menari, bahkan wajah cantiknya bersinar cerah layaknya mentari pagi ini. Dan siapa yang bisa menahannya untuk tidak jatuh hati pada gadis yang mempesona ini?

Sejak pertama kali melihatnya, Taemin sadar ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Detak jantungnya memberitahu bahwa ia jatuh cinta. Taemin tak ingin menyangkal, menurutnya melodi yang timbul dari detak jantungnya ketika memandang Hana adalah sebuah musik yang indah. Terngiang-ngiang di telinganya, terekam dalam otaknya, bahkan terasa di setiap denyut nadinya. Ia jatuh cinta pada gadis ini.

Chogio,” panggil Taemin ketika ia menyadari bahwa waktu telah berlalu di saat ia asik menyusuri sosok Hana dengan kedua matanya, “Kurasa kita harus kembali untuk kelas vocal?”

Hana menatap Taemin sekilas sebelum kembali menunduk untuk melanjutkan lukisannya, “Pergilah, aku bolos.”

Wae?” tanya Taemin sedikit terkejut.

“Aku tidak ikut kelas hari ini, apakah kau keberatan?” jawab Hana acuh sambil tetap menorehkan warna hijau pada dedaunan yang dilukisnya.

“Kau yakin?” Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir mungil Hana. Taemin akhirnya menyerah, “Arraseo, segeralah kembali kalau kau berubah pikiran.”

***

“Song Hana, kemana kau tadi pagi? Kudengar kau bolos kelas vocal?”

Seorang pria dengan kemeja broken white berbalut jas Armani hitam menghampiri Hana dan langsung menundingnya dengan tatapan penuh amarah.

“Apa aku harus menjawab pertanyaanmu, Appa?”

Tuan Song terkejut mendengar jawaban putri semata wayangnya. Ia sangat mengenal putrinya yang keras kepala dan pemberontak, tapi tetap saja ia terkejut setiap Hana melawannya.

“Hana, jawab pertanyaanku!” bentaknya dengan suara cukup keras. Taemin yang juga sedang latihan menari di ruangan itu menoleh,  sedangkan murid lain yang sudah lebih lama bersekolah di Lumiere Music School memilih tidak ikut campur.

“Aku hanya tidak ikut kelas vocal. Kau tidak perlu takut karena hal itu tidak akan mengurangi kemampuan menyanyiku. Kau tahu suaraku sempurna, karena itu kan kau ingin aku jadi penyanyi?” jawab Hana angkuh sambil menatap lurus mata Tuan Song.

“Kau tidak akan jadi penyanyi yang sukses jika kau terus membolos kelas hanya untuk melukis sesuatu yang tidak berguna,” balas Tuan Song sinis, amarahnya membuatnya tidak bisa menahan emosi dalam jiwanya. Ditambah tatapan Hana yang mirip dengan mantan istrinya—yang telah meninggalkannya sepuluh tahun lalu hanya untuk bersama dengan pria lain.

Tuan Song tidak pernah suka jika putrinya melukis, namun kesukaan Hana pada lukisan sangat mirip dengan mantan istrinya yang telah menorehkan luka tak terobati di hatinya. Selama sepuluh tahun Tuan Song mencoba mengatur hidup Hana hanya untuk musik dan selama sepuluh tahun itu pula putrinya tumbuh menjadi gadis dingin, keras kepala, dan pemberontak. Hingga saat ini, Tuan Song belum berhasil mengalihkan dunia Hana dari apa yang mengingatkannya pada wanita yang sangat dibencinya.

“Berhenti melukis, Hana-ya,” pinta Tuan Song pada akhirnya, mencoba mengendalikan emosinya dengan menjaga nada bicaranya, “Konsentrasilah pada musik, karena itu adalah masa depanmu.”

Hana menghela nafas sebelum tersenyum getir, “Kau mencoba mengatur masa depanku lagi? Apa kau tidak memiliki kegiatan lain, Appa, selain mencampuri hidupku?”

“Jangan menguji kesabaranku Song Hana!” bentak Tuan Song. Ia segera menarik tas Hana dengan kasar dan mengeluarkan isinya. Tuan Song menemukan buku sketsa yang ia cari, “Jangan melakukan sesuatu yang tidak berguna!”

Tangan Tuan Song merobek buku sketsa itu dengan kasar. Hana menahan nafasnya, terkejut dengan perbuatan ayahnya. Kali ini ia tidak bisa lagi menahan perasaannya. Ia bukan boneka yang bisa seenaknya diatur untuk menyukai dan tidak menyukai sesuatu, untuk melakukan satu hal dan tidak melakukan hal yang lain.

Appa!” teriak Hana berusaha merebut buku sketsa yang kini hampir hancur terobek-robek di tangan Tuan Song.

Tuan Song melemparkan buku sketsa itu ke udara. Potongan-potongan kertas berhamburan, memperlihatkan gambar yang telah terobek-robek menjadi serpihan kecil.

“Berhenti melukis dan mulai fokus pada musik! Jika kau hidup, kau harus hidup untuk musik dan hanya untuk musik!” bentak Tuan Song sambil memandang Hana yang kini telah berlinang air mata.

Hana menahan nafasnya. Emosinya telah naik hingga ke pembuluh darah di otaknya hingga membuat sekujur tubuhnya memanas dan aliran darahnya bergerak semakin cepat. Nafasnya memburu karena detak jantungnya yang berpacu cepat.

“Song Jaewon, kau tahu akibatnya jika membuatku marah?”

Hana berjalan membelakangi Tuan Song, mendekat ke arah kaca yang membentang sebagai pembatas dinding ruang latihan tari. Taemin berdiri di hadapan Hana, mencoba menahan langkah Hana, namun gadis itu segera menepis tangannya tanpa mengalihkan tatapannya.

Appa, jangan pernah mengatur hidupku!” teriak Hana sebelum menedang kaca kuat-kuat dengan kaki kanannya. Bunyi kaca pecah memekakkan telinga, membuat beberapa orang menutup telinga, sedangkan yang lainnya membelalakan mata sambil menahan nafas melihat kejadian di hadapan mereka.

Taemin terkejut mendapati Hana terjatuh di lantai dengan kaki bersimbah darah.

“Song Hana!” teriak Taemin sambil menghampiri gadis itu, namun langkahnya terhenti ketika tangan gadis itu terangkat untuk melarangnya mendekat.

“Kurasa aku tidak bisa ikut kelas selama beberapa minggu ke depan,” ujar Hana sambil tersenyum penuh kemenangan ke arah Tuan Song. Ia tak peduli rasa sakit di kakinya akibat beberapa serpihan kaca yang menancap di kulitnya.

Tuan Song hanya menghela nafas sebelum pergi meninggalkan ruang latihan. Meninggalkan putri tunggal kebanggaannya tanpa menoleh sedikitpun.

***

Hana duduk dengan perlahan di salah satu kursi kantin yang terletak di pojok. Dengan hati-hati ia menempatkan kakinya yang terbalut perban di bawah kolong meja. Baiklah, memang tindakannya yang dengan sengaja menendang kaca dapat dikatakan tindakan bodoh yang menyakiti dirinya sendiri, namun ia bahkan sama sekali tidak menyesal. Tidak, jika itu mampu membuat Tuan Song—ayahnya—bungkam dan tidak dapat lagi mengatur hidupnya.

“Apa yang terjadi padamu?” tanya seorang namja seraya menarik kursi di hadapan Hana dan duduk di depannya.

“Bukan urusanmu,” jawab Hana pelan. Jemarinya mengaduk lemon tea di hadapannya sehingga menimbulkan suara es batu yang saling berbenturan.

Jinki mendengus kesal. Bagaimana mungkin gadis ini begitu dingin padanya? Bukankah mereka sudah sangat dekat sejak lama? Cukup dekat dengan status tunangan yang disandang keduanya—sekalipun pertunangan tersebut murni kehendak orang tua mereka.

“Aku tunanganmu, apakah itu belum cukup menjadi alasan agar kau bercerita padaku?” tanya Jinki tanpa melepaskan tatapannya dari Hana.

Hana mengangkat kepalanya ketika Jinki menyebutkan status mereka, “Jaebal, Jinki Oppa, kau sudah cukup dewasa untuk menentukan hidupmu sendiri. Apakah kau mau terperangkap dalam hubungan pertunangan yang merupakan kehendak orang tua kita?”

Jinki mengalihkan pandangannya dan menatap kosong ke sembarang arah. Apakah ia bisa menentukan hidupnya sendiri? Bisakah ia tidak menuruti kehendak Tuan Lee, ayahnya? Tidak, baginya kehendak Tuan Lee adalah masa depannya. Lagipula apa sulitnya bertunangan dengan gadis di hadapannya ini? Walau Jinki belum sepenuhnya yakin ia mencintai Hana, namun ada sebuah perasaan yang berbeda terhadap gadis ini. Perasaan yang masih belum ia mengerti sepenuhnya untuk saat ini, namun ia yakini perasaan itu memang telah ada jauh di dalam lubuk hatinya. Perasaan ingin bersama dan melindungi gadis di hadapannya.

“Jadi, kali ini apa yang membuatmu bertengkar dengan Paman Song?” tanya Jinki mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin berlama-lama membahas hubungan pertunangannya yang tentunya tak disukai oleh Hana.

“Apalagi kau kira?” Hana balas bertanya seraya menyedot lemon teanya.

Jinki tersenyum simpul. Empat tahun mengenal Hana, dan setengah tahun  menyandang status sebagai tunangannya sudah cukup membuatnya mengerti sifat Hana dengan baik.

“Membolos… lagi?”

Hana mengangkat sebelah alisnya, menatap Jinki seraya mengembangkan senyum, “Kalau Oppa sudah tahu, untuk apa bertanya lagi padaku?”

Rasa gemas membuat Jinki mengulurkan tangannya, mengacak pelan puncak kepala Hana, “Bisakah kau berhenti membuat masalah? Aku langsung berlari mencarimu ketika mendengar berita kau terluka karena menendang kaca.”

“Sudahlah, ini bukan hal besar,” ujar Hana seraya menepis tangan Jinki dari kepalanya, “Kau tahu aku pernah melakukan yang lebih parah.”

Jinki menggelengkan kepalanya pelan, “Jangan lukai dirimu lagi. Kumohon, kau harusnya bisa menjaga diri lebih baik.”

Hana hanya mengangkat bahu menanggapi pesan Jinki. Mungkin menjaga diri agar tidak terluka akan sulit selama egonya masih tidak bisa dikendalikan jika berhadapan dengan Tuan Song. Ia tidak berani menjamin akan menuruti pesan tunangannya itu.

***

Jam pulang sekolah sudah berlalu sejak pukul tiga tadi. Murid-murid sudah meninggalkan gedung sekolah satu per satu, menyisakan kesunyian di gedung megah yang sudah berdiri hampir sedekade itu. Cahaya matahari senja yang kejinggaan masuk melalui celah-celah kaca, menyinari sebuah ruangan di salah satu sudut gedung sekolah.

Sudah dua jam Hyejin berkutat dengan buku, duduk sendirian di salah satu kursi dalam perpustakaan. Kedua matanya melekat erat memandangi deretan kata yang tersusun dalam lembaran buku novel fiksi di tangannya. Jiwanya seolah larut dalam cerita yang sedang dibacanya, pergi jauh meninggalkan raganya dan berada di dunia fantasi yang tergambar dengan sangat jelas dalam imaginasinya.

“Hyejin-ssi, mianhae, aku sudah harus kembali ke asrama,” ujar seorang gadis—penjaga perpustakaan itu—sambil menepuk pelan bahu Hyejin dari belakang.

Ah, ne,” jawab Hyejin seraya menutup buku yang dibacanya, “Mianhae, Yeonhee-ssi, aku terlalu asyik membaca buku.”

Gwenchana, kalau kau mau kau bisa meminjamnya,” balas Yeonhee seraya tersenyum tulus di wajahnya yang terbingkai kaca mata.

Ne, aku akan meminjam ini, ini… dan ini,” ucap Hyejin seraya memberikan tiga tumpuk buku. Yeonhee segera membawanya ke meja perpustakaan untuk mencatat judul dan kode buku-buku tersebut.

“Sudah,” ucapnya seraya mengembalikan buku kepada Hyejin, “Kau bisa mengembalikannya minggu depan.”

Hyejin tersenyum, ia membungkukkan sedikit tubuhnya, “Khamsahamnida, Yeonhee-ssi.”

Sambil menenteng tiga buah buku yang cukup tebal, Hyejin berjalan keluar dari perpustakaan. Kakinya melangkah ringan menyusuri koridor sekolah yang sunyi. Lantai koridor mengkilap sepanjang jalan, ahjussi penjaga sekolah pasti sudah selesai membersihkan gedung sekolah. Hyejin terus melangkah hingga tiba di depan sebuah ruangan.

Suara alunan piano membuat langkah Hyejin terhenti di depan ruang musik. Melodi yang merdu terdengar di telinganya. Entah mengapa mendengar alunan tangga nada yang dimainkan seseorang di dalam ruang musik membuatnya merasa tertarik. Hyejin mendekatkan tubuhnya ke arah pintu yang sedikit terbuka. Ragu-ragu ia mendorong daun pintu tersebut agar memberinya celah yang lebih lebar untuk mengintip ke dalam.

BRAAAAKK!!

Tanpa sengaja Hyejin menjatuhkan buku-buku di tangannya. Entah karena tangannya yang licin, atau karena buku-buku tersebut terlalu berat sehingga dengan mudah jatuh tertarik medan gravitasi. Hyejin mengigit bibirnya ketika seorang namja yang daritadi sedang bermain piano menghentikan permainnannya dan menoleh ke arahnya.

Hyejin mendorong pintu lebih lebar sehingga namja itu bisa melihatnya dengan jelas. Gadis itu membungkukkan badannya sedalam mungkin, “Mianhae, aku tidak bermaksud mengganggumu.”

Namja itu tersenyum, dengan langkah perlahan menghampiri Hyejin yang masih berdiri di depan pintu. Ia membungkuk dan mengambil buku-buku Hyejin yang berjatuhan di lantai. Hyejin menegakkan kembali tubuhnya karena terkejut, ia segera ikut berjongkok mengambil sebuah buku yang tergeletak di kakinya, “Ah, gwenchana, biar aku saja…”

“Ini,” ujar namja itu seraya mengulurkan dua buku di tangannya. Ragu-ragu Hyejin menerima bukunya kembali.

Gomawo,” ucap gadis itu seraya tertunduk malu.

Namja itu lagi-lagi tersenyum ke arah Hyejin lalu bangkit berdiri. Ia kembali berjalan ke arah piano.

“Per… permainan pianomu sangat bagus,” ucap Hyejin gugup. Ia perlahan berdiri sambil memeluk erat buku-bukunya.

Gomawo,” ucap namja itu tenang, lalu mulai bermain piano kembali. Hyejin berdiri terpaku mendengarkan permainan piano di depannya. “Kau mau dengar? Duduklah,” ujar namja itu seraya menunjuk sebuah kursi dengan lirikan matanya.

“Ah, ne.” Hyejin berjalan pelan ke arah kursi di dekat piano. Ia duduk dengan perlahan sambil terus memeluk buku-bukunya erat, cukup berhasil mengurangi kegugupannya. Hyejin merasa seperti terhipnotis—entah oleh permainan piano namja di hadapannya, ataukah karena sosok namja itu sendiri.

Permainan piano selesai, dengan canggung Hyejin meletakkan buku-buku di pangkuannya dan mulai bertepuk tangan pelan.

“Woaa, daebak!” pujinya bersemangat sambil terus bertepuk tangan.

Namja pemain piano itu memutar tubuhnya, “Gomawo, sudah mendengarkan permainan pianoku. Siapa namamu?”

Hyejin menelan ludahnya untuk mengurangi rasa gugupnya yang kian menjadi. Matanya tidak bisa berkedip memandang namja di depannya. Dan tanpa ia sadari, jantungnya sudah memompa darah lebih cepat sehingga membuatnya bertambah gugup.

“Hye… Hyejin… Han Hyejin,” jawabnya terbata.

“Senang berkenalan, Han Hyejin. Namaku Lee Jinki,” balas namja di hadapan Hyejin seraya mengulurkan tangannya. Perlahan, Hyejin membalas uluran tangan Jinki seraya tersenyum malu.

***

Tuan Lee memandang kedua putranya yang duduk berhadapan di meja makan. Tidak ada percakapan antara keduanya. Suasana makan malam mereka begitu dingin. Tak ada yang memulai percakapan, bahkan untuk sekedar menyapa.

“Ehm… bagaimana sekolah barumu, Taemin-ah?” tanya Tuan Lee pada putranya yang lebih muda.

“Biasa saja,” jawab Taemin datar tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya yang masih berisi makanan.

“Bagaimana dengan asramamu? Apakah kau nyaman tinggal di sana?” tanya Tuan Lee lagi, berharap kali ini ada jawaban yang lebih keluar dari mulut putranya.

“Setidaknya lebih baik daripada tinggal di rumah,” jawab Taemin datar, lagi-lagi tanpa memandang lawan bicaranya.

Tuan Lee tersentak mendengar jawaban putra bungsunya. Ia menelan ludah dengan berat. Tuan Lee berusaha menahan emosinya yang mulai meluap. Ia tidak ingin acara makan malam bersama—yang semakin jarang mereka lakukan sejak kedua putranya pindah ke asrama—menjadi rusak. Hanya pada akhir pekan mereka bisa berkumpul kembali dan Tuan Lee sangat berharap ada suasana yang lebih akrab diantara mereka bertiga.

“Bukankah kau yang ingin pindah ke sekolah yang sama dengan kakakmu? Tentunya kau jadi bisa minta bantuan pada Jinki jika mengalami kesulitan dalam belajar,” ujar Tuan Lee lagi seraya menoleh pada putra sulungnya dan tersenyum tipis.

Jinki mendongak, berhenti mencerna makanannya dan membalas senyuman Tuan Lee.

“Aku memang pindah ke sekolah yang sama dengan Jinki Hyung, tapi jangan beranggapan bahwa hubunganku dengannya akan menjadi lebih baik,” ucap Taemin sinis sambil menatap tajam ke arah Jinki.

Jinki memandang Taemin tanpa ekspresi. Dirinya tahu bahwa keberadaannya di rumah keluarga Lee, sampai kapan pun, mungkin tak akan bisa diterima oleh dongsaengnya itu. Namun, bukan kehendak Jinki untuk lahir ke dunia ini dengan memiliki darah yang sama dengan Taemin—sekalipun rahim yang melahirkan mereka ke dunia berbeda.

Taemin meletakkan sumpit dan sendoknya dengan kasar. Ia meninggalkan meja makan tanpa mengucapkan satu patah katapun. Dadanya terasa panas, bahkan untuk sekedar bersabar hingga ia menghabiskan makan malamnya.

Taemin masuk ke dalam kamar, membanting pintu kamarnya keras-keras. Ia merebahkan diri di tempat tidurnya yang nyaman, namun tak pernah dapat membuatnya tidur nyenyak sejak dua belas tahun lalu seseorang yang berstatus sebagai kakaknya datang ke rumahnya.

Eomma….” panggilnya lirih, “…. bogoshippo.”

***

Hyejin melangkahkan kaki ke ruang tengah rumahnya yang tidak begitu besar dengan dinding-dinding bercat putih gading. Tubuhnya terhenti di depan sebuah figura yang membingkai foto hitam-putih yang telah tergantung selama bertahun-tahun namun terlihat begitu mengkilap, bersih tanpa debu menempel pada kacanya. Di balik kaca figura terpampang foto Tuan Han, mendiang ayahnya yang telah meninggal sepuluh tahun lalu.

Hyejin memejamkan matanya, membiarkan ingatan paling kelam dalam hidupnya kembali datang merasuk ke dalam pikirannya. Ingatan akan malam yang paling gelap yang pernah hadir dalam hidupnya. Ingatan ketika Hyejin kecil berumur enam tahun menemukan tubuh ayahnya sudah tak bernyawa—tergantung di langit-langit kamar dengan tali yang mencekik lehernya dan memutusnya nafasnya.

Appa…” desisnya pelan seraya kembali membuka matanya dan memandang foto Tuan Han yang ada di hadapannya.

Hyejin mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. Berharap hal itu dapat memberikannya kekuatan lebih untuk tidak menangis sekalipun tubuhnya telah bergetar hebat. Ia lemah, dan akan selalu lemah ketika mengingat bagaimana Tuan Han, ayahnya, meninggal dengan tragis di depan matanya sendiri.

“Aku pasti akan jadi terkenal, Appa. Dan aku akan membuat orang itu membayar perbuatannya pada Appa,” ujar Hyejin tanpa berkedip menatap foto almarhum Tuan Han.

Gadis itu berbalik, meninggalkan ruang tengah dan masuk ke dalam kamarnya. Ia merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Ditatapnya langit-langit kamarnya—berusaha mengalihkan pikirannya. Pada akhirnya, ketika bayang-bayang kelam itu berhasil ia tepis dari otaknya, ia justru teringat pada kejadian kemarin siang di ruang musik. Perkenalannya dengan Lee Jinki.

Bohong kalau ia mengatakan tidak ada perasaan berbeda yang ia rasakan. Ia berdebar, ia merasa nyaman. Itulah yang ia rasakan ketika berkenalan dengan namja itu. Hyejin berharap ia dapat kembali bertemu dengan Jinki hari Senin nanti. Tidak salah bukan jika dirinya memiliki harapan seperti itu? Dirinya sendiri tidak mengerti mengapa ia bisa merasa senyaman itu dengan seseorang yang baru dikenalnya. Namun, itulah yang ia rasakan di dalam lubuk hatinya.

***

“Aaaa… issshh… ughh…” rintih Hana tertahan ketika Hyejin membantu mengganti perbannya, “Pelan-pelan, Hyejin-ah.”

Hyejin mengoleskan salep pengering luka dengan hati-hati di atas luka berukuran cukup besar di atas kulit Hana. Luka sobekan yang masih basah dan berwarna merah. Luka yang  ia dapatkan karena beberapa pecahan kaca menggores kulit halusnya.

“Aku sudah pelan-pelan,” protes Hyejin tidak terima hasil pekerjaannya yang sudah sangat hati-hati masih diragukan, “Kalau kau tidak mau sakit, harusnya kau tidak senekat itu menendang kaca sembarangan.”

Hana mencibir mendengar ucapan sahabat baiknya itu. Ia tidak bisa membantahnya. Hyejin benar, ia telah bertindak tanpa berpikir panjang, tanpa memperhitungkan akibat yang harus ditanggungnya.

“Sudah selesai,” ucap Hyejin ketika selesai mengganti perban di kaki Hana.

Gomawo, Hyejin-ah,” ujar Hana dengan suara lembutnya yang sedikit serak.

Hana menaikkan kakinya perlahan ke atas tempat tidur. Ia menarik selimut hingga menutupi perutnya dan meletakkan kedua tangannya di atasnya. Hyejin menaruh kotak P3K kembali ke dalam rak sebelum menyusul Hana—berbaring di tempat tidur yang bersebelahan dengan tempat tidur Hana.

“Hana-ya,” panggil Hyejin lirih ketika lampu kamar sudah dimatikan.

“Hmm?” balas Hana dengan gumaman pelan sebagai tanda ia belum tertidur dan masih dapat mendengar panggilan Hyejin sekalipun kedua matanya telah terpejam.

Hyejin memutar bola matanya, menimbang-nimbang sesuatu dalam kepalanya sebelum akhirnya memutuskan untuk bercerita pada sahabatnya, “Aku bertemu dengan seorang namja hari Jumat lalu.”

Hyejin menghentikan kalimatnya, sengaja menunggu respon dari Hana.

Namja?” tanya Hana setelah beberapa detik sejak Hyejin memulai ceritanya.

Ne, sepertinya dia adalah kakak kelas kita,” lanjut Hyejin sambil kembali membayangkan kejadian di ruang musik beberapa hari lalu, “Uhmm, dia sangat pandai bermain piano.”

Ingatan tentang Jinki yang dengan anggun mendaratkan jemarinya di atas tuts piano kembali dalam ingatan Hyejin. Tanpa disadari, pipi gadis itu mulai merekah kemerahan hingga ia terlalu malu untuk melanjutkan ceritanya.

Hana mengernyit ketika tidak ada lagi rangkaian kata-kata yang terdengar di telinganya, “Hyejin?”

Ah, ne.” Hyejin tersadar dari lamunannya. Ia hampir lupa bahwa sahabatnya saat ini sedang menajamkan pendengaran untuk mendengar kelanjutan ceritanya, “Permainan pianonya sangat indah. Kau tahu kan aku sangat suka sekali dengan piano sekali pun aku tidak mahir memainkannya?”

“Hmm,” gumam Hana sebagai jawaban, “Lalu?”

Hyejin tersenyum tipis sebelum kembali bercerita, “Kurasa… uhmm… bagaimana aku mengatakannya padamu?”

“Apa?” tanya Hana tak mengerti, perlahan ia membuka matanya dan menatap gelap yang menyelimuti kamarnya.

Hyejin menggigit bibir bawahnya pelan, berharap hal itu dapat menenangkan debaran jantungnya yang terasa semakin cepat, “Kurasa aku… menyukai namja itu.”

“Suka? Kau menyukainya?” Pertanyaan Hana membuat debaran jantung Hyejin semakin cepat.

Ne, wae?” tanya Hyejin dengan nada gugup.

Hana menatap bayangan redup langit-langit kamarnya dalam kegelapan. Suka? Sahabatnya mengatakan bahwa ia sedang menyukai seorang namja. Perasaan suka itu seperti apa? Hana membatin dalam hatinya.

Anii, bukan apa-apa. Siapa namja itu?” tanya Hana mengalihkan topik—tidak ingin membahas masalah perasaan yang disebut ‘suka’ itu.

“Siapa? Ah, maksudmu namanya?”

“Hmm,” gumam Hana lagi untuk kesekian kalinya sebagai jawaban. Ia memang bukan tipikal gadis yang suka bicara banyak.

“Namanya…” ujar Hyejin lirih seraya berusaha menenangkan degup jantungnya yang semakin cepat hanya dengan mengingat nama namja itu, “Lee Jinki.”

Detik ketika udara menghantarkan suara Hyejin ke telinganya, Hana segera menoleh dan menatap ke arah sahabatnya itu. Tak banyak yang dapat terlihat dalam gelap, kecuali bayangan siluet samar yang menandakan adanya sosok yang berbaring di seberang tempat tidurnya.

‘Jinki… Lee Jinki? Jinki Oppa?’ tanya Hana dalam hatinya. Hana bergeming, sementara pikirannya bergerak entah kemana. Ia yakin telinganya tidak salah dengar. Ia yakin Hyejin benar-benar menyebutkan nama tunangannya, Jinki. Lalu apa yang sekarang harus dikatakannya pada Hyejin?

Tidak. Hana memutuskan untuk bungkam. Ia sendiri tidak mengerti alasannya tidak segera memberi tahu Hyejin. Mungkin karena ia tidak ingin menyakiti sahabatnya. Mungkin karena ia tidak ingin menghempaskan perasaan Hyejin yang sedang melambung tinggi di atas awan hingga jatuh ke tanah. Ataukah mungkin, ada alasan lain? Alasan yang menyangkut perasaannya pada Jinki, bahwa Hana tidak merasa status tunangan yang disandangnya bersama dengan namja itu adalah sesuatu yang penting dalam hidupnya.

***

Annyeong,” sapa Taemin riang beberapa sentimeter dari telinga Hana yang sedang asik dengan buku sketsa dan pensilnya. Hana menghentikan gerakan pensil karbon di atas lembaran kertas putih pada buku sketsa barunya.

“Kau menggambar apa?” tanya Taemin sambil memperhatikan coretan-coretan pada buku sketsa Hana. Hana menghela nafas pelan, lalu kembali fokus pada sketsanya. Melihat respon yeoja yang disapanya tampak tidak ramah, Taemin menaikkan kedua alisnya.

Ah, kau menggambar bunga?” tanya Taemin lagi berusaha mendapat perhatian Hana. Gadis yang ditanya malah berpura-pura tidak mendengar, “Uhmm, bunga apa? Lili? Desi? Anggrek?”

“Bisakah kau diam?” geram Hana sambil mengangkat wajahnya dan menatap Taemin tajam.

Taemin terkejut, dengan canggung ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Mian.”

Hana kembali menundukkan wajah dan meneruskan sketsanya. Taemin—tanpa minta ijin lebih dulu—duduk di sebelah gadis itu dan memperhatikannya dengan seksama.

Yeppo,” gumam Taemin sangat pelan hingga mungkin telinga Hana tidak mendengar ucapannya. Taemin lagi-lagi—tanpa merasa bosan sedikitpun—memperhatikan setiap gerakan tangan Hana di atas kertas. Matanya mengikuti goresan-goresan pensil yang tercipta dengan keluwesan gerakan ujung pensil karbon yang digenggam oleh Hana.

“Ehem…” deham Taemin pelan ketika tenggorokannya terasa kering karena bermenit-menit menghabiskan waktu dalam diam. Matanya tak melepaskan sosok Hana. Ia berharap gadis itu menunjukkan reaksi sedikit saja atas dehamannya, namun ternyata lagi-lagi ia harus kecewa karena Hana terlalu larut dalam dunianya.

Taemin menggaruk pelan tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Sesungguhnya ia memiliki satu pertanyaan besar dalam batinnya. Apa yang membuatnya jatuh hati dan terjerat semakin dalam pada pesona gadis di hadapannya ini? Padahal ia tahu dengan jelas, Hana sama sekali tidak pernah merespon, bahkan menganggapnya ada.

“Ehem… hem…” deham Taemin lagi—sedikit lebih keras.

Hana tetap tidak menunjukkan respon apapun, seolah semua hal yang ada disekelilingnya diam, tak bersuara—termasuk Taemin. Pada akhirnya Taemin kembali menggaruk tengkuknya dengan canggung sementara kepalanya memikirkan cara menarik sedikit perhatian Hana.

“Aaaa… aaa…” Taemin mengambil suara setelah meyakinkan diri dan memutuskan untuk bernyanyi. Ya, siapa yang tahu jika ia bernyanyi, maka Hana akan sedikit menoleh dan memberinya sedikit tanggapan.

I fell so hard. You look at me that far. I part gotta make a move cuz I want to be more than just a friend,” Taemin mulai bernyanyi, “You say that you want somebody who can hold your heart. We can take it slower cuz i want to more than just a friend…”

Mata taemin berulang kali melirik Hana, harap-harap cemas akan respon gadis itu. Mungkin Hana akan menoleh dan mendengarkannya bernyanyi. Atau mungkin sebaliknya, Hana akan marah karena ia telah mengganggu ketenangan gadis itu.

Tak kunjung menerima respon, Taemin melanjutkan bagian reff lagu yang ia nyanyikan, “I can be romantic, anything you wanted in a man. Girl, I keep you guessing. Just give me a chance. Girl, you know that it’ll never be enough…” Taemin menarik nafas sejenak, “…until you give me all your love. Girl you’re the only one who’s worth the push to shove. Gotta be more than just a friend…

Jantung Taemin tiba-tiba serasa melonjak ketika ia melihat Hana mengangkat kepalanya dan menoleh ke arahnya pada detik berikutnya. Senyuman hampir terukir di bibirnya andai ia tak mendengar gadis itu bicara.

“Tempomu kacau, pengambilan nafas yang buruk dan suaramu bergetar pada tiap akhir kalimat,” ucap Hana datar.

Eoh?” Taemin tertegun, dengan berat ia menelan ludahnya, “Err… begitukah?” Taemin menggaruk tengkuknya malu, “Aku rasa aku bukan penyanyi yang baik.”

“Berhenti saja,” ucap Hana dengan tatapan tajam tepat pada bola mata Taemin, “Jangan jadi penyanyi kalau kau memang tidak ingin. Kau bisa mencari bidang lain di luar sana.”

Taemin terkejut dengan ucapan Hana yang dingin namun terasa ada emosi yang sulit diungkapkan di balik setiap kata-katanya.

“Mengapa kau bicara seperti itu, Hana-ssi?” tanya Taemin lirih dengan hati-hati. Ia takut pertanyaannya justru akan membuat emosi yang sebelumnya tersirat dalam kata-kata gadis itu akan meluap ke permukaan.

Hana bergeming beberapa saat. Matanya tak lepas menatap bola mata Taemin, “Setidaknya jika kau punya pilihan dalam hidupmu, jangan menyiakannya hanya untuk sesuatu yang tidak kau inginkan.”

Mata Taemin balas menatap bola mata Hana. Mencari arti dari kata-katanya. Dalam kepalanya, terlintas kejadian di ruang tari beberapa waktu lalu. Taemin memberanikan diri melirik kaki Hana yang masih terbalut perban lalu kemudian beralih pada buku sketsa di pangkuannya, “Apa kau tidak mempunyainya? Pilihan itu, apa kau tidak memilikinya?”

Hana mengalihkan pandangannya, matanya menerawang jauh ke batas daratan di seberang danau yang menghilang di garis perspektif ilusi. Hana mengulang pertanyaan Taemin dalam hatinya, berulang-ulang dan terus mengulangnya, namun dirinya tak kunjung mendapat jawaban yang ia inginkan.

Tanpa Hana sadari, suatu cairan yang hangat mendesak keluar lewat sela-sela bola matanya. Sebelum Taemin sempat melihatnya, Hana segera memalingkan wajahnya, “Bukan urusanmu.”

Hana menutup buku sketsanya dengan kasar. Sedikit kesulitan ketika mencoba berdiri dari atas rerumputan lalu melangkah perlahan meninggalkan Taemin yang masih diliputi tanda tanya.

-TBC-

Author’s Note:

I’m so sorry. rencananya hari ini mau ngepost The Blue in You chapter 3. tapi karena satu dan lain hal, akhirnya jadi kepending. semoga pada giliran selanjutnya bisa ngepost ff itu ya (kalau ada yang masih nunggu lanjutannya). semoga juga gak keberatan ya, untuk sementara di ganti FF ini dulu.😦

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

23 thoughts on “Draw The Harmony – 1st Note: The Intro

  1. Hana, kenapa nasib kita sama dengan nama kita? hiks!
    ya, ampun thor, ceritamu ini bikin nyesek hatiku. #harus menghela napas berkali-kali
    mood-ku jadi down.
    tapi hana yang ini sangat beruntung karena bisa tunangan sama namja yang paling aku suka di dunia.
    saya cuma bisa bilang, ‘sabar ya hana. semoga kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau’.

  2. Waahh jadi rumit yaa .. Hyejin suka jinki, jinki mulai suka hana, hana mungkin suka jinki, taemin suka hana & jinki musuh bubuyutan taemin u,u

    Lbh baik, author selesein ini ya .. Biar nggak bikin aku penasaran =D

  3. Oke, jujur sebenernya saya nggak suka kisah cinta yang belibet, kayak dia suka sama dia tapi dia juga suka sama dia dan dia nggak tahu perasaannya sama dia (mungkin suka juga).

    Tapi ada satu hal yang bikin saya tertarik sama FF ini dan saya suka banget kata-kata di awal FF ini. Ini FF kedua setelah “We Walk” yang saya baca tentang kisah cinta yang belibet.

    Semoga FF ini bisa menghibur saya, sama kayak We Walk, amin^^

    1. hehehe, ini juga pertama kalinya aku bikin kisah cinta ribet begini.. aku belum baca we walk, tp sepertinya itu termasuk ff yang bagus di sini.. aku gak bisa menjamin akan bisa bikin cerita yang bagus seperti yang pernah dibikin sebelumnya oleh author lain, tp akan berusaha sebisaku untuk gak mengecewakan.. thx untuk komennya🙂

  4. Lumie, si Hana sifatnya keras karna kurang kasih sayang ibu kali ya? ditambah ayahnya maksain kehendak juga, makanya si Hana jd berontak gitu.. hehe, sok tau saya…
    Taemin gak tau ya klo Hana tunangannya Jinki? kira2 bakalan jadi saingan gk ya?
    Mian Lumie nanya2 terus..
    Ditunggu part selanjutnya..
    Lupa, TBiY part 3 masih ditunggu loh Lumie… 😉

    1. bisa dibilang begitu.. hehehe.. karena ayahnya terlalu otoriter sedangkan hana juga sifatnya sama kerasnya.. taemin gak tau, dia emang terlalu benci jinki sampai gak merasa jinki itu ada, gmn mau tau urusannya jinki..🙂
      maaf ya, baru sempet baca2in komen di sini..🙂

    1. iya, memang ruwet..🙂
      taemin gak tau karena dia memang gak peduli semua hal yang menyangkut soal jinki.. kalau hyejin gak tau krn hana-jinki memang menyembunyikan hubungan mereka dari temen2 di sekolahnya..🙂

  5. cool!!
    suka!!
    suka bgt ama karakter tiap castnya..
    prolognya keren, dua pemikiran yg bertolak blkang, tpi berpotensi untuk saling melengkapi, suka!!
    penasaran ama klnjutannya~~

    1. makasih udah suka.. lanjutannya mungkin masih lama, soalnya masih ada ff aku yang on going di sini.. jatahku ngepost ff sangat terbatas.. hehehehe..🙂

  6. ahhh komen aku ke hapus T.T
    ya udalah aku mau bilang daebak aja🙂
    hana ntu perfect banget ahhhh cowo-cowonya kece pula pengennnnnn
    jinki ma hyejin , hana ma taem, ato jinki tetep ama hana ada dua musuh, ato ternyata mereka semua sodara ada yang is dead ato gini aja aku ama Jinki tuhh happy ending deh ahahahahaha

    1. hahaha… bingung mau jawab apa.. imaginasimu terlampau luas, dear..🙂 cerita ff ini sebenernya simple kok, gak serumit seperti yang kelihatannya.. cuma memang cukup banyak konflik yang akan terjadi dan akhirnya menghubungkan keempatnya satu sama lain.. makasih udah baca dan komen🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s