Just You [1.2]

Title            : Just You Part 1

Author        : EShyun

Main Cast   :

  • Kwon Yuri
  • Choi Minho
  • Choi Siwon

Other Cast  :

  • Lee Jinki
  • Kim Jonghyun
  • Kim Kibum a.k Key
  • Lee Taemin

Length        : Twoshoot

Genre         : Romance and litle sad

Happy reading…

Duk duk duk duk

Suara pantulan bola basket yang berasal dari lapangan indoor itu bergema keseluruh ruangan. Saat ini sedang berlangsung pertandingan basket antara Rocket university dengan Chungdam university. Sorak-sorai penonton bergema kuat untuk menyemangati sekolah mereka masing-masing. Pertandingan yang berlangsung di Chungdam university, menjadikan suporternya lebih banyak daripada Rocket university. Skor saat ini adalah 42-48 dengan Chungdam university yang memimpin angka untuk sementara ini.

Minho, kapten dari Rocket university tak henti-hentinya mencoba untuk memasukkan bola kedalam ring. Peluh yang menetes dari sekujur tubuhnya membuat namja tampan itu menjadi semakin beraura. Dimana-mana terdengar jeritan-jeritan yeoja yang menyerukan namanya, dan tak sedikit yeoja pun yang berteriak histeris apabila melihatnya berhasil memasukkan bola ke dalam ring.

Terlihat kedua club sudah sangat kelelahan dan skor pun telah berubah menjadi 68-68, waktu yang tersisa hanya tinggal beberapa detik saja. Kedua tim saling bersaing dengan sangat ketat.

“Ya, lempar bolanya padaku.” Teriak Minho pada Taemin, teman satu timnya.

Dan tak lama setelah itu terlihat bola melayang kearah sang kapten, dan Minho segera menembakkan bolanya tepat ke arah ring dan priiiittt, peluit berbunyi seiring dengan masuknya bola yang di lemparkan Minho tadi. Skor pun berubah menjadi 68-70, dan menjadikan Rocket university sebagai juara basket tahun ini. Sorak-sorai gembira terdengar dari sudut kiri lapangan, tempat dimana anak-anak Rocket university yang menonton jalannya permainan tadi. Di tengah lapangan telihat Minho dan timnya merayakan kemenangan mereka dengan saling berpelukan.

“Chukkae Minho-ah,” ucap Yuri yang notabenenya adalah yeojachingunya Minho.

“Ne chagiya, gomawoyo.” balas Minho sambil mengecup keningnya sekilas.

“Sekarang kau harus mentraktirku, karena kau berhasil memenangkan pertandingan ini, kau sangat keren Minho.”

“Kau baru tau kalau namjamu ini sangat keren ha?” ujar Minho sambil menggodanya.

“Ah, penyakit narsismu itu kumat lagi Minho.”

“Hahaha. Tapi kau suka kan Yuri-ah?”

“Ne ne ne, sudahlah aku tidak akan pernah menang jika berdebat denganmu.”

“Ya Minho, sampai kapan kau akan terus bermesraan dengan yeojamu itu? Apa kau tidak ingin mengambil medali ini?” teriak Taemin padanya

“Ah, tentu saja aku mau, aku akan segera kesana Taemin-ah.” Teriak Minho kembali.

“Yuri-ah, aku akan mengambil medaliku dulu dan kau harus menungguku dengan manis disini aku tidak akan lama” kata minho pada Yuri.

“Ne Minho. Cepat sana kau jemput medalimu itu dan setelahnya kau harus segera berkencan denganku.”

“Ne, chagi.”

Setelah selesai, Minho dengan segera menghampiri Yuri. Mereka berdua berjalan menuju mobil Minho.

“Kita akan pergi kemana tuan putri?” tanya Minho pada Yuri.

“Terserah kau pangeran” jawab Yuri.

“Hmm, bagaimana kalau kita pergi ke cafe favorit kita?”

“Baiklah, kebetulan aku sedang lapar.”

Disepanjang perjalanan, mereka saling bersenda gurau. Mereka terlihat sangat serasi, Minho yang memiliki postur tubuh yang tinggi dengan wajah tampah dan flaming charismanya yang mampu membuat setiap yeoja yang ia temui dapat bertekuk lutut di hadapannya, sedangkan Yuri, yeoja cantik yang baik hati dan selalu ramah pada setiap orang membuatnya menjadi idola para namja di kampusnya. Dan dengan bersatunya mereka berdua, menjadikannya terlihat sangat sempurna.

Mereka berdua telah sampai di tempat tujuan. Mereka masuk lalu memilih tempat duduk dekat jendela agar bisa menikmati suasana luar yang indah. Saat sedang asik bersenda gurau, tiba-tiba mata Yuri menangkap sesosok namja yang sedang duduk di sudut ruangan. Namja yang sudah sangat lama tidak ia temui lagi, namja yang pernah menjadi salah satu bagian dari hidupnya dulu, namja yang pergi meninggalkannya tanpa mengucapkan apapun, namja yang dulu sangat ia sayangi, namja yang dulu selalu membuatnya tersenyum bahagia dengan semua janji manisnya. Dan tiba- tiba ingatan Yuri kembali ke 4 tahun yang lalu.

Flashback

Yuri POV

“Ya, ayo tebak siapa aku.” terasa sepasang tangan menutup kedua mataku. Hmm, ini pasti dia, sudah jam berapa ini? Selalu saja terlambat, menyebalkan.

“Ah, oppa. Kenapa kau suka sekali membuatku menunggu seperti ini?” ucapku dengan kesal.

“Yah, kenapa kau tau kalau ini aku chagi? Mianhae, tadi aku harus menyelesaikan tugas kuliahku dulu, makanya aku terlambat.” Jawabnya padaku

“Selalu tugas kuliah yang menjadi alasanmu oppa, apa kau tidak bisa sekali saja jangan menduakan aku dengan tugas-tugasmu itu oppa?”

“Mianhae, tadi ada jam tambahan dan aku mendapat hukuman karena datang terlambat, jadi aku harus menyelesaikanya dulu chagi.”

“Selalu seperti itu.”

“Chagi, kalau kau marah terus, itu membuatmu terlihat jelek.” godanya padaku

“Biarlah, tapikan kau tetap mencintaiku oppa.” Ujarku padanya.

“Ne, itu pasti chagi, sampai kapanpun kau akan tetap aku cintai dan aku sayangi.”

Flashback end.

Normal POV

Tanpa sadar, air mata Yuri menetes. Kisah empat tahun silam itu terulang kembali dalam fikirannya. Sangat jelas dan semakin jelas saat ia mencoba untuk melenyapkan fikiran itu. Pandangan matanya yang sendu tetap tertuju pada namja itu. Keberadaan Minho di sampingnya sudah tidak ia sadari lagi, seakan sedang berada di satu waktu saat ia masih bersama namja itu. Minho yang menyadari perubahan air muka yeojanya itu terlihat sedikit panik, terlebih saat ia menyadari bahwa yeojanya itu sedang menangis. Dengan perasaan yang sangat khawatir, Minho mengguncang-guncang tubuh yeojanya itu, namun Yuri tetap tidak menggubris Minho seperti masih ingin berlama-lama dengan kenangannya itu.

Karena tak ada respon yang di dapat oleh Minho, rasa paniknya menjadi berlebihan, ia takut terjadi apa-apa dengan yeojanya itu. Minho kembali berusaha untuk menyadarkan yeojanya itu.

“Ya, Yuri-ah, gwenchanayeo?”tetap tak ada jawaban. “Yuri, kau kenapa? Yuri, apa yang terjadi, apa ada yang salah disini? Kenapa kau diam dan terus menangis seperti ini?” Minho mulai panik. “Yuri-ah, chagi…”

Seperti baru tersadar dari khayalnya, Yuri sedikit tersentak dan kembali ke alam nyata. Dengan mata yang sembab dan fikiran yang kacau Yuri segera meminta Minho untuk segera mengantarkan ia pulang ke apartemennya.

“Minho-ah, sepertinya aku kurang enak badan, bisakah kau mengantarkan aku pulang?”

“Apa aku perlu mengantarkanmu ke rumah sakit? Keadaanmu sangat mengkhawatirkan aku Yuri-ah.”

“Aniyo Minho, aku hanya butuh istirahat. Jebal, antarkan aku pulang sekarang Minho-ah.

“Ne chagi, ayo.”

Minho mengandeng tangan Yuri dan memapahnya menuju mobilnya. Saat mereka ingin meninggalkan cafe itu, tak sengaja mata Yuri bertemu dengan mata namja tersebut dan tersirat dari tatapan namja itu ia sangat terkejut melihat kehadiran Yuri disitu. Yuri hanya bisa mengangis dalam diam dan kembali membiarkan kenangan-kenangan lamanya bermain-main di fikirannya.

Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di apartemen Yuri.  Minho yang tak tega Setelah memastikan bahwa Yuri telah masuk kedalam, Minho baru beranjak dan memacu mobilnya menuju kerumahnya.

Di dalam Yuri kembali menangis. Kenangan itu muncul kembali, membuka luka lama yang telah ia buang jauh-jauh dari kehidupannya. Membuatnya kembali merasakan sakit yang tak pernah ingin ia rasakan.

Namja itu, Choi Siwon. Tunangan Yuri yang telah pergi meninggalkan Yuri 4 tahun yang lalu tanpa mengatakan apapaun. Namja yang sangat Yuri sayangi, bahkan kalau boleh jujur, hingga saat ini rasa itu masih ada. Namun telah tertutupi oleh rasa sakit yang ia berikan pada Yuri.

Flasback

Yuri POV

Musim salju yang indah, ini adalah tahu kelima hubunganku dengan Siwon oppa, dan kali ini ia akan mengajakku untuk bertemu dengan keluarganya. Sesuai rencana, lusa kami akan melaksanakan pertunangan dan setelah ia menyelesaikan kuliahnya, ia akan segera menikahiku. Ahh, aku ingin segera bertemu dengannya saat ini, sedetik saja tanpa melihat wajahnya membuatku sangat tersiksa, aku sangat mencintaimu Siwon oppa.

Handphone ku tiba-tiba berbunyi dan tertera nama Siwon oppa dilayarnya.

“Yoeboseo, waeyo oppa?”

“Yeoboseo, chagi aku sudah di bawah apartemenmu, segeralah turun dan temui aku.”

“Ne oppa, tunggu sebentar ya”

Dengan berlari kecil aku segera menuruni anak tangga dan turun menuju Siwon oppa. Mobil nya telah terparkir di pinggir jalan dan aku masuk kemobilnya.

“Oppa, apakah kau menunggu terlalu lama?” tanyaku padanya.

“Aniyo, chagi.”ujar Siwon lalu melajukan mobilnya

Tak lama kemudian kami sampai di rumah mewah keluarga Siwon oppa, seluruh keluarganya telah berkumpul dan menyambutku dengan sangat hangat, membuatku kembali merindukan keluargaku yang berada jauh dariku.

Segala sesuatu untuk pertunangan besok telah mereka siapkan dengan sangat sempurna, undangan telah disebarluaskan, bahkan cincin pertunangan telah disiapkan jauh-jauh hari dan itu ummanya Siwon yang memilihkannya. Mereka akan melaksanakan acara itu di kediaman mereka. Dan malam ini, aku akan menginap disini karena permintaan umma Siwon.

Pagi harinya, aku segera bangun dengan senyum yang mengembang di bibirku. Setelah mandi, aku segera di tarik menuju sebuah kamar dan kemudian aku di suruh mengenakan dress putih panjang yang sangat indah dengan manik-manik putih berkilauan yang menghiasinya. Rambut panjangku di gulung dengan sangat indah dan menampakkan leher jenjangku yang dihiasi kalung berlian pemberian dari Umma Siwon. Ah, aku rasa ini akan menjadi hari terindah dalam hidupku.

Tak lama kemudian aku keluar kamar menuju ke tengah ruangan. Dentingan piano yang menghiasi setiap langkah kakiku membuatku terlihat seperti seorang putri yang akan menuju singgasananya. Berjuta pasang mata menatap kagum kearahku, membuat kedua pipiku memerah dengan sendirinya. Siwon oppa mengenakan tuxedo putihnya berdiri dengan sangat gagah di tengah ruangan, senyumnya selalu terarah kepadaku, membuatku bertambah kagum pada setiap detail wajah tampannya itu. Dengan tangan kirinya yang menggenggam kotak cincin, tangan kanannya meraih tanganku dan menuntunku menuju kearahnya.,

Tak lama kemudian acara pun segera dimulai. Siwon oppa memakaikan cincin berlian dijari manis tangan kananku dan kemudian aku pun melakukan itu padanya. Suara tepuk tangan terdengar sangat riuh dan membuat suasana menjadi semakin ramai.

“Yuri-ah, Saranghae. Kelak kau akan menjadi umma dari anak-anakku nantinya.” Ucap Siwon oppa padaku sambil mencium pipiku.

“Ne oppa, nado.”

Flashback end

Normal POV

Suara dering handphone yang sedari tadi berbunyi, tak dihiraukan oleh Yuri, ia masih berada di dalam khayalan masa lalunya seakan tak pernah ingin kembali ke alam nyata kerena terlalu terbuai dengan keindahannya.

Di tempat lain, Minho masih mengkhawatirkan Yuri. Ia mencoba untuk menghubungi yeojanya itu, namun hasilnya tetap nihil. Tak ada jawaban dari yeojanya itu. Berkali-kali ia meneelponya dan telah banyak pesan yang ia kirimkan pada Yuri, namun tak satupun teleponnya diangkat dan tak satupun datang balasan pesan dari Yuri. Hal itu membuatnya semakin merasa khawatir. Berbagai fikiran buruk mulai menghantui dirinya dan sampai pada akhirnya Yuri  menjawab telpon Minho dan disambut dengan nafas lega Minho.

“Yuri-ah, apa yang terjadi padamu? Apa kau baik-baik saja? Aku sangat mengkhawatirkanmu Yuri.”

“Ne Minho-ah, gwenchanayeo. Mian aku telah membuatmu merasa khawatir, aku hanya merasa sedikit tidak enak badan, dan aku ingin istirahat Minho. Untuk sementara ini, jangan hubungi aku dulu, aku ingin menenangkan diriku dulu Minho-ah.”

“Ne chagiya, aku hanya mengkhawatirkanmu, jika terjadi sesuatu segera hubungi aku, ara?”

“Ne, araseo Minho-ah, aku akan mematikan telponnya sekarang.”

“Ne, saranghae Yuri-ah.”

“Nado”

Perasaan khawatir Minho sedikit berkurang, namun itu tak membuatnya menjadi tenang. Tetap ada rasa penasaran yang menggelitik hatinya. Apa sebenarnya yang terjadi pada yeojanya itu? Adakah suatu hal yang sedang di sembunyikan oleh Yuri padanya? Atau ia memang benar-benar dalam keadaan sakit? Segala sesuatunya menjadi campur aduk dalam fikiran Minho, namun karena ia tak ingin itu menjadi beban, ia pun berusaha untuk berfikir positif dan berusaha menjauhkan semua fikiran buruknya. Setelah merasa sedikit tenang, ia menghubungi Taemin dan mengajaknya untuk pergi ke café sembari menenangkan fikirannya itu.

“Yeoboseo, Taemin-ah kau lagi dimana? Bisakah kau pergi bersamaku sekarang?“ ucap Minho setelah telponnya tersambung.

“Yeoboseo, Minho-ah. Aku sekarang berada di café Heaven bersama Key, Jonghyun hyung, dan Onew hyung. Memangnya kau ingin mengajakku kemana Minho?”

“Ah, kau sedang berada di café? Kau dan yang lain tunggu aku disana, aku akan segera kesana.”

“Ne, aku akan menunggu.”

Setelah sambungan telepon mati, Minho menyambar kunci mobilnya yang terletak di atas meja dan berlari menuruni anak tangga menuju mobilnya. Setelah masuk ke dalam mobil, ia segera melajukan mobilnya menuju ke café Heaven.

Tak lama kemudian, sampailah Minho di tempat yang ia tuju. Setelah memarkirkan Mobil, ia dengan sedikit tergesa-gesa berjalan masuk dan mendapati teman-temannya berada di sudut café, tempat kegemaran mereka jika sedang berkumpul bersama. Kebetulan café itu adalah milik Onew yang notabenenya adalah teman Minho, jadi kapanpun mereka ingin berkumpul bersama, tempat itu akan selalu terbuka untuk mereka.

“Hyung.” Sapa Minho pada Onew saat tiba di tempat mereka.

“Ne, kau sudah sampai Minho? Apa kau sedang ada masalah?” balas Onew padanya.

“Aniyo hyung, aku baik-baik saja. Hanya saja yeojaku sepertinya yang sedang bermasalah hyung.”

“Memangnya apa yang terjadi pada yeojamu itu Minho-ah?”tanya Taemin.

“Aku juga tidak tau. Tadi sepulang pertandingan basket aku pergi bersamanya menuju sebuah café. Dan sesampainya disana, ia terlihat sangat aneh. Tiba-tiba pandangannya menjadi kosong dan tak lama setelah itu ia menangis. Aku sangat kebingungan karena saat aku memanggil-manggil namanya tak ada respon darinya. Sampai akhirnya ia tersadar dan malah memintaku untuk  mengantarkannya pulang.” Jelas Minho panjang lebar.

“Apa kau tidak bertanya padanya apa yang terjadi? Mungkin saja ia sedang sakit atau sedang ada fikiran?” tanya Key

“Aku sudah menanyakannya, dan ia hanya menjawab ia sedang tidak enak badan. Aku juga berfikir seperti itu melihat kondisinya yang sangat mengkhawatirkan. Tapi saat aku menawarinya untuk membawanya ke rumah sakit, ia menolak dan hanya menyuruhku untuk mengantarkannya pulang dan aku menurutinya.”

“Mungkin ia kelalahan dan butuh beristirahat. Sebaiknya kau jangan mengganggunya dulu, biarkan dia beristirahat sejenak.” Ujar Jonghyun.

“Kau jangan berfikiran yang tidak-tidak dulu. Tunggulah sampai besok, apakah ada sesuatu yang berubah darinya? Jika ia, kau harus  menanyakannya, bicaralah dari hati ke hati dan kalian harus saling memahami satu sama lain.”sambung Onew

“Araseo, aku akan mencobanya. Gomawo, kalian telah memberiku masukan sehingga aku bisa lebih tenang untuk menghadapinya.”

“Cheonma, itu memang sudah kewajiban kita sebagai teman.” Jawab Taemin.

Minho yang mulai bisa mengendalikan fikirannya terlihat sangat santai dan menikmati keadaan saat itu. Mereka terus berbicara sampai ada seseorang yang menghampiri mereka.

“Annyeonghasyeo.” Sapa seseorang.

“Annyeonghaseyeo” jawab mereka serempak.

“Ah, ternyata kau Siwon, aku fikir siapa tadi.” ucap Jonghyun tiba-tiba.

“Kau mengenalnya hyung?” tanya Key pada Jonghyun.

“Ne, tentu saja. Ia adalah orang yang aku ceritakan tadi. Dia temanku dari kecil dan ia baru saja menamatkan S2 nya di Amerika. Dan sekarang ia telah kembali lagi kesini.”

“Oh, ternyata dia yang kau ceritakan hyung. Dia sangat tampan, sepertinya kau memiliki seorang saiangan Minho-ah.” Canda Key pada Minho dan yang lain hanya bisa tertawa mendengarnya.

“Hai aku Siwon, senang bisa berkenalan dengan kalian semua.”

“Aku Onew.”

“Aku Taemin.”

“Aku Key.”

“Dan aku Minho.”

Saat melihat wajah Minho, Siwon seperti pernah melihatnya disuatu tempat, namun ia tidak mengingatnya. Tapi, akhirnya Siwon hanya berfikir bahwa itu hanyalah imajinasinya saja. Minho sangat tampan, mungkin ia pernah menjumpai orang yang mirip dengannya di Amerika, jadi ia tidak mempersoalkan hal itu. Setelah perkenalan, Siwon bergabung dengan mereka dan berbagi cerita pada semuanya. Tawa kembali menghiasi wajah mereka. Tanpa disadari, hari sudah sangat sore dan mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.

Keesokkan harinya, pagi-pagi sekali Yuri telah berada di depan pintu aparteman Minho. Dia menenteng berbagai bahan makanan untuk membuatkan Minho saparan pagi. Ia ingin menebus kesalahanya yang semalam kerena telah membuat Minho khawatir. Yuri menekan bel berkali-kali, sampai akhirnya pintu dibuka oleh Minho. Sepertinya ia baru bangun tidur, terlihat dari piyama yang masih dikenakannya dan rambutnya yang sedikit berantakan.

“Ya, Minho-ah. Apakah kau baru bangun dari tidurmu?” tanya Yuri setelah ia melangkahkan kaki masuk ke dalam apartemen.

“Ne Yuri-ah, dan kaulah yang menyebabkanku terbangun dari mimpi indahku.” Jawab Minho dengan masih terkantuk-kantuk.

“Hei, bagaimana bisa seorang calon appa dari anak-anakku pemalas sepertimu?”

“Yuri-ah, aku masih sangat mengantuk. Bisakah kau tidak menceramahiku saat ini dan biarkan aku melanjutkan tidurku.”

“Ya! Tidak bisa, kau tidak boleh melanjutkan tidurmu. Sekarang kau harus segera mandi dan aku akan membuatkanmu sarapan. Ara?”

“Tapi ini masih sangat pagi Yuri-ah. Aku tidak mau mandi. Kau buatkan saja sarapan untukku dan setelah aku menghabiskannya, kau harus membiarkan aku untuk kembali melanjutkan tidurku!”

“Shireo! Kau harus mandi sekarang, atau kau akan aku siram Minho-ah.” Ancam Yuri.

“Aniyo, aku tidak ingin mandi.” Tolak Minho.

“Minho-ah….” Yuri telah bersiap-siap ingin menyiram Minho dengan seember air di tangannya.

“Ah, ne ne. Aku akan mandi sekarang Yuri, kau tidak perlu menyiramku dengan air itu, ya! Aku akan segera mandi” Minho akhirnya mengikuti perkataan Yuri karena ketakutan melihat tingkah Yuri. “Ah, masih pacaran saja, ia sudah telihat galak. Apalagi bila aku sudah menikahinya. Bisa-bisa ia akan mencincangku jika aku tidak mendengarkan kata-katanya.” Guman Minho sambil berjalan menuju kamar mandi.

“Minho-ah, aku bisa mendengarmu. Bisakah kau mengulangi ucapanmu lagi?” tiba-tiba Yuri telah berada di belakang Minho dengan menggenggam sebuah pisau dapur di tangannya, seperti seseorang yang siap mencincang-cincang ayam untuk menjadikannya sup.

“Ah, aniyo tuan putri, aku hanya berkata bahwa kau telihat sangat cantik pagi ini. Aku akan segera mandi tuan putri dan kau masakkan aku sarapan yang enak ya.” Ucap Minho ketakutan.

Minho yang bergidik melihat kelakuan Yuri segera melesat menuju kamar mandi dan menutup pintunya dengan keras. Yuri hanya bisa tertawa melihat kelakuan namjanya itu. Ia berfikir, kenapa ia selalu bisa berbuat sadis pada Minho dan mengapa ia tidak bisa berbuat sadis pada Siwon oppa dulu?

Deg, bayangan Siwon kembali bermain-main di kepalanya, dan itu membuatnya kembali mengingat namja yang telah melukai hatinya itu.

Flahback

Yuri POV

“Oppa, oppa… ireona. Apa kau lupa bahwa kita hari ini akan pergi menonton film?”  aku berusaha membangunkan Siwon oppa yang sedang tertidur dengan sangat hati-hati.

“Hmm, apa itu tidak bisa di tunda? Aku masih sangat mengantuk Yuri-ah.”

“Ne, oppa, tentu saja. Masih banyak waktu yang lain kok. Sekarang, aku pulang dulu ya oppa, dan kau bisa melanjutkan tidurmu.”

“Hmm, hati-hati dijalan ya, kau memang sangat mengerti aku. Saranghae Yuri-ah.” Ujarnya dengan mata yang masih tertutup.

“Nado oppa.” Ucapanku berakhir dengan mengecup keningnya.

Flashback end

Normal POV

Air mata Yuri menetes karena teringat akan masa lalunya itu. Hatinya kembali terasa perih mengingat semuanya. Apakah sekarang ia harus kembali dihantui dengan luka lamanya itu? Dia tetap berusaha kuat dan tegar menghadapi semua ini. Karena ia tak ingin Minho melihatnya menangis lagi, ia segera menyeka air matanya dan kemudian berjalan ke dapur untuk membuatkan sarapan Minho.

Saat sedang asik mengaduk-aduk sup buatannya, tiba-tiba sepasang tangan melingkar di pinggangnya dan kemudian pemilik tangan itu mencium pipi kiri Yuri.

“Minho, kau mengagetkanku. Untuk saja sendok ini tidak melayang kekepalamu.”

“Aku tak bermaksud membuatmu kaget, aku hanya ingin sedikit bermesraan denganmu.”

“Hahaha, kau memang selalu begitu, kau sangat manja Minho-ah.”

“Tapi kau suka kan Yuri?” tanya Minho.

“Ne, tentu saja aku menyukai semua yang ada padamu oppa….”

“Tunggu… Oppa? Sejak kapan kau memanggilku “oppa” Yuri-ah.” Minho sedikit kaget mendengar kata-kata terakhir Yuri.

“Ah, itu, aku hmm aku,…,” Yuri bingung ingin menjawab apa karena ia tadi sempat berfikir bahwa itu adalah Siwon.

“Aku apa yuri-ah? Kenapa kau terlihat tegang seperti itu?” Minho mulai curiga dengan gelagat yuri.

“Aniyo Minho-ah, aku aku,, hmm… aku hanya ingin menggodamu saja, ya menggodamu. Apakah kau pantas aku panggil oppa? Sepertinya tidak pantas, sangat tidak pantas melihat kelakuanmu yang sangat kekanak-kanakan itu.” Ujar Yuri beralasan.

“Apa yang kau bilang Yuri? Aku tidak kekanak-kanakan!” Minho sedikit tidak terima dengan perkataan Yuri.

Di dalam hati Yuri sangat lega karena Minho tidak mempertanyakan hal itu lagi.

“Ne, kau memang terlihat seperti itu Minho-ah.” Yuri mulai menggoda Minho.

“Ya! Coba kau katakan sekali lagi Yuri.”

“Kau-sangat-kekanak-kanakan Minho-ah.” Yuri mengeja setiap kata dan setelahnya bersiap-siap berlari meninggalkan Minho.

“Yuri-ah, kau mau kemana ha? Kau ingin bermain-main denganku? Araseo. Jika aku bisa menangkapmu, maka kau harus mengambil kembali kata-katamu itu.” Minho berkata sambil mengejar yuri.

“Coba saja kalau kau bisa menangkapku.” Yuri berkata sambil menjulurkan lidahnya ke arah Minho.

Sambil tertawa mereka berdua saling melontarkan ejekan. Mereka terlihat sangat bahagia, hingga akhirnya mereka merasa lelah dan memutuskan untuk menyudahinya kemudian terduduk di sofa dengan masih saling tertawa.

“Hahaha, ini sangat melelahkan. Kau tidak bisa menangkapku kan Minho-ah.” Yuri kembali menggoda Minho.

“Hahaha, aku mengalah. Kau memang sangat gesit tuan putri, sampai-sampai aku kehabisan nafas karenamu. Kau harus bertanggung jawab, segera berikan aku nafas buatan sebelum aku benar-benar kehabisan nafas.” Minho menggoda sambil mengedipkan matanya.

“Aniyo. Aku tidak akan memberikanmu nafas buatan. Kau mesum Minho-ah.”

“Hahaha, aku tidak mesum, aku hanya meminta nafas buatan darimu, itu saja kok.”

“Tetap saja kau mesum Minho-ah. Eh tunggu, sepertinya aku mencium sesuatu…. Omo, tadi aku lupa mematikan kompor berarti…” Yuri dengan sangat terburu-buru segera berlari menuju dapur.

“Minho-ah, sepertinya pagi ini kau tidak akan mendapatkan saparan, karena supnya sudah hangus.” Yuri berteriak dari arah dapur sambil tertawa.

“Mwo? Kau ini sangat teledor tuan putri. Bagaimana bisa kau membiarkan pangeran tampanmu ini kelaparan? Tadi kau sudah membuatku hampir kehabisan nafas, dan sekarang kau membuatku kelaparan. Kau harus di hukum tuan putri.”

“Huh, mengapa kau malah menyalahkanku? Bukankah ini semua karena perbuatanmu? Aku tak ingin mendapatkan hukuman darimu dan harusnya kau yang aku hukum pangeran.”

“Shireo! Apapun yang terjadi kau yang harus dihukum. Sekarang kau harus ikut bersamaku. Kaja.”

“Kau mau membawaku kenama Minho? Aku tak ingin kau…”

“Sudahlah tuan putri, turuti saja pangeranmu ini. Tenang saja, aku tak mungkin mencelakaimu tuan putri.” Minho memotong kata-kata Yuri

Yuri hanya bisa menahan tawanya. Minho pun kembali menarik tangan Yuri dan membawanya masuk ke dalam mobilnya. Setelah membukakan pintu dan mempersilahkan Yuri masuk, iapun berjalan menuju pintu tempat kemudi dan mulai mengemudikan mobilnya.

“Sebagai hukumannya, kau harus menemani pangeran tampanmu ini sarapan di luar. Nah, sekarang aku akan membawamu ke café Onew hyung, kau hanya perlu duduk manis dan ikuti saja semua yang aku pinta. Araseo?”

“Hahaha, ne akan aku lakukan pangeran. Tapi bisakah kau berhenti memuji dirimu sendiri? Itu membuatku menjadi sakit perut.”

“Ah, aku tau kau pasti menyukainya, jadi kau jangan berbicara yang bukan dari hatimu. Jika aku tidak tampan, mana mungkin tuan putri mau padaku.”

“Ne ne, terserah apa katamu sajalah.”

Tak lama kemudian, sampailah mereka di café Heaven. Mata Minho mengankap sosok Jonghyun yang terlihat sedang berbicara dengan seseorang yang tak ia ketahui karena posisi orang itu membelakangi mereka. Dan akhirnya Minho memutuskan untuk bergabung dengan Jonghyun hyung.

“Hyung, ternyata kau berada disini.”sapa Minho.

“Hai oppa, kau sedang bersama sia…?”ucapan Yuri terhenti saat ia melihat orang yang bersama Jonghyun. “Opp.. oppa? Siwon oppa?”

TBC

Uwaaah, gajekah? TT typo dimana-mana.. Mianhae, maklum author baru belajar, hehe.. Komen jangan lupa yak^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

12 thoughts on “Just You [1.2]”

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s