Beautiful Stranger [Chapter Two]

Beautiful Stranger

WANGI rambut Onew menyeruak ke dalam hidung. Seperti aroma jeruk atau peppermint, segar dan membuatku tenang. Pipinya bertemu dengan pipiku. Ia masih memelukku erat meski Jonghyun telah melayangkan somasi terhadapnya. Dan meskipun aku sadar sepenuhnya bahwa pelukan ini bukan untukku, tetapi sedikit banyak aku menikmatinya.

Oppa, pacarmu?” Suara lembut perempuan memecah keheningan.

Onew mengangkat kepalanya, mengarahkan tatapannya ke sumber suara. “Jira-ya?!” katanya setengah berteriak dan spontan melepaskan pelukannya dariku dengan kasar. Aku tersungkur, membuat beberapa kursi menyingkir dari tempatnya.

Gadis itu berlari menghampiriku, membantuku untuk bangun.

“Kau tak apa-ap―” Pandangan kami bertemu dan ia memekik, “KAU!”

Mataku membulat. Dia adalah gadis yang menumpang di mejaku saat di bandara kemarin.  Jadi benar pria jangkung bersyal tebal itu adalah Choi Minho!

Gwaenchanayo.” Aku berdiri dan beberapa dari EXO-K membantuku untuk duduk di antara mereka. Onew tidak mengatakan apapun. Tidak ada kata ‘maaf’ atau lainnya. Ia bertingkah seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya dan malah sibuk mengobrol dengan gadis itu di meja seberang.

Beberapa saat kemudian setelah perayaan memotong kue, meniup terompet, dan meledakkan konfeti selesai, aku terlibat pembicaraan dengan Suho dan Jonghyun.

“Jadi siapa Kim Jira itu?” tanyaku penasaran.

Jonghyun menenggak habis minumannya. “Teman lama. Kami saling mengenal sejak tahun pertama trainee. Tapi dia menyerah dan pergi menyusul kedua orang tuanya ke Amerika. Pertengahan 2010 kemarin ia kembali dan pergi lagi di awal 2011. Kudengar ia akan terus tinggal di sini.”

“Kenapa?”

Jonghyun memutar bola matanya. “Apa lagi, oksigennya kan ada di sini.” Ia melirik Minho yang kebetulan melewati meja kami. “Noona, saat melihatmu di event tadi, kukira kau pacar baru anak ini.”

Suho tersedak. “Aku?”

“Nah,” desah Key. Ia bergabung dengan kami, menenteng segelas orange juice di tangannya. “Tapi bukankah Junmyeonnie masih belum bisa melupakan Seohyun?”

Suasana ricuh, semua orang menggoda Suho.

Ya, Kibum-ah!” Wajah Suho memerah dan ada ekspresi sedih di sana. “Itu masa lalu. Masa lalu!”

Aku tersenyum getir.

Berada di balik panggung para artis pada kenyataannya lebih melelahkan ketimbang menjadi penggemar yang seharian menguntit mereka. Sulit untuk tidak melibatkan perasaan dalam profesionalisme kerja. Ini hari pertama aku bekerja dan sudah mengetahui beberapa rahasia kehidupan pribadi mereka. Meski aku baru mengenal Suho beberapa jam yang lalu ataupun mengetahui Minho yang jelas-jelas bukan favoritku di SHINee memiliki pacar, tak dapat dipungkiri hatiku sedih. Rahasia apa lagi yang akan aku temukan di hari kedua, ketiga, atau sebulan aku berkerja?

Kai memanggilku.

Noona, jaket ini terlalu ketat. Tolong bantu aku lepaskan.”

Aku melepaskan beberapa pin yang tertusuk di jaketnya, kemudian membantu melepaskan jaket sekuat tenaga. Sedikit sulit karena otot lengannya yang agak besar.

Kedua kalinya aku menarik jaket, berhasil terlepas. Tapi aku terdorong ke belakang dan menabrak seseorang. Aroma kuat kopi tercium.

“Panas!” teriaknya. Aku buru-buru bangun dan mendapati Onew terduduk di lantai, kostumnya kotor. Orang-orang membantunya berdiri. Ia menatapku berang, “Lihat apa yang kau lakukan, bodoh!” bentaknya kasar dan pergi ke belakang.

Aku terduduk lemas di kursi sambil memeluk jaket Kai. Mereka semua, terutama SHINee, berusaha menghiburku.

“Maaf, Noona, Onew-hyung memang seperti itu kalau kaget. Dia tidak bermaksud berkata kasar,” hibur Jonghyun.

Tapi… tatapan matanya seperti ingin membunuhku. Deru napasnya juga tidak teratur, seperti amarah yang telah lama dipendam dan baru kali ini diluapkan. Ini bukan Onew yang sering kulihat di media.

Dia kembali dengan blazer terlipat di lengannya. “Ini milik sponsor. Kembalikan seperti semula!” ujarnya sambil melempar blazer itu ke wajahku.

Hyung!” protes SHINee, sedangkan EXO-K hanya diam menonton.

“Akan aku bersihkan,” sahutku.

“Memang itu yang harus kau lakukan!” tandasnya ketus.

Minho memeluk bahu Onew dan membawanya keluar café. “Hyung, sudahlah. Jangan dibesar-besarkan!”

SHINee pergi, masih dengan atmosfer canggung menyelimuti ruangan. Aku meminta maaf pada coordi mereka dan menawarkan diri untuk membersihkan blazer.

Jira menghampiriku.

“Maaf, besok aku akan pasangkan penyaring di antara jaringan otak dan mulutnya.”

“Ini salahku. Maaf mengacaukan semuanya.”

“Tidak, tidak ada yang kacau.”

“Aku mau pulang.”

Aku bangkit dari kursi dan mengambil tas.

“Kami juga kalau begitu,” sahut Suho, “Jira, terima kasih sudah mengundang kami. Sampai jumpa.”

“Ya, sering mampir ke sini!”

“Oke.”

Aku melambai pada Jira dan masuk ke dalam mobil. Di perjalanan kami semua diam. Anak-anak memilih tidur daripada terjebak canggung denganku. Blazer Onew masih kudekap. Bau peppermint dan kopi bercampur, mengingatkanku pada momen ia memelukku.

***

Kejadian kemarin masih berbekas di ingatan. Perkataan kasar Onew takkan mudah terhapus begitu saja. Aku masih belum percaya ia bisa mengatakan hal semacam itu. Tapi aku takkan terpengaruh pada ucapannya. Mencoba berpikir positif bukan hal yang buruk.

Tiga hari menuju konser SM Town Seoul benar-benar membuatku stres. Rasanya para coordi terpenjara di dalam sini―ruangan besar berisikan kostum-kostum artis SM. Perusahaan menuntut adanya perbedaan dibandingkan dengan konser yang sudah-sudah di beberapa negara sebelumnya. Dan tidak ada pengecualian bagi orang baru sepertiku, sejak subuh sibuk mencaritahu kostum apa saja yang anak-anak kenakan di konser-konser sebelumnya.

“Jangan pakaikan pink pada Kris!” larang Juyoung, coordi senior.

Inilah yang membuat kepalaku hampir pecah. Sejak pukul lima pagi kami di sini dan perkara warna apa yang akan dikenakan pada anak-anak masih belum terpecahkan.

“Memangnya kenapa? Pria menggunakan warna pink saat ini sedang menjadi tren,” kataku.

“Berikan warna kuning untuk Kris,” perintah Juyoung.

Hyojin menggeleng menolak dan menunjuk-nunjuk sleeveless kuning. “Warna rambut Chanyeol sangat cocok dengan baju ini. Juyoung-eonni, biarkan Chanyeol menggunakan sleeveless kuning.”

Juyoung mendesah frustrasi. “Sejak kemarin sulit bertemu staff EXO-M, jadi belum bisa diskusi dengan coordi mereka. Kita tak bisa menghancurkan image Kris dengan warna pink. Jadi berikan pink pada Chanyeol!”

Hyojin terdiam, ia nampak setuju.

“Siapa Kris? Aku lebih setuju Chanyeol dengan warna kuning,” ujarku.

Juyoung memutar bola matanya. “Yah, sudah dua hari kau di sini. Jangan katakan kau tidak tahu anggota EXO-M!” teriaknya.

Memang tidak.

“A-aku tahu.”

Beberapa menit berlalu dalam keheningan, kecuali bunyi guratan pena dan ketikan pada keyboard.

Aku bingung kenapa mereka begitu memikirkan image Kris. Aku memang belum melihat wajah EXO-M. Dan meski baru kenal sehari, aku berani mempertaruhkan apapun demi Chanyeol. Anak baik itu bahkan meneleponku semalam karena khawatir aku terluka dengan ucapan Onew. Bagaimana bisa dua coordi yang lebih lama bekerja di sini mengesampingkan si Happy Virus!

“Sena-ya, apa ini?” tanya Juyoung. Ia mengangkat paper bag putih.

“Oh, itu… Eonni, kapan SHINee biasanya kemari?”

“Kudengar hari ini mereka akan ke Jepang. Tapi tadi kulihat ada di ruang latihan. Ada apa?”

Aku menyambar tasnya. “Aku izin keluar sebentar.”

Seperti tahanan yang baru bebas, aku sangat bahagia meningalkan ruangan itu. Pada kenyataannya menjadi coordi lebih memiliki banyak tekanan dibanding seorang desainer. Oke hentikan mengeluh, aku benci mengeluh.

Semalam aku mencuci blazer Onew, karena noda akan sulit dihilangkan jika didiamkan lebih lama. Jadi kukorbankan waktu tidur dengan mengeringkan blazer menggunakan hairdryer.

Pintu practice room sedikit terbuka, Onew tidak ada di dalam.

“Oh, Noona!” Jonghyun menyadari kehadiranku, ia membuka pintu lebar-lebar.

“Aku mencari―”

Minho melirik tas yang kubawa. “Onew-hyung di atap. Susul saja!” potongnya.

Setelah mengucapkan terima kasih, aku buru-buru ke atap, sengaja melewati beberapa anak tangga agar lebih cepat sampai. Tangan pun tidak sempat berpegangan pada birai tangga. Pikiranku saat ini hanya pada Onew, idolaku, pria idealku, kami hanya berjarak beberapa anak tangga bukan lagi samudera.

Dia tengah berbaring di atas bangku panjang ketika aku sampai. Kedua tangannya terlipat menopang kepala, kakinya juga saling menumpuk. Ketika berjalan mendekat, aku bisa melihat keringat meluncur di pelipisnya, bajunya juga basah.

“Onew-ssi,” panggilku. Dia tak bergeming. Aku memanggilnya lagi hingga ia membuka matanya dan menatapku. “Aku mau mengembalikan ini.”

“…”

Aku sedikit takut menatap matanya yang tajam. “Maaf semalam membuatmu sulit.”

“Berikan saja pada staff-ku, kenapa kau mencariku?”

Ne?”

“Apa motifmu menabrakku semalam?” Ia menaikkan nada bicaranya dan berdiri menghadapku, rahangnya mengeras. “Kau sengaja menabrak untuk menarik perhatianku ‘kan? Maaf, aku tidak berminat pada sasaeng.”

Jantungku berdebar keras.

“Apa yang kau bicarakan?” tanyaku lambat-lambat, rahangku juga mengeras. Kesal.

Dia mendengus. “Jangan menunjukkan wajah polos hanya karena di TV aku mengatakan suka pada gadis polos.”

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Terlepas dari itu semua, jadi inikah dirimu yang sebenarnya?”

“Kecewa?”

Ia menyeringai mengerikan sebelum akhirnya sengaja menabrak bahuku dan pergi. Aku jatuh, terduduk di lantai. Tubuhku bergetar menahan marah. Paper bag yang sedari tadi kucengkeram erat kulemparkan padanya. Terdengar bunyi keras saat tas itu mengenai punggungnya.

YA!!” teriaknya.

Aku berlari dan mendorongnya hingga tersungkur. “Bastard!” umpatku dan berlari menuruni tangga.

Sial! Aku sudah mengagumi orang yang salah. Tidak ada lagi idola bahkan tipe ideal. Aku takkan pernah lagi memanggilnya Onew. Dia adalah pria kasar bernama Lee Jinki. Hanya Lee Jinki… hanya dia yang bisa berbuat kasar pada seorang wanita.

Akan kumusnahkan memori-memori mengenai Onew dari otakku.

Pintu terbanting agak keras membuat Juyoung dan Hyojin memekik kaget. Aku menenggak sebotol air mineral hingga habis. Deru napasku tak terkendali dengan dada naik turun dan detak jantung berjalan lebih cepat.

“Melihat hantu?” goda Juyoung dingin.

“Lebih busuk dari hantu.” Aku mencoba bernapas dengan teratur.

Tanpa berkata-kata aku berjalan menuju meja dan diam tak bergerak di atas kursi. Beruntungnya kedua seniorku percaya aku baru melihat hantu sehingga mereka membiarkanku membeku di sudut ruangan.

Aku jadi ingat terakhir kali aku marah seperti ini. Well, tidak ada yang membuatku marah di Paris, tapi Kanada berhasil mengubahku menjadi seorang monster.

Ibu dan adik tiriku sama-sama menyebalkan, tetapi marah besar yang pernah terjadi di dalam hidupku adalah ketika mendapati pacarku berselingkuh. Ya, aku punya pacar dulu saat di Kanada. Pria tampan bernama Kevin Li, anak campuran Kanada-China atau aku biasa mengejeknya “Chinadian”. Kudengar sekarang dia mulai memasuki dunia entertainment sebagai seorang trainee. Entahlah, aku tidak lagi peduli.

Sangat beralasan mengapa aku membenci Jiyul, adik tiriku. Dia tak pernah berhenti berusaha mendapatkan apa yang kumiliki. Sosok ibu, hangatnya kasih sayang keluarga, popularitas di sekolah, pakaian bagus, sepatu cantik, bahkan pacar… ia berusaha mengambil semuanya. Sejak kami bertemu pertama kali, ia tak pernah menganggapku sebagai kakak. Ia selalu berpikir bahwa aku ini adalah rival.

Mengingat kembali bagaimana mantan pacarku berciuman dengan Jiyul di malam natal, benar-benar membuatku depresi!

“Di mana Kim Sena?” Seseorang menerobos masuk.

Lamunanku buyar dan buru-buru berjalan menghampirinya. “Ya?”

“Cepat kemasi barangmu dan ikut kami ke Jepang! Salah satu coordi kami berhalangan hadir, kami membutuhkan tenaga.”

“Apa?!” Mataku membesar. Belum sempat menstabilkan rasa syok, manajer SHINee ini sudah menarikku keluar ruangan. “Ka-kau bilang aku harus berkemas!”

“Tak ada waktu.”

Ia menyeretku seperti seorang tahanan. Di belakang, Hyojin berlari mengejar kami mengantarkan tasku. Hal ini terus berlanjut hingga kami sampai di halaman belakang perusahaan di mana para staff sedang sibuk menaikkan koper-koper ke dalam bagasi.

Jonghyun melambai padaku dengan senyum lebarnya. “Annyeong!”

Aku mencoba tenang meski wajah rasanya seperti membeku.

“Sedang apa dia di sini?” ujar suara di belakangku. Aku tak berbalik karena tahu persis siapa pemiliknya. Ucapannya terdengar biasa, tetapi maksud dari kontennya cukup membuatku kesal.

Aku berusaha tak mempedulikan dia. Buru-buru masuk ke dalam salah satu van khusus staf dan bersembunyi di sana.

Sepanjang perjalanan dari Gangnam menuju Gimpo Airport kuhabiskan dengan mendengar celotehan coordi. Ia memberitahuku tema pakaian yang akan dikenakan SHINee di Mezamashi Live nanti di Odaiba. Karisma yang dimiliki para staf benar-benar membuatku merinding. Bukan hanya sang artis yang memiliki karisma seorang senior, tetapi para staf juga. Aku merasa sangat kecil di antara mereka.

Van berhenti di pintu utama, menurunkan kami sebelum akhirnya pergi untuk parkir.

Aku menelan ludah dengan suara keras. Bukan karena gugup ini pertama kalinya ke Jepang, tapi karena gelisah. Beberapa belas menit yang lalu aku dan si ketua grup baru saja “berperang”. Ini sangat tidak nyaman.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Jonghyun. Entah sejak kapan sudah berada di sampingku. “Kau membawa paspormu kan, Noona?”

“Ya,” sahutku tenang.

Jonghyun berjalan menjauh dariku dan bergabung dengan member. Mereka tidak banyak bicara, hanya berjalan memasuki gedung. Menjaga image jauh lebih penting daripada bergosip membicarakan hal-hal tidak penting.

Sleeveless magenta strip hitam yang dikenakan Jonghyun membuatnya lebih percaya diri karena otot lengannya yang indah menjadi pusat perhatian. Ia tak berhenti menebar pesona di setiap langkahnya. Kali ini Key terlihat lebih sederhana dibanding penampilannya yang selalu terkesan nyentrik hanya dengan mengenakan t-shirt putih dan topi hitam dilengkapi kacamata. Penampilan maknae adalah favoritku! Ia mengenakan Polo shirt biru, dipadukan dengan topi dan ransel yang berwarna senada. Sedangkan Onew, ia hanya mengenakan t-shirt V-neck putih. Tidak ada yang istimewa dari penampilan mode bandaranya. Casual adalah Onew.

Gimpo penuh sesak dibanjiri penggemar. Aku dan beberapa staf mengecek koper-koper dan masuk lebih dulu. Sejauh ini aku berusaha menghindari Lee Jinki, si pria topeng menyebalkan, melihat wajahnya saja seketika emosiku membuncah.

Di dalam pesawat, ingin sekali mengambil kesempatan untuk tidur selama penerbangan, tetapi coordi di sampingku tak berhenti menggerakkan mulutnya membicarakan ini dan itu yang harus kukerjakan nanti. Daya ingatku sangat menakjubkan, jadi ia tak perlu mengulangnya berkali-kali seperti sekarang ini.

Kupaksa diriku berkonsentrasi pada ocehannya, tetapi aku tertidur hingga mendarat di Haneda.

***

Kinerjaku cukup baik sebagai pemula, coordi senior memujiku. Ia bahkan mulai mempercayakan segalanya dengan meninggalkanku bersama kelima Shining Boys di ruangan. Aku senang, tapi juga sekaligus petaka! Sangat tidak nyaman berada satu ruangan dengan Jinki.

Juyoung dan Hyojin tidak berhenti mengirimiku foto mereka. Hari ini EXO memiliki jadwal mengunjungi SM.ART Exhibition. Acara itu berakhir tanggal 19 Agustus nanti dan sepertinya aku tidak akan memiliki kesempatan untuk bisa ke sana. Namun apa yang kudapatkan saat ini jauh lebih baik. Dikelilingi SHINee adalah harapanku sejak dulu.

Taemin duduk di sampingku.

Jantungku berdegup tidak wajar. Menyembunyikan identitas diri sebagai penggemar selama berada di antara mereka itu sangat sulit. Aku berusaha bicara sewajar mungkin.

“Mau minum? Kau pasti lelah. Biar kuambilkan.”

“Tidak usah.” Taemin menarik tanganku dan tersenyum manis sekali. He’s the genuine noona killer!

Aku membantu mengelap keringat Taemin, ia asyik dengan ponselnya dan sesekali terkekeh. Sedikit sulit membersihkan wajahnya dari make-up karena ia tak bisa berhenti bergerak dan mulai tertawa keras.

“Taemin-ah!” protesku.

Dia menyeka ujung matanya yang berair. “Mianhae, Noona, aku sedang bertarung dengan Kai, dia tak berhenti menanyakanmu.”

“Oh, ya? Apa katanya?”

“Dia bilang seseorang menunggumu pulang.”

Aku mendengus. “Siapa? Kim Jongin?”

“Hahaha, bukan. Kris-hyung menunggumu. Setelah EXO-K menceritakan memiliki coordi baru yang datang dari Paris pada EXO-M, katanya Kris-hyung sedikit hilang kendali. Ia ingin bertemu denganmu.”

Aku tertegun. Siapa Kris?

“Aku tidak kenal. Melihat wajahnya saja belum pernah.”

“Mungkin dia hanya penasaran ingin melihat seperti apa desainer amatir yang menyelam ke dunia coordi. Tidak usah dibesar-besarkan!” tandas Jinki.

Dia memalingkan wajahnya saat aku menoleh. Taemin menahanku ketika aku maju hendak menerjang Jinki. Jonghyun juga buru-buru memegang lengan leadernya.

Jinki menatapku dingin.

Meskipun terdengar gila, aku merindukan Onew bukan Lee Jinki yang berada di hadapanku saat ini. Aku tahu dua nama itu berada dalam orang yang sama. Tapi Jinki benar-benar menakutkan.

Aku keluar ruangan dan membanting pintu sedikit lebih keras daripada seharusnya. Udara segar adalah hal yang sangat kubutuhkan saat ini dan beranda bukanlah ide yang buruk.

Pintu otomatis menutup rapat di belakangku. Angin dingin menyelinap ke sela-sela poni dan menerbangkannya. Tangan spontan merogoh saku belakang celana untuk mendapatkan kotak rokok dan menyalakan pemantik. Aku mendesah ketika meniup keluar asap dari sela bibir. Kepalaku dipenuhi dengan hal-hal yang tidak seharusnya kupikirkan. Perkataan Jinki benar-benar membebani pikiran. Kenapa dia sangat membenciku hanya karena sebuah insiden tumpahnya kopi?

Untung saja aku adalah orang yang selalu melihat sisi terang dari setiap hal. Ucapan menusuk dari Jinki bukan levelku.

Aku melihat sekeliling, mengulurkan tangan dan membunuh rokok di atas tempat sampah terdekat ketika mendengar seseorang berbicara di belakang.

“Jadi kau merokok?”

“Hm,” jawabku. Jinki datang dengan kedua tangan di saku celana jinsnya.

“Tapi bibirmu baik-baik saja.” Ia melirik bibirku dan sedetik kemudian memalingkan wajahnya.

Aku menaruh kotak rokok ke dalam saku dan mencoba berbicara senormal mungkin. “Aku bukan perokok berat. Hanya merokok di saat-saat tertentu.”

Jinki tidak menyahut, ia menikmati pemandangan gedung-gedung tinggi Odaiba. Namun beberapa saat kemudian di bibirnya sudah terselip sesuatu.

“Kau merokok?!” tanyaku. Terkejut.

Ia tidak langsung menjawab, hanya mengepulkan asap putih ke udara.

“Aku bukan perokok berat. Hanya merokok di saat-saat tertentu.” Jinki menyalin perkataanku.

“Menyebalkan,” desisku.

Dia menyelipkan batang rokoknya di antara telunjuk dan jari tengah, merogoh saku celana jinsnya dan mengeluarkan sesuatu. Aku tak bisa melihatnya karena ia menggenggam dan menyembunyikannya di balik punggung.

“Apa motifmu datang ke SM?” tanyanya dingin dengan nada yang kasar.

Aku diam. Pertanyaan serupa!

Ia melanjutkan, “Memang ada banyak orang di luar sana yang berusaha keras untuk masuk ke perusahaan kami demi menarik keuntungan pribadi…,” dia menaikkan sebelah alisnya dan menatap remeh padaku, “…masih belum mengerti?”

Jinki memperlihatkan apa yang disembunyikan di balik punggungnya.

“Ponselku!”

Kemudian gantungan perak bertuliskan “Onew” menjuntai ketika ia membuka jari kelingkingnya.

“Kau mengorbankan karir desainermu hanya demi mengejarku? Lucu sekali!”

Aku diam, lidahku kelu. Wajahku pasti sudah sangat bodoh saat ini.

Jinki kembali menyerangku, “Aku tidak berminat pada sasaeng. Kau dengar? Aku tidak berminat padamu! Jadi silakan ajukan surat pengunduran dirimu ketika kita sampai di Seoul nanti.”

Tubuhku langsung kaku. Napas berat membuat dadaku naik turun akibat menahan marah. Dia salah paham dan berpikir terlalu jauh. Ini sangat keterlaluan. Dia tidak berhak menuduhku seperti itu. Aku bahkan tidak pernah bercita-cita menjadi seorang coordi. Profesiku saat ini benar-benar di luar dugaan dan tidak direncanakan sama sekali.

Aku menyambar ponselku, menarik kasar gantungan hingga talinya terlepas dan melemparkannya pada Jinki.

“Aku mengagumi orang yang salah. Pikiranmu sangat pendek, kau belum dewasa. Jika kau pikir berkata kasar padaku akan membuatku menangis, kau salah besar. Mengenai insiden tumpahan kopi itu aku minta maaf, aku juga sudah menghilangkan nodanya dari pakaianmu.” Aku berusaha berbicara setenang mungkin, kemudian memasukkan ponsel ke saku celana dan berjalan menuju pintu otomatis untuk kembali ke dalam. Sebelum pintu menutup, aku berbalik tanpa memandangnya. “Takkan pernah ada surat pengunduran diri.”

Kemudian pintu menutup.

***

Kyungshik―manajer―membantuku menurunkan koper terakhir dari dalam van. Perjalanan kami ke Odaiba sudah berakhir dan kini kembali ke perusahaan untuk kembali bekerja. Aku baru saja menelepon Appa, meminta maaf karena sudah meninggalkannya selama 2×24 jam. Padahal sepanjang aku kembali kemari, tidak sampai 24 jam kami bersama. Jadi aku benar-benar merasa bersalah dan mengutuk penculikan yang dilakukan Choi Jin kemarin.

Sepertinya aku akan memiliki jam kerja yang tidak menentu, kembali ke si kuning pucat dengan pakaian yang sama. Sedikit informasi, aku tidak membawa baju ganti apapun saat ke Jepang. Benar-benar pantas disebut penculikan.

SHINee tidak kembali ke dorm, bergitupula dengan para staf. Kami semua masuk ke dalam gedung melalui pintu belakang.

Aku pergi ke ruangan kostum―tempat para coordi―dan menemukan Juyoung dengan Hyojin di sana.

“Sena-ya!” teriak Hyojin melambaikan tangannya.

Tak ada kekuatan untuk menyahut, jadi aku hanya menaikkan sebelah alis.

Hull~ Itukah cara Paris menjawab sapaan?” sindir Juyoung.

“Aku lelah. Eonni, pinjamkan aku baju!” Mau tak mau akhirnya aku bersuara.

“Nih, pakai saja punyaku!”

Ia melemparkan sebuah tas kecil dan berhasil kutangkap.

Juyoung, meski terkesan galak, sebenarnya ia adalah orang yang sangat baik dan perhatian. Hanya saja nada bicaranya yang mengerikan.

Setelah mengganti pakaian, aku mengecek pesan di ponsel. Terdapat beberapa panggilan dari Kai.

“Bagaimana SHINee?” Hyojin menghamburku.

“Apanya?”

“Jangan balik bertanya!”

Dengan malas aku berbalik menghadapnya. “Biasa saja,” jawabku dan kembali berbalik mencari Juyoung. “Bagaimana ketetapan akhir pakaian anak-anak? Chanyeol mendapatkan warna kuning ‘kan?”

“Hm. Mereka membiarkan Kris mengenakan warna pink agar ia memiliki image cocok dengan semua warna. Kris sendiri yang mendatangi kami tadi, benar-benar jantan,” tutur Juyoung dengan ekspresi aneh.

“Biasa saja bagaimana?!” Hyojin berteriak jengkel, ia melanjutkan serangannya. “SHINee sangat luar biasa!”

Aku menatapnya jengkel. Benar, aku tahu mereka sangat luar biasa… kecuali Lee Jinki! Dia sudah menghancurkan image Onew, idolaku.

Ponselku berdering.

“Aku harus menemui Kai, dia tak berhenti melemparkan bom Molotov ke ponselku. See you.”

YAH!!!”

Aku berlari menuju lantai tiga gedung utama tempat ruang latihan berada. Jongin bilang mereka berkumpul di sana, dua belas orang! Aku agak gugup bertemu EXO-M, kudengar semua anggota tertua dari EXO berada di sana. Meskipun aku tetap lebih tua dari mereka, tetap saja khawatir bertemu dengan leader. Kuharap ia sama seperti Suho yang bersikap seperti malaikat.

Pintu mengayun ke dalam setelah aku menekan gagangnya.

Kai berteriak memanggil namaku dan menarikku ke perkumpulan para lelaki di tengah ruangan. Kebanyakan dari mereka merundukkan badan memberi hormat dan aku membalasnya. EXO-M sama tampannya dengan EXO-K. Tetapi ada seseorang yang menarik perhatianku, pria sangat tinggi berambut pirang yang sedang menusukkan tatapannya ke mataku. Aku berhenti melangkah, seseorang yang sangat familier berdiri tak jauh dariku. Bahkan suasana saat ini pun terasa sangat familier. Ekspresinya sama terkejutnya sepertiku.

“Kevin…,” lirihku.

to be continued

Author’s Note:

Jinki menepuk-nepuk pelan punggungnya. Lemparan tas dari Sena sangat keras, cukup membuatnya sakit badan. Ini pertama kalinya ia diperlakukan buruk oleh seorang perempuan.

Hyung, kau sakit?” tanya Key.

Jinki menggeleng. “Kapan kita berangkat?”

“Dalam hitungan detik.”

Choi Jin datang dengan wajah frustrasi, ia menarik tangan Jinki untuk mengikutinya meninggalkan Key sendirian.

“Jihyun tidak bisa ikut, dia sakit. Kita kekurangan coordi! Hyemin tidak mungkin melakukan semuanya sendiri, dia butuh partner.”

Jinki diam, mencoba membantu mencari solusi sebagai seorang pemimpin grup.

“Pakai anak baru saja…,” ujarnya dan menyeringai mengerikan, “…aku ingin lihat bagaimana kredibilitas Kim Sena.”

(-) Kevin is the real name of EXO-M Kris, Sena’s ex-boyfriend. Tehee.

(-) Jadi… Jinki adalah orang yang merekomendasikan Sena untuk ikut ke Jepang. Wow ~ Kemajuan pesat, Jinki ~~~

©2011 SF3SI, Diya.

sf3si-signature-diya

Officially written by Diya, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

111 thoughts on “Beautiful Stranger [Chapter Two]

  1. Aww jadi sena sama kris mantan mantanan hmm
    Yaaaaaa!!! Jinki kenapa kamu ngerokok haaah?!!! Kenapa kamu galak banget??!!! Ah pingin gue cium! .___.v

  2. Setelah baca part 1 n’ 2, aq msih belum tau knapa onew sampai bner2 gak suka melihat. Well i have to read the next part but i think i can’t give oxygen in each part, sorry. . .

  3. AWWWWWW SNAAAAPPP!!!!!!! ITU KRRRRRISSSS!!!!!! KEVIN PASTI KRIS KEVIN PASTI KRIS ARGRGRGRGRGRGRGRGRGRGGRGRGRGRGGR!!!!!!!!!!!!!!
    DEMI ANTARA LENGAN DAN KETEK CHANYEOL KENAPA BISA ITU SI KRIS MENDUA?!?!?!?!?!?!?!?!?! APA SALAH KRISS??? APA SALAH SENA???? APA SALAHKUU??? *salah fokus*
    Oh yeah, bung, Onew itu baik, Lee Jinki menyebalkan. Jinki-ssi ini hari ulang tahunmu dan kenapa sekarang aku sangat ingin menendang bokongmu -_-
    Lanjuuutt~~~

  4. onew anget2 mbelek(?) ayam deh ,, ngpa coba dya rkomendasiin sena kloq tdi’a mrah2 ,, kok bsa hp sena d pgang onew

  5. Apa kris mantan pacar sena kah ???!!!!
    aigoo onew sadia bener jd cwo :p
    ehh ternyata onew yg nyuruh pke sena , ehm mulai penasaran kah ??!!
    kai pecicilan banget ya . hahaaha

  6. nah kan udah ketebak itu si yifan.heee
    sifat kai disini rada mirip Taemin di We Walk cuma ga separah Taemin :p
    dan terimakasih bikin image onew sangat menarik dicerita ini. semoga saiia tidak terpengaruh dan percaya onew tu muka dua
    hiii~ tapi biar muka dua juga tetep cinta

  7. Anak baru🙂 Aku gak pernah dapat feel kalau castnya Shinee. Tapi ini merubah semuanya. OMG, aku gak tahu bagaimana bisa bahasa yang sederhana membuatku terjatuh pada tulisanmu sist? Izin baca ffnya ya sis.

  8. Seru nihhh!! Jadi excited😀.. Heheh bahasa author mudah kebaca.. Udah tau luan kalo kris tuh mantan., keren nihhh aku lanjut ya thoorrr unni

  9. omg!! ternyata kris adalah kevin! pantesan dia penasaran sama sena. aaaaa ffnya keren bgt. terbawa suasana….. love u author xD

  10. Author jago ni buat manrik crita,
    Gk nyanka mantanny trrnyata kris huwaaaaa
    Critanya mkin keren thor
    Lnjut baca next chapter

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s