Beautiful Coincidence – Part 4

Beautiful Coincidence – Part 4

 

Author: Tia31

Main Cast:

–      Choi Minho (SHINee)

–      Park Jiyeon (T-Ara)

Support Cast:

–      Kris, Wu Fan (EXO-M)

–      Krystal, Jung Soojung (F(x))

–      Lee Taemin (SHINee)

–      Oh Sehun (EXO-K)

–      Eunmi

Length: Sequel

Genre: Romance, Family, Sci-Fi

Rating: PG-13

Suara pintu yang dibuka oleh Minho mengalihkan perhatian Eunmi dari camilan biskuit yang baru saja akan mendarat di mulutnya. Eunmi buru-buru berusaha menggerakkan kakinya untuk segera menuju ke Minho, namun apa daya, kakinya tak mengizinkannya.

“Oppa!” serunya dengan nada yang begitu ceria.

“Sudah makan?” Minho dengan cepat melesat ke tempat tidur Eunmi dan mencubit hidungnya pelan. Ia tersenyum senang saat mengetahui Eunmi masih baik-baik saja.

Eunmi mengangguk dan tersenyum. “Oppa sudah makan?” Belum sempat Minho menjawab, Eunmi sudah mengulurkan sebungkus biskuit yang baru saja akan disantapnya.

Eunmi memberikannya pada Minho sambil tersenyum. Minho membalas senyumannya dan mengacak rambut Eunmi yang mulai memasang wajah cemberut karena ia baru saja menyisir rambutnya. Karena gemas, Minho mulai menjahili Eunmi dengan menggelitiki bagian perut Eunmi. Dalam beberapa menit keduanya sudah tertawa bersama.

“Oppa, hentikan!” seru Eunmi karena Minho tak kunjung melepaskan tangannya. “Oppa, jebal!”

Minho akhirnya tertawa melihat Eunmi yang kelelahan namun masih bisa tertawa. Minho mengambil kursi terdekat dan duduk di dekat tempat tidur Eunmi. Kini ia menatap Eunmi dalam, membuat Eunmi sedikit bingung.

Sejak kemarin, Minho terus bertanya-tanya dimana keluarga Eunmi, siapa orang tuanya, dan bagaimana latar belakanngnya. Namun sampai saat ini, ia belum memiliki keberanian untuk menanyakan hal tersebut. Ia tidak ingin mengambil langkah yang salah.

“Oppa, ada apa?”

“Hmmm… Anni.” Minho tersenyum dan mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Ia mengulurkan sepasang jepit rambut berwarna biru muda dengan hiasan kupu-kupu diatasnya yang disambut dengan senyum sumringah dari Eunmi.

Sejak kemarin, Minho tahu bahwa gadis yang baru saja menginjak 7 tahun dihadapannya ini sangat tertarik dengan fashion. Dengan baik ia dapat mengomentari pakaian Minho, Sehun, dan Taemin. Namun menurut Eunmi, penampilan terburuk jatuh pada Sehun. Pakaian yang ia pakai kemarin terlalu biasa bagi Eunmi, seperti orang tak berselera fashion katanya.

Eunmi mengerutkan dahinya, “Bagaimana oppa tahu bahwa aku suka warna biru?”

“Oppa hanya menebak. Jadi kau benar-benar suka warna biru?”

Eunmi mengangguk, “Bagaimana dengan oppa?”

“Oppa juga, makanya oppa pilih warna biru. Jika Eunmi tidak suka, biar oppa saja yang pakai.”

Eunmi mendengus. “Jadi oppa suka pakai jepit rambut? Ini kan untuk yeoja.”

Minho terkekeh. “Biar saja, agar Eunmi iri dan memintanya lagi pada oppa. Oppa kan membelikannya untuk Eunmi.”

Eunmi memeluk Minho tiba-tiba. Ia telah mencoba mencari kehangatan yang sudah lama tak dirasakannya dan kini ia menemukan seseorang yang memberikannya dengan tulus. Eunmi tahu, Minho orang yang tulus.

Tanpa mereka sadari, ada sesosok namja yang memperhatikan mereka sedari tadi. Yeon Gyeom berdiri diambang pintu tanpa bersuara sambil menyaksikan keduanya berbicara.

“Apakah appa mengganggu?” Suara Yeon Gyeom memecahkan suasana diantara mereka berdua.

“Anni.” jawab Minho singkat.

Dokter dengan setelan jas putih dan celana hitam itu berjalan mendekat dan tersenyum pada Eunmi yang menatapnya bingung. Suasana sedikit canggung sebelum Minho memperkenalkan appanya pada Eunmi, “Perkenalkan ini, Yeon Gyeom ahjussi.”

Eunmi akhirnya tersenyum setelah mendengar penjelasan Minho, begitu juga dengan Yeon Gyeom. Untuk beberapa saat mereka berbincang bersama sampai dering ponsel Yeon Gyeom terdengar. Ia harus segera kembali ke ruangannya dan menyelesaikan beberapa urusan.

Setelah pintu tertutup, Minho kembali tersenyum pada dan kembali mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya.

“Eunmi-ya…”

Eunmi yang baru saja akan memasang jepit rambut pemberian Minho di rambutnya, menghentikan aktifitasnya.

“Ahh sebentar.” Minho mulai melayangkan tangannya ke rambut Eunmi dan membantunya memasang jepit rambutnya. “Selesai. Neomu yeppeo.”

“Gomawo, oppa.” Eunmi tersenyum senang untuk kesekian kalinya karena Minho. “Tadi oppa mau bicara apa?”

Minho berdehem, “Hmm… Boleh oppa bertanya satu hal?”

Eunmi mengangguk. Sebenarnya ia tahu apa yang ingin Minho pertanyakan. Tapi ia tidak akan mengelak untuk menjawab. Dua hari bersama Minho sudah cukup untuk memberikan kepercayaan untuk orang yang kini ia panggil dengan sebutan “oppa” dengan akrab.

“Dimana orang tuamu? Apa yang terjadi padamu?”

“Bukankah oppa hanya ingin bertanya satu hal?” Minho menghela nafas lega dengan pelan. Setidaknya Eunmi tak menangis atau melakukan hal yang tidak baik lainnya, namun ia menyadari bahwa gadis yang berada di hadapannya kini adalah gadis yang sangat cerdas.

Sebelum menjawab, Minho berusaha tertawa pelan. “Baiklah, kalau begitu, boleh oppa bertanya dua hal itu?”

“Ah gwenchana.” Eunmi menghentikan kata-katanya kemudian melanjutkan, “Appa tidak menginginkanku lagi. Kemarin, ia membawaku keluar rumah dan menjatuhkanku dijalan.” Eunmi berusaha menahan tangisannya.

Minho mulai mengerti dan menganggukkan kepalanya. “Bagaimana dengan eommamu?”

“Eomma sudah meninggal.”

Detik berikutnya Minho sudah menarik Eunmi kedalam pelukannya. Eunmi tidak melakukan apapun selain memejamkan matanya. Tubuh kecil Eunmi nan hangat membuat Minho merasa nyaman.

“Eunmi mau kembali ke appa?”

Eunmi menggeleng dengan cepat. Mengingat wajah namja yang sudah membuatnya tersiksa saja tak sanggup ia lakukan.

“Baiklah.” Minho tersenyum kemudian mengecup puncak kepala Eunmi.

***

Sudah satu jam Jiyeon berkutat dengan pikirannya sambil memegang selembar amplop kecil berwarna biru muda yang tidak diberi perekat dan dapat dengan mudah dibuka. Ia betul-betul penasaran dengan isi amplop tersebut, namun membuka amplop tersebut dan membaca isinya bukanlah hal yang benar menurutnya.

“Bagaimana ini.” Ia mendesah.

Hari sudah semakin larut dan hujan baru saja reda, namun Jiyeon masih duduk di teras rumahnya sambil terus memagang amplop tersebut. Buka…atau tidak? Jiyeon kembali berperang dengan hati dan pikirannya.

Suara gonggongan anjing membuat Jiyeon tersentak. Ia panik dan buru-buru berlari masuk ke rumah namun belum sempat ia masuk ke dalam, ia terpeleset karena genangan air yang menetes dari atap rumahnya yang bocor.

Jiyeon meringis. Ia merasakan sedikit perih di kakinya yang terluka karena terkena kusen pintu dan mencoba melupakan rasa sakit tersebut.

Kini matanya tertuju pada amplop tadi yang telah mengeluarkan isinya. Sebuah kertas bertuliskan “FAILED” berukuran besar kini nampak jelas di atas lantai.

Jiyeon berusaha bangun dan mengambil kertas tersebut. Ternyata masih ada amplop kencil lagi yang tersembunyi di balik kertas tersebut. Ini bagaikan teka-teki, batinnya. Ia merasa dirinya kini sedang bermain sebagai seorang detektif yang sedang memecahkan masalah. Bukan hanya masalah, namun juga rahasia yang ia yakini adalah rahasia besar seorang Choi Minho, ah bukan, bahkan mungkin keluarganya.

Bukannya takut karena telah masuk kedalam urusan orang lain, Jiyeon justru semakin ingin terjun kedalamnya. Ia kembali melirik kertas bertuliskan kata “gagal” yang kini ia pegang. Tak lama, ia menyadari 8 digit angka yang membentuk sebuah tanggal tertulis dengan rapi dibagian kanan bawah.

23.02.19**

Empat digit terakhir menunjukkan tahun kelahirannya yang juga berarti tahun kelahiran Minho, tepatnya 17 tahun yang lalu. Ia kembali menganalisis tulisan yang mengukir huruf F, A, I, L, E, dan D tersebut. Rapi dan teratur. Dengan begitu Jiyeon dapat menyimpulkan bahwa tulisan tersebut ditulis oleh seorang wanita.

Kini pandangannya teralih kepada sebuah amplop yang berukuran lebih kecil dari amplop sebelumnya dan berwarna putih. Dengan meraba kedua permukaannya, Jiyeon tahu isi amplop itu tak akan lebih dari selembar kertas.

Dengan memejamkan matanya, ia mulai membuka amplop tersebut.

“Jiyeon-ah~” suara Yoondae mengalihkan perhatiannya. Ia membuka mata dan segera memasukkan amplop-amplop dan kertas tadi yang belum sempat ia buka kedalam tas. Dengan cepat, Jiyeon sudah berada di kamarnya dan bertemu dengan eommanya.

“Ada apa, eomma?”

“Tadi eomma mendengar suara pintu masuk yang terbuka, eomma kira itu kau yang masuk. Tapi beberapa saat eomma menunggu, tapi tak ada seorang pun yang masuk ke kamar.”

“Aku sudah pulang.”

***

Seluruh siswa sudah berbaris di lapangan dengan setelah mengganti pakaian mereka dengan kaus dan celana training sekolah. Dalam diam mereka mendengarkan instruksi sang guru olahraga yang saat ini sedang menerangkan tentang materi baru yang akan diajarkan.

Seoerti biasa, Jiyeon sudah ketakutan sendiri di barisannya. Ia memang bukan murid pandai di bidang ini, bahkan Kim ssaengnim menyesali hal itu. Kalu bukan karena tes tertulis nan berbobot yang diberikan Kim ssaengnim, Jiyeon tak akan mendapat angka 8,5 di rapornya kemarin.

Setelah mendengar instruksi Kim ssaengnim untuk mengitari lapangan sekolah sebanyak 7x, semua murid bubar teratur dan mulai berlari, tak terkecuali Park Jiyeon. Untuk sekedar berlari, Jiyeon masih dapat melakukannya meski nafasnya tak akan berhenti tersengal-sengal untuk beberapa menit.

Baru saja Jiyeon mengitari lapangan untuk yang 6x, seseorang berseru, “Dia sudah 10 kali! Hebat!”

Detik berikutnya Jiyeon sudah mendengar beberapa suara, “Wow!”, “Hebat!”, atau “Seperti biasa. Namanya juga Choi Minho.”

Ia menghela nafasnya dan terus berlari meski nafasnya sudah memburu sesaat setelah melihat Choi Minho yang sudah kembali ke tempat di mana ia memulai startnya. 10 kali. Sebegitu hebatnya kah dia? Memiliki segalanya, harta, kecerdasan, bahkan…harus kuakui dia tampan, Jiyeon terus membatin selama putaran terakhir.

Baru saja Jiyeon kembali ke barisan sebagai orang terakhir, teman-temannya kini kembali bubar untuk memulai materi baru mereka yaitu sepak bola. Beberapa pemimpin barisan sudah mengambil bola dan mulai menendang. Sampai setengah jam Kim ssaengnim mempersilahkan mereka untuk latihan sendiri-sendiri tanpa instruksi dan pengawasannya.

Berhubung pemimpin barisan kelompok Jiyeon adalah Kris, Kris mencoba untuk mengutamakan Jiyeon. Ia menendang bola ke arah Jiyeon yang sama sekali tak menyadarinya kemudian tergelincir karena bola tersebut. Tak dapat Jiyeon elak, akhirnya ia jatuh tersungkur pelan ke rumput.

Kris buru-buru menghampirinya, “Jiyeon-ah! Kau baik-baik saja?” seru Kris panik.

Tentu saja, ia tak terlalu baik. Namun, ia masih memiliki cukup tenanga untuk bangun sendiri tanpa bantuan Kris.

“Ah gwenchana. Gomawo.” jawab Jiyeon sambil tersenyum.

Saat menemukan bola yang membuatnya jatuh tadi, Jiyeon dengan cepat melangkah dan mencoba untuk meraihnya namun sedetik sebelum tangannya dapat menempel ke bola, hantaman sebuah bola ke hidungnya yang meluncur dari jauh membuatnya kembali tersungkur.

Kris, sebagai orang yang posisinya paling dekat dengannya buru-buru menghampiri Jiyeon. Ia terbaring lemah dengan keadaan darah mengalir keluar dari hidungnya. Kris yang panik dengan cepat menggendongnya dengan posisi terlentang.

“Bodoh! Kenapa kau justru menggendongnya seperti itu?” suara penendang bola tadi membuat Kris bergidik.

Minho dengan cepat meraih Jiyeon dan membuatnya berdiri. Ia memapah tubuh Jiyeon dan menaruh tangan Jiyeon di pundaknya. Minho memberikan tatapan tajam pada beberap orang yang menghalangi jalannya menuju UKS.

Sebagai orang yang melambungkan bola tersebut dan menjadi tersangka atas kecerobohannya sendiri yang tak dapat mengontrol bola dengan baik, tentu membuatnya merasa bersalah. Jelas yang Minho lakukan saat ini, murni dikarenakan rasa bersalahnya.

Kris hanya dapat terpaku menyaksikan kejadian yang baru saja ia saksikan. Baginya, yang seharusnya memapah Jiyeon saat ini adalah dirinya, bukan namja yang bertampang angkuh seperti Minho yang seharusnya melakukannya. Ia mengutuk dirinya sendiri karena tak dapat berbuat apa-apa.

Setelah masuk ke ruang UKS, Minho buru-buru mengunci ruangan tersebut karena tak ingin ada orang yang melihatnya membantu Jiyeon. Ia sengaja tidak memperbolehkan Jiyeon untuk berbaring karena takut darah dari hidung Jiyeon akan mengalir menuju kerongkongan dan masuk ke dalam lambung yang dapat menimbulkan rasa mual bahkan sewaktu-waktu Jiyeon bisa saja muntah. Oleh karena itu, ia tak mengizinkan Kris untuk menggendongnya dengan posisi telentang.

Masih dengan memapah Jiyeon, Minho mengambil sekotak tisu yang terletak di dekat tempat tidur besi ruang UKS sekolahnya. Setelah mendudukkan Jiyeon sedikit condong ke depan di tempat tidur, ia langsung menyumbat hidung Jiyeon dengan tisu. Minho bisa melihat Jiyeon menatapnya lemah tanpa berkata apapun.

“Mianhae.” ucap Minho pelan namun Jiyeon tak dapat menjawabnya.

Jiyeon sedikit tersentak. Baru kali ini ia mendengar permohonan maaf dari seorang Choi Minho. Terlebih lagi ia mengucapkannya dengan bahasa non formal.

Minho menarik selembar tisu yang sudah ia gulung dan menyumbat hidung Jiyeon dari hidungnya dengan perlahan. Betul-betul lembut. Dapat Jiyeon pastikan, Minho jelas tahu tidak ada yang boleh tercabut dari dalam hidung jika seseorang sedang mengalami pendarahan pada hidung.

“Sebentar.” Minho bangkit dan membuka lemari es kecil yang terdapat di sudut ruangan. Jiyeon dapat menebak, dalam hitungan beberapa detik Minho pasti akan mengeluarkan beberapa bongkah es untuk mengompres hidungnya.

Tebakan Jiyeon tidak meleset, kini Minho mulai menjepit cuping hidung Jiyeon dengan tangan kanannya dan kanan kirinya mengompres tulang hidung Jiyeon dengan es yang tadi ia ambil. Lima menit. Minho dengan sabar menempelkan kedua tangannya di hidung Jiyeon.

Bahkan dia lebih pantas menjadi ketua eksul daripada aku, Jiyeon membatin.

Akhirnya Minho melebaskan jepitannya pada hidung Jiyeon dan menghentikan usahanya untuk memperlambat aliran darah dari hidung Jiyeon. Berhasil, kini tak setitik darah pun menetes.

“Lebih baik kau istirahat. Kim ssaengnim akan kuberitahu.” Minho menepuk sebuah bantal yang sudah siap jika Jiyeon berniat untuk tidur. Karena mulut Jiyeon masih terkunci dengan rapat, ia hanya dapat mengangguk untuk menjawab Minho kemudian membaringkan tubuhnya di atas kasur dan memposisikan kepalanya di atas bantal tadi.

Setelah memastikan Jiyeon menutup matanya, Minho langsung bergegas membuka pintu untuk keluar. Tanpa sengaja ia mendapati seorang namja bertubuh lebih tinggi darinya berdiri di depan pintu dengan tatapan kaget.

“Jiyeon baik-baik saja?” Dari nadanya, ia dapat memastikan bahwa Kris sangat cemas dengan keadaan Jiyeon.

“Ne.” Minho menjawab dan menutup pintu dengan perlahan sebelum melanjutkan, “Ia sedang istirahat jangan diganggu.”

***

Sudah lebih dari dua jam Minho berada di ruang belajarnya bersama Jiyeon. Selama dua jam tanpa puluhan kata terucap. Yang Minho lakukan hanya meneruskan membaca bukunya yang berjudul The Virus Vol. 2 sedangkan Jiyeon kembali dipinjami oleh Minho buku yang kemarin ia baca.

Setelah melihat ke arah jam tangannya, Minho langsung berdiri dan menatap Jiyeon yang kini berada di hadapannya, duduk dengan tenang sambil membaca buku. Menyadari tatapan Minho, Jiyeon buru-buru menutup bukunya, ia tahu setelah ini Minho pasti akan segera pergi dari ruangan tersebut.

“Waktunya habis, aku pergi dulu.” Minho bergegas dari tempat duduknya, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Jiyeon.

“Chakkaman.” Minho memabalikkan badannya dan memberikan tatapan ‘ada apa?’ pada Jiyeon. “Aku belum mengucapkan terima kasih.” Jiyeon menghentikan kata-katanya sebelum meneruskan, “Jeongmal gamsahamnida.” Jiyeon membungkuk dengan canggung di hadapan Minho.

Minho hanya sedikit menarik sudut bibirnya, “Ne.” jawabnya dan beralih melanjutkan langkahnya kemudian hilang dibalik pintu.

Akhirnya Jiyeon memutuskan untuk mengambil tasnya dan memasukkan sebuah pulpen yang tadi belum sempat ia masukkan kedalam tas sehingga ia harus menaruhnya di dalam sakunya. Tanpa sengaja ia melihat kertas bertuliskan “FAILED” serta amplop berukuran sedikit lebih besar berikut yang kecilnya. Ia mengeluarkan amplop yang kecil dan berniat membukanya sebelum sosok Baekho muncul di hadapannya.

“Apa sudah selesai?” tanyanya dan menarik kursi untuk duduk di hadapan Jiyeon.

Jiyeon mengangguk, “Ne, ahjussi.”

“Bagaimana perkembangannya?”

“Perkembangan?” Jiyeon terdiam. Jika tidak mengingat peringatan Minho sejak awal, ia akan mengatakan, “Bahkan dia lebih baik dariku. Dia pasti bisa masuk universitas manapun yang ia inginkan. Dia brilian, ahjussi!” Namun jelas, Jiyeon harus mengurung niatnya jika ia tidak ingin mendapat masalah dengan seorang Choi Minho. “Hmm… Sepertinya ada perubahan…” jawabnya ragu.

Baekho sedikit menarik kursinya antusias, “Benarkah? Apakah doryeonim bisa masuk fakultas kedokteran?” tanyanya lagi. Kini Jiyeon mengutuk dirinya sendiri karena telah memberi harapan pada Baekho.

“Ah, ne… Kurasa bisa. Jika doryeonim mau berusaha lebih keras lagi.” Jiyeon menyunggingkan senyumnya hingga deretan giginya dapat terlihat jelas oleh Baekho.

Lagi-lagi Jiyeon mengutuk dirinya. Pernyataannya barusan kini menerornya untuk membujuk Minho agar mau mengakui kejeniusannya, yang ia tahu pasti bukanlah hal mudah. Pertama-tama, hal yang harus ia lakukan adalah mencari tahu alasannya. Sedetik kemudian, ia menyadari bahwa mencari tahu alasannya bahkan lebih sulit. Matilah aku, rutuknya dalam hati.

“Ahjussi, aku harus segera pulang.” Jiyeon bangkit dan membungkuk kepada Baekho.

“Tunggu sebentar.” Baekho berusaha menahannya. “Bisa tolong ikuti aku?”

Sebelum mengikuti Baekho, Jiyeon mengangguk. Baekho memimpin perjalanan. Ia membawa Jiyeon ke taman belakang rumah keluarga Choi. Baru saja Baekho membuka pintu kaca menuju taman tersebut, suara gemericik air mancur yang terletak di tengah taman menyambut. Jalan setapak dari kumpulan batu-batu kecil mengubungkan antara kolam kecil dan sebuang gazebo di masing-masing sudut taman. Belum selesai Jiyeon memperhatikan seluruh taman tersebut, ia mendapati bahwa taman tersebut berada di tengah rumah, bukan di belakang rumah. Tidak, sekali lagi Jiyeon memperhatikan, pintu yang ia lihat bukanlah bagian rumah melainkan ruangan yang dibuat tersendiri. Dapat ia perkirakan, ruangan tersebut berukuran panjang 8 meter dan lebar 8 meter, seperti lebar taman.

Apa lagi yang kurang? lagi-lagi Jiyeon membatin. Namun sesaat kemudian ia mendengar suara Baekho yang memanggilnya sambil berdiri dekat pintu masuk ruangan tersebut. Ia segera berlari dan menghampiri Baekho.

Pintu tersebut dibuka oleh Baekho secara perlahan. Detik kemudian, Jiyeon sudah dapat melihat seisi ruangan, menjawab rasa penasarannya.

Pertama, perhatiannya tertuju pada bagian sebelah kiri ruangan tersebut. Sebuah lemari terlihat menempel di dinding. Dari kacanya, Jiyeon dapat melihat beberapa buah buku kedokteran untuk anak-anak yang memenuhi lemari tersebut. Sebuah bantal terlihat rapi di atas sebuah tempat tidur rumah sakit. Ia juga dapat melihat sebuah meja dokter dan sebuah stetoskop di atasnya lengkap dengan kursi berodanya. Namun semua yang Jiyeon lihat, tersusun rapi dalam bentuk mainan. Lebih tepatnya, semuanya adalah mainan “dokter-dokteran”.

“Sajangnim sampai-sampai memesan semua ini ke London hanya untuk doryeonim.” ucap Baekho yang membuat Jiyeon mengalihkan pandangan kepadanya.

Jiyeon hanya dapat mengangguk. Kemudian pandangannya kembali teralih ke sisi lain ruangan. Tak jauh berbeda dengan sisi satunya, sebuah tempat tidur rumah sakit, lemari buku-buku dan peralatan dokter sungguhan yang terbuat dari kayu, meja dan stetoskpop serta kursi berodanya dan beberapa peralatan dokter lainnya. Kini Jiyeon hanya dapat membuka mulutnya membentuk huruf “O” lebar-lebar.

“Setelah berharap semua ini menambah semangat doryeonim, sajangnim tiba-tiba saja dikecewakan oleh doryeonim.”

Jiyeon kini menatap Baekho, menanti apa yang akan terucap selanjutnya dari mulut Baekho.

“Dulu, doryeonim sangat senang main di ruangan ini. Setiap hari, ia selalu mengajak pengasuhnya untuk pergi kesini. Setelah beberapa hari menjadikan ruangan ini kamar keduanya, ia meminta kami, orang-orang di rumah untuk memanggilnya dokter Minho. Saat itu kami tertawa mendengarnya.” tutur Baekho kemudian tertawa. Ia kembali teringat masa itu.

“Benarkah?” Jiyeon berusaha pura-pura tak percaya.

“Ne.” Baekho mengangguk dan melanjutkan, “Sejak saat itu, sajangnim semakin giat membelikannya buku-buku yang berhubungan dengan kedokteran. Kau bisa lihat di lemari biru itu, banyak buku kedokteran untuk anak kecil yang sajangnim belikan. Tentu saja, saat itu doryeonim sangat senang membacanya. Sebagai orang tua yang meninginginkan anaknya meneruskan profesinya dan istrinya, doryeonim sangat senang.”

“Minho pasti anak yang sangat berbakat, ia hanya kurang belajar. Mungkin…” jawab Jiyeon.

“Menurutku juga begitu. Terlebih lagi, saat itu, sajangnim sedang sakit dan tiba-tiba doryeonim datang. Ia melihat sajangnim yang sedang menggigil karena demam tinggi. Doryeonim kecil yang masih berumur empat tahun buru-buru mengambil thermometer dan mengenakannya dengan baik ke appanya. Setelah itu, ia mengambil anti-fever dan menempelkannya di kening sajangnim.”

More than excellent!

“Empat tahun? Benarkah? Hebat sekali!”

“Aksi doryeonim membuat sajangnim yakin bahwa putra satu-satunya mewarisi bakatnya dan istrinya. Bahkan nilai-nilainya semenjak duduk di bangku sekolah dasar selalu melewati kata “memuaskan”” Baekho menghentikan kata-katanya. “Namun, sejak menjadi siswa kelas dua SMP, nilai doryeonim terus menurun hingga sekarang. Tadinya ia membuat ruangan ini untuk doryeonim, tapi sejak SMP doryeonim tidak pernah mau masuk ke ruangan ini.”

Jiyeon mengangguk pelan. Ia dapat mengambil kesimpulan bahwa terjadi sesuatu pada Minho saat itu. Sedikit demi sedikit ia mulai mengerti.

“Bukankah sekitar umur itu anak-anak sedang mengalami pertumbuhan sehingga mereka lebih memilih untuk bermain. Mungkin, doryeonim lebih senang bermain.”

“Mungkin saja, tapi sajangnim tetap yakin, bahwa bakatnya memang betul-betul turun ke anaknya.”

“Aku juga begitu. Ini hanyalah masalah doryeonim yang sedang tidak ingin belajar.”

***

Suara ting membuyarkan lamunan Minho. Setelah melihat pintu lift terbuka, ia segera masuk dan menekan tombol untuk menuju lantai 6. Pintu lift itu baru saja akan tertutup sesaat sebelum seseorang menekan tombol dan membukanya kembali.

“Minho?” suara Kris memberi kepastian siapa sosok yang berada di hadapannya, di dalam lift, saat ini. Kris menekan tombol 4 dan kemudian menghampiri Minho yang sedang bersender di dinding lift.

“Eh… Kris?” sebuah sapaan, bukan sapaan yang seharusnya.

“Bertemu dengan appamu?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Keperluan lain. Bagaimana denganmu?” Minho bertanya balik agar Kris tidak bertanya lebih lanjut.

“Mengunjungi teman lamaku. Dia dirawat disini.”

Minho hanya mengangguk dan melihat Kris yang mulai berjalan ke pintu lift.

“Aku duluan. Sampai jumpa.” katanya dan keluar lift.

Baru saja Minho sampai di depan pintu lift, pintu lift terbuka. Ia pun melangkah keluar dan berjalan menuju ruangan dimana Eunmi dirawat. Ia membuka pintu dan mendapati Eunmi yang sedang tertidur dengan lelap.

Seorang dokter tiba-tiba muncul, “Annyeonghaseyo.”

“Annyeonghaseyo.”

Dokter Lee dan Minho saling membungkuk. Dokter Lee memberikan amplop coklat kepada Minho sambil berkata, “Ini hasil rontgent Eunmi tadi pagi.”

“Ah, gamsahamnida. Bagaimana keadaannya?”

“Sudah jauh lebih baik. Eunmi sudah boleh pulang besok.” jawab Dokter Lee sambil tersenyum.

“Dengan kursi roda?”

“Tentu saja, tapi Eunmi bisa menggunakan tongkat jika ia mau.”

Minho melihat pintu kamar rawat Eunmi tertutup kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa. Tak ada yang ia lakukan selain memikirkan hal-hal yang akhir-akhir ini meracuni pikirannya hingga ia terlelap.

Sentuhan hangat Eunmi membangunkan Minho dari alam mimpinya. Ia membuka mata dan mendapati Eunmi senang menggenggam tangannya sambil duduk di sofa, di sebelahnya dan tersenyum.

“Eunmi, bagaimana bisa kau turun?” tanya Minho bingung.

Eunmi yang menatap Minho kini memutar sedikit kepalanya dan menaikkannya sedikit, memberi tanda pada Minho untuk memandang ke arah yang sama. “Hello~” suara Sehun dan Taemin mengundang senyuman di bibir Minho.

“Aku yang menggendongnya.” Sehun menjawab pertanyaan Minho.

“Ia yang meminta.” tambah Taemin.

“Ne, ne, arasseo. Kalian tidak perlu terlihat takut.” jawab Minho kemudian berdiri dan sedikit memberi tinjuan kepada kedua sahabatnya. “Ada apa kemari?”

“Ya~ Kau kira, kau saja yang boleh menjenguk Eunmi?” protes Taemin. Ia menghampiri Eunmi dan menggendongnya.

Sehun berusaha meraih Eunmi dari Taemin, namun Taemin tak mengizinkannya. “Aku ingin minta kritik darinya.” Sehun melanjutkan dan tertawa sambil melihat Eunmi yang memanyunkan bibirnya.

“Hmm… Oppa terlihat lebih baik hari ini dengan rompi itu.” Eunmi berkomentar setelah memperhatikan Sehun dari ujung kaki sampai ujung kepala.

“Eunmi sudah seperti penasihat fashionmu saja.” celoteh Minho dan meraih Eunmi kemudian menggendongnya.

Sekali lagi Eunmi memanyunkan bibirnya, “Ah, oppa kira aku boneka, main oper saja.”

Ketiganya tertawa bersamaan. Taemin dan Sehun kini mencubit pipi kanan dan kiri Eunmi, sedangkan Minho mencubit hidung kecil dan mancung Eunmi. Aksi ketiganya membuat Eunmi semakin cemberut.

“Kalau begitu aku tidak akan menghabiskan makan malam hari ini.” Eunmi mengerucutkan bibirnya dan melipat tangannya di dada.

“Kalau begitu, tidak akan oppa turunkan.”

“Oppa!”

Seorang suster muncul sambil membawa gerobak makan untuk Eunmi. “Makan malam, Eunmi.” serunya dan tersenyum manis pada Eunmi.

Eunmi menggeleng saat melihat Minho menatapnya. Sehun mengambil inisiatif dengan mengambil sesendok nasi dan sayur untuk Eunmi. “Ayo buka mulutnya~”

Eunmi tetap menggeleng, “Shireo!”

“Baiklah, oppa, Sehun oppa, dan Minho oppa minta maaf, ne?” Taemin mendekat dan tersenyum pada Eunmi. “Kau harus mau memaafkan oppa, ok?”

“Begitu dong.” Eunmi tertawa dan membuka mulutnya sehingga suapan Sehun bisa masuk ke mulutnya.

“Enak?” pertanyaan Sehun dijawab oleh anggukan serta senyuman dari Eunmi.

Minho menurunkan Eunmi dan memintanya untuk duduk di pangkuannya. Ketiganya menyuapi Eunmi secara bergantian sambil berbincang-bincang hangat. Setelah Eunmi menghabiskan makanannya, Minho meminta suster jaganya untuk datang.

“Oppa pergi dulu, ne?” Minho kembali mencubit hidung Eunmi, namun kali ini Eunmi tersenyum. “Besok akan oppa jemput. Kau harus menurut dengan suster, OK?”

Eunmi mengangguk kemudian mendapati rambutnya brantakan karena di acak-acak oleh Sehun dan Taemin. “OPPAAA!” geramnya, kemudian tertawa.

“Kami pergi dulu. See you later, little princess!” ucap Sehun dan berjalan keluar bersama Minho.

Baru saja mereka menghampiri lift, pintu lift tersebut langsung terbuka. Ketiganya masuk dan menekan tombol lantai dasar.

“Ahjussi?” sapa Minho pada seseorang yang sedang menunduk seraya melipat tangannya di dada di sudut ruangan. Ia mendongak dan mendapati Minho sedang menatapnya, “Ahjussi praktek disini?” tanyanya lagi saat melihat jas putih dengan logo Honjusang Hospital di dadanya.

Ia membuka lipatan tangannya dan berdiri tegap, “Ah, ne. Annyeong!”

“Annyeong.” Minho sedikit tersenyum pada dokter yang memakai nametag bertuliskan “Park Jungsoo” itu. Namun, ia menghentikan senyumannya saat lagi-lagi mengingat hal yang tidak ia ingin ingat lagi. Meski begitu, ia tak ingin mengambil kesimpulang bahwa orang yang berada di hadapannya adalah orangnya. “Ahjussi adalah dokter disini?”

“Hmm, ne. Ahjussi praktek hanya 2x seminggu disini.” jawabnya kemudian suara pintu lift yang terbuka tiba-tiba terdengar. “Sampai jumpa.”

To be continued…

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

11 thoughts on “Beautiful Coincidence – Part 4”

  1. Wahh..
    Jiyi terperangkap ddengan pikiirann ma hati na diri..
    Dy gallau..
    Aisshh…. Minho nolong jiyi so sweet bgt…
    Semoga benih” cinta ​Ʊϑaђ bermuculan..
    Tunggu itu sapa yang kketemu minho???
    Park jungsoo??????

    Taambah penasaran…
    Next chigu
    🙂

  2. Lanjut yaaa.. minho ayolah akuin kepintaranmu nanti atau gak berubah dulu…. tapi jangan sampe jiyeon kehilangan pekerjaaannya juga thor heheh..

  3. Aduh cepet di rilis ya lanjutannya thor
    Gak sabar nih

    Aduh sepertinya benih benih cinta nya udah mau tumbuh nih

    Ayolah Mino… tunjukkan kecerdasan mu… tunjukkan kepada semuanya

    Next post please^^
    ╭(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯ GO! 파이팅!!!! 대박!!!!!

  4. Hm, jadi kebencian Minho pada profesi dokter atau pelajaran Biologi dimulai saat dia di SMP. Jelas ada suatu sebab yang membuatnya sekarang nggak mau jadi dokter. Terus apa maksudnya gagal dalam surat itu, ya? Aaih, makin dilanda arus penasaran.

    Wah, Eunmi sudah sembuh. Tapi ayah eunmi itu loh, kejam banget. Apa setelah ini Eunmi akan tinggal bersama Minho atau mungkin dijadiin adik angkatnya? Dan tentang Dokter Pak Jungsoo itu, kayaknya emang ada sesuatu yang mencurigakan sejak dia menyapa Minho di Pulau Jeju.

    Ditunggu lanjutannya. Nice story. ^^

  5. Hwaaaa ff nie mang keren,,, selain mang sauka main cast_ny tpi memang story_ny jg seru konflik_ny krasa bnget… 🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s