Beautiful Mushroom Tae Vs Lion Yong – Part 2

BMT Vs LY 2

Beautiful MushroomTae Vs Lion Yong

Tittle: Beautiful Mushroom Vs Lion Yong

Author: lyri

Main Cast: Lee Tae Min, Kim Yong Ri (OC)

Support Cast: You can find it after read this FF.

Length: Series

Genre: T

Note: 1) Semua K-idol yang ada di FF ini kebanyakan sifatnya OOC (Out of Character –real character). 2) Don’t bash me, don’t plagiat, don’t re-upload, and don’t claim as yours.

PART 2

‘Bagaimana kalau kita bertemu secara nyata? Apakah kau mau?’  begitulah chat terakhir yang dikirim oleh seorang dengan uname tmlee. Bertemu secara nyata? Boleh juga. Lagian, aku sudah dekat dengan dia. Aku selalu curhat padanya, dan dia juga selalu curhat padaku.

            ‘Kita bertemu di Central Park di Seoul, bisa?’ tanyanya ketika aku membalas ‘boleh’ pada chat terakhirnya.

            ‘Kita bertemu jam 3 siang, hari ini ya!’

**

“Mau kemana? Rapi sekali.” Tanya Yesung oppa yang baru pulang dari rumah teman dekatnya, siapa lagi kalau bukan Taesun oppa.

“Sudah, jangan banyak tanya! Aku pergi dulu ya, dah!” jawabku lalu menutup pintu rumah.

Aku penasaran dengan dia yang sesungguhnya. Apa dia sama menyenangkan seperti aslinya? Apa kebalikannya? Tapi, sepertinya aslinya pun menyenangkan. Sudahlah, kita lihat saja dia bagaimana. Tapi, aku harap dia adalah seorang yang benar-benar menyenangkan dan bisa membuat mood-ku naik yang tadinya hancur karena seorang ‘Jamur’.

Kira-kira sekitar 15 menit, aku sudah sampai di Central Park. Dia bilang, dia memakai baju berwarna putih dengan jaket berwarna hijau. Aku lihat ke kanan, dan ke kiri. Tapi, dia tidak ada. Lalu, aku pergi ke dekat danau yang ada di Central Park. Dan, aku menemukannya.

Taemin POV

Baju berwarna putih polos dengan jaket warna hijau. Itulah baju yang aku pakai sekarang. Rencananya, aku akan bertemu dengan seseorang dengan username kyri. Ada rasa yang aneh setiap aku chatting dengannya. Aku rasa, aku menyukainya. Padahal, aku tidak tahu dia seperti apa di dunia nyata. Yang pasti, aku benar-benar menyukainya.

Sudah jam dua siang lewat lima puluh lima. Apa ia akan datang? Kenapa aku jadi takut, deg-degan? Ish, ada apa denganku. Sudahlah, ia pasti akan datang kok. Masa, baru saja bertemu secara nyata di dunia nyata, aku langsung mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya? Tapi, tidak ada salahnya sih. Tidak ada salahnya, jika ia mempunyai rasa yang sama sepertiku.

“Kau tmlee?” tanya seseorang dari arah belakang. Sepertinya ini kyri!

Saat aku membalikan badanku, betapa terkejutnya aku ketika mengetahui bahwa ‘kyri’ adalah musuhku. Kim Yong Ri, itulah kyri. Aigo, hatiku benar-benar sudah rusak apa bagaimana ini? Kenapa aku sampai tidak tahu kalau kyri adalah Yongri? Pabo! Bagaimana mungkin aku menyukai yeoja itu. Hanya 0,01% kemungkinan bahkan mungkin 0%.

 “Kau.. kau.. kau.. tmlee?” tanyanya dengan terbata-bata. Aku yakin ia sama tagetnya sepertiku.

“Dan kau.. kyri?” kataku balik bertanya.

            **

Lion, Yongri, kyri. Yak! Kenapa dia muncul dipikiranku? Memang, aku sering memikirkannya karena ia musuhku. Tapi, kali ini beda. Jangan bilang kalau aku benar-benar menyukainya? Ayolah. Semoga ini hanya mimpi buruk.

Oh ya,aku sudah berhasil dengan penemuan baruku. Dan besok hari pengesahan terhadap radio itu. Semoga barang ini banyak diminati oleh masyarakat. Bukan hanya warga korea, tapi aku ingin sampai warga non-korea menggunakannya juga.

**

Akhirnya, hari ini datang juga. Hari pengesahan penemuan baruku. Banyak sekali yang berpartisipasi. Aku semakin senang dengan reaksi yang ditunjukkan ini. Semoga, produk ini benar-benar banyak diminati.

Acara ini berlangsung sekitar lima jam, cukup lama. Setelah acara itu selesai, aku pergi menuju Namsan Tower. Entah kenapa aku ingin sekali pergi ke sana. Aku sangat senang melihat pemandangan kota Seoul dari atas sana. Melihat banyak warga Seoul yang sedang berlalu-lalang, cukup membuatku agak fresh.

Tiba-tiba, aku melihat suatu pemandangan yang membuatku jealous. Aku? Cemburu? Eh, tunggu. Apa ini benar-benar aku?

Yongri POV

Kenapa seorang tmlee itu pada kenyataannya adalah seorang Lee Tae Min? Kenapa harus dia? Aish, menyebalkan. Aku benci ini, aku harap ini adalah mimpi buruk. Dan aku harap, aku cepat bangun dari mimpi ini. Untungnya, aku segera mengetahui kalau tmlee adalah si jamur itu. Argh.

Eh? Bukankan itu Minho? Sedang apa ia ada di sini? Sendirian juga. Lebih baik, aku menghampirinya saja.

“Hallo.” Sapaku pada Minho yang mungkin sedang mendengarkan musik lewat headphone yang sedang dipakainya.

Ia pun melepaskan headphone yang ia pakai. “Hallo juga.” Katanya sambil tersenyum padaku. Aigo, senyumnya benar-benar manis. “Kau sendirian?” tanyanya. Padahal, baru saja aku akan menanyakan hal itu padanya. Akupun mengangguk.

Dua jam. Tak terasa, sudah dua jam aku bermain bersama dengan Minho. Keliling Namsan Tower. Hari ini benar-benar menyenangkan! Aku tak menyangka bisa bermain seperti ini bersama seorang Choi Min Ho dengan fans yeoja yang banyak.

Dan semoga, besok tidak ada yeoja yang menanyakan tentang hari ini padaku. Atau lebih tepat, tidak ada yang tahu kalau aku habis berjalan-jalan dengan seorang Minho kecuali Hyunwoo dan Jesun, sahabat terbaikku.

Kini, aku sudah berada di depan rumah. Baru saja aku diantar pulang oleh Minho. Dan terlihat Hyunwoo dan Jesun sedang duduk di kursi depan rumahku. Kurasa, mereka sudah datang daritadi. Apa mereka tidak tahu kalau di rumahku tidak ada orang? Dasar aneh.

“YAAAA! KAU DIANTAR PULANG OLEH MINHO?” tanya Hyunwoo sambil berteriak-teriak tak jelas. Langsung saja aku membekap mulutnya.

“Iya, iya. Sudah jangan berisik!” kataku lalu membuka pintu. Mereka pun masuk. Tapi, rasanya ada yang aneh dengan Jesun. Ia terlihat lemas, atau mungkin sedang dalam mood yang tidak baik.

“Kau kenapa?” tanyaku.

“Ah, tidak.” Jawabnya sambil tersenyum. Aku yakin senyum itu hanya senyum palsu!

**

Choi Min Ho, Cha Je Sun, Lee Tae Min, Choi Min Ho, Cha Je Sun, Lee Tae Min, aHandndChoi Min Ho, Cha Je Sun, Lee Tae Min, aHandndChoi Min Ho, Cha Je Sun, Lee Tae Min, aHandndChoi Min Ho, Cha Je Sun, Lee Tae Min. Loh? Kenapa mereka yang daritadi ada dipikiranku? Minho, mungkin aku senang karena dia sudah mengajaku bermain dan juga karena dia itu namja yang aku suka. Jesun, rasanya aku mempunyai salah padanya? Apa.. apa ia menyukai Minho lalu dia cemburu padaku? Tapi, mana mungkin? Eh, mungkin saja. Soalnya saat pertama aku lihat dia di depan rumahku – tidak tau kalau namja yang mengantarku Minho – ia masih terlihat bahagia, tapi setelah tahu kalau itu Minho, ia langsung terlihat lemas. Taemin, sebenarnya untuk apa aku memikirkan dia? Hal yang tidak penting.

Sudahlah, lupakan Taemin dan tmlee. Sekarang, aku harus minta maaf pada Jesun. Dan aku harus move on dari Minho demi sahabatku? Apakah ini bergitu cepat? Baru saja satu bulan yang lalu aku suka padanya dan sekarang aku harus move on dan padahal barus saja kemarin aku dapat peluang.

Ya, untuk apa memikirkan masalah namja? Lagipula, apa yang aku suka dari Minho? Bukannya aku tidak tahu? Dan, memangnya dia suka padaku? Juga, orang bilang tandanya kita jatuh cinta itu, ketika kita berada di dekat seseorang, kita akan merasakan hati kita semakin berdebar-debar. Dan, hal itu tidak terjadi. Oke, berarti aku tidak benar-benar suka padanya. Kenapa aku jadi labil begini?

Hey, tunggu! Aku melupakan sesuatu. Ya! Penemuanku! Bagaimana dengan penemuanku itu? Ya! Jangan sampai aku kalah oleh si Jamur!

‘Drt’ Suara getaran dari handphone-ku. Panggilan, dari nomor tidak dikenal. Oke, siapa ini? Jangan bilang kalau ini orang yang jahil. Dengan malas aku mneganggkat teleponnya.

“Hm..” hanya itu kata yang diucapkan si penelepon. / “Yoboseyo, nuguseyo?” tanyaku.

“Eh? Hai.” tunggu. Rasanya, aku pernah mendengar bahkan sering mendengar suara ini.  / “Kau siapa?”

“Aku? Ya! Aku Taemin, pabo!” hey! Untuk apa ia menelponku jika ia hanya ingin mengatakan kata pabo padaku? Sunggguh menyebalkan. / “Ya! Jangan sebut aku bodoh! Ada perlu apa kau menelepon?”

“Kau mau jalan-jalan denganku?” tanyanya. / “Apa kau sudah gila? Aku tidak mau.” Bantahku cepat.

“Ish. Ayolah, kau kan anak baik.” Seperti memaksa. Ayolah, apa yang terjadi dengan anak ini? Sikapnya berubah sekali. Apa ia benar-benar sudah gila? / “Kau bukan temanku, bodoh.”

“Hah? Sudahlah, lupakan saja masa lalu. Mari kita berteman! Aku akan menuju rumahmu sebentar lagi, oke!” YA! Dia bena-benar sudah GILA! Ada apa dengannya?

Baru saja aku akan marah-marah, tapi sambungan sudah putus. Sial! Mimpi apa aku semalam?

Taemin POV

Kim Yong Ri, Kim Yong Ri, Kim Yong Ri, Kim Yong Ri, Kim Yong Ri, Kim Yong Ri, Kim Yong Ri. Ya, Kim Yong Ri. Musuhku. Tapi, kenapa ada yang berbeda ya? Kyri adalah Yongri. Yongri adalah kyri. Aku menyukai kyri, dan apakah aku menyukai kyri di kehidupan nyata ini? kurasa, iya. Dari sejak aku mengetahui bahwa kyri adalah Yongri, dia selalu muncul dipikiranku. Tapi, berbeda. Tidak seperti dulu, aku memikirkan cara ampuh untuk mengalahkan dia dalam hal apapun.

Sial! Kenapa kyri itu harus Yongri? Sudah lah, Taemin. Jangan pikirkan dia terus, cepat tidur dan lupakan dia sekarang. Aku yakin, besok aku sudah bisa melupakannya. Dan jika belum, aku akan mengajaknya pergi jalan-jalan.

**

“Taemin, ayo bangun!” kata Taesun hyung sambil menarik-narik selimut yang aku pakai.

Hyung! Jangan ganggu ti-dur-ku.” Kataku sambil mengeja kata ti-dur-ku agar mudah dicerna oleh ka-ka-ku.

Bukan hyung-ku namanya jika ia menyerah untuk membangunkanku. Kali ini, ia menarikku hingga membuatku terjatuh dari kasurku yang empuk. Aw~ itu sangat sakit.

“Cepat bangun, mandi, dan makan!” perintah hyung lalu pergi meninggalkanku. Dasar kakak yang kejam.

Beberapa menit kemudian, aku sudah berada di ruang makan dengan keadaan sangat baik dan rapi. Lalu, Taesun hyung memberikan aku Dak Gang Jung. Dengan segera aku melahapnya.

“Hei, kalau makan pelan-pelan! Ohya, kau mau ke mana? Rapi sekali.” Kata Taesun hyung disela-sela saat makannya.

Kim Yong Ri, Kim Yong Ri. Lagi-lagi aku mengingatnya. Pada saat makanpun aku mengingatnya? Apakah aku sudah gila? Tapi, sudahlah aku akan meneleponnya – walau aku sadar kalau ini benar-benar doubletriple gila.

“Hm..” ayolah, aku ragu. / “Yoboseyo, nuguseyo?” tanya orang diseberang sana.

“Eh? Hai.”  / “Kau siapa?”

“Aku? Ya! Aku Taemin, pabo!” Akhirnya, aku bisa mengatakan itu juga. / “Ya! Jangan sebut aku bodoh! Ada perlu apa kau menelepon?”

“Kau mau jalan-jalan denganku?” tanyaku yang memang sedang gi-la di pagi hari ini. / “Apa kau sudah gila? Aku tidak mau.” Bantahnya cepat.

“Ish. Ayolah, kau kan anak baik.” Mengapa aku jadi memaksanya begini? Taemin, ada apa denganmu! / “Kau bukan temanku, bodoh.”

“Hah? Sudahlah, lupakan saja masa lalu. Mari kita berteman! Aku akan menuju rumahmu sebentar lagi, oke!” Oke, harga diriku menurun karena ini.

‘Ttt.’ Sambungan aku putuskan. Sudahlah, daripada menambah panjang masalah lebih baik aku segera menuju rumahnya sekarang. Eh, tunggu. Tapi, aku kan tidak tau rumahnya di mana? Ish, kau benar-benar bodoh Taemin.

Apa aku harus menanyakannya pada hyung-ku? Dia kan sahabatnya Jongwoon hyung, masa dia tidak tahu alamat rumah sahabatnya itu di mana. Tapi, kalau aku menanyakannya, ia pasti bertanya ‘Untuk apa? Memang ada perlu apa?’bagaimana aku akan menjawabnya? Ish, sudah yang penting tanya dulu sekarang.

Hyung, rumah Jongwoon hyung dimana?” tanyaku.

“Dekat perpustakaan yang baru dibangun itu, loh. Memang ada perlu apa? Mau bertemu Yongri?” jawabnya sekaligus bertanya.

“Tidak ada apa-apa.” Kataku lalu segera pergi menuju perpustakaan itu.

Karena jarak dari rumahku menuju rumah Yongri tidak jauh, maka waktu yang diperlukan untuk sampai disana pun tidak lama. Hanya membutuhkan waktu tiga menit. Tapi, tunggu. Rumahnya yang mana? Rumah yang berdekatan dengan perpustakaan itu banyak, kan? Lalu yang mana rumahnya?

Oke, ayo berpikir. Ohya, bukankah kyri pernah curhat padaku? Dan di curhatan itu ia membawa nomor rumahnya. Berapa ya? Aku lupa. Baik, sepertinya aku harus membuka akun jejaring sosialku itu dan melihat chat yang sudah berusia hampir 9 bulanan.

‘Rumahku nomor 14, sama seperti angka kesukaanku! …’ ya! Nomor 14. Lee Taemin, kau benar-benar anak yang cerdas.

Rumah dengan nomor 14. Itu dia, rumah minimalis dengan warna cat coklat muda. Langsung saja aku memencet bel rumah itu.

Yongri POV

‘Ting Dong’ kira-kira seperti itulah bunyi bel yang terdengar.

Siapa itu? Apa jangan-jangan si jamur itu benar-benar datang ke rumahku? Pabo. Tapi, bagaimana dia tahu rumahku? Ya, berarti dia bukan Taemin. Beruntungnya aku belum pernah memberi tahu alamatku pada tmlee.

Untuk memastikan kalau orang itu bukan Taemin, aku turun ke lantai dasar dan mengintip Yesung oppa – lewat kamar Jongjin oppa – yang baru saja akan membukakan pintu pada orang yang kau harap bukan Taemin itu.

Annyeong, hyung.” Sapa seseorang yang aku harap bukan Taemin tetapi itu adalah Taemin.

“Hey, Taemin! Ada perlu apa? Ayo masuk.” Tanya Yesung oppa sambil menyuruhnya masuk. Lalu, mereka duduk di sofa. Lalu? Bagaimana aku keluar dari kamar Jongjin oppa? Kalau aku keluar, pasti mereka akan tahu kalau aku sedang bersembunyi. Sial, sial, sial.

“Aku mau bertemu Yongri, tadi aku sudah janjian dengannya.” Jawab Taemin setelah mereka duduk rapi di sofa.

Yesung oppa tampak tersenyum, “Oh, oke. Aku panggilkan Yongri dulu ya!” katanya lalu pergi. Sepertinya menuju kamarku, karena ia naik tangga. Kamar siapa lagi yang berata di lantai dua kecuali aku?

“Yongri, ada Taemin. Kau sudah siap? Cepat.” Kata Yesung oppa yang tidak menyadari kalau aku sedang bersembunyi di kamar Jongjin oppa. Ia pun mengetuk pintu kamarku karena aku tidak menjawab, dan pastinya tidak ada suara. Tanpa basa-basi ia membuka pintu kamarku. Dan, tidak ada siapa-siapa pastinya.

Lalu, ia bergegas turun dari lantai atas. Ia terlihat bingung, namun seketika raut mukanya terlihat baik setelah melihat kamar Jongjin oppa. Apakah ia tahu kalau aku ada di kamar Jongjin oppa? Ya ampun, tamatlah aku.

‘Cklek’ ia membuka knop pintu kamar Jongjin oppa. Untungnya aku sudah bersembunyi di kasur Jongjin oppa. Aku berpura-pura menjadi Jongjin oppa, aku tiduran dikasurnya lalu tubuhku diselimuti oleh selimut.

“Jongjin, kau lihat Yongri ke mana?” tanya Yesung oppa pada Jongjin oppa yang palsu. “Ini aneh, kapan kau pulang?” tanyanya lagi sambil berkacak pingang.

“YA!” katanya agak keras ketika membuka selimut itu, dan di dalamnya terdapat aku, bukan Jongjin. Dengan seketika aku berakting tidur. “Cepat bangun! Taemin sudah menunggumu,” katanya lagi sambil menepuk-nepuk pipiku.

Ayolah, cepat pergi dari kamar ini dan katakan pada Taemin kalau aku sedang tidur. Tapi, sayang ia malah terus mencoba membangunkanku. Sepertinya, aktingnya buruk. “Apa aku harus suruh Taemin yang membangunkanmu?” ancamnya. Akupun segera bangun.

“Cepat!” katanya sambil mendorongku masuk ke kamar.

Malas sekali rasanya. Memang aku senang jalan-jalan. Tapi tidak harus dengan dia juga kan? Ish. Karena malas, aku hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk merapikan diri. Tapi, siapa bilang aku mau pergi dengannya? Aku hanya merapikan diri saja, siapa tau dia kesal menungguku lalu pulang. Jadi, aku bisa jalan-jalan sendiri nanti.

Cklek’ pintu kamarku dibuka tanpa permisi oleh seseorang.

“Ayo, cepat!” kata Taemin – yang masuk kamarku tanpa izin – sambil menarik tanganku hingga akhirnya kami masuk di mobilnya.

“Ya! Kenapa kau begitu menyebalkan, Lee Taemin!” ucapku padanya yang sedang menyetir. Tapi, kali ini ia diam saja, tidak menanggapi perkataanku. Aneh juga, bahkan benar-benar aneh. Dan sekarang kau tahu, ia memang sudah gila sekarang.

Beberapa menit kemudian aku sampai di Namsa Tower. Padahal, baru saja kemarin aku datang ke sini.

“Untuk apa dia mengajaku ke sini?” gumamku dengan volume suara yang kecil.

“Ya untuk bersenang-senang lah.” Jawab Taemin singkat – yang mungkin bisa mendengar gumamanku tadi – lalu ia menyerahkan sebotol minuman padaku.

“Kenapa harus mengajaku? Kenapa tidak ajak Soohyun saja? Bukankah kau suka padanya?” tanyaku berdasarkan apa yang Key katakan padaku. Tapi anehnya, ia malah menaikan satu alisnya. Biasanya, itu tanda orang yang tidak mengerti terhadap apa yang kita katakan atau bisa dikatakan dia heran atau aneh mendengarnya.

“Siapa bilang aku suka padanya?” tanya Taemin aneh. Mungkin, ia aneh kenapa aku bisa tahu. Atau, ia aneh karena ia memang tidak suka pada Soohyun, yeoja yang Key kenalkan pada Taemin.

“Key yang bilang. Dia kan yang memperkenalkan Soohyun padamu.” Jawabku santai. Karena, Key benar-benar mnegatakan itu padaku. Dan kukira, Key tidak bohong.

“Dasar Key penyebar gosip! Aku tidak suka pada Soohyun, benar!” katanya membantah sambil membuat hurup v pada tangannya.

“Hanya hati yang bisa jujur.” Kataku lalu meninggalkannya. Lagi pula, untuk apa aku mengurusi itu? Tidak penting sekali.

Mungkin karena hari ini adalah hari minggu, jadi, banyak sekali pengunjung yang datang ke sini. Aku juga sempat bertemu teman-teman. Dan kini, aku sedang berbincang bersama Key dan Onew.

“Iya, tadi Taemin bilang kalau ia tidak suka pada Soohyun!” kataku melapor. Apakah gosipnya benar, salah, apa ia hanya mengada-ngada?

“Oh, berarti aku harus mempertemukan mereka lagi!” kata Key sambil berkacak pinggang dan melihat ke atas. Entah melihat apa, dan apa yang ia lakukan.

“Oh iya, aku titip ini untuk Hyunwoo,” Kata Onew sambil memberikan sebuah amplop. Aku yakin ini isinya surat. “Untuk Jung Hyun Woo. Dan, jangan kau baca juga jangan ingin tahu apa isi surat itu!” lanjutnya. ‘Juga jangan ingin tahu apa isi surat itu!’ ia benar-benar sahabtku, ia tahu kalau aku adalah seorang yang ingin tahu masalah sahabat-sahabatku. Akupun mengangguk lalu memasukan amplop dengan warna orange itu pada tas kecilku.

Karena dari tadi Key bergumam tak jelas dan sendirian pula, maka aku dan Onew memutuskan untuk meninggalkannya. Jadi, kami hanya berdua sekarang.

“Ini.” kata Onew memberikan aku ice cream. Pantas saja tadi ia menghilang, ternyata ia membelikanku ice cream.

Gomawo. Ohya, kau tidak beli?” tanya ku saat melihat ia tak memegang ice crema lagi.

“Tidak, aku hanya ingin surat itu sampai pada Hyunwoo.” Ucapnya yang polos atau.. sok polos? Sudahlah jangan ingin tahu sekarang, nanti juga aku akan tahu.

“Hey! Kau ke mana saja! Dari tadi aku mencari mu dan kau bersama dia!” kata seseorang yang baru datang dan marah-marah itu. Dari suaranya, aku rasa ini Taemin.

Karena malas, aku pergi meninggalkan si Jamur yang sedang marah-marah. Lalu aku menarik Onew pergi dan menyuruhnya menyalakan mobil dan mengantarku pulang.

**

Entah kenapa, pagi ini, perasaanku tidak enak. Apa karena kemarin aku meninggalkan Taemin begitu saja ya? Memang sih, Taemin punya niat baik. Mengajak berteman? Apa salahnya? Mungkin aku terlalu egois? Ya sudahlah, memang lebih baik berteman daripada bermusuhan. Berarti sekarang aku harus berangkat pagi agar sampai disekola pagi dan meminta maaf pada Taemin.

“Yongri!” kata seseorang yeoja sambil menepuk bahuku. Aku membalikan wajahku. Oh, ternyata Jesun dan Hyunwoo.

Ohya, bukankah Onew menitipkan amplop ya? Segera aku cari amplop itu. Untungnya, amplop itu ada di tasku. Setelah itu, aku memberi amplop itu pada Hyunwoo.

“Woaa, apa isinya? Ayo buka sekarang!” kata Jesun penasaran.

Hyunwoo pun menggeleng sambil tertawa. Lalu, perlahan-lahan ia membuka amplop itu. Dan, ia tampak aneh dengan isi dari surat itu.

“Apa isinya?” tanya Jesun yang dari tadi sudah penasaran. Langsung saja ia mengambil kertas dari tangan Hyunwoo. Setelah melihat isi dari surat itu, Jesun pun nampak aneh dengan isinya.

Langsung saja, aku mengambil kertas itu dari tangan Jesun. Ternyata, isi suratnya hanya satu kata, yaitu “Hai ^^” aneh. Ya, aneh sekali.

“Coba, kau jawab dulu saja! Nanti setelah di sekolah, aku sampaikan pada Onew.” Kataku. Ia pung mengangguk lalu mengambil pena dari tasnya menulis sesuatu yang sialnya aku dan Jesun tidak boleh membacanya.

Keren! Hari ini aku tidak kesiangan! 30 menit sebelum masuk, aku sudah sampai di sekolah. Keren sekali, bukan? Setelah ingat tujuanku datang pagi – untuk meminta maaf pada Taemin – aku segera mencarinya. Kebetulan, ia sudah ada di bangkunya.

“Hai, Lee Taemin.” Sapaku – sapaan yang pertama kalinya – pada Taemin. Ia pun tampak mengabaikanku. Aku mencoba mengibaskan tanganku ke mukanya, siapa tau ia sedang melamun.

“Diam, Choi Yong Ri.” Katanya dingin. Ish, menyebalkan. Aku ke sini untuk meminta maaf. Tapi, kenapa kau membuatku marah? Lagipula, kemarin kan kau baik padaku? Kenapa sekarang berubah lagi?

“Ish, aku hanya ingin minta maaf.” Kataku sambil memutarkan bola mata, lalu aku pergi meninggalkannya.

“Kau tak ingin permintaan maaf dariku?” tanyanya lagi. Otomatis aku diam lalu kembali ke bangkunya. Lalu, aku mengangguk. Memberikan jawaban kalau aku mau permintaan maaf darinya. Ya ampun, kenapa aku mau kata maaf darinya? Pabo.

“Kalau begitu, kau harus berteriak di depan kelas seperti ini, ‘Aku menyukai Lee Taemin’. Nah, seperti itu.” Katanya dengan pedenya. Sedangkan aku hanya membulatkan mata. Kau benar-benar gila Mushroom!

Ia pun tertawa dengan puas, sedang kan aku masih dalam ekspresi kaget yang sangat kaget –oke, berlebihan. “Sampai kapan pun aku tak akan mau melakukan itu!” bantahku yang berhasil membuatnya tertawa lebih puas. Tertawa di atas penderitaanku.

“Ya sudah, kata maaf tidak diterima.” Katanya yang percaya diri. Mungkin menurutnya aku akan terus memohon sampai ia memberikan kata maaf untukku. Tapi, tidak. AKU TIDAK AKAN PERNAH MENGATAKAN ITU.

Dengan malas aku meninggalkannya dan menuju bangkuku. Dan, sekarang adalah hari spesialku. Karena, penemuanku akan dirilis! Semoga peminatnya lebih banyak dari pada penemuan baru milik Jamur.

Sialnya lagi, guru pelajaran pertama ini masuk sebelum jadwal masuknya. Ia memang terlalu rajin. Tapi sebelumnya, aku memberikan surat balasan dari Hyunwoo untuk Onew. Dan tak butuh lama, ia membalasnya dan menitipkannya lagi padaku.

**

Tak terasa, waktu memang terasa begitu cepat. Sekarang pun, akun sudah akan pulang. Dan sekarang, aku yang harus mengunjungi kelas Hyunwoo dan Jesun. Bukan mereka yang mengunjungi kelasku.

“Hey! Yongri!” sepertinya ada seseorang yang memanggilku. Akupun membalikan tubuhku. Ternyata, ia Taemin –lagi. Aku menaikan sebelah alisku, sebagai isyarat dari ‘Apa?’.

“Ani.” Katanya lalu ia kembali ke kelasnya. Sudah ku bilang beberapa kali, ia memang sudah gila.

“AKU menyukaimu.” Katanya pelan – sebelum pergi ke kelas – tetapi meneriakan kata AKUnya.

“Apa?” kataku penasaran dengan apa yang ia katakan. Ia pun menggeleng lalu pergi menuju kelasnya .

Sudahlah, biarkan anak itu. Pokoknya sekarang aku harus memberikan surat balasan Onew pada Hyunwoo.

Kebetulan sekali, karena kelas mereka kosong jadi, aku bisa masuk dengan bebas. Di sana, Hyunwoo dan Jesun masih menyapu. Mungkin, mereka kebagian piket hari ini.

“Ini surat balasan dari Onew.” Kata ku sambil memberikan surat itu. Ia pun menghentikan pekerjaannya itu lalu mmebuka surat itu.

“Apa isinya?” tanyaku sambil berusaha merebut kertas itu.

“Kalian tidak boleh lihat!” jawabnya sambil menjulurkan lidahnya. Ish, jangan-jangan ada sesuatu yang tidak bagus!

“Kalian masih lama? Aku pulang duluan, ya!” kataku berpamitan pada mereka berdua.

Oh iya, katanya lomba dekorasi dua hari lagi. Berarti sekarang? Ah, aku pasti ketinggalan beritanya. Sudahlah, lagian aku sedang tidak mood memikirkannya.

‘Tes’ awalnya hanya sedikit. Hujan gerimis maksudnya. Lama kelamaan hujan itu semakin deras. Lalu, bagaimana aku bisa pulang? Mungkin aku harus telepon Yesung oppa untuk menjemputku, itupun kalau iya mau.

“Hei, mau pulang dengan ku?” tanya Taemin. Aku menggeleng tanpa melirik ke arahnya. “Aku anggap, itu artinya setuju!” katanya memutuskan sendiri sambil menariku sampai akhirnya sampai di mobilnya.

“Kenapa kau itu menyebalkan?” gumamku yang lagi-lagi terdengar olehnya. Ia pun tertawa manis. Oke, apa ini Taemin yang sesungguhnya?

Beberapa menit kemudian, aku sudah sampai di depan rumah. Dan tepat ketika aku di depan rumah, hujan tiba-tiba reda. Cuaca kali ini memanh aneh. Sebelum turun dari mobilnya, aku mengucapkan terimakasih padanya.

“Aku mencintaimu.” Kata Taemin yang lagi-lagi dengan suara yang pelan.

Sudahlah, tidak penting apa yang ia katakan. Jangan selalu ingin tau. Hey, tunggu. Bukankah sekarang ada perilisan karyaku itu? Ya! Sepertinya aku telat datang. Segera saja kau masuk ke rumah dan merapikan diri, lalu pergi ke suatu tempat peresmian itu.

Benar saja, setelah sampai di sana sudah banyak orang berkumpul. Padahal, baru saja aku datang, tapi acara sudah lagsung dimulai lagi. Ya, mungkin karena aku sudah kesiangan hampir 30 menit.

‘Prok Prok Prok’ bunyi tepuk tangan – dari tamu undangan peresmian ini – setelah aku selesai mempresentasikan penemuanku itu.

Chukkae!” kata seseorang memberikanku selamat –walaupun bukan yang pertama kali.

“Taemin?” Ish, kenapa namja itu ada di sini? Untuk apa ia berpartisipasi.

“Yongri, ayo kita pergi ke sana!” kata Taemin sambil menarik-narik tangan ku sehingga meninggalkan Yesung dan Taesun oppa.

Dengan pasrah aku mengikutinya. Ia mengajaku ke taman belakang dari gedung ini. Lalu, ia mengajakku duduk. Tapi, ia tak berbicara apa-apa lagi.

Author POV

Perasaan canggung kini menyelimuti perasaan Taemin. Rencananya, ia akan menyatakan cintanya pada yeoja yang dulu musuhnya itu. Tapi, kata-kata itu belum keluar juga dari mulutnya. Rasanya, kata itu sulit untuk diucapkan.

“Untuk apa kita ke sini? Untuk diam saja?” tanya Yongri lalu mengerucutkan bibirnya.

Taemin tidak meladeninya. Ia masih berusaha untuk mengucapkan kata-kata itu. Dan berusaha untuk menenangkan dirinya, dan tidak kaku sangat membicarakannya.

“Ngg, aku.. aku..” kata Taemin terbata-bata. Ia masih ragu untuk bicara.

“Apa yang ingin kau katakan cepat!” kata Yongri tak sabaran.

“Aku.. aku.. aku menyukaimu Yongri.” Kata Taemin yang berhasil membuat Yongri tersentak kaget.

“Bbi.. bicara apa kau?” tanya Yongri yang berusaha untuk meyakinkan.

Hening. Begitulah suasana yang terjadi. Hanya ada rasa canggung, aneh, kaku, dan rasa lainnya bercampur menjadi satu. Entah menjadi perasaan seperti apa itu.

Taemin POV

            Aigo. Aku benar-benar mengatakannya! Sial, kau benar-benar bodoh Taemin. Mana mungkin ia membalas perasaanmu. Ia kan membencimu? Ish, ada apa denganku. KYAA! Aku harap ini tidak akan pernah terjadi lagi! Aku sudah gila melakukan hal seperti ini!

            ‘Mwo? Apa yang ia katakan tadi? Ish, bagaimana ini? Apa aku harus menjawabnya atau harus berbuat apa? Ya ampun, Hyunwoo, Jesun, Onew, Jiyeon, tolong aku!’ batin Yongri dalam hati.

            “Eh, sudahlah lupakan yang tadi. Hehe.” Kataku yang salah tingkah. Ya ampun, aku jadi grogi seperti ini. Tapi, Yongri masih terlihat berpikir dan kebingungan. Dasar bodoh! Aku saja sudah tidak mau memikirkan hal itu, tapi, ia masih saja memikirkannya. Apa ia suka padaku? Hahaha.

            “O, jadi kau tak ingin jawaban dariku?” celetuknya polos dengan ekspresi datar. Aku terkejut mendengar celetukannya itu. Tanpa disadari aku mengangguk, isyarat dari ‘aku mau.’

            “Aku mau menerimamu jika penemuanmu yang sudah dirilis itu lebih laris dari penemuan miliku.” Jawabnya. Mwo? Hanya itu? Kurasa aku akan menang jika syaratnya seperti itu. Ia pintar, tapi mengapa ia bodoh?

            Akupun mengangguk mengerti dan tersenyum evil. Aku tidak hanya akan berusaha agar penemuanku lebih laris. Tapi, aku juga akan berusaha agar kau bisa meyukaiku.

            Author POV

            “Yongri, ada yang mengirimkanmu bunga!” kata Jongjin oppa dari lantai dasar.

            Dengan perasaan aneh, ia menuju lantai dasar itu dan mengambil bunga yang dimaksud Jongjin tadi. Di sela-sela bunga itu, ia menemukan secarik kertas dengan tulisan ‘사랑’. Ia mengangkat alisnya sebelah. ‘Siapa yang mengirimkan bunga ini?’ pikirnya dalam hati.

            ‘Drt’ suara getaran yang berasal dari Handphone milik Yongri. Dengan segera ia mengambil ponselnya itu. Ternyata, ada satu pesan masuk dari nomor tidak di kenal lagi. ‘Selamat pagi! Jangan lupa sarapan^^’ begitulah isi pesan masuk itu.

            “Ish, hari ini benar-benar aneh.” Gumam Yongri. Bagaimana tidak, barus saja tadi ia mendapatkan bunga entah dari siapa, dan sekarang ia mendapatkan pesan dari nomor yang tak dikenal. Apa itu hanya orang iseng saja? Ani, sepertinya bukan.

            Beberapa menit kemudia, ia sudah siap untuk berangkat sekolah. Untungnya, kali ini Yesung tidak ada jadwal kerja, sehingga ia bisa mengantar Yongri dan Jongjin ke sekolahnya masing-masing. Dan yang terpenting ia tidak terlambat.

            **

            Berminggu-minggu , setelah kejadi di taman belakang gedung peresmian penemuan milik Yongri, banyak sekali hal-hal aneh yang Yongri dapat. Mulai dari mendapat surat dari seseorang yang mungkin misterius, mendapat pesan setiap pagi dan malam, sampai bunga di depan rumahnya.

“Mungkin Taemin.” Gumam Yongri saat menerima pesan lagi.

Yang membuatnya makin aneh adalah, saat Yongri menanyakan hal itu pada Taemin dan ia berkata kalau ia tak pernah melakukan hal itu.

“Ish, ini pasti Taemin!”

Karena, saking pemasarannya, Yongri memberanikan diri untuk menelepon si pengirim pesan itu. Tapi, setelah ia hubungi, yang dihubungi itu tidak menganggkat teleponnya hingga yang ke empat kalinya ia menelepon.

Yoboseyo.” Kata Yongri memberanikan diri. / “…” tidak terdengar suara apapun dari sana.

“HALO?” kata Yongri dengan suara yang lumayan keras. / “…” tapi, tetap saja, orang yang jauh di sana tidak berbicara sepatah katapun.

Yongri POV

Menyebalkan sekali. Aku tau, ini pasti TAEMIN. Tidak salah lagi. Lihat saja besok, aku akan memaksanya untuk mengatakan yang sesungguhnya!

**

“Taemin!” panggilku padanya. Ternyata ia sudah datang di pagi hari ini. Tumben sekali, eh, apa aku yang tumben datang pagi-pagi?

“Ada apa?” tanyanya tanpa melirik kearahku.

“Kau yang mengirim sms padaku kan? Yang memberikanku bunga dan surat aneh?” tanyaku berurutan.

Bukannya menjawab, ia malah tertawa. “Sehabis pulang sekolah, datang lah ke Green Park.” Katanya seteleah selesai berbicara. Setelah itu, ia pergi meninggalkanku. Sungguh namja aneh.

‘Kring’Ya, akhirnyabelberbunyijuga. Dengancepat, akusegeraberangkatmenujuGreen Park.

Setelahakusampai di sana, akusudahmelihatTaemin yang tengahduduksantai. Langsungsajaakumenghampirinya.

Neo?Ayo duduklah!” kata Taeminsetelahmenyadarikeberadaanku.

Akupunmenurutpadanya–akududukberhadapan dengannya.Lalu, akutungguiamengucapkan satuataubanyak kata yang keluardarimulutnya. Tapi, ish, selalusepertiini.Diadiamsaja.Apadiamenjahilikulagi, eoh?

“Hei!”katanyasambilmengibaskantangannyakemukaku.Aku yang tadimelamunakhirnyamemperhatikannyalagi.

“Iya, aku yang mengirimupesan, surat, danbungaitu.”Celetuknya.Sudahbisa kutebak! Pastiia yang memberikannya. Aku pun mengangguk-anggukpaham.“Ya!Kenapakauhanyamengangguksaja!” peotesnyasebal.

“Lalu?Akuharusapa?” tanyakupolos. Benar-benarsulituntukmengetahuiapakeinginnya.

“Jadi,kaumautidakjadiyeojachingu-ku?”

TBC

2 thoughts on “Beautiful Mushroom Tae Vs Lion Yong – Part 2”

  1. Hahahaha brave TaeMin
    Jawaban YongRi unik, tidak suka tapi mencoba. Gadis berani
    Lanjutkan author, sangat ditunggu kelanjutannya

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s