Angel Twins

ANGEL TWINS

Author             : Natiyoo

Main Cast        : Lee Taemin, Lee Taerin

Support Cast    : Kai, Lee Taehyun

Length             : Oneshoot

Genre              : Angst, Family, Bromance.

Rating              : PG-13

Disclaimer       : Annyeonghaseo^^ ini FF pertama aku yang aku post di SF3SI. Semoga kalian suka yaa 😀 kritik dan saran aku tunggu~^^

AUTHOR’s POV

“Lee Taerin! Kau ini manusia atau siput sih? Cepat sedikit! Kita bisa terlambat!”

“YA! Kau itu pernah diajarkan sopan santun tidak sih? Aku ini kakakmu! Mana ada adik berbicara sekasar itu pada kakanya?”

“MWO? Siapa bilang kau kakak? Sudah jelas jelas kau itu adikku. Umma dan Appa juga sudah bilang kalau aku yang lahir duluan. Itu artinya aku yang kakak kan?”

“Cih kakak apanya? Sifatmu itu masih sangat kekanak kanakan. Sama sekali tidak pantas disebut kakak. Sifatku kan lebih dewasa darimu. Karena itu aku yang kakak!”

“Kau fikir sifatmu itu tidak kenakak kanakan apa? Kau itu…..”

Begitulah suasana di kediaman keluarga Lee. Rumah itu memang selalu ramai dengan pertengkaran pertangkaran yang terjadi antara Lee Taemin dan Lee Taerin. Kedua anak kembar itu memang hampir selalu bertengkar. Permasalahan kecil saja bisa menjadi bahan pertengkaran mereka. Tapi bagaimana pun seringnya mereka bertengkar, mereka tetap saja sepasang anak kembar yang saling terikat satu sama lainya.

Lee Taemin, siswa paling populer di sekolah mereka. Dia tampan dan jago olahraga. Selain  itu kemampuan dancenya yang sangat hebat juga semakin membuat semua siswi di sekolahnya tergila gila. Bisa dibilang dia adalah sosok laki laki idaman semua siswi di sekolah ini.

Lee Taerin, tidak jauh beda dengan kembarannya. Dia juga cantik, pintar, jago dance, dan satu kelebihannya dari saudara kembarnnya terletak pada kehebatannya di bidang musik. Taerin sangat mahir memainkan piano dan memiliki suara yang bisa menyaingi bidadari.

Mereka biasa disebut Angel Twins.

TAEMIN’s POV

“Kyaa Taemin Oppa benar benar kereen!”

“Lee Taemin, entah kapan aku bisa mendapatkan namja-chingu seperti dia…”

“Taemin Oppa… kau benar benar maha karya Tuhan!”

Haish kenapa yeoja yeoja itu berisik sekali sih? Aku mana bisa konsentrasi latihan kalau begini? Suara mereka bahkan lebih besar dari suara musik yang mengiringiku menari-__-

Ya menari. Salah satu kegiatan yang paling kusukai di dunia ini. Menari sudah menjadi bagian hidupku sejak lama. Aku mahir dalam hampir semua jenis tarian. Bukan Lee Taemin namanya kalau tidak menari hahaha. Aku bisa menari kapan saja. Saat senang, saat sedih, saar bingung, saat resah, kapanpun. Menari adalah salah satu bentuk pelampiasanku dari masalah yang ku hadapi.

Aaaahh tidak! Aku terlambat satu ketukan! Sial! Ini semua gara gara yeoja yeoja itu yang mengganggu konsentrasiku! Kenapa mereka semua selalu menyebalkan begitu sih? Sepertinya satu satunya yeoja yang tidak menyebalkan adalah Taerin kembaranku.

Lee Taerin. Yeoja paling sempurna dimataku. Tentu saja dia sempurna. Dia kan kembaranku hahaha^^ Selama 17 tahun aku hidup di dunia ini, aku belum pernah menemui yeoja yang seperti Taerin. Dia benar benar sempurna baik sifat maupun fisik. Siapapun yang menjadi suaminya pastilah namja paling beruntung sedunia!

Aku sangat menyayangi Taerin. Dia adalah segala galanya bagiku. Apapun rela ku korbankan untuk dia. Yah meskipun kami sering bertengkar, tapi kami tetap saling menyayangi. Mungkin begitulah cara kami untuk mengungkapkan rasa sayang.

Kami hanya tinggal berdua di rumah. Ibu sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Sementara Ayah kami selalu sibuk dengan pekerjaanya. Memang karena kerja keras beliau lah kami bisa hidup dengan sangat berkecukupan. Tapi karena itu pula kami menjadi kesepian. Segala sedih senang hanya kami lalui berdua. Kami saling tergantung satu sama lain dan tidak bisa terpisahkan.

Sangking lengketnya, orang orang bahkan biasa menyebut kami Angel Twins.

“YAA TAEMIN-AH! Taerin barusan pingsan di toilet perempuan!” Seruan Kai sahabatku yang tiba tiba itu sontak langsung membuyarkan lamunanku.

“MWO? Taerin pingsan? Bagaimana bisa? Ada dimana dia sekarang? Bagaimana keadaannya?” tanyaku membabi buta pada Kai.

“Tadi dia tiba tiba pingsan di toilet perempuan. Sekarang dia sudah dibawa ke ruang UKS. Aku tidak tau pasti bagimana dia bisa pingsan tapi yang jelas dia mimisan sebelum pingsan.”

Badanku serasa kebas mendengar semua ucapan Kai. Taerin pingsan. Dia mimisan. Oh tidak… Dulu orang itu juga mengalami hal yang sama sebelum….

Ah tidak, tidak mungkin. Hal itu tidak mungkin terjadi pada Taerin. Tidak tidak. Tidak mungkin. Taerin pasti hanya kelelahan. Ya benar, dia pasti hanya kelelahan. Karena itu dia mimisan lalu pingsan. Dia kan memang lebih lemah dariku. Lebih gampang sakit. Tidak mungkin dia pingsan gara gara itu…

Kupacu kakiku dengan cepat menuju ruang UKS. Beberapa kali aku sempat menabrak orang yang sedang berjalan di sekitarku. Tapi kekhawatiranku terhadap Taerin membuatku tidak sempat untuk sekedar berhenti dan mengucapkan kata maaf.

Nafasku sudah terengah engah saat kakiku akhirnya menginjak ruang UKS. Ruangan kecil ini penuh dengan manusia. Nyaris sesak bahkan. Untungnya mereka menyadari kehadiranku dan memberiku jalan untuk melihat keadaan Taerin.

Dan disana dia terbaring lemah. Wajahnya pucat pasi, seragam putihnya dipenuhi bercak darah di sana sini, selang oksigen terpasang rapih di hidungnya membantunya untuk bernafas. Kakiku mendadak lemas melihat keadaannya. Aku berjalan gontai mendekatinya. Ku genggam tangan mungilnya. Dingin.

Lee Taerin, kau baik baik saja kan?

Akhirnya aku melihat Ayah lagi. Setelah beberapa bulan aku tidak bertemu dengannya. Akhirnya hari ini beliau menampakkan batang hidungnya di depanku. Tidak ku sangka ketika diberitahu mengenai keadaan Taerin beliau bisa dengan cepat muncul di rumah sakit.

Ya Taerin memang sudah dipindah ke rumah sakit. Sudah lebih dari 5 jam sejak dia pingsan tapi dia belum kunjung sadarkan diri, karena itulah dia dirujuk ke rumah sakit ini untuk dicari tahu dengan lebih jelas apa yang menyebabkan dia pingsan.

Ayah barusan dipanggil oleh dokter. Jadilah aku sendirian menemani Taerin. Kutarik sebuah kursi dan duduk di samping ranjang Taerin. Tangan Taerin masih tetap dingin, dia juga masih terbaring lemas dengan wajah yang pucat. Tampaknya infus dan segala macam obat obatan yang diberikan oleh dokter sedari tadi tidak berdampak apa apa padanya.

Aku makin cemas dengan keadaanya. Bayangan kejadian 9 tahun yang lalu kembali terbayang dengan jelas di pelupuk mataku. Ya Tuhaan… kumohon jangan lagi… jangan lagi kau ambil orang yang ku sayangi dari sisiku Tuhan…

AUTHOR’s POV

Ruangan dokter ini entah kenapa terasa lebih dingin dari ruangan lain di rumah sakit. Setidaknya bagi pria itu, Lee Taehyun. Dia kini sudah duduk manis dihadapan sang dokter sementara dokter itu terus saja mengoceh menjelaskan keadaan Taerin, putrinya. Sebenarnya dia sudah nyaris tidak mendengar apa yang dikatakan dokter itu. Satu kata saja sudah cukup menjelaskan semuanya kepadanya.

Sirosis.

Dia tahu semua detail mengenai penyakit itu. Penyakit yang telah merenggut nyawa orang yang paling penting dalam hidupnya. Istrinya, belahan jiwanya telah direnggut secara paksa darinya oleh penyakit itu.

Dan sekarang… Putrinya yang paling disayanginya harus menderita penyakit yang sama. Adilkah semua ini baginya?

Hujan turun dengan deras di luar. Sangat selaras dengan suasana di rumah sakit yang kelabu. Taehyun berjalan dengan gontai di koridor rumah sakit. Dia masih sangat terpukul dengan apa yang dikatakan oleh dokter barusan.

Apa yang harus dikatakannya pada Taemin putranya? Dia tidak tega berkata jujur pada Taemin mengenai penyakit Taerin. Tapi ia juga tidak mampu untuk berbohong pada Taemin. Apa yang harus dia lakukan.

Dia mendudukkan tubuhnya pada salah satu kursi yang ada di koridor itu. Sejenak dia hanya memandang kosong ke arah hujan. Entah sejak kapan yang jelas perlahan butiran butiran air asin mulai membentuk sungai di pipinya. Dengan tangan gemetar dia mengambil dompetnya dari saku celana. Perlahan dibuka dompet itu dan mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalamnya.

Foto pertama adalah foto keluarga kecil mereka sedang tersenyum bahagia ke arah kemara. Foto itu diambil 10 tahun yang lalu, saat mereka berempat masih bisa tersenyum bahagia tanpa beban. Saat ia belum tau mengenai penyakit yang diidap istrinya tercinta.

Foto kedua adalah foto Taemin dan Taerin berdua. Mereka mengangenakan seragam SMA dan tersenyum dengan sangat lebar dan ceria. Foto ke tiga dan ke empat masing masing adalah foto si kembar itu sedang memegang sebuah piala. Piala yang mereka dapatkan saat mereka memenangkan lomba dance dan lomba piano beberapa bulan yang lalu. Mereka juga masih tersenyum dengan sangat lebar ke kemera.

Senyum itu…. Sanggupkah dia kehilangan lagi salah satu senyum itu?

Luka di hatinya karena kehilangan belahan jiwanya saja belum sepenuhnya sembuh. Haruskah luka itu ditimpa lagi dengan luka karena kehilangan darah dagingnya karena penyakit yang sama?

Jam dinding berdatak resah di latar, langit masih menangis menumpahkan karunianya untuk alam semesta, dan matahari sudah meringkuk di balik persembunyinnya seakan takut pada bintang bintang.

Bangunan kelabu itu sepi. Kebanyakan penghuninnya sudah berkelana dengan riang di alam mimpi. Hanya ada satu-dua nyawa yang masih melekat pada raga yang tersadar melawan pekatnya malam. Salah satunya adalah Lee Taemin.

Namja itu duduk di bangku taman. Nyaris tak terlihat ditengah kegelapan malam dan derasnya air hujan yang mengguyur Seoul malam itu. Entah sudah berapa jam dia duduk diam tak bergerak. Tampak tidak terusik dengan tumpahan air langit yang mengguyur tubuh kurusnya. Matanya menatap kehampaan di depannya. Tubuhnya terasa kebas, syarafnya seakan mati dan jiwanya seakan telah lepas dari tubuhnya.

Sesuatu yang tidak diperdengarkan kepadamu, mungkin memang tidak seharusnya kau dengar. Kita memang berhak mengetahui segalanya, tapi tidak semua kenyataan yang kita ketahui bagus untuk diketahui.

Dia baru saja membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya. Seharusnya dia lebih sabar. Seharusnya dia diam saja menemani Taerin di ruang rawatnya. Seharusnya dia tidak usah menyusul ayahnya ke ruang dokter. Seharusnya dia tidak mendengar percakapan ayahnya denga dokter….

Seharusnya dia tidak tahu…

Fikirannya terbang melayang memasuki alam memori selama 17 tahun hidupnya. 17 tahun yang selalu dilaluinya bersama Taerin. Kembarannya. Belahan jiwanya. Ya belahan jiwa. Taemin selalu mengganggapnya seperti itu. Mereka berasal dari satu sel yang sama yang kemudian membelah dan menghasilkan dua individu yang serupa. Lee Taemin dan Lee Taerin.

17 tahun hidupnya selalu diisi dengan senyum gadis itu. Taerin, orang yang paling mengerti Taemin. Tak perlu Taemin berucap sepatah kata pun padanya, Taerin sudah mengerti apa yang dirasakan Taemin. Tak pernah barang sedetik pun Taemin berfikir akan menjalani hidupnya tanpa Taerin disisinya. Dan sekarang kenyataan pahit itu terbentang jelas di pelupuk matanya.

Taerin sakit. Dia mengidap penyakit yang sama seperti yang telah merenggut ibunya.

TAERIN’s POV

“Taerin… hidup memang kejam bagi sebagian besar orang. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada kita. Dan kita juga tidak akan pernah bisa menolak apa yang sudah Tuhan takdirkan pada kita. Yang bisa kita lakukan hanyah menjalani semuanya dengan ikhlas dan berlapang dada. Dunia ini ada bukan untuk ditangisi, tapi untuk di isi dengan senyuman dan kebahagiaan. Tersenyumlah. Sebesar apapun masalah yang menimpamu tersenyumlah. Percayalah satu hal, rencana tuhan pasti lebih indah.”

Kata kata itulah yang selalu membuatku kuat. Kata kata terakhir yang ku dengar dari tubuh lemah ibuku, sebelum tubuh itu terbaring kaku di liang lahat.

Ibuku adalah wanita yang sangat hebat. Dengan kondisi tubuh yang lemah, beliau masih bisa melahirkanku dan Taemin dengan selamat ke dunia ini. Bahkan beliau masih sempat menemani kami selama 9 tahun pertama hidup kami. Mengajarkan kami segala sesuatu yang kami butuhkan untuk melalui hidup ini. Ketegarannya. Keteguhan hatinya. Beliau benar benar hebat kan?

Sejak dulu aku memang ingin menjadi seperti ibu. Ibu yang kuat. Ibu yang selalu tersenyum. Ibu yang tak pernah mengeluh sebesar apapun penderitannya. Ya aku ingin menjadi seperti ibu. Dan Tuhan mengabulkan permintaanku.

Jujur aku memang tidak meminta penyakit ini. Tidak ada orang di dunia ini yang ingin mengidap penyakit ini.

Sirosis. Kanker hati.

Penyakit yang telah membunuh entah berapa ribu nyawa. Penyakit yang sangat sulit diobati.

Tapi apa yang bisa ku lakukan? Seperti kata ibu, kita tidak akan pernah bisa menolak apa yang sudah Tuhan takdirkan. Semua itu adalah bagian dari rencana agung yang telah Tuhan buat dengan sepurna. Seperti ibu… yang bisa ku lakukan sekarang hanya ikhlas. Ini adalah bukti bahwa Tuhan menyayangiku. Aku benar benar diberi kesempatan untuk menjadi wanita luar biasa seperti ibu. Bedanya kali ini aku yakin aku akan bertahan lebih lama dari ibu.

Sudah 3 bulan berlalu sejak dokter memfonisku mengidap penyakit itu. Dan banyak hal yang berubah dalam 3 bulan itu. Ayah sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menemani aku dan Taemin di rumah. Sikap Taemin padaku juga berubah menjadi lebih baik. Dia menjadi sangat protektif. Baik di rumah maupun di sekolah, dia selalu menjagaku tanpa kenal lelah.

Rutinitasku sehari hari pun berubah. Sekarang setiap selesai makan aku harus selalu meminum obat obatan yang sangat banyak. Lalu setiap akhir pekan, tidak ada lagi acara jalan jalan ke mall berdua dengan Taemin. Rumah sakit adalah tempat kami berdua menghabiskan akhir pekan bersama.

Aku beruntung memiliki Taemin. Taemin adalah malaikat pribadiku. Anugrah Tuhan untukku. Malaikat yang membantuku untuk mejalani hari hariku yang berat. Dia selalu bisa membuat segalanya menjadi lebih mudah untukku.

Kata orang anak kembar itu saling terikat. Dan memang benar. Setiap kali aku merasa sakit, maka Taemin juga kan mersakan hal yang sama. Begitu pula sebaliknya. Kami bisa saling mengerti, saling memiliki, saling terkait.

Aku menyayanginya. Selama masih ada dia di dunia ini, aku tidak butuh alasan lain untuk hidup. Cukup hanya dia. Aku akan bertahan demi dia.

Matahari bersinar sangat terik hari ini. Sebenarnya kondisi tubuhku tidak begitu baik hari ini. badanku serasa lemas tak bertenaga dan wajahku lebih pucat dari biasanya. Tapi kerena hari ini ada ujian matematika, aku terpaksa harus masuk.

“Gwaenchanayo? Kau yakin kau tidak apa apa? Ku tidak usah memaksakan diri kalau tidak kuat. Kan masih bisa ulangan susulan.” Entah sudah berapa kali Taemin mengatakan hal itu padaku sepanjang perjalanan dari rumah ke sekolah.

“Gwaenchana~ kau tidak usah berlebihan seperti itu Taemmie~ aku baik baik saja kok. Percayalah padaku.” Ucapku untuk menenangkannya.

Baik baik saja? benarkah aku baik baik saja? rasa pusing ini menyerangku tanpa ampun. Aku juga sudah mulai merasakan rasa nyeri di ulu hatiku. Kumohon jangan sekarang….

“Taem maukah kau berjanji sesuatu padaku?”

Kami tiba saat sekolah sudah cukup ramai. Beberapa siswa tampak sedang melangkah melawati lapangan parkir dan adan beberapa siswa yang sedang bergerombol di depan pintu gerbang. Hari yang tampak biasa biasa saja di sekolahku.

Aku melangkahkan kakiku keluar dari mobil. Ooohh kenapa ini? Kepalaku tiba tiba terasa pusing dan badanku terasa sangat lemah. Kurasakan ada cairan hangat yang mengalir keluar dari hidungku. Kakiku tidak mampu menahan beban tubuhku sendiri. Seketika aku pun terjatuh. Kesadaranku sudah menipis. Hal terkhir yang kurasakan adalah tangan hangat Taemin yang menangkap tubuhku dan suara lirihnya yang meneriakkan namaku.

AUTHOR’s POV

Semuanya terasa kabur bagi Taemin. Raganya seakan bergerak sendiri saat dia menagkap tubuh Taerin yang jatuh lemas dan langsung membawanya menuju rumah sakit.

Taemin menyetir seperti orang kesetanan. Dia seakan tidak mengenal pedal rem dalam perjalanan singkat menuju rumah sakit itu. Beruntung letak rumah sakit dan sekolah mereka cukup berdekatan. Dalam hitungan menit, mereka pun tiba di rumah sakit.

Kini Taemin hanya bisa pasrah. Dokter dokter itu sedang berusaha menyelamatkan nyawa Taerin di dalam sana. Dia sudah memberitahukan keadaan ini pada Ayahnya sedang berada di Busan untuk urusan bisnis dan baru beliau baru bisa pulang ke Seoul malam nanti.

“Akh…”

Tiba tiba rintihan pelan keluar dari bibir Taemin. Ulu hatinya terasa sangat sakit. Apakah ini yang dirasakan oleh Taerin selama ini? Rasa nyeri hebat ini… apakah ini yang selama ini dirasakan oleh Taerin?

“Keluarga pasien Lee Taerin?”

Seruan dokter itu sontak menyadarkan Taemin. Sekuat tenaga dia melawan rasa sakit itu dan berjalan menghampiri sang dokter.

“Ya saya keluarganya. Bagaimana keadaan Taerin dok? Apakah dia baik baik saja?”

“Dia sedang dalam keadaan kritis saat ini. Kanker itu berkembang dengan sangat cepat. Kami membutuhkan donor hati segera untuk menyelamatkan nyawanya. Hanya itu satu satunya cara yang bisa ditempuh.”

“Donor hati? Aku akan melakukannya. Kami kembar. Hatiku pasti cocok kan untuknya? Aku akan melakukan apapun yang penting dia selamat.”

“Apakah anda serius? Pencangkokan hati ini sangat beresiko bagi anda maupun nona Taerin. Peluang dari operasi ini akan berakhir pun hanya sekitar 20%. Jika gagal, kemungkinan terburuk adalah anda berdua tidak bisa selamat.”

“Ibuku selalu mengajarkan kami untuk tidak pernah menyerah sesulit apapun keadaan yang ku alami. Selama masih ada harapan bagi kami berdua untuk hidup. Aku akan melakukannya. Sebesar apapun resikonya.”

“Baiklah kalau begitu. Mari ikuti saya. Ada beberapa tes yang harus anda jalani sebelum anda mendonorkan hati anda untuk nona Taerin.”

TAEHYUN’s POV

Tuhan tidak akan pernah memberi cobaan yang tidak bisa dilalui oleh hambanya. Dan aku yakin akan hal itu. Aku percaya bahwa Tuhan pasti akan memberikan kemudahan bagi hambanya yang mau berusaha.

Kurang lebih 15 menit yang lalu aku sampai di rumah sakit tempat Taerin di rawat. Dan sekarang di hadapanku sudah terpampang surat yang menyatakan bahwa aku mengizinkan anakku Lee Taemin untuk mendonorkan hatinya untuk menyelamatkan saudara kembarnya Lee Taerin. Surat ini hanya membutuhkan tanda tanganku sebelum mereka akan memulai operasinya. Operasi ini sangat berbahaya aku tahu. Aku bahkan mungkin akan kehilangan merka berdua seandainya oprasi ini gagal.

“Taem…. Kau yakin akan hal ini?”

“Ya Ayah. Aku yakin. Hanya ini satu satunya jalan yang bisa kita tempuh untuk menyelamatkan Taerin. Sebesar apapun resikonya. Akan ku hadapi. Ayah percayalah padaku.”

Sorot matanya…. Tidak ada rasa takut sedikitpun di sana. Entah sejak kapan anak ini sudah tumbuh semakin dewasa. Aku percaya padanya. Percaya akan niat tulusnya. Percaya kalau mereka akan mampu melewati operasi ini. Percaya kalau mereka akan bisa kembali hidup dengan sehat dan ceria, seperti dulu.

Kububuhkan tanda tanganku di atas surat itu, sembari memanjatkan doa pada Tuhan,dan mengikhlaskan segalanya agar berjalan sesuai rencana-Nya.

“Terimakasih Ayah. Sebelum terlambat, aku ingin mengatakan satu hal, kami mencintaimu ayah. Sangat sangat mencintaimu.”

AUTHOR’s POV

Mereka berdua terlahir spesial. Sepasang malaikat yang diturunkan tuhan ke bumi secara bersamaan. The Angel Twins. Lee Taemin dan Lee Taerin. Tuhan telah menyuarakan hukum mengenai kebersamaan mereka. Dan alam semesta dengan sepenuh hati mendukungnya.

Mereka selalu bersama. Dalam senang maupun sedih. Dalam hitam maupun putih. Saat ramai maupun sepi. Selalu. Sejak kecil sampai sekarang. Mereka tidak pernah terpisah. Dan kini, kebersamaan mereka abadi. Abadi di sisi-Nya. Abadi di tempat tinggal mereka yang sesungguhnya. Abadi di tempat semuanya akan berpulang. Abadi di surga.

Kedua gundukan tanah merah itu masih basah. Begitu pula dengan sungai sungai kecil di pipi orang orang berbaju hitam hitam yang mengantar mereka ke tempat peristirahatan terakhirnya.  Langit pun menangis. Seakan tak rela jika kedua malaikat itu pergi darinya.

Operasi itu berjalan lancar pada awalnya. Tapi pada saat sampai di bagian paling fatal…. Mendadak kondisi si kembar itu drop. Hingga pada akhirnya mereka tidak dapat diselamatkan.

Rencana Tuhan memang agung. Tak ada seorang pun yang bisa menebak kemana jalan takdir akan membawa kita. Begitulah yang terjadi pada Taemin dan Taerin. Tuhan memang sangat sayang pada mereka hingga memutuskan untuk memanggil mereka dengan cepat.

-FLASHBACK-

“Taem maukah kau berjanji sesuatu padaku?”

“Kau meragukanku? Aku kan sudah pernah bilang kalau aku akan melakukan apapun untukmu nona Lee Taerin.”

“Benarkah? Maukah kau berjanji untuk tidak akan pernah meniggalkanku? Mau kah kau berjanji untuk selalu ada di sisiku apapun yang terjadi?”

“Bahkan sebelum kau bertanya Taerin-ah. Aku akan selalu ada untukmu. Aku akan selalu ada di sisimu dan tidak akan pernah meninggalkamu. Aku akan menjadi apapun yang kau butuhkan. Selamanya. Aku berjanji padamu.”

“Baguslah. Kalau begitu aku bisa tenang sekarang. Terimakasih Taeminnie. Saranghae.”

“Nado Saranghae Taerin-ah”

END

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

24 thoughts on “Angel Twins”

  1. hmmm…. kayaknya aq the first, nih… udh lama juga g main d sf3si

    oke, mungkin ada bbrpa hal yg agak mengganjal pikiranku,
    alurnya agak kecepatan, mungkin kl lebih panjang sedikit lagi feelnya bakalan dapat.
    untuk saudara kembar beda jenis kelamin, mereka gak berasal dari satu sel telur yang sama tapi dua sel telur yg berbeda. kl dari satu sel telur yg sama, maka jenis kelaminny jg sama. tp masalah dua sel telur yg beda itulah yg kadang dipertanyakan knp secaa fisik mereka masih agak mirip. but still, dari dua sel telur yg beda

    hmmm… gadak typo yg terlalu menyolok mata. untuk ff pertama ini udh bgs bgt.

    keep writing yoo, thor!

    p.s. sayang kali angel twinsnya malah meninggal d akhir… hks… hiks…

  2. Huaaa…….hiks…hiks…hiks…authornya tanggung jawab,udah buat aku nangis.Ff nya bagus serasa nyata gitu,ya gimana deh susah ngejelasinnya.
    Pokoknya daebakk.eh ngomong2 penyakit sirosis itu apa?????

  3. Ya ampun… Endingnya bikin nangis 😥

    Keren banget ceritanya! Sad ending… 😦 Typo si ada, tapi ga terlalu pengaruh.

    Pesan moralnya juga dapet, ceritanya oke. Bener-bener suka 😉

    Nice FF! Ditunggu karya selanjutnya ya 😉

  4. 😥 Keduanya meninggal, yang paling sedih itu papanya. Tidak ada lagi yang papanya miliki kecuali harta.
    Istri meninggal, anakpun ikut menyusul
    Malangnya

  5. ~ ㅠ ㅇ ㅠ ~

    Kok sedih banget sih thor
    Nyesek bacanya, nusuk banget dan pastinya sedih banget
    Bagjs kok ff nya thor °^^°

    Keep writing ya thor └(^o^)┘

    Selalu berikan yang terbaik ╭(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯ GO!

  6. Huaaa sediiih TT^TT
    mereka berdua meninggal, tapi hebat sekali, pesan moralnya tersampaikan, dan suka sama bahasa yang dipakainya, tidak membosankan.
    Sip, lanjutkan karyamu ya 😀

  7. Nice FF ^^
    Aku suka karakter taemin yang sayang sama kembarannya

    Emang sih kalo anak kembar itu sakit sama sakit haha… 😀

    Pokoknya Daebak!! Keep writing ^^

  8. Kenapa end? Uaaahh…Aku mau yang lebih panjaaaang u,u
    aku suka kalimat2 sebelum flashbacknya….rencana Tuhan emang gk bisa kita tebak. Hikmahnya juga ada. Tapi..Uaa thour kenapa gk di panjangin aja?
    aku masih belum puaaas u.u
    btw kasian juga lee taehyun, istri pergi anakpun pergi T.T
    yg sabar yah pak..puk puk (?)

    but..keseluruhan bagus kok, hnya saja alurnya sedikit cepat mungkin .hehehe
    feelnya udah bagus tapi bagiku sedikiiiit kasih garam hasilnya akan sempurna (? ngomong apa ini? -_-)

    Nice story!!!! 😀

  9. Oke, hampir nangis… Sedikiiiiiiiit lagi thor x3

    Setuju sama comment-comment diatas, alurnya agak kecepetan, tapi tetep keren kok thor T^T)b

    Keep writing!

  10. hai author~~
    nice ff :3 kek nya udah banyak komen yang bilang alurnya kecepetan. bener sih. well ya, meskpun ini oneshoot but kalo dipanjangin dikit, ceritanya bakal daebak. ide dasarnya bagus kok ‘-‘)/
    padahal disini aku udah ngebayangin bakal ada momen taemin sm kai, wkwkwk :p
    keep writing natiyoo-ssi ^^

  11. kenapa harus sad ending? huaaaaa…bener thor mungkin harus lebih diperlihatkan ikatan antara My Taemin (?) sama Taerin jadi bakal lebih menguras air mata…
    Keep writing XD

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s