Always By Your Side [2.2]

Title : Always By Your Side [2.2]

Author  : Shin Fujita

Main Cast : Lee Taemin and Lee Min Yeon

Support Cast  : Choi Sulli , Choi Minho, eomma appa Taemin, Dokter

Genre  :  Family , sad, life, angst , romance

Rating : PG 13

A/N : YEEE!! Akhirnya ini bagian endingnya! :D. Bagaimana dengan part 1 nya? kepanjangan kan? Nah..kalau di part ini malah lebih panjang -_- . Kan pengennya mau buat one shot terus jadi two shot, kalau mau buat chaptered nanti kependekan -_- . Ribetkan? Tapi gak apadeh..Oh Ya..ending ini agak tragis dan sedih juga 😦 , terus bagian endingnya tu…ouh..gaje ! hahaha biarin, biar reader sendiri rasain gimana gaje nya ff ini

>BACKSOUND

SHINee – Life

SHINee- Quasimodo

Taeyeon (SNSD) – Closer

F(x) – You’re My Destiny

Xia Junsu – Love Like Snow

Seo In Guk and Jung Eun Ji – Our Love Like This

SNSD – Lost In Love

nah..aku sarankan kalian dengerin lagu lagu yang ada di atas, sebab kalau denger lagu lagu itu bikin kalian terhanyut dalam cerita :D..bisakan? kalau gk punya download aja! 😛

Semua kenangan kita begitu cepat berlalu

Kenangan itu akan tinggal debu tanpa dirimu

Itu semua berawal dari oppa sendiri, menghancurkan kenangan kita dulu

Mianhae…atas kesalahan oppa selama ini.

Kesalah pahaman, keegoisan membuat kita perlahan berjarak

Mianhae.. ini memang salah oppa

Meskipun begitu oppa akan selalu di sampingmu, jika kamu mau,dan oppa akan pergi ,jika kamu mengusirku

Karna semua ini adalah salah oppa

Sekali lagi…Mianhae…malaikat kecilku

> Always By Your Side<

Min Yeon. Pov

”Min Yeon –ah~ mianhae~” aku hampir muak dengan suara Minho oppa yang selalu mengusikku. Entah mengapa aku jadi terganggu disampingnya. Apa ini karna kejadian pagi itu? Apa aku mengingat Taemin oppa lagi?

”sudah kubilang , kata maaf tak bisa mengubah semuanya!” ucapku menahan rasa kesalku. Aku ingin menangis jika ia berkali kali mengatakan kata ’mianhae’ itu. Apa ia tak bisa diam? Mencoba diam untuk hatiku yang sedang hancur ini? Hancur? Begitukah perasaanku saat ini? Iya! Malah lebih dari hancur! Aku tak sanggup berpikir dengan jernih, karna diotakku hanya ada Taemin oppa. Dan sekarang ia membenciku. Ani! Oppa tak akan membenciku, ia hanya…ah! aku bisa gila! Aku tak tahu kenapa ini! Kenapa oppa yang sangat kusanyangi itu begitu marahnya padaku. Aku merasa sangat terpuruk. Aku …aku sangat sedih, bersalah, takut, dan kecewa.

”oppa….” tak kusangka air mataku kembali turun. Menyebut nya dengan ’oppa’ membuatku jadi makin sakit.

”Min Yeon-ah…” aku merasa sesuatu yang hangat ditubuhku. Dan aku rasa, Minho oppa sedang memelukku. Entah sejak kapan ia memelukku, hingga aku terbawa suasana dan menangis sekerasnya di dekapanku.

”menangislah..aku akan disisimu” aku tertegun.. kalimat itu..kalimat itu pernah diucapkan oleh Taemin oppa. Aku kembali mengingatnya, menangis lagi dan hatiku seperti tersayat-sayat pisau. Kenapa Min Yeon begitu bodoh? Hanya dengan bentakan dari Taemin membuatmu hampir gila seperti ini. Tapi…ketika aku merasa kehangatan didalam dekapan Minho, aku bisa merasakan hal yang berbeda, aku rasa pelukan dari Taemin oppa lah yang membuatku benar-benar hangat dan nyaman. Ia memelukku penuh dengan kasih sayang yang tak pernah berhenti mengalir padaku. Aku juga begitu, aku begitu sangat menyayanginya seperti ialah satu satunya manusia yang sangat kusanyangi. Namun kali ini apa? Ia berubah…

Oppa~ apa aku sangat bersalah padamu? Apa kamu tak menyukai hubunganku dengan Minho?

Meskipun begitu, seharusnya kamu mengatakannya jika kamu tak suka. Jangan seperti ini, bersikap seperti ini.

Aku sangat sedih dan takut. Rasa takutku makin mengental jika oppa begini terus.

Oppa~ ketahuilah.. oppalah yang paling kusayangi, karna bagiku oppa adalah segelanya._ Min Yeon

Taemin Pov.

”Lee Taemin neomu babo! Babo! Babo!!” aku memukul kepalaku sendiri. Ah! Kenapa aku ini? Begitu kasar dengan dongsaengku sendiri? Kenapa kalimat itu langsung saja kulontarkan padanya? Aku yakin Min Yeon-ku sangat terkejut dan sedih, tapi hatiku tak kalah sedih. Melihat foto dongsaengku sendiri yang dicium oleh namja lain. Apalagi itu sudah tersebar ke seluruh sekolah. Itu membuat ku tiba-tiba kesal padanya. Apa itu sudah keteraluan? Apa Min Yeon tak punya malu di cium dengan orang yang tak terlalu ia kenalnya? Kenapa gadis itu….tidak berhati-hati? Seharusnya ia tidak segampang itu di cium oleh namja itu!.

”Aishh!!” aku megacak rambutku frustasi. Tak terasa aku sudah marah –marah sendiri di dalam kamar hingga jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.

”Apa Min Yeon sudah pulang?” tanyaku sendiri. Tadi aku tidak menjemputnya, karna aku sendiri sedang ma..Ah! Tidak! Meskipun begitu ia sendiri yang membuatku seperti itu. Apa aku berlebihan? Molla~ Namun yang jelas aku khawatir. Apa Min Yeon sudah berada di rumah?. Ah! Lebih baik ku cek sendiri.

Akupun keluar dari kamar, berjalan menuju kamar Min Yeon, namun tak ada tanda – tanda Min Yeon ada disana.  Dan aku turun ke lantai dasar, menuju dapur,ruang tengah,ruang tamu – namun Min Yeon tidak ada disana. Mungkin dia masih di sekolah? Atau di luar rumah? Lebih baik aku memeriksa keluar dulu.

Aku sudah di luar rumah, memakai sepatuku karna di luar sangatlah dingin. Dan ketika aku mengedarkan pandangan keseluruh sudut. Aku melihat sepasang murid yang sedang berpulakan tepat di depan pagar rumahku. Aku menyipitkan mataku, melihat gadis yang dipeluk namja itu benar-benar orang yang ku kenal.

”Oppa~ gomawo, aku cukup terhibur tadi”

”Ne…aku senang melihat mu tersenyum lagi, lain kali jika kamu merasa sedih datanglah kepadaku, ne?”

Tunggu! Suara itu! Bukan kah itu suara Min  Yeon? Jadi ia sedang bersama Minho?

Author.pov

”Oppa~ gomawo, aku cukup terhibur tadi” Min Yeon tersenyum saat Minho melepaskan dekapannya. ”Ne.. aku senang melihat mu tersenyum lagi, lain kali jika kamu merasa sedih datanglah kepadaku,ne?” Minho menggenggam tangan Min Yeon dan memberikan kekuatan padanya agar ia tak merasa terpuruk tadi. Sementara Min Yeon, ia kembali tersenyum dan akhirnya mereka tertawa bersama.

Taemin mengendap endap melihat dongsaengnya itu,  rahangnya mengeras seperti orang yang sangat marah. Dan lagi…hatinya terasa sangat perih..sangat perih mendengar namja lain yang menghibur Min Yeon seperti itu. Lain kali jika kamu merasa sedih datanglah kepadaku,ne? Kalimat, itu… kalimat itu yang sangat tak disukai Taemin. Dimana-mana hanya ia yang selama ini mengihibur Min Yeon saat ia sedih. Tapi kali ini? Orang itu malah hampir merebut Min Yeon darinya. Taemin tak bisa terima ini, batinnya selalu berteriak agar menghilangkan amarahnya ini. Dirinya jadi tak berguna lagi,jika namja itu yang selalu di samping Min  Yeon. Taemin tidak mau itu! Tidak akan!.

Melihatmu bersama namja lain, membuatku sangat sakit Min Yeon-ah

Seharusnya akulah yang mengucapkan kalimat itu padamu, bukan namja itu.

Tapi karna aku yang membuatmu sedih, aku merasa tak pantas lagi.

Tapi..sungguh aku tak tahan..Min Yeon..bisakah kamu kembali lagi pada oppa?_ Taemin

***

Diam-diam Taemin masuk kedalam kamar Min Yeon, kebetulan Min Yeon sedang di kamar mandi, jadi ia bisa menyelusup masuk ke kamarnya.

Taemin pun melirik sebuah foto yang terpajang diatas meja belajar Min Yeon. Foto ia bersama Min Yeon. Taemin mengambil foto itu, dan memperhatikan senyum Min Yeon yang sangat merekah di sana. Ia masih ingat, ini adalah foto saat mereka liburan musim panas beberapa tahun yang lalu. Min Yeon masih tampak polos dan menggemaskan, karna ia masih kelas 2 SMP sedangkan Taemin berada satu tingkat diatasnya. Taemin kembali menatap foto ia bersama dongsaengnya itu, kini Taeminlah yang tersenyum. Kenangan masa lalu bersama Min Yeon memang hal tak akan pernah ia lupakan. Begitu juga senyum,tawa,dan canda mereka yang tak pernah lunturnya. Namun hari ini…ia telah membuat dongsaengnya menangis,takut,dan sedih. Taemin jadi bersalah…karna melukai perasaan Min Yeon.

”Mianhae…” tetesan air mata Taemin turun kepermukaan foto itu. Tapi ia langsung menyeka air matanya itu, ia menaruh kembali foto itu ketempatnya. Dan saat ia mengembalikan foto itu, tiba-tiba saja Taemin tak sengaja melihat kalender yang ada sebuat tanggal yang di lingkar merah oleh Min Yeon.

My birthday~

Begitulah tulisan yang menyelip diantara tanggal itu. Taemin menyentuh keningnya. Ia hampir lupa kalau besok adalah ulang tahun ke 17 Min Yeon. Mengingat itu Taemin langsung kembali ke kamar dan merencanakan sebuah kejutan buat Min Yeon.

***

”Min Yeon suka hadiah seperti apa ya?” Taemin berjalan melewati beberapa toko asesoris perempuan yang ada di sekitar pinggir jalan. Setaunya ulang tahun Min Yeon yang beberapa tahun yang lalu ia sering memberikan asseoris seperti boneka,dress,bahkan iPod. Tapi kali ini Taemin ingin memberi hadiah yang lebih berbeda dan selalu diingat Min Yeon, tapi apa?

Dan tiba tiba saja, Taemin menghentikan langkahnya saat ia melihat sesuatu yang menarik di pajang di depan toko perhiasan. Seulas senyum terlukis dibibir Taemin, ia tahu apa yang seharusnya ia beri. Karna melihat barang itu, Taemin mengingat memori lama saat ia bersama Min Yeon dulu.

Ø      Flashback

”Oppa! Apa aku terlihat cantik dengan gaun ini?” Min Yeon memutar tubuh mungilnya di hadapan oppanya-Taemin. Tak hentinya ia memberi senyuman terbaiknya kepada oppanya itu hingga penampilannya terlihat lebih cantik.

”nae dongsaeng neomuuuu yeppeo!” Taemin langsung menggendong Min Yeon dan memutarkan tubuh mungil itu. Mereka saling tertawa, meraskan limpahan kebahagian yang tak akan  akan luntur diantara mereka.

”Hahaha! Oppa aku pusing! Turunkan aku!” pinta Min Yeon, Taemin langsung menurunkan Min Yeon kemudian memeluk Min Yeon dengan penuh kasih sayang.

”Kamu menyukai gaun yang oppa beli?”

”Ne! Min Yeon sangat suka! Gomawo oppa!” sahut Min Yeon yang berumur 13 tahun itu dan mencium pipi Taemin kilat. Hingga mereka kembali tertawa.

”Jangan seenaknya mencium oppamu!” seru Taemin sambil mengusap pucuk rambut Min Yeon. Taemin sangat senang di hari itu, mereka barbagi sukacita bersama saat ulang tahun Min Yeon yang ke 13 tahun.

”ngomong-ngomong..jika ulang tahunku yang ke 17, aku ingin oppa memberiku hadiah yang lebiiih berarti dari ini” sahut Min Yeon tiba tiba.

”mwo? Hadiah apa yang kamu inginkan malaikat kecil ku?” tanya Taemin penasaran seraya mencubit pipi Min Yeon gemas. ”Aku ingin sepasang cincin!” seru Min Yeon bersemangat. ”Sepasang? Satu lagi untuk siapa?”

”Untukku, dan untuk oppa! Kita akan selalu memakai cincin itu sampai akhir hayat kita” ucap Min Yeon dengan senyum polosnya. Ia memandang oppanya itu penuh harap, menunggu jawaban Taemin selanjutnya. ” sampai akhir hayat? Jika kamu sudah menikah, kamu masih memakai cincin itu?” tanya Taemin merasa aneh dengan ucapan Min Yeon tadi.

”Iya! Cincin pernikahan juga penting bagiku, tapi cincin untuk kita berdua lebih berharga bagi hidupku oppa. Karna yang akan memberinya adalah oppa yang sangat baik dan sangat tampaaaaan sedunia!”

”Benarkah? Oppakan memang tampan! Arraseo tunggu 4 tahun lagi, oppa akan membelikan cincin yang terbagus untuk kita!”

”Yaksok?” Min Yeon  mengulurkan jari kelingkingnya, lalu dibalas dengan Taemin.

”Yaksok!”

>Flashback end

”Kenangan yang indah” lagi, Taemin menangis sendirinya karna mengenang moment yang tak pernah ia lupakan itu. Ia sangat senang jika dulu Min Yeon pernah meminta sepasang cincin untuk ia dan Min Yeon.Namun…Taemin merasa khawatir dengan keadaan Min Yeon. Apakah Min Yeon membencinya? Apa ia mau menerima hadiah ini? Karna seharian ini ia tak pernah bicara lagi dengan Min Yeon, Taemin lebih sering menghindar dan mengurung diri dalam kamar. Sempat Min Yeon ingin masuk kedalam kamarnya, tapi Taemin langsung membantah, dan pura-pura tidur karna capek. Itu hanya alasan saja, tapi dibalik itu..Taemin sangat merindukan suasana dulu saat ia bersama Min Yeon. Sehari tidak menyapa dongsaengnya itu seperti tidak menayapanya selama berjuta tahun.

”Permisi…apa tuan ingin melihat lihat sebentar ke toko kami?”  suara seorang pelayan melenyapkan lamuan Taemin seketika

”Ne..” Taemin pun masuk kedalam toko itu, dan melihat lihat sebentar.

”Apa ada yang bisa kami bantu?”

”Hmm..aku ingin sepasang cincin yang di pajang didepan sana, bisakah?”

”Oh tentu saja, tunggu sebentar” pelayan itu langsung mengambil cincin yang sama dengan yang dipajang lalu memberikannya kepada Taemin.

”Apa ini…cocok untuk hadiah?”

”cincin ini sangat cocok untuk hadiah,apalagi hadiah lamaran menikah, apa cincin ini untuk kekasih anda?” tanya pelayan itu, Taemin tak merespon ia hanya tersenyum.

”aku mau membeli cincin itu, tapi tolong bungkus cincin itu dengan rapi”

”ne. ..tentu saja”.

Akhirnya Taemin sudah mendapatkan kado yang cocok untuk Min Yeon. Ia pun keluar dari toko perhiasan tadi, berjalan menyelusuri padatnya orang-orang yang berlalu mudik di tepi trotoar. Tapi..Taemin melihat seseorang yang sangat di kenalinya. Benar! Itu Min Yeon! Sepertinya Min Yeon ingin menyebrangi jalan, jadi ia sempatkan untuk menghampiri gadis itu.

“ Ya! Min-…” Taemin menahan kalimatnnya. Jantungnya kembali seperti berhenti berdetak, badannya  lemas seakan ingin ambruk begitu saja.

“ Min Yeon…” sahut Taemin lemas. Yang dilihatnya adalah Min Yeon asik bergandengan tangan dengan Minho. Lagi dan lagi, hatinya jadi begitu terpuruk! Sangat menyedihkan melihat pemandangn ini langsung dari mata kepalanya sendiri.

”oppa?” ucap Min Yeon lalu mengerjap. Ia terkejut, melihat oppanya tiba tiba sudah ada di belakangnya. Min Yeon takut, takut jika Taemin kembali marah padanya.

”Kalian…habis dari…mana?” tanya Taemin tak tahan dengan genangan air di matanya. Tangannya bergetar dengan kuat.

”Aku dan Minho barusan nonton di bioskop”

Apa? nonton di bioskop? Min Yeon kamu tahu…kita sudah lama tak nonton bersama lagi. Kenapa kamu selalu bersama namja ini? Kenapa kamu mengalihkan perhatianmu pada namja ini?_ Taemin

”Kenapa kamu tidak bilang-bilang kalau pergi? Kenapa sekarang kamu lebih memilih namja ini kebanding oppamu sendiri?” sahut Taemin begitu saja, nada suaranya terdengar seperti orang yang sangat kecewa dan marah. Semuanya bercampur aduk, antara amarah,kecewa itu menyatu jadi satu.

”Oppa..bukan begitu..aku..aku” dengan takut-takut Min  Yeong menggenggam tangan Taemin, tapi langsung ditepis Taemin, hingga mata gadis itu memerah ingin menahan tangis.

” Aku tak mau dengar penjelasanmu!”

”Oppa..jebal..bukan begitu..”

”cukup! Aku tak tahan lagi! Aku terlanjur sakit melihatmu seperti ini! Saat aku membutuhkan malah kamu membuatku lebih sakit dan seperti orang yang menyedihkan!”

”Oppa..mianhae…aku tak bermaksud begitu..”

”Aniya! Aku tak mau mendengar kata maafmu itu! Aku tak mau! Dan sekarang tinggalkan aku!” bentak Taemin keras dan berlari melalui zebra cros dengan cepat.

”Oppa! Tunggu! Oppa jebal!!” teriak Min Yeon mengikuti Taemin berlari. Namun Taemin tak sedikitpun peduli , malah tak melirik Min Yeon.

”Min Yeon!” teriak Minho dari jauh, Minho menyadari ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi yang mengarah pada Min Yeon. Tapi sayangnya Min Yeon tak mendengar itu. Dan saat mobil itu makin dekat Min Yeon berhenti. Tubuhnya kaku tak bisa melakukan apa.

Tiiiiit!! Tiiiiit!!! Tiiiiiit!!!

”AAAAAAAAA!!!!”

BRUGHHHH!!!

Suara tabrakkan mobil itu sangat keras. Hingga Taemin yang sudah di sebrang jalan tadi, membalik. Matanya langsung terbuka lebar.

”MIN YEON!!!MIN YEON-AH!!!” Taemin langsung balik dan berlari. Ia mendapatkan dongsaengnya itu terkujur lemas tak berdaya di permukaan aspal. Badannya mengeluarkan darah segar yang deras mengalir keluar dari tubuhnya. Terutama bagian kepalanya itu yang sangat banyak mengeluarkan darah kental.

”MIN YEON! IREONA! IREONA!!” Pekik Taemin sangat panik dan mengangkat kepala Min Yeon. Ia menahan darah yang keluar dari kepalanya itu hingga tangannya penuh dengan darah dongsaengnya sendiri. ”MIN YEON!!JEBAL~ IREONA!!!” Pekik Taemin dengan suara isakannya yang sangat keras. Ia memopong tubuh malang itu ke pahanya, dan mengguncangkan tubuh lemas itu. Tapi Min Yeon tak kunjung membuka mata. Membuat Taemin takut ! Sangat takut!

”Min Yeonnie~~ oppa mohon buka matamu! Bukalah Min Yeon! Min Yeon!! Oppa mohon jangan tinggalkan oppa! Min Yeon!! Min yeon!!!!” tangis Taemin turun dengan deras lebih deras dari darah dongsaengnya itu yang terus mengalir.

”Min Yeon..bangunglah..lihat oppa! Kumohon! Min Yeon!!”

***

Akhirnya , Min Yeon pun langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Eomma dan Appanya juga mengetahui kabar buruk dari putri bungsunya itu. Mereka dengan penuh harapan menunggu Min  Yeon yang dilarikan ke ruang operasi karna luka yang ia alami sangat lah parah.

Sementara itu, Taemin tak hentinya menangis. Ia berjongkok di depan pintu ruang operasi menunggu dongsaeng kesayangannya itu keluar. Kepalanya selalu ia benturkan ke tembok merasakan dirinya adalah oppa yang sangat bodoh sedunia. Jiwanya sangat hancur, hatinya hancur, perasaannya hancur, dan bahkan tubuhnya terasa ingin mati.

”Min Yeon..oppa yang salah..oppa yang salah” tak kunjungnya Taemin mengucapkan kalimat itu di sela isakannya. Yang membuat dirinya makin menyedihkan dan seperti tercabik cabik. Tak ada hal yang bisa ia lakukan , selain menunggu keadaan selanjutnya dari Min Yeon. Dengan perasaan yang sangat cemas , Taemin masih menunggu hingga proses operasi itu memakan waktu 5 jam.

Brak!

Pintu ruang operasi terbuka lebar. Dan keluarlah dokter dan perawat yang membantu jalan operasi Min Yeon.

”Dokter! Bagaiamana keadaan adik saya? Apakah lukanya sangat parah? Apa ia bisa tertolongkan?” Taemin langsung berlari menuju dokter itu. Ia memegang tangan dokter penuh harap.

”Lukanya memang sangat parah, kecelakaan tadi membuat kepalanya terbentur sangat keras hingga ia kekurangan banyak darah…tapi saya tidak yakin hidupnya akan terselamatkan” Perkataan dokter tadi membuat Taemin terduduk lungai di lantai. Ia ternganga tak percaya. Dan saat itu jiwanya benar benar terasa ingin hancur! Lebih dari hancur!

” Ini tidak benar! Min Yeon pasti akan  selamat! Ia akan hidup seperti semula lagi! Jangan katakan jika ia tak bisa di selamatkan! Aku akan melakukan apapun agar dia bisa hidup! Ambillah nyawaku! Biarkan Min  Yeon-ku hidup!!”

”Tuan..saya mohon tenangkan diri anda dulu” Dokter itu membantu Taemin kembali berdiri dan mebawanya ke kursi terdekat. Mendudukkan Taemin di sana sambil berkata,”Min Yeon memang sekarat, tapi kita butuh darah untuknya, darah yang tersedia di rumah sakit ini sudah habis karna darah yang keluar dari kepala Min Yeon terus mengalir, dan diantara kalian adakah yang ingin mendonorkan darah untuk Min  Yeon?”

”Aku! Aku saja dokter!” ucap Eomma dan Appa bersamaan.

”Tidak bisa…kalian kelihatan tidak sehat, kita butuh darah yang lebih segar”

”Aku saja dokter!” Taemin langsung bangkit dengan penuh tekat. Ia akan melakukan apapun agar Min Yeon sadar kembali. Apapu itu! Yang ia harus ia lakukan adalah mendonorkan darahnya pada Min Yeon, bahkan ia rela menghabiskan seluruh darahnya hanya untuk Min Yeon. Apapun itu pasti ia akan melakukannya.

”Apa darah kalian sama?”

”Tentunya! Kami bersaudara, darah kami pasti sama!”

”Baiklah~ anda harus masuk ke ruang operasi, kami akan mendonorkan darah anda disana” Dokter itu kembali masuk kedalam ruang operasi, diikuti dengan Taemin.

Taemin pun dibaringkan di atas ranjang yang tepat berada disebelah ranjang Min Yeon. Taemin kembali menangis melihat tubuh gadis itu dililit   banyak selang sana sini. Ia tak sanggup melihat dongsaengnya seperti itu. Tapi ini kenyataannya! Taemin pun menganggkat tangannya seperti ingin menjangkau tangan Min  Yeon, tapi ia kurungkan niat itu. Hatinya perih jika ia menyentuh dongsaengnya, karna ia lah penyebab kecelakaan ini.

”Anda sudah siap?” tanya dokter itu pada Taemin, Taemin mengangguk. Dan sedetik kemudian Taemin di suntik bius oleh dokter hingga matanya merasa kantuk yang amat berat. Dan akhirnya Taemin menutup matanya perlahan..dan semuanya menjadi gelap.

”Min Yeonnie!!”

”Ne oppa!”

”Coba tebak, apa yang oppa bawa?” Taemin menghampiri Min Yeon yang sedang asik mengambar di bukunya itu. Ia menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya, hingga gadis berumur 5 tahun itu terlihat penasaran.

”Ini! Oppa membawakan lollipop kesukaanmu!”

”Lollipop? Aku suka! Aku suka!”

”Oppa bukakan, ya?” Taemin membuka plastik lollipop itu lalu menyerahkan lollipop yang berwarna warni itu pada Min Yeon.

”Bagaimana? Enak kan?”

”Ne! Oppa baik sekali!” Min Yeon memeluk tubuh Taemin yang lebih besar darinya itu.

”Hmm…kamu tidak berterima kasih pada oppa?”

”Ani!”

”Wae?” tanya Taemin melembut dan berjongkok menatap Min Yeon.

”Oppa harus kejar aku dulu!!!” Min Yeon berbalik dan langsung berlari. Tidak lupa, Taemin juga mengejar Min  Yeon,hingga gelak tawa menghiasi aksi lari – larian mereka.

”Min Yeon! Berhenti! Oppa capek!”

”Shireo! Oppa kejar aku lagi!” kaki mungil itu tetap melangkah dengan cepat, hingga Min Yeon tak sadar jika ia tersandung dengan batu dan tubuhnya terjatuh ke permukaan tanah.

”Min Yeon! Min  Yeon!” dengan panik Taemin berlari lebih kencang menghampiri dongsaengnya itu.

”Min Yeon-ah! Gwencahana? Apa yang sakit? Kakimu? Tanganmu?”

”hiks..hiks…kaki..berdarah…oppa aku sakit” Min Yeon menangis dengan keras. Tapi Taemin langsung meniup luka di lutut Min  Yeon. ” Masih sakit?” tanya Taemin sangat cemas.

”Ne…hiks..hiks..oppa neomu apayo..” tangisan Min Yeon makin keras hingga Taemin langsung mendekapkan kepala Min Yeon ke dadanya. ”uljima Min Yeonnie~ oppa akan menggendongmu, lalu mengobatimu, ne?” tanpa respon apapun dari Min Yeon Taemin langsung mengendong tubuh Min Yeon. Taemin menggendong Min  Yeon sambil berlari terpongah –p ongah.

Dan saat Min Yeon sudah didudukkan di dalam ruang tamu, Taemin berlalu dan mengambil kotak obat.

”Uljima Min Yeon dongsaeng oppa yang cantik..oppa akan mengobatimu..jadi tahan ya?”

”aaa!!! Apayo!!”

”Cup –cup! Sudah..sudah selesai kakimu sudah oppa obati , jangan menangis lagi , ne?” Taemin memeluk tubuh Min Yeon yang bergetar karna isak tangisnya. Ia mengelus rambut Min Yeon dengan lembut dan memeluknya lebih dalam.

”Oppa…gomawo..”

”ne…maafakan oppa karna tak menjaga mu dengan baik, oppa tak menyangka kalau kamu tiba tiba jatuh ” Taemin mengusap air mata Min Yeon yang menempel di pipinya. Taemin tersenyum, lalu mengacak rambut Min Yeon gemas.

”Aigoo…kyeopta! walaupun menangis tapi Min Yeon-ku tetap lucu!”

”Oppa juga… oppa sangat tampan!”

”Hhahaha sudah berapa kali kamu mengatakan itu? Oppa jadi malu”

”Benar kok oppa! Oppa adalah namja tertampan yang pernah kulihat!” puji Min Yeon dengan wajah polosnya, hingga orang yang melihat itu tak tahan ingin mencubit pipi kembung gadis manis itu.

”Lalu? Bagaimana dengan appa? Bukannya appa juga tampan?”

”Appa tidak tampan! Oppa yang tampan!” elak Min Yeon bersi keras dan membuat Taemin kembali tertawa.

”Hahaha jeongmal? Lalu bagaimana dengan suami mu nanti?”

“Aaa!! Oppa bawel! Bagiku oppa yang paling tampan! Titik!”

”Hahaha,,ne..arayo..” Taemin mengecup pipi Min Yeon sekilas lalu mereka kembali tertawa seperti tadi.

”Min Yeon –ah!” panggil Taemin

”Ne?”

”Kita berfoto yuk? Tadi appa meminjamkanku kamera untuk befoto denganmu!”

”Ayo!” seru Min Yeon girang.

”Oppa hitung ya…ha..dul..set…say kimchi!”

”Kimchii!!!” seru mereka berdua.

Jepret!

”Wah..Min Yeonnie..kamu sangat cantik di foto ini” puji Taemin sambil melihat hasil foto mereka berdua.

”Jeongmal?”

”Ne! Kalau begitu kita cetak fotonya ya? Lalu kita pajang di kamar kita!”

”Ne!”

~~~

Taemin membuka matanya perlahan. Cahaya lampu yang terang itu membuat ia terbangun.

”Min Yeon~” ucap Taemin lirih. Tadi ia rasa , ia kembali ke tahun-tahun dulu. Terbayang saat di mimpinya tadi ia bersama Min Yeon , tertawa dan bercanda.

”Min Yeon? Mana Min Yeon?” Taemin melirik kesamping, sebelumnya ia melihat tubuh lemah Min Yeon terbaring di sebelahnya. Namun sekarang tidak ada. Taemin pun memutar bola matanya , merasa berbeda dengan ruangan ini. ”Aku di pindahkan?” tanya Taemin lalu langsung bangkit dan duduk. Tapi sedetik kemudian, ia merasa pusing di kepalanya. Ia menyentuh kepalanya dan langsung menepis rasa sakit itu.

”Aku harus menemui Min Yeon!” sahut Taemin seraya turun dari ranjang kamar pasien rumah sakit itu.

Setiba ia di luar, ia melihat eomma dan appanya yang terlihat sangat cemas dan tertekan. Tampak wajah kedua orang yang ia sayangi itu seperti orang tua yang malang, dan menyedihkan – sama seperti dirinya.

”Eomma..mana Min  Yeon?” tanya Taemin begitu saja, setelah ia berdiri di hadapan eommanya.

PLAK!!

Satu tamparan yang keras mendarat di pipi Taemin. Taemin tak bergeming dan menunjukkan wajah tanpa ekspresi.

”Kenapa tidak kau jaga adik mu ,eoh? Kenapa kau tidak becus jadi oppanya?! Percuma saja aku membesarkanmu! Dan lihat! Apa yang Min Yeon alami? Seharusnya kau lah yang pantas berada di posisinya!!!” jerit eomma lantang penuh dengan amarahnya.

”Mianhae.. ini salahku”

”ini memang salahmu! Kau yang membuat anakku seperti ini! Dan sekarang apa yang bisa kau lakukan , eoh? Dongsaengmu hampir mati Taemin! Kau bisa menanggung dosa mu itu?”

”Eomma..Mianhae…”

PLAAK!!

Eomma menampar Taemin lebih keras lagi. Hingga tubuh Taemin terjatuh ke lantai. Taemin tak memberontak , ia malah tak sadar bahwa pipinya itu sudah merah, malah hampir berdarah.

”Kau! Eomma sulit untuk memaafkanmu, sekarang pegilah, lihat dongsaeng mu itu!”

Taemin mengangguk lemah dan bangkit segera. Dan ketika ia berdiri, ia sudah melihat pintu ruang rawat Min Yeon. Dengan gontai Taemin berjalan kearah sana lalu membuka pintu itu.

Saat pintu terbuka, Taemin tak kalah terkejutnya, melihat kepala dan kaki Min Yeon dililit perban putih yang tebal. Taemin langsung duduk di bangku yang terdapat di sebelah ranjang Min Yeon.

Selang – selang itu, alat pendeteksi detak jantung itu, di lihat Taemin. Ia menekurkan kepalanya. Lagi lagi ia terpuruk dengan rasa bersalah yang amat sangat dalam. Dan saat ia mengangkat kepala. Ia terisak begitu saja. Ia tak sanggup melihat tubuh Min  Yeon yang terbujur kaku seperti inil. Mulut dan hidung Min Yeon di tutup selang, hingga Taemin tak bisa merasakan hawa nafas dari dongsaenya itu.

” Min Yeonnie…” Taemin menggenggam tangan kaku Min Yeon. Dengan isakan yang tak berhentinya, Taemin mencium punggung tangan Min Yeon dan berkata . ” Aku oppa yang sangat jahat. Betul kata eomma, seharusnya aku yang berada di posisi mu, dan seharusnya aku yang merasakan sakit ini, bukan kamu….oppa sangat jahat Min Yeon-ah..oppa tak bisa mengendalikan emosi, dan marah begitu saja padamu…oppa bersalah Min Yeonnie…”

”Oppa tak tahu apa yang harus oppa lakukan, jika Tuhan mengizinkan, oppa ingin memberi nyawa ini padamu, biar kamu bisa hidup bahagia seperti dulu….”

Taemin meletakkan tangan Min Yeon kembali, lalu ia mengelus lembut pipi Min Yeon yang dingin dan pucat. ” Min Yeon-ah…bisakah kamu membuka matamu? Ini demi dirimu sendiri, kumohon Min Yeon-ah..buka matamu…”

Percuma saja Taemin memohon seperti itu, tapi Min Yeon tidak membukakan matanya. Taemin mendesah, mencoba agar lebih tegar lagi. Taemin pun menggenggam tangan Min Yeon lagi, ia memeluk tangan itu di sampingi dengan matanya yang ingin tertutup.

”Min Yeon?” Taemin membuka matanya kembali. Barusan ia merasakan jari Min Yeon bergerak.

”Min Yeon? Kamu sudah sadar?” Taemin menatap wajah pucat Min Yeon, tangannya masih bergerak dengan sendirinya. Taemin membiarkan jari jari itu bergerak.

”Op…pa~” Akhirnya Min Yeon membuka mataya perlahan. Suaranya sangat lirih hingga susah di dengar. ”Ne! Ini oppa Min Yeon! Aku, Lee Taemin!” seru Taemin terkejut bercampur senang. Taemin tersenyum lalu menggenggam tanga Min Yeon lagi.

”Aku..dimana?”

”Kamu di rumah sakit” jawab Taemin langsung. Dan sedetik kemudian pintu kamar rawat Min Yeon terbuka. Nampaklah Dokter dan suster yang masuk. Dokter mengisyaratkan agar Taemin keluar, lalu memeriksa Min Yeon kembali.

Dan setelah Dokter memeriksa Min Yeon, dokter itu mengunjungi Taemin yang sedang duduk  menunggu di ruang tunggu.

”Bagaiamana keadaan Min Yeon? Apa ia baik baik saja?” tanya Taemin menyadari sang Dokter telah duduk di sampingnya.

”Maafkan kami..keadaanya sangat buruk. Dan sepertinya kaki Min Yeon..kaki Min Yeon lumpuh permanen, ia tidak bisa berjalan lagi”

2 bulan kemudian.

Hari demi hari di lalui Min Yeon di rumah sakit. Tubuhnya masih sangat lemah hingga ia tak bisa pulang. Dan kenyataan yang membuatnya makin terpuruk adalah…Kakinya lumpuh permanen. Ia tak bisa menggerakkan kaki indah itu lagi, ia tak bisa berjalan dan berlari lagi.  Semua itu membuat Taemin dan kedua orang tuanya sangat sedih. Tapi..tak selamanya mereka mengasiahini Min Yeon, Taemin berniat untuk membuat dongsaengnya itu semangat kembali. Ia tak ingin melihat gadis itu tertekan, ia ingin Min Yeon bisa menjalani hidup dengan baik- setidak tidaknya begitu. Dan hal yang paling di tekat kan Taemin , ia ingin lebih melindungi Min Yeon, Ia akan selalu menjaga, dan selalu disisi Min Yeon . Dimana dan kapanpun itu.

”Bagaiaman keadaanmu, Min  Yeon-ah?” tanya Taemin yang menunggu dongsaengnya itu terbangun dari tidur nyenyaknya. ”Aku baik oppa..” jawabnya pelan lalu berusaha untuk berdiri. Namun Taemin langsung menolongnya hingga Min Yeon tak mencoba duduk sendiri.

”Oppa..apa kamu sudah mendapatkan universitas pilihanmu itu?” tanya Min Yeon mengingat sebulan terakhir ini Taemin lulus sekolah dan akan melanjutkan kuliahnya.

”Minggu depan oppa akan mengikuti tes..dukung oppa ya?” sahut Taemin dengan senyumannya. Min Yeon mengangguk dan membalas ”Ne! Fighting oppa!”

”Hahh..sudah lama aku tak mendengar suara semangatmu itu..”

”Oppa..oppa bersedih?”

”Aniya..oppa hanya mengingat kenangan kita di tahun – tahun yang lalu.. tapi setidaknya kamu sudah ada di samping oppa” Taemin menatap Min Yeon, ia kembali tersenyum.” Nado…aku bersyukur, karna oppa masih berada disisiku, aku tak mau pisah denganmu oppa, aku tak mau” Taemin langsung memeluk tubuh lemah Min Yeon. Ia membiarkan Min Yeon yang menangis di dekapannya. Sekali lagi, ia merasakan hal yang perih jika melihat Min Yeon seperti ini. Ini membuatnya tak mau meninggalkan gadis itu , ia akan selalu di samping Min Yeon. Hingga Tuhan yang akan memishakan mereka.

***

Bulan desember adalah bulan yang paling di tunggu semua orang Korea, bukan hanya di Korea mungkin di belahan dunia lain juga begitu. Di awal bulan desember kabarnya, akan turun salju pertama di tahun ini. Mengingat beberapa minggu lagi hari Natal, membuat semua orang sibuk mempersiapkan hari spesial itu.

”Min Yeon-ah~ aku membawa sup seolleongtang, kamu mau kita makan bersama?” Sulli membuka pintu seketika. Min Yeon yang sedari tadi duduk di kusi roda langsung mendongak . ” Kebetulan aku lapar, ayo!” sahut Min Yeon dengan senang. Tanpa basa basi lagi Sulli mengambil kursi satu untuknya lalu membukakan kotak nasi serta supnya.

”Hmm.. Enak! Siapa yang buat?” Min Yeon menjadi terkagum-kagum dengan rasa sup seolleongtang  ini. ”Itu Taemin oppa yang buat!”

”Mwo? Sejak kapan Taemin oppa pandai masak?” tanya Min Yeon sangat terkejut, setaunya Taemin itu adalah orang yang sangat payah mengenai bidang masak memasak. ” Selama kamu di rumah sakit, ia belajar memasak dengan eommaku, dia bilang ia ingin memberimu sesuatu yang berbeda, dan..yah itu sup karyanya sendiri”

”Jeongmal?Hahaha aku tak bisa membayangkan bagaimana Taemin oppa memasak” tawa Min Yeon membahana dan diikuti Sulli. Dan saat mereka saling tertawa, tiba-tiba saja ada suatu hal yang ingin diketahui Sulli. ”Min Yeon-ah, bagaimana hubunganmu dengan Minho oppa?” Min Yeon mendongak, sedikit terkejut, tapi akhirnya ia tersenyum. ”Kami hanya berteman tidak lebih dari itu, kadang- kadang Minho oppa juga menjenguk ku kok”

”Jeongmal? Lalu bagaimana dengan Taemin oppa? Apa ia berhasil masuk ke universitas favoritnya?” belum sempat Min Yeon ingin menjawab  pertanyaan dari Sulli, tiba tiba kepalanya jadi sakit dan pusing. Pandangannya menjadi gelap semua, yang tinggal Cuma bayangan hitam

”Sulli-ah….”

”Min Yeon! Min Yeon-ah!! Dokter!!”

***

”Bagaimana keadaan Min Yeon dokter?” tanya Taemin saat ia berada dia ruang kerja Dokter yang biasa merawat Min Yeon. Tadi Taemin mendapat kabar dari Sulli bahwa Min Yeon mandadak pingsan. Taemin yang sedang berada di kampusnya itu langsung mengunjungi rumah sakit.

”Saya tidak tahu kenapa ini sangat mendadak, awalnya kondisinya baik-baik saja, tapi sekarang keadaannya memburuk, aku tak yakin jika ini berlangsung lama…”

”Itu artinya..dongsaeng saya..”

”Ini efek dari kecelakaan itu, kanker otak yang bersanggar di kepalanya semakin lama semakin menyebar keseluruh tubuhnya, saya tidak menyangka dari stadium dua kankernya sudah menyebar menjadi stadium 4..maaf..mungkin kita hanya menunggu waktunya saja”

”Tidak! Min Yeon tak akan mati dokter! Aku mohon! Buat dongsaengku sehat kembali! Sembuhkan dia dari kankernya itu! Aku mohon dokter!” Taemin tak dapat lagi menahan tangisnya. Ini adalah kenyataan. Ia sudah mengetahui bahwa Min Yeon mengendap kanker otak stadium 2 tapi kenapa bisa meloncat menjadi stadium 4? Apa Tuhan tak mengizinkan ia lagi berada disisi gadis itu lagi? Apa inilah akhir semuanya di antara mereka?.

****

”Oppa..matamu sembab.. kamu menangis ya?” Min Yeon menyadari keanehan dari Taemin. Akhir – akhir ini Taemin sering melamun dan menangis sendiri. Itu membuat Min Yeon khawatir, karna tak biasanya Taemin suka melamun. ”  Oppa..ada masalah?” tanya Min  Yeon mendorong kursi rodanya agar bergerak menuju kearah Taemin. Taemin pun menoleh, hatinya terasa perih lagi mendengar suara lemah dari Min Yeon. Ia tak sanggup mendengar suara lembut itu, itu membuatnya makin terpuruk lagi.

”Gwenchana, oppa hanya memikirkan kuliah oppa saja, jangan khawatir” ucap Taemin berbohong lalu mengusap wajah Min Yeon dengan lembut. Ini sangat sakit baginya, akhir – akhir ini ia lihat rambut Min Yeon makin menipis dan wajahnya makin pucat dengan kantong mata yang sudah menghitam di bawah matanya itu.

”Sungguh? Oppa..kenapa lama kelamaan kepalaku sering sakit? Aku tidak apa apakan?”

”Kamu tidak apa apa..semua akan baik baik..saja” Taemin tak bisa menahan sesak di dadanya. Air matanya juga turun begitu saja. ”Min Yeonnie…oppa ingin selalu disisimu..oppa ingin selamanya di sampingmu” tiba- tiba saja Taemin terisak sambil memeluk tubuh kurus Min Yeon . ”Oppa..uljima..aku akan…disamping oppa…” jawab Min Yeon melemas, ia mengusap air mata Taemin lalu tersenyum.

”Oppa..kabarnya hari ini akan turun salju pertama, aku ingin melihatnya…”

”Kita lihat lewat jendela saja ya? Di luar sangat dingin”

”Aniyo! Aku ingin diluar! Di taman yang diatas itu” pinta Min Yeon pelan. Yang ia maksud adalah taman yang berada di atas gedung rumah sakit. Sebulan ini Taemin selalu setia menemani Min Yeon ke taman itu, hanya sekedar menghirup udara segar.

”Kondisi tubuhmu melemah Min Yeon…nanti kamu kedinginan”

”Oppa…tapi aku ingin. Biasanya tiap salju pertama oppa selalu menemaniku melihatnya , walaupun itu di pagi,siang,sore, bahkan malam, Ishh rupanya oppa tak setia lagi!” ujar Min Yeon pura pura ngambek. Taemin menghela nafas. Benar! Di tahun-tahun yang lalu ia selalu menemani Min Yeon menunggu salju pertama, itu adalah rutinitas mereka sejak mereka masih anak anak dulu. Tapi sekarang? Mungkin inilah terakhirnya ia menemani Min Yeon.

”Baiklah..tapi jangan lama- lama ya?”

”Ne..” Taemin langsung mendorong kursi roda Min Yeon keluar lalu membawanya hingga keatap rumah sakit. Benar memang udara di luar sangat dingin. Tapi untung saja Min Yeon sudah memakai mantel yang tebal, jadi ia tak terlalu kedinginan.

”Kita duduk disini ya?” Taemin menggendong tubuh Min Yeon, lalu mendudukkannya di bangku kayu yang panjang itu.

”Hhahh..akhirnya..apa saljunya masih lama oppa?” tanya Min Yeon.. Taemin tertegun, kalimat ini.. kalimat ini yang selalu diucapkan Min Yeon ketika menunggu salju turun. Taemin baru sadar bahwa ini adalah winter terakhirnya bersama Min  Yeon. Tidak akan ada lagi kalimat tadi yang terucap dari bibir Min Yeon .Dan saat ini juga, Taemin kembali mengingat kepingan masa lalunya itu…kenangan yang sangat berkesan baginya.

> Flashback

”Min Yeon-ah..kita duduk disini ya?” Taemin menyeret tangan Min Yeon hingga ke sebuah taman. Taman ini tak asing lagi bagi mereka, taman inilah yang selalu dikunjunginya saat awal bulan desember tiba.

” Hhahh..akhirnya..apa saljunya masih lama oppa?” tanya Min Yeon yang terlihat tak sabaran

” kita tunggu saja…kamu harus bersabar ne?” ujar Taemin sambil tersenyum hangat pada dongsaengnya. ”Min Yeonnie?apa kamu kedingingan?”

”sepertinya begitu” medengar ucapan Min Yeon, Taemin pun langsung melilitkan syelnya ke leher Min  Yeon. ”Gomawo oppa”

”Oppa…oppa menangis lagi?” Taemin langsung menghapus air matanya, tapi kemudian tangannya terhenti,saat Min Yeon lah yang mengusap airmata Taemin.

”Oppa jangan menangis lagi..” tangan kurus Min Yeon mengusap wajah Taemin, lalu Taemin langsung menyentuh tangan itu. Sangat dingin!

”Dari dulu sampai sekarang tangan oppa masih hangat ya..”

”Kamu pasti kedinginankan?” Taemin sangat mengerti maksud dari Min Yeon, segera Taemin langsung memasukkan tangan Min Yeon kedalam sakunya lalu menggenggam tangan itu.

”Terasa hangatkan?”

”Ne..gomawo” ucap Min Yeon pelan.

”Min Yeonnie~ oppa ingin memberimu sebuah hadiah” ucap Taemin tiba-tiba. Min Yeon mendongak dan menatap Taemin penasaran. ”Apa itu?”. ”Kemarikan tanganmu!” Min Yeon pun menyodorkan tangan kirinya. Dan saat itu juga, Taemin mengeluarkan hadiah berupa cincin yang 2 bulan ini tidak sempat ia berikan untuk ulang tahun Min Yeon. ”  Ini? Cincin?” Min Yeon mengerjap, tak di sangka Taemin akan memberikan cincin itu. ” Oppa sudah memakainya satu, kamu masih ingat? Saat ulang tahunmu yang ke 13 kamu mau dihadiahkan sepasang cincin dari oppa? Dan sekarang permintaan kamu itu sudah terkabul, tapi maaf oppa terlambat memberinya” sahut Taemin bersalah, semenjak kecelakaan itu, Taemin disibukkan menjaga Min Yeon hingga ia lupa hadiah yang selama ini ia simpannya.

”Gwenchana..aku sangat senang oppa..dan sekarang kita memakainya sampai akhir hayatkan?” tanya Min Yeon dengan senyum mengembang dibibirnya. Namun itu membuat Taemin merasa sakit.

Ne… Min Yeon-ah..sampai akhir hayatmu kamu pasti memakai cincin itu..kita sama sama memakai cincin impian kita yang dulu itu. Dan sayangnya, kamu hanya bisa memakai cincin itu di akhir masa hidup mu yang singkat itu. Mianhae malaikat kecilku.._ Taemin

”Wahh neomu yeppuda” Taemin memasangkan cincin itu kejari manis Min Yeon. Min Yeon kembali tersenyum dan melihat bibir Taemin yang juga sama tersenyumnya denganya.Ia memajangkan tangannya keatas dan memandang cincing permata itu dengan senang. Tapi bagi Taemin, ia tetap merasa bersalah, apapun hadiah yang ia berikan untuk Min Yeon, itu tak terbalas dengan apa kesalahannya.

”Min Yeon…mianhae..selama ini oppa sangat jahat padamu, oppa yang membuat mu begini, semuanya berawal dari oppa…oppa memang kakak yang tak berguna…mianhae Min Yeon…” ucap Taemin yang terus merendahkan diri.

”Aniya…lupakan masalah itu oppa, aku tak ingin mengingatnya lagi…yang penting oppa sudah berada disisiku, itu sudah cukup” Min Yeon memeluk Taemin , kemudian Taemin membalasnya dengan pelukan yang sangat dalam.

”Min Yeonnie~ kamu tahu kan? Oppa sangat menyayangimu?..Oppa begitu sayang padamu..dan..Oppa juga mencintaimu…” ucap Taemin membuat Min Yeon mengerjap. Tapi Min Yeon tak tahu apa maksud yang sebenarnya dari ucapan Taemin tadi. ” Oppa mencintaimu…lebih dari seorang kakak..Oppa mencintaimu sebagai seorang pria” Akhirnya Taemin bisa mengungkapkan perasaan yang selama bertahun-tahun ini ia pendam.Ada rasa lega, dan takut di benaknya. Ia takut jika Min Yeon marah begitu ia mengungkapkan ini.

”Oppa? Maaf aku tidak tahu jika oppa mempunyai perasaan seperti itu padaku, tapi….aku juga..aku juga mencintai oppa” Taemin terkejut mendengar penjelasan Min Yeon. Akhirnya ia bisa tersenyum senang lagi, ia kembali mendekapkan Min Yeon ke dekapannya. Setelah itu, dengan kedua tangannya ia menyentuh wajah Min Yeon dengan lembut lalu menatapnya penuh kehangatan.

”Min Yeonnie~ bolehkah oppa menciummu?” tanya Taemin seketika. Sontak Min Yeon terkejut, ia bingung, dan kebetulan jantungnya yang lemah itu berdetak dengan cepat.

”Bolehkah? Oppa menciummu sekali ini saja?” pinta Taemin lagi. Min Yeon tampak bingung. ”boleh” bibir Min Yeon berkata. Dan sedetik kemudian bibir Taemin sudah menempel dipermukaan bibir Min Yeon. Taemin melumat bibir Min Yeon pelan namun penuh perasaan, hingga Min Yeon juga menikmatinya. Ciuman itu tidak berlebihan, hanya sebuah ciuman hangat dan penuh perasaan sampai – sampai Taemin tak ingin lepas dari Min Yeon. Ia menekan tengkuk Min Yeon lebih dalam, lalu merangkul pingganya lebih merapat ketubuhnya. Min Yeon juga begitu, ia mengalungkan tangannya ke leher Taemin dan membalas ciuman Taemin dengan lembut. Sehingga mereka berdua merasakan kehangatan tiap lumatan bibir mereka yang saling bertautan.

Tidak beberapa lama, Taemin pun melepaskan ciuman pertamanya itu. Ia kembali menatap Min Yeon ”Hahahaha! Wae?” gelak tawa Min Yeon membuyarkan semuanya. Lantas Taemin ikutan tertawa. ”Kamu ini! Kenapa ketawa sih?”. ”Hehehe..lucu saja, tadi oppa benar-benar menciumku, dan itu ciuman pertamaku.”

”Mwo? Aku juga..”

”Oppa…” panggil Min Yeon.

”ada apa?”.

”aku mengantuk…bisakah oppa menyanyikan sebuah lagu untukku?” pinta Min Yeon melemas. Entah kenapa badannya lemas dan kepalanya makin sakit, tapi ia menahan rasa sakit itu. ”Mengantuk? Sebentar lagi kan salju akan turun” sahut Taemin. ”Tapi aku mengantuk,nanti jika saljunya sudah turun…bangunkan aku…” Taemin akhirnya mengangguk dan bertanya ”lagu apa yang kamu inginkan?”

”Lagu yang pernah oppa nyanyikan untukku beberapa bulan yang lalu itu…” Taemin berpikir. Dan sedetik kemudian ia baru ingat dengan lagu itu. Lagu yang pernah membuat Min Yeon tidur dengan nyenyak. ”Min Yeon..tapi sebelumnya, oppa mau bilang, jika kamu merasakan sakit di tubuhmu,kamu langsung bilang ya? Dan ingat oppa akan selalu disampingmu, kapanpun itu dimanapun itu” Taemin memiringkan kepalanya, melirik Min Yeon yang sudah bersandar di bahunya.

”Ne..”

Setelah itu, Taemin menarik nafas, dan ia akan memulai untuk menyanyi.

”Noreul johahadaneun geu mareul chama hal su eobseoseo~ Geunyang ideoro ni yeope isseodo joha~

. Geudae han beonman deo yonggireul nae bolka nae maameul jeonhaebokka

Ireon nae mamdo moreugeseo manyang hwanhage utneun neo~

Neaga neol wonhago itdan mallya

Neaga neol bureugo itdan mallya

Nae soneul jaba nae soneul jaba, irhaeberikka duryeopjanha

Neaga neol wonhago itdan mallya

Neaga neol saranghandandaneun mallya

Neo hyanghan nae man deutgo inni baraman bwado apeunjanha~”

Min Yeon menikmati suara Taemin, suara yang memberikan ketenagan baginya. Ia pun memegang tangan Taemin, merasakan kehangatan di tangan oppanya itu. Ia pun menutup kedua matanya dan merasakan kedamaian yang sesungguhnya. Di taman itu hanya mereka berdua, tidak ada orang lain yang bisa mengusik mereka. Yang ia dengar hanya suara Taemin yang mengalun indah. Begitu tenang. Matanya kini mulai berat.  Tapi ia tidak ingin melewatkan salju hanya karena dia tertidur. Ia paksa matanya untuk terus terbuka.

I still with you..i still with you

Eotteongeotdo neol daesinhal su ebseo

Cause I love you~ gidaryeojwo,nae mam jeonhaejulkke

Naega neol chatgo isseotdan mallya

Neaga neol gatgosipsipdaneun mallya

Nae soneul jaba, nae soneul jaba

Irhaebeinika duryeop janha

”oppa…sakit..” Taemin berhenti bernyanyi, ia merasakan genggaman tangan Min Yeon makin kuat. ”Wae? Apa yang sakit?” tanya Taemin cemas. ”semuanya….ttu..buh..ku” ucap Min Yeon terbata-bata. Kepalanya sangat sakit, berdenyut denyut seperti ingin meledak.

” gwenchana? Apa kita masuk saja?”

”Shireo~ ..aku…a..kan..pergi..jika..salju..su..dah..turun” Min Yeon menahan nafasnya yang sesak. Iya! Ia harus menahannya sebentar..hanya sebentar saja.

”Baiklah” Taemin melanjutkan nyanyiannya. Dan Min Yeon makin mengeratkan genggamannya, hingga Taemin merasa kesakitan.

Neaga neol wonhago itdan mallya

Neaga neol bureugo itdan mallya

Nae soneul jaba nae soneul jaba, irhaeberikka duryeopjanha

Saat ini yang Taemin tahu adalah Min Yeon telah teridur lelap di pangkuannya. Taemin mengecup  pipi Min Yeon, dan kini dirasakannya salju mulai turun.

”Min Yeonnie~ saljunya sudah turun…apa kamu tidak mau bangun?” Taemin berhenti menyanyi dan menunnggu respon dari Min Yeon. Tapi Min Yeon masih bersandar di bahunya, tak bergeming.

”Min Yeonnie~ ingat janji kita ya? Aku akan tetap disisimu..hingga..akhir hayatmu..dan, kamu juga harus berjanji, akan selalu disisi oppa..ne..?” setetes air mata Taemin turun. Dia terus bernyanyi, takut Min Yeon terbangun saat nyanyiannya berhenti.

Neaga neol wonhago itdan mallya

Neaga neol saranghandandaneun mallya

Neo hyanghan nae man deutgo inni baraman bwado apeunjanha~”

Ireoke

Taemin mencoba menyanyi sebaik mungkin. Tetapi air matanya tidak terkendali. Suaranya terdengar parau, semakin lama hanya tangisan yang terdengar. Memori memori itu selalu terputar di kepalanya. Membuatnya makin terisak keras. Dan kini, ia merasakan genggaman Min Yeon merenggang, dan perlahan tangannya terlepas dari genggamannya. Tapi Taemin meraih kedua tangan Min Yeon, ia menundukkan kepalanya untuk melihat wajah Min Yeon. Mata Min Yeon tertutup rapat, bibirnya mengulum senyum penuh kedamain. Dan ketika Taemin merasakan denyut nadinya….denyutan itu tak terasa. Nafas Min Yeon berhenti sampai disini. Taemin memeluk tubuh Min Yeon erat. Ini adalah saatnya…Tuhan sudah mengatur semuanya..dan Taemin..ia hanya pasrah karna Tuhan sudah mengambil dongsaengya itu untuk selamanya.

”Malaikat kecilku…selamat tinggal…oppa harap kamu bisa hidup lebih bahagia di atas sana…saranghamnida” isak Taemin lalu  mengecup bibir Min Yeon lembut. Dan itu adalah ciuman terakhir baginya.

”Gomawo…karna sudah jadi dongsaeng oppa…sekali lagi gomawo…” kini Taemin menyium punggung tangan Min Yeon, tetesan air matanya sudah menitik kepermukaan kulit Min Yeon. Dan sekarang…menangis dan menangis..itu lah yang dilakukan Taemin..menangis di samping tubuh tak bernyawa dari dongsaengya – Lee Min Yeon.

Min Yeonnie~ kamu tahu oppa sangat mencitaimukan? Kamu juga begitukan?

Dan sekarang, kamu sudah akhiri semua penderitaanmu..

Mianhae… ini semua salah oppa..oppa tak memberitahumu jika hidupmu tak lama lagi

Tapi oppa takut jika memberitahukannya padamu..

Dan  satu lagi..

Gomawo karna kamu telah hadir dalam kehidupan oppa, oppa sangat bahagia atas keberadaanmu di bumi ini.  Oppa sangat senang dengan kenangan kenangan masa lalu kita, disaat kita saling berduka cita..dan sekarang tugas oppa sudah selesai..oppa akan melepaskanmu…

Ini adalah takdir kita kan?oppa  yakin Min Yeon..kamu masih menggenggam janji mu, oppa yakin jika kamu akan selalu disisi oppa,dan memantau oppa dari surga sana…

Dan ini ucapan yang terakhir untukmu~

Saranghae.. Lee Min Yeon

FIN

Gimana? Kepanjangan kah? Salahkan author karna ini tecananya bakal buat oneshot, eh malah twoshot -_- , apa kalian bosen mmbacanya? Karna kepanjangan itu?

Dan yah..akhirnya berakhir juga nih ff ,fiiuhh* ngelap keringat ._.

Oh ya sudah baca jangan lupa komen dengan kritik dan sarannya yah..

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

23 thoughts on “Always By Your Side [2.2]”

  1. Sedihnya
    Cinta terlarang
    Tapi apa hubungannya ditabrak hingga kanker. Atau MinYeon sejak awal sudah mengidap kanker sehingga TaeMin begitu perhatian pada dongsaengnya.
    Amazing FF, sampai sesengukan TT_TT (ʃ˘̩̩̩╭╮˘̩̩ƪ) (っ‾̣̣̣﹏‾̣̣̣)っ

    1. aaaa! author lupa beri penjelasannya. tapi yah bgtulah udh kecelakaan lngsung kanker -_- *plaaak
      gomawo atas kritiknya..dan pujiannya ckckck 😀

  2. Feelnya dapettt!!! Tissue i need tissue right now ㅠㅠㅠㅠㅠ
    Cma ada bbrp typo n eyd yg g tepat, kejari harusnya ke jari. Ada susunan kalimat yg g tepat sih, hehe 😀
    Sama kayak Imelia, aku agak bingung dimana hubungannya kanker otak ama kecelakaan.

    Tapi overall bagus kok! Keep writing yaa 🙂

    1. tapi sya udh berpesan akan bnyk typo. dn rupanya aaaa! masih ada! XD
      sip deh! author bakal belajar lebih bnyk lg

      gomawo kritiknya ya 😀 …and pujiannya :p

  3. Aaaa…. tokoh utama!!!
    Min Yeon kenapa harus meninggal? u,u
    Ternyata taemin mencintai Min Yeon melebihi sayang sebagai dongsaengnya. Cinta terlarang yang tragis.

    FFnya bagus, bisa bikin feelnya terasa.

  4. Huaa, bromance..

    Wait, aku masih bingung, sebenernya yg duluan ciuman sama Min Yeon itu Minho atau Taemin yah?

  5. annyeong, aku baru disini. ikutan baca ya(?) dan comment juga ya(?)
    yang jualan tissue mana? mana coba? need tissue…
    nangis kejer thor(?) dabeak!!!!
    authir tanggung jawab nih, dah bikin aku nangis(?)

    1. kamu nangis? :O aku kira ini ff sad gaje XD

      tapi aku gk mau tanggung jwb ya, slah sendiri knpa nangis :p *author digampar XD
      tapi mkasih udah baca dan komennya ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s