Insanity

Author : Alfirahmaa

Main Cast :
Lee Jinki
Han Hyejin (OC)

Support Cast :
Choi Minho
Kim Jonghyun

Length : Oneshot

Genre : Thriller, Romance

Rating : PG-17

Summary : Dendam adalah senandung yang selalu dinyanyikan duet oleh jiwa kami.

Warning : Penuh dengan kekerasan

INSANITY

Tubuhku gemetar, air mata mengalir deras menuruni pipiku. Hatiku ini benar-benar sakit hingga rasanya tidak ingin hidup di dunia ini lagi. Dunia ini tidak menerimaku, mendiskriminasi dan menyingkirkan yang berbeda. Ah, makhluk fairytale jika kau memang ada kiranya bawalah jiwaku ini ke dunia kalian, bebaskan aku dari raga beratku yang terikat pada realita. Dunia ini menolakku, separuh diriku telah menolakku. Laki-laki yang sangat kucintai tidak menyukai kepribadianku yang cacat, dia memandangku dengan jijik.

Apakah aku menjijikkan? Bukan keinginanku jika jiwa ini retak. Empat tahun yang lalu lelaki brengsek menghancurkan jiwa kecil yang telah retak ini. Akankah jiwa rusak ini bertahan? Ya, dia masih bertahan meski beberapa bagiannya telah menghilang. Aku hanya menginginkan jiwa gelapku ini tenang, nyaman bersanding dengan kegelapan lain dari kekasihku kelak. Tetapi dia yang brengsek hanya berpura-pura, bermain peran menjadi seseorang yang sangat mengerti kegelapan hati ini. Ternyata kau tidak lebih dari ular beludak sialan yang berlidah cabang.

Taring berbisa itu menghujamku, jiwa gelapku ini teracuni dengan bisa bernama kebencian. Rasa menyesakkan bernama benci membuatku nyaris gila. Keinginan untuk mencincang raganya bergelut hebat dengan kesadaran tubuh beratku ini. Andaikan dunia ini tidak memiliki kemunafikan bernama hukum, meski kelak aku harus terpasung dengan beban dosa aku menginginkan nyawanya melayang.

Rasa perih menjalari lengan kiriku yang baru saja tersayat besi pipih bernama cutter. Logam mengkilat itu menjilat kulitku memekarkan kelopak mawar mini berbau anyir. Beberapa bulan setelah kepergian lelaki brengsek itu seorang laki-laki baik hati mengulurkan tangan padaku. Dia memberikan kasih sayang, kata-kata manisnya membelai lembut hati yang terluka ini. Membuatku melupakan penolakan dunia ini padaku karena orang itu memiliki bau yang sama denganku. Kami memiliki sisi gelap, dan aku memahaminya bukan dengan gumpalan otak di kepalaku melainkan dengan jiwa retak ini.

Ya, dia menemukan sesuatu yang mirip dengan dirinya. Tetapi kegelapan manis itu tak lama berlangsung, saat lelaki yang menganggap dirinya malaikat itu mengkianati kesetiaanku dengan dalih palsu. Ah, saat itu aku menangis berhari-hari. Ketika kudengar dari sahabatnya yang memiliki bau bak iblis aku sadar jika dia tak lebih dari pemain wanita.

Ya, ya…. Aku ingin menghujamkan kelima kuku ini ke wajah yang dia banggakan, menariknya ke bawah membentuk guratan basah warna merah. Rasanya merinding membayangkan rintihannya.

Lee Jinki, lelaki yang memiliki aroma iblis itu menarikku dari jurang keputusasaan. Saat itu jiwanya juga menyebarkan aroma kebencian sama seperti milikku. Ya, saat itu hati kami sama-sama terluka oleh bisa bernama kebencian. Dendam adalah senandung yang selalu dinyanyikan duet oleh jiwa kami.

Aku sangatlah mencintai laki-laki iblis yang ternyata di dalam jiwa keruhnya itu terdapat hati murni. Beberapa kali aku ingin mencemari hati itu dengan kegilaan dan kemarahanku hanya saja dia selalu menarikku kembali ke dunia nyata di mana tubuh beratku ini terikat. Hanya dialah rantai yang dapat menarikku kembali ke dunia yang kubenci, karena keberadaannya. Tanpanya aku hanya raga kosong dengan nafas kehidupan.

‘Hyejin-ah, aku tidak suka jika kau berbuat kasar pada orang lain’

Kasar? Menurutku itu hal biasa saja, kenapa kau tidak menerimaku apa adanya? Jiwa ini memang ‘sakit’, tetapi bukan berarti aku menyukainya. Emosi ekstrim yang selalu muncul mendadak membuatku takut. Takut dibenci olehmu, takut menyakitimu, takut jika mendapat pandangan jijik darimu. Juga ketakutan karena tidak mengenali diriku sendiri?

Apakah sesuatu yang jahat menguasaiku? Atau sejak awal memang jiwa ini bersifat keji?

Jinki-ku tercinta, terima aku. Inilah aku, baik sisi terangku yang ceria maupun sisi gelapku yang gila. Aku tidak menginginkan barang-barang mahal atau permintaan muluk lainnya hanya satu hal yaitu terima aku seutuhnya dan cintai juga sisi gelapku meskipun memuakkan.

Tetapi bagimu untuk mencintai sisi gelapku merupakan permintaan sulit, tampaknya kau begitu membenci kegelapanku. Jiwa retakku ini mendesakku untuk membebaskan kegilaan atas dendamku. Aku akan menemui keduanya. Lelaki yang membuat sisi gelapku semakin pekat dan jahat. Jangan salahkan aku yang menjadi semakin jahat karena kalian.

*****

Aku mengalunkan sebuah lagu gothic, dengan tema haloween yang merupakan perayaan yang berjarak beberapa hari dari hari ulang tahun kekasihku.

“Lalalalala~ Lalalalala~ Really scary violet moon light. Lalalalala~ Lalalalala~ Are you ready to say trick or treat?

Kuputar sebuah garpu perak yang baru saja kukeluarkan dari kantong. Aku menduduki sesuatu yang tergeletak di lantai. Dari saku celana kukeluarkan sebuah ampul berisi cairan bening berlabel Lidocaine dan sebuah syringe. Bagian puncak dari wadah kaca itu kupatahkan, dengan sebelah tangan menarik cairan bening itu menggunakan syringe di tangan kananku. Setelah wadah kaca itu kosong kujilat permukaan kulit seseorang, kemudian perlahan kutusukkan jarum syringe tadi dan memindahkan cairan itu hingga habis.

Kutelusuri wajah berkulit putih seorang laki-laki dengan jemariku.

“Jonghyun-ah, bagaimana dengan pacarmu yang sekarang? Cantikkah? Kenapa mereka sangat bodoh mau menjadi pacarmu?” Gelak tawaku pecah sesaat, entah apa yang membuatku tertawa kesetanan seperti sekarang.

Kupandangi kulit putihnya yang bersaing denganku. Dengan garpu perak yang kuletakkan di dekat kakiku empat buah garis paralel kubuat menghiasi wajahnya. Aku mengulangi bekas guratan tadi sampai beberapa kali sambil terus menekan tanganku untuk membuat lukanya semakin dalam.

“Kau tau, Jonghyun-ah? bersama denganmu itu membuatku menderita. Harus mendengarkan cerita sombongmu, mendengarmu membanggakan diri sendiri yang sebenarnya payah. Sejujurnya aku menertawakan dirimu di belakang,” seruku sambil tertawa lantang. Rasa marah dan muakku hilang seketika itu juga, rasa geli menghampiriku secara tiba-tiba.

Aku tertawa terbahak hingga perutku sakit, air mata mengalir turun.

Dengan sebuah cutter merah aku merobek kulit di bawah tulang rusuknya, di tempat di mana orang menyebut ulu hati terletak. Kubuka kulit pria bernama lengkap Kim Jonghyun itu yang telah mati rasa karena Lidocaine dengan sebelah tangan di bantu dengan cutter.

Laki-laki ini tidak dapat berontak karena aku telah memaku kedua kaki dan tangannya dengan lantai. Di lengan kirinya tersambung dengan kantong darah yang memasuki pembuluh di lengannya. Tujuanku adalah untuk menyiksa, bukan untuk membunuhnya. Aku telah membungkam mulutnya supaya dia tidak berteriak dan mendatangkan tetangga sebelah rumah kemari.

“Jonghyun-ah yang merasa tampan, aku berterima kasih padamu pernah mengulurkan tangan padaku. Itu sebabnya aku tidak membunuhmu seperti dia.” Seringai menghiasi wajahku yang penuh dengan cipratan darah. Di sebelah Jonghyun terdapat onggokan daging yang dulunya adalah manusia.

Beberapa jam yang lalu aku membunuhnya, kemudian memotong tubuhnya dengan gergaji mesin. Beberapa kali aku menghancurkan tengkorak kelapa makhluk brengsek itu dengan kapak yang tergeletak di sebelah Jonghyun.

Kini lelaki ular itu tak lagi memiliki hal yang disebut jasad yang biasa menjadi satu-satunya hal yang dimiliki oleh orang mati. Aku telah menghancurkannya, mencincang dagingnya kecil-kecil serta meratakan tulangnya dengan lantai. Kini dia pantas disebut sebagai sampah karena dia salah satu mantan pacarku yang cukup brengsek, yang bernama Choi Minho.

“Nah, Jonghyun-ah aku tidak akan membunuhmu. Yang kuinginkan adalah membelai dan merasakan debar jantungmu langsung dengan tanganku ini”

Kubaringkan tubuhku di atas tubuhnya, sedang tangan kananku memasuki ‘pintu’ yang tadi kubuat. Kupejamkan mataku saat tangan ini merasakan degup kantong darah bernama jantung secara langsung. Rasanya terasa menggelikan di dalam sana, beberapa kali aku ingin meremas hancur jantung itu tetapi kemudian mengurungkannya.

Tujuanku tidak untuk membunuhnya melainkan hanya untuk bersenang-senang melihatnya yang merintih setelah biusnya menghilang.

*****

Beberapa saat sebelum efek Lidocaine benar-benar menghilang Jonghyun tampak mulai menggeliat kesakitan. Ah, ini yang kutunggu. Aku bangkit dan duduk bersila di lantai sambil memejamkan mata. Nada baru yang tercipta dari nyeri hebat yang menjalar cepat. Tubuhku merinding bak mendengar seorang soprano melantunkan lagu cinta.

“Suara rintihan yang indah. Sesuai dengan katamu, suaramu memang indah jika menyanyi. Menyanyikan melodi kematian seperti sekarang”

Aku tersenyum sambil memandangi tubuh Jonghyun yang mulai meronta.

Brakk!! Brakk!! Brakk!! Graaakkkk!! 

Pintu di belakangku dijebol paksa oleh seseorang. Senyum menguap dari wajahku. Tubuhku mulai bergetar hebat, dan air mata mulai menganak sungai. Aku merangkak menjauhi laki-laki yang melangkah ke arahku.

“Jangan, jangan lihat aku dengan tatapan seperti itu. Keluar!!! Keluar!!!”

Aku gemetar di balik tirai jendela kamarku. Ke-kenapa dia bisa kemari? Aku tidak ingin dilihat olehnya dalam keadaan seperti sekarang.

“Jangan mendekat!!” seruku dari balik tirai.

“Hyejin-ah, ayo kita kembali. Aku sudah menghubungi ambulans untuk membawa Jonghyun,” kata laki-laki itu.

“Untuk apa aku kembali? Kau membenciku kan?! Kau tidak menyukai sisi diriku yang ini kan?” jeritku.

Laki-laki bermata hitam dengan rambut bercat cokelat kemerahan menyingkap tirai putih yang menutupiku, “maafkan aku,” bisiknya. Perlahan kedua lengannya merengkuhku masuk dalam pelukannya.

“Ayo kita kembali,” bisiknya di dekat telingaku. Dia memelukku dengan erat.

“A-aku… membunuhnya. Dengan tangan ini”

Tubuhku gemetar melihat kedua tangan ini berlumuran darah. Saat pandanganku tertuju pada cermin oval di sebelahku kedua kakiku langsung kehilangan tenaga dan terduduk lemas. Seluruh tubuhku dipenuhi cipratan darah, bahkan rambut hitamku yang menggantung sebatas punggung juga lembab karena darah.

Aku menjerit, menutup wajah dengan kedua tangan berlumuran darah, bau anyir di ruangan ini membuatku ingin muntah. Itukah hasil perbuatanku? Sekeji inikah aku?

“Jinki-ah, aku….” Aku memandangnya dengan tatapan nanar.

“Mari kita pulang,” katanya sambil mengangkat tubuhku yang berbau amis.

Kulingkarkan kedua lenganku pada lehernya. Kupejamkan kedua mataku ketika Jinki membawaku keluar dari kamarku. Dia membuka pintu mobil putihnya untukku yang masih terdiam dengan pandangan menerawang.

“Hati-hati kepalamu,” katanya lirih saat aku memasuki mobilnya. Setelah menutup pintu di sebelahku dia berjalan memutari bagian depan mobil lalu duduk di sebelahku.

*****

Pemandangan di sampingku berlalu dengan cepat, jalanan masih sangat lengang karena waktu menunjukkan pukul 3 pagi waktu Seoul. Lampu jalanan berlalu membentuk sekelebat cahaya dengan pendar kekuningan. Setelah setengah jam tidak berbicara apapun Jinki menghentikan mobilnya persis di depan rumah.

Jinki turun terlebih dahulu lalu membukakan pintu untukku. Dia mengangkatku memasuki rumahnya yang sudah sejak sebulan yang lalu menjadi milikku juga. Satu persatu anak tangga dia naiki, tak satu katapun keluar dari mulutku setelah keluar dari kamarku.

Laki-laki yang menjadi tunanganku ini membuka sebuah kamar, ditengah ruangan terdapat sangkar burung berukuran raksasa. Tingginya mencapai 5 meter, diameternya mencapai 3 meter. Di dalamnya terdapat ranjang di mana kami biasa tidur bersama selama sebulan ini.

“Bersihkan dirimu sebelum darahnya mengering,” dia menurunkanku persis di depan pintu kamar mandi, aku berjalan lunglai menuju shower.

Dingin, bercampur bau anyir yang mengambang samar. Suara air yang menyemprot keluar dari shower dan dinginnya air menciptakan suasana baru dalam hati ini. Lamunanku dibuyarkan oleh suara laki-laki yang memasuki kamar mandi.

“Sudah satu jam kau berada di bawah shower, kau bisa sakit.” Katanya sambil menekan keran shower, lalu membungkus tubuhku dengan handuk yang dibawanya. Jinki mengangkatku keluar dari kamar mandi lalu membawaku menuju sangkar raksasa di tengah kamar.

Aku duduk di pinggir ranjang, di kedua tanganku diletakkan beberapa obat. Ada capsul berwarna putih merah, tablet putih elips, tablet bulat berwarna pink dan 1 tablet elips berwarna ungu muda. Kutelan keempat obat tadi bersama air yang baru saja diberikan Jinki padaku. Sudah lebih dari setahun aku mengkonsumsi obat anti depresan ini, dan beberapa kali dokter menaikkan dosisnya akhir-akhir ini.

Kukenakan pakaian di dekatku yang sengaja diletakkan oleh Jinki. Bagian punggung baju tidurku basah karena rambutku.

“Hyejin-ah, tidurlah. Pagi ini aku harus mengurus sesuatu,” katanya sambil merebahkanku perlahan ke ranjang. Dia pasti akan menemui polisi bermata sipit itu. Tiap kali aku kabur Jinki akan berurusan dengannya karena aku menimbulkan masalah.

“Hyejin-ah, maafkan aku. Maaf atas kata-kataku sebelumnya,” katanya lirih, “dua hari lagi kita akan bersumpah setia di depan altar. Aku mencintaimu apa adanya, maafkan kata-kataku siang tadi” tambahnya seraya membuatku menahan napas untuk beberapa detik.

“Kau tidak marah? Tidak membenciku? Tidak akan meninggalkanku?” tanyaku.

Laki-laki itu menggeleng pelan lalu tersenyum. “Tidak,” sebuah kecupan ringan mendarat di bibirku. Dia naik ke atas ranjang lalu memelukku sambil berbaring, “tidurlah, aku akan menemanimu hingga terlelap.”

“Ya…,” kataku lirih.

Samar-samar aku mendengar Jinki berbicara dengan seseorang di ponsel. Pasti polisi itu, sebentar lagi dia pasti akan bertemu dengannya. Terdengar bunyi pintu sangkar berderit menutup lalu disusul suara kunci diputar.

Ya, Jinki-ku pasti akan menemui polisi cerewet itu lagi, polisi yang selalu memaksanya untuk memasukkanku ke rumah sakit jiwa. Kekeraskepalaan Jinki memang tiada duanya, dia tetap ingin menikahi gadis sakit jiwa. Tetapi aku bahagia karena aku dicintai, baik raga beratku ini juga jiwa sakit yang gila ini.

—End—

Note:

Halooooooo… back dengan cerita ngawur hahaha sebenernya hari ini aku mau post lanjutan sequel LMNSS tapi belum selesai, masih 2 atau 3 scene lagi dan aku gak sanggup buat lanjutin malem ini, jadi aku post yang ada di draft. Cerita ini aku tahan-tahan buat gak keluar tapi ternyata harus keluar juga. Maaf ya buat semuanya, dan untuk cerita ini, maaf buat flames and blinger yang biasnya aku buat begitu, itu efek galau beberapa bulan lalu *evil laugh*

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

48 thoughts on “Insanity

  1. Wowww bener-bener thriler, sempat merinding bacanya, serem juga ya Hyejin pas depresinya kumat..
    Terharu sama Jinki, so sweet deh..
    Like it😀

  2. astaga…
    berasa nonton film SAW.. merinding ngebayangin si Jjong diperlakukan spt itu sama Hyeji..

    Si Jinki cinta banget ya sama Hyejin.. ckckck…

    Apa yang Alfi bayangin dan rasain waktu bikin ff ini?

    1. ebuseeet saw -_- aku gak sesadis itu errr
      iya dong jinki cinta mati sama Hyejin #plaaak
      waktu ngetik ini bener2 lagi galau hehe dan pengen bunuh orang, lampiasin ke tulisan deh hehe

  3. Ah seru banget thor
    Bagus tapi ngeri banget aku sampai lemes bacanya
    Kok ada ya cowok yang setia banget kayak Jinki gitu
    Kalo aku jadi Jinki mah udah pasti aku tinggalin
    Ngapain cinta sama cewek gila kayak gitu mendingan sama aku *pd abis* tapi bias aku bukan dia sih hehe

    Kasihan ya minho dan jong, harus berakhir kayak gitu
    ~ ㅠㅇㅠ ~

    Sedikit saran ya thor, aku sih nyaranin lebih baik ini dibikin sequel tapi kalo lagi sempet aja kalo gak sempet ya gak papah ^^

    Bagus banget ni ff tapi ngeri *merinding*

  4. Jinki baik bgt sih,, :3

    Gila, thrillernya kerasa. Ngebayangin adegan kekerasannya itu *krik* aku merinding sendiri…

    Aku suka thriller ginian!! Ditunggu karya selanjutnya yaa🙂

  5. Wow, berasa aku lagi menyayat-nyayat kulit seseorang #jeder #ikutangila -_-v

    hihi, seneng baca FF berbahasa indah spt ini. Sekaligus envy karena diksiku ga pernah sekaya ini haha. Bener deh aku bener-bener menghayati waktu Hyejin nyiksa Jonghyun ‘-‘

    tapi segala bayangan itu hancur ketika aku membaca bahwa yg dimutilasi sadis oleh Hyejin adalah CHOI MINHO!! Gyaaaa, choi minho ga brengsek gitu waaaaa……. *kejar authornya sambil bawa gergaji /iniapa /kepengaruhbeneran* kekekekeke peace ah peace ._.

    Lee Jinki ikutan edan juga, edan karena cinta #eaa #uhuk maklumin aku kak author (manggilnya apa sih biar enak! ;A; ), aku teh lagi patah hati *malah curhat .-.*

    aaaaaaa pokoknya aku suka sekali, walau rada nyesss pas baca Jjong digituin, soalnya kan orangnya skg lg proses penyembuhan kan ya, jd ga tega :c kenapa ga tetem aja, dia kan udh mulai songong skg, mentang2 ganteng, mau dsb manly *lirik taemin ganas* *ditimpuk taemin* *dikejar taemints* wkwkwkwkwk

    iiiii pokoknya keren deh!! Benerannn *throwing heart*

    ditunggu karya lainnya c:

    1. Jedeeerrr harusnya aku kasih warning yah tidak boleh dicontoh di rumah hahaha
      Ini diksinya masih biasa loh, aku bahkan iri sama yang bisa nulis diksi bagus-bagus huhuu
      Kyaaaaaaaaaaa… minhooo, kayanya emang efek author yang dendam sama dia wkwkwk *kaburrrrr kepelukan jinki sebelum digergaji*
      Sempet ragu juga tadinya antara jjong atau taem, tapi penyiksaan ke jjong lebih ngena kayanya wkwkwk
      Maksih ya udah mampirr🙂

  6. Daebakk penyiksaanny ching hahaha
    berasa nyata.
    Tapi biar lebih thriller , seharusnya penyiksaanny minho jga dibeberkan ching*apaan sih*.
    Aku suka kta2 perumpamaannya, bagus banget.
    Udah gtu dtambh jinkiny jga baik bget lgi, bisa sbar ngadepin hyejin yang udah bner2 ke ganggu jiwany.
    Bahkan 2 hari lagi mau nikah, salut deh.
    Yg dbencikan udah meninggal, mudah2an kdepanny hyejin akan semakin baik. Apalagi dtambh support dri jinki*ayo berdoa bersama chingu*.
    eh satu lagi, ada typo jga. Kepala jadi kelapa.
    -kkeut-

    1. Jiahahaha pada suka sama penyiksaannya yah lol
      Aduh kalau minho juga aku bingung mau deskrip apa, ntar malah aku yang disangka psycho hahaha
      Jinki tuh emang baik banget makannnya aku makin cinta #apasih
      Aminn semoga hyejin waras yah #plaaah
      Errr masih typo juga ya, padahal aku udah edit2 ulang berkali2.. But thanks yaaaa udah mampir ^^

  7. WOW!!!
    kereeennnn >///<
    hadeuh, speechless sumpah!!!
    ini thriller ter-keren yg pernah sy baca,
    actually, sy tdk suka genre thriller, tp mau coba2 baca karena ini oneshoot dan maincast.y Jinki,
    ingin membangkitkan imajinasi ku ttg 'keliaran' seorang Jinki,
    eh ternyata yg jadi psycho bkn jinki, tp yeoja nya..

    well, saya paling suka part 'sangkar burung yang didalamnya ada ranjang'
    terbayang begitu…. ah, entah bagaimana mengungkapkannya,
    tapi sungguh, imaji ku menganggapnya keren se-keren2nya…

    ^^

    keep writing, author-ssi.. ^^

  8. Ini serius ff bagus banget
    Aku aja coba bikin ff thriller gak jadi-jadi *miris*
    Kata-katanya juga aku suka banget, ceritanya juga keren soalnya jarang banget kan ff cerita yang kayak gini

    Pokoknya fighting buat Author! Aku tunggu ff berikutnyaa

    1. Coba lagi ayo, pasti bisa, tapi katanya kalau mau buat yang sadis2 emang harus bawaan orangnya juga #plaak jadi coba contohkan dirumah *sesat*
      becanda haha ayo semangatt!!
      Sip.. Makasih udah baca ^^

  9. Haduhhhhhh…keren bnget thor….
    alhamdulillah jinki gg d bkin psyco, klo d bkin psyco entar akunya malah jd smkin ngeri*apa ini #abaikan
    jinki oppa sosweet dehh, jadi pengennn#plak
    Thrillernya keren, tp kenapa pas bang minho gak di jelasin secara detail yak, kn seru tuh#evil laugh*sembunyi di balik punggung jinki oppa sebelum di bacok sma bang minho#abaikan

    Aku mau bkin thriller aja gag dapet dapet feelnya gak ngena ples gg ngeh gtu huhu#lho kok curhat#abaikan
    pokoknya daebak thor
    ditunggu karya karya selanjutnya
    pye pye
    ^^

  10. daebak >0<
    serem banget ffnya .___. huaaaa apal agi pas dibilang berlumuran darah aku jadi mual -..-
    jinki baik banget <3333

  11. Untung ceritanya kelar ampe situ.
    Aku takutnya kalo diterusin, malah Jinkinya dimutilasi….
    Amit-amiiiiittt…….

    Ini FF buat aku merinding disko….
    Serrem banget…. pake’ gergaji segala…
    aduuuh…. dalam film aja, aku gk mau nonton yg begituan…

    Bagus, Alfi,,, genrenya sukses nuat aku dan readers laen merasa thrilled…

  12. ya Tuhan, ga bisa bayangin bentuknya Minho sebegitu parahnya. Rasanya mual pas megang-megang jantungnya Jonghyun. Eerrrr
    dan Jinki terlalu baik atau terlalu cinta?

  13. Kurang serem nih thor,, kurang sadis nih,,
    Aku pecinta thriller,, kalau menurutku thrillerny kurang🙂
    Nonton death bell 1 & 2, SAW,Final destination 1-5,Rumah darah , mungkin bsa buat referensi thor,, Udh itu aja, maap kalo crewet😀

  14. Ekstrem ceritanya apalagi pas adegan’eksekusi’ nya hiiiiii serem kesian mino dan lagi ngenesan jjong😦 Tapi tulisan authornya keren, dae to the bak, daebak😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s