Love Me – Part 11

LOVE ME 11

 

Author : *Azmi

Main cast :

  • Kim Jonghyun
  • Choi Yumi

Other cast :

  • Lee Taemin
  • Shin Sekyung
  • Shim Min Ah
  • Choi Siwon
  • Choi Minho
  • Choi Minhwan (FT Island)
  • Lee Hongki (FT Island)

Length : Squel

Genre : Sad, romance, married life, Friendship

Rating : PG 15

NP : Semoga masih ada yang inget yee sama nie Fic~ *Shinee is Back*

STORY

Jonghyun merasakan pundaknya disentuh seseorang. Ia mendongak dan melihat Taemin berdiri di sampingnya-tersenyum kecil. Sebenarnya Jonghyun sedang tak ingin membahas apa pun dengan pria yang kini sudah duduk di sampingnya itu. Ia sudah tak memiliki tenaga yang tersisa.

Jonghyun kembali melihat ke depan, menatap gundukan tanah yang masih basah. Ia tak menyangka wanita itu akan pergi secepat ini.

“Jonghyun Hyung…” gumam Taemin lirih, “Sebenarnya… aku sudah memutuskan untuk sepenuhnya merelakan Yumi ketika aku tahu bahwa ia sudah memberikan segalanya padamu. Tapi hari ini kau membuatku kembali ragu…”

Jonghyun menoleh, menatap Taemin tak mengerti. Sementara Taemin hanya melemparkan senyum kecilnya. Ada perasaan sesak ketika Taemin memutuskan untuk menemui Jonghyun di tempat yang sedikit tak pantas seperti ini.

“Aku tak pernah tahu sebetas apa Yumi mencintaimu, apakah lebih besar dari cintaku padanya? Aku juga tak tahu seberapa dalam kedudukanmu di hatinya, apakah lebih dalam dari kedudukannya di hatiku? Tapi aku yakin aku mencintainya lebih dari yang bisa kau bayangkan….

“Kami tumbuh besar bersama, menghabiskan waktu kecil bersama. Melakukan hal-hal yang menyenangkan dan menangis bersama ketika apa yang kami inginkan tak dipenuhi orang tua kami. Bahkan kami pernah berjanji akan menjadi sepasang pengantin saat sudah dewasa seperti saat ini-walau mungkin ia sudah melupakannya…. aku tak tahu mengapa aku hanya bisa melihat dia seorang, padahal banyak wanita cantik yang terang-terangan menyukaiku. Mungkin karena hanya wajahnya saja yang familiar di mataku.”

“Apa maksudmu mengatakan ini Taemin-ssi? Kalau kau hanya ingin meminta Yumi dariku, sebaiknya kau pulang saja karena aku tak akan melakukan itu!” potong Jonghyun.

Taemin menghiraukan protes Jonghyun, “Dulu kau juga merasakan hal yang sama kan pada dia?” Taemin menunjuk makam di depannya dengan sudut matanya. “Kau juga pasti pernah mencintai wanita itu seperti yang kurasakan…. walau mungkin sekarang sudah tak sama lagi…”

“Jangan membawa-bawa namanya!”

“Kau mencintai Yumi?”

DEG

Jonghyun terdiam. Bahkan pertanyaan sederhana Taemin begitu menusuk hatinya. Ia ingin sekali berteriak pada dunia bahwa ia mencintai wanita itu. Tapi kenyataannya, ia selalu menyakiti wanita itu. Masih pantaskah ia mengucapkan kata sakral itu?

“Oh~ Arraseo…” Taemin tersenyum tipis, “Igeo!” ia mengulurkan sebuah amlop coklat pada Jonghyun, “Kau membunuhnya bahkan sebelum ia benar-benar terbentuk dengan sempurna. Semoga kau tak merasakan sakitnya penyesalan yang mendalam Hyung.”

“Apa maksudmu?”

“Tak ada, hanya saja aku ingin kau sadar. Yumi sudah terlalu banyak berkorban untukmu. Kau tahu, ia sudah banyak berubah semenjak bertemu denganmu. Ia bukan lagi wanita periang seperti dulu, aku sangat merindukan ia yang seperti itu…

“Hyung kumohon setelah ini, kau setulus hati mau membahagiakannya-kalau pun ia memaafkanmu. Tapi aku berani bertaruh ia akan bersedia menerimamu lagi meskipun apa yang sudah kau lakukan selama ini padanya. Bahagiakan dia Hyung….”

****

Jonghyun berlari sekencang yang ia bisa. Peluh yang membasahi setiap lekuk kulitnya tak ia hiraukan. Mengendarai mobil hanya dalam waktu 15 menit dari pemakaman merupakan rekor tercepat semenjak ia bisa mengemudi mengingat jarak rumah sakit yang tak bisa dibilang dekat.

Jonghyun menabrak beberapa suster hingga ia berhenti di sebuah meja resepsionis. Nafasnya memburu dengan mata yang sudah memerah karena menahan air mata. Jonghyun tak pernah membayangkan hal ini terjadi. Ia berani bersumpah tiga hari yang lalu ketika ia meninggalkan Yumi di apartement, wanita itu masih baik-baik saja. Hingga membuat Jonghyun melupakan kenyataan bahwa ia tengah mengurung wanita itu demi menemani Sekyung yang tengah berjuang melawan maut, walau pada akhirnya ia pun harus menyerah pada takdir.

“Kim Yumi! Di kamar berapa?” teriak Jonghyun kalap, “Ya!! Kau tak mendengarku?! Dia di kamar sebelah mana?!” Jonghyun kembali berteriak bahkan sebelum suster itu membuka mulutnya untuk menjawab. Jonghyun sendiri tak bisa menjelaskan keadaannya saat ini.

Benar apa yang dikatakan Taemin. Ia tak menjamin ia akan terhindar dari sakitnya penyesalan yang begitu mendalam, karena secara tak langsung ia yang telah menyebabkan Yumi keguguran. Jonghyun tak bisa membayangkan bagaimana reaksi istrinya ketika bertemu dengannya mengingat kemarin saja ia sudah meminta untuk bercerai. Jonghyun tak bisa, ia tak bisa berpisah dari wanita itu.

“Kumohon beritahu aku dimana dia….” Jonghyun sudah tak mampu membendung airmatanya.

“Sabar Tuan, kami sedang mencari datanya!” seseorang di balik sebuah komputer ikut panik, terlihat dari tangannya yang bergerak lincah diatas Mouse. “Dikamar 305 lantai 2 Tuan…”

Tak lagi menghiraukan suster tersebut, Jonghyun langsung berbalik dan berlari menuju tempat itu.

Sekarang Jonghyun sudah berada tepat di depan pintu bernomor 305. Ia menarik nafas sebelum memutuskan untuk membuka pintu. Apa pun yang terjadi Jonghyun akan menerimanya.

Jonghyun tak melihat Yumi di kamar itu ketika ia membuka pintunya, melainkan Ibunya yang kini tengah menangis tersedu di ujung sofa. Sendirian, tak ada siapa pun. Lalu kemana Yumi? Demi apa pun Jonghyun ingin melihat wanita itu, memastikan keadaannya baik-baik saja.

“Eo..Eomma…” wanita paruh baya itu mengangkat wajahnya hingga Jonghyun dapat melihat dengan jelas mata yang sudah bengkak itu. Baru kali ini Jonghyun melihat ibunya menangis sampai seperti itu.

PLAKK

Dengan gerakan yang cepat tangan itu melayang tepat di pipi kiri Jonghyun bahkan sebelum Jonghyun menyadari wanita itu bangkit dari duduknya.

“Kau membuatku kecewa Kim Jonghyun!!”

****

Angin sore membelai pipi Yumi yang merona, menerbangkan beberapa helai rambutnya yang tak terikat. Sambil mengunyah permen kapas yang diberiakan Min Ah, Yumi memandang hamparan taman rumah sakit dengan sendu. Ia melihat beberapa anak berlarian di sana. Mungkin sedang menghabiskan waktu sore mereka agar tak bosan selalu berada di dalam kamar penuh bau obat.

Yumi ikut tersenyum ketika melihat seorang anak kecil masih dengan selang infus yang menghiasi pergelangan tangannya dengan semangat menendang bola plastik di depannya. Membuat suster yang menjaganya memekik khawatir.

Tiba-tiba sebuah bola melayang hingga jatuh di pangkuannya. Yumi yang kaget hanya bisa mengerjab ketika anak yang membuatnya terkikik tadi berjalan menghampirinya dengan pandangan khawatir.

“Nuna, kau tak apa?” Tanya anak itu.

Yumi tersenyum sembari memberikan bola yang mendarat di pankuannya kepada anak itu, “Gwaenchanayeo…”

“Lee Hongki imnida…” anak itu mengulurkan tangannya, “Mau bermain denganku Nuna cantik?”

Mata Yumi membulat melihat lirikan menggoda anak kecil di depannya. Hal itu mengingatkannya pada Minho dan Minhwan. Mengenai kedua bocah itu, kemana Min Ah membawanya. Ini sudah lebih dari 15 menit tapi mereka belum kembali dari mengantarkan Minhwan ke kamar kecil.

“Nuna, kenapa melamun? Terpesona denganku ya? Oh ya, nama Nuna siapa?”

Yumi kembali mengerjab, ternyata bocah ini lebih parah dari pada Minho atau pun Minhwan.

“Anio… Yumi Imnida…”

“Nama yang cantik,,, Kajja kita main!” belum sempat Yumi menjawab, bocah itu sudah menarik tangannya hingga ia bangkit dari kursi rodanya. Yumi sedikit memekik merasakan nyeri di perutnya. Tapi hanya sesaat karena ia kembali tersenyum mengikuti langkah Hongki.

****

Minhwan berjalan di depan dengan langkah kecil-kecilnya yang rapat, sedangkan Minho mengikutinya dari belakang. Bocah kecil itu terlalu sibuk dengan ice cream di tangannya hingga sedikit-sedikit ia kehilangan keseimbanganya ketika tak sengaja tersandung kakinya sendiri. Sedari tadi Minho sudah mengomel kesal. Ia merutuk mengapa bisa memiliki adik yang sungguh menyebalkan, hingga membuatnya ingin melempar bocah itu ke ujung dunia.

“Minho-ya berhenti mengomel, kau bisa cepat tua nanti. Biarkan saja Minhwan, ia tak akan terluka, jangan terlalu mencemaskannya!” ujar Min Ah sembari mendorong kursi roda Yumi di belakang dua bocah itu, ia terkikik dengan godaannya sendiri.

“Benal Hyeong, kau tak pellu mencemaskanku. Aku sudah besal!” sahut Minhwan polos.

“Yaa!! Siapa yang sedang mencemaskan bocah gembul seperti mu? Aku hanya tidak mau kau melukai orang lain dengan cara berjalanmu yang serampangan itu, bocah!” kesal Minho.

“Ya!! Siapa yang kau panggil bocah?” Minhwan ikut tersulut, “Aku diam saja mendengal mulut celewetmu bukan belalti kau bisa seenaknya padaku Hyeong. Sudah cukup kesabalanku untukmu, kodok bulik! akan kulapolkan kau pada Eomma!”

“Aishh jinja!! Sekali bocah tetap saja bocah, adukan saja pada Eomma aku tak takut sama sekali! Dan setelah itu akan kubakar semua set drummu di rumah, kupastikan tak ada yang tersisa satu pun.” Minho melotot membuat matanya semakin terlihat bulat berbeda dengan Minhwan yang sekalipun berusaha keras mata itu tak akan pernah bisa terbuka seperti milik Minho, dan Minhwan sangat benci hal itu. “Masih cadel saja sok…” gerutu Minho kecil.

“Sudah jangan bertengkar terus, kalian mau suster Yoon menyuntik kalian?” Yumi angkat bicara, melerai kakak beradik itu yang tak pernah bisa akur.

“Ya Nuna!!” teriak Minhwan beberengan dengan Minho “Ya Yumi!!”

“Hahaha~ begitu lebih baik. Kompak!!” Kikik Yumi mengacungkan kedua jempolnya. “Kajja Mi-ah!”

Min Ah baru akan mendorong kembali kursi roda Yumi ketika dilihatnya Jonghyun berdiri di depan pintu kamar sahabatnya. Demi apa pun, Min Ah bisa melihat gurat kesedihan di mata Jonghyun. Ia memang tak begitu akrab dengan pria itu, tapi setidaknya ia mengenal dengan baik suami sahabatnya.

Yumi menyadari hal itu, dan seketika tawa yang sempat menghiasi wajahnya lenyap. Ia menatap kosong pria tak jauh di depannya.

****

Aku bukan hanya gagal menjadi seorang istri, aku juga sudah gagal menjadi seorang ibu. Betapa pun dosa yang kulakukan di kehidupanku yang dulu, tak seharusnya semua ini menimpaku. Aku merasa ini sudah terlalu berat untuk aku lalui sendiri.

Seandainya masih ada celah sekecil apa pun untukku berharap pada kebahagian, aku akan mempertaruhkan apa pun untuk itu. Untuk bersama dengan Jonghyun. Tapi nyatanya semakin aku berusaha untuk mempertahankannya maka akan membuatku semakin sakit. Ini lebih seperti aku menyiksa diriku sendiri, jadi akan lebih mudah jika aku menyerah saja.

Aku tak tahu bahwa kenyataan cinta begitu rumit. Aku ingin meraih cintaku, namun di sisi lain hal itu menjadi sesuatu yang sangat jauh. Kakiku serasa tak sanggup untuk melangkah ke tempat itu dan menggapainya.

Mungkin aku memang harus mengakhiri perjalananku di tempat ini, dan menunggu kebahagiaan yang lain menghampiri. Tak ada salahnya mencoba yang baru, toh pada akhirnya bersama atau pun tidak, Jonghyun Oppa masih akan tetap menjadi Jonghyun Oppa yang bahagia.

Jonghyun Oppa masih menitihkan airmatanya di depanku. Sebenarnya aku merasakan betapa sakitnya melihat hal itu. Ini kali pertama ia menitihkan airmatanya untukku.

Tapi semuanya sudah berakhir, tak ada yang bisa diperbaiki. Meskipun ia menangis sepanjang hidupnya, malaikatku tak akan kembali hidup. Dia membunuhnya, dia membunuh anakku.

“Aku tak tahu, apa aku pantas mengatakan ini, tapi aku benar-benar minta maaf padamu Mi-ya.”

“Maaf tak akan mengembalikannya Oppa, simpan saja air matamu. Percuma kau menangis. Semua sudah terjadi.”

“Mi-ya…”

“Lagi pula, aku sudah merelakannya. Mungkin karena Oppa tak mencintaiku, makanya ia juga enggan melihat ibunya…”

“Apa yang kau katakan, aku-“

“Kau tak pernah mencintaiku Oppa, jangan menyangkal apa pun.”

“Tapi aku benar-ben..”

“Sudah cukup. Semua sudah terlambat. Bahkan sampai detik dimana aku memohon agar kau mau mencintaiku, tak ada sepatah kata pun yang bisa aku dengar untuk mebuatku semarasakan sedikit saja kelegaan….

“Aku tak menuntut apa pun sekarang-tidak juga cintamu, aku hanya ingin kau melepasku, biarkan aku bernafas sedikit saja.”

Entah apa yang sedari tadi keluar dari bibirku. Aku melihatnya begitu terluka mendengarkan kata-kataku. Tapi, aku juga sudah tak sanggup untuk terus berada di dekatnya. Kalau tak seperti ini, ia tak akan mungkin melepasku. Berdusta kalau bisa mengembalikan semuanya seperti sebelum luka-luka itu ada, apa salahnya jika aku lakukan. Meskipun aku tak yakin bisa hidup jika jauh dari Jonghyun.

Aku melepaskan cincin pernikahan kami dari jari manisku. Lebih dari dua tahun benda itu tak pernah lepas, hingga membuat sebuah bekas melingkar di sana. Aku meletakkannya di meja tepat di depan Jonghyun dan kembali melipat tanganku diatas paha. Entah karena apa, jemarimu tergenggam erat hingga dapat kurasakan sedikit nyeri di telapak tanganku karena terkena kuku.

Jonghyun Oppa hanya memandangnya tanpa sedikit pun berniat mengambil cincin itu.

“Kau sudah tak membutuhkannya? Apa yang harus kulakukan agar kau mau memaafkanku Mi-ya, kita mulai semuanya dari awal, kita bangun lagi yang sudah roboh, kita pasti bisa bahagia…”

“Aku tak pernah marah padamu Oppa, jadi tak ada yang perlu dimaafkan. Sesuatu yang sudah hancur akan sangat sulit diperbaiki, dan aku sudah lelah. Bahagia atau pun tidak, aku tahu kau bisa hidup lebih baik tanpa aku. Oppa, aku mengembalikan cincin itu supaya kau tak lagi merasa bersalah padaku, aku sudah melepasmu, carilah wanita lain yang lebih baik dariku. Kau tampan, pasti banyak yang mau di luar sana…”

“Kau kira aku barang? Mencari yang lain? Cih, kau bahkan tau aku tak berniat sedikit pun untuk melakukan hal konyol itu. Kumohon Mi-ya, beri aku kesempatan sekali lagi…”

Dadaku sakit sekali. Melihatnya memohon dengan tatapan terluka seperti itu membuatku ingin memukul diriku sendiri.

“Aku tidak bisa, maafkan aku…”

“Mi-ya…”

****

“Nuna cantik, kau sudah boleh pulang? Lalu bagaimana dengan aku?” aku menghentikan tanganku yang tengah memasukkan beberapa pakaian yang kugunakan selama berada di rumah sakit ke dalam tas dan menghampiri Hongki yang tengah memasang muka merajuk di atas sofa.

Aku menggusak puncak kepalanya, “Kau tak suka Nuna sehat kembali?”

“Bukan begitu… kalau kau pulang, lalu bagaimana denganku?” ia menunduk “Aku ingin pulang bersamamu…”

Kulihat mata bulatnya mulai berair. Segera kubawa ia ke pangkuanku dan mendekapnya.

“Dengar, kau harus menyelesaikan pengobanmu Hongki-ya… kalau kau sudah sehat Nuna janji akan sering-sering bermain denganmu.”

“Dan itu akan memakan waktu yang sangat lama, bahkan bisa saja sebelum waktu itu tiba aku sudah pergi, hari mengerikan itu sudah dekat nuna…”

“Hongki-ya, apa yang kau katakan?!”

“Dokter yang bilang seperti itu pada Appa. Aku takut kalau tak ikut denganmu saat ini maka untuk selamanya aku tak akan lagi bisa melihatmu. Kau tahu nuna, bahkan aku belum pernah sekali pun melihat wajah Eomma, aku selalu membayangkan bisa bermain bersama Eomma dan tidur sambil dinyanyikan lagu ‘kata paling indah’ olehnya.”

Tanpa terasa airmataku mengalir bahkan Hongki tak sedikit pun menangis saat menceritakan hal itu padaku. Aku tahu Ibunya meninggal karena penyakit kanker otak sama seperti apa yang diderita Hongki kini. Aku tak pernah membayangkan anak seusianya akan menanggung beban penyakit seperti ini.

“Kau boleh memanggilku Eomma kalau kau mau?” aku mencoba mengubah suasana, aku tak ingin Hongki selalu teringat kenyataan menyakitkan itu. Setidaknya, sekali pun hidupnya tak bisa selama kebanyakan orang tapi aku ingin hanya ada kenangan manis yang tercipta dalam sepenggal kisah hidupnya.

“Benarkah?” matanya terlihat bercahaya ketika menatapku seperti itu. Hongki memiliki tipe mata yang bisa membuat ceria siapapun yang melihatnya. Ia anak yang aktif dan tak bisa tenang mengingat penyakit seperti apa yang tengah ia derita.

“Tentu saja…” aku tersenyum padanya.

“Eomma!” Ia mendekapku begitu erat. “Ini pertama kalinya aku memanggil seseorang dengan sebutan itu.”

“Kau boleh melakukannya sesering yang kau mau.” Aku kembali tersenyum.

“Eomma…”

“Hmm…?”

“Eomma, Eomma, Eomma…”

“Hmmmm?”

“Aku akan memaafkan Appa mulai sekarang, sekalipun ia membiarkan Ibu pergi demi menyelamatkanku, setidaknya sekarang aku sudah memiliki seseorang yang bisa aku panggil Eomma sebelum aku pergi… di surga sana pasti Ibu senang sekali, aku sudah tak sabar untuk menceritakan tentang kau padanya, Ibu pasti akan sangat berterima kasih…”

“Tapi aku berharap kau berlama-lama disini bersamaku… apa kau tega membuat Appamu kesepian?”

Hening sejenak, Hongki terlihat berpikir. Matanya yang sempat berbinar kini sedikit meredup.

“Eomma benar, Appa sudah sangat sedih dan kesepian ditinggal oleh Ibu. Akan sangat tidak adil jika aku juga ikut meninggalkannya. Berpisah dengan orang yang dicintai bukankah hal yang sangat buruk? Paman Jonghyun yang seorang pria pun menangis ketika Eomma tak lagi mau bertemu dengannya…”

****

Yumi tengah menggandeng tangan Minho melewati taman bunga di tengah lobi bandara Incheon ketika seseorang tiba-tiba mencekal bahu kanannya. Yumi segera menoleh dan melihat Jonghyun memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan, antara kesediahan, penyesalan dan keputusasaan.

“Kumohon pikirkan lagi Mi-ya, beri aku kesempatan sekali lagi…” Jonghyun mengiba. Mata yang biasanya tampak bening itu kembali berair dan memerah membuat Yumi merasakan sesak di dadanya.

Perlahan Yumi menyingkirkan tangan Jonghyun dari bahunya dengan sebelah tangannya yang semula menggandeng Minho, membuat bocah itu mengernyit tak suka karena membuat tautan tangannya dengan Yumi terlepas.

“Kesempatan itu sudah aku berikan ribuan kali padamu Oppa, saat dulu kau selalu membuatku kecewa. Sekarang sudah habis, aku tak memiliki persediaan lagi. Kurasa akan lebih baik jika mulai sekarang kita belajar untuk hidup masing-masing, aku akan berusaha agar tak lagi bergantung hanya padamu, bagitu juga dengan kau Oppa. Perjalanan hidupmu masih sangat panjang, mungkin memang takdirmu bukan denganku, kau bisa mencari wanita yang jauh lebih baik dariku… aku yakin-“

“Aku sudah tak memiliki tenaga lagi untuk melakukan itu, aku sudah sangat lelah dan aku berharap bisa beristirahat di sampingmu Mi-ya, kumohon mengertilah.”

Yumi menggeser tubuhnya untuk bisa lebih menatap jonghyun, mengabaikan Minho yang tanpa disadari Yumi sudah ditarik oleh Ibunya menjauh dari tempat itu.

“Seharusnya aku yang berkata seperti itu Oppa, seharusnya aku yang berkeluh lelah bukan kau. Aku yang selama ini menjadi korban keegoisan dan sikapmu yang plin plan.” Yumi melihat setetes air mata bergulir di pipi Jonghyun yang segera dihapus oleh pria itu.

Selelah apapun Jonghyun, ia tetap seorang pria yang tak ingin terlihat lemah di hadapan seorang wanita. Terutama wanita yang begitu dicintainya-entah mulai kapan. Dincintainya ? Jonghyun meringis sesak begitu kata yang dianggapnya begitu sakral menyentuh pikirannya. Ia tak ingat ia pernah mengatakan kata itu pada wanita yang saat ini berada di depannya, melihatnya dengan tatapan yang membuat Jonghyun yang lagi-lagi harus menahan sesak yang teramat sangat di bagian dadanya.

Jonghyun tak pernah menyatakan cinta pada wanita itu meskipun wanita itu sudah sering menyatakan perasaan padanya. Jonghyun baru menyadari betapa buruknya ia ketika hal itu menampar hatinya. Wajar jika Yumi sangat sulit untuk memaafkannya. Tanpa sadar ia sudah melakukan banyak sekali kesalahan dan berkali-kali menyakiti perasaan wanita itu. Jonghyun menjadi merasa tak punya hak untuk mendapatkan maaf. Tapi tetap saja Jonghyun tak ingin kehilangan wanita itu.

“Sudah tak ada yang perlu dibicarakan lagi, Na kalkhe! Semoga hidupmu lebih baik Oppa…” ucapan Yumi membuyarkan lamunan Jonghyun. Wanita itu perlahan membalikkan tubuhnya meninggalkan Jonghyun sebelum ia benar-benar sadar.

Jonghyun sempat melihat sudut bibir wanita itu terangkat paksa, seperti menggambarkan sebuah senyuman perpisahan. Perpisahan? Tidak Jonghyun belum ingin dan tak akan pernah menginginkan hal itu. Sungguh demi Tuhan.

Jonghyun harus mencegah Yumi, mungkin ini usaha terakhirnya dan berharap hal ini bisa mencegah Yumi pergi. Pergi ke tempat yang bagi Jonghyun mungkin tak begitu sulit untuk meyusul wanita itu, tapi Jonghyun yakin wanita itu akan berusaha keras untuk menghindarinya jika ia sudah selangkah saja meninggalkan Korea.

“Kim Yumi, Saranghae!” teriak Jonghyun membuat langkah Yumi berhenti tepat beberapa meter di depan gerbang penerbangan.

Tubuhnya reflek menegang. Desiran hebat terasa menghantam jantungnya hingga berdetak keras. Selama beberapa detik Yumi terasa lupa bagaimana caranya menarik nafas dan menghembuskannya kembali untuk memenuhi siklus pernafasannya.

Matanya yang semula kering-benar-benar-kering tanpa disadarinya telah meneteskan beberapa butiran air. Membasahi pipi merahnya karena udara yang berada di bawah nol.

Yumi tak boleh lemah, meskipun dalam hati jeritan-jeritan balasan ucapan itu terdengar jelas tapi bayangan Jonghyun memeluk gadis lain, bayangan wajah dingin Jonghyun, bayangan darah yang merembes melalui pahanya, bayangan makam mungil yang Yumi yakin tanahnya belum kering sepenuhnya lebih mendominasi. Ia tak bisa, Yumi tak bisa begitu saja melenyapkan bayangan menyakitkan itu.

Yumi menarik nafas dalam kemudian mengangkat kembali kakinya untuk melangkah tanpa mencoba sedikitpun menoleh pada Jonghyun. Ia harus mengakhirinya. Perpisahan memang menyakitkan, tapi ia yakin luka itu akan sembuh seiring dengan berjalanya waktu.

Jonghyun merasakan hatinya sudah hancur ketika wanita itu bahkan tak bisa sedikit saja memberikan rasa iba padanya. Jonghyun tak peduli jika harus mendapatkan iba walau dulu ia sangat membenci hal itu. Ia tak peduli asalkan bisa memperbaiki hubungannya dengan Yumi.

Yumi sudah benar-benar terluka olehnya. Tapi pembunuh saja memiliki kesempatan untuk dimaafkan, mengapa ia tidak. Kau tak boleh putus asa Jonghyun. Dibanding denganmu, wanita itu jauh lebih berat perjuangannya demi membuat kau bisa sampai pada titik ini. Titik dimana kau tak bisa lagi berpaling dari wanita itu.

“Aku akan menunggumu, sampai detik ini kau masih istriku. Kembalilah saat kau sudah merasa lebih baik. Aku sangat mencintaimu, Kim Yumi!”

TBC

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

31 thoughts on “Love Me – Part 11”

  1. Woaaaaaa akhirnya setelah sekian lama pub juga,,
    haduuuuhhh dsaat jonghyun berjuang mendapatkn Yumi,tp yumi ny mlh mau pergi,tapi emang gak salah sih apa yg yumi lakukan,dia jg manusia ada btasnya bersabar *halah aku ngomong apa*
    satukan mereka kembali Author, kasian mereka T.T
    next chap ditunggu 😀

  2. ya ampun… hampir aja lupa sama cerita ini, keingetnya ibunya Jjong dateng nemuin Yumi..

    Terharu +sedih part ini, si Yumi mo pergi kemana?dah cerai apa blum si Jjong-Yumi?

    Klo saya gak salah inget di part sebelumnya, Azmi bilang bentar lg ff ini selesai, tapi klo Jjong-Yumi pisah apa bakalan gak Happy ending ya.. -__-

    Ok Azmi, ditunggu banget loh part berikutnya.. 🙂

  3. Masih ingetlah…
    Ni FF paling angst yg pernah aku baca-menurutku.

    Lagi2 bikin aku nangis di tiap partnya.

    Penjabaran Azmi-ssi di Narasi perasaan tokohnya bener2 bagus…

    Penasaran sm endingnya..
    Wkwkwk

  4. wah,
    akhirnya mncul jga,

    lama skalee w nunggu ni ff..

    t kan jong,
    mkanya jd namja t jngn plinplan,,
    sbar ntu ada btasnya bang,

    jngn mw lg yumi ama si jjong,,
    cri namja lain aja..

  5. kyaaaaa….
    stlah sekian lamanya akhirnya publish juga…
    jonghyun sama yumi harus blikan lagi ya…
    mereka gak boleh pisah.
    yumi harus mnrima jonghyun lgi…
    dtggu part slnjutnya….

  6. Wah, pembalasan akhirnya datang juga. Biar ngerti itu Jonghyun, kalo hati wanita gak bisa dipermainkan.
    Tunggu kelanjutannya!

  7. akhirnya keluar jugaaaaa klimaksnya…
    di nanti nanti nii ff love me ini, dan ternyata benar yumi nya keguguraaan..kasiaaan,,
    tp klo ceritanya ga keguguran feel nya gakan dapeeet..
    part selanjutnya jgn lama-lama yaaaa..
    penasaaraaan soalnyaa

  8. Sekian lamanya..akhirnyadi publish cuma saja aku jarang meninggalkan jejak. Mian eon tp sekarang aku komen. Udah lama banget aku nunngu kelanjutannya dan akhirnya….jonghyun dan yumi berpisah? Kenapa? Ah ..pokoknya emosinya dapat bgt!!! Sama seperti part sebelumnya…

    Di tunggu kelanjutannya eon! 😀

  9. aigoo setelah sekian lama menunggu ff ini akhirnya publish juga..
    pendeskripsian author bagus, aku jadi ngerasa angst-nya dapet banget, feelnya kerasa.
    ditunggu lanjutannya..

  10. waaaagh,daebaak ceritanya..
    Ff ni slalu aku tnggu kpn publishnya,akhirnya muncul juga…jonghyun,kau hrs mmpunyai smangat yg lbh dari yumi…

  11. Waaaaaaaa…..akhirnya muncul juga part 11 nya setelah sekian lama nungguin….
    pokoknya jonghyun harus balikan lg sama yumi 🙂
    Trs mereka hidup bahagia hehe:)
    Ditunggu part selanjutnyaa ya eonni janngan lama lama
    soalnya udh ga sabar nunggu part selanjutnya 🙂

  12. Thor, aku sudah menunggu dan mencari ff ini sekian lama tapi baru kutemukan ff ini hari ini(?) Aku terus mencari dari saat pertama aku membaca part 10 authorT.T Semoga yang berikutnya lebih cepet ya thor. Tetap berkarya! Author keren!

  13. itu pembalasan untk sikap.u kpd Yumi slama nie Jjong,. Krn slama nie km yg ngebuat Yumi trluka, skarang giliran km, tp aq gk tega jg sih liat Jjong kyag g2.. Bkin ati nyut2.an..

  14. Akhirnya ff ini dlanjutin,,,udh lama bgt nggu….keren bgt,,,nyesek bgt bacanya,,,yumi keguhran,,,aigooo jjog nyesal bgt kan??gpplah biarkan yumi tenang buat sementara waktu,,,pleaseeee,,,hapiend ya author cantik,,,ffnya keren pake bgt 🙂

  15. saengi…, thor…, aku nangis sepanjangan baca ini….
    aku nunggu ni ff lamaaaaaa…….. bgt…….
    #ditimpuk readers laen… , emang elho aja yg nunggu…..

    Tapi pnantiannya terbyaar…. ni kelanjutannya nyentuh banget….
    feelnya dapet…. aku ikutan sesak bacanya ketika penggambaran perasaan yumi
    dituis dgn apik dsini…. begitupun setiap kalimat dan penggambaran perasaan
    pnyesalan jong diungkap, aku makin ngerasa betapa yumi memang sudah sampe
    pada batasnya….. dan keputusannya u/ meninggalknan jong sdh tepat…
    bkn brmaksud untuk mmbalas perlakuan jong selama ini…., tapi,
    yumi pun hanya manusia biasa, memiliki batas, dan batas itu ketika dia harus
    kehilangan bayinya… Ia mgkn bisa memaafkan jong jika dia hanya menyakiti yumi,
    krn mmg slm 2 thn yumi tersakiti, tp ttp dia bs memaafkan….
    Tapi ketika bayi yang ia kandung pun ikut menjadi korban keegoisan dan
    ketidaktegasan suaminya…., ia tdk bisa lagi mentolerir….
    dia pun harus bertindak tegas….
    dan meninggalkan jong adalah stu2nya jalan…. biar dia dan jong bisa lebih
    bisa merasakan dan berfikir tetnang keadaan masing….
    mugkin selama masa kesendirian mereka, ketidakhadiran satu dan yang lain
    akan membuka pandangan baru bagi mereka tentang bgaimana harus bersikap
    selanjutnya…., mengingat, sampai detik ini pun, mereka belum bercerai resmi….

    (ggggrrrrrr……..________________ gggggrrrrrrr………..________________)
    Lho, kok, semuanya pada tidur….????????
    #makanya jangan bnyak bacot….. to the point aja….!!!!!
    #mianhe……

    ehem…. jadi yang terjadi di part ini sesuai dgn apa yang aku harapkan…
    Jong nyesel abis…., yumi ninggalin jong……, taemin “ngipasin” jong….
    biar tambah dongkol tuh, si Dino Head pabo…..!!!!!!!! #dijitak eomma jong

    Part selanjutnya jngan kelamaan ya , saengi…., thor…….
    Aku suka bgt ma ni ff…. salah satu yang paling aku tunggu…..

    eh, mau nanya dikit….
    kira2 bakal sampe brp part, yah…..?
    kira2 yumi-jong bakal balikan lagiii….?
    atau yumi bakal sama taemin…?
    trus, jongnya meratap sendiri….?

    #diuber readers se blog……
    Iya, aku udahan….. bawel amat, sih….. O_O (atau akunya yg bawel????)

    Pkoknya SEMANGAT, YA THOR…..
    FIGHTING!!!!!!!

    Love,

    Miina Kim

  16. apa?
    jonghyun
    pengen
    memulai
    semuanya
    dari
    awal
    lagi
    setelah
    sekyung
    meninggal?
    klo sekyung msh hidup bakal gtu gak ya? wkwkwk

    oh iya blm resmi cerai ya ceritanya. smcm masin pisah rumah gtu. lbh tepatnya pisah negara (?)

    lanjutannya ditunggu qaqaqnyaaaa xD

  17. Thor kok saya beneran nangis ya gara2 ffmu??? Sungguh thor gak tau kenapa saya nangis bayangin jonghyun ama yumi nangis?? Saya mohon mohon banget jangan bikin mreka pisah.. Ya walaupun saya baru baca part 11 yg laen blum, thor saya suka ffmu makasi ya makasi… Salam kenal:) tapi saya mohon jangan bikin mreka pisah…

  18. Aaa, akhir nya part 11 udh muncul~ daebak thor.. feel nya dapet lagi;; semoga waktu yumi pergi, jjong masih setia ( atau lebih baik sama aku /eh )
    Ditunggu kelanjutannya ya thor~~

  19. huaaah… setelah sekian.lama hiatus dari membaca ff. kini keinginan baca ff kembali tumbuh. xixixi
    dan q lagi suka bangeeet ama ff marriage life. ff ini bagus banget apalagi karakter utamanya jjong yg super duper kereeennn…. ampek spechless mau komen apalagi. intinya ff ini bikin q kepikiran dan pengen baca lagi dan lagi…
    dtggu parr selanjutnya yaaaa

  20. kasihan jonghyun knp udah suka, yumi malah pergi 😦 tp stdknya lbih baik msak cwek hrus mengalah terus-mnrus.. Aku bangga ma yumi :). Akhrnya yumi ma sipa nie? Penasaran?

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s