Tae-Mi Couple ~ Because You’re…I Don’t Know

Tae-Mi Couple ~ Because You’re…I Don’t Know

 Because You are I dont Know

Title               : Tae-Mi Couple ~ Because You’re…… I Don’t Know

Author           : Natali Tamashii

Length           : Oneshot

Rate               : T

Genre             : Romance, Teen

Main Casts     : Han Ji Mi

Lee Taemin

Support Casts : Kim Hye Kyo

Choi Minho

Disclaimer    : This fanfiction, plots and OC’s are mine. Others casts belongs to themselves and God. Don’t copast my fanfiction.

Annyeong Natali imnida*bow 900 * ini merupakan ff pertama yang aku kirim ke sini. Awalnya sih ini requestan temen terus aku mau buat oneshot, berhubung ini ff puanjang banget dan kalo aku potong takutnya nggak pas, jadi aku bablasin aja. Mianhamnida*bow 900*. Khusus untuk yang ini aku buat couple dari magnae-nya SHINee dan salah satu temen aku yang kayak magnae tapi bukan magnae*?*. Ya udah daripada banyak ngoceh lebih baik langsung baca aja.

Warning!!!

Typo(s), deskripsi acak kadut dan romance gagal.

Happy reading ^_^

~~~

Hye Kyo tengah mendengarkan music yang mengalun indah dari gadget silver yang terletak di pangkuannya melalui headset yang menggantung di kedua telinganya sambil duduk di tepi jendela kamarnya yang memang dibuat lebih lebar sehingga bisa untuk duduk, punggungnya disandarkan pada tembok dan kakinya sengaja dinaikkan, matanya focus mengamati tarian dari kumpulan bunga mawar putih yang dibelai angin sore ketika sebuah teriakan yang berasal dari bawah menghentakkan gendang telinganya.

Eonni!!”

Hye Kyo yang mendengarnya hanya mendengus jengah. Ia tak perlu mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang sebentar lagi diyakininya akan terbuka untuk mengetahui siapa yang berteriak memanggilnya ‘Eonni’. Selalu seperti itu, batinnya sebal. Hye Kyo bukannya benci dengan yeoja itu. Bukan. Ia hanya tak suka dengan cara yeoja itu memanggilnya dengan berteriak. Apakah tak ada cara lain selain berteriak? Pikirnya setiap kali mendengar yeoja itu berteriak memanggilnya ‘Eonni’. Hye Kyo sama sekali tak mengubah posisinya. Ia hanya ingin menikmati saat-saat terakhirnya di keheningan sore sebelum sebentar lagi suasana tersebut akan hancur berantakan karena akan ada yang mengusiknya, begitu pikirnya.

Krekk…

Decitan suara pintu yang dibuka yang bergesek dengan lantai marmer mengetuk indera pendengaran Hye Kyo hingga membuatnya mengalihkan pandangan ke pintu yang kini terbuka. Terlihat seorang yeoja berkulit putih berambut lurus hitam legam sebahu dengan poni yang menutupi seluruh keningnya, mengenakan t-shirt pink bergambar mickey mouse berlengan pendek dipadu dengan rok rempel putih di bawah lutut bermotif bunga-bunga pink tengah berdiri di ambang pintu dengan memeluk buku sambil tersenyum cerah yang mau tak mau membuat Hye Kyo menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk seulas senyum simpul. Han Ji Mi atau yang sering dipanggil Ji Mi adalah yeoja yang berdiri di ambang pintu,  sepupu sekaligus hoobae Hye Kyo di sekolah. Hye Kyo kembali mengalihkan pandangannya ke jendela dan mulai mengamati belaian lembut sang angin pada bunga mawar putihnya, menunggu yeoja itu berjalan mendekatinya.

Sudah hampir dua tahun ini yeoja itu tinggal bersama Hye Kyo untuk menemaninya  yang memang tinggal sendiri. Sebenarnya Hye Kyo bisa saja tinggal di rumah seorang diri, namun orang tuanya melarang sehingga menyuruh Ji Mi untuk tinggal bersama Hye Kyo. Kebetulan orang tua Ji Mi tinggal di luar kota sehingga Ji Mi tinggal di sini sendirian untuk menuntut ilmu. Maka dari itu orang tua Ji Mi pun setuju jika putrinya tinggal bersama Hye Kyo. Rencananya selama tiga tahun orang tua Hye Kyo akan tinggal di luar negeri untuk mengurusi bisnis keluarga di sana. Tahun ini merupakan tahun kedua orang tuanya pergi. Otomatis masih tersisa satu tahun lagi waktu yang diperlukan Hye Kyo untuk kembali berkumpul dengan keluarganya.

Hye Kyo mematikan lagu yang masih mengalun indah ketika telinganya menangkap langkah kaki Ji Mi yang perlahan mendekatinya.

“Hye Kyo Eonni,”panggilnya sambil menoel-noel bahu Hye Kyo sehingga membuatnya menoleh.

Yeoja itu perlahan menurunkan kedua kakinya yang sedari tadi berada di dekat jendela.

Wae?”tanya Hye Kyo sambil melangkah mendekati meja nakas yang terletak di samping kanan ranjangnya untuk meletakkan gadget silver-nya di atas meja tersebut. Ji Mi hanya mengekor dari belakang.

“Bantu aku mengerjakan ini,”ujarnya setelah Hye Kyo menghadapnya sambil menunjukkan buku yang cukup tebal dengan cover bergambar angka dan rumus-rumus dengan latar hijau lumut yang sedari tadi dipeluknya.

Hye Kyo hanya mengangguk sambil mengikat asal rambutnya ke atas. Mata Ji Mi langsung berbinar ketika melihat Hye Kyo mengangguk dan langsung menarik tangan yeoja itu ke kamarnya.

~~~

“Huh, akhirnya selesai juga,” ujar Hye Kyo sambil merenggangkan otot-otot tangannya yang sedikit kaku.

Tanpa sengaja manik matanya menatap jam dinding yang menggantung di atas meja belajar Ji Mi yang menunjukkan pukul 8 P.M. Ia menoleh ke kanan dan mendapati Ji Mi tengah tertidur sambil memeluk boneka teddy bear kecil berwarna putih. Tanpa sadar Hye Kyo mengulas senyum simpul kala melihat wajah damai Ji Mi yang sedang tertidur. Terkadang ia berpikir jika Ji Mi yang tengah tertidur seperti sekarang sangatlah berbeda dengan Ji Mi yang ia kenal selama ini yang bisa dibilang cerewet. Hye Kyo mulai membereskan buku-buku yang berserakan di atas ranjang Ji Mi dan meletakkannya di atas meja. Tak lupa ia menyelimuti Ji Mi sebatas dada. Setelah memastikan kamar Ji Mi telah rapi, ia berjalan menuju pintu lalu membuka dan menutupnya dengan perlahan, takut Ji Mi terbangun.

Dengan langkah gontai ia berjalan menuju kamarnya. Ia membanting tubuhnya ke tengah ranjang setelah sebelumnya melepaskan ikatan yang mengekang rambutnya dan mulai memejamkan mata, merasakan empuknya kasur yang menyentuh punggungnya. Namun tak sampai satu menit, ia kembali membuka mata dan mengambil gadget silver yang tergeletak di atas meja nakas samping kiri ranjangnya. Seketika ia terperanjat dan berdiri tegak di atas ranjang kala melihat layar gadget-nya.

“Ti-tiga puluh missed calls dan sepuluh pesan singkat yang semuanya dari Minho Oppa? Dia menghubungiku dari pukul empat sore?”

Wajahnya yang lelah sekarang menjadi pucat pasi.

“Mampus aku,”ujarnya sambil menepuk kening dan mulai duduk bersimpuh.

Hye Kyo mulai menggigiti bibir bawahnya dan memainkan jarinya tak lupa matanya menjelajah liar ke setiap sudut kamar, tanda ia sedang panic.

“Argh! Tahu ah. Besok saja memikirkan alasannya. Aku sangat lelah hari ini.”

Hye Kyo mengacak rambutnya kesal dan menendang gadget silver-nya entah ke mana hingga terdengar bunyi debam di bawah ranjangnya. Dengan cepat ia melongokkan kepalanya ke bawah ranjang dan mendapati sebuah benda elektronik berbentuk persegi panjang tipis berwarna silver tengah tergeletak tak berdaya di atas karpet ungu muda dengan layar yang sedikit lecet. Baterainya tergeletak tak jauh dari gadget tersebut. Hye Kyo hanya mengangkat bahu dan merebahkan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk, tanpa mengambil gadget-nya. Ia  mulai memejamkan mata untuk berkelana di alam mimpi.

^^^

Ketika mendengar suara pintu yang berdecit untuk kedua kalinya Ji Mi membuka matanya. Ternyata yeoja itu belum sepenuhnya tertidur. Ia segera mengambil selembar kertas berukuran lima sentimeter kali sepuluh sentimeter dengan permukaan mengkilap dari bawah bantalnya yang ternyata merupakan selembar foto. Diamatinya foto tersebut dengan seksama. Seorang namja berkulit putih pucat dengan rambut brunette yang terlihat sengaja diacak dengan tangan kiri meremas rambut dan tangan kanan dengan jari telunjuk dan jari tengah membentuk peace sign tak lupa dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Ji Mi mengusap perlahan permukaan foto tersebut.

“Sudah hampir satu tahun aku melakukan kegiatan ini, menatap fotomu sambil mengusapnya perlahan. Entah mengapa aku tak pernah bosan sedikit pun, bahkan kegiatan ini seperti kegiatan rutin yang kulakukan sebelum tidur,”lirihnya.

“Entah sampai kapan aku tak hanya mengamati fotomu atau wajahmu dari jauh, namun juga bisa berbincang denganmu seperti orang kebanyakan. Hahaha…sepertinya hal tersebut hanya akan terjadi di mimpiku saja. Good night and have a nice dream,”bisiknya sambil menatap sang rembulan yang balik menatapnya, berharap sang rembulan menyampaikan harapannya.

Ji Mi kembali meletakkan foto itu di bawah bantal dan mulai mengarungi alam mimpi sambil memeluk teddy bear kesayangannya, berharap namja yang ada di foto tadi datang menemuinya di alam mimpi, walaupun itu sangat mustahil terjadi.

~~~

Hye Kyo tengah menyantap sarapannya ketika Ji Mi menuruni anak tangga dengan senyum riangnya. Ia mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang dibalut blazer merah maroon dengan rok rempel merah selutut serta dasi biru langit bergaris diagonal yang menggantung di lehernya. Di bahu kirirnya tergantung tas punggung berbahan kulit berwarna pink serta di tangan kanannya terdapat dua buah buku yang cukup tebal hingga ia harus mendekapnya dengan lengan pendeknya. Rambutnya yang sebahu ia biarkan tergerai dan hanya dibalut bandana rajut berwarna pink dengan bunga rajutan putih kecil di sisi kanannya, sedangkan matanya telah terbingkai kacamata dengan pinggiran hitam berlensa bening yang semakin mempercantik penampilannya.

Hye Kyo yang melihat Ji Mi melangkah ke arahnya hanya bisa menggelengkan kepala.

Annyeong Eonni,”sapanya riang sambil meletakkan buku-buku yang ada di tangannya dan tas yang menggantung di bahunya ke atas kursi di sebelahnya.

Annyeong Ji Mi,”balas Hye Kyo sambil tersenyum.

Mereka pun makan dalam diam. Hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring yang mendominasi hingga sebuah suara memecah keheningan.

“Sampai kapan Ji Mi-ya?”tanya Hye Kyo tanpa menatap Ji Mi, focus pada piring berisi menu sarapannya pagi ini.

Ji Mi segera menghentikan aksinya yang akan menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya ketika mendengar suara Hye Kyo. Ia mengerutkan kening dan mulai mencerna kata-kata yang lebih tepatnya sebuah pertanyaan yang terlontar dari bibir yeoja itu. Hye Kyo yang tak mendengar jawaban dari Ji Mi menghentikan sarapannya. Meletakkan sendok dan garpu yang masih berada di tangannya di atas piring. Meletakkan kedua sikunya di atas meja dan menautkan jari-jari tangannya. Menatap Ji Mi yang tengah termenung.

“Sampai kapan kau akan mengenakan kacamata itu Ji Mi-ya?”

Ji Mi menatap Hye Kyo dan menggendikkan bahunya sambil berkata,”Molla.” Ia kembali melanjutkan sarapannya tanpa memandang Hye Kyo yang saat ini tengah menghela napas. Hye Kyo kembali melanjutkan sarapannya. Lagi-lagi keheningan menyelimuti pagi mereka.

Eonni,”panggil Ji Mi lirih, bahkan terkesan seperti bisikan.

Hye Kyo mendongakkan  kepalanya. Menatap Ji Mi.

“Apa alasan Eonni selalu menanyaiku kapan aku melepaskan kacamata ini?” tanyanya sambil menunjuk kacamata yang membingkai matanya.

Hye Kyo menarik napas perlahan sebelum menjawab pertanyaan Ji Mi.

“Karena matamu itu normal Ji Mi. Untuk apa kamu mengenakannya? Kau tahu? Jika kau mengenakannya matamu yang besar itu akan terlihat semakin besar, bahkan seperti bola pingpong.”

Hye Kyo tersenyum nakal pada Ji Mi, sedangkan yeoja itu hanya menghela napas mendengar alasan Hye Kyo.

“Namun jika aku nyaman mengenakannya bagaimana?”

“Terserah kaulah. Tapi yang pasti, jangan mengenakannya di hadapanku.”

Ji Mi mengangguk sambil tersenyum.

“Aku sudah selesai. Aku berangkat dulu.”

Hye Kyo berdiri lalu menyandang tasnya.

“Bukankah sebentar lagi Minho Oppa akan datang?”tanya Ji Mi sambil melirik jam tangan pink yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Hye Kyo hanya mendengus sebal mendengar ucapan Ji Mi.

“Jangan memulainya Ji Mi-ya. Kau tahu kan alasanku berangkat pagi setiap hari?”

“Karena tak ingin dijemput oleh Minho Oppa. Kau tahu Eonni, terkadang aku ragu jika kamu dan Minho Oppa adalah sepasang kekasih. Melihatmu yang terkesan seperti menghindarinya, kamu seperti terpaksa menerima cintanya.”

“Jika aku terpaksa menerima cintanya, lantas mengapa hubunganku dengannya bisa bertahan dengannya hingga nyaris menginjak tahun kedua? Bisa saja aku memutuskannya, namun aku tak pernah sekalipun melakukannya. Berpikir pun tak pernah. Aku bukannya menghindarinya Ji Mi. Aku hanya tak ingin kami saling tergantung. Bukankah itu tidak baik nantinya?”

Setelah selesai mengatakan kalimat terakhir, dada Hye Kyo serasa sesak. Buliran bening mulai mendesak pelupuk matanya. Dengan sekuat tenaga ia menahan agar buliran itu tak keluar. Ji Mi hanya mengangguk pasrah mendengar jawaban Hye Kyo yang menurutnya aneh. Hye Kyo pun segera pergi meninggalkan Ji Mi yang masih sibuk dengan sarapannya sambil meremas dadanya.

“Kibummie Oppa,”lirihnya diiringi air mata yang mengaliri pipinya.

~~~

Hye Kyo telah sampai di sekolahnya. Langkahnya terhenti di depan gerbang. Ia mulai memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam. Setelah dirasa cukup, ia mulai melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah.

Sejauh ini baik-baik saja, tak ada yang aneh,’batinnya ketika menginjakkan kaki di koridor menuju kelasnya.

Ketika tengah mencari sesuatu di kantung blazer-nya, sebuah tangan mendarat di bahu Hye Kyo. Matanya yang tadi terfokus pada kantung blazer kini teralih ke samping kanannya, pada seorang namja yang lebih tinggi darinya. Dengan cepat Hye Kyo menyingkirkan tangan namja yang berada di bahunya.

“Kenapa kemarin aku tak dapat menghubungimu? Tak tahukah aku sangat khawatir?”

Hye Kyo menatap namja itu tepat di manik matanya. Terlihat dengan jelas sorot keteduhan dan kekhawatiran yang mendalam di mata namja tersebut. Hye Kyo segera meraih gadget silver yang tersimpan di kantung kanan blazer-nya dan menunjukannya pada namja tersebut.

“Karena ini Minho Oppa.”

Minho mengambilnya dan mengamatinya. Terdapat goresan di layar gadget tersebut. Ketika jemari namja tersebut menyentuh layar gadget, layar tersebut tak menunjukkan perubahan. Minho mengembalikan gadget itu pada Hye Kyo. Lengannya kembali tersampir di bahu kanan yeoja tersebut.

“Kamu harus menerima hukuman dariku,”ujarnya ketika Hye Kyo hendak menyingkirkan lengannya.

Hye Kyo menghentikan kegiatannya dan menatap Minho dengan dahi yang berkerut.

“Hukuman?”

“Ya hukuman. Kamu harus menemaniku saat aku latihan basket hari ini. Tadi ketika aku menjemputmu ternyata kamu sudah berangkat, jadi aku pun mengajak Ji Mi berangkat bersama. Ketika aku bertanya padanya kenapa kamu tak bisa dihubungi, ia pun bercerita jika tadi pagi ketika Ji Mi masuk ke kamarmu ia menemukan gadget-mu tergeletak di bawah ranjang dengan baterai yang terlepas. Melihat lecet yang ada di layarnya dan posisi gadget tersebut ketika ditemukan Ji Mi sepertinya gadget itu sengaja kamu jatuhkan agar aku tak dapat menghubungimu lagi,”terangnya sambil tersenyum nakal pada Hye Kyo.

Wajah Hye Kyo seketika pucat pasi. Ia hanya pasrah ketika Minho menariknya. Percuma jika ia menjelaskan alasan sebenarnya karena Minho akan tetap menyuruhnya untuk menemaninya saat namja itu latihan basket.

Seorang yeoja berdiri tak jauh dari Minho dan Hye Kyo, mengamati sepasang kekasih tersebut sambil tersenyum geli. Ketika Minho dan Hye Kyo telah pergi, yeoja itu membalikkan badan dan melangkah menuju kelasnya. Namun belum ada sepuluh langkah, yeoja itu terjatuh karena menabrak seseorang. Ketika ia mendongak untuk melihat siapa yang ditabraknya, matanya terbelalak ketika mengetahui siapa yang ditabraknya. Seorang namja dengan pandangan dingin dan tajam tengah memandangnya. Ketika ia hendak berdiri untuk meminta maaf, namja tersebut telah pergi meninggalkannya. Yeoja itu menatap punggung namja yang perlahan namun pasti semakin menjauh dengan senyum miris.

“Terkadang aku iri pada Hye Kyo Eonni dan Minho Oppa. Walaupun mereka tak terlihat sebagai sepasang kekasih, namun cinta mereka tak bertepuk sebelah tangan. Mereka saling memiliki satu sama lain. Hah…kenapa aku harus jatuh cinta pada seorang namja dingin bernama Lee Taemin? Namja yang bahkan menatapku saja tidak. Atau bahkan mungkin dia tak menganggapku ada.”

Yeoja itu kembali melangkahkan kakinya menuju kelas dengan langkah gontai.

~~~

Ji Mi tengah duduk di gazebo kecil yang berada di belakang rumah, mengamati bunga mawar putih yang ditanam rapi di sebuah kebun kecil. Tiba-tiba sepotong ingatan terputar di kepalanya, seperti pemutaran film yang ada di bioskop.

Flashback on…

One year ago…

Seorang yeoja tengah berdiri di lapangan diantara barisan para siswa yang menantang sang surya. Peluh bertebaran di wajahnya. Kakinya mulai mati rasa karena terlalu lama berdiri untuk mendengarkan ketua panitia berkoar tentang berbagai macam peraturan yang tak ada satupun yang ia ingat.

‘Sungguh menjengkelkan, apa ia mau perlahan-lahan membunuhku?’runtuknya kesal.

“….Baiklah karena hari sudah menjelang siang, kalian boleh istirahat.”

Tanpa babibu, yeoja itu segera berlari menuju kantin untuk melepaskan lelah dan dahaga. Karena terburu-buru dan tak melihat jalan, ia menabrak seseorang hingga membuatnya terjatuh. Dengan menahan rasa sakit yang teramat sangat di pinggang, yeoja itu berdiri dan segera membungkukkan badan untuk minta maaf.

“Mianhamnida.”

Setelah ia berdiri tegak, matanya terbelalak saat melihat orang yang ditabraknya yang ternyata seorang namja hanya diam dan memandanginya dengan pandangan yang sulit diartikan.

Deg…

Deg…

Deg…

Tangan kanannya segera beralih memegangi dada kirinya, tempat jantungnya bersarang yang saat ini tengah berdetak lebih cepat dari biasanya saat matanya menatap namja yang kini perlahan berjalan melewatinya dengan diam seribu bahasa. Matanya tanpa sengaja menatap name tag yang terpasang di sebelah kanan seragam namja tersebut.

“Lee Taemin,”gumamnya hampir seperti bisikan ketika namja tersebut telah menjauh darinya.

Flashback off…

Ji Mi tersenyum miris saat mengingat pertama kali ia bertemu dengan namja yang sekarang tengah berjalan-jalan di otaknya.

“Bahkan saat pertama bertemu pun dia sama sekali tak mengeluarkan sepatah katapun. Hah…Apa karena pertemuan awal kami yang tak menyenangkan hingga ia bersikap seperti itu?”

Ji Mi kembali mengamati bunga mawar putih yang tengah menari dibuai angin sore.

Love at first sight. Berkesan buruk, namun susah untuk dilupakan,”gumamnya lirih.

~~~

Ji Mi tengah membawa lima buku yang cukup tebal menuju perpustakaan sambil mengomel.

“Hah…Kenapa harus aku yang mengembalikannya? Tak adakah orang lain selain aku? Dan kenapa perpustakaan letaknya sangat jauh dari kelasku?”

Karena tak focus, Ji Mi menabrak seseorang hingga membuatnya terjatuh dan buku-buku yang dibawanya berserakan. Dengan menahan rasa sakit, ia buru-buru membereskan buku-buku tersebut sambil mengeceknya satu per satu, takut ada yang rusak. Setelah memastikan buku-buku tersebut baik-baik saja, ia segera berdiri untuk minta maaf pada orang yang ditabraknya. Namun ketika matanya menatap orang yang saat ini berdiri di hadapannya yang tengah merapikan seragamnya yang sedikit berantakan karena insiden tadi, tubuh Ji Mi seketika membatu.

“Lee Taemin?”gumamnya nyaris tak terdengar.

Taemin yang mendengar namanya disebut walau samar-samar segera mendongak untuk melihat siapa yang menabraknya. Ketika melihat Ji Mi, Taemin segera meninggalkan tempat tersebut. Ji Mi yang melihat reaksi Taemin hanya tersenyum miris. Matanya mengikuti langkah Taemin. Beberapa meter dari tempatnya berdiri, Taemin berhenti dan terlihat mengobrol dengan seseorang yang dikenal Ji Mi. Sesekali namja itu terlihat tertawa bersama yeoja yang tengah mengobrol bersamanya. Ji Mi yang melihatnya kembali tersenyum miris disertai lelehan bening yang mendesak kelopak matanya. Buru-buru ia pergi dari tempat itu dan berjalan menuju perpustakaan. Lelehan demi lelehan terus mendesak dari kelopak matanya. Walau pun lelehan tersebut mulai menghalangi pandangannya, ia tetap berjalan memasuki perpustakaan dan mulai meletakkan buku-buku tersebut pada tempat yang seharusnya. Yeoja itu keluar dari perpustakaan tanpa menghiraukan sapaan penjaga perpustakaan. Ia segera menuju toilet terdekat. Setelah memastikan tak ada orang lain selain dirinya, Ji Mi berdiri di depan cermin besar dan segera melepaskan kacamata yang membingkai matanya. Tangannya segera memutar keran washtafel dan mulai membasuhkan air yang mengalir dari keran tersebut ke wajahnya. Diamatinya wajahnya yang basah.

“Pada Hye Kyo Eonni saja kau ramah, bahkan tertawa bersamanya. Namun…kenapa padaku kau sangat dingin…Lee Taemin-ssi?”

Setelah menghela napas, Ji Mi kembali mengenakan kacamatanya sambil bergumam, ” Setidaknya kacamata ini berguna saat seperti ini.”

Ji Mi lalu keluar dari toilet dan berjalan menuju kelasnya.

~~~

Bel pulang sekolah telah berkumandang. Satu per satu siswa meninggalkan kelasnya hingga tersisa Ji Mi seorang diri yang tengah sibuk membereskan buku-buku yang berserakan di mejanya. Ketika hendak memasukkan sebuah buku ke dalam tasnya, selembar kertas terjatuh dari buku tersebut. Ia pun mengambil kertas yang kini telah terkulai di lantai. Dibacanya deretan huruf yang tertulis di atas kertas tersebut.

Temui aku di koridor 2 sepulang sekolah,

Aku akan menunggumu hingga kau datang

Hanya kata-kata tersebut yang tertulis di atas kertas, tanpa ada nama pengirim. Ji Mi hanya menggendikkan bahu lalu menyandang tas di bahu kanannya dan berjalan meninggalkan kelas. Namun ketika sampai di ambang pintu, langkahnya terhenti. Diamatinya lagi kertas yang masih berada di tangan kirinya. Setelah bergelut dengan pikirannya selama beberapa saat, ia pun melangkahkan kakinya ke kiri, letak koridor 2 berada. Ketika sampai di koridor 2, pandangannya segera menelisik ke setiap sudut dan terhenti tepat di loker deret kedua yang terletak di sisi kiri koridor, tepatnya pada secarik memo yang tertempel di sana. Kakinya pun mendekati loker tersebut dan tangannya segera meraih memo tersebut untuk dibaca.

Saat pertama kali telinga ini menangkap suaramu,

Entah mengapa sejak saat itu kujadikan suaramu sebagai pengantar tidurku.

Ji Mi yang membacanya tanpa sadar tersenyum. Matanya kembali menangkap secarik memo di loker deret keempat. Ia pun segera meraihnya.

Saat pertama kali mata ini melihat senyummu,

Entah mengapa sejak saat itu kujadikan senyummu sebagai penyemangatku.

Senyum Ji Mi kembali mengembang. Tangannya kembali mengambil memo di loker deret keenam.

Saat jantung ini berdetak lebih cepat untuk kesekian kali

ketika bertemu denganmu,

sejak saat itu kutahu jika hatiku telah terpaut padamu.

Blush…

Seketika semburat merah muda muncul di permukaan kedua pipi Ji Mi. Ia memegangi kedua pipinya dengan tangan yang menggenggam memo-memo sebelumnya. Tangannya segera meraih memo keempat yang tertempel di loker deret kedelapan.

Walaupun begitu,

Aku takkan pernah bertanya padamu,”Would you be my girl?”

Karena kamu lebih special daripada sebutan “My Girl”.

Semburat merah muda yang tadi muncul di kedua pipi Ji Mi sekarang menyebar. Jemarinya kembali meraih memo kelima yang tertempel di loker deret kesepuluh.

Ataupun,“Would you be mine?”

Karena kamu  bukanlah barang dan aku tak berhak memilikimu

Kamu hanyalah milik Sang Pencipta.

Blush…

Untuk kesekian kalinya semburat merah muda menyelimuti pipi Ji Mi yang sekarang wajahnya seperti kepiting rebus. Tangannya kembali meraih memo keenam yang tertempel di loker deret kedua belas yang merupakan deret loker terakhir yang ada di koridor 2.

Jadi…

Hanya kata itu yang ada di memo terakhir. Ji Mi mengerutkan keningnya. Dibolak-baliknya memo tersebut, tak ada tulisan lain.

“Jadi?”

Ji Mi mengulang kata yang tertulis di memo tersebut.

“Jadi, maukah kamu menemaniku untuk melewati hari-hari yang akan datang bersama-sama?”

Tiba-tiba seorang namja telah berdiri di depan Ji Mi dengan senyum mengembang di wajahnya. Mata yeoja itu seketika terbelalak saat mengetahui siapa yang tengah berdiri di hadapannya.

“Lee Taemin-ssi?”

Taemin hanya mengangguk dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya. Ji Mi mengerjab-ngerjabkan matanya seolah tak percaya bahwa seorang Lee Taemin yang sekarang berdiri di hadapannya tengah menyatakan cinta padanya.

“Jadi, apa jawabanmu?”tanya Taemin setelah keheningan menyelimuti mereka beberapa menit.

“Sebelum aku memberikan jawabanku, bolehkan aku bertanya satu hal?”

Taemin hanya mengangguk sambil tersenyum. Ji Mi mengambil napas cukup panjang lalu menghembuskannya perlahan sebelum memulai pertanyaannya.

Why do you love me?”

Taemin diam selama beberapa saat hingga akhirnya ia berkata,“Because you’re…I don’t know.”

Wajah Ji Mi seketika lesu. Ia menundukkan kepala seraya bergumam,”You don’t know?”

Taemin yang melihat perubahan ekspresi Ji Mi segera meraih kedua bahu yeoja itu dan merunduk untuk menyamakan tingginya dengan Ji Mi. Menatap yeoja itu lembut.

Yeah I don’t know. Jika aku mencintaimu karena ramahmu, berarti aku tak mencintaimu saat kamu marah. Jika aku mencintaimu karena senyummu, berarti aku tak mencintaimu saat kamu jutek. Jika aku mencintaimu karena cantikmu, berarti aku tak mencintaimu saat kamu jelek. Jika aku mencintaimu karena tawamu, berarti aku tak mencintaimu saat kamu menangis. Namun bukan berarti aku suka saat kamu marah, jutek, jelek ataupun menangis. Jadi, jika kamu bertanya apa alasan aku mencintaimu, aku tak akan bisa menjelaskannya. Karena cinta memakai hati, bukan memakai pikiran. Karena cinta bukanlah sebuah soal yang perlu dicari jawabannya. Cinta hanya perlu dirasakan dengan hati. Namun terkadang cinta juga perlu pemikiran. Arra?”

Ji Mi mengangguk dan tersenyum mendengarkan penjelasan Taemin.

“Sebelumnya aku minta maaf jika selama ini aku terkesan dingin padamu. Aku…aku hanya bingung harus berbuat apa setiap bertemu denganmu. Aku takut jika aku berbuat salah. Untuk melakukan ini saja aku berulang kali memikirkannya.”

Terlihat penyesalan yang dalam dari sorot mata Taemin. Ji Mi yang mendengarnya terkejut. Ternyata apa yang dipikirkannya selama ini salah.

“Jadi?”

Yes, I do.”

Taemin segera menarik Ji Mi ke dalam pelukannya, membenamkan kepala yeoja itu di dadanya.

“Apa ini?”tanya Ji Mi setelah melepaskan pelukan Taemin sambil meraba kepalanya.

Ketika ia mengambilnya, ternyata sebuah jepit rambut teddy bear berwarna pink. Seulas senyum bersarang di bibir Ji Mi. Ternyata ketika Taemin memeluknya, namja itu memakaikannya jepit tersebut.

~~~

END

Gimana ff aku? Pasti hancur deh T.T Sehancur-hancurnya ff aku, aku mohon kritik dan sarannya supaya kedepannya tulisan aku lebih baik.

Gamsahamnida

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

20 thoughts on “Tae-Mi Couple ~ Because You’re…I Don’t Know”

  1. Waaah…
    Sweet! ceritanya oke biaragak kepanjangan dikit kalo meneret aku…
    Akhirnya impiannya si Ji Mi terwujud juga
    Tapi gak tau kenapa aku gak bisa berenti ketawa kalo liat FF pictnya…
    Daebak!! Sugoi!!!

    1. wah makasih ya
      padahal kata temenku nih ff kurang romantis loh
      habis klo dipotong jadi aneh sih
      heheheheh akhirnya terwujud juga yah
      kenapa ketawa?
      jelek yah?
      gomawo chingu
      keep reading ne ^^

  2. Wah….. my bias romantis banget:D,
    hidup taemin taemin taemin:D, keren banget ffnya thor apalagi kalau castnya taemin jadi makin keren:D

    1. jinjjayo?
      wah kata temenku kurang loh
      hahahahaha kalo saya hidup minho minho minho
      *plakk
      *gk nyambung
      makasih
      wah jadi klo selain taemin gk keren dong?
      *bercanda
      gomawo for reading n comment

  3. kyaaa senengnyaa aku juga mau jadi ji mi 😀 keren thoor ayo di tunggu ff lainnya yang ga kalah seru dan castnya taem hehe 😀

    1. wuuahhh padahal nih ff romance pertama aku loh unnie
      aku kira bakal datar
      semoga bisa ya
      gomawo udah baca 🙂

  4. AH~ FF-nya keren…
    Aku pikir si Ji Mi itu bakal terus ngejar-ngejar Taemin sampe Taemin suka sama dia, tau-taunya si Taem udah suka duluan sama dia.
    Tapi sweet bangeet lho ffnyaa!
    Aku tunggu ff berikutnyaaa FIGHTINGG!

    1. makasih chingu
      hohohoho dan aku pikir Taemin sukanya sama aku
      *plakk
      tapi gk bikin diabetes kan?
      siap
      gomawo udah baca chingu

    1. hahahahaha untuk minkyokey udah ada tapi belum selesai ngetiknya
      tpi bukan sequel
      aq buatnya nnti before story
      gomwo 🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s