Love Letter, ‘LOST’

LOVE LETTER, ‘LOST’

Seriusan deh, sebenarnya aku bingung ini category-nya song fic atau one shot jadinya. Tapi, emang FF ini tercetus ketika lagi muterin semua lagu yang ada di dalamnya. Jadi, sangat disarankan bagi anda untuk membacanya sambil mendengarkan lagu-lagu yang ada ^^

Terus maaf ya baru bisa di post sekarang, semoga suasananya masih terasa ya ^_^

Oke deh, ga banyak cing cong (?) lagi. Let’s read!

Happy reading, all J

Author             : I-el

Main Cast        : Choi Minho, Aileen (Time for flames, guys)

Support Cast   : All SHINee member

Length             : One shot? Song fic?

Genre              : Sad romance in life

Rating             : PG-15

Summary         : Akhir tahun 2012, dan awal tahun 2013. Meninggalkan duka, menatap suka.

Where are you, i miss you

Lonely, i was alone

Till you came in my~ life

Without you, babe, it’s so hard

Cuz i need you here by my side

You are my everything

There’s no one that could~ take your place

Come to me

The only thing i want this winter is you.. –In Your Hands, Xing (Kevin ver.)-

 

                                                                               Seoul,December 31st 2012

From: Me

To    : You

            With my greatful heart,

            Sambil memutar lagu-lagu favorit kita dahulu, aku baca ulang seluruh surat-surat elektronikmu. Masih sangat terasa besarnya cintamu padaku.

         Hey, manusia dingin! Ingat tidak, dulu kau selalu dingin, pura-pura tidak interest padahal dalam hatimu kau menyimpan perasaan yang sama denganku. Itu menyenangkan pada akhirnya, ketika kau memintaku menjadi wanita yang dapat kau sayangi dan beri perhatian sepenuhnya.

          Waktu itu kau tanya, ‘Apa kau bahagia?’

          Aku terlalu bahagia saat itu. Seperti menang lotre milyaran rupiah bisa memilikimu.

          Aku masih ingat, waktu itu tiap kali matahari terbit, kau selalu berkata, ‘Morning, dear!’ lalu kau kecup lembut puncak kepalaku. Walau hanya dalam bentuk ketikan pada surat elektronik, tapi cukup menghangatkan pagiku.

       Kau sangat tahu bahwa aku jengah ketika seorang pria mengatakan kata cinta berkali-kali. Dan sampai sekarang aku percaya bahwa ketika kau mengatakan ‘I LOVE YOU’, kau benar-benar mengatakannya setulus hatimu, dengan segenap keberanian dan juga tanggung jawab penuh atas kata-kata itu. Tidak asal menyebutkannya. Dan aku bahagia mengetahui bagian dari dirimu adalah cinta untukku.

        Hey, apa kau ingat saat aku bilang tidak bisa bernapas? Saat itu kau bilang ingin membantuku bernapas dengan caramu mencintaiku? Kurasa, kau hampir melupakannya karena cukup lama, bukan? Tapi, aku bahkan belum melupakan saat itu secuilpun. Aku masih menyimpan seluruh surat elektronikmu. Tidak ada yang tidak kumiliki karena mereka telah menjadi bagian dari perjalanan hidupku ketika bersamamu. Dan kini menjadi bagian dari memori indah yang tak akan pernah aku lewatkan untuk aku reka ulang dalam otakku.

          Saat paling bahagia bagiku, ketika kau peduli dengan air mataku. Kau berusaha membuatku berhenti menangis dengan mengatakan tegas bahwa aku tak boleh menangis untuk rasa sakit yang menyerangku, untuk kepedihan yang kurasakan. Kau terang-terangan berkata bahwa tidak sanggup harus mengetahuiku menangis, tanpa bisa berlari segera menuju tempatku berada untuk sekedar memberi pelukan yang dapat menenangkan tangisku, meredakan sakitku, dan meresapi luka kepedihanku. Kau benci dirimu yang tidak dapat hadir sesegera mungkin untuk diriku, seperti yang biasa kau lakukan ketika melihat ibumu menangis.

           Ketika itu aku pernah berkata, “I prefer to die.”

           Tapi, kau bilang, “If you do that, u will never see me.”

       Bahkan sampai sekarang, saat aku tidak mati saja, aku tidak bisa melihatmu, menyentuhmu, ini semua salahmu, tau tidak?!

    Kau rindu padaku, tidak? Rindu seperti saat kau tidak bisa menghubungiku hanya untuk mengatakan ‘I miss you’ seperti dulu? Aku merindukanmu. Sangat. Tidak peduli kau rindu padaku juga atau tidak, aku merindukanmu, selalu. Semua yang ada pada dirimu.

           Sekarang sedang sibuk apa disana?

           Sibuk menyanyi atau memperhatikanku dari jauh? Bodoh!

         Jangan lihat-lihat aku lagi kalau begitu. Datang kemari, peluk aku, nanti kita akan larut dalam mimpi bersama. Aku akan selalu menjadi Ryn untukmu.

                                                                                                                                                 With Love,

                                                                                                                            Ji Hyerin

** Clouds El Moon **

Aku lipat kertas suratku, lalu memasukannya dalam amplop biru. Ini surat cinta pertamaku untuk Minho. Ya, setidaknya surat pertama yang aku tulis dengan tanganku sendiri. Sejak hari itu, setiap kali aku menulis surat, aku hanya akan melipatnya rapi, kemudian membakarnya. Tapi, aku sadar, cara seperti itu tidak akan mungkin membuat suratku sampai padanya. Bodoh, kan?

Jadi, aku pakai cara ini.

Aku pilih waktu yang baik. Malam tahun baru. Malam menuju tanggal sakral untuk kami berdua. Hey, aku baru sadar, ini seperti seluruh dunia juga sedang merayakan hari jadi kami yang pertama secara serentak. Bukankah begitu? Luar biasa.

“Minho, kau berhutang banyak padaku, ya?” kataku sambil tersenyum disela-sela kegiatanku mengikat surat yang aku tulis tadi pada kaki kecil seekor merpati putih yang kuambil dari kandangnya. “Sekarang tinggal menunggu perhitungan detik-detik akhir tahun 2012.

Dari lantai dua kamar apartment yang aku tempati saat ini, aku dapat melihat orang-orang di luar sana yang sudah siap dengan mercon dan kembang api mereka masing-masing. Seru sekali, aku ingin bergabung, tapi aku lebih memilih untuk melakukan hal manis ini daripada berkeliaran diluar sana. Lagipula tak ada yang mengajakku.

“5.. 4.. 3.. 2.. 1”

Bersamaan dengan tiupan terompet, aku menerbangkan burung merpati putih itu keluar jendela.

“Aku titip surat cintaku padamu ya, shyl! Jangan lupa untuk mengirimkannya ke surga!!” kataku sambil berteriak karena suaraku kalah dengan bunyi ledakan mercon diluar.

Mataku mengekori arah burung merpati putih itu pergi sambil tersenyum datar. Aku tidak tahu harus menunjukan senyum yang seperti apa karena perasaanku sekarang ada di antara bahagia dengan sedih.

Adakah dari kalian yang ingin tahu seperti apa sosok Minho itu? Tapi, kurasa sekalipun kalian enggan untuk mengetahuinya, aku tetap akan menceritakannya secara gamblang. Maklum, aku selalu mengaguminya, dan aku ingin orang lain juga mengaguminya tidak hanya dari sisi sebelah mata saja, tapi keseluruhan.

Tahu boyband bernama SHINee kan? Boyband bentukan SM Entertainment yang beranggotakan Lee Jinki, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Lee Taemin, dan tentu saja Choi Minho -mantan kekasihku-. Kenapa aku bilang begitu? Nanti aku jelaskan.

Cerita cinta kami dimulai setahun yang lalu. Ah, tidak, maksudku setahun lebih. Aku mengenalnya melalui e-mail tak bernama yang terdampar dalam inbox ku. Dan sebenarnya itulah yang sampai sekarang membuat aku bingung, how come?! Tapi, biarlah itu tetap jadi bagian dari teka-teki yang Minho tinggalkan.

Sebelumnya, aku  sama sekali tidak tahu kalau dia Minho, Choi Minho seorang idola yang memiliki jutaan fans di luar sana. Aku tidak pernah curiga pada orang asing, dan aku juga tidak sampai terpikir kalau dia Minho yang juga kuidolakan. Karena, dipikirkan dengan nalar pun, seorang Minho yang demikian terkenal mau berkenalan denganku untuk alasan apapun, dan lucunya perkenalan itu tidak hanya berhenti sampai pada e-mail kesasar yang terkirim itu.

Esok dan seterusnya, dia masih selalu mengirimiku e-mail, dan berkat ulahnya, dia sukses membuat aku memiliki jam-jam tertentu untuk duduk di depan laptop dan mengutak-atik e-mail. Sampai akhirnya, di malam tahun baru dia mengatakan sedang berada di sungai Han. Dia dan teman-temannya –yang sekarang aku baru ketahui sebagai member SHINee yang lain- terjebak macet untuk pergi ke Namsan tower, sehingga mereka berputar arah, menuju tujuan yang paling dekat dengan titik keberadaan mereka dan sampailah di sungai Han. Dan kalian tahu, dia memotret percikan kembang api yang indah, juga menunjukan wajahnya dalam foto yang ia kirim tersebut. Di hari itu, aku menemaninya sambil menunggu pergantian tahun yang masih akan berlangsung 2 jam lagi di tempatku.

Lama setelah itu, kami terlibat perbincangan tidak jelas arah alurnya, dan gotcha! Dia menyatakan perasaannya padaku. Tidak hanya itu, dia memintaku menjadi pacarnya sekaligus. Aku yang tadinya tidak mengharapkan lebih dari sekedar bisa bersahabat dengan Minho –yang notabennya orang luar negeri- tergagap dengan pernyataan dan pertanyaannya. Aku diam sesaat sambil memperhatikan foto yang ia kirim sebelumnya. Dan bisa aku lihat siluet yang membentuk wajah Choi Minho, artis idolaku. Aku sempat ragu. Mungkinkah namja yang selama ini kukira baik, tidak lebih dari seorang faker? Apa-apaan dia mengirimkan foto mirip Choi Minho?

Seakan dia bisa membaca situasi yang ada, ia berkata, ‘Aku Choi Minho, seperti yang terlihat di foto itu, memilih seorang Aileen untuk menjadi milikku. Ya kau, jangan ragu seperti ini Aileen. Maaf sebelumnya, aku datang kepadamu sebagai orang asing, tapi dari apa yang aku kenal selama beberapa bulan, aku tahu kau melihatku bukan sebagai seorang selebriti, tapi melihatku dari sisi aku namja yang bernama Minho tanpa tahu siapa diriku yang sesungguhnya. Dan aku nyaman denganmu. Jadilah milikku, Ryn.’

Kalian tahu, ketika itu aku menampar pipiku keras, lalu sedikit membenturkan dahiku ke meja hanya untuk benar-benar meyakinkanku kalau aku tidak bermimpi. Karena saat aku cari, bahkan foto yang ia kirim padaku belum ada di website manapun. Kurasa foto itu memang baru diambil sesaat sebelum si pengirim –maksudku Minho- mengirimkannya padaku.

Aku mencoba percaya. Tidak, tidak. Kalaupun aku percaya, aku tidak mau menerimanya karena dia Minho yang terkenal itu, aku hanya ingin Minho yang sebagaimana aku kenal. Kemudian aku bertanya pada diriku, adakah cintaku untuknya? Dan sebuah e-mail kembali masuk, sebuah foto yang membuat aku tahu apa yang perasaanku katakan. Sebuah foto kembang api yang memancar membentuk gambar love berwarna biru. Cantik. Dan di foto tersebut terselip kata, ‘Saranghae, please let me to protect you as your man.

Dan tanpa pikir panjang lagi, aku jawab e-mail itu, ‘Na do saranghae, Minho who i know as an ordinary man. This is my heart, so protect me and love me as long as you can. I’ll do the same, and we’ll make the day of us.’

My heart is pained

Because this love is so beautiful, don′t be afraid

Even if it′s just momentarily, I′ll let you know my love

This time is beautiful, you know

let you know my love

 

For anyone to be loved by someone,

Makes life in this world shine

If it was me, I′d make your heart warm once more

With eternal tenderness. –Love In The Ice, DBSK-

 

Telingaku mendelik ringan ke arah lagu yang baru saja selesai terputar pada laptopku. Aku ingat, sewaktu aku mengirimkan e-mail jawaban itu, bait terakhir dari lagu itulah yang terdengar. Aku merasa seperti sedang flashback.

Kembali ke cerita semula. Tapi, sekarang kita masuk ke bagian ‘kenapa aku bisa putus darinya’. Ini dimulai ketika aku bosan terus duduk di depan meja karena sia-sia saja, dia tidak akan membalasnya. Aku tahu dia sibuk, dan aku tidak bisa menuntutnya terlalu banyak, tapi saat itu aku merasa mengapa semua ini terjadi ketika kami sudah jadi sepasang kekasih? Aku bandingkan dengan masa dimana kami hanya sepasang teman yang berbeda negara, tidak ada hari dimana ia tidak mengabariku. Bahkan untuk hal yang tidak penting menurutku saja, dia akan menyempatkan waktunya untuk memberitahuku.

 

We fight a hundred times, and our hearts breaks a hundred times

But like tangled pieces of string, our love can’t be pulled apart

We fix our faults, learn each other’s hearts

I know that one day, only our happiness will be left (Loves Way, SHINee)

Seperti disengaja atau mungkin dia berpikir aku akan memakluminya dengan bersabar karena sekarang aku ini kekasihnya. Begitu? Tidak bisa dibiarkan. Dan aku pun membalas perlakuannya dengan tidak membalas e-mail dari dirinya sama sekali setelah hampir seminggu tidak terlihat tanda-tanda kehidupan darinya. Dan aku perhatikan setiap e-mail yang dia kirimkan dari hari ke hari, dia terlihat merasa bersalah diawal dia bisa mengabariku, namun lama-kelamaan isi e-mail tersebut terkesan marah dan menuntut, dan aku justru kesal dibuatnya. Bagaimana tidak, dia malah menuduhku ‘main api’ dibelakangnya. Bahkan dia sampai mengatakan, ‘apa tidak cukup bagimu seorang selebritis terkenal seperti aku sehingga kau harus berselingkuh dengan namja yang pasti biasa-biasa saja?’. Coba kalau kalian yang berada di posisiku, tidakkah kalian kesal? Aku bahkan sangat gondok saat itu.

Kemudian kami putus, dia yang melakukannya dan aku hanya diam saja menerimanya. Pada akhirnya, setelah 4 bulan bersama dengannya, cintaku harus kandas dengan cara yang demikian tidak baik. Aku sakit? Tentu saja. Aku bahkan sampai harus bed rest total di rumah sakit selama 2 hari karena tidak makan, tidak minum, apalagi istirahat. Aku hanya bisa menyesali apa yang telah aku perbuat, aku menyesali mengapa aku tiba-tiba berubah menjadi yeoja yang tidak sabaran dan meledak-ledak.

Sebenarnya simpel. Aku hanya semakin menyadari bahwa Minho bisa saja jatuh cinta pada siapapun di Korea, sementara aku sudah pasti hanya terkungkung pada satu hatiku yang sepenuhnya kuserahkan pada Minho. Belum lagi kenyataan bahwa dia itu selebriti, gadis biasa seperti aku, sampai kapanpun tidak akan pernah diterima masyarakat. Aku pernah baca beberapa fiksi tentang gadis biasa yang memiliki hubungan dengan orang tidak biasa, –dalam konteks ini adalah selebriti- mereka cenderung hidup tidak tenang karena dilema dalam tekanan publik dengan cinta mereka sendiri, dan sudah barang tentu aku enggan senasib seperti tokoh-tokoh yang diceritakan.

Hari demi hari setelah itu dengan enggan, aku masih tetap mematai tulisan-tulisan di beranda akun e-mail milik Minho. Tersurat jelas bahwa dia masih ingin bersamaku, setelah selama 2 bulan kami sama-sama menahan sakit dan rindu masing-masing. Sesekali memang aku mengatakan aku merindukannya, tapi ia tidak pernah membalasnya dengan e-mail yang kuharapkan. Gamang, antara ingin kembali padanya dengan sikapnya yang dingin dan ketus, aku juga bingung bagaimana harus memintanya kembali.

Hingga satu hari, Minho mengirim e-mail, ‘Ryn, entah darimana aku harus mengatakannya, tapi aku rasa aku yang harus minta maaf. Aku tak sanggup berlama-lama seperti ini lagi, maukah kau kembali bersamaku? Tapi, tolong pikirkan baik-baik, dan jawablah pertanyaanku ketika aku tiba disana.’ Aku bingung disana yang mana maksudnya, tapi ketika aku melihat banner iklan dan promo-promo yang berseliweran, aku tahu apa yang ia maksud dengan kata ‘disana’. Ia bersama dengan seluruh artis SM mengadakan tour ke Indonesia.

Lalu, apa yang sebenarnya mau dia lakukan, sampai sekarang pertanyaan tersebut masih belum memiliki jawaban karena malam itu, setelah konser berakhir, Minho mengejar taksi diluar arena Gelora Bung Karno. Lalu memberikan alamat rumahku yang entah darimana ia dapatkan – yang sudah pasti mengundang para fans berlarian mengejarnya-. Perkara sebenarnya bukanlah itu, kelalaian supir taksi yang kurang berpengalaman menyetir untuk kondisi dikejar kendaraan lain yang menggebu ingin mengikuti Minho itulah, yang membuat mereka berada dalam kecelakaan beruntun di ruas jalan protokol yang mereka lalui –setidaknya begitulah yang Kibum oppa ceritakan sesampainya aku di Korea seminggu yang lalu-.

Ketika itu aku tidak tahu apa-apa, dan aku hanya menunggu Minho dengan perasaan kacau karena tak kunjung mendapat kabar apapun darinya. Sampai keesokan harinya, aku menonton televisi dan boom! Otakku rasanya meledak ketika melihat headline news dengan gamblangnya menulis CHOI MINHO SHINEE KECELAKAAN DALAM TAKSI dengan huruf kapital tertera di layar kaca. Dan dari berita yang dibacakan, Minho sudah dibawa ke Korea Selatan untuk mengalami tindak lanjut, sementara sang supir taksi tewas di tempat. Lutut lemas, rasa bersalah, sekaligus takut merundungiku. Minho bukan milik aku seorang saja, jelas saja aku takut. Aku merasa bersalah untuk sesuatu hal yang kuterka adalah peristiwa ini pasti melibatkan aku sebagai penyebabnya.

Teman-temanku, terutama Risma, sahabat karibku –adalah satu-satunya yang mengetahui hubunganku dengan Minho dari awal- menjauhkanku dari media cetak dan elektronik, bahkan hampir seminggu ponselku dipegang olehnya dan hanya akan diberikan padaku kalau orang-orang tertentu dengan topik tertentu yang menghubungiku.

Hajimete de atta hi no koto oboetemasu ka? (Do you remember the day that we met first?)

Sugiyuku hi no omoide wo wasurezuni ite (I haven’t forgotten a single day that’s passed)

Anata ga mitsumeta subete wo kanjite itakute (I wanted to feel everything that you had)

Sora wo miageta ima wa soko de watashi wo mimamotte iru no? Oshiete.. (I looked up to the sky. Are you there now, watching over me? Tell me..)

Ima aitai.  Anata ni tsutaetai koto ga takusan aru. Ne.. Aitai.. Aitai.. (I’m missing you now. There‘s so much I want to tell you. Oh.. I miss you. I miss you.)

Kizukeba omokage sagashite  kanashikute (I’m so lonely. Longing for your presence)

Doko ni iru no? Dakishimete yo. Watashi wa koko ni iru yo zutto (Where are you? Hold me. I will always be there)_(逢いたくていま [Aitakute ima], Misia)

 

Pernah suatu kali Risma menahan tangisnya dalam-dalam, dia mencoba menyembunyikan sesuatu yang sebenarnya telah aku ketahui sejak hari dimana Minho kecelakaan. Masih ingat ketika aku berkata aku baru melihat berita keesokan harinya? Itu karena malam sebelumnya, saat aku tidur, aku bermimpi Minho datang kepadaku. Dia membawa bucket mawar putih –bunga favoritku- dan memintaku berjalan mengikutinya ke sebuah padang hijau.

Dalam mimpi itu dia berkata sambil tersenyum pahit, ‘Ryn, aku izin pergi, ya?’

Lalu sambil mengernyitkan dahi aku bertanya, ‘apa maksudmu berkata begitu, oppa?’

‘Ya, begitulah. Mungkin tidak akan lama lagi aku bertahan. Tapi, meskipun begitu, aku tidak mau kau menangis terlalu lama. Kau tahu kan, aku ini paling benci kalau kau menangis. Seusai menangis, esoknya kau harus menatap matahari dengan lantang, ada atau tidaknya aku kau harus tetap menjadi sosok yang sama. Dan satu hal lagi, aku tidak pernah membawa hati dan perasaanmu pergi dari tempatnya. Aku hanya meminta kau mencintaiku, jadi jangan pernah berpikir untuk tidak bisa mencintai orang lain karena hal itu.’

Aku terdiam. Masih mencoba mencerna kata-katanya yang terdengar sendu dan hampir seperti bisikan angin. Dan dalam tidurku saat itu, aku tahu betul kalau pertemuanku hanyalah mimpi karena aku masih dapat merasakan kaki-kakiku membentur dinding di sisi badanku.

Dia terlihat akan pergi, tapi kemudian membalikan badannya lagi, ‘Kau tahu? Aku sangat mencintaimu, Ryn. Aku mencintai cara kau mencintaiku dengan segenap hatimu. Dan kelak, jika ada waktu yang tersedia lagi bagi kita, aku akan minta Tuhan menakdirkan kita bersama lagi, tapi tidak dengan akhir yang seperti ini. Terima kasih untuk cinta dan semua hal yang kau lakukan untuk mencintaiku. Percayalah, dengan ketulusanmu, kau akan mendapatkan pria yang lebih baik dariku. Dan ketika waktu itu sampai, maka aku akan melepasmu untuk bahagia. Jeongmal saranghae.’

Aku selalu menangis setiap mengingat mimpi itu, apalagi pada bagian dimana aku mengikuti Minho berjalan sambil tertunduk ke sebuah gedung pertemuan, dimana banyak tamu yang datang dengan nuansa hitam yang menyeruak di seluruh bagian dalam gedung. Lalu aku melihat peti putih yang terbuka dan Minho masuk ke dalam peti itu dengan jas hitam, sepatu hitam, dan sarung tangan putih yang ia kenakan saat menemuiku dalam mimpi. Aku menangis dalam mimpiku, dan puncaknya ketika peti itu dimasukan dalam tempat kremasi, aku jatuh berlutut dan menjerit tanpa ampun dan akhirnya terbangun dari mimpi.

Dari situ aku sadari, mungkin inilah cara Minho mengatakan kepergiannya. Dan dari berita yang aku tonton esoknyalah aku yakin bahwa aku harus mulai menggunakan waktu yang ada untuk menguatkan diri, sampai satu hari dimana aku akan mendengar sendiri kabar kematiannya dari berita atau dari orang lain yang tanpa sengaja menangis sambil bercerita kabar pahit itu. Dan tak disangka-sangka, Rismalah orangnya. Aku tersenyum dalam tangisku karena aku tidak ingin membuat Minho terluka melihat kesedihanku. Risma memelukku dan aku larut dalam kedukaanku. Setidaknya cara seperti ini lebih baik dibandingkan aku tahu kabar ini tanpa aba-aba dan persiapan.

Ima aitai.  Anata ni shitte hoshii koto ippai aru. (I’m missing you. There’s a lot of things that I want you to know.)

Ne aitai. Aitai. Dousyou mo nakute subete yume to negatta. (Baby, I miss you. I miss you. I’ve wished all my dreams but it’s still useless)

Kono kokoro wa mada naite iru. Anata wo omotte iru zutto. (This heart is still crying. I’ll be thinking of you for always)_(逢いたくていま [Aitakute ima], Misia)

Lagunya berakhir. Lagu favorit Minho yang baru aku ketahui ketika aku membuka ulang semua surat elektronik darinya yang terhitung dalam jumlah ribuan itu. Lucunya, aku baru menemukan e-mail yang tertulis lagu ini beberapa minggu lalu, saat aku sedang merindukannya. Dia memang tahu bagaimana membuat aku menangis sampai sesak napas karena rindu ini.

Beberapa saat aku rasakan mati dalam jiwaku, Ho. Kemanakah dirimu? Aku tidak bisa merasakan pelukan semu khasmu lagi. Kemana dirimu? Kembalilah, kumohon. Aku akan menunggumu. Ah, aku tidak boleh menangis lagi. Bukankah ini tahun baru? Sekarang hari pertama tahun 2013, aneh sekali kalau aku menangis sepanjang pagi buta ini.

TOK TOK TOK..

Suara ketukan pintu yang cukup keras membuatku sadar bahwa aku sudah selesai membaca ulang semua e-mail kami berdua, baik yang ia kirim dan juga balasan untuknya.

 

In the gap between tall buildings, I found a rainbow.

On the streets after the rain, one day. 

“I wanna show it to you too” while thinking so, 

A smile unknowingly broke across my face, yeah.

Even when I’m depressed, I think of you, 

It’s really strange. 

Dan bertepatan dengan itu, lagu SHINee yang berjudul Always Love berkumandang memenuhi seisi ruangan kamar ini.

 “Aileen, kau sudah bangun?” ternyata suara Kibum oppa yang memanggil.

Oh ya, aku tadi belum cerita ya kalau aku tinggal sementara sampai liburan natal dan tahun baru berakhir. Dan Onew oppa berbaik hati meminta izin menjemputku dari Indonesia.

Dan disinilah aku, di asrama SHINee dan aku ada di kamar Minho. Kebetulan sejak kami pacaran, Minho memang sudah meminta tidur sendiri untuk privasinya –sebenarnya agar dia bisa berada di depan laptop untuk berbicara denganku tanpa perlu diganggu- semata.

Ne, jamkanmanyeo, oppa!” pintaku untuk menunggu.

Aku beralih ke cermin, sedikit menuangkan cairan face tonic ke tangan lalu menepukannya ke wajahku. Tidak ada yang boleh tahu aku tidak tidur sama sekali.

Aku membuka pintu, “Aku sudah bangun, oppa.” kataku sambil melempar senyum ceria.

“Kau, tidak apa-apa semalaman di kamar ini?” Kibum oppa menilik masuk ke kamarku, maksudku ke kamar Minho yang masih dalam keadaan yang sama seperti waktu ia tinggalkan.

Love, no matter when. This heart is given so much love

that it’s overflowing. Always Love. 

You are the reason for my smile. 

Now, “I’m trying my best so that I can smile even when I can’t see you”

I want to tell you that, right away. I want to send that message to you, with love.

Thank you for your cheering me

Thank you for your cheering me

Always Love, Always Love

 

“Ah, lagu favorit Minho. Kau memutarnya sepanjang hari ini?” aku menggeleng cepat untuk menanggapi pernyataan dari Kibum oppa yang menyadari lagu yang sedang dimainkan.

“Beberapa lagu favorit kami jadi soundtrack ku sejak kemarin.” aku tersenyum. Tapi, Kibum oppa malah mengacak rambutku.

“Dasar kau ini!” ia mendecak, “kalau begitu, kau cepat bersiap. Kami tunggu di depan ya, hari ini kita akan sama-sama sarapan pagi di luar, lalu ziarah ke makam Minho.

Aku membulatkan mataku. Haruskah hari ini? Aku belum siap.

“Ayo, tunggu apa lagi? Cepat sana cuci muka!!” komando Kibum oppa sambil melemparkan handuk putih yang tergantung di belakang pintu kamar. “Ayo, cepat! Sekarang sudah hampir jam 6 pagi.” katanya sekali lagi. Kali ini sambil menepuk pantatku agar aku segera keluar dari kamar, persis seperti ayahku yang memaksa adik laki-lakiku untuk mandi saja.

Love, no matter when. This heart is given so much love

that it’s overflowing. Always Love. 

You are the reason for my smile. 

Now, “I’m trying my best so that I can smile even when I can’t see you”

I want to tell you that, right away. I want to send that message to you, with love.

Always Love, Always Love

 

Seselesainya aku mencuci muka di kamar mandi depan, lagunya pun selesai. Aku tersenyum, lalu melangkah untuk mematikan laptopku. Kasihan dia sudah kupakai selama hampir 8 jam.

Kemudian aku ambil ponselku yang sudah bertuliskan full charged entah sejak kapan. Aku buka tracklist-nya, memilah-milah lagu apa yang tepat untuk aku pasang di pagi  yang cerah ini. Ah! Aku tahu!! Sambil menghentak-hentakkan kakiku, jari-jariku meraih satu judul lagu yang selalu bisa menyemangatiku.

I want to start

Do you wanna start

 

I want to start start start

I want to start start start

I want to start start start

I want to start start start

Aku segera membuka lemari, lalu berpakaian. Aku pakai dress hitam selutut, sepatu flat berwarna hitam juga. Sedangkan rambutku, kuikat separuhnya dengan pita putih, dan poniku yang kepanjangan hanya aku jepit dengan jepitan kecil berwarna biru yang kemarin aku temukan dalam laci meja Minho. Kalau bukan untukku, untuk siapa lagi? Wajahku? Tidak perlu khawatir. Kalau hanya untuk make up sederhana dan natural, itu sih mudah.

“Aileen, sudah selesai belum?” tanya Jinki oppa yang sebenarnya lebih terdengar seperti berteriak bagiku.

“Iya, hampir.” jawabku sambil mengecap bibirku untuk meratakan lipgloss.

Aku menyambar tas berukuran sedang berwarna putih, menyantolkan headset ke telingaku, lalu aku sandangkan pada bahu kananku. Setengah berlari, aku menghampiri member SHINee –tanpa Minho- yang telah menunggu di luar.

Face the future, I want to start

In search of something, I want to start 

Itu inti dari lagunya. Tahun yang baru, semangat yang baru, masa depan yang baru. Pacar baru? Bukannya tidak mau, aku hanya belum siap. Aku masih menginginkan kehadiran Minho disetiap tangisku yang sesekali pecah.

Here we come, Minho.” kataku yang lebih terdengar sebagai penyemangat bagi member SHINee yang lain ketika masuk ke dalam mobil yang akan dikendarai oleh Jinki oppa.

“Kau terlihat bersemangat, Aileen.” tukas Jonghyun oppa.

Aku mengangguk, “aku hanya ingat kata-kata Minho oppa untuk selalu bersemangat. Lagipula, apa bedanya dengan kalian yang masih bersemangat mengantarku padahal semalam suntuk waktu kalian padat dengan job menyanyi di acara malam tahun baru.”

Jonghyun oppa tersenyum, begitu pula dengan Taemin oppa yang duduk disebelah kiriku, “melihatmu tersenyum seperti ini, membuat kami yakin bahwa tahun ini akan jadi tahun yang paling cerah.” kata Taemin.

Yang lain mengangguk setuju, “kau benar, Taemin.” ujar Kibum oppa yang duduk di bangku penumpang paling depan.

Mobil pun melaju. Aku segera bersandar pada jok di belakangku. Paling tidak aku bisa tidur beberapa menitlah, pikirku.

No more tears like 2012. The new 2013 will faced by me with smile and tough. GANBATTE!!

-The End-

Akhirnya selesai juga ^^

Gimana? Apa mengecewakan kalian?? Kalau iya, maaf banget. Maaf L

FF selanjutnya coming soon, okay J

See you soon on next chapter of Half Parents J

Bubye :* #plak

©2011 SF3SI, Ji I-El.

Officially written by Iza, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

35 thoughts on “Love Letter, ‘LOST’

  1. awal bacanya sih bingung ini cerita tentang apa sih?
    tapi pas baca bagian sm ke indonesia baru ngeh intinya
    *ketahuan deh lemot
    sumpah gk ngebayangin kalo itu terjadi
    hwaaaaa bakal guling2 nih
    *amit2 deh
    aku suka ceritanya
    like this so much ^_^

    1. Awalnya aku jg bingung🙂
      Serius deh, pas buat ini, aku galau setengah mati bkin plotnya🙂
      Hwaa.. aku sih jg ga berharap itu terjdi pd siapapun sbnrnya🙂
      Makasih ya, sayang🙂

  2. ya ampun I-el, terharu banget nih sama ceritanya.. udah nebak Minho udah meninggal pas Aileennya teriak sama merpati buat ngirimin surat itu ke surga, tapi tetep gk nyangka aja cara tragis Minho meninggal..
    Beruntungnya Aileen jadi yeojanya Minho, tapi mereka berdua emang gk pernah ketemuan ya?
    Ok I-el, ditunggu karya lainnya..🙂

    1. Ehehehe.. iya, serius dah pas bkin bagian itu, aku dilanda dilema antara mau bkin kebaca Minho udh meninggal apa gak, dan jdilah demikian🙂
      Xixixixi.. maaf klo agak mengecewakan ^^
      Thanks for ur comment🙂

    1. Iya, tp bknkah tetep tragis?
      Mrk tdk prnh bertemu, hanya saling mencintai secara semu kan? ^^
      Wah makasih ^^
      Thanks for ur comment

    1. Iyalah endingnya ketebak, org sengaja😄
      Ehehehe ^^
      Nanti aku buat FF yg ga ketebak endingnya krn endinya gantung #plak
      Thanks for ur comment, sayang🙂

    1. Suka, dr SMP, cma pas knal K-pop di SMA, mulai meninggalkan.
      Sampe akhirnya pny pacar org Jepang, balik lg deh suka dengerin J-pop, cma dikit”. Dulu nge-freak bgt sama OST Anime gtu, tp skrng aku sdh terlalu ketinggalan utk mngikuti ^^ #curcol

      Iya, makasih atas dukungannya ^^
      Thanks for ur comment sih yg paling utama :*

  3. Wah.. Bener-bener daebak ceritanya.
    Aku udah nebak kalo mrka ada di negara yg beda pas email-emailan itu. Tp ga nyangka aja aku kirain minho meninggal pas di mimpinya aileen doang. Ternyata di kenyataannya juga, soalnya pas minho kecelakaan itu cuma disebutin dia lgsg dibawa ke korsel. Dan ternyata meninggal gitu *sedih
    Aku juga mau, bisa email2an sama minho *envysamaaileen
    It’s nice fanfic, keep writing and fighting for author. Di tunggu karya selanjutnya. Thanks^^

    1. Sejujurnya, dr cerita ini, aku paling suka bagian dimana Minho nyamperin Aileen dlm mimpi trs nunjukin gmn dia itu meninggal. Aduh.. aduh..
      Aku sndiri terinspirasi dr keluargaku, dia meninggal gtu jg, nunjukin dirinya udh meninggal, ada di dlm peti mati ke suaminya yg selamat dlm keceelakaan.
      Xixixixi.. yah, ketauan deh belangnya😄

      Iya, thanks bgt loh buat dukungannya, sama commentnya jg maksih ^^
      GBU

  4. Yup! Ganbatte! *ikutin iklan Mirai Ocha* #nggakgitu

    Ihh, Authornya cium-cium ya~ *tunjuk emot ‘:*’ di akhir FF* nih, aku bales :**** #plak

    FFnya bikin semangat, untung bukan Sad Ending, soalnya pagi-pagi udah nangis ‘kan nggak enak ‘-‘)b

    Keep writing! Ganbatte! Hwaiting! Fighting!❤

    1. Ehh? ahaha😀
      Idiihh korban iklan😛
      WADUH JANGAN! Nanti aku dimarahi Minho nih😛
      Iya, sbnrnya itu yg mau aku sampaikan ke siapapun yg baca ini.
      Kurang lbh, ini jg bagian dr perasaanku pas ngadepin thn 2013 krn sedikit bnyk cerita ini diadaptasi dr khidupanku #sedikitbocoran ^^
      JD, SEMANGAT YA SEMUANYA!!!!
      Thanks for ur comment😛

  5. Hwaaa~
    Jalan ceritanya bagus, saya suka!😀

    Minho nya udah meninggal ternyata, sedih, serem dan takut pas ngebayangin klo Minho kecelakaan meninggal, peti mati…O tidak!

    Ok! di tunggu ^^

  6. Hwaaa~
    Jalan ceritanya bagus,❤ saya suka!😀

    Minho nya udah meninggal ternyata, sedih, serem dan takut pas ngebayangin klo Minho kecelakaan meninggal, peti mati…O tidak!

    Ok! di tunggu ^^

  7. Awal aku kira ini ff berisikan fans yang bersatu dengan idolanya tapi ternyata nggak, endingnya bikin ff ini jadi nggak biasa.

    1. Iya, mereka bersatu dlm batin, walau raga tdk menghendaki itu jd kenyataan ^^
      Hrs dong tdk biasa, biar ada sirkulasi dan gak jengah. Syukurlah km berpikir ini tidak biasa, makasih atas masukannyaa🙂
      Thanks for your comment ^^

  8. Hah!
    Ming meninggal kecelakaan taxi di Indonesia?????????????

    Ayo pak Jokowi, segera selesaikan proyek monorail Anda, utk mengurangi kemacetan di Jkt,,
    *dorr

    1. Waduh apa hubungannya coba sama Pak Jokowi?
      Ini fiksi, hanya fiksi😄
      Ingat sodara”😄
      Kalian inilah ya, terbawa suasana sampe kmn”😄
      Thanks for your comment ^^

  9. Kerren!
    Demi apapun ini tidak trlihat seperti FF-FF lain yg mengambil tema tentang ‘pacaran beda negara’
    aku selalu suka baca fanfict yg manis dan sedikit mengharukan…
    DAEBAK!!
    *suka sma kta2 trakhirnya..*😀 Keep writing yah…
    Ohya, slam kenal…

    1. Ihh..
      Iya masa? wahh.. aku terhura.
      Makasih ya sayang atas pujiannya -cipok basah-
      Kekekeke..
      Kata” terakhirnya yg mana? Banyak ^^

  10. thor.. sebetulnya sih aku ga setuju kalo minho mati tp jalan cerita nya bagus jd aku suka *ketauan plin-plannya deh*

    1. ehh suka” aku, walau sbnrnya aku ga reala jg, tp aku pengennya gtu ^^
      Ahaha😀
      Thanks for ur comment ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s