My Real Namja

MY REAL NAMJA

Author : Ekikumo

Main Cast : Lee Jinki (Onew SHINee), Kim Hye Rin (OC)

Other Cast : Kim Jonghyun (SHINee), Go Cha Rim (OC), Kim Ha Neul (OC)

Length : Oneshot

Genre : Romance, Angst

Rating : Teen

Disclaimer : Semuanya buatan author Ekikumo, kecuali para tokohnya buatan tuhan kekeke ^^

***

Tik

Tik

Tik

Hujan turun dengan derasnya. Membasahi seluruh isi muka bumi. Tetesan air hujan bergerak tak tentu arah di daun talas. Angin yang bertiup kencang menambah suasana haru biru pada hari itu. Seakan memaksa setiap orang untuk tidak keluar rumah dan memilih untuk menghabiskan waktu di rumah.

Namun, berbeda dengan Lee Jinki. Kakinya mantap melangkahkan kaki menuju ke sebuah halte yang cukup jauh dari rumahnya.

Menyampirkan sebuah tas gendong berwarna hijau tosca di bahunya. Tak lupa digunakannya headphone kesayangannya.

Menyanyikan bait demi bait alunan lagu yang mengalun dari headphone tersebut. Kepalanya mengangguk-angguk mengitu irama lagu. Satu tangannya membawa sebuah payung merah dengan motif zig zag dan memasukkan tangan sebelahnya ke dalam saku celana.

Tak ada seorangpun yang mampu menghentikan niat Lee jinki untuk bertemu dengan yeojachingu-nya, Kim Hye Rin, seorang wanita multitalenta dan periang. Dan itulah alasan Jinki menyukai Hye Rin.

“Hye Rin-ah!” Jinki melambaikan tangannya lalu menghampiri wanita yang sedang duduk di halte.

“Lee Jinki, kau terlambat lagi,” jawabnya datar.

“Mianhae, chagi. Lain kali aku akan mencoba lebih lebih lebih lebih tepat waktu, nde?”

Hye Rin hanya tertunduk lesu tak memperdulikan perkataan namja tampan itu.

Bus yang ia tunggu akhirnya datang. Dengan sigap, Jinki memasuki bus tanpa memikirkan Hye Rin yang masih berada di luar bus. Hye Rin menghela napas.

“Ada apa dengan pria ini? namjachingu? Bagaimana aku bisa menerima cinta seorang babo namja seperti dia? Apa aku mabuk?” gumamnya.

“Hye Rin-ah. kesini!” Jinki memberi kode keberadaannya. Tanpa pikir panjang, Hye Rin menghampirinya.

“Apa kau masih marah denganku?” Jinki menatap mata Hye Rin dalam-dalam. Kini mata mereka saling terkait satu sama lain.

“……..”

“Mianhada, chagi-ya,” dengan tampang innocent, Jinki memohon pada Hye Rin.

Namun, apa daya, Hye Rin tetap tidak menjawab dan memilih untuk memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela.

Hye Rin memang sudah geram dengan kebiasaan Lee Jinki yang selalu terlambat.

Tak lama berselang, mereka tiba di tempat yang mereka tuju, Cheongju University. Hye Rin bergegas keluar dari bus tanpa sepatah kata pun pada Jinki. Sepertinya Jinki merasa sedih karena telah membuat yeoja-nya kecewa. Jinki mencoba menyusul Hye Rin.

“Hye Rin-ah, aku mohon maafkan aku! Aku mohon,” Jinki mencoba berlutut di depan Hye Rin.

HYE RIN POV

“Hye Rin-ah, aku mohon maafkan aku! Aku mohon,” Jinki mencoba berlutut di depanku.

Pria ini membuatku malu! Apa dia tidak melihat semua orang sedang menatap kita!!!!

“Nde, Jinki-ah!!” jawabku sedikit membentak.

Seketika sudut bibirnya tertarik ke samping hingga membuat senyuman manis.

~ ~ ~

Even if I don’t tell you for a long time

How is it that you know all of my feelings?

I’m sorry for only leaning on you

I reach my hand out, now I’ll hold you

Can you understand these feelings of mine?

~ ~ ~

Aku tidak benar-benar mencintainya. Semua ini bermula dari orang tua kami yang berusaha menjodohkan kami. Zaman semoderen ini masih saja ada istilah ‘perjodohan’? Itulah orang tuaku.

***

Tidak tahu sudah berapa kali aku menengok jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Namun, Jinki belum datang juga. Wajarkah jika aku tiba-tiba memutuskannya dengan alasan karena dia selalu terlambat? Baiklah, itu sangat konyol.

CREATOR POV

Setelah 1 jam berlalu, akhirnya orang yang Hye Rin tunggu datang.

“Hye Rin-ah! Maafkan aku, aku terlamabat lagi. Padahal aku sudah mencoba setepat mungkin, banyak bahan mata kuliahyang harus aku pelajari dan membuat……………” Hye Rin menutup bibir Jinki dengan satu jarinya.

“Aku mencoba menjelaskan pada dosenku tapi……………..” Hye Rin menekan jarinya lebih dalam ke bibir Jinki.

“Jangan sampai kelima jariku ini membungkam mulutmu.” Hye Rin berdecak kecewa.

“Bagaimana jika aku mentraktirku minum kopi sebagai tanda permintaan maafku?” Jinki menawarkan kepada Hye Rin.

Hye Rin hanya mengangguk tanda setuju. Jinki menarik tangan Hye Rin. Kini jari-jari mereka saling terpaut satu sama lain.

Jantung Hye Rin tiba-tiba berdegup lebih cepat. Ia teringat akan Jonghyun, kekasihnya yang benar-benar ia cintai. Namun, kini berbeda. Yang disampingnya adalah Jinki, bukan Jonghyun. Tapi, kenapa bisa jantungnya sangat tidak tenang saat berada di dekat Jinki?

Hye Rin mencoba menarik nafas panjang, mencoba merilekskan kembali rasa gugupnya.

~ ~ ~

Dag Dig Dug…..My heart kept thumping

So I couldn’t fall asleep at night

I guess I’m a fool

A fool that knows you, only you

Yes, as I look at you

~ ~ ~

Setiba di A-YO Caffe

“Jinki-ah…” ucap Hye Rin lirih.

“Nde?” jawab Jinki.

Tangan Jinki terlihat menggigil, giginya saling mengetuk-ngetuk satu sama lain, menandakan bahwa ia sangat kedinginan. Kini, pandangan Hye Rin hanya tertuju pada Jinki yang tengah menggigil. Hye Rin merasa iba setelah melihat Jinki yang kini sudah berubah menjadi ‘es batu’.

“Apa kau kedinginan?” Tanya Hye Rin penasaran.

“Emmm…. anio,” Jinki mencoba menutupi rasa dinginnya dengan tersenyum lebar ke arah Hye Rin. Walaupun sebenarnya Hye Rin sudah tahu.

Hye Rin bangkit dari kursinya dan mengalungkan syalnya ke leher Jinki. Sekejap, Jinki kaget dan tersentuh. Sejujurnya, dia merasa sungkan dengan perlakuan Hye Rin. Kenapa Hye Rin menjadi lebih perhatian padanya?

“Jangan salah paham. Aku hanya tidak nyaman dengan pemandangan orang kedinginan sepertimu, itu sangat mengganggu,” kata Hye Rin dingin.

Jinki tersenyum kecil lalu berkata, “Gomawo, Hye Rin.”

Jantung Hye Rin kembali berdetak tak beraturan setelah melihat senyum Jinki, ia merasa gugup dan memilih membalas senyum Jinki untuk menutupi rasa gugupnya.

***

HYE RIN POV

Banyak waktu yang kuhabiskan bersama Jinki. Kami pun menjadi semakin dekat dan tidak terasa hubungan kami menginjak 5 bulan. Aku juga baru saja menyadarinya.

Walaupun sepertinya benih-benih cinta mulai tumbuh di diriku namun, aku masih belum bisa mengakuinya. Terkadang aku masih sering teringat dengan Jonghyun, dia memang jauh berbeda dengan Jinki. Sikapnya terhadap wanita bisa dibilang ‘number 1’. Bahkan lebih perhatian, sampai-sampai aku belum bisa melupakannya hingga detik ini juga.

Namun, aku mulai merasa yakin bahwa Jinki bisa menjagaku, ya sedikit yakin….

~ ~ ~

I can’t forget all the memories of you and me

Whilst we were together

You’re right next to me

All the times we spent in happiness

And now, she speaks to me too nonchalantly of our past stories

Please I’m telling you, I can’t forget

~ ~ ~

Tik Tok Tik Tok…

Jarum jam menunjukkan jam 14.00 KST. Itu berarti Jinki sebentar lagi akan menyelesaikan kelasnya dan segera pulang. Aku berinisiatif menghampiri ke kelasnya. Namun, belum sampai di depan kelas, aku melihat sebuah pemandangan tidak enak.

Kini seorang wanita dengan mesra menggandeng tangan Jinki. Melihat itu hatiku terasa dihujani beribu jarum, bagaimana mungkin namja-ku bisa bermesraan dengan orang lain sedangakan dengan aku satu kali pun belum pernah.

Tak lama berselang, Jinki dan wanita itu menghampiriku.

“Hye Rin-ah! perkenalkan ini hoobae baruku kekeke. Kali ini dia berkerjasama denganku untuk tugas akhir minggu ini,” Jinki menjelaskan panjang lebar tentang wanita itu.

“Annyeong, unnie! Go Cha Rim imnida, manna sul bangapta,” wanita itu memperkenalkan diri.

Tidak tau kenapa aku merasa iri dengan wanita ini. Hash… lupakan! Ingat Kim Hye Rin, dia hanya partner namja-mu! Yeojachingu-nya yang sebenarnya adalah kau seorang!

~ ~ ~

I wonder if your heart hurt like me

Alright, now I know

The reason why I always feel empty and hated you at times

Because I loved you

I can’t hide it anymore, gonna tell you that

~ ~ ~

Butiran hujan membasahiku yang sedang mencoba berteduh di halte dimana aku dan Jinki selalu berteduh bersama. Namun, sayang Jinki tak ada disini. Dia jadi semakin jarang bertemu denganku dengan alasan banyak tugas yang harus ia kerjakan. Sungguh malang kalau dipikir-pikir nasibku ini.

Tak jauh dari halte, aku menangkap pemandangan yang mencurigakan. Aku seperti melihat Jinki dan……. Cha Rim? Mencoba memfokuskan pandanganku diantara butiran hujan, dan ternyata itu memang Jinki dan Cha Rim yang sedang pulang bersama.

Apa-apaan ini? Bukankah aku yeojachingu-nya? Mana mungkin Jinki memperlakukanku seperti ini. Seharusnya yang berada di sampingnya itu aku! Perlahan kulangkahkan kaki menembus derasnya hujan. Kugunakan tas pingganggku sepagai payung.

Kini air mataku menyatu dengan butiran hujan.  Hatiku lebih mendung dari awan di atas. Angin berhembus simpang siur, seperti hatiku kini yang mulai bimbang, aku mulai berpikir untuk lebih baik mengakhiri hubungan ini dan memilih kembali kepada Jonghyun yang jelas-jelas mencintaiku daripada harus tersakiti secara perlahan seperti ini.

Tiba-tiba sebuah mobil hitam metalic berhenti di sampingku. Keluar soksok pria yang sepertinya aku kenal dari mobil itu sembari membuka payung dan menghampiriku.

Ya, itu Jonghyun, cinta sejatiku.

“Hye Rin-ah, masuklah ke mobil. Hujannya semakin deras, nanti kau sakit!” teriak Jonghyun diselingi suara halilintar yang menggelegar.

Dengan baju yang basah kuyup aku masuk ke mobil Jonghyun.

“Bagaimana bisa kau pulang sendirian. Mana Namjachingu-mu?” tanya Jonghyun kepadaku. Raut wajahnya terlihat kecewa dan gelisah.

“Emmm… sepertinya dia…. dia baru sibuk dengan tugasnya,” jawabku terbata.

“Sebelum kuantar pulang, aku ingin mengajakmu minum teh di kedai yang sering kita kunjungi dulu. Bagaimana?”

“Geurea!!!” aku menjawablantang.

~ ~ ~

I hate you and I love you, my heart keeps changing

I love you and I hate you, the clock hand goes back and forth

Isn’t love and hate the same thing anyway?

Dear my boy, I have a question for you, give me an answer

We’re in love or we’re in a cat-and-dog fight

I don’t like that ambiguous answer

~ ~ ~

Kami mulai bercengkrama satu sama lain. Mengenang masa-masa kita dulu. Sepertinya waktu berjalan begitu cepat. Disambi minum secangkir teh jasmine kami menghabiskan waktu. Sampai tiba waktunya kami berpisah pun, rasanya amat berat.

Jonghyun memang berbeda dari Jinki yang cuek dan sama sekali tidak menarik. Sepertinya aku harus merubah pikiranku untuk bersama dengan Jinki. Dan kembali ke sisi Jonghyun, orang yang sesungguhnya aku cintai.

***

CREATOR POV

Hye Rin menyandarkan tubuhnya pada dinding kamar lalu duduk dengan posisi meluruskan kakinya. Sesekali memutar-mutar ponselnya yang sedari tadi belum ada pesan masuk. Sebenarnya, dia hanya menunggu pesan dari Jinki yang sedari kemarin tidak menghubunginya.

“Setidaknya, beri penjelasan agar aku tidak salah paham,” gumamnya.

Tak lama kemudian, sebuah pesan dengan nomor yang tidak terdaftar di kontaknya masuk. Dengan beribu tanda tanya, Hye Rin bergegas membuka pesan tersebut.

“Aku harap kau bisa lebih menjaga jarak dengan Jinki karena dia sebentar lagi akan menjadi milikku! –Go Cha Rim-“

Kini tanda tanya di kepalanya semakin besar. Ternyata memang benar Cha Rim mencintai Jinki, sudah bisa ditebak.

“Huft…. dunia ini begitu dramatis setelah kau mengenal cinta. Jatuh cinta dan penghianatan, mereka selalu berdampingan. Baiklah, karena aku memang sama sekali tidak mencinta Jinki, ambilah!,” dengan nada tak beraturan Hye Rin hanya berkomat-kamit, mengikuti kata hatinya sekarang.

Belum sempat reda amarahnya, sebuah pesan dari Jinki masuk di ponselnya,

“Chagi-ah, gwaenchana-yo? Maaf, kali ini aku banyak seminar di kampus. Aku jadi kehabisan waktu denganmu L”

“BABO! Masih bisa ia memasang emotion sedih?” Hye Rin kembali mengomel, “Hah? Apa dia bilang? Seminar? Mungkin kata ‘seminar’ dan ‘ pendekatan’ itu mempunyai arti yang sama. Aku harus mencetaknya di kamus bahasa korea, YA!”

“Jangan panggil aku ‘chagi’!” sent to Jinki.

***

Hye Rin membuka mata pelan-pelan, sesekali ia menyibakkan rambut panjangnya yang menutupi pandangan.

“Oh… sudah pagi rupanya,” kata Hye Rin sembari merenggangkan otot-ototnya kembali. Hari ini, dia benar-banar tidak semangat. Berjalan lesu ke kamar mandi, mengambil sarapan, dan bergegas berangkat ke halte biasanya.

Belum sampai keluar dari pagar rumahnya, Hye Rin terkejut dengan keberadaan Jonghyun.

“Hye Rin-ssi, maukah kau berangkat denganku? anggap saja sebuah friend service kekeke. Kajja!,” Jonghyun terkekeh malu-malu, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Baiklah,” Hye Rin segera masuk ke mobil Jonghyun.

Semua mahasiswa melihat Hye Rin dengan wajah menganga. Mereka berpikir bagaimana bisa Hye Rin mendapatkan hati Jonghyun kembali, mungkin lebih tepatnya mereka iri.

Jinki yang tidak sengaja juga menyaksikan momen itu lalu menghampiri Hye Rin dan Jonghyun yang baru keluar dari mobil.

“Apa yang kau lakukan dengan yeojachingu-ku?” Jinki tersulut emosi dan menarik kerah Jonghyun.

“Jadi Hye Rin yeojachingu-mu? Jangan terlalu emosi,” Jonghyun melepaskan tangan Jinki secara paksa.

“Jangan pernah dekati dia lagi! Apa kau tuli? DIA YEOJA-KU!” Jinki memperjelas kalimat terakhir lalu menarik Hye Rin pergi.

“Lepaskan!” suara Hye Rin parau, kini dia menangis.

“Hye Rin-ah, aku mohon jangan bermain di belakangku. Aku sangat mencintamu,” kata Jinki lirih.

“Siapa yang sebenarnya bermain di belakang? Aku apa dirimu!” kini nada bicara Hye Rin tak beraturan.

“Maksudmu?”

“Kau….. dengan Cha Rim! iya kan?!”

“Hye Rin, dia hanya partner-ku, tidal lebih! Lagi pula dia masih punya hubungan saudara denganku walaupun jauh,” Jinki mencoba menjelaskan namun, sepertinya tidak membuat Hye Rin paham.

Hye Rin berlari sekuat tenaga, walaupun ia tahu bahwa Jinki mulai mengejarnya.

Jinki menyerah, ia paham Hye Rin memang butuh waktu untuk merenungkan semua ini, dan dia berharap Hye Rin mengerti dan segera memaafkannya.

~ ~ ~

As much as you shed tears,

I’ll treat you better baby

The pain you handle by yourself, will you share some of them to me baby?

Please look at me, why don’t you know that your love is me?

Why are you the only one who doesn’t know?

~ ~ ~

***

Jinki membereskan rak-rak buku di ruang tamunya, sesekali mengusap-usapkan jarinya pada bagian yang berdebu untuk memperkirakan seberapa tebal debu itu. Terdengar derap langkah seseorang yang tiba-tiba masuk ke rumahnya dan memeluknya dari belakang.

“Jinki oppa, Saranghae,” suara ini, tidak salah lagi.

“Apa yang kau lakukan?!” Jinki terkejut.

“Cha Rin! Maafkan aku! Aku tidak mencintaimu,” Jinki membalikkan badan dan melepas pelukan Cha Rim.

“Waeyo?” ucap Cha Rin kecewa.

“Bukankah kau tahu aku sudah memiliki yeojachingu? Aku mencintainya!”

“Nugu-ya?”

Jinki tidak membalas pertanyaan Cha Rim, ia malah pergi meninggalkannya. Tak mempedulikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Di pikirannya hanya Hye Rin, Hye Rin, dan Hye Rin.

***

Di belakang kampus, Hye Rin mencoba menyendiri dan melahap makan siang yang ia bawa dari rumah. Seberapa lezat makan itu tak terasa di lidah Hye Rin. Pikirannya hanya pada Jinki dan Jinki. Ia rasanya ingin menampik rasa cintanya pada Jinki sebelum ia jatuh lebih dalam.

Namun, sepertinya rasa cinta itu sudah bersarang di hati Hye Rin dan menggerogoti otaknya. Sehingga hatinya menjadi bimbang.

Seorang pria menghampiri Hye Rin dari kejauhan. Sepertinya ia mengenal orang ini. Ia mencoba mendongakkan kepalanya dan mengerutkan keningnya.

“Annyeong, Chagi!” sapa Jinki dengan senyum yang selalu menggetarkan hati Hye Rin.

Hye Rin tidak menjawab. Malah memalingkan mukanya.

“Mau kubantu menghabiskannya? Hmmm…. masida!” Jinki mencoba mencairkan suasana, namun tak berhasil.

“Jinki-ah, mari kita akhiri. Aku tidak benar-benar mencintaimu,” terlihat dari raut wajah Hye Rin ia sangat sedih.

Jinki memandang Hye Rin dengan pandangan tidak bicara. Mengganggap perkataan Hye Rin hanya sebuah candaan.

“Jjinja? Jeongmal? Kau pasti bercanda kan, Hye Rin?”

“Aku yakin 100%! Aku sama sekali tidak memiliki perasaan kepadamu!” Hye Rin merasa telah membohongi dirinya. Tidak percaya akan kenyataan yang terjadi.

Tak peduli dengan jawaban atau reaksi Jinki, Hye Rin pergi begitu saja meninggalkan Jinki yang masih belum bisa menerima kenyataan atas keputusan sepihak yang dilankukan Hye Rin.

~ ~ ~

My heart grows faint at the thought of you

I just let out sighs and randomly laugh and cry

It hurts because of you

Because it’s all you, because it’s you that I miss, I love you

It hurts so much, it’s so hard but because it’s you, I’m okay

~ ~ ~

Merasa langkahnya sudah cukup jauh dari Lee Jinki, Hye Rin menghentikan langkahnya, membiarkan butiran kristal yang sedari tadi ia tahan membuat aliran sungai kecil di pipinya.

Tidak jauh dari tempat ia berdiri, dilihatnya Jonghyun sedang bersama seorang wanita. Mingkin tidak pantas wanita itu disebut teman karena skinship mereka terlihat tak tangggung-tanggung.

“Chagi, aku akan segera kembali. Tunggu disini ya.”

HYE RIN POV

Tunggu, chagi? apa aku tidak salah dengar? Jadi dia yeojachingu-nya? Ah… kesakitan macam apalagi ini, datang membawa luka dan pergi meninggalkan bekas luka yang dalam.

“Juhgiyo, apa kau melihatku?” wanita itu menyapaku dengan ramah dan menghampiriku. Ternyata dia menyadari keberadaanku.

“Omona… kau menangis?” wanita tersebut semakin terkejut yang melihatku menangis tanpa sebab.

” museun irisseo? hya, Hye Rin-ah? kau……” Jonghyun yang baru saja kembali datang menghampiriku.

“Anio, hanya kemasukan debu. Ahh… sakit sekali mataku,” ku coba memaksakan senyumku.

CREATOR POV

“Boleh aku bantu meniupnya? Aku yakin itu menyiksa kekekek,” Jonghyun kembali terkekeh dan diikuti dengan tawa ringan wanita di sampingnya.

“Oh ya, perkenalkan dia….. yeojachingu-ku hehehe,” Jonghyun menyambung kalimat sebelumnya.

“Kim Ha Neul imnida,” wanita itu memperkenalkan diri pada Hye Rin dengan ramah.

“Waahh… yeppudda!” jawab Hye Rin.

“Dimana Jinki?” seketika Hye Rin seperti ditusuk setelah mendengar pertanyaan Jonghyun.

Hye Rin kemudian pergi tanpa menjawab pertanyaan Jonghyun.

“Sampai berjumpa lagi!” hanya kata itu yang terucap di bibir Hye Rin.

“Apakah aku wanita yang bodoh?” gumam Hye Rin dalam hati setelah beranjak jauh dari Jonghyun dan Ha Neul.

***

Hye Rin berjalan tanpa tenaga menyusuri setiap ruang di rumahnya. Mencari sebuah aktivitas untuk mengisi kekosongan harinya. Mungkin itu hanya sebuah kamuflase dari niat sebenarnya yang perlahan ingin melupakan Jinki, sekaligus Jonghyun.

Berkali-kali menghela napas, melihat ternyata semua keluarganya sedang asyik menggeluti kegiatan masing-masing.

Ting Tong ~

Bel rumah berbunyi, Hye Rin lega akhirnya ia mempunyai kegiatan baru yaitu membukakan pintu rumahnya dan mengetahui siapa orang di balik pintu itu. Sembari berlari kecil menuju pintu utama dan cepat-cepat membuka pintu.

Tapi, setelah membuka pintu tersebut ternyata tida ada seorang pun bediri disana. Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri, mencari siapa gerangan yang membunyikan bel rumahnya.

Rasa penasarannya pun hilang setelah melihat payung merah yang tergeletak di atas keset depan rumahnya. Tertempel sebuah kertas di gagang payung tersebut.

Tidak ingin rasa penasarannya semakin menggebu-gebu, diambilnya payung itu dan dibawanya ke kamar.

Sembari duduk di pinggir kasurnya, Hye Rin perlahan membaca kertas tersebut.

” LEE JINKI?” ia bertanya-tanya apa yang ingin dikatakan Jinki kepadanya lewat payung ini. Hye Rin melanjutkan membaca kertas memo itu.

Dear, Kim Hye Rin

Jadikan payung itu pelindungmu karena aku tidak bisa lagi melindungimu. Terimakasih telah membuat banyak memori bahagia di otakku, aku akan mengingatnya ^^

“Aku memang salah menilai Jinki,” kini hanya tinggal penyesalan yang ada di diri Hye Rin. Ingin rasanya ia mengucapkan beribu maaf pada Jinki. Namun, sepertinya Jinki sudah tidak mau bertemu dengannya.

“Kisah cintaku berakhir sebelum aku memulainya dengan baik,” gumam Hye Rin diiringi air mata penyesalan.

~ ~ ~

I sing because my heart hurts

I only sing sad songs

I sing because I can’t forget you

Our love is over but

Good bye my love

With a sad song like this,

I keep calling out your name

~ ~ ~

One year later…

 

HYE RIN POV

Ku langkahkan kaki di tengah gerimis hujan, tak lupa kugunakan payung merah itu untuk melindungiku dari titik-titik hujan yang mulai membasahiku.

“Ahhh….. welcome to seoul! Setelah sekian lama tidak bertemu denganmu, hujan! Kita bertemu lagi!!!” Aku memang baru saja pulang dari Jeju untuk melanjutkan kuliahku disana, setidaknya ingin berganti suasana.

Langkahku terhenti di sebuah halte bus, halte yang menyisakan banyak kenanganku dengan Jinki. Kini halte tersebut terlihat kusam, sepertinya tidak ada bus yang berhenti disini.

Aku duduk disalah satu bangku, menutup payungku dan menikmati aroma hujan yang sangat kurindukan. Diriku seakan kembali ke masa lalu yang kumiliki bersama Jinki.

Sangat sayang jika dilupakan. Sesekali aku tersenyum, mengingat kebodohan Jinki yang selalu terlambat hehehe..

“Hye Rin-ssi!” tanpa sengaja ku dengar sebuah suara yang tidak asing bagiku.

“Seperti suara Lee Jinki,” gumamku.

“Hye Rin-ssi!” kini suara itu terdengar nyata. Mungkin ini efek dari lamunanku.

“Kim Hye Rin!” aku tersadar setelah sumber suara itu tepat di sampingku.

“Jinki-ah?” aku masih tidak percaya bahwa namja di depanku benar-benar Lee Jinki.

“Bagaimana kabarmu?” dia mulai menyapa dan mendekatiku.

“Gwanchana, kau?”

“nado hehehe” kembali ia mengeluarkan senyum mautnya, hatiku mulai tergoyah.

“Hye Rin-ah?” ia kembali memanggilku.

“Nde?”

“Apa payung itu sudah menjalankan tugasnya? Menggantikanku untuk selalu melindungimu,” Jinki menatapku nanar.

“Geureaso! Bahkan dia menjagaku saat aku tidur kekekek,” aku mencoba mencairkan pembicaraan.

“Hehehe, baguslah kalau begitu. Lalu apakah aku boleh mengemban itu sekarang sebagai tugasku?”

“Maksudmu?” aku mulai bingung dengan alur pembicaraan Jinki.

“Emm… apa aku boleh menjagamu sekarang? sebagai namjachingu-mu,” matanya menatapku penuh harap.

“Amat sangat boleh. Silahkan tuan Jinki, kau boleh menjaga nona Hye Rin dengan syarat kau tidak boleh datang terlambat lagi hehehe,” sontak aku dan Jinki tertawa bersama.

Jinki menarikku lebih dekat. Mendekatkan wajahnya dan sedikit demi sedikit menghapus jarak diantara kami berdua dan……

chu~

“Ini sebagai tanda kau menjadi milikku lagi hehehe,” Jinki tersipu malu setelah berhasil mendaratkan ciumannya ke bibirku.

“JINKI-AH!!!”

END

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

27 thoughts on “My Real Namja”

  1. Untung Hyerin pny ksmptn kdua bwt balik lg k Jinki,
    udah ad Jinki malah pngn Jjong, Jjong dah pny pcr, eh hyerin malah ninggalin Jinki, sakit kan.. *cubit hyerin

    tapi syukurlah berakhir happy and sweet~
    ditunggu karya lainnya ^^

  2. bang jinki ini clumsy atau apa sih? kkk~ aku selalu suka kalo dia dapet peran unik gini, jadi berasa jinki banget 😆
    nice ff author-nim, keep writing yawww~~ ^^b

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s