Sekedar Pengakuan

Just Confenssion II : Sekedar Pengakuan

Author : Megi

Main Cast : Choi Minji, Lee Taemin

Other Cast : Choi Minho

Genre : Romance

Rating : PG – 17

Selamat Membaca^^

 

Apa yang bisa kau lakukan untuk tidak terus berharap pada cowok yang bersikap baik pada semua orang, terutama perempuan? Menjauh darinya? Melakukan sesuatu agar pikiranmu tidak terus mengira bahwa dia menganggapmu lebih? Itu sering dilakukan tapi tidak semua orang bisa berhasil dengan cara itu.

Lalu bagaimana caranya? Jangan tanya aku, aku juga tidak tahu.

“WOI!! Bangun! Kau mau kita terlambat gadis kecil?” seseorang membangunkanku secara brutal. Hei aku tau dia atlet tapi bisakah dia bertindak lebih lembut pada perempuan sepertiku?

“Aku tidak mau sekolah, oppa berangkat sendiri saja. Bilang pada samcheon aku demam,” aku berujar malas pada sepupuku itu dari dalam selimut yang membungkus badanku hingga kepala.

Tidak ada respon, tapi sekarang aku merasa ada seseorang yang duduk di sampingku. Yeah, aku mencium bau interogasi kepagian oleh oppaku yang lebih mirip eomma-ku ini.

“Aku mau bicara, duduk yang baik,” suruhnya kalem. Aku menurut. Membuka selimut, duduk dengan muka menantang malas.

“Kau…” dia menilikku, dahinya berlipat,”Taemin?” Bingo! Bagus oppa, pipiku memerah sekarang, rasanya ingin merendam mukaku saja ke dalam air es.

“Memangnya ada apa dengan Taemin?” tanyaku pura – pura bodoh, alih – alih mengelak.

“Kau mau bolos karena dia?” tanya Oppa lagi, semakin memperhatikan gelagat mukaku yang terus mengalihkan pandangan.

“Aku bilang, aku demam. Apa oppa sudah tidak mengerti bahasa manusia?” jawabku tak tahu diri. Sudah bagus dia mau memperhatikanku, aku malah nyolot tidak tahu sopan santun.

“Choi Minji, berhentilah menjadi pengecut,” dia tidak merubah ekspresinya, datar dan terkesan memerintah.

“Memangnya apa yang aku lakukan, Oppa?!” tanyaku setengah membentak, kesal padanya karena penghinaannya -yang memang kenyataannya begitu.

“Sekalipun kau perempuan, tidak ada salahnya kau mengungkapkan perasaanmu,” dari tadi dia terus menyuruhku tanpa ada keterangan mengenai isi pikiranku. Dia seakan – akan sudah melakukan mind reading terhadapku sebelumnya.

“Tapi kau tahu oppa, adik kelasmu yang baik itu, punya puluhan perempuan yang sudah melakukan hal itu. Dan kau tahu akhirnya? Mereka kecewa, mereka patah hati, dan aku benci merasa seperti itu,” akhirnya aku mengungkapkan rasa takutku.

“Jadi kau mau dia menjadi pacarmu? Bukankah kusuruh kau hanya mengungkapkannya saja? Bukan memintanya menjadi pacar? Perasaan suka tidak selalu berakhir dengan kata pacaran, Nona Choi,” dia membuatku kesal, lagi. Kata – katanya barusan membuatku terlihat terlalu banyak berharap dan bermimpi.

“Aku hanya terlalu takut bahwa hubunganku dengannya akan berubah menjadi aneh setelah ini,” jawabku menyerah terhadap persilatan lidah ini. Entah dari mana oppaku ini mendapatkan kemampuan berdebat.

“Bukan kau jika bisa membuat suasana menjadi aneh,” oppaku beranjak dari tempatnya lalu membuka pintu kamar mandiku.

“Sekarang mandi, atau kuguyur kau dengan air bekas cucian mobilku,” lagi, aku kesal sekali denganmu oppa!

***

Jika saja perasaan suka bisa diatur kadarnya, maka aku akan menguranginya sampai batas kagum saja. Tapi sayang, aku tidak bisa mengurangi rasa suka ini seperti apa yang aku inginkan karena pengaturan itu hanya milik Tuhan.

Aku duduk seperti biasa di kantin sekolah, hal rutin yang aku lakukan setiap pagi, sarapan. Tapi kali ini, aku menunggu seseorang. Ajhumma penjaga kantin melirikku yang dari tadi tidak memesan apapun seperti biasanya.

“Kau tidak masuk, Nak?” tanya Ajhumma itu padaku, melihat jam yang bertengger di dinding kantin yang sudah menunjukkan waktu untuk stay di kelas.

“Aku sedang menunggu seseorang ajhumma, lagipula Han seongsaenim sedang ada seminar di luar kota hari ini,” jawabku kalem. Ajhumma menatapku, ini bukan dia, mungkin itu pikirnya. Tentu dia berpikir seperti itu, aku ini orang yang ceria jika sudah berhadapan dengan yang namanya makanan, jadi kalau aku ditemukan dalam keadaan tanpa makanan dan duduk di kantin, bisa kau panggil tabib pengusir hantu untukku.

“Kau mau minum sesuatu?” tanya beliau lagi. Aku menggeleng.

“Baiklah, kalau mau sesuatu, panggil aku saja,” aku mengangguk sambil tersenyum berterimakasih lalu beliau pergi ke singgasananya kembali.

Aku melirik jam tanganku. Biasanya setiap Selasa, Han seongsaenim selalu mengadakan latihan dan tugas Taemin sebagai ketua kelaslah untuk mengambilnya kalau beliau tidak datang.

“Woi Minji! Kenapa kau masih di sini?” dia akhirnya lewat juga. Biasanya dia juga ke sini untuk membeli cemilan untuk dibagikan ke teman – teman di kelas yang sedang mengerjakan latihan. Dia punya prinsip, aku tidak perlu mendiamkan mereka jika mereka mulai ribut, karena makanan ini akan membuat mereka tidak mau bicara untuk beberapa saat, aku pikir awalnya trik ini cukup tidak manusiawi, menyumpal teman dengan makanan? Tapi setelah kulihat sendiri aplikasinya, latihan selesai tepat waktu dan kelas kami tidak kena semprot karena ribut seperti kasus yang terjadi di kelas – kelas lainnya.

“Aku mau bicara denganmu,” jawabku datar. Dahinya berkedut lalu dia mendekat dan menempelkan telapak tangannya di jidatku.

“Aku baik – baik saja, kau tinggal duduk dan dengarkan aku bicara sampai selesai,” Kedutan di dahinya bertambah, belum pernah melihat aku seserius ini sebelumnya.

“Ini soal… perasaan sukaku padamu,” mulaiku menatapnya lurus. Mukanya yang tidak serius kini berubah menjadi ingin tertawa…eh tersenyum.

“Sikap baikmu, perhatianmu, nasehatmu, juga laranganmu, yang kudapatkan sejak kita kecil berhasil menumbuhkan rasa suka di dalam hatiku. Aku tahu ini terdengar picisan dan klasik, tapi ini terjadi padaku, rasa suka itu timbul karena aku terbiasa karena kau dan sikapmu. Dan semenjak kau ditunjuk menjadi ketua di berbagai tempat organisasi maupun di kelas, aku sadar sikapmu yang baik itu ternyata juga kau berikan pada yang lainnya, bukan hanya untukku,” putusku sesaat, dia menatapku tidak menyela.

“Dan sekarang, aku sungguh tidak bisa lagi menyimpannya sendiri. Rasa sesak yang timbul akibat cemburu, detak jantung saat kau tersenyum manja padaku, sentuhan seperti sentruman yang kadang mengaduk perutku, dan segala hal kecil yang kau lakukan padaku, itu berhasil meningkatkan rasa sukaku bukan sekedar rasa kagum karena kau adalah pemimpin yang baik, tapi juga rasa sukaku karena kau adalah namja yang baik,”

“Tapi aku mengungkapkan ini bukan untuk mengajakmu pacaran seperti lazimnya gadis – gadis yang menyatakan perasaannya padamu. Aku hanya ingin melepaskan rasa sesakku, bisa saja aku membaginya dengan menceritakannya pada temanku atau Minho oppa, tapi kau tahu aku adalah tipe orang yang tidak bisa meninggalkan masalah tanpa menyelesaikan, apalagi membiarkannya terkatung tanpa kejelasan, dan bagiku mengungkapkannya padamu adalah penyelesaiannya,” jelasku. Dia menatapku, menunggu masih adakah kalimat yang bakal meluuncur lagi dari mulutku.

“Jadi cuma itu yang ingin kau sampaikan Nona Choi?” dia bertanya tenang. Sebenarnya aku ingin merenggut kesal, bagaimana mungkin dia bilang cuma itu?, sementara aku panas dingin menyiapkan kata – kata agar aku tidak terlihat konyol di depan ketua kelas baik hati ini. Ternyata dia bisa juga bikin orang jengkel.

Tapi aku akan tetap stabil, Taemin.”Iya, hanya itu, sebuah penyelesaian dari rasa suka yang mengganggu persahabatanku denganmu,”

“Dan sekarang kau pikir semua akan baik – baik saja?”

“Tentu,” aku mengangguk.

“Itu mungkin dirimu tapi tidak denganku,”

“Memangnya kenapa? Bukannya kau sudah sering menerima pernyataan – pernyataan ini sebelumnya, dan kau dengan mudah mengembalikan situasi dan hubunganmu dengan mereka seperti tidak terjadi apa – apa? Lalu apa bedanya denganku?” tanyaku mendelik ringan. Situasi hatiku benar – benat baik sekarang. Pembicaraan ini hanya seperti perdebatan seperti biasa. Tidak ada lagi perasaaan deg – degan seperti biasanya.

“Ini berbeda jika yang menyatakannya itu adalah kau,” jawabnya berbelit – belit, sebenarnya dia ini kenapa?

“Kenapa? Apa yang salah denganku? Bukankah aku tidak memintamu menjadi pacar? Jadi kau tidak mesti bingung memikirkan menjawab ‘tidak’ dengan haluskan?” tanyaku santai sementara dia, walaupun air mukanya tenang terkendali, tapi aku tahu dia sedang menahan sesuatu. Jangan tanya aku apa, nanti jawaban konyol yang akan kujawab.

“Minji jangan pura – pura bodoh, kau tau maksudku, kita sudah berteman sejak dalam kandungan bagaimana mungkin kau tidak mengerti maksudku?” Apa aku bilang, dia dari tadi, itu menahan sesuatu, kesal. Ingin menjambakku.

“Apa?” tanyaku menantang muka kesalnya,”Kiamat akan terjadi setelah aku mengungkapkan perasaanku padamu?” tanyaku lagi, serius, aku tidak mengerti. Aku belum pernah melihat ekspresi serius ini sebelumnya, terlebih itu padaku.

“Mungkin ini memang pertama kalinya, jadi kau tidak mengerti, aku juga, menyukaimu,” Taemin berhenti, terdiam bersamaan denganku yang melotot ke arahnya. Aku yang sedang lapar sehingga pendengaranku bermasalah atau Taemin salah menu diet?

“Bukannya sudah kubilang aku tidak perlu jawabanmu Taemin?” tanyaku sekarang jengah.

“Tapi kau sudah menjawab pernyataanku,”

“Kau dari tadi berbelit Taemin, bisakah lebih jelas,” Sebenarnya aku mengerti maksudnya, hanya saja aku malu jika ditembak seorang ketua kelas dan betapa hebatnya dia…juga school president tapi cara menyatakannya demikian abstrak.

“Aku juga menyukaimu, jadi kau mau menjadi pacarku?” tanyanya langsung. Aku tersenyum lalu kembali ke muka serius penuh pertimbangan.

“Sebenarnya aku mau saja, tapi kita sama – sama tahu, aku dan kau adalah pemuka kelas dan juga sekolah bagaimana mungkin kita bisa pacaran,” dia mendengarku lalu menghela nafas setelah mengerti maksudku. Aku wakilnya di kelas dan sekretaris di dewan siswa. Pacaran dengan ketua itu sama saja memancing banyak kontra, hubungan ini tidak akan berjalan lancar jika aku dan dia masih menjabat. Hubunganku hanya akan dihabiskan dengan komentar orang.

“Jadi paling tidak aku harus menunggu 2 tahun Choi Minji?”

“Tidak salah kau dipilih menjadi ketua, kau pintar sekali, jadi kau mau kucium sebelum kita masuk kelas?” tanyaku yang tentu akan dijawab tidak olehnya. Itu tindakan criminal di sekolah yang menjunjung kesopanan ini. Apalagi kami ini dewan siswa, yang katanya menjadi contoh teladan sekolah.

“Boleh, dan setelah itu aku akan minta orang tua kita untuk menikahkanku denganmu,” dia mengedip. Sial, ini bukan Taeminku, maksudku bukan ketua kami. Taemin itu orang yang patuh pada aturan, tapi sekarang dia pandai mengerling.

“Dasar!” hujatku meringgis.

“Ayo masuk, kalau mereka mulai capek mengerjakan latihan kelas akan ribut, apalagi penyumpal mulut mereka masih ada di sini,” ajaknya kemudian setelah tersenyum melihatku yang kesal karena ucapannya sebelumnya.

Ada perasaan lega saat apa yang menjadi beban dalam pikiranmu mempunyai penyelesaian yang baik. Tapi kebanyakan orang lebih memilih membiarkan beban itu memberatkannya. Kalau kau bisa menyelesaikannya dengan cepat kenapa harus membiarkanmu badanmu kurus dengan menggantung beban itu tanpa penyelesaian?

Dan kadang memiliki sahabat yang suka bersikap baik dan tidak pilih – pilih orang untuk berbagi kebaikan itu cukup menyulitkan apalagi dia lawan jenis, bisa – bisa kau terjebak dalam terjemah yang salah, dia baik sekali padaku, jangan – jangan dia suka padaku? Kau membiarkan hatimu bertanya – tanya dan mengira – ngira, semakin lama kau mengira kau yang malah menyukainya. Kalau sudah begitu, mengaku saja.

 Itu lebih baik, kan hanya sekedar mengaku, kau juga tidak memintanya menjadi pacarmu, paling tidak kau masih terlihat mandiri dengan tidak memintanya menjadi pacarmu. Itu sih menurutku. Well, setiap orang punya caranya sendiri untuk menghilangkan praduga tidak pasti dalam hatinya. Jadi lakukan juga caramu.

26-8-2012

Terima kasih sudah membaca. Kritik dan saran akan sangat membantu.

 

..:megiannisa:..

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

45 thoughts on “Sekedar Pengakuan”

  1. Good thor^^
    FF nya bagus
    Memberikan pelajaran yang baik hehe

    Author pernah mengalami hal kayak gini ya thor?

    Bikin ff bagus lain ya thor

    ⓕⓘⓖⓗⓣⓘⓝⓖ !!!!!!!!

  2. Wah, ga nyangka ternyata Taemin juga suka ama Minji. Ternyata pengakuannya kejawab dan… melanggar peraturan -_____-

    Nice! Ditunggu karya lainnya yaa :3

  3. Aaa…
    Ya ampuuunnn…
    Ini manis sekali author…….

    Kadar glukosaku naik!
    Haha

    ah ya, yg confession series ini, tinggal Key yg blm ya?

  4. Ya ampuuun…mata aku berbinar2 stlh baca yang ini…sweetnya pas bener ngena di hati♥
    Ah love u thor…♥♥

  5. Uwaaah!
    Kata-katanya bagus banget!
    Ternyata nembak cowok bisa jadi sweet story juga ya…
    Great… Sugoi!!!
    Ganbatte.. bikin ff lagi ya 😀

  6. malam2 baca ff ini serasa lagi siang hari yang damai…
    huwaa, sweet banget Megi! aku sukaaa…
    dialognya itu looh.. aduuh, serasa pengen aku praktekin #eh #abaikan
    banyak loh soalnya temen aku yg curhatin beginian..dia emang baik ke semua orang dan sebagainya ._______.

    oiya, mgkn sedikit diskusi, itu ‘kedutan’ di dahi maksudnya ‘kerutan’ gak? ato gmna?
    dah itu aja…keep writing ya! aku suka style nulisnya 😀

  7. Yup. Bingo, ini betul banget. Aku… Juga lagi kayak gini, cuma, aku nggak tahu kalau ini suka atau cuma sekedar ngira-ngira doang, sih. Habis, cowok yang bikin aku ‘ngira-ngira’ itu udah punya pacar, sih._.

    Love it, daebak as always, Megiannisa-ssi^^

  8. taemin dewasa banget…
    tapi masih mending kalau ngaku terus cowoknya reaksinya kaya taem
    coba kalau malah ngejauh, bisa2 jadi gak bisa liat dia lagi:(

    ffnya keren thor..
    pelajaran hidup yang baik:)

  9. Yg jelas ini FF ter-JLEB yg pnah aq baca! T,T tp bedanya namja itu bkn sperti si taemin ini…jdi aq tdak akan prnah mengungkapnyannya T_T #curcol….kerenn thor! Ya~ singkat padat jelas jleb 😀

  10. kereen! suka banget! T.T
    amanatnya juga tersampaikan..oke juga buat prinsip hiduo aku, coz aku juga sama kayak minji….curcol deh -_-

    secara keseluruhan aku suka pake banget!!!! GREAT!

  11. ini sesuai banget sama problem abg masa kini yg katanya sering di php-in hahaha 😆 eh tapi beda ding! si tetem ga php disini…
    seru aja baca ff ini, soalnya it based on true story sepertinya, jadi bisa dibayangin lah gimana perasaanya minji 🙄
    ohya megi-ssi, kyknya ada beberapa typos yg spotted nih, but it doesnt matter lah :mrgreen:

  12. ahhh authorr kenapa kau buat kan ceritakuuuu
    ya allohh ini aku banget aku pernah meraktekinnya ,,, sumpah!!! dan akhirnya jadian, sama kan? ahhh tuh kannn walo versi aku lewat media dan dengan ending tragis #curcol dehhh kekekeke mirip buanget ceritanya ahhhh nomu joahhhh bahasanya ringannnn :3
    lirik onew kekekekeke

    1. hah seriusan nih? Tragis endingnya? maksudnya kamu jadian trus endingnya tragis gitu?
      But thanks ya

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s