Beautiful Stranger [Chapter Five]

Beautiful Stranger

 

AKU berlari kembali ke ruang coordi setelah mengambil semangkuk air hangat dari pantry. Air menetes di sekitar tangan, ikut tumpah seirama dengan gerak tubuhku yang tidak stabil selama berlari. Suara batuk terus terdengar ketika aku melewati pintu dan menghampiri Jinki yang kini terbaring di atas kursi yang berderet. Napasnya berat dan tersengal-sengal. Keringat juga bercucuran di pelipisnya.

Aku berbalik untuk mendapatkan tas di atas meja, membuka zipper dan mengacak-acak isinya mencari saputangan. Aku tak tahu apa yang membuatku panik. Jinki hanya mabuk dan sialnya ia juga terkena demam. Setelah ia jatuh di atas tubuhku beberapa saat yang lalu, entah mengapa aku merasa bertanggung jawab atasnya.

Setelah saputangan ditemukan, aku membasahinya ke dalam mangkuk, memerasnya setengah kering kemudian melipat dan menaruhnya di atas dahi Jinki.

Aku baru ingat tidak melihatnya di restoran. Dia tidak ikut bergabung tetapi kembali ke perusahaan untuk berlatih, merokok, dan mabuk. Aku tidak paham sebesar apa masalahnya hingga menjadikan ia seperti ini.

“Ji…,” gumam Jinki. Ia mengigau, matanya masih terpejam.

“Apa? Kau bilang apa?”

Napasnya terengah-engah, ia juga terlihat sangat gelisah. Aku menunggunya mengucapkan sesuatu lagi.

“Ji… ra…”

“Apa? Katakan sekali lagi!”

Alisnya bertaut seperti sedang mimpi buruk. Jinki terlihat sangat rapuh dalam keadaan seperti ini. Tidak nampak garis-garis angkuh di wajahnya yang selalu ia perlihatkan padaku.

“Kim Jira,” gumamnya lagi kali ini lebih jelas.

Aku mematung. Kenapa ia memanggilnya?

Selama beberapa menit aku mencoba menebak-nebak namun tak kunjung mendapatkan jawaban. Merasa lelah, aku memutuskan untuk istirahat. Selain itu aku lega Jinki sudah agak tenang. Ia tidur nyenyak sekarang. Aku menaruh tanganku di atas dahinya, menekan saputangan supaya suhu tubuhnya menurun. Setelah itu aku memperbaiki posisi duduk di lantai dan memejamkan mata yang mulai mengantuk.

 

Dentuman suara musik juga silaunya sinar mentari yang menerobos masuk melalui jendela dan mendarat di mataku sontak membuatku terbangun. Tetapi aku kembali melanjutkan tidur setelah membenarkan posisi duduk.

“Sampai kapan tanganmu menempel seperti ini?”

Suara parau mengejutkanku, membuat mataku terbuka sepenuhnya dan mendapati Jinki masih berada di tempatnya, di atas kursi-kursi yang berderet.

Aku baru sadar kalau tangan kananku masih setia di atas dahinya.

“Oh,” gumamku sambil menjauhkan tangan dari dahinya.

Jinki bangun. Rambutnya yang berantakan membuatnya menjadi sangat manusiawi. Sama sekali tidak ada sosok Onew―yang rambutnya selalu tertata rapi―pagi ini.

“Jam berapa ini?” tanyanya dingin.

Aku bergegas ke meja untuk mengambil tas, ponselku di sana, tetapi kedua kaki terasa sangat kebas. Semalaman tidur dengan kaki terlipat membuatnya mati rasa.

“Jam delapan,” jawabku setelah susah payah menggapai meja.

Jinki menatap kakiku sedetik kemudian memalingkan wajahnya. Ia meraba dahinya, menurunkan saputangan dan menggenggamnya. Lalu ia bangkit dan berjalan terhuyung ke pintu. Aku menyampirkan tas dan bergegas menghampirinya.

Ia diam, kami diam. Namun ia melanjutkan jalan tanpa bicara, aku mengekor di belakangnya.

Kami berjalan menuruni tangga menuju basement, melalui ruang latihan yang sedang dipakai oleh trainee. Jinki masih terus melenggang hingga berhenti di depan sebuah pintu. Ia memasukkan kata kunci pada pengaman dan membukanya. Aku bisa melihat ada beberapa mobil mewah di dalam sana. Mobil yang belum pernah kulihat sebelumnya. Bukan van yang selalu dipakai para artis setiap hari, melainkan mobil-mobil mewah yang kuyakini milik pribadi para artis. Mataku terpaku pada mobil merah muda dengan gantungan bertuliskan “Tiffany” di dalamnya.

Jinki merogoh kantong celana dan mendapatkan kunci mobil dari sana. Ia berhenti di samping sebuah mobil hitam mengkilat, aku membeku tak jauh darinya.

“Kenapa? Tak menyangka aku sekaya ini?” tanyanya dingin, nadanya sangat memuakkan. “Untuk apa kemari? Mobilmu juga ada di sini?”

Emosiku tidak mudah terpancing kali ini. Aku menghampirinya, menyentuhkan telunjukku ke punggung tangannya dan merasakan seperti ada bara api bersemayam di sana.

“Demammu masih tinggi,” protesku dan tak sengaja menatap matanya yang sayu, kentara sekali sedang menahan rasa sakit.

“Lalu?”

“Jangan mengemudi!”

Jinki melempar kunci mobil padaku dan berjalan ke pintu co-driver. Mataku membulat, tak lepas menatapnya.

“Kenapa? Tak bisa mengemudi?”

“Aku tak punya lisensi Korea!” jawabku geram. Jinki mendelik malas dan berjalan menghampiriku, sangat dekat sampai aku bisa merasakan napasnya yang panas menerpa wajahku, membuat bulu roma berdiri. Dia diam sepersekian detik, masih menatapku. Aku tak berani membalas tatapannya, jadi hanya menunduk. Ia menyambar kunci mobil dari jari-jariku, tangannya sangat panas.

Ia masuk ke dalam mobil sedangkan aku masih berdiri membeku di tempat.

“Cepat masuk!” serunya kasar.

“…”

“Kau tak bisa kembali ke dalam karena pintu memiliki sistem pengamanan yang ketat. Aku tak bisa memberikan password-nya padamu. Ini peraturan perusahaan.”

Aku mengerang kesal, mau tak mau berjalan ke pintu co-driver dan masuk ke dalam duduk di sampingnya. Jinki menyalakan mobil, mesinnya terdengar sangat lembut. Pintu besar di seberang kami otomatis terbuka mengangkat secara perlahan. Tak ada cahaya matahari yang masuk karena kami masih di basement. Jinki melajukan mobilnya melewati pintu besar tersebut. Aku sangat takjub, tak pernah membayangkan SM memiliki hal-hal seperti ini.

 

Setengah perjalanan dihabiskan dalam diam. Aku tak pernah melepaskan tatapanku dari pemandangan di luar mobil, juga tak pernah sekali pun mencoba menolehkan kepala ke arah Jinki. Suasana saat ini sangat tidak nyaman. Tanganku terlipat dengan tatapan lurus ke depan. Terlihat santai meski Jinki mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.

“Berusaha membuatku takut…,” aku berdecak meremehkan, “…usahamu sia-sia, Lee Jinki.”

Kudengar Jinki mendengus, lantas ia menambah kecepatan. “Kalau ini?”

Aku menegakkan punggung. Bukan karena takut kecepatan bertambah, tapi karena kami sudah melewati kawasan rumahku.

“Rumahku terlewat!”

“Kau pikir aku driver yang akan mengantarmu pulang?” tanyanya sinis dan melirikku singkat. “Takut?”

Aku berusaha untuk tenang dan kembali bersandar. “Tidak. Tapi aku akan membunuhmu lebih dulu sebelum kau berbuat macam-macam.”

“Nah, kau bukan tipeku. Jangan khawatir.”

“Disukai olehmu pun aku tak sudi. Pemimpin grup tidak berguna.”

Jinki diam. Aku jadi khawatir perkataan barusan melukai hatinya. Tapi kurasa ini impas setelah ia memanggilku ‘desainer amatir’ tempo hari di Jepang.

“Kau selalu menyanggah jika kusebut sasaeng, tapi kenapa selalu menguntitku?”

“Aku tidak pernah menguntit!”

“Lalu kenapa kau mengikutiku ke basement?”

Aku tidak langsung menjawab. Berpikir menemukan kata-kata yang tepat agar ia tidak salah paham.

“Membalasmu. Aku ingin membalas apa yang kau lakukan beberapa hari lalu. Kudengar kau mengikutiku ke rumah karena aku terlihat sedang sakit. Sekarang kau sakit, jadi aku akan mengikutimu dan mengganggu istirahatmu.”

“Kalau begitu aku takkan ke dorm.”

Jinki memutar balik arah, kemudian ia membelokkan mobil ke jalan lain. Aku berusaha menyembunyikan panik dengan duduk tenang dan pandangan lurus ke depan. Jinki terlihat riang sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke stir mobil.

Persis appa

 

***

 

“Di mana ini?” Aku keluar dari mobil dan menatap berkeliling. Jinki di pintu seberang menurunkan topinya lebih rendah hingga hampir menutupi kedua mata dan memasang penutup wajah. Dia tidak menjawab melainkan jalan lebih dulu meninggalkanku.

Tanpa banyak bicara aku mengikutinya. Kami berjalan memasuki sebuah pekarangan dan ia mengetuk pintu rumah.

Eomma!” panggilnya.

Hatiku mencelos.

“Ini rumahmu?” tanyaku tanpa mendapatkan jawaban.

Ia sibuk merogoh tasnya untuk mendapatkan sebuah kunci dan membuka pintu. Aku berdiri membeku di ambang pintu sedangkan Jinki melenggang memasuki rumah dan naik ke lantai atas. Awalnya aku bersikeras untuk menetap di tempat, namun cuaca yang panas mengalahkan egoku. Aku masuk ke dalam.

Di ruang tamu terdapat beberapa kursi kayu ukir berwarna cokelat. Sangat klasik, di rumah ini benda modern hanya berupa gadget atau barang elektronik di ruang tengah dan dapur. Aku tahu Jinki adalah anak tunggal, namun suasana rumahnya tidak sedingin rumahku. Di sini lebih hangat dan nyaman.

Aku duduk di ruang tamu menanti Jinki yang tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya. Entah sudah berapa lama aku duduk di sini merekam seluruh detail yang ada di sekitar, sepertinya aku sudah hafal tata letak setiap benda di ruang tamu.

“Lee Jinki,” panggilku pelan. Tak ada sahutan. Sepertinya tidak ada anggota keluarganya juga. Aku beranjak dari kursi dan memasuki rumah lebih dalam. “Jinki, aku lapar!”

Terakhir makan kemarin malam di acara perayaan dan saat ini perutku melilit minta diisi. Si Jinki itu benar-benar menyebalkan. Apa yang ia lakukan di atas dan menelantarkanku seperti ini? Penculik yang tidak bertanggung jawab!

Aku melangkah besar-besar, menaiki dua anak tangga sekaligus. Saat melihat wajahnya di puncak tangga nanti, akan kupukul sampai semua giginya terlepas.

“Lee Jinki!” Aku teriak mengerahkan seluruh emosi, tetapi yang kutemukan adalah Jinki yang terkapar lemah di atas kasur. Ia bahkan tidak melepas sepatunya, jaket tebal juga masih membungkus tubuhnya. “Hei,” aku menggunakan kaki untuk menggoyangkan tubuhnya.

“Di lemari pendingin ada banyak makanan. Ambil apa saja yang kau mau,” ujarnya lemah.

Aku menghela napas lega, setidaknya ia masih hidup. “Bagaimana denganmu?”

“Aku mau tidur.”

“Kapan terakhir kau makan?” Aku memperhatikan tulang pipinya yang menonjol mengerikan.

“Bukan urusanmu… dan jangan masuk kamar laki-laki sembarangan!”

Aku menatap berkeliling dan baru menyadari kalau ini memang kamarnya. Bukan ruangan yang besar, tapi nilai tambahnya terdapat pada sisi kerapihan dan kenyamanannya.

Jinki berbalik menelungkup, matanya terpejam, jadi aku memutuskan untuk kembali ke bawah mencari makanan dalam lemari pendingin. Di sana memang terdapat banyak makanan, setiap level tak pernah luput dari tumpukan toples berisi kimchi, sayur, daging, dan buah. Tapi semua itu sangat tidak berguna dalam genggamanku. Aku baru ingat kalau aku tidak bisa memasak.

Jadi aku mulai membuka lemari dapur satu per satu mencari roti atau makanan siap saji apapun yang bisa mengganjal perutku, namun sayangnya hal-hal seperti itu tidak ada di rumah ini. Aku menyambar tas di atas kursi untuk pergi keluar membeli makanan, tapi di pekarangan rumah terdapat beberapa gadis dengan kamera profesional di tangan mereka. Damn it! Apa yang mereka lakukan di sini?!

Ingatanku melayang pada perkataan Jinki beberapa waktu lalu yang menuduhku sebagai sasaeng. Sekarang aku mengerti mengapa ia membencinya. Para penggemar fanatik di luar sana membuatku jengkel juga. Aku hampir mati kelaparan di balik jendela ini dan tak bisa keluar. Masalah besar bisa timbul jika mereka menemukan stylist EXO keluar dari rumah anggota SHINee.

Aku kembali ke dapur.

Memasang apron, mengisi panci dengan air lalu menaruhnya ke atas kompor. Kusambar ponsel dari dalam tas dan mulai menggunakan mesin pencari untuk menemukan cara membuat bubur di internet.

Aku mendesah frustrasi. Membuat seratus pakaian dalam sehari lebih baik daripada memasak. Dan membuat makanan untuk Jinki sama tidak nyamannya seperti neraka.

“Maaf, kau siapa?”

Suara di belakang membuatku melompat terkejut. Seorang wanita berwajah bulat yang sangat mirip dengan Jinki menatapku bingung.

“Se-selamat siang, Kim Sena imnida.” Aku membungkuk serendah-rendahnya sedangkan ia semakin menatapku lekat. Aku buru-buru melepaskan apron dan menaruhnya ke tempat semula. “Maaf lancang menggunakan dapurmu. Apa Anda ibunya Jinki?”

Ia mengangguk, ekspresinya melunak dan tersenyum lembut. Senyum yang selalu kutemukan di wajah “Onew”.

“Aku melihat mobil Jinki di luar. Kukira ia pulang sendiri, ternyata bersama seseorang,” ujarnya. Sekali lagi aku membungkuk canggung. Ia berjalan menghampiriku, menyerahkan apron yang tadi sempat kulepas. “Tidak apa-apa pakai saja.”

“Iya, terima kasih.”

“Kau berencana membuat apa?”

“A-aku ingin membuat bubur, tapi… tidak tahu bagaimana caranya. Jinki sedang tidur, ia terkena demam.”

Wanita paruh baya itu kembali tersenyum. Hatiku menjadi hangat, senyumnya semacam heroin, persis anak lelakinya.

“Bukan seperti ini…,” katanya lembut, ia mematikan kompor, “…kau harus menyiapkan berasnya dan cuci dulu sebelum dimasak.”

Ia berjalan ke sebuah lemari untuk mengambil beras dan menempatkannya ke dalam wadah plastik. Aku menawarkan diri untuk mencucinya.

“Cuci dengan lembut. Perlakukan makanan dengan baik,” tambahnya.

“Iya.”

Aku sangat gugup. Menelan ludah pun menjadi sangat sulit. Hal-hal seperti ini tidak pernah kulakukan sebelumnya. Selama di Vancouver atau Paris aku jarang mengonsumsi nasi. Dan memasak untuk pertama kalinya didampingi oleh seorang ibu berkebangsaan Korea memberiku tekanan lebih. Ibu Kris tidak pernah membiarkanku menyentuh dapurnya. Ia bilang aku masih terlalu kecil. Rasa khawatirnya sangat berlebihan memang. Ia sangat memanjakanku dan Kris.

Sedangkan ibu Jinki, tutur katanya sangat lembut namun terselip nada tegas di dalamnya. Membuatku agak takut. Dan entah mengapa tanpa sadar aku jadi membandingkan kedua orang tersebut.

“Saat melihatmu tadi, kupikir kau adalah Kim Jira.”

Aku menoleh. “Kenapa Kim Jira?”

“Jinki tidak pernah berhenti membicarakan gadis itu. Ia selalu memujinya hebat dalam segala aspek. Bahkan Jinki pernah minta pendapatku tentang cincin yang akan ia berikan padanya. Aku senang melihatnya begitu bahagia. Tapi tahun lalu ia pulang dalam keadaan kacau, mabuk parah, menangis, dan mengisolasi diri selama berbulan-bulan. Sebelum SHINee kembali dengan Sherlock ia sempat menghilang ‘kan? Saat itu ia mencoba menenangkan diri. Kejadian itu meruntuhkan profesionalismenya dalam bekerja sehingga perusahaan memberinya izin untuk istirahat. Cedera kaki yang diberitakan hanya alibi belaka.

Sejak saat itu Jinki menjadi pemuram. Ia masih bisa tersenyum di depan kamera, tapi tidak lagi ketika kembali menjadi ‘Jinki’ di kehidupan nyata. Kudengar dari anggota lainnya kalau ia selalu pulang paling larut ke asrama dalam keadaan kelelahan. Ia selalu memaksa diri berlatih keras sendirian karena itu jalan pintas mengenyahkan Jira dari pikirannya. Aku takut terjadi hal buruk padanya. Fisik dan psikisnya sedang tidak stabil, membuatnya menjadi sering demam karena kelelahan.

Maaf menceritakan hal ini padamu, Sena-ya. Aku terlalu senang melihatmu ada di sini. Ini pertama kalinya Jinki membawa seorang gadis kemari.”

Aku diam, berpikir kata-kata mana yang harus kulontarkan lebih dulu. Aku tidak pernah tahu Jinki mengalami hal rumit seperti ini juga. Sedikit banyak kasusnya serupa denganku, hanya saja aku melarikan diri selama bertahun-tahun dan tidak kembali.

“Biar aku yang antar.” Aku mengambil alih nampan berisi mangkuk penuh bubur disertai beberapa piring sayur dan kimchi juga segelas air putih. Aku bergegas ke lantai dua menuju kamar Jinki.

Dia masih dalam posisi semula―menelungkup menyembunyikan setengah wajahnya di atas bantal. Rasa simpatiku terhadap cerita sedih yang diungkapkan ibunya tadi muncul, tidak lagi membangunkannya menggunakan kaki melainkan oleh sebuah tongkat baseball yang tersimpan di sudut ruangan.

“Jinki, bangun!”

Tidak ada jawaban, juga tidak ada balasan gerakan meski aku mengguncang punggungnya cukup keras. Mataku menangkap sebuah bingkai foto di atas meja kecil samping kasur. Kelima anggota SHINee tengah tersenyum lebar di dalam foto tersebut. Sepertinya diambil ketika mereka masih menjadi trainee. Yang menarik perhatianku adalah sosok perempuan yang berdiri di tengah, itu Kim Jira. Dalam bingkai foto lainnya, juga terdapat Jinki-Jira dalam satu frame. Mata Jinki memancarkan kebahagiaan, berbanding terbalik dengan saat ini.

“Sedang apa kau?” Suara parau muncul di sampingku. Jinki tengah menggucek matanya dan tak tahu sejak kapan aku mulai suka dengan bed hair-nya ketika bangun tidur.

“Jadi kau suka Kim Jira?” tembakku langsung dan duduk santai di sisi kasur. Tidak ada ekspresi terkejut di wajahnya, ia hanya memandangku. “Mulia sekali mengalah demi Minho. Jika aku jadi kau, takkan pernah kulepaskan orang yang kucintai. Sikap kejimu itu sama sekali tidak berarti kalau begitu.”

Emosi Jinki terpancing, ia menarik leherku dan menyeret hingga ke tengah kasur.

“Bukankah sudah kubilang jangan sembarangan memasuki zona laki-laki?” tanyanya tenang. Ia mendekatkan wajahnya dan berbisik, “Kau sasaeng yang nakal.”

Tubuhku merinding saat napasnya yang panas menerpa leherku. Aku buru-buru melepaskan diri dari sergapannya dan melompat ke dekat pintu.

“Itu bubur untukmu. Aku mau pulang.”

Aku berlari menuruni tangga, di bawah ibu Jinki tengah menyiapkan makan siang. Ia terkejut melihatku memakai jaket dan menyampirkan tas.

“Mau kemana?”

“Aku harus segera pulang. Appa pasti mencemaskanku.”

Ia menarikku mendekati meja makan. “Kau boleh pulang setelah makan. Lagipula di luar masih banyak penggemar berkeliaran. Mereka bisa saja membahayakanmu.”

Nada perintah itu lagi-lagi muncul. Seperti terhipnotis, aku melakukan apa yang ia minta. Aku mengangguk dan duduk di kursi meja makan, siap untuk menyantap makan siang. Tetapi karena insiden di kamar barusan rasa laparku menjadi hilang.

Terdengar bunyi derap kaki menuruni tangga, kulihat Jinki sudah berpakaian lengkap. Di tangannya tergenggam topi dan penutup wajah. Ia menghampiri ibunya, merangkulnya penuh kasih dan mencium pipinya. Pemandangan berharga yang tak pernah kualami dengan ibuku. Aku buru-buru memasukkan satu sendok penuh nasi ke dalam mulut dan melemparkan pandangan ke mangkuk ketika Jinki melirikku.

Dia duduk di seberang, matanya tak lepas dariku, membuatku sangat tidak nyaman. Jinki mengambil obat dan meminumnya berbarengan dengan segelas air. Matanya masih terarah padaku. Nafsu makanku semakin hilang, tidak dapat lagi memasukkan sesuatu ke dalam mulut. Tatapannya membuatku salah tingkah. Aku tidak suka diperhatikan.

“Sudah berapa lama kalian berkencan?” tanya ibu Jinki.

Aku tersedak. Ia menggosok-gosokkan tangannya ke punggungku sedangkan Jinki dengan santai melahap roti―matanya masih tidak lepas dariku.

“Baru-baru ini,” sahut Jinki.

Mataku membulat. “Tidak, ini ―”

Eomma, aku antar dia pulang.” Jinki menarik tanganku, membuatku terpaksa mengitari meja makan hingga berdiri di sampingnya. Ia melingkarkan tangannya ke bahuku. “Ayo!”

“Hati-hati…,” Ibu Jinki merengkuh wajahku dan mendaratkan kecupan manis di dahiku, “…senang melihatmu, Nak, kau harus sering kemari!”

Aku tersenyum. “Iya.”

Senyum keduaku di Seoul.

 

Kami keluar melalui pintu belakang. Jalanan kecil yang sepi. Tidak ada penggemar gila di area ini. Aku menjauhkan lengan Jinki dari bahuku ketika kami berbelok di ujung jalan. Topi dan penutup wajah sudah terpasang, ia memasukkan tangannya ke dalam saku hoodie.

Mengingat kejadian tadi membuatku geli. Jinki ingin membuat ibunya percaya kalau kami memiliki hubungan. Anak ini tidak ingin ibunya khawatir. Jadi ia berusaha menutupi kesedihannya dengan cara ini. Kekanak-kanakkan sekali!

“Jadi di hadapan ibumu kita memiliki hubungan?” godaku.

“Senang?”

Aku memutar bola mata. “Apa wajahku menunjukkan itu?” tanyaku jengkel.

Sasaeng sepertimu seharusnya senang. Kau beruntung… sangat beruntung malah. Tidak seperti teman-teman satu profesimu yang setia menungguku di luar rumah.”

“Aku bukan sasaeng!!!” teriakku sambil memukul dadanya. Aku berbalik, hendak kembali ke rumahnya, “Ibumu yang baik tidak pantas mendapat kebohongan ini. Akan kujelaskan padanya kalau kita tidak memiliki hubungan apapun…”

Jinki menarik tanganku dan menyeretku masuk ke dalam box telepon umum. Aku memberontak tetapi ia memegangku kuat-kuat. Napasnya memburu, tatapan-seperti-ingin-membunuh itu kembali. Aku mulai ketakutan.

“Jinki, lepaskan!”

Perlahan-lahan ia melonggarkan pegangannya, tatapannya melunak. Kami diam.

“Kenapa kau datang?” Aku mendengar nada frustrasi di sana.

“Bukan urusanmu,” aku membuang muka.

Jinki menyergap kedua bahuku lagi. Ia teriak, mengulang pertanyaan. “Kenapa kau datang?!”

“Kenapa aku tidak boleh kembali? Ini negara kelahiranku, ayahku di sini!” aku balas berteriak sambil terus mencoba menstabilkan deru napas. “Aku tertarik dengan konsep EXO, jadi kuberikan karyaku pada SM saat masih di Paris. Mereka menggunakannya beberapa, mereka bilang karyaku hebat, mereka memujiku seperti orang gila. Tapi setelah aku kemari mereka hanya menjadikanku stylist. Ini bukan yang kuharapkan. Kau pikir aku suka dengan pekerjaan ini?!”

Aku mendorongnya, mencoba keluar. Tetapi Jinki kembali menarikku. Kejadiannya begitu cepat, yang kusadari adalah… bibir kami menempel.

Ia tidak langsung menarik kepalanya. Bibir kami menyatu selama lebih dari lima detik sebelum akhirnya ia melepaskannya. Bisa kurasakan suhu tubuhnya memanas, demamnya naik. Ia memaksakan diri menyeringai meski terlihat canggung.

“Kenapa? Ciuman pertamamu?” tanyanya.

Aku mendengus. “Ini bukan pertama kalinya aku memiliki ciuman…,” aku mendorongnya dan keluar dari kotak telepon, “…sepertinya kau yang baru merasakannya.”

Memang benar, ciuman pertamaku sudah diambil mantan pacarku. Jadi ini bukan hal baru bagiku. Dan pria di dalam kotak merah itu… dia yang baru merasakannya. Aku tahu karena saat ia melakukannya, darahnya naik ke kepala, suhu tubuhnya meningkat, tubuhnya juga gemetar.

Dengan kepribadian polos seperti itu kau benar-benar tidak pantas berakting dingin, Lee Jinki.

 

-to be continued

 

Author’s Note:

– Mendapati Sena tersenyum pasca dikecup ibunya, membuat hati Jinki mencelos. Ini pertama kalinya ia melihat gadis itu tersenyum. Keangkuhan di wajahnya lenyap seiring aura malaikat merasuk ke dalam jiwanya. Dua tanduk yang selalu ia lihat di kepala Sena enyah begitu saja. Senyumnya begitu pekat melekat di ingatan, dan secara tidak sadar ia bergumam, “Beautiful…”

 

# Berhubung lupa belum ngebawel di chapter empat, jadi saya realisasikan di sini aja ya. Keke.

# Heeeiii, FYI diriku juga KAGET BANGET waktu kabar Jinki ngerokok itu beredar. Sempet mikir, “Aduh kenapa fic BS jadi kenyataan?!” Tapi tentu saja kesemua itu cuma kebetulan belaka. Haha. Saya bukan cenayang btw yang bisa meramalkan kejadian masa depan via fanfic. Meski dari zaman We Walk jauuuh sebelum EXO debut di situ Jongin a.k.a Kai nongol dan udah saya pasangin sama Taemin. Haha. (Thanks to ‘Hanafitha’ yang bikin saya sadar sama scene itu).

# Dan tentunya sesuai dengan konsep We Walk, di Beautiful Stranger ini juga akan dibuat semirip mungkin dengan kejadian nyata, terutama jadwal SHINee dan pemeran tambahan lainnya.

# Terima kasih yang masih setia baca. I LOVE YOU GUYS ~~~

 

©2011 SF3SI, Diya.

sf3si-signature-diya

Officially written by Diya, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

120 thoughts on “Beautiful Stranger [Chapter Five]

  1. Diya eonni. . . kau masuk dlm daftar list author favoritku!
    Jadi Onew adalah rubah muka seribu. Aku bisa tahan nafas baca ff ini. Btw Aku suka cara Taem manggil Noona~ benar2 terdengar manja…*ch 4
    Aku ingat insiden yg bilang onew merokok, oh itu membuatku shock pda awalnya tp dunia selebriti sesuatu yg tak bisa dibuat ada dan tidak mengada2 meskipun kenyataannya juga tidak ada. . .

  2. Jinki ada kemajuan >< ibunya jinki baik banget. Sempet sedih sih pas scene ibu jinki ceritain penderitaan(?) jinki karena jira itu, sempet gasuka juga sama jira /terlalu dihayati nih/

  3. Ih unni author’s note nya kayak flashback -_- #dor
    Aduh kayaknya Jinki masih hangover gara2 mabok+demam. Gak ngerti kenapa dia cium Sena disini. Sumpah. jangan-jangan Jinkinya yang mulai naksir!! -,-
    neeext~!

  4. aq suka chapt ini ,. moment nya suka bgt >.<
    walau tetep yeh jinki jutek -_-
    cieee kayak.a perasaan sena semakin membesar ke jinki ,….
    dan gimana dengan kris ???!
    next chapt ^^

  5. pas adegan dalam telpon bok itu bikin aku berasa ada sesuatu yg dingin jatuh ke dasar perut.buahaha…. (lebe)

  6. Omomo… Jinja daebakk!!! Authoorr aku suka banget ni ff.. Bwahahaha bisa gila aku dibuat!

    No coment lagi dahh… Aku mau lanjuut ga sabar nihh

  7. Authooor, tolong jangan bikin hati gua kelimpungan/? gegara karakter onew disini. damndamndamn.
    ff ini bener-bener bikin terhanyut. apalah.
    well, aku buka shawol. tapi sangaaat mengagumi onew. gatau kenapa.
    ff onew pertama yang biki aku makin suka sama dia. keep write Diya!!! ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s