The Blue in You – Part 3

the-blue-in-you

Title : The Blue in You – Chapter 3 : Tell Me That You Love Me

Author : Lumina

Main Cast :

  • Jung Yoora (OC)
  • Choi Minho (Shinee)
  • Kim Kibum (Shinee)
  • Jung Yoogeun (ulzzang)

Support Cast : Park Hyosun (OC)

Rating : PG – 17

Genre : romance, family, drama

Ps : I’m so sorry. Part ini mundur sangat lama dari yang Lumie janjikan. Banyak hal yang membuat Lumie sibuk; mulai dari skripsi, event yang harus Lumie urusin, acara keluar kota, dan banyak hal lain yang gak bisa Lumie sebutin tapi yang jelas menyita banyak waktu. Lumie gak tau apa masih ada yang inget cerita FF ini dan bahkan mungkin mau nungguin lanjutannya. Here you go🙂

Disclaim : -Don’t take any part of this fiction without permission-

Previous Chapters : Chapter 1 | Chapter 2

 =============================================

Seteguk kopi dingin mengalir menjalar di kerongkongan, Key mengerutkan dahinya ketika menyadari sudah beberapa jam berlalu sejak Nona Han—sekretaris pribadinya—meletakkan secangkir kopi americano di atas meja kerjanya. Selama waktu itulah, Key terus berkutat dengan serius menatap layar notebook, menyusun berkas kerja sama untuk proyek baru perusahaan yang harus diselesaikan secepatnya. Sudah dua hari terakhir, kegiatan ini telah menyita hampir seluruh malamnya, termasuk waktu berkunjungnya ke rumah Yoora dan waktu yang harusnya ia habiskan untuk menemani Yoogeun bermain sebelum bocah itu tidur.

Key menarik kerah kemejanya—kancingnya yang paling atas telah terbuka sejak menit-menit pertama ia berkutat dengan pekerjaannya. Rasa gerah menyelimutinya, sekalipun pendingin ruangan tetap menyala saat itu. Pekerjaan ini benar-benar menyita waktunya—terlalu banyak. Namun, apalah daya yang dapat ia perbuat. Key harus memikul tanggung jawab yang dilimpahkan kepadanya semenjak ayahnya pensiun dini dari perusahaan dua tahun lalu.

Proyek baru kali ini adalah proyek besar yang telah ia impikan sejak lama. Tak boleh ada alasan untuk gagal. Oleh karena itulah, Key rela mengorbankan waktu makan dan tidurnya hanya demi menyelesaikan proposalnya secepat yang ia mampu dan memastikan tender itu jatuh ke tangannya.

Ia selalu memimpikan sebuah keluarga yang bahagia. Keluarganya sendiri di mana ia menjadi kepalanya. Key selalu berharap suatu saat hati wanita yang ia cintai itu akan terbuka baginya. Kemudian mereka akan menikah dan hidup bahagia bersama anak-anak mereka. Impian yang simple namun terdengar manis bukan?

Atas dasar keinginan itulah, Key ingin mengembangkan bisnis real estate yang memang digeluti oleh perusahaannya. Ia ingin mendirikan sebuah perumahan sederhana di pinggir kota Seoul. Sedikit jauh dari keramaian sehingga kau dapat memiliki waktu santai bersama keluargamu tanpa terganggu hiruk-pikuk orang-orang yang sibuk beraktivitas. Perumahan itu akan dilengkapi dengan fasilitas dan hiburan yang dapat digunakan untuk mengisi waktu luang di akhir pekan bersama keluarga tanpa harus berpergian jauh keluar kota.

Tak luput, Key juga telah mempersiapkan sebuah rumah impiannya di sana. Rumah yang ia harap dapat dihuninya bersama Yoora dan Yoogeun. Juga mungkin beberapa Key kecil, yang akan menemani hari-hari mereka dengan penuh cinta hingga rambut mereka memutih.

Seulas senyum tipis terlukis di wajahnya. Membayangkan impiannya itu ternyata mampu memberinya energi tambahan untuk menaikkan semangat kerjanya. Key hendak menatap kembali notebook di depannya—bermaksud melanjutkan pekerjaan yang sempat terhenti beberapa saat lalu—ketika ia teringat akan sesuatu yang dalam sekejap meniup bayang impian dalam kepalanya.

Minho. Pria itu telah kembali hadir dalam kisahnya dan Yoora. Belum juga ia berhasil menghapus bayang pria itu dari hati Yoora, kini Minho justru datang seolah mempertegas eksistensinya dalam hidup Yoora.

Rahang Key mengeras. Tidak. Jika dulu ia menyerah dengan mudahnya—yang kemudian ia sesali—maka kini setelah lima tahun berlalu, ia bukanlah Key yang sama seperti yang pernah dikenal pria itu. Ia takkan melepaskan Yoora dengan mudah. Tidak, jika hanya akan membuat wanita itu kembali tersakiti. Tidak, karena Key yakin dirinyalah yang akan membahagiakan wanita itu. Tidak, karena Key berharap ia yang pantas dicintai Yoora, bukan Minho.

Tangan Key meraih ponsel yang tergeletak di sebelah notebook. Diputarnya ponsel itu beberapa kali sembari menimbang-nimbang. Ia melirik jam yang bertengger di salah satu sisi meja kerjanya. Pukul sembilan. Harusnya Yoora sedang menidurkan Yoogeun sekarang. Ah, mungkin lebih baik ia menunggu beberapa menit lagi untuk menelepon wanita itu.

***

Yoora baru saja menutup pintu kamar Yoogeun ketika telepon rumahnya berdering—cukup nyaring memecah keheningan malam di rumah yang hanya dihuni oleh dua orang. Bergegas ia meraih telepon yang tergeletak di ruang tengah.

Yeoboseyo?” sapanya.

“Yoora-ya,” panggil sebuah suara yang familiar di ujung telepon.

“Key?” tanya Yoora, sekedar untuk memastikan bahwa ia belum terlalu mengantuk untuk salah mengenali suara seseorang yang meneleponnya.

Yoora menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, telepon wireless tetap menempel pada daun telinga kanannya. Dinaikkan kedua kakinya ke sofa, sedangkan tangannya yang bebas perlahan memijit betisnya yang terasa pegal sehabis menemani Yoogeun bermain.

“Yoogeun-ah sudah tidur?”

Hmm,” gumam Yoora mengiyakan, “Ia merindukanmu Key. Tapi ia bisa mengerti saat kubilang kau sibuk di kantor.”

Tak ada jawaban selama beberapa detik. Key tampak berpikir sejenak lalu menghela nafas pelan, “Harusnya aku masih bisa menemaninya bermain, bukannya bekerja hingga menghabiskan seluruh waktuku di kantor.”

Yoora tersenyum tipis mendengar jawaban Key yang terdengar sangat perhatian pada Yoogeun, “Gwenchana, kau tak perlu memaksakan diri, Key. Aku bisa menemaninya bermain. Apakah kau masih di kantor saat ini? Lembur lagi?”

Kini berbalik, Key yang tersenyum mendengar pertanyaan Yoora yang dapat diartikan bahwa wanita itu sedang menunjukkan perhatian padanya.

Ne, aku ingin segera menyelesaikan berkas-berkas ini sebelum akhir pekan. Ah, bagaimana kalau kita piknik hari Minggu nanti?” tawar Key.

“Piknik?”

Hmm, aku ingin menebus rasa bersalahku karena tidak dapat menemani Yoogeun bermain. Ayolah, Yoora-ya, kau tidak mungkin menolak ajakanku, ne?” rajuk Key dengan nada suara sedikit memaksa.

Otte, kurasa Yoogeun juga akan senang mendengarnya,” jawab Yoora pada akhirnya sebelum bertukar selamat malam dengan Key dan memutuskan hubungan telepon.

***

Sinar hangat mentari menyapa helaian dedaunan rimbun di atas kepala yang gemerisik tertiup angin. Hamparan rumput bak permadani hijau menjadi arena bermain yang menyenangkan bagi bocah-bocah kecil yang berlarian ke berbagai penjuru. Sepasang mata bergerak mengikuti salah seorang bocah lelaki yang berlari dengan riangnya. Kedua tangan bocah itu terangkat, memamerkan ranger merah dan monster kepiting yang sedang terlibat pertarungan sengit dalam imaginasinya. Bocah itu tertawa riang, terkadang mengeluarkan suara mirip debaman dari bibirnya ketika kedua action figure di tangannya saling beradu di udara.

“Key Appa!” pekik bocah itu ngeri bercampur riang ketika tubuhnya tiba-tiba terangkat ke udara. Tangan-tangan Key telah menggendongnya dengan posisi superman.

Yuhuuuuuuu…” seru Key seraya mulai berlari pelan dengan tubuh mungil Yoogeun dalam gendongannya. Bocah itu menjulurkan tangan kanannya ke depan, pandangan matanya nampak serius bak superhero yang terbang di angkasa demi menjaga kedamaian bumi dari musuh jahat.

Yoora hanya terkekeh melihat keakraban yang terjadi antara Key dan Yoogeun. Ia memang hanya duduk di atas karpet piknik bergambar Pororo—ditemani dengan keranjang berisi roti lapis, biskuit, dan salad buah—namun kegembiraan itu tetap dirasakan olehnya hanya dengan melihat betapa ceria buah hatinya bermain bersama Key. Ah, pria itu selalu bisa membawa kebahagiaan tersendiri dalam hidupnya dan Yoogeun.

Yoora menata beberapa potong roti lapis di atas piring kertas yang dibawanya. Ia juga mengupas beberapa buah apel dan pir serta meletakkannya di piring kertas lain—berdampingan.

“Yoogeun-ah! Key-ah!” panggil Yoora dengan suara lantang mengingat jarak tempat keduanya bermain cukup jauh dari tempatnya duduk, “Ayo makan!”

“Ah,” sontak Key mendengar seruan Yoora, “Makan! Eomma bilang waktunya makan! Kajjaaaaaa…”

Yoogeun tertawa riang merasakan semilir angin meniup permukaan wajahnya saat Key membawanya berlari ke arah Yoora masih dalam posisi terbang. Sesampainya di dekat karpet piknik mereka, Key menurunkan Yoogeun dari gendongannya dan membantu bocah itu melepaskan sepatunya. Yoogeun langsung berlari melangkah ke atas karpet dan melompat riang beberapa kali sebelum akhirnya duduk di hadapan piring yang berisi roti lapis kegemarannya.

Menit-menit berikutnya dilalui dengan penuh canda tawa. Yoogeun dengan semangatnya bercerita bagaimana Power Rangers idolanya mengalahkan monster lalat jahat yang menculik anak-anak nakal yang suka membuang makanan mereka. Sesekali Key menimpali cerita Yoogeun dengan kata-kata penuh semangat sehingga bocah itu tertawa riang sambil berjingkrak ketika melanjutkan kembali celotehnya. Sedangkan Yoora, ia memilih memperhatikan keduanya bercengkrama sambil menuangkan jus jeruk pada gelas kertas dan membagikannya ke Yoogeun dan Key di sela cerita.

Dilihat dari sisi mana pun, ketiganya terlihat layaknya sebuah keluarga kecil bahagia. Berbagi cerita bersama dengan diselingi gelak tawa yang mengalun terbawa angin hingga membumbung tinggi ke udara.

Yoogeun akhirnya tertidur pulas karena kelelahan ketika matahari bersinar makin terik di atas cakrawala. Dengan dipayungi atap dedaunan rindang yang teduh, bocah itu melangkah ke negeri impian. Tangan Yoora membelai perlahan anak-anak rambut yang terjuntai di dahi putra kecilnya.

“Ia pasti kelelahan bermain,” ujar Key memecah keheningan. Pandangan matanya melekat pada wanita di hadapannya.

Ne,” jawab Yoora singkat masih dengan gerakan tangan lembut yang membelai puncak kepala Yoogeun, “Sudah lama ia tak bermain seriang ini.”

Semilir angin hangat musim panas bertiup memberikan sedikit kesejukan di tengah udara yang mulai terik. Tangan Yoora menangkap helai-helai rambutnya yang ikut tersapu angin menghalangi wajahnya. Matanya sekejap merapat ketika merasa debu-debu ikut terbawa angin yang berhembus.

Ah!” pekiknya ketika bola mata kirinya terasa perih.

Wae-yo?” tanya Key spontan mendengar pekikan Yoora. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah wanita yang kini menunduk sambil terpejam.

“Debu,” jawab Yoora sembari mulai mengusak matanya, “Sepertinya mataku kemasukan debu.”

Detik berikutnya tangan Key telah menarik tangan Yoora dan menghentikan wanita itu mengusak matanya, “Jangan diusak seperti itu, matamu bisa sakit.”

Jemari Key perlahan menaikkan dagu Yoora sehingga wajah mereka kini berhadapan. Didekatkan bibirnya ke mata kiri Yoora yang terpejam lalu ditiupnya perlahan.

“Sudah lebih baik?” tanya Key dengan pandangan tetap menatap wajah wanita di hadapannya.

Ah, ne,” jawab Yoora singkat sembari mengedipkan matanya beberapa kali. Yoora baru saja hendak berterima kasih ketika bibir Key tiba-tiba menempel di bibirnya dan mengunci kata-katanya.

Kecupan itu hanya berlangsung singkat. Key hanya tak dapat menahan gejolak dalam dirinya yang begitu mengingini wanita di hadapannya. Namun waktu sedetik itu mampu membuat jantung keduanya berpacu cepat dan tatapan mereka terkunci satu sama lain untuk detik-detik selanjutnya.

Mianhae.” Itu adalah kata pertama yang terucap dari bibir Key setelah membiarkan kekosongan meliputi mereka berdua selama beberapa saat.

Semburat rona kemerahan muncul pada kedua pipi Yoora kala ia mengalihkan pandang ke sembarang arah demi menyembunyikan perasaan canggung dan gugup yang tiba-tiba ia rasakan. Ia bahkan bukan lagi gadis remaja, namun perlakukan Key barusan ternyata mampu membuat jantungnya berdegup cepat dan ia menjadi salah tingkah karenanya.

“Yoora-ya,” panggil Key lirih dengan pandangan tertuju pada wanita di hadapannya. Dengan perlahan Yoora memutar kepalanya dan kembali memandang si pemilik suara yang baru saja memanggilnya.

N… Nde?” tanya Yoora masih tak dapat menyembunyikan kegugupan. Saat ini aliran darahnya berpacu cepat dan tanpa sadar ia malah menatap bibir Key sehingga membuatnya kembali bertambah gugup.

Tangan Key merogoh sakunya. Yoora berusaha mengembalikan ketenangan dengan memperhatikan gerak-gerik pria itu. Detik-detik berikutnya berlalu dalam diam hingga desahan nafas pelan terdengar dari mulut Key. Pria itu gugup, meskipun apa yang akan dilakukannya bukan kali pertama, tapi ia tetap gugup.

Sebuah kotak hitam kecil kini telah berada dalam genggaman tangan Key yang masih tersembunyi di dalam saku. Dengan mantap ia menarik tangannya keluar dan memperlihatkan sebuah cincin perak berkilau di dalam kotak hitam itu ke hadapan Yoora.

Mata Yoora membulat. Detak jantungnya yang sempat kembali normal, kini berpacu bahkan dua kali lebih cepat dari sebelumnya.

“Kurasa kau bisa menebak apa yang ingin kukatakan, Yoora-ya,” ucap Key sedikit pesimis.

Yoora menatap Key sejenak, lalu mengangguk pelan sebagai jawaban.

“Tapi kuharap, ada jawaban lain yang akan kudengar hari ini,” lanjut Key dengan kedua bola mata yang terus menatap lekat Yoora.

Mungkin ia sudah gila. Rasa cintanya pada wanita ini seperti alkohol yang memabukkan. Semakin banyak kau meminumnya, kau akan semakin melayang ke awang-awang. Tapi ketika kau mulai meneguknya, kau takkan bisa berhenti meminumnya. Key mabuk akan cinta. Akal sehatnya bahkan tak dapat lagi diandalkan. Ini sudah keempat kalinya ia mengulurkan cincin yang sama ke hadapan Yoora dan mungkin akan berakhir sama seperti sebelumnya—penolakan.

Selama lima tahun, ia berharap wanita itu membalas perasaannya. Selama itu pula, ia tak pernah menyerah untuk mencintai wanita itu sekali pun ia tahu bayang-bayang masa lalu telah menutup hati Yoora rapat-rapat—membelenggunya erat bak rantai baja. Namun, kedatangan Minho kembali dalam hidup Yoora membuat Key benar-benar merasa takut kehilangan wanita itu. Maka inilah yang akhirnya membuatnya mengambil keputusan untuk kembali melamar wanita itu, meski sebelumnya ia pernah berjanji untuk menunggu waktu yang lebih tepat.

Marry me, please,” pinta Key, “Kau tahu betapa aku mencintaimu, Yoora-ya. Aku berjanji akan menjagamu dan Yoogeun. Menjadi masa depanmu yang takkan pernah meninggalkanmu.”

Bibir Yoora terkatup rapat sementara pandangan mata Key tak sedetik pun lepas darinya—menunggu jawaban. Dalam kesunyian, Yoora dapat merasakan suara jantungnya berdebar lebih cepat daripada hembusan angin. Ia tertunduk, mencoba menyelami perasaan yang ia sendiri tak mengerti. Satu hal yang disadarinya, Key telah banyak berkorban baginya dan Yoogeun. Key selalu ada untuknya—bahkan disaat terkelam dalam hidupnya. Key yang telah membantunya kembali berdiri dan berjalan melewati hari-harinya yang berbeban berat. Dan yang terpenting dari pada itu semua, pria itu mencintainya—cinta yang membuat pria itu hampir membuat keputusan gila lima tahun lalu.

[Flashback]

Pandangan mata Yoora masih kabur ketika tangan Key mengangkat dagunya untuk balas menatap pria itu. Air mata masih menggenangi pelupuk matanya—seperti tak mampu ia hentikan sekuat apa pun ia mencoba. Kenyataan pahit yang baru saja ia dengar membuat dunianya benar-benar hancur tak bersisa—menjadi serpihan kecil tak berbentuk yang terserak di dasar jurang hatinya.

Key tak henti menatap bola mata yang kosong itu. Hampa—itulah yang ia temukan di kedua bijih mata Yoora. Dalam benaknya berputar berbagai hal yang akhirnya saling tumpang tindih dan membuatnya ingin berteriak. Ia mencintai Yoora. Namun kenyataan bahwa gadis itu telah menjadi milik orang lain tak kunjung membuatnya mampu menepis perasaannya. Lebih dari itu, bukan hanya perasaan gadis itu yang telah menjadi milik Minho, tapi juga tubuhnya. Ia mengandung anak lelaki itu—kenyataan yang membuat emosi Key naik hingga ubun-ubun dan membuatnya ingin mencekik leher lelaki itu untuk membunuhnya.

Yoora masih menangis tanpa henti. Setiap suara isakan yang keluar dari bibirnya terdengar bagai sebuah jarum runcing yang menusuk hati Key.

‘Jangan menangis,’ kata-kata Key tertahan di ujung tenggorokannya. Key menarik nafas panjang. Tangannya mengangkat dagu Yoora lebih tinggi sehingga gadis itu kembali menatapnya dan kemudian ia membuat sebuah keputusan, “Yoora-ssi, biarkan aku yang bertanggung jawab mengantikan Minho.”

Nafas Yoora tercekat mendengar ucapan Key. Apakah ia terlihat begitu menyedihkan hingga lelaki itu mengasihaninya? Mengambil keputusan untuk bertanggung jawab atasnya tentu adalah hal yang tak masuk akal—apa pun alasannya. Ini tak semudah mengambil anak anjing yang dibuang dijalanan.

“Yoora-ssi,” panggil Key ketika Yoora terus terdiam menatapnya. Isakannya tak lagi terdengar, digantikan dengan tatapan penuh tanya.

“Aa… andwae,” ucap Yoora lirih—hampir tak terdengar andai jarak Key dengannya tak sedekat saat itu.

“Tapi aku tak ingin kau menanggung semua ini seorang diri,” ujar Key dengan kedua tangan mencengkram kedua bahu Yoora, “Biar kita tanggung ini bersama.”

“Aa… andwae,” tolak Yoora lagi sambil menggeleng. Tubuh Yoora sedikit bergetar sehingga Key menguatkan cengkraman di bahunya.

“Wae-yo?” tanya Key, “Apa karena aku bukan lelaki itu? Lupakan dia, Yoora-ssi. Dia bahkan pergi tanpa memikirkan dirimu.”

“Andwae!” potong Yoora setengah berteriak ketika Key kembali mengungkit kenyataan yang sejenak sempat tersingkir dari pikirannya—bahwa Minho telah meninggalkannya. “Jangan katakan apa pun lagi, Key-ssi. Jangan mengasihaniku. Aku…”

“Aku bukan mengasihanimu,” sela Key sebelum Yoora menyelesaikan ucapannya, “Aku… aku mencintaimu, Yoora-ssi.”

Tubuh Yoora menegang mendengar pengakuan Key. Tangan Key lagi-lagi terulur—kali ini kedua telapak tangannya ditangkupkan pada kedua pipi Yoora untuk mengangkat wajah gadis itu.

“Karena itu berikanlah aku kesempatan. Biarkan aku menemanimu, berada di sisimu, eoh?”

Semilir angin musim gugur bertiup menerbangkan dedaunan kering di dekat tubuh Yoora yang masih terduduk di tanah. Yoora mengepalkan tangannya, mencengkram ujung cardigannya. Bagaimana mungkin kata-kata yang paling ingin ia dengar dari lelaki yang ia cintai justru kini diucapkan oleh orang lain? Gadis itu kembali terisak pelan ketika membayangkan punggung dingin Minho yang berlalu meninggalkannya di rumah sakit.

Yoora menggeleng perlahan sebagai jawaban. Tidak. Ia bahkan tidak sedekat itu dengan Key. Sekali pun lelaki itu berkata mencintainya, tak pantas ia memanfaatkan hal itu demi keegoisannya. Jika ia memang harus menanggung semua ini, biarlah ia menjalaninya seorang diri tanpa menyeret orang lain ke dalam jurang yang sama.

Melihat penolakan Yoora, hati Key terasa perih. Ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya—sekalipun terdengar seperti keputusan gila yang diambil tanpa pemikiran panjang. Ia mencintai gadis itu—sangat mencintainya hingga ia tak peduli sekali pun Minho telah lebih dulu memeluk gadis itu dan menodai tubuhnya. Namun Key sadar ia tak dapat memaksakan kehendaknya. Yoora sedang berada dalam keadaan sulit dan ia tak ingin menambah beban atas Yoora. Wajar bukan jika gadis itu tak ingin melibatkannya? Selama ini ia hanyalah seorang Key—teman sekelas Yoora, tak lebih dari itu.

“Arraseo,” ucap Key sembari melepaskan kedua tangannya dari pipi Yoora lalu kemudian menghapus sisa air mata gadis itu, “Nampaknya aku justru malah mempersulit keadaan, mianhae.”

Hari itu untuk pertama kalinya Key merasa lega dan menyesal karena satu hal. Lega karena akhirnya ia telah memberitahukan perasaannya pada Yoora. Namun, menyesal karena justru gadis itu mengetahui perasaannya di saat yang tidak tepat—ketika semuanya telah terlambat.

Key membantu Yoora berdiri tegak, lalu ia menunduk untuk membersihkan tanah di lutut celana Yoora.

“Kajja,” ajak Key, “Kau masih ingin berjalan-jalan atau pulang? Biar aku mengantarmu.”

“Aku ingin pulang saja,” jawab Yoora pelan sambil mulai berjalan. Key langsung menyeimbangkan langkah dan berjalan di sisinya dan mengantar Yoora kembali ke rumahnya.

Key mematung terdiam beberapa saat setelah sosok Yoora menghilang di balik pintu masuk rumah. Ia terus menatap daun pintu coklat di depannya—bergeming dan tertutup rapat seperti hati Yoora saat itu. Mungkin gadis itu butuh waktu, begitulah yang dipikirkan Key saat itu sehingga akhirnya ia bertekad untuk terus menunggu hingga pintu itu kembali terbuka. Ia berjanji akan mendampingi Yoora, hingga gadis itu pada akhirnya mampu melepaskan bayangan Minho dan menerima perasaannya.

[Flashback End]

Mata Yoora beralih pada cincin perak di tangan Key yang masih terulur ke arahnya. Sekejap matanya menyipit ketika permukaan cincin itu memantulkan kilau cahaya matahari. Cincin yang sama—dan memang selalu sama sekali pun banyak waktu yang telah berlalu sejak kali pertama cincin itu diulurkan ke hadapannya.

Kali ini batin Yoora kembali bergumul. Jawaban apa lagi yang harus ia berikan pada Key? Apakah ia harus kembali berkata tidak seperti sebelum-sebelumnya? Atau mungkin saat ini adalah saatnya cincin itu menemukan pemiliknya?

“Aku takkan memaksamu,” ucap Key pada akhirnya ketika Yoora terus berdiam diri dan tak menunjukkan tanda-tanda hendak memberikannya jawaban, “Kau tahu kan aku takkan pernah memaksamu. Kalau pun kau menjawab tidak, aku akan tetap menunggu…”

“Ya.”

Key tak melanjutkan ucapannya ketika sebuah kata singkat meluncur keluar dari bibir Yoora. Matanya menatap Yoora tak percaya.

“Y… ya?” tanya Key terbata. Bohong jika ia kini tak berharap bahwa baru saja ia mendengar jawaban yang selama ini ia tunggu, namun Key memilih tidak langsung menyimpulkannya sendiri dan justru bertanya untuk memastikan arti kata ‘ya’ yang baru ia dengar.

“Aku…” Yoora menarik nafas sebelum melanjutkan kata-katanya, perlahan ia mengalihkan pandangan dari cincin di depannya dan memandang tepat di manik mata Key, “…bersedia.”

Seulas senyum tipis terlukis di wajah Key, perlahan menarik bibirnya semakin lebar bersamaan dengan pancaran mata yang tampak bahagia.

Jeongmal?” tanya Key lagi tak yakin, namun dengan segera keraguan itu lenyap ketika Yoora menganggukkan kepalanya.

Key meraih tangan kiri Yoora dengan lembut dan menyematkan cincin perak di jari manisnya. Ia lalu menarik tangan Yoora sehingga mempersempit jarak antara keduanya.

Gomawo,” bisik Key, “Kau membuatku menjadi pria paling bahagia hari ini.”

Pipi Yoora tersipu malu mendengar ucapan Key. Jantungnya semakin berdebar cepat ketika Key tiba-tiba memajukan wajahnya. Yoora refleks menutup matanya ketika merasakan bibir Key yang lembut dan hangat menempel di bibirnya.

***

Berkas sinar matahari menyusup melalui celah-celah gorden putih tipis yang sedikit melambai tertiup angin. Senandung kecil tergumam pelan dari bibir Yoora kala ia menyiapkan potongan-potongan buah di dapur. Potongan buah apel dan melon berjejeran dengan butir-butir buah anggur. Yoora baru menambahkan potongan strawberry berwarna merah di atas piring buah ketika ponselnya bergetar dalam saku celananya.

 “Yeoboseyo,” jawab Yoora seraya menghimpit ponsel di antara telinga dan bahunya—sedang tangannya masih sibuk memotong buah strawberry lebih banyak untuk dihidangkan.

“Yoora-ya,” panggil sebuah suara yang familiar dari seberang telepon, “Apa Yoogeun sudah pulang ke rumah?”

Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Key, Yoora menegakkan tubuhnya. Ia segera menghentikan aktivitas memotong buah dan meletakkan pisaunya di atas meja agar tangannya dapat memegang ponsel, “Wae-yo? Bukankah kau bilang akan menjemputnya hari ini?”

Key tak langsung menjawab pertanyaan Yoora. Ada jeda beberapa saat meliputi keduanya sehingga membuat Yoora merasa ada sesuatu yang janggal.

“Dengar, Yoora,” ujar Key pada akhirnya setelah menarik nafas panjang, “Kumohon kau tenang dan jangan cemas. Aku sudah menunggu bahkan sebelum bel pulang sekolah berbunyi, tapi aku tidak melihat Yoogeun keluar dari gedung sekolah.”

“Mwo?!” seru Yoora keras, “Yaa, maksudmu Yoogeun tak ada di sekolah? Apa kau sudah mengecek ke kelasnya? Atau bertanya pada wali kelasnya?”

Mendengar pertanyaan bertubi-tubi yang dilontarkan Yoora sontak membuat Key merasa bersalah. Yoora pasti saat ini sangat mencemaskan Yoogeun—hal yang ingin dihindarinya. Namun Key sudah berusaha mencari Yoogeun di sekolah sebelum akhirnya memutuskan untuk menelepon Yoora.

“Jangan cemas, Yoora-ya. Yoogeun pasti baik-baik saja. Aku akan mencarinya lagi,” papar Key mencoba menenangkan lawan bicaranya yang terdengar gusar.

“Bagaimana aku tidak cemas, eoh? Key, kumohon, kau harus mencarinya. Aku sangat mencemaskannya.”

Arraseo, aku akan coba mencarinya lagi di sekolah dan sekitar tempat ini,” jawab Key yakin.

Ne, gomawo, Key. Hubungi aku jika kau menemukannya. Aku juga akan mencarinya ke taman tempat biasa ia bermain. Atau mungkin saja ia pergi ke rumah teman sekelasnya,” ucap Yoora sebelum tanpa sadar menutup sambungan telepon tanpa menunggu Key membalas ucapannya.

Langkah kaki Yoora terhenti tepat ketika ia membuka pintu rumahnya. Seseorang berdiri tegak di hadapannya. Berbalut kemeja biru muda dengan kancing paling atas yang terbuka.

“Mau apa kau datang?” tanya Yoora ketus sembari menahan nafas untuk menenangkan emosi yang tiba-tiba saja bergejolak dalam batinnya.

“Kau tampak terburu-buru,” ujar Minho—tampak seolah tak mendengar pertanyaan ketus Yoora.

Yoora berniat menerobos keluar rumah ketika ia mulai menduga-duga kehadiran Minho di rumahnya dengan alasan Yoogeun menghilang dari sekolahnya. Perlahan diangkatnya kepalanya untuk menatap wajah Minho.

“Apakah kau yang membawanya?” tanya Yoora.

Eoh?” gumam Minho tak mengerti.

“Di mana Yoogeun?” tanya Yoora lagi tanpa basa-basi karena menduga Minho-lah yang telah ‘menculik’ Yoogeun dan ia tak ingin berlama-lama buah hatinya berada bersama Minho.

“Aku tak mengerti maksudmu,” jawab Minho masih dengan raut wajah penuh tanda tanya.

Yoora menatap Minho tajam—penuh selidik. Kini Yoora mulai sedikit ragu, meskipun sesaat ia sempat yakin hilangnya Yoogeun ada sangkut pautnya dengan Minho.

Melihat Yoora hanya diam, Minho menebak-nebak sendiri maksud perkataan Yoora. Jelas ia datang ke rumah Yoora memang untuk bertemu dengan Yoogeun—juga Yoora tentunya, sekali pun wanita itu pasti tak menyukai kedatangannya—namun mengapa Yoora justru bertanya tentang keberadaan Yoogeun padanya?

“Apa Yoogeun tidak ada di dalam?” tanya Minho ragu setelah mencoba mengambil kesimpulan sendiri mengenai keadaan yang terjadi.

“Bukan urusanmu,” jawab Yoora sembari melangkah keluar dan menutup pintu rumahnya.

“Jawab aku,” ujar Minho sambil mencegah Yoora berlalu pergi dengan menarik pergelangan tangan wanita itu, “Di mana Yoogeun? Dia tidak ada?”

Yoora berbalik menatap Minho ketika tangannya ditarik cukup kuat. Dipandangnya mata Minho tajam. Melihat sorot mata Minho dan pertanyaan yang dilontarkannya, sudah cukup membuat Yoora yakin dugaannya salah. Kini justru ia sedikit menyesal karena telah menduga-duga sebelumnya dan membuat Minho menyadari bahwa Yoogeun menghilang.

Melihat Yoora yang hanya memandangnya dalam diam membuat Minho semakin yakin Yoogeun benar-benar tidak ada di rumah. Ditambah lagi—jika diperhatikan baik-baik—ada sorot kecemasan terlukis dalam mimik Yoora.

Minho menghela nafas panjang. Sama seperti Yoora, ia pun merasa sangat cemas saat ini, namun ia tak ingin menunjukkannya secara langsung dan menambah kecemasan wanita di depannya.

Kajja, kita cari Yoogeun bersama,” ajak Minho seraya menarik tangan Yoora setengah memaksa untuk mengikutinya. Minho membuka pintu mobil dan mendorong tubuh Yoora masuk ke kursi penumpang.

“Aku bisa mencarinya sendiri,” ujar Yoora begitu Minho menyusulnya duduk di kursi pengemudi.

“Jangan keras kepala, Yoora-ya! Aku hanya ingin membantumu menemukan Yoogeun,” jawab Minho tegas sembari menyalakan mesin mobil, “Akan lebih mudah menemukannya jika lebih banyak orang mencarinya.”

Kata-kata yang diucapkan Minho memang benar. Akan lebih mudah baginya jika Minho membantunya mencari Yoogeun. Setidaknya, akan lebih cepat baginya menyusuri tempat-tempat yang mungkin Yoogeun datangi. Nampaknya Yoora harus mengesampingkan egonya kali ini. Yoora mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Hanya untuk kali ini saja, ia harus menahan dirinya—demi Yoogeun.

***

“Yoogeun-ah, tadi dia langsung berlari keluar kelas terburu-buru saat bel pulang berbunyi,” jelas Hyosun—wali kelas Yoogeun—kepada Key.

Ah, ne,” jawab Key singkat karena tak tahu lagi apa yang harus diucapkannya ketika tak ada satu pun orang yang tahu keberadaan Yoogeun.

Wae? Apakah ia belum kembali ke rumah?” tanya Hyosun lagi karena merasa ada yang tidak beres ketika Key datang dan bertanya soal Yoogeun.

“Sebenarnya,” jawab Key ragu, “Ia belum juga pulang hingga saat ini. Aku menunggunya di gerbang sejak tadi, namun tak melihatnya keluar dari sekolah.”

Ah,” seru Hyosun sedikit terkejut mendapati pelaporan bahwa salah satu murid kelasnya menghilang, “Jam pulang sudah berlalu hampir satu jam lalu, kurasa tak ada murid yang masih menunggu di sekolah, tapi akan aku bantu mencarinya.”

Ne, khamsahamnida. Saya sudah berkeliling di sekolah tadi dan tak juga menemukannya. Apakah anda tahu tempat yang mungkin ia datangi?” tanya Key harap-harap cemas.

Hyosun berpikir sejenak, lalu menggeleng pelan sebagai jawaban.

Key menghela nafas berat. Perlahan ia bangkit berdiri, “Kalau begitu saya akan kembali mencarinya. Khamsahamnida. Permisi.”

Setelah membungkukkan badannya, Key berputar dan mulai berjalan ke arah pintu keluar kantor guru, namun langkahnya tertahan ketika Hyosun kembali memanggilnya.

“Maaf, kalau tidak keberatan, bolehkah saya ikut mencarinya? Saya juga merasa cemas dan ikut bertanggung jawab atas hilangnya Yoogeun,” ujar Hyosun sembari berdiri dan melangkah ke arah Key.

Pandangan mata keduanya beradu sejenak. Key melihat raut kecemasan di wajah wanita muda yang merupakan wali kelas Yoogeun itu. Perlahan ia menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan, “Ne, tentu saja.”

***

Khamsahamnida, maaf sudah merepotkan,” ucap Yoora sopan sembari menundukkan kepalanya.

Dengan langkah gontai Yoora berjalan keluar dari halaman sebuah rumah—diikuti Minho selangkah di belakangnya. Pikiran Yoora bertambah kalut ketika tak kunjung menemukan Yoogeun walau ia telah mencari bocah itu ke beberapa tempat—taman bermain dan beberapa rumah teman sekelasnya.

“Ke mana lagi kita akan mencarinya?” tanya Minho seraya menjajarkan langkah dengan Yoora.

Molla,” jawab Yoora lirih dan berhenti melangkah kira-kira semeter dari mobil Minho, “Ada di mana dia? Aku benar-benar takut terjadi sesuatu padanya.”

Yoora mengigit bibirnya yang sedikit bergetar karena menahan tangis. Perasaan cemas yang memuncak hampir membuatnya tak bisa lagi menahan diri untuk bersikap tegar dan menghadapi hal ini dengan kepala dingin. Rasa khawatir kini mulai membuatnya berpikiran negatif—menduga-duga terjadi hal buruk pada Yoogeun. Yoora melipat kedua tangannya di depan dada dengan salah satu tangan dinaikkan menopang dagunya—dengan jemari menempel pada bibirnya. Ia mencoba kembali berpikir di mana lagi ia harus mencari Yoogeun—sekali pun pikirannya kini bak benang yang kusut.

Seulas senyum tipis tercipta di sudut bibir Minho kala memperhatikan sikap Yoora. Bukan berarti Minho tak mencemaskan Yoogeun saat itu, namun melihat kebiasaan yang selalu dilakukan Yoora kala wanita itu larut dalam pikirannya membuat Minho teringat pada masa-masa yang ia lalui bersama Yoora—seolah waktu lima tahun yang telah terlewati berputar mundur dan kembali ke titik awal.

Dering ponsel membuat lamunan Minho buyar. Ia merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Yoora menoleh ke arah Minho dan memperhatikan gerak-gerik pria itu dalam diam.

Yeoboseyo?” sapa Minho tepat ketika ia menempelkan ponsel di telinganya. Seseorang nampaknya bicara cukup panjang di telepon. Setelah beberapa detik berlalu, Yoora mengamati perubahan ekspresi Minho sebelum akhirnya pria itu mengakhiri pembicaraan, “Aku akan segera kembali. Jaga dia baik-baik. Khamsahamnida.”

Minho melangkah cepat ke arah pintu mobil—melalui Yoora dan membuka pintu penumpang.

“Ada apa?” tanya Yoora bingung ketika Minho tak menjelaskan apa pun padanya.

“Cepat masuk! Aku tahu di mana Yoogeun berada,” ujar Minho agak tergesa dan memaksa Yoora untuk cepat masuk ke dalam mobil dengan menarik tangan wanita itu.

 “Yoogeun ada di mana?” tanya Yoora begitu Minho menyusulnya masuk ke dalam mobil.

“Rumah sakit,” jawab Minho sembari mulai mengendarai mobil.

“Rumah sakit? Apa ia terluka?” tanya Yoora cemas.

Minho mengalihkan pandang dari jalanan dan menatap Yoora di sampingnya, “Anii, dia datang mencariku.”

***

Matahari sudah hampir terbenam. Langit di sebelah barat mulai menjingga—menandakan tak lama lagi gelap akan menyapa cakrawala. Key masih menyusuri trotoar jalan dekat sekolah Yoogeun—mencari bocah yang hilang sejak siang itu. Beberapa langkah di belakangnya, seorang wanita muda yang merupakan wali kelas Yoogeun mengekori. Sesekali keduanya menyerukan nama bocah lima tahun itu sembari berharap akan mendengar jawab.

“Nampaknya ia tak ada di tempat ini,” ujar Hyosun agak terbata karena hampir kehabisan nafas karena berlari mengikuti Key dari tadi, “Harusnya ia tak berada di tempat ini karena saya selalu melarang anak-anak berjalan sendirian dekat jalan raya.”

Key berhenti berjalan. Ia berdiri tegak dengan kedua tangan bertopang di pinggang. Matanya masih bergerak menyapu setiap sudut pandang yang dapat dilihatnya.

“Sepertinya anda benar,” jawab Key setuju ketika tak kunjung menemukan sosok yang dicarinya.

“Apa tidak sebaiknya anda telepon ke rumah? Mungkin ia sudah kembali?” usul Hyosun.

Key berbalik menatap wanita itu. Peluh membasahi dahi dan pipi Hyosun dan membuat beberapa helai rambut menempel pada wajahnya. Sudah lebih dari satu jam wanita itu menemaninya mencari Yoogeun—dan hasilnya nihil.

Ne, sebentar.” Key hendak menekan tombol panggilan pada ponselnya ketika sebuah panggilan masuk mendahuluinya. Yoora meneleponnya dan tanpa menunggu lama, Key segera mengangkatnya.

“…Key-ah, Yoogeun sudah ditemukan,” ujar Yoora di seberang telepon.

Jinjja? Ah, syukurlah. Di mana kau menemukannya?” tanya Key sembari menghela nafas lega dan melirik ke arah Hyosun. Nampaknya wanita itu mendengar ucapan Key dan langsung mengerti maksud pembicaraannya di telepon, terbukti ketika Hyosun juga ikut menghela nafas lega setelahnya.

“Dia… ke rumah sakit mencari Minho,” jawab Yoora ragu.

Rahang Key mengeras mendengar nama Minho disebut, “Jadi Minho yang membawa Yoogeun pergi?”

Eoh? Ah, bukan begitu. Akan kuceritakan padamu nanti, Key.”

“Kau…” Key sedikit ragu bertanya, namun rasa penasaran mendesaknya, “…bersamanya saat ini?”

Hmm, ne. Minho mengantarku dan Yoogeun pulang ke rumah.”

“Aku akan ke rumahmu sekarang,” ujar Key sebelum memutuskan sambungan telepon. Key meremas ponsel dalam genggamannya—melampiaskan emosinya yang tertahan ketika mengetahui Yoora saat ini bersama dengan Minho.

“Apakah Yoogeun sudah ditemukan?” tanya Hyosun yang sedari tadi memperhatikan Key.

Mendengar pertanyaan Hyosun, Key baru menyadari kembali keberadaan wanita itu. Ia segera berbalik dan memaksakan diri tersenyum tipis, “Ne, sudah ditemukan.”

“Syukurlah,” ujar Hyosun lega. Ia kembali menghela nafas dan tersenyum tenang.

“Kalau begitu, mari kita kembali ke sekolah. Aku harus mengambil mobilku yang diparkir di halaman sekolah,” ajak Key seraya mengulurkan tangan untuk mempersilahkan Hyosun berjalan di depannya.

Hyosun mengangguk kecil, kemudian berjalan pelan menyusuri trotoar ke arah gedung sekolah. Beberapa langkah dekat gerbang sekolah yang menjulang tinggi, Hyosun diam-diam mencuri pandang ke arah Key. Pria itu terlihat gusar—tidak tenang memikirkan sesuatu yang mengganggu benaknya. Hyosun menundukkan kepala dan tersenyum getir. Nampaknya pria di sampingnya kini telah larut dalam kehidupan barunya dan melupakannya.

“Baiklah, saya permisi,” ujar Key ketika keduanya telah tiba di depan gerbang sekolah.

Ne,” jawab Hyosun singkat sembari menundukkan kepalanya sopan.

Key berbalik dan melangkah ke arah mobilnya diparkir. Hyosun hendak turut berbalik dan kembali masuk ke dalam gedung sekolah untuk mengambil barang-barangnya yang tertinggal di ruang guru ketika ia tiba-tiba mengurungkan diri dan malah kembali menatap punggung Key.

“Key Oppa,” panggil Hyosun cukup keras dan sontak membuat langkah Key terhenti.

Perlahan Key kembali berbalik dan mendapati Hyosun berdiri menatapnya. Dahi Key berkerut karena bingung melihat tatapan Hyosun yang berbeda dari sebelumnya.

“Maaf, tadi kau memanggilku apa?” tanya Key ragu—mungkin saja pendengarannya telah salah tangkap.

Hyosun menarik nafas panjang. Entah energi apa yang tiba-tiba saja membuatnya berani memanggil Key barusan. Tapi ia sudah terlanjur melakukannya dan pria itu mendengarnya—yang artinya ia tak bisa mundur lagi.

“Key Oppa, apa kau sudah benar-benar melupakanku?”

***

Minho terpaksa menggendong Yoogeun hingga ke kamar tidurnya karena bocah itu tertidur di mobil dalam perjalan pulang. Dengan hati-hati, ia menarik selimut menutupi tubuh mungil bocah laki-laki itu. Minho tersenyum memandang wajah damai Yoogeun yang terlelap. Ia memajukan tubuhnya dan mengecup pelan dahi bocah itu.

“Kurasa sudah saatnya kau pulang,” kata Yoora yang berdiri di dekat pintu kamar dan memperhatikan Minho dari tadi. Meskipun Yoora berterima kasih karena Minho telah membantunya menemukan Yoogeun, namun ia tetap tidak ingin Minho berada dekat bocah itu. Terlebih kini ia tahu bahwa Yoogeun yang tanpa sengaja mendengar perdebatannya dengan Minho beberapa waktu lampau, telah mengetahui bahwa Minho adalah ayah kandungnya. Hal inilah yang membuat bocah itu kabur diam-diam sepulang sekolah tadi siang dan seorang diri pergi ke rumah sakit untuk mencari Minho.

Dengan perlahan-lahan—agar Yoogeun tidak terbangun—Minho bangkit dari sisi tempat tidur bocah itu. Ia berjalan keluar kamar, diikuti Yoora yang langsung menutup pintu kamar begitu keduanya telah berada di luar.

Gomawo,” ucap Yoora tulus sekalipun egonya hampir mengurungkan niatnya untuk mengatakan hal itu, “Karena telah membantu menemukan Yoogeun,” sambungnya ketika Minho menatapnya bingung.

“Sudah seharusnya,” jawab Minho seraya tersenyum, “Biar bagaimana pun juga, Yoogeun-ie juga adalah anakku.”

Yoora mengambil nafas tegang ketika Minho menyebutkan statusnya kembali. Ia kemudian berdeham pelan, “Euhm, sudah malam. Pulanglah.”

Wae?” tanya Minho, “Apa kau benar-benar membenciku hingga tak ingin aku berlama-lama di rumahmu?”

Yoora mengalihkan pandang dari Minho dan hanya diam—tak berniat memberikan jawaban.

“Bagaimana caranya agar kau tak membenciku? Katakan apa yang harus kulakukan, Yoora-ya?”

“Cukup,” potong Yoora langsung sebelum Minho berkata lebih jauh, “Pulanglah, jaebal.”

“Bagaimana kalau aku tak mau?”

Minho maju selangkah mendekat ke arah Yoora yang masih berdiri di depan pintu kamar Yoogeun—mempersempit jarak antara mereka berdua. Yoora mengangkat kepalanya dan menatap kaget ke arah Minho ketika menyadari pria itu telah berdiri di hadapannya.

“Yoora-ya, kumohon jangan membenciku,” ucap Minho setengah berbisik, “Aku masih mencintaimu.”

Jantung Yoora seolah ingin melompat keluar ketika jemari Minho mengangkat dagunya dan pria itu mendaratkan kecupan singkat di bibirnya. Yoora mundur selangkah sehingga punggungnya kini menempel pada daun pintu kamar Yoogeun.

Nafasnya terasa sesak. Yoora memandang Minho dengan mata yang terasa panas. Jantungnya berpacu cepat, berbeda dengan tubuhnya terasa kaku. Ia hanya bergeming menatap Minho yang kini memandangnya

‘Andwae!’ jerit Yoora dalam batinnya, namun kata-katanya tertahan seolah dirinya terhipnotis kembali oleh sorot mata Minho—sorot mata yang pernah ia kenal lima tahun lalu, yang mampu membuatnya kehilangan akal sehat karena dimabuk cinta.

Tubuh Yoora menegang ketika Minho kembali mendesaknya. Kedua lengan Minho diulurkan hingga menempel pada daun pintu—mengunci Yoora di antaranya.

Minho tersenyum. “Saranghae, Yoora-ya. Katakan padaku apakah perasaan itu juga masih ada di hatimu?” tanya Minho angkuh sebelum akhirnya kembali mendaratkan bibirnya di bibir Yoora.

Yoora meninju bahu Minho—mencoba melepaskan diri dari pria itu. Namun ketika perlahan Minho mulai melumat bibirnya, Yoora merasa seluruh tenaganya hilang. Kedua tangannya hanya terkulai lemas di sisi tubuhnya. Candu yang pernah ia rasakan—yang pernah menjeratnya ke dalam jurang keterpurukan—mengapa kini harus kembali membuatnya tak berdaya?

***

“Park Hyosun?”

Key menatap tak percaya pada wanita di hadapannya. Ia benar-benar tak mengenali wanita itu karena memang banyak hal yang telah berubah dalam diri Hyosun. Hanya caranya memanggil Key yang tak berubah. Suaranya saat menyebut ‘Key Oppa’ tetap sama dengan beberapa tahun silam.

Hyosun membulatkan mata terkejut ketika Key menebutkan namanya. Ia tersenyum—entah merasa lega karena Key masih mengingatnya atau merasa miris karena justru tak diingat terdengar lebih baik.

Keduanya terdiam seperti kehilangan perbendaharaan kata dalam kepala masing-masing. Mata mereka saling beradu pandang—saling meyakinkan diri untuk alasan yang berbeda.

“Kau… banyak berubah.” Hanya itulah akhirnya kata-kata yang berhasil terucap keluar dari mulut Key.

Oppa juga,” jawab Hyosun, “Dan nampaknya Yoora Sunbae yang telah membuat Oppa berubah.”

Key teringat suatu hal ketika nama Yoora disebut. Minho! Pria itu sekarang ada bersama dengan Yoora dan Yoogeun. Ia harus bergegas—terlebih karena ia merasa tidak enak begitu mengetahui Minho berada bersama mereka.

“Hyosun-ah, lain kali kita bicara lagi, eoh? Aku harus pergi sekarang,” ucap Key terburu-buru.

Melihat Key ingin bergegas pergi membuat Hyosun kembali tersenyum pahit. Ia masih ingat pembicaraan Key di telepon yang sempat ia dengar tadi. Pasti karena saat ini wanita yang dicintainya sedang berada bersama pria lain—Minho. Hyosun tak sepenuhnya menjadi orang luar. Meski hanya seorang hoobae yang tak pernah berinteraksi langsung, ia tahu dengan jelas hubungan antara kedua sunbae-nya itu—Minho dan Yoora—serta cerita yang terjadi antara mereka.

“Apa Yoora Sunbae sudah tahu?” tanya Hyosun tepat sebelum Key berbalik.

Nde?”

Hyosun melemparkan senyum tipis ke arah Key ketika pria itu kembali menatapnya, “Apa Yoora Sunbae sudah tahu apa yang terjadi lima tahun lalu?”

Key mengatupkan rahangnya mendengar pertanyaan Hyosun. Tanpa sadar tangannya terkepal ketika mengingat kembali kenyataan yang selama ini ia tutupi dari Yoora—yang mungkin hampir terlupakan. Key mengalihkan pandangannya untuk menghindari tatapan Hyosun yang membuatnya merasa gundah.

Molla-yo? Jadi Oppa terus menyembunyikannya selama ini?”

-TBC-

Author’s Note:

Done……. aaaaa.. Maaf ya lama banget ya nungguinnya? Iya deh maaf, authornya ini emang pemales plus sok sibuk. Semoga Lumie punya waktu untuk ngetik lanjutannya lagi ya. Sebagai bocoran, ini udah Lumie bayangin sampai tamat kok. Udah susun plot juga sampai tamat di part 5. Tapi ya itu, masih dalam kepala dan nyisain waktu untuk ngetik aja susah banget. Mungkin abis tamatin ini, Lumie cuti/berhenti jadi author aja.😦

Oh, iya, maaf ya kalau banyak typo bertebaran. Lumie baru aja selesai ngetik part ini (sekarang jam 02.13 dini hari). Gak sempet ngecek ulang. Maaf sekali lagi, semoga gak terlalu banyak dan parah typo-nya dan masih layak dibaca. Big Thanks for reading🙂

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

78 thoughts on “The Blue in You – Part 3

  1. mwo? ada rahasia apa antara hyosun dan Key yg Yoora gak boleh tau????
    lagi2 Lumie ngajak main tebak2an.

    part ini masih ngambang Lumie-ya,
    aku pikir Yoora udh cinta sm Key, eh, stlh Ming muncul, jd berubah lg pendapatku.

    ditunggu part selanjutnya, ne^^
    hwaiting wat skripsinya!!!

  2. aku nugguin ff ini, dan akhirnya dilanjutin deh!
    Aaah~ kagen sama Minho-nya#lho?
    Pokoknya aku suka banget sama ff ini
    Tetep lanjut yaaa
    Jangan males dong chingu, kalo males nanti diculik Minho(?)*comment yang gaje*

    1. wah, makasih udah nungguin.. maaf ya ff nya kelamaan dilanjutin.. iya nih, penyakit males emang gak ada obatnya..😦 kalau males diculik minho, aku rela jadi orang paling males sedunia.. :p

  3. hwaaaaa di ending pasti ada teka-teki
    hmmmm penasaran sama rahasia yang disimpen key dimana yoora gk boleh tau
    buat lumie unnie sukses ya skripsinya dan tugas lainnya

    1. iya dong.. aku kan suka maen teka-teki.. pengennya sih tts tp gak mungkin ya masukin tts di ff.. #eh? krik krik krik… *jangkrik lewat* udah ah garing.. wah makasih yaaaaa.. yeap.. sukses skripsinya biar cepet lulus bisa nikah sama minho.. #disambitemas

  4. Apa iniii?
    Ada apa 5taon lalu sm key?
    Jgn lma” ngepost nya, hhi…
    Pnasaran sm ceritanya..
    Tp yoora sm key aja deehh..

  5. UWAAAA~
    Jeongmal daebak!!😀
    Punch Drunk Love~ he,

    Eonni? 3 bulan lamanya, dan aku masih setia nungguin kelanjutan FF ini,
    ceritanya makin seruuu, makin penasaran, itu apa yg Key sembunyiin selama 5 tahun? Waa…sangat! penasaran…

    Wishhh…hebat! gk banyak kok eon, typonya cuma satu, he😀 tapi gk masalah kok!

    Ah? berhenti? yaa eon….tapi tapi sementara kan? *wink*
    mmm..gk apa deh, yang penting eon bahagia, Ne? Hihi😀

    Ditunggu next partnya, yaaa? ^^

    1. 😯 woaahh, terharu ada yang masih nungguin 3 bulan.. iyaaaa, maap yaaaa… beneran cuma satu? aku gak ngecekin lagi soalnya.. EYD, susunan kalimat, tanda baca.. bener2 ngaret ini FF baru dibikin semalem sampe begadang..😦
      yeap, bakal berhenti soalnya kesibukan bener2 nyita waktu.. mungkin kalo ada waktu luang dan ada niat lagi, baru bikin FF lagi.. sipphh, next partnya ditunggu ya.. semoga gak lama yaa..😉

  6. aah, akhirnya Lumie nongol jg, telat bacanya nih..

    Sepertinya Yoora masih terpikat sama kharisma Minho😉
    Bakalan bingung nih perasaan Yoora antara Key-Minho..
    Rahasia apa yg disimpen Key dari Yoora?

    Ok Lumie, ditunggu part selanjutnya.. Untuk skripsinya, semoga lancar ya..🙂

    1. iya akhirnya aku nongol.. mwahahahaa..😉
      rahasia apa yaaaa? klo dikasih tau ntar gak rahasia lagi.. hehehe.. makasih, semoga skripsiku lancar ya biar bisa cepet lanjutin part berikutnya..🙂

  7. Endingnya bikin penasaran!kyaaa tapi jebal jangan buat yoora brsama minho lagi..kasian key😦
    Ishh…kenapa ya aku jd rada rada kesal ama minho? Udh jelas di benci tp muncul lagi…huaaa andwee!

    Cepat di lanjuting ya eonni..aku udh nunggu lamaaaa bgt ff ini! FF yg paling kutunggu tunggu kelanjutannya setiap mmpir di blog ini…jeballl jangan lama >_<

    1. ahhh.. kenapa gak sama minho?? kenapa lebih banyak pendukung key????? ah, pasti pada maunya minho sama authornya ya?? mwahahaha.. #disiremduit
      iya, maaf ya dear kalau aku selalu lama lanjutinnya.. semoga aku punya niat untuk cepet bikin lanjutannya..😉

  8. what what udah sampe part 3?
    part 2 aja aku belum baca :O tapi udah baca part 3 *digetok*
    Miiieeeeeeeeeee…. itu apa deh main rahasia-rahasiaan segala *getok lumie*
    Ayo semangat nulisnyaaaa, nulis skripsi juga semangat kkkk

    1. -_- kenapa selalu mie mie mie molo sih? #tendangkekutub
      jiah, part 2 dari bulan januari juga udah ada kali, justru part 3nya yg ngaret lama banget..
      yeap, makasih ya alpi..😉

  9. aku smpt lupa critanya,tp dr judulnya aku inget ff nya bgus,kekekeke

    hayoh loh ada rahasia apa 5 taun lalu???!

    bgung deh,,bgusnya yoora sama siapa y,.??😉

  10. aish… jangan sampe yoora sama minho.. yoora sam key aja. kasian kan key..
    rahasia apa yang disembunyiin key sama yoora? bikin penasaran aja nih.
    agak nyesek pas yoora ga ada penolakan pas minho nyium yoora.. kasian key thorrrr…
    ditunggu kelanjutannya.. good luck buat skripsinya thor.. hwaiting…!!!

  11. aduh aku hampir lupa klo baca ini -.-v mian..

    Juga mungkin beberapa Key kecil… mini key.. hahaha

    Key hanya tak dapat menahan gejolak dalam dirinya yang begitu mengingini wanita di hadapannya.
    emmm gimana kalau “mengingini” diganti “menginginkan” ?🙂

    udh punya anak kok msh gak ngerti perasaan cinta gimana.. yoora yoora.. hahaha

    “Kau tahu kan aku takkan pernah memaksamu. Kalau pun kau menjawab tidak, aku akan tetap menunggu…” pas bc ini…. nyeseeeeeeeeek pake bangeeeet T.T

    eeeeeh dikira key bakal datang mukul mino.. ternyata msh belum pulang
    trus trus apa itu yg disembunyikan key dr yoora????
    duuh penasaran . . . hahaha

    oh.. smpe 5 part ya? aku mikirnya mlh puluhan.. hehehe
    kalo begitu… ditunggu next partnya

    oh ya.. semangat buat skripsinya yaaaa

    1. mwahahaha.. aneh kah pake “mengingini”? abis bosen kalo pke “menginginkan”.. lagian klo buat aku pribadi kok pakai “mengingini” lebih dalem gtu artinya #apadeh😆
      iya, sampe part 5 aja.. klo lebih panjang lagi gak sanggup.. 5 part aja susah ngelarinnya..😆
      makasih udah baca dan makasih semangatnya..😉

  12. ommmo…
    nyari-nyari ff, eh ga tau nya dapet nih ff,
    walaupun baru baca skrg, tpi aku langsung dpet feel ni ff,,
    tpi kok aku liat selisih waktu post chapter 1-2-3, kok sampe 1-2 bulan ya??
    aku harap utk chapter 4 gak ngaret post nya..🙂
    soalnya ga sabar pingin baca lanjutannya
    aku sukaaaaaaaaaaaaaaa………………………………

    1. #ngumpetdiketekjjong #eh?
      hahahahaha… ketauan ya jedanya lama.. iya nih.. aku author abal2 yang males ngetik ff.. tiap kali masalahnya selalu sama: males ngetik, baru bentar berasa pegel trus brenti.. -_-
      makasih udah suka.. tunggu lanjutannya ya, semoga gak lama😉

  13. Wah, makin seru nih!! Key ama Hyosun punya rahasia.

    Oh iya… Masalah Yoogeun tadi aku kira Mino yg culik. Tapi ternyata ngga. Oke… Salah. Keke

    ditunggu next part ya eon :3

    1. iya, payah ya key maen rahasia2an sama cewek lain.. masa aku gak dikasih tau.. #eh?
      hahahaha.. jangan gtu dong, minho kan appa yang baik.. dia gak mungkin nyulik yoogeun, yang ada dia nyulik aku #ngarep
      yeap, ditunggu ya nextnya..😉

  14. Akhirnya di post juga part ke 3nya *doakuterkabul
    Baru kmrn mlm aku liat2 ulang FF ini yg part 1 & 2, berharap bgt di post part 3 nya. Dan akhirnya muncul *thanksauthor

    Key-hyosun nyembunyiin apa lagi? Apa mrka sengaja sekongkol sama jjong buat ngejebak minho-yoora pas party wktu itu?? *tebakanabal *abaikan
    Yaaa.. Pokoknya aku berharap yoora balik lg sama minho, hehe^^ *sedikitmemaksa

    Keep writing and fighting for author. Ditunggu bgt kelanjutan partnya, thanks^^

  15. Eonni ff-nya makin seru ajaaa!!! udah lama nunggu chapter 2nya akhirnya keluar juga dan sekarang bikin penasaran aja nih ceritanya… next chapternya ditunggu ya eonni secepatnya kalo bisa keke >< Eonni hwaiting!!!!

  16. wa ini!! Endingnya bikin penasaran. Mendadak jadi kepo sama key&hyosun. Duh yoora bisa-bisanya dicium key+minho, aku jg mau *plak* *dihajarmassa* ngehehe^^v
    ditunggu next chapternya ya author Lumie yg kece B)
    Sukses juga buat skripsinya. Fighting^^)9

  17. Aduh thor bagus banget ~>_<~
    Cepet cepet di lanjutin ya gak sabar nih

    Apa sih yang sebenarnya dirahasiain Key

    Sebenarnya aku maunya Key itu happy ending sama Yoora tapi setelah aku pikir pikir kayaknya lebih baik kalo Key sama Hyosun aja deh

    Yoora terlalu banyak masalah dan membuat Key banyak sakit hati, jadi kasihan Key nya

    Kalo Hyosun kan kayaknya baik, kalem, gak banyak masalah dan orangnya peduli rasanya

    Itu aja sih saran aku

    Thanks for post this ff *^v^*

    Cepet ya thor gak sabar nih !!!!!!!!!!!

    FIGHTING !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    to make next chapter ^^

    Lumina DAEBAK

    1. wah.. hahahaha.. thanks dear for ur lovely comment..🙂
      sippphh, nanti dilihat lanjutannya aja ya.. aku juga pengennya key bahagia juga..😉

  18. jyaaah! seru! tapi gimana gtu sama Minho. feelingnya Yoora sama Minho deh. saya tunggu part selanjutnya… tapi serius mau berenti jadi author? semoga enggak# berdoa.

  19. Aaaaa seneng banget sama FF ini, makin lama makin complicated nih xD Aku suka banget! Kreatif unn! Terus juga tata bahasanya rapi, tapi ringan dan mudah dimengerti🙂 Aku suka banget. Tapi plis unn bikin si Yoora ujung2nya sama Key :” #plak

  20. Aku luuuppppaaaaaa……ceritanya
    Smp 4 paragraf masih tetap amnesia…XD
    Akhirnya nyerah balik ke atas…baca ulang part1 n 2 nya…untung ada link nya…jd lbh mudah…*gimana klo sequel yg laen d bikin ky gini jg…hehe #cumasaran

    Pdhal jelas2 ingat judul n authornya….termasuk epep yg ditunggu lanjutannya…. *amnesianya bs milih LOL ~sinetron banget nih reader nya #plakkk

    Apa tuh rahasia nya key??bikin penasaran aja deh…
    Ya sudah biar yoora ma mino aja…ga tega jg ma mino…ky nya dia ninggalin yoora krn ada sesuatu…abisnya dia udh beli cin2 5 taon lalu..tp blum di kasih2 k yoora…pasti ada sasuatu kan? Iya kan…kan??yakin deh pasti ada apa2… #maksa
    apa itu bhub.ma key ???

    Key…wuaaahhh… *o* aku padamu key

    Klo ga dpt yoora masih ada nicole/jia…eh hyosung..key fighting #apadehh

    Lumieeee….lanjutin yaaaaa *pke toa
    Fighting^^

  21. aaaaaa ini akhirnya datang juga yang aku tunggu2
    dilema banged itu pasti yoora
    minho gawat dah kalo udah mancing napsu yoora
    gak mungkin bis nolak hehe
    banyak rahasia masih didalem cerita ini
    makasi ya eoni udah mau ngelanjutin ^^
    aku tunggu part

    1. hehehehe… makasih ya udah nungguin biarpun lama banget aku lanjutinnya.. iya.. yoora itu kayak authornya, gak bisa nolak pesona minho😳
      ditunggu ya😉

  22. yah… yoora labil!!! plng kesel baca ff kl ceweknya labil! gk ngerasa ya kl ada key yg nunggui dia? tuhkan jd kesel ama minho. sini deh minhonya buat aq aja, pokoknya key kudu,harus,wajib ama yoora! #esmoni

    key punya rahasia apa ama yoora? waduh.. nambah konflik gk ya? jgn2 hyosun jahat nih, wah.. cepet lanjut deh thor

    1. hahahaha.. semua yang di posisi yoora pasti labil kok.. aku aja pasti bingung klo suru milih key ato minho.. pengennya sih 2 2nya😆
      waaaahh… lanjutannya semoga bisa secepetnya ya..😉
      thanks udah baca🙂

  23. wahhh, fanfic ini dah lama bngt q tunggu2…
    daebakk.. ap nie yg jd rahasia Key oppa??
    semoga part selanjutnya jangan selama ini y Onnie.. hhhe..3x

    habis, buat penasaran.
    ok. fighting!!🙂

  24. jinchaaa! key oppa emng baik bangeeeet… jadi iri sm yoora, etapi kyknya yoora nerima lamaran key krn hutang budi deh, awalnya kupikir dia udah suka sm key ehhh pas bang minong dtng ganti deh pemikiranku-_- yoora emng blm bisa lupain minho, bahkan udah cinta mati kayaknya😮

    nah loh main rahasia2an! apalagi itu? yoora emng gak boleh tau kah?
    eiya, ffnya bakal berakhir di part 5 eon? lumayan cepet yah, kupikir ini bakal lusinan part gituuu ^^v
    komenku segini aja lah, next part juseyoooo🙂

    1. hahahaha..iya, kayaknya begitu.. tp klo dipikir juga, ngeliat perjuangan key kayak gtu, cewek mana yg gak luluh juga akhirnya? :p
      yeap, sampai 5 aja.. semoga cukup ya bisa tamat di part segitu.. hehehehe..🙂

  25. aaahhh jinja! Author bikin penasaran, aje gile..
    konflik opo meneh iki? Kenapa Minong balik lagi si? Yoora gak kasihan apa sama Key oppa? Hiks aku ikut sedih,sabar ya Key oppa*plaak/Sok akrab panggil oppa*

    Ditunggu part 4 nya jangan lama-lama.. Kalau bisa part end nya sekalian di publish ya?? Haaa* Biar ga penasaran

    hwaiting

  26. apa yg dit utupi key ?
    *kepo akut*
    Kaya.a ada something yg bner” penting. . .
    .
    Oh, hyosun itu ade kls.a key, dan dia suka dr sma.
    Tp sama” btepuk sblah tngan

    1. iya, hyosun adik kelas key.. soal suka dan bertepuk sebelah tangan, nanti dijelasin lebih rinci di part selanjutnya ya.. thanks for read..🙂

  27. Hyosun Key have a secret?? Apa tuh thor?? hua FF’a daebakk.. soalnya pake namkorku.. #eh.. Cepet dilanjut ya thor..

  28. Penasaran bgt tor sama cerita selanjutnya
    Semoga cept punya banyak waktu buat ngetik ya tor
    Ga sabar ni nunggu nya
    Hehehe
    But,over all oke bgt de bim
    2thumbsup
    Krn belom kelar semuanya :p

      1. Wah,harus bener2 sabar dong nih nungguinnya thor
        Tapi gapapa deh
        Aku juga harus fokus UN ni thor
        Mihihihi
        *fighting (งˆ▽ˆ)ง

    1. mwahahaha… aku ngakak baca panggilanku.. author males ya😆
      lanjutannya udah dibikin kok, dear.. ditunggu aja ya sampai di post di sini😉

  29. waduuh… galau akut!!!!

    Key nyembunyiin kalo Minho balik lagi untuk melamar Yoora.
    Pasti pas Minho mau nemuin Yoora 5th lalu, dia ktemu sm Key
    yang jg ngusir dia untuk menjauhi Yoora….
    Begitukah????
    #sok tau!!!

    Kalo emg bener begitu, Yoora balik ke Minho aja, deh…
    Key sm Hyosun….
    #dasar labil…

    Part ini seru! Ada beberapa hal yg tak terduga

    Good job, Lumie…

    ditunggu kelanjutannya….

    1. mwahahaha.. jangan galau kak.. lanjutannya udah ada kak di blog aku kalau mau baca.. atau kalau mau nungguin di sini juga boleh, tp jatahku untuk ngepost ff masih bulan depan😆
      makasih ya kak udah baca, ngebut pula bacanya😆

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s