Because I Can’t Say That I Love You

because I can't say that I love you

Title       : Because I Can’t Say That I Love You

Author  : ReeneReenePott

Maincast : Jung Dae Hyeon/Susan Jung (OC), Kim Jonghyun (SHINee), Shin Sekyung (Actress)

Cameo  : Ahn Seul Ran (OC), Oh Taeri (OC), Lee Howoon (Hoya Infinite), Brandon Routh (Actor)

Genre   : Romance, Sad, Life.

Length  : Oneshoot

Rating   : PG – 13

Backsound : K.Will – Baecause I Can’t Say That I Love You

A/N : FF buat Ultah Jonghyun. Semoga masih layak di baca yak muahahaha #DUAR And sory for typos. Selamat membaca~

Dae Hyeon POV

“Kau sudah siap, Hyeon-ah?” tanya Seul Ran, partner kerjaku.

“Aku harus selalu siap,” jawabku dengan cengiran. “Well, siapa yang akan menangani bride atau groom-nya?” tanyaku. Seul Ran hanya memutar bola matanya.

“Kemarin kan kau pegang si bride, sekarang aku. Kau tahu tahu kalau groom jaman sekarang itu… argh,” Seul Ran mendesah frustasi, membuatku ingin terkikik.

“Kenapa? Bukankah pria lebih simple daripada wanita?”

Seul Ran memutar bola matanya lagi. “Tapi groom yang terakhir, yang bernama Choi Minho kemarin itu sangat prefeksionis. Kau tahu, beberapa kali aku diocehi olehnya hanya untuk memilih mata berlian pada cincin! Dia sampai menguliahiku tentang arti emas dua puluh empat karat, berlian satu gram, bla… bla… bla…”

“Filosofi tentang itu memang masih ada. Lagipula, mungkin dia keturunan Cina, makanya cerewet sekali. Aturan pernikahan Cina kan lebih ruwet daripada Korea,” sahutku gampang. “Lagipula, kau sendiri yang tiba-tiba bersemangat ketika melihat groom-nya. Dasar maniak ulzzang!”

Well, wajah tidak selalu mencerminkan perilaku…”

Klining

Klining

Annyeonghaseyo,” kami berdua menoleh dan membungkuk sopan ada wanita paruh baya yang ada di hadapan kami.

Ne, annyeonghaseyo,” jawab kami serempak.

“Ini pengantin prianya. Persiapkan dia, ne? Pengantin wanitanya sebentar lagi akan tiba, kalian tunggu saja,” Ah, ini pasti Nyonya Kim, yang beberapa waktu lalu menelpon ke sanggar Wedding Organizer kami. Ia ingin mempersiapkan pernikahan anaknya, Kim Jonghyun dengan Oh Taeri.

Aku mengerutkan kening menangkap sosok pria yang nampak tidak bersemangat berdiri di ambang pintu. Kurasakan Seul Rin hanya memfokuskan diri dengan beberaapa permintaan lanjutan dari Nyonya Kim, tapi aku tidak peduli. Pernikahan itu sakral, dan sekali seumur hidup. Pria ini niat menikah tidak sih? Kenapa tidak ada gurat bahagia di wajahnya?

__

“Jadi ini memang benar-benar pekerjaan kalian, ya?” ujar pria dengan wajah tidak niat menikah itu, Kim Jonghyun.

Ne?”

“Pekerjaan yang asik sekali. Mempersiapkan pernikahan orang,” ujarnya lagi, sinis. Aku balas menatapnya tak kalah sinis.

“Tapi kami dibayar, Tuan,” sahutku kesal. Pria ini memang tampan, tapi kenapa sifatnyaa seperti itu, sih? Mungkin kejadianku akan sama seperti Seul Ran, cekcok dengaan si pengantin pria.

“Ya, dibayar untuk menyukseskan pernikahan tanpa cinta,” ujarnya sambil mengancingkan jas pengantinnya dengan gusar. Ya, hari ini sudah ditetapkan untuk fitting baju pertama kali. Tiba-tiba keningku berkerut.

“Pernikahan tanpa cinta? Maksudmu? Kau tidak mencintai Nona Oh Taeri? Kenapa menikahinya?” tanyaku bertubi-tubi. Pria ini mulai kesal nampaknya.

“Lupakan saja. Taeri sudah selesai?” tanyanya datar. Aku melongok keluar pembatas ruangan dan kembali menatap pria di depanku.

“Nona Oh ssudah siap. Silahkan berdampingan di luar,” ujarku formal.

Degh…

Aku terpaku menatapnya yang melangkah keluar menggunakan tuksedo hitam. Astaga… kenapa aku? Kenapa selama sejenak tadi ku merasa bahwa ia sangat tampan?

__

Setelah fitting selesai, aku membereskan pakaian pakaian groom lalu ikut membantu membereskan gaun pengantin karena menyimpannya memang agak ribet. Pihak mempelai ternyata sudah memesan dan meminta kami untuk menyelesaikan fitting dan menyimpan pakaian itu hingga hari H-nya. Aku belum sempat menanyakan sesuatu pada Nona Oh Taeri tapi dia sudah pulang.

“Seul Ran-ah, bagaimana bride-nya?” tanyaku sambil membereskan sarung tangan dan perhiasan yang dikenakan Taeri tadi. Seul Ran yang sedang memasukkan kembali berbagai hiasan untuk gaun ke dalam kotaknya hanya mendesah.

“Eung… apa mereka dipaksa? Nona Oh Taeri tak banyak senyum sejak pertama aku melihatnya. Berbeda dengan pasangan yang lain. Tadi juga, Taeri terlihat sangat ingin pulang. Dia pergi dengan terburu-buru,” ujar Seul Ran yang membuatku tercengang.

Jinjaro?”

“Bagaimana dengan pengantin prianya?” tanya Seul Rin balik. Aku mendnegus.

“Yah, sebelas-dua belas dengan Taeri sepertinya,” ujarku sambil mengunci lemari kaca.

“Sudah semua? Annnyeong,” Seul Ran berpamitan setelah selesai membereskan kamar ganti pengantin. Aku mengangguk. Seul Ran pasti sudah dijemput namjachingu-nya, Yoo Seungho. Namja yang penuh dengan kharisma, romantis pula. Ah, jadi iri.

Nde, annyeong,” aku membereskan barangku dan berencana bersantai di Coffee Shop di seberang gedung ini sambil menyelesaikan bab terakhir skripsiku.

Baru saja aku melangkah keluar pintu sanggar, aku dikejutkan dengan sosok yang tak pernah kubayangkan ada di sinbi sebelumnya. Tepat duduk di dinding batu tepi tangga menuju pintu masuk. “Kim Jonghyun-ssi?” aku membiarkan pandanganku berkeliling, dan hanya mendapatkan motor sport silver parkir di trotoar depan gerbang. “Kau tidak pulang?”

Jonghyun mendongak, menatapku lalu menggeleng. Astaga, hanya dengan menatapnya yang juga menatapku, kenapa jantungku berdetak lebih cepat? “Aku butuh konsultasi,” ujarnya pelan.

Mulutku menganga. Langsung kulupakan untuk melanjutkan bab terakhir skripsiku itu. “Denganku? Kau bisa konsultasi denganku, kok”

“Memang kau psikater?” tanyanya. Aku mendengus.

“Tuan,  saya kuliah di jurusan psikologi. Sekarang sedang menyusun skripsi sambil  kerja lapangan. Cukup meyakinkan, bukan?” ujarku penuh dengan kepercayaan diri.

“Baiklah, aku percaya padamu. Dimana aku bisa konsultasi?”

“Aku memiringkan kepala. “Bagaimana di coffee shop di seberang sana? Sekarang masih jam tiga dan masih sepi,” tawarku sambil melirik jam tanganku. Ia hanya mengangkau bahu.

“Terserah kau, deh. Naik motorku?”

__

“Jadi, semua ini perjodohan?” simpulku pelan. Pria di depanku hanya menghembuskan napas pasrah. “Kau sudah punya yeojachingu, begitu pula Taeri, dia juga sudah punya namjachingu?”

“Sudah kukatakan berkali-kali pada eomma dan halmoeni, tapi mereka sama sekali tak mendengar,” ungkapnya agak kesal. “Mereka berdua menolak yeojachingu-ku. Mereka mengharap yeoja yang dari kalangan atas, bukan gadis yang kucintai. Menurutmu aku harus bagaimana?”

“Sebenarnya, Jonghyun-ssi. Kau tahu dimana kebahagiaanmu, kan?” ujarku sambil menatapnya. Ia mengangguk. “Pergilah pada kebahagiaan yang kau inginkan itu,”

“Y-ye?”

“Ikuti kata hatimu. Kau sudah bilang pada orang tuamu, bukan? Kau sudah meminta ijin dengan cara yang halus. Kau sudah minta permisi dari mereka. Jika benar mereka tidak menerima gadismu dengan alasan yang jelas, kau mungkin bisa melakukan cara yang agak ekstrem nanti,” saranku sambil bergidik. Hey, kenapa barusan aku berpikir untuk menyuruhnya kawin lari?

Alisnya terangkat sebelah. “Ekstrem? Kawin lari?” yah, pria ini nyambung juga dengan perkataanku. IQ-nya tinggi, mungkin.

Aku mendengus setengah tertawa sebelum meneguk espresso-ku. “Kau yang mengatakannya, Jonghyun-ssi, bukan aku. Lagipula, kau sudah cukup dewasa kok untuk menentukan pilihan dan jalan hidup sendiri. Umur dua puluh tujuh, bukan?”

“Kau tahu?”

“Aku harus mengenal baik klienku sebelum menanganinya,” jawabku enteng. “Pantas saja Seul Ran juga merasakan ada yang aneh pada Taeri,” ungkapku pelan. Kening Jonghyun agak berkerut.

“Kalian berkonsultasi satu sama lain?” tanyanya takjub. Aku hanya menyipitkan mata menatapnmya.

“Tentu saja. Kami tidak pernah main-main dengan pernikahan. Ini adalah kejadian sekali seumur hidup, dan suci. Pernikahan bukanlah hal yang patut dipermainkan,” jawabku tegas. Jonghyun hanya dapat menganguk dan membentuk bibirnya menjadi huruf O.

“Omong-omong, terimakasih ya. Kau memberikan saran yang bisa membuatku lega. Sejujurnya, aku ingin sekali tidak ada pihak yang tersakiti. Gadisku, ataupun orang tuaku. Aku tak ingin salah seorang dari mereka kecewa,”

Gadisku.

Agak sesak rasanya ketika mendengarnya menyebut seorang yeoja di luar sana dengan ‘gadisku’. Secepat inikah hatiku tertambat?

“Dalam hal seperti ini, agak sulit jika tidak ada pihak yang kecewa. Kecuali jika saling terbuka dan tidak keras kepala, kalian bisa menemukan penyelesaiannya,”

Jonghyun tersenyum. Sangat tampan sekali. “Kau membuatku memantapkan pikiran. Gomawo,”

Degh…

Tuhan, sekali ini saja, tolong aku.

Aku tahu kenapa dan darimana debaran ini.

Ne, cheonmaneyo,” ungkapku dengan senyum tulus. Senyum yang sebenarnya kupaksakan untuk keluar bukan sebagai senyum orang kasmaran.

“Sebagai tanda terimakasih, kopi hari ini aku yang traktir,” ujarnya dan tersenyum lagi. Kalian tahu, ini baru hari kedua aku bertemu dengannya.

Hari kedua dimana pertama kali kurasakan sendiri debaran yang sering temanku ceritakan sejak dulu.

Hufft… kenapa baru kurasakan sekarang, ya?

__

“Oh Taeri-ssi,” sapaku menatap gadis cantik yang baru saja sampai di sanggar kami. Gadis itu menoleh dan tersenyum.

Unni, bisa beritahu aku dimana Seul Ran unni?” tanyanya sopan. Suaranya imut dan lembut. Aku terpana kali pertama mendengarnya.

“Ah, dia sedang di ruang penyimpanan gaun. Katanya yang kau coba kemarin terlalu polos, ya?” tanyaku sambil menyiapkan beberapa daftar pilihan gaun yang disediakan di label butik yang sama dengan gaun yang kemarin.

“Ah, ye. Sebenarnya itu kata Kim ahjumma, ia ingin menambahkan beberapa aksesori, atau mengganti dengan gaun yang lebih banyak payetnya. Padahal aku lebih suka yang polos seperti itu, lebih cantik dan elegan,”

Aku hanya tersenyum mengerti. “Mau diantar ke ruang penyimpanan gaun?” tawarku. Tapi Taeri menggoyangkan tangannya, menolak.

“Tidak usah unni. Jonghyun oppa sedang dalam perjalanan. Aku tahu dimana letaknya,” ujarnya sambil tersenyum manis. “Gamsahamnida,”

Ye,” jawabku sambil membungkuk.

“Jung Dae Hyeon-ssi,” sebuah suara membuatku mendongak. Aku agak terkejut.

“Kim Jonghyun-ssi,” aku tersenyum kaku menatapnya. Hari ini dia tampan sekali. Tuhan, salahkah aku?

Degh…

“Jadwal kita hari ini apa?” tanyanya enteng. Aku menerjapkan mata dan menunduk membaca agenda. Hari ini pemilihan gedung, plus dekorasinya. Tapi apa selesai, ya?

“Kita berdua survei gedung. Sekalian cari dekorasi. Taeri-ssi akan mendaftar para tamu undangannya. Dia mempercayakan semuanya padamu,” jawabku lancar. “Aneh, harusnya kan kalian berdua yang menentukan, kenapa ini malah berbagi tugas?”

“Ck. Kalau dikerjakan bersama, waktunya akan lama karena satu persatu. Kalau dibagi kan, cepat beres. Toh kalau pernikahan ini terjadi dan kami harus berpisah dengan pasangan masing-masing, juga akan menjadi pernikahan yang tak berarti,” jawabnya. Aku mengangkat sebelah alis.

“Yeah, Tuan Patah Hati yang sedang berceramah. Memang kau siap jika harus berpisah dengan yeoja-mu? Memang kau tidak merencanakan apa-apa dan menurut pada orang tuamu nanti?” tanyaku bertubi.

“Kalau kau mem-provokatori seperti itu dan diketahui ibuku, kau tidak akan dibayar karena berusaha menghancurkan acara pernikahannya,”

Aku mendengus tertawa melihat wajahnya yang serius itu.

__

“Hari ini kau bertemu dengan yeojachingu-mu?” tanyaku, berusaha bersikap sebbasa mungkin. Jonghyun fokus mengendarai mobil tapi ikutan melirik ketika aku bertanya.

“Sudah tiga hari ini dia tak menjawab teleponku. Kupikir dia agak marah dengan berita pernikahanku,” jawabnya agak ketus. Oho, mood-nya memang sedang tidak baik. Lihatlah, sedari tadi wajah itu hanya tertekuk seperti anjing bulldong kegemukan.

“Ah, begitu. Dia agak shock, mungkin. Perasaan wanita sangat sensitiif terkadang. Tapi maaf ya, bukan bermaksud mencampuri urusanmu, tapi siapa nama yeoja –mu itu?”

“Namanya Shin Sekyung. Orang yang sangat perfeksionis dalam urusan pekerjaan, dan di satu sisi merupakan orang yang sangat kekanakan. Warna favoritnya peach dan dia suka dengan pantai dan matahari terbenam,”

Oh yeah. Shin Sekyung-ssi, beruntunglah kau dicintai oleh seorang Kim Jonghyun. “Pernikahan seperti apa yang diinginkannya?” mendengar pertanyaanku, Jonghyun terdiam. “Waeyo, Jonghyun-ssi?”

“Aku… tidak tahu,” ungkapnya ragu. “Apakah aku harus menanyakannya?”

Aku mengangkat bahu. “Tergantung, sih. Dijaman sekarang, biasanya pasangan muda mulai memikirkan pernikahan. Yah, meskipun ada yang bersikap masa bodoh dan hanya menunjuk bridesmaid serta wedding organizer setelah itu ikut peraturan,”

“Kau nampak berpengalaman, ya,” aku tersenyum kecil mendengar gumamannya.

“Jadi, kau ingin melanjutkan mencari dekor besok saja?” tanyaku santai.

“Terkadang suasana hati Taeri berubah. Aku belum mendiskusikan warna yang diinginkannya, kalau aku menelponnya maka itu akan membuang waktu dan pulsaku. Toh tinggal itu saja, kan?” sahut Jonghyun.

“Baiklah, untuk mengembalikan passion hidupmu, kita jalan-jalan ke Myeongdong. Kurasa pria sepertimu itu tipe ikan kerapu. Rautmu serius dari tadi,” usulku. Keningnya sedikit berkerut.

“Apa maksudmu dengan ‘kerapu’?”

“Kerja-rapat-pulang,” jawabku enteng. “Kalau bukan Myeongdong, Apgeujong-dong saja. Di situ cocok untukmu. Kau terlalu banyak fitness sehingga badanmu menjadi menggelembung seperti itu,” lanjutku sambil menatap aneh otot lengannya yang menonjol. Ia tertawa keras.

“Memangnya di sana ada apa?”

“Kau pernah wisata kuliner? Apgeujong-dong standarnya sama dengan restoran mewah,”

“Baiklah, baiklah. Terserah kau saja,”

__

Aku melangkah mengiringi Jonghyun yang masih memakan sate ikannya dengan lahap. “Kau pertama kalinya makan itu ya?”

“Eung? Hm… ye,” jawabnya singkat dengan mulut penuh sate ikan. Sudut bibirnya malah belepotan saus. Aku terkekeh kecil melihatnya. “Kenapa kau tertawa?”

“Hah, tak apa. Sudut bibirmu belepotan saus tuh,” jawabku sambil tersenyum jenaka. Ia mengelap sudut bibirnya sendiri lalu nyengir aneh. “Kau pernah makan bayi gurita?

Mwo? Gurita?”

Ne. Gurita mentah. Kau pernah mencobanya? Aku yakin kau akan suka, kkk~” selesai aku berkata, ia tak langsung menjawabku. Sadar-sadar kurasakan Jonghyun membeku di sampingku. Membeku? Memang dia es? Kk~

Reflek aku menoleh ke arahnya yang seperti terpaku melihat seseorang. Terpaksa aku mengikuti arah pandangnya. Hanya seorang namja yang menggandeng tangan seorang yeoja. Mereka kelihatan mesra, dan si yeoja terlihat cantik sekali. Otakku langsung berpikir kalau itu Shin Sekyung, pacar Jonghyun.

Damn…” umpatnya pelan. Aku mengerutkan kening.

“Itu… Sekyung?” tanyaku, ikut dengan suara pelan. Ia tidak menjawab, tapi hanya melangkah dan membalikkan tubuhnya dengan rahang mengeras. Yah… terpaksa aku cari taksi untuk pulang.

Author POV

Dae Hyeon sedang asyik memainkan smart phone-nya sambil bermalasan di kasur. Kasus groom-nya ini membuatnya butuh ekstra tenaga dan uang. Bagaimana tidak? Sebagai bride’s maid yang memiliki ‘kelas’ harus memastikan bahwa pernikahan yang akan mereka tangani memang berdasar dari hati kedua mempelai. Bukan karena paksaan atau ancaman dari pihak manapun. Dan dalam kasus Jonghyun-Taeri, jelas mereka butuh konsultasi dan dorongan serta semangat untuk menyerukan suara mereka.

“Ck, sepertinya aku harus meminta kenaikan honor. Uangku terkuras lumayan hanya untuk naik taksi gegara kasus Jonghyun itu. Tapi itu nampak sangat konyol bukan? Ckckck,” gurau Dae Hyeon pada dirinya sendiri.

Kimi wa ima mo my love~

Rikai shite agera rena kata~

Watashi ga warui mo~

Nanishite mo~

Futari no sekai omoidasu~

I’m lost without you~ (Nicole KARA – Lost)

Dae Hyeon mengangkat alisnya ketia ponselnya tiba-tiba berdering. Ia mencermati rangkaian nomor tak dikenal yang muncul sambil membiarkan nada deringnya berbunyi sebentar karena itu lagu favoritnya. “Yoboseyo?”

“Dae Hyeon-ssi?” kedua alis Dae Hyeon terangkat mendengar suara di seberang.

“Kim Jonghyun-ssi? Darimana kau tahu nomorku?”

“Kartu namamu,” di seberang Jonghyun memainkan sebuah kartu nama milik Dae Hyeon yang ia dapat di meja resepsionis. Dae Hyeon hanya membentuk huruf O dengan bibirnya.

“Kenapa? Kau butuh curhat lagi?”

“Tidak, aku hanay ingin menelponmu. Memangnya tidak boleh?” darah Dae Hyeon berdesir dan jantungnya menjadi tak karuan mendengar kalimat itu.

Geotjimal(jangan bohong), aku tahu ini tentang Sekyung,” Jonghyun nyengir di seberang meski Dae Hyeon tak bisa melihatnya.

“Ish, awalnya aku ingin merayumu,”

“Tidak akan mempan, Kim Jonghyun-ssi. Sekarang epat katakan masalahmu. Aku bukan orang yang suka membuang-buang pulsa demi sesuatu yang tak penting,”

“Kau sudah punya pacar ya?” goda Jonghyun lagi.

“Ya, geumanhae(hentikan). Cepat katakan masalahmu,”

“Aish, baiklah. Pertama, aku minta maaf tadi meninggalkanmu tanpa mengantarmu pulang,” Dae Hyeon mengembangkan senyum tipis.

“Lalu?”

“Lalu,” Jonghyun berdeham sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya.”Apa menurutmu aku harus mulai mencintai Taeri?”

Dae Hyeon mendengus keras, hingga Jonghyun di seberang telepon mendengar desahan kesal itu. “Katamu Taeri sudah punya pacar. Kau mau jadi pihak ketiganya?”

“Ah ya, aku melupakan Lee Howoon itu,” desis Jonghyun. Dae Hyeon mengangkat sudut bibirnya.

“Sudah kubilang kan, Jonghyun-ssi. Ikuti kata hatimu. Kalau kau merasa Sekyung lah jodohmu, kejar dia. Tapi kalau kau ingin menyerah akan Sekyung maupun Taeri, kau bisa membuka lembar baru,”

“Yeah, kau benar. Aku terlalu kalut karena takut Sekyung akan pergi dariku. Dia gadis nekat, kau tahu?” Jonghyun tertawa sumbang. “Gomawo. Bercerita denganmu membuatku sedikit lega. Jongmal gomawo. Annyeong,”

“Hm, cheonmaneyo. Annyeong,” Dae Hyeon menghela napas setelah ia menutup telepon. “Andai kau tahu kenapa aku bersedia sepenuh hati membantumu, Kim Jonghyun-ssi,”

__

“Aku akan benar-benar menikahi Taeri,” gumam Jonghyun tiba-tiba ketika Dae Hyeon dan ia sedang mengunjungi sebuah toko untuk memilih dekor. Dae Hyeon yang sedang berkonsentrasi dengan pita dan model lampu tiba-tiba terdiam dan menatap Jonghyun.

“Apa maksudmu? Bukankah kau memiliki rencana untuk kabur dari pernikahan ini?” Keningnya sedikit berkerut. Sementara pria yang mengantongi tangannya di saku jeans tanpa melakukan apa-apa itu hanya menghela napas dan menunduk.

“Tadinya, iya. Tapi kupikir… Sebaiknya kulanjutkan saja,”

“Sekyung, kan? Karena gadis itu?” Tebak Dae Hyeon asal. “Kemarin kita bertemu dengannya,”

“Tuh, kau sudah tahu,” sungut Jonghyun. Dae Hyeon hanya mendengus kecil dan kembali berkeliling toko, diekori Jonghyun.

“Memangnya kenapa dengan gadis itu?”

“Kurasa… Dia sudah menyerah padaku,” ujar Jonghyun lagi, emosi menguasai perkataannya. Dae Yeon hanya diam tanpa menatap Jonghyun, terus melakukan tugasnya tetapi telinganya masih siaga mendengar cerita pria itu. “Kau tahu, katanya ia benar-benar sudah menyerah. Kemarin, dia kencan buta dengan kenalan temannya, katanya namanya No Jihoon. Kemarin ia baru menghubungiku,”

“Dia yang menghubungimu atau kau yang menghubunginya?” Dae Hyeon melirik Jonghyun sinis. Jauh dalam hatinya, dibalik sikap dewasa dan penuh perhatian pada Jonghyun itu, ia menyimpan rasa sesak yang sangat. Jonghyun mendengus dan menunduk. Ketahuan.

“Hh… Aku yang menghubunginya,” jawabnya seolah ketahuan. “Oh, Dae Hyeon-ah, kau tahu aku sangat mencintainya,”

Deg…

Tolong, jangan panggil aku seperti itu. Dae Hyeon menggigit bibirnya yang bergetar, mencoba meredam degup jantungnya saat ini.

“Kalau dia menyerah, lantas kau juga ikut menyerah? Kau percaya dengan kata-katanya? Kau tidak tahu sifat asli wanita?” Cerocos Dae Hyeon tanpa henti. “Lain di mulut lain di hati. Camkan itu,”

Dan Jonghyun benar-benar terpekur(kayak ayam aja).

“Jadi, bagaimana menurutmu?” Dae Hyeon akhirnya menoleh menatap Jonghyun sambil mengacungkan pita dengan motif perak dengan pinggiran bordir putih atau pink mengilat dengan motif jahitan di tepi dengan benang perak. “Mana yang cocok?”

“Aku tidak tahu,”

“Ya, di sini yang mau menikah itu siapa? Harusnya kau yang memilih ini,” Dae Hyeon menyerahkan salah satu pita itu pada Jonghyun.

“Ish, kemarin memangnya backgroundnya apa? Aku lupa,”

Dae Hyeon memutar kedua bola matanya. “Kita pilih warna gading Tuan Kim,”

Dae Hyeon POV

“Seul Ran-ah, D-5 Seul Ran!”s eruku tertahan sambil mengecek kalender. Tapi wanita yang sedang sibuk dengan buku telepon itu bergeming. “Ya, kenapa kau sama sekali tak bereaksi? Biasanya kau sudah menjerit seakan kau pengantinnya,” tanyaku bingung. Tapi Seul Ran hanay mengangkat bahu lalu menutup buku telepon di tangannya.

“Taeri tidak bisa dihubungi, gadis itu lenyap bagai angin. Sedari kemarin yang membantu untuk souvenir itu ibunya,” ujar Seul Ran tiba-tiba lesu.

“Lalu?” tanyaku sambil mengangkat alis.

Seul Ran memutar kedua bola matanya sebelum memelototiku. “Kalau pernikahan ini batal bagaimana? Hyah! Bagaimana dengan Jonghyun? Dia tidak kemana-mana, kan?”

“Tentu saja. Aku sudah memberitahunya untuk membantuku mengecek ulang ball room untuk resepsi,” aku memiringkan kepalaku lalu menatap Seul Ran heran. “Bukankah mereka memang tidak saling mencintai, Seul Ran-ah?”

Bola mata Seul Ran bergerak-gerak gelisah. “Ya, ya, ya, aku tahu. Kau yang menceritakannya padaku. Entah Taeri kabur bersama Howoon atau memang sedang menyendiri,”

Klining

Klining

Kami terpaksa mengakhiri perdebatan itu dan bersiap menyambut pengunjung. Seul Ran membenarkan posisinya di meja resepsionis, sementara aku berdiri agak jauh darinya.

Annyeong, Dae Hyeon-ssi, Seul Ran-ssi,” aku hampir melonjak dan menjerit tapi tetap emaksakan tubuhku untuk membungkuk dan menerbakan senyum.

“Jonghyun-ssi, kau tidak bersama Taeri?” cerocos Seul Ran sambil berkacak pinggang. Tapi kening Jonghyun berkerut bingung.

“Taeri? Oh, dia sedang kemah dengan Howoon. Yah, akal-akalanku supaya pasangan itu bisa menikmati waktu bersama,” ujarnya santai, tapi Seul Ran mau-tak mau melongo.

“APA?!”

“Lalu bagaimana dengan Sekyung?” tanyaku keceplosan. “Ups, maaf,”

Jonghyun nyengir kuda. Shit! Dia jadi makin tampan kalau begitu. “Hehe, kalau aku minta bantuan kalian, boleh?”

__

Flashback

“Sekyung-ah,” panggil Jonghyun parau. Pria itu tengah berdiri di depan sebuah pintu rumah kecil, matanya sayu karena semalaman tidak tidur.

Tok tok tok

“Sekyung-ah,”

Srakkk

“Mau apa kau?!” itulah dia. Itulah sosok yang dirindukan Jonghyun. Itulah wajah yang selalu mengisi mimpi Jonghyun selama ini. Sayangnya, tatapan gadis itu berubah. Benci dan… sakit?

“Sekyung-ah, dengarkan penjelasanku dulu!!”

“Penjelasan apa Kim Jonghyun? Tak cukupkah kau membuatku bimbang selama ini? Tak cukupkah kau membuatku diambang keputus asaan saat undanganmu datang ke rumahku hah?!” suara gadis itu langsung melengking.

“Sekyung-ah, jebal, dengarkan aku dulu!”

“Kau mau apa huh? Apa kau tidak malu, sudah mau menikah masih mengunjungi gadis lain?!” air mata sudah mengalir menciptakan dua sungai kecil di kedua pipi Sekyung. Jonghyun terdiam. Dia tak ingin melihat gadisnya menangis seperti ini.

“Pergi,” ucap Sekyung pelan setelah menyeka airmatanya. “Pergi,”

Tapi Jonghyun masih bergeming.

“Kubilang pergi!! Nappeun!!”

BRAKK

Flashback end

Jonghyun sudah menceritakan padaku sedetail-detailnya cerita drama itu. Oh, maaf, bukan drama, tapi kejadiannya sendiri. Dimana Sekyung jelas-jelas menunjukkan kalau dia masih cinta mati pada Jonghyun. Yah, dan disinilah aku sekarang. Di depan rumah Sekyung untuk memastikan kalau gadis itu ikut datang ke upacara pernikahan ‘gadungan’ Jonghyun.

Tok

Tok

Tok

Cklek…

Kukedipkan mataku berulang kali ketika melihat sesosok perempuan memakai baju tidur dan rambut berantakan.

“Sekyung-ssi?”

Gadis itu nampak bingung. “Nuguseyo?” oh, haruskah aku bilang kalau aku ini bride’s maid-nya Jonghyun?

“Kau belum bersiap ke gereja? Upacara pernikahan dimulai dua jam lagi,” ujarku, akhirnya memilih menghiraukan pertanyaan Sekyung. Kusadari tatapan gadis itu menyipit.

“Kau suruhan Jonghyun?” bahuku turun mendengar nada sinisnya.

“Bukan, bukan begitu…”

“Bilang pada pria bernama Kim Jonghyun itu, jangan ganggu aku lagi!” Sekyung memelototiku sebelum ia berusaha menutup pintu. Oke, ini demi Jonghyun!

Set

Aku menahan pintu rumahnya, mencoba tersenyum semanis mungkin sambil melangkah masuk. “Kurasa kita butuh berkenalan lebih dekat lagi, nona Shin,” ujarku tenang. Sekyung hanya menatapku dengan mata yang disipitkan.

“Apa maumu? Aku lelah, tolong jangan ganggu aku,” Sekyung berkata dengan nada lelah dan gusar. Aku menatapnya lekat.

“Namaku Jung Dae Hyeon, dan aku harus membuatmu datang ke upacara pernikahan Jonghyun sekarang,” ada benarnya juga aku datang lebih awal, lihat, percakapan ini saja memakan waktu setengah jam. Ah, usaha agar Sekyung mau mendengarku.

“Bisa keluar? Aku muak mendengar semua omong kosongmu. Memang kau pikir apa gunanya aku di sana huh? Apakah dia mengharapkan melihat seorang perempuan meracau di hari pernikahannya? Hah? Dia ingin menghancurkanku lagi, hah? Jadi dia tidak puas kalau tidak ada sosok terluka di sekelilingnya? Jadi, aku harus bunuh diri di hari pernikahannya, di depan matanya, kalau perlu?” oceh Sekyung panjang lebar. Aku menatapnya, pantas saja. Shin Sekyung, kau selalu mengekspresikan perasaanmu, ya?

“Karena aku percaya kau kuat. Kau harus muncul di depannya, bukan sebagai perempuan yang terluka tetapi sebagai perempuan yang tegar. Kalau kau ingin menghilangkannya dari hidupmu, harusnya kau hadapi dia dulu. Bukannya masuk dalam kondisi terpuruk seperti ini, yang malah mengundang belas kasihan orang lain,” sahutku ikut panjang lebar. Ia nampak terdiam.

“Tapi itu rasanya sakit sekali…” gumamnya pelan. Aku menatapnya lekat, yah, dia memang sedikit kekanakan.

“Shin Sekyung-ssi, untuk menjadi seorang yang kuat memang penuh lika-likunya. Kau mungkin bertanya-tanya siapakah aku, mengapa aku mengocehimu seperti ini, apa hubunganku dengan seorang Kim Jonghyun, tapi, aku hanya ingin kau bahagia. Apapun yangterjadi nanti di pernikahannya, hadapilah dengan tegar. Setelah ini, carilah kebahagiaanmu sendiri. Uljima~ cepat mandi dan bersiap!” aku mengusap air mata yang turun ke pipinya, lalu menepuk bahunya agak keras. “Kkaja!”

__

Bisa kurasakan tangan Sekyung mencengkeram lenganku kuat, kuperhatikan sedari tadi ia berusaha santai. Kami berdua duduk di baris ketiga dan para tamu mulai datang memenuhi gereja. Aku dan Seul Ran harusnya menggiring pengantin, tetapi Jonghyun memberi kami tugas lain. Bisa kurasakan kursi kosong di sampingku diduduki Seul Ran dengan pelan.

“Jonghyun sudah masuk?” bisik Seul Ran. Aku menggeleng. “Aku sudah bawa Howoon ke sini,” bisiknya lagi.

Otomatis aku memutar kepalaku menatapnya, penasaran dengan sosok Howoon. Kutemukan seorang pria duduk di samping Seul Ran dengan ekspresi datar. Tampan juga. Aku kembali mengarahkan tatapanku ke depan ketika lonceng gereja mulai berbunyi.

Aku tahu, meski aku ada di sini tanpa mementingkan perasaanku yang hancur berkeping-keping, setidaknya ada yang akan berbahagia.

Cinta tak harus memiliki, kan?

Author POV

Seul Ran tahu, sangat tahu kalau ekspresi Dae Hyeon sangat kaku sejak awal acara. Tatapannya kosong ke depan, dengan tangan yang dibiarkan menjadi sandaran untuk Sekyung. Tapi, Seul Ran sama sekali tidak tahu mengapa. Ia mengabaikan Dae Hyeon dan kembali menatap altar, karena Taeri yang memakai gaun pengantin sudah menghadap Jonghyun.

“Hadirin sekalian, pada hari yang bahagia ini kita akan menyaksikan pengikatan suci antara dua insan yang tengah berdiri di depan altar ini,” pendeta dengan tenang membuka upacara. “Sebelum upacara ini diteruskan, apakah ada pihak yang merasa keberatan dengan berlengsungnya pernikahan ini?”

Taeri yang sedari tadi menatap kosong ke buket bunga yang digenggamnya mengangkat wajah. “Saya,” ucapnya lantang. Tapi Jonghyun nampak biasa saja.

Sang pendeta terkejut. Begitupula para orang tua mereka. Ayah Taeri berdiri dengan berang. “Apa maksudmu Oh Taeri?!” Taeri berputar menghadap ayahnya.

Aboeji, berapa kali aku harus mengatakan bahwa aku tidak menginginkan pernikahan ini? Aku dan Jonghyun sama sekali tidak mengharapkan pernikahan ini,” ia turun dari altar dan berlutut di depan ayahnya. “Terimakasih atas semua yang kalain lakukan demi kebaikanku. Tapi kebahagiaanku itu aku yang menentukan, aku mohon,”

Ayah mupun ibu Taeri tak bisa berkata. Mata Taeri mulai berkaca-kaca, lalu ia berdiri dan membungkuk hormat. “Jongsonghamnida, aboeji, eomonim,” Taeri membalikkan tubuhnya dan berlari ke depan pintu gereja, dimana Howoon sudah menunggunya dengan tangan terulur dan sebuah senyuman.

Ya, satu pasangan telah menemukan kebahagiaannya. Dan kini semua mata beralih pada Jonghyun. Kini giliran pria itu. “Aboeji, eomonim, aku memang ingin menikah. Tapi bukan dengan gadis tadi. Ada gadis yang ingin kunikahi, tolong restui aku dengannya,” ujarnya yang sudah turun dari altar. Ia melangkah menuju barisan ketiga, dimana Sekyung berada.

Dae Hyeon berusaha, sangat berusaha untuk tidak menangis. Sekyung di sampingnya hanya membeku ketika Jonghyun sampai padanya, bahkan berlutut di depannya. “Sekyung-ah, menikahlah denganku,”

Dae Hyeon sudah tidak kuat. Ketika Sekyung digiring ke depan altar oleh Jonghyun, Dae Hyeon menyelinap keluar gereja. Sesak di dadanya semakin kuat, tapi ia berusaha untuk tidak menangis. Tangannya mencengkeram kuat sesuatu di dalam tasnya. Tiket pesawat menuju LA.

__

Los Angeles,

5 years later

Dae Hyeon mengaduk latte-nya dengan tatapan kosong, sehingga pria di depannya kembali menatap aneh ke arahnya. Mereka berdua sedang jalan-jalan di kompleks perbelanjaan The Grove dan beristirahat di salah satu coffee shop yang ada. “Susan, what are you thinking?”

Susan baru sadar setelah pria di depannya mengetukkan meja di depannya. “Oh, yes, Brandon. What’s wrong?”

You’re daydream-ing again?” pria tampan bertubuh besar—Brandon Routh kembali bertanya dengan ekspresi cemas ke arah Dae Hyeon.

Dae Hyeon menggeleng. “No. I’m just… thinking of something,”

Of what?”

Daeo Hyeon menatap Brandon. “Is it okay if we’re liking someone who already married?”

Brandon berhenti menyesap americano-nya dan menatap Dae Hyeon. “That guy? Again?” Dae Hyeon mendesah.

It’s hard to forget him, really,” gumam Dae Hyeon. Brandon hanya menatapnya.

I’ll help you. Just come to me, Susan,” ujar Brandon. Dae Hyeon menatapnya tak percaya.

Help me?” Dae Hyeon menganga. Jujur saja, ia masih tak bisa melupakan Jonghyun. Kepergiannya ke Los Angeles memang sudah direncanakan jauh-jauh hari, dan setelah hari pernikahan itu, Dae Hyeon memutuskan semua hubungan kontak, kecuali dengan Seul Ran.

“Hm… I don’t know. But I want to change him in your mind. How it looks?” ungkap Brandon dengan senyuman. Dae Hyeon hanya menatapnya.

Please don’t joking again,”

I’m not joking, Susan. I’m seurious. Be mine, please,” Brandon menatap Dae Hyeon lurus. Ia menggenggam tangan Dae Hyeon yang ada di atas meja. “I love you,”

Dae Hyeon makin kacau. Ia menunduk dan menggigit bibirnya, lalu menatap Brandon dan memaksakan senyum tip[is. “Give me more time for that,”

Brandon tersenyum. “I’ll waiting,”

FIN

Oke, sekarang, jangan timpuk saya. Plis #plakh. Iyaa, iya. Saya tau. Ini hancur beneran. Ini gaje beneran. Ini aneh beneran. Ini kacau beneran. Ini jelek beneran #diinjek#ditendang. Maafff banget yak *bowbowbow* Maafff Inggris saya agak bobrok dan maksa banget dimasukin, yang ada jelek-jelekin doang ya gak?#PLETAK!

Maakasih yang udah baca, tambah makasih lagi kalo ninggalin komen. Hehehe~ sampai jumpaa (?)

©2011 SF3SI, reenepott

signaturesf3siOfficially written by reenepott, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

49 thoughts on “Because I Can’t Say That I Love You”

  1. ya ampun si Jjong, diawal peranannya sinis amat gak spt Jjong yang biasanya..

    Happy ending untuk Jjong-Taeri dgn pasangan masing2 😉
    Tegar bgt si Dae Hyeon membantu Jjong-Sekyung biar bisa berbahagia..

    eeh, ini happy ending-kan ya? 😀

    Ok Reene, ditunggu karya lainnya.. 🙂

    1. Huehehe… aneh banget yak?? T^T Yeah, sudah berpikir itulah yang terbaik buat mereka… (??)
      Sebenernya, aku juga ga tau ini happy ending atau bukan ._.a Soalnya Daehyeon masih cinte sama si Dino -_-
      Yeapp~~ gomawo yaaaa XD

  2. hwah..
    Jadi makin cinta jjong.. Hahaha..
    Daehyeon, semoga suatu saat kau bahagia juga..
    Daan, reene-ssi.. Keep writing!

  3. Ohoho…
    Happy 1/2 Sad ending ne?
    Si jjong dan taerin akhirnya bisa menikah dengan pasangan masing-masing~
    Tapi kasian juga si dae hyeon, dia bisa langung jatuh cinta sama pesonanya si bling, dan sadly perasaannya gak kebales…
    Daebak!! Jarang banget aku nemu ff keren kayak gini 😀

  4. Ohoho…
    Happy 1/2 Sad ending ne?
    Si jjong dan taeri akhirnya bisa menikah dengan pasangan masing-masing~
    Tapi kasian juga si dae hyeon, dia bisa langung jatuh cinta sama pesonanya si bling, dan sadly perasaannya gak kebales…
    Daebak!! Jarang banget aku nemu ff keren kayak gini 😀

    1. Setengah”? Huaduh, mampus deh aku X_x #digetok
      Yeah.. banyak kan kisah tragis begunu? Nunggu keajaiban noh kalo mau Jjong jadi cinte sama Daehyeon… #PLAKPLOK!! XDD
      Keren apa gaje? O_o #diinjek
      Gomawo yeeee XDD

  5. RenePottttt…. Gimana? masih galau Ujian ya?? hahahaha

    Ishh.. Jinja.. kenapa harus Sekyung coba?? mentang2 mau nongol di layar TV swasta… #iklan mode On KENAPA BUKAN AKU? #CapsJebol

    ceritanya apa y? gampang-ganmpang susah ditebak sih. mau nebak yang gampang, pastinya gak mungkin abis masa si Renepot mau bikin cerita yang model begonoan,,

    Dae hyeon!! aku gak percaya loh klo perasaan kamu ke abang Ojjong itu cinta. palingan kagum do’ang. iyakan? iya dong? iaalah?? #Maksa
    Oke Ren!! aku acungin jempol buat ending yang berani dan sedikit nekad. iyakan? hayooo ngaku???

    Semangat deh Ren!!! Happy B’day abang Ojjong!! MOGA MAKIN GANTENG, JAIL, ISENG, LUBANG IDUNG LEBAR -upps,kelepasan. Idungnya gak bengkok lagi ntar dikira kembarannya albus Dombledore ya>>hahahaha

    Sorry ren!! jadi rusuh Komentnya…. klo gemes Jitak Taemin aja ya!! bbyong!!

    1. BEEHH… sangking galaunya, sampe ga mau belajar!!!! #digetok Hehe… kagak juga sih, cuma pasrah ajadaaaah u,u
      Kenapa Sekyung?? Karena dia cantiiiiik sekali di Fashion King. MUAAAAA~~~~ (??)
      Maksudnya reenepott ga mungkin bikin cerita yang begonoan?? Begonoan gimane maksudnya???? hayolooo…… #slapped

      Emang. Belom ketahuan cinte apa kagak. Cuma, yang fakta itu dia crush gitu sama Ojjong. HUAKAKAKAKAK!!! #ditampol
      Ending yang nekad ya?? Huekekekekeke~ Nekad banget ye aye masukin aktor Superman yang ganteng badai ntoh #PLAKHHH!!

      Iya niiiy… si Ojjong perbaikin tuh ke idungnya yang semula…. muahahahah!!!! #diinjek XDD
      GOMAWO YEAAAAA~~~~~~ *cium* #PLAK!
      *bbuing bbuing~* (??)

  6. iseng2 baca…aku kira ini bakal haru biru sendu gitu, trnyata masih dikasi bumbu humor..suka deh 😀
    ahahihii..yg seharusnya ending happy total malah ada sepercik ending sad *?* gegara Daehyeon… salah sendiri si Jjong handsome..xD

    suka :D… jarang2 aku suka ff tipe beginian soalnya… hahahaa
    keepwriting ya Reene! 😀

    1. adahumor nya ya?? Huakakak, itumah udah ciri khas (??) dari yang bikin kali yak muahahah #ditendang
      Heuuhh.. emang ini endingnya rada gaje gajelas aneh gimana gitu huhu (??)
      GOMAWO YAAAA XDD

  7. annyeong readers baru disini .. iseng iseng nyari ff shinee nemu ini dan ini super kece.. walaupun akhirannya ngegantung sih,,udah wanti wanti jonghyun sama daehyeon.. keep writing ya thor…

    1. yolooo… diwanti-wanti… huahahahah #ditendang
      gantung ya? Yaah…. diriku emang rada error kalo suruh bikin ending yang totally seneng apa sedih (??) –>apaini
      Nde, gomawo yaaaaw ^o^

  8. honestly, aku gak suka sama endingnyaa~ *nangis di pojokkan*
    Tapi cara penulisan, kata-kata semuanya bagus kok
    cuman endingnya itu yang bikin nyesek

    1. Kenapaa?? pengennya hyeon sama jjong ya??? XDD Atau ga rela jjong sama sekyung?? huakakak #ditimpuk
      Hureeeeyy akhirnya ada yang nyesek juga XD #PLAK #dirajam1blog XDD
      gomawo yaaa udah komen ^o^

  9. hmmmm……….perasaan dae hyeon kyknya udah dalem tuh ma bang jjong
    cinta kilat ne?*ngarang besar
    as always reenepott your ff actually ‘deliciuos for eat’*bhsa inggris yg belepotan
    keep writing

  10. Ending nge-gantung! Kesukaan saya! *toss*

    Bikin ending ngegantung itu……… Bahagia ngeliat comment penasarannya readers, tapi bingung kalau ngeliat comment “sequel please”nya readers-_- *krik*

    Johaeyo~ aku suka, Dae Hyon bijak banget. Jujur, aku agak kaget pas nama inggrisnya Dae Hyon itu ‘Susan’, tiba-tiba langsung kayak “Cita-cita Susan apa?” “Susan mau jadi Insinyur,” *krikkrikkrik*

    1. Duuh.. kalo bikin ngegantung juga kadang-kadang kepikiran lagi buat bikin sequel…. kepikiran terus sih! #dijitak XD Tapi emang buatku lebih seru bikin ending ngegantung. readernya jadi bisa berimajinasi sendiri kalo gak puas muahahah!

      IIH!! Susan itu aku kepikiran sama karakter Susan di film Narnia huakakakakakak!! #ditabok makanya jadi aneh gimana gitu (??)
      huaaa… trims yaa komennya ^o^

  11. as usual, ffnya reene pasti unpredictable endingya o.O
    soalnya aku kyk reader lain, kirain jjong bakalan sama dae hyeon, ehh ternyata kembali ke sekyung. rada kasian si daehyeon *pukpuk tabahkan hatimu nak, udahlah sama si bule aja kamunya #eh
    etapi si daehyeon ini cepet banget sukanya sama jjong! kkk~ semacam cinta kilat gitu 😀
    okelah karya lainnya ditunggu ya 🙂

    1. Huakakak!! itu artinya otakku nyeleweng-nyeleweng kali yak? muahah!! #diinjek XD
      Hh.. sebenernya mau buat angst yang aaangggggssst banget. tapi kayaknya aku belum bisa deh u,u jadinya malah begunu. huuh aneh kan?? #plak
      Iya, heran juga aku. (LHOO) love at first sight kali ya? #DUAR
      Ne… gomawo yaaaa ^o^

  12. speechless baca endingya bener-bener gak terduga……
    tapi tetep nyayangin kenapa si Dae Hyeon gak terima cintanya si Brandon sih??? kasian tau digantungin terus! wkwkwk
    pokoknya ditunggu karyanya yang lain thor 😉

    1. Iya. kalo aku jadi Daehyeon juga bakal kusambet tuh si Brandon, cowo cakep kaaaan ._. #diinjek #dibuang
      Yaahhh namanya juga cinte laaah, Brandon mah setia menunggu ampe Daehyeon membuka hatinya (cie ileeeeee bahasa gue#plak!)
      Ne~~ gomawo yak XDD

  13. Love ya~ Suka deh sma endingnya terkesan nggak neko2 dan nggak cengeng. Karakter awal Dae-nya bsa berubah juga ya? segitu besarkah pesona om Dino? Ahai, good deh buat reene, btw aku suka tulisan kamu, kls 3 smpa udah bagus, aku dulu masih cemen bgt, jauh lah pokoknya.

    Keep writing!

    1. Soalnya, aku ga bisa bikin ending cengeng. pernah nyoba dan itu gagal bangeeeet -_-”
      Haaaa kaya ga tau si karakter seorang Dino-head dalam dunia perfanfictionan, CETAR MEMBAHANA GITUUUH #PLAKPLOK #DUARR #abaikan
      Enggak juga ah, aku kan juga masih perlu belajar banyaaaaak sekali (??) XD
      Thankies yaaaa!! *hug*

  14. Nyahahaha, ngakak nih pas bagian menggelembung2 itu, bwahaha, lawak penggunaan katanya.

    Ini bagus kok, tapi paling engga banget dgn keputusan pergi ke LA. Ya… masa gegara gitu doang jd kabur. Yaelah, cinta emang maut ya, wihihihi

    selamat berjuang buat UN ya ren ^^

    1. Masalahnya gimana yah? Yaaaah kayak orang cemenan di sinetron-sinetron lah. Ngomelin orang sih bisa, tapi nyali sendiri ciut. nah, gitulah perumpamaannya (lho?)
      Ne~~~~~ gomawo ya biib!!!! *hug eraterat* XD

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s