Takdirku Untuknya

Takdirku Untuknya

After story : Keegoisan yang Pantas

Author : Megian

Main Cast : Rhenata Kim, Kim Kibum

Other cast : Kim Jonghyun and others

Rating : PG 17

Genre : Sad, Romance, Life, Family

Length : Oneshoot

Summary : Aku menutup pintu kamar Kibum dengan rasa lega yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku merasa tindakanku kali ini adalah benar. Mencintai tanpa harus bersatu. Itu takdirku untuknya. Biarlah.

 

Selamat Membaca^^

 

Aku melangkah dengan perasaan bercabang, antara senang, sedih, khawatir, dan beberapa perasaan yang sebelumnya tidak pernah membuatku merasa sebejat ini. Antara gontai dan bersemangat. Antara bersyukur dan menyesal.

Bagaimana aku bisa bertemu dengan pria itu? Sudah belasan tahun dia tidak berada dalam jarak pandangku. Lebih tepatnya aku menjauh dari penglihatannya. Bersikap seolah pengecut yang takut kegagalan yang bahkan belum pernah dialaminya.

Dia bahagia bersama wanita baik hati yang mencintainya dengan tulus. Memiliki sepasang malaikat yang menuruni keramahan ibunya dan ketegasan pria bermata kucing itu.

15 tahun aku mencoba untuk menghancurkan perasan yang tumbuh untuknya. Dan selama itu pula tempat yang disebut dengan cinta itu bertahan untuknya, sampai hari ini, di pagi saat Tuhan memanggil wanita baik hati itu kembali kepangkuan-Nya.

Aku mengenal 2 malaikat kecil yang sedang berdiri di sisi peti jenazah itu. Ibunya sering mengirimiku proses tumbuhnya mereka saat bayi. Dan menginjak usia 11 tahun si sulung yang lebih sering berinteraksi denganku, dan tidak jarak si bungsu yang menuruni ketampanan ayahnya juga ikut menyapaku manja. Persis seperti ayahnya.

Dari ujung pintu tempat saat ini aku berdiri aku melihat pria itu menatapku kaget dan senang, tapi setelah itu tatapan lemahnya membuatku bergulat lagi dengan hatiku.

Malaikat – malaikat itu mendekat, menyapaku sopan. Kemudian memelukku, isak mereka menyayat seluruh persendian tubuhku. Bahu mereka bergetar, membuat air mataku jatuh setetes demi setetes. Aku menangis, untuk yang pertama kalinya setelah 15 tahun berlalu.

Aku kembali ke tanah kelahiranku, setelah kakak laki – laki pria itu menelepon kemarin pagi, Istrinya memintamu pulang, begitu pesannya. Aku tidak tahu apa tujuan wanita baik hati itu memintaku pulang. Aku memang sudah tahu perihal penyakit kanker rahim yang menyiksanya 3 tahun belakangan. Tapi aku tidak pernah menyangka bahwa pesan itu adalah permintaan terakhirnya. Dan syukurlah, aku tidak menuruti egoku untuk tidak memenuhi permintaannya.

“Terimakasih sudah datang, dia sangat senang ketika kau bilang kau akan pulang,” lirih ayah muda itu. Aku tersenyum kesusahan, Kibum yang dulu hilang, wajah cerianya, tatapan memerintah, gurat ketegasannya seperti dibawa pergi serentak dengan perginya istrinya.

“Tidak perlu berterimakasih,” ujarku tidak tahu harus bicara apa.

“Dia menitipkan ini padaku, untukmu,” amplop berwarna peach itu kuterima dengan rasa penasaran dan dia hanya memberiku tatapan tidak tahunya.

“Key, Rhenata, apa kalian akan ikut ke persemayamannya?” Jonghyun, kakak laki- laki Kibum menatap kami sedih. Aku dan Kibum mengangguk.

Terpukul, tidak rela, lemah, dia Kibum yang sekarang kulihat. Tuhan, apakah segini saja kebahagiaan yang kau berikan untuk malaikat pelindungku? Ataukah ada kebahagiaan lain di hidupnya setelah ini? Apakah itu… dengan hidup bersamaku?

Oh Tuhan ampuni aku. Ampuni aku yang telah berpikiran egois dan bejat. Maafkan aku yang masih sempat memikirkan kebahagiaanku di saat orang yang aku cintai tengah berduka karena kehilangan sebagian jiwanya.

Air mataku menetes lagi, kali ini karena penyesalanku atas pengharapanku yang keterlaluan. Kalau saja mungkin, Tuhan pasti sudah memperlihatkan murkanya padaku saat ini.

Aku menggenggam tangan 2 malaikat kecil itu. Tangisnya mampu menghancurkan keangkuhan hati siapa saja. Kau kehilangan ibumu, bagaimana mungkin kau tidak sedih?

Aku berhenti dan berjongkok di depan mereka, lalu mengusap air mata kedua bocah itu,“Sayang, hapus air matamu. Eomma sudah tidak akan merasakan sakit lagi di sana, hapus air matamu untuk eomma, ya?” mohonku, air mataku tidak sejalan dengan ucapanku.

“Tapi eomma janji tidak akan pergi, Rhena noona,” si bungsu berujar menuntut. Ibunya bilang dia tidak suka ada yang ingkar janji dengannya.

“Eomma benar. Dia tidak pergi kemana – mana, dia disini,” tunjukku di tempat jantung mereka berada,”Dulu, waktu orang tuaku meninggal, aku juga menangis. Tapi ayah kalian bilang hanya jasadnya yang pergi tapi jiwa mereka ada disini, menjagaku dimanapun dan kapanpun,” isak mereka berhenti untuk memperhatikan penjelasanku.

“Bagaimana aku bisa merasakannya eonnie?” gadis manis itu bertanya, menghapus air mata yang menggantung di dagunya.

“Tersenyumlah ketika mengingatnya, itu caraku untuk bisa merasakan kehadiran mereka,” saranku yang menimbulkan tatapan penasaran mereka.

“Ayo beri penghormatan terakhir untuk ibu kalian,” aku berdiri dan menarik lembut tangan mereka ke arah mobil.

***

Aku mengangkat telapak kaki dengan susah payah, masih mengingat peristiwa duka yang berhasil menarikku kembali ke masa lalu. Masa dimana kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan, tepat saat usiaku 15 tahun. Dan Kibum yang saat itu tujuh belas tahun, menjadi sandaran yang menenangkan.

“Belum tidur tuan Kim?” tanyaku seharusnya tidak perlu. Aku harusnya mengerti bagaimana hancurnya dia saat ini, bagaimana bisa tidur? Bodoh. Dan dia hanya menjawab dengan senyum tipisnya.

“Aku mungkin bisa bilang pada malaikat kecil kalian, bahwa istrimu masih ada di hati mereka, seperti yang kau bilang padaku,” aku tersenyum berusaha mencairkan suasana.

“Tapi padamu… aku tidak tahu,” ujarku. Dia menoleh kemudian menatap lurus lagi hal di hadapannya. Gelap malam yang dibiarkan Kibum masuk ke dalam ruang tengah lantai atas membuat semuanya makin terkenang memilukan.

“Seperti yang kau bilang 15 tahun lalu, aku mencintainya. Dan kehilangannya… aku tidak pernah merasa seterpukul dan sesakit ini, Rhe,” dia bicara hampir sepotong – potong, hingga semua rasa sakit itu bisa tersampaikan dengan penuh padaku. Sekaligus menegaskan sama sekali tidak ada kesempatan untukku di hatinya.

“Aku mengerti karena aku melihatnya dengan jelas dari matamu. Cinta, kau mencintainya melebihi kau mencintai dirimu. Aku tahu dan aku melihat itu. Tapi kau tahu? Tidak ada cinta yang abadi Kibum, kecuali jika Tuhan mempersatukanmu lagi di kehidupan mendatang. Berharap dan berdoalah. Dan… bertahanlah untuk anak – anakmu, mereka membutuhkan ayah mereka, dua kali lebih butuh dari sebelumnya. Kalau kau lemah, siapa lagi tempat bersandar mereka?” Aku mendekat, menggenggam tangan Kibum kemudian menepuk bahunya lalu turun ke bawah. Tidak ada, tidak akan ada tempat dan kesempatan untukku. Aku dan dia hanya sebatas sahabat, saudara, hanya itu. Tidak lebih. Tidak akan pernah lebih.

***

Aku sudah memesan tiket keberangkatanku untuk tiga hari lagi. Meskipun kedua anak Kibum merengek padaku untuk tinggal di sini saja. Kadang aku berharap bahwa mereka membutuhkan aku sebagai sosok pengganti ibu mereka, tapi aku sadar mereka membutuhkanku hanya sebagai seorang kakak, seorang penguat bagi rapuhnya hati kecil mereka saa ini.

“Kau yakin ingin pulang secepat itu, Rhenata?” Jonghyun mengejutkanku, dia sudah duduk di bangku teras di belakang tempatku berdiri.

“Apalagi yang menahanku di sini, Oppa?” tanyaku tersenyum.

“Keponakanku,” dia tidak membalas senyumku, seakan tahu itu hanya senyum ketabahan palsu.

“Dan ayahnya membuatku harus pergi,”

“Masihkah?” tanyanya prihatin.

“Kau tahu aku. Sulit. Meskipun sudah 15 tahun,” ujarku menggeleng.

“Apakah itu pengorbananmu?” Dulu aku pernah bicara tentang sebuah pengorbanan yang membuatmu bisa dan boleh egois terhadap sesuatu.

“Mungkin, membiarkan hati luka, menderita, untuk mengalah dan membiarkan Kibum bersamanya,”

“Dan kau sama sekali belum mendapatkan hal yang patut membuatmu egois?”

“Entahlah, aku terlalu buta, terlalu terfokus hanya padanya. Hingga untuk menyadari kehadiran pria lain saja aku sulit,”

“Mungkin sudah, aku tidak percaya orang sepertimu bisa setangguh itu menyimpan perasaan untuknya,”

Aku tersenyum,”Ya, namanya Taemin, setahun lebih muda dariku. Kaya, ramah, aku menyukai sikapnya. Kuharap dia bisa menyimpan perasaanku untuk Kibum di sudut paling gelap hatiku, suatu saat nanti,” Jonghyun tersenyum tidak begitu tertarik pada bahasan yang satu itu.

“Tapi bagaimana jika pada akhirnya anak – anak memintamu untuk menjadi ibu mereka?”

“Aku sempat memikirkannya, tapi Kibum terlanjur mencintai istrinya. Tidak ada tempat untukku. Oppa mau aku hanya jadi sahabat dengannya sementara kami sudah menjadi suami istri? Tidak oppa, aku tidak akan pernah bisa memenuhi permintaan itu,”

“Jadi kau berharap Kibum mencintaimu? Cinta seperti yang dia punya untuk istrinya?” aku hanya menatap datar sebagai respon.

“Kau masih saja egois seperti dulu,”

“Aku bukan egois aku hanya realistis,” Jonghyun menghela nafas berat.

“Tapi jika itu permintaan datang dari istrinya sendiri, apa kau akan menolak?” Aku terdiam, memang ada kemungkinan, tapi bukankah sudah kubilang, Kibum tidak akan pernah bisa membagi tempat permasuri di hatinya pada siapapun?

“NOONA, SAMCHEON, APPA PINGSAN! TOLONG KAMI!” Jonghyun menatapku, dan kami segera berlari ke arah kamar Kibum dan menemukannya tergelatak di lantai.

***

Kibum demam, suhu tubuhnya naik, dia mengigau nama istrinya. Aku duduk di sampingnya dan begitu juga malaikat kecilnya.

Mereka meyakinkan diri mereka bahwa appa tidak akan sakit dan pergi seperti eomma. Aku mengangguk, saat mereka bertanya bahwa ayah mereka hanya demam biasa.

“Apa kalian sudah mandi?” tanyaku kemudian. Dan serentak mereka menggeleng belum. Aku tertawa dan bilang pada mereka kamar ayahnya jadi bau, dengan nada bercanda. Dan mereka segera pergi mandi setelah aku menyuruhnya.

Kini tinggal aku dan dia. Dari tadi aku ingin menangis. Tapi aku menahannya. Air mataku terpancing keluar saat nama itu ada dalam igauannya.

Setelah dua jam, dia bangun. Mengerang pelan karena rasa sakit yang menekan kepalanya, terlihat saat tangannya langsung memegangi kepalanya.

“Minumlah,” sodorku padanya sambil membantu menyandarkan tubuhnya.

“Terimakasih,” ujarnya pelan kemudian tatapan matanya berubah sendu, ingin bicara tapi tenggorokkannya sudah tercekat lebih dulu, ingin menangis tapi terlanjur lelah.

“Sulit Rhena, sulit sekali untuk menjadi kuat. Rasanya aku ingin ikut mati saja, menyusulnya. Seluruh tubuhku rasanya mati, dia  membawanya Rhe. Dia menggiringku ke dalam kenelangsaan paling dalam. Bagaimana mungkin dia pergi secepat ini? Apa aku sudah membuatnya terluka? Apa dia tidak bahagia bersamaku? Apa aku melakukan kesalahan sehingga Tuhan membawanya pergi?” dia bertanya lirih tanpa air mata. Dia seperti kehilangan kesadarannya. Menatap lurus ke jendela yang tepat berada di depan tempat tidurnya.

“Aku pikir hidup bahagia bersamanya itu  adalah kebahagian hingga akhir hayatku, tapi tega sekali Tuhan mengambilnya. Aku berharap bisa melihat anak kami menikah dan menimang cucu. Hidup berdua hingga masa tua kami datang. Tapi penyakit itu datang menyiksanya. Menggerogoti tubuhnya dan aku suaminya sama sekali tidak bisa mengurang rasa sakit yang sering membuatnya jatuh. Tidak pernah aku melihat dia selemah itu dan aku merasa menjadi suami yang tidak berguna. Hingga akhirnya dia pergi, membawa rasa sakit itu pada Tuhan,” air mata bening itu jatuh, setetes. Lalu dia menghapusnya.

Aku hanya diam mendengar semua rasa sakit yang aku rasakan lewat ucapannya. Semakin dia bicara, aku semakin merasa didorong mundur dari kompetisi yang aku buat sendiri untuk memenangkan hatinya. Aku tidak menangis walaupun untuk sekedar memperlihatkan bahwa aku ikut sedih atas duka yang menimpanya. Aku sedang meredam rasa sakitku, aku benci melihat Kibum serapuh ini. Mencintai wanita itu dan merasa sakit seakan dia juga rasanya mau ikut mati menyusul wanita baik hati itu.

“Ambil nyawaku Rhe, aku benar – benar tidak bisa bertahan tanpa dia, aku gamang dan aku takut,” akhirnya kalimat rapuh itu keluar. Malaikat pelindungku ingin aku membunuhnya, agar dia bisa menyusul wanita yang ia cintai.

“Kau ingin mati? Lalu bagaimana denganku? Apa kau pernah membayangkan rasa sakit kehilanganmu 15 tahun yang lalu? Pernah membayangkan betapa gamangnya harus menjalani hidup sendiri? Meredam semua rasa cinta yang tumbuh untuk seseorang yang bahkan sampai akhir hayatmu tidak akan pernah menjadi milikmu? Dia bahagia bersama orang yang dia cintai, dan kau hanya bisa menjadi penonton. Kau pikir bagaimana rasanya? apakah sebanding dengan rasa sakit yang kau rasakan saat ini?” dia menatapku sedikit terkejut. Tidak menyangka aku akan menumpahkan seluruh rasa lemahku di depannya.

“Kau tahu? Bahkan rasa sakit itu bertambah sekarang. Aku melihatnya menangis, rapuh, lemah seakan pergi seluruhnya jiwa saat orang yang dicintai dipanggil Tuhan. Kau pernah merasakan rasa sakit yang bertambah – tambah seperti itu? Dia bahagia, mungkin kau bisa tenang dan menata hidupmu kembali. Tapi ketika dia terluka dan kau tidak bisa berbuat apa – apa untuknya, apa kau masih bisa tenang? Dan itulah yang aku rasakan, untukmu, saat ini,” aku berujar menatapnya lurus ke kornea matanya. Aku ingin dia mengerti bahwa seharusnya dia tidak begini. Dia Kibumku, malaikat pelindungku yang seharusnya kuat dan mampu bertahan meskipun hatinya tengah berduka.

“Kalau kau ingin mati selesaikan dulu tugasmu sebagai seorang ayah sekaligus ibu dari anak – anakmu. Dan panggil aku jika kau sudah menyelesaikannya, akan aku carikan pembunuh untukmu,” ujarku tegas. Sekarang aku menjadi Kibum, dan dia menjadi aku seperti 18 tahun lalu.

“Noona, kami sudah wangi, bolehkan kami masuk?” malaikat tampan Kibum muncul di depan pintu. Aku mengangguk dan mereka langsung naik ke atas tempat tidur ayah mereka.

“Appa baik – baik saja kan?”

“Appa tidak akan meninggalkan kami kan?”

“Appa jangan sakit, aku takut appa,” gadis kecil itu, menatap kalem ayahnya. Memperhatikan lamat – lamat wajah sendu ayahnya. Kemudian menangis tanpa suara. Dia anak perempuan terlahir sebagai sulung, kehilangan adalah suatu hal yang paling dibencinya dan jika itu terjadi untuk kedua kalinya, dia tidak tahu harus bersandar kemana.

“Sini Princess, peluk appa nak,” dia mendekat dan akhirnya tergugu di dekapan ayahnya.

“Jadi kau masih ingin aku memenuhi permintaanmu itu?” tanyaku sinis.

“Terimakasih,” ujarnya tersenyum tulus. Perlahan Kibumku kembali. Senyum menawan itu masih menarik hatiku, meski gurat wajahnya sudah menunujukkan usia 41 tahun.

“Sepertinya aku akan jadi lalat saja di sini. Aku akan buatkan sarapan untuk kalian,” Aku menutup pintu kamar Kibum dengan rasa lega yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku merasa tindakanku kali ini adalah benar. Mencintai tanpa harus bersatu. Itu takdirku untuknya. Biarlah.

***

Aku menatap mereka sebelum keberangkatanku ke Jerman, melanjutkan hidup dan pekerjaanku di sana. Bisa ditebak bagaimana tatapan dua malaikat kecil di hadapanku kini. Mereka menangis lagi. Oh Tuhan, kalau bisa aku akan membawa mereka, aku mencintai mereka seperti anakku sendiri. Jonghyun dan istrinya, menatapku kesal. Kibum, dia tersenyum, kesal sesekali, khawatir seperti ayah akan melepas anaknya.

“Noona kerjanya di sini saja,” mohon si tampan. Aku berlagak marah, sambil menyembunyikan air mata perpisahan.

“Aku tidak suka laki – laki cengeng, berhenti menangis jelek!” hinaku membuat dia marah.

“Kenapa noona malah menghinaku, noona tidak lihat aku ini tampan? Banyak teman perempuanku yang naksir aku!” dia kesal, lalu menghapus air matanya kasar. Aku terbahak begitu juga bibi, paman, dan ayahnya. Kakaknya juga iku tertawa dan menghapus air matanya sendiri.

“Iya tampan, noona tahu itu, makanya jangan menangis. Noona janji akan mengunjungi kalian, kalau bisa sesekali berkunjunglah kesana. Disana banyak game – game keren,” aku memeluk mereka sekaligus.

“Jadi segini saja waktu kepulanganmu? Kau benar – benar sibuk di sana Rhe?” sinisme istri Jonghyun padaku kemudian dia merenggut. Aku mengangguk dalam pelukkan perpisahan kami.

“Direktur muda seperti dia memang sibuk dan susah untuk pulang. Jangan terlalu banyak berharap kalau dia akan menepati janjinya,” Jonghyun mengedikkan alisnya ke arahku dan menatap bocah tampan itu. Bocah itu melotot padaku, aku hanya tertawa membalas.

“Jangan terlalu lelah dan lekaslah menikah, kapan lagi?” Jonghyun akhirnya berujar dewasa. Lagi – lagi aku mengangguk.

“Kau janji akan kesini lagi, anak nakal?” tanya Kibum saat aku berdiri ingin memberikan pelukan perpisahan padanya. Panggilan itu, belum berubah rupanya. Sama seperti hatinya.

“Untuk memenuhi permintaanmu yang kemarin?” aku tertawa dan dia tersenyum,”Tentu, ekspansi dagang akan membuatku sering kesini, jadi tenang saja,” ujarku meyakinkan.

“Yakinlah, dia disini. Percaya atau tidak, aku selalu merasakan kehadiran orang tuaku saat aku mengingat mereka dalam keadaan bahagia. Kurasa itu berlaku sama untuk kalian. Jadi jangan menangis,” Aku memeluknya lama, sudah lama sekali tidak pernah seperti ini. Pelukkan yang selalu membuatku merasa tenang.

“Sampai jumpa, jaga kesehatan kalian,” aku berjalan mundur beberapa langkah. Memasuki kabin pesawat dengan senyum tipis yang mengandung rasa lega dan sedih karena harus berpisah.

Setelah mendapat tempat aku membuka amplop berwarna peach yang dititipkan untukku dari wanita berhati baik itu. Ditulis 3 hari sebelum Tuhan memanggilnya.

Hai Rhenata? Bagaimana pekerjaanmu? Sibuk sekali? Kuharap kau masih dalam keadaan sehat dan makan dengan benar. Aku terdengar seperti kakakmu ya?

Mungkin aneh bagimu aku menulis surat ini. Aku tidak mau kau melihatku dalam keadaan lemah begini. Rasa sakit yang menderaku benar – benar membuatku selalu merasa akan mati. Dan kuharap kau tidak akan pernah mendapatkan merasakan sakit yang aku alami apalagi lebih dari ini. Kuharap Tuhan selalu memberkatimu.

Sekarang aku merasa bahwa waktuku hampir habis. Dan aku menulis surat ini juga ingin meminta padamu satu hal. Ini mengenai Kibum dan kedua malaikat kami yang menyayangimu. Aku ingin kau merawat mereka sepeninggalku. Jika nanti Tuhan memanggilku, tolong jaga mereka untukku. Sungguh, aku takut mereka sedih karena kepergianku, kuatkan mereka Rhenata. Aku mohon penuhi permintaanku, dan aku tahu kau mencintai Kibum. Kau tidak maukan dia terluka? Maka dari itu tolong jaga dia untukku. Jadilah istri dan ibu bagi suami dan anak – anakku.

Dan maafkan aku yang telah mengambil Kibum yang kau cintai dan sekarang memintamu untuk menjaganya. Aku tidak tahu harus meminta pada siapa lagi selain dirimu. Terimakasih sudah menjadi saudara perempuan yang baik untukku, dan aku tahu kau menyayangi anak kami, terimakasih untuk itu semua.

Kuharap kau bisa memenuhi permintaanku.

 

Aku menutup surat itu. Setetes, hanya setetes. Itu bentuk kesedihan yang timbul dari rasa kecewa dan menyesalku terhadap diri sendiri. Maafkan aku eonnie, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu. Kibum sudah ditakdirkan hanya bisa bersanding denganmu. Bukan dan tidak akan pernah bisa denganku. Tapi aku janji aku akan menjaga dan mengawasi mereka untukmu dimanapun aku berada hingga akhir hayatku nanti.

Aku menatap keluar jendela pesawat yang sudah take off beberapa menit lalu. Kuharap wanita baik hati itu mengerti keputusanku.

Tuhan, jika kau masih mendengarku aku mohon kabulkan doaku ini. Meskipun aku pernah meminta sesuatu yang tidak seharusnya padamu. Aku mohon berikanlah kebahagiaan untuk malaikatku, lindungi dia, kasihi dia sebagai balasan karena dia telah menjagaku saat orang tuaku Kau panggil. Tuhan, terimakasih telah memberiku rasa lega ini, terimakasih sudah membuatku mengerti arti sebenarnya dalam melepaskan orang yang kucintai, terimakasih sudah membuatku merasakan artinya berkorban untuk mereka. Juga terimakasih telah memperlihatkan apa itu cinta sejati. Terimakasih.

28 Desember 2012


Annyeong readers. Apakah sudah dibaca story sebelum ff ini?  Saya harap sih sudah *eh, supaya lebih ngeh aja sih. Kalau feelnya nggak dapet saya harap masukkannya, karena saya juga merasa seperti itu. Tapi kalau dapet, syukurlah kalau begitu.

Terimakasih sudah membaca. Kritik dan saran akan sangat membantu.

..:megiannisa:..

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

49 thoughts on “Takdirku Untuknya”

  1. huwaaaah…hurt bangeeet :”)
    aku sih belum baca before story-nya..tpi ttp feelnya di aku dapet kook 😀 dan kerasa seseknya ggra aku smbil denger lagu yg bernada sedih .___.”

    aah, ceritanya simpel, tapi kata2nya bagus, dalem, menghanyutkan menurutku… hohoo..

    keep writing ya eonni! 😀

  2. wohooo ini yg sequelnya itu…
    asyiiik…

    oh… ini ada bbrp kalimat yg rancu. aku koreksi dkit ya ^^

    gurat ketegasannya seperti dibawa pergi serentak dengan perginya istrinya.
    mgkn lbh pas klo gini:
    gurat ketegasannya seperti dibawa pergi serentak dengan kepergian istrinya.

    lemah seakan pergi seluruhnya jiwa saat orang yang dicintai dipanggil Tuhan. >>> ‘pergi seluruhnya jiwa’ bisa dignti dgn ‘seluruh jiwanya pergi’

    Dan kuharap kau tidak akan pernah mendapatkan merasakan sakit yang aku alami apalagi lebih dari ini. >>> ‘mendapatkan merasakan’ bisa gunakan salah satunya aja ^^ soalnya klo ‘merasakan’ mknanya awalan me- dan akhiran -kan udh ‘mendapatkan rasa’ hehe

    “… akan aku carikan pembunuh untukmu,” o.o itu jleb banget

    iih bener usianya udh 41thn.. masa ya td aku sempet ngitungin umur key di ff ini.. wakakaka

    eh gak bersatu ya .—.
    aku kira bersatu.. abis liat judulnya itu sih… hehehe

    feelnya dpt. aduuuh aku smpe nangis. bener loh. aku nangis D:

    keep writing megi. ditunggu karya lainnya.

    1. Aigooo betapa cerobohnya saya.
      Thankyou for correcting
      Jangan serius banget ngitungin umur Key-nya, bakal ada kesalahan lain yang bakal ditemukan.
      Serius nangis? Sebenernya aku juga mau nangis, tapi tiap inget muka Key, ketawa mulu bawaannya #dibunuh
      thankyou again.

    1. Thankyou~
      Iya, kalau bikin mereka sad gitu rasanya gimana gtukan, tapi di dunia asli semoga bahgia2 aja
      Sip bakal diusahain akhir squel ini bahagia (walaupun belum ada ide #digorok)

  3. Astagaaaa,,, Miapa hr ini postingan SF3SI angst semuaaa???
    Tissu mana tissu woooyy…

    Kenapa ada tag No Children sih woy?bikin dagdigdug aja mau bacanya, jujur, males baca NC.
    No feel..

    Megiiii,, dikau daebak!
    Nangis bombay nih…
    HuweeeeeeeeTT____TT
    jujur aku rada lupa cerita sblmnya apa, baru inget stlh scene Jjongie muncul.*waks*

    Bikin lagi yaaa, versi Rhe+Taemin dooong..

    1. eh sorry mungkin aku salah bikin rating, kali ya? Maaf ya 😦
      Dikau menangis kah? Mau ember apa tisu?
      Rhe+Taemin? Kalau ada feel aku usahain bikin deh.

  4. Key sadarlah!! Plak…
    Huuuuh, kesel juga sama key. Dia memang gag sensitif apa emang gag mo tau?

    Jjang, greget juga. Kirain key akan meminta rhenata untuk menjadu instrinya. Eh, diabaikan begitu saja pengakuan rhenata.

    Saya suka, akankah ada sequel lagi?

    1. Jangan digeplak dong Key-nya, disiram air es aja *eh
      Key-nya bukan mengabaikan, hanya tidak bisa menanggapi sesuai yang diharapkan.
      Sequel? Doakan saja semoga lancar idenya.
      Thanks udah comment.

  5. Yahh,, jadi mereka tidak bersatu?? Sayang sekali.
    Good story, gak bisa ditebak endingnya gimana walau dari judul berharap Rhena dan Key bisa bersatu.
    Like it!

  6. Nyesek baca FF ini. Mau nangis tapi cuma sampe di pelupuk mata doang air matanya, yang ada hidung malah jadi kayak tersumbat gitu haha-_-

    Oh Gawd, ngakak pas baca si Rhe ngatain si bungsu “jelek” xD

    Keep writing!

    1. Maafkan diriku karena telah membuat hidungmu tersumbat.
      Iya, entah ngapain juga si Rhe bilang si bungsu jelek, bapaknya aja Key.
      Ne, keep writing! gomawoyo..

  7. Kyaaaaa stlah tnggu akhirnya sequelx mncul jga cman jd mewkkk…TT^TT
    Masa kgk bsa sama2 sih? usahain dunk… alnya aq ksian bgt… lamax itu prasaan tp akhirx sprti itu trksan mnyedihkn bwat rhe kan??? Usahain dunk… ^^v untk ff ini 2 jmpol buat author^^v

  8. aku ga bisa nangis!! KENAPA INI?! ARGH! ADA YANG SALAH DENGANKUUUH!!! #ditabok #bolakbalik
    eung… baca dari sini udah kegambar cerita sebelomnya sih, meski cuma kasarannya aja huwakakakak
    Baiklah, Hellowww Rhenata yang tangguh dan kece, mau kukenalkan dengan seorang Jung Byung Hee?? #DIGETOK pisss mbak Meg ^^V
    Berkesan dan makjeleb banget. NICE XDD
    aku sukaaaa XD

    1. Boleh tuh. jam berapa? Dimana? Trus byung heenya pakai baju apa? Tapi ngomong2 byung hee itu pria kan ya? 😀

  9. Eii, ini bener-bener sedih T^T

    Speechless, nggak tau mau komen apa lagi. Aku juga sudah baca Keegoisan yang Pantas (untuk ketiga kalinya ke Megian, aku jujur lupa komen apa enggak disana). Tapi, yah, ini nyesek banget. Ada gitu ya orang yang mempertahankan perasaan sampe 15 tahun? Ckck…

    Daebak! 😀

    1. Nah itu yang masih aku bingung, ada gak sih orang yang kayak dia. Tapi dia gak nikah itu sih bukan karena Key, cuman belum nemu aja.
      thank you~

  10. hua thor ini feeling nya berasa banget. rhenatanya bener2 kuat, trus konfliknya biasa tapi dicerita ini jadi luar biasa. goodluck ya authornya :3

  11. Iya dan saya nggak tahu perempuan seperti Rhe itu bener2 ada atau nggak, kalau ada bakalan salut tapi juga miris.
    Luar biasa? Ah, malu nih. Makasih ya.

  12. Yaaaaahhh penonton kecewa,kenapa ga jadi aja sama kibum?
    Tp bagus koq bahasa ceritanya,kena bgt feel nya…

  13. whoaa.. feelnya lumayan dapet, mak jlebb nya sih kurang dikit (hehe, saya suka dgn yg makjlebb2 (?))

    tp keseluruhannya daebakk deh,, dan saya pendatang baru disini… joneun Eunsun Jung imnida ^^

  14. Annyeong ^^
    aku belum baca part sebelumnya tp feel nya udah dapet udah hampir bikin netesin air mata 😥
    ceritanya simple tapi sukses bikin nyesek DAEBAK (y)

  15. ffnya kereeennn…huhuhu
    aq jd nyari2 ff bikinan mu thor…hehehe

    btw ni ff kan critanya sedih ya tp ko mlh jd lucu ya klo sambil ngebayangin mukanya key???hihihi
    kabuuuuuurrr…

  16. 😯 woah daebak! rhenata ini asli wonder woman banget, dia bisa nyimpen perasaan selama 15 tahun? hebat!
    tapi semuanya kekeuh sama perasaan masing-masing ya? kupikir rhe dan kibum itu bakal brsm trnyata gak 🙄
    at last nice ff author! feelnya tersampaikan dgn baik :mrgreen:

  17. Ceritanya sedih banget ;-(…Rhena punya cinta yg tulus buat Kibum…dia jg rela Kibum Bahagia walaupun dengan orang lain

  18. waaaaaaaaa…………………..
    keren bgt !!
    nama tokoh ceweknya sama kyk nama ku hahahahaha…
    tapi moga2 aja cerita cinta kita beda ya amin
    hahahahhaha…..
    ini kali ya yg nama nya cinta tak harus memiliki
    ckckckck….
    nyesek juga ya
    oke
    semangat ya author ^^
    oya aku reader baru di sini ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s