Beautiful Stranger [Chapter Four]

Beautiful Stranger

TIGA pasang sepatu hitam dan sepasang sepatu abu-abu tertata rapi di atas meja. Begitupula dengan beberapa cincin, gelang, kalung berikut sarung tangan kulit hitam yang ujung-ujung jarinya telah “dikebiri”. Empat pasang pakaian di hanger telah raib, anak-anak sedang menuju ruang ganti untuk mengenakan pakaian mereka.

Aku mengambil cincin dan kalung milik Chanyeol, aku bertugas membantunya sedangkan Hyojin menangani Suho.

Hari ini adalah SM Town Global Package Welcome Party mengingat besok konser akan digelar. Suho, Chanyeol, Lay, dan Kris menjadi perwakilan dari EXO.

Meski aku berusaha keras bersembunyi di balik tubuh besar Chanyeol, sayangnya kami satu ruangan dengan kedua member EXO-M. Aku tak berhenti pura-pura menyibukkan diri ketika menyadari Kevin menghampiriku. Sampai saat ini pun aku masih belum siap menghadapinya padahal semalam sudah berjanji akan bicara.

Chanyeol sudah selesai dan ini membuatku panik.

“Sena.” Aku menoleh. Sebenarnya tanpa menoleh pun aku sudah tahu siapa yang memanggil. “Setelah acara selesai kita harus bicara.”

Mulutku terkatup rapat, hanya anggukan sebagai jawaban.

Kevin tersenyum lembut seperti yang selalu ia lakukan padaku dulu. Aku takkan pernah melupakannya. Seumur hidupku.

Setelah acara selesai kami tidak langsung pulang, kami bukan karyawan biasa yang memiliki jam kantor tetap, melainkan kembali ke perusahaan untuk memastikan seluruh persiapan untuk konser besok benar-benar matang.

Setelah selesai memeriksa seluruh kebutuhan, aku meninggalkan ruangan dan memanjat ke atap. Kali ini aku tidak bisa menghindar untuk bicara dengannya.

Angin meniupkan poniku. Rambut ekor kudaku bergoyang diterpa angin malam musim panas yang sejuk. Bersandar di beranda menunggu Kris datang.

“Menunggu lama?”

Aku menoleh, dia datang dengan dua kaleng minuman ringan di kedua tangannya.

“Hai Kris,” sapaku canggung.

Dia berjalan mendekat dan ikut bersandar juga ke pagar beranda.

“Perasaanku saja atau memang benar kau satu-satunya orang yang terdengar aneh memanggilku dengan nama itu?” Dia terkekeh, suara tawanya renyah.

“Aku akan memanggilmu Kris mulai sekarang.”

“Kau bisa memanggilku apapun selama itu nyaman untukmu.”

Aku mengangguk.

Kami diam, menikmati pemandangan malam gedung-gedung di daerah Gangnam yang mulai menyalakan lampu-lampu mereka.

“Apa kabar?” Lagi-lagi aku melayangkan pertanyaan basi.

Kris tetap tersenyum. “Sangat baik, terutama ketika mendapati kenyataan aku menemukanmu.”

Aku menunduk.

Dia menarik napas panjang, mungkin cukup frustrasi dengan hubungan kami yang terlalu asing saat ini. Tidak ada tawa, humor, rayuan, skinship. Semuanya berlangsung hambar, canggung, kaku, dan membosankan.

“Maaf kemarin terlalu berlebihan.”

It’s okay…,” dia memberiku soda, “…omong-omong ini pertama kalinya kita mengobrol menggunakan bahasa Korea.”

“Yah, bahasa Koreamu lebih baik dariku, padahal pada kenyataannya aku Korean.”

Kris tertawa. Aku bisa melihat kerutan-kerutan lembut di sudut matanya. Dia selalu terlihat kejam jika diam, tetapi akan menghangatkan hati siapapun yang mendapatinya tersenyum.

“Kau belum menjawab. Kenapa kau pergi begitu saja?”

Aku merenung sebentar, berpikir kenapa ia bertanya karena pada kenyataannya ia yang memiliki jawabannya. Aku mendesah sambil menarik kail kaleng dan membukanya.

“Mewujudkan cita-cita.”

Kris menatapku. “Itu bukan masalah, aku bisa mengerti. Tapi kenapa kau tidak memberitahu aku dan Mama sebelumnya?”

Mama adalah sebutan Kris pada ibunya. Sosok ibu yang membuatku iri setengah mati karena kelembutannya.

Aku meneguk soda, berpikir memilih kata-kata yang tepat.

“Kalau aku bilang, kemungkinan besar aku takkan pergi.” Aku menoleh untuk menatapnya. “Kalian akan menahanku pergi.”

Kris berdecak kesal dan mengalihkan tatapannya dariku. Matanya kembali ia layangkan ke gedung-gedung di hadapan kami dan meminum sodanya.

Kepribadian Kris tidak berubah, dia tetap hangat seperti dulu. Secara fisik juga tidak berubah kecuali warna rambutnya yang pirang dan kulit yang semakin pucat. Tatapan matanya juga lebih tajam, seperti tersimpan luka di sana. Secara keseluruhan garis tubuhnya lurus, sempurna, dan kaku.

“Kemungkinan besar aku akan mengikutimu…,” Kris menahan omongannya, seperti berpikir dan kembali melanjutkan, “…aku kemari karena mencarimu, saat itu kupikir kau kembali kemari. Aku mengikuti sebuah audisi meskipun tak tahu audisi itu untuk apa, diadakan oleh siapa, dan bagaimana prosedurnya, yang kutahu jika lolos aku bisa ke Seoul. Itu satu-satunya cara meyakinkan Mama. Aku bilang memiliki sebuah mimpi yang hanya bisa diwujudkan di Seoul. Aku tidak bisa bilang tujuanku adalah untuk mencarimu karena Mama akan melarangku pergi.

Saat menginjakkan kaki di gedung ini, semua trainee terang-terangan memasang tampang menolak kehadiranku. Jadi aku mulai bekerja keras menyesuaikan diri dan mencarimu ke seluruh kota di sela-sela waktu latihan. Hal itu berlangsung selama tiga tahun hingga akhirnya seorang staf yang baru kembali dari Paris membawa sebuah majalah dan melihat wajahmu di sana. Kau di Paris, sedangkan aku di kota yang salah. Keinginan menyusulmu tertahan oleh kontrak yang sudah kutandatangani untuk persiapan debut. Sehingga aku memiliki rencana lain, aku mulai berharap kau mendengar tentang kelompokku yang baru menetas di dunia ini dan datang padaku. Awalnya aku menolak dimasukkan ke dalam kelompok M karena perhatian dunia lebih tertuju pada musik Korea, bukan China, khawatir kau tidak bisa menemukanku. Lagipula pada kenyataannya K lebih unggul dalam hal popularitas di dunia maya. Untuk itulah aku berusaha keras mengumpulkan popularitas atas nama Kris agar kau mengetahui keberadaanku. Meski entah alasan yang mana malam ini kau bisa berdiri di sampingku, aku sangat lega, senang bertemu lagi denganmu.”

Kantung mataku memberat menahan gunungan air mata. Aku tersenyum. Senyum pertamaku di  Seoul.

Tinjuku melayang ke lengan kanannya. “Bodoh, kau melakukannya sejauh ini.”

Ia mendesah dan berbalik menghadapku. “Kenapa? Aku tidak menyesal sama sekali. Selalu ada hal positif dalam kejadian apapun.”

“Benarkah?”

“Ya. Terima kasih, Kim Sena, berkatmu aku menemukan passion lain dalam hidup.” Nada suaranya berubah menjadi riang. “Aku menikmati pekerjaan ini. Mimpiku saat ini adalah menjadi aktor.”

“Lalu pemain basket nasional?”

“Basket? Yang kutahu hanya bagaimana cara menari,” candanya.

Aku meninju lengannya sekali lagi.

“Aku harus kembali ke dalam atau Juyoung akan membidikku dengan sindiran tajamnya.”

“Ya, aku juga harus latihan untuk besok. Kuharap kita masih bisa mengobrol di masa depan.”

Aku berjalan lebih dulu dan hanya menjawabnya dengan lambaian tangan tanpa menoleh. Ini malam yang… entahlah, tenang mungkin. Aku tidak bisa memberitahu alasan sebenarnya mengapa aku pergi. Melarikan diri karena kecemburuan itu terdengar bodoh. Jadi biarkan saja seperti ini.

***

Taemin mengaleng bahuku sedangkan Kai melingkarkan lengannya di pinggangku, mereka memaksaku untuk berpose pada kamera polaroid yang Jonghyun bawa. Kami sedang berada di ruang tunggu besar yang memuat hampir seluruh artis dan staf. Konser SM Town Live in Seoul telah dijadwalkan hari ini dan EXO sudah selesai tampil jadi aku sedikit santai.

Noona, ayo senyum!” pinta Jonghyun, tetapi aku tidak mengabulkan permintaannya.

Kemudian dua anak yang kupikir kembar ini mengganti pose mereka namun masih sangat ‘menyiksaku’.

“Hentikan, dance battle tampil selanjutnya!” seruku.

Bukannya melenggang pergi, Taemin malah menggelayuti lenganku dan berakting imut. Aku hampir mati saat itu juga. Berkali-kali menghela napas untuk menstabilkan jiwa penggemar yang kutanam hidup-hidup jauh di dalam diriku. Dalam situasi seperti ini mempertahankan keprofesionalan sangatlah sulit.

Noo~na~,” panggil Taemin dengan nada menggemaskan, “kenapa tidak jadi stylist SHINee?”

I wish I can, Taemin-ah.

Ya! Lepaskan!” seru Kai berusaha melepaskan cengkeraman Taemin dari lenganku.

“Apa urusanmu sih?” lawan Taemin.

Kedua anak ini berkutat di lengan kiriku. Bahkan Taemin menggigit jari-jari Kai. Padahal beberapa menit sebelumnya mereka sangat akur seperti mustahil dipisahkan.

“Uh, aku muak melihatmu sok manis,” umpat Kai.

“Aku juga muak melihatmu sok seksi,” balas Taemin.

Si maknae SHINee sudah tidak lagi mencengkeram lenganku, Kai berhasil melepaskannya. Tetapi mereka mulai beradu mulut di hadapanku seperti dua anak anjing berebut freesbee.

Kai mendorong Taemin ke arah pintu masuk.

“Itu noona-mu. Sana kembali padanya!”

Aku mengikuti arah telunjuk Kai dan mendapati Jira memasuki ruangan ditemani Minho. Pasangan yang sempurna, Jira sangat cantik dengan model rambutnya yang anggun. Gaun sederhana berwarna putih dengan lengan pendek berenda yang memiliki panjang hingga setengah paha terlihat sangat elegan. Semua yang melekat di tubuhnya terlihat sangat mahal. Aku sangat iri.

“Jira-noona~”

Taemin berlari dan memeluk erat Jira hingga gadis itu hampir terjungkal. Minho mulai mengomel dan memukul punggung si maknae berkali-kali. Mereka lebih terlihat seperti ayah, ibu, dan anak. Sempurna ketika bersama.

Heol, kadar aegyo anak itu mengerikan.” Aku lupa kalau Kai masih ada di sisiku. “Istirahat dulu, Noona.” Ia menarikku ke sofa terdekat.

“Kau bersiaplah. Giliranmu segera tiba,” ujarku sambil merapikan rambutnya.

Kai memainkan jari-jarinya. “Noona, boleh aku seperti Taemin?” Aku mengerutkan dahi sehingga ia buru-buru menambahkan, “Aku iri dengan kemampuannya menarik perhatian orang-orang. Aku juga iri dia memiliki noona…”

“Kudengar kau punya dua noona.”

“Ya, di rumah. Tapi ini dua hal yang berbeda. Aku ingin―”

“Seperti Taemin yang memiliki Jira?” selaku. Kai mengangguk perlahan, ia tertunduk malu. “Tapi aku tidak secantik Kim Jira. Apa tidak apa-apa memiliki noona sejelek ini?”

Kai mengangkat kepalanya dan memandangku dengan ekspresi tidak percaya.

“Yang benar saja, Noona, kenapa mengatakan dirimu jelek? Semiskin itukah kau sampai tidak mampu membeli cermin?”

Ya! Kenapa menaikkan nadamu?!” Kupukul kepalanya.

“Kau cantik, Noona, sangat cantik. Asal kau tahu aku memiliki selera yang tinggi dan kau termasuk di dalamnya.”

Tsk! Aku bahkan tidak tahu harus bangga atau tidak.”

Aku menatapnya lekat yang ia balas dengan tampang serius.

“Saat noona ke Jepang sebenarnya aku khawatir, takut Lee Taemin berhasil mendapatkan hatimu. Sepanjang hari aku tak berhenti menanyakan kabarmu melaluinya karena aku lupa tidak meminta nomormu sebelumnya. Tapi anak itu malah bermain-main menjawab semua pertanyaanku dengan asal!”

Nada bicaranya kembali meningkat. Aku diam-diam menahan tawa. Kai memang jauh lebih dewasa dibandingkan Taemin. Namun akan berubah kekanakan jika menyangkut sahabatnya itu.

I’m yours, Kim Jongin.”

“Apa artinya?”

Aku memutar bola mata. “Aku milikmu. Aku milik EXO, oke?”

Kai tersenyum riang. Ia menghamburku dengan pelukan sambil tak berhenti mengucapkan ‘terima kasih’. Seorang staf memanggilnya, ia berlari menuju tangga yang terhubung ke panggung untuk perform.

Aku kembali duduk.

Noona!” Jonghyun berlari kecil menghampiri. “Kerjaanmu selesai?”

Aku menggeleng. “Masih ada ‘Hope’ untuk ending.”

“Eiii, itu masih lama. Ayo ikut aku!” Jonghyun langsung menggamit tanganku dan menyeretku keluar ruangan. Genggamannya sangat erat hingga membuatku sedikit kurang nyaman. Orang-orang melihat kami terutama ketika menyusuri koridor. Tatapan mereka mengerikan. Ini sangat tidak nyaman, aku tidak suka menjadi pusat perhatian.

Jonghyun menarikku hingga melewati pintu utama stadium. Udara di luar cukup panas. Lampu sorot di ujung jalan membuat kami menyipitkan mata karena menyilaukan pandangan. Ia masih terus menggenggam tanganku sampai halaman belakang parkiran. Ia menghentikan langkahnya, kami berhenti di belakang sebuah van hitam milik perusahaan, kemudian ia melepas tanganku.

“Mau apa kemari?” tanyaku dengan kedua tangan terkepal, siap dilayangkan jika ia berbuat macam-macam.

Bukannya menjawab, dengan santainya ia malah duduk di bagian belakang van dengan punggung bersandar ke pintu dan kedua tangan bertumpu di pahanya.

Tangannya terjulur. “Noona, bisa aku minta sebatang?”

“Apa?”

“Jangan pura-pura! Aku sudah tahu kalau kau merokok ―”

“―kau merokok?” selaku terkejut.

“Tidak,” jawabnya nyengir. “Hanya memastikan. Jadi benar?”

Aku berjalan menjauhinya menuju sebuah pohon rindang dan bersandar di batang besarnya.  Tanganku merogoh saku belakang untuk mendapatkan kotak rokok kemudian melemparkannya pada Jonghyun. Ia terkejut ketika berusaha menangkapnya.

“Jinki yang menyuruhmu?”  tanyaku malas. Jonghyun menautkan alisnya. “Dia menyuruhmu untuk meminta rokok padaku ‘kan?”

Kerutan di dahinya semakin bertambah.

“Kenapa Onew-hyung harus minta padamu, memangnya untuk apa?”

“Dia kan merokok.”

“Eh?”

Hyung-mu… leader kebanggaanmu itu merokok juga. Jangan berakting seolah-olah kau tidak tahu!”

“Aku memang tidak tahu!” Matanya membulat dua kali lipat. Itu artinya aku baru saja membocorkan rahasia Jinki. “Noona, kau tahu dari mana?” tanyanya.

“Aku melihatnya.”

Jonghyun mendengus. “Mana mungkin. Dia bagian dari main vocal, pernafasan adalah nyawa dalam kariernya.”

“Dia melakukannya,” ucapku memastikan.

Dia terlihat berpikir sejenak. Dahinya membentuk kerutan kasar.

“Sepertinya dia melakukannya baru-baru ini. Setahuku Onew-hyung tidak pernah merokok.”

“Bukan urusanku,” desahku malas dan beranjak dari tempatku untuk kembali ke dalam stadium.

“Tunggu, Noona…” cegah Jonghyun sambil mencengkeram tanganku, “…ada yang ingin kubicarakan. Sebentar saja.”

Awalnya aku ragu, tetapi akhirnya kembali bersandar ke batang pohon. “Apa?”

“Semalam Onew-hyung pulang terlambat. Kemarin aku sempat melihatnya mengikutimu keluar gedung. Apa ia bersamamu?”

Aku menelan ludah.

“Dia tidak cerita?”

Jonghyun menggeleng. “Onew-hyung adalah member paling tertutup di antara kami. Tidak ada yang tahu isi kepalanya. Dia terlalu misterius,” tuturnya nampak frustrasi. “Kami semua sangat cemas semalam mencarinya ke berbagai tempat.”

Aku mengubah posisi dan melipat kedua tangan di perut. “Dia bukan anak kecil lagi ‘kan?”

“Bukan, kami cemas bukan karena takut dia diculik atau semacamnya. Dia sedang memiliki banyak masalah saat ini. Kami hanya takut ia melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Tetapi kalau itu adalah merokok kurasa bukan perkara berat.”

“Banyak masalah? Apa itu?”

Kupikir Jonghyun akan menolak menceritakan, tetapi kebalikan dari ekspektasiku, rahasia-rahasia internal SHINee meluncur begitu saja dari mulutnya.

“Onew-hyung sedang tidak stabil. Awal tahun lalu ia merelakan gadis yang sangat dicintainya selama bertahun-tahun pada pria lain. Aku tahu itu sangat tidak mudah menyembunyikan semua yang dirasakannya di balik wajah pokerface-nya. Tidak ada salah satu member pun yang menjadi labuhan curahan hatinya. Kami frustrasi melihatnya hidup seperti zombi dalam satu setengah tahun ini. Belum lagi perusahaan yang menuntutnya dalam berbagai hal sebagai seorang leader. Aku tidak tahu permasalahannya, ia juga tidak cerita pada kami mengenai hal itu.

Kami ingin membantunya tetapi ia selalu menolak dan berakting bisa melakukan semuanya sendiri. Aku juga tidak pernah melihatnya tersenyum ketika kamera mati. Dia menjadi aneh, jiwanya hampa. Aku tidak suka melihatnya seperti ini.”

Jonghyun berusaha mengacak rambutnya yang keras akibat hairspray.

“Kemarin… dia di rumahku,” aku mengaku. Jonghyun menatapku tidak percaya, jadi aku buru-buru menambahkan, “Tidak seperti yang kau pikirkan. Dia mengekoriku, kehadirannya sangat tidak diinginkan.”

Bibirnya menyungging dan bangkit dari duduknya.

“Itu bagus!”

Aku mendelik. “Itu mengganggu!”

“Maksudku… kau perempuan pertama yang ia temui!” Jonghyun nyengir, semakin mirip hewan purba. “Ini perkembangan yang mengejutkan.”

“Kemarin adalah mimpi buruk bagiku. Sudah hentikan, kita harus kembali ke dalam―”

Noona!” Jonghyun lagi-lagi menarik tanganku. “Kumohon… dekati Onew-hyung…”

Kami diam sepersekian detik. Angin berhembus sedikit kencang meniupkan poni dan menggoyangkan rambut ekor kudaku.

Jonghyun melanjutkan, “…hidupkan dia lagi.”

“Dia sedang hidup. Hentikan, aku tidak tertarik.”

Aku melepaskan cengkeramannya dan berlari menuju stadium. Pembicaraan singkat tadi berputar di kepala memberikan efek lain pada detak jantung. Debarnya tidak wajar.

***

Konser telah usai, seluruh staf di masing-masing tim berbenah merapikan barang-barang. Keadaan cukup semrawut sama sekali tak ada waktu untuk berbincang. Para artis dan manajer bersiap meninggalkan lokasi menuju sebuah tempat makan yang sudah ditunjuk perusahaan sebelumnya untuk mengadakan perayaan kecil pasca konser. Sedangkan kami, para coordi, masih banyak yang harus dirapikan di sini.

Persediaan staminaku masih cukup untuk bekerja hingga larut sekalipun. Melihat senyum anak-anak yang gembira telah menyelesaikan konser pertama mereka di Seoul memberiku banyak kekuatan. Aku mulai mencintai pekerjaan ini.

“Selesai. Ayo kita susul mereka!” ajak Juyoung yang disambut teriakan riang dari Hyojin.

“Oh, kupikir kita akan pulang,” sahutku.

“Kau pikir terdapat diskriminasi staf di sini?!” seru Juyoung galak.

Aku memutar bola mata jengkel dan menyampirkan dua tas besar ke bahuku. Kami berjalan menyusuri koridor menuju lahan parkir. Bahuku seperti mau terlepas. Dua tas berisi aksesoris dan sepatu kedua belas member ini sangat berat!

Bunyi ‘bruk’ pelan menggema di koridor. Aku menurunkan tas-tas tersebut dan mengambil istirahat sejenak. Beberapa staf produksi masih berlalu-lalang, setidaknya aku tidak sendirian. Juyoung dan Hyojin sepertinya sudah sampai di lahan parkir, aku akan di sini sampai bahuku sedikit membaik.

Di koridor yang agak gelap ini aku berjongkok sambil bersandar ke dinding, memeluk kedua lutut dan menundukkan kepala mencoba meredakan sakit di kedua bahu. Rasanya sangat sepi.

“Kenapa mereka membiarkanmu membawa tas-tas berat ini sendirian?”

Aku mendongak dan menemukan Kris berdiri di hadapanku. Ia mengambil tali kedua tas dari lantai dan menyampirkannya ke bahu.

“Kris…”

Let’s go!” ajaknya sambil melenggang keluar gedung. Aku mengikutinya di belakang.

“Bukannya kau sudah pergi?”

“Aku diminta kembali untuk melihat keadaan kalian,” sahutnya tanpa menoleh dan terus berjalan, “Kenapa kau tidak meneleponku? Bahumu bisa remuk membawa ini semua.”

“Aku baik-baik saja.”

“Berhenti mengatakan itu!”

Setelah sampai di lahan parkir dan menaruh seluruh barang ke dalam bagasi, kami berangkat menuju restoran tempat SM Town berkumpul. Juyoung mengendarai van dengan Kris duduk di sampingnya, sedangkan aku dan Hyojin berada di belakang mereka.

Perjalanan kami cukup hening. Di menit-menit awal mataku terpejam tetapi telinga masih bisa mendengar suara obrolan Kris dan Juyoung. Namun setelah itu aku benar-benar tertidur.

Suara gemuruh obrolan semakin jelas terdengar walau mataku masih tertutup rapat. Kantuk ini membunuh!

“Oh, dia bergerak!” pekik suara berat yang kuyakini milik Chanyeol.

“Tapi masih belum sadar,” imbuh suara lainnya.

Noona!” Kali ini suara Jonghyun.

Perlahan-lahan aku membuka mata. Samar-samar mendapati beberapa pasang mata di dekat wajahku. Aku terkesiap dan spontan menyeret tubuhku ke belakang. Wajah-wajah mereka semakin jelas setelah mataku terbuka 100%. Mereka semua histeris dan berusaha memelukku.

Kris datang membawa segelas air dan membantuku untuk minum.

“Akhirnya siuman,” ucap Jonghyun lega.

Dahiku mengerut. “Siuman? Aku hanya tidur.”

Mereka semua berdecak tak percaya.

“Dia memang tidur. Kalau kelelahan Sena memang seperti ini, tidur nyenyak tanpa bergerak. Aku menyebutnya ‘Dead-Sleep-Syndrom’,” ujar Kris tertawa geli. Aku menyodok rusuknya.

“Hei, panggil dia ‘noona’!” protes Jonghyun.

“Kau tahu dari mana, Hyung?” tanya Taemin pada Kris.

“Mereka dulu pacaran,” celetuk Kai membuatku hampir tersedak saat air mengalir di kerongkongan. “Ini pertemuan pertama mereka setelah lima tahun terpisah.”

Aku menatap Kai tak percaya. Dari mana anak ini mengetahui semuanya?!

Seluruh mata tertuju padaku dan Kris. Hyunkyun, manajer EXO-M, menarik bagian belakang baju Kai dan menyeretnya ke toilet. Nah, sekarang aku tahu dari mana ia mengetahuinya.

Aku berdiri menuju meja dan menatap kagum pada makanan yang tersaji, begitupula dengan mereka. Meja panjang segera terisi penuh oleh kedua belas EXO, aku berjalan menuju meja para staf di sisi ruangan dan duduk di samping Juyoung.

“Apa aku tidak salah dengar?” tanyanya tiba-tiba. “Kau dan Kris pernah pacaran?”

“Hm.”

“Jadi kau bekerja di SM untuk menyusulnya?” tuduh Hyojin sembarangan.

“Tidak!” jawabku tegas. “Aku sama sekali tidak tahu dia ada di sini.”

Juyoung tidak langsung menimpali ucapanku. Dia diam, terlihat berpikir. “Jadi dia hantu tempo hari itu?”

Aku menoleh, kemudian mengangguk.

What a small world,” gumamku.

Malam semakin larut, beberapa dari kami mulai meninggalkan restoran, termasuk aku. Rencananya malam ini aku akan menginap di kantor. Terlalu larut untuk pulang ke rumah. Juyoung dan Hyojin tidak bergabung, mereka lebih memilih untuk pulang karena besok kami tidak memiliki jadwal. Libur sehari sangat berharga bagi kami.

Driver mengantarku juga beberapa staf kembali ke kantor. Lampu-lampu jalanan di sekitar SM agak temaram, gedung juga terlihat sangat gelap dari luar. Mereka memang sedang menerapkan sistem hemat energi akhir-akhir ini.

Melalui pintu belakang aku memasuki gedung yang senyap menuju ruangan coordi di lantai dua. Terdengar suara musik dari ruang latihan di lantai tiga, sepertinya ada yang sedang menyiksa diri berlatih pada jam segini setelah menuntaskan konser SM Town yang melelahkan.

Aku menaruh tas di atas meja, menyatukan beberapa kursi dan tidur di atasnya. Ruangan hanya diterangi cahaya dari luar jendela. Sunyi… hanya ada suara dentuman musik dari lantai atas.

Tidak lama kemudian musik berhenti digantikan dengan suara pijakan sepatu memenuhi koridor di luar ruangan. Kemudian suara knop pintu terdengar begitu keras dari biasanya, pintu mengayun ke dalam. Sosok tubuh berbentuk siluet menampakkan dirinya, deru napasnya sangat cepat.

Apa-apaan ini? Jadi benar di gedung ini terdapat hantu? Sial!

Dia memasuki ruangan semakin dalam sedangkan aku masih berbaring di kursi, mencoba tidak bergerak dan bernapas. Sialnya, dia berjalan ke arahku. Aku mulai mengkeret di tempat, nyaliku menciut tetapi tetap bertahan di posisi semula.

Sosok pria itu berhenti dan berdiri di sampingku. Aku menangkupkan kedua tangan di wajah, tidak ingin melihatnya. Kemudian sesuatu terjatuh di atas perutku. Aku menjerit tanpa suara, bibirku bergetar hebat. Sebelum aku berhasil mendorongnya, ia bergerak ke atas menuju wajahku. Napasnya sangat cepat seperti kelelahan. Bau kuat alkohol dan nikotin mencuat dari mulutnya.

Aku mengintip dari sela-sela jari. Cahaya dari luar jendela menerpa wajahnya.

“J-Jinki?”

-to be continued

Author’s Note:

Mengapa Jinki mengikuti Sena di chapter sebelumnya?

Terlihat sangat pucat dan tidak melawan sama sekali ketika diserang membuat Jinki sedikit khawatir dengan keadaan Sena. Itulah mengapa secara tidak sadar ia mengikutinya. Kakinya melangkah begitu saja meski sebenarnya hatinya tidak ingin melakukan itu. Ini adalah pertama kalinya Jinki peduli pada perempuan setelah merelakan Kim Jira bersama Minho. Bukankah ini disebut menguntit? Lalu siapa saat ini yang berperan sebagai sasaeng? Jinki seharusnya menyebut dirinya itu.

©2011 SF3SI, Diya.

sf3si-signature-diya

Officially written by Diya, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

113 thoughts on “Beautiful Stranger [Chapter Four]

  1. Jinki… dibalik perlakuannya yang kasar tersimpan perhatian dan perasaan
    manis. Penjelasan Jong kepada Sena buat aku ngerti dengan apa yang terjadi
    pada Jinki. Tapi author udah janji penjelasan lengkapnya ada d part berikutnya…
    I can’t wait….
    Daebak, thor… sejauh ini…
    ffnya sangat menarik…!!!!!

  2. Thorr cerita ff macem ni yg gue cari!!!
    How lucky am i~
    Next chapter buruan ya thor
    Kasih 4jempol buat luu

  3. Demi antara lengan dan ketek Chanyeol
    Sena, dirimu kok jadi malang amat *jangan tanya kenapa menurutku malang* Hish kesiaaaan!! Sumpah kalau jadi Sena mah mati aja #dugh
    Aduh aku ingin Sena sama Kris lagi tapi gimana, Kayaknya Sena bakal sama Jinki dan Kris sama aku #DOORR kan Minho udah sama Jiraa!!!! *injek sendal*
    Yeah, setelah kehilangan Jira si Jinki jadi pecandu eh? Sepertinya begitu. Buktinya si dino gak tahu Jinki ngerokok. Duhhh cintaaaa~~~~~ kalo Jira-Minho tau pasti sedih da-_-
    neeexxt~~~~

  4. Ahh bner bikin kaget ternyata jira org yg dicintai onew :3
    sedikit demi sedikit banyak rahasia yg terungkap :v
    sena masih suka am kris tp giman perasaan sena ke onew ???!!!
    makin menarik deh cerita.a , uuu seruuuuu😀
    langsung next chapt ^^

  5. yakaaan si jira diambil paksa dari onew tanpa tau perasaannya.
    fuck you onew, jangan bilang buat alasan pelarian ya Sena’ku.

    *gua gak ngeh sama cover nya kalo ada kris. oon nya…*
    ah ga kerasa udah jam 1 pagi gua baca ngebut ni ff.

  6. Jengjeng #ternyata cwk yg dilpasin itu jira aduh konflik apa lg ini#si minho tau gk klo hyung nya pernh suka jira
    Q harap onew dpt sena jadi gntiny jira

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s