Namja – Part 10

Title: Namja

Author: Bibib Dubu

Beta-reader: Kim Nara

Main Cast: Kim Kibum, Park Hana, Park Ha In, Kim Heera

Length: Sequel

Genre: Friendship, Romance

Rating: PG-17

namja2

A.N: Ratingnya tinggi bukan karena porno. Memang cerita ini mengandung kisah kehidupan yang sesat. Jadi untuk yang masih di bawah umur, jangan ditiru yah!

Namja – Part 10: The Night Can Speak

 

“Key?”

Ha In menghampiri pria itu, berdiri berhadapan dengan posisi kepala yang terpaksa mendongak lantaran pria tadi memiliki badan yang lebih tinggi. Tatapan sarat makna, yang menyampaikan segala rasa pada malam. Dunia di luar sana boleh berputar, tapi tidak dengan yang terjadi di tempat ini. Keduanya stagnan berdiri di titik yang sama. Park Ha In masih setia menunggu, ia sangat percaya bahwa sabar adalah hal yang akan menuntunnya pada ujung bijak. Yeoja itu mengulas senyum, berharap bola mata di depannya itu segera mengirimkan impuls pada otak sang pemilik. Ha In yakin, amnesia bukanlah hal yang layak diperbincangkan detik ini. Diam yang dipertontonkan pria di hadapannya itu sudah bercerita dengan gambling, pria itu masih Key yang tak hilang ingatan.

Tangan gadis itu beranjak dari sisi tubuhnya, beralih menutupi mulut—sementara yang satu sibuk menyibakkan poni. Basah, begitu jemarinya turun ke pipi, gadis itu merasakan ada beberapa titik cairan di sana. Hanya dengan menyebut satu nama, malam rupanya membalas dengan menumpahkan sejuta kisah yang pernah disaksikannya. Tangis gadis itu pecah bergetar, namun ia berusaha sekuat tenaga melenyapkan gentar di dada, demi menelisik kembali bola mata abu-abu milik pria di depannya.

Soft lense yang bagus,” pujinya berbohong, “tapi aku takut melihatnya. Bisa dilepas?”

Pria itu tergugu dalam hening, menyaksikan tangis yang nyaris merobohkan janjinya pada Ken. Gadis di hadapannya ini benar-benar tahu cara mengacak-acak pertahanan diri. Alih-alih menutupi cengeng yang mendesak untuk mendominasi, pria itu memaksakan tawa kecilnya. “Ani, ini jelek. Bola matamu lebih bagus karena asli.”

Ha In tak memedulikan balasan Key, ia tahu itu hanyalah cara berbasa-basi demi mengalihkan maksud hati sebenarnya. Gadis itu melesatkan lagi satu senyuman, yang kalau kau telisik—maka bisa kau saksikan bagaimana wujud rasa bahagia bercampur dengan kecewa. Dunia malamnya sekarang memiliki dua warna yang saling bertolak belakang, hitam yang memilukan dan putih yang menenangkan. Masih memandang wajah yang sama, ia berbisik, “Tatomu juga unik, tapi aku benci.” Memberi jeda sejenak untuk tersenyum sekali lagi, namun yang kedua ini lebih menunjukkan rasa miris, “tindikanmu, kenapa tidak sekalian saja kau pasang di lidah?” sambung Ha In bergetar, ia merasakan seluruh sendinya melemah, linu untuk sekadar berdiri. Tapi ia memaksakannya untuk tetap tegak, demi menyimpan utuh gambar pria ini di dalam memorinya. Esok mungkin tidak akan ditemuinya lagi pria ini.

“Bencilah sesukamu. Apa hakmu? Aku adalah apa yang kumau,” balas pria itu tegar.

Malam menggeliat, tidak hanya ingin menonton kisah dua anak manusia yang saling bermunafik ria. Ia memerintahkan angin untuk berhembus masuk menembus ventilasi jendela, membelai kelopak mata pria itu hingga terkedip berair.

“Ah, begitu. Aku lupa akan hak setiap individu untuk berkespresi.” Ha In mengusap air matanya, namun yang terjadi justru kelenjar air matanya makin menumpahkan banyak cairan. “Kau tahu tidak, Kawan? Katanya bandul jam klasik akan selalu kembali ke titik awal, ia hanya perlu bergetar berkali-kali sesuai dengan waktu yang bergelayut padanya.”

“Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan, Nona. Kau mengigau?” Suara pria itu menyiratkan rasa tertekan mendalam.

Gadis itu membalas tangkas, “Terbalik, kau yang sepertinya sedang tidur. Lihat, matamu berair, rupanya baru saja kau menguap. Sudahlah, tidur lagi saja kalau kau memang ingin seperti itu.”

“Aku tidak bisa melihat mataku saat ini sayangnya, tidak ada kaca. Tapi yang jelas, aku benci melihat tangismu, Nona. Jadi, aku permisi pergi.”

Ne, silakan. Jangan terlalu banyak tidur, kau akan semakin ringkih nantinya. Selamat malam, Tuan yang bernama… Key. Ah, ya, kalau butuh udara segar agar tidak mengantuk, datanglah ke sungai Han. Angin di sana sangat sejuk untuk dinikmati. Besok, mungkin anginnya lebih menenangkan.” Penutup yang tepat, gadis itu memang tak berhasil memenuhi ekspektasi dirinya, tapi setidaknya ada satu pesan penting yang ia luncurkan.

Pria itu tidak menjawab, ia hanya melenggang pergi dengan pose tubuhnya yang angkuh. Tentu sandiwara belaka, ia hanya tidak ingin kerapuhannya tampak jelas di hadapan gadis itu. Ia bukannya tidak mengerti maksud setiap perkataan sang gadis, ia sangat mengerti hingga ke setiap jengkal penekanannya saat dilafalkan. Langkahnya disusul oleh sang teman—pria yang tadi hanya menyaksikan adegan berbalas kata dari posisi duduknya di sofa.

Malam berpasrah diri lunglai, gerakan angin gagal memukul lembut hati sang pria. Ia tertunduk bisu, menemani sang gadis yang melemparkan tubuhnya ke sofa. Malam sadar bahwa Ha In tidak buta, tidak tuli, dan tidak amnesia membedakan jenis suara, pun tidak bodoh. Gadis itu tahu, hanya saja berpura-pura tidak tahu. Baginya, mengalah mungkin lebih baik, bukankah cinta itu membebaskan orang yang dicinta? Definisi cinta itu sungguh agung dan luas. Ha In tidak ingin menyodorkan kerangkeng sejak awal. Biarkan individu memilih jalannya sendiri, pada akhirnya hanya Ha In yang tersisa—bersama seluruh rasa cemasnya yang berdesakan di relung dada. Ia hanya mampu berceloteh monolog,

Key, kau sehat? Key, kau tidak terluka? Key, kau tidak kelaparan? Key, ditindik dan ditato tidak membuatmu menangis? Aigoo, pertanyaanku bodoh. Tentu kau tidak akan menangis, kau ‘kan seorang pria. Tapi Key, kalau kau lelah maka aku bisa memberimu tumpangan pulang hari ini.

 

Ah, tidak, masih ada malam yang setia mendengarkan. Suatu saat malam akan menjadi merpati pengirim pesan, yakinlah itu.

***

Lee Jinki berdiri di pintu, menyaksikan wajah pucat yang terbaring di ranjang dengan mata terpejam—mungkin lelah setelah menangis. Kim Heera yang ada di hadapannya begitu membuat hati terenyuh. Badannya memang tidak hangat ataupun didera demam, tapi kantung mata gadis itu membengkak tak terbendung. Area kehitaman tampak jelas di sana.

“Jinki-ya, sebenarnya ada apa dengan anakku?” Tuan Kim yang berdiri di sampingnya bertanya pada sang calon menantu.

“Dia sedang punya masalah, Abonim.” Jinki menjawab hormat, masih tidak berani bicara terlalu banyak sebelum ditanya lebih lanjut. Ditutupnya daun pintu kamar Heera pelan-pelan agar tak membangunkan sang putri tidur.

“Dengan siapa? Bermasalah denganmu? Dengan teman kuliahnya? Atau dengan sahabatnya?” Sederet pertanyaan memberondong Jinki, namun pemuda itu tidak lantas menimpali.

“Aaa, Abonim, aku sebenarnya datang kemari untuk minta izin pada Anda untuk besok.” Jinki tak ingin menjawab, ia berusaha mengalihkan topik pembicaraannya.

Tuan Kim tersenyum lembut, menaikkan telapaknya ke bahu Jinki, “Untuk apa?” Pria itu menepuk pelan bahu Jinki beberapa kali, dengan perasaan tak menentu ia melanjutkan ucapannya, “kalau ingin mengajak Heera keluar, dengan senang hati kuizinkan. Sudah dua hari dia mengurung diri, kerjanya hanya turun ke lantai bawah untuk makan, lalu seharian dia memainkan musik—entah lagu siapa, sesekali aku mendengar ia terisak. Namun, setiap kali aku atau eomma-nya membuka pintu, Heera selalu berpura-pura tertidur dan menindih wajahnya dengan bantal. Aku sampai tidak mengenali anakku sendiri karena ia sama sekali tak pernah tersenyum lagi sejak lama.”

Gomapseumnida, Abonim. Semoga aku berhasil membuatnya tersenyum lagi.” Jinki berseri-seri, deretan gigi kelincinya tergambar indah di wajah putih berpipi bulat itu.

Ne, kuharap begitu. Sekarang kau tidak ingin membangunkannya? Siapa tahu ia bahagia melihatmu.”

“Tidak usah, dia akan marah kalau kuganggu,” jawab Jinki sopan.

Jinki pamit undur diri, meski ia tidak yakin bahwa yang akan dilakukannya benar, tapi ia jelas-jelas tahu bahwa masalah harus dicabut hingga ke akar-akarnya. Jalannya hanya satu, meminta malam mempertemukan kekasihnya itu dengan dua orang anak manusia, lebih bagus lagi tiga—itu pun kalau mungkin.

Pria itu melewati malam seorang diri, berkemudi sembari memperhatikan jalanan Seoul. Lampu-lampu pertokoan yang memendarkan warna beraneka ragam, PC Bang  yang menjamur di mana-mana, dan deretan mobil-mobil yang sudah tidak sabar ingin sampai di garasinya. Muda-mudi berjalan berangkulan di trotoar, beberapa di antaranya terlihat saling menyuap ice cream ataupun tteokpokki. Tidak ada maksud khusus dari kegiatannya itu, ia hanya tidak ingin melamun. Tengkuknya terasa linu setelah seharian bekerja, ditambah dengan beban pikiran yang cukup membuat pusing. Jinki membenahi posisi kacamatanya, baru beberapa hari ia menggunakan alat bantu optik tersebut. Ia baru tersadar bahwa minusnya sudah bertambah parah, yang tadinya setengah menjadi 2,5.

Sejak dulu Heera sudah menyuruhnya memeriksakan mata, tapi Jinki selalu menganggap remeh, berdalih bahwa pandangannya yang sering buram itu hanya disebabkan oleh intensitasnya berhadapan dengan monitor PC yang cukup tinggi. Berulang kali pula Heera mendadak menyeretnya ke optik untuk memeriksakan mata, menunggu beberapa menit, dan tidak lama kacamata yang sesuai pun sudah bisa didapat. Lagi-lagi sifat galak yeoja-nya itu berhasil ia taklukkan, Jinki selalu punya cara untuk lari. Ia sungguh malas menggunakan kacamata, risih.

Mobilnya sudah sampai ke rumah, sorot lampu di teras depan plus lampu mobilnya menerangi satu sosok yang sedang terduduk di teras. Perut buncitnya tertutup oleh sebuah tas yang terlihat cukup padat dari sudut pandang Jinki. Wanita, sebuah tas besar, dan koper. Terhampar di depan mata Jinki dan menciptakan banyak tanya di otak pria itu.

Tanpa sempat memarkir mobilnya pada posisi yang benar, Jinki keluar menghampiri wanita itu. Lagi-lagi ia hanya mampu berdiri kaku tanpa bisa memeluk atau sekedar menjabat tangan. Ia terlalu menjaga dirinya untuk tidak membangkitkan kisah lama di dalam memori. “Ji Hyo-ya, ada apa?” Setidaknya ia masih berani menanyakan keadaan, gejolak batinnya tidak sedahsyat yang terjadi saat pertemuan terakhirnya dengan wanita itu.

Ji Hyo berdiri, mengelus-elus pelan perutnya yang semakin membesar. “Lee Jinki, andai anak yang ada di rahimku ini adalah anakmu, aku tentu tidak akan resah.”

Eo? Kalau bukan aku, kenapa kau harus resah?” Jinki menggaruk tengkuknya, baginya kalimat Ji Hyo barusan mirip pujian untuk seorang Lee Jinki.

“Ah, tidak apa-apa,” sahut Ji Hyo pelan. Ia mengangkat kepalanya, menatap manik hitam bening kepunyaan Jinki. Karbon dioksida sisa pernapasan menghambur kencang dari lubang hidungnya, kedua bulatan pipi gadis itu terangkat sedikit terpaksa, “kau memang sudah berubah, Jinki-ya.”

“Eh? Kenapa kau berkata seperti itu setelah melihat mataku. Aku berani bersumpah tidak pernah melakukan operasi kelopak mata,” tanggapnya gelagapan. Bola mata pria itu berjingkat ke sana ke mari. Ia tahu kalimatnya barusan sangat konyol, sangat mencerminkan pribadi yang sedang didera grogi.

“Sejak dulu kau tidak mau pakai kacamata, kau bersikukuh berargumen bahwa menggunakan kacamata hanya akan membebani tulang hidungmu saja, plus membuat mata lelah hingga memicu kerusakan yang lebih parah pada organ itu. Padahal teorimu itu sangat bodoh sebenarnya. Apa yang membuatmu kalah? Apa ada seorang yeoja yang berhasil memaksamu untuk pergi ke optik? Aku yakin kau tidak akan sadar dengan sendirinya.” Ji Hyo tertawa kecil untuk menutupi rasa tak menentu yang berputar-putar di dalam batinnya.

“Ah… itu, sudahlah, tidak penting. Sekarang jelaskan padaku kenapa kau keluar sendirian malam-malam dengan membawa koper. Kau bertengkar dengan suami atau orang tuamu?”

Gadis itu mendekap dadanya sendiri, melindungi diri dari angin malam yang menusuk kulit. Ia mengggigiti bibir bawahnya, ingin berteriak pada Jinki namun tak kuasa—ia tahu Jinki tak bermaksud menyinggungnya dengan kalimat barusan. “Lee Jinki, aku tahu kau sangat baik hati, aku bukan bermaksud memanfaatkanmu. Hanya saja… aku benar-benar bingung harus pergi ke mana. Kau bisa mengerti perasaan yeoja ketika sedang kalut? Aku hanya tahu bahwa hari ini dan beberapa hari ke depan, aku tidak ingin berada di rumah… jadi…,”

Jinki buru-buru memotong, “Yaaa, kalau hanya semalam tidak apa. Tapi untuk beberapa malam, tidak. Kau harus tahu, duniaku tidak lagi bisa menjadi milikmu, akan ada seseorang yang tersakiti kalau dia tahu aku menyimpan seorang wanita di rumahku. Lagipula aku tidak mau mencampuri urusan rumah tanggamu. Aku tahu sejauh mana definisi peduliku…-”

Ji Hyo buru-buru menyalip ke dalam deretan kalimat panjang Jinki, “aku tahu, aku kenal kau dan prinsip-prinsipmu. Hanya semalam, janji. Setelah itu aku akan mencari rumah kontrakan saja.” Ji Hyo tersenyum penuh pengertian, ia sama sekali tidak merasa tersinggung dengan jawaban Jinki barusan. Mengenal seorang Lee Jinki bertahun-tahun membuatnya maklum kalau namja itu memang selalu berpegang teguh pada hal yang menjadi patokannya.

Ne, sekali lagi aku minta maaf. Sungguh, aku tidak ingin lagi terlibat, tidak ingin menyakiti kekasihku, tidak ingin memicu fitnah, juga tidak ingin menyulut  amarah suamimu.” Gurat keseriusan terpampang jelas di wajah Jinki, bersamaan dengan sorot mata suram yang mengutarakan perasaan bersalah.

Lee Jinki tahu, perasaan yang pernah mendekam selama bertahun-tahun memang pasti akan menyisakan serpihan. Merasuk ke dalam pori hati dan jika jumlahnya semakin bertambah, Jinki tahu dirinya akan diganjar dosa.

“Terima kasih dan harusnya aku yang minta maaf,” sahut Ji Hyo pendek. Ia tak ingin memicu dirinya untuk memuntahkan kata lebih banyak lagi. Baginya, prinsip Jinki sudah sangat jelas tersirat. Tak ada gunanya mengumbar kisah lebih jauh.

***

“Aaaaaaa, aku gila, aku gila. Ha In-ah, hari ini aku membuat kekonyolan besar. Sungguh, aish!” sembur Hana begitu Ha In mengangkat panggilannya.

Ne?” jawab Ha In singkat.

“Tadi aku di antar pulang oleh Jongmin, saudara kembar si Jonghyun sialan itu!” tutur Hana menggebu. Kakinya tak kunjung berhenti menendang-nendang head kasur yang sedang ditidurinya.

“Heh? Dia punya saudara kembar? Kau tidak pernah cerita sebelumnya,” balas Ha In datar.

“Ah ya, aku belum pernah cerita. Hmm, lain kali kuceritakan. Intinya, hari ini aku ke rumah Jonghyun. Pulangnya aku diantar pakai mobil. Kukira yang mengantar itu Jonghyun, di depan pria itu aku memuji saudara kembarnya. Sebenarnya tidak sungguhan, hanya iseng saja. Dan ternyata… omona, pria itu bilang ‘terima kasih sudah memujiku, aku Kim Jongmin’. Omonaaaa, mukaku pasti sudah semerah tomat.” Tubuh gadis itu berguling beberapa kali dan berakhir pada posisi tengkurap.

“Ah, ya ya. Omong-omong, kenapa kau ke rumah Jonghyun? Bukankah kau sangat membencinya?”

“Sangat! Ah, molla. Sebentar, kenapa nada bicaramu terkesan flat? Kau sedang ada masalah?” Hana rupanya menyadari kejanggalan pada diri sahabatnya itu. Ha In yang biasanya bersuara lantang dan bersemangat—berubah 180 derajat menjadi manusia super minimalis kata.

“Tidak ada. Hmmm, besok malam jadi? Meskipun kemungkinan buruk itu ada? Kita akan…-”

“Ha In-ah, aku tahu kau sedang berbohong. Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi padamu. Aku tahu betul kau sedang menyembunyikan sesuatu,” Hana menyela kilat.

“Aku hanya… memikirkan rencana besok. Itu membuatku sedih plus cemas.”

Hana terdiam. Ia tahu maksud Ha In. Ia merasakan hal yang sama dengan Ha In. Desahan panjang berhambur dari mulutnya, ia sungguh ingin berteriak pada malam. Ia berharap, malam bisa berbicara. Menyampaikan kabar tentang Key, juga tentang Heera. Di mana gerangan dua makhluk itu berada, apa kabar mereka, dan apa benar keduanya tidak ingat momen special yang akan terulang besok malam.

Malam, kenapa kau masih juga bisu? Kau sedang sakit gigi, huh? Rutukan yang paling tidak masuk akal. Hana mengerang pelan, ia merasa marah pada malam. Mengapa harus ada momen berharga yang terjadi pada malam hari? Momen yang seumur hidup akan tersimpan di dalam memori. Dan Hana berharap, besok, malam tidak akan memberinya sebuah kenangan menyakitkan.

“Jadi. Dengan atau tanpa Key dan Heera, kita harus ke sana,” tandas Hana yakin. Sorot matanya mengawang menembus jendela kamar yang dibiarkannya terbuka. Barangkali, ia berharap suaranya barusan ditangkap angin lalu dihembuskannya hingga hinggap di telinga kedua sahabatnya itu. Lagi-lagi harapan yang tolol, keluh Hana.

Ha In menelan ludahnya yang terasa pahit. Yeoja itu berpikir sejenak, suara ‘hmmm’ panjang terlontar dari mulutnya. Ia seakan menimbang-nimbang sesuatu, tentang pertemuannya dengan si mata abu-abu tadi. Ia ragu untuk bertutur tentang kejadian itu, ia tak sepenuhnya yakin bahwa berterus terang adalah jalan yang terbijak. Sembari menggigit bibirnya, Ha In berseloroh, “Sebenarnya aku sudah minta tolong pada Jinki Oppa untuk Heera. Kalau Key… semoga, dia datang.”

***

Yeaaaahhhh, I’m Key!” Teriakan pelampiaskan sesak di dada. Ia membentangkan tangannya lebar, tak memedulikan lagi jalanan. Ia percaya bahwa Nara telah memiliki banyak pengalaman dalam mengendarai motor dengan kecepatan di atas rata-rata.

Yoyoyo, you’re the new Key, and I’m Nara. Halo, Dunia! Apa kalian ingin tahu siapa kami sebenarnya? Wohooho, tidak tidak, kalian hanya perlu tahu bahwa kami ini makhluk terbebas di muka Bumi,” teriakan Nara menyambung dari jok depan. Malam ini ia bahagia, setelah sekian lama akhirnya ia bisa merasakan kembali nikmatnya menjelajah malam bersama angin.

“Nara-ya, setelah ini aku ingin mencoba mengemudikan,” teriak Key kencang, ia berusaha melawan derung kendaraan yang dinaikinya.

“Sabar, Key. Kau nikmati saja dulu, kau rasakan sensasi indahnya. Setelah kita kembali ke titik awal, aku akan memberimu kesempatan.” Deretan kalimat panjang nyaris tak berjeda, Nara terlalu fokus pada jalanan.

“Apa?” Key tidak mendengar suara Nara dengan jelas, telinganya belum terbiasa menangkap bunyi tatkala beradu dengan kecepatan.

Motor Yamaha Vixion itu melesat lincah, membelah jalanan yang sepi dengan suaranya yang angkuh dan liar. Key memejamkan matanya untuk merasakan desau angin, membedakan bunyi alam di tengah hiruk pikuk suara mesin. Aku Key yang baru, aku bisa melalui semua ini, aku bisa berubah, aku bisa menjadi pria!

Bukan suara angin yang ia dengar, melainkan suara hatinya sendiri yang lantas membuat ia terbahak. Ada satu titik di mana manusia tidak lagi bisa membedakan antara bahagia atau menertawakan ketidakbahagiaannya, dan Key adalah makhluk yang sedang mencari-cari jawaban untuk kehidupannya mendatang.

“Aaaaaaaaaa,” pekikan kencang membahana begitu motor berbelok dan nyaris menabrak truk yang ada di depannya. “Nara-ya, kau gila! Sudah tahu tikungan, turunkan kecepatannya!”

“Tidak Key, kau salah besar. Menurunkan kecepatan berarti mengantarkan diri pada kekalahan, itu prinsipku,” timpal Nara seraya terbahak. Ia jelas berbohong, karena tidak seperti itu teori yang sesungguhnya.

Tikungan sebenarnya menuntut seorang pembalap untu menurunkan kecepatan, meski di satu sisi menuntut pembalap itu untuk memenangkan pertandingan. Hanya saja, Nara menyembunyikan sesuatu. Ia tidak sungguhan berbuat nekat, diam-diam ia menurunkan kecepatannya beberapa saat menjelang tikungan menyambut, dan menaikkannya kembali begitu lewat. Hanya Key yang tak sadar dirinya sudah dipermalukan dengan ‘generalisasi’ yang dibuatnya sendiri, Key terlalu dikuasai gemetar hingga perasaannya mengatakan bahwa kecepatan yang Nara tetapkan selalu tinggi, bahkan semakin meninggi.

Nara puas membayangkan reaksi ketakutan Key tadi, teriakannya saja terdengar super panik. Rasa girang yang hadir, mendorong Nara untuk menaikkan kecepatan.

“Ya! Nara-ya! Ini gila, jangan terlalu kebut!” Key semakin pontang-panting, tangannya yang sejak tadi tidak berpengangan pada apapun, terpaksa memegang kuat-kuat jaket kulit Nara.

Blur. Bagaikan penderita kelainan mata silindris, Key tak lagi bisa membedakan garis lurus. Semua yang tampak hanyalah garis hitam yang sesekali membengkok tak beraturan setiap kali motor berbelok untuk menghindari kendaraan di depan.

Isi perutnya semakin memberontak untuk dimuntahkan, seakan ada yang menekan dan menjadikan oksigen dalam darah menukik turun drastis jumlahnya. Key meremas pinggang Nara semakin kuat, ia sudah tak bisa lagi berkata-kata. Ruas-ruas jemarinya semakin memucat dan getaran hebat kian tak bisa dibendung. Pandangannya semakin simpang siur, sebentar melihat mobil truk, sedetik kemudian sudah melihat lagi jalanan yang lengang, dan detik berikutnya ia hanya berani mengunci pandangannya ke depan—punggung Nara yang nampak.

Wohoho, bagaimana perasaanmu, Key? Ini seru, bukan?” Pertanyaannya tidak disahut oleh Key. Nara tersenyum puas. Sudah cukup, pikirnya. Ia segera memacu arah motornya menuju sebuah bangunan. Key meghembuskan napas lega, ia berusaha untuk tetap sadar di tengah pengelihatannya yang dipenuhi oleh kunang-kunang  abstrak.

Tepat setelah motor itu berhenti, Key memaksakan kakinya untuk turun. Langkahnya terhuyung-huyung, ia kelabakan mencari tong atau tempat apapun yang mungkin dijadikan pelampiasan isi perutnya. Begitu melihat tempat sampah di depan sebuah bangunan yang meriah karena lampu kerlap-kerlipnya, Key segera memposisikan kepalanya tepat di atas benda itu.

“Hueekkkk.” Termuntahkan. Ia tak peduli bahwa setelah ini Nara akan mencibirnya atau bahkan terbahak puas, Key sudah tidak lagi kuat menahan gejolak perutnya. “Kau sinting, Nara-ya!” umpat Key begitu badannya sudah sedikit tegak.

“Jadi sinting itu menarik, Key. Ckck, bagaimana mau bawa motor sendiri? Huh, bisa-bisa kau langsung tewas digilas bus. Ah, tak apa karena ini permulaan. Baiklah Key, kau punya satu janji bukan padaku? Kita minum malam ini, Brother!” Tanpa persetujuan Key, Nara langsung merangkul Key dan menyeretnya memasuki bangunan di depannya itu. Sebuah bar.

***

Key menunduk takut saat seorang yeoja menghampirinya. Ia sempat melihat sekilas bagaimana parahnya penampilan yeoja itu. Yang atas diturunkan, yang bawah jadi naik. Cara berbusana yang menjijikkan! Key mendengus dalam hati.

Ia memilih mengamati gelas kosong yang ada di depannya, Nara belum memesankan minuman apapun lantaran ia terlanjur ditarik temannya ke lantai dansa. Sebagai pengusir rasa gundah, diketuknya pelan tepian gelas berleher panjang dan ramping. Salahnya sendiri berjanji siap ditantang minum.

“Aku Han Minji.” Sebuah suara memperkenalkan dirinya tanpa ditanya. Yeoja di sebelah Key itu semakin agresif, ia menjulurkan tangannya menuju pipi Key, menjadikan namja itu tak berani melirik. “Hei Tampan, bentuk rahangmu bagus,” puji yeoja itu.

“Terima kasih,” balas Key singkat. Pria itu merasakan lututnya bergetar. Dalam situasi seperti ini ia sama sekali tidak bisa membayangkan hal-hal yang baik saja. Ingatannya tentang gadis-gadis yang ada di arena balap—mencuat, ia menjadi khawatir yeoja di sebelahnya ini bertindak macam-macam.

“Hei, isikan gelasku!” teriak Key begitu ada bartender yang muncul. Ia tidak ingin berdiam diri dan tampak pasrah digoda Minji.

Bartender nyentrik itu mengangguk, membenahi kain hitam yang menutupi kepalanya agar terikat kencang. Ia lantas menunduk mendekati Key, matanya bergerak mengamati sosok Key.

“Kau tamu baru? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Haha, selamat datang di surga ini, Kawan. Kau ingin minum apa?”

Key bingung menjawab. Memangnya ada minuman apa saja di tempat ini? Ia sama sekali buta mengenai jenis-jenis minuman. Tempo hari saat kedatangannya ke bar, ia hanya memesan asal. “Apa saja, yang paling enak.” Key menjawab asal.

“Ckck, lagakmu seperti sedang pesan makanan di restoran. Hmm, pemula sepertimu kuberi cocktail saja, ya?” Bartender itu terkekeh.

Aigoo, kau baru pertama kali minum?” Yeoja tadi bertanya geli.

“Siapa bilang. Ya ya, beri vodka kalau begitu.” Key benci dicemooh. Permintaannya barusan hanyalah jalan untuk menutupi rasa malunya. Ia bahkan tak mengerti vodka itu minuman macam apa. Ia hanya tahu lima jenis minuman beralkohol: bir, soju, sake, vodka, dan gin. Dua nama yang terakhir ia dengar dari komik Detektif Conan yang pernah dipinjami oleh Ha In. Vodka dan Gin, nama tokoh yang merupakan anggota jubah hitam—selalu digambarkan sebagai sosok penjahat yang keren dalam manga itu. Mungkin saja vodka memang jenis minuman yang hebat, pikir Key.

“Siap. Tapi kusarankan, kalau ingin minum dalam jumlah banyak, jangan memilih vodka. Konon jenis minuman ini sering membuat orang tewas lantaran mereka tidak sadar kalau ia sudah minum dalam jumlah banyak, biasanya vodka dicampur dengan jus buah. Pilih yang lebih ringan saja, anggur? Atau wine? Kuberi tahu, wine itu minuman paling cool menurutku. Ada seni tersendiri untuk menikmatinya, tidak semata-mata bicara tentang mabuk. Cocok untuk dirimu, kurasa.”

“Astaga, kau terlalu banyak omong. Beri pria ini sesuai pesanannya saja,” keluh Minji muak. Satu pahanya beranjak naik menindih paha yang lain, menjadikan bagian tubuh yang satu itu semakin terkespos.

Key memalingkan wajahnya dari Minji, tawa gelinya tak bisa ditahan. Rasanya ia mulai ketularan virus sinis milik Nara. Ingin rasanya ia menyunggingkan satu sudut bibir saja untuk menyindir yeoja tak punya malu itu. Ia jengah melihat Minji.

Key lantas menelungkupkan wajahnya di meja bar. Tidak ingin lagi memedulikan yeoja bernama Minji itu. Ia merasa kalut bukan main atas kejadian-kejadian yang menimpanya hari ini. Ucapan Ha In yang sempat terlupakan karena terlalu sibuk dengan rasa takutnya di atas motor tadi, kembali mencuat dan membuat kupingnya berdenging. Ia seolah mendengar kalimat itu bergaung di seantero bar ini. Diputar berkali-kali hingga membuatnya ingin mencopot kepala saja agar tidak pusing.

“Ya, ya, ya. Kau ingin membahayakan tubuh temanku dengan vodka? Hei, Minji! Lain kali kubunuh kau kalau berusaha membunuh Key lagi.” Nara bergabung dalam pembicaraan setelah usai memenuhi ajakan temannya. Ia menyelip ke dalam konter, berbisik pelan di telinga sang bartender, “ia pemula, Boy. Beri kami soju dengan kadar alkohol ringan saja.”

Sang bartender mengangguk, mengecup kilat pipi Nara. “Oke, Darling.”

Dalam hitungan detik, yeoja bernama Minji tadi sudah menghilang. Rupanya ia gentar harus berdekatan dengan Nara yang terkenal sebagai pelanggan super galak di tempat itu. Tersisalah Key dan Nara yang sibuk dengan minumannya masing-masing.

Dua gelas soju sudah berhasil Key tenggak. Ia belum merasakan pusing apalagi mabuk. Kesadarannya masih terbilang baik untuk membuka perbincangan. “Nara-ya, bagaimana kalau aku kalah nanti?”

Nara menuangkan lagi soju ke dalam gelasnya, ia mengangkat gelas itu tinggi-tinggi. “Kalau kau kalah, gelas ini tidak akan lagi berisi soju. Aku akan merogoh kocekku untuk sebotol Bir Armageddon. Kau tahu? Itu bir paling dewa sedunia. Kau yang pemula ini bisa saja langsung mati setelah meminumnya. Jadi, kau tahu ancamannya, ‘kan?”

“Astaga, jadi kau akan membunuhku dengan minuman? Lalu apa bedanya kau dengan Minji?” Key berdecak sembari menenggak sekali lagi minumannya.

“Bukan, bukan. Kau akan terbunuh dengan sendirinya di arena. Kurasa, kau akan kalah karena satu hal, tewas dimakan jalanan. Bir itu, akan kuhadiahkan pada Ken. Ia akan malu karenamu, punya kawan super abal-abal tapi berlagak sok keren dengan menerima tantangan Kira. Mati bisa jadi menjadi pilihannya ketimbang ditindas cacian,” balas Nara sarkatis. Lantas yeoja itu terbahak, jemarinya memberikan kode pada si bartender untuk memberinya dua botol lagi.

Aigooo…,” seloroh Key panjang. “Nara-ya, selain uang dan gadis, apalagi yang biasanya dipertaruhkan?”

Nara menaruh telunjuknya di kening Key, mendorongnya pelan. “Harga dirimu, tentu saja. Balapan tidak hanya bicara tentang jenis motor yang kau gunakan. Mesin memang berpengaruh juga, tapi apa gunanya kendaraan bagus sementara kau tidak bisa mengemudikannya. Kalah berarti teknikmu buruk.” Ucapannya terhenti karena harus menyambut dua botol hijau yang baru saja disodorkan bartender.

“Dengar, Key. Yang kemarin itu bukan balapan yang sesungguhnya, hanya diselenggarakan mendadak atas keinginan dua genk. Balap liar yang asli, ada EO dadakan, dan tentu saja diikuti oleh banyak pemain—berarti semakin banyak pesaing. Tidak mustahil nyawamu hilang dalam ajang itu. Karena motormu terpeleset di jalan, beradu gesek dengan pembalap yang lain, ataupun mati diincar pembalap yang merasa harga dirinya tercabik setelah kau kalahkan. Salah satu senior kami pernah menjadi korbannya karena motornya disenggol sedikit. Ia lengah dan kehilangan keseimbangan, lalu oleng, bergesekan dengan aspal, terseret kasar, lalu yah… begitulah.”

Pria itu langsung menyambar satu dari dua botol yang tadi diberikan oleh bartender. Ia menumpahkan habis cairan itu ke dalam mulutnya. Beban berat menghampirinya begitu membayangkan dirinya harus menenggelamkan diri di dalam arena balapan yang ternyata seseram itu.

“Ckck, kau ini tipikal orang dengan impian terlampau tinggi.” Nara membiarkan Key menghabiskan isi botol itu sementara dirinya hanya mengamati sambil terkekeh.

Mwo? Jadi… kau bilang aku muluk?” Key meletakkan botolnya asal begitu habis isinya. Ia menumpu dagunya di tangan, menatap Nara dengan matanya yang sudah nyaris terpejam. “Ani, aku tidak akan kalah. Malam ini pun aku tidak akan kalah, satu botol sudah habis.” Key berusaha membuka matanya. Tangannya yang bebas, meraih satu botol yang tersisa.

“Nara-ya… di balik wajah serammu ini, aku yakin dulunya kau juga sama sepertiku. Jadi, hidup adalah metamorfosis, ‘kan? Kau tidak seharusnya mengejekku.” Kepalanya bergerak dan berhenti tepat di depan wajah Nara. Tangannya segera mencengkram pipi yeoja itu, membuat kedua celah bibir Nara terbuka. Di sanalah Key menumpahkan soju dari botol terakhir.

“Isss!” Wajah Nara memberengut kesal, sama sekali tidak menyangka bahwa Key akan memperlakukannya seberani itu. Terlebih Key menyebut-nyebut perihal masa lalunya, hal yang paling ingin ia lenyapkan dari memori.

“Nara-ya, aku ini namja. Kau tidak bisa menindasku hanya karena aku junior. Lain kali aku tidak akan takut, tidak akan muntah. Lain kali aku akan pesan vodka, dan lain kali kalau kau bertindak agresif menggodaku lagi, aku tidak keberatan mengganti mulut botol ini dengan lidahku. Masuk ke dalam mulutmu. Heiii… aku ini namjaaaa. Haloooo, kau tahu ‘kan bahwa nafsu pria itu sangat besar, Nara-ssi?” Lehernya meliuk-liuk ala penari ular. Ia terbahak dengan mengacung-ngacungkan botol hijau kosong yang baru saja ditariknya menjauhi mulut Nara.

Bohong jika Key mengaku dirinya masih kuat, apalagi sadar. Namja itu jelas-jelas dikuasai oleh alkohol. “Cih, dasar pria malang.” Nara mencibir. Baginya ucapan Key barusan hanya gertakan kosong. Dalam pikiran pria itu sedang terjadi euphoria fiktif lantaran kadar alhokol yang sudah bersarang di tubuhnya.

“Huohoho… apa yang kau katakan barusan? Nara-yaaaa… huahahaha, apa aku ini selucu badut di matamu? Hai, hai, haloooo! Tes, tes, satu dua tiga… ah, ne… sabahatku ada tiga, rupa-rupa warnanya. Oh ani, ani. Mereka sahabatku, ya? Omonaaa, aku lupa, aku tidak ingat.” Key menjadi panik dengan sendirinya, ia meremas-remas pelan rambutnya. Mencoba berdiri dan mencari apapun yang bisa dipakai untuk menampar wajahnya. Didapatkannya satu, telapak tangan Nara.

Ia mengarahkan telapak itu ke wajahnya sendiri, jelas tak bertenaga karena Nara memang hanya memasrahkan tangannya digerakkan oleh Key yang sudah teler itu.

Osh, mengapa tidak sakit? Oi, ini mimpi ya? Hmmm, karena ini mimpi… Yippi, aku bebas! Eh, eh, sahabatku ada berapa tadi? Oh, sudah tidak ada ya? Aku mau yang baru boleh? Oi, Nara-ssi! Kau saja ya yang jadi sahabat sehidup sematiku. Kau ingin punya anak dariku, huh?”

Tepat setelah menyelesaikan ucapannya, Key tumbang di lantai bar. Rupanya, malam bosan mendengar kicauan Key. Eh, atau malam iba mencengar racauannya? Ah tidak tahu, yang pasti malam mulai berbicara. Menyanyikan lagu Nina Bobo untuk menidurkan pria yang sangat lelah itu.

 

To Be Continued

 

Aduh hapuntennn pisan, minta maaf karena dunia dalam cerita ini bener-bener sesat. Aku juga dilema. Tapi karena terlanjur nulis, ya mau ga mau harus kubuat penggambaran semacem ini. Sebenernya dunia semacem ini lebih parah, tapi segini aja cukup, jangan lebih vulgar ngejelasinnya.

Do’akan saja ya Key cepet insap. Eh, emang Key bakal insap ya? Hmmm, iya sih. Tapi tapi, dia harus tersiksa dulu, muehehe… Key is the real namja. Ya ya, nanti bakal ngerti kenapa aku milih judul ini. Hosh, ini bakal panjang kayakna.

Ah iya, ungkapan ‘Yang atas diturunkan, yang bawah jadi naik’ aku pinjem dari sms-an sama Hanin, hehe

Thanks ya buat semua yang masih ngikutin cerita aneh ini, thanks juga buat beta-readernya ^^

Kritik saran silahkan dilayangkan yaw ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

20 thoughts on “Namja – Part 10

  1. Filosofinya keren banget .
    Yang aku suka dari cerita ini bukan hanya dari segi cerita tapi juga dari segi bahasa dan maknanya .
    Kenapa dengan bahasanya ?
    Karena bahasanya membuat saya untuk berfikir lebih luas lagi bukan hanya secara penyampaian tetapi secara maknanya juga .
    Good job author (ง’̀⌣’́)ง
    Ditunggu ya kelanjutannya .

    Can’t wait for the next story ^^

  2. “yang atas diturunkan , yg bwh jd naik” aq msh gk ngerti loh eon…

    ngakak sumpah waktu key histeris kebut2an motor. ya ampunn kasihan sekali uri kibummie🙂

    tuh kan amnesianya kambuh lg, aq lupa kenapa heera jd kyk gitu? apa gara2 cemburu ama cwek hamil itu ya.. dan btw ciee jinki muncul lg setelah sekian lama ^^

    lanjut!

    1. wkwk, ga usah ngerti han, masih keceil :p

      Ooo, Heera kan masih depresi stlh Key kabur. Dia ngerasa salah juga krn ngerasa omongannya terlalu sadis k Key. Plus dia kan sempet berantem ama Hana. Heera blom tau apa2 tt cewe hamil itu, Han

      Tengkyu han udah mampir kemari ^^

  3. entah cuma perasaanku atau emng part ini pendek? eumm..molla..
    Seprti biasa bahasamu it lohh bib..ckckk daebakk ^^)b
    Malam yg dimaksud Ha In & Hana it, mlm dimana mrka be4 berjanji d sungai Han kn?!
    “Ah, ya, kalau butuh udara segar agar tidak
    mengantuk, datanglah ke sungai Han. Angin
    di sana sangat sejuk untuk dinikmati. Besok,
    mungkin anginnya lebih menenangkan.” <- Ini secara g lgsung Ha In minta Key buat datang. Hmm aku rasa kptusn Ha In g cerita soal Key ke Hana, udh bner. Dan aku sangat suka Jinki di sini…
    Okehh..aku lg kurang sehat jd g bisa komen panjang²..
    Intinya next part ditunggu.. fighting bibib o(^^o) (o^^)o

    1. Eonni lg sakit apa teh?

      Engga pendek kok, cuma scenenya emang dikit, jd berasa bentar deh, hehe

      Iya, Ha In ini emang karakternya lbh ngebebasin. Makanya kubuat Ha In yang ketemu Key, bukan yg laen.

      Iyep, tengkyu buat semangatnya, udah selesai kok part 11-nya. Thanks ya eon udah mampir ^^

  4. Kyakkkkk sukkkakkkkk bgt
    Top bgt thor
    Mf reader baru , jd ngebut baca n (koment dipart ni
    Wuahhhhhhhh debaek
    Frendshipernya lebih condong
    Suka suka suka
    Kira2 key kapan km tobat? Kapan dirimu kembali ke 3sahabatmu
    Kapan keyyyyyyyyyyyyy
    Btw chingu, kira2 key sm cp ntuh?, kog aq sk sm ha-in y whkwkwkwkwkwkwhana m jonghyun deh, tryusss heera sm jinki wkwkwkwkwkwkw jd nya complet

    1. Wehehehe, gapapa kalo emang baca beruntun mah, wajar kok klo ngomennya baru di akhir ^^

      Key tobat kapan ya? Kalo udh ktemu bang toyib dan dinasehatin supaya pulang kali ya #ngookkk

      Key ama siapa? Waduh… blon kpikiran, krn ending yg mau kutuju bukan yg semacem itu, hehehheh

      makasih yaaa udah mampir ^^

  5. Hoho….namja udh part 10 aja nih…
    Bakalan panjang? Kira2 smp brp part bib?

    Apa ptemuan mereka di sungai han bakal tjd?smoga aja…kaya udh lamaaaa bgt mereka b4 ga ktemu…hehe

    Duh, gimana klo heera tau mantan jinki nginep di rmhnya?
    Heera..plis jgn marahan ma jinki ya?
    Sdh cukup skandal2 itu n jira(?) yg buat jinki galau….
    #ehhhh kecampur real ma beautiful stranger
    #plakkkkk #maafkeun saya^^

    Lg bogoshippo ma jjonghyun, mana scene jjong-hana nya? #banyakmaunya

    Hwaiting Bibibb^^

    1. Eummm, aku sih ngarepnya ga sampe 20 part. Tp ga tau juga. Masalahnya, apa yg ada di part ini awalnya aku rencanain muncul di part 8. Tp ternyata mundur, krn cara nulisku yg panjang, dan karena aku pingin bikin alur yang agak alus dikit dari biasanya.

      Terjadi kok eonni… nantikan part 11-nya yaaa

      Huahaha, emang JInki berantem ya ama JIra di BS? Blom baca lagi ni aku…

      Iya ya si bang dino ga nongol2. Eum, di ff ini nongolnya kapan ya… oh di part 11 ada ding, tp ga buanyak

      Thx ya eon dah mampir ^^

  6. sebelumnya mian karena aku comentnya cuma di part ini cz tadi baca dari part 1 dulu dan baru jam segini selesai
    hmm baca ff kayak gini tuh harus fokus dan konsen gk kayak baca ff yg lain yg bisa cepet cz bahasanya dan sbgainya harus bener2 meresap(?) di otak biar paham ceritanya
    key apa yg akan terjadi denganmu selanjutnya di dunia malam eoh??
    penasaran……..
    ditunggu part 11-nya ya

    1. iyo tak apa-apa baru komen juga ^^

      hmmm, emang sih gaya bahasaku agak berat…mian ya bikin otakmu mumet…

      Iyap, part 11 ditunggu aja yaaa… makasih udah bersedia mampir ke ff ini loh yaa🙂

  7. Bersambung lagi aaarrrggghhhhh… berasa baca komik yang nungguin volume selanjutnya >.<

    nice!!! di tunggu part selanjutnya

  8. Wah! Udah lama banget nungguin kelanjutan FF ini…akhirnya…
    Jadi seru ni ceritanya *emang udah seru dari awal sih*
    okedeh, ditunggu sangat kelanjutannya… Semoga ada moment Jonghyun sama Hana nya😄 hahaha
    mian baru comment di part ini…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s