Toy Store – Part 2

Toy Store [Part 2]

Sequel of House Next Door

Main Cast: Kim Jonghyun, Lee Jinki, Lee Taemin

Support Cast: Choi Minho, Kim Kibum

Length: Sequel

Genre: AU, Friendship, Horror, Mystery

Rating: General

~~~~~~~~

Jonghyun mengeratkan pegangan pada gagang payung, lalu mendongakkan kepala. Di atasnya, segulung besar awan kelabu meregang, ujung-ujungnya serupa dengan serabut kapas yang kusam. Sebentar lagi hujan pasti kembali luruh, padahal baru saja tetes terakhir mencolek permukaan luar payung Jonghyun. Angin beraroma tanah basah berhembus dari samping kanan; tiupannya cukup untuk melambai-lambaikan selebaran yang ditempel asal di dinding-dinding pertokoan yang berjajar rapat di tepi trotoar.

Sejauh mata memandang, tidak ada manusia yang melangkah –bahkan mobil pun tak terlihat polahnya. Satu-satunya hal yang menjadi penanda tempat Jonghyun berjalan bukanlah kota hantu hanya sayup-sayup alunan musik bernada sendu di kafe ujung jalan sana. Mungkin orang-orang berpikir daripada merendam sepatu dalam kubangan air, lebih baik rehat sejenak dalam lekukan kursi ditemani secangkir coklat panas. Mungkin. Karena Jonghyun tidak berpikiran seperti itu.

Anak lelaki itu melangkah lebar-lebar hingga isi ranselnya ikut berguncang,  satu tangannya yang menganggur diselipkan ke dalam kantong jaket birunya. Bibirnya terkatup rapat menahan tusukan dingin yang ganjil dari angin musim gugur. Padahal masih awal bulan Oktober, tapi cuaca sudah tidak main-main menjerumuskan air raksa dalam termometer hingga menunjuk satu digit celcius saja. Barangkali matahari terlalu cepat bergeser ke selatan –entahlah. Jonghyun hanya perlu cepat-cepat tiba di rumah dan menikmati kudapan hangat yang pasti sudah disiapkan ibunya.

Namun langkahnya melambat di perempatan jalan. Bukan karena lampu penyeberangan memerah, bukan pula karena semerbak roti dari kafe yang sekarang berada di sampingnya begitu merangsang. Matanya terpancang pada bangunan yang sekarang berada di seberang jalan. Bangunan dua lantai dengan atap lancip dan jendela-jendela tinggi berterali yang acap ditemui di Eropa Barat. Megah, tapi sadar umur untuk tidak tampil mencolok di antara bangunan-bangunan kotak minimalis yang mengepungnya.

Bulu kuduk Jonghyun serempak berdiri, pun seluruh kulit yang sensitif terhadap hal-hal berbau mistis. Itu adalah toko mainan yang ia lihat bersama Jinki tempo hari; suatu tempat misterius yang sempat mereka rundingkan mengapa harus ditutup dengan meninggalkan beberapa buah mainan yang masih berkondisi prima di dalamnya. Jonghyun ingat betul Jinki raib dua hari setelahnya.

Lampu berganti menjadi hijau; Jonghyun menapaki zebra cross dengan gontai. Sesuai perkiraan, rinai-rinai hujan kembali mengisi kelengangan troposfer. Awalnya serupa gelitikan jemari lentik seorang wanita, dua detik kemudian menjelma menjadi serbuan milyaran jarum sedingin es. Sebagai satu-satunya pengguna jalan, Jonghyun menggerutu pelan. Jika sudah begini tak mungkin melanjutkan perjalanan tanpa basah kuyup meski sudah menggunakan payung. Alhasil dia berlari-lari kecil menghampiri kanopi toko mainan dua meter di depannya. Tidak ada pilihan lain.

Jonghyun mengatur napas sejenak setelah seluruh anggota tubuhnya selamat dari terkaman hujan deras. Ia merapatkan kerangka payung menjadi satu dan menyandarkannya ke dinding berbatu kelabu. Masih tidak ada orang sejauh mata memandang –logis, karena sekarang hujan mengganas dan angin meradang.

“Oh, seharusnya aku menunggu di sekolah saja,” keluhnya pelan. Kedua tangan ia simpan rapi di belakang punggung sementara kepalanya menyandar pada kaca jendela yang terasa amat dingin dan sedikit lembab. Untuk sesaat yang terdengar hanya gemuruh hujan dan deru napas satu-satu miliknya, kemudian –ketika telinganya sudah cukup beradaptasi dengan bebunyian itu– suara lain menyerbu masuk. Hampir sama seperti buliran air yang menimpa kanopi, namun suara itu terdengar dari balik kepala Jonghyun.

Seseorang sedang mengetuk jendela dari dalam.

Jonghyun meneguk ludah keras-keras. Semakin didengarkan, semakin jelas pula suara itu –ia bahkan bisa membayangkan sebentuk telunjuk berkuku pendek secara teratur beradu dengan permukaan kaca. Dibanding memanggil, ketukan itu lebih seperti perwujudan ketidaksabaran –seperti orang yang sudah lama menunggu dan memainkan jemari di atas meja kaca.

Antara berbalik atau tidak. Antara lari tunggang-langgang atau diam di tempat. Pikiran Jonghyun berkecamuk. Ia tentu tak ingin mendapat mimpi buruk tiap malam jika yang berada di belakangnya adalah sesuatu yang mengerikan, tapi dia mana bisa tahu benda apa itu jika tidak melihatnya? Bagaimana jika yang di belakangnya hanyalah manusia biasa –orang normal yang kasihan padanya dan memintanya berteduh di dalam?

Napas Jonghyun menderu cepat dan panas, kontras dengan udara mendekati titik beku yang mencengkeram kuat –dan makin cepat setelah satu pilihan melekat dalam otaknya. Ia akan berbalik.

Sepatu kets putih yang membalut kakinya bergeser maju beberapa senti, kemudian dengan kemantapan mengejutkan mengambil satu langkah memutar yang cukup cepat. Kepalanya yang sedari tadi tertunduk ia angkat perlahan dan memfokuskan pada apapun di hadapannya. Seketika itu pula jantung Jonghyun serasa akan meledak.

Sesosok yang tak lagi asing berdiri di depan Jonghyun –kaca jendela yang tebal dan bersaput debu tidak menghalangi otak Jonghyun untuk memindai sosok itu secara akurat. Jangkung, kurus dan kaku seperti pohon. Rambut hitam kusam pendek yang ikal bertengger di atas kepalanya.

Tak ada hidung, tak ada bibir.

Hanya sepasang mata yang besar, menganga layaknya dua pusaran raksasa. Hitam pekat.

Tempat seharusnya bibir berada terganti oleh robekan kulit sembarangan sampai pipi, sudut-sudutnya dijahit sembarangan oleh benang hitam tebal hingga hanya menyisakan celah kecil dimana lidah merah pucat terjulur-julur keluar dengan canggung.

Barulah Jonghyun menyadari bahwa sedari tadi ia tidak mendengar ketukan di jendela, melainkan decak keras lidah itu.

Dan ia terlambat menyadari satu tangan lebar sudah terulur dari belakangnya.

~~~

“Jonghyun hyeong belum pulang?”

Taemin memandang keluar jendela sedangkan kedua tangannya memegangi gagang telepon di telinga kanan. Penuturan ibu Jonghyun bahwa kakak kelasnya itu akan terlambat pulang karena harus mengerjakan tugas kelompok ia dengarkan setengah hati. Tak bisa disangkal Taemin merasa kecewa lantaran tak bisa mengutarakan hipotesisnya pada Jonghyun.

“Maaf, Sayang. Kau bisa meneleponnya nanti.”

“Oh…” ujar Taemin pelan, “kalau begitu aku akan menelepon lagi nanti. Selamat sore, Ajumma.”

“Selamat sore, Taemin.”

Hujan menyisakan tirai setipis benang yang lembut di luar sana. Setelah hujan angin selama kurang lebih lima belas menit, akhirnya amukan langit mereda. Mungkin lelah, mungkin juga cukup puas membagikan kerisauannya pada seisi semesta. Cahaya matahari bahkan sudah berani menampakkan diri meski masih malu-malu.

Gagang telepon putih dikembalikan Taemin ke tempatnya, lantas anak tersebut berjalan gontai mengitari meja makan. Ia menyukai dapur merangkap ruang makannya karena disinilah matahari dapat menerobos lewat jendela lebar secara leluasa, berbeda dengan jendela-jendela di ruang lain yang sempit namun tinggi. Selain itu kebun mini kesayangan ibunya terlihat jelas dari sini.

Taemin duduk di salah kursi yang menghadap jendela dan melipat lengan di atas meja. Matanya mengarah pada puncak atap pondok seberang yang lancip, dan pikirannya terbawa serta ke sana. Ia masih ingat dengan amat jelas bagaimana mulutnya dibekap dua tangan kisut dan licin, kemudian diseret ke ruang bawah tanah. Mengerikan.

“Taemin? Kau di sana?”

Nostalgia Taemin terhenti sampai situ. Ia menoleh ke arah pintu dan melihat ibunya melongokkan kepala ke dalam; kedua tangannya memeluk kantong belanja raksasa. Wanita itu tersenyum dan melangkah masuk. Masih dalam pengamatan Taemin ia meletakkan kantong kertas itu di atas konter.

“Kupikir kau tidur, tapi di kamar tidak ada. Tadi Eomma membelikan es krim untukmu, juga ada beberapa cemilan. Kau pasti –oh, astaga!” Ibu Taemin menghentikan sejenak aktivitas membongkar belanjaannya, sorot mata terkejut terpancar jelas di sana. “Aku lupa!” keluhnya pelan.

Wanita itu menyabet dompet di atas meja dan membuka risletingnya dengan panik. Sejumlah uang ia keluarkan dari dalamnya. “Eomma tadi lupa membawa dompet, syukurlah ada pria baik hati yang bersedia meminjamkan uang,” ia bercerita tanpa diminta.

Taemin mengalihkan tatapan dari boks es krim yang sudah ada di tangannya. “Lalu dimana paman itu sekarang?”

“Kebetulan rumahnya dekat, jadi Eomma memintanya untuk singgah disini sementara aku mengambilkan uang.” Ibu Taemin menyodorkan lipatan beberapa lembar uang pada Taemin. “Ini, berikan pada paman itu dan ucapkan terima kasih –dia ada di ruang tamu.”

Wajah Taemin memberengut, tapi ia tidak menolak permintaan itu. Dengan langkah terseret ia keluar dari dapur, melewati ruang duduk, lalu melangkah ke dalam ruang tamu. Seorang pria tua duduk di sofa paling dekat dengan pintu, ia memandang sendu suasana gerimis di luar.

“Um…” Taemin mencoba menarik perhatian lewat gumaman pelan. Benar saja, pria tua yang mungkin seumuran dengan kakeknya itu segera menoleh.

“Halo,” sapa si pria ramah, wajahnya makin berkerut ketika mengguratkan senyum hangat. Sepasang mata teduh mengamati Taemin secara intens namun penuh kesabaran.

“Uh… ini uang Anda, Paman,” kata Taemin setengah bergumam. Ia maju beberapa langkah agar uluran tangannya sampai pada pria itu. “Dan Eomma bilang terima kasih banyak,” sambungnya dilanjutkan membungkuk kecil.

Pria itu tergelak; suaranya menyenangkan. “Sebenarnya aku sudah bilang tidak usah pada ibumu, tapi terima kasih kembali, Anak Manis.”

Taemin tersipu. “Sama-sama.”

“Ah, karena hujan sudah reda, aku akan pulang. Sampaikan salam pada ibumu, ya,” ujar pria itu ceria. Ternyata meski ringkih, ia masih dapat berdiri dengan luwes tanpa kesulitan. Lantas ia mengenakan mantel coklat panjang dan membelasakkan topi bundar ke kepala yang ditumbuhi rambut-rambut tipis berwarna putih.

“Tentu. Sampai jumpa, Paman,” balas Taemin. Sudah diputuskan, ia menyukai pria tua ini.

Si pria memberikan senyum perpisahan dan melambaikan sebelah tangan pada Taemin. Taemin mengantarnya ke pintu, balas melambaikan tangan, kemudian memandangi punggungnya yang berjalan tegap melintasi pekarangan. Jarak mereka terpisah sekitar tiga meter; Taemin masih dapat mendengar apa yang digumamkan pria itu.

“Kang Hyeorin, Kang Hyeorin. Wanita cantik, rambut indah. Oh,  sungguh jelita …”

Pria yang amat ceria, simpul Taemin, ia bahkan bersenandung meski berjalan sendirian.

~~~

“Kang Hyeorin, Kang Hyeorin. Wanita cantik, rambut indah. Oh,  sungguh jelita …”

Jonghyun mengerang pelan, lalu bersin beberapa kali. Hanya sesaat setelah sadar, hidungnya sudah menghirup sevolume besar debu. Perlahan ia membuka mata. Gelap. Dimanakah ini?

“Kang Hyeorin, Kang Hyeorin. Wanita cantik, rambut indah. Oh,  sungguh jelita …”

Anak itu mengerjapkan mata sekali. Benarkah apa yang ia dengar ini? Suaranya menggema, namun teredam, seperti mendengar suara dari speaker berkualitas rendahan. Ia menggulingkan tubuh ke samping, menyadari dirinya tengah berbaring di atas lantai kayu lapuk beraroma jamur. Tangan kanan Jonghyun terentang ke depan. Jaring laba-laba.

Oh, dimanakah ini? Jam berapa sekarang? Bagaimana ia bisa disini? Jonghyun mulai terguncang oleh rasa panik. Ia menumpukan kedua tangan di lantai, lantas melompat berdiri. Entah datang dari mana sebidang papan keras menumbuk puncak kepalanya ketika ia nyaris bisa menjejakkan kaki leluasa di lantai.

Indera pengelihatannya tidak bisa difungsikan; hanya indera peraba yang dapat ia andalkan untuk menentukan posisi. Jonghyun menggapai-gapai ke seluruh arah, menendang-nendang udara, berputar-putar tak menentu. Satu hal yang pasti adalah, sebidang papan tak hanya ada di atas kepalanya, melainkan semua wilayah –yang berarti dua kemungkinan: ia berada di ruang bawah tanah atau loteng.

Bukan kegelapan saja yang membuat Jonghyun panik, tapi juga kelembaban udara yang amat tinggi yang menyebabkan ia khawatir oksigen bakal cepat habis. Pengap, penuh debu, jelas bukan kondisi kondusif bagi seseorang untuk tinggal di dalam sini.

Jonghyun harus membungkuk untuk dapat bergerak leluasa. Kemanapun mata ia coba arahkan, hanya kegelapan pekat yang terbentang sampai-sampai ia khawatir telah terlempar ke dunia lain. Dalam hati ia menghitung berapa langkah yang sudah ia tempuh sementara tangannya terangkat ke atas, menyusuri tekstur kasar langit-langit kayu.

Terhitung sekitar dua puluh langkah sebelum ujung sepatu ketsnya membentur sesuatu yang keras. Tangan Jonghyun merabanya. Dinding; celah-celah sempit dan kasar antar tumpukan bata meyakinkan perkiraan Jonghyun. Dinding yang ia hadapi terasa dingin dan sedikit basah –artinya tembok itu menghadap ke dunia luar.

“Berarti ada jalan keluar,” engah Jonghyun sedikit berbisik. Tiap hembusan napasnya yang berinterval sempit menerbangkan butiran mikroskopis debu-debu yang bergentayangan di sekitarnya. Ia mengganti pegangan pada dinding, menimang-nimang ke arah mana ia harus berjalan, kemudian memutuskan melangkah ke kanan.

“Kang Hyeorin, Kang Hyeorin. Wanita cantik, rambut indah. Oh,  sungguh jelita …”

Langkah Jonghyun terhenti seketika. Dari tempatnya berdiri, suara itu terdengar cukup jelas dan keras. Kedengarannya sama seperti ketika ia menguping pembicaraan ibunya di lantai bawah sementara ia merunduk di anak tangga teratas. Jonghyun melipat kakinya satu per satu ke lantai menjadi posisi bersimpuh, lalu merendahkan kepala hingga dapat merasakan kayu lunak di telinganya.

Hening. Sejenak kemudian terdengar keriut logam berkarat –seperti kursi putar yang engselnya sudah tua– dan gemelotak peralatan plastik. Ada debaman lirih dari jauh disusul empat langkah terseret. Hening lagi. Sekonyong-konyong gemerincing logam, gedoran tanpa irama pasti, dan jeritan tertahan terekam dalam telinga Jonghyun. Semuanya membentuk teror tersendiri bagi Jonghyun.

“Kang Hyeorin, Kang Hyeorin. Lihatlah, anak kita!”

“Lepaskan aku!!”

Jonghyun terkesiap keras mendengar jeritan penuh kengerian tersebut. Sayangnya itu menyebabkan gelombang debu raksasa menyerobot masuk ke dalam hidung dan mulutnya.  Tanpa ampun ia terbatuk-batuk keras dan tak bisa ditahan. Ia mencoba berdiri untuk menghindari selimut debu di lantai, namun terjadi miskalkulasi antara kekuatan dan arah bangkitnya hingga debuk keras terdengar kala ia menabrak langit-langit.

Jonghyun meringis kesakitan. Ia kembali bersimpuh di lantai, berusaha mendengarkan lagi sementara kedua tangannya sibuk mengusap-usap puncak kepala. Sejenak ia berkonsentrasi, lalu jantungnya berhenti berdetak sesaat.

Sudah tidak ada suara di bawah.

“Aku dengar suara dari atas.”

Kerongkongan Jonghyun meneguk ludah susah-payah. Siapapun yang ada di bawah –entah orang baik atau buruk– telah menyadari keberadaannya. Ia merapatkan diri pada dinding, memeluk lutut rapat-rapat seolah dengan begitu ia akan menjadi sekecil tikus got.

“Siapa, ya, itu?”

“Apa aku harus ke atas?”

Jantung Jonghyun berdebar amat kencang hingga dadanya sesak. Yang berbicara adalah seorang lelaki dewasa, suaranya berat dan serak. Nadanya ceria, namun terdengar seperti ancaman predator paling berbahaya di telinga Jonghyun.

Hening lagi, digantikan desau angin sayup-sayup di luar yang amat mencekam. Mendadak Jonghyun merasa amat kedinginan meski ia sudah mengenakan jaket tebal anti-air. Napasnya menderu kencang, sahut-menyahut dengan denyut jantungnya yang cepat dan intimidatif di telinganya sendiri.

Detik menjelma menjadi menit. Jonghyun menghitung dalam hati, dan yakin telah lebih dari lima menit terlewat tanpa ada suara maupun rupa di sekitarnya. Ia menoleh ke kanan-kiri –meski tidak bisa melihat apa-apa– kemudian amat perlahan menyelonjorkan kedua kaki. Hembusan napas yang sedikit ia tahan sedari tadi, kini diloloskan dengan sedikit lega.

“Syukurlah,” ia berbisik lirih pada dirinya sendiri. “Kupikir dia akan benar-benar naik.”

Jonghyun menggoyang-goyangkan pergelangan kaki yang kebas, lalu kaki kirinya menyentuh sesuatu yang keras dan hangat. Ia menahan napas, perlahan mendongakkan kepala.

Dua sorot biru pucat balas menatap mata Jonghyun.

~~~

“Paman baik hati itu sudah pulang, Taemin?”

“Sudah,” jawab Taemin singkat dan menutup pintu yang kenopnya masih ia pegang erat-erat.

“Oh, padahal aku sudah menyiapkan teh hangat dan biskuit,” sesal ibu Taemin seraya meletakkan nampan berisi dua cangkir yang permukaannya mengepul dan sepiring biskuit gandum di atas meja. Tapi sedetik kemudian senyumnya mengembang. “Kalau begitu untuk kita saja.”

Taemin menyengir senang dan segera duduk di sebelah sang ibu. Ia mengambil salah satu cangkir, meniup-niup cairan teh yang panas, lalu menyeruput sedikit. Kehangatan menyenangkan menyebar ke seluruh tubuhnya. Ibunya juga melakukan hal yang sama.

Tangan kanan Taemin terulur untuk meraih sekeping biskuit, namun selembar foto kusam di atas meja lebih menarik perhatiannya. Dengan hati-hati ia mengembalikan cangkir ke tatakan, meraih foto itu, kemudian mengamatinya.

“Apa itu, Taemin?”

“Entahlah, mungkin paman itu tidak sengaja meninggalkannya,” jawab Taemin. Ia ingat dengan jelas tidak ada benda apapun di atas meja –ataupun di bawah taplak– saat ia pulang sekolah satu jam lalu. Tidak ada orang di rumah saat itu hingga ibunya dan si pria baik hati tiba setengah jam sesudahnya.

Ada empat orang di dalam foto itu. Satu pria dewasa, satu wanita dewasa, dan dua anak kecil. Latar belakang foto itu adalah rak-rak kayu bertingkat dengan segala macam mainan berjajar rapi di dalamnya.

Jadi seperti ini rupa paman itu ketika masih muda, pikir Taemin tercenung. Iseng saja ia membalik foto itu dan menemukan empat kata berbahasa Inggris ditulis di sana: at our Toy Store.

..::To be Continued::..

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

 

48 thoughts on “Toy Store – Part 2”

  1. Ini keren parah! Sukses bikin aku ikut masuk ke dalem ceritanya, berasa ngalamin sendiri. Sukses juga bikin aku ketakutan setengah mati -_- *lebay*
    Yang kurang cuma satu, Author-nim. Itu ada bacaan to be continued nya -.-
    Aaaa ditunggu banget nih part 3 nya! Keep writing Author zaKy! ^^/

  2. Akhirnya dipost jg..

    Hwaaaa jjong disekap jg eottkohae??
    Astagaaa Taeminnie.. dia itu bkn paman baik hati, tp paman gila.. aigo gmana nasib Jjong dan Jinki..
    Aku penasaran knp paman itu mngubah keluarganya jd mahkluk mengerikan? kang hyeorin? istrinya yaa??
    lanjuttt!!!

  3. Huaaaa…….
    Paman baik hati itu yg nyulik Jong ma Jinki???sereeem…….

    Grrr…. Berarti,,, penyelamatnya si Baby Tae nih…

    Eh, tapi2, knp si Paman itu ninggalin clue wat Taemin?

    1. Entah Taemin bisa nyelamatin mereka apa enggak ._.

      Itu bukan clue, itu foto /disambit/. Makasih sudah komen. Tunggu ya ^^

  4. Akhirnya udah part 2 ….
    Apa tadi jonghyun di toko kakek itu ya?
    Btw jinki mana?? Huaaa jangan sampe di bnuh ama kakek sarap itu u.u

    Makin pnasaran thour.. aku kagum bgt dg penulisannya yang…..luar biasa bgt. Hebat! Hebat!

  5. Waaa!!! Jjong disekap!!! Jinki gimna? Wah, ketauan siapa yg punya toy storenya. Pasti si paman baik hati itu…

    Makin penasaran nih. Ditunggu next chapnya ya!! Keren, ide ceritanya… Aku suka horor ginian, keke 🙂

  6. Aaaaaa penasaraaannn!!
    Nasib Jinki sm Jonghyun gimanaaa??
    Terus si Taemin disini gatau kenapa imut banget perasaan wkw pengen dimakan(?)
    Si paman aneh(?)Itu kenapa ninggalin foto ke taemin ya? Haa penasaran penasaraaan! Cepet dilanjut yaa! Hihihi

  7. Baru baca toy store chapter 1 setelah liat ada yang chapter 2. Demi apapun ini horror-nya berasa banget meskipun bacanya siang-siang gini. Serasa baca goosebump/fear street. Itu kakek tua itu jangan-jangan mau ngambil taemin juga? Huoo….

  8. perasaanku aja atau bukan ya Zaky, part ini agak pendek..
    klo kakek itu di rumah Taemin, si Jjong diculik sama anak2nya kakek itu ya? ngebayangin lagu yang di nyanyiin kakek itu seperti lagu buat manggil hantu… hiyyy, sereeem.. 😀 Ok Zaky, ditunggu part selanjutnya 🙂

  9. Akhirnya penantian terbalas
    JongHyun gimana masuknya, awalnya dia di luar. Tiba-tiba udah ada di dalam.
    Paman baik hati itu gila atau bisa juga stress.
    Betapa manisnya TaeMin kecil yang aku bayangin.
    Part JinKi, ga ada di chapter ini.
    Yang penting dilanjut ama author.
    Lanjutin author, Semangat (งˆ▽ˆ)ง

  10. huh..hah… 😀
    akhirnya si jonghyun masuk juga kerumah itu… *lho?
    semoga dy bisa nyelametinn jinki…
    itu…berarti di dlm toy store ada 2 org ya thor? satunya si kakek sm si serem. 😀 aku bayangin yg td di balik jendela itu hntu di film coming soon 😀 bikin muntah >,<
    oh ya thor…menurutku pendiskripsiannya krg serem…krg bikin jantungan… :-O. apalagi yg wktu jjong di tangkep… hehehe…
    tp overall bgus thor…apalagi ntar klo taemin ikut nyemplung…psti tmbh rameeeeee. 😀
    ohya thor chapter berikutnya serem2nya di tmbh y thor. ^O^

    1. Kurang serem? Apa daya, sebenernya aku nggak terlalu suka hal-hal seram semacam itu -_- tapi maaf yaa, semoga di kemudian hari bisa lebih memuaskan (?). Nyehehe.

      Makasih sudah komeen ^^

  11. omoooooooo! itu tadi siapa orang yang bertampang mengerikan? bukan jinki kan? bukan kan? Jonghyun kena juga, lalu siapa lagi? Taemin? kayaknya. trus siapakah si kakek tua yang sepertinya punya penyakit kejiwaan itu? aku punya feeling aneh yang ada hubungannya dengan Kibum. ya liat aja deh nanti.

    maaf nih ya, kritik lagi.
    disini > di sini
    dimana > di mana

    ada pertanyaan nih, kenapa untuk pemisah dua kalimat zakey pake titik koma (;) apa ada alasan khusus? penggunaan titik koma itu digunakan untuk memisahkan kalimat setara di dalam kalimat majemuk setara. masalahnya apa semua kalimat yang menggunakannya memenuhi syarat itu?

    partikel ‘pun’ ditulis terpisah, tetapi ada beberapa yang tidak seperti ‘walaupun’. tadi aku baca ada kata ‘dimanapun’. itu salah. itu typo yang tidak di sengaja atau memang tidak tahu?

    aku bener-bener minta maaf, karena nulis banyak kritikan. aku cuma orang yang baru belajar ff beberapa bulan. aku suka sama narasinya zakey yang bagus dan keren ini, sayang kalo masih belum sempurna dikarenakan typo. and thx karena kritik aku yang kemarin ternyata emang benar-benar di pake, bukan numpang lewat di komen.
    semoga part lanjutannya nggak lama #amien.

    1. Huuooo… makasih banyaak banget sudah mengkritik. Jujur aja nih, aku sebenernya belajar nulis secara otodidak. Apa yang ada di hati (?) dituangkan ke MS Word. Tanda baca dll itu hasil contekan novel-novel yang pernah aku baca. Jadi secara singkat… aku nggak berdasar ;__; Maaf kalo bikin tidak nyaman ,_, Tapi aku suka banget kalo ada yang beri info semacam ini. Yuhuu, makasih banyak ^^

      Mungkin lain kali sebelum dipublish Hana mau memeriksa penggunaan tanda baca yang ada? Haha. Untuk ketiga kali, makasih sudah mengkritik ya 🙂

      Yap, semoga tidak lama part selanjutnya 😀

      1. aku juga belajar otodidak juga kok.Yah, aku sih lebih suka aja searching tentang EYD dan baca-baca buku bahasa indo.
        nggak nyaman? # apanya. suka kok.
        memeriksa? #nggak usahlah. saya kan bukan editor. saya jug amasih belajar tentang eyd. jadi masih banyak banget kekurangan.
        saya klo nulis juga pasti ada typo. itu sesuatu yang sangat bisa dimaklumi.
        sama-sama!

  12. ap yg terjadi dgn my jinki? nasib si jjong bakalan sma dgn jinki gitu ya?
    haish, ini yaoloh, luar biasa desripsiny. bikin sy nyelem (?) dlm ceritany.
    next neeext~

  13. Jinchaaa! Darimana aja aku slm ini sampe ff keren gini baru nemu skrg?-.- grgr ff ini aku lgsung baca kilat ff trilogy sblmnya, tapi mian ya zaky-ssi aku gak komen disana takutnya gak kebaca sm zaky-ssi soalnya ff itu publishnya udah lama kan ya?

    Ah skrg makin yakin ini kalo hantu dari cerita yg lalu itu pasti sama dgn hantu cerita yg skrg ini. Makin penasaran aja itu hantu anaknya yg 2 org itu mati krn apa? Kalo Ny. Kang kan kecelakaan, 2 anaknya msh jd misteri. Trs pria tua itu jgn2 gila ya? Tapi kok baik?

    I’m so curious! Msh bnyk prtanyaan nih, part selanjutnya asap ya 😀

  14. YAAAAA!! EOONNNNII! *saking napsunya, sampe jebol caps yg ditekan ._.*

    ini rame banget ini rame rame rameeeeeeeee! Aaaaa! *jambak rambut org (?)* aduh ya ampun mata biru aaaaaaa…..

    Astaga itu paman baik hati darimana?! Paman psycho itu mah! Aaaaaaaa….

    Doh Tetem selamatkan JongYu! Go! Rescue them! Jangan sampe mereka dijahit juga (?) aaaaaaa….

    Ini aku ud tunggu berabad2 update-annya (?) dan rasanya bahagia bgt ud keluar lg, aaaaa T T

  15. sialll kenapa tbc?? bulu kuduk udh bangun jd bobo lg deh… kan tanggung biar mereka sekalian terbang aja. wkwkwk gaje ya?

    jgn2 2 foto itu mukanya mirip jjong ama onew ya? tp kenapa taem ngerasa deja vu? jgn2 dia jg prnh diculik jg? atau dia ank paman itu? sebenernya paman itu orang, makhluk jadi2an atau apa? sumpah serem!! cepet lanjut ya…

  16. Duhh iya ini FF keren, suka banget sama sequelnya thor! FF House Next Door juga bagus banget, dan selalu bacanya malem malem gyahaha~
    Ditunggu next partnya^^

  17. min, nunggu part lanjutan nih~ cepet di share ya~ udah penasaran ama ceritanya!! ^0^ onew gak kenapa napa kan?? iya kan??? *heboh sendiri
    anyway, admin jjang! daebak! lanjutin ya min! saya tunggu~ ^^

  18. Selesaikah? Oh iya, maaf baru tulis komentar di part 2. I was drowned in my own imagination. Jonghyun and Jinki, you guys are just…well, unlucky. Don’t they?

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s