The Rule

Before Story:

Cause Were Together ǀ God Must Be Hate Me 1.3 ǀ God Must Be Hate Me 2.3 ǀ God Must Be Hate Me 3.3 ǀ

 

Rasa benci sudah tertanam begitu dalam, hingga kata maaf tak pernah sekali pun menyentuh patrinya. Kenyataan terlalu memuakkan, ketika ia masih harus menapaki jalan yang sama. Tak pernah memiliki kesempatan untuk menyembuhkannya, hingga luka itu semakin membusuk. Membuat dirinya berpura-pura buta akan kenyataan bagaimana ia menghancurkan hidupnya dalam sekejap, setelah hal terakhir yang disebutnya kebahagiaan terenggut karena dirinya sendiri, atau bahkan akan menyalahkan takdir yang  tergariskan dalam hidupnya.

Oh, ia selalu benci jika kenangannya kembali bernostalgia. Membayangkan masa lalu yang seharusnya hanya menjadi sejarah masa lampau yang menyedihkan, tak perlu menjadi kilasan balik yang terus menghantui pikirannya.

Langkah kaki yang seirama dengan kaki miliknya tertangkap indera pendengarannya. Ia mempercepat langkahnya, justru langkah kaki itu ikut dipercepat. Membuat adrenalinnya harus terpacu dengan bayangan yang semestinya musnah sejak setahun yang lalu.

“Hey, kenapa menangis?”

“Aku tidak menangis.”

“Sudah jelas matamu merah.”

”Sudah kubilang, aku ti-“

Kalimatnya terhenti. Bibirnya terbuka sedikit, kemudian terkatup rapat-rapat. Mengisyaratkan bagaimana ia menahan dirinya untuk tidak melanjutkan sanggahannya pada pertanyaan itu. Ia menutup matanya pelan, kemudian melanjutkan langkahnya lagi tanpa peduli pada siapapun di belakangnya yang terus mengikutinya.

Jinki tersenyum miris. Langkahnya terhenti tepat ketika pandangannya bertemu dengan pasangan kekasih yang duduk di bangku taman itu.

“Bagaimana kalau minggu depan kita ke kolam renang? Aku rasa liburan musim semi… ”

“Aku tidak bisa. Minggu depan ada les fisika.”

Si gadis memanyunkan bibirnya. Jinki bisa merasakan kekecewaan terpancar dari wajah bening itu. Ia bahkan mengutuk lelaki yang masih menyibukkan dirinya dengan buku sains di tangannya.

“Kau bodoh, Lee Jinki,” kutuknya sekali lagi ketika bayangan sepasang kekasih itu mulai pudar, menyisakan berkas remang cahaya lampu di sudut jalan hingga terlihat olehnya bangku taman itu hampir terhiasi seluruhnya dengan karat. Ia hampir pergi, kemudian dirasakannya genggaman hangat di tangannya. Ia menutup matanya kembali, berusaha menepis ilusi yang kembali menghinggapinya.

“Jinki-ya…”

Suara itu, suara lembut itu masih juga menempel erat di ingatannya. Enggan ia berbalik, karena ia sendiri sudah memiliki jawabannya. Tapi sayangnya, sesuatu yang lain dalam dirinya memerintahkan tubuhnya tetap berbalik hingga goresan luka yang sempat tertutupi untuk sesaat itu kembali terkoyak. Tak ada siapapun di sampingnya, kecuali hembusan angin dingin yang menerpa wajahnya. Harapan itu masih ada, mengaburkan fakta hingga ia masih berharap ketika ia berbalik pemilik tangan itu tetap ada di belakangnya dengan senyumannya.

“Sampai kapan? Sampai kapan Eunmi?”

Ia kehilangan keseimbangannya ketika ingatan itu bermunculan satu persatu dalam kecepatan yang terus meningkat drastis. Potongan suara, visual perempuan itu terus bergejolak menimbulkan desir di dadanya, sesak berlebihan hingga pandangannya harus terputar. Masih bagus, di kantongnya selalu tersedia pil pengatur sarafnya itu. Masa bodoh dengan ketergantungan. Yang terpenting sekarang adalah menghapus potongan suara yang terus terngiang di telinganya, membunuh ilusi di mata yang semuanya diciptakan oleh saraf otaknya.

****

 “Kau terlihat seperti anak polos, tapi nyatanya kau sehina itu.”

Diterkam perasaan marah lantas tak membuatnya memperlihatkan emosi yang sedari tadi ditahannya untuk menguap. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha meyakinkan dirinya untuk tetap bersikap tenang. Ia tahu hal seperti ini akan terjadi. Bisa menyembunyikan identitasnya sebagai ‘kau-tahu-apa’ selama empat tahun ini saja sudah berkah baginya. Setidaknya, di masa depan nanti, ia bisa mengenang bagaimana ia mengenyam pendidikan di sekolah termasyur se-Korea Selatan.

“Meski prestasimu cukup menjanjikan, reputasi sekolah ini tetap didahulukan. Kau juga tahu kan betapa mahalnya sekolah ini? Seharusnya kau bersyukur, kami bisa menerimamu dengan tangan terbuka. Tak peduli pada status ayahmu yang- . Sudahlah, kuharap kau segera pergi dan tidak menunjukkan dirimu lagi di sekolah ini.”

Sekali lagi, Taemin menggigit bibirnya. Cepat ia menjilat darahnya sendiri ketika hidungnya menangkap aroma acin. Merasakan amisnya cairan kental kemerahan itu menambah lagi pening di kepalanya. Ia menunduk hingga sebatas bahunya, segera keluar dari ruangan pemegang jabatan tertinggi di sekolah itu.

Ia tidak mengerti sama sekali bagaimana riwayat keluarganya harus disangkut pautkan dalam pembicaraan mereka yang baru saja selesai sejak beberapa menit yang lalu. Justru itu menjadikan alasan tambahan lagi, bagaimana ia semakin membenci ayahnya. Membenci takdir jika ia terlahir dengan unsur gen lelaki itu. Membenci kenyataan jika hidupnya harus diabdikan untuk menjadi penjaja seksual para lelaki tua pencinta sesama jenis, demi menghapus hutang keluarga sebagai warisan dari sang ayah.

Langkahnya terhenti ketika pandangannya menemukan kelima manusia yang telah menjalin ikatan pertemanan dengannya sejak setahun yang lalu sudah berkumpul di bawah pohon seperti kegiatan rutinan mereka. Dari balik kaca, ia bisa melihat keakraban yang terjalin di antara mereka meski sebenarnya mereka tak saling mengenali masing-masing karakter yang ada di sana. Ia tersenyum tipis mengingat bagaimana usulan bodoh setahun yang lalu itu menjadikan mereka berenam terlihat seperti sebuah keluarga yang merayakan  piknik di bawah rindangnya pohon itu.

“Terima kasih untuk semuanya.”

Taemin berbicara pada dirinya sendiri, meski sebenarnya kalimat itu ditujukan pada kelima sahabatnya itu. Ia bukanlah tipe sentimental, tapi entah mengapa air matanya menetes. Jauh di luar dugaannya.

****

“Kemana saja bocah itu? Bukannya dia yang selalu pertama datang?”

Tak ada satu pun yang menjawab pertanyaan Jonghyun.

“Mungkin dia sedang ada urusan.”

“Jadi, apa kita perlu menunggunya?” sergah Key di akhir kalimat Minho. Yang ditanya hanya mengangkat sebelah bahunya. Tidak lebih karena cacing-cacing di perutnya sudah berdemo sedari tadi minta diisi.

“Kurasa dia tidak akan datang.”

Ucapan Jiyeon selanjutnya mengalihkan perhatian keempat pria disana padanya. Oh, untung saja ia sudah bersama mereka sejak setahun belakangan ini. Ia sudah bisa mengendalikan rasa gugup seperti pertemuan pertama mereka di sini. Bagaimana tidak, mendapat tatapan bersamaan dari keempat lelaki berwajah tampan itu pasti akan membuat yeoja manapun kehilangan kontrol degupan jantungnya sendiri.

Tapi bukan itu sepenuhnya. Ada kenyamanan yang mengalirinya ketika keempat pria itu, termasuk Taemin, berada di sekitarnya. Bukan lagi rasa takut seperti ketika ia berada di rumahnya sendiri. Ia masih tidak mengerti, tapi ia sendiri tidak berusaha mencari tahu. Yang jelas, dalam sehari ini ia bisa merasakan kehangatan dari keluarga kecilnya yang dipersatukan tanpa ikatan darah.

“Hey, apa maksudmu dia tidak datang?”

Jonghyun menekan telunjuknya pada dahi Jiyeon yang mengacuhkan pertanyaannya.

“Aku tahu aku memang tampan, tapi jangan terus melihat wajahku dengan senyummu itu.”

Wajah Jiyeon memerah, menyebabkan gelak tawa di antara mereka, kecuali Jinki yang masih juga mempertahankan senyum lebarnya. Melihatnya seolah fasad yang sudah tidak mengenal cara tertawa lagi. Untungnya, mereka berempat sudah mafhum untuk hal satu ini. Terlihat tidak sopan mungkin, tapi mereka sudah terbiasa dengan itu.

 “Taemin mengirimkanku sms, katanya dia harus segera pulang karena tidak enak badan,” kata Jiyeon kemudian, berusaha menghentikan godaan Jonghyun.

Jiyeon membagikan sumpit besi kepada masing-masing di sana, kecuali pada Jinki. Maniak ayam itu hanya menggunakan sendok miliknya untuk menyuap nasi, sedang tangan satunya sudah memegang tungkai ayam.

“Belum makan eoh?” pertanyaan Minho seakan menyindirnya, membuat pandangannya yang terfokus pada Jinki segera beralih pada makanan di depannya. Untung saja, Jinki serius pada makanannya, hingga Jiyeon tidak harus bertemu pandang lagi dengan lelaki itu. Di lain sisi, justru Minho semakin tajam menelisik wajah Jiyeon yang bersemu kemerahan. Bukan sekali saja ia memergoki yeoja itu menatap wajah Jinki diam-diam, menyebabkan dadanya panas untuk alasan yang belum dimengertinya.

Dering ponsel menghancurkan suasana hening di antara mereka. Key dengan sigap menarik handphone dari saku kantongnya. Nafsu makannya mendadak hilang ketika di layar ponsel menunjukkan tulisan eomma. Ia menekan slide reject. Untuk beberapa saat, ponselnya berbunyi lagi dan tulisan appa tampak di layarnya.

“Tidak mengangkat teleponmu?”

Jonghyun mengedipkan matanya berkali-kali, kemudian menundukkan kepalanya sekilas sebagai permintaan maaf ketika tatapan sinis Key ditujukan padanya. Oh, ia sudah melanggar peraturan nomor 2. Mencampuri urusan masing-masing.

“Bel akan bunyi lima menit lagi.”

Jinki segera merubuhkan kecanggungan di antara Jonghyun dan Key. Ia memang selalu tahu waktu yang tepat untuk membangun kembali suasana canggung yang sesekali timbul di antara mereka. Hal yang selalu membuat mereka harus memuji jiwa leadership yang cukup sering diperlihatkannya, meski ia terlihat lebih sering diam dengan ekspresi datar.

****

“Jinki ssi…”

Tidak menjawab. Lagi-lagi Jonghyun harus teracuhkan oleh Jinki yang masih terpekur dalam diamnya. Lelaki itu seperti mayat hidup baginya. Fasadnya hadir, tapi pikirannya hilang entah kemana.  Ia mendesah pelan, hampir ia mengoceh sebelum Jiyeon memegang tangannya, mengarahkannya untuk ikut bersamanya.

Jonghyun menarik tangannya tak setuju, tapi keras kepala Jiyeon tetap tak bisa diruntuhkannya. Maka setengah hati ia mengikuti langkah Jiyeon yang membawanya ke koridor. Jonghyun menggelengkan kepalanya. Kali ia tidak suka pada tebakannya yang tidak mungkin salah. Perdebatan yang acapkali didasarkan oleh Jinki akan dimulai lagi.

“Aku bisa mengerjakan tugas ini sendiri.”

“Berusaha menyombongkan dirimu, eoh?“

“Oppa…”

Jonghyun meremang, ini bukan pertama kalinya ia mendengar Jiyeon memanggilnya oppa. Tapi, bulu romanya tetap saja merinding mendengar satu kata yang jarang sekali diucapkan oleh Jiyeon. Dan ia bisa menebak segera, ada pesan tersembunyi di dalamnya. Benci sekali ia ketika harus berhadapan dengan salah satu budak cinta, bahkan untuk kategori Jiyeon yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri.

“Aku tidak bermaksud merendahkanmu. Hanya saja, aku ingin mengerjakannya sendirian. Aku tahu ini adalah tugas kelompok, aku tidak berusaha bersikap egois, atau menyombongkan diri, hanya saja aku- ”

Yeon-ah.  Jangan berpura-pura mengalihkan perhatianku. Sikapmu ini semakin mengukuhkan keyakinanku jika kau benar-benar menyukai Jinki.”

“Oppa!”

“Ya ya aku mengerti. Besoknya kau harus datang lebih pagi untuk mengajariku, aracchi?”

Jonghyun menyerah. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. Ia baru selangkah, ketika lengannya  dilingkari tangan lain yang lebih kurus.

“Gomawo, oppa. Kau memang sahabat terbaikku.”

“Berhenti memanggilku oppa, atau aku akan mengatakan  pada Ji- “

Mulutnya dibekap segera. Kali ini, Jonghyun harus mengakui kegesitan Jiyeon, atau masalah lain akan timbul segera. Bukan hal yang tidak mungkin, jika saja mulut ceplosnya akan menghancurkan ikatan persahabatan yang telah dijalani dalam waktu yang tidak singkat itu.

“Masih sempat berkencan di tengah malam begini,” mendecak melebihkan, Key membuat keduanya salah tingkah dan memisahkan diri segera.

“Taemin. Anak itu tidak masuk sekolah hari ini,” lanjut Key yang menyandarkan punggungnya di dinding. Ia mulai mengunyah permen karet yang kebetulan ditemukan dalam saku blazernya.

“Aku hanya mengatakan jika si jamur itu bolos.” Key mengerutkan bibirnya, menjawab tatapan sarkatis dari tiga pasang mata di sekelilingnya. Padahal sebenarnya rasa cemas sudah menggerayanginya. Taemin tidak pernah bolos, meskipun demamnya sangat tinggi, ia selalu datang ke sekolah. Sayangnya, ia harus menutupi gundah itu, sekedar mempertahankan profesionalitas hubungan mereka.

“Si dingin itu sudah pulang. Ia bahkan tidak mengucapkan salam perpisahan untuk kita.”

Jonghyun tidak peduli kerlingan sinis dari mata Jiyeon, sebalnya sudah sampai di ubun-ubun jika menyangkut Jinki. Lelaki itu memang sudah pulang. Tasnya tersampir di bahunya. Tidak butuh lama, punggungnya mulai hilang ditelan keremangan lampu yang sepertinya harus segera diganti itu.

“Kudengar dia berurusan dengan Sangchu kemarin malam. Dan hebatnya, ia bisa mengalahkan semua anak buah si lettuce itu tanpa meninggalkan bekas luka di wajahnya. Aku hanya menceritakan apa yang kudengar dari Nana tadi. Aku tidak mencari tahu tentang Jinki, jika itu yang ada di pikiran kalian.”

 “Aku juga mendengar gosip jika uri Choi Minho berkencan dengan Baek Sujin. Namja ini benar-benar daebak!”

Minho mengernyitkan dahinya tak suka demi ucapan Jonghyun barusan. Matanya cepat teralih pada Jiyeon, yang justru masih memusatkan perhatiannya pada sosok lelaki yang berjalan pelan di sana. Lee Jinki.

“Hari ini kuantar kalian pulang. Ini sudah terlalu larut untukmu Jiyeon. Kau sedikit demam Jonghyun, dan Minho,” menghentikan kalimatnya dengan decakan, Key mencibir pada lelaki jangkung itu, “Aku tidak mau kau datang terlambat ke sekolah besok dengan alasan bis malam terlambat datang karena salju. Tidak ada penolakan kali ini, oke?”

****

Di balik kemudinya, Key mengawasi jalan yang hampir seluruhnya tertutupi dengan salju. Mengendalikan kecepatan speedometernya agar tak menimbulkan selip pada ban yang menjadi trend penyebab utama terjadinya kecelakaan lalu lintas belakangan ini. Ia tidak biasanya seprotektif ini, tetap memacu adrenalinnya tanpa peduli bahaya apa yang menantang di depan mata. Tentu, kali ini ia harus mempertanggungjawabkan tiga nyawa di dalam mobilnya.

“Oppa…”

Key menggumam sebagai jawabannya. Ia mengintip dari kaca spion, kedua lelaki di belakangnya sudah tertidur lelap.

“Ada apa? Perasaanku tidak enak jika kau memanggilku dengan sebutan itu…”

“Aku, mengenai Taemin, aku tahu ini melanggar aturan kita. Tapi, dia bersikap aneh hari ini.”

“Ya, dia bolos. Dan itu memang aneh sekali.”

“Bukan karena itu. Pagi sekali, aku melihatnya masuk ke dalam ruang kepala sekolah.”

“Ia memang selalu dipanggil kesana. Kau tidak ingat julukannya? Headmaster Keeper.”

“Saat makan siang tadi, aku melihatnya. Wajahnya tampak sedih, dan ia langsung pergi begitu saja.”

“Hey, kenapa baru bilang sekarang? Jangan katakan kau juga berbohong soal sms dari Taemin.”

Key bergeser sedikit dari kursinya, ia mengurangi kecepatan mobilnya untuk membagi fokus dirinya pada jalan juga kalimat jiyeon selanjutnya.

“Kau tahu kan aturan kita.”

Brengsek. Key mengumpat dalam hati. Ia mengangguk sebal, dan tidak berniat melanjutkan percakapan mereka lagi. Aturan itu selalu menjadi bumerang, ketika rasa pedulinya mulai mengalir ke permukaan. Menghempaskannya kembali untuk kemudian tenggelam dalam keegoisan, hanya untuk mempertahankan sebuah hubungan, yang entah pantaskah ia tetap menyebutnya, persahabatan.

****

“Tidak boleh mencampuri urusan masing-masing. Hal ini akan dimaafkan, jika pihak yang bersangkutan bisa menerima ketidaksengajaan yang terjadi. Dan aturan yang paling utama,  ini adalah hal yang mutlak dan tidak boleh dilanggar. Tidak boleh mencintai. Jika terbukti ada salah satu dari kita yang melanggar aturan ini, hubungan di antara kita akan rusak. Aku menawarkan ini pada kalian. Hubungan persahabatan yang tidak akan terikat oleh masalah pribadi.”

Kalimat Taemin kala itu ditanggapinya dengan enteng. Ia menggangguk setuju, disanggupi Key segera. Ia benci lelaki, tapi konyolnya ia langsung menyetujui gagasan Taemin tanpa berpikir panjang. Dipikirnya, ia terlalu lama mendekam dalam kesendirian. Ia memang membutuhkan teman. Tidak lagi bergelut dalam kesunyian dunia yang dibangunnya sendiri. Tembok tinggi menjadi pembatasnya, menolak setiap ajakan berkawan atau bahkan pinangan kencan yang bukan sekali dua kali saja diterimanya.

Sudah menjadi rahasia umum, bagaimana kecantikan paras dingin itu selalu dielukan lelaki manapun yang melihatnya. Ya, sampai beberapa senior yang secara tidak langsung membantunya mengeluarkan peliknya suasana ini. Meski ia harus berhadapan dengan berbagai macam kasus bullying, nyatanya ia selalu merasa berterima kasih untuk mereka yang memperkuat tembok kesendiriannya, mengisi siar-siarnya untuk kebencian mendalam dari kaum dengan gender berbeda dengannya.

Bersyukurlah ia pada beredarnya isu-isu mengenai kegadisannya. Membuat godaan-godaan yang sebelumnya menjadikan ia primadona kawakan Yayasan terkemuka di Seoul itu terganti menjadi tatapan hina. Sedih, tidak juga. Ia patut mendapatkan itu. Lagipula, ia memang sudah bukan gadis seutuhnya bukan?

“Pelajaran hari ini selesai, dan jangan lupa memperbaiki proposal kalian.”

Jiyeon tersadar dari lamunannya, begitu ditemukannya jajaran siswa yang tadinya duduk teratur kini berhamburan keluar. Tidak ada Jonghyun di antara puluhan siswa itu, yang berarti ia tak perlu meributkan permasalahan kerja kelompok lagi. Walaupun sebenarnya, ia merindukan senyum khas si pirang itu.

Ia pun ikut membereskan buku-buku yang terserak di mejanya, saat matanya menangkap salah satu buku itu terselip pada di antara sela meja dan pipi lelaki yang terlelap damai di sampingnya.Tangannya mengelus pipi itu, merasakan betapa halusnya kulit wajah Jinki.

“Jadi, ini salah satu rahasia untuk babyface mu,”gumam Jiyeon dengan sunggingan senyum tipis.

****

Sudah menjadi rahasia umum, penghuni kelas spesial selalu menghabiskan waktu hingga larut malam entah di depan komputer, ataupun menekuri tiap kalimat yang terjejer rapi dalam buku yang hampir setebal satu rim. Kebanyakan dari mereka sudah harus menggunakan alat bantu untuk penglihatannya, mengingat betapa letihnya mata itu harus dipaksa bekerja untuk kemudian merecoki otaknya dengan segala macam rumus ataupun kata-kata latin.

Persaingan antarsiswa sangat tinggi, tak jarang bahkan menumbuhkan ego mereka, tidak untuk bergaul satu sama lain kecuali dengan buku-buku mereka. Terkecuali bagi Jonghyun. Lelaki itu lebih suka mendengar musik dari Ipod nya. Terlahir dengan otak yang cerdas merupakan berkah. Tidak mahir dalam bidang perhitungan, bukan berarti ia bodoh dalam materi itu. Ia tidak pernah begitu menyukai matematika yang dianggapnya hanya menguras otaknya. Lagipula, dibanding bakat alami, hal paling utama yang menggerakkan seorang manusia adalah niat kan? Jika ia ingin, ia bisa mempelajari beberapa rumus yang selalu sulit untuknya dengan sesekali mendapat bantuan dari Jiyeon.

“Apa?”

Raut tanya yang bercampur dengan ekspresi seriusnya membuat Jonghyun tertawa, barulah Jiyeon memukul lengan lelaki itu berkali-kali hingga Jonghyun berhenti.

“Jangan berusaha terlalu keras begitu, otak juga punya batasnya untuk berpikir.”

“SAT tinggal beberapa bulan lagi, aku tidak boleh menyia-nyiakan waktuku atau salah satu dari mereka bisa mengambil kedudukanku,” mengendikkan dagunya mengarah pada siswa lain yang sedang berkonsentrasi dengan urusannya masing-masing, Jiyeon kemudian beralih kembali pada bukunya. Tidak lama, ketika matanya menemukan sosok yang baru saja datang dan menyampirkan tas ke mejanya.

“Pagi,” katanya ketika Jinki sudah duduk di kursinya. Jinki membalasnya dengan senyuman tipis pada Jiyeon, dan tentu pada Jonghyun.

“Kurasa moodnya sedang baik,” bisik Jonghyun, disanggupi Jiyeon segera. Di luar dugaannya, Jiyeon merapatkan kursinya pada meja Jonghyun. Tangannya menyelip masuk ke dalam saku blazernya, mengeluarkan stick berwarna merah muda. Jonghyun mendecak seketika Jiyeon memoles bibirnya dengan lipgloss itu.

“Apa ini terlalu tebal? Apa aku terlihat aneh?”

Sentilan di dahi imbalannya, Jiyeon merutuk segera.

“Hapus itu, atau bibirku yang akan menghapusnya.”

Membulatkan mata tidak percaya untuk kalimat yang baru saja didengarnya, Jiyeon lalu memukul keras lengan Jonghyun. Ia menarik kembali kursi ke tempatnya, ketika sebelumnya ia sempat mendengar cekikian Jonghyun.

****

Melajukan mobilnya dengan sangat pelan, sangat jauh di luar kebiasaannya. Key mengetukkan jari-jarinya pada setir, sesekali menyisir pinggiran jalan jika saja ada sesuatu yang bisa menarik perhatiannya. Ia perlu sesuatu untuk menghambat dirinya segera menginjakkan kaki di rumah, termasuk Taemin mungkin. Kemana saja anak itu seharian ini? ia muak untuk bersikap tidak peduli, padahal ia benar-benar khawatir jika sesuatu bisa saja terjadi pada anak itu.

Matanya juga sibuk melirik kertas yang terselip di dashboard, masih timbul keraguan untuk melihat alamat yang tertera di sana. Ia sering mengantar kelima ‘sahabat’ nya itu pulang, tapi tidak pernah sampai ke depan rumahnya. Tidak mencampuri urusan masing-masing, mengapa hal itu termasuk tidak mengetahui rumah mereka? Padahal, ia sendiri selalu butuh tempat untuk melarikan diri dari rumahnya untuk beberapa saat. Bukannya ia tidak memiliki teman yang lain. Ia punya banyak koneksi, dan bisa dibilang ia mengenal hampir setengah dari warga Seoul High School dari tahun pertama sampai tahun ketiga. Hanya ia dan Minho yang menempati kelas biasa jika dibandingkan keempat sahabat lainnya yang tidak pernah tergeser dari posisi kelas spesial.

Well, ia juga pernah menjadi kandidat penghuni kelas itu, tapi ia menolak mentah-mentah dengan terus menurunkan prestasinya dengan sengaja. Ia sudah sering melihat bagaimana Jiyeon dan Taemin selalu memprioritaskan buku-buku, dan ia tidak mau menjadi salah satu dari mereka. Ia lebih suka menikmati hidupnya sebagai siswa SMA biasa.

Kembali kepada kelima sahabatnya, ia ingin sekali menyelami seluk beluk kehidupan mereka. Ia tidak tahu apa yang membuat mereka begitu istimewa, tapi ia selalu merindukan saat-saat mereka berkumpul tatkala hari libur menjadikan ia harus kehilangan sehari santapan makan siang bersama. Maka diputuskannya untuk menepikan mobil, menarik ponselnya untuk segera menghubungi Jiyeon.

“Kau bolos? Minho bilang kau tidak masuk ke kelas.”

“Ya, bisa dibilang begitu,” jawabnya. Ia diam untuk beberapa saat.

“Aku khawatir pada Taemin,” akunya kemudian, “Salahkah menurutmu jika aku mendatangi rumahnya?”

“Andwe! Aku akan membunuhmu jika kau melakukannya, Kim Kibum,” suara di seberang terdengar marah, kemudian terganti dengan desahan, “Datanglah ke sekolah, kita makan bersama seperti biasanya,ya? Aku membuat spagetti kesukaanmu hari ini.”

Mencoba untuk tidak termakan rayuan Jiyeon, tapi akhirnya Key menyanggupinya ketika setelahnya Jiyeon mengatakan, “Aku mohon.”

Key membanting ponsel ke kursi yang kosong di sampingnya, setelah menahan napas panjang ia pun memutar setir kemudinya ke arah berlawanan. Tanpa sadar, jika jauh beberapa meter di depannya lelaki kurus lainnya menatap kosong ke arahnya. Lee Taemin.

****

“Kenapa tidak makan?”

Jiyeon menggeleng begitu Minho mengajukan pertanyaan padanya.

“Kau tidak sedang diet kan?”

Jiyeon menggeleng lagi, ia menyesap jus tomatnya sekali lagi. Dan barulah ia sadar Jonghyun, Key dan bahkan Jinki ikut menatapnya aneh.

“Kau sudah begitu kurus, jangan paksakan dirimu. Ayo makan ini.”

Jiyeon memajukan tangannya sebagai isyarat untuk menolak permintaan Key, membuat lelaki itu manyun.

“Kemudian, aku juga tidak akan makan.”

“Andwe, Minho-ya. Aku tidak terlalu lapar.”

”Jangan memaksanya. Ia akan makan jika lapar nanti,” sergah Jinki segera, tanpa menghentikan niatnya untuk mengakhiri makan siangnya. Minho menatap sebal pada Jinki, tapi ia menurut juga. Toh, perutnya tidak bisa kompromi soal makanan.

“Taemin tidak datang?”

Key dan Jiyeon langsung bertukar pandangan, membuat pengaju pertanyaan itu menghentikan suapannya dan menatap satu-persatu di antara mereka.

“Sepertinya ya, ada sesuatu yang kulewatkan?”

Tidak ada yang menjawab pertanyaan Jinki. Masing-masing memiliki pertanyaan di kepalanya.

“Ah ya, maafkan aku. Apa aku sudah melanggar aturan kita?”

“Tidak usah mengatakan apa-apa lagi, makan saja, oke?” Dan begitulah, Jonghyun mengakhiri kecanggungan dan menarik topik lain untuk mengalihkan pembicaraan mereka.

****

Kenangan. Sekelebat memori itu menyeruak masuk ke dalam pikirannya, seakan masih belum puas akan jejalan emosi yang masih mengendap di dalam benaknya. Ia tidak berusaha melawan, ataupun menghindar. Bukannya merasa takut, hanya saja terlalu banyak pertentangan dalam dirinya. Menomorsatukan nurani, atau justru tetap melampiaskan dendamnya kembali meski pada orang yang salah – dan ia sendiri pun tahu itu.

Baek Sujin. Ragu masih jelas membayanginya. Pantaskah gadis itu menjadi sarana berikut pelampiasannya, merenggut kepolosan gadis lugu itu hanya untuk kenikmatan sesaat demi mendapatkan luka yang lebih dalam lagi. Menemukan dirinya sudah merefleksikan kesempurnaan gen sang ayah. Dan betapa ia membencinya ketika pikirannya mulai melukiskan gambaran sang ibu yang masih terbaring di rumah sakit, sedang di sisi lain lelaki yang masih juga dihormati sebagai suaminya itu mungkin menghabiskan malamnya dengan perempuan yang lebih muda. Oh, betapa ia semakin muak pada ketidakpuasan torehan hidup yang harus dijalaninya.

Meninju keras dinding kamarnya, Minho menemukan persendian jari-jari tangannya ngilu. Tapi masih juga belum cukup untuk mengalihkan rasa sakit di hatinya. Dan ia memulai malamnya dengan tangis yang dibenamkan dalam bantalnya. Hingga merasa lebih baik, ia kembali menarik jurnal yang sempat terabaikan di sisi nakas.

Di antara background hitamnya, garis-garis putih yang tercetak menyatu, membentuk sebuah gambar dua dimensi yang cukup rumit. Bingung, itu yang pertama kali menghinggapinya ketika tanpa sengaja ia menemukan foto di antara lembaran buku milik Jiyeon. Butuh waktu lama baginya menekuri foto itu, hingga tertariklah sebuah kesimpulan yang cukup membuat jantungnya harus berdetak lebih kencang. Debaran yang sarat akan kemarahan, juga takut pada kenyataan yang diketahuinya sejak ditahunya arti dari foto rontgen itu.

“Anak Jiyeon…”

Ia berbisik pelan pada dirinya. Entah darimana ia menarik kesimpulan itu, setelah ia mengingat Jiyeon selalu terlihat mual saat gilirannya membagikan nasi. Panas tiba-tiba menjalari pipinya. Tamparan, tangis, marah, satu-persatu terkilas balik, seperti cuplikan film yang kembali terputar ulang. Ia tersenyum kecut, melemparkan hasil rontgen itu ke sembarang arah.

Panas seketika. Padahal ia sudah mengatur suhu AC kamarnya serendah mungkin. Apa gerangan yang membuat lelaki yang selalu tampak tenang itu hingga sekacau ini? Demi Tuhan, ia tidak mengerti apa yang membuatnya harus mengutuki foto itu. Juga masa lalu yang pernah terbentang dalam hidupnya. Juga penyesalan akan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya pada Jiyeon. Membuat yeoja itu mungkin akan kehilangan masa depannya.

Namun lebih dari itu. Terselip kekecewaan. Ia tidak punya hak untuk marah, mencela terlebih lagi. Hampir sama buruknya ia dengan Jiyeon mungkin, hanya saja ia tidak pernah membayangkan jika wajah polos itu hanyalah topeng untuk menutupi Jiyeon asli, yang hampir merupakan refleksi dirinya.

Seharusnya ia memilih untuk tidak membuka jurnal itu, dan segera memberikannya tadi pada Jiyeon. Tapi sayangnya, ia sudah tahu, dan semakin ingin tahu. Ini bukan urusannya, dan ia tidak berhak untuk mencampurinya. Apa yang harus dilakukannya? Berpura-pura tidak terjadi apa-apa dan mengembalikan jurnal Jiyeon begitu saja? Tapi hal paling utama yang mengganggu pikirannya, siapa ayah dari bayi itu?

****

Jonghyun sedang fokus pada layar komputer yang masih menyala, ketika tiba-tiba saja suasana hatinya menguar ke ambang jenuh. Tak lagi berselera melanjutkan revisi karya ilmiahnya, ia pun menenggelamkan dirinya dalam dekapan selimut hingga yang tampak hanyalah wajahnya yang menatap langit-langit kamar.

Ada puluhan bercak warna yang bertebaran di sana. Sedikit tidak masuk akal mungkin, tapi itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya bertahan untuk tidak segera hengkang dari rumah ini. Kenangan ketika ia berada di gendongan bahu ibunya seperti baru saja terjadi kemarin. Bagaimana ia harus merutuki kelemahannya saat itu, pendek tubuhnya. Ia berusaha meraih langit-langit kamarnya untuk memasang stiker bintang menyala itu, sebagai hadiah dari sang ibu untuk rekornya mempertahankan ranking satu umum berturut-turut hingga kelas tiga sekolah dasar.

Ibunya memberinya hadiah permintaan saat itu sebagai rasa bangganya, berjanji akan menuruti segala permintaan Jonghyun apapun itu. Termasuk robot Gundam yang sangat mahal karena ia sudah menyiapkan dana yang cukup. Tapi Jonghyun menolak hadiah sang ibu. Sebagai gantinya ia menginginkan stiker bintang yang akan menyala di kegelapan, dengan alasan sebagai pengganti rasa jenuhnya ketika menunggu sang ibu selalu pulang dini hari atau bahkan hanya akan datang keesokan paginya.

Mendadak ia marah. Mengutuki kepolosannya saat itu yang selalu percaya untuk ucapan sang ibu. Membencinya? Tidak sama sekali. Ia mencintai wanita itu lebih dari apapun, tapi ia selalu benci untuk  berpura-pura tidak tahu. Dan ketika ia masih terlibat dalam pertentangan batinnya, ia mendengar suara decit pintu. Pelan ia bangkit, mengintip dari sela pintu kamarnya kedatangan wanita dengan riasan mencolok itu masuk ke kamarnya, kemudian muncul lima menit setelahnya menghampiri Jonghyun yang sudah selesai menyiapkan hidangan makanan.

“Kau belum makan? Eomma sudah bilang pulang terlambat kan?”

Jonghyun mengangguk, menyodorkan  sumpit dan sendok dengan kedua tangannya sebagai bentuk rasa hormat.

“Ne, tapi makan sendirian rasanya sangat sepi.”

 Menunggu hingga sang ibu menyelesaikan makanannya, baru kemudian Jonghyun kembali membuka percakapan.

“Eomma, kau tahu aku mendapatkan beasiswa dari sekolah?”

“Ya sayang, bukannya kau memang selalu mendapatkannya dari sekolah dasar?”

Segera Jonghyun tersenyum, ia selalu suka tiap kali sang ibu memujinya.

“Ulang tahunku sudah dekat kan?”

“Ya, apa yang kau inginkan sebagai hadiah? Gitar? Ah, kudengar TVXQ akan mengandakan konser tunggal. Kau ingin tiketnya?”

Menggeleng sebagai jawabannya, Jonghyun masih diliputi ragu.

“Kenapa diam saja? Kau menginginkan sesuatu yang lain?”

“Berhentilah dari pekerjaanmu,” jawabnya segera, “Jangan mengotori tubuhmu lagi, eomma, aku mohon.”

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Jjong.”

Sorot tatapan elang tertuju padanya, satu hal yang diturunkan mutlak oleh sang ibu kepadanya.

“Aku tahu, eomma. Pekerjaanmu, bagaimana kau melakukannya… aku mohon, beasiswaku, aku punya uang saku yang cukup banyak dari sana. Setelah lulus, aku bisa mencari pekerja-“

Ucapan Jonghyun terhenti oleh isakannya, sedang sang ibu hanya diam menatap bagaimana air mata sudah membanjiri pipi putranya.

“Eomma tidak akan berhenti, Jjong. Kau tidak akan bekerja, dan melanjutkan sekolahmu ke Tokyo seperti impianmu. Eomma sedang mengusahakan biayanya, jadi…”

“Eomma!”

“Diamlah! Kau tahu mimpiku Jjong? Aku ingin menjadi orang besar, tapi otak bodohku harus menjadi kendalanya. Aku ditolak bekerja dimana-mana karena hanya lulusan sekolah tinggi. Dan kau, ingin menyia-nyiakan bakat itu? Tidak, Jjong. Eomma tidak akan membiarkannya. Percakapan kita ditutup sekarang.”

Dengan linangan air mata yang mengaburkan pandangannya, Jonghyun menatap tubuh mungil itu beranjak dari duduknya dan segera masuk ke kamarnya. Sebuah hantaman besar lagi baginya, ketika inti dari pembicaraan mereka harus terakhiri pada sesuatu yang dianggapnya suci itu. Impian, tapi mengapa rasanya begitu kosong?

****

Zona itu terlindungi sempurna dari sengatan cahaya mentari. Berterima kasihlah pada rimbunnya dedaunan itu, hingga mereka tidak perlu merasakan panas tepat di kepala mereka.

“Taemin mengundurkan diri dari sekolah,” buka Key, menghentikan gerakan tangan Jiyeon yang mulai membuka kotak bekal satu persatu.

“Aturan kita, jika Taemin keluar dari sekolah, maka…”

“Sebelumnya, kita makan dulu, oke?”

Jonghyun mengangguk ketika ucapannya terpotong oleh kalimat Jinki. Dan mereka pun melalui makan siang itu dalam keheningan. Tidak seperti biasanya, dan Key yang biasanya menawarkan lelucon untuk membangkitkan mood mereka, sepertinya sudah kehilangan taji.

“Seperti yang Taemin dulu katakan. Hubungan kita akan rusak ketika salah satunya memutuskan untuk meninggalkan sekolah ini.”

Kembali diam setelah Minho menghentikan kalimatnya dengan desahan berat. Mengapa dadanya terasa sesak? suasana mencekam pun melingkupi sekeliling mereka. Dan penyesalan untuk menyanggupi peraturan itu masing-masing menghampiri mereka.

“Aku keluar dari sekolah, tapi bukan berarti aku bisa melewatkan makan siang bersama kalian, kan?”

 Kalimat itu menjadikan sang pelontar sebagai pusat perhatian. Taemin tersenyum lebar, kemudian mengambil posisi duduk di antara Kibum dan Jonghyun. Masih juga berkecamuk pertanyaan di pikiran mereka, hingga Jiyeon kembali membuka percakapan.

“Selamat datang kembali, Lee Taemin.”

Tidak ada lagi ekspresi muram di wajah mereka. Tergantikan senyum hangat untuk sebuah kelegaan akan kekhawatiran runtuhnya ikatan persahabatan itu.

“Ini jurnalmu.”

Tergagap ketika Minho menyodorkan sebuah buku bersampul hijau itu, lalu kemudian Jiyeon melirik sekitarnya. Ada ketegangan menjalarinya. Terlebih mengingat selipan foto yang disisipkannya.

“Kita sahabat, kan?”

Jiyeon mengedipkan matanya berkali-kali, baru kemudian mengangguk setelah Minho tersenyum hangat padanya.

“Ya, kita sahabat.”

Mereka bukan hanya bagian dari siswa sekolah tinggi. Takdir telah merebut hal-hal yang harusnya mereka nikmati sebagai remaja. Tetapi, sebuah ikatan ini, telah memberi kekuatan khusus untuk mereka menjalani hari-hari mereka. Ke depannya, entah apa yang akan terjadi. Tapi hari ini, dan untuk hari berikutnya, mereka hanya berharap malam segera berlalu dan siang pun segera menjemput untuk pertemuan mereka di bawahnya rimbunnya dedaunan itu.

FIN

Endingnya maksa yaa, ah ciyus, saya emang benar” buntu kalo harus berurusan dengan yg namany ending. Dan ini dibuatnya keburu waktu, jadi mianhe untuk ketidakwajaran ceritanya *bow.Terhitung setengah tahun ya sejak publish ff Because were together , mianhe sequel ini lama. Mood sama waktu baru dapat sekarang hehe.

Then, sampai jumpa d next ff *waving

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

28 thoughts on “The Rule

  1. hhh..
    Ikutan puyeng nih gegara urusan mereka..
    Jujur, aku agak bingung pas baca.. Karena,,, sbagian besar cerita sbelumnya aku lupa..#waks
    yg ku ingat, mrk berenam bersahabat..
    Ditunggu karya berikutnya, ya..

  2. Huaah…author-nim bener-bener bisa mengaduk-aduk emosi pembaca. Bener-bener dibikin naik turun ini emosinya. Tapi kalau nggak teliti bacanya bisa bingung abisnya perpindahan dari karakter satu ke karakter lain cepet sih.
    Ditunggu next ff-nya. Author-nim jjang!!

  3. hai hai boram ^^
    Aku emang blm baca cerita sebelum2nya, eh, atau lupa ceritanya ya.
    tp masih ngerti kok yg ini.

    Hmmm, oke jg ya hubungan teman sekelompok macem itu, ga saling mencampuri. Tp, itu mah namany bukan sahabat kali ya…

    Cerita ini menarik krn tiap cast punya konflik,hmmm… meskipun jg agak simpang siur konflik mana yg sebenernya jd fokus. Mau bahas yg taemin, tp kurang berasa jg, hehe…
    Eh atau di ff berikutnya ada lanjutan kisah ini? Tiap ff punya konflik utama yg beda. Gitu ya?

    Ada beberapa kalimatmu yg agak rancu, tp ngerti sih setelah dibaca lagi bagian itunya. Eh tp yg ini:
    Aku ditolak bekerja dimana-mana karena hanya lulusan sekolah tingg

    Sekolah tinggi itu maksudnya SMA ya? Kalo di ido mah kan sekolah tinggi itu universitas bukan sih?

    Nice ff, Boram ^^
    Terus berkarya yaaa

    1. halo Bibib *waving

      iy. ini semacam chronicles. kan stand alone. jd, biarpun gak baca part sebelumny jg bakalan ngerti kok.

      aneh ya? tp sy mau jadiin agak beda gitu. mau ngasih persepsi kalo sahabat it gak mesti tau maslh masing” *apelah

      d tiap ff bakalan ad konflik utamany. semacam GMBHM it, fokusny sm Jinki. nanti ff lain jelasin maslh personel shinee lainny.

      sekolah tinggi, juga rada bingung. soalny d korea jg namany kan bukan SMA, jadiny high school it ditranslate jd sekolah tinggi ajahaha edan

      oke, makasih yaaa Bib udah mau baca🙂

  4. aaah, saya ingat cerita ttg Jinki sebelumnya, tapi cerita member lain n Jiyeon lupa, tp saya bisa nangkep jalan ceritanya…
    Sayang ya, karena peraturan yang mereka bikin malah buat perasaan suka mereka tidak bisa tersampaikan…
    Tapi menurut saya memang lebih sulit mencari sahabat dari pada pacar ya….
    Ok Boram, ditunggu karya lainnya ya…🙂

    1. soalny ff asliny publishny setengh tahun yg lalu, lama skali yak haha

      ah, seneng banget nih Lydia kamu bs nangkep pesan tersirat dlm cerita ini. makasih ya udah mampir dan mau baca *bow

  5. Oww, feelnya dapet bgt.
    Taemin dikeluarin? Oalah…

    Nemu typo dikit sih. Tapi g pengaruh kok. Narasinya jelas juga ngaduk2 emosi nih. Aku hampir nangis waktu baca konfliknya jongtae.

    Ditunggu karya berikutnya eonn :3

  6. Oh gosh! Segal hal mengenai ff ini bikin aku koma dan sekarat. Great!

    Gaya penulisan, pemilihan kata, genre, dan juga konflik berhasil bikin aku nyesek malem2 wlupun aku komennya udah pagi gini.

    Aku benci setiap konflik dri stiap tokoh tp aku suka bagaimana author-ssi memadukannya dlm kta ‘Persahabatan’.

    Keep writing!

  7. aku masih belum ngerti bagian jiyeon kenapa. sedih banget taemin dikeluarin, eomma jonghyun oppa kupu2 malam gitu ya. jinki oppa masih galau aja. next

  8. ya ampun, miris banget nasib suamiku. udah jadi gigolo, dikeluarin pula dari sekolah. si boram eon kalau bikin ff emang ga nangung2 tragis.y.
    nunggu sampai setengah tahun pun terbayar kalau ff.y sekeren ini eon
    next deh

  9. Waks, kaget ternyata komenku gak masuk!

    Aku udah baca semuanya Boraaamm,,, sama kyk bibib, agak bingung sm fokus masalahnya sm ke siapa. Tg Because We’re Together tu kyknya lebih rapi ngemasnya,

    Hehe, mian ya Boram…
    *wink*
    sekuel yg selanjutnya buat konflik siapa?

    1. nunaaaa~
      iyanih, bikinny keburu bget, jdny cuma review sekali. duh, maaf ya nuna udah bikin bingung -,-
      sequelny bakaln lama lgi, itpun kalo nuna msh ingt sm ff ni, haha
      eh tp thanks loh udah mau baca n ninggalin jejak🙂

  10. Good good.
    Cuma terlalu banyak masalah, dan blom ada masalah yang slesai. Jdi selalu ad rasa penasaran. Next partnya apa judulnya ?

  11. Mau nangis , marah , kesian dll di aduk jadi satu. Tapi emg sempet ada yg ga ngerti juga tapi ngerti jg ajhirnya :p daebak deh🙂 ♥

  12. Menguras emosi…😦
    aq baru baca yg Cause We’re Together ama yg ini…😦

    Apa…? Jiyeon hamil… Siapa ayah tuhh Bayi…? Duhh pnsaran…
    Minho masih jadi Napeun Namja… Dy suka Jiyeon yahh…?
    Aigo, ibu’nya Jjong oppa Kupu2 malam yahh..?
    Bngung masalh Key… Jgn2 dy anak Broken Home…😦
    Taeminie nasib mu bikin gue miris…😦
    ahhh aq persahabtan mreka…🙂

    d’tunggu kelnjutan nihh FF… Jgn lama2 yahh thor…😉

  13. Eh??? Jiyeon hamil???
    Bukankah kalo Jiyeon suka sama Jinki
    dan Minho suka sama Jiyeon, berarti mereka melanggar
    perjanjian pertemanan itu, kan?
    Biarin, deh, sekalian batal…
    karena Taemin butuh bantuan…
    Dia sampe mngundurkan diri dari sekolah setelah
    dipanggil kepala sekolah..
    pasti karena ada sesuatu, kan…?

    Nih cerita bakal dilanjut, kan, Boram…??
    Kisah masing2 karakternya masih gantung, nih…
    Jangan kelamaan, ya….

  14. Aigooooo bener2 complicated bgt yaa…
    Ni FF bener2 memainkan emosi ∂ķΰ… Walaupun baca nya butuh konsentrasi agak keras sihh kkkkkk

    Tapi so far ∂ķΰ suka FF ini😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s