Beautiful Coincidence – Part 5

Beautiful Coincidence – Part 5

 

Author: Tia31

Main Cast:

–      Choi Minho (SHINee)

–      Park Jiyeon (T-Ara)

Support Cast:

–      Kris, Wu Fan (EXO-M)

–      Krystal, Jung Soojung (F(x))

–      Lee Taemin (SHINee)

–      Oh Sehun (EXO-K)

–      Eunmi

Length: Sequel

Genre: Romance, Family, Sci-Fi

Rating: PG-13

Jiyeon melangkahkan kakinya keluar kamar mandi. Selama mandi, ia terus membayangkan isi amplop yang belum sempat ia buka sedari kemarin itu. Sebuah wasiat? Alasan kenapa Minho menjadi seperti sekarang? Diari perselingkuhan Yoen Gyeom? Jiyeon memukul kepalanya sendiri karena telah berpikir seperti itu.

Setelah mengganti bajunya, Jiyeon langsung membuka tasnya dan mengambil amplop tersebut. Ia melangkahkan kakinya ke meja makan untuk menghindari eommanya. Tak mungkin ia menceritakan hal ini padanya eommanya saat ini.

“Semoga tidak ada apa-apa.” Jiyeon merasa sedikit gugup. Ia mengambil amplop kecil putih itu dan memejamkan matanya selama membuka amplop itu dan mengambil surat. Setelah merasa surat tersebut sudah berada di genggaman tangannya, ia akhirnya membukanya…

Hello, dear…

Choi Minho? Is it your name? I suggested that name to your father before your birth and then he immediately agreed. So it is definitely Choi Minho who is reading this message, isn’t it?^^

How are you, dear? Do you miss me? It’s OK, if you don’t. But something that I have to say is I  miss you, definitely, however i am right now. I don’t know when will you read this message, but i know that you will soon.

Let’s go to the point. You must have seen one piece of paper that is attached to the first and big envelope, haven’t you? Ahahah you must be really confused right now. What is it for? What does it mean?

At first, I didn’t know that I would write this message. But then, something happened and pushed me to write this message to my be-born-soon son. By the way, how many times have you seen the same papers?  I put 2 papers in 2 different medical books, so you have to find another one, k? The first one is in “The Nervous System” book, the second one is in this book, “The Virus Vol. 2”.

Do you see the word on it? It’s “FAILED”.

When i was graduated from college, i used to make a list of incurable desease in the world and tried to create the medicine by myself besides being a doctor. Finally, i successfully created the medicine to heal servical cancer, most deadly cancer in the world, just before i had you in my womb. After that, I was determined to make two other medicines, medicines for syndrome caused by HIV, AIDS and Creuxtfeldt-Jakob desease that attacks the human nervous system. But then I found that I could not do anything more. So I put two pieces of paper in each, virus book, and nervous system book and decided to write this message.

Could you please continue my intention? I really hope that you can make the two other medicines that I couldn’t do, especially the AIDS one. That’s why I put the message here. I know, son of Choi Yeon Gyeom and Jang Gaeun must be able to do it, right? ^^

I knew it, your father would definitely be asking you to become a doctor just like us. Sorry if this is going against you but I’m sure that nothing we can’t do. It is all about your integrity and sincerity. Trust me.^^

That’s all I have to say. I intentionally wrote this message in english so nobody will be able to read this message except you and your father (but I don’t expect this).

사랑한다, My son ^^

Your Mom who will always love you.

Jiyeon menghela nafasnya kemudian menghembuskannya berkali-kali. Ia kembali memejamkan matanya, menyesali perbuatannya. Ia baru sadar bahwa tak seharusnya membuka surat tersebut dan membacanya.

“Apa yang harus kulakukan?” Jiyeon mendesah.

Memberikannya pada Minho? Sama saja dengan membunuh dirinya sendiri. Menyimpannya? Sama saja ia mencuri dari Minho.

Akhirnya, Jiyeon memilih untuk melipat kembali kertas tersebut dan memasukannya ke dalam amplop. Ia membuat amplop tersebut kembali seperti semula dan kembali ke kamarnya untuk tidur.

***

“Kita sampai.” seru Minho kemudian tersenyum pada Eunmi yang kini menatap keluar jendela. Tanpa menunggu jawaban Eunmi, Minho langsung turun dari mobilnya dan mengambil tongkat Eunmi yang berada di bangku bagian belakang. Ia membuka pintu untuk Eunmi dan membantu gadis kecil tersebut untuk memakai tongkatnya. “Genggam tangan oppa, arachi?”

Eunmi mengangguk dan tersenyum seraya menatap Minho dalam. “Oppa…”

“Ne?” jawab Minho sambil menuntun Eunmi masuk ke rumah.

“Oppa punya yeojachingu?” Seketika langkah Minho terhenti tepat di depan pintu rumah, ia menatap Eunmi bingung.

“Kenapa bertanya seperti itu?” tanya Minho bingung.

“Bukankah biasanya namja seumuran oppa memiliki yeojachingu?” Minho pun tertawa karena Eunmi justru bertanya balik. Biasanya, ia tak ingin membahas tentang ini pada siapa pun, namun sepertinya gadis kecil di hadapannya ini memiliki cara lain untuk membujuknya.

“Bagaimana jika oppa tidak tertarik pada yeoja mana pun di dunia ini?”

“Maksud oppa, oppa hanya tertarik pada namja?” Mata Eunmi terbelalak. “Apakah oppa menyukai Taemin oppa… atau… Sehun oppa?”

Kali ini, pernyataan Eunmi betul-betul mengundang tawa Minho. Minho tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya yang mulai sakit. “Bukan begitu maksud oppa.”

“Lalu?” kata Eunmi, “Bukankah namja baik selalu memiliki yeojachingu?”

Tiba-tiba saja pintu rumah terbuka dan Baekho muncul dibaliknya. Ia tersenyum pada Eunmi dan membungkuk sambil memberi salam, “Annyeonghaseyo. Baekho imnida.”

Namja bertubuh tegap yang mengenakan jas serta dasi kupu-kupu tersebut membuat Eunmi sedikit bingung sebelum akhirnya Minho menjelaskan, “Baekho adalah kepala pelayan disini.”

Setelah melihat Eunmi mengangguk-anggukan kepalanya, Minho mulai kembali menuntunnya menuju kamar yang sudah disiapkan. Kamar yang cukup besar untuk seorang anak kecil seusia Eunmi.

Di emat sisi ruangan tersebut, Eunmi dapat melihat empat poster sepak bola. Eunmi melangkahkan kakinya menuju sebuah pigura besar yang terpampang di dinding dan berseru pada Minho yang sedang duduk di atas kasur, “Ini oppa?” tanyanya sambil menunjuk pigura yang berisi foto seorang namja bertubuh tinggi yang sedang mengenakan Dobok (seragam taekwondo) dan memegang piala besar.

“Betul.” jawab Minho kemudian menghampiri Eunmi.

“Dulu ini adalah kamar oppa?”

“Ne. Sebenarnya kamar oppa ada dua.” Minho berjalan ke sebuah pintu dan membukanya. “Ini kamar oppa lainnya.”

Minho menangkap ekspresi bingung Eunmi yang menyiratkan pernyataan, “Kenapa harus ada dua kamar?” Ia pun tersenyum, “Awalnya ini adalah ruang pribadi tempat oppa menaruh piala-piala juga peralatan yang lain, dan kamar satunya untuk tidur.”

“Memangnya tidak apa-apa jika aku tidur disini?”

“Tentu saja tidak apa-apa, anak manis.” Pertanyaan Eunmi membuat Minho gemas dan mengundangnya untuk mencubit kedua pipi Eunmi.

***

Jiyeon menatap bayangan tubuhnya dalam balutan pakaian renang di dalam kaca sambil menghembuskan nafasnya. Hari yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang. “Saatnya untuk mendongkrak nilai olahragaku.” gumamnya kemudian mengeratkan rahangnya.

Setelah sekian lama, akhirnya pelajaran renang akan dimulai. Renang adalah satu-satunya olahraga yang Jiyeon bisa. Oleh karena itu, Jiyeon akan berusaha sebaik mungkin dalam materi ini agar mendapat nilai yang terbaik.

Namun rasa ragu seketika menyusup ke hati Jiyeon.

“Jiyeon-ah, ayo cepat keluar! Kim ssaengnim sudah memanggil!” seru seorang teman sekelasnya yang sedang menunggunya keluar di depan pintu.

Jiyeon langsung bergegas menuju kolam renang dimana teman-temannya sudah berkumpul. Untuk sekilas, Jiyeon dapat melihat Kris yang sedang berbicara dengan Sehun di sudut kolam renang dengan celana renangnya tanpa balutan sehelai benang pun di dadanya.

Setelah itu, matanya dengan jeli mencari sosok Choi Minho. Sambil berharap-harap cemas, Jiyeon mencoba untuk mensugestikan dirinya bahwa bukan Minho lah lawannya nanti. Jika tidak, Jiyeon mengira bahwa Minho pasti akan mencapai garis finish terlebih dahulu dan mendapatkan nilai lebih tinggi darinya.

Akhirnya Minho muncul dari ruang ganti dengan celana renangnya. Namun, dari wajahnya Jiyeon dapat menangkap bahwa ada yang salah dengan dirinya saat ini. Tak seperti saat pelajaran olahraga, Minho kelihatan tidak terlalu percaya diri.

Apa dia tidak bisa berenang? Jiyeon terkekeh.

“Semuanya berbaris di sudut sini.” Seruan Kim ssaengnim membuat seluruh siswa berkumpul dan membentuk barisan. “Sebelumnya kalian harus melakukan pemanasan. Kris, bisa bantu saya?”

Akhirnya Kris maju dan memimpin sesi pemanasan. Setelah semuanya selesai, Kim ssaengnim mulai membagi kelompok.

Jiyeon menghembuskan nafasnya dengan berat saat mendengar nama Choi Minho dalam urutan teman satu kelompoknya, yang berarti nantinya ia akan mengambil nilai dengan Minho. Kali ini tolong beri aku kesempatan, Tuan Choi Minho, ucapnya dalam hati.

Waktu pelajaran olahraga berlalu cepat sampai akhirnya menyisaka dua kelompok untuk mencoba berenang. “Semua grup harus siap di pertemuan berikutnya untuk pengambilan nilai ulang.”

Setidaknya Jiyeon masih memiliki waktu untuk latihan, sekaligus untuk mengendurkan otot-ototnya yang sudah lama tidak berolahraga. Akhirnya semua bubar dan mengganti pakaian mereka.

***

“Kalau bukan sekarang kapan lagi.” ucap Jiyeon sambil membawa tasnya menuju kolam renang belakang sekolah. Kebetulan, keadaan sekitar sangat sepi. Ia berjalan menuju ruang ganti dan mengganti seragamnya dengan pakaian renang. Sekali lagi ia menatap kaca dan bergumam, “Nilai olahraga!”

Setelah merasa siap, Jiyeon melangkahkan kakinya keluar ruang ganti. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok seorang namja bertubuh tinggi dengan celana renang yang sedang melakukan pemanasan.

Jiyeon putuskan untuk mengumpat dibalik pintu sambil memperhatikan namja tersebut. Setelah selesai dengan pemanasannya, ia melangkah mendekat ke tepi kolam renang. Sesekali ia celupkan kakinya dengan enggan, membuat Jiyeon mengerutkan dahinya. Apa dia tidak bisa berenang?

Namja itu akhirnya memilih untuk duduk di tepi kolama dan memasukkan kakinya secara perlahan ke dalam kolam. Untuk beberapa saat ia berdiam diri sambil menyesuaikan kakinya di dalam kolam. Namja itu mendesah dan memejamkan matanya. “AAARRRGGGHHH!!!” geramnya.

Jiyeon pun tersentak dan memegang dadanya. Seperti tali yang terikat dengan erat, kakinya tak dapat ia gerakkan untuk menghampiri namja itu.

Tiba-tiba namja itu berdiri dan menyiapkan tubuhnya. Ia bersiap-siap untuk masuk ke kolam renang dengan melompat melalui penampang tertinggi.

BUSHHH

Ia mendarat dengan baik. Namun…

Tiba-tiba saja ia menghilang. Tak mendapati sosoknya, Jiyeon memutuskan untuk berlari dan langsung melompat masuk ke kolam renang.

“MINHOOO!!!” serunya sambil berenang mencari sosok namja itu. Setelah berenang cukup lama, akhirnya sosok Minho muncul ke permukaan.

Jiyeon buru-buru menghampiri Minho dan mendapatinya tak sadarkan diri. Dengan sigap, Jiyeon membawanya kepinggir kolam reanang. Ia membaringkan Minho di tepi kolam renang, menaruh telunjuknya tepat di depan hidung Minho untuk memeriksa apakah ia masih bernafas atau tidak.

“Aigoo, dia tidak bernafas.” Jiyeon mulai panik. “Bagaimana ini, aku tidak mungkin melakukan hal itu…”

Ia menatap tubuh Minho yang basah kuyup. Untuk beberapa saat, Jiyeon berusaha untuk menyingkirkan egonya. “Tidak ada cara lain…”

Akhirnya Jiyeon mulai menekan dada Minho dengan kedua tangannya agar air yang berasa di dalamnya bisa keluar. Kemudian, Jiyeon meletakan salah satu tangannya di bawah leher Minho dan sedikit mengangkatnya agar saluran pernafasannya terbuka. Sebelumnya, Jiyeon memejamkan matanya sambil menggeleng-geleng. Orang ini butuh bantuan dan aku tidak mungkin membiarkannya seperti ini, Jiyeon terus mencoba menyingkirkan egonya. Ia mengambil nafas dalam-dalam dan segera meniupkannya ke mulut Minho sambil menutup hidung Minho dengan tangan satunya.

Jiyeon membelalakan matanya saat bibirnya menyentuh bibir Minho.

Manis… Sangat manis…

Untuk beberapa saat ia tidak menghiraukan hal tersebut dan melanjutkan proses pernafasan buatan tersebut. Akhirnya Jiyeon melepaskan bibirnya dari Minho dan detik berikutnya Minho pun terbangun. Ia terbatuk untuk berkali-kali sambil mengeluarkan air dari mulutnya.

Minho membuka matanya dan mendapati wajah Jiyeon yang berada tepat di atas kepalanya. Dapat Minho lihat, Jiyeon menatapnya khawatir kemudian Jiyeon berkata, “Kau merasakan sesuatu?”

“Pusing.” jawab Minho pelan sambil menyentuh kepalanya.

Setelah mendengar jawaban Minho, Jiyeon langsung memapah Minho menuju tempat duduk terdekat dan merebahkannya disana kemudian berlari menuju ruang ganti setelah berkata, “Tunggu sebentar.”

Saat tak menemukan Jiyeon lagi di dekatnya, Minho menyentuh bibirnya. “Kenapa begitu manis rasanya?” gumamnya. Rasanya aneh dan bibirnya terasa begitu manis.

Tak berapa lama, Jiyeon kembali dan membawakan handuk untuk Minho. Ia membalut tubuh Minho dengan handuk dan tak lupa memberinya sebotoh air mineral yang ia bawa dari rumah untuk Minho.

“Minumlah.” Jiyeon menyodorkan sebotoh air mineral untuk Minho minum.

Sekilas, Minho menatap Jiyeon kemudian mengambil botol air mineral tersebut. Ia meneguknya sebanyak tiga kali dan memberikannya kembali pada Jiyeon kemudian menyenderkan tubuhnya di senderan kursi menutup matanya sekejap.

“Apa masih pusing?” tanya Jiyeon khawatir.

“Sudah baikkan.” jawab Minho kemudian sedikit tersenyum pada Jiyeon. Bagaimanapun, Jiyeon telah menyelamatkannya, bahkan nyawanya. Ia menyadari bahwa tak seharusnya memperlakukan Jiyeon sebegitu dinginnya.

Untuk beberapa saat, tak ada yang angkat bicara sampai akhirnya Jiyeon bersuara, “Jadi… kau tidak terlalu pandai berenang?” tanyanya sedikit berhati-hati.

“Bukan tidak terlalu pandai, tapi memang tidak bisa.” jawab Minho singkat.

“Arrasseo.”

“Bagaimana denganmu?” Minho menatap lurus ke depan.

“Ini adalah satu-satunya olahraga yang kukuasai dan kurasa ini adalah satu-satunya olahraga yang tidak kau kuasai.” jawab Jiyeon kemudian sedikit tertawa canggung.

Melihat Jiyeon tertawa seperti itu, Minho pun berusaha tertawa juga agar suasana tak semakin canggung, “Kenapa?”

“Agar penyakitku tidak kambuh lagi.”

“Maksudmu? Asma?”

Jiyeon mengangguk, “Jika asmaku kambuh, maka aku harus makan obat, dan obat itu mahal.” Jiyeon menoleh pada Minho yang kini menatapnya namun tak mengeluarkan jawaban. “Kau tidak suka berenang?”

“Fobia air.”

“Benarkah? Apa kau punya kenangan buruk?” Tanpa Jiyeon sadari, mereka berdua sudah berbicara cukup jauh.

“Tidak.” jawab Minho singkat.

“Lalu?”

“Orang bilang, eommaku fobia air.” jawab Minho, Jiyeon pun tertegun. Ia kembali mengingat surat dari eomma Minho. Jiyeon tak menjawabnya selain dengan tersenyum.

“Oh ya, gomawo.” ucap Minho pelan. Lagi-lagi Jiyeon tertegun saat mendengar kata tersebut keluar dari mulut Minho. Gomawo.

“Ah ne, cheonmaneyo.”

“Hari ini, kau tidak perlu datang ke rumah. Aku akan mengatakan pada Baekho bahwa aku sedang tidak enak badan.”

“Ne, ba…” ucapan Jiyeon terpotong saat mendengar suara seorang yeoja yang berseru dari pintu masuk.

“Minho!” seru Soojung kemudain menghampiri Minho. “Kau baik-baik saja? Bukankah kau tidak bisa berenang?” tanya Soojung khawatir saat melihat rambut Minho yang basah karena berenang.

“Aku ingin ganti baju.” Minho bangkit dan berjalan melewati Soojung dan melangkah menuju ruang ganti.

Sedangkan Jiyeon hanya bisa terpaku di tempatnya sampai Minho menghilang. Ia berdiri dan bergegas untuk pergi ke ruang ganti wanita. “Annyeonghaseyo.” ucapnya kemudian meninggalkan Soojung di dekat kolam renang.

***

Jiyeon berdiri di depan kaca sambil menyentuh bibirnya. Ia kembali teringat rasa bibir Minho yang begitu manis. “Kenapa begitu manis?”

Jiyeon menggeleng-gelengkan kepalanya saat menyadari sesuatu, “First kiss?” gumamnya namun ia buru-buru membantah, “Bukan, itu bukan sebuah ciuman, tapi sebuah pertolongan.”

Sesosok bayangan seorang yeoja yang sedang membungkuk muncul di dalam kaca, membuat Jiyeon sedikit kaget. “Annyeonghaseyo.” sapanya.

“Annyeonghaseyo.” jawab Jiyeon kemudian ikut membungkuk.

“Jiyeon-ssi?” Yeoja itu menghampiri Jiyeon.

“Ne, bagaimana kau bisa tahu?” Jiyeon sedikit tersenyum.

“Bukankah satu sekolah sudah tahu siapa murid kesayangan Jung ssaengnim?” Soojung tersenyum manis pada Jiyeon.

“Ah ne…”

“Tidak perlu canggung seperti itu, aku hanya ingin berbicara sebentar.” Soojung menyentuh pundak Jiyeon sambil tetap tersenyum. “Apakah kau dekat dengan Minho?”

Jiyeon tertegun, Pasti karena tadi. “Anni.”

“Jinjja? Kuharap hal tersebut akan berlanjut sampai kapan pun. Bisakah kau untuk tidak mendekatinya?” ucapan Soojung terdengar lembut namun cukup pedas di telinga Jiyeon.

“Tentu saja.” jawab Jiyeon.

***

Seorang namja bertubuh tinggi melangkahkan kakinya keluar lift. Ia berjalan menuju sebuah pintu kemudian membukanya dengan perasaan sedikit ragu.

“Annyeonghaseyo.” sapanya pada seorang namja yang sedang berdiri di dekat tirai.

“Ne.” namja itu mendekat dan duduk di hadapin namja tadi tanpa menyuruhnya untuk duduk, “Langsung saja…” ia menghentikan kata-katanya. Namja tinggi itu kemudian menghela nafasnya. “Apa sebenarnya tugasmu?”

“Menjaganya.” jawab namja tinggi tadi dengan tegas.

“Dan bukan untuk jatuh cinta padanya.” nada suara namja yang sedang duduk itu terdengar pelan namun cukup menancap di hati sang namja tinggi.

“Arasseo. Aku tidak akan melakukannya.” namja tinggi itu menjawabnya pelan namun lirih.

“Baguslah kalau begitu.”

***

“Oppa! Oppa! Bangunlah!” suara Eunmi yang memekik keras seketika membangunkan Minho dari tidur lelapnya. Ia membuka matanya dan mendapati Eunmi sedang duduk di tempat tidurnya sambil menyunggingkan senyuman lebar.

“Eunmi-ya, sekarang masih pagi.” lenguh Minho sambil menarik selimutnya dan berbalik badan.

“Pukul sembilan pagi, oppa. Saatnya bangun.” Eunmi menarik selimut Minho dan memainkan rambut coklatnya.

Semalaman Minho bermain playstation di rumah Taemin bersama Sehun hingga lupa waktu. Matanya betul-betul tidak sanggup untuk terbuka saat ini. “Sepuluh menit lagi, OK?”

“Baiklah.” Akhirnya Eunmi memilih untuk turun dari tempat tidur Minho dan memutuskan untuk menjelajahi isi kamar Minho dengan tongkatnya.

Tujuan pertama Eunmi adalah lemari pakaian Minho, seluruh pakaiannya tersusun rapih di dalam sebuah lemari besar. Beberapa jas serta kemeja tergantung di sisi kiri dan beberapa baju santai terlipat rapi di bagian atas disebelah deretan aksesoris, serta beberapa pasang seragam terletak di bagian kanan. Dengan begitu, Eunmi menyimpulkan bahwa Minho adalah orang yang cukup fashionable dan sangat rapi.

Setelah tiga hari tinggal di rumah tersebut, Eunmi ak pernah menemukan kamar Minho dalam keadaan berantakan.

Kini ia beralih ke meja belajar Minho yang juga tersusun rapi. Beberapa buku pelajaran tertata rapi di sebuah rak buku. Yang Eunmi bingungkan adalah, ia tidak pernah melihat Minho belajar.

Eunmi merasa waktu sudah berjalan selama 10 menit dan memutuskan untuk membangunkan Minho kembali. “Oppa, bangunlah. Sudah sepuluh menit.” Kini Eunmi berhasil membuat Minho membuka matanya.

“Baiklah, baiklah.” Minho bangun dan secara tiba-tiba memeluk Eunmi. Ia membekap Eunmi sambil menyeringai tanpa mendengar suara pemberontakan dari Eunmi.

“Oppa! Lepaskan!” seru Eunmi namun Minho tak kunjung melepaskannya.

Akhirnya Eunmi menyerah dan menikmati pelukan Minho untuk beberapa saat. Minho tiba-tiba saja bersin dan membuat Eunmi sedikit risih, “Oppa! Jorok sekali!”

Minho tertawa dan melepaskan Eunmi untuk segera menuju kamar mandi. Ia mencuci mukanya dan menggosok gigi. Bibirnya yang pecah-pecah kini terluka dan mengeluarkan setitik darah. Minho buru-buru menghapus darah itu dengan jari telunjuknya. Namun setelah darah tersebut sirna, Minho terus menyentuh bibirnya.

“Manis. Seperti gula.” gumamnya, namun detik kemudian Minho tersadar dan keluar dari kamar mandi.

Baru saja Minho keluar dari kamar mandi, Eunmi sudah menghambur kepadanya dan berkata, “Ingat janji oppa yang kemarin?”

“Ahh ne, baiklah. Ayo kita turun.” Minho akhirnya menggendong Eunmi untuk turun ke bawa dan membawanya masuk ke ruang belajarnya dengan piyamanya yang belum ia lepas. Ia meminta Eunmi untuk duduk di sebuah sofa yang terletak di sudut ruangan kemudian menghampiri sebuah lemari kecil.

“Lagu apa?” tanyanya saat mengeluarkan sebuah biola kesayangannya dari sarung biola.

***

Baru saja Jiyeon membuka matanya, ia dapat merasakan ponselnya yang dering dan bergetar di bawah bantalnya. Sebuah SMS. Baekho Ahjussi.

Baekho Ahjussi.

Jiyeon-ah, bisakah kau datang kemari pukul 10 pagi?

Setelah membaca pesan tersebut dengan mata yang masih sedikit terpicing, akhirnya Jiyeon langsung menjawabnya.

Park Jiyeon

Baiklah ahjussi, aku akan datang tepat waktu 🙂

Jiyeon segera bangkit dari tempat tidurnya untuk lekas ke kamar mandi, namun sebelumnya ia tak lupa untuk memberikan kecupan selamat pagi kepada Yoondae. Setelah selesai mandi, Jiyeon langsung menyiapkan sarapan pagi dan menyantapnya bersama eommanya. Ia memasukkan beberapa peralatan mengajarnya dan bergegas menuju perpustakaan langganannya penuh dengan harapan akan bertemu dengan Kris.

Beruntung, Jiyeon lagi-lagi menemukan Kris yang sedang membaca sebuah komik di bagian belakang perpustakaan. Namun kali ini ekspresinya begitu serius, tak seperti waktu itu. Untuk beberapa lama, Kris tak menyadari kehadiran Jiyeon dan Jiyeon tak ingin mengganggu Kris.

Akhirnya komik bergenre action dan mytery itu dilahap habis oleh Kris. Kris tersenyum pada Jiyeon yang sedang duduk di hadapannya sambil memandanginya, “Jiyeon-ah?”

“Ne.” Jawab Jiyeon sambil tersenyum.

Jadilah selama satu jam penuh mereka isi dengan berdiskusi tentang beberapa komik. Sesekali petugas menegur mereka, bahkan suaranya hampir meninggi karena kegaduhan yang mereka ciptakan dari tawa mereka. Jiyeon pun sadar bahwa ia memang menyukai Kris karena sosoknya yang begitu hangat dan sangat pengertian.

“Aishh, sebentar lagi aku akan terlambat.” Jiyeon bangkit dari tempat duduknya dan merapikan beberapa komik yang ia ambil. “Aku pergi dulu. Annyeonghaseyo.”

Kris dengan sigap menahan tangan Jiyeon, “Biar kuantar, arasseo?”

Jiyeon menggeleng, namun sebelum ia sempat menjawab, Kris berbicara terlebih dahulu, “I’m not accepting any rejection.”

Akhirnya Jiyeon mengalah dan bersedia untuk diantar oleh Kris dengan mobilnya. Hanya perbincangan ringan yang muncul saat perjalanan menuju rumah Minho.

“Sekali lagi, gomawoyo.” jawab Jiyeon saat baru saja keluar dari mobil Kris.

“Tentu, cheonmaneyo.” Kris tersenyum pada Jiyeon dan memutar balikkan mobilnya.

Jiyeon akhirnya masuk ke rumah dan setelah menemui Baekho di depan pintu masuk, “Minho doryeonim sudah berada di ruang belajar. Kau bisa segera masuk.”

“Ne.” Jiyeon pun langsung melangkah masuk dan berhenti tepat di depan pintu ruang belajar itu. Baru saja Jiyeon menyentuh knop pintu, sebuah suara biola terdengar. Dengan perlahan Jiyeon membuat celah di pintu tersebut.

Sebuah alunan musik klasik berjudul Canon in D Major, lagu kesukaan Jiyeon terdengar merdu dari permainan biola seorang namja dengan balutan piama. Namja tersebut terlihat begitu menghayati permainannya dengan menutup matanya. Dengan lihai, tangannya menggesekkan busur biola ke senar biola dan menciptakan suara merdu. Untuk beberapa saat, Jiyeon terhanyut dalam permainan biola namja itu.

Suara tepuk tangan menyadarkan Jiyeon. “Oppa hebat!” suara nyaring seorang anak kecil membuat Jiyeon kaget dan membuka pintu tersebut lebih lebar dengan perlahan agar dapat melihat siapa yang berada di dalam.

Minho membentangkan tangannya, meminta gadis kecil itu untuk memeluknya. Gadis itu tersenyum dan membenamkan tubuhnya dalam pelukan hangat Minho yang juga tersenyum. Kali ini Jiyeon menyadari betapa hangatnya seorang Choi Minho yang ia anggap sebagai orang paling dingin sedunia.

“Hmm bau!” seru Eunmi setelah melepaskan pelukannya dari Minho dan mengerucutkan bibirnya.

“Ya! Enak saja!” Minho pun terpancing untuk mencium piyamanya. “Tidak bau kok!” Minho menggelitiki Eunmi dan tertawa bersama sampai akhirnya mereka menyadari kehadiran Jiyeon.

Karena sudah tertangkap basah, Jiyeon memilih untuk masuk dan memberi salam, “Annyeonghaseyo.” ucapnya.

“Oppa, apakah eonni itu adalah yeojachingumu?” celetuk Eunmi yang dijawab oleh tatapan kaget serta tajam oleh Minho.

Jiyeon tertawa karena tingkah laku Eunmi yang begitu lucu. “Oppa, kenapa diam saja?” Eunmi akhirnya sedikit mendorong Minho. Jika ia bisa berjalan dengan baik, Eunmi berjanji akan mendorong Minho sampai ke yeoja itu.

“Ya! Dia bukan yeojachingu oppa, arasseo?” gerutu Minho kemudian mencubit pipi Eunmi.

“Lalu?”

“Kami akan belajar biologi bersama.” jawab Jiyeon kemudian tersenyum pada Eunmi.

“Baiklah, kalau begitu oppa mandi dulu sana.” perintah Eunmi. Jiyeon lagi-lagi tertawa karena sikap Eunmi yang begitu cerewet. “Eonni, duduklah.”

Setelah Minho lenyap dibalik pintu, Jiyeon melangkah menuju sofa dimana Eunmi duduk. Tanpa canggung, Eunmi mengulurkan tangannya pada Jiyeon, “Eunmi imnida.” ucapnya ramah.

“Jiyeon imnida.” Jiyeon menyambut tangan kecil Eunmi dengan baik kemudian tersenyum.

“Eonni, apakah eonni adalah yeojachingu Minho oppa?” tanyanya langsung.

“Ne?” Jiyeon terkekeh karena pertanyaan Eunmi. “Anniya, kami hanya teman.”

“Jinjjayo?” Eunmi mengerutkan keningnya dan menaruh telunjuknya di dagu. “Bagaimana kalau eonni menjadi yeojachingu oppa?”

Lagi-lagi Jiyeon terkekeh. “Kami hanya teman.” jawabnya sambil tersenyum canggung.

“Sepertinya eonni jauh lebih baik daripada yeoja yang datang kesini kemarin sore.” ujar Eunmi.

“Yeoja? Boleh eonni tahu siapa orangnya?”

“Hmm… Cukup cantik dan cukup ramah, tapi entah kenapa, aku tidak terlalu menyukainya. Namanya… Sebentar… Ah ne, Jung Soojung.”

Jiyeon terdiam dan kembali teringat atas peringatan Soojung tempo hari. “Bukankah ia sangat cantik?”

“Ahh ye. Tapi aku tak begitu menyukainya.” Eunmi melipat tangannya di dada dan melanjutkan. “Ia terlihat begitu menyukai Minho oppa, tapi menurutku mereka tidak cocok sama sekali.”

“Ahh, jinjja? Kurasa mereka sangat serasi.”

“Anni! Mereka sangat-sangat tidak serasi!” bantah Eunmi langsung.

Tak terasa, berbincangan mereka berlangsung cukup lama. Minho datang dan menghampiri Eunmi. “Apa yang kau katakan, gadis cerewet?”

“Anniya, hanya sedikit bercerita.”

Minho sedikit senang, Eunmi bisa dengan cepat dekat dengan Jiyeon, tak seperti Soojung. Setelah kunjungan Soojung kemarin, Eunmi terus menggerutu sambil mengomentari apa saja yang Soojung lakukan. “Ia hanya membawakan pizza itu untuk oppa. Ia tidak memikirkan Sehun oppa dan Taemin oppa yang datang bersamanya.”  gerutu Eunmi kemarin.

“Eunmi agassi, doryeonim akan segera belajar.” Eunmi mengerti dan bangkit berjalan menuju Baekho dengna tongkatnya.

“Selamat berduaan, oppa dan eonni.” ucapnya kemudian langsung lenyap di balik pintu.

“Tsk!” gerutu Minho sedangkan Jiyeon tertawa.

“Bukankah dia lucu?” tanya Jiyeon.

“Ne.” Jawab Minho singkat. Kini Minho kembali seperti semula, seperti biasanya. Ia berjalan menuju kursi dan duduk.

Jiyeon melakukan hal yang sama dan membuka tasnya. “Doryeonim, dia… adikmu?” tanya Jiyeon hati-hati.

“Sejak empat hari yang lalu.”

Jiyeon baru saja mengingat nama “Eunmi” yang pernah Minho ucapkan saat percakapan melalui telepon. Tak disangka-sangka, pemilik nama tersebut adalah seorang gadis kecil yang cerewet.

Minho bangkit dari kursinya dan menghampiri rak buku. Ia mengambil kedua buku yang sempat ia dan Jiyeon baca kemudian menghampiri Jiyeon untuk memberikan buku tersebut. “Gom… gamsahamnida.” ucap Jiyeon saat menerima buku tersebut.

“Tidak perlu memanggilku doryeonim lagi. Cukup Minho saja.”

“Ne. Aku mendengar permainan biolamu tadi.” Minho mendongakkan kepalanya yang sedang membaca buku dan menatap Jiyeon yang menyiratkan senyum canggung.

“Ah ne.” jawabnya singkat.

“Daebak.”

“Gomawo.”

Akhirnya, lagi-lagi dua jam hanya terpakai untuk membaca buku. Awalnya, Jiyeon berniat untuk menanyakan buku “The Nervous System” yang disebut-sebut dalam surat tersebut, dengan begitu ia akan mengetahui bahwa Minho sudah menemukan secarik kertas itu atau belum. Namun, ia mengurungkan niatnya saat melihat wajah serius Minho yang sedang membaca buku.

“Aku pergi dulu. Annyeonghaseyo.” Jiyeon membungkuk pada Minho yang tanpa disangka-sangka membalas membungkuknya.

“Ne.” jawabnya singkat.

Jiyeon melangkah keluar ruangan, namun tak mendapati Baekho sekalipun. Mungkin sedang bermain bersama Eunmi, gumamnya. Ia putuskan untuk berjalan keluar rumah sendirian.

Ketika sampai di depan pintu rumah, sebuah mobil mewah melintas tepat di hadapannya. Seorang yeoja cantik yang wajahnya tidak asing bagi Jiyeon keluar dari mobil tersebut. Saat itu, Jiyeon berusaha untuk mengingat siapa yeoja tersebut.

Jang Gaeun! seru Jiyeon dalam hati.

Sosok yeoja tersebut betul-betul mirip dengan seseorang yang dengan hanbok dalam pigura besar di ruang keluarga. Tiba-tiba saja Jiyeon merasakan keringat dinginnya bercucuran. Tidak mungkin, aku tidak mungkin bertemu dengan arwahnya bukan?

 

To be continued…

Penasarankah penasaran? Tunggu kelanjutannya ya‼

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

17 thoughts on “Beautiful Coincidence – Part 5”

  1. Huaah…
    Jiyi nolong minhoo…
    Ayooo dundd, pensaraan ma kelanjutannya..
    Siapa tuch yang disuruh jaga?
    Dan menjaga sapa???
    Aihhh…..makin penasaran… 🙂

  2. Hoho, love ya~.
    Aku suka banget cara mereka deket, eunmi-ya tolong om tiang ya, buat meluluhkan kebekuannya itu.
    Ah, great lah pokoknya.

    Keep writing!

  3. yeyyyy minji kyak x udh mlai sama2 punya fell nih……. nah lo cv tuh xg dsrh jaga n cv xg djaga jiyi kh???tp knp???? llu sbnarx omma minho tu masih hidup ???? next next

  4. Surat dari Eomma Minho. Nah loh, Jiyeon udah berani baca surat orang lain tuh, Kekekkke~

    Eiii, Eunmi diajak tinggal juga sama Minho. Jadi adik yang selalu membuat Minho tersenyum, ya. ^^

    Kemarin setelah Minho nolongin Jiyeon yang kena bola, sekarang Jiyeon yang nolongin Minho dari kolam renang. Sebenarnya mereka berdua pantes jadi dokter.

    Percakapan dua namja itu bikin penasaran deh. Siapa ya mereka? Terus itu juga di akhir-akhir, ada kemunculan Jang Gaeun. Jangan-jangan itu saudara kembarnya ibu Minho. Atau… atau jangan-jangan emang arwah ibu Minho yang mau nakut-nakutin Jiyeon karena udah baca suratnya *haha, ngaco. Penasaran + penasaran = nggak sabar nunggu part selanjutnya.

    Nice story.

  5. Ibunya minho msh hidup atau udah meninggal sih?
    Minho ternyata ga bisa berenang, kyaa~ envy sama jiyeon. Aku juga mau nolong minho kalo gitu.
    Penasaran sama surat yg satu lagi.
    Ditunggu banget part selanjutnya^^ thanks author^^

  6. Annyeong…. Mian baru comment di part ini… Coz part sebelumnya ∂ķΰ dah baca di WP lain… Tp sepertinya di WP itu ƍäªk di lanjutin… Bener ƍäªk ya??

    ∂ķΰ penasaran sama lanjutannya…
    Di tunggu ya kelanjutannya
    🙂

  7. Omo bibir minho ma bibir jiyi bertemu wlaupun tak bisa d sbut sbuah ciuman….tpi stdaknya bertm…Kkkkk
    sapa ya yang d sruh menjaga and menjaga siapa????
    Trus siapa tuh yang d lhat jiyi pas keluar rmh minho????
    Neeeeeeext chingu makin seru and sukses buat q pnasaran nunggu lanjutan_ny….hehehe
    next bnyakin moment MINJI_ny donk chingu…heuheu
    neeeeext palliiiiiiii…. 😀

  8. semoga part selanjutnya cepetan dipublish..
    aku menunggu part selanjutnya..

    bibir nya minho sama jiyi bertemu..kekeke
    jiyi udah dapat restu dari eunmi untuk jadi pacarnya minho 🙂
    suka banget ceritanya

  9. Manis yh oppa bibirny…
    Ya iyalah, kan br cium sm jiyeon…
    Mian br komen di part ini…
    Kapan di lanjutin ffny?

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s