Seven Cousins [2.2]

Seven Cousins

Title    : Seven Cousins

Author : qL^^

Main Cast (Tokoh Utama) : Lee Jinki, Kim Jonghyun, Song Jisun, Kim Kibum, Choi Minho, Park Hyeki, Lee Taemin.

Support Cast (Tokoh Pembantu) : Goo ahjusshi, pelayan, dr. Jung, Lee Donghae

Length : Two shoot

Genre : Family, Bromance, Drama

Rating : General

Summary : Tujuh orang sepupu saling menyayangi dan saling peduli. Cinta menyebabkan ketegangan dan konflik mulai mewarnai hubungan persaudaraan mereka yang damai. Lalu apa yang akan mereka lakukan?

Seven Cousins

Part 2

Dr. Jung melepaskan stetoskopnya dan alat pengecek tekanan darah dari lengan Hyeki. Dokter muda itu hanya menggelengkan kepalanya dan menatap Jinki.

“Kita bicara di luar saja saengnim,” ajak Jinki, lalu membimbing dr. Jung keluar kamar Hyeki.

Begitu dr. Jung keluar, Jonghyun, Kibum dan Taemin segera mendekat ke tempat tidur Hyeki. Di sana, yeoja itu tertidur lelap dengan wajah pucat. Jinki masuk kembali, membuat semua kepala menoleh menatapnya.

“Apa yang dikatakan dr. Jung?” tanya Jonghyun khawatir.

“Dia stress dan ketakutan berlebihan,” jawab Jinki sambil menatap wajah Hyeki.

“Ketakutan?” ulang Kibum bingung.

“Minho hyung,” celetuk Taemin tiba-tiba dan ekspresi paham langsung muncul di wajah mereka semua.

“Di mana Minho sekarang?” tanya Jonghyun heran.

Mollaseo, tapi kurasa dia tidak kembali ke bar,” jawab Kibum sambil mengangkat bahu.

“Aku akan menghubunginya,” ujar Taemin sambil menekan tombol panggilan dan keluar dari kamar Hyeki.

Kini hanya ada tiga orang tertua di antara mereka bertujuh sedang bersama-sama menatap Hyeki yang pucat dan pias. Tidur Hyeki gelisah dan tidak tenang membuat Jinki, Jonghyun dan Kibum ikut merasa gelisah.

“Aaah, jeongmal. Suasana seperti ini menyebalkan sekali,” keluh Jonghyun sambil melonggarkan dasinya dan memijat bagian belakang lehernya.

“Aku setuju hyung,” jawab Kibum sambil merebahkann tubuhnya di sofa. Hanya Jinki yang masih berdiri di dekat tempat tidur Hyeki.

“Aku bicara dengan Jisun tadi siang dan dia bilang dia tidak akan kembali pada Minho,” ujar Kibum pelan.

Jonghyun hanya mengangkat bahu, “sudah kuduga,” ucapnya.

Jinki masih terdiam sambil menatap Hyeki yang tertidur. Dan tiba-tiba Taemin masuk.

“Minho hyung ada di bar bersama Donghae hyung,” lapornya pada hyungdeulnya.

What? Dia tidak kapok juga,” omel Kibum kesal.

“Biar aku saja yang menjemputnya,” putus Jonghyun sambil menatap Jinki meminta persetujuannya. Namun Jinki hanya menggeleng.

“Ada Donghae hyung di sana, biarkan saja. Telepon saja Donghae hyung supaya mengantarkan Minho pulang secepatnya,” ujar Jinki datar.

Taemin mengangguk dan menghubungi Donghae.

“Kita semua harus berkumpul,” ujar Jinki tiba-tiba.

Semuanya menatap Jinki keheranan. Kalaupun Jinki terkenal dengan sangtae-nya tapi saat ini bukan saat yang tepat untuk menunjukkan saengtae.

Hyung, tidakkah itu sangat berbahaya? Semua orang sedang dalam kondisi tegang sekarang,” ucap Kibum khawatir.

“Kibum benar, pikirkan keadaan psikologis kita semua, hyung,” sambung Jonghyun.

“Bisa-bisa kita benar-benar akan bertengkar hebat nantinya,” seru Taemin.

Jinki menghela nafas panjang dan menatap ketiga namdongsaeng yang tidak menyetujui idenya. “Aku tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut-larut. Persaudaraan kita dipertaruhkan di sini,” ujarnya tenang.

Ketiga namdongsaeng Jinki saling berpandangan dan hanya diam.

Jinki kembali menatap wajah Hyeki yang tertidur. “Mungkin akan sedikit sakit atau malah akan sangat menyakitkan, tapi itu lebih baik daripada berpura-pura bahwa rasa sakit itu tidak ada,” ujar Jinki dengan nada bijak.

Kibum mengangguk, “baiklah, aku setuju. Aku akan menghubungi Jisun supaya datang kemari besok.” Sementara Taemin dan Jonghyun hanya ikut mengangguk.

Jinki tersenyum tipis. Semoga semuanya akan berjalan semudah yang diinginkannya.

* * *

Hyeki berjalan setengah menyeret kakinya menuju dapur. Kepalanya masih pusing akibat efek obat yang diberikan dr. Jung. Sebenarnya Hyeki bisa menyuruh salah seorang pelayan dari puluhan pelayan di rumah besar itu untuk membawakannya minum, tapi entah kenapa Hyeki ingin mengambilnya sendiri.

“Oh!” Hyeki berseru kaget saat melihat Kibum sedang duduk di pantry dapur sambil meminum sesuatu yang Hyeki yakin itu jus. Kakak sepupunya itu memang hobi meracik minuman terutama jus dengan bermacam buah.

“Hyeki-ya, apa yang kaulakukan? Harusnya kau ‘kan masih tidur?” tanya Kibum khawatir melihat Hyeki tiba-tiba muncul di dapur.

“Aku haus,” jawab Hyeki singkat lalu mendekati Kibum dan duduk di sampingnya.

“Ada banyak pelayan yang bisa kausuruh untuk mengambilkan minum,” tukas Kibum tak sabar.

Hyeki terkekeh. “Aku masih punya tangan dan kaki untuk mengambilnya sendiri, oppa,” ujarnya geli melihat reaksi berlebihan Kibum. Hyeki menuangkan segelas air di gelas kaca dan menghabiskannya dengan sekali teguk.

“Sedang apa oppa tengah malam begini sendirian?” tanya Hyeki heran.

“Mengamati rumah yang semakin lama semakin sepi ini,” jawab Kibum sedikit menerawang sambil melihat ke sekeliling.

Hyeki terkekeh. “Kita berenam masih tinggal bersama, kenapa malah disebut sepi?” tanyanya heran.

“Nah, justru itu,” sambar Kibum. “Sejak Jisun memutuskan bertunangan dan tinggal di rumahnya lagi, kita semakin jarang bersama, kan?”

Hyeki terdiam. Kibum benar, mereka semakin jarang bersama sejak Minho dan Jisun berpisah. Dan Kibum memang benar, sekarang rumah ini jauh lebih sepi daripada sebelumnya.

“Tenang saja, aku yakin keadaan akan cepat kembali seperti semula,” ucap Kibum lagi. Hyeki mendongak menatap sepupunya itu lalu ikut mengangguk. Di dalam hatinya dan dia yakin semua sepupunya akan berpikiran sama, mereka menginginkan keadaan kembali seperti semula.

Di balik dinding dapur, Jinki menghela nafas. Dongsaengnya sangat berharap keadaan akan kembali seperti semula, walaupun pada kenyataannya dua minggu sudah berlalu sejak perpisahan Minho dan Jisun.

Hyung, sedang apa di situ?” tanya Taemin yang tiba-tiba muncul entah darimana.

“Haish, jangan keras-keras, nanti aku ketahuan,” omel Jinki pada Taemin yang hanya mengangguk-angguk. Taemin ikut mengintip ke dapur dan melihat Kibum dan Hyeki sedang mengobrol santai.

“Kenapa hyung tidak masuk saja?” tanya Taemin lagi.

Jinki menggeleng, menyeret maknae mereka menjauh. “Biarkan mereka bicara dulu,” ucapnya singkat. “Dan kau, tidur sana, kau kan masih harus kuliah,” perintahnya sambil berhenti tepat di depan kamar Taemin.

“Cish, Hyeki kan juga kuliah,” bantah Taemin.

“Dia sedang sakit, aku akan melarangnya kuliah besok,” jawab Jinki sambil memijat kepalanya dan entah kenapa malah duduk di depan pintu kamar Taemin. Taemin yang keheranan juga ikut duduk di depan pintu dan jadilah dua namja itu duduk bersila di depan pintu kamar Taemin.

Taemin menatap wajah Jinki yang terlihat lelah, baru menyadari bahwa begitu banyak beban yang ditimpakan pada Jinki. Harus mengurus perusahaan kakek, memimpin Jonghyun, Kibum, Minho dan Jisun di perusahaan dan ditambah dengan mengurus enam dongsaeng. Taemin yakin Jinki tidak punya waktu untuk memikirkan diri sendiri.

“Kau lelah, hyung?” tanya Taemin.

“Sedikit,” jawab Jinki, lalu tersenyum. “Gwenchana.”

“Berbagilah hyung,” ucap Taemin khawatir. “Kami tidak ingin selalu menjadi bebanmu,” tambahnya lagi.

Jinki menepuk bahu Taemin pelan dan tersenyum. “Tenanglah, kalian keluargaku, mana mungkin kuanggap beban. Kalian selalu menjadi pendukungku, karena itu aku juga harus berusaha yang terbaik untuk kalian bukan?” ujar Jinki bijak. “Aku tidak apa-apa, Taemin-ah. Aku hanya ingin kebahagiaan untuk kita.”

Taemin membalas senyum Jinki dengan senyum tipis. Dia masih merasa harusnya dia ikut membantu meringankan beban Jinki. Tapi Taemin memutuskan tidak berkata apa-apa lagi. Jadi mereka hanya berdiam diri di depan pintu kamar Taemin sampai kemudian terdengar langkah-langkah kaki.

“Oh, oppa, Taemin-ah. Sedang apa?” tanya Hyeki keheranan melihat Taemin dan Jinki berdiri gugup di depan kamar Taemin. Kamar mereka berenam memang berada di satu lorong yang sama.

Aniyo, aku akan kembali ke kamar,” ujar Jinki lalu menuju kamarnya.

“Aku juga,” kata Taemin, lalu masuk ke kamarnya. Hyeki dan Kibum hanya bertukar pandang keheranan melihat tingkah dua namja itu.

* * *

Ruang keluarga kini sudah diisi oleh tujuh bersepupu itu. Jinki sudah berpesan pada para pelayan agar memberikan mereka privasi. Hari ini adalah hari dimana mereka memutuskan untuk berkumpul. Jisun duduk di sofa panjang, diapit Kibum dan Hyeki. Di sebelah Hyeki ada Taemin. Di hadapan mereka ada Jonghyun, Jinki dan Minho. Semuanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun, hingga akhirnya Jinki berdiri.

“Kita bertujuh bersepupu, kupikir kalau kita berkumpul seperti ini, akan lebih mudah membahas masalah kita,” ucap Jinki memulai pembicaraan. Tidak ada respon, maka Jinki melanjutkan, “aku yang tertua di sini, lalu ada Jonghyun, Kibum, Jisun, Minho, Hyeki dan Taemin. Kalian semua menjadi tanggung jawabku. Bicaralah sesuatu agar aku tahu dan bisa membantu.”

Tapi semuanya tetap bungkam mulut. Emosi Jinki mulai tersulut.

“Aku tidak tahan lagi melihat hubungan kita seperti ini. Kumohon, keluarkanlah unek-unek kalian,” ucap Jinki dengan setengah menahan emosi.

Tidak ada yang bicara. Semuanya hanya bergerak-gerak gelisah namun menghindari saling bertatapan. Jinki sudah membuka mulut untuk berbicara ketika Jisun tiba-tiba mengucapkan sesuatu.

“Baiklah, aku akan bicara,” ujar Jisun. “Aku Song Jisun, yang tertua ke empat, ingin minta maaf pada kalian semua sepupuku karena aku-lah kita semua bertengkar seperti ini.”

Noona,” lirih Taemin.

Jisun mengabaikan Taemin dan melanjutkan ucapannya. “Terutama pada Minho. Minho-ya, noona sudah berulang kali minta maaf padamu, apa kau tidak bisa memaafkan noona?” tanyanya langsung pada Minho.

Minho yang sedari tadi menunduk sambil mencengkram kedua telapak tangannya, mengangkat kepala untuk melihat Jisun. Jisun yang cantik, baik, dewasa dan perhatian padanya. “Aku akan memaafkan noona, kalau noona kembali padaku,” ucapnya tanpa ragu.

Semuanya membeku. Minho langsung membicarakan pokok masalahnya.

“Kau tahu jawabannya Minho-ya, noona tidak bisa,” jawab Jisun lirih.

“KALAU NOONA TIDAK BISA, KENAPA NOONA HARUS MINTA MAAF, HUH?!!” teriak Minho lepas kendali.

Ya! Choi Minho!!” bentak Jonghyun sambil menahan Minho yang sudah berdiri. Hyeki yang mendengar teriakan Minho mulai terisak dan Taemin langsung mendekapnya. Jisun tidak menangis, hanya menatap Minho dengan mata berkaca-kaca. Kibum dan Jinki hanya diam. Tidak ingin ikut bicara dulu.

Minho akhirnya duduk kembali. Dia membenamkan wajahnya di lengan dengan frustasi. “Apa noona tidak tahu sebesar apa cintaku pada noona? Kita sudah menjalani hubungan kita selama empat tahun, noona, dan tidak pernah ada masalah besar, lalu tiba-tiba noona memutuskan hubungan kita secara sepihak,” ucap Minho dengan suara bergetar. “APA NOONA PERNAH TAHU BAGAIMANA PERASAANKU?? AKU BAHKAN TIDAK BISA MEMIKIRKAN YEOJA LAIN SELAIN NOONA!!” teriak Minho lagi.

Mianhe, Minho-ya. Perjodohan ini dibuat bahkan sebelum aku lahir,” ujar Jisun pelan.

“Lalu apa bedanya, huh? Kita sudah bersama-sama sejak lahir, kenapa noona tidak bisa menolak perjodohan itu?” bentak Minho.

“Kau tahu kan apa arti menolak perjodohan di dunia bisnis? Ini untuk kebaikan orang tuaku Minho-ya, untuk perusahaan kita,” ucap Jisun menekankan.

“Omong kosong!!” bantah Minho. “Apa karena kita sepupu? Karena kita sepupu, noona menolak serius denganku?”

Jisun hanya  menggeleng.

“Jawab, noona!!” paksa Minho yang sudah ingin berdiri lagi, namun ditahan Jinki dan Jonghyun. Sementara Jisun akhirnya menangis di pelukan Kibum.

“Aku mencintainya Minho-ya, jauh sebelum mencintaimu,” jawab Jisun akhirnya.

Mendengar hal itu, Minho terduduk lemah. Jinki memberikan isyarat pada Jonghyun agar melepaskan pegangannya dari Minho. Jisun melepaskan pelukan Kibum dan berjalan ke seberang ruangan, menuju sofa Minho. Dia berjongkok di hadapan Minho yang sekarang kembali membenamkan wajahnya di lengan. Tubuh Minho bergetar pelan dan Jisun tahu Minho menangis tanpa suara. Jisun merengkuh Minho dalam pelukannya.

Mianheyo, Minho-ya. Noona menyakitimu. Noona mencintainya karena itu noona tidak mau menyakitimu dengan terus memberi harapan. Karena itu noona memutuskanmu. Noona minta maaf, Minho-ya,” ucap Jisun terisak.

Kepala Minho menggeleng, namun dia tidak menjawab satu pun ucapan Jisun.

“Kau bisa mencari gadis lain di luar sana Minho-ya dan noona akan tetap jadi noona-mu, hm? Otte?” tanya Jisun. Air matanya mengalir membahasi pundak Minho.

Minho melepaskan pelukan Jisun dan menatap wajahnya. “Aku hanya mencintai noona, aku tidak tahu apakah aku bisa mencintai orang lain lagi,” jawab Minho parau.

Jisun mengelus kepala Minho dengan sayang. “Keuraeyo, kau pasti bisa,” jawabnya dengan senyuman.

Wajah Minho masih tetap menunjukkan dia tidak rela Jisun bersama orang lain, namun akhirnya Minho ikut mengangguk. Dia meraih kepala Jisun dan mengecup kening Jisun lama. Minho berusaha menyampaikannya dengan kecupan di kening itu. Menyampaikan betapa besar cintanya pada Jisun dan bahwa dengan berat hati Minho sudah merelakannya bertunangan dengan orang lain.

“Sudah selesai kan?” tanya Jinki tenang. “Kau tidak akan mengungkit-ungkit masalah ini lagi Minho-ya?” tanyanya pada Minho.

Minho menunduk dan menggeleng sementara Jinki menepuk pundaknya.

“Tenang saja, kami akan membantu mencarikanmu gadis yang cantik,” tambah Jonghyun yang disambut lirikan tajam dari Minho sehingga membuatnya cengiran Jonghyun lenyap.

Jinki berjalan ke seberang ruangan dan berjongkok di hadapan Hyeki yang masih terisak di pelukan Taemin. Dia memberikan isyarat agar Taemin melepaskan pelukannya dari Hyeki. Jinki mengangkat dagu Hyeki, membuat dongsaengnya itu menatapnya. Hyeki bukan maknae di antara mereka bertujuh. Taemin-lah si maknae. Namun, sifat Hyeki dan Taemin sama-sama masih kekanakan sehingga dua anak yang lahir di tahun yang sama itu seperti maknae kembar.

“Masalahnya sudah selesai,” ucap Jinki dengan nada menenangkan.

Hyeki menggeleng. “Aku takut,” cicitnya pelan.

Jinki tersenyum, memamerkan gigi kelincinya yang dianggap imut untuk ukuran kakak tertua. “Tidak perlu takut, kita semua bersaudara, tidak ada yang menyakitimu.”

“Minho tidak bermaksud menyakitimu, Hyeki-ya,” sambung Kibum ikut berjongkok di sebelah Jinki. “Dia hanya lepas kendali.”

Hyeki melirik Kibum yang juga tersenyum menguatkan, lalu kemudian Hyeki ikut tersenyum meskipun bibirnya masih bergetar.

Jisun yang sekarang sudah duduk di samping Minho, mendorong tubuh namja itu. “Sana, kau harus minta maaf pada dongsaeng kita.”

Minho menatapnya heran, lalu menggeleng. “Aku takut dia pingsan lagi kalau aku berada di dekatnya.”

“Kau kan tahu Hyeki paling takut kalau dibentak dan dimarahi, apalagi waktu itu kau memecahkan botol wine di depan wajahnya. Wajar sana dia takut begitu, tapi justru karena itu kau harus minta maaf,” jelas Jisun sambil mendorong Minho.

Akhirnya Minho berdiri mendekati Hyeki yang sekarang sudah tersenyum saat Jinki menghapus bekas air mata di wajah Hyeki dan mengelus kepalanya.

“Hyeki-ya, mianheyo,” ucap Minho ragu.

Taemin, Jonghyun, Kibum dan Jinki hanya melongo melihat Minho sementara Hyeki tersenyum tipis. “Gwenchana,” jawab Hyeki. “Aku baik-baik saja.”

Oppa janji tidak akan membentakmu lagi,” pinta Minho lagi.

Hyeki hanya mengangguk dan Minho tersenyum lega melihat Hyeki sudah memaafkannya.

Gomawo,” ucap Minho sambil mengelus kepala Hyeki.

Jonghyun menyusut air matanya dengan sapu tangan mahal dan sialnya Taemin melihatnya. “Hyung, kenapa ikut menangis?” tanya si maknae.

Baboya! Huaah, aku terharu dengan persaudaraan kita,” jawab Jonghyun melankolis.

Semuanya tertawa mendengar jawaban si Mr. Bling bling. Kibum tiba-tiba merengkuh mereka semua, membuat tujuh orang itu saling berpelukan sambil berjongkok.

“Ah, semoga kita akan selalu bahagia begini yaa,” pinta Taemin penuh harap.

Ne~ oppadeul, eonni, Taemin-ah, saranghaeyoo,” ujar Hyeki ceria, tapi dengan suara serak, membuat aegyo-nya gagal.

“Puhahaha,” Jinki tertawa walaupun tidak ada yang lucu. “Nado saranghaeyoo.”

Semuanya yang terdiam melihat reaksi Jinki jadi ikut tertawa dan saling berkata, “Nado saranghaeyo.”

Yeongwonhi,” bisik Jinki di dalam hati sambil menatap ke enam dongsaeng dan keluarganya.

-END-

A.N: Huft #buang keringat. Gimana Part2-nya? Memuaskankah? Atau justru mengecewakan? Terjawab sudah masalahnya Minho dan Jisun. Mian ya kalau masalahnya ternyata gaje, keke~ apakah narasinya kurang? SHINee momentsnya juga kurang yaa?

Buat admin, gomawo udah publish part 1 dan 2nya. Dan buat readers, makasih udah memberikan oksigen melalui komen kalian. #bow

 

As usual, comments and likes are loved :*

 

Regards, qL^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

10 thoughts on “Seven Cousins [2.2]”

  1. hwah… Sweet family..
    Daebak! Ke-sangtae-an Jinki tidak menghilangkan kebijaksanaanya.. Hehe
    keep writing!

    1. aargh, ngacir ke sini sebentar buat ninggalin komen 🙂
      gomawo udah ninggalin komen Hyora-ssi. Mungkin kalau agak2 lupa, bisa di serach seven cousins part 1 hihi

  2. huwa… feelnya dapet bgt *usap air mata bareng jjong*
    aku suka, ceritanya keren.
    yaampun, onyu tetep sangtae n jjong tetep jadi pecinta wanita (?) ya, wkwkw

    1. aah, yongie, komentarmu selalu dtunggu hehe
      yaha kalau ga sangtae bukan onew namanya, kalau ga pecinta wanita (?) bukan jjong namanya wkwkw
      makasih komennya *hug

  3. Daebaaaakkkk..kereeen…bgus… baguuusss..ga kepikiran baca nih ff.. tau nya pas baca dream girl… nyeseeeeeeelll baca nya telat… keren thor:D

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s