Beautiful Stranger [Chapter Three]

Beautiful Stranger

“MULAI sekarang, ini akan menjadi rumah kita, Sena-ya.”

Eomma memelukku hangat, penuh kasih sayang dan perasan cinta yang besar. Aku bisa merasakannya meski saat itu umurku masih delapan tahun.

Aku tak mengerti permasalahan orang dewasa yang tengah melanda kedua orang tuaku, yang kutahu, aku hanya ingin melindungi Eomma dan membuang memori tentang Appa.

Begitulah, Eomma dan aku hidup berdua di kota cantik bernama Vancouver. Aku senang Eomma memilih Kanada sebagai tempat kami merajut masa depan.

Namun, belum kering air mata kami, Eomma memutuskan untuk menikah lagi. Aku tidak keberatan selama hal itu bisa membuatnya bahagia. Mengingat setiap hari yang ia lakukan hanya memandangi suasana kota dari jendela dan menangis tiada henti.

Hingga suatu hari aku dipertemukan dengan keluarga baruku. Seorang pria Korea berumur 40-an yang sudah memiliki seorang putri bernama Park Jiyul, dua tahun lebih muda dariku. Dia tidak ramah sama sekali, memelototiku sepanjang pertemuan dan menolak untuk makan. Aku berusaha memaklumi mengingat umurnya yang masih sangat muda.

Baru sebulan kami tinggal bersama, Jiyul mendapatkan segalanya termasuk perhatian ibuku. Kupikir tadinya tidak apa-apa karena ia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu sejak lahir, jadi kubiarkan ia mendapatkan limpahan kasih sayang ibuku.

Tetapi ternyata hal itu berlanjut hingga tiga bulan, enam bulan, satu tahun, lima tahun…

Kasih sayang Eomma berpindah, kasih sayangnya untukku mengering.

Ia bahkan kerap memperlakukanku dengan sangat buruk. Melihatku seperti melihat bangkai tikus, berjengit jijik ketika namanya kupanggil.

Semakin tumbuh besar, wajahku sangat mirip dengan Appa. Eomma bilang sangat tidak nyaman ketika melihatku, merasa seperti melihat Appa di dalam diriku. Teringat pada kepahitan di masa lalu membuatnya rapuh, sedih, marah, dan putus asa. Sehingga sangat berasalan jika pada akhirnya ia memilih untuk membenciku.

Apa yang dilakukan Harry Potter untuk bisa bertahan hidup di antara keluarga yang membencinya? Aku tidak bisa seperti dia, sehingga niatan untuk mengakhiri hidup selalu terbesit.

Tetapi seorang anak lelaki muncul dari semak-semak mengenakan pakaian basket dengan tubuh yang sangat kotor dan berbau tidak enak. Ia mengulurkan tangannya membantuku berdiri ketika aku terjatuh karena mencoba melarikan diri dari amukan Eomma―sudah bukan rahasia lagi jika aku dipukuli dan dilempari sesuatu setiap hari. Rumah benar-benar seperti neraka!

Aku meraih tangannya. Ia mengajakku ke rumahnya.

Ibu dari anak itu terkejut ketika melihatku. Ia berbisik pada anaknya tapi aku masih bisa mendengar. “Untuk apa mengajaknya kemari? Aku tak ingin mencari masalah dengan ibunya,” bisiknya.

Anak itu memasang ekspresi memohon sehingga mau tak mau ibunya menyerah. Luka-luka di tubuhku diobati dan mereka juga memberiku banyak makanan enak. Hal itu berulang setiap hari.

Setiap pulang sekolah aku selalu ke sana dan akan kembali ke rumah jika ayah tiriku pulang kerja. Ibuku takkan berani melakukan sesuatu yang kasar padaku selama ada suaminya.

Seperti itulah pertemuanku dengan Kevin Li, lelaki tampan berwajah dingin tetapi memiliki hati yang hangat. Saat itu umurku tiga belas tahun, sedangkan dia dua belas tahun. Meski lebih muda, ia kerap memperlakukanku seperti adiknya.

Kami tidak satu sekolah, tetapi saat SMA, ia mengikutiku ke Sir Winston Churcil High School. Dia benar-benar menjagaku meski masih berstatus junior.

Dia adalah segalanya bagiku, aku takkan pernah melupakan hari di mana ia memintaku untuk menjadi miliknya. Aku masih bisa mengingatnya dengan jelas, hari itu seperti kemarin. Aku sangat mencintainya, dialah alasanku untuk tetap hidup. Kami bahkan memiliki mimpi bersama untuk masa depan kami: menikah dan hidup bahagia…

Tapi, aku masih ingat bagaimana ia mengkhianatiku.

Jiyul takkan pernah melepaskan apapun milikku sebagai targetnya. Semenjak mengetahui aku memiliki hubungan khusus dengan Kevin, ia jadi terobsesi padanya. Hingga suatu hari di malam Natal, aku melihat mereka berciuman di bawah pohon Natal raksasa. Tempat di mana seharusnya kami memiliki janji menghabiskan malam Natal bersama.

Aku tak pernah tahu itu akan terjadi.

Sungguh menyakitkan. Kevin mengingatkanku pada Appa, mereka mengkhianati kepercayaanku. Sekarang aku mengerti bagaimana perasaan Eomma. Ini sangat menyakitkan.

Dengan tabungan seadanya dan mimpi yang besar, kuberanikan diri pergi ke Paris. Kenalanku Amy, bersedia menampungku di rumahnya. Aku hanya meninggalkan sepucuk surat untuk eomma tanpa memberitahu kemana aku akan pergi. Begitupula dengan Kevin, aku tak meninggalkan pesan apapun untuknya.

Begitulah… aku berangkat ke Paris sendirian. Trying to forget my past love and chasing dreams

Tetapi sekarang Kevin berdiri tegap di hadapanku. Ekspresinya sama terkejutnya denganku. Kami saling menatap satu sama lain, mencoba mengenali wajah yang ada di hadapan kami. Ini adalah jeda terpanjang yang pernah kualami ketika berhadapan dengan seseorang. Waktu seolah-olah berhenti, mengizinkan kami saling mengagumi.

“Sena,” lirihnya.

Hampir seluruh penghuni ruangan menatap kami penasaran.

Jantungku berdegup kencang, amat berat dan penuh kesakitan. Aku tahu siapa dia, aku sangat mengenalnya. Anak kotor berbaju basket yang pernah mengulurkan tangannya padaku, sekaligus seorang pria yang pernah ingin kuhapus dari ingatanku.

Dalam sekejap kenangan-kenangannya bersamaku mencuat begitu saja. Aku mengingatnya dengan baik. Matanya yang tajam, alis tebal, hidung lurus, bibir, dadanya yang bidang…

Dia berlari menghamburku dengan pelukan. Ini adalah dekapan tererat yang pernah kuterima darinya. Telingaku menempel ke dadanya di mana aku bisa mendengar degup jantungnya yang luar biasa cepat. Napasnya memburu tak terkendali, ia membenamkan wajahnya ke leherku, menghirup aroma rambutku.

Where have you been?” tanyanya, suaranya bergetar.

Aku diam, tak tahu bagaimana harus menjawab.

Okay, we need to talk,” lanjutnya sambil menarikku ke pintu keluar dan mengajakku menaiki tangga ke lantai teratas yang setahuku akan ada pintu menuju atap gedung. Dia masih tidak melepaskan cengkeraman tangan besarnya dari lenganku, sementara mataku sibuk memperhatikan profil tubuhnya.

Dia tidak berubah

Kami sampai di atap. Angin segar musim panas bertiup menerpa wajahku.

“Jadi benar kau menjadi coordi?” tanyanya menggunakan bahasa Korea. Aku mengangguk. “Tapi ini bukan harapanmu. Cita-citamu desainer ‘kan?”

Sesuai ekspektasi, ia masih mengetahui isi kepalaku.

“Mereka menempatkanku sebagai coordi, jadi aku mau apa?” jawabku kasar. “Aku butuh pekerjaan untuk bertahan hidup.”

Kevin terkejut mendengar jawabanku. Aku tidak pernah sekasar ini padanya. Ia diam, lagi-lagi terdapat jeda di antara kami.

“Kenapa kau meninggalkanku?” Ia mengalihkan pembicaraan.

“…”

“Kenapa kau pergi?”

Ingatan mengenai kejadian-tak-diinginkan-saat-malam-Natal kembali muncul di kepala. Seketika aku merasa kesal, kecewa, marah, dan sedih. Kevin masih tidak menyadari kesalahannya. Ini sudah lima tahun berlalu dan ia masih berani melihatku dengan wajah pockerface-nya!

“Kau tanya dirimu sendiri.”

Aku berbalik hendak pergi tetapi ia menarik pinggangku dan menyeretku ke dalam pelukannya.

It’s okay, yang penting sekarang aku menemukanmu. Aku sangat merindukanmu sampai mau mati.”

“…”

“Aku hampir putus asa mencarimu, Sena.”

“Untuk apa?” tanyaku lirih, “Sudah ada Jiyul di sisimu untuk apa mencariku?!” teriakku hilang kendali.

Aku mendorong tubuhnya. Kevin terkejut dengan reaksiku. Sebelum air mata meleleh di hadapannya, aku berlari masuk ke dalam dan menuruni tangga. Dada sangat sesak, gumpalan kesakitan yang selama ini kukubur dalam-dalam secara perlahan mencapai ke permukaan. Melawan diri untuk tidak menangis saat ini rasanya sama seperti menahan diri untuk tidak bernapas.

Juyoung menatapku bingung saat aku kembali ke ruang coordi. Ia menghentikan kerjaannya dan berjalan menghampiriku. Ada rasa khawatir terpancar dari sorot matanya.

“Jadi benar gedung ini ada hantunya?” tanyanya bodoh.

Aku menggeleng, melepaskan kedua tangannya dari bahuku dan berjalan lurus ke meja. Juyoung mengambil tisu dan membantu menyeka keringat di wajahku.

Jantungku masih berdebar keras, rasa syok masih tersisa. Lima tahun melarikan diri darinya, tetapi takdir tetap mempertemukan kami hari ini.

“Kau tahu Kevin?”

Juyoung mengerutkan dahinya. “Maksudmu si leader EXO-M itu?”

“Hm.”

“Kris nama panggungnya. Kenapa?”

“Tidak.”

“Sebenarnya apa yang terjadi? Wajahmu sangat pucat, Sena-ya.” Juyoung mulai memasukkan semua barang-barangku yang tercecer di meja ke dalam tas, kemudian menyerahkannya padaku. “Pulanglah!”

“Eh?”

“Sepertinya Jepang berhasil menaklukan kesehatanmu. Pakai hari ini untuk istirahat, besok pagi aku sudah harus melihatmu di sini, EXO ada jadwal Welcome Party. Mengerti?”

Aku menatapnya penuh haru.

Gomawoyo,” kataku parau.

Ia mendorongku ke arah pintu. “Nah, sampai jumpa besok.”

“Di mana Hyojin?”

“Dia mengantar Sehun ke Music Bank, hari ini giliran dia yang menari bersama BoA. Oke cepat pulang! Hati-hati di jalan.”

“Iya. Sampai jumpa besok.”

Aku berbalik bersamaan dengan pintu menutup. Kepala rasanya mau pecah ketika terlintas wajah Kevin. Jadi benar kabar mengenai dia ikut audisi itu. Pikirannya sudah berubah. Dulu cita-citanya hanya ingin menjadi pemain basket nasional, tapi sekarang… seorang penyanyi? Apa yang ada di dalam otakmu, Kevin?

“Sudah pulang?” Nada meremehkan itu muncul lagi dan menghentikan langkahku. “Bukankah tidak akan ada surat pengunduran diri. Berubah pikiran?”

Aku tidak berbalik, hanya meneruskan langkah menyusuri koridor menuju pintu depan gedung. Tetapi ia kembali menyerangku.

“Aku melihat semuanya di atap. Apa hubunganmu dengan Kris?”

Mau tak mau aku berhenti. “Bukan urusanmu.”

“Secara langsung memang bukan…,” Ia menghampiriku, “…sepertinya kau belum tahu kalau hubungan spesial antara artis dan staf tidak diperbolehkan.”

Aku menoleh, Jinki menatapku dingin.

“Ya, terima kasih pemberitahuannya,” tegasku membuat Jinki tidak berkutik dan melangkah keluar gedung.

Matahari sangat terik. Ion tubuhku mulai menguap terhisap energi matahari dan membuatku semakin lemas. Beruntungnya sore ini halte bus tidak penuh, aku masih bisa beristirahat sambil menunggu bus datang.

Sebenarnya aku senang bisa bertemu Kevin lagi. Tapi juga takut. Selama lima tahun berusaha melepaskan kenangan-kenangan indah kami, selama itu pula aku menahan diri untuk tidak menghubunginya. Amy berperan sebagai penyokong, membantuku melakukan banyak hal untuk menyibukkan diri. Ia tidak akan membiarkanku diam melamun, tetapi terus membuatku bekerja dan berkarya.

Aku tidak ingin jatuh cinta lagi pada pria itu. Jiyul sudah menyentuhnya. Aku sangat benci adik tiriku. Membencinya sampai tulang lapisan terdalam. Dia tidak pernah berhenti merenggut kebahagiaanku.

Bus datang, aku melompat masuk ke dalam dan duduk di kursi kosong dekat jendela.

Pria berpakaian aneh duduk di sampingku. Ia mengenakan jumper hitam besar dengan kacamata dan topi hitam. Masker putih menutupi wajahnya. Di musim panas seperti ini ia berpakaian tebal dan duduk di sampingku. Tangannya yang ia masukkan ke dalam saku depan jumper menindih perutku, membuatku sulit bernapas.

Saat bus berhenti di halte berikutnya, aku buru-buru turun dan berjalan sepanjang gang. Pria aneh tadi ada di belakang membuatku berjalan lebih cepat.

Mendengar seretan kakinya seperti berusaha menyusulku, aku berlari untuk menggapai pagar rumah dan segera menutupnya. Tetapi seseorang menahannya dari luar, membuatku sulit untuk menutup. Aku mulai berteriak.

Pintu rumah terbuka, Appa tergopoh-gopoh menghampiriku.

“Ada apa?”

Kedua tanganku masih berkutat dengan pintu pagar. “Ada orang gila.”

“Siapa?” Bukannya membantuku menutup pagar, sebaliknya, Appa membukanya lebar-lebar. “Oh, teman Sena?”

Keningku bertaut. Amy?

Annyeong haseyo, Lee Jinki imnida,” ujar sebuah suara. Mentalku langsung jatuh saat itu juga.

Sontak aku melongokkan kepala dan memang benar, Jinki berdiri di depan rumah. Matanya menggunung membentuk eye smile.

“Kau menguntit!” tuduhku.

Jinki menyeringai, “Kebetulan lewat.”

“Aku tidak kenal, Appa, tolong suruh dia pergi,” pintaku.

Appa mengerutkan dahi hingga kedua alisnya bertemu, ia terlihat berpikir. Setelah beberapa saat, ia berdecak dan memundurkan tubuhnya memberi jalan. “Ayo masuk!”

Mataku membesar.

Appa!”

Jinki melangkah masuk dan berdiri di depanku. Ketika Appa berjalan memasuki rumah, ia juga melenggang dan sengaja menabrak bahuku. Jinki berhenti dengan tangan memegang knop pintu. Ia berbalik menatapku dingin.

“Tidak masuk?” tanyanya. Ia mendengus, tersenyum sinis dan masuk ke dalam.

Apa-yang-dia-lakukan-di-sini?

Aku masuk kamar dan menutup pintu, kemudian menjatuhkan diri di atas kasur. Terdengar bunyi ‘tuk’ pelan dari pinggang saat tubuh terlentang sempurna membentuk bintang. Pipiku menggembung mengeluarkan udara, mendesah dan menatap langit-langit kamar.

Ini adalah hari yang mengerikan selama tiga hari aku tinggal di Seoul. Jinki membuat jalur perang sedangkan Kevin muncul di hadapan siap untuk membuka pintu masa lalu. Kepala rasanya mau remuk setiap dua hal tersebut terlintas di pikiran secara bersamaan. Terlebih kini Jinki ada di sini, di rumahku. Entah apa motifnya datang kemari, aku perlu berhati-hati, tidak akan keluar kamar sampai dia pergi.

Dengan malas aku merogoh tas untuk mengambil ponsel. Perasaanku bergolak, aku membutuhkan seseorang untuk membantu meringankan kemelut di hati.

To: Amy

Kevin ada di Seoul.

      Tangan terjatuh lemas ke atas kasur setelah selesai mengetik. Mata terpaku ke langit-langit dengan pikiran menerawang ke sana kemari sambil menunggu jawaban dari Amy. Tak lama kemudian ponsel berbunyi.

From: Amy

Aku baru saja ingin menghubungimu. Aku sudah tahu.

      Mataku membesar dan spontan terbangun. Jari-jari mengetik lebih cepat.

To: Amy

Sejak kapan kau tahu?

From: Amy

Baru saja. Aku sedang browsing dan tak sengaja menemukan profilnya. Dia mengubah namanya menjadi Kris. Gosh, he’s extremely handsome!

To: Amy

Em, kita tidak sedang membicarakan itu. What shud I do? Ada saran?

From: Amy

Tidak ada.

      Aku mengerang kesal.

To: Amy

Kami satu perusahaan, aku ditempatkan dalam timnya dan berpotensi bertemu setiap hari. Kau tahu, aku benci masa laluku!

      Terdapat jeda, aku menunggu balasannya dengan jari menari-nari di atas layar ponsel. Ketika pesan masuk, aku buru-buru membukanya.

From: Amy

Kau sudah berada di rumahmu, Kim Sena, sudah saatnya mengikuti kata hatimu. Belajarlah untuk tidak lagi bergantung pada kata-kataku. Ok? ^^

      Aku melempar ponsel ke samping, menjatuhkan tubuh ke kasur dan menutup wajah dengan kedua tangan. Kepalaku pusing sekali. Seperti ada batu besar menghantam berkali-kali. Memejamkan mata untungnya sedikit membantu meringankan rasa pusing.

Jika Kevin kemari, maka besar kemungkinan Jiyul mengikutinya, kecuali kalau mereka sudah tidak bersama lagi. Tapi kalau benar Jiyul juga ada di Seoul… tidak, aku tak ingin hidupku kosong untuk kedua kalinya. Dia tidak akan pernah berhenti merebut apa yang kumiliki. Jika dia tahu aku tinggal bersama Appa… sial, kali ini aku tak boleh lengah. Jangan sampai dia mengambil posisiku lagi. Ibuku dan Kevin sudah cukup, jangan Appa juga.

Suara pintu diketuk.

“Sena-ya, waktunya makan malam.”

“Iya.”

Tanganku meluncur di birai tangga di mana kaki berlari kecil melompati beberapa anak tangga. Bau harum masakan menusuk hidung membuatku semakin lapar. Saat akan berbelok ke dapur, langkahku terhenti ketika suara Jinki memenuhi ruangan. Dia masih di sini, bahkan mengenakan apron dan menemani Appa memasak.

“Oh Sena-ya, duduklah! Makanan akan segera siap.”

Aku menurut. Menarik kursi meja makan dan mendudukinya. “Sedang apa dia di sini?” tanyaku sinis.

“Jinki kemari bertepatan dengan jam makan malam, jadi tidak ada salahnya kalau dia juga ikut makan bersama kita,” jawab Appa dengan konsentrasi masih pada tumisan sayurnya.

Jinki menoleh dan menatapku angkuh.

“Sebaiknya kita tidak menerima orang asing sembarangan,” kataku.

Appa berbalik. “Siapa orang asing? Aku tahu Jinki adalah seorang penyanyi. Aku juga sering melihatnya di acara TV. Dia anak yang baik dan sopan.”

HEOL!

Yang kau lihat di TV itu adalah Onew, bukan Jinki bermuka dua yang ada di hadapan kami saat ini. Dia tengah tersenyum puas. Aku benci melihatnya.

“Selera makanku hilang,” gumamku.

“Tidak lagi setelah melihat ini.” Appa menaruh wajan panas di atas tumpukan serbet, gemericik bumbu di sekitar daging memang memunculkan selera makan.

Aku makan dengan pelan, mengamati nasi di mangkuk dan sesekali melirik Jinki. Aku mulai menyadari kalau dia terlalu diam, tidak seperti saat kami sedang berdua di mana dia terus menerus menyerangku dengan kalimat-kalimat menyakitkan. Di hadapan Appa dia berakting dengan baik. Menjadi tipe anak berbakti, sopan, dan menyenangkan yang disukai orang tua. Bahkan sekarang pun aku masih bisa melihat “tanduk tak terlihat” di atas kepalanya.

“Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Appa memecah keheningan.

Aku melirik Jinki sebelum menjawab. “Baik. Aku bekerjasama dengan EXO-K dan mereka menerimaku dengan sangat baik.” Aku memberi penekanan pada kata ‘sangat’.

Appa mengangguk-anggukkan kepala dengan mata tak teralih dari mangkuknya.

Jinki mendengus pelan, sepertinya hanya aku yang menyadarinya. Ia menaruh sumpit di samping mangkuk dan menenggak tandas air putih.

“Terima kasih makan malamnya. Ini sangat enak.”

Appa juga menaruh sumpit di sisi mangkuk dan membersihkan mulutnya dengan serbet. “Kau juga ikut memasak ini semua. Kau memuji hasilmu sendiri.”

Jinki tersenyum malu, ia menundukkan wajahnya. Tiba-tiba “Onew” muncul dalam senyumannya, aku tak dapat mengalihkan tatapan darinya untuk beberapa detik.

Sayangnya aku tak akan terbuai dengan aktingnya. Aku buru-buru memalingkan wajah dan memindahkan piring-piring ke bak cuci.

“Maaf, aku harus segera pulang,” pamit Jinki.

Appa muncul dari ruang tengah, menggelengkan kepalanya dan mengangkat papan Alkkagi tinggi-tinggi, “Tidak sebelum kau mengalahkanku, Nak.”

Puluhan menit berlalu, Jinki masih belum menang. Aku sibuk di dapur membuat caramel milk tea hangat atas permintaan Appa. Setelah menaruh dua cangkir di atas meja, aku kembali ke kamar.

Ponsel yang kutaruh di atas meja rias berbunyi, tanda pesan masuk. Mataku membesar ketika mendapati belasan pesan dengan isi yang sama masuk sejak tadi sore. Dan rasa terkejut tidak berhenti saat si pengirim pesan menyebutkan namanya.

Kevin. Dia bilang mengetahui nomorku dari Juyoung.

Sebenarnya aku belum siap menerima kehadirannya lagi dalam hidupku, sangat tidak siap. Terlebih di atap kantor tadi memperlakukannya dengan tidak baik. Aku merasa buruk.

“Sena-ya,” Appa memanggil dari bawah. Aku tidak menyahut sehingga ia mencoba memanggilku lagi. “Sena bisa kemari sebentar?”

“Iya.” Sebelum ke bawah, aku membalas pesan Kevin.

Begitu mengecewakan ketika sampai di bawah. Jinki masih ada di ruang tamu dengan wajah dinginnya setiap melihatku. Ia memasang masker dan mengenakan topi, lalu menutupinya lagi dengan hoodie.

“Tolong antar Jinki sampai halte!”

“Apa?”

Appa mendorong tubuhku keluar rumah, Jinki sudah berdiri di samping pagar. Pintu rumah menutup. Aku mendesah tak percaya. Ayahku benar-benar menyebalkan!

Jinki keluar pagar, aku berjalan lambat-lambat di belakangnya.

“Jin-hyung bisa membunuhku,” gumam Jinki sambil melirik jam tangannya. Aku bisa melihat ponsel yang ia genggam terus-terusan berkedip, seseorang tengah menghubunginya tetapi ia tidak menjawab.

Kami berjalan bersisian, aku selalu memalingkan wajah ke arah lain karena tak ingin melihat Jinki. Aku tak suka melihat matanya yang dingin.

Ketika sampai di pertokoan dan melewati Etude, ada seorang murid perempuan di depan etalase meracau tak jelas karena melihat banner SHINee yang terpajang di dalam. Dia tak henti memuji ketampanan para member.

“Onew-oppa sangat tampan. Dia sangat keren di gambar ini!” pujinya setengah histeris.

Setelah melewati anak itu, Jinki bergumam mantap, “Semua orang tahu itu.” Aku menatapnya tak percaya. Dia menyadarinya dan menoleh, “Kenapa? Itu fakta. Semua orang mencintai Onew. Pria tampan, suara indah, selera humor yang bagus…”

Langkahku terhenti, begitupula dengannya.

“Berhenti mencoreng image Onew, Lee Jinki!” geramku. Secara tak sadar tangan sudah terkepal.

“Kenapa? Jadi benar kau menyukaiku?”

Aku menatapnya penuh marah. “Menyukaimu? Tidak, aku tidak suka monster sepertimu.”

“Monster? Jadi Lee Jinki adalah monster dan Onew adalah malaikat?” Dia terkekeh, tetapi sedetik kemudian menghempaskanku ke tembok. Ia menempelkan tubuhnya padaku, jarak wajah sangat dekat.

Jinki menurunkan masker-nya. “Masih belum menyerah menguntitku?”

Mataku membesar. “Sudah kubilang aku bukan sasaeng!” pekikku.

“Kau pikir aku percaya?”

Aku memejamkan mata, bau tajam nikotin tercium dari mulutnya. Aku yakin dia bukan perokok ringan.

Tubuhku memberontak minta dilepaskan, tetapi dekapan Jinki sangat kuat sehingga terpaksa aku menendangnya. Dia mengerang kesakitan sambil memegangi tulang keringnya sementara aku berlari kembali ke gang menuju rumah.

Damn, Lee Jinki! I hate you.

-to be continued

Author’s Note:

Aku akan mengungkapkan beberapa fakta:

– Saat Kim Jira secara tidak sengaja menemukan gambar Kim Sena di sebuah majalah mode ketika ia masih di Amerika, ia langsung mengambil gambar tersebut dengan ponsel dan mengirimkannya pada Jinki sambil menambahkan beberapa kalimat, “Oppa, kau punya penggemar desainer terkenal yang cantik.”

– Insiden tumpahnya kopi di café saat itu, Jira memberitahunya kalau gadis yang Jinki peluk adalah orang yang sama dalam foto yang ia kirimkan padanya tempo lalu.

– Apa alasan Jinki membenci Sena? Sederhana. Dia tidak pernah senang pada sasaeng (fans gila). Dia hanya menghargai penggemar biasa yang juga menghargai kehidupan pribadinya. Kurasa semua selebriti seperti itu.

– Lalu mengapa Jinki menjadi begitu dingin, jauh berbeda dengan imej manisnya di We Walk? Hal itu akan diungkapkan oleh ibunya Jinki di chapter 5.

©2011 SF3SI, Diya.

sf3si-signature-diya

Officially written by Diya, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

94 thoughts on “Beautiful Stranger [Chapter Three]

  1. Ooo jd onew udh tau sena sblm mereka ktmu,,,hmmm pnasaran lanjutnny
    Q kurang ngerti sma critany td v stlah ada pnjlasan tambhn q jd ngerti
    Buat chapter2 slnjutnya mudhn ttp ada pnjelaasan tambahanny

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s