Beautiful Coincidence – Part 2

 

Author: Tia31

Main Cast:

–      Choi Minho (SHINee)

–      Park Jiyeon (T-Ara)

Support Cast:

–      Kris, Wu Fan (EXO-M)

–      Krystal, Jung Soojung (F(x))

–      Lee Taemin (SHINee)

–      Oh Sehun (EXO-K)

–      Eunmi

Length: Sequel

Genre: Romance, Family, Sci-Fi

Rating: PG-13

“Annyeonghaseyo, appa.” ucap Minho sambil membungkuk pada appanya yang baru saja keluar dari ruang kedatangan pesawat.

“Ah Minho. Apa kabarmu?” jawab Tuan Choi Yoen Gyeom.

Choi Yoen Gyoem baru saja kembali dari Amerika. Ia diminta oleh kepala pemerintahan disana untuk menangani seorang anak menteri yang sakit keras. Tentu saja, beliau bukanlah seorang dokter biasa. Ia sudah di kenal seantero Korea bahkan beberapa negara maju di dunia karena dedikasinya di bidang kedokteran, yaitu membuat obat untuk penyembuhan penyakit jantung, penyakit yang sampai Yeon Gyeom temukan obatnya, tidak dapat disembuhkan.

“Aku baik-baik saja.”

Yoen Gyeom menepuk bahu Minho dan mengajaknya ke tempat parkir untuk segera masuk ke mobil. Yoen Gyeom dan Minho duduk berdampingan di kursi belakang. Hening. Begitulah suasana mobil tersebut.

Minho dan appanya memang tidak terlalu dekat. Sejak kecil Minho sudah ditinggal eommanya dan diasuh oleh baby sitter. Yeon Gyeom terus berpergian keluar kota bahkan keluar negeri. Menjadi salah satu dokter terhebat di dunia betul-betul menyita waktunya untuk anak semata wayangnya, Choi Minho.

“Bagaimana nilai biologimu?” perkataan Yeon Gyeom sukses mengalihkan pandangan Minho dari jendela mobil kepadanya. Minho tak menjawab, ia hanya menunduk.

Yeon Gyeom tak pernah menanyakan nilai Minho yang lain selain Biologi. Ia betul-betul berharap, anaknya nanti dapat menjadi seperti ia dan istrinya.

“Appa dengar, Baekho sudah mencarikan guru baru yang seumuran denganmu. Bahkan dia adalah teman sekelasmu. Apakah itu betul?”

“Bisakah appa menghentikan semua ini? Aku tidak butuh guru biologi. Aku tidak ingin menjadi dokter, seperti apa yang inginkan selama ini.” Minho menarik nafasnya kemudian menghembuskannya kembali.

“Pilihan appa selalu menjadi yang terbaik bagimu.” jawab Yeon Gyeom lantang. “Appa memintamu untuk les biola dan nyatanya, kau menjadi bintang tamu di Festival Musik Jazz Korea. Appa memintamu untuk berlatih tae kwondo, setelah itu kau dapat dengan mudah mengalahkan juara satu di Seoul. Pilihan appa tidak pernah meleset, Minho-ya.”

Minho tertegun. Ia hanya memandang appanya tanpa menjawab apa pun.

“Kali ini, appa akan memohon, bukan meminta lagi.”

***

Suara bising mulai terdengar di dapur rumah Jiyeon. Kini Jiyeon sedang memasak dua piring nasi goreng untuk dirinya dan eommanya.

Beberapa bawang sudah ia cincang halus, bumbu-bumbu sederhana lain juga sudah ia siapkan. Kini tinggal memasukkan semuanya dan nasi sisa kemarin yang masih belum habis dari pemanas nasi. Jiyeon mengerjakannya dengan begitu lihai. Sejak eommanya tidak dapat melakukan pekerjaan rumah, Jiyeon tentu dituntut agar dapat menggantikan eommanya.

Kegiatan Jiyeon terhenti saat mendengar ponselnya berdering di saku celananya. Setelah mematikan kompor, Jiyeon langsung membuka sebuah pesan masuk yang dikirimkan oleh Baekho.

Baekho Ahjussi

Annyeong.

Jiyeon-ah, hari ini dan besok, kau tidak usah datang. Doryeonim akan pergi berlibur bersama sajangnim.

Jiyeon sedikit bejingkrak karena senang. “Tidak ada tekanan batin untuk hari ini.” gumamnya sambil mulai mengetikan sms balasan untuk Baekho.

Park Jiyeon

Ne, ahjussi. Lusa aku akan datang.

Jiyeon memasukkan ponselnya kembali kedalam sakunya dan mulai kembali memasak. Setelah nasi goreng sederhana yang ia buat matang, ia segera menghidangkannya untuk eommanya terlebih dahulu.

“Ini eomma.” ucapnya pada eommanya yang sedari tadi menunggunya di dalam kamar sambil berbaring di atas tempat tidur.

“Gomapta, Jiyeon-ah.” jawab Yoondae sambil tersenyum. Ia mulai menyuapkan sendok demi sendok dengan tangan kirinya yang masih bisa ia gerakkan. Sedang Jiyeon menatap eommanya penuh kasih sayang sambil tersenyum tulus.

Yoondae yang menyadari tidak ada sepiring pun yang Jiyeon bawa, akhirnya berbicara, “Kau tidak makan, sayang?”

“Nanti saja. Sebenarnya, saat melihat eomma makan dengan lahap, rasanya perutku yang lapar dapat dengan sendirinya terisi.”

Yoondae langsung menaruh piringnya di atas pahanya dan mengacak-acak rambut Jiyeon yang dibalas oleh senyuman manis oleh Jiyeon.

“Eomma bangga punya anak sepertimu.”

“Tentu saja eomma harus bangga.” jawab Jiyeon kemudian keduanya tertawa bersama.

“Kau ini. Cepat sana makan.”

“Baiklah.” Jiyeon akhirnya beranjak dari kamarnya dan pergi ke dapur untuk mengambil sepiring nasi goreng. Ia melahapnya dengan perlahan. Mencoba meresapi makanan yang jarang ia nikmati.

Tiba-tiba saja nama Kris melintas di pikirannya. “Kris…” gumamnya sambil tersenyum. Kini Jiyeon mulai membayangkan sikap Kris kepadanya. Saat Kris menghidangkan banyak makanan untuknya, bertemu dengan Kris di perpustakaan, bahkan insiden yang membuatnya tenggelam dalam pelukan Kris.

“Ahh namja itu…” gumamnya lagi kemudian kembali menyendok sesuap nasi ke mulutnya.

Setelah menyantap habis makanannya, Jiyeon memutuskan untuk bersiap-siap untuk pergi ke perpustakaan yang kemarin ia kunjungi. Sedikit banyak tersimpan keingin baginya untuk bertemu dengan Kris kali ini. Namun Jiyeon tak ingin terlalu banyak berharap. Toh masih banyak pekerjaan lain yang harus Kris kerjakan.

Seperti biasa, di waktu luang, Jiyeon pasti membaca beberapa buku di perpustakaan tersebut. Bukan hanya buku pelajaran, namun beberapa novel cinta bahkan novel fantasi berat sudah banyak yang ia lahap.

“Aku pergi dulu. Eomma hati-hati di rumah. Kalau ada apa-apa, hubungi aku, ne?” ucap Jiyeon saat memasukkan ponselnya kedalam tas sandangnya.

“Ne, eomma sudah tahu betul apa yang akan kau katakan sebelum pergi, Jiyeon-ah.” Yoondae tersenyum dan menarik selimutnya untuk menutupi sebagian tubuhnya dengan sebelah tangannya.

Jiyeon dengan sergap membantu eommanya yang sedikit kesulitan. Ia mengecup sekilas kening Yoondae dan menguncir rambutnya. “Aku pergi dulu. Annyeong!”

“Annyeong!”

Akhirnya Jiyeon berjalan menuju perpustakaan tersebut. Sesekali Jiyeon layangkan tangannya ke udara hanya untuk menikmati sejuknya udara musim gugur. Beberapa daun berjatuhan di atas kepalanya, membuat Jiyeon beberapa kali harus kembali membersihkan kepalanya.

Langkah Jiyeon terhenti saat melihat sebuah keluarga kecil yang sedang duduk sambil menunggu di halte bis. Sang anak yang memegang balon, tiba-tiba saja menangis karena es krim yang ia pegang terjatuh ke tanah. Appanya yang tidak tega melihatnya menangis kini mulai merengkuh anak tersebut kedalam pelukannya dan menggendongnya. Sedang eommanya sedang mengorek-ngorek tas yang ia sandang, mencoba mencari sesuatu. Akhirnya eommanya mengeluarkan sebuah sapu tangan dan menghapus air mata gadis tersebut.

Jiyeon yang melihat kejadian tersebut mendesah pelan. “Beruntungnya anak itu.” ucapnya kemudian kembali meneruskan perjalanannya.

Akhirnya Jiyeon sampai di perpustakaan yang menjadi tujuannya sedari tadi. Buru-buru ia langkahkan kakinya menuju deretan rak-rak berisikan buku kedokteran. Sesekali berharap bahwa Kris akan muncul dengan tiba-tiba seperti kemarin.

Jiyeon menghembuskan nafasnya setelah berkali-kali mencoba memilah-milah buku sambil berharap akan menemukan sosok Kris di hadapannya, namun harapannya pupus sudah. Semua rak sudah ia jamah namun sosok Kris tak kunjung muncul.

Mungkin sedang sibuk dengan restorannya, batin Jiyeon. Ia putuskan untuk membaca buku kedokteran mengenai sistem pencernaan bagi manusia.

Sekitar empat jam Jiyeon membaca buku tersebut hingga tamat. Seakan mendapatkan suntikan energi, Jiyeon kembali bersemangat. Ia tahu betul bahwa buku kedokteran adalah bagain dari hidupnya.

Kini yang Jiyeon inginkan adalah sebuah beasiswa untuk menjadi mahasiswa di Seoul National University, universitas impiannya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Namun, beberapa kali hatinya mengatakan bahwa impiannya tak akan tercapai, mengingat dana yang dibutuhkan untuk masuk universitas kenamaan Korea tersebut bukanlah hal yang mudah. Meski begitu, hal itu ia jadikan sebagai motivasi untuk belajar lebih baik dan mendapatkan beasiswa untuk membiayai pendidikannya.

Lamunan Jiyeon tiba-tiba saja terpecahkan oleh suara galak tawa di tengah-tengah suasana sepi perpustakaan. Jiyeon yang mulai risih, kini berbalik mencari sumber suara tersebut.

Seketika matanya membulat dan pipinya memerah. Kris. Saat ini namja yang ia tunggu sedang berada di hadapannya sambil membaca sebuah komik. Suara tawa Kris sukses membuat jantungnya tak berhenti berdegup kencang.

Sempurna.

Satu kata yang mendeskripsikan sosok namja dengan dengan kaus hitam polos dan celana jeans di atas lutut itu bagi Jiyeon.

Kris yang menyadari Jiyeon yang berada tak jauh dari tempatnya duduk saat ini akhirnya menghentikan kegiatannya dan menghampiri Jiyeon. “Hey!” sapanya sambil menarik bangku di hadapan Jiyeon.

“Hallo.” jawab Jiyeon sedikit gugup.

“Kau sering kesini ya?”

Jiyeon mengangguk namun tak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya yang terkunci karena pesona Kris.

“Hmm aku juga tapi jarang sekali bertemu denganmu.” Kris menaruh komiknya di atas meja kemudian menatap Jiyeon.

“Hmm mungkin hanya tidak berjodoh saja. Kkkk.” jawab Jiyeon.

“Ah ne, ngomong-ngomong, sejak kapan kau menjadi guru les privat Minho?” Kris mulai bertanya pada Jiyeon.

Jiyeon kembali teringat pada sosok Minho yang dingin dan sombong. Tak lupa juga sosoknya yang begitu misterius. Pura-pura bodoh, apa sebenarnya maksudnya? gerutu Jiyeon dalam hati.

Karena tak kunjung mendapat jawaban dari Jiyeon, Kris melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Jiyeon, “Kau kenapa?”

“Ah anni. Aku mengajarnya sejak tiga hari yang lalu.”

“Arrasseo. Apa kau mengajarkannya biologi? Kudengar, nilainya yang paling buruk adalah biologi, padahal setahuku orang tuanya adalah seorang dokter. Ia sering kali harus mengikuti ulangan perbaikan karena nilainya yang sangat buruk, benarkah itu?” tutur Kris panjang lebar.

Mengingat kejadian kemarin, Jiyeon hanya dapat bergumam dalam hati, bahkan dia bisa mendapatkan nilai yang lebih baik dariku. “Ne, aku memang memberikan kursus biologi untuknya.” jawab Jiyeon sambil sedikit tersenyum pada Kris.

Kris yang tak kuasa melihat senyuman Jiyeon, akhirnya ikut tersenyum.

Beberapa saat keheningan menyelemuti atmosfer diantara mereka. Tak ada seorang pun yang membuka pembicaraan.

Seketika suara dering dari ponsel Jiyeon memecahkan keheningan. Buru-buru ia merogoh tasnya dan akhirnya menemukan ponslenya.

Eomma.

Nama tersebut kini tertera di layar ponsel Jiyeon. “Yeoboseyo?” sapa Jiyeon.

“Jiyeon-ah!” suara seseorang dari seberang yang tak terdengar seperti suara dari eommanya kini membuat Jiyeon panik.

“Ne?”

“Ini Junshi ahjumma. Eommamu sekarang kejang-kejang. Cepatlah datang!” suara seorang wanita paruh baya di telepon sontak membuat Jiyeon panik.

“Ne ne. Aku akan segera pulang ahjumma.” Jiyeon buru-buru menutup teleponnya dan beranjak dari kursinya tanpa berpamitan dengan Kris.

Kris kini hanya dapat mengejar Jiyeon yang berjalan dengan cepat dan akhirnya menarik tangan Jiyeon lembut, “Kau mau kemana, Jiyeon?” tanyanya perhatian.

“Eomma… eomma kejang-kejang di rumah. Aku harus segera pulang. Sampai jumpa.”

“Anni biar kuantar. Ayo naik ke mobilku.” Kris menunjuk mobilnya sambil menyentuh bahu Jiyeon. Jiyeon yang tak dapat menolak hanya dapat menurut dan masuk ke mobil Kris. “Tunjukkanlah arah rumahmu. Tenang saja, akan kuantar.”

“Ne. Gamsahamnida. Kau terlalu baik padaku.” ujar Jiyeon sambil memasangkan sabung pengaman ke tubuhnya.

“Apapun untukmu.” jawab Kris pelan namun tak terdengar oleh Jiyeon yang kini sibuk dengan pikirannya akan eommanya di rumah.

Beberapa kali Jiyeon memijit-mijit kepalanya selama perjalanan. Ia betul-betul khawatir atas kondisi eommanya saat ini.

Akhirnya mereka sampai di rumah Jiyeon. Rasa prihatin mulai menyeruak di hati Kris. Ini kah rumahnya? batin Kris. Kris tahu betul bahwa Jiyeon bukanlah orang mampu, namun keadaan rumah Jiyeon betul-betul berada di luar dugaannya.

Tanpa tunggu lama, Jiyeon langsung masuk ke rumah dan berlari ke kamarnya. Kini ia melihat eommanya yang kejang-kejang dan seorang tetangganya, Junshi. Tak ada yang dapat Junshi lakukan sedari tadi selain memberikan Yoondae beberapa obat yang tak memberi efek sedikit pun.

“Jiyeon-ah, eommamu.”

Belum sempat Jiyeon menjawabnya, sentuhan Kris di bahu Jiyeon membuatnya menoleh kepada Kris. “Kita harus cepat membawanya ke rumah sakit.”

Dengan sigap Kris menopang tubuh Yoondae ke mobil. Jiyeon kini hanya dapat merapikan beberapa peralatan Yoondae yang tertinggal di kasur.

“Ahjumma, terima kasih. Eomma akan kami bawa ke dokter.” ucap Jiyeon tergesa-gesa.

“Baiklah, hati-hati, Jiyeon.”

Junshi akhirnya berjalan keluar dan meninggalkan rumah tersebut. Sebelum meninggalkan kamarnya, Jiyeon tak lupa mengambil sebuah amplop berisikan uang tabungannya. Ia berjalan bergegas meninggalkan rumah dan menguncinya sebelum masuk ke mobil.

“Ke Yongsang Hospital.” ujar Jiyeon.

“Kau ini bagaimana? Rumah sakit tersebut tidak akan memberikan pelayanan yang terbaik untuk nyonya Park.” Kris sedikit menaikkan nada suaranya, membuat Jiyeon sedikit bergidik ngeri. “Honjungsang Hospital akan memberikan pelayanan yang lebih baik.” ucap Kris dengan nada yang lebih rendah.

Mendengar nama rumah sakit tersebut, membuat Jiyeon sedikit mengintip isi amplop yang ia bawa tadi. Jelas, uang tabungannya tak akan cukup untuk membiayai dana perawatan di rumah sakit bertaraf internasional tersebut.

“Anniya, aku tidak punya uang. Bawa kami ke Yongsang, Kris. Kumohon.”

Permintaan Jiyeon sama sekali tak diindahkan oleh Kris, “Masalah dana, kau tak perlu memikirkannya.”

“Anni, tolong bawa kami ke Yongsang.”

“Anniya, Jiyeon-ah. Dengar kataku. Kau ingin eommamu baik-baik saja kan?” Kris berusaha mengusap kepala Jiyeon dengan tangan kirinya. Ia menatap Jiyeon tulus dan mengulaskan senyum terbaiknya untuk Jiyeon.

***

Jeju Island.

Disinilah kini Minho berada. Pulau kebanggaan Korea yang terkenal akan keindahannya. Tempat tujuan utama para wistawan mancanegara maupun wisatawan lokal untuk berlibur. Namun tidak bagi Minho.

Pertemuan Persatuan Dokter Korea Selatan.

Tak seperti yang orang lain lakukan di pulau ini, Minho harus menghadiri sebuah pertemuan akbar yang dihadiri oleh dokter-dokter dari penjuru Korea. Kini ia harus duduk di sebelahnya appanya, Yeon Gyeom, salah seorang ketua dari persatuan tersebut.

“Yang terhormat, Dr. Yeon Gyeom sebagai ketua dipersilahkan untuk memberikan kata-kata sambutan. Kepada beliau, kami persilahkan.” sesaat setelah mendengar MC yang berbicara di mikrofon, Yeon Gyeom langsung beranjak dari kursinya dan naik ke panggung sedang hadirin yang datang memberikan tepuk tangan yang meriah untuknya.

Tak sama halnya dengan Minho yang hanya diam menatap dingin wajah appanya yang berdiri dengan gagah di atas panggung. Suasana hall termegah di Pulau Jeju yang ramai sama sekali tak berarti baginya.

“Selamat siang. Choi Yeon Gyeom imnida. Saya selaku….”

Kata demi kata yang diucapkan oleh Yeon Gyeom sama sekali tidak ada artinya bagi Minho. Tiada rasa kagum di hatinya, tak seperti hadirin yang hadir.

“Annyeonghaseyo.” sapa seseorang yang baru saja duduk di sebelah Minho. Seorang namja yang Minho perkirakan sebaya dengan appanya kini tersenyum pada Minho. Dr. Park Jungsoo. Sebuah nametag yang tersangkut di jasnya menjelaskan bahwa ia adalah salah satu dokter yang diundang ke pertemuan ini.

Nama ini… tapi belum tentu dia orangnya, batin Minho.

“Annyeonghaseyo.” jawab Minho ramah.

“Park Jungsoo imnida.” dokter tersebut mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Minho.

“Choi Minho imnida.”

“Putra Choi Yeon Gyeom yang sangat tampan.” pujinya.

“Gamsahamnida, ahjussi.”

“Minho, kau pasti akan menjadi dokter yang hebat seperti appa dan eommamu.”

“Ne? Ah sekali lagi, gamsahamnida, ahjussi.” Minho hanya dapat mengiyakan perkataan dokter tersebut. Ia sedang tidak ingin melayani pembicaraan siapapun saat ini. Setidaknya sampai acara ini selesai.

“Aku pergi dulu. Annyeong.”

“Ne, annyeong.”

Dokter tersebut beranjak dari kursinya dan meninggalkan Minho. Rasa curiga sedikit meliputi perasaan Minho. Tapi orang yang bernama Park Jungsoo bukan hanya dia, ucapnya dalam hati.

Seketika suara tepuk tangan menyadarkan Minho dari lamuanannya. Kini Yeon Gyeom berjalan kembali ke tempat duduknya semula. Semua mata tertuju pada Minho dan appanya. Beberapa wartawan mulai mengambil foto keduanya.

***

Jiyeon membuka matanya saat mendengar suara pintu kamar rawat eommanya yang terbuka. Semalaman ia menemani eommanya di rumah sakit. Setelah dua hari di rawat selama kurang lebih dua hari di ruangan VIP yang Kris siapkan, Yoondae akan diperbolehkan untuk kembali ke rumah siang ini.

“Kris?” gumam Jiyeon sambil mengusap matanya. Ternyata yang membuka pintu kamarnya adalah namja tampan bertubuh tinggi, yang sejak kemarin meneman Jiyeon berada di rumah sakit bersama eommanya.

“Annyeong! Ini kubawakan sedikit makanan.” tak seperti yang Kris katakan, bukan makanan sedikit yang ia bawa. Dua kotak makanan besar berisi makanan khas China kini berada di dalam tas sandang yang ia bwa.

Jiyeon berjalan mendekat dan melihat barang bawaan Kris, “Kau terlalu baik, Kris.” ucap Jiyeon namun Kris hanya mengacak-acak rambut Jiyeon dan menaruh bawaannya di atas meja.

Tirai yang Jiyeon buka membuat matahari pagi menelusup masuk dan membangunkan eommanya. Kini Yoondae terbangun dari tidurnya. “Jiyeon…” serunya dengan mata yang setengah fokus.

Yoondae mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan mendapati Kris yang bangun dari duduknya. “Nak Kris.” sapanya sambil tersenyum.

“Selamat pagi, ahjumma. Apa ahjumma sudah baikan?” tanya Kris perhatian kemudian mendekat ke tempat tidur Yoondae.

“Ne, jeongmal gamsahamnida. Nak Kris sudah terlalu banyak membantu.”

“Tidak apa-apa, ahjumma. Saya senang membantu.”

Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan ke tiganya ke arah pintu. Detik kemudian seorang suster muncul membawa beberapa peralatan untuk memeriksa Yoondae di atas sebuah meja berjalan.

Suster tersebut tersenyum pada Yoondae, “Annyeong. Selamat pagi, Nyonya.” sapa suster tersebut begitu ramah.

Sesaat kemudian seorang dokter yang sedari kemarin menangani penyakit Yoondae muncul dengan stetoskop di lehernya. Ia segera mendekat dan mulai memeriksa Yoondae.

Jiyeon dan Kris hanya dapat menunggu sampai proses pemeriksaan selesai. Beberapa kali Jiyeon memperhatikan jam dinding yang berada tepat di atas kulkas dekat tempat tidur eommanya. Pukul 9. Seharusnya ia sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah Minho dan memberikannya kursus.

Namun tiba-tiba saja suara ponsel Jiyeon memecahkan keheningan.

Baekho Ahjussi

Annyeong.

Jiyeon-ah, kau bisa datang ke sini pukul 2w siang? Doryeonim masih punya beberapa urusan.

Jiyeon menghela napasnya lega dan segera membalas pesan dari Baekho.

Park Jiyeon

Baik, ahjussi. Aku akan datang tepat waktu.

Tanpa Jiyeon sadari, Kris sudah berdiri dan memberi salam kepada sang dokter dan suster. Ia berbalik kepada Jiyeon dan tersenyum, “Siang nanti ahjumma sudah boleh pulang. Sekarang ia harus tidur.”

“Ah nee. Aku harus mulai bersiap-siap.” jawab Jiyeon sambil mengambil sebuah tas besar, tempat baju-baju eommanya. Jiyeon menatap Kris yang kini menahan tangannya.

“Bisa tolong temani aku sebentar?” pinta Kris yang dijawab oleh anggukan dan senyuman dari Jiyeon. Jiyeon mengikut langkah Kris keluar pintu tanpa bertanya kemana tujuan mereka saat ini.

Jiyeon dan Kris berjalan melewati lorong utama rumah sakit dalam diam. Masing-masing larut dalam pikiran mereka akan apa yang sedang di pikirkan satu sama lain.

Tiba-tiba seorang dokter yang didampingi oleh dua bodyguard muncul dari arah lobi rumah sakit dan membuat mata Jiyeon terbelalak. “CHOI YEON GYEOM???” serunya namun detik berikutnya, ia menutup mulutnya saat menyadari bahwa suaranya sudah membuat beberapa orang beralih kepadanya.

Jiyeon menatap Kris yang menatapnya bingung, “Ahh aku tahu.” ucap Kris. “Kau pasti sangat mengidolakannya bukan?”

Jiyeon mengangguk cepat dan sangat kegirangan. Akhirnya, impiannya selama ini untuk bertemu dokter nomor satu di Korea tersebut tercapai. Cho Yeon Gyeom, salah seorang inspirasinya dalam hidupnya kini berada tepat di hadapannya. Namun kebahagian Jiyeon berlangsung begitu cepat, Yeon Gyeom sedang terburu-buru dan harus segera masuk ke ruangannya.

Kris menggenggam tangan Jiyeon yang kini menunduk, “Setidaknya, kau tahu dimana ia praktek.” ujar Kris menenangkan.

“Ia adalah dokter terkenal. Kukira tempat prakteknya pindah-pindah. Mungkin aku tidak akan lagi bertemu dengannya.” sesal Jiyeon.

“Kau mau menyusulnya?”

Jiyeon menggeleng cepat dan mulai melangkah lurus. “Hmm tidak. Ngomong-ngomong kita mau kemana?”

“Ke taman belakang, temani aku disana sebentar. Bagaimana?”

“Baiklah.”

Akhirnya Jiyeon dan Kris sampai di taman belakang dan memutuskan untuk duduk di bangku taman dekat air mancur. Suasana sejuk menyelimuti mereka saat ini dan kicauan burung betul-betul membuat suasana menjadi lebih damai. Beberapa pasien dengan suster pendamping duduk di bangku taman yang lain dan bercengkrama.

Kris menghirup napasnya dalam kemudian membuangnya, mencoba menikmati suasana pagi yang sangat membuat hatinya damai, terlebih lagi kehadiran Jiyeon yang membuatnya lebih bersemangat.

Sementara Jiyeon sedang berkompromi dengan jantungnya yang kini berdetak lebih cepat. Keheningan di antara mereka membuat Jiyeon takut akan suara detak jantungnya yang kini mulai terdengar oleh dirinya sendiri.

“Jiyeon-ah…” suara Kris memecahkan keheningan.

Jiyeon menoleh dan menatap Kris, “Ne?”

“Sejuk sekali ya?”

“Ah, ne.” jawab Jiyeon sambil sedikit tertawa. Ia segera mengedarkan pandangannya agar tidak terlihat canggung. Aktivitasnya pun terhenti saat melihat seorang namja dengan tampan berpakaian rapi duduk di bangku taman yang berada tepat dihadapannya, melihatnya dengan tatapan yang tak dapat ia artikan.

***

Sejak turun dari kapal pesiar dan masuk ke mobil, Minho tak henti-hentinya memandangi pemandangan dari kaca mobil. Pandangannya tak sedikit pun teralihkan oleh aktivitas appanya yang terus berbicara dalam telepon. Yang Minho adalah Yeon Gyeom tak membahas soal obsesinya menjadikan Minho dokter, seperti dirinya.

“Hyunjae, antar kami ke Honjungsang.” seru Yeon Gyeom. Detik kemudian, ia mengalihkan pandangannya pada Minho, “Minho-ya, appa akan menunjukkanmu ruangan appa yang baru.”

Minho menghela napasnya. Inikah strategi lain dari appanya untuk membujuknya?

“Untuk apa?” tanya Minho dingin.

“Agar kau dapat melihat betapa asyiknya menjadi seorang dokter.”

“Tidak ada gunanya bagiku.”

Yeon Gyeom tak menjawabnya. Ia kembali asyik dengan komputer tabletnya yang ia genggam sedari tadi untuk mengerjakan pekerjaannya. Di sisi lain, Minho kembali asyik memperhatikan pemandangan yang tersuguh di kaca mobil.

Sekitar satu jam, mereka akhirnya sampai di Honjungsang Hospital. Yeon Gyeom yang notabenenya adalah dokter terhormat disana, didampingin oleh dua pengawal untuk masuk ke lobi dan segera menuju ruangannya.

Minho yang memilih untuk tidak keluar bersama appanya, terpaksa harus menunggu mobilnya untuk sampai di tempat parkir basement lalu turun. Sebelum masuk ke lobi, Yeon Gyeom sudah berpesan pada Minho untuk masuk ke ruangannya. Namun, Minho melakukan hal lain, ia lebih memilih untuk pergi ke taman belakang terlebih dahulu.

Begitu menemukan sebuah bangku kosong di sudut taman, Minho langsung melangkahkan kakinya ke bangku tersebut. Tak ada yang ia lakukan selain tersenyum melihat beberapa orang berseragam pasien terlihat gembira saat bercengkrama dengan kerabat atau pun suster pendampingnya.

Kini pandangannya tertuju pada seorang namja dan seorang yeoja yang sedang duduk bersama di bangku taman. Mereka terlihat begitu mesra di mata Minho. Meski ia tidak dapat mengetahui apa yang mereka bicarakan, Minho dapat melihat ada atmosfer yang berbeda yang menyelimuti mereka berdua.

“Cinta?” gumamnya pelan. “Bahkan cinta dapat dikalahkan oleh obsesi.”

Minho menarik sisi kanan bibirnya sambil menatap Jiyeon yang kini menatapnya bingung. Minho buru-buru membuang pandangannya, mencoba tak mempedulikan mereka. Baginya, menikmati suasana pagi dan indahnya penataan taman yang dirancang dengan baik oleh arsitek yang di pilih sendiri oleh appanya lebih penting daripada memperhatikan sepasang sejoli yang kini sedang dimabuk cinta.

Minho merasakan ponselnya begetar di saku celananya. Choi Yeon Gyeom. Kini nama tersebut tertera dengan jelas di layar ponselnya. Tanpa mengangkat panggilan tersebut, Minho bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruangan appanya.

***

Rasa penasaran mulai menyeruak di hati Jiyeon saat melihat Minho yang bangkit dan berjalan menuju pintu masuk ke rumah sakit. Ia memutuskan untuk pamit pergi sebentar kepada Kris.

“Kris, aku permisi ke toilet sebentar.” Jiyeon terpaksa berbohong.

“Hmm yasudah.” jawab Kris sambil tersenyum.

Akhirnya Jiyeon meninggalkan Kris di taman. Ia sedikit mempercepat langkahnya masuk menuju rumah sakit karena takut kehilangan jejak Minho. Minho yang berjalan dengan santai sepertinya tak mengetahui bahwa kini jejaknya diikuti oleh Jiyeon.

Bagaimana kalau dia naik eskalator? ucap Jiyeon dalam hati. Jiyeon mulai memikirkan beberapa ide agar kemungkinan yang kini berada di otaknya dapat ia pecahkan jika terjadi. Namun beruntung, Minho kini berhenti di depan sebuh pintu.

Sebuah papan bertuliskan nama ‘Choi Yeon Gyeom’ memberikan kepastian pada Jiyeon bahwa ruangan tersebut adalah ruangan milik Choi Yeon Gyeom.

Jiyeon yang melihat Minho masuk kedalam ruangan tersebut mulai bertanya-tanya. Ia menaruh kedua jarinya di dagu dan menopang lengannya diatas lengan satunya. “Choi Minho… Choi Yeon Gyeom!” serunya namun lagi-lagi ia harus menutup mulutnya, tapi kali ini ia beruntung karena tak ada yang mendengar suaranya.

Sebelum Kris curiga dan mencarinya, Jiyeon putuskan untuk kembali menemui Kris yang masih duduk tenang di taman. Jiyeon menghampiri Kris dan duduk di sampingnya.

“Toiletnya antre?” tanya Kris. Ia tahu betul bahwa toilet terdekat sama sekali tidak jauh dari taman belakang.

“Ne, hehhe. Tadi aku harus mencari toilet lain yang agak jauh.” Jiyeon kembali berbohong. “Sudah hampir jam 10. Kurasa kita harus segera kembali ke kamar.”

Jiyeon dengan reflek menarik tangan Kris. Mereka pun bertemu pandang secara tidak sengaja. Kini tatapan Kris sukses membuat jantung Jiyeon kembali berdetak tiga kali lebih cepat. Karena gugup, buru-buru ia melapaskan genggamannya dan berjalan terlebih dahulu.

Akhirnya mereka sampai di kamar rawat Yoondae. Karena Yoondae masih tertidur lelap, Jiyeon memilih untuk merapikan barang-barang milik Yoondae dan miliknya. Sedangkan Kris keluar untuk membayar administrasi rumah sakit.

Pukul 12 tepat. Semuanya sudah siap dan Yoondae akan segera kembali ke rumah. Kris akan menyetir mobil dan mengantarkan mereka pulang.

Selama perjalanan, yang ada di pikiran Jiyeon hanyalah sosok Minho. Minho adalah putra Choi Yeon Gyeom? Kini pertanyaan tersebut terus terngiang-ngiang di otaknya. Yang ia tahu, eomma Minho adalah seorang dokter terkenal, namun dokter terkenal yang Baekho maksud tidak ia ketahui sosoknya.

Kini Jiyeon berpikir mengenai Yeon Gyeom. Yang Jiyeon juga tahu, istri dari Choi Yeon Gyeom, Baek Jaeyoon adalah seorang dokter, sedangkan appa Minho, menginginkan Minho menjadi seorang dokter sama seperti eommanya.

“Berarti…” gumam Jiyeon sambil menjetikkan jarinya. “Dia adalah anaknya!”

Kris dan Yoondae langsung menoleh pada Jiyeon. “Anak siapa?” tanya eommanya yang penasaran mengapa anaknya tiba-tiba bersikap aneh.

“Anniya.”

***

“Baiklah, eomma. Aku pergi dulu.” ucap Jiyeon sambil mencium kening eommanya yang kini sudah berbaring kembali di atas ranjang kamarnya. “Jaga dirimu, eomma. Kabari aku jika ada sesuatu.”

“Ne, ne. Kau ini cerewet sekali.” jawab Yoondae sambil mengacak-acak rambut Jiyeon.

Kris pun dengan sigap merapikan kembali rambut Jiyeon dan tertawa melihatnya. “Ayo, kuantar.” Kris mengeluarkan kunci mobilnya dari sakunya dan tersenyum pada Jiyeon.

“Anni. Biar aku sendiri. Kami sudah terlalu banyak merepotkanmu. Sekali lagi, jeongmal gamsahamnida, kau betul-betul baik pada kami.”

Kris menggenggam tangan Jiyeon dan membungkuk pada Yoondae. “Kami pergi dulu, ahjumma.”

Jiyeon terpaksa menurut dan mengikuti Kris. Sebelum Jiyeon masuk ke mobilnya, terlebih dulu Kris membukakan pintu untuknya. Kau terlalu baik, Kris.

Tak ada pembicaraan penting yang terucap. Jiyeon yang sedari tadi hanya diam, berkutat dengan pikirannya akan Choi Yeon Gyeom dan Choi Minho, dua orang yang membuatnya betul-betul penasaran. Jika memang betul, kenapa Minho tidak mau menjadi seorang dokter sama seperti orang tuanya, kenapa Minho memilih untuk pura-pura bodoh, kenapa Jiyeon sendiri tak mengetahui bahwa anak dari idolanya bersekolah bahkan di tempatkan di kelas yang sama dengannya.

“Sekali lagi, terima kasih, Kris.” Jiyeon yang berdiri dibalik kaca mobil Kris, membungkuk padanya dan tersenyum.

“Kapan pun kau mau, aku akan selalu membantumu.” Kris kembali menggas mobilnya dan meninggalkan Jiyeon.

Jiyeon pun akhirnya masuk ke dalam rumah Minho. Di perjalanan menuju ruangan belajar Minho, Jiyeon terus mengarahkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Mencoba menemukan sebuah foto yang menjadi petunjuk baginya untuk membuktikan bahwa Yeon Gyeom adalah appa dari Minho.

Nihil, tak ada satu pun foto Yeon Gyeom atau barang yang bersangkutan yang Jiyeon temui. Kini Jiyeon justru mendapati Minho yang menatapnya dingin. Jiyeon pun menghembuskan nafas dan duduk dihadapan Minho.

“Hmm…” Jiyeon berdeham untuk memulai pembicaraan.

Namun belum sempat Jiyeon mengelurkan sepatah kata pun, Minho sudah angkat bicara, “Aku tidak butuh pengajaran darimu.”

“Lalu… apa yang harus kulakukan?” Jiyeon menjawabnya dengan pelan dan menunduk. Ia tidak mungkin keluar dari pekerjaan ini dan terus bergantung pada Kris yang terlalu baik padanya.

Minho terdiam sejenak, “Baiklah. Sekarang terserah pada dirimu.”

Jiyeon mencoba mengumpulkan semangatnya. Ia tak akan keluar dari pekerjaan ini dan kembali menjadi tour guide di Seouveler. “Kalau begitu, aku akan tetap mengajarimu. Bagaimana?” tanyanya sambil memandang Minho. Minho pun menatapnya tajam. “Baiklah… Mungkin kita bisa sharing? Aku tak memungkin memakan gaji buta disini.”

“Terserah kau saja.”

Akhirnya Jiyeon mengambil spidolnya yang berada di kantong terluar tas sandangnya kemudian bangkit dan mulai menulis di papan. Kali ini, Jiyeon memilih pelajaran sistem pencernaan untuk diajarkan, atau lebih tepatnya untuk sharing bersama Minho. Ia berharap, dengan ini kemampuannya dalam bidang biologi akan bertambah, begitu juga dengan Minho.

“Asam amino essensial terbagi menjadi Metionin, Treosin, Valin, Histidin, Isoleusin, Triptofan, Fenilalanin…” Jiyeon menghentikan kalimatnya dan mulai berpikir kelanjutan dari asam amino yang baru saja ia bacakan.

“Metionin, Treosin, Valin, Histidin, Isoleusin, Triptofan, Fenilalalanin, Arginin, Lisin dan Leusin.” Minho mengucapkan nama-nama tersebut dengan cepat, membuat Jiyeon berdecak kagum.

Jiyeon memberi tepuk tangan atas kekagumannya pada Minho. Minho hanya mengacuhkannya dengan cuek. Jiyeon berjalan mendekat dan duduk di hadapan Minho. Ia menatap Minho dengan tatapan serius kemudian sedikit mencondongkan kepalanya dan melipat tangannya di atas meja. “Doryeonim… Kau…..betul-betul je…nius.”

“Sudahlah.” jawab Minho sambil mengalihkan pandangannya dari Jiyeon.

Jiyeon membuka tasnya dan mencari buku biologinya. Ia mengeluarkan buku biologi tersebut dan sedikit membacanya. Jiyeon kembali bangkit dari duduknya dan menaruh buku biologinya di atas meja dengan keadaan terbuka.

Tanpa Jiyeon sadari buku yang ia taruh kini lembaran-lembarannya berbalik sendiri karena hempasannya. Ketika buku tersebut berhenti, mata Minho langsung tertuju pada selembar foto yang berada di diatas buku tersebut. Ia bangkit dan mendekat. Kini terlihatlah foto appanya dengan pakaian jas rapi dan menunjuk wibawanya serta intelektualnya.

Minho mengambil foto tersebut dengan ibu jari dan telunjuknya kemudian melayangkannya ke udara agar Jiyeon dapat melihatnya dengan jelas, “Jadi kau adalah salah satu dari orang bodoh yang mengidolakannya?”

Perkataan Minho sontak membuat Jiyeon berbalik badan dan mendapati foto idolanya yang kini berada di antara kedua jari Minho. Jiyeon mencoba mengalihkan pandangannya ke Minho. Kini wajah Minho terlihat berkali-kali lipat lebih dingin dari biasanya. “K-kenapa?”

Minho menghempaskan foto tersebut ke lantai kemudian kembali duduk.

Jiyeon mendekat ke Minho dan bertanya, “Dia…. dia appamu kan?”

To be continued…

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

11 thoughts on “Beautiful Coincidence – Part 2”

  1. jiyi na cuma. Tinggal ma eomma na aja ya…
    Terus kris itu ssapa ya?
    Aq agak ggaakkk mudenng?
    Maap ya …
    Minho na kapann sichh bissa lebih lembut sama jiyi..
    Jady pensaraan ma kelanjutan nya…
    Next ya chiggu
    🙂

  2. Aduh next chapternya cepet ya gak sabar nih hehe

    Bagus banget loh ff ini
    Nanti di perbanyak lagi ya ketegangannya hehe

    Nice ff tor

    Fighting
    ╭(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯ GO!

  3. Omo ditunggu kelanjutannya yaa… sangat berharap minho suka sama jiyeon.. masak dia dingin terus sama jiyeon… kan kasihan jiyeon..
    Juga berharap kris makin baik sama jiyeon..
    kris gomawoo  (o^^)o

  4. Aku baru baca di part ini, boleh kan?

    Walaupun temanya Hate2 love pada umumnya, tapi konflik yg ditampilin bikin penasaran, jadi nungguin nih. Ih si om tiang jadi jadi pinter badai gitu disini #disemprotflames. Good job Tia-ssi.

    Keep writing!

  5. Akhirnya di post juga part 2 nya. Aku nunggu2 bgt ff ini.
    Dokter park yg ketemu minho di pulau jeju itu siapa deh? Apa ada kaitannya sama jiyeon?
    Krisnya baik banget^^
    Minho cemburu ngeliat kris sama jiyeon di taman ya?
    Scene minho-jiyeonnya di banyakin dong thor, hehe^^
    Reaksi minho gimana ya pas jiyeon bilang kalo choi yeon gyeom itu ayahnya minho? Secara dia kan males bgt sama ayahnya yg dokter terkenal.

    Waaaah, pokoknya ditunggu bgt lah kelanjutan partnya.
    Keep writing for author, thanks^^

  6. Wah, keren… KEREN…!! Tetap penasaran sama alasan Minho yang nggak mau ngikutin jejak ayahnya menjadi seorang dokter. Sepertinya hubungan Minho dan ayahnya bukan nggak dekat lagi, tapi udah nggak baik. Kelihatan gimana sikap dingin Minho sama ayahnya, meski dia tetap harus mengormati sang ayah. Mungkinkah kehadiran Jiyeon bisa mengubah pendapat Minho?

    Tetang Kris, jadi pingin tahu juga sebenarnya perasaan dia gimana sama Jiyeon. Kalau Jiyeon kan udah terang-terangan naruh hati ke Kris. Hm, apa perkataan “Apapun untukmu” yang pernah diucapkan Kris punya maksud tertentu? Kekeke~

    Sedikit koreksinya pada kalimat “Suara bising mulai terdengar di dapur rumah Jiyeon.” Mungkin kata “bising” lebih enakan diganti kata “gaduh” karena bising itu kesannya suara yang ditimbulkan dari mesin-mesin berat atau kendaraan.

    Nice story.

  7. Aaaach iya ff nie pernah d publish jga kan d PJYFF tpi q gak tau sama klanjtan_ny,,,karna skarang d PJYFF lbih bnyak bertbaran ff MYUNGYEON jdi jrang main ksna….hehehe

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s