Beautiful Coincidence – Part 3

Beautiful Coincidence – Part 3

Author: Tia31

Main Cast:

–      Choi Minho (SHINee)

–      Park Jiyeon (T-Ara)

Support Cast:

–      Kris, Wu Fan (EXO-M)

–      Krystal, Jung Soojung (F(x))

–      Lee Taemin (SHINee)

–      Oh Sehun (EXO-K)

–      Eunmi

Length: Sequel

Genre: Romance, Family, Sci-Fi

Rating: PG-13

Minho menghela napasnya sesaat dan menatap Jiyeon tajam seraya berpikir. Jiyeon jelas menunggu jawabannya untuk kepastian.

“Jika aku boleh mengatakan tidak, akan melakukannya.” jawab Minho pelan, namun Jiyeon masih dapat mendengarnya.

Jiyeon terdiam mendengarkan pernyataan Minho. Jelas, pasti ada yang salah diantara mereka berdua. Hal ini membuatnya semakin penasaran dengan sosok misterius yang kini berdiri di hadapannya dengan tatap datar.

Disaat yang bersamaan, Jiyeon dan Minho mendengar suara dering dari ponsel Minho yang terletak di atas meja. Kemudian Minho mengambil ponselnya dan menjawab telepon tersebut. Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh Jiyeon untuk mengambil foto Yeon Gyeom yang terletak di lantai.

Ia memandangi Yeon Gyeom dan Minho bergantian.

Kemungkinan pertama, Minho bukan anak kandung Yeon Gyeom. Jiyeon menggelengkan kepalanya. Ini terlalu dramatis, lagipula mereka betul-betul mirip.

Kemungkinan kedua, Minho benci appanya yang terlalu sibuk. Jiyeon kembali menggeleng. Mana mungkin sampai seperti itu.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Minho dingin setelah mengakhiri pembicaraannya di telepon.

“Anni.”

Jiyeon berdiri dan menatap punggung Minho yang menjauh keluar ruangan. Kini tinggal dirinya di ruangan tersebut. Tak ada dapat ia lakukan selain menunggu Baekho muncul.

Beruntung, Baekho dengan cepat datang saaat mengetahui Minho keluar dari rumah dengan mobilnya. Ia menghampiri Jiyeon dan duduk di sebelahnya.

“Doryeonim pergi lagi ya…” Baekho menghela napasnya setelah berkata pelan pada Jiyeon.

Jiyeon hanya mengangguk dan menatap Baekho kasian. Ia sedikit kasihan Baekho yang dituntut untuk menjaga namja seperti Minho. Keras kepala. Bahkan menurut Jiyeon, kepalanya lebih keras daripada batu.

“Ah ne. Besok kan sudah masuk sekolah, tolonglah lebih intensif mengajarinya. Tes masuk perguruan tinggi akan diadakan 3 bulan lagi. Sajangnim betul-betul mengharapkan doryeonim agar masuk ke jurusan kedokteran di universitas terbaik.” pinta Baekho dengan lembut pada Jiyeon.

Jiyeon mulai memutar otaknya. Yang harus ia lakukan saat ini bukan mengajari Minho pelajaran yang paling ia benci, tapi bagaimana cara membuat Minho mau mengakui kejeniusannya dan masuk ke universitas terbaik. Namun lagi-lagi sifat keras kepala Minho membuatnya berpikir bahwa niatnya pasti akan penuh dengan rintangan. Mungkin rintangan batin.

“Baiklah, ahjussi. Jam berapa aku harus datang?”

“Langsung setelah pulang sekolah. Kau bisa datang kesini bersama doryeonim. Aku sudah membicarakannya dengan sajangnim.”

“Sajangnim? Bolehkah aku bertanya?” Jiyeon mulai menatap Baekho serius.

Baekho memberikan tatapan bingung pada Jiyeon, “Ne? Memangnya ada apa?”

“Apakah sajangnim yang ahjussi maksud adalah Choi Yeon Gyeom?”

Baekho tertawa pelan. Di sekolahnya, memang Minho tidak dikenal sebagai anak Choi Yeon Gyeom. “Ne. Bagaimana kau mengetahuinya?”

“Tadi pagi aku melihat doryeonim masuk ke ruangan Dokter Choi Yeon Gyeom.”

***

Minho menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah mewah bernuansa klasik. Ia lalu mencari kontak seorang sahabatnya di ponselnya.

“Yeoboseyo?” sapa seseorang dari seberang.

“Sehun-ah, aku sudah sampai, cepatlah keluar.”

“Tunggu sebentar.”

“Ne.”

Minho memutuskan panggilannya dan menunggu Sehun di luar rumahnya. Ia mendengus kesal karena kebiasaan Sehun yang tak pernah hilang. Sampai beberapa lama ia menunggu, Sehun tak kunjung datang.

Ia putuskan untuk turun dari mobilnya dan masuk ke rumah keluarga besar Sehun. Beruntung, tak seperti biasanya, keadaan rumah sangat sepi. Dengan begitu, Minho tak perlu bersikap pura-pura ramah pada penghuni rumah.

Saat menaiki tangga, Minho melihat sosok Kris yang baru saja keluar dari kamarnya.

“Hey!” sapa Kris ramah.

“Hey.” jawab Minho. Ia melangkah masuk ke kamar Sehun yang letaknya tepat berada di depan kamar Kris.

Minho dan Kris memang saling mengenal karena sahabatnya, Sehun adalah saudara sepupu dari Kris. Meski berada di kelas yang sama, mereka tak terlalu dekat sebagai teman.

Minho mendengus kesal saat melihat Sehun yang sedang menyisir rambutnya dengan santainya di depan kaca. “Ya! Kau membuatku menunggu terlalu lama! Cepatlah!” ujar Minho kesal. Bukan hal baru bagi Minho untuk menghadapi sahabatnya yang satu ini saat ia lama berdandan.

“Ne. Ne. Kkaja. Taemin sudah menunggu.” Sehun segera keluar dari kamarnya dan Minho membututinya dari belakang.

Saat mereka tiba di depan mobil Minho, Minho menyeringai dan menatap Sehun. “Kau yang menyetir, ne?”

“Ah kau kan tahu aku belum begitu lancar.” tolak Sehun, meski sebenarnya ia sedang malas menyetir.

“Bohong.” Minho buru-buru menangkis pernyataan Sehun. “Aku sedang mengantuk. Ini kuncinya.”

Minho menaruh kunci mobilnya tepat didalam genggaman Sehun dan bergegas masuk ke mobil. Ia tak menghiraukan keluhan Sehun yang kini duduk di kursi pengemudi.

Karena bosan, Minho memilih untuk tidur. Kebetulan, perjalanan mereka cukup jauh dan mereka tidak akan melewati pemandangan yang menarik perhatiannya.

CIIITTT

Sehun menghentikan mobil Minho secara mendadak saat melihat seorang gadis kecil yang terkulai lemas di atas jalanan beraspal yang sangat sepi. Tak ada seorang pun disitu.

Bunyi mobil yang direm mendadak oleh Sehun membangunkan Minho. Minho menatap Sehun yang mulai panik. Detik kemudian Minho mengalihkan pandangannya ke depan dan menatap seorang anak kecil yang terbaring lemah dihadapannya.

“Ya! Apa yang kau lakukan???” bentak Minho.

“Ini bukan salahku. Anak kecil itu sudah tergeletak disitu sebelum aku menghentikan mobil ini.” jawab Sehun panik.

Minho dengan cepat keluar dari mobilnya dan menghampiri gadis tersebut. Kakinya yang mungil kini berlumuran darah. Minho menatap Sehun yang berdiri dengan wajah khawatir namun tetap tak melakukan apapun dengan geram.

“Cepat ambil jaketku di jok belakang!” seru Minho. Sehun pun berlari ke mobil dan mengambil sebuah jaket.

“Dia gila?” gumam Sehun saat melihat jaket mahal yang kini berada di tangannya. Sehun jelas tahu bahwa jaket yang baru saja Minho dapatkan tersebut adalah jaket yang sangat mahal. Bahkan ia menganggap dirinya tak akan memiliki jaket semahal jaket tersebut.

Ia menghampiri Minho yang sedang melihat keadaan gadis tersebut, “Kau yakin akan pakai jaket ini?”

“Cepat berikan!” Minho dengan cepat merebut jaket miliknya dari tangan Sehun.

Dengan cekatan Minho membalut kaki gadis tersebut dengan jaketnya dan membawanya masuk ke dalam mobil. Minho dengan cepat duduk di kursi pengemudi dan meminta Sehun untuk menjaga gadis tersebut di kursi belakang.

Dalam waktu setengah jam, mereka sudah sampai di Honjusang Hospital, rumah sakit milik keluarga Minho. Minho dan Sehun membawa gadis tersebut ke ruang UGD

Di perjalanan, Minho sempat melihat sosok Kris yang masuk kedalam lift. “Kris? Apa yang ia lakukan disini?” gumamnya pelan sehingga Sehun yang tak menyadari kehadiran saudara sepupunya di rumah sakit tersebut. Namun karena dalam keadaan darurat, Minho sama sekali tak menghiraukannya.

Setelah memastikan gadis tersebut masuk kedalam ruangan UGD dan mendapatkan pelayanan langsung dari seorang dokter, Minho mengajak Sehun untuk pergi ke taman dan duduk sebentar disana. Sehun menatap orang yang sedang duduk disebelahnya, “Acara kita batal?”

“Bodoh. Keadaan sedang seperti ini kau malah memikirkan diri sendiri.” jawab Minho sambil menatap Sehun tajam. “Gadis kecil itu mengalami pendarahan di kakinya, sepertinya ia terserempet mobil atau motor. Aku tidak bisa memastikan. Kurasa gadis itu mengalami patah tulang di tulang betisnya.” Minho menuturkan segala yang ada di pikirannya saat melihat keadaan gadis tersebut sambil mengerukna keningnya.

“Ya! Sejak kapan kau jadi sok dokter begini?” Sehun tertawa melihat sika Miho yang baginya terlalu serius.

“Eh… Lupakan saja. Aku hanya sok tau.” tangkis Minho.

Hari berganti senja, matahari mulai tenggelam, dan membuat keadaan sekitar semakin gelap. Setelah meminta Sehun untuk menghubungin Taemin, Minho langsung menuju ruang rawat gadis tersebut. Setelah melakukan operasi kecil, Minho dan Sehun dipersilahkan masuk ke ruang rawatnya.

Minho menutup ruang rawat khusus anak-anak yang ia siapkan untuk gadis kecil tadi dengan perlahan, mencoba untuk tidak membangunkan gadis tersebut. Ia menghampirinya perlahan dan menatap wajah gadis itu.

Seorang dokter masuk dan menghampiri Minho, “Annyeonghaseyo.” Dokter Jang membungkuk pada Minho.

“Annyeonghaseyo.” jawab Minho sambil balas membungkuk. “Apa yang terjadi pada gadis ini, dok?”

“Sepertinya gadis ini dijatuhkan dari mobil atau motor. Ia mengalami fraktura sederhana atau patah tulang yang tidak melukai organ lainnya dan luka dibagian luar karena goresan aspal.” Dokter tersebut memberi jeda. “Ia harus tinggal beberapa hari disini untuk menerima perawatan.”

Minho mengangguk mengerti kemudian tersenyum, “Tolong berikan perawatan yang terbaik. Gamsahamnida, dokter.”

“Adalah keharusan bagi saya, doryeonim. Saya permisi dulu, jika ada keperluan, anda bisa menghubungi saya.” Dokter Jang pamit dan membungkuk pada Minho kemudian meninggalkan ruangan.

Sehun bangkit dari sofa dan menghampiri Minho. “Sepertinya keadaannya tidak buruk.” ucap Sehun sambil menyentuh bahu Minho.

“Semoga saja begitu.”

Suara pintu yang dibuka oleh Taemin mengalihkan pandangan Minho dan Sehun pada gadis yang kini masih berbaring lemah di atas kasur.

“Annyeong!” sapa Taemin dengan suara keras, sontak membuat gadis kecil tadi terbangun.

Ia membuka matanya, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan mendapati tiga orang namja yang berdiri di depan sebuah sofa sambil menatapnya. Gadis itu bergidik ngeri dan menutup matanya.

Minho menghampirinya dan tersenyum, “Kau baik-baik saja?” tanyanya pelan.

Gadis itu tidak menjawab.

“Tidak perlu takut. Siapa namamu, adik kecil?” tanya Minho lagi sambil menyunggingkan senyuman manisnya.

Sehun dan Taemin membelalak. Bahkan selama 3 tahun persahabatan mereka, keduanya tak pernah melihat senyuman semanis yang Minho berikan pada gadis tersebut. Mereka berdua saling memberikan pandangan dan menghampiri Minho.

“Ah ne. Kau boleh memanggilku oppa. Minho oppa.” Minho mengusap rambut gadis itu masih dengan senyum di wajahnya. Tiba-tiba saja setetes air mata turun dari mata gadis itu, membuat Minho bingung. “Apa yang sebenarnya terjadi padamu, dongsaeng?” Minho memeluk gadis tersebut dengan erat.

Gadis itu tidak menjawab. Ia terus menangis. “Ada apa sebenarnya dengan gadis ini?” Taemin akhirnya angkat bicara. Sehun hanya dapat mengangkat bahu dan tangannya.

Minho membelai rambut gadis itu sampai akhirnya ia melepas pelukan Minho. Gadis itu tersenyum pada Minho kemudian tertawa. “Gamsahamnida.”

“Ne. Siapa namamu?” tanya Minho lagi.

“Namaku Eunmi.” sebuah senyuman terulas di bibir kecil nan merah milik Eunmi. Ia merasa betul-betul nyaman berada di samping namja yang baru saja ia temui.

“Nama yang cantik. Jangan menangis lagi, ne?” Minho menatap Eunmi kemudian menghapus air mata yang membasahi pipinya.

“Ne….” Eunmi berhenti sejenak dan memandang Minho.

“Minho oppa.” jawab Minho, seakan mengetahui apa yang ada di pikiran Eunmi.

“Ne, Minho oppa.”

“Dan ini, Sehun oppa.” Minho menunjuk seorang namja dengan setelan jaket dan jeans yang berdiri di sebelah Taemin. “Yang disebelahnya, Taemin oppa.” Minho mengalihkan jarinya ke Taemin.

“Ne, annyeong!” Taemin dan Sehun memberi salam bersamaan.

Eunmi tertawa senang kemudian memperhatikan setelan yang Sehun pakai, “Sehun oppa, bajumu… Kau memiliki selera fashion yang buruk?”

***

“Choi Minho?” seru seorang guru biologi, Goo ssaengnim yang baru saja duduk di kursinya setelah mencatat beberapa materi di papan tulis. Minho yang sedang berbicara dengan Taemin terpaksa berdiri.

“Ne, ssaengnim?”

“Bisa tolong jelaskan kandungan dari getah empedu? Ibu sengaja tidak menuliskannya. Hanya ingin mengetahui kau belajar atau tidak.” pertanyaan tersebut sontak membuat Jiyeon mengalihkan pandangannya pada Minho. Ia mengernyitkan matanya dan melihat ekspresi Minho yang dia buat-buat sendiri.

Minho terlihat berpikir. Ia mencoba menahan dirinya untuk tidak menjawab dengan benar. Sementara Jiyeon mendengus kesal. Dasar tukang akting!

“Protein?” akhirnya Minho membuka mulut. Goo ssaengnim hanya dapat menghela napasnya. Setidaknya ia sudah mencoba untuk bertanya, meskipun ia tahu bahwa Minho tak akan menjawab dengan baik.

“Kurang tepat. Kris, bisa tolong bantu Minho?”

Kris bangkit dari bangkunya dan mulai menjelaskan, “Pertama, kandungan getah empedu terdiri dari pigmen billirubin yang berfungsi memberi warna kuning pada feses dan urin. Yang kedua, pigmen billiverdin, memberi warna hijau pada saluran plasma. Ketiga, kolesterol yang merupakan hasil metabolisme lemak yang harus dikeluarkan oleh tubuh. Terakhir, yang ke empat… garam-garam empedu…” Kris menghentikan kata-katanya dan berpikir sejenak, “Garam empedu merupakan asam empedu yang berasal dari kombinasi asam amino dan kolesterol.”

Seisi kelas memberikan tepuk tangan untuk Kris, terkecuali seorang murid yang sedari tadi hanya memberikan pandangan datar kepadanya. Lama sekali menjawabnya, batinnya.

Goo ssaengnim mempersilahkan kedua namja beda kepribadian tersebut untuk duduk. Jiyeon melemparkan pandangan kepada Minho yang kini menatapnya dengan tatapan ‘Apa masalahmu?’. Jiyeon hanya dapat membuang pandangannya pada guru yang kini menuliskan 5 soal post test di papan tulis.

Selama test berlangsung, Jiyeon terus memperhatikan Minho. Ia hanya menatap papan tulis dengan tatapan kosong. Tak ada satupun yang ia kerjakan. Sebenarnya, Minho berniat untuk mengisi nomor 4 -nomor yang paling mudah- beberapa menit sebelum bel dan mengisi nomor lain secara asal-asalan dan singkat.

Semua murid mengumpulkan pekerjaan mereka tepat ketika bel istirahat berbunyi, kecuali Jiyeon dan Kris yang sudah mengumpulkan selembar kertas berisi jawaban mereka terlebih dahulu. Karena malas, Minho menitipkan lembar jawabannya pada Sehun untuk dikumpulkan.

“Dasar gila, soalnya sangat sulit. Kita kan baru saja masuk ke materi ini, tapi guru itu malah memberikan test yang sangat sulit.” gerutu Sehun saat kembali duduk di sebelah Minho.

Minho hanya mendengus, “Hah… hanya satu nomor yang dapat kukerjakan.” ujarnya berbohong. Jelas, baginya soal-soal tersebut tidaklah sulit.

“Tiga soal yang bisa kukerjakan. Lagipula, aku tidak yakin dengan jawabannya.” Taemin duduk di belakang Minho dan masuk kedalam pembicaraan Minho dan Sehun.

“Ne, aku juga.” Sehun setuju dan mengangguk. “Kalian tidak mau ke kantin?”

“Ah ne, aku lapar.” Minho berjalan keluar kelas diikuti Taemin dan Sehun. Seperti biasa, puluhan pasang mata memperhatikan mereka. Tiga namja tampan nan kaya. Puluhan murid di sekolah tersebut mengagumi ketiganya, terlebih lagi, Choi Minho.

Baru saja ketiganya duduk di sisi pojok kantin, sebuah suara dari seorang yeoja berparas cantik terdengar. “Minho!” panggilnya dan duduk di kursi sebelah Minho yang kosong.

Minho tak menjawabnya. Hanya menatapnya dingin kemudian mulai memesan makanan.

Taemin berdecak lidah sambil memperhatikan perilaku Minho. Belasan…ah tidak, bahkan puluhan orang sudah yeoja itu tolak mentah-mentah hanya demi seorang Choi Minho. Lagi pula, siapa yang akan menolaknya? Cantik. Kaya. Menawan. Terkenal. Hanya namja dari planet lain yang tak menyukainya.

“Soojung-ah, kau mau pesan apa?” karena Minho tak menjawab Soojung, Sehun memutuskan untuk angkat bicara.

“Ah ne, gomawo Sehun-ah. Aku hanya ingin secangkir coklat panas.” Cantik dan ramah. Dua kata yang begitu melekat di diri Soojung. Betul-betul membuat namja-namja di sekolah tersebut terpesona.

“Baiklah.”

Selama menyantap makanan, Minho hanya diam sambil sesekali melihat ke luar jendela. Terkadang, Soojung mengajaknya bicara, namun Minho hanya menjawab dengan singkat, bahkan tak menjawabnya sama sekali. Taemin dan Sehun yang mengerti, akhirnya mengajak Soojung berbicara dan tertawa bersama. Soojung hanya dapat memeberikan tawa palsunya untuk menghargai usaha Taemin dan Sehun.

“Sampai jumpa, Soojung-ah!” Taemin memberi salam dan mengikuti langkah Minho dan Sehun yang sudah terlebih dahulu meninggalkan meja tersebut.

Lagi-lagi Soojung harus pura-pura tersenyum. Tentu saja diperlakukan dingin oleh Minho adalah hal yang menyakitkan baginya. Namun, ia motivasi untuk menjadikan Minho miliknya terus memberinya semangat. Hwaiting, Soojung-ah! serunya dalam hati.

“Bahkan 3 tahun bersahabat denganmu belum membuatku benar-benar mengerti tentang dirimu.” ucap Sehun dalam perjalanan menuju kelas.

Taemin menyamakan langkahnya dengan Minho dan Sehun kemudian ikut angkat bicara, “Aku masih bisa mengerti kenapa kau menolak Naeum, tapi menolak seorang Jung Soojung bukanlah hal biasa.”

“Tidak semua namja memiliki selera yang sama.”

Tujuh kata. Tujuh kata yang selalu menjadi alat bagi Minho untuk menutup mulut sahabatnya. Setelah mengucapkan tujuh kata tersebut Sehun dan Taemin selalu menyerah dan tak dapat mengatakan apapun lagi.

Ketiga namja itu berpapasan dengan Jiyeon saat melewati pintu kelas. Minho sempat menangkap tatapan Jiyeon, namun detik berikutnya Jiyeon membuang pandangan dan berlalu keluar kelas. Ketiganya kembali ke tempat duduk masing-masing dan mengobrol.

Jiyeon melangkahkan kakinya cepat menuju perpustakaan mengingat Kris yang sudah berpesan untuk menyusulnya di perpustakaan saat selesai membantu Goo ssaengnim mengoreksi pekerjaan teman sekelasnya.

“Annyeong~” sapa Jiyeon kemudian tersenyum pada Kris yang sedang membaca sebuah buku biografi seorang musisi terkenal dunia, Bethoven. “Kau suka Bethoven?”

Kris mengangguk dan tersenyum manis pada Jiyeon, “Ne. Kau suka lagu klasik?”

“Hahaha ye. Tentu saja. Favoritku adalah Canon in D Mayor. Kau tahu? Karya Pachelbel.”

Jiyeon mulai menyalakan komputer yang berada di hadapannya dan mulai menjelajahi internet. Ia menatap layar komputer dengan seksama, mencoba mencari informasi yang kini ia butuhkan.

“Ne, aku tahu. Kau suka Pachelbel?” jawab Kris setelah membaca satu paragraf pendek dari buku biografinya.

Jiyeon mengangguk, ia masih fokus memandangi layar komputer.

Kris akhirnya memilih untuk kembali berkonsentrasi dengan bukunya.

“Dapat!” seru Jiyeon tanpa suara saat menemukan artikel bertajuk genetika yang ia cari.

Menurut penelitian terakhir, kebanyakan anak angkat yang diadopsi sejak lahir akan mengalami kemiripan dengan orang tua angkatnya. Para ilmuwan belum meresmikan hal ini secara umum dan belum dapat memastikan apa penyebab dari fenomena tersebut.

Kemungkinan pertama!

***

“Sejak kapan Jiyeon menjadi guru les bilogimu?” Minho tahu, memberitahukan sahabatnya bahwa Jiyeon adalah teman guru lesnya bukanlah hal yang tepat. Sebuah pertanyaan muncul dari mulut Taemin.

“Sejak liburan. Baekho tak pernah jera.” Minho menghela napasnya. “Bukankah semua orang tahu bahwa pelajaran tersebut bukan pelajaran kesukaanku. Kenapa mereka tetap memaksaku.”

“Kukira kau memang harus mengikuti apa kata appamu.” Sehun menyentuh pundak Minho. Mencoba menghilangkan kerut yang kini terlihat jelas di kening Minho.

“Maksudmu untuk menjadi dokter?” Sehun dan Taemin mengangguk. “Itu bukan keinginanku.”

Sebuah mobil sedan mewah berwarna putih berhenti di hadapan mereka. Sosok namja yang baru saja menginjak kepala lima keluar dari mobil dan membungkuk pada Minho. “Doryeonim, mari kita pulang.”

Minho mengangguk dan mengucapkan salam perpisahan pada Sehun dan Taemin yang akan pulang bersama dengan mobil Taemin.

Baekho mengeluarkan ponselnya dan segera mengetikan sebuah pesan singkat untuk Jiyeon karena tak mendapati sosok Jiyeon di dekatnya. Lima menit kemudian, Jiyeon datang dengan berlari setelah memberi pengarahan untuk juniornya di ekskul RCY (PMR).

“Mianhaeyo, ahjussi. Tadi aku masih memiliki beberapa keperluan.” ucapnya dengan suara tersengal.

“Ah gwenchana. Ayo masuk ke mobil.”

Akhirnya mereka sampai di rumah Minho. Keduanya turun bersamaan. Sambil berjalan ke ruang belajar Minho, Jiyeon terus memperhatikan sekitar. Dalam benaknya, ia harus menemukan minimal satu foto masa kecil Minho.

Nihil.

Tak ada satu pun foto masa kecil Minho yang terpajang. Rumah tersebut hanya memiliki satu foto keluarga besar yang letaknya di ruang keluarga dan foto seorang wanita berparas anggun dengan hanbok yang memancarkan kecantikannya. “Ahh, jeongmal. Yeppeo.” gumam Jiyeon saat mengagumi kecantikan wajah wanita tersebut.

Sayangnya, Jiyeon tak dapat masuk ke ruang keluarga tersebut karena ia harus segera masuk ke ruang belajar. “Cepat, Jiyeon-ah!” seru Baekho dari dalam ruang belajar.

Setelah menyiapkan ruangan, Baekho kembali meninggalkan Minho dan Jiyeon di dalam ruangan. Jiyeon menghela napasnya dan mengeluarkan bukunya dari dalam tas.

“Doryeonim, kau mau membahas soal post test tadi pagi?” Jiyeon mengeluarkan selembar kertas yang ia dapatkan dari gurunya saat memeriksa jawaban post test teman satu kelasnya.

“Berikan soalnya, akan ku kerjakan.”

Mendengar perkataan Minho, Jiyeon langsung mengambil pulpennya dan mulai menulis soal yang tadi pagi gurunya berikan. Sementara Jiyeon menulis, Minho berjalan menghampiri rak buku besar yang berada di belakang Jiyeon dan mengambil sebuah buku.

The Virus Vol. 2.

Jiyeon memandangi Minho yang tersenyum saat membaca buku tersebut. Orang aneh, ucapnya dalam hati. Sikap Minho semakin membuatnya bingung. Jelas, dari raut wajahnya Minho sangat menikmati membaca buku tersebut, tapi kenapa ketika ada orang lain, ia justru berpura-pura bodoh.

“Ada apa?” Minho menangkap pandangan mata Jiyeon dan berucap ketus.

“Anni.” Jiyeon mengelak kemudian mendorong kertas berisi soal kepada Minho, “Sudah kutulis.”

Minho segera mengambil kertas itu dan menatap Jiyeon. Jiyeon mengerti dan memberikan sebuah pulpen untuk Minho. Minho mulai mengerjakan dalam diam. Selama itu, Jiyeon terus memperhatikannya Minho yang mengerjakannya dengan lancar dan tanpa jeda.

Jiyeon betul-betul ingin mengetahui jawaban Minho, karena jelas ia tahu nilai yang ia berikan tadi pagi di lembar jawaban Minho bukanlah nilai yang pantas diberikan untuknya.

Sepuluh menit berlalu. Minho mendongakkan kepalanya dan menatap Jiyeon. Ia mendorong lembar jawabannya kemudian mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. Selama Jiyeon memeriksa jawaban Minho, Minho memilih untuk menghubungi suster yang ia minta untuk menemani Eunmi selama di rumah sakit.

“Yeoboseyo?” suara seorang yeoja mulai terdengar di telinga Minho.

“Suster, bagaimana keadaan Eunmi?”

Eunmi. Siapa lagi dia? Yeojachingunya? Bukankah dia adalah namja berhati dingin? Segala hal tentang Minho kini membuat Jiyeon selalu penasaran.

“Tadi pagi saat saya ingin memberikan sarapan, Eunmi agasshi menolaknya. Ia terus diam, Doryeonim. Sampai akhirnya ia bertanya apakah Doryeonim akan datang atau tidak. Setelah saya mengatakan Doryeonim akan datang, barulah Eunmi mau makan dengan lahap.” Tanpa Minho sadari, sebuah senyum terkembang di bibirnya.

Sejak pertama kali melihat Eunmi, Minho merasa betul-betul nyaman melihat. Sejujurnya ia menginginkan sosok seorang adik sejak dulu, namun apa boleh buat, appanya tak pernah jatuh cinta lagi kepada seorang yeoja dan tidak mungkin memberikannya adik. Tapi, ia merasa bahwa Eunmi adalah utusan dari Tuhan untuk menjadi adiknya.

“Ye, aku akan datang pukul 5 nanti. Tolong katakan padanya. Gamsahamnida, suster.” Minho menutup teleponnya dan berdiri dari kursinya. Ia kembali menghampiri rak buku besar dan mengambil buku berjudul ‘The Virus Vol. 1’.

Minho menghampiri Jiyeon dan melihat angka 1 dan 0 yang tertulis berpasangan di sudut kanan atas lembar jawabannya. Ia memberikan buku yang ia ambil kepada Jiyeon. Jiyeon hanya dapat menerimanya dan mulai membacanya. Minho memberikan buku tersebut hanya untuk menutup mulut Jiyeon yang pasti akan bertanya apa yang harus ia lakukan selama di ruangan tersebut.

Minho kembali ke tempat duduknya dan mulai membaca The Virus Vol. 2. Hening. Keduanya sibuk dengan bacaan mereka. Terlebih lagi Minho. Ia betul-betul menyukai buku tersebut.

Dua jam berlalu. Keduanya masih sibuk dengan buku masing-masing. Terlebih lagi Jiyeon yang butuh konsentrasi banyak untuk memahami buku berbahasa Inggris tersebut. Dalam hatinya, ia sedikit kagum pada Minho yang menyukai buku seperti ini. Tak seperti namja lain yang lebih memilih untuk membaca komik atau buku yang tidak penting.

Minho bangkit dari kursinya, diikuti oleh Jiyeon. Ia tahu, waktunya memberikan pelajaran untuk Minho sudah hampir selesai. Mereka berdua berjalan bersama menuju rak dimana buku tersebut berasal. Dikarenakan, buku yang mereka baca harus diletakkan bersebelahan, Minho mengambil buku tersebut dari tangan Jiyeon dan menaruhnya. Selanjutnya, ia menaruh buku yang tadi ia baca.

Sebelum buku tersebut betul-betul masuk kedalam rak, tanpa Minho sadari sebuah amplop melayang bebas menuju lantai. Jiyeon yang menyadarinya buru-buru mengambil amplop tersebut dan memasukkannya kedalam saku sebelum Minho menyadarinya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Minho dingin.

“Anni.” Jiyeon mendongakkan kepalanya dan berjalan ke tempat ia menaruh tasnya.

To be continued…

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

13 thoughts on “Beautiful Coincidence – Part 3”

  1. Minho sebenarna pintar tapi kenapa dy ppura” ya.
    Jady ikutan” jiyi nich mikkir yang Ъќ>:/ 2
    Wah apaa tuch yang jatuh???
    Minhho na suka sama anak yang tolong na ya..
    *pengen jugga manggil minho oppa..
    Aihh*ppllak..
    Ditunggu kelanjutannya..
    🙂

  2. Aduh lagi tegang nih thor kenapa abis

    Sebenarnya apa isi amplopnya
    Ah BINGUNG !!!!!!!!!!!!

    Lanjut terus thor secepatnya ya ^^

    Fighting!!! Aduh susah ya makin lama makin tegang jadi tambah deg deg an

    Cepetan ya

    ╭(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯ GO!└(^o^)┘╭(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯ GO!└(^o^)┘╭(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯ GO! └(^o^)┘ ╭(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯ GO! └(^o^)┘

  3. mino senyuuummmm……
    Aaaaaaa…..#mulae gaje

    moga sosok eunmi bisa bikin mino jd lbh cerah… #cuaca kalii…hahaha

    Ditunggu next part nya…
    Hwaiting^^

  4. Kurang panjang nihhh. Ditambah dong~ 😀 #disekap.

    Ih si Kris itu kok jadi nyebelin sih? Si Om Tiang jadi hero dn lucu di part ini. Dtgu part slnjutnya.

    Keep writing!

  5. Wah.. Keren.. Keren..
    Aku rasa minhonya itu sbnrnya baik, jenius dan ga sombong. Mungkin dia kyk gitu krna kurang kasih syg org tua dan dia kesepian kali ya jdnya dia kyk gitu. *jdsotoynih,sorry*

    Ditunggu next partnya thor, thank^^

  6. Oke, kita biarkan Jiyeon sibuk dengan kemungkinan-kemungkinannya, haha…

    Si gadis kecil Eunmi yang beruntung bisa selamatkan Minho. Mungkin juga Minho yang beruntung karena sepertinya Eunmi akan membawa perubahan baru buat Minho. Dokter bilang sepertinya Eunmi dijatuhkan dari mobil atau motor. Wah, tega juga kalau sampai ada orang yang berbuat kayak gitu, ngejatuhin anak kecil. Apa salahnya coba?

    O-oh, surat apa itu yang ditemukan Jiyeon? Penyelidikan Jiyeon tentang kehidupan Minho masih terus berlanjut nih. Sama dengan ff ini yang juga mesti berlanjut. Hehehe…

    Nice story.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s