Let Me Forget You

Title                         :  Let Me Forget You

Author                    :  Qiink Yheoh

Casts                       :

  • Minho as Elias Choi
  • Sangrin (OC)
  • Taemin as Nicky Lee
  • Seo Yeon (OC)

Genre                      : AU, Friendship, Romance

Rating                     :  PG-17

Length                    :  Ficlet (1376 words)

Summary               :  Pernahkah kalian merasakan sakitnya dikhianati? Begitulah yang kurasakan sekarang. Dikhianati oleh sahabat dekatku dan juga kekasihku.

Notes                       : 

  • Annyeong! Ini aku Qiink Yheoh, author Freelance yang baru bergabung di Big Family ini. Setelah melihat banyak readers yang puas dengan karyaku yang dulu (Miracle – Nothing is Impossible) Aku jadi ingin mengirim karya-karyaku yang lain ke sini. Kalian tahu, aku sampai senyum-senyum sendiri saat membaca komentar kalian semua. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk para readers yang sudah meluangkan waktu untuk membaca karya-karyaku ^^ heheh Kalian boleh saja mengunjungi WP ku –  Qiinkyheoh.wordpress.com dengan  catatan kalian harus meninggalkan jejak seperti di sini ^^
  • Cerita ini terinspirasi dari kisah nyataku , jadi apabila terjadi persamaan alur, itu hanya kebetulan belaka, tidak ada maksud untuk menyinggung siapapun ^.~

 

STORY BEGIN

 

Aku merasa sangat murahan di hadapan kalian. Kalian seolah menginjak harga diriku hingga tidak berbentuk lagi.

Apakah aku pernah memiliki arti tersendiri di dalam hati kalian? Apakah kalian pernah menganggapku sebagai seorang sahabat?

Aku kesal. Aku kecewa. Aku marah. Aku sedih. Semuanya bercampur aduk menjadi satu, mengisi ruang hatiku yang terdalam, membuat dinding hatiku tergores, meninggalkan luka yang membuatku berteriak karena pedih.

Apakah aku tidak pantas untuk berada di samping kalian hingga kalian dengan mudahnya menghinaku? Kenapa kalian selalu memperlakukanku seperti itu? Serendah gitukah harga diriku di hadapan kalian?

Tak pernahkah kalian sadari arti persahabatan ini untukku?

Di saat kalian memerlukanku, aku selalu ada untuk kalian. Tapi, di saat aku memerlukan kalian, di manakah kalian berada?

 

Kalian tidak pernah menghargai aku. Dan aku tahu itu. Aku memang tidak sebaik yang kalian pikirkan. Tidak secantik kalian. Tidak sekaya kalian. Tapi bisakah kalian hanya memandangku sebagai aku? Perlukah kalian memperlakukan seperti itu?

Kalian membuat aku jatuh sakit. Membuat aku meneteskan air mata. Membuat dinding hatiku tergores. Membuatku selalu merasa sakitnya luka yang kalian tinggalkan di dalam hatiku. Apakah kalian pernah merasakan apa yang aku rasakan? Apakah kalian mengerti?

 

Aku sudah lelah. Biarkan aku meninggalkan kalian semua. Biarkan aku menyimpan persahabatan ini. Biarkan aku memulai lembar kehidupanku yang baru tanpa adanya kalian di dalam hidupku.

 

~.QiinkYheoh.~

What are you doing, Sangrin?”

Aku mengalihkan pandanganku ke arah Elias Choi. Dia tersenyum. Aku membalas senyumannya sembari meletakkan novelku di atas meja belajarku dan bangkit dari dudukku, menuju jendela kamarku. Aku menyibakkan korden jendelaku, membiarkan semilir angin menusuk tubuhku, membuatku menggigil.

Elias melingkarkan lengannya di perutku. Dia meletakkan dagunya di atas bahuku. Hembusan napasnya sedikit membuat tubuhku merasa hangat. Aku kembali tersenyum dan menggenggam kedua tangannya.

Are you thinking about them again?” tanya Elias.

Aku mengedikkan bahuku. “What do you think?” Aku membalikkan tubuhku, membuatnya melepaskan pelukannya.

Elias memanyunkan bibirnya kesal. “Kau membuatku kesal, Yang Sangrin!” dengusnya sembari menuju ranjangku. Dia menghempaskan tubuhnya di atas ranjangku dan kemudian menepuk sisi ranjangku yang masih kosong seolah menyuruhku naik ke atas.

Aku tidak memperdulikan Elias yang masih mendengus kesal, tetap berdiri menghadap luar jendela kamarku. Bayangan itu masih ada, selalu menghantuiku, membuat hatiku sakit.

~.QiinkYheoh.~

Aku melangkahkan kakiku menuju taman sekolahku. Aku tersenyum bahagia karena pacarku, Nicky, mengajakku kencan. Dia menyuruhku untuk menunggunya di taman. Jadi, dengan hati yang berbunga-bunga, aku menuju sana.

Sembari memikirkan pakaian apa yang seharusnya kupakai untuk kencan kami, aku mencari ponselku yang kumasukkan ke dalam tasku. Sudah 15 menit aku menunggunya namun tidak kudapati bayangannya barang sekalipun. Jadi, aku memutuskan untuk menelponnya, barangkali, dia ada urusan mendadak atau sejenisnya?

Namun setelah beberapa saat kemudian, aku hanya dapat mendengus kesal begitu sambungan teleponku masuk ke mailbox. Aku menghentakkan kakiku dengan kesal sembari berjalan mengelilingi taman untuk menghilangkan rasa penatku dan rasa kesalku.

Ketika aku kembali ke tempat di mana aku berdiri tadi, aku mendapati Nicky yang berdiri membelakangiku. Tapi, bukan hanya Nicky saja yang berada di sana, Seo Yeon, sahabat karibku juga berada di sana. Mereka terlihat begitu dekat.

Tiba-tiba dadaku menjadi sesak. Kedua mataku memanas. Hatiku mendadak menjadi sakit. Kedua kakiku bergetar seolah tanah yang kupijak ini, bergetar.

Air mataku keluar begitu saja ketika aku melihat Nicky, kekasihku, mencium Seo Yeon. Bunga-bunga yang mulanya tumbuh sehat di dalam hatiku, kini menjadi layu. Dadaku bertambah sesak seolah bumi ini tengah menghimpitnya, membuatnya kekurangan oksigen.

Nicky mencium Seo Yeon? Apakah mataku sedang bermasalah hingga menangkap sesuatu yang tidak mungkin terjadi?

Tidak! Ini nyata. Nicky tengah mencium Seo Yeon.

Apakah sudah tidak ada ruang kosong yang akan kau berikan padaku, Nicky? Kenapa kau tega sekali membuat hatiku sakit? Kenapa kau tega membuat aku menangisimu?

Apakah kau mendekatiku hanya karena Seo Yeon? Kau hebat sekali, Nicky! Kau berhasil membuat hatiku sakit. Kau berhasil membuatku jatuh ke dalam jurang yang kau gali. Kau telah berhasil membuatku menjadi berantakan seperti ini.

Setega inikah kau padaku?

 

~.QiinkYheoh.~

Don’t you want to sleep, dear? It has been so night, dear.” Elias akhirnya bangkit dari ranjangku dan menghampiriku yang masih menatap keluar.

Go back to your room, dear. Let me alone, ok?” ujarku tanpa menatapnya. Dia kembali mendengus kesal. Tapi, dia tetap mengizinkan aku untuk stay alone di sini. Itulah yang aku suka darinya. Dia selalu bisa mengerti perasaanku, selalu tahu apa yang aku pikirkan.

Kemudian, Elias merapatkan tubuhnya ke arahku, dia memeluk tubuhku sebentar sebelum melepaskannya dan mengecup keningku dengan penuh kasih sayang. “I love you, dear. Very much.”

Aku melingkarkan lenganku di lehernya, sedikit berjinjit untuk bisa menggapai bibirnya. Aku melumat bibirnya dengan lembut. Dia memelukku untuk memperdalam ciuman kami. Lidahnya dengan lihai menyapu bibirku sebelum menerobos masuk ke dalam mulutku dan mengabsen deretan-deretan gigiku. Aku mendesah.

Setelah merasa puas, aku menarik tubuhku, menjauh darinya. Kedua matanya yang besar, menatapku dengan sayu seolah menyuruhku untuk melanjutkan kegiatan tadi. Aku terkekeh. “Tidak mau. Mehrong!”

Elias kembali memelukku dan mengecup keningku, hidungku, kedua pipiku hingga bibirku. Hanya mengecup, tidak lebih. “Good night then, sleep tight, my dear! Take me into your dream, ok?”

Aku tersenyum sekilas sebelum mendorong tubuhnya yang kekar, keluar dari kamarku. “Good night, hun!” seruku ketika berada di depan pintu kamarku, dia mengacak rambutku sebentar sebelum menghilang dari jangkauanku.

~.QiinkYheoh.~

“Apa kau tidak tahu, huh? Kau hanya seseorang yang tidak berguna di dalam kehidupan kami. Cantik? Kau tidak secantik kami. Hebat? Pintar? Kami tidak kalah darimu. Kekuasaan? Justru, kami jauh lebih berkuasa daripada kau. Kemampuan apa saja yang kau miliki, huh? You’re useless, aren’t you?”

Mereka menertawakanku di hadapan semua orang. Aku merasa sangat bodoh karena dengan mudahnya, dipermainkan oleh mereka. Bukan malu yang kurasakan waktu itu, aku bersyukur karena mereka menyadarkanku dari mimpi itu. Tapi yang namanya sedih dan kecewa, tidak akan mungkin pergi dari perasaanku.

“Ck! Kau pikir kau siapa? Berani-beraninya kau menasehatiku? Makan tuh nasehat-nasehatmu itu. Useless!”

            Semakin aku mengingat, semakin sakit pula hatiku ini. Aku tidak tahu kenapa aku bisa begitu bodoh? Tidak memperdulikan sakitnya hatiku, aku terus memilih untuk mengingat kembali apa yang pernah mereka lakukan padaku.

Hati ini seperti bukan milikku lagi. Dia begitu sakit, begitu pedih tanpa aku bisa merawatnya. Sungguh bodoh, bukan, aku?

Dadaku begitu sesak seolah bumi menghimpitku, membuatku kekurangan oksigen.

Apakah ini yang disebut dengan karma?

Mereka tidak pernah berpihak padaku. Tidak akan pernah.

Mereka seperti makhluk vampire yang mengoyak kulitku, menghisap darahku perlahan hingga membuatku kehabisan darah. Membuatku, meninggal secara perlahan.

Segitu tegakah mereka padaku?

~.QiinkYheoh.~

            Aku mengeluarkan sebuah buku diari yang kusimpan di laci mejaku. Sudah lama, aku tidak mengisi lembaran buku diariku semenjak kejadian-kejadian itu. Aku mengeluarkan sebuah pulpen dari laci dan membuka lembaran baru buku diariku.

Hai, Diary! How are you? I’m not fine, you know?

Diary, please, tell me what should I do to forgive them again? Am I so stupid? Because I still want to forgive them after what they had done to me?

You can laugh me as long as you want, Diary. I won’t be angry to you. You don’t need to worry itu.

But, please, tell me what should I do, ok?

Apa kau tahu hatiku ini sangat sakit, Diary? Entah kenapa, hatiku ini seolah ada yang menghimpitnya hingga aku sulit sekali bernapas, membuatku kekurangan oksigen. Dadaku sangat sesak, Diary.

Air mataku selalu mendesak keluar melalui kedua sudut mataku, padahal aku sama sekali tidak ingin menangis, kau tahu?

Aku tahu aku ini sangat bodoh. Selalu memaafkan apa yang mereka lakukan padaku. Menjelekkanku di publik, aku menganggapnya hanya lelucon dari mereka, memaafkan mereka. Tapi apa kau tahu, hatiku kembali tergores, membuat luka dinding hatiku bertambah, dan tentu saja menjadi lebih sakit, menjadi lebih pedih dibandingkan dulu.

Apa yang bisa kulakukan untuk menutupi semua lukaku ini?

Tidak cukup hanya dengan memaafkan mereka, kau tahu, Diary?

Tolong beri tahu padaku, apa yang semestinya kulakukan untuk menyembuhkan semua luka ini, melupakan segala kenang-kenangan yang berkaitan dengan mereka.

Aku sudah terlalu lelah untuk memikirkan semua ini. Terlalu lelah untuk mengingat semua ini. Bisakah aku melupakan semua ini sebentar saja? Biarkanlah aku hidup tanpa bayang-bayang dari mereka. Biarkanlah aku mengisi lembaran kehidupanku yang baru tanpa adanya mereka di pikiranku. Biarkanlah aku menjauh dari kehidupan mereka. Aku sudah sangat lelah. Sangat.

 

Aku menutup kembali buku diariku, beranjak dari dudukku dan kemudian naik ke atas ranjangku. Aku menghembuskan napasku perlahan sembari menyeka air mataku sendiri sebelum aku membaringkan tubuhku, menarik selimut untuk menutupi tubuhku dan berusaha memejamkan kedua mataku.

I miss you, my friends!

 

END

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

18 thoughts on “Let Me Forget You”

  1. Ckk… Kasihan bgt sangrin. Untung ada mino :3
    yaampun, aku baru kali ini baca ff yg taem jadi tokoh antagonis. Tapi aku ga terlalu peduli lah ama castnya. Yang penting enak dibaca.

    Aku suka ceritanya. Joaaa XD

  2. Aaa keren! >.< mskipun blum bgtu jlas itu si mino serumah ama sangrin ya? O.o msih blum trllau pham tp suka bahasa mu chingu..but over all daebak XD

  3. Uwoooh! Ttaem jahat banget itu!
    Keren! perasaannya si Sangrin nyampe banget..
    Daebak! Keep writing ya~

  4. Pas baca bagian Taemin nyium Seo Yeon, tulisan ‘Dancing Machine, Lee Taemin’ beserta fotonya ada di samping tulisan FFnya, aku ngerasa kayak ‘Taemin (the evil chara)-is-watching-me-don’t-look-at-me-you-bad-boy’ xDDD

    Johaeyo, meskipun aku nggak terlalu ngerti tentang ‘teman-teman’nya Sangrin._.V

  5. huwaaaaa,,,,,,
    sangrin baik hati amat,,
    tp bener, memaafkan itu lebih baik drpd nyimpen dendam.

    keep writing ne!
    aku suka karya2 km!^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s