End is The Beginning

Title : End is The Beginning

Author : Arisa

Main Cast : Lee Jinki a.k.a. Onew, Kim Hye Mi (OC), Choi Minho a.k.a. Minho

Support Cast : Kim Kibum a.k.a. Key

Length : Oneshoot

Rating : General

 End is The Beginning

Waktu telah berjalan begitu lama, amat sangat lama. Beribu-ribu tahun berlalu, dan bumi telah beredar dalam porosnya. Matahari berganti wajah seiring berjalannya waktu begitu juga dengan bulan, sang bintang malam.

Hye Mi terduduk diatas sofa sejak satu jam yang lalu, masih sibuk menatapi setiap sudut rumah yang sejak tadi mampu membuatnya membeku. Semua jenis yang berada di rumah itu seakan menusuk indra penglihatannya. Bukan karena ia tidak pernah melihat benda-benda itu, hanya saja ia tidak tahu bahwa kekasihnya itu begitu kaya, hampir sejajar dengan kehidupannya. Namun anehnya, pria itu sama sekali tidak pernah memperlihatkan betapa kayanya dia, bahkan mungkin bisa dibilang, semua harta kekayaan milik kekasihnya yang sedang ia pandangi sekarang akan melebihi semua harta kekayaan yang dimiliki orang tuanya yang diwariskan kepadanya juga adiknya.

“Kau hanya terdiam selama satu jam ini, apa tidak bosan?” suara itu datang begitu saja menghampiri indera pendengarannya. Hye Mi melirik kearah suara tersebut dan tersenyum kikuk, mengingat sedari tadi ia tidak mempedulikan keberadaan kekasihnya. Masih terpukau dengan apa yang ada di jangkauan pandangannya saat ini.

Hye Mi membenarkan posisi duduknya agar menghadap kearah kekasihnya. “Kau yang membuatku seperti ini,” tukas Hye Mi datar. Onew terkekeh mendengar pernyataan yang terlontar dari kekasihnya. “Aku tidak mengira kau akan bereaksi berlebihan seperti ini,” ucapnya sok serius.

Hye Mi mendongak ketika matanya menangkap sebuah lukisan yang amat terkenal pada zamannya.

“Kau mengkoleksi lukisan-lukisan kuno?” tanya Hye Mi bangkit dari dudukannya dan melangkah mendekati lukisan yang sedang menarik perhatiannya kini. “Metropolitan, kekuasaan,” tukas Hye Mi setelah beberapa saat memerhatikan benda tersebut. Ia tidak mengerti mengapa bisa merasakan perasaan sang pelukis ketika melihat setiap guratan penanya di kanvas putih tersebut.

Onew mendekat, merapat kearah Hye Mi lalu merengkuh bahu gadis itu agar mendekat kearahnya. “Orang tuaku yang mengkoleksinya, bukan aku. Dan aku cukup terkejut ketika kau tahu tema dari lukisan ini. Goresannya, menurutku tidak terlalu detail,” tutur Onew ikut memerhatikan. Keduanya larut memandangi keindahan dalam seni lukis tersebut, hingga akhirnya Onewmenarik tubuh Hye Mi untuk mengekor di belakangnya.

“Mau kemana?” Hye Mi mengerjapkan matanya, bertanya dengan nada penasaran. Onew tetap terdiam tidak membalas, kakinya masih bergerak satu persatu saling menyusul.

Mereka menaiki sebuah tangga yang keberadaannya tiba-tiba muncul begitu saja dari atas atap rumah Onew. Gadis itu menyipitkan mata dan mengerti bahwa rumah yang didiami Onew pastilah penuh dengan ruang rahasia, mengingat bahwa kedua orang tua pria itu adalah tokoh paling berpengaruh di Korea. Dan Hye Mi tidak habis pikir, seberapa hebat manusia-manusia itu menyembunyikan keberadaan Onew, karena satu sama lainnya tidak pernah mengatakan bahwa mereka mempunyai seorang anak. Di semua media massa, mereka sama sekali tidak pernah mengatakan bahwa mereka mempunyai anak, namun sekarang pada kenyataannya, mereka mempunyai seorang anak bernama Lee Jinki. Dan Hye Mi tidak mengerti mengapa kedua orang tua Onew lebih memilih untuk menyembunyikan anak kandung satu-satunya itu dari rangkaian media massa daripada mengatakannya. Dan itu sedikit memukul hati Hye Mi yang sangat menyayangi Onew lebih dari apapun saat ini.

Onew menghentakan sebelah kaki kanannya saat mereka berdua telah berada disebuah ruangan yang dihubungkan oleh tangga tadi, membuyarkan pikiran Hye Mi yang sedang berkutat dengan fakta yang baru di dapatkannya, dan tiba-tiba ruangan yang sedang mereka tempati saat ini, terbuka menjadi lebih luas. Awalnya hanya berpetak sekitar 12 meter persegi, namun ternyata setelah kaki pria itu menghentak sebanyak tiga kali, ruangan itu melebar sekitar dua kali lipatnya, bagian atas atapnya membuka sebagian, memperlihatkan langit malam yang indah. Hye Mi membulatkan matanya, pemandangan yang tepat dengan pengambilan view yang tepat serasa membuat semuanya terasa indah. Bahkan lebih indah dari langit malam yang biasa Hye Mi lihat saat sedang merindukan kekasihnya itu.

“Kau datang ke kehidupanku, aku sangat bersyukur. Kau menerima keberadaanku dengan lapang, apa adanya, tanpa protes, aku pun sangat senang. Kau mencintaiku begitu tulus, itu adalah bonus untukku, karena awalnya aku tidak mengharapkan hubungan yang lebih dari sekadar pertemanan. Karena sudah lebih dari cukup ketika kau memintaku menjadi temanmu.” Onewtiba-tiba membuka mulutnya dan menyuarakan apa yang ada di fikiranya itu. Menghela nafas panjang beberapa saat kemudian, dan sedikit berat ketika menghembuskannya. Tangan pria itu menggenggam tangan Hye Mi erat, seakan tidak ingin melepaskan genggaman tersebut.

Hye Mi tersenyum, senang. Tentu saja, keberadaan Onew pun telah mengubah segala bentuk persepsi orang-orang yang mengenalnya. Meski awalnya saat hubungan mereka resmi menjadi sepasang kekasih, Hye Mi sedikit jengkel dengan keyakinan Onew yang terus saja bersi keras tidak ingin menceritakan apapun tentang hidupnya. Dan Hye Mi menjadi terbiasa ketika hatinya memaksa untuk menyerah akan hal tersebut. Seberapa besar ia berusaha marayu pria itu untuk mengungkapkan sejarah keluarganya, Onew tidak akan pernah membuka mulut, karena itu watak dasar pria yang menjadi kekasihnya kini.

“Aku pun senang, kau telah membantuku, banyak sekali,” ungkap Hye Mi dramatis. Onew mendecak pelan dan menjitak kepala Hye Mi. “Kau tidak menganggapnya serius Hye Mia~ah,” gerutu Onew kemudian.

Gadis itu tersenyum lebar lalu melepaskan genggaman tangannya, entah kenapa saat hal itu terjadi, tubuh pria itu membeku begitu saja, genggaman tangannya yang tadi begitu erat kini kosong, paru-parunya tiba-tiba mengecil dan rasa sesak itu memenuhi rongga di dadanya. Matanya melebar menatap kepergian tangan mungil yang sejak awal digenggamnya, rasanya semua pasokan oksigen di sekelilingnya menipis begitu saja. Tangan itu terlepas sendirinya oleh pemilik tangannya, dan Onew menahan rasa sesak itu dengan senyum palsu saat Hye Mi memanggilnya untuk mendekat.

“Bintang ini akan menjadi saksi, bahwa aku selalu mencintaimu,” tutur Hye Mi dengan pandangan lurus keatas. Menatap ribuan bintang yang berkerlap-kerlip, namun ada satu disana yang menyala begitu terang sehingga Hye Mi memilih bintang itu untuk menjadi saksi bahwa hatinya tidak akan pernah berubah untuk siapapun. Hanya akan untuk seorang Lee Jinki.

“Hye Mi~ah, gomawo.”

***

Hye Mi terpaku, tatapan matanya menerawang. Ada yang berbeda dengan keadaannya saat ini, dan Hye Mi tidak pernah memikirkan rasa yang akan berbeda itu dalam jangka waktu dekat. Semuanya kosong. Hatinya kosong, bahkan terkesan ditekan begitu dalam sehingga dipaksa untuk menghilang.

Ribuan suara nyaring disekitarnya telah kabur begitu saja, yang menjadi fokusnya saat ini hanya satu. Sebuah gumpalan tanah yang sejak lima belas menit yang lalu sempurna menutupi sebuah kerangka tubuh seseorang yang amat dicintainya selama ini. Key menepuk pelan bahu noonanya dan mengajak gadis itu untuk meninggalkan makam yang sejak tadi hanya ditatap gadis itu kosong. Hye Mi menggeleng pelan dan menepis tangan sang adik dengan lembut. Tersenyum kuat agar adiknya itu tidak perlu mencemaskannya karena kenyataan pahit yang baru saja menghampiri hidupnya.

“Aku kuat, aku hanya ingin lebih lama saja bersamanya,” ucap Hye Mi dengan nada bergetar. Key ragu-ragu untuk melangkah pergi dari tempat tersebut hingga akhirnya memutuskan untuk tetap menunggu noonanya itu di dalam mobil. Sebuah kenyataan yang dijalani oleh noonanya mungkin memang begitu menyakitkan, Key tahu sekali betapa Hye Mi sangat mencintai pria bernama Lee Jinki itu. Bagaimana gadis itu begitu memuja sang kekasih layaknya dewa, bagaimana saat hari pertama mereka bertemu, Key terus saja mendengarkan ocehan noonanya itu menceritakan tentang Onew. Key tahu benar, sebesar apa rasa sakit yang mendera noonanya saat ini. Dan itu akan sangat menyakitkan jika terjadi padanya.

Hye Mi mendesah pada setap hela nafasnya yang terasa begitu berat, kekosongan itu begitu penuh menyerang dadanya, dan Hye Mi berusaha untuk mempertahankan keyakinannya, bahwa hanya jasad pria itulah yang menghilang dari pandangan matanya, jiwa pria itu masih tetap bersamanya, memenuhi hatinya. Tiba-tiba saja bayangan masa lalunya ketika pertemuan pertama mereka melintas begitu saja di dalam otaknya.

~

Saat itu musim salju akan segera menyambut. Semilir angin sudah bisa membekukan diri jika tidak memakai mantel yang cukup tebal. Hye Mi, saat itu sedang mencari keberadaan adiknya. Key mengiriminya pesan untuk bertemu di sebuah coffe shop di dekat rumah mereka. Hye Mi tidak tahu apa yang akan dilakukan adiknya itu, dan ia hanya bisa menurutinya karena pada saat itupun ia sedang mati kebosanan karena ia dipaksa cuti bekerja oleh ayahnya.

Mata gadis itu terus saja berkeliling mencari sosok seorang Kim Kibum agar bisa masuk ke dalam pandangannya. Namun selama dua puluh menit berlalu, pria itu sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya. Yang Hye Mi lihat hanyalah satu dua orang yang tidak dikenalinya yang memasuki tempat tersebut. Dengan jengkel Hye Mi beranjak  dari tempatnya dan meninggalkan tempat tersebut dengan sebuah gerutuan panjang yang keluar dari mulutnya.

Kakinya melangkah menuju taman tempat ia dahulu saat kecil sering bermain ayunan. Hanya untuk berlomba dengan Key untuk mencari siapa yang lebih tinggi mengayunkannya. Dan Hye Mi selalu kalah dari pria itu.

“Kau menyukai ayunan?”

Hye Mi melirik kearah sebuah suara lembut disampingnya. Menatap seorang pria yang berdiri disana. “Kau berbicara kepadaku?” tanyanya seraya menunjuk diri sendiri dengan telunjuk kanannya. Pria itu tersenyum samar dan entah apa yang terjadi, Hye Mi merasa bahwa senyum itu berbeda dari kebanyakan orang yang ditemuinya. Seakan menyihirnya sehingga menginginkan kembali senyum samar itu terukir di wajah manis pria itu.

“Tentu, disini hanya ada kita berdua,” ucapnya seraya mengelilingkan pandangannya, membuktikan bahwa perkaataannya adalah benar.

Hye Mi mengikuti apa yang dilakukan sang pria lalu terkekeh kikuk. “Hehe… Tadi… kau bertanya apa?”

Alih-alih mengulang kembali pertanyaannya, pria itu melah menarik lengan Hye Mi dan mengajak gadis itu untuk berlomba seperti apa yang biasa dia lakukan dengan Key. Hye Mi sedikit terperangah ketika mendapati bahwa pria yang sekarang sedang menggenggam tangannya, berbeda dari kebanyakan pria lainnya.

~

“Aku mencintaimu, aku mencintaimu Lee Jinki. Tetaplah bersamaku,” ucap Hye Mi lirih setelah mengakhiri ingatannya tentang pertemuan ketidaksengajaan mereka. Sebulir air mata yang sejak tadi ditahannya meluncur begitu saja. Kepergian Onew yang mendadak, semuanya telah mengacaukan kerja syarafnya, dan otaknya berfungsi tidak baik sekarang. Ia merasa menjadi orang yang tidak mempunyai pengetahuan ketika sebuah ide gila mengambang begitu saja di otaknya.

“Itu tidak benar,” sebuah suara yang entah darimana begitu saja sampai di telinganya. Hye Mi dengan segera membalikkan tubuhnya dan mendapati seorang pria sedang mengamatinya. Hye Mi mendelik kesal, ucapan pria itu seakan menyela setiap pikiran yang tadi muncul di otaknya.

“Kau tidak berhak untuk menghilangkan nyawamu begitu saja. Semua orang masih membutuhkanmu, dan lebih baik kau tetap berada dalam jalan hatimu yang benar,” ucap pria itu lalu membalikkan badan melangkah meninggalkan Hye Mi. Gadis itu tersadar dan mengejar pria tersebut setelah berpamitan terlebih dahulu kepada Onew.

“Tunggu!” teriak Hye Mi cepat sebelum ia kehilangan jejak pria itu. Nafasnya memburu sedang sang pria terdiam ditempat tanpa membalikkan badan. Menunggu kedatangan Hye Mi di tempatnya seraya memikirkan sebaiknya ia harus bagaimana.

Hye Mi mempercepat langkahnya, menyentuh bahu sang pria lalu membalikkan badannya agar menghadap kearahnya. “Kenapa kau tahu isi fikiranku?” tanya Hye Mi cepat.

“Manusia tertentu bisa membaca fikiran orang lain,” ucapnya datar. Hye Mi mendengus kesal. “Dan kau mengatakan secara tidak langsung bahwa kau adalah manusia tertentu yang bisa membaca fikiran orang lain?” Hye Mi tidak percaya dengan apa yang diucapkannya barusan. Bisa membaca fikiran orang lain? Hal bodoh apa yang sedang di dengarnya kali ini?

“Aku tidak mengatakan seperti itu, lebih baik kau fikirkan kembali perkataanku tadi.”

“Aku tidak mau!”

“Yasudah, aku tidak memaksamu,” ucapnya dan kembali melangkahkan kaki. Kali ini Hye Mi tidak mengejar pria itu karena panggilan dari adiknya yang menggema di telinganya menghentikan niatnya untuk mengejar kembali pria yang tidak dikenalnya itu.

“Hei.. Chakk….”

“Kau hanya perlu mengikuti waktumu, dan kau akan menemui takdirmu,” teriak pria itu tanpa menoleh sedikitpun kearah Hye Mi dengan tangan kanan yang melambai. Gadis itu menatap punggung sang pria penasaran. Apa yang dikatakannya?

“Kau harus tahu, bahwa ada orang lain yang menyayangimu selain pria itu, Kim Hye Mi.” Minho tersenyum kecut dan benar-benar pergi dari tempat tersebut. Meninggalkan Hye Mi yang terpaku menatap kepergian Minho tanpa gadis itu ketahui apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu, dan juga siapa pria yang barusan menyela ucapannya. Semuanya hanya akan menjadi misteri bagi gadis itu untuk saat ini.

“Aku akan tetap berada disampingmu sampai akhir, jadi kau hanya perlu berada di dunia ini kan?” gumam Minho seraya memasuki mobil porsche miliknya. Meninggalkan pemakaman yang menyisakan tubuh Hye Mi yang terdiam penasaran.

***

END

Ps: Annyeong, ini adalah FF pertamaku yang aku kirim ke SF3SI, dan aku berharap mendapat respon yang positive, dan buat yang bertanya, ini akhirnya bagaimana, lebih baik kalian saja yang berimajinasi untuk mengakhirinya. Sehingga tidak hanya satu saja ending yang bisa kalian buat, dapat berpuluh bahkan beribu-ribu ending untuk cerita yang aku buat ini. Maaf apabila tidak menghibur sedikitpun. Saran dan Kritik selalu aku tunggu. Comment like ‘Oxygen’. Gomawo.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

33 thoughts on “End is The Beginning”

  1. Nama Authornya Arisa? Wah, jadi inget komik judulnya ‘Arisa’, hahaha.

    Aku agak kaget pas tiba-tiba kata ‘pria itu’ diganti jadi ‘Minho’, yah, tapi nggak apa, kok^^

    Penulisannya rapih, meskipun kadang abis tulisan ‘Onew’ ada yang nggak di spasi. Tapi tetep keren kok! Aku pengen punya rumah kayak Onew T~T

    Keep writing thor!

    1. Kekek~ aku emang penggemar anime 😀 atpi nggak buat komik hehe

      ah, ada typo toh, maaf ya, lain kali aku baca lagi dengan teliti 😀
      silahkan berimajinasi tuh buat rumah kayak Onew, aku juga gatau kenapa bisa kepikiran kayak gitu hoho

      makasih ya udah mau baca

  2. eehh, udah selesai… agak gantung ya..
    gak nyangka ternyata Hyemi-nya lagi mengenang Jinki. gak dijelasin jg knapa Jinki-nya meninggal..
    Klo imajinasi saya, Minho-Hyemi bakan jadian.. 😀

    Ok Arisa, ditunggu karya selanjutnya.. 🙂

    1. itu sengaja aku gantungin, kan judulnya juga berimajinasi liar saja bagaimana Minho dengan Hyemi pada akhirnya 😀

      nah untuk meninggalnya Jinki, nanti mungkin ada penjelasannya, tapi kalau dibaca lebih teliti lagi bakalan tau tuh kenapa Jinkinya meninggal hoho
      makasih sudah mau baca 😀

  3. onew meninggal karena apa thor? ceritanya bagus, apalagi kalo endingnya ditulis oleh penulisnya sendiri 😛 heheh gkpp sih, ttp keren 🙂 keep writing 😀

    1. kenapa ya? nanti ada penjelasannya kalau sudah ketemu sebaiknya meninggalknya karena apa, kekek~
      tapi kalau dibaca lebih teliti, ada tuh jawaban meninggalnya Onew 😀

      makasih ya sudah mau baca 😀

  4. Hai, bagus ffnya tapi, masih bertanya-tanya nih Onew meninggalnya kenapa. Terus aku agak bingung sama perpindahan settingnya. Ditunggu lanjutannya ya, biar gak penasaran habis gantung. Keep writing ^u^)/~♥

  5. Jinki meninggal karena serangan jantung? Betul tidak… Hehe asal nebak

    gantung banget.. Ada beribu tanda tanya di otakku. Hemmmm…
    Tetapi tetep bagus. Minho sepertinya sejenis stalkernya hye mi deh. Tau banget perasaan hyemi.
    Okeh cukup… Ditunggu karya yg lainnya

    1. wohooo~ semua bertanya Jinki meninggalnya kenapa ekek~ authornya ga bener sih XD

      beribu pertanyaan itu, biarkanlah tetap menjadi misteri ^^

      oke, makasih sudah mau baca yaa 😀

  6. Nih aku nyumbang sedikit oksigen ya…

    Aaa,,,, aku gak nemu penyebab onew meninggal…

    Aku yakin; ini pasti ada sekuelnya, Kim Hye Mi ma Minho…
    Eciehhh,
    jd keinget HoMi couple-nya Mamotho eon..

    Bagus bgt FFnya, keep writing ne Arisa-sii…

    1. aaa terimakasih ya sudah ngasih aku oksigen, meski sedikit sangat bermanfaat ^^

      hiyaa~ lagi semua mengatakan hal yang sama XD
      saya sebagai author, meminta maaf karena sudah buat semua pembaca pensaran, *bungkuk 90 derajat*

      jiaah, ini tau aja kalau mau ada sekueulnya 😀 bahkan saya menyiapkan pembukanya dengan kopel lain haha 😀

      terimakasih ^^

  7. Woaah~ saya suka saya suka *ala mei-mei*

    Jinkinya meninggal karena sakit ya ?? *nebak-bebak*
    Penasaran nih kok si minho tiba-tiba muncul (?)

    Berharap ada sekuel hehe…

    Penulisannya bagus sih tapi ceritanya ngegantung ._.

    Keep Writing ne ^^

    1. terimkasih terimakasih *bungkuk*

      bisa juga tuh, haha terserah kamu mau bagaimana itu Jinkinya meninggal *author ga tanggung jawab*
      minho kan cenayang *eh

      okeh ^^

  8. ceritanya gantung…
    padahal penasaran kelanjutan kisah minho-hye ri kayak gimana 😦
    tapi tetep keren kok, ceritanya sudah bagus. Ditunggu FF selanjutnya! ^^

    1. suiiing, yang butuh oksigen dataaang XD
      iyaa soalnya aku digantungin sama onew makanya aku buat mati aja (?)
      thanks ya udah mau baca dan comment 😀

  9. Aaa onew nya meninggal karna apa?
    Hidup onew sama kayak ceritanya Taecyon di Dream High iya? Yang anak presiden tapi gak diakui keberadaannya?
    Terus gimana ceritanya minho bs kenal sama hye mi?
    Masih banyak yg ngegantung thor. Sequelnya dong :p
    tapi ff bagus kok aku suka 🙂 keep writing yak !

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s