Dream Jumper

Author : Alfi

Main Cast :

  • Lee Taemin
  • Lee Jinki
  • Kim Jonghyun
  • Hwang Nara (OC)

Support Cast :

  • Almighty (Key)

Length : Oneshot

Genre : Fantasy,

Rating : PG-13

Summary : Dream Jumper. Orang-orang dengan kemampuan memasuki mimpi orang lain. Beberapa bahkan memiliki kemampuan untuk memodifikasi mimpi, seperti aku.

Dream Jumper

Aku memindahkan sepasang telapak tangan yang sedari tadi kugunakan untuk menutupi wajahku. Dapat kulihat tiga orang berseragam cokelat-cokelat dengan jaket kevlar terpasang di dada mereka dan sebuah helm baja di atas kepala masing-masing tengah memandangiku. Terdapat senapan serbu M-4 atau M-16 di tangan ketiganya. Sayup-sayup, telingaku kemudian menangkap suara yang lumayan berisik bergaung di balik langit-langit. Aku tahu suara itu; suara rotasi baling-baling. Ditambah dengan ruangan sempit tempatku duduk kini, aku langsung tahu kalau kami—aku dan tiga orang lain yang berada bersamaku—kini tengah berada di dalam helikopter yang bersiap menuju medan perang. Ah, payah. Kenapa di saat kondisiku seperti ini, tim kami harus ditugaskan ke sini?

“Kamu tidak apa-apa, kan, Taemin-ssi?” tanya seorang gadis yang duduk di seberangku dengan diiringi pandangan khawatir. Namanya Hwang Nara, dan dia adalah satu-satunya perempuan dalam tim kami. “Kau seharusnya tidak perlu ikut jika kurang sehat.”

“Nara-ssi,” sela Lee Jinki yang menjadi pemimpin regu, “dia pasti sudah paham konsekuensinya kalau dia ikut.”

“Benar, Nara-ssi,” sambung Kim Jonghyun yang sedikit lebih tua dari Nara. Kalung bersimbolkan matahari yang ia kenakan tampak berayun saat ia menoleh ke arah gadis itu. “Meskipun Taemin itu paling muda, tapi jangan lupa kalau dia yang paling berbakat!” ucapnya seraya menepuk-nepuk bahuku.

“Tapi tetap saja….”

BLAR! Belum sempat Nara menyelesaikan kalimatnya, aku merasakan sesuatu menghantam bagian lambung helikopter. Guncangan hebat langsung melanda kabin, membuat beberapa ransel terjatuh dari tempat duduk. Helikopter itu pun buru-buru menukik ke atas untuk menghindari serangan kedua.

“Sial!” umpat Jonghyun seraya menyiapkan senjatanya. “Eros? Atau para Dream Hacker? Dana, laporkan keadaan,” ujarnya seraya menyentuh sisi kanan helmnya dengan kedua jarinya.

“Bukan keduanya,” telingaku serta-merta mendengar suara perempuan menjawab permintaan Jonghyun tadi. “Serangan tadi berasal dari Horde.”

“Sialan, getaran palsu lagi!” kali ini, giliran Jinki yang mengumpat. “Ayo kita keluar dari sini!” ujarnya kepada rekan-rekan setimnya yang lain. Ia lantas menggeser pintu helikopter tersebut, dan kemudian beringsut ke sisi pintu yang sudah terbuka lebar. Dapat kulihat angin dari baling-baling mengibar-ngibarkan lengan baju dan celana panjangnya.

“Ayo, kamu duluan, Jjong!”

Sedetik kemudian, Jonghyun sudah melompat dari helikopter sesuai dengan instruksi Jinki. Nara menjadi yang berikutnya, disusul kemudian aku dan terakhir, Jinki. Selama beberapa saat, kami melayang di udara. Tanpa parasut, tanpa pengaman. Memang inilah yang harus kami lakukan kalau harus keluar dari sini; menjatuhkan diri hingga perlahan-lahan partikel dalam tubuh kami lenyap dan berpindah ke Sentinel Base—mimpi yang menjadi markas kami.

***

Mimpi. Sejak beribu-ribu tahun silam, manusia sudah berusaha untuk menguak apa sebenanya makna dari sebuah objek yang hanya bisa diperoleh lewat tidur tersebut. Mulai dari zaman prasejarah hingga zaman satelit seperti sekarang ini, misteri mimpi telah menjadi suatu kajian yang selalu—dan akan selalu—diperbincangkan oleh para cenayang, agamawan, filosof, dan para ilmuwan. Beribu-ribu literatur telah bermunculan hanya untuk membahas sesuatu yang sering disebut ‘bunga tidur’ tersebut. Sebut saja ayat-ayat dalam kitab suci, Oneirocritica yang dibuat oleh Artemidorus dari Yunani, dan—tentu saja—Die Traumdeutung atau lebih dikenal dengan The Interpreation of Dreams karangan Sigmund Freud yang amat kesohor itu.

Meskipun begitu, meskipun ada banyak sekali manusia yang berusaha mengungkap makna di balik mimpi, mungkin tak akan ada satu pun yang mampu mengenal mimpi sebaik diri kami. Para Dream Jumper. Orang-orang dengan kemampuan memasuki mimpi orang lain. Beberapa bahkan memiliki kemampuan untuk memodifikasi mimpi, seperti aku.

Aku pertama kali menyadari bahwa aku memiliki kemampuan itu pada umur sepuluh tahun. Awalnya, aku mempergunakan kemampuanku itu tanpa tujuan yang jelas. Aku seringkali memasuki mimpi teman-temanku, dan setelah itu, mengubah detail mimpi mereka. Rumah mewah yang pernah kudapati di mimpi seorang adik kelas pernah kubakar sampai menjadi abu, dan aku bahkan pernah mengganti air kolam renang di mimpi Jaegil, seseorang yang menganggap dirinya penguasa sekolah, dengan darah setelah ia mempermalukanku di depan teman-temanku.

Namun, itu dulu. Sebelum aku mengenal para Sentinel. Mereka yang bertugas menjaga mimpi.

Pertemuanku dengan mereka dimulai setahun silam, saat tiga orang yang tadi bersamaku—Nara, Jinki, dan Jonghyun—mendapatiku tengah mengubah bunga-bunga menjadi jamur beracun pada sebuah mimpi. Mereka kemudian langsung menyergapku, dan setelah itu, membawaku ke suatu tempat yang kemudian kuketahui bernama Sentinel Base. Jinki, pria berwajah lebih muda dari umurnya yang ternyata merupakan pimpinan mereka, lantas mengajakku untuk bertemu di dunia nyata. Ia berkata kalau ia tertarik akan kemampuanku. Aku setuju, dan jadilah kami bertatap muka di sebuah coffee shop dekat kampusku keesokan harinya.

“Jadi,” ucap Jinki setelah memperkenalkan dirinya dan kedua rekannya. “Kamu dapat memasuki mimpi orang lain dan berbuat apa pun yang kamu suka dengan mimpi itu, kan?”

Aku tidak segera menjawab. Dalam benakku, aku harus ekstra hati-hati saat menghadapi tiga orang ini. “Jika aku berkata ‘ya’, lantas kenapa?” balasku dengan tatapan sedikit curiga. Namun, Jinki justru menyunggingkan senyumnya yang tidak kumengerti.

“Kenapa kamu mengubah bunga-bunga menjadi jamur beracun?” tanya Jinki lagi.

Kenapa? Jujur saja, aku tidak memiliki alasan khusus. Aku melakukannya karena aku suka saja. “Terserah aku, dong. Yang punya kemampuan kan aku,” tantangku tak mau kalah.

“Tapi itu tidak baik!” Nara turut menimpali. “Kamu tahu apa yang terjadi kalau kamu mengubah detail mimpi seseorang?” tanyanya dengan badan tercondong ke arahku.

Aku menggeleng.

“Mimpi,” ujar Jonghyun tiba-tiba, membuat pandanganku beralih kepadanya, “pada dasarnya merupakan manifestasi berbagai hal yang tak ingin—atau tak dapat—diwujudkan dalam kehidupan nyata,” ia menambahkan seraya menghirup cappuccino yang sedari tadi terhidang di meja. “Hasrat terpendam, kekecewaan karena tak bisa memperoleh sesuatu, trauma masa lalu…semuanya ditekan ke dalam alam bawah sadar dan lalu muncul sebagai mimpi.”

“Apa yang kau bica—“

“Dalam mimpi, terdapat representasi hal-hal yang ditekan ke dalam alam bawah sadar,” lanjutnya. “Misalnya, kamu bermimpi mengobati luka patah tulang seseorang. Tulang yang patah menandakan hubunganmu yang retak dengannya, sementara kegiatan mengobatimu menandakan kamu ingin berdamai dengan orang itu.” Kemudian, Jonghyun lantas kembali meminum cappuccino-nya, meninggalkanku dengan pandangan dipenuhi tanda tanya.

“Jadi begini,” Nara lalu mengambil alih setelah dilihatnya Jonghyun tidak melakukan tugas menerangkannya dengan baik, “karena alam bawah sadar turut berperan besar dalam kehidupan seseorang, maka kamu akan mengubah seseorang secara tak langsung kalau kamu mengubah atau menghancurkan detail mimpinya. Keinginannya, rasa takutnya, semuanya!”

Aku langsung terperanjat begitu Nara selesai menyelesaikan kalimatnya. Sungguh, aku tak pernah berpikir kalau perbuatan main-mainku itu memiliki dampak yang sebegitu besar terhadap orang lain. Aku tidak mengira kalau apa yang kuanggap lelucon itu bisa mengubah kepribadian seseorang. Tiba-tiba saja, kurasakan saluran paru-paruku menyempit. Apa…apa yang telah kulakukan selama ini?

“Kulihat, kamu sudah memahami kenyataannya.”

“Eh, maaf?” tanyaku ke arah Jinki yang menjadi sumber suara itu. Aku terlalu dalam terjebak dalam pemikiran bersalahku, sampai-sampai aku tak mengindahkan kalimatnya barusan.

“Jadi,” kata Jinki alih-alih mengulangi perkataannya barusan, “mari bergabung dengan kami untuk mencegah orang lain merusak mimpi,” lanjutnya dengan tangan kanan terulur padaku.

Aku sempat ragu untuk menanggapi uluran tangan Jinki pada awalnya. Maksudku, apa aku bisa melakukannya? Apa aku bisa menjagai mimpi orang-prang? Namun, didorong oleh rasa bersalah dan keinginan untuk menebus kesalahanku, aku akhirnya membalas jabat tangan Jinki juga.

“Selamat datang, Sentinel baru.”

***

Sejak saat itu, aku pun lantas menjalani kehidupan baruku sebagai Sentinel bersama ketiga temanku ini. Malam demi malam, kami bertualang di Alam Bawah Sadar untuk menjaga mimpi agar tidak dikacaukan oleh para Dream Hacker. Mereka ini adalah para Dream Jumper yang dengan seenaknya mengubah mimpi seseorang—dikenal juga dengan sebutan Horde. Motif para Dream Hacker ini bermacam-macam. Beberapa hanya iseng tanpa tujuan jelas seperti diriku, sedangkan sebagian lain lebih didasari atas sesuatu yang lebih konkret: uang. Benar, ternyata, tak sedikit orang yang mau membayar para Dream Hacker itu untuk masuk dan menyabotase mimpi orang lain. Alasannya? Persaingan politik, korporasi, dan bahkan masalah warisan sekali pun!

“Payah!” Kudengar Jonghyun mengumpat begitu kami sudah kembali ke Sentinel Base—masih dalam mimpi, tentu saja. Di tempat ini, para Sentinel dari seluruh dunia berkumpul setiap malam untuk melakukan tugas mereka: menjaga mimpi. Meskipun begitu, tanggung jawab tim kami hanyalah mimpi-mimpi orang Korea Selatan saja. Lebih spesifiknya lagi masyarakat Seoul. Selain kami, ada ratusan Sentinel lain yang wilayah operasinya tersebar di seluruh Korea Selatan. “Getaran itu palsu! Tidak ada Dream Hacker di situ!” tambahnya masih dengan intonasi tinggi. Getaran yang hebat pada alam bawah sadar memang menjadi pertanda adanya penyusup, tapi tidak selalu. Terkadang, getaran itu terjadi karena seseorang tidur dalam keadaan menekan konflik.

“Lantas, apa yang kita lakukan sekarang?” tanya Nara yang kini tengah duduk di sampingku. Ia menggerak-gerakkan kedua kakinya seraya memainkan rambut panjangnya yang dikuncir samping.

“Kita akan mencari apakah ada Dream Hacker lain,” sahut Jinki. “Dana, laporkan keadaan,” Ia lantas memberi instruksi pada komputer di depannya. Benar, Dana adalah sebuah komputer—singkatan dari Dream Analyzer. Tugasnya adalah mendeteksi kalau-kalau ada para Dream Hacker yang melakukan infiltrasi ke dalam sebuah mimpi dan menyuplai para Sentinel dengan informasi yang mereka butuhkan.

“Sebuah getaran ganjil terdeteksi,” jawab Dana dengan suara-perempuannya. “Nama Horde: Han Sohwa. Sembilan belas tahun. Pekerjaan sekarang….”

“Ya, ya, kita akan melihat profilnya nanti,” potong Jonghyun dengan tangan terkibas di depan muka. “Kirim kami ke mimpi itu.”

“Segera, Sajangnim.”

Baik Jinki, Nara, maupun Jonghyun lantas menjejakkan kakinya menuju Dream Portal, sebuah ruangan berisikan portal ke dunia mimpi. Namun, aku bergeming. Bahkan sejak sedari tadi Dana menyebutkan nama Horde itu, badanku sudah menegang.

Han Sohwa adalah nama kekasihku. Lebih tepatnya, mantan kekasihku.

“Taemin-ssi, ayolah,” panggilan Jonghyun dengan segera membuatku tersadar dari lamunanku. “Kamu ikut, tidak?”

Aku menjawab seruan Jonghyun itu, dan setelah itu, menyusul ketiga rekanku yang lain ke arah Dream Portal.

***

Aku dan Sohwa sebenarnya pasangan yang serasi. Hanya saja, sebuah kesalahpahaman telah membuat hubungan kami retak. Kesibukanku di kampus telah membuatku jarang menghubunginya, sehingga ia jadi berpikir kalau aku tak lagi menyayanginya. Puncaknya, ia memutuskan hubungan kami kemarin siang. Itulah pula yang menjadi alasan kenapa aku merasa kurang fit untuk melaksanakan tugasku sebagai Sentinel malam ini; aku masih mencintainya.

“Ini dia, “ ucap Jinki begitu kami tiba di mimpi milik Sohwa. Kastil yang terbuat dari batu, ksatia dengan pedang dan baju zirah, para petani yang mengasung garu…ia pastilah tengah bermimpi tentang Abad Pertengahan kini. Kulihat pakaian tim kami juga telah menyesuaikan dengan kondisi mimpi sang Horde. Kami bertiga kini mengenakan zirah logam abu-abu; hanya saja senjata kami berbeda. Aku dan Jinki menggunakan pedang, Nara pisau lempar, sementara Jonghyun menggenggam sebuah busur.

“Wah, mimpi Medieval!” Nara berteriak kegirangan sambil mengamat-amati lengan zirahnya. “Aku selalu ingin berada dalam mimpi semacam ini!”

“Hey, kita di sini bukan untuk main-main!” sentak Jonghyun kepada Nara yang membuat gadis itu langsung terdiam. Dalam sekejap, ekspresinya langsung berubah dari kegirangan menjadi sendu.

“Habisnya….”

“Sudahlah,” Jinki menengahi. “Yang penting sekarang pasang mata baik-baik. Laporkan segala hal yang tak biasa, oke?”

Kami berempat lantas sepakat untuk memecah grup kami dan lalu berpencar. Aku bersama Jinki, dan itu berarti, Nara bersama Jonghyun. Tujuan pun ditetapkan; tim Jinki akan menginvestigasi bagian utara kota sementara tim Jonghyun akan menyisiri bagian selatan kota.

Kalau mau jujur, aku sebenarnya belum pernah memasuki mimpi Sohwa. Tidak heran, ia menjadi pacarku enam bulan setelah aku memutuskan untuk bergabung dengan Sentinel, jadi bukan hal yang aneh kalau aku tidak punya waktu untuk datang ke dalam mimpinya. Aku sebenarnya ingin sekali mampir ke dalam Sohwa. Mengetahui apa keinginan terbesarnya. Memahami apa yang ia cemaskan, takutkan, dan senangi. Mencari tahu apakah aku akan ada di dalam mimpinya.

Sayangnya, di saat keinginanku terkabul, kami sudah memutuskan ikatan kami….

“Tunggu sebentar,” ucap Jinki tiba-tiba seraya mengangkat tengannya. Perlahan, ia lantas menaiki sebuah bukit yang berada di hadapan kami, sementara aku berjalan di belakangnya. Dapat kulihat ia berada dalam posisi siaga dari tangannya yang terus memegangi gagang pedang.

“Ada apa, Jinki?” tanyaku. Namun, ia tidak menjawab dan justru memintaku mendekat ke tepian bukit. Masih dengan perasaan bingung, aku lantas mengikuti perintahnya.

Mataku langsung terbelalak saat melihat pemandangan di depanku. Sebuah serigala cokelat besar—sangat besar—dengan tanda segitiga terbalik di dahinya tampak terbaring di dasar lembah sana. Darah berceran di sekujur tubuhnya, mengubah warna rumput yang hijau menjadi merah.

Thanatos,” ucap Jinki. Dikendurkannya gagang pedangnya, dan setelah itu, ia lantas berkomentar, “Orang ini kuat.”

Thanatos? Tapi bagaimana mungkin? Baik Thanatos sang insting kematian maupun Eros sang insting kehidupan merupakan penjaga alami alam bawah sadar. Mereka akan mengeliminasi apa pun yang bukan berasal dari alam bawah sadar seseorang—dan itu berarti para Dream Jumper. Untung bagi kami baik Thanatos maupun Eros tidak akan keluar kecuali mereka benar-benar merasa terusik. Itu karena jika mereka benar-benar keluar, dapat dipastikan para Dream Jumper yang ada di dalam mimpi tersebut tidak akan bisa selamat—kecuali jika mereka segera pergi dari mimpi itu. Aku sendiri belum pernah bertemu dengan mereka sebelumnya. Namun, Nara berkata kalau tim kami pernah melihat kemunculan sebuah Eros berbentuk kumbang jauh sebelum aku bergabung. Tentu saja, mereka segera meninggalkan mimpi itu untuk menghindari risiko berhadapan dengan sang Eros.

Dan Dream Hacker ini berhasil membunuh salah satunya? Dream Hacker macam apa itu?

“Ne, Nara-ssi?” kata Jinki tiba-tiba sambil menempelkan dua jari tangannya di telinga. Aku pun buru-buru melakukan hal yang sama untuk membuka komunikasi.

“Kurasa kalian perlu ke sini,” sahut Nara. Dari nada suaranya, ia terdengar begitu panik. “Dan cepat,” tambahnya.

***

Dream Hacker ini sakit. Benar-benar sakit. Ia dengan sengaja memodifikasi hutan di hadapan kami menjadi sesuatu yang hitam legam dan mengubah warna langit menjadi putih. Pemandangan di hadapan kami tak ubahnya siluet; hanya terdiri atas dua warna tersebut.

“Kasihan Horde ini,” ucap Jonghyun seraya menggelengkan kepalanya. “Alam bawah sadarnya dirusak sampai seperti ini.”

Aku menggertakkan gigiku. Darahku terasa mendidih saat memandangi kehancuran yang terhampar di depan mataku. Dia…dia melakukan hal semacam ini kepada Sohwa-ku yang kusayangi?

“Bagaimana ini?” tanya Nara kepada Jinki. Sebuah getaran takut jelas terbaca dari suaranya. “Apa kita kembali saja?” tanyanya lagi. Namun, Jinki menggeleng.

“Kita tidak bisa mundur sekarang,” balas Jinki. “Tapi kalau keadaan sudah di luar kendali, maka….”

“TIDAK!” raungku. Dengan alis terangkat, aku kemudian berbicara kepada yang lainnya. “Kita tidak akan keluar dari sini sebelum berhasil meringkus orang ini!”

Nara menatapiku dengan pandangan heran. Begitu pula Jinki dan Jonghyun, mereka tampak terkejut saat melihatku meledak seperti tadi. Wajar saja, pria mana yang tidak murka saat gadis yang dicintainya ‘dirusak’ seperti ini?

“Taemin-ssi,” panggil Jinki perlahan seraya mendekatiku. “Dream Hacker ini sepertinya bukan Dream Hacker biasa. Kau tahu kan apa yang tejadi kalau kita tewas di sini?” tanyanya.

Aku tidak menjawab. Tentu saja aku tahu. Apabila seorang Dream Jumper tewas di alam bawah sadar, maka ia tidak akan bisa memperoleh kesadarannya kembali. Ia tidak akan pernah bangun dari mimpinya meskipun masih bernafas.

Itu artinya, ia akan koma hingga meninggal.

“Kita akan tetap pada rencana semula,” ucap Jinki lagi. “Semuanya….”

DUAR! Sebuah ledakan yang tiba-tiba telah menghentikan perkataan Jinki. Tak berapa lama kemudian, asap mulai memenuhi pandanganku, membuat keadaan sekeliling kami menjadi putih. Dapat kudengar suara Nara terbatuk, sementara Jinki langsung memanggil nama kami satu per satu untuk memastikan kami baik-baik saja. Sedikit demi sedikit asap itu lantas mulai menipis, dan aku akhirnya berhasil melihat teman-temanku lagi. Namun, bukan hanya mereka yang kulihat. Ada satu orang lain yang kini hadir di hadapan kami semua. Rambut merah sebahunya terlihat sedikit berkibar tertiup angin. Ia mengenakan pelindung dada hitam—benar-benar hitam—tanpa senjata apa pun di tangannya Dan ia mengendarai sebuah wyvern yang memiliki tanda segitiga di dahi.

Benar. Dream Hacker ini telah berhasil mengambil alih Eros.

***

“Well, well, para Sentinel,” ujar Dream Hacker itu dari atas Eros. “Senang berjumpa kalian di sini.”

Dengan segera, aku langsung mencabut pedangku dari sarungnya. Hal yang sama juga dilakukan Jinki. Jonghyun dan Nara juga turut memasang kuda-kuda; Jonghyun mengarahkan sebuah anak panah ke arah Dream Hacker itu sementara Nara mengeluarkan segenggam pisau kecil dari pouch-nya.

“Siapa kau?” seru Jinki lantang sambil menggenggam pedangnya erat. “Dan kenapa kau menyusup ke mimpi ini?”

Dream Hacker itu menyeringai. Bola matanya yang merah tampak mengilat-ngilat. “Nama asliku tidak penting, tapi kalian bisa memanggilku Almighty,” jawab Dream Hacker itu—Almighty. “Dan alasanku di sini—tentu saja—hanya untuk meningkatkan kemampuanku. Setiap Dream Hacker harus melakukannya kalau ingin tetap lihai, kan?”

Meningkatkan kemampuan? Hanya karena alasan sesepele itu, orang gila ini mengobrak-abrik alam bawah sadar Sohwa-ku? Dengan darah mendidih, aku bersiap untuk melompat dan menghunuskan pedangku ke arah maniak ini. Namun, aku tiba-tiba merasakan tangan Nara mendarat di bahuku. Ia tengah menatapku sembari menggeleng saat aku menoleh kepadanya.

Aku mendengus kesal. Bedebah di atas sana itu telah menghancurkan mimpi Sohwa, dan Nara menyuruhku tenang? Aku baru saja hendak melepaskan tangan Nara dari bahuku ketika tiba-tiba aku melihat Jinki menatap ke arahku dengan pandangan tajam. Akhirnya, dengan telapak tangan bergetar menahan amarah, kuutuskan untuk mengurungkan gerakanku.

“Dana, siapa orang ini?” kudengar suara Jonghyun bertanya. Kami memperoleh respon sedetik kemudian, tapi jawaban Dana membuatku terbelalak.

“Data tidak ditemukan.”

Apa ini? Seharusnya, Dana memiliki seluruh data Dream Jumper di dunia ini, tapi kenapa? Aku menoleh ke arah Jinki, dan dapat kulihat ia juga terperangah.

Siapa dia sebenarnya?

“Sudah cukup basa-basinya.”

Ctik.

Serentetan pedang yang muncul entah dari mana langsung melesat ke arah kami sesaat setelah Almighty menjentikkan jarinya. Tanpa membuang waktu, Jinki pun lantas segera menggunakan kemampuan modifikasi mimpinya untuk menciptakan pelindug berupa dinding batu. Aku dapat mendengar suara ujung-ujung pedang itu menghujani tembok batu di balik dinding yang Jinki ciptakan.

Namun, ternyata serangan itu tidak behenti di situ saja. Almighty kembali menjentikkan jarinya, dan sekonyong-konyong, pedang-pedang itu lantas meledak, membuat tembok batu Jinki runtuh. Debu-debu dengan segera bertebaran di sekeliling kami. Aku sendiri refleks menutupi wajahku dengan lengan. Saat debu itu mulai menghilang, aku kembali mengunci pandanganku kepada Almighty.

Almighty mengangkat tangannya. Dilihat-lihatnya punggung tangannya yang dibalut sarung tangan, kemudian ia berkata, “Kalau dipikir-pikir, mimpi Horde ini menyenangkan juga. Aku bisa dengan mudah melakukan apa yang kumau dengannya.”

Sudah cukup, teriakku dalam hati. Dengan sekali jejakkan, aku kemudian melompat ke arah Dream Hacker itu, bersiap menghabisinya untuk selamanya.

Ctik.

Sesuatu yang tajam—entah apa—tiba-tiba saja kurasakan menembus perutku. Itu…tombak! Dengan segera, rasa sakit mulai menjalari tubuhku, membuatku terjatuh dari ketinggian. Aku mengerang saat badanku terhempas di tanah sementara tombak Almighty masih tertancap di perutku. Sekilas, mataku melihat seringai mengejeknya. Aku baru saja hendak mencabut tombak itu ketika tiba-tiba saja ia kembali menjentikkan jarinya.

Aku menjerit.

Rasa sakit yang tak terkira langsung menyergapku saat puluhan tombak lain menghujaniku. Darah segar pun dengan segera mengalir keluar dari mulutku.

Sial…sial…SIAL…!

“Aku tak akan segegabah itu bila jadi kau,” sindir Almighty. “Kita akhiri saja, ya,” ia lantas menambahkan seraya menjentikkan jari.

Samar-samar, aku melihat tombak raksasa melayang tepat di depan mataku. Apa? Jangan bilang kalau ia hendak menghujamkan tombak itu ke kepalaku?

“Andwaeeeeeeeee!”

Ctik.

***

Note: Haloooooo semuaaaa… Adakah yang kangen? #plaaakk Oneshot ini permintaan maafku untuk yang udah baca Love Means Never Say Sorry.. Tuh sequel mandet di tengah jalan, maklumin yah, penulis moodnya lagi loncat-loncat males edit hehehe udah gitu lagi ngurus Penulisan Ilmiah (ituloh yang semacem skripsi) hiks.. dan targetku 2 bulan selesai, doain semoga lancar yahh -_- Oh iya, cerita ini sebelumnya aku udah pernah post di blogspot aku tapi pake tokoh yang berbeda cuma sekarang aku ganti nama tokoh, setting dan alur endingnya. Makasih yang udah baca ^^ Sampai jumpa😀

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

60 thoughts on “Dream Jumper

  1. Eoh, ini end atau begimana ya?
    Baby meninggal gt ajah?
    Sohwa-ny?

    Ahaha, baru baca cerita begini rumitnya, meskipun aku suka cerita fantasy, tp aku akui ini agak berat, kudu dibaca pelan2, supaya gak timbul pertanyaan ‘eh, gmn td?’

    Love Means Never Say Sorry, blm baca deh kayaknya…

    Okay, Alfi-ssi, moga sukses sm KTI-nya..
    Abis itu ramaikan lagi Blog ini…;)

  2. ya ampuuuun, keren banget.
    paling suka genre fantasy kayak gini, ada action-nya lagi. paling suka action.
    tapi nggak terlalu srek sama endingnya, ngegantung gtu.
    tapi aku tetep suka. ditunggu karya yang lainnya….

  3. dari sekian ff yang pernah saya baca, saya baru baca yang fantasy yang begini. suka banget, apa lagi diselipin adegan actionnya. yakin, keren banget. sayang oneshoot dan ngegantung. jadi kurang puas. mungkin bisa dibuat sequelnya #request.
    ok, ditunggu karya selanjutnya…

    1. wew sampe double comment hehe
      sequelnya yah? ntar deh dipikirin hehe
      tapi kemungkinan bukan sequel, mungkin dibuat Stand Alone, tapi gak janji.
      Makasih udah baca ^^

      1. iya, double. kemarin rada lola jadi buat dua#nggak sengaja
        dikirain satunya nggak masuk. eh, ternyata dua-duanya langsung.

  4. eeeehhh.. udah abis???
    saya ngerti jalan ceritanya, tapi bagian akhirnya ngegantung….
    Sequel dong Alfi…
    Awal baca udah kepikir, kok Key sama Mino gk ada, ternyata Key jadi musuh mereka, tapi si Mino gk dapet cast disini.
    Ok Alfi, ditunggu karya lainnya..🙂

  5. Wow! Key perannya antagonis nih..duuh seharusnya eomma gk boleh main nusuk nusuk anaknya ._. *Lirik key

    Tapi ending nya ngegantung bgt thour..taemin mati nih..? Trus gk bisa bgun sekarat dan meninggal dong? Kasian ._.
    Over all ff ini keren bgt!awalnya bingung ini latarnya di mana..coz tulisannya itu loohh..agak berat jadi aku balik baca ke atas (?)

    Daebak! Like it!😀

  6. selesai? beneran? omooo jd gmn ini babytaem meninggal gt? andwaeeee😥
    jinchaaa! ini ngegantung banget alfi-ssi… tapi seru asli, aku selalu suka sama cerita fantasy macam ini😀

  7. Kyaaaaaaah, Alfiiiii…
    Keren loh fi ceritamu ini. Bisa gitu ya kepikiran bikin yg macem ini. Ffffi, dirimu kan anak IT tuh, bikin cerita tt cyber crime dong qaqaaaa…

    Aku kasih semua jempol buat ff ini. Terrus berkarya yaaa

    1. makasihhh bibbbbbbb… *peyuukk* lol
      yang cyber crime udah kepikiran, beberapa scene udah nongkrong di evernoteku tapi masih rancu sama kalimatnya dan datanya juga belum banyak, masih ngawang dilangit lol

      1. Oh ayolah fiii, you only my hope buat urusan ff hacker2an. Huoooow, entah knp aku excited banget sama yg macem itu belakangan. Hacker itu keren bangetttt

        semoga alfi dpt wangsit deh yaaa *toel alfi

        1. Hueeee… urusan hacker-hackeran, liat post ntar deh, coba aku mood ngedit cerita yang mana buat di post, tapi yang sequel duluan kayanya yang diurus, soal hacker2an aku praktekin dulu #plaakk

          Aminnn… semoga wangsitnya bikin jari mau cetak cetik lagi🙂

  8. Err, ini semacam di-php-in sama author-nya ya. Dari awal baca udah excited eh tiba-tiba udah abis aja ceritanya.
    Baru ini baca ff genre sci-fi, udah gitu keren pula, tapi nanggung. Ga tau endingnya gimana.

  9. Wah aku belum baca tuh yang Love means never say sorry
    Genre fantasynya enak dibaca
    Itu akhirnya gantung atau emang cukup sampai disitu saja, yang neriak andwae juga siapa author.
    Selamat berkarya author (งˆ▽ˆ)ง

  10. Daebak….
    Aku smp nahan napas…tp endingnya malah benar2 bikin ga bs napas…taeminnnn….andweeee….
    Almighty keren #ehhh

    pengen liat visualisasi nya nih ff…pasti keren klo dlm bentuk movie..apalg klo cast nya bneran uri shinee *.* /pingsan/
    Tp mino mana #clingakclinguk

    Goodjob^^
    Keep writing^^

    1. ehhh harus napas dong, bahaya kalau gak, ntar anginnya keluar dari bawah lol
      Waduh kalau soal bentuk movie itumah kejauhan, liat aja visualisasinya tampang-tampang member SHINee yang kece badai hahaha
      Minho kapan-kapan deh munculnya #eh
      Maksihhh udah mampir ^^

  11. keren nih. kok bisa dpt ide ky gini? mantep. gak biasanya fantasy2 yg ky gini.. hehe
    bnr kt nunadk, bcnya musti pelan2. hahaha

    pas di awal2 td smpt ngira yg pov aku itu nara. haha eh trnyta taemin.
    dan dana itu aku nebaknya dana csjh. trnyata…. hahaha malu sndri akunya..

    “ksatia dengan pedang” eh mksdnya itu ksatria ya?

    aaaaaaaaaaaa knp jd tanggung gini?????
    msh blm jelas tujuan si kunci ngapain aja di mimpi sohwa T.T
    setuju sm yg lain.. pengen sequelnya.. ditunggu krya slnjutnya…

    1. Waktu buat singkatan Dana juga aku ngehnya ke csjh hehe
      iya itu typo maap😀
      Kunci kan cuma buat ningkatin kemampuan dia *nunjuk-nunjuk di atas*
      Sequel gak janji, kalau lanjutan sekedar potongan oneshot aku usahain, soalnya kalau buat sequel kebiasaan males tanganku buat ngetik lanjutan kalau udah berenti di tengah jalan hehe *kebiasaan buruk* *malah curcol*

  12. loh kok nanggung?? yah… sayang padahal ini bener2 lg tegangnya.. author jahat ih!! jahat! kan lg seru2, terus lanjutannya gimana? bikin sequel dr ini dong. apalagi kl dibikin chapnya. wah aq dgn setia baca deh…

    jd endingnya baby taem mati? andwee!! key kau jahat bgt! awas aja aq cium loh (?) #plak
    key berambut merah? gak bisa ngebayangin~~ masih penasaran sebenernya siapa itu key? dia kuat bgt ya…

  13. Ya ampuuunnn!!
    Aku baru aja terhanyut, lagi seru-serunya tau-tau berhenti
    aku sampe refleks ngejerit. macem lagi nonton film perang tahu-tahu bioskopnya mati lampu
    hahahha
    Ini keren, banget. Serius. Dari segi ide, dan risetnya. Wah… kapan aku bisa nulis kayak gini ya? ._.

    aku berharap ini FF bakalan berlanjut. Gak jadi sequel, tapi yaaaa just special part aja gitu
    Semangat buat skripsinya ^O^

    1. waduh, jangan jejeritan, bahaya Zik lol
      Pasti bisa kok, nulis begini enaknya pas tengah malem, pas lagi sepi dan ide ngalir dahyat, tapi sebelumnya riset harus udah ada jadi mempermudah dan yang jelas memperlancar.
      Semangatt Zikaaa…. Pasti bisa kok nulis semacam gini, asal ada kemauan ^^
      Aku sih berencana buat stand alonenya tapi tangan belum mulai buat ngetik yang ini hehe
      Makasihhh ^^

    1. Iya maafkanlah Almighty, Tuhan *bantu doang*😀
      Key antagonis karena aku gak tau siapa yang mau dibuat antagonis, dan dari semua yang cocok menurutku itu si Key hehe *peace*

  14. Ah, aku jadi keinget sama ide FFku; “The Nigtmare Maker”, tentang mimpi juga sih, tapi jauh berbeda sama FF ini. Awalnya aku nggak niat buat nulis, tapi ngeliat FF ini semangatku naik, kamsahamnida Author-ssi~ *cium Authornya* #plak

    Keren! Jjang! Daebak! Sugoi! LOVE IT! <3333333

  15. hmmm perasaan udah gak karuan pas baca ini eeeh jadi malah tambah gak keruan lagi pas baca endingnya. makasih lo author alfi 😭
    tapi emang serius keren banget thor!

  16. Hallo, salam kenal. Biasanya aku agak males baca ff genre fantasi, tp entah kenapa pas baca judulnya langsung tergerak gitu pengen baca #lebay
    Ini awal mpe hampir akhir uda oke, penasaran sama nasib taemin, gimana nasib sohwa. Eh, dibaca mpe akhir malah gantung. Harus tanggung jawab nih authornya, kudu ada sequelnya, wajib!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s