Beautiful Coincidence – Part 1

Author: Tia31

Main Cast:

–      Choi Minho (SHINee)

–      Park Jiyeon (T-Ara)

Support Cast:

–      Kris, Wu Fan (EXO-M)

–      Krystal, Jung Soojung (F(x))

–      Lee Taemin (SHINee)

–      Oh Sehun (EXO-K)

–      Eunmi

Length: Sequel

Genre: Romance, Family, Sci-Fi

Rating: PG-13

“Lagi-lagi, chukkhaeyo, Jiyeon-ah. Nilaimu sangat memuaskan.” ucap Jung ssaengnim setelah memberikan sebuah map berisikan beberapa kertas. Di atas kertas tersebut tertulis dengan rapi deretan nilai yang tak jauh dari angka 9 & 10. Deretan angka cemerlang yang diraih oleh seorang siswi dengan prestasi menjulang di sekolahnya.

“Gamsahmanida, ssaengnim.” jawab siswi tersebut seraya tersenyum. Tak dapat ia pungkiri, gejolak kebahagiaan yang ditambah rasa bangga menyeruak di hatinya.

Park Jiyeon, begitu orang tuanya menamainya. Seorang siswi cerdas yang baru saja kembali menorehkan prestasinya. Beberapa lembar kertas yang terjejer bagaikan kartu sulap, menjadi bukti konkret atas keberhasilannya.

“Sekali lagi, chukkhaeyo. Jangan lupa untuk terus belajar sampai ujian akhir nanti. Kami menaruh harapan besar padamu.” Jung ssaengnim mengulurkan tangannya, yang seketika disambut oleh jabatan tangan Jiyeon.

“Ne, sekali lagi, jeongmal gamsahamnida.” Jiyeon berdiri dari tempat duduknya setelah memasukkan kembali kertas-kertas tersebut ke dalam map.

“Ne, Jiyeon-ah. Salam untuk eommamu, semoga cepat sembuh, ne.” ujar Jung  ssaengnim. Rasa bangga terhadap muridnya membuatnya terus menerus menyunggingkan senyumnya untuk Jiyeon.

“Aku pergi dulu. Annyeonghaseyo.” Jiyeon membungkuk dan meninggalkan kelasnya yang masih dipenuhi beberapa orang tua yang mengantre untuk mengambil rapor anak mereka.

Tak seperti Jiyeon, orang tua teman-temannya yang dapat menyempatkan diri untuk mengambil rapor mereka, Jiyeon harus mengambil rapornya sendiri dikarenakan eommanya yang terbaring lemah di kasur.

Sambil melangkahkan kakinya menuju gerbang depan sekolahnya, Jiyeon terus memperhatikan deretan nilainya. Eomma pasti senang mendengarnya, batin Jiyeon. Menjadi anak yang berhasil dan membahagiakan eommanya adalah satu-satunya harapan baginya saat ini.

BRUK

Kini kertas-kertas yang berada di dalam map jatuh berantakan karena tubrukan yang baru saja terjadi antara Jiyeon dan seorang namja paruh baya. Namja tersebut buru-buru mengambil kertas-kertas tersebut dan dengan tidak sengaja matanya menangkap deretan nilai yang terpampang jelas di kertas tersebut. Namja itu berdiri dan menatap Jiyeon yang masih terkejut karena tubrukan tersebut.

“Jweosonghamnida.” ucapnya singkat kemudian memberikan kertas-kertas yang sudah iya masukkan kedalam map.

“Ah, ne. Gwenchanayo.” jawab Jiyeon singkat lalu beranjak meninggalkan namja tersebut.

“Chakkaman, agassi.” suara dari namja tersebut membuatnya Jiyeon menghentikan langkahnya.

Namja tersebut terus memandangi Jiyeon. Ia menatapnya mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala. Kini dua jarinya yang terbuka mengelus-elus dagunya menandakan bahwa ia sedang berpikir. Bukan orang mampu, pikirnya.

Sedangkan Jiyeon berkutat dengan pikirannya, namja tersebut mengenakan setelan kemeja yang dibalut dengan jas serta dasi yang rapi. Bukan orang kantoran, tapi… seperti pelayan-pelayan di drama-drama yang ada di tv, batinnya.

Pakaian lusuh, sepatu kotor yang dikenakan Jiyeon membuat namja tersebut berpikir keras. Terlebih potongan rambut panjang nan berantakan membuatnya berpikir bahwa yeoja yang ada di hadapannya ini adalah jawaban dari masalahnya.

“Mianhaeyo, ada apa, ahjussi?” Jiyeon yang sedari tadi merasa terus diperhatikan membuatnya bertanya.

“Ah anni. Agassi, bisa saya minta nomor telepon anda?” tanyanya ramah.

“Nomor telepon?” Jiyeon membeo. “Untuk apa?”

“Ada yang ingin saya bicarakan setelah ini.”

Jiyeon yang mulai curiga memilih untuk menggelengkan kepalanya. Ia menatap bingung namja tersebut kemudian melangkahkan kakinya dari tempat tersebut. Hasratnya untuk memberi tahukan eommanya tentang hasil rapornya membuatnya berjalan lebih cepat menuju pintu gerbang tanpa menghiraukan suara panggilan namja yang menabraknya tadi.

Setelah mencapai pintu gerbang, Jiyeon mengubah mengubah langkahnya menjadi lebih cepat ke arah halte bus terdekat dari sekolahnya. Tak lama, sebuah bus melintas dihadapannya dan berhenti. Jiyeon segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam bus.

Sesampainya di rumah, Jiyeon langsung melintas melewati ruang tamunya yang kecil. Tak menunggu lama, ia langsung masuk ke kamar satu-satunya yang ada di dalam rumah tersebut.

“Eomma.” serunya saat melihat eommanya yang berbaring di atas tempat tidur. Eommanya tersenyum karena melihat wajah Jiyeon yang merona. Ia tahu, anak satu-satunya pasti lagi-lagi meraih kesuksesannya dalam bidang akademik.

Shim Yoondae, seorang janda yang baru saja menginjak 40 tahun kini terbaring lemah di tempat tidurnya karena serangan stroke yang menyebabkan bagian tubuh kanannya tak dapat berfungsi. Sejak beberapa bulan lalu, Yoondae hanya dapat berbaring di tempat tidurnya tanpa bisa mencari nafkah untuk anak semata wayangnya, Park Jiyeon.

Appa Jiyeon, Park Jungsoo telah meninggalkannya saat Jiyeon menginjak 1 tahun karena kecelakaan di tempat kerjanya. Sejak itu, Yoondae harus bekerja sebagai pengasuh balita atau biasa di sebut baby sitter.

Jiyeon menjulurkan tangannya beserta mapnya sambil tersenyum lebar pada eommanya. Yoondae langsung meraihnya dan mulai membukanya.

Matanya berbinar menatap Jiyeon kemudian membentangkan tangannya agar Jiyeon dapat memeluknya kemudian mengelus kepala Jiyeon, “Chukkhaeyo, sayang. Eomma tahu kau pasti bisa.”

***

Jiyeon baru saja turun dari keretanya. Ia harus segera menemui kliennya yang berada di dalam stasiun.

Sejak eommanya sakit keras, Jiyeon harus menghidupi dirinya sendiri dan eommanya. Oleh sebab itu, ia memutuskan untuk bergabung dengan Seouveler, sebuah agensi tour guide yang cukup terkenal di Korea. Meski begitu, Jiyeon masih belum bisa dikatakan sebagai tour guide profesional sedang ia belum menyelesaikan sekolahnya.

Jiyeon memutuskan untuk memilih pekerjaan ini karena pekerjaan inilah yang paling cocok dengannya. Angka 10 tak pernah henti-hentinya tertulis dengan rapi di deretan nilai Matematika, Biologi, Sejarah dan Bahasa Inggris.

Oleh karena itu, dengan mengandalkan kemampuannya dalam menghafal bangunan-bangunan bersejarah dan kemahirannya dalam Bahasa Inggris, Jiyeon memilih untuk bekerja menjadi tour guide.

“Excuse me. I’m Park Jiyeon from Seouveler. Are you guys Joanna Leroux and Felix Skalle?” ucap Jiyeon dalam Bahasa Inggris saat menghampiri kliennya yang berasal dari Perancis.

Setelah melihat tulisan Seouveler di kaus yang Jiyeon kenakan, kedua turis tersebut mengangguk, “Yes. Are you ah…” seorang yeoja bernama Joanna terlihat mencoba meningingat nama lengkap seorang tour guide yang berada di hadapannya.

“My name is Park Jiyeon.” jawab Jiyeon sambil menyunggingkan senyumannya.

Joanna dan Felix sedikit tercengang, baru kali ini mereka melihat ada orang yang tersenyum dengan mata tertutup. Jelas, kali ini mereka berada di Korea, bukan di Paris. Tubuh yang tak terlalu tinggi, kulit putih langsat dan mata sipit sempat membuat mereka menyamaratakan wajah orang-orang di sini.

Jiyeon yang sudah terbiasa dengan wajah-wajah turis yang jauh berbeda dengan wajah orang-orang yang berada di tanah airnya hanya dapat tersenyum.

Jiyeon mulai mengajak mereka ke Insadong yang letaknya tak begitu jauh dari stasiun tersebut. Hanya dalam waktu 20 menit, kedua turis klien Jiyeon kini dapat melihat deretan bangunan tua yang kini terlihat jelas di hadapan mereka.

“So this is Insadong. The old town of Seoul.” ujar Jiyeon pada kedua turis yang mulai letih dengan berjalan kaki. Namun tak sedikit pun rasa lelah tersirat dari wajah mereka, membuat Jiyeon semakin bersemangat untuk menemani mereka menelusuri deretan gedung tua tersebut.

Dengan sangat fasih dan lancar, Jiyeon terus menerangkan satu persatu bangunana bersejarah yang berada dalam Insadong. Beberapa kali Jiyeon harus menunggu Joanna dan Felix untuk membeli oleh-oleh.

“Agassi?” sentuhan seorang namja di bahu Jiyeon membuatnya menghentikan langkahnya. Jiyeon yang baru saja keluar dari toilet, hanya dapat berbalik badan. “Kau siswi Honguk bukan?”

Jiyeon mengangguk ragu. Ia jelas mengingat pemilik wajah yang berada di hadapannya ini.

Belum sempat Jiyeon melangkah pergi, namja tersebut menarik tangannya. “Aku tahu kau adalah murid pintar. Oleh karena itu, aku akan memberimu pekerjaan yang menggiurkan, eotte?”

Jiyeon mulai berpikir keras. Untuk apa orang ini berada di sekolah? Kenapa orang ini terus mengejarnya? Kenapa ia tidak terlihat seperti orang jahat, justru seperti orang yang kesusahan?

***

Disinilah Jiyeon sekarang, di sebuah rumah mewah.

Setelah memikirkan matang-matang penawaran orang asing yang ternyata adalah seorang kepala asisten rumah tangga bernama Baekho untuk keluar dari Seouveler, Jiyeon kini menjadi seorang guru biologi seorang murid SMA yang belum ia ketahui.

Kini Jiyeon harus menunggu doryeonim yang Baekho maksud di sebuah ruang belajar. Ruang belajar yang sangat nyaman yang Jiyeon pikir tak akan pernah ia nikmati. Enam buah rak buku besar tanpa tutup sempat memanjakan mata Jiyeon, namun ia urungkan niatnya untuk mengambil salah satu buku karena ia tidak ingin berperilaku lancang. Namun sedari tadi, ada sebuah lemari besar yang sangat menarik perhatian Jiyeon. Hanya lemari itu lah yang tertutup dan tidak Jiyeon ketahui isinya.

Rasa penasaran terkadang mampir, karena Jiyeon sendiri belum sempat menanyakan siapa doryeonim yang Baekho maksud. Yang Baekho katakan hanya doryeonimnya selalu menolak untuk les pelajaran Biologi karena alasan yang sama sekali tak diketahui oleh Baekho dan orang tuanya. Beberapa kali Baekho mendatangkan guru-guru yang berumur tak kurang dari 25 tahun dan selalu menerima penolakan oleh doryeonim tersebut.

Oleh karena itu Baekho berinsiatif untuk mendatangkan guru yang seumuran dengannya agar doryeonimnya mau belajar Biologi.

Akhirnya Baekho merasa sedikit lega saat Jiyeon menerima tawarannya. Sejak itu, ia tak perlu lagi mendengar celotehan majikannya yang tak mau melihat nilai buruk anaknya di bidang biologi. Tuannya betul-betul menginginkannya menjadi seorang dokter, sama seperti istrinya yang telah meninggalkannya saat melahirkan anaknya.

 Suara bising dari arah pintu membuyarkan lamunan Jiyeon. Ia membelalakkan matanya saat melihat orang yang berdiri diambang pintu.

“Park Jiyeon?” suara berat seorang namja membuat Jiyeon menunduk.

Jiyeon tak menjawab.

“Jadi kau gurunya?”

“Ne. Bisa kita mulai pelajarannya sekarang?” Jiyeon mulai membuka tasnya dan mengeluarkan buku biologi satu-satunya yang ia miliki.

Namja itu bergeming.

“Minho? Bisakah kau duduk dihadapanku?” Jiyeon berusaha memintanya dengan lembut. Ia takut Minho akan kembali melakukan hal yang sama seperti minggu lalu.

Tatapan Minho kini mengingatkannya pada kejadian di koridor sekolah yang membuat Jiyeon tak tahu lagi bagaimana cara menyembunyikan malunya.

Saat itu, Jiyeon harus mengambil beberapa buah buku dari ruang guru atas perintah gurunya. Ia berjalan di koridor dengan 40 buku yang terbuka di atas tangan dan lengannya, membuatnya sedikit sulit mengatur keseimbangan tubuhnya.

BRUK

Jiyeon memandangi buku-buku tersebut yang kini berserakan di lantai. Sontak, Jiyeon langsung berjongkok untuk mengambil buku-buku tersebut namun gerakannya terhenti saat matanya menangkap sepasang sepatu mahal yang berada dihadapannya. Seketika ia mendongak dan menyadari siapa yang ada di hadapannya.

BRAK

Sebuah tas mendarat dengan sempurna di atas kepala Jiyeon. “Bodoh.” Minho segera beranjak meninggalkan Jiyeon yang kini menjadi pusat perhatian.

“Aku tidak mau.” Minho mulai bergegas meninggalkan pintu namun dengan sigap Jiyeon berlari dan menarik tangannya.

Jiyeon bergidik ngeri saat tangan Minho mulai melayang di udara.

“Sudah kubilang, aku tidak mau.” ucap Minho sekali lagi.

Yang Jiyeon dapat lakukan saat ini hanyalah bersabar. Ia tak ingin melepaskan pekerjaannya yang satu ini karena gaji menggiurkan yang sudah Baekho janjikan padanya. “Kumohon.” ucap Jiyeon pelan.

“Apa yang sebenarnya kau inginkan?”

“Aku hanya ingin mengajarkanmu.”

Minho menghempaskan tangannya yang digenggam oleh Jiyeon. “Aarghh! Terserah kau saja.” ucap Minho kesal kemudian masuk ke dalam ruang belajarnya.

Jiyeon mengelus dadanya lega.

“Bisa kita mulai?” tanya Jiyeon sesaat setelah duduk di hadapan Minho yang sama sekali tak memandangnya.

Minho kembali menatapnya namun tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

“Hmm…. Mungkin kita bisa mulai dengan bercerita.” Jiyeon tersenyum garing yang disahut seringai tajam dari Minho. “Hm… Bukankah kita teman sekelas? Tapi aku tak begitu mengenalmu.” Jiyeon kembali tersenyum seraya menggaruk punduknya yang tidak gatal.

Tiba-tiba Minho beranjak dari kursinya dan meninggalkan Jiyeon yang terpaku di hadapannya. Namun Baekho muncul dan menarik tangan Minho, “Doryeonim…”

“Lepaskan.” Minho kembali menghempaskan tangan orang yang berada di hadapannya dan menghilang dari hadapan Baekho dan Jiyeon.

Baekho menatap Jiyeon sendu, “Sepertinya pertemuan kali ini cukup.”

Jiyeon hanya dapat menghembuskan nafasnya.

“Selama liburan ini, bisakah kau datang kemari untuk mengajari doryeonim?” pinta Baekho yang disambut anggukan oleh Jiyeon. “Kudengar, kalian sekelas, betulkah itu?”

Jiyeon kembali mengangguk kemudian beranjak dari kursinya. Ia mendekat ke Baekho yang berdiri di dekat pintu. “Aku akan tetap mencoba.” ucap Jiyeon kemudian membungkuk.

“Hwaiting, Jiyeon-ah!” seru Baekho seraya mengepalkan tangannya di udara, mencoba memberi semangat kepada Jiyeon yang mulai melangkah menuruni tangga.

Jiyeon memutuskan untuk lekas kembali pulang. Sebetulnya, melihat wajah Minho saja dapat merusak moodnya yang begitu baik saat mengingat tawaran yang diberikan oleh Baekho. Ia memilih untuk berjalan kaki mengingat jarak rumahnya dengan rumah Minho tak begitu terlalu jauh.

Langkah Jiyeon terhenti saat beberapa orang berkumpul di depan sebuah restoran yang begitu asing bagi Jiyeon. Dapat Jiyeon pastikan bahwa restoran tersebut baru saja dibuka dan pasti sedang mengadakan diskon besar-besaran.

Lao Xin, nama restoran China yang baru saja dibuka hari ini. Nama tersebut mengingatkan Jiyeon pada nama restoran milik teman sekelasnya Wu Fan yang pindah ke sekolah tahun lalu. Wu Fan adalah salah satu saingan terberat Jiyeon, meski begitu, Wu Fan masih belum bisa mengalahkannyam. Ranking Wu Fan selalu berada tepat dibawah Jiyeon.

Iseng, Jiyeon berjalan masuk ke dalam dan menemukan Kris, begitu ia biasa di panggil sedang berdiri sambil mengobrol dengan seorang berseragam pelayan di sebelah resepsionis.

Seketika pipinya Jiyeon memerah. Jantungnya berdegup kencang.

Jiyeon memang sudah jatuh cinta pada Kris sejak pertama ia melihatnya. Baginya, Kris memiliki pesona tersendiri yang tak dimiliki oleh orang-orang Korea lainnya maupun seperti klien-kliennya yang berasal dari China.

“Jiyeon!” seru Kris saat menyadari kehadiran Jiyeon. Ia melambaikan tangannya berusaha membuat Jiyeon menatapnya.

Reflek, Jiyeon ikut melambaikan tangannya. Ia pun tersipu malu. “Kris.” jawabnya kemudian melangkah mendekat ke arah Kris.

“Jiyeon-ah, ayo duduk.” Kris menarik tangan Jiyeon lembut. Ajakan Kris sama sekali tak dapat Jiyeon tolak, akhirnya ia memutuskan untuk menuruti Kris dan duduk di sebuah kursi. “Selamat datang!”

“Gomawoyo. Tapi… sepertinya aku harus pergi.” ucap Jiyeon sungkan. Ia tahu, ia tak akan mampu membayar makanan yang ada di restoran mewah ini. Dari arsitektur dan cara pelayanannya saja, Jiyeon sudah dapat memperkirakan berapa harga sepiring fuyung hai yang akan memanjakan lidah pelanggannya.

“Ah jangan pergi dulu. Ayolah, aku yang traktir. Hari ini kami mengadakan diskon besar-besaran tapi khusus untukmu, kuberikan gratis.” Kris tersenyum renyah pada Jiyeon.

“Tidak usah, Kris-ah.” Jiyeon langsung bergegas berdiri namun Kris menahan tangan Jiyeon yang sedari tadi terletak di atas meja.

“Ayolah. Anggap saja ini adalah traktiran sebagai teman.” Kris berusaha meyakinkan Jiyeon yang terlihat berpikir. “Ayolah~ Ah kami punya menu terbaru, kau harus mencicipinya.”

Kris beranjak dari kursinya dan menghilang dari hadapan Jiyeon. Jiyeon kini hanya dapat menghembuskan nafasnya. Sebenarnya, ia tidak ingin menerima bantuan orang seperti ini, tapi ia rasa ini bukanlah bantuan melainkan bagian dari pertemanan.

Sambil menunggu Kris yang tak kunjung muncul, Jiyeon terus membayangkannya. Betul-betul sempurna. Tampan, kaya, baik dan sangat pintar. Jiyeon cukup mengenalnya karena beberapa kali diikut sertakan dalam satu kelompok lomba atau tugas sekolah.

Akhirnya Kris datang dengan didampingi beberapa orang yang membawakan beberapa nampan. Jiyeon yang melihatnya hanya dapat tercengang. Mereka menaruh semuanya sesuai perintah Kris.

Jiyeon menelan ludahnya sambil melihat Kris yang menarik kursi dihadapannya. “Ayo, mari makan.” Kris mengambilkan sepasang sumpit kemudian memberikannya pada Jiyeon.

Jiyeon hanya dapat tersenyum sungkan. Rasanya tidak enak jika harus begini. Lima jenis makanan kini sudah terhidang dihadapannya lengkap dengan tiga jenis minuman.

Kris yang mulai menyantap makanannya menyadari bahwa Jiyeon tak sedikit pun bergerak, “Kenapa? Mari makan.” tegur Kris sambil mengulaskan sebuah senyum yang selalu membuat Jiyeon meleleh.

Jiyeon kembali mengangguk tanpa menjawabnya dan mulai menyumpit sesendok mie. Baru saja mie tersebut masuk ke dalam mulutnya, Jiyeon langsung jatuh cinta pada rasanya.

Kris sedari tadi memperhatikan Jiyeon yang terus tersenyum saat menyantap mie baru yang ia racik sendiri, “Kau menyukainya??” tanya Kris antusias.

“Ne. Kkkk.” jawab Jiyeon sambil tersenyum renyah.

“Jinjjayo?? Kau tahu, itu mie buatanku.”

“Geurae? Ternyata kau pandai memasak juga.” pujian Jiyeon sontak membuat Kris tersanjung. Ia tak dapat menyembunyikan semburat merah di wajahnya. “Ah… Kkkk.”

“Jeongmal gomawoyo.” jawab Kris yang masih tersipu. “Oh ya, ayo makan yang lainnya. Semuanya adalah buatanku.”

“Kau benar-benar jago memasak ya? Whoaa daebak!” setelah memuji Kris habis-habisan, Jiyeon mulai menyumpit makanan lainnya.

Sayang, Jiyeon tidak dapat menyicipi seluruh makanan yang berada di meja karena perutnya kini betul-betul penuh. Sedari tadi Kris memaksanya untuk menyantap habisa satu persatu.

“Ah, apa kau sudah tidak kuat lagi? Mianhae.” ucap Kris menyesal.

Jiyeon tersenyum sambil menggeleng, “Gwenchana. Tapi, demi apa pun masakanmu enak sekali.” puji Jiyeon lagi.

“Ahh gomawo. Oh ya, biar kuantar kau pulang ya.” Kris berdiri dari kursinya dan merogoh saku celananya kemdian mengeluarkan sebuah kunci motor lengkap dengan dompetnya.

Jiyeon buru-buru berdiri dan menahan tangan Kris. “Jeongmal gomawo. Aku pulang sendiri saja. Lagipula, rumahku dekat darisini.” tolaknya halus sambil tersenyum.

“Ayolah, gwenchana.”

“Anniya, nan jeongmal gwenchana. Aku pergi dulu. Sekali lagi, jeongmal gomawoyo. Annyeong.” Jiyeon membungkukan badannya dan dengan cepat menghilang dari hadapan Kris. Tak bermaksud untuk tidak sopan, Jiyeon hanya tidak ingin merepotkan Kris lebih jauh lagi.

***

Jiyeon membuka matanya di pagi hari saat matahari berusaha menyelusup masuk ke matanya. “Selamat pa…” kata Jiyeon terhenti saat menyadari tak ada eommanya yang berbaring disebelahnya seperti setiap pagi.

Jiyeon langsung bangun dari tidurnya dan turun dari tempat tidur. “Eomma! Eomma!” suara teriakannya bergema di ruang tamunya yang sempit. Namun akhirnya Jiyeon melihatnya eommanya yang sedang mengiris bawang di dapur. “Eomma?”

“Ah Jiyeon.” jawab Yoondae saat mengambil seulas bawang untuk dicincang. Yoondae yang hanya dapat berdiri dengan tongkat, harus duduk di kursi agar dapat dengan mudah memotong bawang di meja.

“Eomma, sudah kubilang eomma tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah.” Jiyeon mengambil pisau yang eommanya pegang. “Biar aku saja yang mengerjakan semuanya.”

Yoondae tetap berusaha menggapai pisau dari genggaman Jiyeon namaun Jiyeon buru-buru menangkisnya dengan lembut. “Biar aku saja.” ucapnya kemudian membawa Yoondae kembali ke kamarnya. Mau tak mau, Yoondae harus menuruti kata anak kesayangannya tersebut.

Jiyeon mulai merapikan rumah dan memasak. Setelah selesai memasak kimchi, ia buru-buru masuk ke dalam kamar untuk memberikan semangkuk untuk eommanya yang sudah kelaparan. “Ini, eomma makan yang lahap ya.” ucap Jiyeon kemudian menaruh mangkuk kimchi tersebut diatas meja tempat tidur eommanya.

“Gomawoyo, sayang.”

Tiba-tiba handphonenya yang berada di meja belajar bergetar. Buru-buru Jiyeon melihat dan mendapati sebuah pesan masuk dari Baekho.

Baekho Ahjussi

Annyeong.

Jiyeon-ah, bisakah kau datang pukul 9 pagi ini? Aku akan mengusahakan doryeonim agar mau belajar. Gamsahamnida.

Jiyeon kembali teringat wajah sangar yang dimiliki oleh Minho. Ia menatap wajah eommanya, seakan memberinya semangat.

Park Jiyeon

Baiklah, ahjusshi. Aku akan segera datang.

Terkirim. “Eomma, aku mandi dulu. Aku harus pergi mengajar.” ujar Jiyeon yang diiringi anggukan serta senyuman dari eommanya.

Setelah selesai mandi, Jiyeon lekas mengganti bajunya dengan pakaian santai. Ia juga memasukkan satu-satunya buku biologi yang ia miliki dan beberapa alat tulis seadanya. Tak lupa juga, ia menyiapkan mentalnya untuk menghadapi Minho. Ia tahu, hari ini pasti tidak akan lebih ringan daripada hari kemarin.

“Eomma, aku pergi dulu.”

“Ne, hati-hati di jalan, Jiyeon-ah.” Yoondae mengacak-acak rambut panjang Jiyeon saat Jiyeon sedang mengenakan kaus kakinya.

“Ne eomma. Eomma hati-hati di rumah.” jawab Jiyeon kemudian melangkah keluar kamar dan menuju pintu keluar rumahnya. Setelah mengunci pintu, Jiyeon langsung berjalan kaki menuju perpustakaan yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Hanya butuh waktu 15 menit, Jiyeon kini sudah sampai di sebuah perpustakaan sederhana.

Terkadang, sepulang sekolah atau sebelum melaksanakan pekerjaan sampingannya, Jiyeon mampir ke perpustakaan tersebut. Perpustakaan tersebut tidak memungut bayaran jika buku yang dipinjam tidak bawa pulang, oleh karena itu Jiyeon memilih perpustakaan tersebut.

Saat Jiyeon mencoba memilah-milah beberapa buku yang berada di rak, tiba-tiba matanya menangkap sosok Kris yang berada di seberang rak, membuat keduanya tertawa bersama.

Kris segera berlari kecil mengitari rak tersebut dan menghampiri Jiyeon. “Annyeong!” ucapnya sambil melambaikan tangannya di hadapan Jiyeon.

Jiyeon yang kini terpesona oleh senyuman Kris hanya dapat tertawa seraya melambaikan tangannya juga. Tanpa Jiyeon sadari Kris sudah menyodorkan sebuah buku kedokteran dihadapannya.

“Kau menyukai bidang kedokteran bukan?” tanya Kris saat menangkap ekspresi bingung dari wajah Jiyeon.

Jiyeon mengangguk cepat, “Bagaimana kau bisa mengetahuinya?”

“Hmmm.” Kris melongos cepat. “Sixth sense.” ia kembali mencari buku-buku yang tersusun rapi di rak.

“Ya! Katakan padaku.” Jiyeon berusaha menghampiri Kris namun Kris mulai mempercepat langkahnya hingga berlari. Jadilah mereka berdua berlari-larian diantara rak-rak.

“YA! Kalian! Dilarang berisik disini. Ini perpustakaan!” suara seorang yeoja tua sukses membuat mereka berhenti namun mata Jiyeon seketika terbelalak saat menyadari bahwa kini wajahnya terbenam dalam dada bidang Kris.

Seketika, jantungnya berdetak lebih kencang namun Jiyeon juga dapat merasakan suara detakan yang tidak beraturan dari dada Kris. Dengan canggung, Jiyeon buru-buru melepaskan pelukan tidak sengaja yang baru saja terjadi diantara mereka.

“Ah mianhae.” ucapnya canggung.

“Nado mianhae.” jawab Kris singkat.

Jiyeon yang menyadari waktunya di perpustakaan sudah terlalu lama, segera melihat jam tangannya. Benar saja, ia akan terlambat jika tidak lekas menuju halte bis.

“Kris-ah, aku pergi dulu.” ucapnya sambil melambaikan tangan.

Sebelum Kris dapat menahannya, Jiyeon sudah berada di ambang pintu. Jiyeon tidak ingin terlambat sehingga gajinya dipotong.

Ia terus berjalan menuju halte bus terdekat. Sesekali ia menengadahkan tangannya untung menampung daun-daun musim gugur yang berjatuhan. Angin berhembus semakin membuainya dalam khayalan akan Kris. “Ah namja itu…” gumamnya sesaat sebelum duduk di halte bis.

Baru beberapa saat menghidupkan headphonenya untuk mendengarkan lagu, Jiyeon dapat mendengar suara motor yang bergema di kupingnya. Ia menolehkan kepalanya dan mendapati Kris yang sedang  duduk di atas motor -yang ia yakini adalah motor mahal- tengah membuka helmnya.

“Kris?” gumamnya.

“Jiyeon!” panggil Kris. “Kau mau kemana?”

Untuk mempermudah berkomunikasi, Jiyeon memilih untuk menghampiri Kris. “Aku mau pergi ke rumah Minho.”

Kris sedikit membelalakkan matanya, mencoba menyembunyikan rasa kagetnya, “Untuk apa?” tanyanya.

“Aku akan mengajarnya.”

“Mengajarnya?”

“Ne. Hehehe. Aku bekerja sebagai guru privatnya.”

“Kalau begitu, biar kuantar.”

“Ah tidak usah. Gomawoyo, Kris-ah.”

“Anniya, nan gwenchana.” bantah Kris. Jiyeon pun menggaruk kuduknya. Ia tak mungkin terus-terusan menerima bantuan dari Kris.

Jiyeon terlihat berpikir sedang Kris menunggu jawabannya. “Kau sudah terlalu banyak membantuku.”

“Ya! Tidak perlu sungkan begitu. Aku tidak apa-apa.” tangkis Kris. Akhirnya Jiyeon mengalah dan segera naik ke motor Jiyeon. Karena mengebut, dalam waktu sepuluh menit mereka sudah sampai di depan rumah mewah milik Minho.

Jiyeon segera turun dan mengembalikan helm yang tadi Kris pinjamkan. “Ah jeongmal gomawo, jeongmal gomawo.” ucapnya sambil membungkuk.

“Cheonmaneyo. Kapan pun kau membutuhkanku, kau bisa memanggilku.” ucap Kris kemudian memakai kembali helm yang tadi ia lepas hanya untuk berbicara dengan Jiyeon.

“Ne. Annyeong.”

Setelah melambaikan tangan pada Kris. Jiyeon langsung menekan bel rumah Minho. Tanpa tunggu lama, Baekho langsung muncul dan membukakan pintu utuk Jiyeon. “Annyeonghaseyo.” sapa Jiyeon sambil membungkuk.

“Annyeonghaseyo.” jawab Baekho kemudian membawa Jiyeon ke ruang belajar yang sama seperti kemarin.

Jiyeon kembali harus menunggu. Penantian yang sangat panjang, sampai kurang lebih dua jam namun Minho tak kunjung menampakkan dirinya. Tak berbeda dengan Baekho, ia hanya mengatakan bahwa akan membangunkan doryeonimnya yang tukang tidur.

Jiyeon terus memperhatikan jam dinding ruangan tersebut. Sedari tadi, hanya dinginnya AC dan sunyinya suana yang menemaninya. Ia terus meneguhkan hati dan bersabar. Mengingat eommanya yang sedang terbaring di rumah adalah penyemangat terbaik baginya.

Jiyeon menatap Baekho yang muncul dari balik pintu. “Doryeonim segera datang.” ucapnya kemudian membukakan pintu lebar-lebar. Minho akhirnya muncul dan menatapnya tajam.

Tatapan Minho sontak membuat Jiyeon menghembuskan nafasnya. It’s gonna be an exhausting day, batinnya. Baekho meninggalkan Minho yang masih berdiri di ambang pintu. Ia menghampiri Jiyeon dan berbisik. “Berusahalah, kami mohon.”

Jiyeon tak menjawabnya, hanya anggukan yang ia berikan pada Baekho.

Ia berusaha tersenyum pada Minho, “Annyeong.”

Minho tak menjawab kemudian berbalik badan. “Tunggu, doryeonim!” Baekho segera berlari ke arah Minho. “Masuklah terlebih dulu ke dalam.”

“Ne, Minho. Bisa kita mulai pelajarannya?” Jiyeon mengatakannya denan hati-hati, mengundang amarah Minho.

“Siapa yang menyuruhmu memanggilku dengan sebutan seperti itu, huh!?” sahut Minho lantang, membuat Jiyeon bergidik ngeri.

Ia berdiri dan membungkuk kepada Minho, “Jweosonghamnida, doryeonim.” ucapnya.

“Permisi, ada telepon dari sajangnim.” ucap Baekho kemudian keluar dari ruangan. “Doryeonim, saya mohon anda tunggu sebentar.”

Minho hanya mematung tanpa melakukan apa pun. Hal tersebut mengundang tanya bagi Jiyeon, kenapa ketika mendengar sajangnim ia justru berubah.

“Doryeonim, sajangnim ingin bicara pada anda.” Baekho tiba-tiba masuk dan menunjukkan ponselnya pada Minho. Minho yang sedikit memberikan ekspresi kaget buru-buru mengangkat teleponnya.

“Yeoboseyo?”

“…”

“Aku baik-baik saja.”

“…”

“Jemput? Jam berapa?”

“…”

“Ah ne.”

“…”

“Annyeong.”

Yang dapat Jiyeon dengar hanya suara Minho yang tiba-tiba melembut. Jelas berbeda dengan caranya berbicara pada Jiyeon dan Baekho. Jiyeon langsung mengambil kesimpulan bahwa ia takut pada appanya.

“Doryeonim, sajangnim bilang, doryeonim harus belajar.” ucap Baekho hati-hati.

Minho menunduk dan menghela nafasnya. Ia menatap Jiyeon yang menatapnya penuh harap. “Yasudah.” ucapnya sontak membuat Baekho berbinar.

Baekho buru-buru membuka lemari yang sedari tadi masih menjadi perhatian utama Jiyeon. Jiyeon bersorak dalam hatinya, akhirnya dibuka juga. Matanya berbinar saat melihat deretan buku kedokteran dan semua hal tentang biologi.

“Whoaa!” gumam Jiyeon namun buru-buru ia menutup mulutnya sebelum yang lain mendengarnya.

Setelah mengambil kira-kira 10 buku, Baekho langsung menaruhnya di meja besar kemudian menarik kursi untuk Minho. “Silahkan, doryeonim.” ucapnya kemudian keluar dari ruangan tersebut.

Sementara Jiyeon sedaritadi hanya menatap rak buku yang berukuran raksasa tersebut dengan perasaan kagum. Betapa beruntungnya orang ini, batinnya.

Pandangan Jiyeon teralihkan saat menyadari Minho yang berlari ke arah pintu, “YA! JANGAN KUNCI PINTUNYA!” ucap Minho sambil memukul pintu. Namun sama sekali tak ada jawaban.

“Baekho akan membukakanya dua setengah jam lagi.” ucap Jiyeon.

Minho menghela nafas dan menatapnya tajam. Jiyeon menatapnya sambil menelan ludahnya. Akhirnya Minho duduk di kursi yang sudah Baekho siapkan dan diam seribu bahasa.

“Bisa kita mulai?”

Minho tak menggubrisnya.

Jiyeon mulai mengeluarkan bukunya dan bangun dari kursinya. Ia melangkah menuju sebuah papan tulis besar dan mulai menulis dengan spidol yang sudah disiapkan.

Ia memilih sistem peredaran untuk pelajaran pertama. Sesekali ia menoleh dan memandang Minho yang menengadahkan kepalanya ke atas dan melipat tangannya di dada. Setidaknya ia tidak memberontak, ucap Jiyeon dalam hati.

Setelah selesai menulis, Jiyeon langsung menutup spidolnya dan berkata pada Minho, “Minho, bisa lihat kesini sebentar?”

Minho hanya menoleh dan menatap Jiyeon dingin.

“Baiklah, darah tersusun dari 4 bagian. Yang pertama adalah leukosit, atau sel darah putih, eritrosit, yaitu sel darah merah, trombosit, atau keping darah dan cairan darah atau biasa disebut plasma darah…” tutur Jiyeon panjang lebar seraya mengarahkan spidolnya ke tulisan yang sudah ia buat, persis seperti seorang guru.

Sedang Jiyeon susah payah menjelaskan, Minho hanya menguap tanpa betul-betul memperhatikannya.

 Akhirnya dua jam kurang lima belas menit dilalui Jiyeon dengan susah payah. Ia putuskan untuk duduk dan membuat lima buah soal untuk Minho yang masih tak bergeming dari tempat duduknya dan tidak mengatakan apa pun.

“Doryeonim, ini soal untukmu.” ujar Jiyeon kemudian menaruh kertas dan sebuah sebuah pulpen tepat di hadapan Minho.

Minho kembali menatapnya. “Apa yang kau ingin aku lakukan dengan benda ini?”

“Aku hanya ingin melihat perkembanganmu setelah mendapat pengajaran dariku.”

Minho langsung mengambil pulpen dan mulai mengerjakan. Tidak sampai lima menit, soal essay salah seorang gurunya yang dikenal begitu sulit dengan cepat Minho kerjakan.

“Selesai. Kau puas?” Minho memberikan kertas selembar kertas berisi jawabannya pada Jiyeon. Ia menyeringai pada Jiyeon yang menatap tersebut penuh kagum.

“Whoaaa, kau…” Jiyeon menatap pada Minho yang duduk dengan tenang di tempatnya. “Kau bahkan lebih baik dariku.”

“Jangan katakan pada siapa pun.” Minho beranjak dari kursinya dan berjalan menuju pintu.

“Tunggu!” seruan Jiyeon membuat Minho berbalik badan. “Tapi kenapa?”

“Bukan urusanmu.”

To be continued…

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

12 thoughts on “Beautiful Coincidence – Part 1”

  1. Bagus thor! Bikin penasaran nih! walaupun kurang suka sama tokoh jiyeon yg gak cocok jadi tokoh protagonis, gak apa-apa sih. Aku berharapnya kalo posisi jiyeon itu sulli wkwk

  2. chingu ini ff pernah di publikin di PJY FF kan aigoo gk nyangka bakalan di publikin di sini juga jujur penasaran sma kelanjutan ceritanya dan aku suka bngat nih,, omooo,, minpa ,, apakah kau akan berubah,, padahal sebenernya dia pinter,,

  3. Uwaah!
    Pengen deh punya nilai perfect kaya jiyeon
    Di ff ini minho nyebelin banget!
    menurut analisis aku sih nanti jiyeon gak jadi suka lagi sama si kris, tapi sama minho /asal nebak
    Jadi penasaran kenapa minho pura pura gak pinter, padahal dia lebih pinter dari jiyeon…
    lanjutkan ya chingu.. sugoi!

  4. wah, minho ternyata jago biologi. . . .
    Sepertinya dia gk mau jd dokter (kemauan ayah.a) makanya minho sngaja bkin nilai.a jd rendah ø.Ö

  5. Waaa… Jiyeon, chukkaeyo! Kasih selamat juga ke Jiyeon. Ada sesuatu pasti nih yang membuat Minho tidak mau nunjukin prestasinya di pelajaran Biologi. Kenapa? Apa Minho nggak mau jadi dokter seperti mendiang ibunya? Terus perasaan apa itu yang dimiliki Jiyeon buat Kris? Wah, diam-diam Jiyeon menyukai Kris, ya? Pokoknya masih sangat penasaran dan menunggu banget kelanjutannya ceritanya.

    Tak seperti Jiyeon, orang tua teman-temannya yang dapat menyempatkan diri untuk mengambil rapor mereka, Jiyeon harus mengambil rapornya…dst.
    Mungkin sedikit koreksi biar lebih enak dibaca: Tak seperti orang tua teman-temannya yang dapat menyempatkan diri untuk mengambil rapor mereka, Jiyeon harus mengambil rapornya…dst.

    Nice story.

  6. Woaa! Minho pintar juga rupanya ya? biologi? btw aku juga ambil jurusan ipa dan juga milih biologi sbg andalah..waahh saingan nih >..>

    untuk keseluruhan ff ini bagus banget lho..aku suka. penasaran juga alasan Minho menutupi kepandaiannya..pasti ada sesuatu nih..
    OK! Ditunggu part selanjutnya ya thour! 😀

  7. Wah.. Daebak.. Bener-bener bikin penasaran..
    Minhonya cuma pura2 ga bisa biologi dan ga mau belajar biologi ya, pdhl dia pinter. Tapi hal apa yg bikin minho kyk gitu?
    Kasian jiyeonnya di bentak2 mulu sama minho, tp justru itu sisi menarik nya..
    Ditunggu part selanjutnya^^ jangan lama lama ya thor^^
    Thanks^^ keep writing and fighting^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s