My Love Story

~My Love Story~

Author : Zee^^

Main Cast :

  • Onew SHINee as Lee Jinki
  •  You as Sung Sang Mi

Other Cast :

  • Eun Ji A-Pink as Jung Eun Ji
  • Kyuhyun Super Junior as himself (cameo)

Length : Oneshoot

Genre : Romance

Rate : General

Alloha, kawan. Hei, ini FF-ku yang ke-4, jika FF-ku yang ketiga sudah publish. Karena aku mengirimkan ini, sebelum FF ke-3 ku dipublish. Terima kasih untuk membaca tulisanku sebelumnya dan segala apresiasi yang kalian berikan kepadanya. Terima kasih juga untuk sekedar membuka FF-ku ini. Selamat membaca kawanku,,happy reading^^

Sung Sang Mi P.O.V

“Hei apakah kau menyukaiku, Sang Mi-ya?”

“Huh, kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu padaku?”

“Umh, hanya memastikan. Dan apa itu benar?”

“Sebentar, boleh kutahu kenapa dirimu tiba-tiba bertanya hal seperti itu padaku, Lee Jinki?”

“Oh, itu. Sebenarnya aku hanya dengar-dengar dari teman-teman dan yeah, kuakui sepertinya memang benar, jadi kupikir tak ada salahnya untuk memastikannya. Lalu, apakah itu benar, Sung Sang Mi?”

“Bagaimana bisa kau berfikir hal tersebut benar, sedangkan kau hanya ‘dengar-dengar’ dari teman-teman, bukan?”

“Yeah, sebenarnya aku mungkin agak terlalu percaya diri mengatakan bahwa itu karena aku menilai dari sikapmu terhadapku.”

“Apa? Memang bagaimana penilainmu terhadap sikapku kepadamu?”

“Bagaimana yah? Aku hanya merasa sepertinya kau begitu perhatian kepadaku. Apa hal itu benar, Sang Mi-ya?”

“Apa benar kau merasa ‘begitu’? entahlah, tapi aku sepertinya memperlakukan teman-temanku sama saja.”

“Jadi, jawabannya?”

“Jawaban apa? Jawaban ‘apakah aku benar menyukaimu tidak’? Dengar yah, Jinki-ah, kau hanya mendengar dari teman-teman dan ditambah penilaianmu yang kurasa sangat tidak masuk akal. Kau bukan dengar dari mulutku langsung. Dan kurasa aku tidak perlu memberitahumu.”

“Kenapa?”

“Apakah aku harus?”

“Tentu saja, karena aku ingin tahu yang sebenarnya.”

“hanya saja, aku juga tidak ingin memberitahukannya kepada kau, Tuan Lee Jinki.” Dan yup, dia tersenyum. Mati saja kau Sung Sang Mi.

“dan dapat kupastikan hal tadi benar, bahwa kau memang menyukaiku, dan kau malu mengatakannya, atau mungkin memang belum saatnya kau memberitahukannya kepadaku. Iya kan Nona Sung Sang Mi?”

“wah, hahaha…aku benar-benar ingin tertawa sekarang, karena ada yang sedang melucu di depanku, tapi sayangnya itu tidak terlalu lucu. Jadi sayang juga kalau aku tertawa. Tuan Lee Jinki perhatikan baik-baik! Sebaiknya kau jangan terlalu berani dengan kepercayaandirimu yang sangat itu. Dan terima kasih atas pembicaraan ini, dan maaf atas kekecewaanmu. Aku pergi dulu, Jinki. Bye-bye”

Aku berbalik dan berjalan santai meninggalkan Lee Jinki di tengah koridor kampus. Aku berjalan menyusuri koridor sambil memikirkan apa yang baru saja kami-aku, Sung Sang Mi dan Lee Jinki- bicarakan. Pembicaraan yang sangat singkat, mengingat aku memang sangat dekat dengannya, tapi sungguh sukses membuat hati dan pikiranku kacau. Bagaimana tidak kalau  saat mendengar pertanyaannya tentang perasaanku kepadanya, jantungku berdebar kencang sekali, dan pada saat itu aku benar-benar sulit untuk berfikir. Namun, pada saat itu pula aku harus buru-buru menata hati dan pikiranku kembali untuk berbicara kepada Lee Jinki dengan sangat tenang. Tentu saja agar dia tidak tahu perasaanku yang sebenarnya. Yang benar saja jika dia tahu.

Yeah, kuakui memang benar aku, Sung Sang Mi teman sekelas dan termasuk teman dekat dari Lee Jinki menyukai namja tembem dengan mata sipit itu. Namja gila yang setiap harinya kutemui, tentu saja kecuali hari Minggu. Lee Jinki memang gila, karena selain dia ‘gila’, dia membuat aku tergila-gila padanya. Kenapa aku menyebutnya gila? Karena dia menyebut dirinya sendiri gila. Kurasa memang dia gila, dan dia terima saja aku megikutinya menyebutnya gila. Lalu pertanyaanya sekarang kenapa aku berputar-putar dengan kata ‘gila’? Jawabannya ternyata benar, Lee Jinki yang gila membuatku tergila-gila kepadanya.

Namja yang ‘otaku’, menurutnya, tapi aku rasa benar. Jarang sekali meninggalkan laptopnya. Anime dan manga kegemarannya, tentu saja. Hei, tapi dia termasuk mahasiswa yang pintar, walau kuakui peringkatnya selalu dibawahku, hahaha aku mau sombong sedikit. Namun, jangan salah, saat aku mengalami kesulitan dia membantuku belajar. Membantuku menemukan jawaban dari soal-soal yang dosen dan teman-teman tanyakan. Dia orang yang santai, tak pernah memikirkan apa yang orang lain katakan tentang dirinya. Tak punya banyak teman, hanya beberapa yang dekat dan kebanyakan karena sedaerah dengannya. Mungkin karena tak pandai bergaul. Bagaimana tidak kalau teman sejatinya saja adalah laptopnya. Aku memang tak sedaerah dengannya, hanya saja mungkin karena awalnya kami cocok saat mengobrol. Yeah, aku salah satu penyuka Jdorama, ditambah saat sekolah menengah aku memiliki teman perempuan ‘otaku’ seperti Lee Jinki. Jadi, sedikit banyak aku ‘nyambung’ dengan apa yang dibicarakan namja ini. Parahnya, terkadang pun dia berkicau sendiri tentang anime yang baru dan yang akan dia tonton. Lalu, apa yang aku lakukan? aku tanggapi saja dia, aku hanya merasa kasihan saja,  karena lama-lama orang lain benar-benar menganggapnya gila. Selain itu, mungkin juga karena kita sering makan di meja yang sama. Yeah, mungkin hal-hal tersebut yang membuat kami kini dekat, hingga kuakui dalam hatiku tumbuh rasa suka kepada seorang Lee Jinki.

Dan, rasanya tak enak bukan menyimpan hal besar dalam hati dan pikiranmu sendiri? Sedangkan hal tersebut sangat mengganggu hidupmu. Pada saat-saat tertentu kau akan tertawa sendiri karena bayangan namja yang kau sukai lewat tanpa permisi ke dalam otakmu. Pada saat yang lain kau begitu merindukannya, dan ingin sekali melihat wajahnya walau hanya satu menit. Dan pada saat kegiatan bersama, pasti ekor matamu tak pernah letih mencarinya, ibarat untuk sekedar mengabsen apakah namja itu datang. Pada akhirnya, hal-hal itulah yang aku rasakan saat menyukai Lee Jinki. Lalu, keputusannya adalah aku harus membaginya kepada orang lain, dan itulah yang aku lakukan. Aku beritahu teman akrabku, Jung Eun Ji mengenai perasaanku ini kepada Lee Jinki. Terlebih saat aku harus melihat Lee Jinki dekat dengan seorang yeoja. Kedekatannya, membuat aku, sebenarnya aku malu mengatakannya, tapi yeah aku tak begitu suka dengan makan. Jeongmal paboya aku ini, seorang yeoja yang begitu suka sekali dengan makan menjadi tak suka makan saat melihat namja yang ia sukai dekat dengan yeoja lain. Tapi itulah yang aku alami, jantungku berdebar kencang dan rasanya sesak sekali saat melihat mereka sangat dekat. Sesaknya itulah yang rasanya sulit sekali untuk memasukkan apa yang kukunyah ke dalam kerongkongan.

Sebenarnya, aku bingung kenapa Lee Jinki bilang dia dengar dari teman-teman, sedangkan aku hanya mengatakannya kepada Eun Ji. Tapi, akupun percaya kepada Eun Ji. Sangat tidak mungkin Eun Ji membeberkannya kepada orang lain. Sebelumnya dia selalu menyimpan rahasiaku dengan sangat rapi. Tapi apakah kali ini tidak? Sedangkan, teman-teman memang sering membicarakan aku dengan Jinki, sekedar meledek kami sebenarnya. Lalu, apakah hal itu yang Jinki sebut sebagai ‘dengar-dengar dari teman-teman’? hohoho yang benar saja, mereka kan hanya untuk main-main, walau sebenarnya memang sangat tepat sasaran. Oh Tuhan, aku harus segera bertemu Jung Eun Ji dan menanyakan kejelasannya. Karena ini menyangkut hidup dan matinya aku di depan Lee Jinki.

@ Jung Eun Ji’s home

“Jung Eun Jiiiiiii….. Jung Eun Jiiii.. Eun Ji-ya buka pintunya, ppalliwa!! Jung Eun Ji ppalliiii!!”

Pintu pun mengayun terbuka ke dalam, pelan mengingatkan aku pada Nyonya Gemuk, lukisan penjaga pintu Asrama Gryffindor. Mungkin si Nyonya Gemuk tak tahan dengan teriakanku, haha padahal teriakannya lebih memekakkan telinga-ingatkah saat dia mencoba memecahkan gelas dengan nyanyiannya yang sebenarnya lebih pantas disebut jeritan?-. Dan ups, yang membuka adalah Eun Ji oemma, yang sebetulnya pun punya badan yang tak jauh beda dengan Nyonya Gemuk, hanya saja ini versi korea, dengan mata yang sipit, dan hidung yang tidak terlalu maju-sopannya-, jadi bayangkan saja sendiri.

“Oh, kau Sang Mi-ya. Masuklah!!”

“Eh, Ahjummha chousonghamnida. Aku memiliki urusan yang sangat mendesak dengan Eun Ji, jadi aku berteriak-teriak karena tak sabar. Dan biasanya kan kau ada di kios dagingmu di pasar kalau saat seperti ini. Hehe jeongmal chousonghamnida, ahjummha.”

“Ah ne, gwenchana, Sang Mi-ya. Benar, biasanya aku memang berjualan, tapi akhir-akhir ini daging sapi sedang susah dicari(kaya di Indonesia sekarang ini), jadi daripada aku membeli dengan harga mahal, mending aku rehat sejenak, karena toh aku lama tidak libur. Dan itu Eun Ji di dapur. Dia sedang masaak ramyeon.” Katanya sambil mengantarku masuk.

“Haha benar ahjummha, kerja juga jangan terlalu dipaksakan bukan? Jaga kesehatan yang penting, ahjummha. Percuma saja kalau uang banyak tapi jasmani kita sakit. Lagipula kenapa pula daging sapi susah dicari?”

“Entahlah, yang jelas harapannya adalah pemerintah segera menindaklanjuti masalah ini. Karena yeah, kita tahu kan kalau daging sapi sangat penting untuk keseharian masyarakat Korea.”

“Ne, ahjummha. Saya setuju dengan ahjummha. Hidup ahjummha.” Aku pun mengangkat tanganku sebagai tanda kesetujuanku, yang langsung kuubah sebagai lambaian ke arah Eun Ji.

“Hei, Eun Ji-ya, sedang apa kau?” Lalu Eun Ji oemma malah pergi.

“Kau buta? Tentu saja aku sedang memasak.”

“Haha memangnya kau bisa masak? Memang masak apa? Ramyeon saja sombong.”

“sudah tahu nanya. Mau apa kau kesini? Tadi kuajak pulang bareng, dengan sok kau menolak. Ya ya ya yang diajak Jinki, lupa juga sama teman kan? Terus gimana kencannya tadi, huh?”

“Kencan pala lu peyang (?). Tuhan, huwwaaaaaaaaa kau tahu apa yang terjadi padaaku? Matilah aku, kau tahu baru saja ada badai, angin topan, banjir, gempa bumi dan lain sebagainya. Huwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….” kujambaki saja rambutku ini sebagai aksi kekesalanku.

“Whoa.. yang benar? Jeongmalyo? Tapi aku tidak merasakan apa-apa. Memangnya dimana? Aha pasti kau lihat di TV kan? Itu di daerah mana, Sung Sang Mi?”

“Hei, Pabo, kau pikir siapa yang terkena itu semua? Kau tidak lihat aku begitu panik?”

“Apa kau?”

“tentu saja”

“Tapi kau tidak basah dan baik-baik saja.” Ya Tuhan, dia itu sebenarnya tidak seperti yang terlihat, aku tahu dia itu sedang main-main. Lihat saja dia juga santai saja mengatakannya sambil makan ramyeonnya yang dengan sadis menawariku saja tidak. Ohmigod Jung Eun Ji awas kau ya.

“Jung Eun Ji kau katakan pada siapa dan apa yang kau katakan tentang aku dan Jinki? Cepat jawab! Jung Eun Jiiiiiiiiiiiiiiii” aku berteriak saking kesalnya, karena dia tetap sajaa santai. Dan dampaknya Eun Ji oemma yang tadinya sedang ayik menonton TV beralih menontonku dengan maata melotot yang hampir keluar.

“oh ah, mianhada ahjummha. Jeongmal chousonghamnida.”

“Ayolah, Eun Ji jawab aku.”

“Kau ini tidak sabaran sekali. Apa kau sekalipun tak ingin menungguku selesai menyesap kuahku ini?”

“Baiklah, ceritakan semuanya padaku selaesai kau habisakan ramyeon terkutukmu itu.”

~selang beberapa menit~

“Ppalliwa Eun Ji-ya! Ceritakan padaku!”

“Ne Ne, satu, aku tidak pernah sekalipun mengatakan kepada siapapun apa yang harusnya tidak aku katakan, baik milikmu maupun orang lain, begitu juga dengan masalah ini. Lalu dua, kau tahu mengapa Jinki mengatakan bahwa dia mendengarnya dari teman-teman? Tentu saja, menurutku karena tingkahmu.”

“Eun Ji-ya, bagaimana kau tahu apa yang Jinki katakan padaku?”

“Aku sudah menduganya. Awalnya aku menduga bahwa dia tidak akan pernah berani menanyakan mengenai perasaan kepadamu. Yeah, kau wanita, tentu saja, dan kupikir Jinki orang yang termasuk tidak peduli dengan yang namanya wanita, lebih khususnya lagi masalah hubungan laki-laki dan perempuan, kau tahu kan maksudku?”

“ne ne”

“Lihat saja kesehariannya dengan apa itu anime, manga dan lain sebagainya. Kupikir yang ia ciantai hanyalah laptopnya. Tapi, saat tadi dia mengajakmu bicara ada hal lain yang aku menyiratkan dari wajah dan bicaranya bahwa ada hal lain yang sangat lain yang akan dia bicarakan atau tepatnya dia tanyakan kepadamu. Dan tepat sekali bukan perkiraanku?”

“ Ya kuakui kau memang pintar, Eun Ji-ya” menyesal aku memujinya, karena sekarang dia tersenyum bak aktris picisan dengan kesombongannya, mau muntah saja aku sekarang.

“Lalu bagaimana bisa kau menjawabnya karena tingkahku?”

“Tentu saja. Kau tahu kenapa teman-teman suka sekali menggodamu dengan Jinki? Itu karena saat kau digoda, kau salah tingkah. Asli, apakah susah sekali tidak menunjukkan perasaanmu yang sebenarnya?”

“Apakah separah itu?”

“Tentu saja, terlihat sekali kau salah tingkah saat kau di dekat Jinki, lalu teman-teman menggodamu. Dari situlah, mungkin teman-teman menyimpulkan bahwa kau memang menyukai Lee Jinki.”

“Jeongmalyo? Dan tahukah kau Eun Ji-ya, dia juga bilang kalau dia juga melihat atau tepatnya merasaknnya dari sikapku. Jadi sungguh parahkah aku yang tak bisa bersikap biasa di depannya? Ya Tuhan pasti aku memalukan sekali, ya? Aduh, Eun Ji-ya ottoehkaji?”

“Yasudah, memang mau bagaimana lagi? Lalu saat dia bertanya, kau jawab apa?”

“Aku tidak menjawab aku suka dia atau tidak. Aku pergi begitu saja.”

“Hei, bisa saja dia berfikir bahwa kau benar menyukainya, makanya kau buru-buru pergi karena malu dan takut ketahuan.”

“iyakah? Tapi memang, aku buru-buru pergi karena sumpah aku sudah tak bisa lagi menahan debaran jantung yang Ya Tuhan, sudahlah aku tak kuat lagi.”

“Hei, kau berlebihan sekali, tahu tidak? Sudah sana pulang! Aku ngantuk sekali nie.”

“Yakz, kau ini. Baiklah, gomawo Eun Ji-ya. Tapi kau tahu kan kalau Lee Jinki adalah cinta pertamaku. Maksudku benar-benar cinta pertama, bukan hanya sekedar cinta monyet anak SD.”

“Ne, ara, arasseo.”

“Baiklah, aku pulang dulu Eun Ji-ya”

“Ya, hati-hati di jalan!”

“Bye”

Setelah berpamitan dengan Eun Ji oemma, aku segera pulang ke rumah. Dan lagi-lagi sambil berjalan pun aku memikirkan Jinki lagi. Ya Tuhan, parah sekali namja ini. Mengapa dia terus menghantuiku seperti ini. Kadang memang terasa manis mengingatnya, terlebih saat senyumnya memenuhi otakku, tapi kadang menyesakkan juga seperti ini. Apa hal ini karena aku terlalu takut dia mengetahi perasaanku? Sepertinya benar, dan hal itu karena aku takut dengan apa yang akan terjadi jika dia tahu.

Melelahkan? Entahlah, karena kadang aku menikmatinya. Hampir setahun aku menyukainya dengan kupikir dia tak tahu dengan perasaan ini. Terlalu merindukannya tak begitu menyenangkan. Namun, bukankah merindukan orang lain memang hal yang menyebalkan. Dan aku alami itu saat liburan terakhir kemarin. Libur lama, sebagian orang dibuat senang olehnya, akan tetapi di sisi lain membuat seseorang jadi merindukan orang lain. Aku sangat merindukan seorang Lee jinki saat liburan kemarin. Memikirkannya saat salam perpisahan sebelum liburan. Yeah, maklum dia akan pulang ke kampung halamannya saat liburan. Dan, tahulah itu berarti aku benar-benar tidak akan melhat selama beberapa waktu yang menurtku lama di Seoul. Dengan sedikit ragu kusalami dia, beberapa detik yang lama yang membuatku sangat berdebar.

~Flashback~

“Yakz, Eun Ji-ya cepat sedikit! Aku bisa kehilangan dia nanti.”

“Mau apa sih kau? Kau tidak lihat kakiku sakit sekali ini. Sepatu tinggi ini benar-benar membuatku muak, dan aku bersumpah sejak detik ini tak akan lagi-lagi menggunakan sepatu dengan jenis seperti ini.”

“Hati-hati dengan sumpahmu, karena aku yakin suatu saat kau pasti membutuhkannya. Ppalliwa, aku harus mengejar Lee Jinki. Aku belum mengucapkan salam perpisahan kepadanya. Ppalli!”

“Aishh, kau kan hanya akan berpisah dengannya selama 2 minggu.”

“2 minggu waktu yang lama, Eun ji-ya. Ppalli!”

“Sudah-sudah, lepaskan saja aku! Aku jalan sendiri saja. Sana cepat kau kejar cintamu itu.”

“Ta-tapi Eun Ji-ya”

“Sudah, jeongmal arasseo. Kejar sana!”

“Ah, ne gomapta Eun Ji-ya” setelah mencium pipinya yang paling dekat dengan bibirku, aku berlari secepat yang aku bisa, dan beberapa saat akhirnya ekor mataku menemukan sosok Jinki, aku buru-buru mengerem lajuku dan mencoba mengatur nafas agar terlihat tenang.

“Hei, Jinki-ah, sudah siap?”

“Hem?”

“Maksudku apa kau sudah siap untuk pulang kampung dan langsung pulang setelah ini?”

“Yeah, tentu saja.”

“Hoh, kalau begitu hati-hati dan yeah, haha jangan kangen denganku yah nanti!” Ups, bodoh, apa yang aku katakan barusan? Tapi aku hanya berusaha mencairkan suasana. Lalu, buru-buru kuulurkan tanganku, dan yang kudapat adalah balasan uluran tangannya. Cihuy, Lee Jinki menjabat tanganku erat dan dia menggoyangkannya lama. Haha aku tahu dia sedang mencandaiku, seperti biasanya, tapi itu berarti untukku.

“Yeah, terima kasih. Kau juga hati-hati.” Dan sejurus kemudian senyuman mematikannya muncul sepelan mungkin. Slow motion, kau tahu itu. Ohmigod aku senang sekali. Oh Lee jinki, aku akan sangat merindukanmu. Sungguh, aku berani bertaruh mengenai ini, karena memang seringnya aku merindukanmu, Lee Jinki.

Dan, hasilnya benar saja. Kini, di tengah liburan aku sangat-sangat merindukannya. Catat, aku tak suka menelepon, kadang ditelepon saja aku tak terlalu suka, dan Lee Jinki tahu itu. Apalagi jika harus Lee Jinki yang menelepon. Jadi hanya dengan pesan singkat kita berkomunikasi, dan sekali lagi hal itupun sangat jarang kami lakukan. Alasannya, tentu saja karena ‘ketidakpeduliannya’, dia jarang sekali menyentuh ponselnya. Sudah kuberitahukan bahwa benda kecintaanya adalah laptop. Namun, akun jejaring sosialpun dia tak punya. Jadi, sekali saat liburan ini aku mencoba mengiriminya satu pesan singkat. Hanya berisi pesan menanyakan bagaimana liburannya, karena berani apa aku ini selain itu. Lama menunggu dan yeah, bisa kutebak bahwa dia tak akan membalasnya, dan tebakanku sama sekali tidak meleset. Dia tak balas pesanku sama sekali. Huh, rasanya tidak enak sekali. Padahal tadinya jika ia membalas pesanku bisa sangat sangat mengobati rinduku padanya. Namun, Tuhan berkata lain, aku pun bisa berkata apa. Aishh, apa aku semenyedihkan itu? Mungkin kalau dipikir-pikir aku adalah yeoja yang memeng sangat menyedihkan.

~Flashback End~

 

Sekali lagi, menyedihkan? Entahlah, seperti yang kukatakan bahwa kadang aku sangat menikmatinya, disamping itu merindukannya sangat menyebalkan. Oh Tuhanku, apa yang harus aku lakukan? Apa begini rasanya menyukai seseorang? Dan apakah dia menyukaiku juga? Aku sama sekali tidak tahu perasaannya yang sebenarnya. Karena saat hari-hari kami lalui bersama, kami sangat dekat. Namun, kadang dia juga sama sekali tak mempedulikanku, bahkan sering kan saat libur kuliah, tak ada komunikasi sama sekali. Lelah? Entah juga. Aku sadar mulai menyukainya 10 bulan yang lalu, 1 tahun pun belum ada. Saat dia tak ada, aku mulai memikirkannya. Saat dia dekat denagn wanita lain, ada sebuah perasaan berbeda yang menyeruak ke dalam hati dan pikiran tanpa permisi sama sekali, dan rasanya sangat sesak. Huh, sudahlah, kita lihat saja hari esok! Terlalu memikirkannya, membuat kepalaku pusing sendiri.

~Esok Hari~

@ Kampus

“Sang Mi-ya” ada yang memanggilku, dan aku tahu siapa dia. 100 % aku mengenal suara Lee Jinki kapanpun, dimanapun, dan bagaimanaapun.

“Hei,”

“Apa kau terburu-buru?”

“Ani, apa aku terlihat sedang terburu-buru?”

“Hoh, tidak juga. Kemari duduk disini denganku” Dia menarik pergelanganku dan membawaku ke taman. Yang benar saja, kenapa sekali saja aku skinship dengan namja ini, aku yakin jantungku sedang menjerit kegirangan? Tak tahu apa, kalau aku sebagai pemiliknya sangat tidak bisa mengendalikannya.

Kami duduk berdampingan di salah satu kursi taman. Agaknya sedikit canggung setelah pembicaraan kemarin. Tapi aku berusaha bersikap biasa, dan sepertinya dia juga melakukan hal yang sama.

“Hei, Jinki, tahu tidak anime yang judulnya Hotarubi no mori e? Kemarin aku chat dengan temanku, yang aku ceritakan waktu itu, yang ‘otaku’ seperti kau.”

“Iya aku tahu. Kenapa?”

“Dia menyarankan aku untuk menontonnya, padahal aku hanya iseng-iseng membahas tentang anime yang aku tahu, itupun kau yang membuatku menontonnya. Lah, dia malah membahas lebih panjang lebar tentang anime-anime yang ia rangkingkan sesuai penilainnya. Banyak banget, aku bahkan sama sekali tak bisa mengingatnya, hanya satu itu yang katanya aku harus menontonnya. Memang seperti apa sih? Bagus?”

“Yeah, nanti kutontonkan kau anime itu. Dan juga beritahukan aku judul yang temanmu sebutkan itu.”

“Aku kan sudah bilang kalau aku lupa semua, hanya satu itu.”

“Yasudah, lagipula aku juga mau tanya yang lain. Boleh kan?” Tentu saja boleh, aneh sekali ini orang, suaranya berbeda, dan itu berarti ada hal berbeda yang akan dia bahas, dan kuharap bukan bahasan yang sama seperti kemarin.

“Tentu saja, Jinki-ya”

“Sung Sang Mi, jawab aku dengan jujur! Apakah kau menyukaiku? Aku mohon jawab aku saja! Hal tersebut membuatku terganggu hingga saat ini kau mencoba biasa denganku dengan membicarakan tentang anime.”

“kalau kau merasa terganggu kenapa begitu memikirkannya? Mudah saja kan kau lupakan?”

“Mudah? Nyatanya tidak bisa. Aku mohon Sung Sang Mi, jawab aku saja! Apa begitu sulit mendapatkan kejelasan darimu? Jebal, Sang Mi-ya!” Bagaimana ini? Dia sudah memohon seperti ini? Kenapa dia begitu memusingkan hal ini? Apa itu artinya dia juga menyukaiku? Sehingga, dia ingin tahu apakah rasa sukanya bertepuk sebelah tangan atau tidak. Ani, itu kan bukan berarti, bisa saja dia sama sekali tidak menyukaiku. Dan perhatiannya denganku selama ini mungkin memang pribadinya kepada teman dekat yang memang cocok. Kemudian, dia harus tahu perasaanku untuk meluruskan dengan menjelaskan bahwa sebaiknya jangan menyukainya lebih jauh lagi, karena mungkin dia tidak ingin aku menjadi sakiy nantinya. Oh, kenapa jadi dilema seperti ini? Aku takut untuk menjawabnya. Apa aku harus berkata jujur atau bohong? Atau mungkin tidak menjawabnya seperti kemarin dengan mencoba mengalihkan pembicaraan ke hal yang lain? Kumohon siapapun, tolong bantu aku lepas dari situasi menyeramkan seperti saat ini.

“Jinki-ah, aku..”

“Sang Mi-ya, aku mohon!”

“Aku seperti bukan berbicara dengan kau Lee Jinki. Kau yang di depanku bukan Lee Jinki yang biasa, yang sama sekali tidak peduli dengan hal lain.”

“Aku Jinki yang biasa dan kuakui aku butuh sangat banyak keberanian untuk bertanya hal seperti ini kepada wanita. Apakah sedikitpun kau tak mau menghargainya, Sang Mi-ya?” Huh, baiklah, tarik nafas sepanjang mungkin Sung Sang Mi! Dan katakan..

“Ne, aku memang menyukaimu Lee Jinki” Apa? Aku benar meluncurkan kata-kata itu di depan seorang Lee Jinki? Benarkah?

“Jeongmalyo?” air muka Lee Jinki berubah, dia seperti mencelos. Lalu?

“Entahlah, tapi mungkin itulah yang aku rasakan. Ani, memang itu yang sebenarnya, lalu?”

“Lalu…”

“…”

“Lalu, Sung Sang Mi, kuakui juga kalau aku mungkin menyukaimu. Kuakui aku sering memperhatikanmu. Dan kadang ada bayanganmu saat kau tidak ada di depanku. Apakah aneh?” Hei, dia terlihat malu saat mengatakannya. Lee Jinki lucu sekali.

“Aneh? Mungkin. Karena aku juga mengalami hal yang sama. Hh,,”

“ Sang Mi-ya..” kini dia berubah serius-mencoba serius, tepatnya-

“Ne”

“Sang Mi-ya, maukah kau menjadi yeojachingu-ku?”

“Mwoya?” Benarkah? Aku tidak salah dengar?

“Menjadi yeojachingu-ku?” Sekali lagi aku menarik nafas dengan sangat dalam, tanda kutarik kesimpulan dan kukatakan…

“Mianhae Jinki-ah, sepertinya aku tidak bisa.”

“Eh?”

“Ne”

“Waegure, sang Mi-ya? Boleh aku tahu alasanmu?”

“Aku memang menyukaimu, tapi bisakah kita jadi temaan saja? Saling memperhatikan, saling membantu, saling menyemangati dan saling berbagi? Kau tahu aku bersyukur sekali kepada Tuhan karena mengenalkanku denganmu dan menumbuhkan rasa ini. Walau jujur rasa sesak karena merindukanmu begitu menyebalkan. Tapi sekali lagi, cukup melihatmu saja rasanya senang sekali. Maaf sebelumnya Jinki-ya, aku punya komitmen pada diriku untuk tidak memiliki namjachingu hingga aku lulus. Aku ingin berkosentrasi dengan kuliahku. Kau tahu, kau adalah salah satu penyemangatku. Aku harus menjadi lebih baik daripada aku yang sekarang. Kau pintar, aku ingin bisa seperti kau. Yang jelas, aku akan lebih bersemangat saat bayanganmu muncul di otaku. Jinki-ya, jadi teman yang baik untukku yah? Mau kan?”

“Oh eh..”

“Jebal, jangan kecewa karena aku!”

“Ani, yeah aku tidak menduga jawabanmu sama sekali, karena kukira kau memang menyukaiku dan akan terima saja menjadi yeojachingu-ku. Namun, jawabanmu aku terima dengan tulus. Tenang saja Sang Mi-ya, aku baik-baik saja. Dan apa? Jadi temanmu yang baik? Tentu saja. Memangnya selama ini aku tidak baik padamu, huh?”

Aku tersenyum, “ani, kau baik. Tapi tidak sangat. Jangan tidak pedulikan aku ya? Balas pesanku juga kalau memang kau sempat!”

“Haha, baiklah. Mianhae untuk tak balas pesanmu. Dan tidak mempedulikanmu, kapan?”

“Kau akan lebih mementingkan laptopmu itu daripada ngobrol denganku.”

“Haha ya Tuhan, Sang Mi-ya Sang Mi-ya, laptopku adalah yeojachingu-ku. Jadi tentu saja aku akan lebih memperhatikannya dariada siapapun.”

“Jadi, tadi kau mau menduakan laptopmu dengan berselingkuh denganku, huh? Kucubit kau.”

“Aw aw aww..yaakz saakit Sang Mi-ya, aw aw ampun ampun. Jebal!” Haha dia menjerit, rasakan saja. Dia memang sering ku-bully seperti ini. Hahahaha…. Lee Jinkiiiii

Yeah, itulah keputusanku, aku tidak menerima Lee Jinki sebagai namjachingu-ku. Tak apa, yang penting kini kami tahu perasaan masing-masing dan kuharap tak ada rasa rindu yang begitu lagi, karena dia berjanji akan mempedulikanku dan membalas pesanku setelah ini. Aku tidak tahu, ke depan kami akan seperti apa. Jika memang dia jodohku pada nantinya, aku yakin segalanya akan indah pada waktunya. Kupejamkan sejenak mataku, dan pada saat kubuka mataku, huwaaaaaaaaaaaaaaa kulihat Cho Kyuhyun di depanku. Ani, aku mimpikah? Kyu di depanku? Tak dapat kupercaya, jadi sekali lagi kututup mataku dan pada saat aku membukanya, Cho Kyuhyun lenyap. Hahaha, sepertinya dia marah karena aku memikirkan namja selain dirinya. Hahaha, aku mulai gila sekarang. Tapi yang jelas, I Love U Cho Kyuhyuuuuuuuun, kau yang terbaik. Karena hanya kau yang menjadi wallpaper laptopku, ponselku, dinding kamarku, dan tentu saja hatiku. Sepertinya aku harus mendownload video terbarumu. Capcus….

***END***

Akhirnya kelar juga, huwaaaaaaaaaaaa tanganku keram ini, dan pinggangku hampir putus. Oke ini sanagt lebay,,hahai kenapa Cho Kyuhyun? Karena dia biasku. Hei, aku Shawol dan E.L.F, klise? Biarin, emang mereka saudara kan? Jadi aku menyukai boyband bersaudara itu. Dan Lee Jinki adalah biasku dari SHINee, jadi tak mungkin kan menjadikan dia double karakter, terasa aneh. Jadi Cho Kyuhyun lah yang jadi cameo ceritanya. Hei, reader, chingu gomapta. Kalian baik sekali menyempatkan membaca coretanku yang aneh sekali ini. Tapi, sungguh sangat berterima kasih dan kuharap kalian juga mau memberikan apresiasi untuk FF ini. Gomawo. Arigatou Gozaimaasu^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

27 thoughts on “My Love Story”

  1. Unyu…
    Wah, yeojachingunya jinki laptop? *pingsan*
    Wkwk, baru kali ini aku nemu ff yg nyampur dikit ama otaku :3 secara aku dulunya hardcore otaku sih *gaadayngnanya* #abaikan

    aku suka ceritanya. Aku pikir bakal diterima sekalinya ngga. Malah kyu evil yg muncul. Wkwkw

    keep writing yaah :3

  2. Hihi, lucu banget ceritanya. Baca ini jadi ingat ma cerita temenku. Persis banget, yah, tapi ujung2nya mereka berpacaran. Hehe.
    Suka banget ma ceritanya, tapi di ujung cerita eh tiba2 si Kyu muncul. Haha.

  3. Buset dah, jd selingkuhan laptop.kekeke
    cerita nya lucu thor, suka suka suka..
    Ad bbrapa typo, tp cma 2 yg aku ingat apa memang hanya 2 typonya? Plaaakk
    memeng >> memang
    sakiy >> sakit
    hehe,mianhe
    terus brkarya nee! Fighting

    1. makasih uda suka ceritanya,,wah malah kayaknya bukan cuma 2,,pdhal uda berkali-kali diedit masih aja ada yg lolos..
      Ok makasih buat kritiknya
      Fighting juga

  4. ◦”̮◦нαнα◦”̮◦нαнα◦”̮◦‎​​ penyelesaiannya gaje tapi lucu
    Ga jadian ma JinKi ternyata mengidolakan KyuHyun, tapi hanya antar fans
    Setelah luluskan bisa jadian ◦”̮◦нαнα◦”̮◦нαнα◦”̮◦‎​​

  5. sebenernya sih aku iseng-iseng buka ff ini terus aku baca
    wah seru-seru……….
    awalnya ngekek waktu baca bagian yg ada kata “gila”nya
    gemes juga sih sama sangmi
    tapi setelah baca endingnya*sebelum kyu muncul* jadi paham
    yah sangmi tuh lucu tapi dy punya komitmen suka deh sama karakter dy
    buat authornya daebak deh
    keep writing yah

    1. iseng tp suka..wah kaya nemu duit tuh…ga nyangka kan?
      ih ngekeknya jgn keras2,ntar dikira sodara kunti lg..hehe becanda*piss*
      makasih ya uda nyempetin baca,,keep reading juga,chingu^^

      1. wah kalo nemu duit beneran bakalan tambah suka tuh
        huum gk nyangka deh
        oh saya bukan sodaranya mb kunti tapi adiknya key oppa*dirajam lockets
        yups sama-sama
        pasti dong chingu ^_^

  6. Authornya Otaku, nggak? *mata berbinar-binar karena ditebarin gliter (?)*

    Kebetulan saya juga Otaku, tapi nggak fanatik banget sih, karena masih ada darah (?) K-POPers ‘-‘)b

    Johaeyoo! Meskipun tiba-tiba ngakak pas ada Kyuhyun… xD Keep writing!

    1. hehe bukan sih,,aku mah K-lover,,tp sekelilingku bnyak otaku..,,eh jd suka sama anime,Jdorama,kdng jg Jpop nya,tp ya dikit*curcol*
      ngakak ya?kyu baik dong,,bikin orang lain ketawa..
      makasih..keep reading juga

  7. Akhirnya Ъќ terduga banget!
    ƗƗαƗƗαƗƗαƗƗαƗƗαƗƗα
    jα̲̅ϑΐ sekarang yeojachingu jinki ganti laptop Ɣää
    Bukan ayam lg
    =))‎​Шǎ̜̣̍к̣̣̥ǎ̜̣̍к̲̣̣̥ǎ̜̣̍‎​Шǎ̜̣̍к̣̣̥ǎ̜̣̍к̲̣̣̥ǎ̜̣̍‎​=)) ..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s