Married By Accident – Part 9 (End)

Poster_Married By Accident

Author: Yuyu

Main Cast:

  • Lee Jinki (Onew)
  • Han Younji

Support Cast:

  • Choi Minho
  • Key
  • Son Shinyoung (OC)
  • Kim Jonghyun
  • Kim Hyunji (OC)

Minor Cast:

  • Lee Taemin
  • Hwang Jungmi

Length: 9.925 words (Sequel)

Genre: Romance, Sad, Friendship

Rating: PG – 15

Published at:

  • Piece of My Imagination (wp)
  • SF3SI
  • Fanfiction.net

Married By Accident

Waktu berlalu, musim pun ikut berganti. Warna-warni bunga tampak indah menghiasi dahan-dahan pohon yang kesepian selama dua musim terakhir. Meski tidak terik, namun matahari bersinar cerah. Cahayanya menerobos masuk melalui celah gorden.

Younji berjalan mendekati jendela. Ia menyibakkan kain gorden, membiarkan sinar matahari memenuhi ruangan dengan sempurna. Matanya menyipit sejenak, membiasakan penglihatannya terhadap cahaya benderang. Diintipnya kendaraan yang lalu-lalang di jalan raya dari lantai sembilan hotel Nongshim. Keramaian lalu lintas di Busan ternyata tak terlalu beda dengan ibukota Korea Selatan.

Suara gaduh terdengar, Younji tersentak kaget dan refleks menoleh ke belakang. Ia tak melihat siapa pun di ruangan. Pendengarannya kembali ditajamkan, sekali lagi mendengar suara gaduh—kali ini lebih pelan dari sebelumnya. Matanya membulat, menerka apa yang terjadi di kamar.

“Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa,” ujar Onew buru-buru saat mendengar derap langkah yang mendekat.

Younji muncul di ambang pintu beberapa detik setelahnya. Ia melihat Onew terduduk di antara koper-koper, sedang berusaha berdiri.

“Aku hanya tersandung,” jelas Onew tanpa diminta.

“Tidak sengaja tersandung,” tambahnya cepat.

Younji tertawa pelan, ia mengulurkan tangan untuk membantu Onew berdiri. Baru saja wanita itu hendak membuka mulut, ponselnya berdering dari dalam tas tangan.

“Hyunji,” ujar Younji kepada Onew tanpa bersuara. Ia sedikit berjalan menjauh sebelum mengangkat telepon dan bercakap-cakap.

Onew yang tak berniat mengganggu memutuskan untuk kembali berkutat dengan koper-koper yang semula ia urus sebelum terjerembab di lantai. Setelah meletakkan koper di dekat lemari, ia melihat sekeliling.

Kamar superior suit yang mereka tinggali untuk beberapa hari ke depan hanya berjarak beberapa pintu dari kamar Jonghyun dan Hyunji. Liburan mereka ini bisa terbilang cukup mendadak, meski sempat mereka perbincangkan beberapa waktu silam. Suatu siang, tiba-tiba saja Jonghyun menghampiri Onew di ruang kelasnya tepat setelah jam pelajaran berakhir untuk memberitahukan jadwal perjalanan ke Busan.

“Anggap saja ini honeymoon kalian, kau harus pergunakan kesempatanmu dengan baik.”

Onew tersenyum kecil mengingat ucapan Jonghyun kala itu. Sambil membuka koper dan memindahkan pakaiannya ke dalam lemari, ia mengingat-ingat percakapan mereka yang dilanjutkan sembari berjalan keluar ruang kelas. Bahkan Onew masih ingin tertawa geli jika mengingat bagaimana Jonghyun begitu bersemangat membantunya memikirkan momen-momen untuk membangun feel untuk malam pertamanya—Onew dan Younji.

Onew menggelengkan kepalanya, tidak terlalu kuat, untuk mengusir geli yang menggelitik perutnya. Ia baru saja menggantungkan helaian pakaian terakhirnya saat Younji masuk kembali ke kamar, sempat menangkap pergerakan Onew yang menggelengkan kepala.

Waeyo?” tanya Younji.

Oh, sudah selesai bicaranya?” Onew balas bertanya.

Younji menjawab dengan gumaman pelan. Wanita itu membuka kopernya yang helum tersentuh sejak tadi. Ia mengambil pakaian ganti, yang dirasanya lebih nyaman sambil berujar tanpa menoleh pada Onew. “Hyunji menyuruh kita untuk turun dan menemui mereka di bakery.”

“Sekarang?” tanya Onew. Bola matanya bergerak melihat jarum jam dinding.

Lagi-lagi Younji bergumam untuk mengiyakan.

Setelah punggung Younji menghilang di balik pintu kamar mandi beserta baju ganti, Onew memilih pakaian yang ingin ia gunakan dari dalam lemari. Diambilnya kaos putih lalu melemparnya ke atas tempat tidur. Jemari Onew bergerak santai, membuka satu per satu kancing kemeja yang dikenakannya. Setelah kancing terbawah juga telah dibuka, ia biarkan kemeja itu terjatuh di tempatnya berpijak sementara ia meraih kaos yang sudah disiapkan.

Eommaya!” Younji memekik pelan. Tubuhnya sontak berputar ke samping. Kepala Younji tertunduk, tidak berani mendongak saat jantungnya berdebar kencang membuat wajahnya memanas.

Onew baru saja menyelipkan kaos melalui kepalanya saat mendengar pekikan Younji. Tak perlu bertanya mengapa, ia segera menurunkan kaosnya untuk menutupi tubuhnya dengan sempurna.

Dehaman pelan terdengar, agak canggung dan kaku. Onew melirik Younji yang masih mematung di tempatnya. Tangannya terangkat naik, mengusap tengkuk untuk mengurangi kecanggungan yang dirasakannya.

“Maaf, kupikir kau belum selesai mengganti bajumu,” kata Onew berusaha terdengar setenang mungkin seolah kejadian tadi sama sekali tidak mengganggunya.

Younji mengangguk ragu, masih belum berani bertatapan mata dengan suaminya. Kecanggungan masih terlihat jelas menyelimuti mereka yang telah memutuskan untuk segera menemui sepasang suami-istri lainnya di HurShimChung Bakery.

“Lama sekali,” keluh Hyunji bahkan sebelum Younji dan Onew sempat duduk. Jonghyun yang duduk di samping hanya meringai samar, memperhatikan Onew lalu Younji secara bergilir.

“Wajar saja, ini ‘kan bulan madu pertama mereka setelah menikah. Seharusnya kau biarkan mereka menikmati waktu mereka berdua, bukannya justru mengganggu,” cetus Jonghyun, belum menghapus seringaian dari wajahnya.

“Semoga saja tidak ada makna lain dari ucapanmu itu,” timpal Onew seraya mendekat.

Jonghyun terkekeh, “Sayangnya, iya, ada makna lain di sana yang berarti seharusnya kalian biarkan kami menikmati waktu berdua.”

“Jangan bicara seperti itu,” omel Hyunji. Tangannya memukul pundak kokoh Jonghyun. Pria itu protes, namun diabaikan. Hyunji lantas berdiri, ia menarik tangan Younji sebelum wanita itu duduk.

“Ini waktunya untuk para wanita,” kata Hyunji. “Aku akan mengajak Younji ke pemandian air panas di lantai lima, kalian tunggu di sini saja.”

Younji terlihat cukup bingung karena tangannya tiba-tiba saja ditarik. Ia menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang, melihat Onew yang masih berdiri dan juga menoleh padanya. Langkah kaki Hyunji yang lebar-lebar memaksa Younji untuk menatap lurus ke depan dan ikut melebarkan langkahnya jika ia tidak ingin terjatuh dan terlihat konyol.

“Sudah, mau kau lihat sampai kapan? Istrimu sudah tidak terlihat lagi,” goda Jonghyun.

Onew hanya tersenyum tipis. Ia menarik satu kursi di depan Jonghyun lalu mendudukkan diri. Seorang pelayan menghampiri, menyerahkan menu padanya. Tanpa melihat deretan isi menu, Onew menunjuk minuman milik Jonghyun dan memesan yang serupa.

“Hyunji banyak berubah, huh?” tanya Onew.

“Begitulah,” sahut Jonghyun. Kedua pundaknya terangkat naik sekali dan kembali merosot turun tak lama kemudian. “Seperti apa pun perubahannya, dia tetap Lee Hyunji yang menggoda.”

Yah, hanya kau yang tergoda.”

“Sial kau,” umpat Jonghyun dengan nada bergurau. “Jangan mengataiku. Kau sendiri bagaimana? Sudah memikirkan ingin menciptakan momen seperti apa?”

Onew tersenyum geli, bola matanya berputar. Ia memilih untuk tidak menanggapi pertanyaan Jonghyun. Onew berusaha mengalihkan pembicaraan tapi gagal.

Oh, ayolah,” desak Jonghyun. “Orang luar sepertiku saja frustasi melihatnya. Apa kau tidak tersiksa karena tidak bisa menyentuh istrimu sendiri? Bahkan wanita lain saja kau sentuh.”

Senyuman di wajah Onew memudar. Tatapannya berubah tajam. “Karena Younji bukan wanita lain, dia berbeda. Dia….” Onew menghentikan ucapannya, ia agak ragu dengan lanjutan kalimatnya sendiri.

“Dia bagaimana?” tanya Jonghyun penasaran.

Pelayan tadi mengantarkan pesanan Onew. Setelah mengucapkan terima kasih dan melihat pelayan berjalan menjauh, Onew mulai menyesap minumannya dengan perlahan, sengaja ingin mengulur waktu seraya berpikir.

“Dia bagaimana?” tanya Jonghyun lagi, masih diliputi rasa penasaran yang kental.

“Dia… dia berbeda.”

“Demi Tuhan! Aku tahu dia berbeda, tapi beda yang seperti apa?” Jonghyun semakin tidak sabaran.

“Entahlah, jangan tanyakan lagi. Aku hanya tahu dia berbeda. Berbeda dari wanita-wanita yang pernah kutemui. Bahkan berbeda juga dari Miyoung.”

Jonghyun mengatupkan bibirnya. Karena Onew telah membandingkan Miyoung dan Younji, rasanya Jonghyun mengerti perasaan sahabatnya itu. Kini yang memenuhi pikirannya adalah bagaimana caranya untuk membantu Onew mendapatkan hati Younji. Diam-diam Jonghyun melirik Onew. Pikirannya masih berkelana menyusun beberapa rencana yang dirasa akan berhasil meningkatkan kualitas hubungan kedua orang itu. Bukannya sok ikut campur, hanya saja ia hapal benar tindak-tanduk Onew. Ia yakin pria itu tidak akan mengambil tindakan apa pun untuk mendapatkan hati istrinya sendiri. Onew tidak memiliki kemauan tersebut karena ia takut terluka dan melukai.

“Hentikan rencana apa pun yang sedang kau susun di kepalamu itu, Jonghyun,” tukas Onew. “Kau tidak akan membantu sama sekali.”

Di lantai lima, terdapat pemandian air panas yang dibedakan untuk pria dan wanita. Terdapat banyak jenis variasi yang ditawarkan untuk fungsi yang berbeda. Salah satunya adalah cave bath, tempat di mana Hyunji dan Younji berendam sekarang.

Tempat pemandian itu tertutup, dikelilingi batu-batu. Cahaya matahari yang menembus masuk melalui atap kaca HurShimChung Spa bahkan tak bisa menembus cave bath tersebut.

Woah!” Hyunji berdecak puas. Rasa nyaman langsung melingkupinya saat lelah perlahan menghilang. “Nyaman, bukan?”

“Aku tidak tahu kalau kau menyukai hal semacam ini, Nyonya Kim,” goda Younji, tidak menyuarakan persetujuannya atas pertanyaan Hyunji.

Wanita yang dipanggil Nyonya Kim itu tertawa pelan. Ia mendongak, merebahkan kepalanya pada sandaran batu di belakang. Beberapa orang wanita muda memasuki cave bath, bergabung bersama mereka di sudut yang berbeda.

“Bagaimana pernikahanmu?” tanya Hyunji.

Younji menarik napas panjang. Jari-jari tangannya yang terendam di bawah air saling bertautan. Ia mengingat-ingat bagaimana harinya selama kurang lebih setahun ini. Ia… ia bahagia, cukup bahagia. Setidaknya kesedihan yang ia alami pasca pernikahannya bukan disebabkan oleh suaminya. Jadi, kehidupan pernikahannya bisa dibilang baik, ‘kan?

Yaaaa,” tegur Hyunji saat ia tak kunjung mendengarkan jawaban. Sikunya tertekuk, menyenggol lengan Younji untuk menarik perhatiannya.

Hmm? Yah, seperti yang kau lihat. Pernikahanku baik-baik saja.”

Baik-baik saja bukan ungkapan yang tepat untuk menjelaskannya.” Hyunji memutar tubuh, menghadap Younji sepenuhnya. “Bagaimana perasaanmu pada Onew? Apa kau mulai menyukainya?”

Younji menghindari tatapan menyelidik milik Hyunji untuk menyisakannya sedikit waktu baginya berpikir. Sejak kegagalan rencana pernikahannya dengan Minho, ia tak pernah benar-benar berpikir bahwa ia akan bisa melupakan pria itu, apalagi menyukai pria lain. Kini pertanyaan Hyunji membuat ia berpikir, menggali perasaannya sendiri untuk menemukan jawaban.

Topik pembicaraan lain diungkit. Kedua sahabat itu mengisi kekosongan kenangan satu sama lain selama setahun yang mereka lalui secara terpisah. Berkali-kali sudah mereka menghabiskan waktu untuk melakukan hal ini dan sepertinya bahan pembicaraan mereka tidak pernah selesai.

Setelah membersihkan diri di shower room, Younji menuju ruang loker untuk mengambil ponselnya yang masih tersimpan di sana. Ia mengecek ponselnya, kalau saja ada pesan atau pun panggilan penting yang terlewatkan.

Sebuah pesan masuk muncul dilayar ponselnya. Younji mengernyit, mengira siapa yang mengirimkan pesan padanya. Onew? Ada sebuah senyuman yang tercetak tipis saat harapan itu melambung dari kotak imajinasinya.

Senyum di wajah Younji berubah kaku setelah ia membaca nama si pengirim pesan serta isinya. Pundaknya di tepuk pelan, Hyunji yang telah keluar dari shower room mengangkat alis, bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan Younji. Tanpa meminta izin, ia melongokkan kepalanya, membaca isi pesan yang masih tampil di layar ponsel.

“Minho-ssi?” tanya Hyunji tak percaya.

Younji-ya, bisakah kita bertemu? Ada hal penting yang harus kukatakan padamu..
– Choi Minho

***

“Hati-hati,” ujar Onew ketika Younji berjalan menuruni cable car.

Saat ini mereka sedang berada di wilayah Geumjeongsanseong. Cable car yang mereka naiki baru saja mengantarkan mereka ke kuil Beomeo, salah satu dari sepuluh kuil terkenal di Korea Selatan.

Berjalan tak jauh dari tempat pemberhentian cable car, Onew dan Younji melewati Beomeo Iljumun atau yang disebut gerbang pilar tunggal yang merupakan pintu masuk utama kuil Beomeo.

Sepanjang perjalanan menuju pintu gerbang kedua, Younji terlihat sangat mengagumi pemandangan menakjubkan yang disaksikan oleh matanya. Ia tampak begitu senang, tak tampak terganggu oleh tiupan angin yang menerbangkan helaian rambutnya.

“Kita harus berdoa,” kata Younji sesampainya mereka di aula utama setelah melewati tiga pintu gerbang.

Onew tak menjawab. Semangatnya tak setinggi Younji. Bahkan setelah menaiki cukup banyak anak tangga untuk menuju aula utama tempat para pengunjung memanjatkan doa, semangat Onew tambah menurun karena lelah. Berbeda sekali dengan semangat Younji yang sama sekali tak terpengaruh.

Mereka bersimpuh pada lutut. Kedua telapak tangan terkatup di depan dada, seperti membentuk kuncup teratai yang hendak memekarkan diri. Doa pun mulai dipanjatkan, masing-masing mengucapkan keinginan yang ingin dikabulkan di dalam hati.

Mata kanan Onew terbuka, mengintip Younji yang masih memejamkan kedua matanya seolah ada begitu banyak hal yang diinginkan oleh wanita itu. Lalu satu mata Onew juga terbuka, meski tangannya masih terkatup di depan dada, ia sibuk memperhatikan Younji. Sepertinya, para dewa telah menitipkan kirimannya di sisi Onew. Mampukah pria itu mempertahankannya?

Setelah selesai, mereka menuruni tangga, keluar dari aula utama. Halaman kuil yang luas membuat kedua orang itu berjalan santai seraya menikmati cuaca yang cerah. Kuil tidak terlalu ramai, jadi baik Onew maupun Younji bisa sama-sama menghabiskan waktu untuk bercakap-cakap. Kini banyak hal sudah yang bisa mereka bagikan. Dari satu topik pembicaraan mereka bisa membicarakan hal lain yang bahkan tidak saling berkaitan.

“Ada apa di sana?” tanya Onew saat ia melihat beberapa orang berbaris mengantre sekitar seratus meter di depan mereka.

“Tidak tahu, tapi sepertinya menarik,” balas Younji yang juga tertarik dengan antrean di depan.

Terdapat sebuah sumur kecil yang dangkal. Seorang Shami—calon biksu—yang mengenakan jubah abu-abu tengah menuangkan secanting air dari dalam sumur kepada pengunjung yang berbaris tadi.

“Berdasarkan legenda, sumur ini tidak pernah kering bahkan pada musim kemarau sekali pun. Dipecaya bahwa dahulu sekali pernah ada seekor ikan emas yang datang dari surga dan hidup di dalam sumur, karenanya air sumur ini akan memberikan keberuntungan serta berkat bagi orang-orang yang meminumnya. Itu jugalah alasan mengapa kuil ini disebut sebagai kuil tempat bermain ikan-ikan surga,” jelas Shami saat tiba giliran bagi Younji dan Onew.

Shami menuangkan secanting air sumur ke dalam mangkuk kayu, sama seperti yang ia lakukan pada barisan-barisan tadi. Onew menyodorkan mangkuk tersebut pada Younji, membiarkan dia memiliki kesempatan untuk mencicipinya lebih dulu.

“Bagaimana?”

Tanpa menunggu jawaban dari Younji, Onew mencicipi sisa air dalam mangkuk.

Woah, airnya sangat segar!” cetusnya. Belum sempat ia menghabiskan sisa air dalam mangkuk, ponselnya bergetar. Pesan masuk dari Jonghyun yang memintanya untuk segera menyusul ia dan Hyunji di salah satu restoran di bawah kuil membuatnya terpaksa harus menyudahi tur singkat di Kuil Beomeo.

Langit malam telah menggantung saat Onew dan Younji kembali dengan cable car yang sama yang mereka naiki saat naik ke kuil Beomeo. Tak banyak lampu-lampu yang menerangi jalanan di sekitar Geumjeongsanseong. Hanya lampu kekuningan dari rumah-rumah sederhana yang memberikan cahaya pada kegelapan malam.

Ada beberapa restoran kecil di pinggir jalan. Hanya kedai-kedai sederhana namun penuh dengan kehangatan. Menu yang disajikan tidak terlalu berbeda mengingat makeolli (arak beras) dan bebek panggang yang menjadi ciri khas daerah itu bisa ditemukan di setiap restoran yang ada di sana.

Setelah menemukan restoran tempat Jonghyun menunggu, Onew langsung membawa Younji masuk ke dalam. Mereka menemukan Jonghyun dan Hyunji di sudut ruangan. Ahjumma pemilik restoran sedang menyajikan pesanan. Sudah pasti makeolli dan bebek panggang menjadi menu wajib yang dipesan oleh Jonghyun.

“Lama,” gerutu Hyunji pada suami-istri yang baru bergabung dengan mereka.

Baik Onew maupun Younji hanya tertawa, mengabaikan wajah kesal Hyunji. Aroma makanan yang sangat menggugah selera langsung memasuki indera penciuman, membuat mereka semakin tidak ingin berlama-lama membiarkan perut mereka tersiksa. Perut yang semula tidak lapar langsung meronta ingin diisi oleh makanan-makanan nikmat tersebut.

“Selamat makan!” Seru mereka bersamaan. Alat makan pun diangkat. Sumpit-sumpit bergerak lincah.

Wah, daebak!” Seru Jonghyun. Ia baru saja meneguk makgeolli pertamanya dan benar-benar terkesan. Diangkatnya makgeolli milik Onew dan dipaksanya pria itu untuk minum. “Cobalah, kau pasti akan berkomentar yang sama.”

Onew mengambil makgeolli dari tangan Jonghyun. Ia tak langsung meneguk minuman berwarna putih susu itu melainkan menghirup aromanya lebih dulu. Memang, aromanya saja sudah sangat menggiurkan. Ia mengangkat makgeolli-nya lalu meneguk sedikit untuk mengecap rasanya sebelum ia menghabiskan sisa makgeolli dalam satu kali teguk.

“Memang, ini enak sekali,” kata Onew mengakui.

“Seenak itu?” tanya Hyunji ingin tahu.

Saat melihat Hyunji yang juga menyicipi makgeolli, tatapan Onew beralih pada wanita yang duduk di sampingnya.

“Kau tidak ingin mencicipinya?” tanya Onew. Younji memandang tak yakin.

“Dia bukan peminum yang baik.” Hyunji menggantikan Younji menjawab. Ia kembali sibuk dengan suaminya, meninggalkan pembicaraan yang tadi ia masuki. “Ah, ini benar-benar enak! Aku mau lagi!”

Onew tertawa pelan melihat tingkah Hyunji. Dituangkannya makgeolli ke dalam mangkuk kecil yang digunakan untuk minum lalu menyodorkannya ke Younji.

“Minumlah, sedikit saja. Berikan padaku sisanya jika kau tidak bisa menghabiskannya.”

Younji menggigit bibir bawahnya, masih tidak terlalu yakin. Benar kata Hyunji. Ia bukan peminum yang baik. Ia tidak ingin liburan yang seharusnya menyenangkan ini malah membawa kesulitan untuk Onew jika ia mabuk.

“Sedikit saja,” bujuk Onew. “Tidak ada artinya datang ke sini jika tidak mencicipi makgeolli.”

Akhirnya Younji menerima saran Onew. Ia meminum sedikit makgeolli, tidak sampai seperempat, dan mengembalikannya pada Onew setelah memuji rasanya.

Makan malam mereka berlanjut. Pembicaraan-pembicaraan seolah tidak pernah habis mereka bagikan. Setelah membayar makan malam—yang dilimpahkan pada Onew—mereka berjalan santai menyusuri jalanan yang meski ramai namun tetap bisa memberikan kesan tenang. Tak banyak kendaraan yang lewat, kebanyakan para pejalan kaki yang merupakan warga setempat dan wisatawan seperti mereka.

“Aku masih lapar,” cetus Hyunji.

“Di sana ada jajanan belut laut, haruskah kita ke sana?” tanya Jonghyun. Tangannya berayun pelan, ikut menggerakkan tangan Hyunji yang digenggamnya.

Ne, kaja,” ujar Hyunji bersemangat.

Younji dan Onew berjalan bersisian. Meski Hyunji kini berlari pelan, mereka tetap melangkah dengan santai. Tak banyak yang mereka obrolkan, lebih sering mendengarkan percakapan kedua orang di depan mereka yang sama sekali tidak pernah memalingkan wajahnya ke belakang.

“Kau juga mau makan?” Onew bertanya saat Hyunji telah berada jauh di depan mereka, berdiri di depan salah satu stand makanan ringan.

Younji menggelengkan kepala. Beberapa menit kemudian, langkah mereka terhenti. Hyunji menoleh sebentar sambil menikmati makanannya, menawari Younji dan Onew yang menolak.

“Kalian jalan lebih dulu saja, sebentar lagi kami menyusul,” usir Jonghyun.

Sekali lagi Onew dan Younji berjalan berdampingan. Udara yang berhembus sejuk melewati jarak yang memisahkan mereka. Tangan Onew berayun pelan, sesekali bersentuhan dengan punggung tangan Younji yang terkulai di sisi tubuhnya.

Tubuh Younji tersentak pelan setiap kali punggung tangan mereka tanpa sengaja bertemu. Seperti sengatan listrik, sensasi itu menyebar di sekujur tubuhnya, membuat wanita tersebut harus menahan napas entah mengapa.

Tidak ada yang berbicara. Younji terlalu sibuk mengontrol deru napasnya yang tiba-tiba memburu saat ia mengingatkan dirinya untuk kembali menghirup oksigen. Ia tak tahu apa yang sedang dipikirkan Onew, ia bahkan tak berani sekadar melirik ke mana arah tatapan pria itu.

Saat pikiran Younji masih melayang tak tentu arah, jari-jari tangan Onew bergerak ragu. Beberapa kali hendak menyentuh tangan di sampingnya, namun beberapa kali itu pula ia mengepalkan tangan karena keragu-raguan yang membuatnya gelisah. Onew berjalan tanpa benar-benar mengetahui ke mana ia melangkah.

Mata Younji membulat. Ada kehangatan yang menyelimuti telapak tangannya. Ia mendongak, matanya mencari-cari jawaban dari pria yang berjalan di sampingnya. Pria itu tetap menatap lurus ke depan, tangannya menggenggam tangan Younji semakin erat.

Merasakan sepasang mata yang terarah padanya, Onew tak berani memalingkan wajah. Ia takut jika perasaannya akan terbaca jika mereka beradu pandang. Ia tak ingin Younji malah merasa takut dan terbebani dengan dirinya yang seperti ini. Sayang, karena tak berani menoleh, ia tak mampu melihat seulas senyum malu-malu milik Younji yang sepertinya belum pernah ia lihat selama ini.

Benar kata Jonghyun. Tidak ada sehari pun yang ia lewati tanpa memiliki keinginan untuk menyentuh istrinya. Lelaki normal mana yang tidak memiliki keinginan demikian? Apalagi jika menilik catatan masa lalunya yang…. Yah, sudahlah. Jangan dibahas lagi catatan-catatan hitamnya itu, toh ia sedang mencoba untuk mengubah catatan kelam itu dengan catatan yang lebih bersih.

Hei, kalian yakin tidak mau?” Jonghyun tiba-tiba saja muncul, merangkulkan tangannya di pundak Onew. Yang paling menyebalkan adalah karena pria yang bertubuh lebih pendek itu sama sekali tidak tahu suasana macam apa yang sedang ia rusak.

Sontak Onew melepaskan genggamannya, tak ingin menjadi bahan ledekan Jonghyun. Hyunji juga muncul menyusul Jonghyun, ia berdiri di samping Younji dan menarik wanita itu untuk berjalan lebih dulu di depan membiarkan Jonghyun dan Onew berjalan bersama. Hyunji menyodorkan jajanan yang baru saja ia beli pada Younji.

Yaa,” bisik Jonghyun tidak terlalu pelan. “Kau masih belum berhasil melakukannya? Tsk, kau benar-benar butuh bantuanku?”

“A—” Belum sempat Onew menjawab, ia melihat Hyunji menoleh ke belakang. Tatapan tajam Hyunji seolah menembakkan laser menembus tulang tengkorak sang suami. Sebagai istrinya, jelas Hyunji tahu benar apa yang sedang dibicarakan oleh Jonghyun. Meski kini status sahabatnya adalah istri Onew, namun ia tetap tidak berharap jika Onew mengambil keuntungan dari sahabatnya.

“Apa?” Jonghyun memelototi Hyunji, mencoba terlihat galak juga. “Tidak ada yang salah, memang sudah seharusnya mereka me—”

“Kim Jonghyun, kau mau mati, huh?” Hyunji mengeja satu per satu katanya, membuat penekanannya sangat jelas.

Jonghyun mengalah, mengunci mulutnya rapat-rapat sambil menggerutu tidak jelas atas sikap istrinya. Di sampingnya, Onew tertawa senang karena ada orang yang berhasil menghentikan Jonghyun sebelum pria itu berubah menjadi lebih menyebalkan lagi.

“Apa yang sedang kalian bicarakan?” Younji ikut menoleh ke belakang, sedikit pun tidak memiliki petunjuk tentang apa yang mereka bicarakan.

“Bukan apa-apa,” jawab Hyunji cepat. Ia memutar tubuh Younji hingga kembali menghadap ke depan dan mengamit lengannya untuk berjalan semakin cepat. “Ayo, ayo, kita harus segera kembali ke hotel. Ingat untuk datang ke kamar kami, kita akan bermain hwatu.”

***

“Kalau begitu aku ke tempat Jonghyun dulu.”

Younji baru saja keluar dari kamar mandi saat Onew berkata demikian. Setelah mengiyakan, pria bermata sipit itu segera beranjak keluar kamar, meninggalkan Younji yang sedang membenahi diri.

Tak memakan waktu lama, Younji pun siap menyusul Onew. Satu langkah lagi, ia akan mencapai pintu dan keluar kamar. Namun, ponselnya berdering. Ia segera berhenti melangkah untuk menjawab telepon.

Terlihat tak percaya, itulah apa yang terbaca dari wajah Younji saat nama Minho muncul dilayar. Ia ragu. Haruskah ia mengangkatnya? Atau haruskah ia abaikan? Setelah berdebat cukup lama hingga dering telepon berhenti empat kali, Younji menjawab panggilan pada dering selanjutnya.

Yeobeoseyo,” sapa Younji dengan suara pelan.

“Younji-ya, bisakah kita bertemu?” Suara rendah di seberang sana memohon.

“Sebentar saja,” tambah suara itu buru-buru sebelum permintaannya ditolak.

“Aku….” Jeda cukup lama. Younji tidak tahu harus menjawab apa.

“Aku sudah ada di Busan sekarang.”

Ne?! Kau ada di sini?!” jerit Younji kaget. Ia memang mengatakan pada Minho tentang keberadaannya saat ini, namun semata-mata agar pria itu memudarkan niatnya untuk bertemu. Siapa sangka jika pria itu akan menyusulnya ke sini?

“Kau ada di hotel sekarang? Aku akan ke sana, aku benar-benar harus bertemu denganmu.” Suara Minho terdengar semakin mendesak.

“Minho-ya, jangan kemari. Aku tidak akan menemuimu,” tolak Younji.

“Aku akan menunggu sampai kau datang, berapa lama pun itu.”

Setelah mengakhiri ucapannya, Minho juga mengakhiri teleponnya. Ia sama sekali tak membiarkan Younji menolak permintaannya lagi. Padahal butuh banyak keberanian bagi wanita itu untuk menolaknya. Mengapa Minho malah mengorbankan keberaniannya itu?

Menghela napas pelan, Younji mengulurkan tangan untuk membuka pintu kamar. Ia melangkah pergi, menuju sebuah kamar tak jauh dari kamarnya. Sebelum masuk ke dalam, ia menarik napas panjang-panjang untuk menenangkan diri atas kejutan kecil yang diberikan Minho.

Hyunji yang sedang membagikan hwatu, kartu bergambar bunga dari Jepang untuk permainan, mendongak menyambut kedatangan Younji. Dengan bersemangat, wanita yang menyandang status Nyonya Kim itu menepuk tempat kosong di sampingnya, di antara dia dan Onew.

Pandangan Onew dengan senantiasa mengikuti pergerakan demi pergerakan yang dilakukan Younji untuk mencapai tempat duduk yang telah disediakan untuknya. Ekspresi wajah Onew tak mampu dibaca. Bahkan saat Younji membalas pandangannya, pria itu hanya tersenyum kecil lalu mengalihkan perhatiannya pada hwatu terbuka di tengah-tengah mereka.

Kamar yang ditinggali Hyunji dan Jonghyun jelas tak berbeda dengan kamar Onew dan Younji. Mereka sama-sama menggunakan kamar superior suit. Hanya saja, kerapian kamar yang agak membedakan. Kamar ini sedikit tidak terurus sehingga terlihat agak berantakan.

Ugh, sial!” umpat Jonghyun yang mendapatkan kartu may animal card yang tidak memiliki nilai dalam permainan.

Wuhuu! Stop!” Seru Hyunji menghentikan permainan saat ia mendapatkan satu poin terakhir dari lima deret kartu ribbon miliknya.

“Keberuntunganmu sangat besar,” kekeh Onew, ia melemparkan sisa kartu di tangannya ke tengah setelah permainan dimenangkan oleh Hyunji untuk kali yang tak terhitung. Jajanan ringan berserak di sekitar tempat mereka duduk dan aroma soju tercium sangat jelas.

Younji duduk gelisah di tempatnya. Berkali-kali ia melirik jam yang tergantung di dinding melalui ekor matanya. Sementara jarum jam terus bergerak, jantungnya terpacu semakin cepat. Memikirkan bagaimana Minho mungkin masih menunggu sesuai janjinya membuat ia tak tenang. Ia tahu bagaimana Minho selalu serius dengan ucapannya.

“Aku—” Younji membuka mulut yang sejak tadi lebih banyak bungkam. Tiga pasang mata serentak menatapnya, membuat ia agak gugup. Ia menunduk, berpura-pura membereskan kartu di depannya agar tak seorang pun yang melihat kegugupan yang terpancar dari matanya. “Ponselku tertinggal di kamar, aku akan pergi sebentar untuk mengambilnya. Aku akan segera kembali.”

Dengan kebohongan seperti itu, Younji melesat pergi. Ia berusaha terlihat setenang mungkin agar tidak ada yang mencurigainya. Tidak ingin menghindar, Younji putuskan bahwa ia akan menemui Minho dan mendengarkan apa yang ingin dikatakan pria itu. Sesungguhnya Younji cukup bertanya-tanya tentang hal penting yang Minho sebut berulang kali.

“Kau juga, kembali saja ke kamarmu,” usir Jonghyun yang membereskan sisa kartu lainnya.

“Dia,” lanjut Jonghyun menunjuk Hyunji menggunakan dagu. “Sepertinya juga harus istirahat. Dia meneguk cukup banyak soju.”

Onew mengalihkan tatapannya ke arah Hyunji yang tidak tahu sedang menertawai apa. Wajahnya agak memerah karena soju. Mungkin benar, sudah saatnya semua orang beristirahat.

Hanya selang beberapa menit setelah Younji meninggalkan kamar Jonghyun, Onew melakukan hal yang sama. Ia berjalan lambat, sengaja ingin berlama-lama. Bahkan setelah berhenti tepat di depan pintu kamar hotelnya, ia mematung. Tangannya telah bersiap membuka pintu, namun entah mengapa tangannya justru mengepal, menggenggam erat pegangan pintu yang terasa dingin saat bersentuhan dengan permukaan telapak tangannya.

***

Beberapa belas menit telah berlalu. Younji memasuki lift, menekan tombol sembilan untuk membawanya kembali ke kamar. Lift mulai bergerak pelan, melewati lantai demi lantai.

Pikiran Younji berayun kala ucapan Minho yang ditemuinya di halaman hotel terus terngiang seperti kaset rusak. Kata demi kata, penggalan demi penggalan. Bahkan nada suara Minho yang rendah pun masih berbekas jelas.

“Younji-ya, ketika kubilang aku menyukai, aku tidak berbohong. Ketika kukatakan aku akan bertanggung jawab saat mengetahui kau….”

 

“Ketika kukatakan aku akan bertanggung jawab atas hidupmu, aku juga tidak berbohong. Apa pun itu, aku tidak pernah berbohong padamu. Karena itu, aku ingin tetap menjaga hubungan seperti itu denganmu, aku tidak ingin berbohong tentang apa pun.”

 

“Perasaan ini tidak bisa kuhentikan. Meskipun aku mencoba untuk membuang jauh-jauh perasaan itu, anehnya ia justru berkembang semakin besar.”

 

“Aku menyukainya, Hwang Jungmi. Maafkan aku Younji-ya, maafkan aku.”

 

Yah, kalian salah. Minho datang bukan sebagai pihak ketiga. Ia datang untuk meminta izin dari Younji untuk mencintai wanita lain, wanita yang menyebabkan pernikahan mereka gagal.

Sebelumnya Minho pernah mengatakan hal serupa, juga permintaan maaf. Pria jangkung itu sudah pernah membuat pengakuan sebelum pernikahan mereka dulu, untuk meminta pengampunan dan kesempatan kedua. Kali ini ketika pria itu membuat pengakuan lagi, ia meminta maaf dan restu darinya.

Tiing!

Pintu lift terbuka. Kepala Younji tertunduk saat ia melangkah keluar. Pandangannya terarah pada ujung sandalnya namun tak benar-benar menatap ke sana.

Aneh, ini aneh. Perasaannya tak sama lagi. Daripada merasa sesak, ia justru merasa… lega? Pengakuan Minho seolah telah mengangkat jutaan beban yang digantungkan di pundak rapuh Younji. Kini wanita itu merasa langkah yang diambil menjadi lebih ringan.

“Dari mana?”

Kepala Younji langsung terangkat naik. Dilihatnya Onew tengah bersandar di samping pintu kamar hotel mereka. Mata sipitnya terlihat begitu dingin, menusuk tajam apa yang sedang ia tatap.

Hmm, aku… aku….”

“Kau bilang mau kembali ke kamar untuk mengambil ponselmu?” tanya Onew. Tak ada perubahan pada nada suaranya, tetap datar. Ia mendorong pelan tubuhnya agar berdiri tegak. Ia tidak melangkah, tetap menjaga jarak yang memisahkan mereka. Kedua tangannya yang terselip di dalam saku celana diam-diam terkepal tanpa sepenglihatan siapa pun.

“Sudah bertemu dengannya? Minho-ssi?”

N-ne?”

“Aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu ditelepon tadi.” Onew menghela napas berat.

Ah, itu—”

“Setelah sekian lama menghabiskan waktu bersamaku, apa aku masih belum bisa mendapatkan sedikit saja kepercayaan darimu?” potong Onew. “Bagimu, aku ini siapa? Suami? Teman? Atau seorang pria yang membiarkanmu tinggal di rumahnya?”

“Mengapa kau bertanya seperti itu?” Younji mengernyit, tidak terbiasa dengan nada bicara Onew yang terdengar sengit.

“Aku bukan sukarelawan yang melakukan aksi sosial demi perdamaian dunia. Aku juga manusia yang bisa dihinggapi oleh keegoisan dan amarah. Suami mana yang tidak merasa dikhianati saat istrinya diam-diam bertemu dengan pria lain? Aku juga bisa terluka, Han Younji!” murka Onew dengan suara yang meninggi. Kepalan tangan yang semula beristirahat di dalam saku celana kini keluar dari persembunyian, terarah pada dinding kokoh hingga menimbulkan suara yang membuat Younji meringis takut.

Napas Onew terengah-engah. Nada bicaranya yang semakin meninggi tidak hanya mengagetkan wanita yang dibentaknya. Onew sendiri pun tak menyangka ia akan bereaksi seperti itu. Sudah lama sekali sejak ia mengekspresikan dirinya tanpa topeng.

Tak mampu berujar lagi, Onew berjalan cepat melewati Younji. Ia memasuki lift, menekan sembarang nomor hanya untuk melarikan diri. Wajahnya kusut. Banyak pemikiran yang berkecamuk seolah sedang mengejek dirinya. Jelas-jelas ia memantapkan hati untuk tidak mempertahankan perasaannya pada Younji, mengapa ia masih saja marah mengetahui fakta bahwa wanita itu lebih memilih Minho daripada dirinya?

Pintu lift terbuka, membawanya ke lantai dasar hotel. Pandangan Onew menjelajah dengan malas, mencari tempat singgah untuk menenangkan pikiran. Lounge hotel yang sepi tak banyak diminati apalagi di malam yang larut seperti sekarang. Onew menghempaskan tubuh di salah satu sofa kosong. Memorinya terus mengulang-ulang percakapan di koridor depan kamarnya tadi. Rasa perih di tangannya pun tak terasa.

Berbagai macam reaksi mendera. Ia masih marah jika mengingat bagaimana Younji menyembunyikan perihal keinginan Minho untuk bertemu. Ia menyesal karena sudah membentak istrinya. Pasti wanita itu mulai takut dengan sosoknya, ‘kan?

Onew meremas jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Hendak kembali ke kamar hotel namun keraguan menggerogoti keberaniannya. Bagaimana jika Younji masih terjaga? Harus bagaimana ia bersikap setelah apa yang terjadi tadi? Dia tidak bisa dengan santai mengatakan Oh, aku cemburu karena kau lebih memilih Minho-ssi seolah ia sedang bernapas.

“Jinki-ya,” lirih Jinki pada dirinya sendiri. “Jangan memperumit masalah yang sudah kusut. Kau sudah pernah terluka sekali karena sesuatu yang disebut cinta. Apa bedanya jika kau terluka sekali lagi? Kau tidak akan mati hanya karena luka semacam ini.”

Ucapan itu bak mantra yang terus ia batinkan berulang kali. Ia butuh asupan keberanian untuk kembali ke kamarnya. Ia juga butuh dorongan untuk benar-benar menuntaskan perasaannya agar dikemudian hari tak menjadi batu sandungan untuk kebahagiaan Younji.

Saat Onew kembali ke lantai sembilan, kamarnya gelap gulita. Ia melangkah masuk dengan hati-hati, takut menyandung barang yang tak terlihat karena minimnya pencahayaan. Telinganya menajam. Selain menangkap suara derap langkahnya sendiri, ia tak mendengarkan apa pun lagi.

Deru napas Onew terasa berat, karena lelah mungkin. Saat mendapati Younji sedang tertidur di balik selimut, ia bernapas lega. Onew melangkah mendekat dalam diam, tak membiarkan kakinya membuat suara sekecil apa pun.

Wajah Younji tampak samar di tengah kegelapan. Hebatnya, Onew bisa melihat gurat kelelahan terukir di wajah malaikat yang sedang terlelap itu. Masih tanpa menimbulkan banyak suara, Onew duduk di sisi ranjang di samping Younji. Matanya nyaris tak berkedip.

“Seperti malaikat,” gumamnya. Ia ingat ia pernah berkomentar yang sama ketika melihat wajah pulas Younji di apartemennya.

Tangan Onew bergerak pelan, menyelipkan helaian rambut Younji yang terjatuh di pipinya agar berdiam di balik telinga. Jemari itu lalu beranjak turun, mengelus lembutnya rambut Younji yang menjuntai.

“Younji-ya, maafkan aku karena telah membentakmu tadi.” Meskipun Onew tahu Younji tak mungkin bisa mendengarnya, ia tetap berbicara. “Sejujurnya, aku takut kau semakin menjauh dariku karena kejadian tadi. Tapi, inilah aku. Aku tidak seperti yang selama ini kau ketahui, aku jauh dari kata ‘baik’. Sangat manusiawi, iya ‘kan?”

“Aku adalah seorang pria yang bisa membenci wanita yang kusukai. Aku membenci wanita yang pernah mengkhianatiku. Bahkan tadi, untuk beberapa detik, aku membencimu karena mengasingkanku dari hidupmu. Minho-ssi tetap yang terpenting dalam hidupmu, aku tahu itu. Yang tidak kuketahui adalah bagaimana caranya untuk menerima kenyataan tersebut?”

“Aku juga tidak selurus yang kau kira. Entahlah, apakah kau merasa nyaman denganku atau kau justru tidak pernah memandangku sebagai seorang pria? Tapi tanpa perlu kau ketahui, aku adalah pria normal yang sehat. Tidak jarang aku membayangkan bagaimana rasanya mendekapmu dalam pelukanku. Tak jarang juga aku berharap lebih dari sekadar ciuman. Kau tidak tahu tentang semua keinginan itu, kan?”

“Dan jika kau tahu tentang kehidupanku sebelum menikah denganmu, akankah kau merasa jijik? Aku… aku meniduri banyak wanita hanya untuk kesenangan belaka.”

“Satu hal lagi, apa kau tahu jika aku kejam? Aku bisa dengan dinginnya menyerahkan tiket dan sejumlah uang pada pria yang tidak akan bisa kau sayangi namun juga tidak bisa kau benci. Aku merendahkannya, ayahmu, agar dia pergi dari kehidupanmu.”

Onew berdiri, tubuhnya membungkuk sementara tangannya menyibakkan poni Younji. Sebuah kecupan manis menempel di kening sang istri selama beberapa detik. Meski telah menyudahi kecupannya, Onew belum menjauhkan wajahnya. Ia masih ingin berlama-lama memandangi wajah yang mungkin tak akan bisa ia lihat lagi di lain waktu.

“Suatu hari, jika kau menemukan jati diriku yang sesungguhnya, kumohon jangan membenciku,” pinta Onew dengan suara serak. Buru-buru ia beranjak ke kamar mandi saat butiran bening mengancam turun dari pelupuk katanya.

Terdengar pelan suara pintu kamar mandi yang terkunci. Kelopak mata Younji terbuka. Ia mendekap mulutnya sendiri seerat mungkin

***

Onew membenarkan letak beberapa lembar dokumen yang berbaring di pangkuan telapak tangannya. Ia telah megisi formulir-formulir guna keperluan prosedur perpindahan dirinya sebagai mahasiswa pertukaran. Setelah lembaran-lembaran di tangannya kembali rapi dalam satu tumpuk, ia memeriksa satu per satu untuk memastikan tidak ada yang terlewat.

“Aku sangat senang karena akhirnya hari ini kau memberikan kepastianmu. Kukira kau akan menolak kesempatan ini,” kata Dosen Lee yang mendampingi Onew.

Onew hanya tersenyum samar, tidak ingin menanggapi terang-terangan ucapan dosennya. Dosen Lee mengucapkan beberapa patah kata pujian serta saran-saran yang sekiranya akan diperlukan Onew nanti. Mereka lalu berpisah jalan, Dosen Lee kembali ke ruangannya sementara Onew berjalan ke arah yang berbeda.

Benar kata Dosen Lee, awalnya ia memang ingin menolak tawaran menggiurkan yang diberikan padanya untuk melakukan study selama setahun di Stanford, California sebagai mahasiswa pertukaran. Alasannya sangat jelas, Younji. Bagaimana bisa ia pergi ke benua lain dan meninggalkan wanita itu sendirian? Selain itu Universitas Stanford tidak pernah benar-benar menarik perhatian Onew. Ia lebih suka berada di sini, Korea Selatan. Orang-orang yang disayanginya berada di sana, jadi mengapa ia harus bertualang ke tempat lain?

Derap langkah Onew semakin terburu-buru. Jalannya semakin cepat. Kertas-kertas di tangannya dipegang dengan erat, takut tercecer di lantai kampus. Derap kaki mahasiswa lain berbaur dengan miliknya. Ia tak terlalu peduli, pikirannya melayang terlampau jauh. Keputusan tiba-tiba yang ia ambil hari ini—tiga minggu setelah pulang dari Busan—membuat dia harus berperang dengan batinnya. Ia masih tidak ingin meninggalkan Korea Selatan, tapi hanya satu inilah jalan keluar yang terpikirkan olehnya untuk melarikan diri dari kenyataan.

Pertama kali Onew melarikan diri dari kenyataan adalah ketika Miyoung melukainya. Pria itu membungkus dirinya sendiri dalam perisai baja, tak membiarkan siapa pun meraihnya. Sekarang, perisai itu hancur. Younji telah menggapai dirinya dan ia tak mampu melindungi dirinya dengan perisai serupa. Maka, satu-satunya hal yang terpikirkan olehnya adalah berada sangat jauh, berada di daratan yang berbeda.

“Kudengar kau akan berangkat ke Amerika, huh?”

Onew tertarik keluar dari alam pikirannya saat sebuah suara mencapainya. Onew tidak menoleh, ia tahu siapa pemilik suara yang terdengar sangat menjengkelkan itu.

“Kau senang?” tuduh Onew.

“Sangat,” jawab Key tanpa secercah keraguan.

Yaa, Lee Jinki!” suara Jonghyun dari balik punggung kedua pria itu terdengar melengking tinggi.

Key menoleh ke belakang, melihat Jonghyun yang berlari ke arah mereka. Nama Onew masih diteriakkan dengan kencang. Salah satu sudut bibir Key terangkat naik saat ia kembali melihat Onew. “Aku akan lebih senang lagi kalau kau tidak pernah lahir di dunia ini.”

Key melangkah di depan Onew, meninggalkannya di belakang.

“Bukankah saat ini kau sudah cukup senang karena memiliki seorang istri?” cemooh Onew. Key terus berjalan tapi kepalanya ditolehkan ke belakang. Mata tajamnya menyipit sinis pada Onew, sarat akan ancaman sampai sosoknya menghilang dari pandangan.

Yaa, Lee Jinki!” teriak Jonghyun terakhir kalinya saat ia telah berdiri di samping Onew. Tangannya mendarat di pundak Onew, napasnya tersengal sehabis berlari.

“Kau…,” ucapan Jonghyun terhenti, ia butuh asupan oksigen lebih banyak sebelum bisa menyelesaikan perkataannya.

“Kau…,” ulangnya untuk yang kedua kali. “Kau akan ke Amerika?”

Onew tertawa enggan, tak menyangka kabar kepergiannya tersebar secepat kilat. Kertas yang dipegangnya digeser ke belakang tubuh, tak ingin Jonghyun melihatnya lalu merebut dan melakukan entah apa yang tak bisa Onew bayangkan. Pria itu mengangguk, mengiyakan pertanyaan Jonghyun.

“Mengapa… mengapa sangat tiba-tiba?”

“Tidak juga,” elak Onew. Mereka berbelok, melintasi halaman kampus. Satu tangannya terangkat naik, menggeser poninya yang tertiup angin agar tidak mengganggu penglihatan. Otak Onew berputar cepat, mencari kebohongan lain untuk diberikan. “Aku sudah menerima tawaran Dosen Lee beberapa minggu lalu, baru sempat diurus tadi.”

Kening Jonghyun berkerut. Ia mencium bau yang aneh.

“Apakah terjadi sesuatu antara kau dan Younji saat di Busan?” terka Jonghyun. Kekakuan yang sempat melanda Onew selama beberapa detik tak luput dari pemeriksaan Jonghyun. “Astaga! Apakah dia menolakmu saat kalian melakukan hal itu?”

“Tidak ada apa-apa,” kilah Onew.

“Baiklah, aku tidak akan bercanda lagi. Aku tidak akan menanyakan alasanmu memutuskan untuk pergi ke Amerika, tapi bagaimana dengan Younji? Kau akan membawanya bersamamu?”

“Mana mungkin, ada kehidupan yang harus dia jalani di sini.”

“Lalu? Kau tinggalkan dia begitu saja?” Jonghyun memekik tertahan. Matanya mengedar sekilas memastikan ia tak menjadi pusat perhatian. “Setahun, Onew! Setahun, bukan seminggu atau sebulan!”

Tanpa mereka sadari, kaki kedua pria yang telah berstatus sebagai suami itu telah mengantarkan mereka ke pelataran parkir. Onew berjalan ke samping mobilnya, ia membuka pintu penumpang dan meletakkan barang-barangnya di sana dengan sembarangan. Pintu tertutup, Onew kembali memutar tubuh menghadapi Jonghyun yang masih menunggu tanggapan darinya.

“Aku tahu,” ujar Onew pelan. “Aku memang suaminya, satu-satunya keluarga terdekat yang ia miliki saat ini. Tapi dia tidak membutuhkanku, bukan fisikku. Aku akan tetap mencukupi kebutuhannya meski aku tidak berada di sini, aku tak mungkin membiarkan dia kesulitan. Eomma juga tidak akan keberatan jika kuminta ia untuk tinggal bersama Younji selama aku tidak ada.”

Jonghyun kehilangan kata-katanya. Ia menggeleng pelan, menyerah. “Sudah kau beritahukan pada Younji?”

“Sudah.” Kebohongan Onew yang tak terhitung. Kenyataannya, ia tak mampu berpamitan secara langsung. Jika kebanyakan orang takut untuk berpamitan karena tidak bisa melepaskan, Onew justru takut Younji bisa melepasnya. Oh, demi Hyunji yang telah mengandung selama tiga minggu, Onew tak ingin bertaruh lagi.

***

Kotak-kotak kardus tergeletak di lantai kamar. Beberapa kotak tersebut telah terisi meski hanya setengah. Beberapa kotak lagi telah tertutup rapat. Selotip dan gunting berbaring di salah satu kotak yang di dalamnya berisi buku-buku.

Di kaki tempat tidur, dua orang wanita duduk bersandar. Bahu mereka saling bersentuhan, tak menyisakan jarak. Secarik kertas yang berukuran medium menjadi pusat perhatian kedua pasang mata itu.

“Belum terlihat apa-apa,” komentar Younji yang berusaha menangkap bentuk janin pada kertas USG milik Hyunji.

“Tentu saja belum terlihat jelas, usia kandunganku baru tiga minggu, Younji-ya,” tukas Hyunji. Ia menyelipkan kertas USG tersebut pada sebuah buku harian yang mulai ia tulis sejak minggu kemarin ketika mendapatkan kabar baik tentang kehamilannya.

Hyunji melihat kotak-kotak yang belum selesai dibereskan. Ia mendengus. Padahal sudah berjam-jam ia mengepak barang-barang, namun seperti tak ada habisnya.

“Sudah, aku saja yang bereskan,” tawar Younji. “Ibu hamil tidak boleh terlalu lelah.”

“Tapi ini kan barang-barangku. Milik Jonghyun juga,” kekeh Hyunji. Jonghyun telah membeli sebuah rumah yang berjarak sekitar lima belas menit dari rumah Keluarga Kim. Suami-istri itu memutuskan untuk pindah keluar dan mulai belajar hidup mandiri. Beruntung bagi Hyunji, mertuanya telah menganggap Taemin sebagai anaknya sendiri dan berbaik hati menawarkan diri untuk menjaga Taemin di bawah pengawasan mereka.

Hyunji membuka pintu kamar, hendak turun ke lantai bawah untuk mengambil minuman. Sosok Jonghyun muncul tanpa peringatan, tangannya yang kekar langsung melingkari pinggang Hyunji. Ia menarik istrinya ke dalam pelukan lalu menghujaninya dengan ciuman mesra.

Yaa!” Wajah Hyunji merona setelah Jonghyun melepaskan dirinya. Ia melihat ke arah Younji sebentar lalu melanjutkan tujuannya untuk turun.

Oh, ada Younji,” kata Jonghyun setelah melihat Younji. Berbeda dengan Hyunji yang agak salah tingkah, Jonghyun justru bersikap biasa saja. Ia meletakkan tasnya di atas tempat tidur lalu berjongkok di salah satu kardus yang terbuka untuk mengintip isinya.

“Selamat, calon ayah.” Younji duduk di tepi tempat tidur, memperhatikan tingkah Jonghyun.

“Apa aku juga harus menyelamatimu karena akan ditinggal Onew?” gurau Jonghyun tanpa berpaling dari kardusnya.

Younji diam, tampak mencerna makna dari ucapan Jonghyun. Apakah pendengarannya salah? Ataukah Jonghyun sungguh-sungguh mengatakan tentang Onew yang akan meninggalkannya? Onew akan pergi? Ke mana?

Jonghyun telah selesai mengintip isi kardus di depannya. Ia berdiri, memukul-mukul pelan pundaknya yang terasa kaku karena lelah sebelum ia bergeser pada kardus lainnya untuk diintip.

“Kalian berdua sangat aneh,” komentar Jonghyun. “Aku tahu kalian menikah tidak didasarkan oleh cinta, tapi bukankah cinta juga dapat tumbuh seiring berlalunya waktu? Pria seperti Onew, apakah dia tidak cukup untuk meluluhkan hatimu?”

Younji merasa beruntung karena Jonghyun sama sekali tidak melihat ke arahnya. Perempuan itu menempelkan satu tangannya di pipi saat dirasa wajahnya memanas karena ucapan Jonghyun.

“Anggap saja perasaanmu padanya belum berkembang sejauh itu, setidaknya ada sedikit saja ketergantungan yang kau rasakan pada pria bodoh yang telah mendampingi selama beberapa bulan ini bukan?” Jonghyun mendongak, menatap langit-langit kamar. “Aku sungguh tidak mengerti, mengapa kau tidak mencegahnya?”

“Apa yang sedang kau bicarakan?” Younji memberanikan diri untuk bertanya karena kebingungannya yang kian kentara.

“Tentu saja tentang Onew yang akan berangkat ke Amerika,” jawab Jonghyun. Kepalanya masih memandang langit-langit.

Kedua alis Younji saling bertautan. Onew? Ke Amerika? Oke, ia semakin tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Jonghyun. Pria itu tidak sedang meracau karena mabuk, kan?

“Aku tahu dia berbohong,” aku Jonghyun. Kepalanya menunduk perlahan hingga menatap lurus ke depan. “Keputusan itu diambilnya baru-baru ini, bukan sejak lama. Yang tidak kuketahui adalah alasannya.”

“Tunggu dulu!” sentak Younji. Tangannya direntangkan ke depan, isyarat bagi Jonghyun yang kini menatapnya untuk berhenti bicara sebelum ia semakin pusing. “Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”

“Onew akan ke Amerika selama setahun untuk study, dia tidak memberitahumu? Tapi tadi dia bilang dia sudah mengatakannya padamu.”

Pintu kamar terbuka. Hening yang tercipta segera runtuh saat Hyunji melangkah masuk dengan dua cangkir gelas di tangan. Satu gelas ia berikan pada Younji sementara satu gelas lagi ia sesap isinya. Hyunji memandang Younji dan Jonghyun bergantian kala mereka masih saja senyap.

“Ada apa?” tanya Hyunji mencari tahu.

“Ini buruk,” desis Jonghyun. Ia berdiri, mengacak rambutnya dengan geram. “Anak bodoh itu, apa yang ia pikirkan?” Jonghyun beralih pada Younji. Tatapan kosong wanita itu menjelaskan semuanya pada Jonghyun, tentang kebohongan-kebohongan yang dimuntahkan Onew padanya.

“A-aku pulang dulu,” ujar Younji terbata. Ia segera menyambar tasnya dan buru-buru meninggalkan kediaman Kim.

Ingin segera tiba di apartemen dan mencari kebenaran, Younji menghentikan taksi dan memberitahukan alamatnya pada supir. Selama perjalanan, wanita itu duduk dengan gelisah. Jari-jari tangannya memutih karena diremas terlalu kuat.

Ada sesuatu yang menyumbat kerongkongan Younji, membuat ia sulit untuk menelan air liurnya. Perkataan Jonghyun terus terngiang di telinganya, namun bukan dalam susunan yang rapi melainkan deretan huruf acak yang tak mampu ia cerna maknanya. Kecuali dua kata, Onew dan Amerika.

Supir taksi memanggil Younji beberapa kali sebelum akhirnya wanita itu merespon. Ia menoleh ke jendela dan melihat gedung apartemen yang menjulang tinggi. Tanpa membuang lebih banyak waktu, Younji membayar ongkos taksi dan segera turun.

Peluh-peluh keringat mulai menghiasi wajah pucat Younji ketika ia memasuki apartemen. Keadaan yang hening membuat ia tak mampu beristirahat sejenak. Melihat ruangan yang kosong, Younji segera melongokkan kepala ke dalam kamar. Kosong. Kamar mandi, juga kosong. Di dapur pun tak ada sosok yang ia cari.

Younji menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Kepalanya berputar pelan, memperhatikan setiap detil ruangan yang sudah ia hapal. Koleksi dvd film klasik kesukaan Onew berjajar rapi pada rak di samping televisi. Beberapa bingkai berisi foto masa kecil Onew dipamerkan di atas kabinet samping sofa beserta beberapa porselen atas permintaan Younji. Dua mug pasangan duduk berdampingan pada konter dapur.

Younji menghela napas. Ia merasa kosong padahal tak ada satu barang pun yang berpindah dari posisi seharusnya. Onew. Hanya pria itulah yang satu-satu tak berada di posisi seharusnya dan hal itu langsung berdampak pada Younji.

Sudut mata Younji menangkap sebuah gadget yang biasanya selalu digunakan Onew kini tergeletak begitu saja di atas meja. Sedikit penasaran, Younji memindahkan tablet pc tersebut ke pangkuannya. Ketika ia menyentuh layar untuk membuka kunci, sebuah video dengan tombol play telah menanti untuk dimainkan.

Wajah Onew muncul setelah video diputar. Younji menoleh ke belakang sebentar untuk memastikan jika benar Onew merekam video di tempatnya duduk sekarang. Setelah memastikan background dalam video, ia mendengarkan dengan seksama kata demi kata yang Onew sampaikan.

Video berdurasi pendek tersebut tidak memakan waktu lama hingga mencapai garis finish. Younji mendekap mulutnya dengan erat. Isakan pelan terdengar seiring bulir-bulir air mata yang meluncur turun. Tangisannya menggema, menjadi temannya di samping kesunyian.

***

Onew memosisikan tablet pc agar dapat merekam dirinya dengan benar. Tubuhnya bergeser sedikit untuk mendapatkan sudut yang lebih baik. Kedua tangannya saling bertautan sementara siku tangannya bertumpu pada paha. Onew memamerkan senyumnya, meski tampak lelah namun tetap memukau.

Dengan cepat Younji berbaur bersama ratusan orang yang memiliki kepentingan berbeda di bandara. Keramaian di Incheon International Airport yang tak pernah tidur membuatnya panik. Bagaimana bisa dia mencari seseorang di tempat seramai dan seluas ini tepat waktu?

Younji berhenti berlari. Ia memutar tubuhnya berkali-kali dari tempat ia berdiri. Lautan manusia semakin ramai, menuju arah yang berbeda-beda. Ke mana pun ia menoleh, ia tak mampu menemukan Onew. Terlalu banyak orang. Apa yang dilakukannya saat ini sama seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Rasa takut lagi-lagi membuat Younji harus menahan isakannya.

“Maaf, Younji-ya, aku tidak memberitahukan hal ini lebih awal. Kita harus berpisah untuk setahun ke depan, aku menerima tawaran untuk melanjutkan study di Amerika.”

Younji menaiki eskalator, masih dengan harapan yang besar untuk mampu bertatap muka dengan Onew. Bukan hanya sekali Younji menabrak orang lain karena terlalu terburu-buru. Beberapa ada yang mengumpat, sementara sisanya hanya menatap bingung ke arah wanita yang terlihat begitu kacau. Younji tak menggubris satu pun reaksi yang diberikan padanya. Ia berlari ke sana kemari, tak benar-benar tahu ke mana ia harus mencari.

Tatapan Onew bergeser dari kamera selama beberapa detik sebelum kembali fokus.

“Beberapa minggu ini kita memang cukup sibuk sehingga aku lupa untuk memberitahukan hal ini padamu.” Alasan Onew yang paling payah. “Kalau kau butuh teman, kau bisa meminta Eomma untuk tinggal bersamamu selama aku tidak ada. Aku tidak yakin jika aku bisa sering-sering pulang ke Seoul.”

“Onew-ah,” lirih Younji. Lagi-lagi kakinya berhenti melangkah. Sekujur tubuhnya lemas. Pemandangan di tempatnya berdiri seolah berputar-putar, membuatnya semakin kalut.

“Sepertinya aku harus minta maaf sebelum pergi, maaf karena sudah menaikkan nada bicaraku dan membuat takut waktu itu. Aku tidak bermaksud menumpahkan amarah padamu, kuharap kau tidak menyimpan ingatan tentangku di malam itu selama setahun aku pergi,” gurau Onew berusaha tertawa. Beberapa detik kembali berlalu. Onew tak bersuara, terlihat sedang memikirkan ucapan yang tepat.

Kajima,” mohon Younji. Tangisnya pecah, membuat ia semakin menjadi pusat perhatian. Orang-orang berjalan perlahan melewatinya, berbisik-bisik dengan pendamping mereka.

Dada Younji terasa begitu sesak. Ucapan Onew dalam video itu membuatnya sangat ketakutan. Ia tidak merasa sekadar ucapan sampai jumpa. Mungkinkah ia tidak akan memiliki kesempatan untuk bertemu Onew lagi setelah kepergian pria itu kali ini?

Ponsel touchscreen tertempel di telinga Younji, ia mencoba menghubungi Onew. Suara operator wanita menyambutnya, membuat ia segera memutuskan panggilan. Younji terus mengulangi upayanya, tidak peduli meski setiap kali yang terdengar hanyalah pemberitahuan bahwa ponsel tersebut sedang tidak aktif.

“Selama aku tidak ada, kau harus tetap makan dengan teratur, hidup dengan baik, dan jangan lupa untuk tertawa setiap hari. Jika aku jarang memberi kabar, jangan mencemaskanku, mungkin aku hanya terlalu sibuk beradaptasi.”

“Kalau kau tidak ada, bagaimana aku bisa hidup dengan baik?” Younji menjawab permintaan Onew pada udara kosong di sekitarnya. Ia memilih untuk kembali melangkah, mencari papan pengumuman keberangkatan.

Kali ini hening lebih lama dari jeda sebelumnya. Kepala Onew sedikit tertunduk. Matanya mengerjap berkali-kali.

Bola mata Younji bergerak dengan cepat, mencari jadwal keberangkatan. Karena tidak tahu dengan pasti jam keberangkatan Onew, maka Younji pun tidak memiliki pilihan selain mencari semua jadwal penerbangan menuju California.

Departed.

 

Departed.

 

Departed.

“Apa kau bahagia selama hidup bersamaku?” Suara Onew bergetar. Ia berdeham pelan dan melanjutkan ucapannya. “Aku pernah berjanji akan menjagamu dengan baik seperti aku menjaga diriku sendiri, tapi pada kenyataan aku bahkan tidak bisa menjaga diriku dengan baik. Jadi aku tidak akan menyalahkanmu jika ternyata kau menemukan orang lain yang bisa menjagamu dengan lebih baik selama aku tidak ada.”

Harapan Younji pupus. Semua penerbangan menuju California telah diberangkatkan. Suara pesawat terdengar. Younji memutar tubuhnya. Melalui dinding kaca, ia menyaksikan pesawat terakhir hari ini dengan tujuan California telah meninggalkan bandara Incheon.

Kakinya kehilangan kekuatan, Younji terduduk di tempatnya berdiri. Sel-sel tubuh Younji berhenti bekerja seolah sang waktu berhenti berputar dalam kehidupannya.

Kepala Onew menoleh, melihat jam yang tergantung di dinding. Matanya kembali beradu dengan kamera di depannya. ” Aku harus segera ke bandara sekarang, penerbanganku dua jam lagi. Hal terakhir, berjanjilah kau akan bahagia selama aku tidak ada, dengan begitu aku baru bisa berangkat dengan tenang. Annyeong, aku akan mengabarimu setelah aku sampai.” Onew melambaikan tangannya dengan semangat yang dibuat-buat lalu rekaman berakhir.

Younji menangkupkan wajahnya di balik kedua telapak tangannya yang mendingin. Suara pesawat yang kian lama kian terdengar jauh membuat jantungnya berdebar dengan sangat cepat. Ia ingin memikirkan sebuah cara agar diberi kesempatan terakhir bertemu Onew sebelum pria itu menyebrang ke benua lain. Tidak adil karena hanya Younji saja yang mengetahui perasaan pria itu sementara perasaannya masih terkubur di dasar hatinya.

“LEE JINKI!!” teriak Younji sekuat yang ia mampu.

Ya, kini Younji berani mengakui perasaannya.

Ya, kini Younji tidak akan ragu lagi.

Ya, ia menyukai Onew. Tapi ia kehilangan kesempatan untuk semua hal yang ia akui. Perpisahan memang cara terkejam untuk memaksa seseorang menjadi lebih jujur terhadap diri sendiri.

***

“LEE JINKI!!” teriak sebuah suara.

Onew sontak menghentikan langkahnya saat ia mendengar namanya diserukan. Ia menghela napas pelan, sedikit menjauhkan ponsel dari telinga. Suara teriakan dari seberang saluran memekakkan indera pendengarannya.

“Eunri-ssi,” ujar Onew dengan nada malas. Kepalanya tertunduk, terarah pada ujung sepatunya yang sedang memainkan kerikil. “Sudah berkali-kali aku minta maaf, jadi jangan memarahiku lagi.

“Ini bukan masalah yang bisa diselesaikan hanya dengan maaf!” hardik Nyonya Lee kesal. “Bagaimana denganku? Bagaimana dengan Younji, huh? Satu tahun itu bukan waktu yang singkat.”

“Lalu aku harus bagaimana?” Tidak ada ketertarikan pada suara Onew, hanya basa basi untuk menyenangkan Nyonya Lee.

“Setidaknya kau harus mengajak Younji, kalian bisa tetap bersama-sama di sana,” pinta Nyonya Lee.

Onew mendengus. Apa gunanya dia kabur jika tetap membawa Younji bersamanya?

“Aku akan menghubungimu lagi, Eunri-ssi, aku menyayangimu,” sergah Onew cepat-cepat dan langsung memutuskan sambungan telepon. Onew membuka tutup ponselnya, mencabut baterai dan menyimpannya sembarangan ke dalam ransel agar tidak diganggu oleh Nyonya Lee lagi.

Onew menendang kerikil di ujung sepatunya, membuat batu itu terpental beberapa kali. Kepalanya mendongak, memperhatikan jalanan di depannya. Tidak, ia tidak sedang berada di bandara Incheon padahal jadwal penerbangannya sebentar lagi.

Pada malam hari, tenda-tenda pojangmacha biasanya didirikan di pinggir jalan, tepat di mana Onew berdiri sekarang. Entah kebetulan atau tidak, di sini jugalah awal dari insiden yang menyatukan kisah Onew dan Younji.

Onew melirik koper di tangannya. Ia harus bergegas jika tidak ingin ketinggalan pesawat dan berubah pikiran. Pria itu berbaur bersama para pejalan kaki lain. Tidak ada yang tergesa-gesa. Cuaca yang cerah membuat mereka ingin menikmati perjalanan dengan senang hati.

***

Tidak seperti perjalanannya dari apartemen menuju bandara yang dipenuhi keburu-buruan serta kegelisahan, perjalanan pulang Younji berbanding terbalik. Ia tidak terburu-buru, ia sudah tidak berkejaran dengan sang waktu untuk mengukir sebuah keajaiban. Ia tidak gelisah, berharap-harap cemas apakah ia mampu menciptakan perubahan. Ia cenderung lebih tenang sekarang, sangat tenang hingga tak ada satu pemikiran pun yang melintas di benaknya.

Jarum jam berputar cepat tanpa disadari. Siang berganti senja. Sang surya sedang bersiap merampungkan pekerjaannya untuk hari ini.

Suara-suara berisik beberapa meter di depan Younji menghasilkan sedikit reaksi untuk wanita itu. Langkahnya yang pendek-pendek semakin memelan. Ia memperhatikan ahjumma-deul mendirikan tenda-tenda pojangmacha, bersiap melayani pelanggan.

Pikiran Younji belum tertata dengan benar, masih bertumpuk-tumpuk tidak karuan, nyaris kosong. Deretan pojangmacha telah berdiri sempurna. Beberapa pelanggan telah memasuki tempat kegemaran mereka.

“Kenapa kau bisa ada di sini?”

“Apa yang membuatmu berada di sini?”

“Untuk minum.”

“Kalau begitu aku juga sama.”

Percakapan beberapa bulan silam kini terdengar lucu ketika diingat kembali oleh Younji. Bukankah mereka terdengar sangat kaku saat itu? Bahkan satu-satunya topik pembicaraan yang bisa mereka ungkit kala itu hanyalah perihal Hyunji.

Baru saja seulas senyum bermain di wajah Younji, tubuhnya terdorong pelan ke belakang. Bahu seorang pejalan kaki yang berjalan berlawanan arah dengannya saling bertabrakan. Suara debam pelan terdengar, koper si pejalan kaki tergeletak di jalan. Younji menyeimbangkan tubuh agar tidak terjerembab. Terima kasih juga pada si pejalan kaki yang berbaik hati menahan tangannya agar tetap berdiri tegak.

Gweanchanhayo?” tanya si pejalan kaki yang ternyata seorang pria.

Younji merapikan pakaiannya sambil mengangguk. Wanita itu lantas menambahkan senyum sebagai jawaban seraya mengangkat kepala.

Mianhamnida,” kata pria itu lagi dengan aksen yang kaku.

Setelah meyakinkan si turis berkebangsaan Swedia jika dirinya baik-baik saja, Younji menunggu hingga pria yang menabraknya berlalu pergi sebelum melanjutkan perjalannya sendiri.

Younji masuk ke dalam salah satu tenda pojangmacha. Seorang ahjumma yang mengenakan celemek berwarna merah marun meletakkan sebotol soju beserta gelas sloki kosong dan makanan yang telah Younji pesan. Ia benar, ingatannya benar. Memang tenda ini yang ia masuki, ia masih mengingat dengan jelas wajah ahjumma yang melayaninya waktu itu.

Younji menuangkan sendiri soju ke dalam gelas sloki. Ia meminumnya dalam satu kali teguk. Setelah mengisi gelas kedua barulah Younji mengangkat sumpit untuk menikmati makanannya.

Tak sampai seperempat botol soju yang Younji minum. Pada dasarnya ia tidak berniat memabukkan diri. Meskipun ia bisa menghilangkan sedikit kerumitan yang menguasai pikirannya jika ia tidak sadarkan diri, ia tetap tidak ingin melakukannya. Hal itu dengan enggan mengingatkannya akan sosok Tuan Han yang sudah tidak ia dengar lagi kabarnya.

Langit di luar tenda telah berganti warnanya. Rasa letih mendera. Younji menyeret kakinya kembali ke apartemen dengan tubuh beraroma soju. Apartemen yang kosong akan menyambutnya sebentar lagi. Entahlah, Younji belum sempat memikirkan apa yang akan ia lakukan setibanya di apartemen.

Younji memasukkan kode lalu mendorong pintu apartemen hingga terbuka. Suara langkah kaki yang bukan merupakan miliknya membuat wanita itu mengernyit bingung. Ia tak bergerak, berdiri diam di depan pintu.

Lalu sosok itu muncul, berjalan melewati ruangan dengan pakaian kasual khasnya tanpa menyadari kehadiran Younji. Dengan cepat Younji berlari masuk, berdiri di tengah ruangan. Sosok yang tadi ia lihat kini berada di dapur, sedang membuka kulkas. Younji tak berani berharap lagi. Halusinasikah? Atau beberapa sloki soju berhasil merenggut kesadarannya dan memburamkan garis kenyataan dan imajinasi?

Onew merasakan kehadiran orang lain. Tubuhnya yang membungkuk saat mencari-cari sesuatu di kulkas berubah tegap. Matanya bertemu dengan mata Younji melebar yang seolah sedang melihat hantu. Tidak tahu harus berkata apa, Onew hanya tersenyum sekilas. Ia membungkukkan tubuhnya sekali lagi untuk mengeluarkan sebotol air mineral dingin.

Secangkir mug yang duduk manis di atas konter diisi oleh air dari dalam botol. Onew menggenggam tangkai mug, tapi tidak langsung diminum untuk menghilangkan dahaga yang tiba-tiba saja susut.

“Aku ketinggalan pesawat,” jelas Onew sambil tertawa hambar. Ia tidak berlama-lama menatap mata Younji. Mug terangkat, Onew meneguk sedikit-sedikit air minumnya.

“Keberangkatanku terpaksa ditunda hingga besok, penerbangan pertama,” lanjut Onew karena Younji tidak menanggapinya.

Tidak ada respon apa pun dari Younji. Wajahnya pun tak menunjukkan perubahan ekspresi. Onew mendesah pelan, baginya keadaan canggung seperti ini membuatnya salah tingkah. Memang salahnya hingga ketinggalan pesawat, ia terlalu lama menghabiskan waktu untuk menyimpan sebanyak-banyaknya memori untuk ia kenang.

“Jangan hiraukan aku. Kau istirahat saja,” kata Onew sambil memunggungi Younji. Ia telah menghabiskan minumannya. Mug yang kosong diletakkan di wastafel, air kran dibiarkan mengalir.

Baru saja Onew mengulurkan tangan untuk menggapai mug yang hendak ia cuci, tubuhnya menegang seketika. Sepasang tangan yang menelusup dari balik punggungnya melingkar erat.

Onew bergeming, bertanya-tanya apa yang terjadi. Sebuah aroma yang cukup kental memasuki hidung Onew, ia menautkan alisnya.

“Younji-ya, kau mabuk?”

Younji tak menjawab. Onew hanya merasakan kepala wanita itu bergerak ke kiri dan ke kanan beberapa kali.

“Younji-ya, waegeu—” Tangan Onew bersiap untuk menyingkirkan pelukan Younji. Ucapannya dipotong.

Kajima,” bisik Younji memotong ucapan Onew. Menyadari bahwa Onew hendak melepaskan pelukannya, ia justru semakin mengeratkan tangannya. Kebingungan yang sempat mendekap Younji kini berubah menjadi kelegaan.

Akhirnya Onew bergeming. Ia hanya menunggu apalagi yang hendak Younji katakan padanya.

“Aku tidak akan membenci. Meskipun kau mungkin akan membenciku, dengan semua catatan hitam di masa lalumu dan apa yang telah kau laukan pada Appa, aku tidak akan membenci. Jadi, kumohon, jangan pergi.”

Mata sipit Onew membulat. Semua perkataan Younji sukses membuatnya terbelalak. Ia pikir wanita itu sudah terlelap saat ia menceritakan kegelisahannya. Sekali lagi Onew berusaha untuk melepaskan tangan Younji. Wanita itu tak menolak lagi.

Onew menyempatkan diri untuk mematikan kran air sebelum memutar tubuh. Ditatapnya lekat-lekat wanita yang pipinya dijalari semburat merah muda. Wanita itu balas menatap, matanya berair.

“Apa kau mengerti apa yang sedang kau bicarakan?” tanya Onew dengan suara lemah. Younji hanya mengangguk.

“Tapi aku tidak mengerti, apa yang sedang kau bicarakan?” tanya Onew lagi.

Younji bernapas lambat-lambat. Tangannya bergerak ke arah kancing kemeja teratas yang ia kenakan. Satu kancing pertama telah dibuka lalu beranjak turun pada kancing kedua.

Mata Onew semakin melebar dari sebelumnya. Bola mataya bergerak naik turun, melihat gerakan tangan Younji pada kancing kemeja kemudian naik untuk memandang mata yang balas menatapnya dengan tenang.

Yaa! Mwoya!” hardik Onew cukup keras. Tangannya membungkus tangan Younji yang hampir saja melepaskan kancing kedua.

“Apa kau pikir aku serendah itu?” Ada kejengkelan yang terselip dari pertanyaan Onew.

Buru-buru Younji menggeleng. Ia berusaha menemukan suara yang tak tahu menghilang ke mana. Setelah berhasil ditemukan, suaranya terdengar parau. “Aku sedang memberitahukan padamu apa yang tidak kau mengerti dari ucapanku.”

“Tidak dengan cara seperti ini,” cetus Onew.

“Lalu aku harus bagaimana? Aku takut jika kau tetap tidak akan mengerti maksudku, aku takut kau akan menghilang lagi esok hari.”

“Kau… tidak ingin aku pergi?”

“Bukankah itu yang kukatakan sejak tadi?”

“Kalau begitu, kau menyukaiku?” tanya Onew tanpa basa-basi.

Rona di pipi Younji semakin menjadi, membuat wajahnya semerah tomat. Younji tak langsung mengiyakan pertanyaan Onew. Walau ia telah mengakui perasaannya, tetap saja sulit ia ungkapkan pada orangnya langsung.

“Kau menyukaiku?” tanya Onew lagi.

Younji masih tak menjawab. Onew mendesah pelan, deru napasnya terdengar berat. Raut kekecewaan menutupi wajahnya saat ia membalikkan tubuh, bersiap menjauh dari Younji.

Kepanikan wanita itu kembali merayapi tubuhnya. Melihat Onew yang telah mengambil aba-aba untuk pergi membuat Younji harus segera merapikan segala benang kusut di benaknya. Ia menarik ujung kaos Onew untuk menghentikan langkahnya.

“Ya, aku menyukaimu,” kata Younji pelan, namun yakin.

Onew masih bergeming.

“Aku menyukaimu!” Seru Younji dengan suara yang lebih lantang.

Onew berusaha menahan senyum meskipun sedang tak dilihat. Menghilang sudah topeng kekecewaan yang dipakainya untuk mendesak Younji. Ia kembali memutar tubuh menghadap Younji. Senyum yang ditahannya pecah.

“Aku juga menyukaimu,” aku Onew. Tanpa peringatan, tangan Onew merengkuh wajah Younji dan menariknya mendekat. Ia mengecup bibir Younji selama beberapa detik, murni hanya menempelkan bibir mereka.

“Sangat,” bisik Onew seraya memiringkan kepalanya dan mencium pipi Younji.

“Sangat,” bisik Onew lagi. Kali ini ia mengecup kelopak mata Younji, wanita itu refleks memejamkan matanya.

“Sangat,” ujar Onew masih berbisik sementara matanya terarah pada bibir Younji. Bibir mereka bersentuhan lagi, kali ini ciuman nereka lebih dalam daripada sebelumnya. Mereka menuangkan kerinduan yang tak terbendung. Ada pula berjuta luapan emosi lainnya.

Napas Onew tersengal-sengal setelah mengakhiri ciuman, begitu pula dengan Younji. Onew menurunkan tangannya dari wajah Younji. Tak sampai satu detik ia berhasil mengangkat tubuh Younji hingga terduduk di samping wastafel. Wanita itu memekik pelan karena terkejut.

Onew hanya terkekeh melihat reaksi Younji. Untuk kesekian kalinya mata mereka bertemu, saling melemparkan tatapan yang dalam dan lembut. “Sangat menyukaimu.” Onew menyelesaikan ucapannya.

“Kalau begitu jangan pergi lagi,” pinta Younji terdengar memelas. “Kau boleh marah padaku, berteriak bahkan memaki. Kau juga boleh menyentuhku. Kalau kau maupun, kau juga boleh bersama dengan wanita lain. Tapi jangan pernah meninggalkanku sendirian lagi. “

Onew memajukan kepalanya, mengetuk pelan kening Younji menggunakan keningnya. Wanita itu meringis, mengusap keningnya yang perih.

“Dasar bodoh. Bagaimana bisa aku bersama wanita lain kalau hanya kau seorang yang kuinginkan,” gumam Onew. “Kebahagiaan itu tidak ada artinya jika kau tidak ada. Karena tanpamu, bahagia hanyalah tujuh huruf tanpa makna. Jangan menyesal, Han Younji, karena mulai sekarang tidak akan kubiarkan kau melangkah keluar dari hidupku.”

Enam bulan satu minggu, itulah umur pernikahan mereka. Selama kurun waktu tersebut, mereka mulai belajar untuk mencintai satu sama lain. Memang bukan waktu yang singkat kala mereka menghabiskan puluhan minggu untuk mampu menyempurnakan pernikahan mereka dalam nama Tuhan. Tapi tidak ada yang perlu disayangkan, mereka masih memiliki seumur hidup untuk mengisi pundi-pundi kebahagiaan yang baru mulai mereka tabung.

Banyak orang dewasa yang merasa iri pada anak-anak. Tak jarang mereka berharap waktu dapat berputar mundur dan mengembalikan mereka pada masa-masa kecil yang indah. Mengapa demikian? Karena anak-anak cenderung selalu diliputi kebahagiaan. Keinginan mereka sederhana. Apa yang mereka cari, itu yang mereka inginkan. Berbeda dengan orang dewasa yang pemikirannya lebih rumit. Apa yang mereka cari, belum tentu yang mereka inginkan.

Sebenarnya kebahagiaan itu seperti lintasan lari. Setiap orang memiliki lintasan. Kita sendiri yang menentukan di mana garis finish-nya. Kita harus terus berlari jika ingin mencapai akhir. Pada prosesnya, setiap orang mengalami hal yang berbeda. Ada yang terjatuh, ada yang menyerah, ada yang berhenti sejenak dan ada yang sukses mencapai tujuannya dengan mudah. Bahkan ada juga yang setelah mencapai garis akhir justru merasa seolah ia berada pada lintasan yang salah.

Kita hanya perlu mengetahui apa yang benar-benar kita inginkan agar tidak berlari di lintasan yang salah. Bukan uang, cinta, kesehatan atau apa pun yang menunggu kita di garis finish, melainkan apa yang benar-benar kita inginkan.

The End

 

Special Thanks To:
  • Pihak yang secara langsung dan tidak langsung membantu proses pembuatan hingga fanfiction berjudul Married By Accident ini berakhir, yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan saran, masukan dan perbaikan tanpa lelah.
  • Para pembaca yang telah bersedia meninggalkan jejak baik di Piece of My Imangination maupun di SF3SI
  • Para pembaca yang meski tidak meninggalkan jejak namun tetap bersedia mengikuti cerita ini sampai mencapai garis akhir.

 

Author’s Note [26-03-13 | 20:18]

Finally, Married By Accident telah mencapai part akhir. Aku gak bisa bilang jika ff ini adalah hasil karya yang baik, karena jelas masih banyak kekosongan dan kekurangan di sana-sini yang sebisa mungkin akan kugunakan sebagai bahan pembelajaran untuk karya-karya selanjutnya. Meski begitu, aku sangat berterima kasih pada semuanya yang telah memberikan support dan respon positif atas ff ini..

Pada beberapa part belakang, memang kesalahanku karena jarak update-nya yang sampai berbulan-bulan. Sebisa mungkin aku gak ingin mengulangi hal ini untuk ff lainnya.

Selain itu aku juga mau meminta maaf karena belum bisa memasukkan satu per satu nama kalian yang telah meninggalkan komentar di MBA pada bagian Special Thanks To.

Aku berencana melakukannya, nama-nama kalian telah aku copas dalam bentuk ms. word sejak semalam dan dilanjutkan tadi pagi. Rencananya nama-nama kalian akan segera kuedit siang ini dan kumasukkan dalam publish-an kali ini. Sayangnya, sejak tengah hari tadi kondisi tubuhku drop lagi.

Aku berniat menunggu hingga besok utk mengeditnya dan memindahkan file ini ke draft blog, tapi karena takut kondisi tubuhku selama dua hari ke depan masih memburuk, akhirnya kuputuskan untuk mend-draft MBA – Part 9 malam ini juga agar ff ini bisa tetap publish sesuai jadwal.

Special Thanks To ini akan kuedit lagi secepatnya setelah kondisiku memungkinkan.

Dan gak bosan-bosannya, terima kasih semuanya, sampai jumpa pada ff selanjutnya^^

119 thoughts on “Married By Accident – Part 9 (End)

  1. waah.. aku malah baru baca MBA ini tadi sore sampe jam segini. full part sekaligus. alurnya bagus, bahasanya juga. meskipun aku gk ngerti cast nya itu siapa, mukanya kayak apa, (bkn kpop lovers soale, yang aku tau cuma cho kyuhyun, lee minho, kim hyun joong doang :p) tapi aku bisa ngeh-sengehngehnya.
    kenapa gk nyoba ngirim ke redaksi/penerbit gitu? barangkali malah bisa jadi novel, trus dikenal sama yang laen.. saran kawan😉

  2. Gatau udah brp kali aku baca ini. Greget bangeeet tapi seru untung pas aku baca sequelnya udah kelar hehe. Ini cerita yg paling romantis yg pernah aku baca. Keren semoga karya lainnya di munculin dan lebih menarik. Kalo bisa roman wkwkw.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s