Forward – Part 7

Title: Forward

Author: HeartLess & Bibib Dubu

Beta-Reader: Kim Nara

Main Cast:

  • Lee Jinki
  • Kim Heera
  • Kim Jonghyun

Length: Multi Chaptered

Genre: Romance, Life, Little Psychology

Rating: PG-13

Forward

Note:

The story is written all based to Author’s POV

Disclaimer:

We don’t own all idols/artists. They are belongs to God, their family, and their agency. We put their names only for the purposes of this fanfiction.

 

***

 

Musim sesaat lagi akan berganti. Panas yang menyiksa kulit akan terlupakan seiring dengan warna dedaunan yang menguning ataupun menampakkan pigmen coklatnya. Dalam hitungan hari atau minggu, dedaunan akan berserakan mencium pemukaan Bumi.

Memang betul, tanah adalah tempat kembalinya banyak hal. Itulah poin pertama yang membuat Heera menyukai musim ini, karena selalu membuatnya teringat bahwa hidup hanya sebuah awal untuk sebuah dunia yang lebih abadi. Dedaunan pula yang selalu membuat matanya terpukau, meski jauh dari semua itu otaknya sudah berulang kali memuji sisi lain dari organ terpenting pepohonan itu. Mengagumi bagaimana daun akan selalu setia mengabdi pada alam.

Setelah puas berfotosintesis di musim sebelumnya—musim panas—daun tidak lantas menjadi serakah mengumpulkan sumber bagi kehidupannya. Ia seakan mengorbankan diri, berbaur dengan tanah dan kelak terdekomposisi diserang mikroba tanah. Kemudian ia tulus menghibahkan hara yang berguna untuk keberlangsungan seluruh kehidupan di muka bumi. Hara akan terserap oleh tanaman, membangun energi bagi pelahapnya—manusia dan hewan. Lantas, daging hewan akan menjadi penyumbang komponen lemak untuk dikonsumsi manusia. Rantai makanan yang harmonis akan menjaga keseimbangan alam. Sungguh sederhana, tapi memukau.

“Kibum-ah, boleh kubuka jendelanya? Aku ingin melihat keajaiban alam, kau tahu aku suka sekali dedaunan.” Heera meminta izin pada sepupunya yang tengah sibuk memfokuskan diri pada kemudi.

Ckck, kalimatmu sedikit berlebihan, Nuna. Tapi memang, semua yang ada di alam ini sesungguhnya merupakan keajaiban,” tanggap Kibum sekenanya, tanpa berpikir lebih dalam.

“Ya, dan yang cukup membuatku terkesima adalah dedaunan itu. Kalau hanya menggunakan mata, aku hanya tahu warnanya indah, dari hijau bisa berubah menjadi coklat, kuning, bahkan ungu. Tapi di atas semua itu, gugurnya daun berikan manfaat untuk makhluk lainnya. Aku bertanya sekaligus mengkritisi diriku sendiri. Belakangan aku lebih banyak ‘terseret duka’, lupa bahwa diriku bisa menjadi seperti daun. Aku merindukan aktivitasku, bersama organisasiku,” papar Heera sembari mengusap wajahnya yang tak berkeringat. Dari suaranya, bisa disimpulkan bahwa terdapat segunung kerinduan dan seulas rasa sesal di dalamnya. Keindahan musim gugur bukan hanya bernilai seni belaka, melainkan sebuah penggugah.

“Kerinduanmu akan segera terjawab sebentar lagi, Nuna. Kau akan berpikir bahwa selama ini ada yang luput dari pandanganmu, bahkan kalau beruntung kau bisa melihatnya juga.” Senyuman puas terulas di bibir Key. Niatnya untuk mulai membangkitkan jiwa Heera yang sedang ‘tertidur’ rupanya disokong oleh alam. Lewat musim yang terus berbagi jatah waktu.

Ish… kau sok misterius,” timpal Heera penasaran. Sejak semalam ia bertanya-tanya apa gerangan maksud Key mengajaknya ke suatu tempat yang bahkan belum ia ketahui hingga detik ini. Tempat macam apa? Panti asuhan? Panti Jompo? Panti penampungan, atau rehabilitasi pecandu narkotika? Tidak bisa Heera pastikan jawabannya karena Kibum selalu mengatakan bahwa ini adalah topik lama yang akan menjadi sesuatu yang baru bagi Heera.

“Sebentar lagi, Nuna. Sabar adalah kunci utama hidup selain keuletan, kejujuran, dan rasa percaya diri. Itu yang sering kali luput dari dirimu, kau sering tergesa-gesa,” balas Kibum cepat.

“Terima kasih telah mengingatkan, kau benar. Belakangan aku berpikir bahwa diriku ini tidak cukup sabar dan sering terburu-buru menarik kesimpulan. Aku takut bahwa selama ini ternyata banyak yang kusalahpahami.” Sesuatu yang tak jelas apa itu, diam-diam merambati hati Heera. Yeoja itu hanya tahu bahwa feeling seringkali dapat menjawab beberapa pertanyaannya. Sayangnya, selama ini ia sering mengabaikan komponen itu dan lebih menyerupai pria yang gemar berlogika. Tapi kali ini bisikan itu semakin jelas, menerornya dengan pernyataan: kau salah, kau gegabah.

“Hmmm, mungkin. Tapi, kenapa kau merasa seperti itu?” Pandangan Kibum masih tidak lepas dari jalanan.

“Aku merasa beberapa kali salah, tapi belum kutemukan letak pasti ketololanku itu. Aku takut menyesal karena pemikiranku selama ini. Tentang Jonghyun, tentang Jinki, tentang hubungan eomma-appa, juga tentang jati diriku. Berputar di sekitar titik-titik itu, tapi belum kupastikan mana yang salah kumengerti,” ungkap Heera tanpa jeda berarti. Yeoja itu menyelipkan helaian rambutnya yang diterpa angin agar bersemayam rapi di balik daun telinga.

Sepupunya lagi-lagi tersenyum, entah apa maksudnya. Hanya saja pria itu memang merasa bahwa senyum adalah jawaban dan tanggapan terbaik untuk beberapa situasi, termasuk sekarang. Sesaat kemudian hanya satu tangannya yang memegang kemudi, tangan yang lainnya pelan-pelan beranjak mengambil sesuatu dari saku kemejanya. “Ini untukmu,” ujarnya santai.

Sebungkus permen yang terkenal dengan rasa asamnya, tersodor dari tangan Kibum, jelas ini membuat Heera terbengong. “Permen? Maksudmu?” Yeoja itu tak mengerti.

“Untukmu, Nuna. Untuk dimakan, lalu untuk apa lagi?” Kibum terkekeh, ditutup lagi dengan senyuman, kali ini sepertinya sedikit bermakna aneh.

“Oo, gomawo.” Heera membuka bungkusnya, mengeluarkan camilan paling adaptif di muka Bumi ini. Permen, makanan kecil yang mampu menyesuaikan diri dengan cita rasanya yang beraneka jenis. Diemut Heera pelan-pelan.

“Nah, berguna juga ternyata. Supaya kau bungkam, berhenti merutuki kesalahan. Intropeksi itu perlu, tapi bukan berarti terus menyalahkan diri. Lebih baik kau sibuk dengan permen, Nuna.” Tergelak, Kibum terlihat sangat puas setelah melihat ekspresi tolol wajah Heera beberapa detik kemudian.

Alih-alih merasa kesal pada Kibum, Heera memang mengakui bahwa yang diucapkan sepupunya tidak salah. Ia hanya pasrah bergumam, “Hmm, begitu ya.”

***

“Kau sudah berkonsultasi dengan doktermu? Apa yang dikatakannya?” Jaejoong sedang bertatap muka dengan pasiennya yang bernama Lee Jinki—yang kali ini tampak lebih muram, seolah awan mendung menaunginya tanpa henti sepanjang waktu.

Sang pasien hanya mengangguk pelan. “Sudah, kondisi tubuhku masih cukup baik. Setidaknya masih aman. Tapi beliau lebih menyarankanku untuk menemuimu dibanding mengganti jenis terapi obat untukku,” jawab Jinki lugas. Dalam hatinya ia cukup bersyukur bahwa tidak ada perubahan list obat-obatan yang harus dikonsumsinya. Kalau ada, suatu pertanda dimana artinya: tingkat kesiagaan bertambah.

“Bagus, aku turut senang mendengarnya. Kau mampu, hidupmu bisa bertahan lama kalau terus seperti ini.”

“Tapi aku takut!” Jinki menyela, membuat Jaejoong harus fleksibel dalam menghadapi dinamika percakapan ini. Kalimat Jinki masih tertahan, dengan ragu ia menatap Jaejoong yang tampak antusias mendengarkan. “Takut esok tidak hidup lagi. Tapi, sebenarnya aku jauh lebih takut bahwa besok hidupku masih diliputi rasa sepi,” lanjut Jinki lagi. Dua bola mata sendunya kemudian terarah pada jendela yang ada di samping, berusaha mencari pemandangan menarik tapi tak kunjung didapatkannya. Lagi-lagi, hanya sepi yang terhampar—halaman rumah sakit yang sepi.

Bukan pernyataan yang mudah untuk ditanggapi. Jemari tangan Jaejoong saling menautkan diri, saling memasuki celah di antaranya. Hati-hati betul ia memilih kata selanjutnya. “Kenapa berpikir seperti itu? Sejak kapan kau merasa dan sejak kapan pula kau menyadarinya? Hmmm, sesungguhnya ini bagus. Tidak banyak orang yang menyadari atau mau mengakui bahwa dirinya kesepian, karena semua itu akan dikaitkan dengan kekerdilan dalam berkomunikasi.”

Jinki tidak menanggapi, ia justru sibuk merobek-robek sehelai kertas yang tadinya tergeletak aman di meja Jaejoong. “Seperti ini,” katanya sambil memecah kesatuan serat putih itu hingga menjadi kecil-kecil.

“Maksudmu?” Jaejoong tak mengerti. Tapi ia tetap membiarkan mejanya dikotori oleh ulah tangan Jinki.

“Rasanya seperti ini, hatiku disobek-sobek tapi terkesan bahwa aku menikmati diriku terpecah menjadi banyak. Seperti jurus membuat bayangan di film ninja, aku seolah merasa bahwa diriku itu ‘banyak’–hingga mampu menolong dan menemani sesamaku. Padahal tidak bisa. Kemudian yang tersisa hanya aku yang perlahan menciut menjadi kecil tak berarti. Begitu sadar, aku sudah kehilangan banyak hal. Lembaranku tidak bisa lagi ditulisi dengan aneka kisah penuh warna.”

“Siapa bilang? Walau kecil dan tidak bisa dipenuhi dengan kata, tapi masih bisa dihiasi dengan warna dan dijalin dengan tekun membentuk kerajinan tangan indah. Jinki-ssi, banyak hal-hal kecil yang tidak pernah terbesit dalam otakmu, padahal sebenarnya hal itu merupakan sebuah keindahan yang tak ternilai. Kalau kau mau, aku akan mengajakmu, menunjukkan sebagian kecil dari miliyaran indah yang ada. Siapa tahu, kau bisa menentukan warna cerah apa yang sebaiknya kau rangkai esok.”

“Maksudmu?” Giliran Jinki yang dibuat bingung.

“Komunitas, kau butuh melihat itu. Kau butuh rekan dan sabahat seperjuangan, kau juga butuh melihat sebuah spirit dan nilai-nilai kehidupan yang esok harus mulai kau selipkan dalam dirimu,” tandas Jaejoong yakin. Sudah lama ia ingin mengutarakan ini, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat. Tatkala Jinki merasa dirundung sepi. Saat itulah mungkin Jinki berminat untuk keluar dari dunianya sendiri—yang hanya memiliki satu penduduk, yaitu seorang Lee Jinki saja.

“Aku tidak mau. Bergabung dengan mereka hanya akan membuatku merasa sakit,” tanggap Jinki tegas.

Jaejoong tidak berputus asa. Menurutnya Jinki hanya masih tertidur, pintu pikirannya belum terbuka. Masih harus diketuk berkali-kali. “Kenyataannya kau memang sakit. Tapi bukan itu yang terpenting. Dengan bergabung bersama mereka, kau tidak akan lagi merasa sepi. Akan ada orang yang mengerti penderitaanmu, rasa sakitmu, serta mendukung dirimu untuk terus mengarungi hidup. Aku yakin semangatmu akan bertambah dengan sendirinya nanti. Kau jelas tahu, banyak di antara mereka yang berjuang untuk hidup meski mayoritas dipeluk oleh kematian dengan cepat, dan beberapanya lagi memang sejak awal berpasrah diri menunggu malaikat maut memisahkan raga dan ruhnya . Ah, satu lagi. Ini bukan masalah berapa lama kau masih akan hidup, dari mereka kau akan menyadari bahwa sebenarnya yang terpenting dari kehidupan ini adalah perihal kebermanfaatan hidup itu sendiri.”

“Bisa kau jelaskan apa gunanya menjadi bermanfaat?” Pertanyaan Jinki terdengar lebih mirip sebuah sindiran dari mulut orang yang telah menahun dikecewakan hidup. Seperti orang yang membenci kehadiran manusia manapun dalam dunianya.

“Sederhananya, menjadi bermanfaat itu tidak akan pernah membuatmu merasakan kesepian. Jadi, bicara tentang keuntungan, sudah jelas. Kau mendapatkan apa yang kau mau, ‘kan?”

***

Kondisi itu berbalik, bukan eomma-nya yang terbaring di ranjang rumah sakit, melainkan Jonghyun. Siang ini Minho memaksa Jonghyun agar bersedia menjalani rawat inap. Sudah beberapa hari sahabatnya itu tampak seperti manusia menunggu ajal. Jonghyun lebih mirip patung lilin dibandingkan manusia, berdiam diri di teras sembari memandangi langit. Tidak mau makan, tidak pula bersinggungan dengan kamar mandi. Ia hanya mau bereaksi ketika eomma-nya yang datang, itupun hanya tersenyum dan menitikkan air mata. Mungkin terharu melihat eomma-nya sudah sehat pasca operasi pendonoran ginjal itu.

Berulang kali Jonghyun dipaksa untuk makan tetapi jawabannya hanya berupa gelengan pelan. Jelas wanita itu pontang-panting memikirkan kondisi anak kesayangannya. Tidak ada yang tahu kenapa Jonghyun seperti itu, sebelumnya namja itu masih baik-baik saja ketika mengantarkan eomma-nya ke ruangan operasi.

Datanglah Minho, bak hero yang menolong setiap manusia yang terlihat membutuhkan bantuan. Namja jangkung itu tanpa banyak tanya, langsung meraih tubuh Jonghyun ke dalam gendongannya di punggung. Tidak ada jalan lain untuk memasukkan nutrisi ke dalam tubuh Jonghyun kecuali melalui infus. Tubuh nelangsa Jonghyun itu bisa semakin digerogoti panas jika terus dibiarkan.

“Tidak ada penyakit parah pada tubuh teman Anda itu. Ia hanya butuh asupan makanan. Sebetulnya, masalahnya ada di sini.” Dokter yang menangani Jonghyun angkat bicara begitu Minho mendatangi ruangannya. Tangannya tetap bertengger di dada untuk beberapa saat.

“Hati? Maksudmu masalah kejiwaan? Temanku… gila?”

Aniyo, bukan gila, itu terlalu berlebihan. Sepertinya ia sedang punya beban berat. Aku bukan ahli kejiwaan yang bisa memancingnya berbicara. Mmm… ajaklah dia berbincang, siapa tahu dia mau terbuka pada sahabatnya.” Dokter itu tersenyum, tak lama tangannya menuliskan sebuah nama di secarik kertas.  “Kalau perlu, datangi saja temanku, dia mungkin bisa membantumu. Namanya Kim Jaejoong, praktik di rumah sakit ini juga.”

Minho hanya mengiyakan. Pikirannya sibuk melanglang buana ke percakapannya dengan Jonghyun di restoran Jepang beberapa waktu lalu. Saat itu, memang jelas terlihat bahwa Jonghyun sedang menyembunyikan sebuah problematika. Satu yang Minho sesali, ia terlalu pengecut untuk mendesak sahabatnya. Akhirnya semua beban menumpuk di pundak Jonghyun tanpa bisa terluapkan.

Harusnya Minho sadar sejak awal, orang bergolongan darah AB cenderung sensitif dengan kata. Minho kembali memikirkan alasan kemarahan Jonghyun terkait dengan kata ‘kotor’ yang awalnya hanya candaan itu. Harusnya Minho juga sadar, Jonghyun bukan seperti dirinya yang bergolongan darah. AB-line cenderung menarik diri, boleh diibaratkan seperti petapa yang gemar bersemayam di sudut tenangnya. Berbeda dengan B yang lebih terbuka.

“Sepertinya aku mulai paham,” simpul Minho beberapa saat kemudian. Pertengkaran di restoran itu, pasti ada pemicunya. Tidak semata-mata karena sebuah kata yang salah melesat. Minho tidak tahu pasti apa itu, tapi ia tahu ke mana dirinya harus melangkah setelah ini.

“Hmm… sampai ia mau makan, kurasa sebaiknya ia tetap mendapatkan infus. Semoga kondisi ini cepat berubah,” ujar dokter itu lagi.

Ne, semoga saja. Kalau begitu saya permisi dulu, terima kasih atas bantuannya.”

***

Mata itu tidak terpejam. Bagaimana bisa namja itu menutup kelopak matanya kalau setiap kali itu terjadi, maka muncul kenangan-kenangan buruk yang menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya. Senyum seorang yeoja tidak pernah bisa luput, terlebih isak tangisnya—yang bunyinya bahkan seakan menggema—membuat pria itu lantas menarik keras-keras rambutnya dalam kebisuan.

Jelas ia menyesal. Satu masalah besarnya memang selesai, tetapi ada hati yang harus terlukai, ada cinta yang harus direlakan, dan ada kelam baru yang terbit setelahnya. Seorang Kim Heera sungguh masih menjadi penguasa hatinya hingga saat ini. Jonghyun sadar betul bahwa tidak ada jalan untuk memperbaiki hubungannya dengan Heera. Sekalipun berlutut berulang kali, semua itu hanya akan merendahkan harga dirinya saja. Sia-sia, tidak akan ada maaf yang terlontar dari mulut Heera. Bahkan, bisa jadi Heera menusuknya dengan kata-kata yang lebih menyakitkan, Jonghyun merasa tidak akan sanggup mendengarnya. Bukan tidak mau mendengar makian Heera, tapi khawatir telinganya menangkap bunyi tangisan pelan Heera. Khawatir emosinya tersulut lebih parah lagi dan berujung dengan mengeluarkan balasan yang akan lebih menghancurkan perasaan Heera. Sakitnya akan menjadi ribuan kali lipat.

“Jonghyun-ah… ceritakan pada eomma, Sayang… jangan seperti ini terus.” Di samping namja itu, seorang ibu menunggunya membuka mulut. Sinar teduh yang dipancarkan wanita itu belum mampu merobohkan dinding baja yang Jonghyun bangun.

Sama seperti sebelumnya, pria itu hanya bisa terisak. Pertanyaan eomma-nya hanya membuatnya bertambah sedih. Selain Heera, Jonghyun merasakan ketakutan. Cemas jika suatu hari nanti Tuhan murka karena jalan yang telah diambilnya, jalan yang jelas Jonghyun sadari kesesatannya. Takut jika suatu saat nanti kemurkaan Tuhan itu akan disampaikan melalui nasib yang paling menyakitkan—kematian eomma-nya.

Semua pikiran-pikiran itu terakumulasi, terus berputar-putar bak pusaran air. Meluluhlantakkan semua pembelaan diri yang selama ini telah disusunnya baik-baik. “Eomma, mianhae, mian, mian, mian,” mulutnya terus berujar seperti itu seiring dengan air mata yang mengalir bebas.

“Sayang, apa yang harus eomma maafkan? Kau tidak melakukan kesalahan apapun. Dan andai kau memang melakukan sebuah kesalahan yang tidak eomma ketahui, akan eomma maafkan selama kau tidak membunuh dan mencuri.” Wanita itu menarik kepala Jonghyun ke dalam pelukannya, mengelusnya lembut dengan kasih sayang seorang ibu pada anaknya.

Melihat keadaan Jonghyun yang seperti itu jelas membuat Nyonya Kim merasa sedih sekaligus bersalah. Ia tahu, selama ia sakit, Jonghyun telah banyak menanggung banyak penderitaan. Bukan hanya itu, sepanjang hidupnya Jonghyun telah banyak menderita dan mengalah demi dirinya. Tapi apa yang bisa diperbuatnya kini di saat Jonghyun sedang terpuruk? Tidak ada, kecuali mati-matian menahan agar air matanya tidak turun.

Eomma… apa benar Tuhan akan bermurah hati memberikan maafnya? Eomma, aku takut.”

“Tentu, maaf Tuhan itu luas, asal kau memintanya dengan tulus.”

Jonghyun mengangguk-angguk dalam dekapan ibunya. Kehangatan wanita itu mampu membuat hatinya sedikit tenang. Pelan-pelan ia mulai mencoba memejamkan mata agar kepalanya sedikit terasa ringan. Terkadang sebuah naungan hangat bisa jauh lebih efektif daripada berjuta kata. Meski tidak lantas memberi penyelesaian, tak juga lantas mengurangi beban pikiran, tetapi mampu memberikan rasa percaya bahwa masih ada  orang yang peduli.

Tentang Heera, semuanya telah usai. Benar-benar tidak ada yang bisa diperbaiki, buntu begitu saja. Pria itu hanya bisa berharap bahwa Heera akan menemukan kebahagiaan barunya, lekas sembuh dari lukanya dan menjadi Kim Heera yang biasanya. Hanya do’a yang tersisa, senjata terampuh menurut orang-orang. Harapan kecil lainnya, ia ingin takdir tidak menambah lukanya dengan kembali bertemu Heera. Dua bulan semoga cukup untuk melupakan semua tentang Heera. Bukankah pria memang seperti itu? Mudah melupakan luka, juga mudah membuang cerita cinta lamanya.

Jjong, kau pernah berpikir apa yang terjadi kalau suatu hari kita putus?

 

Kalimat yang pernah Heera lontarkan beberapa bulan silam, kembali singgah di ingatannya. Saat itu dengan keras ia membantah, “kita tidak akan pernah putus. Kecuali kematian memaksa kita.”

Siapa tahu? Aku memang tidak berharap itu terjadi. Aku suka kau yang sangat peka dengan kondisiku. Aku suka dengan pria kuat sepertimu. Aku tidak butuh pria berkantong tebal dan bertemankan mobil mewah. Aku hanya ingin pria yang bisa menjadi penyeimbangku.

 

Balasan Heera masih ia ingat dengan jelas. Air mata kembali mengalir dari balik kelopak mata Jonghyun yang terkatup. Getaran halus mulai menyelip di dalam suara tangisnya. Ternyata, takdir memang punya kisahnya sendiri. Kala itu Jonghyun memang meyakini bahwa kisah cintanya dengan Heera akan tetap bertahan. Tapi siapa sangka, dirinya pula yang memulai keretakan hubungan ini. Getaran suara Jonghyun semakin kuat, di dalam memorinya kini terputar kembali lanjutan percakapan tadi.

Andai memang terjadi. Berarti itu yang terbaik untuk kita. Kau harus yakin bahwa aku akan kembali berdiri tegak. Kau tidak perlu merasa bersalah jika suatu hari Tuhan tak merestui hubungan ini. Hidup dan segala urusan jodoh memang tidak selalu indah seperti dongeng. Saat itu, mari kita berjalan dengan pilihan masing-masing.

 

Uljima… kau tidak ingin membuat ibumu sedih dengan tangismu, ‘kan?”

Jonghyun seakan tidak memedulikan pertanyaan eomma-nya. Ia terus menangis, bahkan sesekali sesenggukan. Diremasnya pelan bagian belakang baju eomma-nya. Tak ada hal lain yang bisa ia lalukan untuk melampiaskan rasa kesal. Ada satu titik di mana seorang Kim Jonghyun merasa dirinya tidak berguna. Ia tahu bahwa tidak ada hal yang bisa memutar kembali hal-hal yang telah terjadi. Sebuah penyesalan hanyalah penyesalan, tidak akan menarik kembali segalanya—apalagi membuat semua permasalahan lantas terselesaikan begitu saja. Tapi sewajarnya, seperti itulah manusia.

“Drama yang mengharukan,” dan suara itu lantas membuyarkan interaksi kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Seolah mimpi buruk, hanya dengan suara tersebut, seperti membubuhkan sebuah goresan baru bagi batin Jonghyun. Langkah kakinya bahkan terdengar seperti sebuah kutukan.

Wanita itu berdiri angkuh di ambang pintu, menjejakkan kakinya beberapa langkah menimbulkan suara seperti klotak, klotak—dari hak sepatunya—pada lantai. Kehadirannya bagaikan sebuah tabuhan beruntun yang tak beraturan di atas sebuah gendang, memberi nuansa tegang yang semakin memuncak.

Dan tanpa disadari, setitik kecil kecemasan di dalam hati Jonghyun mulai menyeruak. “Apa yang diinginkan wanita ini?” Demikian bisik di dalam sela-sela degup jantungnya.

Tangan putih halus itu terjulur tatkala langkah mempersempit jarak di antara kedua ibu-anak  yang sedang berbagi kasih tadi, lantas ia menyentuh halus pada pundak wanita sebayanya. Jelas berbeda, wanita pendatang itu terlihat berkilau, dipersenjatai dengan hias-hias permata yang memenuhinya beberapa titik tubuhnya. Siapapun yang melihatnya akan tahu ia bukanlah dari kalangan biasa.

“Apa kabarmu, Minhwa-ssi?” Garis senyum wanita itu tertarik di kedua sudut bibir, bukan sebuah senyuman tulus meski terlihat demikian. Lirik matanya sekilas menangkap sosok pemilik sepasang bola mata yang menatapnya getir, seringaian samar ia gariskan.

“Kudengar operasimu berjalan lancar, aku sungguh ikut senang mendengarnya,” katanya, tanpa membiarkan respon terucap dari lawan bicaranya, ia meneruskan, “aku sangat prihatin dan khawatir ketika mendengarmu sakit keras Minhwa-ya. Bagaimanapun kita adalah teman lama.”

Jonghyun masih menatap tajam ke arah wanita itu. Dalam sorot mata itu ingin membisikkan permohonan agar wanita tersebut tak meneruskan pembicaraan ini lebih jauh. Ia mulai merasakan napasnya sedikit menderu, sebuah pertanda bahwa arah percakapan ini tidak akan menuju ke sesuatu yang menggembirakan. Ia terus memohon melalui tatap matanya, namun harapan tak selamanya membuahkan hasil yang baik. Ia bisa mendengar rontaan jantungnya sendiri sekarang, dilengkapi dengan keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya.

“Awalnya, aku sangat ingin membantumu sebagai seorang teman, Minhwa-ya. Karena itu aku menawarkan untuk mendonorkan dana bagi operasimu. Tapi kau harus bersyukur punya seorang putra yang baik. Jadi bantuanku rasanya tidak perlu lagi, hmm?” Lirik mata rubahnya seolah tersenyum menang. “Alih-alih menerima dana gratis, ia berkata bersedia membayar dengan apapun biaya yang mahal itu,” bisiknya licik. “Dan tebak, berapa ronde yang sanggup ia habiskan denganku?”

Bagaikan kapal yang menghantam keras gundukan karang, demikianlah terlukis jelas dari ekspresi Minhwa, ibunda Jonghyun. “K-kau bilang apa?” getar suaranya terdengar lirih. Ia berharap dalam sepersekian detik, sanggahan keluar dari bibir putranya yang selalu ia banggakan.

Ia berharap demikian. Namun melihat tangan yang hanya meremas kuat selimut sang penaung kasur, ia benar-benar kehilangan kata-katanya. Lalu tak pantaskah desak air mata berhambur membasahi permukaan kulit wajahnya? Apa yang lebih menyakitkan dari ini? Ia dan kesembuhannya, lalu putranya dan sesuatu yang orang sebut ‘zina’? Hanya dalam gelengan pelan, rasa tak percaya menggores sedikit demi sedikit perasaannya. Terlebih dengan suara tawa kemenangan yang terdengar memilukan. Ia harus bagaimana?

***

Choi Minho tak lagi mampu menahan dirinya. Telinganya tidak tuli, ia bisa mendengar rentetan percakapan tiga orang di dalam ruang inap Jonghyun tadi. Merasa dunia hanya disesaki pembohong dan pengkhianat, itulah yang bergejolak di pikirannya.

Eomma, aku tahu kau janda. Tapi, tidakkah kau punya harga diri? Cih!” Minho memang tak membanting daun pintu, ia masih sadar diri bahwa ini adalah tempat bersemayamnya raga-raga yang sakit. Tapi ia jelas marah besar. Kedua sudut alisnya naik, geliginya memunculkan bunyi gemeletuk, jelas tangannya terkepal dengan getaran yang bisa disaksikan mata telanjang. Pria itu berusaha meredam gerak tangannya agar tak sampai menghujami wajah Jonghyun ataupun menampar pipi ibunya sendiri. Ia hanya bisa melangkah mendekat, tergugu membiarkan hanya bola matanya yang menari-nari menyaksikan tiga kepala yang sama-sama tersentak kaget.

Perlahan Minho menurunkan kembali volume suaranya, tak ingin mengganggu ketenangan pasien lain. Sarat dengan getaran, mulutnya mencoba melanjutkan kata, “Eomma, aku tak ingin menjulukimu tante girang… baiklah, mungkin salahku juga karena tidak peka bahwa selama ini kau merasa kesepian. Eomma, aku tidak tahu apa yang ada di masa lalumu dan Nyonya Kim. Tapi tetap tak bisa kuterima, kenapa kau harus menjatuhkan pilihan kotormu pada sahabatku?” tersembur begitu saja lewat ucapan pelan yang disarati dengan tekanan tertahan.

Choi Minho dirundung pilu, dihujani segudang rasa sakit tak terdefinisikan.

“Minho-ya… kau mengenal Jonghyun? A-aku, ti-tidak tahu,” elak Nyonya Choi tergagap.

“Andaipun kau tahu, apa boleh kau melakukan perbuatan nista? Oke, kau tidak menyebutkannya secara gamblang, tapi aku tidak bodoh. Aku tahu kau telah bermain kotor dengan Jonghyun. Dan kau Kim Jonghyun, kau memang tak tahu apa gunanya sahabat, kau menderita seorang diri. Andai kau berterus terang padaku, uang bukanlah hal sulit bagiku. Tentu kau tidak harus menyakiti semua orang atas pilihanmu itu.”

Pria itu jatuh dalam tangis, Choi Minho tak lagi menunjukkan jati dirinya sebagai pria jantan yang gemar berolah raga. Ia dan Jonghyun saling menatap—tanpa makna yang bisa dituliskan dalam rangkaian kata.

Kim Jonghyun mendapatkan dua pukulan sekaligus hari ini. Ternyata, ada satu kejutan takdir yang menghajarnya. Bukan hanya bermain dalam dosa, menyakiti Heera, melainkan memberikan sebuah pengkhianatan bagi Minho. Lantas, apa yang harus dilontarkannya? Maaf saja tidak bisa mengungkapkan segenap sesalnya.

“Kim Jonghyun, detik ini aku harus percaya bahwa kau memang pria kotor. Aku tidak peduli lagi kau tersinggung dengan istilahku itu atau tidak, faktanya memang demikian. Kim Jonghyun, andai esok aku menjadi seorang pemaaf berhati mulia, boleh kau sapa aku lagi. Jika tidak, maka sabahat hanyalah sebuah kata tak bermakna bagiku. Selamat bercinta dengan ibuku, Kim Jonghyun!”

Menghilang di balik pintu, berlari sekuat mungkin keluar dari rumah sakit. Ia bisa gila, bisa terjangkit penyakit jiwa mendadak jika terus meluapkan amarahnya. Ia butuh lari menjauh, ke tempat manapun asalkan tak bertemu wajah dengan ibunya dan Jonghyun.

Choi Minho terkalahkan kisah hidupnya, semua rasa sayangnya pada Jonghyun terkuras habis oleh air mata luka. Choi Minho melayangkan tinjunya pada tembok di pekarangan rumah sakit, beruntunglah tulangnya tak remuk redam seperti perasaan tak terkendalikannya. Choi Minho pulang, berjalan pulang mengais sisa-sisa semangatnya untuk tetap berdiri.

***

Dari luar memang tak terlihat sesuatu yang istimewa, jalan setapak menuju bangunan itu dipenuhi oleh dedaunan. Tidak seram namun tak pula secemerlang penggambaran rumah mewah ala bangsawan. Daun pintunya terbuka setengah. Dari kejauhan mata memandang, sudah bisa terlihat bahwa di dalamnya terang benderang disokong cahaya mahahari yang menelusup dari casement window.

Kresek, kresek

 

Berulang kali bunyinya terdengar setelah dua pasang kaki menjejak. Dua kepala dengan sketsa emosi yang berbeda. Satu di antaranya, tak henti menendang-nendang kerikil ataupun dedaunan di sepanjang jalan yang ditapaki. Setelah melewati sebuah gerbang mungil, kepala pria itu bergerilya ke berbagai sudut pekarangan, rupanya ia sedang mencari satu atau dua kehidupan di luar bangunan. Sementara teman di sampingnya tersenyum penuh makna, sesekali ia menyibukkan diri dengan membenahi tali tas laptopnya yang merosot dari bahu.

Hembusan napas membaur dengan sunyi, gemerisik dedaunan rupanya tak kuasa mengenyahkan gusar di hati. Pria itu lantas membalikkan badannya, ia tak siap melangkah lebih lanjut. Dalam bayangannya, akan ada berbagai makhluk serupa dengannya, atau bahkan yang sedang frustasi menghitungi sisa hari kehidupan. Ada yang berbisik, makin lama makin mengeras—memekakkan telinga. Ada yang membujuk, perlahan berubah menjadi perintah, dan berujung pada paksaan. Diakhiri dengan desakan yang memojokkan jiwa.

Di dalam, akan banyak orang terbaring tak berkutik, tubuh mereka tinggal bersisa tulang, kulit mereka mengerikan—merah di sana-sini. Jangan, kau jangan masuk! Kau takut akan seperti mereka bukan? Kau akan tahu betapa batas hidup dan mati tinggal berupa detik, kau bukannya masih ingin hidup? Jadi, jangan, jangan sekali-kali kau masuk ke sana. Kau akan melihat orang cengeng, tersedu sedan saat mencurahkan beban hidup pada rekannya. Tidak, tidak, kau tidak boleh mendengar kisah mereka. Kau akan terpengaruh nantinya. Pulang saja, balut tubuhmu dengan selimut, makan buah dan sayur yang bagus untuk tubuh, dan kalau bisa berlibur ke tempat menyenangkan. Carilah kesengangan, temukan! Di tempat ini kau hanya akan merasakan hawa menyeramkan.

 

Pria itu tak mampu mengendalikan prasangkanya, ia hampir lari jika temannya tak menahan. Pinggangnya terpaksa meliuk lagi, membalik ke arah temannya. Kakinya semakin tak sabaran mengajak pulang, bahkan bergetar lunglai jika harus lebih lama lagi berdiri di sini.

“Aku ingin pulang saja,” pintanya takut. Temannya membubuhkan senyum sebagai balasan. Namun pria itu tak kunjung menampakkan raut wajah tenangnya, ia justru bertambah yakin dengan bisikan di telinganya.

“Tidak, tidak! Di dalam sana akan banyak kehidupan mengerikan, aku tidak ingin melihat yang seperti itu,” racaunya panik. Kedua matanya yang sudah sipit—bertambah sipit lantaran ia berusaha memejamkan matanya untuk menenangkan diri, namun gagal bersamaan dengan usainya kepala yang menggeleng berulang kali.

Temannya berusaha memeluk untuk menenangkan, ia berhasil meraih tubuh tadi—membuatnya beku dalam dekapan. Memang tidak mudah meluruskan pikiran pria itu, bayangan-bayangan seram mungkin menghantui beberapa orang. Dengan sabar temannya berkata, “Sama sekali tidak, siapa yang memberimu dongeng seperti itu? Justru kau akan melihat senyum penuh semangat serta jiwa-jiwa yang selalu ingin bangkit,” tuturnya tenang.

“Omong kosong. Jiwa mereka ingin bangkit, tapi raganya tidak. Kumohon, jangan paksa aku seperti ini. Aku tidak bodoh, aku bukan anak kecil yang bisa kau ajak ke tempat apapun tanpa protes.” Pria itu berusaha menghempaskan tangan rekannya, namun tak berhasil. Justru tubuhnya yang berhasil digiring sang teman ke bangku semen yang ada di tepian jalan setapak.

“Tidak ada yang mengerikan di dalam sana. Khayalanmu yang terlalu berlebih. Percayalah padaku, kau tidak akan menjadi tertekan dengan memasukinya.” Temannya berusaha meyakinkan sekali lagi.

“Tidak. Seorang Phra Alongkot Tikkandanyo[1] menyimpan puluhan lebih manusia di dalam wiharanya. Kurus kering,  tergolek menunggu nyawa dijemput. Begitulah isi tempat seperti itu. Kalau aku masuk, maka aku akan menemukan hal serupa,” argumennya. Jelas mentah. Halusinasinya saja yang memang bobrok, memojokkan batin pria itu sendiri.

“Astaga, ini terjadi di masa silam, saat fasilitas medis belum memadai. Lagipula, ia adalah pahlawan. Di saat dokter dan perawat rumah sakit terkesan waspada merawat pasiennya, ia justru tak segan meraih, mendengar keluhan, dan memberikan sentuhan. Kau tidak berhak mengecap wiharanya sebagai tempat suram. Di dalam sana, mungkin saja banyak orang mati bahagia karena merasa perjuangannya hanya tak dilalui seorang diri—masih ada relawan bersedia yang mengurusi. Bagiku tempat itu sungguhlah terang karena-”

Terpotong, pria tadi tak bisa bersabar menahan luapan ketidaksetujuan dalam deretan panjang kalimat temannya. Ia menyela kilat, “Bagimu, yang tidak mengalami kerusakan sel CD4[2]. Bagiku? Melihat penderitaan orang yang senasib, hanya akan membuat batinku semakin rapuh. Kau tahu tidak? Aku telah berjuang berat demi mempertahankan hidupku, berperang untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat meracuni otakku—bahkan rasa cinta terhadap yeoja. Tapi, di dalam sana mungkin pikiranku semakin terkulai.”

Awan berarakan pelan bak kura-kura melewati jalanan. Waktu memberikan hening sejenak bagi pria itu—untuk mengurai rasa, menumpahkan emosinya pada sandaran kursi yang didudukinya. Tubuhnya direbahkan ke belakang, membiarkan bilah-bilah kayu menyangganya. Ia terlalu lemah untuk membiarkan tulang punggungnya tegak, ia juga tak memiliki daya untuk memerintahkan kepalanya agar tegap menatap dunia. Mata sayunya bertambah meredup, tak ada lagi sinar ketika mencoba menelitinya. Ia hampir menutup kedua matanya kalau saja tak menyaksikan kedatangan seseorang.

“Hmmm, kau tidak merasa dirimu aneh? Kau bilang, kau bersusah payah bertahan karena ingin tetap hidup. Tapi, tanpa kau sadari sebenarnya kau ini merupakan aliran orang yang pesimis. Kenapa kau selalu memikirkan sisi buruknya?” Kalimat pria itu dimentahkan oleh sebuah suara asing yang tak pernah didengarnya, deretan kata milik orang yang baru datang tadi.

Orang asing itu tidak lantas diam, ia terus memberondong pria tadi dengan kalimat khasnya yang lugas, “persepsimu juga salah, tempat ini bukanlah tempat perawatan. Ini adalah rumah milik komunitas. Di sini, kau akan bertemu orang-orang luar biasa. Kau bisa saja bertemu dengan pengusaha kaya raya di dalam—padahal sesungguhnya ia menyimpan virus yang sama dengan apa yang ada di dalam tubuhmu, bisa jadi lebih parah karena penyakit sampingan yang muncul setelah sistem imun mereka tumbang. Tapi mereka biasa-biasa saja, menjalani hari layaknya orang normal. Mereka punya visi, mereka punya gairah hidup yang stabil, mereka tahu bahwa manusia itu makhluk sosial—berkomunikasi dengan sesama akan membuat mereka tak merasa sakit. Justru sikapmu yang menarik diri itulah yang akan menghancurkan hidupmu. Maaf aku berkata begini, Tuan yang baru kukenal. Ah, tidak, aku tahu namamu adalah Lee Jinki.”

“Ah, anak muda. Yang kau bilang benar, tapi tidak seperti itu cara menyampaikannya.” Teman pria tadi angkat suara setelah sebelumnya memilih untuk mengalah pada sang tamu yang lancang menyambar pembicaraan.

Jinki ingin menyerang habis-habisan sang pendatang yang sok tahu dan tidak punya sopan santun ini. Langkahnya sudah maju menghampiri orang asing tadi, rasanya ia ingin sekali merengkuh kerah atasan milik orang itu—sayang ia mengenakan v-neck yang jelas tak memiliki kerah. Jinki hanya bisa memandang orang itu dengan tatapan penuh luka. Ia tak tahu mengapa dirinya harus marah, tapi yang jelas batinnya serasa terseset perih mendengar ucapan orang itu, bagaikan menelan sindiran terpedas di dunia.

“Kau tahu apa? Jangan bicara dengan nada enteng seperti itu. Kau tahu tidak? Kau bisa saja menjadi sepertiku hanya karena percikan darahku. Bisa kulakukan kalau kumau, supaya kau bisa sedikit belajar menghargai perasaan orang lain,” amuk Jinki dengan kalapnya.

“Jinki-ssi, tenanglah. Kau jangan gegabah. Kalau kau tidak setuju, tidak usah kau hiraukan. Baiklah, baiklah, kita pulang saja sekarang.” Temannya tadi, Kim Jaejoong. Pria itu segera menarik Jinki dari posisinya, ia membimbing langkah Jinki menjauhi rumah itu. Rencananya kali ini harus gagal karena orang yang tak disangka, ia sesungguhnya merasa kesal—tapi ini bukan saat yang tepat untuk menyampaikan amarah.

Pria asing tadi berdecak. Ia tak mau lagi ambil pusing, tangannya saling memegang siku di atas kepala. Ia membiarkan rongga dadanya menggembung agar oksigen terkumpul banyak di dalam paru-parunya. Setelah dirasa cukup, ia mendesah panjang, ternyata kepalanya tidak seringan yang disangka, ada sedikit rasa bersalah membersit. Ingin berbalik dan melangkah kembali pada sebuah mobil di belakang sana—yang dipunggunginya, berjarak lumayan jauh darinya—namun ragu.

Tangannya lantas beranjak merogoh saku celana, meraba lesu demi mendapatkan sebuah ponsel. Diketiknya sebuah pesan singkat:

Nuna, ternyata benar. Dia seorang penderita AIDS.

Di dalam mobil sana seseorang hanya mampu diam mematung setelah menatap layar ponsel. Ia merasa miris hingga impuls syaraf motoriknya tak bekerja dengan baik. Tak ada pergerakan, Heera hanya bisa terdiam. Mungkin memang benar bahwa hidup ini penuh dengan kejutan. Banyak hal-hal tak terduga, bahkan terlalu mengejutkan, mampu membuat kita merasa segalanya menjadi seolah terbalik 180 derajat. Apakah benar bahwa fakta yang diketahui belakangan selalu susah untuk diterima?

Ia bukan picik, bukan pula terlalu memandang hina. Tapi bukankah sebuah hal manusiawi apabila seseorang menjadi kelu kata-kata ketika ia mengetahui rahasia yang tak pernah sekalipun ia sangka akan terkuak? Bahkan ketika seseorang tersebut adalah orang yang paling ingin ia selidiki sekalipun, akan tetap menjadi hal yang terlalu menghantam—sulit untuk bisa langsung asertif dalam kondisi seperti ini. Bukankah itu adalah teori psikologi-reaksi yang mendasar?

Heera memejamkan matanya, menarik napas dalam. Ia tahu tidak seharusnya mengambil sikap seperti ini. Ia bukannya lantas membenci Jinki karena penyakitnya—yang baru saja ia ketahui. Ia tidak merasa jijik, tidak seperti yang Jinki—mungkin—pikirkan andaikata ada manusia lain yang mengetahui perihal penyakitnya itu. Selayaknya manusia normal, ia hanya butuh satu hal. Waktu untuk bisa berpikir dengan jernih, karena tidak ada manusia yang bisa melakukan hal tersebut ketika merasa terpukul. Tidak ada.

To Be Continued

Catatan kaki:

Tentang daun:

[1] Tentang Phra Alongkot Tikkandanyo dicuplik dari Buku Jika Ia Anak Kita ‘AIDS dan Jurnalisme Empati’ milik Irwan Julianto

[2] Sel CD 4: sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit. CD 4 pada orang dengan sistem kekebalan yang menurun menjadi sangat penting, karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam memerangi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Source

45 thoughts on “Forward – Part 7

  1. akhirnya publish juga
    wah pilihan kata katanya bener bener daebak
    orang yg ngirim pesan singkat itu Key kan?

    nggk sabar pengen baca lanjutannya

  2. OMO! Jd ternyata bnr Jinki kena HIV/AIDS O.O
    Ahh.. pantas saja..
    Td aku pikir yg tiba² muncul it slh satu penghuni(?) dtempat it.. Tp trnyata Kibum yaa.. Jd Kibum ngajak Heera k tempat rehabilitasi pnderita AIDS dan g sengaja liat Jinki. Trus Heera nyuruh Kibum buat nyari tahu..Gt bkn ‘.’)? Selanjutnya bagaimana? Semoga Heera bisa mmbntu Jinki.. Tp Jinkinya gt, susah bgt brintraksi dg org lain..
    Tp Jonghyun.. huks sumpah yaa byesek banget baca scene nya Jjong. Issshhhh… Pengen rasanya ngebejet-bejetmulut eomma nya minho -ngomong2 tbakanku bner si ajhumma it eommanya minho kkk- bener² tuhh ajhumma. Minho jd marah kn ama Jjong. Trus eomma nya Jjong… Aaahh Jjongie yg sabar ne..huks…jd kangen Jonghyunnie oppa, lekas sembuh ne oppa..
    “AB cenderung sensitif dengan kata. AB-line cenderung menarik diri, boleh diibaratkan seperti petapa yang gemar bersemayam di sudut tenangnya” <- sangat setuju. huwaa oppa qt sama kkk

    1. yuhuu~ saya datang~~
      yep…kira2 sperti itulah… hehe..
      woah ud nebak toh si ahjumma ntu eomma minho? haha… bejek aja aku dukung #eh
      AB line ya?

      gomawo ud mampir ^^ ^^ ^^

  3. ya ampun.. bener ya eomma-nya Mino si tante girang(?) Kasian amat si Jjong, masalahnya banyak banget.. ..

    Eeh iya, baru ngeh kalo orang asing itu Key setelah dia smsin ttg Jinki ke Heera..
    Gmana Jinki bisa kena AIDS Bib? udah diceritaan belom di part sebelumnya? Mian, saya agak2 lupa..

    Kira2 ini sampe part berapa ya? udah lama gk baca ff yang lebih dari 6 part..

    Ok HeartLess n Bibib, ditunggu part selanjutnya..🙂

    1. hi lydiaeonni^^ HeartLess yg tengah insome here hoho…

      kl penyebab Jinki bisa terinfeksi rasa2nya sih blm diceritain secara ‘gamblang’ tp mgkn kalo msh inget part2 sblmnya…ada petunjuk(?)dibaliknya (ciee sok misterius amat gw)

      yoo yoo we’ll give our best…gomawo^^

      1. Annyeong ikut nimbrung ne..hhehe..
        soalnya aku tertarik dg komennya heartless-ssi. Aku keingt sesuatu, samar2 siihh.. enth it part brp, klo g slh Jinki nyebut² soal yeoja. Yeoja yg ad dmasa lalunya, wkt dia msh kecil gt klo g slh. Nahh klo yg in aku ingt bnget, karena bagian it aku jd komen gini -> “jgn² jinki prnh ngalamin plecehan wkt kecil”
        Apa mngkin itu penyebab Jinki trkena AIDS? O.O

    2. @taurusgirls: waduh…kasihtau gak ya?? #eh #plak
      haha kidding…hmm biar lebih jelasnya ayo jgn lupa trs tungguin part2 selanjutnya ^^ *maksa**plak* hehe… piss *grin*

  4. Aaahh..akhirnya dipublish juga..
    Part ini dominan bikin nyesek, soalnya banyak bergulat dengan situasi yang dilematis, terutama part-nya Jjong itu. Nggak kuat bacanya, ngebayangin Jjong yang udah terpuruk, menyesali kesalahannya, trus Nyonya Kim yang nggak tahu sama sekali tentang perbuatan anaknya, kemunculan ibunya Minho (aish, nyebelin), dan ditambah lagi Minho yang ternyata mendengarkan semuanya. Kasian Jonghyun, nasi udah menjadi bubur, tetapi reaksi Minho juga nggak bisa disalahkan, pasti ia merasa dikhianati dan terpukul juga.

    Part-nya Kibum-Heera, oh, akhirnya Heera mau membiarkan logikanya diimbangi oleh perasaan😀 senang deh ngeliat perkembangan karakternya.

    Trus, part-nya Jinki, tokoh ini, seperti biasanya, membuat aku geregetan karena sikap pesimisnya itu.
    “Rasanya seperti ini, hatiku disobek-sobek tapi terkesan bahwa aku menikmati diriku terpecah menjadi banyak. Seperti jurus membuat bayangan di film ninja, aku seolah merasa bahwa diriku itu ‘banyak’–hingga mampu menolong dan menemani sesamaku. Padahal tidak bisa. Kemudian yang tersisa hanya aku yang perlahan menciut menjadi kecil tak berarti. Begitu sadar, aku sudah kehilangan banyak hal. Lembaranku tidak bisa lagi ditulisi dengan aneka kisah penuh warna.”
    bikin nyesek nih, sebegitu depresinya kah Jinki sampai merasakan hal seperti ini?

    Dan, baru aja peluang jinki untuk mau bergabung dengan komunitas tsb mulai terbuka, langsung diinterupsi oleh si-manusia-asing (Key, kan? haha). Tapi nggak apa-apa, semoga aja ‘semprotan’-nya si-manusia-asing itu cukup berkesan untuk diingat-ingat Jinki, siapa tahu nanti dia mulai tergerak untuk bergabung.

    Dan Heera pasti sangat syok..yeah, AIDS seringkali dihubungkan dengan perilaku yang menyimpang, meskipun kenyataannya tidak selalu demikian. Mungkin Heera terpukul karena terlalu mengejutkan buat dia, kali, ya?

    Aku nggak begitu memperhatikan typo, sih, jadi cuma bisa komentarin alur ceritanya aja… like this deh pokoknya
    semangat buat Heartless eonn dan Bibib🙂

    1. holla aminocte😉 HeartLess here…

      hmm ya begitulah kehidupan, sarat akan hal2 mengejutkan..byk dilemanya…byk situasi yg bikin speechless… dan kadang hal2 kyk bgni yg seringkali bikin org depresi sampe pengen bunuh diri… bener gak?

      jd mari kita doakan sj yg terbaik utk heera key jinki jjong minho #eh #plak #peace #kidding

      anyway thanks byk ya ud mampir dan terutama buat dukungan semangatnya ^^ hoho

  5. Forward itu ff yg msuk list kategory ‘seru’ buat aku,dan indennyaaaaaaa bukan main.tp tetep slalu ditunggu2 publishnya.
    Ceritanya berani,konfliknya cukup njelimet.bener2 bikin readers gegeut2 rahang bacanya…

    1. halo dean hehe..thanks before…
      indennya lama? wahahaha… maafkan kami (tepatnya aku) yg lambatnya bukan main *pengakuan dosa*

      ya moga2 part 8 bisa lebih cepet *amin*
      thanks for still following this fic ^^ hohoo

  6. baru baca.. hehehe
    pdhl udh save sjk diposting.

    ada yg ketinggalan 1 kata, tp gak tau udh ada yg koreksi apa belum. hehehe soalnya ngesave ini sblm ad yg komen.
    “Harusnya Minho juga sadar, Jonghyun bukan seperti dirinya yang bergolongan darah.” ….. B?
    kynya ada yg ketinggalan ya? hehehe

    oh ya. “doa” tidak perlu pakai tanda (‘) lagi ya. hehehe sama klo nulis “Jumat”

    oh iyaaaa… part sebelumnya klo gak slh smpt nebak deh klo si ‘tante girang’ itu eomma minho.. hohoho

    oh. jdi sbnrnya heera udh curiga mengenai apa yg diderita jinki gtu ya. mgkn smnjk yg jinki berdarah eh atau apa gtu kmrin2 yg heera melihat itu.

    tp tdi sempet ngira heera bakal menampakkan diri jg ky kibum. sklian ky ngunjungin tmpt itu eh trnyata cuma untuk nyelidikin aja.

    btw aku agak susah ngebayangin jaejoong yg sbg seorg ahli kejiwaan. wkwkwk.. mlh kebayangnya yoochun. #eh

    sekian dulu komen saya. part selanjutnya saya tunggu. wkwkwk

    1. loha..hohoho..
      *baca lagi ke atas*
      oh iya bener..haduh khilaf(?)…anyway thanks yo koreksinya.. *grin*

      iya jd sbnrnya awalnya si key ngajakin heera ke sananya karena tujuan lain..tapi karena ngeliat ada si jinki..jadi key deh yang turun cari tau..si heera di mobil aja..kira2 begitu hehe..
      😄 okesip XDXD
      gomawo hohoho😄

  7. hwaa..
    Part ini mengaduk2 perasaan..
    Aku nangis pas bagian jjong-ny.choi-minho.. Huwee
    dan jinki.. Aku dah nyangka kalo dia AIDS.. Cuma rada kesel sama interupsi key yg bikin sgala usaha jaejoong nampak sia2..

  8. Klimaks banget nih konflik Jonghyun. Aku agak bingung soal nyonya Choi, apa Jjong nggak tahu kalau dia itu ibunya Minho? Atau Minho sengaja nggak kasih tahu? Pokoknya lanjutannya cepet publish ya~ #maksa.

    Keep writing!

    1. Di part2 sbelumnya ada kan penjelasan kalo Minho ga deket ama eomma-nya. Bahkan minho jarang bareng ama ibunya itu. Nah, minho emang ga pernah ngenalin ibunya ke jjong.

      Yup, tungguin aja ya… ga yakin cepet sih, heheheh

  9. Wah aku kelewatan banyak sebenernya
    tapi cukup baca part ini aku sedikit banyak mengerti ceritanya sampai di sini
    ternyata, ada yah orang yang mengalami hidup sampai seberat itu ._.

    berat, setiap narasinya dirangkai sempurna. Walaupun gitu, aku tetep gak bisa berhenti baca. bagusnya, ff ini punya narasi yang gak akan bikin bosen walaupun berat. aku suka adegan awal. Tentang anatomi daun yang aku pikir gak akan dibahas oleh penulis biasa
    aku.. sampe bingung harus komen apa.
    bukan penasaran, aku puas banget bacanya. gak tahu kenapa.
    sebenernya aku mau komentar soal alurnya juga, tapi udah banyak di bahas sama aminocte
    merasa terwakili kekeke~

    aku mau baca lanjutannya, tapi yakin gak akan cepet. ya kan? hehehe
    gak apa-apa, aku baca part sebelumnya aja
    top ^^
    soal typo aku gak merhatiin hehe

    1. ada, penderita HIV malah banyak yg lebih menderita drpd itu zik….

      Syukurlah kalo yang baca puas, jd semangat nih nulisnya, hehehe

      Iya zik, kmungkinan emang ga akan cepet, 1 part bisa 1 bulan kykna…
      makasih ya zika udah berkunjung ke ff ini ^^

  10. akhirnya jinki terungkap kenapa.
    dari awal aku memang nyangkanya Jinki kayak terkena atau pengidam penyakit atau sesuatu
    ternyata benar kan

    INIIIIII KENAPA JADI ITU IBUNYA MINHOOOOOO????
    KENAPA DUNIA SEMPIT SEKALI KENAPA ??? T_____T
    aku kasian banged lihat jonghyun kayak gitu
    dia dilema oleh 3 masalah
    antara minho, ibunya, sama tante-tante

    part ini bikin tegang suerrr
    jinjaaaa

    aku suka banged part ini. terungkap apa yang aku pikirkan

    nice part ^^

    1. Halo icha, makasih ya udah berkunjung, maap komenmu di blog-ku blom dibalesin, hhehe

      Nyahaha, part ini semacem 1 puncak cha. Eh, bakal ada lagi ga ya puncak selanjutnya, hmmm

      berkunjung lagi ke part 8 nanti ya

  11. bener-bener KAGET dan SYOK pas tahu Jinki kena AIDS. apalagi pas tahu ternyata wanita yg tidur bareng Jonghyun itu IBUNYA MINHO. SYOK BERAT T_____T
    ditunggu part selanjutnya ya thor. gak sabar nunggu kelanjutannyaa

  12. huaa udah nyampe part 7 aja aku telat banget, malah baru nyampe part 5
    di part sebelumnya aku jadi sider. maaffff soalnya pas nemu nih ff udah part 4. bingung mau komen di part mana jadinya diem deh…
    semangat buat FF ini, dua author kesukaanku ><
    jujur aku suka banget karekter jjong di FF ini,

  13. Ga tega bacanya……
    Huhuhu….apalagi bag.yg jjong di rs n mino tau…
    Tragis….tnyata itu ibunya mino…huaaa

    Heera jg udh tau jinki aids…pnsrn next part wlo ga tega sbenernya…

    Telat banget yaa aku bacanya…hihi…
    Keep writing^^

  14. ah aku udah ketinggalan banyak nih eonnideul! hrs baca kilat, akhirnya selesai jg part ini😀
    wah yg ahjumma genit itu aku udah nebak dari part sblmnya kalo dia eommanya mino pas jjong ngeliat mino dihotel. pasti mino disitu stlh ketemu sm eommanya, am i right? *reader sok tau*:mrgreen:
    masalahnya makin ruwet aja nih, jjong bakalan stres itu pasti😦
    dan jinki ternyata pengidap aids? apa dia kena virus itu grgr org di masa lalunya itu ya? kyknya gitu deh🙄
    trs yg dia dan jaejoong yg ketemu sama key itu emng direncanain sama key atau cuma kebetulan aja? jadi si heera ngeliat jinki dan nyuruh key buat interogasi gt?
    penasaran sama part selanjutnya… hwaiting eonnideul ^^9

    1. iyap kebetulan aja ketemu dan Heera nyuruh Key yg nemuin Jinki. Krn kalo Heera yg nemuin, bs tambah runyam

      lanjutannya… semoga ga menyaingi bang toyib. Thanks ya mahda udh berkunjung kemari ampe baca beruntun gitu🙂

  15. daebakk… Kisah2 orang di dlm cerita ini buat kita bener2 mesti
    bersyukur dengan apa yang kita miliki.
    Lanjut, Thor… Forward ditunggu banyak pembaca…

  16. Duh ya, dari tadi tiap kali teori, sy mesti skip. Bukanny gak menarik loh, hanya saja mata udah sepet bget haha. Dan here we go, klimaks yg menyedihkan ketika ternyata tante girang itu emak si minho, dan jinki ternyata hiv beneran *ini yg plg gak bisa diterima -,-
    Ah, jae d sini peranny psikolog ato psikiater kah? Jae jg dokterny Jinki bukan ya? Otakku lg mumet bin salabim.
    Dan ey, vero udah kolab lagi, meski sejak forward awal masih juga blum bs bedain karakter narasi vero dan bibib haha.
    Komenny udahan deh, perasaan dr tadi udah ngaco d kotak komenny dgn pertanyaan gaje haha.

    1. wah, psikolog apa psikiater ya… ehm, nyondong k psikolog kali ya. Bentar, yang jelas aku pernah baca tt psikoterapi. Beberapa waktu yang lalu sempet baca bukunya sedikit. Dan detik itu aku baru tau, kalo cara jae menangani jinki itu masih kulitnya aja. Psikoterapi yang asli lebih ngena cara ngajak komunikasinya.

      jae, bukan dokternya jinki, beda lagi itu mah

      hahaha, ga perlu dipikirin ini narasi siapa dan yang itu punya siapa, mungkin nyaris ga kentara krn ujungnya stlh nulis masing2, saling ngerombak, jadi udah campur aduk, biasanya sih gitu. Tp ada kok bedanya kalo dirasa-rasa

      gomawo ya boram udh ngikutin ff ini😀

  17. Mian ya eon baru ninggalin jejak..
    soalnya baru nemuin ini ff,
    Pas ydi d part berala aq lupa ada pnjelasan ttg vertigo jadi hmpir nyangka kalo jinki itu kena vertigo, ehh eh ternyata sngkaanku meleset,
    Masih penasaran tentang knp jinki bisa kena aids sama ttg kisah masalalunya yg membuat jinki kayak gitu..
    kssian..😦
    Krrenn keren eon
    Lanjutkan
    d tunggu part selanjutnya

  18. omaigoooot ternyata beneeer dugaanku klo jinki kena aids..
    hueeeee itu jahat bgt yg nularin k jinkiii T.T

  19. aku lg depresi pas baca ini dan jadi tambah2 depresi lg ngebayangin ada di posisi jonghyun *cries*. tapi emang ya, dimana2 temen tuh emg perlu bgt. komunikasi itu penting banget. nyeritain masalah ke temen really helps gaboong. semoga jinki cepet sadar dan jangan isolating himself from others terus, karena suka sedih aja ngeliat ada bbrp org yg meng-isolasi-kan dirinya hanya karena ‘gaktau’ gimana caranya bersosialisasi. ntah karena ga merasa seru, ga merasa cantik atau yang lainnya.

    sejauh ini forward bener2 kereeeenn, ff nya mengandung banyak ilmu jd sekalian nambah2 pengetahuan. pemilihan katanya juga berat kalo menurutku, soalnya ini sesuai sastra indonesia bgtt sedangkan aku lebih seneng baca novel terjemahan atau bahasa inggris sekalian jd lebih ngerti cara penulisan luar hehe. anyway maaff baru sempet ninggalin jejak disini, aku terlalu sibuk memahami beberapa bagian yang susah sampai harus dibaca 2x hehe.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s