Beautiful Stranger [Chapter Five]

Beautiful Stranger

 

AKU berlari kembali ke ruang coordi setelah mengambil semangkuk air hangat dari pantry. Air menetes di sekitar tangan, ikut tumpah seirama dengan gerak tubuhku yang tidak stabil selama berlari. Suara batuk terus terdengar ketika aku melewati pintu dan menghampiri Jinki yang kini terbaring di atas kursi yang berderet. Napasnya berat dan tersengal-sengal. Keringat juga bercucuran di pelipisnya.

Aku berbalik untuk mendapatkan tas di atas meja, membuka zipper dan mengacak-acak isinya mencari saputangan. Aku tak tahu apa yang membuatku panik. Jinki hanya mabuk dan sialnya ia juga terkena demam. Setelah ia jatuh di atas tubuhku beberapa saat yang lalu, entah mengapa aku merasa bertanggung jawab atasnya.

Setelah saputangan ditemukan, aku membasahinya ke dalam mangkuk, memerasnya setengah kering kemudian melipat dan menaruhnya di atas dahi Jinki.

Aku baru ingat tidak melihatnya di restoran. Dia tidak ikut bergabung tetapi kembali ke perusahaan untuk berlatih, merokok, dan mabuk. Aku tidak paham sebesar apa masalahnya hingga menjadikan ia seperti ini.
Continue reading Beautiful Stranger [Chapter Five]