Are You Doin’ Okay?

Title                 : Are You Doin’ Okay?

Author             : LNara

Main Cast        :

  • SHINee Key as KimKibum
  • LeeNayoung (OC)

Support Cast   : Find by yourself! ^^

Length             : Oneshot

Genre              : Sad, Angst, Friendship

A/N                 :

Hai! Annyeong~ FF ini terinspirasi dari sebuah lagu yang gak sengaja aku denger di blog seseorang. Lagu dengan tema langka yang jarang ditemuin dan menurutku a little bit hurtin’. Ada yang bisa nebak? Hohoho XD ((FF ini pernah di publish di wp ku: yummyfict.wordpress.com. Main-main kesana, ya! XD )

.

.

.

Daegu, 5 Januari 2000

“Nayoung-a! Saengil chukkaeyo!”

Seorang gadis mungil berambut panjang dan berkulit seputih susu––LeeNayoung namanya––tampak tercengang. Sebuah cupcake dengan sebatang lilin kecil diatasnya tersodor dihadapan Nayoung dari tangan seorang namja.

“Kibum-a? Ini untukku?” TanyaNayoung polos, membuat namja dihadapannya tertawa. Mata kucing namja itu seakan lenyap menjadi sebuah garis lurus saat tawanya meledak.

“Tentu saja! Selamat ulang tahun!”

“…….”

Namja bernama KimKibum itu menaikkan sebelah alisnya, memandang Nayoung bingung, “Kenapa? Kau…tidak suka?”

Nayoung menggeleng pelan. Perlahan matanya berair, gadis kecil itu terisak. MembuatKibum tambah bingung.

“Kenapa kau menangis? Ka-kalau tidak suka, tidak apa-apa. Biar aku saja yang makan” UjarKibum sedikit panik. Ia mencoba menenangkan Nayoung yang masih terisak.

Nayoung menggeleng lagi. Kini ia menatap Kibum sambil tersenyum, walau sisa-sisa air mata masih menggantung di sudut-sudut matanya.

“Kibum-a, terimakasih. Aku suka sekali. Terimakasih”

MataKibum melebar, ia akhirnya ikut tersenyum. Hatinya sangat senang melihat senyum manis Nayoung. Senyum yang selalu membuat Nayoung tampak sangat cantik.

“Fuh!” Nayoung meniup api pada lilin kecil diatas cupcake. Kibum bertepuk tangan riuh.

“Ayo kita makan kuenya sama-sama!” SeruNayoung sambil menarik pelan lengan Kibum. Namja itu mengangguk.

“Kalau begitu di rumahmu saja!” UsulKibum. Tiba-tiba tarikan Nayoung pada lengan Kibum terlepas. Wajahnya berubah panik.

“Eh? Jangan! Jangan di rumahku, di rumahmu saja. Bagaimana?”

“Memangnya kenapa?”

“Eng–– rumahku.. ada yang sedang direnovasi, jadi di rumahmu saja, ya?”

Kibum menatap Nayoung sejenak. Ia merasa ada sesuatu yang aneh. Tapi akhirnya Kibum mengangguk, membuat senyum kembali menghiasi wajah Nayoung.

“Kajja!”

*

            “Nayoung-a, mau menemaniku main bersama?”

Kibum duduk di atas ayunan di sebelah Nayoung. Dari pagi Kibum mencari gadis itu, ternyata ia menemukannya sedang duduk sendirian di ayunan sambil melamun seperti sekarang ini. Nayoung seakan tersadar dari lamunannya begitu mendengar suara Kibum. Gadis mungil itu menoleh dengan cepat, memandangi Kibum dengan wajah kaget.

Kibum memiringkan kepalanya, “Ada apa di wajahku?”

Nayoung seketika menggeleng, “Aniyo. Tidak ada apa-apa”. Senyum kembali merekah di wajah Nayoung.

“Jadi, mau menemaniku bermain?”

“Main apa?”

“Uhm…sepeda! Bagaimana?”

Nayoung tampak gelisah, “Eng.. bagaimana kalau yang lain saja? Kakiku… eum… sedang sakit”

“Kakimu sakit? Kenapa?” TanyaKibum sambil melihat kedua kaki Nayoung. Dengan cepat Nayoung menggeser kakinya, menolak untuk dilihat.

“Tidak apa-apa. Hanya.. eng… terantuk meja kemarin” JawabNayoung masih sambil tersenyum. Kibum mengangguk-angguk, mencoba mempercayai ucapan Nayoung. Nayoung hari itu memang agak berbeda. Ia mengenakan celana panjang. Padahal biasanya gadis itu sangat suka memakai rok berbagai motif. AwalnyaKibum ingin menanyakan hal ini pada Nayoung. Tapi ia berpikir, mungkin saja celana panjang itu digunakan untuk menutupi bekas luka karena terantuk meja pada kaki Nayoung.

Juga soal main sepeda itu. SetahuKibum, Nayoung sangat senang main sepeda. Waktu kaki gadis itu retak beberapa bulan yang lalu karena terjatuh saat bermain, ia masih ngotot minta naik sepeda walaupun Kibum melarangnya setengah mati. Tapi sekarang? Terantuk meja kan, belum ada apa-apanya dibanding tulang yang retak?

“Kalau begitu kita main video game di rumahku saja, kau mau?” Kibum tersenyum, menunggu jawaban Nayoung. Nayoung terdiam sejenak, lalu mengangguk setuju.

“Tapi pergi ke rumahmu jalan kaki saja, ya?”

DahiKibum mengerut, “Kenapa? Kakimu kan, sedang sakit. Apa baik-baik saja jika digunakan untuk berjalan cukup jauh? Lebih baik pakai sepedaku, kan?”

Nayoung menggeleng dengan cepat, “Kalau berjalan aku masih bisa. Ayo kita ke rumahmu sekarang!”

Kibum menatap punggung Nayoung yang berjalan mendahuluinya. Namja itu menuntun sepedanya, lalu berjalan di sebelah Nayoung.

“Kenapa sepedamu dituntun?” TanyaNayoung, sedikit terkejut saat melihat Kibum menuntun sepeda di sampingnya.

“Tidak apa-apa” Kibum tersenyum lebar, “Tidak enak rasanya jika aku naik sepeda, sedangkan kau jalan kaki”

Nayoung tidak bicara lagi, hanya mengangguk. Diam-diam Kibum melirik Nayoung. Hari ini sahabatnya itu aneh sekali.

*

            “Game over! Aku menang lagi!” SeruKibum sambil mengepalkan tangannya ke udara. Namja itu tertawa lepas ke arah Nayoung yang malah sibuk memainkan joysticknya.

“Nayoung-a? Kau marah karena aku sudah menang empat kali?” Kibum menatap Nayoung. Biasanya jika Kibum menang berturut-turut seperti ini, Nayoung akan marah-marah dan segera meminta agar permainannya diulang. Atau minimal gadis itu akan merengut sebal sambil mendumel pada Kibum. Tapi hari ini lain. Nayoung hanya diam, seolah pasrah saat Kibum menang telak.

Nayoung masih diam. Kibum yang menatapnya pun tak bergeming. Hening sebentar hingga Nayoung tiba-tiba tertawa dan mulai memukuli Kibum dengan joystick yang dipegangnya.

“Dasar! Kau pasti curang! Ayo kita ulang!”

Kibum ikut tertawa, bersiap memulai kembali gamenya. Tapi hati Kibum merasa aneh saat melihat tawa Nayoung tadi. Tawa itu seperti dipaksakan. Tidak seperti biasanya yang begitu lepas, begitu bebas, ciri khas seorang LeeNayoung. Diam-diam Kibum mendesah. Ia tahu sesuatu terjadi dan Nayoung menyembunyikannya.

*

Seoul, 28 Desember 2012. SHINee’s dorm

“Kibum! Kau belum tidur?”

Kibum, atau yang sekarang orang-orang lebih mengenalnya dengan panggilan Key, menoleh begitu mendengar sebuah suara dibelakang punggungnya. Sang leader rupanya.

“BelumHyung. Aku masih belum ngantuk” JawabKibum, “Hyung tidur saja duluan”

Sang leader, Jinki, mengangguk-angguk tanpa banyak bertanya lagi, kemudian segera melompat ke tempat tidurnya. Rupanya ia sudah mengantuk sekali. Jam menunjukkan pukul tengah malam waktu Seoul. Seisi dorm sudah tertidur, terbuai dengan mimpi masing-masing. HanyaKibum yang masih berkutat pada sebuah benda diatas meja, ditemani cahaya minim dari lampu di meja belajar. Karena lampu kamar memang dimatikan saat tidur dan Kibum tak ingin mengganggu teman-temannya yang lain dengan seenaknya menyalakan lampu kamar.

Kibum menimang benda atau lebih tepatnya sebuah kotak dari besi berwarna biru cerah, dilengkapi sebuah gembok mungil yang terkunci rapat. Ia menemukan kotak itu saat sibuk membersihkan dorm sendirian tadi siang. Kotak itu terjatuh mengenai kaki Kibum saat ia membereskan buku-buku tebal miliknya––pemberian fans––yang tersimpan di sebuah rak. AwalnyaKibum tak ingat apapun tentang kotak itu. Tapi ingatannya seakan berputar kembali, saat ia melihat sebuah nama yang terukir pada gembok mungil yang mengunci rapat kotak tersebut.

‘LeeNayoung’

Sudah belasan tahun sejak Kibum meninggalkan Daegu dan pindah ke Seoul bersama keluarganya. Kibum bahkan tak pernah berkunjung kembali ke rumah lamanya di Daegu hingga saat ini. Apalagi sekarang ia sudah debut sebagai idol, tergabung dalam sebuah grup yang begitu digilai banyak orang––terutama wanita––, SHINee, sebagai Key. Sudah pasti Kibum tak memiliki banyak waktu senggang. Sekalipun punya, akan ia habiskan untuk bersantai dan beristirahat di dorm guna melepas penat dari segala rutinitas jadwal yang begitu padat.

Ingatannya sudah semakin jelas sekarang. LeeNayoung, sahabat masa kecilnya di Daegu, memang memberikan kotak itu saat Kibum hendak pindah ke Seoul. Hari itu Nayoung menangis sesenggukan. Belum pernah Kibum melihat sahabatnya menangis begitu keras seperti itu sebelumnya. Saat itu Nayoung menggumamkan sebuah kalimat di sela isak tangisnya. Kalimat yang bahkan belum bisa Kibum mengerti hingga saat ini.

“Buka kotak ini, lalu berjanjilah untuk datang menyelamatkanku”

            Kibum kembali memperhatikan kotak kecil itu dengan seksama. Bagaimana bisa membuka kotak itu jika bahkan ia tak tahu dimana kuncinya? Lalu apa maksud dari kata ‘menyelamatkan’ yang digumamkan Nayoung saat itu? Kibum mengerang putus asa. Ia benar-benar penasaran, namun tak tahu harus melakukan apa.

“Nayoung-a, bagaimana cara membukanya?” GumamKibum pelan, nyaris seperti berbisik. Jemarinya mengusap gembok mungil yang masih mengunci kotak tersebut rapat-rapat.

Klik

Kibum tercengang. Tiba-tiba kotak tersebut terbuka saat jemari tangannya mengusap ukiran nama Nayoung pada gembok. Ya ampun, rupanya ada sebuah tombol rahasia pada ukiran nama Nayoung itu. Tombol yang menjadi kunci untuk membuka kotak tersebut.

Buru-buru Kibum meneliti isi kotak yang baru saja berhasil ia buka. Disana ada fotonya dan Nayoung saat mereka kecil dulu dan sebuah buku diary kecil yang lusuh. Dalam buku itu terselip sebuah pensil kayu yang telah memendek, mungkin karena terlalu sering digunakan untuk menulis. Kibum membuka buku diary tersebut, diary milik Nayoung.

Mata kucing Kibum menilik kata demi kata yang terangkai di setiap halaman. Semua itu curahan hati Nayoung yang ditulisnya sendiri setiap malam. Semakin banyak halaman yang dibaca, membuat Kibum terperangah. Jantungnya serasa mencelos saat membaca tulisan pada tanggal 4 Januari 2000, sehari sebelum ulang tahun Nayoung yang mereka rayakan bersama.

‘Appa menemaniku saat tidur. Tidak biasanya. Mungkin karena Eomma sedang sakit, jadi appa yang menggantikan. Aku sudah hampir terlelap saat tiba-tiba ada yang memelukku dari belakang. Aku kaget sekali, apalagi saat Appa mulai menciumiku. Aku berusaha berontak, tapi tenaga Appa lebih besar. Aku hendak berteriak, tapi Appa menyumpal mulutku lalu memberiku tamparan. Dia mengancamku, aku sangat takut. Lalu appa mulai membuka …’

            Kibum terus membaca, jantungnya berdegup keras.

‘Hari ini ulang tahunku. Appa bilang akan memberikanku hadiah. Kupikir hadiahnya adalah Teddy bear atau Barbie seperti milik teman-temanku yang lain. Tapi aku salah. Appa melakukan itu lagi dan aku tetap tak bisa melawan. Dia bilang, itu adalah hadiah spesial darinya…’

            Kibum menggeram. Jadi ini yang sebenarnya dialami Nayoung?

‘Ini sudah kesekian kalinya appa berbuat begitu padaku. Aku tak bisa bilang pada Eomma, karena appa bilang, dia akan membunuh Eomma jika aku mengadu. Aku benar-benar takut. Apa yang harus aku lakukan? Sakit sekali’

AkhirnyaKibum sampai pada halaman terakhir rentetan diary Nayoung tersebut.

‘Hari ini Kibum dan keluarganya akan pindah ke Seoul. Aku sedih sekali. Satu-satunya sahabat yang aku andalkan selama ini pergi meninggalkanku. Aku sendirian. Rasanya aku tidak kuat lagi. Setiap malam appa berbuat hal itu padaku, ditambah aku akan kehilangan Kibum? Lee Nayoung benar-benar menyedihkan. Mungkin aku harus mengatakan ini pada Kibum. Mungkin aku harus menyerahkan diary ini padanya. Aku tahu dia pasti bisa menolongku. Ya, aku yakin sekali’

            Kibum menutup diary itu dengan marah. Nafasnya memburu. Tidak ada pilihan lain, ia harus menyelamatkan Nayoung. Mungkin, ini sudah sangat terlambat. Namun setidaknya ia bisa melihat kondisi Nayoung dan membawanya pindah dari Daegu. Ya, Kibum harus pergi ke Daegu besok.

*

            Kibum menatap nanar bangunan dihadapannya. Sebenarnya lebih tepat disebut sebagai puing-puing. Karena bangunan itu kini sudah tak berbentuk lagi. Hanya menyisakan balok-balok kayu yang menghitam serta dinding yang hancur. Tidak salah lagi, bangunan ini terbakar. Bukan, ini bukan reruntuhan rumah yang dulu Kibum tempati. Rumah lama Kibum dan keluarganya dijual dan kini telah ada keluarga yang membeli dan menempatinya. Lantas bangunan apa yang ada dihadapan Kibum?

Bangunan itu… rumah Nayoung.

Kibum benar-benar bingung apa yang harus ia lakukan untuk bertemu Nayoung. Rumahnya terbakar dan tak satupun yang tahu dimana Nayoung dan keluarganya kini tinggal. Hanya beberapa warga yang pernah mendengar tentang keluarga Nayoung, mereka bilang, dulu IbuNayoung meninggal karena sakit parah dan tak lama rumah keluarga itu memang terbakar. Tapi setelahnya tak ada yang tahu lagi apa yang terjadi. Sepertinya kebanyakan warga adalah pendatang baru.

Kibum terduduk di kursi taman tempatnya dan Nayong dulu sering bermain. Taman itu tak berubah, masih sama seperti dulu, tetap asri dan menyenangkan bagi Kibum.

“Anak muda, apa yang sedang kau lakukan disini?”

Kibum tersentak mendengar sebuah suara berat di dekatnya. Ia mendongak. Seorang kakek tua berdiri di dekatnya. Ah, mungkin saja kakek ini tau soal keluarga Nayoung.

“Aku…kesini mencari seseorang, Kek. ApaKakek tau soal keluarga Lee yang rumahnya terbakar itu?” TanyaKibum hati-hati. Kakek itu tampak berpikir, berusaha mengingat-ingat. Tiba-tiba ia menepuk pelan bahu Kibum.

“Aku ingat mereka. Keluarga yang menyedihkan”

Kibum mengernyit, “Menyedihkan?”

“Ya” Kakek itu duduk disebelah Kibum, “NyonyaLee sakit parah dan akhirnya meninggal dunia. Beberapa hari kemudian, rumah mereka terbakar dan setelah diselidiki, pelaku pembakaran itu adalah anak tunggal keluarga Lee sendiri”

“Apa?” Kibum tercekat. Nayoung membakar rumahnya sendiri? Tapi…kenapa?

“Semua juga tak percaya pada awalnya. Tapi anak tunggal keluarga Lee itu mengakui sendiri perbuatannya. Seingatku, saat itu dia bilang bahwa ia sengaja membakar rumahnya karena marah. Entah marah karena apa. Ia mengakui perbuatannya sambil tertawa puas, seolah tujuannya telah tercapai”

“La-lalu… apa Tuan Lee dan anak tunggalnya itu selamat?”

Kakek itu menatap Kibum sejenak, lalu menghela nafas pelan, “Anak tunggalnya itu memang selamat tapi Tuan Lee tidak. Dia meninggal. Tubuhnya hangus terbakar”

Kibum menahan nafas, “Kalau begitu….dimana anak tunggal keluarga Lee itu sekarang?”

“Kau ingin menemuinya?” TanyaKakek itu sambil menatap Kibum tajam. Kibum meneguk ludah, lalu mengangguk.

“Yang aku dengar, dia ada di rumah sakit jiwa tak jauh dari sini. Kejiwaannya terganggu. Ia sering tertawa keras, namun setelahnya menangis meraung-raung. Banyak yang bilang pembakaran yang dilakukannya terjadi karena kondisi jiwanya yang terganggu itu”

Kali ini Kibum benar-benar terkesiap. Dengan cepat, ia segera berdiri dari duduknya.

“Kalau begitu, aku harus menemuinya sekarang. Terimakasih banyak, Kek. Aku pergi dulu” Kibum membungkukkan badannya sopan, lalu segera melesat pergi dari taman itu.

Ia harus bertemu Nayoung sekarang juga.

*

            “Bangsal nomor 4 paviliun anggrek. Apakah perlu saya antar?”

Kibum mengangguk cepat, ia lalu melangkah mengekori seorang perawat yang tadi memberitahunya dimana kamar tempat Nayoung dirawat. Sejujurnya, ini pertama kali Kibum menjejakkan kaki di rumah sakit jiwa. Daripada ia tersasar dan bertemu pasien yang aneh-aneh, lebih baik minta diantar, kan? Sepanjang perjalanan menuju bangsal Nayoung, Kibum bergidik ngeri bertemu beberapa pasien yang tertawa sendiri, marah-marah, ada juga yang melemparinya dengan tatapan tajam. Sungguh, demi apapun ia masih belum percaya Nayoung dirawat di rumah sakit berisi orang-orang dengan mental terganggu seperti ini.

“Maaf, itukah NonaLeeNayoung yang anda cari?” Suara sang perawat menyadarkan Kibum. Kibum memicingkan kedua matanya, berusaha fokus pada seorang gadis dengan baju rumah sakit berwarna biru. Rambutnya panjang tak terurus, menjuntai menutupi punggungnya. Gadis itu duduk membelakangi Kibum. Seperti sibuk dengan sesuatu, entah apa.

“Entahlah, aku tak dapat melihat wajahnya” JawabKibum sambil mengangkat bahu.

“Nayoung-a, ada yang datang mencarimu” Seru sang perawat memanggil gadis tersebut. Hening. Gadis itu tak menunjukkan reaksi apapun.

“Nayoung-a, kubilang ada yang––”

“SURUHDIA PERGI! AKUTAKMAUBERTEMU SIAPAPUN KECUALIKIBUM! PERGI!!”

“Tapi aku Kibum. KimKibum”

Kibum tersentak kaget saat gadis tersebut berbalik dengan cepat, menunjukkan wajahnya. Astaga! Kibum terbelalak. InikahNayoung? LeeNayoung, sahabat baiknya itu? Kulit gadis itu putih pucat, sekeliling matanya membengkak seperti terlalu banyak menangis, rambutnya berantakan, dan pipinya tirus sekali. Tubuh gadis itu juga sangat kurus, seakan hanya tulang yang terbalut kulit. Tapi mata Kibum tak akan salah. DiaNayoung. Benar-benar LeeNayoung. Kibum tak akan pernah melupakan sorot mata Nayoungnya.

“KIBUM!” Nayoung memekik senang, kemudian ia beralih pada perawat yang masih berdiri di sebelah Kibum, “Aku ingin keluar dari bangsal. Aku ingin mengobrol dengan Kibum di taman” Pinta Nayoung. Perawat tersebut mengangguk dan membuka kunci pintu bangsal Nayoung. Setelahnya, Nayoung segera menarik tangan Kibum menuju taman rumah sakit. Kibum bisa merasakan jemari Nayoung yang dingin di kulitnya.

“Kenapa kau baru datang sekarang? Aku tak betah tinggal disini. Tempat ini mengerikan!” KeluhNayoung, setelah mereka duduk berdua di bangku taman. Kibum hanya tersenyum menanggapi.

“Kau baik-baik saja?” TanyaKibum perlahan. Nayoung mengangguk dengan cepat. Kibum mendesah. Awalnya ia ingin bertanya soal pembakaran itu, tapi ia takut Nayoung tiba-tiba mengamuk, menjerit, atau melakukan hal-hal yang spontan. AkhirnyaKibum memilih diam.

“Kau pasti sudah membaca buku diaryku itu, kan?” TanyaNayoung tiba-tiba. Kibum terbelalak, kemudian mengangguk.

“Maaf aku baru mengetahuinya sekarang. Kau pasti merasa sangat  tersiksa” SesalKibum. Di luar dugaan, Nayoung malah tertawa.

“Ya. Makanya aku sengaja membakar si tua brengsek itu. Sekarang dia sudah mati! Laki-laki yang bahkan tak pantas kusebut ayah!” Tiba-tiba Nayoung menjerit dengan keras. Ia menangis sesenggukan, meraung-raung. MembuatKibum kewalahan. Beberapa perawat datang dan menyuntikkan obat penenang pada Nayoung. TubuhNayoung yang terkulai lemas lalu dibawa kembali ke bangsal. Kibum menatap Nayoung. Ia benar-benar ingin memeluk Nayoung sekarang. Memberi kekuatan pada gadis rapuh itu.

Sebelum tubuhnya benar-benar dimasukkan ke dalam bangsal, Nayoung menggenggam lengan Kibum. Gadis itu menatap Kibum sambil tersenyum. Senyum yang masih sama dengan belasan tahun yang lalu.

“Kibum-a, terimakasih. Aku senang sekali dapat bertemu denganmu. Terimakasih banyak. Aku menyayangimu, Kibum, sahabatku”

Kibum mengangguk, dadanya terasa sesak, “Aku juga sangat menyayangimu, Nayoung-a”

Dan itu terakhir kalinya Kibum melihat senyum milik Nayoung.

*

Daegu, 5 Januari 2013

Kibum mengusap pelan sebuah nisan dihadapannya. Sebuah nama tertera pada nisan itu. Nama yang akan selalu melekat erat dalam hati Kibum.

LeeNayoung.

“Nayoung-a, saengil chukkaeyo. Selamat ulang tahun” Ucap Kibum dengan suara bergetar menahan tangis. Tangannya memegang sebuah cupcake dengan lilin kecil diatasnya. Persis saat mereka merayakan ulang tahun Nayoung terakhir kalinya belasan tahun yang lalu.

Nayoung ditemukan meninggal dunia dengan tenang di ranjang bangsalnya sehari setelah kedatangan Kibum. Mungkin saat ini Nayoung tengah tersenyum bahagia di dunia sana. Melepas segala beban teramat berat yang harus dipikulnya semasa hidup. Beban yang menghancurkan mental dan fisiknya. Tanpa sadar Kibum menangis. Bayang-bayang senyum Nayoung menghiasi pikirannya. MembuatKibum ikut tersenyum, meski air matanya terus mengalir.

“Nayoung-a, kuharap kau kini bahagia. Aku sangat-sangat menyayangimu, LeeNayoung, sahabatku”

***

END! Hehehe, gimana? Gatau kenapa aku ngerasa merinding sendiri pas ngetik ff ini ahahaha *ditendang*. Oh iya, ada yang bisa menebak lagu apa yang menjadi inspirasi ff ini? Jawabannya adalah: ‘The Offspring – Kristy, are you doin okay?’. Ada yang bener tebakannya? Ehehe. Meskipun aku bilang terinspirasi, tapi ff ini gak 100% jalan cerintanya sama kayak di lagu itu. Oke, at the last I hope you guys can enjoy with the story. DON’T FORGET TO COMMENT, YA! KEEP RESPECT! Annyeooong~~ ^^/

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

41 thoughts on “Are You Doin’ Okay?”

  1. Annyeong Nara.. 🙂
    Saya ikut sedih waktu Kibum baca diary Nayoung, apalagi terharu bgt waktu Nayoungnya berterimakasih sama Kibum karena udah ngunjungin dia di rs jiwa…
    Cocok nih peran Kibum disini, sebagai sahabat yang baik bagi Nayoung, apalagi kenyataannya si Kibum temen2nya memang banyak, berarti dia orang yg baikkan… *sok tau** 😀
    Ok Nara, ditunggu karya lainnya… 🙂

  2. Kasian…aku dapet feel nya. Saat udah baca diary Nayoung aku ikutan geram dan marah juga sih.hiks tapi kenapa Nayoung harus mati? tau taukan dia bisa tinggal bersama kibum 😦

    aku suka sama ff nya..banget!

  3. kasihan… ngomong2 nayoung meninggal karna apa? sakit atau apa? nanggungnya disitu. but over all ini keren. tp mereka hanya punya perasaan sebagai sahabat ya?

  4. awalnya kgk bsa q tbak tp stlah di baca lagi akhrx aq mngerti… Ffnya ckup sedih,mengerikan,sadisx ad jga, n kasihan,… Author sukses mrangkai nih ff… Daebak^^v

  5. Aih, ini mengharukan banget :’)

    Ya wajarlah Nayoung jadi gitu, berat banget yang dihadapi u.u

    keep writing yaa

  6. yg “UjarKibum, SeruNayoung, JawabKibum, TanyaKibum, JawabNayoung, SetahuKibum, SeruKibum, dll” knp gak diksh spasi? ato aku yg salah liat ya .___.v
    hehehe

    iiih kibum mah.. pesan nayoung yg ky gtu aj masa gak ngerti. kan dia minta tolong. huhuhu

    aduuuh.. nangis akuu.. hiks hiks hiks
    good story..
    keep writing

    1. Wah, kok typo ya? Padahal di ms. word engga. Kenapa jadi gitu ya pas di wp? ._. Entahlah aku juga gak tau, tapi di ms. word ada spasinya kok. Soalnya sebelum ngirim aku periksa lagi hehe.
      Iya tuh Kibum kurang peka XD
      Makasih yah udah nyempetin komen hehe 😀

  7. lagi baca ff ini sambil diiringi air hujan diluar rumah… kerasa nyeseknya thor.~!! daebak (*・ω・)b

  8. Hal yg dialami Nayoung banyak terjadi juga di Ina…

    Untung bukan romance, lg bosen baca romance..kkk

    bikin yg beginian lg ya author….

  9. Ya Tuhan, kasihan sekali nasib Nayoung. Kesal juga ma sikap appanya yang seharusnya menjaga anaknya.
    Ceritanya, bikin mengaduk emosi aja. Keren lah!

  10. kasian nayoung…. itu bapaknya tiri apa kandung sih? kurang ajar bgt!! wah, key telat ya nyelamatin nayoung, jd dah depresi dia.. walaupun sad ending tapi tetep bagus kok!!

    wah keren tuh gemboknya, pengen punya juga, belinya dimana ya?? kekekekke….
    Keep writting, thor.. 🙂

  11. Kaget pas scene baca diary Nayeong. Dari awal aku pikir dia sakit, ngak taunya tertekan karena appany.

    FFnya bagus cuma ada kata yang ngak dispasi. Tpi, buat aku baca sih ngak ngaruh.
    Keep writing yaaa…
    Ditunggu karya lainnya.

  12. Bapa apaan tuh ? Kejem amat . Emang gak pantes di sebut bapa tuh . Nayoungnya kasian T.T
    Lanjutkan thor (ง’̀⌣’́)ง

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s