Napeun Namdongsaeng [1.2]

Napeun Namdongsaeng (1.2)

Author : min_nki

Main Cast: Lee Taemin, Choi Mingi

Support Cast : Sehun, Jong In ( Kai ), Jinki ( Onew ),Min ah Umma, Key, Minho and Jonghyun

Genre : sad, family

Length : Sequel ( 2 shoot )

Rating : General

Author Pov

“ Ya! Taemin-ah. Dengarkan ucapan noona sekali saja.” Pinta Mingi pada Taemin  Namdongsaengnya, “ Ya! Haruskah ku bilang hingga mulutku berbusa bila kau itu bukan noona ku atau yang lainnya. Aku tak mempunyai noona disini.” Kata Taemin dengan nada geram, mendengar itu Mingi hanya bisa diam tak tahu harus berbicara seperti apalagi agar Jong in bisa berubah. “ Bahkan Umma sekalipun jarang kudengarkan perkataannya, kau yang malah bukan siapa-siapaku menuntut untuk mendengarkanmu, sungguh kau Yeoja tak tahu malu.” Tambah Taemin yang membuat Mingi merasa terpukul, terjadi peperangan batin yang cukup hebat dihati Mingi. “ Bila memang kau pikir seperti itu Taemin-ssi, lebih baik kau pergi dari sini.” Timpal seseorang yang ternyata Jinki, “ Bila kau memintanya maka akan ku laksanakan.” Jawab Taemin santai tapi penuh emosi dan ingin segera pergi dari rumah yang membuat Taemin setiap hari muak, tetapi aksinya (?) keburu dihalangi oleh Mingi, “Anni, kau tak boleh pergi. Kau akan tinggal dimana bila kau keluar dari Rumah ini. Lagi pula Umma tidak akan mengijinkan kau pergi.” Kata Mingi sembari merentangkan kedua tangannya didepan Taemin, “ kau berusaha menjadi pahlawan dengan melarangku pergi. “ kata Taemin dengan nada meremehkan, “ Hallo Yeoja yang  terobsesi ingin dipanggil noona olehku, apa kau lupa aku sudah berumur 19 thn, jadi aku bisa menjaga diriku sendiri.” Tambahnya lagi hendak ingin menyingkirkan tangan Mingi dan pergi, “ Inikah caramu berterima kasih pada Umma.” Kata Jinki yang terlihat geram melihat tingkah Taemin yang keterlaluan, “ dia yang menemukanmu disebuah rumah yang telah terbakar, dengan suka rela dia membawamu kemari, memberimu tempat tinggal, dia yang  telah menyekolahkanmu hingga sekarang. Beginikah caramu berterima kasih LEE TAEMIN.” Lanjut Jinki dengan menekan nama Taemin, “ Sudah cukup, kalian bertiga bertengkar, Umma tak mau mendengar pertengkaran kalian bertiga lagi. Apakah kalian tidak malu dilihat oleh dongsaeng  kalian yang masih kecil, apa kalian memberi contoh pada mereka dengan kelakuan kalian HAH!” teriak Min ah Umma sambil menunjuk Jong In dan Sehun yang terdiam melihat Noona dan Hyung mereka bertengkar setiap hari, “ apakah ini hasil dari kerja keras Umma membesarkan kalian Huh? Ini cara kalian membahagiakan Umma? Sungguh kekanakan sekali kalian bertiga. Nanti temui Umma di ruangan kerja Umma. “ Lanjut Min ah Umma lalu membawa Jong In dan Sehun pergi.

***

“Huh! Ottokhaeyo? Umma pasti akan menceramahiku habis-habisan karena tindakanku.“ Batin Taemin sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar, “ ini semua gara-gara Mingi, bila dia tidak menyulut api denganku, aku tidak akan terus berada pada posisi seperti tersangka sekarang. “ oceh Taemin sambil merebahkan tubuhnya diranjangnya dan terus memikirkan apa yang akan Min ah Umma katakan. Sementara ditempat lain Mingi sedang menjaga Jong In dan Sehun karena Min ah Umma pergi berbelanja, “ Noona, apakah benar Taemin hyung akan pergi dari rumah?” Tanya Sehun yang usianya baru 10 tahun, mendengar itu Mingi kaget dan mencoba mengontrol emosinya, “ Anni, tadi Taeminhyung hanya bercanda, jadi kalian tidak usah khawatir. Arra.” Jawab Mingi senormal(?) mungkin agar suaranya tak terdengar bergetar karena terus menahan amarah, “ Tapi, tadi aku melihat kesungguhan dari kata-kata Taemin hyung saat dia berkata dia akan pergi dari rumah ini, apakah hyung sudah tak sayang lagi pada kami?” kali ini Jong In yang lebih tua 2 tahun dari Sehun angkat bicara, “ Anni, percaya pada noona bila Taemin hyung tidak akan pergi dari rumah ini. Sekarang kalian makan siang dulu baru tidur. Arra.” Jawab Mingi mencoba mengalihkan pemikiran Jong In dan Sehun tentang Taemin.

***

“ Sudah cukup, apa kalian senang dengan semua ini? Bila memang kalian senang, Umma, Jong In, dan Sehun yang akan pergi supaya kalian dengan leluasa bisa bertengkar hingga kalian merasa itu cukup. Apakah itu mau kalian?” Tanya Min ah Umma pada Mingi, Jinki danTaemin, yang ditanya hanya bisa menunduk dan diam, “ Apakah ini jawaban kalian? Diam tanpa kata ( udah kayak lagu aja), Umma membesarkan kalian bukan mengharapkan kalian yang seperti ini, Umma ingin kalian bisa sukses melebihi umma. Tapi setelah umma lihat kalian malah membuatku kecewa. Sangat Kecewa. “ lanjut Min ah Umma dengan nada pasrah tapi tegas. “ Mianhae umma, selama ini aku hanya membuatmu kecewa, akan ku perbaiki sikapku mulai dari sekarang. “ kata Jinki yang berdiri dan membungkuk pada Min ah Umma, Mingi hanya bisa menangis karena tak kuat menahan amarahnya hari ini, dan Taemin hanya bersikap seperti tak tahu apa-apa tapi dalam hatinya ingin sekali dia melakukan hal yang sama seperti Jinki bahkan sambil menangis seperti Mingi, tapi separuh hatinya melarangnya, “Bila ku melakukan hal yang sama maka aku kalah.” Batin Taemin dan yang dia lakukan hanya menerawang keluar jendela, tanpa ia sadari Min ah Umma sedang memperhatikannya. Perbincanganpun selesai, tapi hanya Jinki dan Mingi yang keluar tidak dengan Taemin yang sepertinya enggan beranjak dari ruangan tersebut.

***

Taemin Pov

Rasanya aku tak ingin pergi dari ruangan ini, berada dekat dengan Umma membuatku merasa nyaman, dan merasa hanya dialah yang mengerti perasaanku saat ini meskipun aku sering mengabaikan perkataannya dan menentangnya. “ Apa kau masih ingin disini Taemin-nie?” tanya Umma padaku, akupun menoleh padanya, dan hanya kujawab dengan anggukan, kulihat pemandangan diluar rumah melalui jendela di ruangan ini sangatlah indah. “ kau lihat Taemin-nie, betapa indahnya pemandangan ini. Sekarang Umma tahu kenapa kau selalu ingin berlama-lama disini.” Kata Umma berdiri disamping Jong in, “ tak Kusangka Taemin umma sudah tinggi seperti ini, padahal seingat Umma kau masih sebahu Umma, tapi lihat sekarang Umma yang sebahumu.” Katanya lagi sambil mengukur tinggiku dengannya, “hahahaha, itu sudah beberapa tahun yang lalu Umma, lagipula aku begini juga karena kau yang terus menyuruhku berolahraga, jadinya aku tinggi sekarang.” Jawabku disertai tawa yang ingin sekali ku luapkan setiap hari tapi tak bisa, “ kalau begitu Umma akan berolahraga agar bisa setinggi kamu.” Kata Umma konyol, akupun hanya mengernyitkan dahi tak mengerti dengan pikiran Umma yang selalu menganggap dirinya muda, padahal dia sudah mempunyai 5 anak, ya meskipun aku, Mingi dan Jinki anak hasil adopsi tapi perlakuannya pada kami sama. “ Umma, mianhae selalu membuatmu marah-marahdengan tingkah kami.” Kataku sambil merangkul bahu Umma, “ kau sekarang terlihat berubah Taemin, tak seperti Taemin yang dulu umma kenal, kenapa kau bisa berubah seperti ini?” tanya Umma sambil menyandarkan kepalanya di bahuku, aku hanya bisa diam tak bisa kujelaskan kenapa aku jadi berubah seperti ini pada umma sekarang. “ Arra. Umma mengerti kau tidak mau memberitahu umma sekarang. Tapi bila kau sudah siap menceritakannya, Umma akan ada disampingmu.” kata Umma yang mengetahui bahwa aku tak bisa menjawab itu semua sekarang, “ Mianhae.” Hanya kata itu yang bisa ku keluarkan dari mulut dan hatiku saat ini pada Umma. “ apa kau serius dengan kata-katamu tadi Taemin-nie? Bahwa kau akan keluar dari rumah ini?” tanya Umma tetap pada posisi semula, “ Ne.“ jawab ku santai yang membuat Umma langsung menatapku, “ tapi nanti setelah ku bisa membahagiakan Umma dan bila ku sudah menikah.” Lanjutku yang melihat ekspresi Umma yang tak bisa kujelaskan seperti apa. Umma pun menghela nafas lega karena telah menerima jawaban dariku, “ tapi, Umma peringatkan kau tak boleh bicara kasar seperti tadi pada Hyung, Noona dan Dongsaengmu. Arrachi.” Kata Umma menceramahiku, “tuh kan apa kubilang.” Batinku, akupun hanya mengangguk.

***

“ Aish, aku lupa. Hari ini ada latihan basket bersama chingu sekolahku. Palli palli.” batinku lalu membawa apa saja yang dibutuhkan. Saat ku berlari keluar, tak sengaja ku melihat Mingi dan Jinki hyung bermain bersama Jong In dan Sehun di Taman. “ Pura-pura tak melihat saja.” Batinku dan melengos pergi, “ Taemin-ah, kau mau kemana?” tanya seseorang padaku, akupun menoleh dan melihat Jinki hyung mendekat padaku, “ Owh, aku akan latihan basket disekolah.” Jawabku agak kaku padanya karena pertengkaran kami tadi, memang aku selalu beradu argumen dan bertengkar dengan Mingi, tapi baru kali ini Jinki hyung ikut bertengkar denganku dan mengatakan hal yang diluar dugaanku. “ Mianhae, tadi hyung terbawa emosi sehingga melontarkan kata-kata  yang tak enak padamu. Hyung saja baru menyadari perkataan hyung saat Umma datang. “ kata Jinki hyung padaku sambil menunduk, sungguh ini pertama kalinya aku dan Jinki hyung bertengkar hebat seperti tadi dan dia meminta maaf seperti ini. “ Anni hyung, aku juga ingin minta maaf padamu, seharusnya aku tak menyulut emosimu pula. Akupun cukup kaget hyung berkata seperti itu padaku. “ kataku sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal, “ hahaha, ini pertama kalinya ya kita bertengkar seperti ini.” Kata Jinki hyung sambil tertawa mungkin mengingat pertengkaran tadi, akupun ikut tertawa bersamanya, tapi mataku melihat sesosok Yeoja yang mendekati kami yaitu Mingi, akupun berhenti tertawa “ Hyung, aku berangkat dulu. takut telat. Annyeong.“ pamitku  pada Jinki hyung yang sukses membuatnya terdiam dan melihat aneh padaku, “ Ah Ye, be careful.” Hanya itu jawaban yang kudengar darinya. Akupun pergi dengan setengah berlari agar aku tak berbicara dengan Mingi, malas sekali rasanya.

***

“ Ya! Taemin, lama sekali kau datangnya.” Teriak temanku yang bernama Minho, “ Ah, jeosonghamnida. Tadi ada sedikit insiden di rumah, jadinya aku telat.” Kataku memberi penjelasan padanya, diapun hanya mengangguk lalu mendekatiku, “ ku dengar kau mempunyai seorang noona ya?” Tanyanya lagi sambil berbisik, aku pun lalu mengernyitkan dahiku, “ dari mana dia tahu?” batinku, “Anni, aku tak punya. Wae?” Tanyaku balik, “ Waktu aku ke rumahmu kemarin, aku melihat seorang Yeoja cantik di sana sedang bermain dengan dongsaengmu. Saat ingin mendekatinya Jinki hyung datang menghampiriku.” Jawabnya panjang lebar, “ untuk apa kau ke rumahku kemarin?” Tanyaku penasaran kenapa dia kesana, ” tadi aku ingin meminjam catatanmu, tapi Jinki hyung bilang kau sedang mengantar Ummamu belanja  jadinya aku pulang saja dari pada menunggumu.” Jawabnya,” Taemin-ah, Minho-ya. Palliwa.” Kata temanku yang lain yaitu Kibum aka Key. “ Ne.” jawabku dan Minho.

***

Author POV

“Noona, kurasa Taemin hyung lupa membawa bekalnya.” Kata Jong In sambil menunjuk kotak bekal yang ada di atas meja pada Mingi, “Aigoo, kau benar Jong In. tunggu disini ya, noona akan antarkan dulu bekal ini, arra.” Kata Mingi sambil mengambil kotak bekal dan bergegas pergi, “Noona, gwenchanayo? Kurasa Taemin hyung masih terbawa emosi, aku takut nanti kalian bertengkar lagi.” Kata Jong In ragu, Mingipun hanya melihat Jong In dengan tatapan bingung, “bagaimana anak seumuran dia bisa berpikiran seperti itu?” batin Mingi tanpa melepas tatapannya dari Jong In, Mingi pun mendekat dan mengusap kepala Jong In lembut, “Anniyo Jong In-nie, hyungmu sudah tak marah lagi sekarang, dan kami tak akan bertengkar lagi. Kau ke kamar Jinki oppa saja ya, disana ada Sehun juga. Arrachi.” Kata Mingi agar membuat Jong In percaya, padahal diapun tahu bahwa Taemin  tak akan semudah itu bisa berbaikan dengannya.

***

“ rasanya sedikit sesak.” Batin Mingi sambil memegang dadanya, “jantungku terlalu cepat berdetak.” Tambahnya lagi, tapi dia berusaha tak merasakan itu dan terus berjalan ke arah sekolah Taemin, setelah lapangan basket itu ada dihadapannya, diapun mencari Taemin di antara banyak orang yang berada di lapangan basket itu. diapun berhasil menemukannya yang sedang istirahat, “Taemin-ah.” Teriak Mingi dengan sisa tenaganya, Taemin pun merasa seperti ada yang memanggilnya dan mencari orang itu dan diapun melihat Mingi, “cih, untuk apa dia disini.” BatinTaemin dan membuat moodnya buruk, Mingi pun berusaha mendekati Taemin, tapi kepalanya terasa berat dan jantungnya terus berpacu dengan cepatnya sampai ia tak bisa menahannya dan pingsan tak jauh dari Taemin.

***

Taemin POV

“cih, untuk apa dia kesini?” batinku saat dia mendekatiku, tapi sepertinya ada yang lain darinya, kenapa wajahnya pucat sekali, tapi apa peduliku padanya, kulihat dia yang berjalan sempoyongan berusaha mendekatiku, “memang ada yang aneh.” Gumamku pelan, dan dia pun pingsan tak jauh dari lapangan basket, “ OMO, siapa itu yang pingsan.” Teriak Key kaget melihat Mingi yang secara mendadak pingsan, PANIK itulah yang kurasakan sekarang, akupun berlari ke  arah Mingi pingsan, “Ya! Mingi-ssi, Ireona.” Kataku mengambil kepalanya dan menaruhnya di pangkuanku, “ Taemin-ah, apakah kau mengenalnya?” Tanya Key padaku, kulihat Minho dan yang lainnya mendekat semua padaku, “Ne, bisakah kalian tolong aku membawanya ke Rumah Sakit.” Jawabku dengan nada panik, merekapun langsung mengangguk dan membopong Mingi, “Pakai mobilku saja. Mobilku ada di depan lapangan, ikuti aku.” Kata Minho, lalu dia membuka pintu mobilnya, “ Tuhan, apa yang harus kulakukan pada Yeoja ini?” batinku saat melihat wajah Mingi yang sangat pucat yang berada di pagkuanku, “ Taemin, mian. Kau hanya di antar Minho saja, aku dan yang lain akan membereskan peralatan.” Kata key meminta maaf karena tak bisa ikut, “Gwenchanayo, Mianhaeyo, karena kejadian ini latihan kali ini tak berjalan lancar. Dan Gomapta.” Kataku meminta maaf dan berterima kasih pada semua, “Ne, sekarang bawalah dia ke klinik, Arrachi.” Kata Key, akupun hanya mengangguk.

***

“Mwo?” kataku setengah teriak pada dokter Kim yang ada dihadapanku, “Ne, dia menderita gagal jantung. Tetapi untuk saat ini itu tak terlalu parah, tapi kami akan berusaha mencari pendonor jantung untuk melakukan transfusi Jantung.” Jawab dokter Kim sambil menjelaskan semuanya padaku, “Mwo? Transfusi Jantung, tapi bukankah sulit mencari pendonor itu dok?” tanyaku pada dokter Kim, “Ne, tapi akan kami usahakan mendapatkan pendonor itu secepatnya dan langsung menghubungimu.” Jawab dokter Kim lagi, sekarang yang ad di otakku adalah bagaimana bisa Yeoja itu gagal jantung.

***

Ku tunggui dia yang masih tak sadarkan diri di ER, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku yang ternyata Minho, “Taemin-ah, Mianhae. Aku harus pulang, tadi aku mendapat telepon dari appaku untuk pulang sekarang. Jeongmal Mianhae.” Katanya merasa bersalah, “Anni, harusnya aku yang meminta maaf padamu karena telah merepotkanmu, Gomapta.” Kataku, diapun hanya mengangguk dan bergegas pergi.” Bagaimana ini, dia belum sadar juga. Pasti orang dirumah akan khawatir padanya karena belum pulang.” Batinku terus melihat wajahnya, kulihat dia mulai bergerak pertanda sadarkan diri, akupun langsung bangun dan melihatnya, “ehmmm.” Ringisnya, mungkin dia masih merasa kesakitan, “Gwenchanayo?” Tanyaku sambil memegang tangannya, memberitahu bahwa aku ada disini, “Ehm, Taemin-ah. Apa itu kau?” tanyanya lirih karena tenaganya belum terkumpul, “Ne, kau jangan banyak bergerak dulu.” Jawabku sambil memerintahnya agar tak banyak bergerak, “Aku ada dimana?” tanyanya saat kesadarannya terkumpul, “ Kau ada di ER, tadi kau pingsan tak lama setelah memanggilku.” Jawabku setengah iba padanya bila mengingat penyakitnya, “waegeure?” tanyanya penasaran padaku, “ dokter Kim mengatakan apa padamu?” tanyanya lagi makin penasaran, “ apa kau akhir-akhir ini sangat lelah?” tanyaku sambil mengambil air dan obat untuknya, diapun hanya mengangguk lemah, “Tadi dokter Kim bilang padaku kau jangan terlalu banyak melakukan pekerjaan berat, takutnya kau collaps seperti tadi di hadapan Jong In dan Sehun.” Jawabku lalu memberikan air minum padanya, “Gomawo, tapi pasti ada sesuatu yang kau sembunyikan Taemin-ah, aku bisa tahu itu.” Katanya lalu meminum airnya, akupun hanya menyeringai, “ apa kau bisa membaca pikiranku?” kataku tak percaya dia tahu aku menyembunyikan kenyataan pahit darinya, aku takut bila dia mengetahuinya dia bisa collaps lagi, “hahaha, aku mengenalmu tak sehari dua hari, tapi 7 tahun Taemin, meskipun kau tak menganggap aku ada, aku selalu melihat dan mengamati gerak gerikmu.” Jawabnya tertawa kecil, akupun hanya menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal. “kau tahu, baru kali ini kau bicara banyak padaku.” Katanya sambil berusaha duduk dan akupun langsung membantunya, “Apa yang kau lakukan Taemin babo? Bukankah kau membencinya.” Batinku sesaat setelah membantunya bangun, “oh.” Hanya kata itu yang ku ucapkan, karena perkataan itu benar adanya, “malhebwa.” Pintanya padaku, “Mwo?” tanyaku pura-pura tak tahu, “Ya! Taemin, kau tak bisa berbohong padaku, beritahu penyakitku apa.” Jawabnya dengan seringaian lemah, akupun tak tahu harus berbuat apa, “beritahu atau tidak padanya.” Batinku, “malhebwa.” Katanya lagi padaku, “kuberitahu dirumah saja, tapi kau ingat pesan dokter Kim agar tak terlalu lelah dan minum obatmu.” Kataku sambil menyerahkan obat yang tadi diberikan dokter Kim, “Ne, akan kupegang janjimu.” Jawabnya lalu mengambil obat itu dariku dan menyimpannya di tas, “sekarang kita pulang, aku merasa orang rumah khawatir karena kau tak berada di rumah jam segini.” Kataku mengajaknya pulang, diapun hanya mengangguk.

***

Mingi POV

“kurasa ada yang dia sembunyikan dariku.” Batinku saat memasuki kamarku, “Mingi-ah.” Panggil Umma memasuki kamarku, “Ne,” kataku menghampirinya, “Kau kemana saja? Umma khawatir saat Jong In bilang kau belum pulang sampai malam begini.” Kata Umma menyentuh pipiku lembut, “Mianhaeyo Umma, tadi aku mengantar bekal Taemin dan mampir ke rumah temanku, aku lupa membawa cellphoneku untuk mengabari Umma atau Jinki Oppa, lalu aku ke sekolah Taemin lagi barangkali dia masih latihan basket di sana, lalu kami pulang bersama. Mian telah membuat kalian khawatir.” Jawabku sambil memeluk Umma, diapun membelai rambutku dengan penuh kasih sayang, “ kau adalah Yeoja satu-satunya yang Umma punya, jadi Umma sangat mengkhawatirkanmu, bila ada apa-apa bilang pada Umma, Arraso.” Kata Umma yang terus membelai rambutku, akupun hanya mengangguk dan terus memeluk Umma.

***

Aku makin penasaran apa yang akan Taemin katakan padaku, tapi jam sudah menunjukkan pukul 11.00 pm, apakah dia sudah tidur? Akupun mengirimnya sms

To Taemin       : Chayo?

From Taemin   : Anni, waeyo? kau tak tidur?

To Taemin       : aku masih penasaran dengan penyakitku, malhebwa Jong in-ah.

From Taemin   : Shireo, Palli chayo.

To Taemin       :Aish, kau ini. Shireo

Akupun kesal karena Taemin tak mau memberitahuku, padahal aku tak bisa tidur karena sangat penasaran, “YA! PALLI CHAYO.” Teriak seseorang dari luar kamarku, “Seperti suara Taemin.”batinku, “SHIREO.” Balasku tak mau kalah, “KALAU KAU TAK MAU TIDUR, TAK AKAN PERNAH KUBERITAHU. NEO PALLI CHAYO. ARRACHI.”teriaknya kini, akupun tak bisa berkata apa-apa lagi selain menuruti perkataannya, “Aish, MINGI-AH BABO.” Teriakku sambil membekap mulutku di bantal agar tak terdengar oleh siapapun, “kenapa aku harus mempercayai bocah itu. Padahal aku  tahu dia tak pernah menepati janjinya.” Rutukku, dari pada aku terus menyesali kebodohanku mending aku berusaha memejamkan mataku.

***

Author POV

“ Jong In-ah, Sehun-ah. Ireona.” Kata Taemin sambil menggoyang-goyangkan pelan tubuh Jong In dan Sehun, “Ah, Taemin hyung, tumben kau bangun sepagi ini. Mana Mingi noona?” Tanya Sehun tetapi masih dalam posisi tidur dan memejamkan matanya, “dia masih tidur, palli ireona anak-anak malas.” Kata Taemin berusaha membangunkan mereka kembali, “siapa yang malas kami atau hyung.” Kali ini Jong In yang bersuara, “YA! NEO.” teriak Taemin dan langsung menggelitiki Jong In dan Sehun, merekapun bercanda bersama di pagi hari, “hahaha, Arraso hyung, berhenti menggelitiki kami.” Kata Jong In menyerah, “tapi kalian harus mandi setelah ini, arraso.” Kata Taemin berhenti menggelitiki mereka, mereka pun hanya mengangguk mengerti, dan pergi mandi. “ jangan sampai membuatnya terlalu lelah, kalau tidak semua akan tahu penyakitnya. Paling tidak aku membantunya.” Gumam Taemin lalu merapikan tempat tidur para dongsaengnya itu.

***

“Sehun-ah, Jong In-ah, hyung yang antar kalian ke sekolah.” Kata Taemin saat sarapan bersama, kata-kata itu sukses membuat semua yang mendengarnya hampir tersedak, “biar aku saja, kan itu sudah tugasku sekalian aku pergi ke sekolah.” Kata Mingi , “anni, aku yang akan mengantar mereka. Kau istirahat saja dirumah.” Kata Taemin tak mau kalah, “biarkan lah Mingi, memang Taemin yang memintanya. Kan jarang Taemin mau mengantar Jong In dan Sehun ke sekolah.” Kata Jinki yang fokus pada sarapannya, “Apa hyung tak salah minum obatkan?” Tanya Jong In yang membuat semua mata tertuju pada Jong In, “Ya! Memang kenapa bila hyung ingin mengantar kalian ke sekolah.” Kata Taemin sedikit teriak karena kesal, “mengapa bila aku berbuat baik selalu salah?” batin Taemin, “Anni, sudahlah lupakan hyung. Mianhanda.” Kata Jong In menunduk,  Taemin merasa kasihan melihat dongsaengnya seperti itu, “Aish, sudahlah hyung juga terlalu kasar padamu.” Kata Taemin lalu menyudahi sarapannya.

***

“Umma, ittekimasu.” Teriak Taemin saat hendak keluar rumah mengantar Jong In dan Sehun ke sekolah, begitupun dengannya, “Hai, itterassai.” Jawab Min ah Umma dari dalam rumah, “Hyung, bahasa apa tadi?” Tanya Sehun saat mereka berjalan bersama menuju sekolah, “itu bahasa jepang, ‘ittekimasu’ artinya aku berangkat, dan ‘itterassai’ artinya iya atau hati-hati di jalan untuk orang yang keluar dari rumah.” Jawab Taemin sambil menggandeng kedua tangan dongsaengnya, “nanti hyung yang akan menjemput kalian, jadi jangan mau ikut dengan orang lain selain hyung atau..” kata-kata Taemin terhenti, “susah sekali aku mengeluarkan kata-kata itu, “Noona? Ah ne arraso.” Kata Jong In meneruskan perkataan Taemin, “kau itu, masih kecil tapi pemikiranmu dewasa, belajar dari mana kau Jong In?” Tanya Taemin tak mengerti dengan jalan pemikiran Jong In yang lebih dewasa dari padanya, “tak ada yang mengajariku hyung, tapi kehidupanlah yang menunjukkannya padaku.” Jawab Jong In sambil terus melangkah tanpa melihat Taemin, Sehun hanya diam tak mau beradu argument karena kepalanya sangat pusing akibat kelakuan Taemin pagi ini, Taemin yang merasa adik bungsunya ini tak bersuara mulai khawatir, “Sehun-ah, gwenchanayo?” Tanya Taemin pada Sehun, “Ah ne hyung gwenchanaseo. Gokjeonghajima.” Jawab Sehun menoleh pada Taemin dan memberikan senyuman terbaiknya, Taemin pun merasa lega melihat Sehun sehat dan memberikan senyum terhangatnya.

***

“Taemin-ah, bagaimana keadaan noonamu?” Tanya Minho dan Key yang mendekati meja Taemin, “Gwenchana, tapi hari ini dia tak masuk sekolah. Aku melarangnya.” Jawab Taemin sambil menulis catatan pelajaran yang ia lewatkan, “ah, syukurlah. Kalau begitu, nanti sepulang sekolah kita berlatih lagi, arra.” Kata Key, Taemin pun langsung menengok ke arah Key dan memukul kepalanya dengan buku pelajarannya yang sedikit tebal, “YA! Appo.” Teriak Key tak terima, “bila memutuskan sesuatu itu harus sesuai dengan keadaan, Tanya dulu orang-orang baru bisa memberi keputusan.” Kata Taemin lalu duduk lagi dan kembali mencatat, “Memang kenapa? Biasanya kau setuju-setuju saja bila ada latihan dadakan begini.” Tanya Minho yang aneh melihat sikap Taemin kali ini, “ Aku akan menjemput para dongsaengku, jadi mungkin mustahil untuk saat ini bila pulang sekolah langsung latihan.” Jawab Taemin tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku, “Mwo? Lee Taemin. kau mengantar jemput dongsaengmu? DAEBAK.”Teriak Key kagum pada tingkah Taemin kali ini, “Ya! Squid Alien. Berhenti berteriak atau ku pukul lagi kau dengan buku ini,” kata Taemin sambil mengayunkan buku pelajaran yang tadi dipukulkan pada Key bersiap mendarat mulus di kepalanya lagi, “Ye, ye Arraseo. Mushroom boy.” Kata Key lalu duduk di bangkunya.

***

Taemin POV

“kuharap dia mau mengikuti kata-kataku.” Batinku saat berada di kantin, aku jadi teringat saat sms dengannya tadi pagi.

Flashback

To Mingi         : ingat, kau harus istirahat.

From Mingi     :Arraseo, tapi siapa yang akan menjeput Taemin dan Sehun kalau bukan aku?

To Mingi         : BABO, tentu saja aku. Nanti pulang sekolah aku akan menjemput mereka.

From Mingi     : gomawo sudah mengkhawatirkan aku, tapi kau harus tetap memberitahuku

To Mingi         : ARRASO!!! 😡

Flashback end

***

Mingi POV

“Apakah separah itu penyakitku hingga Taemin tak memberikan pekerjaan yang berat, bahkan hanya untuk membangunkan Para Dongsaeng kami tetap dia yang melakukan.” Batinku saat sedang berbaring dikamar, “Mingi-ah, apa kau di dalam?” Tanya Umma padaku, “Ne, Umma.” Jawabku, lalu kulihat Umma masuk kamarku dan mulai berjalan ke arahku, akupun bangkit dan duduk di tempat tidurku, “Gwenchanayo? Kenapa kau tak sekolah?” Tanya Umma yang terdengar sangat khawatir padaku, “ tadi pagi kepalaku sedikit pusing Umma, tapi sekarang sudah mendingan karena minum obat.” Jawabku sedikit bohong agar Umma tidak khawatir, dan di iringi senyum terbaikku, Ummapun mulai ikut tersenyum, “Umma sangat khawatir padamu dan Taemin. dia agak berubah pagi ini.” Kata Umma mengingat kejadian langka tadi pagi, “aku juga heran dengannya. Tumben sekali dia bisa bangun pagi serta mengurus Jong In dan Sehun. Jinki oppapun sampai tertegun melihat sikap Taemin.” timpalku, Umma pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, “ kuharap dia bisa seperti itu selamanya,dan berhenti berdebat terus denganmu ataupun Jinki, Umma takut dengan perkembangan psikologisnya bila dia seperti itu setiap hari, tapi sekarang Umma sedikit merasa lega dia menunjukkan sedikit perubahannya.” Kata Umma yang menerawang ke luar jendela, “Ya sudah. Kau jaga rumah ya, Umma berangkat kerja. Be careful honey, call me if you feel something wrong ok.” Kata Umma sambil mengacak-acak rambutku pelan, aku pun hanya mengangguk dan tersenyum saat Umma meninggalkan kamarku.

***

Author POV

“ Squid Alien, just call me if you want basket excersice today, Ok.” Kata Taemin sambil merapikkan bukunya, “Ne, Keunde where do you go now?” Tanya Key mendekati Taemin, “Aku harus menjemput dongsaeng-dongsaengku, aku khawatir mereka lama menungguku.” Jawab Taemin yang masih sibuk dengan buku-bukunya, “oh Ok, if we basket excersice today I will call you mushroom boy.” Kata Key ikut membereskan buku Taemin yang menurutnya sangat banyak itu, “Arigato Key-san, Ittekimasu.” Pamit Taemin lalu keluar dari kelas, “Hai, itterasai.” Jawab Key yang sedang membereskan barang-barangnya, “Key-ah, kita latihan sekarang?” Tanya Minho, Key pun hanya mengangguk, “Tapi kita latihan tanpa Taemin dulu, Arrachi.”kata Key yang ingat bahwa Taemin akan telat datang, “wae?” Tanya Minho bingung, Key pun hanya memutarkan bola matanya tak percaya bahwa sang idola basket sekolah ini Telminya sudah tingkat dewa(?), “ apa kau lupa? Taemin menjemput dulu dongsaengnya.” Jawab Key kesal, Minho pun hanya mengangguk dan tersenyum pada Key, tapi yang disenyumi hanya kesal dan jengkel dengan tingkah Minho.

***

“Hyung, kau sedikit telat.” Kata Sehun sambil memanyunkan bibirnya (#akhhh, kyeopta >_<..), “Mianhae, tadi hyung ada sedikit urusan.” Kata Taemin memberi penjelasan pada dongsaeng-dongsaengnya,n “Ne, hyung gwenchana. Keunde kami lapar karena saat istirahat siang tadi kami lupa bawa kotak bekal kami.” Kata Jong In sambil mengelus-ngelus perutnya yang lapar, “Ah Jeongmal. Arra, ayo kita makan di kedai depan ya.” Kata Taemin mengajak mereka untuk makan dulu sebelum pulang.

***

“hmm, hyung mashita. Gomawo.” Kata Jong In dan Sehun bersamaan, “ne, besok-besok kalian jangan sampai lupa dengan bekalnya arra.” Kata Taemin mengingatkan dan  di jawab anggukan oleh mereka berdua, “Kajja, hyung ada latihan basket, jadi setelah mengantar kalian hyung balik lagi ke sekolah.” Papar Taemin lalu menarik tangan Jong In dan Sehun, “Hyung, kami ikut saja ke sekolahmu, kan capek bila harus bolak balik seperti itu.” Saran Sehun, Taemin terlihat ragu dengan saran Sehun, “ gwenchana hyung, kami tak akan macam-macam, disana kami akan mengerjakan PR kami dan juga ingin melihat hyung latihan dan memberikan semangan padamu dan timmu.” Lanjut Jong In dengan semangat, “ah, Jinjja. Baiklah kalian ikut hyung, tapi bila kalian capek hyung akan telepon Jinki hyung untuk menjemput kalian. Arrachi.” Kata Taemin, Jong In dan Sehunpun mengangguk dan merekapun berbalik arah berjalan menuju sekolah Taemin.

To Mingi         : Jong In dan Sehun ikut denganku, mereka ingin melihatku latihan

From Mingi     : apa kau tak capek? Latihan sekaligus mengurus mereka?

To Mingi         :gwenchana, mereka juga bilang akan mengerjakan PRnya disana

From Mingi     : ya sudah tak apa, kabari aku terus

To Mingi         : ne, bilang pada Umma dan Jinki Hyung juga, supaya mereka tidak khawatir

From Mingi     : ne algesemnida

***

“hyung tadi belikan banana milk dan strawberry milk untuk kalian, jadi saat kalian haus disana minum saja ini.” Kata Taemin memberikan kantung berisi banana milk pada Jong In dan Sehun, mereka pun sangat senang dengan pemberian Taemin, “Taemin-ah, kau cepat sekali datangnya.” Teriak Minho di lapangan basket, “ne, aku kesini bersama dongsaeng-dongsaengku. Tak apa kan. Mereka ingin melihat dan menyemangati kita latihan.” Kata Taemin sambil menunjuk Jong In dan Sehun, “Ne, gwenchana. Bawa mereka kesini.” Kata Key yang menyiapkan tempat untuk mereka.

***

Taemin POV

“Hyung, Sehun ketiduran. Ottokhe?” Tanya Jong In padaku saat aku menghampiri mereka karena latihanku telah selesai pada jam 08.00 pm, akupun melihat Sehun yang tertidur sangat nyenyak, “gwenchana, nanti hyung akan menggendongnya. Ayo kita pulang juga.” Ajakku pada Jong In yang di jawabnya dengan anggukan, saat kami akan pergi tiba-tiba Minho memanggilku,“oh, Taemin. kau pulang bareng denganku saja. Kulihat  Jong In mulai ngantuk, dan rumahmu juga sedikit jauh dari sini, aku takut terjadi apa-apa pada kalian.” Katanya, waw dia sangat perhatian sekali padaku tak salah aku mempunyai teman seperti mereka, mereka ada di saat aku suka maupun duka, “Gomawo Minho-sii. Jong In ayo ucapkan terima kasih pada Minho hyung.” Kataku melihat ke arah Jong In, “Ne, Hyung gomapsemnida,” ucapnya sangat sopan, lalu kami berjalan menuju mobil Minho, akupun membaringkan Sehun di jok depan dan kursinya aku atur agar tidurnya tak terganggu, Jong In dan aku duduk di belakang, diapun membaringkan tubuhnya di kursi dan kepalanya ada di pangkuanku, “ Jong In kau tidur saja, hyung akan membawa mobilnya dengan pelan.” Kata Minho yang melihat  Jong In sangat mengantuk, “Ne hyung.” Jawab Jong In menurut lalu memejamkan matanya, “Minho-ya, gomawo.” Kataku padanya, aku jadi tak enak selalu merepotkannya, “ah, tak apa. Itu lah gunanya teman, bukan begitu.” Katanya dengan nada senang, “aku tak tahu harus membalas kebaikan kalian bagaimana. Kalian sudah banyak membantuku.” Ucapku sedikit sungkan, “yeeee (#kebiasaan Minho-INGET). Kenapa kau seperti ini, bukankah kami juga selalu merepotkanmu.” Katanya di iringi tertawa ringan, akupun ikut tertawa, “Gomawo semuanya.” Batinku sambil mengusap-usap kepala Jong In.

***

Sampai di rumah, Minho membantuku mengendong Sehun karena aku sendiri sibuk merapikan kami, lalu ku lihat Jinki hyung mendekat, “mana Jong In-nie?” tanyanya padaku, “oh Jong In masih tidur, hyung bisa bawakan tas kami, aku yang menggendong Jong In.” Pintaku, dan Jinki hyung pun mengangguk dan mengambil serta membawa tas kami, aku pun langsung menggendong Jong In dengan sangat hati-hati, lalu Minho keluar dari rumahku, “Sehun aku sudah baringkan di kamarnya, tak ada yang tertinggal lagi?” tanyanya padaku, “Anni, gomawo Minho-ya.” Ucapku padanya, diapun hanya mengangguk, “kau tak mampir dulu sekedar minum teh atau cola?” tanyaku karena dia berjalan menuju mobilnya, “Anni, aku harus pulang karena mobilnya akan dipakai Hyungku. Jaljayo Taemin -ah. Annyong.” Pamitnya padaku dan melajukan mobilnya, akupun masuk ke rumah dan membaringkan Jong In di kamar.

***

“mana Sehun dan Jong In?” Tanya Mingi saat aku hendak masuk kamar, “oh, mereka sudah dikamar, bisakah kau gantikan baju mereka, aku tak sempat karena ingin mandi dan mengerjakan PR ku.” Jawabku, diapun hanya mengangguk dan tersenyum padaku, “Bila ada soal yang sulit panggil saja aku, mungkin aku bisa membantumu.” Ucap Mingi sedikit ragu, akupun hanya mengangguk dan tersenyum padanya sebisa mungkin. “Yeoja yang sangat kurang beruntung.” Gumamku saat berendam di kamar mandiku, entah reaksi apa yang akan dia perlihatkan padaku seandainya dia tahu apa penyakitnya, sungguh menyedihkan.

***

Mingi POV

Tadi Taemin tersenyum padaku, apa karena dia sudah mau menerima keberadaanku di keluarga ini, setelah 7 tahun aku tak pernah dekat dengannya, sekarang sedikit demi sedikit aku bisa mendekatinya. “Sehun-nie, Jong In-nie, ireona. Ganti baju kalian dulu lalu tidur lagi.” Ucapku pad dua dongsaengku ini, “ehmmmm.” Erang Sehun yang merubah posisinya tetapi tetap terlelap, sedangkan Jong In tetap pada posisinya tak bergeming sedikitpun, “Ireona yorobun.” Ucapku sekarang sedikit keras, Sehun pun mulai membuka matanya begitu pula Jong In yang sedikt bergerak(?), “Noona waeyo?” Tanya Sehun yang bersusah payah bangun dari tidurnya, “mwo? Aku sudah di kamar, seingatku aku masih di lapangan basket bersama Jong In hyung dan Taemin hyung.” Kata Sehun setelah mengetahui dimana dia sekarang, “tadi Taemin dan Minho hyung yang membawa kalian pulang, cepat ganti baju, cuci muka, sikat gigi, dan cuci kaki lalu tidur lagi, arrachi.” Perintahku pada Sehun dan diapun hanya mengangguk dan pergi ke kamar mandi, akupun terus membangunkan Jong In yang baru kali ini susah sekali untuk dibangunkan, “Ah wae noona? Aku masih ngantuk?” Tanya Jong In yang matanya masih tertutup, “Ireona, ganti bajumu dan bersihkan badanmu lalu tidur lagi Jong In-ah.” Jawabku sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya, “ah, ne arraso.” Ucapnya beranjak dari tempat tidur dengan sangat malas ke kamar mandi, akupun menyiapkan baju tidur mereka dan kutaruh di atas tempat tidur, lalu akupun keluar dari kamar mereka.

***

“aku masih sangat penasaran dengan penyakitku.” Gumamku pelan, “ehm apakah Taemin sudah tidur?” tanyaku dalam hati saat melihat pintu kamarnya dihadapanku, “what are you doing here Mingi?” Tanya seseorang yang sukses membuatku terkejut dan itu sedikit menyesakkan jantungku, sebisa mungkin ku tahan agar tak terlihat bahwa jantungku sakit, “aigoo, oppa your so surprising me.” Kataku sambil memukul lengan orang itu pelan yang ternyata Jinki, “apa yang kau lakukan?” tanyanya lagi sedikit serius karena melihatku mencurigakan, “nothing, tadi aku dari kamar dongsaeng kita, lalu aku ingat bahwa Taemin belum makan malam jadi aku ingin menawarinya makan.” Jawabku senormal(?) mungkin karena aku merasa jantungku berdegup sangat kencang setelah kekagetan tadi, “oh, geure. tawari saja. Tadi aku habis dari kamarnya dan dia sedang mengerjakan PRnya, aku tidur duluan ya.” Papar Jinki dan pamit tidur duluan padaku, aku hanya mengangguk pelan, kulihat dia masuk ke kamarnya dan aku langsung menerobos masuk ke kamar Taemin, “Taemin-ah help me, it’s really hurt.” Gumamku yang mungkin masih bisa di dengarnya, “Aish, apa yang kau lakukan disini? Kau juga masuk tanpa permisi ke kamarku.” Kata Taemin  yang sedikit marah, “aku sedang tak ingin berdebat, cepat tolong aku, neumu apha.” Kataku dan terus merasakan detak jantungku yang cepat, “mwo? Dimana obatmu?” Tanya Taemin sedikit panik, “di kamarku, di wallet pintu kedua.”jelasku, dia langsung mengangguk dan pergi menuju kamarku, tak berapa lama diapun kembali, “cepat minum, aku tak mau kau pingsan di rumah. Palli.” Ucapnya sambil menyodorkan obat dan air minum padaku, aku langsung meminum obat itu, dan sedikit demi sedikit detak jantungku normal kembali, “what happen?”Tanya Taemin padaku, “tadi saat aku ingin mengetuk kamarmu Jinki Oppa datang tanpa sepengetahuanku dan aku kaget saat dia bertanya padaku, lalu detak jantungku menjadi tidak karuan dan terasa cepat sekali.” Jawabku mengingat kejadian tadi, “kau harus sering minum obat sebelum menemukan pendonornya.” Saran Taemin, “mwo? Pendonor? Apa maksudmu?” tanyaku bingung, Taemin pun hanya menarik nafas panjang dan membuangnya kasar, “Neo, jantungmu dalam masalah, masalah yang sangat besar.” Jawab Taemin mengalihkan perhatian pada PRnya, “mwo? Jantungku? Wae?” tanyaku lagi, “ kau kena gagal jantung, dan kata dokter Kim kau harus selalu minum obat agar kau tidak seperti tadi, sekarang dia sedang mencari pendonor jantung untukmu.” Jawab Taemin yang kini menatapku, “itu sebabnya aku yang menghandle pekerjaan mengurus para dongsaeng, karena aku tahu mereka bisa saja mengejutkanmu dan terjadilah hal seperti tadi bahkan mungkin bisa lebih.” Kata Taemin.

***

Author POV

Mingi pun kembali ke kamarnya dan mengulang kembali ucapan Taemin tentang penyakitnya, “Otthokaeyo?” gumam Mingi dan mulai menitikan air mata, Mingi hanya menangis dalam dia dan hanya terdengar isakannya sesekali, tanpa disadarinya Taemin berada di balik pintu kamarnya dan mendengar isakan Mingi, “what should I do?” Tanya Taemin dalam hati.

***

Meskipun ini hari minggu tetapi Taemin sudah bangun dan berpakaian sangat rapi, “Odiga?” Tanya Jinki saat memasuki kamar Taemin tanpa permisi, “oh kau hyung, aku harus pergi sebentar. Wae?” Tanya Taemin, “apa kau mendengar Mingi semalam menangis?” Tanya Jinki menatap Taemin, yang ditatapun hanya diam tak tahu harus menjawab apa “apa hyung berpikir aku yang menyebabkannya menangis?” kali ini Taemin membuka suaranya setelah 5 detik terdiam, Jinki pun hanya mengerutkan dahinya memflasback memorinya akan hari kemarin, “sepertinya kau tak bertengkar dengannya.” Kini Jinki yang membuka suaranya, “and then?” Tanya Taemin yang bersandar di sisi meja belajarnya, “entahlah, sesuatu pasti terjadi padanya.” Ucap Jinki yang masih mengerutkan dahinya, “berusahalah lebih keras hyung, nanti kau akan menemukan jawabannya, aku pergi dulu, dan tolong bilang pada Umma aku keluar ya hyung. Bye.” Kata Taemin meninggalkan Jinki yang masih mencerna perkataan Taemin.

***

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

8 thoughts on “Napeun Namdongsaeng [1.2]”

  1. Waa?? Mingi kenapa lagi?

    Taem berubah drastis .-.

    Sebenarnya ceritanya bagus. Tapi alurnya agak cepet dan paragrafnya nyaris ga ada. Tapi aku suka kok bikin penasaran ceritanya 😀

    ditunggu lanjutannya yaa 😉

  2. Author banyak typho dibagian nama cast, nanti JongIn yang seharusnya TaeMin
    Ada juga typho beberapa huruf Jaljayo bukan cha
    Lanjutin author FF nya, apa yang akan TaeMin lakukan, Dia tidak mendonorkan jantungnyakan buat noonanya.
    Lanjutin author (งˆ▽ˆ)ง semangat (งˆ▽ˆ)ง

  3. Masih nggak ngerti, kenapa Taemin kayaknya musuh banget sama Mingi.

    Bener kata komen di atas. Ini paragrafnya mepet-mepet. Selain itu untuk kaimat percakapan, di akhir kalimat sebelum tanda petik dua seharusnya menggunakan tanda koma, bukan tanda titik.
    Misal: “hyung tadi belikan banana milk dan strawberry milk untuk kalian, jadi saat kalian haus disana minum saja ini.” Kata Taemin memberikan kantung berisi banana milk pada Jong In dan Sehun… dst.
    Mungkin akan lebih tepat: “Hyung tadi belikan banana milk dan strawberry milk untuk kalian. Jadi saat kalian haus di sana, minum saja ini,” kata Taemin memberikan kantung berisi banana milk pada Jong In dan Sehun… dst.

    Aku sangat suka genre family cerita sedih. Cuma ini alurnya agak kecepetan. Tapi tetap penasaran sama gimana nasib Mingi dengan penyakitnya.

    Nice story. ^^

  4. makasih ya semua yang udah baca FF ini..
    aku juga sependapat banyak typo soalnya waktu bikin itu sbnernya main castnya Kai cuman aku pikir lagi mungkin lebih seru kalo Taemin yang jd, trus aku ubah seudah pulang kuliah pas malem jadi begitu deh hasilnya..
    dan buat paragrafnya yang mepet itu juga emng keslahan aku yg bru2 kirim ke SF3I..Mianhae (^/\^)..

    tapi seneng kalian suka ma alurnya…
    terus ikutin ampe akhir ya..
    salam Min_nki

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s