Better [2.2]

Better [2.2]

Author             : RahmaRiess a.k.a. Inhi_Park

Main casts       : Han Yoora & Lee Jinki a.k.a. Onew

Support casts   : Kim Jonghyun, Kim Kibum, Choi Minho, Lee Taemin, Im Yoona, Choi Siwon

Length             : Twoshots

Genre              : Romance

Rating             : PG-13

(Author’s side)

“Belum pulang?” Yoora terenyak saat sebuah suara lembut menyapanya. Refleks tangannya bergerak menyeka tetesan air mata yang terjatuh di sudut matanya.

Gadis itu memaksakan sebuah senyum lalu menggeleng pelan sebagai jawaban dari pertanyaan yang di lontarkan Jinki tadi.

“Kau menangis?” Mata sipit pria itu menatapku tajam, menilik dengan teliti, meyakinkan bahwa yang dia lihat itu benar. Gadis itu tengah menangis. “Ada apa?” Tanyanya lagi.

“Aku tidak apa-apa sunbae.” Jawab Yoora dengan kepala tertunduk.

“Mungkin sebaiknya kau panggil aku oppa saja. Sepertinya lebih enak di dengar.” Seolah mengerti kalau Yoora pasti tidak ingin ia terlalu mencampuri urusannya, Jinki mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

Tapi mungkin keputusannya salah karena kini Yoora malah balik menatapnya, yang membuat ia canggung menerima tatapan seperti itu dari gadis yang sudah cukup lama ia sukai itu.

“Emh… Tapi kalau kau lebih nyaman memanggilku sun…”

“Ne, Oppa…” Kata-kata Jinki terpenggal saat tiba-tiba Yoora memanggilnya oppa.

Sesaat mereka kembali terpenjara dalam diam. Hanya suara tetes air hujan yang menimpa atap lalu meluncur jatuh ke tanah dan menggenang disana.

“Kau suka hujan?”Tanya Jinki sambil memperhatikan gadis yang berdiri di sampingnya.

“Emh…” Angguknya. “Sangat suka.” Sebelah tangannya terangkat, menangkap tetesan hujan yang terjatuh dari atap tempat mereka berteduh.

Jinki tersenyum melihat wajah gadis yang terlihat sangat manis dengan senyum tipis dibibir merah mudanya itu.

“Emh… Han Yoora.” Gadis yang namanya barusaja di sebut itu sontak mengalihkan perhatiannya pada namja bermata sipit yang kini tengah menatapnya. “Maaf jika aku terkesan lancang, tapi… aku sungguh ingin tahu perasaanmu padaku. Aku… Aku menyukaimu…”

(Yoora’s side)

“Aku menyukaimu…”

Hatiku mencelos mendengarnya mengucapkan kata-kata itu lagi. Entah harus dengan cara apalagi aku menghindari pernyataannya barusan.

“Oppa…” Pekikku tertahan. Meski berharap ia tidak mendengar suaraku itu, namun nyatanya ia menoleh setelahnya. Ternyata suara hujan tidak mampu meredam gertarannya.

“Saat di perpustakaan waktu itu, kau tidak menjawab pernyataanku. Kau hanya diam, meminta maaf lalu pergi begitu saja. Aku tidak bisa mengerti maksudnya.”

Benar. Saat itu, saat pertama kali ia mengungkapkan perasaannya padaku saat kami sedang di perpustakaan sekolah, aku pergi meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Yoora-ssi…” Sekali lagi ia memanggilku.

Pandangankumasihterfokuspadatetesan air hujan yang menimpagenangan air di tanah.Percikannyaselaluterlihatsangatindahdimataku.Biasanyahatikuakanmerasatenangsaatmemandanginya, namuntidakuntuksaatini. “Mian, Oppa…” Bisikku.“Jeongmal mianhae…”

Meski tak sedikitpun aku berani melihat kearahnya, tapi aku tahu pasti kalau tengah menatapku sekarang. Aku mengambil langkah mundur, menghadapnya lalu membungkuk sebentar sebelum akhirnya aku, sekali lagi, meninggalkannya.

<><><>

(Author’s side)

Senyum di wajah manis Yoora mengembang saat ia menyaksikan puluhan siswa tengah berhamburan keluar kelas sambil mengekspresikan kebahagiaan. Sebagian dari mereka nampak tertawa senang, dan sebagian lainnya nampak meneteskan air mata bahagia. Mereka adalah siswa kelas 3 yang barusaja menerima kelulusan mereka.

“Hai…”

Yoora menoleh kearah suara yang menyapanya dari belakang.

“Oh, Oppa. Chukae…” Katanyasetelah ia tahu kalau yang memanggilnya tadi adalah Lee Jinki, salah satu siswa yang dinyatakan lulus dengan nilai terbaik di sekolah ini.

“Hehe… Ne, gomawo.”Namja itu tersenyum manis sampai matanya hanya menyisakan garis melengkung.

Mereka berjalan berdampingan. Melangkah seirama, meski tidak tahu pasti tempat yang akan mereka tuju karena nyatanya sudah cukup lama mereka berjalan, namun tak kunjung berhenti di tempat tertentu.

Keduanya berjalan di tengah sepi. Tak seorangpun yang berbicara sampai akhirnya, “Han Yoora.”  Jinki menghentikan langkahnya. Menyadari itu, Yoora pun berhenti melangkah dan menghadap namja berambut cokelat gelap itu. “Nan neo johae…”

Kalimat sederhana yang meluncur dari bibir tebal Jinki sontak membuat Yoora terenyak. Ia tak mampu memproses respon dalam bentuk apapun. Tubuhnya membatu saat indra pendengarannya kembali mendengar kalimat itu.

“Hahaha… seharusnya aku tidak mengatakan hal semacam ini di saat-saat bahagia seperti ini… haha…”TawaJinki yang tiba-tibasontakmembuatYooratersadar.

“Oppa…”Gumamgadisitu.

“Kaumungkinsudahsangatbosanmendengarapa yang ku katakana barusan.”Jelasnamjabermatasipititusetelahiamenghentikantawanya.“Keunde, kali iniakutidakberharapuntukmendengarjawabanapapundarimu.Akuhanyainginkamutahubagaimanaperasaankupadamu.”

Merekakembaliterdiam.Jinkimelanjutkanlangkahkakinya yang sempatterhenti.Dan juga, Yoorakembalimencobamenjajarilangkahnamjaitu.

“Oh iya, akumendapattawaranbeasiswa di Tokyo University.”Jinkiberkatasambilmasihmenatapluruskedepan.

KinigiliranYoora yang tiba-tibaberhentimelangkahsetelahmendengar kata-kata Jinkitadi.“Jepang?”Tanyanyamenuntutsebuahklarifikasidarilawanbicaranya.

“Eoh… Jurusan music.”Tegas namja itu.

“Eung… cukhae kalau begitu.” Yoora memaksakan sebuah senyuman saat ia kembali memberikan ucapan selamat pada Jinki.

“Kau sedih tidak?”Untuk kesekian kalinya Yoora dibuat terperanjat oleh kata-kata yang meluncur begitu saja dari mulut Jinki.

“Hah?” Yoora nampak sudah kehabisan kata-kata untuk merespon namja itu.

“Hehe… Tidak. Aku hanya sedikit berharap kau merasa sedih karena aku akan pergi.”

Tanpa menyadari perubahan ekspresi gadis itu, Jinki membalikkan badan dan melanjutkan langkahnya. Setelah berhasil mengumpulkan kesadarannya, Yoora kembali berjalan membuntuti Jinki.

“Hyung…!!!”

Dua orang itu langsung menolehkan kepalanya kearah empat orang namja yang berdiri di koridor ruang kelas yang tak jauh dari tempat mereka. Empat orang itu adalah Jonghyun, Kibum, Minho dan Taemin, sahabat-sahabat Jinki. Keempat namja berparas tampan itu melambai-lambaikan tangan sebagai isyarat agar Jinki segera menemui mereka.

“Ah, sepertinya aku harus pergi.”Kata Jinki.“Sampai jumpa.”

“Nde, sampai jumpa.”

Yoora memandangi Jinki yang berlari menghampiri sahabat-sahabatnya. Mereka terlihat bergantian memeluk Jinki. Dapat ditebak kalau mereka mengucapkan hal yang sama seperti Yoora tadi. Memberi selamat atas beasiswa yang Jinki dapatkan.

Seulas senyum tipis sempat tersemat di bibir mungil itu sebelum akhirnya Yoora memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Langkahkakinyamembawanyakesalahsatusudutdimanaderetanloker-lokersiswaberderetrapi.

Setelahmendapatkankunci yang terselip di salahsatusakutasnya, Yooramenarikkenopkecildanmembuatlokerituterbukasehinggamenampakkanseluruhisinya.Namunindrapenglihatangadisitumenagkapsesuatu yang janggaldalamlokernya. Sebuahamplopberwarnabirumudatergeletakdiatastumpukanbukunya.Seseorangtelahmemasukkannyakesana.

Gadisitumengulurkantangannyauntukmenggapaikertasitulalumembukadankemudianmembacatulisantangan yang terlihatrapimengukirkanrangkaian kata yang indah.Senyumankembaliterpatri di bibirtipisnyasaatiabisamerasakansiapapelakunya.

“Oppa…”

<><><>

(Yoora’s side)

“Hei…” Aku menoleh dan mendapati Yoona berdiri di sampingku. Ia datang dengan dua gelas jus melon ditangannya, yang satu sudah habis separuh dan yang satunya lagi ia berikan padaku.

“Gomawo,” Kataku singkat.

“Kau melamun? Kenapa? Menyesali kebodohanmu yang sudah menolak namja yang kau cintai, huh?” Kulemparkan pandangan tajam pada gadis yang kini sedang duduk manis di sebelahku.

“Kau ini bicara apa?” Gadis itu menatap lurus ke arah lapangan basket yang terbentang di hadapan kami sambil sesekali meneguk minumannya.

“Ayolah Ra… Kau pikir apa yang bisa kau sembunyikan dariku? Aku tahu kau menyukai Jinki sunbae. Benar kan?”

Kepalaku tertunduk dalam saat Yoona melontarkan rentetan kata yang menusuk tepat ke hatiku.

“Dan namja yang sering kau ceritakan, yang katamu adalah seseorang yang pernah menolongmu saat masih SMP itu juga dia kan?”

Yoona berkata dengan nada yang datar. Dan semuaitumembuatkumerasasemakinterintimidasi.

“Katakan kalau aku benar…”

Sungguh, aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Aku tidak sanggup untuk menyangkal, tapi tidak berani juga untuk mengiyakan.

“Hah… baiklah. Ku anggap itu sebagai jawaban.”

“Aku hanya tidak yakin dengan apa yang kurasakan, Yoona.”Ucapku pada akhirnya. “Aku hanya takut perasaanku ini hanya euforia karena oarang yang kukagumi sejak lama kini memperhatikanku. Aku takut ini hanya rasa suka sesaat. Aku takut ini bukan cinta.”

“Jangan bilang kalau belakangan ini kau sering menangis karena putus asa memikirkan perasaanmu itu?”

Aku kembali terisak. Semua yang dikatakan oleh sahabatku itu memang benar.

“Ya Tuhan… bagaimana bisa aku punya sahabat sebodoh ini.” Yoona meletakkan gelas jus melon miliknya dengan kasar.“Kau pikir apa namanya kalau setiap saat hanya namanya yang menggema di kepalamu, hanya namanya yang berulang kali kau tulis di bukumu, hanya namanya yang selalu kau sebut di setiap pembicaraan kita, huh? Apalagi kalau bukan cinta…”

Entahlah, aku pun tidak mengerti dengan perasaanku sendiri. Ini terlalu asing bagiku. Saat seseorang yang sejak lama kau kagumi, kau gilai, namun terasa amat sangat jauh, tiba-tiba menyatakan perasaannya padamu, apa yang kau rasakan? Akan kah sama seperti yang kurasakan?

<><><>

“Hai…” Sebuah suara menyadarkanku dari lamunan tentang masa laluku.

Seorang gadis dengan gaun baby pink selutut melangkahkan kaki memasuki ruanganku dan di ikuti oleh seorang namja yang berperawakan tinggi kekar. Yoona dan namjachingunya, Siwon oppa.

“Aaahh… Kau cantik sekali Yoora-ya…” Dia menggenggam kedua tanganku lalu mengajakku berputar.

Aku tersenyum dengan tingkahnya yang masih seperti anak kecil. “Gomawo…”

“Rasanya baru kemarin aku bertemu denganmu di gerbang SMA saat kita masih sama-sama siswa baru.” Tuturnya sambil memelukku. “Sekarang kau sudah mau menikah…” Tambahnya dengan suara yang bergetar. Gadis ini pasti menangis.

“Kau ini… Sahabatmu mau menikah, bukannya memberi selamat, malah menangis seperti ini.” Candaku sambil mengusap air matanya yang hampir jatuh.

“Ini air mata bahagia tahu…” Rengeknya sambil kembali memelukku. “Selamat Yoora-ya… Kau sahabat terbaikku.” Katanya.

“Emh… Gomawo.” Jawabku. “Satu lagi, berhenti bersikap seperti ini atau Siwon oppa tidak akan pernah melamarmu karena kau masih seperti anak kecil begini. Iya kan oppa?” Ucapku sambil melirik namja yang dari tadi hanya memperhatikan kami saja itu.

Ia menjawab dengan senyuman yang membuat lesung pipinya terbentuk sempurna. “Selamat ya…” Katanya sambil menepuk lenganku pelan.

“Ne, gomawo oppa…” Jawabku.

Seseorang mengetuk pintu dan segera membukanya setelah ku persilakan. Ternyata Kang ahjussi, supir keluarga kami, yang memberitahu kalau mobil yang akan mengantarkanku ke tempat pemberkatan sudah siap.

Sekali lagi Yoona memelukku erat sebelum akhirnya pergi terlebih dahulu ke gereja tempatku akan membuka gerbang kehidupanku yang baru.

<><><>

Aku berdiri menunduk. Di hadapanku kini berdiri dengan gagah sebuah bangunan yang di dominasi warna putih. Pintunya yang juga berwarna putih di hiasi ukiran-ukiran silver yang membuatnya tampak indah dan megah. Perlahan pintu itu terbuka. Suaranya berderit seolah mengucapkan ‘selamat datang’ padaku yang mulai melangkah masuk.

Di balik pintu besar itu aku melihat seorang pria terseyum padaku. Dia mengulurkan lengan kirinya untuk ku gandeng. Sesaat setelah tangan kami bertaut, ia melemparkan senyum itu padaku. Senyum yang membuat hatiku merasa hangat. Dari balik kacamata model lama yang ia kenakan, aku dapat melihat selaput air bening yang melapisi kedua bola matanya. Ku mohon jangan menangis, Appa… bisikku dalam hati.

Dia mengelus punggung tangan kananku yang kini melingkar di siku kirinya seolah memahami hatiku yang sedang merasa sangat tegang. Tidak lupa ia tersenyum lalu mengangguk pelan sebelum membimbingku untuk melangkah. Mungkin ia mencoba membuatku merasa yakin dan nyaman dengan apa yang akan segera ku hadapi. Aku tersenyum sebelum akhirnya mengalihkan pandanganku.

Kakiku mulai melangkah perlahan di atas karpet yang terbentang lurus. Gaun putih yang kukenakan menyisakan kain yang menjuntai cukup panjang hingga ke belakang. Kain itu ikut terseret seiring langkah kakiku menyusuri karpet biru ini.

Dentingan piano terdengar mengalun dengan sangat indah. Di kanan dan kiriku, aku dapat melihat puluhan pasang mata menatapku dengan senyum yang terlukis di wajah mereka. Puluhan pasang mata yang sebenarnya sebagian dari mereka tidak ku kenal.

Langkahku belum berhenti dan tatapanku semakin lurus ke sebuah titik yang merupakan pusat dari tempat ini. Disana, di ujung karpet yang tengah ku tapaki ini aku melihat seorang pria dengan setelan tuxedo putih tersenyum kearah ku. Saat jarak kami tinggal beberapa langkah, ia melangkahkan kakinya menuruni altar demi menyambutku. Sekali lagi, ia tersenyum saat Appa mengulurkan tanganku yang langsung di sambut olehnya.

Seorang pria paruh baya dengan setelan pakaian serba hitam berada tepat di hadapan kami berdua, aku dan pria bertuxedo putih yang berdiri di sampingku.Pria itu menatap kami bergantian seolah mencari jawaban atas pertanyaannyamengenai kesiapan kami.

Kini tibalah waktunya. Pria dengan pakaian serba hitam tadi memimpin acara pemberkatan dan pembacaan sumpah pernikahan. Dengan sangat yakin, aku menjawab pertanyaannya mengenai kesediaanku untuk mendampingi pria di sampingku ini dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, dan saling mencintai selamanya sampai maut memisahkan. Begitu pun pria di sampingku ini. Dengan sangat tegas ia mengiyakan pertanyaan yang sama seperti yang di ajukan padaku.

“Dengan ini, kalian telah resmi menjadi sepasang suami istri.”

Sorak sorai dari puluhan tamu yang menghadiri acara ini terdengar riuh memenuhi seisi bangunan tua yang sangat megah ini. Beberapa mulai berteriak meminta kami melakukan ciuman pernikahan, seperti yang biasa dilakukan oleh pasangan yang sudah resmi menjadi suami istri.

Aku tersenyum saat mendapati sepasang mata sipit itu sedang menatap lurus ke dalam mataku. Perlahan jarak kami semakin menipis seiring dengannya yang mendekatkan wajahnya padaku. Mataku sudah terpejam sempurna saat sesuatu yang hangat dan lembab menyentuh bibirku. Ia menciumku dengan sangat lembut.

“Saranghae…” Katanya saat tautan kami sudah terlepas.

“Nado saranghe oppa…” Jawabku.

“Jeongmal saranghae, Jinki oppa…” Kataku lagi saat ia sudah menarikku ke dalam dekapannya.

<>THE END<>

~EPILOG~

Puluhan bahkan ratusan potongan memori masa-masa SMA ku kembali berlompatan di dalam kepalaku saat kupijakkan kakiku di depan gerbang megah berwarna tembaga itu sekali lagi. Bayangan saat pertama kali aku bertegur sapa dengan seorang gadis yang kemudian menjadi sahabat terbaikku. Bayangan saat pertama kali aku berurusan dengan kakak kelas yang bagaikan nenek sihir bagi para junior. Bayangan saat setelah untuk waktu yang cukup lama aku bisa kembali bertemu dengan pangeran impianku. Bayangan saat pangeranku menyatakan perasaannya yang dengan bodohnya langsung ku tolak. Semuanya kembali berkelebatan di ingatannku.

Aku tersenyum bersama semua bayangan-bayangan itu.

Ku percepat langkahku memasuki halaman sekolah yang cukup luas itu saat satu per satu tetesan air dari langit mulai menghujani bumi.

Aku kembali tersenyum. Ini bukan deja vu, aku benar-benar pernah berada di situasi seperti ini. 4 tahun yang lalu, tepat di tempat ini, aku berdiri sendiri, menangis sambil mengadu pada hujan mengenai kebodohanku yang telah mengabaikan cinta dari orang yang sangat ku cintai.

“Kau masih suka hujan?”

Suara itu. Aku menoleh kearah sumber suara. Disana, aku mendapati seorang namja bermata sipit tengah berdiri tegak dengan salah satu tangannya di selipkan ke kantung jeans biru tua yang ia kenakan. Dan senyum itu…

Entah seperti apa ekspresi wajahku saat ini. Ingin rasanya aku mencubit pipiku sekeras-kerasnya demi meyakinkan kalau ini bukan mimpi.

“Kenapa kau melihatku seperti melihat hantu begitu?”

Lee Jinki. Ya, benar itu dia. Lee Jinki. Pangeranku.

“Ah, nde… oh, ani… maksudku…”Entahapa yang terjadipadaku. Rasanyasemuasarafkutidakdapatbekerjadenganbaik, terlebihsaatininamjaituberjalansemakinmendekatiku.

“Nan neomubogoshippo”

Akuterperanjatmenerimaperlakuannya.Dengantanpa aba-aba, Jinkioppamenarikkukedalampelukannya.Sementaraaku yang masihmerasainiadalahmimpihanyabisamembulatkanmatasambilmencobamencariseparuhnyawaku yang terbangentahkemana.

“Han Yoora…”Suaranyamasihsepertidulu, lembutdanmenenangkan.Dan akuselalusukamendengarsuaraitumenyebutnamaku.“Nan neo johae.Nan neo saranghae.”Belumhabis rasa kagetkudenganpelukannya yang tiba-tiba, kiniiamalahmembuatseparuhnyawaku yang lain ikutterbang. Akumembatusekarang.

Perlahan ia melonggarkan dekapannya lalu menatapku intens. Seolah mencari jawaban atas pernyataannya, ia menatap manik mataku dalam-dalam.

“Aku sudah menunggu dan bersabar cukup lama, jadi kumohon…”

Aku tersenyum lalu menjatuhkan diri kembali kedalam pelukannya. Dan di tengah hangat dekapannya itu aku mengangguk kuat. Memberikan jawaban yang sesungguhnya sudah sejak lama ingin aku ungkapkan padanya. Aku ingin mengatakan padanya bahwa aku juga mencintainya.

Dan begitulah, sekarangmimpiitumenjadinyata. Berdiri di depan altar, mengikat janji sehidup semati dengan orang yang berhasil menawan hatiku dari sejak dulu. Orang yang namanya lah yang selalu terselip dalam do’aku setiap siang dan malam. Orang yang dengan membayangkan senyumnya lah kebahagiaan akan secara otomatis menghinggapi hatiku. Orang yang dengan dirinya lah aku selalu bermimpi untuk membangun masa depan.

~***~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

7 thoughts on “Better [2.2]”

  1. Alhamdulillah ya ternyata emang Jinki yang nikah ma Yoora.. untung ada epilognya, sempet agak bingung.. Kapan ketemu lagi, kok udah nikah aja^^
    Nice ff Rahma, ditunggu karya lainnya 🙂

  2. Woa… Nice ff!! Ceritanya sweet bgt menurutku XDD
    cma ada bbrp kata dan paragraf yang ga dispasi, sempet pusing juga, hehe.
    Aih, nikah ama onew~~ asik nih *dilempar mvp, ditarik jjong*
    Nice! Joayo~~

  3. yipiii!!!
    akhirnya yoora nikah juga sama jinki.
    ffnya masih sama sweetnya sama part 1.
    cuma, sama seperti komentar sebelumnya. ffnya masih ada yg blum di spasiin. jd agak pusing bacanya.
    tpi, keep writing buat authornya…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s