Hi My Ex

himyex

Title : Hi My Ex

Author : ReeneReenePott

Maincast : Choi Minho, Hwang Misol (OC)

Cameo  : Choi Sooyoung, other still in the fict

Genre : Romance, Fluff (?)

Length : Oneshoot / Songfic

Rating : PG – 13

Backsound : Rossa – Kembali

Intermezzo :

Lagi-lagi diriku membawa songfic, dan lagi-lagi pake lagunya Rossa (ketahuan fansnya deh :p)
FF khusus buat ultah SF3SI, dengan membawa my only cast abadi Choi Minhoooo~ tralalala trililili~ (?) Dan dibuat disaat Ujian Praktek. Enggak sih, cuma make waktu istirahat muahaha.

FF abal kesekian produksi reenepott yang mudah-mudahan masih layak dibaca hehe. Hope you enjoy!

PROLOG

Flashback

“Jadi begitu?! Kau lebih memilih untuk datang di pesta ulang tahun Sooyoung daripada rapat MOS siswa baru?! Jadi, Sooyoung itu sudah berubah jadi pacarmu sekarang ya? Wah, aku tidak menyangka!” Teriakku tepat di depan wajah namjachingu-ku, Choi Minho. Menatap wajahnya sekarang benar-benar melecutkan emosiku sampai ke puncak.

“Sooyoung noona harusnya kau panggil unni! Dia lebih tua darimu!” Balasnya tak kalah keras dariku. Aku menyeringai.

“Oh ya, aku lupa kalau aku sudah tidak sopan pada noona kesayanganmu itu, Sooyoung. Kenapa tidak sekalian kau menyebutnya pacarmu! Lagipula kau tidak pernah menganggapku selama ini, kan?!” Teriakku lagi, marah. Sesak, kesal, entah apa yang kurasakan sekarang.

“Kau jangan gila, Hwang Misol! Apa maksudmu mengatakan itu?” Serunya kaget. Tanpa sadar air mataku sudah mengalir tanpa harus terisak.

“Maksudku? Maksudku, kau urus saja Sooyoung noona-mu! Keluarlah dari OSIS! Kau benar-benar tidak becus, kau tahu itu?!” Seruku. Sekarang, aku hanya menunggu kalimat putus darinya.

“Baiklah! Maksudmu kau mau putus? Oke! Kita putus! Dan aku akan mengurus pengunduranku dari OSIS. Kau puas?!?! Sekarang kau bisa bebas berkeliaran dengan Jinwoon oppa-mu itu!!!”

DUAGH

Aku hampir tersentak ketika dia menggebrak salah satu meja di kelas kosong ini.

“FINE! Aku juga senang kalau kita putus. Urus Sooyoung-mu dengan baik, ya! Dan sepertinya kau tidak usah mementingkan sekolahmu, tak usah mementingkan ujianmu! Kau berduaan saja sana dengan Sooyoung, kalau perlu nikahi dia sekalian!!”

BRUAKKK

Aku menendang meja yang tadi dia gebrak hingga terjatuh mengenainya, dan cepat-cepat meninggalkan kelas.

Flashback end

Sejak saat itu, aku tak pernah mau menatap wajah atau membalas sapaan seorang Choi Minho. Semuanya sudah berakhir. Kukira.

__

Apa kabarmu?

Setelah lama kita tak pernah jumpa

Banyak yang tlah berubah

Dan ku ingin dengar dari ceritamu

__

Seoul, 7 years later

Aroma coffee latte menyeruak masuk ke indra penciumanku bahkan ketika aku memalingkan wajah. Berusaha sebisa mungkin tidak melihat pria yang duduk berhadapan denganku di coffee shop ini. Kenapa? Well, rasanya agak aneh menatap ‘mantan’ dengan tatapan berbinar dan bibir sumeringah. Ya kan? “Tujuh tahun sudah merubahmu, eh?” Ujarku tiba-tiba. Cowok di depanku hanya menunduk sambil tersenyum miring.

“Kau tak banyak berubah,”

“Ya?”

“Masih ceplas-ceplos seperti dulu,” ujarnya yang membuatku mendengus kecil. “Tapi aku suka,”

Degh

“Sebenarnya aku tak menyangka bertemu lagi denganmu,”

“Sama sepertiku,” jawabnya dengan senyum. Aku hanya menatapnya bimbang.

“Jadi, bagaimana ceritamu selama tujuh tahun ini?”

__

Apakah kau sempat

Menjalin kasih setelah bersamaku?

Apakah kau bahagia

Lebih dari waktu engkau bersamaku?

__

Lagi-lagi aku tertawa pelan sambil memasukkan potongan cheesecake ke dalam mulutku. “Sunbae yang itu? Aku benar-benar tak menyangka kau akan bertemu lagi dengannya,”

“Sungguh deh, aku ingin sekali berteriak saat itu. Benar-benar mengesalkan, kau tahu? Kau kan mengerti sifatnya dulu bagaimana,” ujarnya sambil menyeruput americano-nya.

Aku berdeham pelan. “Lalu, hubunganmu dengan Sooyoung unni? Bagaimana?” Tanyaku agak ragu. Ia nampak menatapku dalam diam.

“Hm?”

“Lupakan,” sahutku cepat melihat ekspresi bingungnya. Dan kami terdiam.

“Kami berdua… Agak sulit mengatakannya,”

“Oh, begitu,” jujur, aku sebenarnya agak ragu menanyakan ini. Tapi… Aku penasaran, huh. “Minho-ssi…’

“Ya?”

Aku membuka dan menutup mulutku tanpa suara. Bingung juga mau bilang apa. Aku menghembuskan napas lalu nyengir menatapnya. “Kita jadi canggung ya,”

Cowok itu—Minho mendengus lalu memainkan jarinya di atas meja. “Ngomong-ngomong, kita ketemuan tidak ada yang cemburu, kan?” Aku mengangkat kedua alisku mendengar kata-katanya. “Kamu sudah punya pacar?”

“Oh-eh itu..” Gimana ini? Masa aku harus bilang kalau belum ada yang bisa menggantikannya? Well, aku memang belum menemukan tambatan hati lain, sih. “Aku…”

“Sudah, ya?” Ia menatapku semakin dalam. “Jangan-jangan kau sudah menikah?”

“Tidak. Eh, maksudku, ya, aku masih sendiri,” aku menggigit bibir dengan bingung. “Kenapa?”

“Tidak, tidak apa-apa,”

“Er… Minho-ssi, aku harus pulang. Masih ada tugas yang harus kuselesaikan,” aku berkata dengan ragu. Hah? Minho-ssi? Dulu aku memanggilnya Minho oppa. Dan sekarang Minho-ssi? Ckckck. Ia hanya tersenyum.

“Baiklah, aku juga mau pulang. Sampai nanti,”

__

Sebenarnya

setiap purnama kunantikan hadirmu

Dan hati penuh harap cemas

Kau akan kembali padaku oh..

__

Aku tiduran sambil memeluk guling di atas ranjang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan aku tak kunjung mengantuk.

Sebenarnya, dia—Choi Minho—jadi tambah keren.

Jadi, dia sudah putus dengan Sooyoung unni?

Kenapa?

Tapi baguslah.

APA?!?! BAGUSLAH?!?!

Oh Tuhan. Jangan sampai aku menyukainya lagi. Jika bukan karena reuni sekolah, aku tak mungkin mendapat kontaknya, dan dia pun tak akan mengontakku.

Sebenarnya aku juga bingung, untuk apa dia mengontakku?

Hm, jadi dulu aku putus dengannya karena pihak ketiga dan keempat yang sebenarnya tidak tahu apa-apa. Ditambah yeodongsaeng-nya yang tidak menyukaiku, jadi aku lebih memilih ‘bersahabat’ dengan Jinwoon oppa dan putus dengan Minho yang ditembak Sooyoung. Dulu, pasangan noona-dongsaeng itu paling membuat iri semasa SMA. Setelah putus denganku, tentu saja.

Jadi sekarang Sooyoung unni dengan siapa?

Heish! Untuk apa aku memikirkan hal itu?!

Tapi tunggu. Memangnya dia bilang dia sudah putus?

__

Kembali kembali

Maukah kau kembali kepadaku?

Karna kuyakin

Cinta kita dulu yang terindah~

__

Kerjaanku sudah beres, dan sudah dibawa bosku kepada direktur. Karena bosan hanya duduk di meja kerja sementara disekitarku asik bekerja, kubongkar laci-laciku yang kebanyakan berisi barang pribadi ._.v

Dan, ternyata isinya menakjubkan. Ada beberapa agenda lucu yang sama sekali tidak kuisi, kalung, gelang, duplikat kunci motor (padahal seingatku aku tak pernah membawa motor) beberapa butir permen dan tumpukan sticky note, ada yang sudah di isi maupun yang belum.

“Hei… Bukankah itu Direktur Go? Woah, dandanannya cantik sekali hari ini. Jangan-jangan perjodohan itu berhasil?” Aku mendongak ketika rekan yang duduk berseberangan denganku berucap cukup keras.

“Apa maksudmu? Direktur Go dijodohkan?” Tanyaku heran. Untuk apa dijodohkan? Di jaman sekarang? Agak tidak masuk akal.

“Kau tidak tahu? Ah, bukan dijodohkan sih, tapi tak sengaja bertemu. Kudengar, ceritanya cukup romantis. Direktur makan malam bersama teman kuliahnya lalu dikenalkan dengan pria itu. Sepertinya orangnya mapan,” Ceritanya panjang lebar.

“Bukan sepertinya, orangnya sangat mapan lagi tampan! Kalau tak salah, namanya Choi Minho,” ralat rekan di sebelahku.

JEGER!

“Oh! Choi Minho yang pengacara itu ya? Aku pernah melihatnya sekali di televisi,” rekan yang di samping seberangku ikutan nimbrung. “Dia sangaaaaat tampan! Kalau memilih, aku lebih memilih Choi Minho dari pacarku sekarang kkk~”

“Choi Minho? Namanya familier,” gumamku tanpa didengar oleh ketiga temanku yang sekarang saling bergosip itu. Tentu saja sangat familier! Aku baru bertemu dengannya kemarin!

__

Kembali kembali

Bersama itu yang kuingin kasih

Yakinlah

Kau dan aku terbaik untuk slamanya ah~

__

“Misol-ah, kau sepertinya lapar sekali? Makanmu lumayan banyak hari ini,” aku mendongak polos ketika salah satu dari dua rekan kerja yang menemaniku makan berujar.

Geuraeyo? Hehe, aku memang sedang lapar. Kau kan tahu tadi aku jadi bulan-bulanan si bos,” jawabku sekenanya. Ya, aku memang sedang makan siang di kantin yang letaknya ada di lobby gedung, sangat dekat letaknya dengan pintu masuk.

Omo! I-itu… Kyaaaa! Itu Choi Minho! Apakah dia akan mengajak Direktur Go makan siang bersama? Omo… Romantis sekali…” Hyejin, rekan kerjaku yang terkenal up to date soal infotaiment mulai histeris. Aku mengikuti arah pandangnya, penasaran juga dengan Choi Minho yang dia maksud.

“Woah, memang tampan ya! Huaaa jarang-jarang aku bisa melihat pria tampan secara langsung seperti ini,” Josephine berceletuk sambil menyuapkan oatmeal ke dalam mulutnya. Tapi aku hanya terpaku. Itu benar-benar Choi Minho!

Tek

Aku hanya diam saja ketika pandangan kami bertemu. Dan tetap diam saja ketika pria itu tiba-tiba tersenyum lebar.

“O-oh! Dia tersenyum! Ahh tampannya…” Hyejin mulai cekikikan lagi—dia bilang itu kebiasaannya kalau ada pria tampan saat SMA—tapi aku hanya terdiam sambil menatap Minho yang ternyata melangkah mendekat.

Annyeong, Misol-ah. Aku tak tahu kau ada di sini,” sapanya ramah. Aku membuka dan menutup mulutku tanpa suara. Bisa kurasakan baik Hyejin maupun Josephine melongo.

“A-ah ya… Aku bekerja di sini. Kau menunggu siapa di sini? Direktur Goo?” Tanyaku yang membuatnya mengerutkan kening.

“Direktur Goo?”

“Goo Hara, maksudku,” ralatku.

“Eh… Ya, begitulah. Kau tidak mengenalkanku pada rekan-rekanmu?” Minho menunjuk kedua temanku yang membeku dengan dagunya. Aku nyengir.

“Oh, eh, ini Hyejin, dan Joshepine. Dan… Ini Minho, teman SMA ku,” aku mengenalkan mereka bertiga agak kikuk.

“Ng… Minho?” Sebuah suara lembut mengusik percakapan kami. Aku melongok ke balik punggung Minho, lalu terdiam. Membiarkan Minho sendiri menentukan siapa yang memanggilnya.

“Hara-ssi?” Cengirnya. Gezz… Dia tidak berubah. Ganjen! “Mianhae, yeorobun. Aku bersama Hara dulu ya. Annyeong,” aku melengos menatapnya yang menjauh.

“Jadi… Kau teman SMA-nya? Kenapa tidak bilang kepadaku?” Jerit Hyejin histeris. Josephine ikutan menatapku, tapi tidak bersuara. “Kau tahu panggilannya padamu? ‘Misol-ah’!”

Aku berdecak. “Ck, sebenarnya kalau bisa menghindarinya aku ingin sekali. Terkadang dari masa lalu ada hal yang harus benar-benar dijauhi. Karena itu aku tak pernah mengungkitnya,”

“Jangan bilang… Kau mantannya? Hah?! Tebakanku benar tidak?!” Oceh Hyejin lagi. Ini anak kenapa otaknya sinetron sekali sih?

“Hanya bertahan 10 bulan,” sahutku. Mata Hyejin menyipit.

“Tidak mungkin. Kalau satu tahun lebih sepuluh bulan baru aku percaya. Kau tidak mungkin menyia-nyiakan pria seperti dia, kan?!”

“Oh yeah, aku lupa. Kau benar, ditambah satu tahun, itu waktu kami baru masuk SMA,” aku menatapnya. “Sudahlah, jangan bahas lagi!”

“Kenapa? Kau menyesal putus dengannya ya?” Celetuk Josephine polos. Aku menggeram gemas.

“Tidak! Tidak sama sekali!”

“Benar? Nanti diambil Direktur Goo lho,” goda Josephine iseng. Aku menatapnya datar.

“Mau dia sama siapa kek, terserah dia, kan?” Jawabku enteng. Huh, tentu saja ditambah dengan perasaan gamang dihatiku.

Benarkah aku menginginkan itu?

“Baiklah, baiklah, kau nampak sensi sekali jika membahasnya. Apa ada topik lain yang bisa kita bicarakan?”

__

Apakah,

Kau sempat menjalin kasih setelah denganku?

Apakah kau bahagia,

Lebih dari waktu engkau bersamaku?

__

Hot caramel macchiato, ukuran medium,” ujarku pada barista di depanku. Macchiato… Ya, aku butuh macchiato karena aku suka manis hehehe. Aku sedang stress dan sore sehabis pulang kerja aku ingin mengetik novel sampinganku di rumah. Hitung-hitung refreshing deh.

“2.800 won aggashi,”

Kuserahkan 2.800 won yang sudah dalam genggamanku, lalu melangkah ke samping untuk menunggu macchiato-ku selesai dibuat.

“Pesan caffe latte sirup vanilla ukuran large,”

Dugeun!

Rasanya aku pernah mendengar suara berat itu. Errr…. Itu kan…

“Misol-ah?” Aku menoleh. Minho sedang menatapku bingung. “Kau di sini?”

“Aku sedang butuh kopi saat ini. Kenapa?” Aku menatapnya yang menahan senyum dengan alis terangkat.

“Aku tak tahu kalau kau minum kopi. Lucu melihatmu minum kopi,” ujarnya menghina. Aku mengerutkan keningku tidak terima.

“Kau pikir aku masih anak kecil? Csh,”

“Ya sudah deh, jangan cemberut begitu. Nanti jelek haha. Mau kemana? Perlu kuantar?” Aku terperangah menatapnya. Sikapnya sok akrab sekali!

“T-tidak perlu. Aku akan pulang setelah ini—”  .aku mengambil macchiato yang sudah disediakan barista, “A-annyeong Minho-ssi,” aku nyengir dan buru-buru pergi. Si-sikapnya aneh! Sungguh deh!

Grep!

Aku melotot ketika pergelangan tanganku ditahan. “Bisakah kau hilangkah kata-kata dingin itu? Itu bukan Hwang Misol yang kukenal,” aku tertegun mendengar kata-katanya.

“Memangnya kau ingin Hwang Misol yang bagaimana? Waktu sudah berlalu, Minho-ssi, dan kita punya kehidupan masing-masing bukan?” Jawabku tenang.

“Kau membenciku?”

“Kalau aku membencimu aku sudah menceburkanmu ke dalam kloset saat reuni, Minho-ssi,” balasku lagi. “Memangnya apa alasanku supaya harus membencimu?”

“Kau… Aku… Tidakkah kau membenciku saat aku memutuskanmu?” Ha! Dia mengungkitnya lagi. Mau cowok ini apa sih?

“Sebenarnya, Minho-ssi, maumu apa sih? Itu hanya masa lalu, kan? Apakah harus diungkit sampai sejauh ini? Jujur saja, aku memang sangat membencimu saat itu, mengingatnya sekarang saja masih membuatku kesal. Jadi jangan buat aku tambah ingin menendang wajahmu sekarang!” Sahutku lalu melepaskan genggamannya dan berlalu pergi.

“Salahkah aku kalau masih menyimpan hatiku padamu?!” Teriaknya dari belakang. Aku menoleh dengan cepat. Apa katanya?!

“Kau…” Aku menatapnya tak percaya.

“Bisakah kita kembali bersama?” Wah, wah, wah, apalagi ini?!

“Hah?!” Aku terdiam. Minho mendekatiku dengan tatapan tajamnya.

“Mungkin ini terlambat tapi… Aku masih mencintaimu,”

Aku terdiam.

“Kupikir perpisahan kita merupakan tindakan yang tepat saat itu, Minho-ssi,” ujarku tanpa arah. Baiklah, aku juga tak tahu kenapa aku mengucapkan ini.

“Lalu? Salahku terlalu besarkah untukmu?”

“Minho-ssi… Aku…” Kalau saja aku tidak ingat ada macchiato di tanganku, aku pasti sudah menjatuhkannya. “Biarkan aku berpikir dulu,”

__

Sebenarnya,

Setiap purnama kunantikan hadirmu

Dengan hati penuh harap cemas

Kau akan kembali padaku oh~

__

To : Minho

Sebaiknya kita ulang dari awal saja, Minho-ssi. Kurasa tidak akan terlalu menyakitkan bila ternyata kau tidak mencintaiku.

Aku menghembuskan napas setelah mengirim pesan itu pada Minho. Apakah ini yang terbaik untuk kami berdua? Aku hanya berdoa saja.

From : Minho        

Geurae, kalau itu maumu.

Kau belum tidur?

Aku hampir terbahak ketika membaca pesannya yang agak modus itu.

To : Minho.

Aku sudah akan tidur.

Selamat malam.

Apakah ini yang harus kulakukan? Aku mencoba untuk memejamkan mataku.

From : Minho

Misol-ah, mianhae…

Aku memilih untuk tidak membalas pesannya dan tidur.

Pagi harinya aku terbangun karena alarm yang setiap hari kupasang. Tidak ada pesan lagi darinya, dia benar-benar tidak berubah. Cuek, bahkan dengan pacarnya dulu. Dia tak pernah mengatakan kata-kata manis, tapi merongrong dengan pertanyaan seakan dia sedang mengomeli anaknya.

Hah, apa itu terlalu nampak jelas?

Aku masih menyimpan suatu perasaan untuknya. Tapi untuk memulai lagi… Kenapa terasa canggung?

__

Kembali kembali

Maukah kau kembali kepadaku

Karna kuyakin

Cinta kita dulu yang terindah

__

Aku melangkah masuk ke lobi kantor, dan memelankan langkah ketika sudut mataku menangkap sesosok Direktur Goo berjalan dengan seorang pria yang sebaya dengannya. Keduanya nampak akrab—mesra, membuatku bertanya-tanya akan gosipnya dan Minho tempo lalu yang kudengar dari rekan kerjaku.

Tapi haruskah aku memerdulikannya? Kurasa tidak. Itu bukan urusanku.

__

Waktu makan siang sudah tiba, rekan kerja terdekatku sudah melesat sekitar lima belas menit lalu, ada yang ingin menghadiri reuni dan makan bersama tunangannya. Ah, bikin iri saja mereka itu. Aku membereskan bukuku dengan malas, kurasa aku akan memesan burger dan kola di cafe seberang kantor.

Baru saja aku selesai memesan burger, kentang goreng dan kola, hendak berbalik berjalan kembali ke kantor.

Brukkk

Aku terkejut ketika seseorang menabrakku. Sakit, dan juga… dingin. Apa? Dingin?! Kulihat pakaianku. Kyah! Ada tumpahan strawberry milkshake di sana!

Jonsonghamnida aggashi…” suara seorang wanita juga nampak terkejut. “Neomu Jonsonghamnida…” aku mendongak.

“Su…lli?” tebakku pelan. Wanita cantik di depanku ikut terkejut.

Unni…”

__

Unni, jongmal mianhae, ugh, pasti dingin ya,” Sulli menggaruk rambutnya dengan ekspresi bersalah, sementara aku menahan kekehanku melihatnya.

Ania, gwenchanna. Hitung-hitung bajuku bisa minum milkshake, hahaha…” jawabku. Sulli tersenyum lemah.

“Nodanya…”

“Aku masih punya blazer, Sulli-ya. Masih bisa tertutup kok,” tukasku lagi dengan tenang.

Sulli mengangguk lega. “Unni sudah makan siang?”

“Aku baru mau makan siang,” jawabku sambil menunjuk paper bag berisi burger dan kentang gorengku. “Sekarang kau bekerja dimana, Sulli-ya?”

“Aku…” Sulli berpikir sejenak, “Aku akan meluncurkan drama terbaruku,”

“Wah, aktris ya?” aku tersenyum lebar, begitupula ia.

Unni,” panggilnya tiba-tiba. “Minho oppa…” Aku terdiam menunggu kelanjutan kalimatnya. “Kurasa kau orang yang tepat untuknya,”

Aku melongo sejenak, sebelum terkekeh kecil menganggap kata-katanya hanyalah sebuah lelucon. “Kami sudah berakhir, Sulli-ya. Kau juga suka cemburu kan, kalau oppa-mu punya kekasih?”

“Kudengar kalian akan rujuk lagi. Aneh memang, tapi oppa-ku benar-benar menyukaimu, unni,” ujarnya serius. Aku jadi tak bisa menganggapnya lelucon. “Dulu aku terlalu iri karena kalian berdua bisa bertahan lebih dari setahun,”

“Minho mengatakannya padamu? Entahlah, kurasa aku bisa berteman dengannya,” jawabku pelan. “Agak susah, Sulli-ya. Bayangkan kau ingin rujuk lagi dengan mantanmu? Ya, tidak akan terlalu aneh kedengarannya, bila berpisah secara baik-baik,”

Sulli terkekeh. “Cara kalian berpisah ekstrem sekali,” aku ikutan menanggapi kekehannya. “Tapi, unni, kalau kau masih menyukai Minho oppa, kembalilah padanya,”

Dan saat itu juga aku merenung.

__

Kembali kembali

Bersama itu yang kuingin kasih

Yakinlah                      

Kau dan aku terbaik untuk slamanya

__

Hembusan angin dingin  makin kencang menerpa, daun di pohon-pohon sepanjang jalan mulai berwarna cokelat. Aku sedang menunggu bis sore ini, di depan perusahaan dan jalan yang sudah mulai sepi angkutan umum karena sudah lewat dari jam pulang kerja. Huh, aku juga ragu apa akan ada bis yang mampir ke halte ini. Apa sebaiknya aku naik taksi sajaa? Tapi ongkosnya…

“Kenapa tidak menelponku kalau kau butuh jemputan?” aku tersentak ketika wangi parfum itu tercium. Jangan tanya kenapa aku bisa mengenalinya lewat parfum, meski dulu waktu SMA dia sama sekali tidak memakai parfum. Dasar narsis, Choi Minho ini.

“Kau… kenapa di sini?” tanyaku setengah bingung.

“Tadi aku mencarimu ke dalam tapi satpam memberitahuku kau barusan sudah pulang. Lalu aku berjalan sedikit dan menemukanmu yang menatap hampa menunggu angkutan umum,” jelasnya panjang lebar. “Hampir musim gugur ya? Brr… udara mulai dingin,”

“Untuk apa mencariku? Aku sudah kirim pesan kalau aku akan lembur sedikit,” tukasku. “Jaketmu sudah tebal begitu masih dingin?”

Minho tersenyum tanpa menatapku. “Karena udara memang dingin. Kau juga kan? Lihat, wajahmu hampir beku seperti itu,” tiba-tiba ia menautkan tangannya dengan tanganku, membuatku menatapnya bingung. “Apa? Ayo, kuantar kau pulang,”

Aku terdiam dan mengikutinya yang berjalan ke arah parkiran. Sebentar aku berpikir lalu tersenyum sendiri. “Minho-ssi,” panggilku.

“Ya?” ia menghentikan langkah di depan mobilnya, lalu berbalik menatapku.

“Aku minta maaf. Aku membentakmu waktu itu…” aku mengatakannya sambil menahan senyum. “Tetapi kalau mengingatnya aku merasa lucu sekali,”

Minho menatapku terperangah. “Hah, kukira ada apa,” ia mencari kunci mobilnya lalu membukakan pintu untukku. Setelah ia masuk juga, ia baru menjawab karena aku terus menatapnya meminta jawaban.

“Minho-ssi, kita akan benar-benar mengulang dari awal?”

Ia menatapku sekilas sebelum meluncurkan mobilnya ke jalan. “Kau yang memintanya. Asal aku bisa membuktikannya padamu, dan asal hatimu masih ada untukku, aku tak mempermasalahkannya,”

EPILOG

“Minho-ya, bukannya kau kencan dengan Direktur Goo?” tanyaku tiba-tiba ketika kami berdua tengah nonton film di flatnya pada hari Minggu yang agak terik ini, meski masih diselimuti dengan udara dingin.(?)

“Hm?” ia mengalihkan pandangannya dari layar film lalu menatapku sekilas. “Kau dengar dari siapa?”

“Rekan kerja,” jawabku singkat. “Katanya kalian sedang berkencan, makanya Direktur Goo sering makan siang di luar dengan dandanan cantik. Karyawan kantor yang lain juga sering mengatakan itu,” ujarku lagi agak cuek, aku merasa kesal karena itu tapi terlalu gengsi untuk menanyakannya. Dan sekarang rasa penasaranku makin kuat dan tak bisa kubendung lagi. Kurasakan Minho kini menatapku.

“Kenapa, kau cemburu?” selidiknya dengan senyum jenaka. Aku mencibir padanya.

“Tidak, memangnya kenapa?” kilahku cuek. Minho menjawil daguku gemas.

“Bisa cemburu juga kamu ternyata. Hahaha…” ish, dasar menyebalkan. Kenapa dia malah tertawa aih.

“Kenapa tertawa? Memangnya ada yang lucu?” tanyaku yang masih merasa kesal.

Aniya, heran saja kau menanyakan itu. Begini ya Misol-ku, Hara itu sebenarnya teman kuliahku, dan aku membawanya ke sebuah kencan buta, di samping kakaknya yang membutuhkanku untuk menjadi pengacaranya,”

“Oh, begitu,” tanggapku, dengan ekspresi lebih lega. “Kukira kau benar-benar kencan dengannya,”

Minho memutar bola matanya lalu menatapku. “Kan aku sudah bertemu denganmu, untuk apa aku cari yang lain?”

Aku bergidik. “Hiii… kenapa kau jadi begini sih? Kau di beri apa sama Sooyoung unni sampai kau suka menggombal begini?”

Minho hanya terkekeh. “Kau percaya kan, aku tidak lagi behubungan dengan Sooyoung?”

“Ya, ya, ya. Aku bisa melihat kau jujur, Minho-ya,” ujarku serius. Ia tersenyum lalu mengacak rambutku, dan kami melanjutkan menonton film yang belum selesai.

“Misol-ah,” panggil Minho lagi.

“Ya?”

“Menikahlah denganku,”

Dugeun!

Aku perlahan menatapnya yang juga menatapku. “Hwang Misol, menikahlah denganku,”

“A-apa?”

“Misol-ah, menikahlah denganku,”

Tidak. Dia tidak bercanda. Dia serius. “M-Minho, k-kau…”

Minho menghela napas. “Hahh… aneh ya? Aku belum menjalin hubungan denganmu. Sebenarnya, aku ingin menjadi kekasihmu dulu. Tapi aku tidak kuat. Meski aku tidak bisa berkata aku cinta padamu atau apa, tapi yang jelas aku ingin memilikimu,” Minho bercerita tanpa memandangku. Tiba-tiba ia berpaling menatap mataku. “Maaf kalau terlalu cepat, kau bisa menjawabnya lain kali, kalau kau sudah punya jawabannya,”

Aku hanya menatapnya. Dia tidak bermain-main. Ini sudah lima bulan sejak reuni kami, dan dia tetap seperti dulu. Dia menunjukkan kelemahan-kelemahannya padaku, dan tatapannya masih sama seperti pertama kali ia menyatakan perasaannya. Masih sama ketika kami masih bersama waktu SMA. “Kau mau menunggu dua tahun lagi?” tanyaku tiba-tiba. Ia menoleh menatapku.

“Ya, tapi kenapa dua tahun?”

“Bukan apa-apa,” sahutku. Ia kembali memfokuskan pandangannya ke film, sementara aku beringsut mendekatinya. Dengan perlahan aku mendekarkan bibirku ke telinganya. “Baiklah, aku akan menikah denganmu,” bisikku pelan.

Bisa kurasakan tubuhnya membeku. Perlahan kepalanya menatap ke arahku. Senyumnya mengembang, dan seketika itu juga bibirnya mendarat di bibirku.

My first kiss, for my ex.

Oops, I can’t stand him as my ex again, kk~

FIN

Okelah, ini geje sangat. Maklum, efek Ujian menerpa u,u Terpaksa jadiin lagunya Rossa jadi songfic, karena… KONSEPNYA LANGKA! #PLAKH ngerasain pacaran lagi sama mantan…kan aneh #duar *dasar telmi. Pacaran aja ga pernah -_-“*

Thankies for reading~ Comment as allowed as you reading XD

©2011 SF3SI, reenepott

signaturesf3siOfficially written by reenepott, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

48 thoughts on “Hi My Ex”

  1. aaahhh… saya sukaaaaa…!
    karakternya Minho bikin saya ikutan dugeun-dugeun… 😉

    Naaah.. ini beneran happy ending Reene.. 😀

    Ditunggu larya lainnya Reene.. 🙂

    1. Jincha?? Sebenernya pengen bikin yang lebih cheesy lagi, cuma, otak-ku itu otak fantasi sih u,u #digetok jadi bingung lagi mau cheesy gimana #jduar!
      Yeah~~ pertama kali bikin FF tentang broken couple. muahahah! #digorok XDD
      gomawo yaaaa XD

  2. Hhihihi
    Sukaa ihhh.. bikin aku senyam senyum sendiri..
    Aku pikir mrk g bkaln balikan..ternyata…
    Aaaa~ joahae~ ^^)b

  3. Woo,, ternyata selama berpacaran dulu gak pernah ciuman ya? Pacaran yang sehat ya? Wkwk.
    FFnya keren, tapi ada yg rada bingung ma kalimatmu tadi. Kkk~
    Good job!

    1. woo iya dong. mereka kan masih polos gituh. Pas gedenya, naaahhh… baru deh dihajar bejatnya (??) #ditimpuk
      Iyakah? ada yang bingungiin yah? hehe maaf yaa u,u
      Gomawoo~~ XDD

  4. Dugeun Dugeun Dugeun Degeun and Deugun

    Aduh aku doain author bisa mengalami kisah yang kayk gini ya *)katanya kan mah

    Tapi bagus thor, romantis banget

    Aku suka ff nya, bikin yang lain lagi ya thor

    Nah aku doain deh nilai ujian nya bagus bagus dapet ranking

    Tapi ngomong ngomong ini ujian kelas berapa ???

    Nice FF thor

    Daebak

    1. hihihihihiihi miakasihh banget yak boleh deh tapi jangan pake putus ya (??) #slapped #diinjek
      Kalo diriku bikin romantis… rasanya rada… #JDUAR!! (??)
      Ne.. gomawo yah, amiin dah!! XD
      Diriku ujian SMP 😀
      Gomawoooo~~ *hug+ppopo* #PLAKH XD

  5. Ah,,Reene…..
    nyesel baru baca sekaranggggg

    aku pernah ngalamin!
    Wkwkwkwk, cm gak sampe nikah.#curcol

    sukses ujiannya ya Reen!

    1. Yaaaaaa….. hitung-hitung Flashback lah.. *langsung dance flashback* #digetok
      Yaaaa mendinglah ga sampe nikah. Jadi punya banyak waktu buat mikir lagi *MAKSUD LOOOOOO* (??) #hiraukan
      Nee…. GOMAWO YEAAA~~~~ *hug* XDD

    1. Whoaa… ga bakal kasih restu deh kalo sama Goo Hara #digorokJunhyung XDD Jadi aku tak mungkin rela kalo Minho sama Hara. wuakakakakakakakak!! #PLAKH kecuali Junhyung deh (lhoo??)
      Gomawoooo~~ XD

  6. Ngakak ren, gatau kenapa XD ngakak pisan pas Minho-Misol (sumpah baca nama misol bikin aku jd inget risoles (?)) putus XDD gebrak2 meja, tendang meja, sekalian aja bikin demo! XDDD #gulingguling

    doh daebak pisan euy reen :3
    aduh saya iri sama misol -,,-“

    1. Huehehehe.. kece kan?? *pasang kacamata* lain kali aku bikin deh yang putus sambil jotos-jotosan, langka kan tuh???? *dihajar*
      Aduh, aku aja iri banget geh, dikejer-kejer Minho booook!!! #diinjek
      Gomawo ya Van~~~~ XDD

  7. aa,,,,eonni ini so sweet bgt endingnya…aku suka, btw ff ini ngingatin aku dg seseorang juga..hampir sama dg kehidupan nyata aku, tp endingnya gk kayak gini -_-

    eonni…ckup satu kata ‘DAEBAK’ sukaaa banget! lain kali buat ff mino lagi yah eon..yg lebih sweet :3 😀

    1. Hiyehehehehehe… lumayan ngelatih bikin fluff, hehe XDD
      Iyakah?? Wah, jadi ini nyerempet-nyerempet dong sama kisah kebanyakan orang?? #PLAK #dibakar
      Nde… gomawo ya~~~
      OKEH!!! Minho selalu di hati!! (??) XD

  8. Heh! Anak bandel! Mau ujian malah bikin FF xD, tapi emang biasanya banyak ide bagus bermunculan saat ditengah ujian, dan…. Itu nyebelin *gigit Taemin*

    Daebak~ unyu kayak yang ngetik (baca : saya)~

    1. Eeeeeeh bikin FF tuh refreshing tauk! #DUAGH emang sih, aku ga bisa lanjutin ff fantasy, soalnya nyawanya lagi setengah-setengah, (setengah di sekolah setengah pengen libur) (??)
      Iya tuh. duuuhh ampe pusing sendiri mencegah tangan buat ngetik seharian. harus belajar kaaan ._.
      GOMAWO YA~~~~ XDD

  9. jincha! Reene-ssi jangan bikin aku berpaling dari tetem puwlissss~
    asli suka banget sama karakter bang minoooo… berasa banget nih ff dugeun-dugeunnya. joahaeeeee ❤

    1. Awww! Minho kan memang siswanto gitu, aku kan cuma mengeksplor ke-siwanto-an dia (??) #lupakan
      Iyeee dunks… Mino gitcyuuuuu~~ #PLAKH *paling dapet feel kalo buat Mino soalnya ._.* #DUAR
      Gomawo yaaaa~~~ XDD *hug*

  10. wah menggelegar ceritany
    jadi minho smpat pcrn m sooyoung jga ya? Nappeun namja*pukul minho*
    Balikkan sma ex seru jga, apalagi exnya itu minho ya ching hahaha
    Tapi rada aneh jga, kykna minho buntutin misol terus. Soalnya terlalu byk hal kebetulan dsini.
    tapi itu hanya minho, author, n hananim yg tau keke~
    Joha^^

    1. Nyehehehe… buat cari pengalaman gitu #ditabok
      Wih, banget banget banget wahahahaaa Iya, mungkin? Kan si Mino masi cinteeeee #diinjek
      Gomawo udah komen :*

  11. Ini sweet banget, thor… Renee
    Gak nyangka 7 th setelah putus, reuni, tuh dua orang labil
    masih memiliki perasaan yang sama…
    Sweet….
    Suka banget…
    Kalo kayak gini aja, dibilang abal2 dan nulis disela2 wky=t istirahat,
    gimana kalo nulisnya fokus… bakal daebakk sangat!!!

    Semangat terus buat nulis ya…

  12. keren loh .-. aku jadi pingin begitu /plakk
    soalnya ceritanya so sweet deh, dulu ada novel apa ya judulnya aku lupaa ada kata finally nya ada kata first lovenya ya itulaaah, gituu juga balikan lagi sama mantan setelah lewat tahun ke tahun dan way back nya ituloh bikin berdesir *preeett

    wakkaka keren loh ciyuusss

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s