Better [1.2]

Better [1.2]

Author             : RahmaRiess a.k.a. Inhi_Park

Main casts       : Han Yoora & Lee Jinki a.k.a. Onew

Support casts   : Kim Jonghyun, Kim Kibum a.k.a. Key, Choi Minho, Lee Taemin, Im Yoona, Choi Siwon

Length             : Twoshots

Genre              : Romance

Rating             : PG-13

A.N                 : FF ini pernah saya publish di wp saya dengan nama author yang sama.

(Yoora’s side)

Berkali-kali aku tersenyum melihat bayangan yang terpantul di cermin yang berada tepat di hadapanku. Disana aku melihat seorang yeoja dengan gaun putih yang sangat elegan. Rambutnya dihiasi dengan kain putih tipis yang menjuntai panjang dan tiara yang juga berwarna putih, indah sekali. Itulah aku. Duduk di depan sebuah cermin, berusaha mematut diri sebelum akhirnya melangkahkan kaki di karpet biru panjang menuju ke depan seorang pendeta.

Ya, ini hari pernikahanku dan kini aku sedang menenangkan diri sendiri di ruang make up. Ditanganku, aku memegang sebuah buket bunga lili yang sangat indah di tangan kiriku. Sedangkan di tangan kananku, aku menggenggam selembar kertas putih yang sebenarnya kini sudah sedikit kusut. Kertas ini adalah harta karunku yang paling berharga. Di kertas inilah aku menyimpan semua kenangan masa laluku.

Aku membuka kembali kertas yang saking seringnya aku membuka dan melipatnya lagi itu membuatnya menjadi sudah sangat lusuh. Aku tersenyum membaca beberapa baris kalimat yang masih tertera jelas disana.

“If you are sad, cry.

Just honestly cry as you are.

If you are still in pain after that and need someone,

Come to my side.

Come as you are,

If you’re in pain no matter where you are,

Come to my side”

Aku sangat mengenal tulisan tangan yang jelek ini, meski pemiliknya tidak pernah mengaku pernah menulisnya, aku yakin ini darinya. Lee Jinki.

Masih sangat jelas di pikiranku, hari itu adalah hari pertama aku menginjakan kaki di SMA. Dan seperti pada sekolah umumnya, kami, para siswa baru, akan mengalami yang namanya masa orientasi selama kurang lebih satu pekan. Dan sepertinya ini bukan tahun keberuntunganku. Hampir setiap hari selama masa orientasi ini selalu ada saja hal bodoh yang aku lakukan, dan itu yang membuat para sunbae senang karena dapat mengerjaiku sesuka hati mereka.

Satu hal yang paling memalukan dan paling melekat di kepalaku sampai saat ini adalah ketika suatu hari aku diberi hukuman oleh seorang sunbae yeoja karena aku memakai gelang yang sama seperti miliknya. Awalnya aku tidak terima karena alasannya yang menurutku tidak masuk akal, namun teman baruku yang bernama Yoona memaksaku untuk menurutinya.

“Kau jangan mencari masalah dengannya, ayolah lakukan saja yang dia mau.” Katanya yang membuatku akhirnya melakukan hal memalukan itu.

Sunbae yang pada akhirnya aku tahu bernama Jessica itu menyodorkan sebuah lollypop ke depan mataku. “Ini, berikan ini pada sunbae yang ada disana.” Ia menunjuk gerombolan sunbae namja yang sedang mengobrol di tempat duduk dekat tangga. “Berikan pada orang yang memakai jaket abu-abu itu.” Titahnya.

“Itu saja?” kataku menantang. Yoona yang berdiri di sampingku langsung menghentakkan lenganku setelah mendengar pertanyaanku yang seolah menantang gadis berambut pirang panjang di depanku itu.

“Hah, kau menantangku rupanya.” Dia tersenyum sinis. “Berikan permen ini padanya sambil berlutut, katakan kalau kau menyukainya dan ingin menjadi yeojacingunya.”

JDERRR~ Apa-apaan ini. Jadi aku harus menembak seseorang yang sama sekali tidak aku kenal. Hah! Bercanda!

“Kenapa diam? Ayo cepat!” katanya lagi.

“Yoora-ya…” Pekik Yoona pelan saat aku mulai bergerak dan beranjak dari tempatku.

Aku berjalan menuju sekelompok namja yang di tunjuk oleh Jessica tadi. Disana ada 5 orang, mereka terlihat sedang mengobrol. Semakin dekat aku semakin menyadari siapa orang-orang itu. Mereka adalah kelompok namja yang sangat populer di sekolah ini. Yang sedang memegang bola basket itu adalah Choi Minho, kapten tim basket yang terkenal keren dan cool. Yang sedang meminum banana milk itu namanya Lee Taemin, dia yang paling muda diantara mereka berlima. Lalu 2 orang yang terlihat sedang ngobrol sambil tertawa itu adalah Kim Kibum dan Kim Jonghyun. Dan yang terakhir, yang berjaket abu-abu, yang katanya paling dingin dan pendiam diantara mereka, dan yang akan menjadi targetku itu bernama Lee Jinki, siswa yang tergolong paling pintar di sekolah.

Aku membalik tubuhku sebentar, sekedar untuk melihat Yoona yang kini sedang berdiri sambil menggigiti kuku tangannya di seberang lapangan basket yang sedang ku sebrangi ini. Ia mengepalkan kedua tangannya, aku mengerti kalau maksudnya adalah untuk menyemangatiku.

Langkahku semakin berat seiring dengan menipisnya jarak antara aku dan targetku. Lolypop yang akan aku berikan sengaja ku sembunyikan di balik punggung agar tidak terlalu menarik perhatian. Tapi percuma, yang terjadi malah lebih parah dari yang ku perkirakan. Entah bagaimana caranya Jessica mengumpulkan orang-orang yang kini telah siap menonton adegan memalukan ini.

Kini aku berdiri tepat di depan namja itu, Lee Jinki. Mereka berlima terlihat heran melihat aku yang kini ada diantara mereka. Kupejamkan mata mengumpulkan segenap keberanianku untuk melakukannya. Dan akhirnya…

“Jinki Sunbae-nim, saranghaeyo” kataku sambil berlutut dan mengacungkan lolipop yang ada digenggamanku tinggi-tinggi.

Aku bisa mendengar orang-orang di belakangku sedang tertawa, berteriak mengejek dan meledekku. Rasanya aku ingin menangis.Ini pertama kalinya aku di permalukan di depan umum. Saat air mataku hampir jatuh, aku merasa kalau lolipop itu hilang dari tanganku. Saat aku mengangkat kepala, aku melihat benda bundar warna-warni itu telah berpindah ke lengan seorang namja berambut cokelat dan bermata sipit. Namja itu menatapku sekilas sebelum akhirnya melangkah pergi.

Ia berjalan meninggalkanku, Di ikuti oleh keempat kawannya yang membuntutinya dari belakang dengan ekspresi wajah yang masih sama. Heran.

Salah seorang kawannya sempat menyapaku sebelum akhirnya di seret paksa oleh temannya. “Hai… Siapa nama gadis pemberani ini?” Tanya namja yang ku tahu bernama Jonghyun itu.

“Sudahlah hyung… Ayo pergi…” Kata Kibum sambil menarik kerah kemeja Jonghyun dan seketika itu mereka pun menghilang dari pandanganku.

“Gwenchanayo?” Yoona menghampiriku yang masih terduduk karena rasanya aku sudah kehilangan semua tenagaku.

“Absolutely no…” Jawabku dengan suara yang agak bergetar.

“Tapi kau hebat Yoora. Jjinca… Daebak…” Gadis itu mengacungkan dua ibu jarinya sambil tersenyum lebar.

Aku teringat seseorang. “Mana nenek sihir itu?” Tanyaku saat tidak ku temukan Jessica dan gerombolannya di belakang sana.

“Dia langsung pergi sambil menggerutu tidak jelas saat Jinki sunbaenim menerima lollypop dari tanganmu. Hahaha… Aku senang sekali melihat ekspresi wajahnya tadi. Dia pasti sangat kesal… Hahaha…” Terang Yoona dengan di selingi tawanya yang terdengar sangat puas sekali.

<><><>

Setelah melewati satu minggu penuh penyiksaan, akhirnya kami, para siswa baru, sudah bisa memulai kehidupan kami dengan normal.

Aku duduk sebangku dengan Yoona. Karena nama kami yang terdengar mirip dan kenyataan kalau kami memang sangat dekat dan sering terlihat bersama, banyak orang yang mengira kalau kami ini anak kembar. Padahal jelas kalau wajah dan sifat kami amat sangat tidak mirip.

Meski kami baru kenal pada saat hari pertama kami menginjakkan kaki di sekolah ini, tapi waktu yang terhitung singkat itu sudah cukup membuat kami saling mengenal dan menjalin pertemanan yang baik.

Setelah lonceng istirahat berbunyi, Yoona menarik lenganku untuk segera menuju kantin dan mengisi perut. Aku yang sebenarnya tidak terlalu suka keramaian terpaksa mengikutinya. Dan benar, baru sampai di pintu depannya saja aku sudah sangat ingin mengambil langkah mundur. Suasana si dalam kantin ini sungguh sangat ramai. Orang-orang hilir mudik dengan nampan berisi makanan di tangan masing-masing.

“Ayo masuk…” Katanya. Ia menyeringai saat melihat ekspresi keraguan dariku. “Ayooo…” Katanya sambil menyeretku untuk memasuki ruangan yang hampir sesak di penuhi orang-orang itu.

Yoona menuntunku untuk duduk di satu-satunya meja yang masih kosong. “Kau duduk disini, aku akan pesankan makanan untuk kita. Kau mau apa?” Ujarnya.

“Emh… Apa saja.” Jawabku yang sudah tidak bisa berpikir jernih dalam suasana yang sangat ricuh seperti ini.

Setelah menyampaikan pesanan, Yoona duduk di kursi di hadapanku. Mataku mencoba menangkap sesuatu di salah satu meja di sudut ruangan yang tidak terlalu jauh dari meja kami. Meja itu terlihat sangat ramai. Dari sela-sela kerumunan aku bisa melihat 5 orang namja sedang duduk disana.

“Ada apa?” Tanya Yoona sambil mengikuti arah pandanganku. “Oh… orang-orang itu.” Tambahnya.

“Aku heran kenapa orang-orang itu sangat ingin berada di dekat mereka berlima.” Kataku santai.

“Ya, kau benar-benar tidak tertarik melihat namja-namja keren seperti mereka?” Tanyanya.

“Anio, mereka Cuma punya modal tampang yang mungkin sedikit di atas rata-rata, apa yang bisa dibanggakan?” Kataku enteng sambil menyantapmakan siangku yang baru saja sampai.

“Hey, kau lupa kalau diantara mereka juga ada yang memiliki salah satu kriteria ‘namja keren’ versi kau itu.” Katanya lagi. “Pemegang piala juara umum itu anggota mereka juga Yoora. Jinki…” katanya sambil melirik kerah kerumunan yang semakin besar itu.

“Lalu?”

“Aish, aku malas bicara padamu kalau kau sudah cuek begini.” Gadis berambut cokelat itu mengerucutkan bibirnya.

Saat mataku sekali lagi melirik ke arah kerumunan itu, aku terenyak karena ternyata sepasang mata sipit milik namja yang baru saja kami bicarakan itu sedang menatap ke arahku. Sontak aku langsung mengalihkan pandangan dan menundukkan kepala.

<><><>

Saat jam istirahat kedua Yoona mengajakku untuk melihat para siswa yang sedang bermain basket di lapangan, tapi ku tolak. Aku memilih untuk pergi ke perpustakaan saja. Sudah cukup kepalaku pening berada di kerumunan manusia saat istirahat makan siang tadi.

Kulangkahkan kaki menyusuri deretan buku yang tersusun rapi di puluhan rak yang berbaris rapi. Perpustakaan sekolah ini memang terkenal dengan koleksi buku yang sangat lengkap. Sebenarnya tidak ada buku yang sedang ku cari. Aku juga bukan orang yang maniak membaca. Aku hanya suka suasana yang tenang di tempat ini.

Kuputuskan untuk mengambil buku biografi salah satu tokoh dunia yang senenarnya juga sangat asing bagiku. Hanya saja ku pikir akan terlihat aneh jika aku pergi ke perpustakaan tanpa berakhir dengan sebuah buku di tanganku.

Aku mengambil tempat duduk di salah satu meja yang hampir kosong. Hanya ada seorang siswi dengan kaca mata tebal yang sedang asyik dengan buku-buku super tebalnya dan seorang siswa yang sedang membaca buku astronomi yang duduk di kursi tepat di sebrang tempatku.

Satu per satu halaman buku yang tebalnya mencapai 200 halaman lebih itu ku buka pelan-pelan. Mataku menelusuri deretan kalimat disana.

“Kau penggemar Shakespear?”

Ku angkat kepala saat terdengar seseorang berbicara padaku. Aku mengedipkan mata pelan dengan raut wajah yang entah seperti apa saat ku lihat ternyata orang yang duduk di hadapanku itu adalah Lee Jinki. Orang yang merupakan salah satu dari lima siswa paling populer di sekolah. Orang yang memiliki banyak fans. Dan orang yang menjadi targetku saat dikerjai oleh seniorku saat masa orientasi kemarin.

Dia menjentikkan jari tepat di depan mataku karena bukannya menjawab pertanyaannya, aku malah terbengong-bengong sambil menatap wajahnya.

“Ah… Emh… Ani… Emh… Maksudku… Tidak juga…” Jawabku terbata-bata.

Namja itu tertawa tertahan melihat responku yang pasti terlihat sangat konyol. Aku tertegun melihatnya. Mata sipitnya menghilang dan hanya menyisakan sebuah garis lengkung yang indah saat ia tertawa. Tampan…

<><><>

“Ayo Ra… Pertandingannya sudah mulai tuh…” Aku hampir terjatuh saat Yoona menyeretku menuju lapangan basket.

“Tunggu sebentar… Kau ini semangat sekali…” Kataku.

“Tentu saja… Disanakan kan ada Siwon oppa…” Jawabnya dengan wajah berseri-seri.

Aku memutar bola mata melihat tingkah sahabatku itu. Dia memang sudah jatuh cinta pada Siwon sunbaenim, pelatih tim basket sekolah. Siwon sunbaenim memang keren. Dia tinggi, badannya atletis dan wajahnya yang tampan. Dan karena tiga alasan itulah Yoona langsung kasmaran saat pertama kali melihatnya.

“Permisi… Permisi… Kami mau lewat…” Gadis itu menerobos gerombolan siswa yang juga sedang menonton pertandingan dengan tidak melepas genggaman tangannya di pergelangan tanganku.

“Siwon oppa…” Aku menutup telinga dengan kedua telapak tanganku saat lagi-lagi Yoona berteriak di sampingku.

“Ya! Harusnya yang kau semangati itu mereka yang sedang bermain, bukan orang yang Cuma berdiri di pinggir lapangan seperti itu.” Kataku sinis.

“Shireo… Aku kan hanya suka pada Siwon oppa… Aaarrghh… Siwon oppa…” Sergahnya yang di lanjutkan dengan ber-fangirling ria.

Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya, lalu kembali menutup telinga, takut pendengaranku terganggu jika terus mendengarkan teriakan-teriakan yeoja aneh di sampingku ini.

Saat sedang menikmati pertandingan, dimana tim sekolah kami sudah unggul beberapa poin dari tim lawan, aku keheranan ketika para siswi yang duduk di sekitarku tiba-tiba mengalihkan pandangan mereka dari lapangan ke bagian belakang tribun penonton tempatku berada.

Ku hela nafas panjang sesaat setelah ku tahu alasan para siswi itu melepas pandangan mereka dari pria-pria yang sedang berebut bola di lapangan itu. Empat namja yang tergabung dalam kelompok siswa populer berjalan memasuki tribun penonton dengan gaya cool mereka.

Ku coba untuk tak terprovokasi dan tetap melanjutkan aktivitasku menyaksikan pertandingan yang semakin seru saat aku merasa ruang kosong di samping kananku tiba-tiba terisi. Dan kau tahu siapa yang duduk disana? Empat namja, yang kata orang-orang, sangat tampan, keren dan cool itu.

Mata para yeoja yang sepertinya adalah fans mereka menatap kearahku dengan tatapan tajam yang seolah sanggup membunuhku dengan sekali tusukan. Bagaimana tidak, namja dengan gelar ‘leader’ diantara para siswa populer itu duduk tepat di sampingku. Dialah Lee Jinki.

Namja bermata sipit itu mencoba tersenyum padaku saat tak sengaja mata kami beradu pandang meski tidak lama karena aku selalu langsung mengalihkan pandanganku darinya. Entah. Aku hanya merasa tidak kuat jika harus menatap matanya terlalu lama.

“Siwon oppa…. hwaiting…” Teriakan Yoona terdengar lagi setelah beberapa saat rasanya entah kenapa aku tidak mendengarnya, padahal aku sendiri yakin kalau gadis ini hampir setiap menit meneriakkan nama yang sama. Siwon.

<><><>

(Jinki’s side)

Meski di hadapanku sedang berlangsung pertandingan basket yang sangat seru, tapi perhatianku tidak bisa lepas dari sosok yeoja yang sedang duduk manis di sampingku. Han Yoora. Gadis yang sejak pertama kali bertemu sudah sangat menarik perhatianku.

Bagaimana tidak, pertemuan pertama kami adalah sekitar satu bulan yang lalu saat tahun ajaran baru baru saja di mulai. Saat itu aku dan keempat kawanku sedang melihat para siswa baru yang sedang menjalani masa orientasi. Beberapa dari mereka mendapat arahan dari siswa yang bertugas menjadi panitia, sebagian lainnya sedang di kerjai habis-habisan oleh para sunbae mereka yang tak lain adalah teman-teman seangkatanku.

Saat Jonghyun yang terkenal sebagai pecinta wanita sejati sibuk memperhatikan para siswi baru sekaligus menandai yang mana yang akan menjadi target incarannya, tiba-tiba mataku menangkap sosok seorang siswi berjalan kearah kami berlima dengan kepala tertunduk dan kedua tangan yang di sembuyikan di balik punggungnya.

Keempat kawanku yang notabene berusia lebih muda dariku mulai saling berbisik saat jarak gadis itu semakin dekat. Aku hanya tersenyum singkat menanggapinya karena sejujurnya ini bukan hal yang baru. Beberapa hari lalu seorang siswi datang menghampiri kami lalu ia memberikan surat cinta pada Minho. Atau tadi pagi saat kami baru melangkah masuk ke gerbang sekolah, seorang yeoja yang ku tahu pasti adalah siswi baru, ia memberikan sebatang cokelat untuk Jonghyun. Lalu… Kali ini pada siapa? Key? Atau maknae kami, Taemin?

Gadis itu kini sudah berada tepat di hadapan kami berlima. Dengan mata terpejam, tiba-tiba ia menekuk lutut lalu mengacungkan sebuah lollypop yang berukuran cukup besar. “Jinki Sunbae-nim, saranghaeyo” Katanya.Aku sempat tersentak saat tahu kalau targetnya adalah aku, bukan Jonghyun atau Minho, bukan Key, juga bukan Taemin.

Aku bisa mendengar tawa riuh orang-orang yang entah sejak kapan menyaksikan kejadian ini. Pandanganku menyeberangi lapangan basket di depan sana dan aku menemukan Jessica dengan gengnya sedang memperhatikan dengan tatapan angkuhnya. Akhirnya aku tahu kalau ternyata gadis licik itu yang sedang mengerjain gadis ini.

Jessica adalah teman sekelasku. Beberapa hari yang lalu dia memintaku menjadi pacarnya, tapi ku tolak. Dan pasti karena hal itulah Jessica memilihku sebagai target gadis ini karena ia tahu kalau aku bukan tipe pria yang mudah tertarik atau akan bersikap manis pada yeoja.

Dan entah mendapat dorongan dari mana, tiba-tiba tanpa ragu aku mengambil lollypop itu dari tangannya. Ia nampak sangat terkejut saat menyadari kalau aku sudah menerima lollypopnya itu. Tanpa menunggu lebih lama, aku segera melangkah pergi dan di ikuti oleh keempat kawanku.

Aku berjalan lurus menuju kelas tanpa mempedulikan ocehan kawan-kawanku.

<><><>

Beberapa hari yang lalu, secara tidak sengaja aku bertemu dengannya di perpustakaan. Atau mungkin sengaja, karena jujur saat itu aku memang mengikutinya. Waktu itu secara refleks ku belokkan langkah kakiku yang awalnya hendak menuju kantin. Sosok seorang yeoja yang baru saja berbelok masuk ke ruang perpustakaan memaksaku melangkah mengikutinya.

Aku memandangi wajahnya yang sedang dengan serius menyusuri setiap buku di rak di hadapannya. Aku menjajari langkahnya dari sisi lain rak sedang ia jelajahi. Entah apa alasannya, aku hanya senang memandangi wajahnya yang manis itu. Dan setiap kali memandangnya, ada rasa nyaman yang entah berasal darimana yang kurasakan disini. Disuatu tempat di dalam rongga dadaku ini.

<><><>

Aku berjalan menyusuri deretan buku-buku tebal yang berbaris rapi di rak yang agak berdebu. Di sisi lain dari rak ini, Yoora, gadis yang entah sudah berapa minggu belakangan ini selalu merasuki pikiranku, baik saat ku terjaga, hingga ke dalam mimpiku sekalipun itu juga tengah berjalan serah denganku. Aku menjajari setiap langka kecilnya, sehingga membuat kami seolah sedang berjalan beriringan.

Aku tersenyum menyadari kekonyolan tingkahku sendiri.

Jantungku berdegup semakin cepat saat jarak antara diriku dan kursi dimana Yoora duduk semakin sempit.Dari tempatku berdiri, bisa kulihat wajahnya yang nampak serius dengan buku tebal yang ku yakin adalah salah satu buku karya Shakespeare.

Gadis itu menggeser buku yang ia genggam tepat di depan wajahnya saat ku geser kursi tepat di seberang tempat duduknya. Senyum manis terkembang dari bibir tipisnya. Senyum yang sontak membuat nafasku tercekat dan jantungku berdetak berkali-kali lipat lebih cepat.

“Jinki sunbae…” Sapanya. Tentu dengan suara yang sangat dipelankan mengingat kami sedang berada di perpustakaan saat ini.

Aku tersenyum dan sedikit menganggukkan kepala. Bukan tanpa alasan aku melakukannya. Itu semata-mata karena aku benar-benar terhipnotis dengan tatapan matanya, sehingga tak ada sepatah katapun yang bisa ku ucapkan.

“Yoora-ssi…” Ucapku saat gadis itu hampir menutupi wajahnya lagi dengan buku tebalnya itu.

Yoora mengurungkan niatnya untuk kembali membaca dan kini ia mengarahkan pandangan mata bulatnya padaku.

Aku berdeham pelan agar sedikit bisa menenangkan debaran jantungku sendiri. “Yoora-ssi…” Kata-kataku kembali tercekat di tenggorokan saat ku tatap manik matanya yang semakin berbinar karena mungkin penasaran dengan apa yang akan ku katakan.

“Yoora-ssi… Aku sudah lama memperhatikanmu.” Kataku. “Emh… Aku… Aku menyukaimu Han Yoora…”

<>끝<>

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

29 thoughts on “Better [1.2]”

  1. gitu doang yaaa??….
    kayak’a cepet banget deeh…
    oke deh chingu….terus berkarya yaaaa…….;-)

  2. aaaahhh… mau jadi Yoora..!! (teriak pake toa) 😀
    Rahma-ssi, saya selalu suka ff yg cast-nya Jinki, baca ff ini bikin saya deg-degan. Si Jinki mo ngomong apa sama Yoora?
    si Yoora mo nikah ma Jinki ya?
    Saya tunggu part selanjutnya.. 🙂

    1. ga boleh… Yoora itu aku.. hehe
      waaahh sama.. sama… aku jg paling seneng kl ada ff yg cast’y onew.. kkk~
      makasih udh mampir.
      sampai jumpa di part selanjutnya n_n

  3. Gak bisa bayangin deh kalo masa orientasi kayak gitu, ngerjain anak baru sampek begitu. Ckck.
    Wah, Jinki akhirnya suka dengan Hyora. Semoga langgeng sampek di part 2 nanti. 🙂

  4. kebiasaan deh ngak flim, ngak cerita, ngak ff pasti endnya disitu.
    Demen bikin readers penasaran nih.
    ciye… jinki diam2 jadi suka sama yoora….
    kira2 apa tanggapan Yoora ya? Ditunggu next chapnya ^^

    1. ahaha… itu kan strategi biar reader/audience mau g mau nunggu kelanjutannya.. kkk~
      jawabannya di part 2, di mohon sabar menunggu yah.. hehe
      makasih udh mampir yaa… n_n

    1. eh… padahal biasa’y km rajin kan kl ff’y tentang onew.. hehe
      part 2-ny emang blm di update ko chingu.. tenang aja.. kkk~
      btw makasih yah udh mampir… n_n

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s