Kite

KITE

~Another Story of Save Me~

KiteInFlight

Di masanya, ia pernah takluk dalam arogansi hasrat bocah-bocah itu membiarkan dirinya dipermainkan angin. Terhempas ke atas kiri kanan, atau mimpi terburuknya justru ia harus  tersematkan oleh juluran ranting-ranting juga termasuk daunnya. Berpikir ia mungkin terselamatkan dari siksaan tamparan udara bergerak itu, yang terkadang dalam cuaca yang tidak begitu bersahabat lantas ia menemui tubuhnya harus robek di sana sini. Dan pada akhirnya ia hanya tetap menjadi komoditas, patuh pada sang tuan ketika ia masih menyibakkan keanggunannya dalam terpaan angin, dan menjadi seharga sampah-sampah setelah cacat pada fisiknya yang tidak memungkinkan ia memamerkan angkuh sibakan kerangkanya di atas sana.

 

“Tulisanmu bagus,” katanya tiba-tiba ketika Boram masih menenggelamkan dirinya dalam narasi ceritanya. Ia tersentak, terburu-buru menutup bukunya tanpa berpikir tiba-tiba saja buku itu terlepas dari tangannya. Terlalu cepat bagi otaknya untuk mencerna apa yang terjadi, hingga ditahunya kini ia harus berurusan dengan lompatan kakinya yang terang saja masih belum bisa menjangkaukan tangannya untuk kembali merebut buku itu dari tangan Jinki. Hell, betapa ia harus benci mengakui jika lelaki itu terlalu tinggi baginya.

“Kembalikan itu, apa maumu?”

Sorotan mata tajam berusaha mengintimidasinya, tapi Jinki hanya membalasnya dengan seringai. Ia pun menyerah sesaat setelah ia melihat beningnya sepasang mata itu terisi oleh genangan air.

“Aku suka tulisanmu,” katanya kemudian sebelum menyerahkan buku itu pada Boram yang buru-buru melengos pergi.

“Kenapa menangis?”

Menyodorkan sapu tangannya, Boram justru menepis tawaran baik hati Jinki dan hampir pergi lagi sebelum Jinki menarik kedua bahunya dan memutar tubuhnya hingga mereka berhadapan.  Jika saja suasana hatinya sedang baik, kedua tulang pipi itu sudah pasti merona saat katun itu membelai wajahnya, menyerap molekul-molekul air hingga dirasanya pipi itu tidak lagi sembap.

“Jurusan kedokteran, kau benar-benar yakin?”

Boram membuang muka, tangannya memeluk erat bukunya.

“Kebiasaanmu tidak berubah. Kau menggigit bibirmu, maka kuanggap jawabannya kau tidak yakin sama sekali.”

Sesuai dugaannya, perhatian Boram kini teralih padanya, bukan lagi pada untaian manik yang melingkari pergelangan tangannya. Dan ketika itu, bayangan sang ibu dengan jas putih menguasai ingatan Boram.

“Hm, tema tulisanmu layang-layang kan?”

Mendecak tidak puas untuk acuhnya Boram terhadap ajuan pertanyaannya, Jinki kemudian menarik tangan gadis itu untuk ikut bersamanya. Boram terus melakukan pemberontakan agar bisa terlepas terhadap genggaman itu, dan akhirnya terhenti karena ia berpikir akan sia-sia untuknya yang lemah melawan kekuatan Jinki.

Masih sulit dicerna tingkah selanjutnya dari lelaki bermata sipit itu, saat Boram melihatnya Jinki sibuk dengan gunting dan kertas, hingga akhirnya ia mengerti jika layang-layang kreasi tangan itu sudah selesai setelah Jinki menyimpul benang pada rangkanya.

“Ayo, ikut aku.”

Boram meraih uluran tangan itu, kembali mengikuti laju lari Jinki yang membuatnya hampir kehilangan seluruh waktu untuk jeda menghirup oksigen. Ia tercengang beberapa saat, lelaki itu sudah berlari kesana kemari. Sesekali menarik dan memintal gulungan benang lalu akhirnya membiarkan layang-layang itu mengarungi angin yang terus mendukungnya melambung tinggi.

“Tinggi kan?”

“…”

“Kau tahu persamaan kita dengan layang-layang ini? Keduanya memiliki harapan, memiliki impian untuk kemudian terbang setinggi mungkin, tapi…”

Kalimat Jinki terputus, mata Boram terbelalak sedetik saat dilihatnya pintalan benang itu sudah lepas dari genggaman Jinki, dan layang-layang itu sudah menjadi seberkas titik yang hilang dilalap teriknya sinar mentari.

“Layang-layang akan terbang lebih tinggi lagi jika kau melepaskannya, karena kau tidak tahu satu detik berikutnya ia mungkin akan menjadi sampah yang tidak berguna bila ia akan tersangkut di pohon atau mungkin kabel listrik…”

Jinki menjatuhkan dirinya di samping Boram yang terus memandangi langit di atas sana, mencoba meraba isi pikiran sang gadis, sekedar untuk memberinya pencerahan. Ia segera bangkit dari baringnya, karena wajah Boram masih saja menunjukkan ekspresi sama.

“Kau bukan layang-layang, Boram. Kau tidak bisa dikendalikan oleh siapapun untuk menentukan masa depanmu. Kau berhak untuk pilihanmu. Kau adalah dirimu.”

Seulas senyum menghiasi wajah itu, menetralkan ekspresi muram sebelumnya menjadi lebih cerah. Jinki mengelus kepala Boram, membalas senyumannya dengan sengiran nakal.

 “Kurasa aku sudah tahu apa impianku, Jinki. Mau kuberi tahu?”

Jinki mengangguk.

“Aku ingin menjadi istrimu.”

“Mwo?”

****

“Sudah menulis apa impianmu?”

Boram mengangguk, “Hey! Jangan membacanya, kita sudah janji kan?”

Jinki cemberut, tapi akhirnya ia menurut dan membantu Boram mengikatkan lipatan kertas itu pada kerangka layang-layang mereka. Mereka sepakat mengakhiri sore itu untuk membuat satu layang-layang lagi, dan menerbangkannya setinggi mungkin sebagai hadiah tutup mulut untuk ancaman Jinki yang ingin menyebarkan rumor betapa cengengnya ia tadi.

Kepada hamparan awan di atas sana, kutitipkan dalam untaian kata, bisakah kau hantarkan pesanku kepada pencipta-Mu? Katakan pada-Nya, aku akan menjadi penulis terkenal suatu saat nanti. Setahun, dua tahun, atau mungkin sampai rambutku memutih nanti, aku akan membiarkan mimpiku terwujud. Aku berterima kasih telah mengirimkan manusia ini untukku. Karena mungkin, jika dia tidak pernah hadir dalam hidupku, aku pasti akan melewati hariku, masa depanku menjadi layang-layang hidup. Menjadi onggokan daging bertulang yang menghidupi hidup dengan tanpa impian. Aku tidak bisa membayangkan betapa buruk jadinya nanti. Terima kasih, Lee Jinki. Suami masa depanku.

-Boram-

FIN

~based on my own experience

~Save Me itu ff faling favoritku. Soalny it ff horor pertamaku, padahal sy sendiri anti horor lol. Makanya, setelah dibaca ulang tiba” saja jadilah vintage ini. Awalnya mau bikin versi brothership OnHo. Tapi jadinya malah semacam gini. Efek cinta kali yah😄.

~diharapkan, ff ini bisa menginspirasi calon” mahasiswa yang lagi bingung nentuin jurusannya dimana, ato lulusan SMP yang masih bingung pilih SMA ato SMK.  Jangan sampai kejebak sm permintaan orang tua, dan pilih yg benar” nyantol d hati kamu, ato kamu bakalan nyesel setengah mati, melewati masa kuliah ato sekolah setengah”, dan jadiny sia” aj kan. Please, make it as u want, dear. Minjem part Yongguk, YOU ONLY HAVE ONE CHANCE, YOU KNOW!

~See y at next ff *waving

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

22 thoughts on “Kite

  1. klo impian masa depanku, “jadi ibu bagi anak2ku” (?) karena keinget umur😀
    Suka deh Boram sama jalan ceritanya, apalagi ada nilai moralnya..
    Untuk semua yang lagi ngejer cita2, semoga sukses.. Hwaitiiing!! 😀

  2. Salam kenal..reader baru disini..

    Suka bgt sama ff satu ini..singkat,tp mengena banget..terutama di paragraf terakhir..🙂

  3. Boram, aku suka banget ff ini terlepas dr beberapa kata2 rancunya…

    Hmm, tp analoginya agak rancu sih. Kan layang-layang juga bisa terbang bebas kalo dilepas, artinya manusia juga bs diibaratkan kyk layang2… impiannya tetep tersendat kl tetep dipegang benangnya. Tp kalo dilepas, bisa tinggi, ke arah manapun, dan bahkan bisa jatuh juga sebenernya.

    Oya, acuh=peduli. Tak acuh=tidak peduli

    Bwaaahhah, si boram waktu nulis ini kykna ngarepin jinki jd suami masa depannya, hahahah

    1. baru baca.. dan baru mau komen gni.. eh udah ada bibib komen.. numpang yaaa~😆
      btw, kata2nya bagus boram! jadi istri onew? aku juga mau jadi istri masa depannya minho😆

    2. komenny kugabung dah kalo begitu🙂

      duh Bib, sy jg masih belajar nulis. susah banget nih nguprade tulisan bagusy gmana dgn pngetahuan yg minim. tulisnku kan masih jauh banget d bawah kamu😀

      filosofiny kuambil yg positif aj, biar lebih ngena sm Boramny *ehem* yg lagi galau mau ngikutin jejk ibuny ato gak. tau aj deh sy bikin ini smbil ngayal jinki lari”an main layangan d sawah huaahaha

      Lumiii~
      ish, dipikir mimpiny sm, eh trnyata si minong ya udahlah, saingan brkurang😀

      makasih loh dua”ny udh mau baca n ninggalin jejk d sini *chu

  4. aku sensitif masalah mimpi dan cita-cita. manusia kayak layang-layang….
    jadi, layang-layang nggak pernah terbang kalo nggak ada angin…
    ok, suka banget…

  5. Huwaaa….
    Kereeennn, boram!

    Hayoh reader sekalian, perhatikan makna tersirat dr FF kece ini,

    you just have ONE CHANCE!

  6. Uwaaaaa prokprokprokkkk! Keren >.< uh membicarakan ttg impian ingin mmbuatq menangis :'' ..aku masih seperti layang2 yg dikendalikan T,T #curcol

    1. nah loh, kalo gitu bebasin diri kamu dong. masa iy mau dikndalikan trus, nanti bakalan nyesel loh kalo yg kamu jalani nanti gak sesuai keinginanmu.
      dan makasih ya udh mau bc n ninggalin jejak🙂

  7. Bagus banget ff-nya! Pendek tapi ngena banget!

    Semoga pembaca SF3SI yang mau ujian bisa terinspirasi dari ff ini!

  8. Gyaah~
    Kata-katanya keren banget!
    Kok bisa sih kepikiran ngambil tema layang-layang?
    Kamu berbakat deh jadi filsuf, chingu~
    Sugoi!!!

  9. nice nice nice….
    Nice story……
    Agak pendek dr biasanya, tapi ini bagus banget….
    “Jadi istri Jinki…?” Aku juga mau, Boram….
    Tuh impian MVP, kaleee……
    Ni ff pas banget jd inspirasi untuk calon2 mhasiswa yang lagi
    bingung…. Mereka yang baca patut bilang makasih, ni, sm Boram….
    Udah kasih penyemangat buat mereka….

    Boram, Fighting!!!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s