Unpredictable Life with Jinki – Part 1

Unpredictable Life with Jinki part 1

 

Author: Lee mincha

Main cast: hyejin, lee jinki, hana and choi minho

Support cast: lee taemin, hyejin’s parents, nayeong dll

Length: sequel

Genre: romantic and fullsadness

Rating: general

Sebelumnya terimakasih buat readers yang udah baca dan memberikan komen untuk semua ffku sebelumnya. Terutama yang “my love like with you lee taemin dan sequelnya” g nyangka ternyata ff itu di post kekekekekekeeke #bow buat admin

Kalau diliat-liat author memang lebih cocok bikin ff sedih. Karena setelah author membaca kembali semua ff yang pernah author tulis, kecuali ff sedih-sedih , author merasa alay -_-

Maafkan atas kealayan author#bow

Ide ff ini muncul waktu nonton ulang SWC1 di jepang bagian yang SHINee nyanyi one. Waktu itu key sama onew oppa sempat nangis dan bikin author ikut mewek. Kemudian munculah ide membuat ff ini #g nyambung

Kalau kalian mau baca ff ini, disarankan sambil dengerin SHINee_one apalagi pas bagian sedih-sedih.

Sekali lagi gumawo buat admin yang mau mempost ff ini #bow

 

Hyejin pov

Aku memandang nanar jalanan dihadapanku, jalanan yang begitu ramai meskipun malam sudah semakin larut. jalanan yang tidak pernah sepi meski terangnya siang dan gelapnya malam telah berganti. Jalanan yang melambangkan keangkuhan dan keeogisan orang-orang yang melewatinya. Mereka-mereka yang terlalu sibuk memikirkan dunia yang bahkan tidak jelas akan akhirnya. Keramaian yang setiap hari aku saksikan, kegaduhan yang setiap waktu aku dengarkan,tapi tak pernah sanggup membuatku merasa tak sendiri dan tetap terjebak dalam sepi berkepanjangan. Apakah orang-orang itu pernah tahu bahwa di sini ada seseorang yang sedang dilanda sepi?, tidak ada teman untuk berbagi, tidak tahu kemana harus pergi dan tidak mengerti akan nanti. Hidup hanya untuk hari ini tanpa peduli besok yang akan tetap datang menghampiri.

Aku masih sibuk memandangi kerlap-kerlip lampu yang menyinari hampir seluruh sisi tempat ini, terlihat begitu indah dan menawan. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa bahagia dan terhibur dengan kerlipan warna-warninya. Namun aku tidak pernah suka semua cahaya itu, menghalangiku untuk dapat melihat keindahan cahaya bintang di gelapnya langit malam. Aku duduk sendiri, memikirkan nasibku, mengingat hidupku agar tak ada secuil serpihan kepedihan lenyap dari ingatanku.

Flash back

2006

Aku sibuk menempelkan hasil karya lukisanku di dinding asrama panti asuhan ini, dinding yang sudah sangat penuh oleh semua hasil karyaku yang selalu aku letakkan di sana agar aku bisa tahu aku pernah menggambar apa-apa saja dan tidak menggambarnya kembali. Aku tidak pernah menggambar hal yang sama meski hanya dua kali, entahlah aku sangat tidak menyukainya.

Hana: hyejin, sampai kapan kau akan menempel semua ini? kau membuat kamar kita seperti tempat pengungsian.

Aku melihat wajah teman sekamarku yang sangat imut itu menjadi lebih manis karena sekarang ia sedang marah padaku. aneh memang karena aku menyukai ekpresi marahnya itu. aku sudah sekamar dengan hana semenjak kami dipisahkan dari ruangan anak-anak yang mana dalam satu kamar terdiri hingga 10 orang, kamar yang sangat besar namun kau harus berbagi segala hal. kami dipindahkan ke asrama karena usia kami sudah tidak memungkinkan lagi untuk diperlakukan seperti anak kecil. Kamar kami tidaklah besar, hanya muat sebuah kasur bertingkat dan sebuah lemari yang kami miliki berdua. Meskipun kamar ini sangat dan amat kecil,aku menyukai tempat ini, disinilah aku dan hana melepaskan lelah dari segala aktivitas hari-hari kami, di sinilah aku menangis jika ibu panti asuhan memarahiku, di sinilah aku dan hana bercerita tentang cita-cita kami di masa depan, harapan kami dan semua hal yang akan kami lakukan saat telah dewasa nanti.

Hana, gadis itu sangat menyukai segala hal yang berhubungan dengan biologi, dia bilang biologi itu sangat menyenangkan dan suatu saat nanti ia ingin menjadi seorang dokter. Ia ingin membantu anak-anak seperti kami, yang dipandang sebelah mata dan mendapat perlakuan tidak menyenangakan dari semua orang. Ia ingin, jika kami sakit kami tidak perlu menunggu 2 hari agar bisa mendapatkan pengobatan gratis dari pihak yayasan. Ia ingin semua orang yang sakit bisa sembuh tidak seperti sahabatnya clara. Masih teringat jelas kenangan pahit itu di ingatanku, saat itu clara demam tinggi dan wajahnya begitu pucat, pengurus panti sudah berusaha meminta bantuan rumah sakit agar mau merawatnya dulu baru kemudian biayanya akan diganti oleh pihak yayasan, namun rumah sakit menolak dengan berdalih pengobatan harus dibayar terlebih dahulu barulah kemudian pasien dapat ditangani. Kondisi clara terus memburuk padahal ia masih harus menunggu hingga lusa, kami semua dan pengelola berusaha sekuat tenaga membantu clara, tidak ada satupun yang tahu penyakitnya. Hingga akhirnya keesokan harinya clara menghembuskan nafas terakhirnya di panti asuhan ini, ternyata setelah diperiksa ia menderita usus buntu dan telah mengalami infeksi. Sejak saat itu hana begitu terpukul dan tidak bisa memaafkan orang-orang yang telah membuat sahabatnya pergi untuk selama-lamanya. Ia bertekad untuk menjadi seorang dokter agar tak ada clara-clara lainnya yang harus meninggal karena kemiskinan.

Aku sangat menyukai hana, ia sangat manis dan memiliki sisi yang sangat feminine berbeda sekali denganku. Kami selalu bertengkar untuk hal yang tidak penting dan kemudian berbaikan kembali. Pertengkaran-pertengkaran bodoh kamilah yang membuat hubungan kami sangat dekat meski kami tak ada hubungan darah sedikitpun. Persahabatan dan persaudaraan kami tidak bisa digantikan oleh apapun, setiap waktu yang kami lewati, setiap detik kebahagiaan, setiap menit kepedihan kami hadapi bersama. Ia tidak pernah marah padaku walau apapun yang aku lakukan, ia hanya akan menangis kemudian membuatku sangat menyesal. Ia sangat halus dan begitu pengertian. Aku yakin orang tuanya dulu adalah orang yang baik sama seperti dia.

Kami adalah manusia yang tidak dikehendaki kehadirannya, kami adalah anak-anak yang menjadi kambing hitam atas kesalahan orang tua kami, kami adalah hal terburuk yang mungkin pernah orangtua kami miliki, dan kami adalah hal terjijik sehingga orang tua kami tega membuang kami hanya karena kesalahan yang bahkan belum kumengerti. Bagi mereka, kami adalah kesalah terbesar. Seandainya mereka juga tahu yang kami rasakan, hidup dibully, mengharapkan uluruan tangan orang lain, tidak mendapatkan kasih sayang, tidak pernah merasakan apa itu sebenarnya sebuah keluarga dengan seorang ayah dan ibu serta saudara. Seandainya mereka tahu, kami tidak pernah meminta untuk dilahirkan ke dunia ini jika hanya membuat penderitaan.

Aku dan hana sekolah di tempat yang sama meski hana lebih tua dariku satu tahun. Kami duduk bersama, tidak ada yang mau berteman dengan kami karena kami tidak punya orang tua, seperti itulah yang sering aku dengar. Tapi aku tidak peduli.

hana: kau menggambar lagi?

hyejin: ne, aku  menggambar dirimu.

Hana: jeongmal? Bisakah kau gambar aku dengan hidung yang lebih mancung dan mata yang lebih besar?

Hyejin: enak saja, memangnya aku dokter bedah plastic?

Hana: cih… pelit sekali…

Hana yang tadinya duduk di sebelahku berdiri dan tanpa sengaja menyenggol seorang yeoja bernama park ha dan menumpahkan minuman yang ia pegang.

Park ha: kau tidak punya mata?

Hana: mianhae park ha, aku tidak sengaja…

Park ha: kau tidak lihat sweaterku jadi rusak?

Hana; mianhae..

Hana mulai membersihkan sweater tersebut

Park ha: jangan sentuh aku, kau menjijikkan dasar anak haram!

Hana yang awalnya hanya menunduk mengangkat wajahnya menatap garang park ha.

Hana: aku bukan anak haram!

Park ha: kalau begitu kau apa? Anak yang dibuang? Kekekekekekekekeke

Park ha tertawa licik dihadapan hana, aku yang sedari tadi hanya diam mulai kehabisan sisa kesabaranku.

Plaaaakkkk…

Kutampar wajah angkuh gadis tersebut membuat terkejut seisi ruangan ini.

Hyejin: kami memang tidak diharapkan, tapi kami tidak pernah melakukan kejahatan dan kami bersyukur  tidak mengetahui orang tua kami. Dari pada kalian, hidup dengan orang tua yang bahkan tidak peduli dengan apa yang anak-anaknya lakukan, mencuri uang Negara dan menghambur-hamburkannya. Cih… hidup macam apa itu?

Plak

Kurasakan tamparan dipipiku, bukan park ha yang menamparku melainkan temannya

Park ha: beraninya kau menghinaku!!!!!!!!!!

Kemudian aku rasakan semua orang itu mendekati kami dan mulai menarik rambut dan memukulku. Aku melihat hana yang bersembunyi di bawah meja karena ketakutan, sementara aku, mereka sibuk menghajarku habis-habisan membuat mataku berkunang-kunang dan dapat kurasakan aliran darah disudut bibir dan keningku.

***************

Aku berjalan gontai dari ruangan kepala sekolah, mereka menghukumku karena aku dituduh melakukan kekerasan. Cih… mentang-mentang mereka memiliki segalanya juga bisa melakukan segalanya, menyalahkan orang-orang atas kesalahan mereka sendiri. Manusia macam apa mereka? Bisa dengan mudahnya memutar balikkan fakta. Kenapa uang dan kedudukan begitu berkuasa? Padahal mereka mendapatkannya dengan cara yang kotor. Aku benci mereka,sangat membencinya, mereka selalu menghina, mencaciku karena hidupku yang malang. Apakah mereka pernah tahu? Aku juga tidak menginginkan hidup yang seperti ini.

Aku melihat hana berdiri di ujung lorong sekolah dengan wajah yang pucat, aku tahu ia sangat mengkhawatirkanku. Seulas senyuman mengambang diwajahku, ternyata masih ada orang yang peduli padaku, berteman karena keikhlasan tidak mengharapkan apapun dariku.

Ia menghampiriku dan bisa kubaca diwajahnya ia begitu khawatir.

Hana: caeritakan padaku…

Hyejin: aku di skors selama satu minggu. Akhirnya aku bisa libur panjang kekekekekekeke

Hana: YA! babo!

Hyejin: appo….

Aku meringis karena ia memukul kepalaku.

Kami kembali ke asrama dan menceritakan semuanya kepada penjaga panti, awalnya mereka memarahiku tapi beruntung hana berhasil meyakinkan mereka bahwa aku tidak bersalah.

Setibanya di kamar ia sibuk mengobati luka-luka di tubuhku terutama diwajahku, ia menangis meskipun ia terus berusaha menyembunyikannya.

Hana: mianhae. Ini semua salahku.

Hyejin: ini bukan salahmu, kita hanya tidak beruntung saja hari ini.

Hana: apa pernah kita beruntung? Kita adalah kesialan, bagaimana bisa keberuntungan datang menghampiri kita?

Hyejin: jangan bicara seperti itu, mungkin saja suatu saat nanti nasib kita akan berubah.

Hana: hyejin, jika sudah dewasa nanti, berjanjilah kita akan berjumpa lagi.

Hyejin: kau ini, tentu saja, bukankah kita akan bersama selamanya? Kita akan menggapai cita-cita kita bersama.

Hana: hyejina…

Hyejin: wae???

Hana: kemarin ada sepasang suami istri datang ke panti asuhan kita, mereka bilang ingin mengadopsiku. Mereka bilang aku sangat pintar dan mereka berjanji akan menyekolahkanku hingga aku menjadi dokter.

Hyejin: jeongmal? Huaaa kau beruntung sekali.

Hana: tapi, ia hanya akan mengadopsiku. Aku sudah minta agar mereka juga membawamu namun mereka bilang mereka hanya menginginkan seorang anak. Hyejina… ottokhae???

Aku diam, bisa kulihat airmatanya mengalir deras. Apa yang harus aku lakukan? Haruskan aku melepaskannya? Akan sangat jahat jika aku terus menahannya. Hana sudah menunggu sekian lama dan terus berusaha keras agar semua cita-citanya tercapai. Tapi aku tidak punya siapapun lagi selain hana, sama seperti namanya “hana” “satu” hanya satu dia yang aku miliki.

Aku naik ke kasur di atas tempat aku biasa tidur membiarkan hana yang masih terdiam di kasur miliknya. Aku menutupi seluruh tubuhku dengan selimut dan kurasakan air mata mulai membasahi pipiku. Aku berusaha menahan tangisku agar hana tidak mengetahuinya,berharap ia tidak mengkhawatirkanku.

Keesokan harinya saat aku terbangun aku merasa perih di mataku, bagaimana tidak, hampir semalaman kuhabiskan untuk menangis. Aku lihat kasur hana telah kosong, sepertinya ia sudah pergi ke sekolah. Aku duduk di meja belajarku, mengambil gambar hana yang belum aku selesaikan. Aku memandangi gambar itu dan kemudian melanjutkannya.

********************************

Hyejin: kau sudah pulang?Hana: hm…

Dia hanya mengangguk.

Hana: hyejin, aku sudah memutuskan untuk menolak diadposi.

Hyejin: wae?

Hana: aku ingin terus bersamamu.

Hyejin: tidak, kau harus tetap ikut dengan mereka. Kau tahu? Ini kesempatan besar untukmu. Kau bisa meraih cita-citamu hana.

Hana: lalu bagaimana denganmu? Aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian. Kita juga tidak bisa bertemu lagi. kau tahu sendirikan anak yang telah diadopsi dilarang datang ke panti asuhan.

Hyejin: kita bisa saling mengirimkan surat, bukankah kau di daegu? Itu tidak terlalu jauh, suratku akan sampai padamu sesering mungkin.

Hana: berjanjilah kau akan terus mengirimkan surat untukku dan menceritakan semuanya.

Hyejin: aku janji…

**

Aku membantu hana mengemasi barang-barangnya, sore ini ia akan dijemput oleh orang tua barunya. Betapa beruntungnya hana bisa diadopsi oleh mereka. Aku mengambil gambar hana yang semalam aku selesaikan.

Hyejin: igo…

Hana: omo,,,, ini aku? aigo yeppo

Hyejin: mian aku tidak memancungkan hidungmu dan membesarkan matamu. Aku tidak ahli dengan itu.

Hana: anyio… ini sudah sangat bagus.

Hyeiin; simpanlah foto ini, jika suatu saat nanti kita bertemu perlihatkan foto ini padaku agar aku bisa mengenalmu lagi.

Kemudian hana mengeluarkan sebuah foto, foto semua penghuni asrama kemudian ia menggunting bagian aku dan dirinya.

Hana: aku mencurinya dari figura yang terpajang di kantor panti, jangan sampai ketahuan ara? Simpanlah foto ini dan perlihatkan juga nanti padaku.

Aku memeluk hana, air mata yang sedari  tadi bersusah payah aku tahan meledak begitu saja. Kami menangis, menangis untuk perpisahan kami. Perpisahan yang akan memberi jarak antara aku dan hana, perpisahan yang akan membuat aku sangat merindukannya.

Hyejin: hana…. Berjanjilah padaku untuk selalu mengirim surat. Dan satu hal lagi… jangan lupakan aku.

Hana: kau fikir aku bisa melupakanmu? Aku tidak punya saudara selain dirimu, bagaimana bisa aku melupakanmu?

Hyejin: jika nanti kau telah sukses, jangan lupa untuk membantu orang-orang seperti kita.

Hana: aku janji.

Saat itulah terakhir kalinya aku melihat hana. Sejak saat itu kami rutin saling mengirim surat. Ia menceritakan semua kebahagiaannya padaku dan betapa ia sangat merindukanku. Pernah ia bilang akan mencoba menemuiku tapi aku melarangnya, aku tidak mau ia berubah fikiran dan kembali ke panti asuhan ini hanya karena melihat aku yang menderita.

Aku menderita, tentu saja aku sangat menderita, sekarang aku hanya sendiri di kamar ini, tidak ada lagi hana yang memarahiku karena aku terus menempelkan hasil karyaku di dinding, tidak ada lagi hana yang mengobati lukaku saat aku di bully, tidak ada lagi hana yang selalu menemani hari-hariku dengan tawa dan pertengkaran kami. Aku sangat merindukan hana, aku selalu berdoa untuknya agar hidupnya selalu bahagaia seperti sekarang yang selalu ia sampaikan lewat suratnya padaku.

*****************

2009

Aku memandangi kamar asramaku lekat, memandangi semua hasil karyaku yang ada di dinding untuk terakhir kalinya. Aku akan sangat merindukan tempat ini. hari ini aku akan diadopsi oleh sebuah keluarga yang kukenal bernama keluarga Lee, nyonya lee tidak bisa memiliki anak karena ia baru saja melakukan operasi pengangkatan rahim. Mereka mengadopsiku karena aku mirip dengan putri mereka yang meninggal saat baru saja dilahirkan ke dunia. Aku senang karena akhirnya aku memiliki orang tua dan sebuah marga di depan namaku, “lee Hyejin” manis sekali. Aku tersenyum-senyum sendiri mengingat hal tersebut.  Aku menutup pintu kamarku, semoga orang yang akan menempati kamar ini bisa beruntung seperti aku dan hana. Akhirnya setelah sekian lama kami hidup dalam kesialan keberuntungan itu datang menghampiri.

To my dear hana

Hana. Mulai besok aku akan mengirimkan surat padamu dari alamat yang berbeda. Kau tahu kenapa? Karena aku sudah diadopsi oleh sebuah keluarga, akhirnya setelah menunggu cukup lama aku juga mendapatkannya. Aku fikir tidak akan ada lagi keluarga yang akan mengadopsiku, kau tahu sendirikan, sekarang usiaku sudah 16 tahun, sangat jarang ada yang mau mengadopsi anak yang sudah besar seperti ini. mereka mengadopsiku karena aku mirip dengan anak mereka yang meninggal dunia, selain itu karena aku sudah besar, mereka tidak terlalu repot mengurusku. Calon ibuku sangat kesepian di rumah, ia ingin aku menemaninya dan menghabiskan waktu dengannya. Karena itulah ia sengaja mengadopsiku karena aku sudah cukup besar untuk melakukan hal-hal menyenangkan dengannya.

Hana, aku sudah tidak kim hyejin lagi melainkan “lee hyejin” mungkin akan sedikit aneh karena margaku berubah,  tapi tak apalah aku juga sangat menyukainya.

Hana, semoga kita bisa bertemu, aku sangat merindukanmu

                                                                                   

Your dear bestfriend

Hyejin

*********************

Aku mendapatkan kamar yang sangat besar, tapi orangtuaku bilang ini biasa saja. Aku bahagia akhirnya bisa memiliki kamar sendiri.

“Oemma” “appa” kata yang selama ini tidak pernah ada di kamusku akan menjadi hal yang akan selalu aku ucapkan mulai sekarang. agak aneh memang tapi aku akan berusaha,

Oemma: hyejina… hari ini kita akan pergi ke acara keluarga besar Lee.

Kemudian oemma menyerahkan sebuah gaun kuning yang sangat indah padaku

Oemma: pakailah gaun ini, kau pasti akan terlihat sangat cantik.

Aku terpesona memandangi gaun tersebut, indah sangat indah berbeda sekali dengan baju-baju lusuh milikku. Aku memakai gaun tersebut kemudian oemma memasangkan sebuah pita kecil di rambutku, ia membelai sayang rambutku, tanpa aku sadari air mataku menetes.

Oemma: kau menangis? Waeo?

Hyejin: aku tidak pernah memiliki orang tua dan tidak pernah tahu siapa orang tuaku. Aku tidak pernah dimanjakan seperti ini. gumawo oemma…

Aku memeluk yeoja paruh baya ini dan menangis sesegukan di pelukannya.

Ia hanya diam terus mengelus punggungku lembut hingga aku benar-benar selesai menangis.

Oemma: kaja, nanti kita terlambat.

Kami pergi menaiki sebuah mobil mewah milik appa, appa dan oemma duduk di depan sementara aku duduk di belakang. Selama perjalanan aku sibuk memperhatikan jalanan kota seoul yang ramai. Sampai akhirnya kami berada di sebuah gedung.

Hyejin: oemma ini di mana?

Oemma: ini rumah nenek…

Hyejin: NE????

Aku terkejut, bagaimana bisa tempat sebesar ini disebut rumah, anyia ini bukan rumah tapi istana. Eomma menggenggam lembut tanganku membimbingku memasuki rumah tersebut sampai akhirnya kami memasuki sebuah ruangan dimana sudah berkumpul semua anggota keluarga lee. Aku melihat seorang wanita tua yang aku yakini adalah nenek, dan kemudian beberapa namja dan yeoja yang duduk berpasangan yang aku yakini adalah pasangan suami istri yang merupakan anak dari nenek, dan kulihat dideretan terujun beberapan namja yang lebih besar dariku yang aku yakini adalah anak dari orang-orang ini. satu hal yang aku sadari, tidak ada yeoja dideretan mereka. Semua mata tertuju padaku, bagaimana tidak, aku pasti orang asing bagi mereka.

Aku duduk di sebelah seorang namja bermata sipit yang usianya lebih tua dariku beberapa tahun, mungkin ia sudah taman high school atau sedang kuliah. Ia tersenyum manis menyapaku, aigoo manis sekali.

Nenek: kau sangat cantik, sama seperti yang jinra ceritakan.

Aku hanya mengangguk malu mendapat pujian dari nenek dan beberapa kerabat yang juga ikut memujiku.

Nenek: mulai hari ini kau adalah bagian dari keluarga ini. kita semua adalah keluarga, meskipun ditubuhmu dan ditubuh kami tidak mengalir darah yang sama, tapi kau tetap bagian dari keluarga ini. jangan berfikir kau akan diperlakukan berbeda hanya karena kau tidak keturunan dari keluarga ini. mulai hari ini biasakanlah dirimu dengan orang-orang ini, mereka semua yang akan menjadi tempat kau mengadu hingga tua nanti.

Aku hanya menganggup tak sanggup berkata apapun, kebahagiaanku saat ini begitu besar, tak tahu kata apa yang cukup untuk  melukiskannya. Aku tak bisa menahan bibirku untuk terus tersenyum dan hatiku untuk terus bersyukur terhadap semua yang telah kumiliku saat ini. semua hal yang bahkan tak pernah terlintas dalam fikiranku, semua hal yang jauh diatas harapan kecilku.

******************

Hari ini oemma mengantarkanku ke sekolah yang baru, sekolah yang begitu besar dan sangat indah. Aku sempat bertanya bagaimana bisa ada sekolah sebesar ini, kemudian oemma menjelaskan bahwa sekolah ini terdiri dari 3 tingkatan, junior highschool, senior high school dan collage. Pantas saja sekolah ini begitu besar, jika aku berkeliling aku yakin akan menghabiskan waktu berjam-jam. Oemma mengantarkanku hingga ke depan ruangan kelas, hari ini aku resmi menjadi siswa kelas X di sini.

Oemma: semoga harimu di sekolah menyenangkan.

Hyejin: ne oemma, semoga harimu juga menyenangkan.

Cup…

Ia mengecup puncak kepalaku dengan sayang. Demi apapun aku ingin menangis, ini semua seperti mimpi, aku yakin bahkan seorang ibu kandungpun tak semuanya seperti ini.

Aku melambaikan tanganku pada oemma kemudian mengikuti seongsenimku memasuki ruangan kelas. Saat aku baru saja melewati pintu ruangan itu semua mata terutuju padaku, tatapan penuh tanda Tanya. Bagaimana tidak, semua  murid baru seharusnya sudah memulai sekolah sejak kemarin, sedangkan aku baru masuk sekarang dan datang terlambat -_- betapa aku sangat payah.

Aku memperkenalkan diriku lalau kemudian duduk di bangku kosong yang terletak dibelakang. Aku duduk dengan seorang yeoja berkacamata yang sangat manis, ia menyapaku dengan ramah dan memperkenalkan dirinya. Namanya Lee nayeong dan ia berasal dari junior high school di sini juga. Ia bilang hampir semua siswa di sini berasal dari junior high school di sini makanya mereka heran saat melihat wajah baru sepertiku. Kami hanya mengobrol sepanjang jam pelajaran, sebenarnya tidak ada pelajaran. Sekolah baru saja dimulai dan para guru masih membiarkan para siswa melepaskan rasa rindu mereka dan saling bercerita.

Aku sangat menyukai nayeong, ia sedikit berbeda dengan hana, jika hana sangat lembut dan feminine, neyeong adalah seorang yeoja yang blak-blakan dan sedikit tomboy. Ia bahkan juga mengenalkanku pada semua sisiwa di kelas ini meskipun mereka menanggapiku malas. Nayeong bilang, orang-orang di sini hanya berteman dengan sesama kolega keluarganya, orang-orang kaya, dan orang-orang terpandang saja. Mereka mungkin tidak mengenalku dan menganggapku tidak penting makanya mereka mengabaikanku.

Saat jam istirahat berlangsung aku dan nayeong pergi ke café sekolah yang sangat mewah, bahkan ini lebih pantas di sebut restoran. Seperti inikah kehidupan orang-orang kaya? Pantas saja mereka sangat gigih mencari uang.  Kami duduk di tengah café karena hanya di sana tempat kosong yang tersisa.  aku dan nayeong sibuk dengan acara mengobrol kami sampai akhirnya kurasakan beberapa orang menghampiriku dan duduk di meja yang sama dengan aku dan nayeong. Aku bisa melihat ekspresi heran nayeong yang berlebihan.

Taemin: bagaimana hari pertamamu di sekolah? Menyenangkan?

Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaan taemin oppa.

Jinki: apakah ini teman barumu?

Hyejin: ne. namanya Lee nayeong.

Nayeong memperkenalkan dirinya dengan terbata-bata ia terlihat gugup. Well, sebenarnya tidak salah jika nayeong seperti itu, lihatlah betapa mempesonanya jinki oppa dengan senyuman dan mata bulan sabitnya, belum lagi taemin oppa yang begitu tanpam, dan minho oppa yang sangat karismatik.

aku mulai merasa tidak nyaman karena semua orang menatapku dengan tatapan seolah ingin memakanku.

Hyejin: oppa.. kenapa mereka melihatku seperti itu?

Jinki: karena kau murid baru…

Jinki oppa mengusap lembut kepalaku, aku merasakan pipiku memanas. Aku tidak tahu perasaan semacam apa ini, apa karena aku tidak pernah diperlakukan baik oleh namja? Molla…

********

Aku berjalan pelan keluar kelas,sementara nayeong sudah lenyap dari pandanganku, aku rasa ia sudah pulang. Saat aku baru saja mencapai pintu aku merasa ada yang menarikku lagi kedalam dan mendorong tubuhku kedinding dengan kasar, bisa kurasakan sakit dipunggungku yang terhempas.

Hyejin: apa yang kalian lakukan?

Meskipun aku baru hari ini memasuki kelas ini, aku sudah bisa mengenali siapa-siapa saja orang yang menjadi anggota kelasku, dan orang –orang ini tidak semuanya dari kelasku, hanya dua dan selebihnya sepertinya berasal dari tingkat yang berbeda dariku. Mereka mungkin seniorku yang sudah duduk di bangku universitas karena mereka tidak memakai seragam seperti halnya diriku. Tapi ada beberapa yang aku tahu berada di tingkat dua dan tiga. Mereka cukup ramai, kira-kira sepuluh orang.

Senior 1: kau masih bertanya apa yang aku lakukan? kau masih murid baru di sini, jadi jangan macam-macam. Kau bahkan baru memakai seragam highschoolmu.

Hyejin: aku tidak melakukan apapun.

Senior2: cih… masih mau mengelak.

Plakk…

Kurasakan salah satu dari mereka menamparku.

Senior: berani sekali kau duduk satu meja dengan jinki oppa, minho oppa dan taemin. Memangnya kau fikir dirimu siapa?

Hyejin: aku rasa kalian salah sangka. Sudahlah aku harus segera pulang.

Aku berusaha melepaskan diri, tapi kemudian mereka menarikku lagi dan menghajarku habis-habisan. Aku terduduk berusaha melindungi diriku dengan kedua tanganku, tapi mereka terlalu ramai dan kuat. Ottokhae????

Mereka berhenti memukulku saat kudengar suara pintu yang dihempaskan. Aku melihat 3 orang namja di sana, jinki oppa, taemin oppa dan minho oppa.

Minho:apa yang kalian lakukan?

Mereka hanya diam dan aku masih terkulai lemah dilantai.

Senior:aku tidak suka caranya menggoda kalian.

Seseorang dari senior itu mulai membela diri.

Taemin: mwo menggoda? Kalian sudah gila… lihat saja, aku pastikan kalian akan berakhir di sekolah ini

Taemin oppa mulai mengeluarkan ponselnya namun kemudian jinki oppa menahannya. Dan berjalan kearahku…

Jinki: kau tidak apa-apa sepupu hyejin?

Aku bisa lihat ekspresi terkejut semua yeoja itu.

Seniors: sepupu???

Minho; kurrae!!!!!!!!! Dia sepupu kami. Jika saja aku mengetahui kalian menyentuhnya, kupastikan kalian berakhir.

Minho dan taemin oppa sibuk menceramahi mereka sedangkan jinki oppa membantuku berdiri. Ia menyerahkan tasku pada taemin oppa dan memapahku berjalan. Tapi kemudian minho oppa menghalangi kami ia berjongkok dihadapanku.

Minho: naiklah….

Awalnya aku sedikit tak enak pada minho oppa,

Jinki: kuenchana, minho sangat kuat…

Ia tersenyum dengan senyumannya yang begitu indah yang mampu meruntuhkan langit gelap dan menggantinya dengan pelangi yang indah.

Aku naik kepunggung minho oppa dan ia mulai berjalan diiringi jinki dan taemin oppa disisi kiri dan kanan aku dan minho oppa.

@apartemen jinki

Aku sampai di apartemen milik jinki oppa, di sana minho oppa menurunkanku di sofa ruang tengah. Kemudian kulihat jinki oppa datang dengan kotak P3Knya.

Taemin: immo pasti akan khawatir…

Hyejin: ottokhae? Aku tidak mau menyusahkan oemma, ini baru hari pertamaku di sekolah L

Kemudian kulihat minho oppa mengeluarkah ponselnya dan menelfon seseorang.

Minho: immo, ini aku minho. Immo hari ini aku, jinki hyung dan taemin akan mengajak sepupu hyejin jalan-jalan dan kami akan menginap di apartemen jinki hyung, kami ingin mengenal sepupu baru kami ini lebih dekat.

“……..”

Minho; ne, immo tak perlu khawatir, kami akan memberikannya makan yang sangat banyak.

Jinki: kau tidak perlu khawatir lagi.

Lalu kurasakan jinki oppa membersihkan luka di wajahku dengan sangat lembut. Aku malu dan hanya menundukkan wajahku tapi kemudian kurasakan tangannya mengangkat daguku sehingga aku dapat menatap langsung mata bulan sabitnya dan ia tersenyum padaku.  namja ini, tidak pernah berhenti tersenyum sama halnya seperti bulan sabit, selalu tersenyum setiap ia muncul. Saat jinki oppa sibuk membersihkan luka di wajahku minho oppa menarik tanganku yang terluka dan juga membersihkannya. Sementara itu taemin oppa malah menyalakan TV.

Minho: Ya! taemin! Jika tidak ada yang bisa kau lakukan, sana pergi belikan sesuatu untuk di makan. Aku sangat lapar!

Taemin: aish… hyung mentang-mentang aku paling kecil seenaknya menyuruhku.

Ia menggerutu tapi masih tetap melaksanakan perintah minho oppa.

Jinki: kau tidak apa-apa? Apa kita perlu ke psikolog?

Hyejin: Ne? anyiaa… aku sudah terbiasa…

Minho: terbiasa?

Hyejin: ne, dulu waktu aku masih tinggal dipanti asuhan aku sering di bully teman sekolahku.

Jinki: kenapa? Apa karena kau lebih manis?

Jinki oppa menatapku sambil mengucapkan kalimat tersebut,

Blussssssssssssssssshhhhhhhhhhhh aku yakin wajahku benar-benar memerah sekarang.

Hyejin: anyio… karena mereka bilang aku tidak pantas diperlakukan baik…

Minho: wae?

Hyejin: aku adalah anak yang dibuang dan tidak diharapkan keberadaannya, hidup karena kesialan dan lahir karena kesalahan.

Aku menunduk setelah menyampaikan rangkaian perkataanku yang mungkin terdengar memilukan, namun bagiku itu sudah biasa. Aku bisa merasakan reaksi langsung dari kedua namja ini karena mereka menghentikan aktivitasnya mengobatiku. Dan keduanya menatapku…

Hyejin: kalian sangat beruntung terlahir di keluarga yang utuh dan memiliki segalanya.

Jinki: aku sudah selesai…

Tiba-tiba jinki oppa berdiri dan berjalan menuju dapur sementara itu minho oppa malah menarik nafas dalam dan menghembuskannya.

Minho: jangan pernah katakan itu lagi di depan jinki hyung…

Hyejin: ne?

Minho: orang tua jinki hyung sudah  meninggal sejak 3 tahun yang lalu.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

***************

 

Aku berjalan gontai dari ruangan kepala sekolah, mereka menghukumku karena aku dituduh melakukan kekerasan. Cih… mentang-mentang mereka memiliki segalanya juga bisa melakukan segalanya, menyalahkan orang-orang atas kesalahan mereka sendiri. Manusia macam apa mereka? Bisa dengan mudahnya memutar balikkan fakta. Kenapa uang dan kedudukan begitu berkuasa? Padahal mereka mendapatkannya dengan cara yang kotor. Aku benci mereka,sangat membencinya, mereka selalu menghina, mencaciku karena hidupku yang malang. Apakah mereka pernah tahu? Aku juga tidak menginginkan hidup yang seperti ini.

Aku melihat hana berdiri di ujung lorong sekolah dengan wajah yang pucat, aku tahu ia sangat mengkhawatirkanku. Seulas senyuman mengambang diwajahku, ternyata masih ada orang yang peduli padaku, berteman karena keikhlasan tidak mengharapkan apapun dariku.

Ia menghampiriku dan bisa kubaca diwajahnya ia begitu khawatir.

Hana: caeritakan padaku…

Hyejin: aku di skors selama satu minggu. Akhirnya aku bisa libur panjang kekekekekekeke

Hana: YA! babo!

Hyejin: appo….

Aku meringis karena ia memukul kepalaku.

Kami kembali ke asrama dan menceritakan semuanya kepada penjaga panti, awalnya mereka memarahiku tapi beruntung hana berhasil meyakinkan mereka bahwa aku tidak bersalah.

Setibanya di kamar ia sibuk mengobati luka-luka di tubuhku terutama diwajahku, ia menangis meskipun ia terus berusaha menyembunyikannya.

Hana: mianhae. Ini semua salahku.

Hyejin: ini bukan salahmu, kita hanya tidak beruntung saja hari ini.

Hana: apa pernah kita beruntung? Kita adalah kesialan, bagaimana bisa keberuntungan datang menghampiri kita?

Hyejin: jangan bicara seperti itu, mungkin saja suatu saat nanti nasib kita akan berubah.

Hana: hyejin, jika sudah dewasa nanti, berjanjilah kita akan berjumpa lagi.

Hyejin: kau ini, tentu saja, bukankah kita akan bersama selamanya? Kita akan menggapai cita-cita kita bersama.

Hana: hyejina…

Hyejin: wae???

Hana: kemarin ada sepasang suami istri datang ke panti asuhan kita, mereka bilang ingin mengadopsiku. Mereka bilang aku sangat pintar dan mereka berjanji akan menyekolahkanku hingga aku menjadi dokter.

Hyejin: jeongmal? Huaaa kau beruntung sekali.

Hana: tapi, ia hanya akan mengadopsiku. Aku sudah minta agar mereka juga membawamu namun mereka bilang mereka hanya menginginkan seorang anak. Hyejina… ottokhae???

Aku diam, bisa kulihat airmatanya mengalir deras. Apa yang harus aku lakukan? Haruskan aku melepaskannya? Akan sangat jahat jika aku terus menahannya. Hana sudah menunggu sekian lama dan terus berusaha keras agar semua cita-citanya tercapai. Tapi aku tidak punya siapapun lagi selain hana, sama seperti namanya “hana” “satu” hanya satu dia yang aku miliki.

Aku naik ke kasur di atas tempat aku biasa tidur membiarkan hana yang masih terdiam di kasur miliknya. Aku menutupi seluruh tubuhku dengan selimut dan kurasakan air mata mulai membasahi pipiku. Aku berusaha menahan tangisku agar hana tidak mengetahuinya,berharap ia tidak mengkhawatirkanku.

Keesokan harinya saat aku terbangun aku merasa perih di mataku, bagaimana tidak, hampir semalaman kuhabiskan untuk menangis. Aku lihat kasur hana telah kosong, sepertinya ia sudah pergi ke sekolah. Aku duduk di meja belajarku, mengambil gambar hana yang belum aku selesaikan. Aku memandangi gambar itu dan kemudian melanjutkannya.

 

********************************

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

31 thoughts on “Unpredictable Life with Jinki – Part 1”

  1. uwaaa first coment nii hehe, minchan sii certanya bagus banget… aku suka bnget ama onew… hoho ditunggu next chapnyaa ^0^

  2. Annyeong Mincha.. 🙂

    Saya agak bingung baca ff ini, karena nggak ada tanda bacanya, kadang gak bisa bedain antara dialog dan narasinya..

    Nunggu si Jinki nongol, tenyata baru nongol hampir di bag. akhir..

    Ok Mincha, ditunggu part selanjutnya.. 🙂

  3. woah,,,, kalimat ini “aku adalah anak yang dibuang dan tidak diharapkan keberadaannya, hidup karena kesialan dan lahir karena kesalahan” nusuukk bgt, eum, meskipun aku dilahirkan di keluarga lengkap. Aku bisa ngerasainnya.

    eum, ditunggu part selanjutnya ya, author-ssi!

  4. Sedih banget… Hampir ajah nangis. Malang nian sih…
    Sama seperti lidyaeonni, rada bingung bacanya karena memang gag ada tanda baca untuk dialog. Hehe
    Mincha-ssi menggunakan cara nulis dialog antar yg kyk naskah dialog drama gitu gag sih. #ahh… Aku ngomong apa#
    ditunggu kelanjutannya deh. Intinya sedih banget aku… Tanggung jwb loh ntr kalo ampe nangis

    1. mian, aku g bisa bikin kaya narasi gitu, lebih suka kaya drama karna feelnya lebih dapet, kalau narasi jadi bingung sendiri -_-
      aku bikin ff emang kurang peduli gitu sama tata bahasa, selain karena buru-buru juga karena tata bahasa author sangat payah -_-“

    1. rencananya author mau bikin sequel yg mana ceritanya lebih fokus ke si hana, sengaja g terlalu di expose di sini biar unpredictable juga, tapi masih agak bingung nentuin tokoh namjanya siapa, masih bingung antara key sama jonghyun . gumawo uda baca n komen. semoga author bisa bikin sequelnya hahahahahahahahahaha

  5. Bagus banget, thor….
    sedih banget nasib Hyejin…
    Mudah2an hidupnya lebih baik mulai sekarang…
    Jinki nya dimana2 emang shining selaluuu….

    Untuk cerita Hana, aku pilih Jong aja, jadi role cowoknya…
    Mudah2an Hyejin-Hana gak kejebak cinta segitiga, ya, Thor….
    Bikin capek hati…. kalo persahabatan mereka direcoki gituan…

    peace….

    I’m waiting for the next part…

  6. Aigo aigo.
    Cerita yang jelas
    Alur yang sempurna
    Bahasa yang bagus
    Buat aku sangat sangat menghayati cerita
    Hheheh

  7. Kerenn.. q lngsung dpet feelnya dari awal tp mungkin dialognya mending pke tnda petik ya? Wkwkwk

    bingung klo kya gtu diatas..hhee^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s