2NE, SCENE 3 SHOT 3: Dia yang Tak Bertanggung Jawab

2NE, SCENE 3 SHOT 3: Dia yang Tak Bertanggung Jawab

Written by Zikey

2NE-10

.:: This events depicted in this story are fictitious. Any similarity to any person, institution, or events is merely coincidental ::.

Main Cast: Kim Jonghyun, Chae Yoo Jin, Song Joong Ki

Guest Star:

– G-Dragon a.k.a Kwon Jiyong

– Lee Taemin

– C.A.P a.k.a Bang Min Soo

– Kim Sung Kyu (Infinite)

– Kim Donghyun (Boyfriend)

– Jung Jinyoung (B1A4)

– Lee Sung Jong (Infinite)

Supporting Cast:

– HaninB as Chae Yoo Bi (Kakak Yujin)

– Chae Inna (Keponakan Yujin)

– Tn. Chae William

– Alfi as Han Hye Ji (Sekretaris)

– Ayachan as Lee Yoon Ai

– Lee Chang Sun as Lee Joon

Genre: Angst, Mystry, Family, Life, Friendship

Length: Sequel – Stand Alone

Rating: PG – 13

Note: Aaaaaaa.. lama banget ya? Kalian gak karatan kan? Maaf, sebagai gantinya aku datang dengan 5 part mengantri di draft😀 hihihi… btw, beware yaaa.. endingnya cheesy abiiissss xD. Oh iya, beberapa data kelahiran dalam FF ini aku sesuaikan sama kebutuhan ya, jadi itu bukan salah tapi sengaja dirubah ^^. Untuk yang lupa sama cerita part sebelumnya bisa klik ini -> Scene 3 Shot 2

Call me irresponsible
Call me unreliable
Throw in undependable, too

[Michael Buble – Call Me Irresponsible]

 

Jalan Setapak, SMA Gapyeong

“Kalau kamu ingin bertanya kenapa aku meninggalkanmu, atau mempertanyakan kelanjutan hubungan kita, pasti kamu tahu jawabannya.” Taemin memulai dengan dingin. Meskipun dengan Ai ia mendapatkan segala hal baru yang luar biasa, tapi ia tidak pernah bilang ia mencari pasangan hidup. Sehingga kedatangan Ai, sungguh tidak akan berguna.

“Tidak akan pernah aku jauh-jauh ke Gapyeong jika hanya mempertanyakan soal hubungan kita, aku bukan orang yang susah mencari pasangan hidup.”

“Lantas, kalau apa yang membawamu kemari tidak ada hubungannya denganku atau hubungan kita, silahkan pergi.  Aku sibuk, maaf karena pergi tanpa kabar.” Selalu seperti ini, caranya, meninggalkan kekasihnya. Membuat orang lain terlihat menyedihkan, dan bicara dengan dingin.

“Aku hamil.” Teringat janjinya dengan Yujin, ia berusaha kuat dan menyatakan dengan lantang. Taemin membatu, hampir jatuh terkejut.Taemin memejamkan matanya sebentar, menarik nafas dalam-dalam lantas berbalik.

“Turut bahagaia, untukmu dan ayah janinmu itu. Kapan pernikahaannya? Cepat sekali sudah hamil.”

“Ini anakmu Lee Taemin,” desis Ai.

“Yang benar saja, Yoon Ai. Ratusan laki-laki memasukkan alat kelaminnya ke dalam sana, kenapa memilihku untuk bertanggung jawab? Aku tidak tertarik. Lagi pula, aku belum punya pekerjaan. Cari saja, dari sekian banyak laki-laki yang memakaimu, yang paling kaya dan keren. Oke? Selamat mencari!” Rasanya, hati Ai diiris hingga tercacah tipis-tipis.

“Oh iya, jangan lupa, undang aku kalau menikah. Kalau mau aku beri selamat ketika anakmu lahir juga boleh, kirim saja undangannya ke rumahku. Kelak aku akan sangat sibuk, mungkin ini terakhir kalinya kamu bisa melihat wajahku secara langsung seperti ini.”

“LEE TAEMIN!” harga diri ini, tidak bisa dibiarkan hancur berkeping-keping juga!

“Apa lagi sih?” decaknya malas.

“Brengsek!” satu tamparan di kiri…. Gagal!

“Mau coba bermain curang ya? Kamu tahu kan, untuk mendapatkan wajah semulus ini tidak mudah? Jangan coba-coba menyentuh wajahku. Dasar jalang!” satu tamparan lagi di kanan! Aaaaahhhh… gagal!

“Eh, memangnya semua wanita sepertimu sudah latihan mental ya? Kamu tidak menangis? Tidak sakit hati? Oh… jangan-jangan sudah siap, atau sudah biasa dengan hal semacam ini? Neo jeongmal chisa hada (kamu benar-benar murahan).”

“Lee Taemin, lahir pada 18 July 1994. Sewaktu SMP dua kali drop out dari sekolah, dua kali pindah sekolah karena pekerjaan ayahnya, total mutasi saat SMP empat kali. Kegiatan rutinnya, dance dengan klub yang cabangnya sudah ada di beberapa kota metropolitan Korea Selatan. Ketika SMA kelas satu pernah meraih juara pertama, lomba pop dance se-Korea Selatan. Di SMA pertamanya ia berulah, dan pindah sekolah sebelum drop out. Di sekolah kedua, tertangkap basah main ke kelab malam, dan menyetir sambil mabuk. Lagi-lagi hampir drop out dan keluar lebih dulu. Lalu di sekolahnya yang ketiga, ia keluar karena ayahnya pindah cabang sehingga membawa keluarganya untuk pindah. Menduduki gelar iljeen sejak SMP, nama dan gelarnya diakui oleh banyak murid sekolahan.”

Yujin mengalihkan perhatiannya dari jalanan, “Iljeen?” Hye Jin mengangguk.

“Itu slang yang digunakan anak muda Korea Selatan, seperti ulzzang, hakgyo jjang, dan ssagaji. Iljeen berarti murid terbaik dalam kategori buruk, terkenal dengan keahlian mereka dalam membuat onar, dan masalah, juga keahlian dalam berkelahi. Tapi keahlian itu belum cukup menjadikan seseorang iljeen, ia harus menjadi sosok yang diidolakan para gadis lebih dulu. Dengan kata lain, iljeen merupakan remaja laki-laki tampan, cool, dan diidam-idamkan perempuan yang mana jago membuat masalah.”

Iljeen, hakgyo jjang. Hakgyo… sekolah, jjang… jagoan?”

“Kurang lebih. Biasanya mereka yang disebut hakgyo jjang merupakan jagoan sekolah, statusnya lebih tinggi dari iljeen karena hakgyo jjang adalah pemimpin para iljeen ini.” Yujin mengangguk lagi, diam-diam mencatat kosa kata yang baru ia ketahui itu.

“Ini sekolahnya. Anda yakin kamdok-nim?”

Yujin terkekeh, “Aku bukannya akan menyatakan perang, eonnie. Tenang saja, aku hanya ingin membuatnya sadar dan meski terlambat, aku ingin ia bertanggung jawab. Semuanya bergantung pada recorder ini, jadi selagi aku berusaha menyelipkan benda ini di sakunya, eonni harus tunggu di sini, oke?” Yujin segera berjalan masuk, meski tidak tahu seperti apa wajah Taemin, setidaknya ia harus bisa mencari.

Langkahnya tertahan ketika melalui sudut matanya, ia menangkap sosok seseorang di sisi sekolah, walaupun samar, ia yakin ada orang di sana. Dengan hati-hati Yujin berjalan mendekat, hingga matanya memberikan cukup bukti bahwa yang sedang berbincang itu Ai dan Taemin.

Mwo?! Chisa hada!?” suara Ai lekas membuat kaki Yujin bergerak cepat, menyembunyikannya di balik tembok. Dengan hati-hati matanya mengawasi keduanya, ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Tunggu…. Apa katanya barusan? CHISA HADA?!

Tidak kuat Ai menahan amarahnya lagi, meski kedua tangannya dicengkram kuat oleh Taemin, target telah terkunci. Dengan sekuat tenaga ia meloncat, membenturkan kepalanya tepat di wajah Taemin, tidak peduli bagian mana yang akan terbentur lebih dulu. Membuatnya terjerembab kebelakang, dan sejurus hidungnya mengalirkan darah merah.

“LEE YOON AI!”

“Cukup sampai di situ, tidak akan pernah aku membiarkan diri ini dihina. Ya, aku memang wanita jalang, hina dan murahan. Tapi sadarlah Lee Taemin, aku tidak lebih hina darimu. Biar aku membesarkan anak ini sendirian, dan setiap malam aku akan berdoa kepada tuhan, agar anak ini tidak terlahir sebagai wanita jalang yang hina sepertiku atau terlahir sebagai laki-laki bajingan sepertimu. Terima kasih karena menanamkan janin ini di rahimku. Kini aku yakin bahwa aku benar-benar perempuan jalang yang hina.”

Taemin tercekat, hatinya seperti membentur sesuatu yang tak terlihat. Dimana sikap yang sejak dulu diterapkan keluarganya, dimana sikap menghargai orang lain yang melekat padanya? Sebenarnya apa yang membuat ia keterlaluan seperti ini pun, ia tidak mengerti.

Melihat Ai meneteskan air mata itu adalah penyiksaan terberat baginya, membuatnya tiba-tiba merasa amat berdosa. Apa yang telah ia lakukan?! Menyesal juga tak akan ada gunanya. Meski begitu, ia tetap tidak bisa pura-pura semua baik-baik saja. Bayangan punggung Ai semakin menjauh dan semakin pudar oleh air mata yang siap mengalir.

“Hoy, Taemin… ada apa denganmu?” Taemin menerima uluran tangan Sung Jong, salah satu teman satu kumpulannya. “Ini, darahnya masih mengalir.” Taemin tersenyum miring, berterima kasih sambil meraih sapu tangan Sung Jong.

“Sulit juga ya ternyata…” gumam Sung Jong.

“Ternyata lihat, ya.” Taemin seperti menggumam pada dirinya sendiri, masih merasakan sesuatu yang aneh di dadanya.

“Tidak semua, hanya adegan serunya saja.” Ledek Sung Jong, mengundang tinju Taemin.

“Hahaha… bercanda, sudahlah, ayo kita ke kelab?” Mau tidak mau, hanya dengan ke kelab malam bersama teman-temannya Taemin bisa melupakan masalah-masalahnya.

Yujin menarik nafas panjang sebelum berjalan tidak karuan ke arah Taemin yang sedang berjalan dengan Sung Jong, disusul teman-temannya yang lain. Yujin menyandung batu, kemudian menjatuhkan diri agak keras pada Taemin hingga membuatnya ikut jatuh tersungkur di tanah.

“Heh! Kalau jalan lihat-lihat!” sembur salah satu yang berseragam acak-acakan.

“Maaf,” gumam Yujin sambil memegangi kepalanya, selagi Taemin berusaha bangun sekaligus membantunya.

“Anda baik-baik saja?” Yujin mendongak, Taemin belum berdiri, masih terduduk di hadapannya.

“Iya, saya baik-baik saja.”

“Sepertinya anda kurang sehat, coba periksa ke klinik,” ujarnya sarat khawatir sembari mengangkat Yujin untuk berdiri.

“Tidak, paling hanya pusing biasa. Sekali lagi maafkan saya, saya tidak sengaja.”

“Tentu saja.” Melihat Yujin berjalan sempoyongan, Taemin jadi khawatir.

“Taemin, ayo.” Dengan sedikit memaksa Sung Jong merangkul Taemin dan menariknya. Diam-diam Yujin mencuri pandang padanya, ia yakin firasatnya benar. Meski pembuat onar, Taemin bukan orang yang akan dengan bodohnya menghamili anak orang lain. Pasti ada alasannya, entah karena terprovokasi, atau karena kesalahpahaman. Yang pasti, sekarang ia hanya bisa berdoa, agar rencananya berjalan lancar.

Taman Makam Sysoon,Supyo-dong

Annyeong Yunaya, lama tidak bertemu.” Jonghyun meletakkan seikat bunga. “Merindukanku? Pasti tidak. Tapi aku sangat merindukanmu, tidak pernah aku melupakanmu walau hanya satu menit. Aku tidak pantas? Iya, aku tahu, aku tidak tahu dirikan?”

“Sebentar lagi hari ulang tahunmu, aku harap… kamu tidak akan bosan melihatku. Aku… akan tetap bersujud hingga kamu memaafkanku. Laki-laki yang tidak bisa menjaga wanitanya, aku, benar-benar tidak pantas mencintai apalagi dicintai.” Jonghyun menerawang, pepohonan di hadapannya, angin yang berhembus, jika tidak di sini, ia tak pernah merasakan kenyamanan itu.

“Kemarin… oh, kamu masih mau mendengarku cerita kan? Baiklah. Beberapa hari yang lalu, Yujin hampir tertabrak mobil. Ia tidak sedang mendengarkan lagu, tapi, menerima telephone. Padahal, aku sudah bilang untuk tidak menyentuh ponsel saat di jalan, kecuali darurat. Tidak bisakah orang-orang itu mengerti?! Tidakkah mereka tahu seberapa aku benci kehilanganmu karena earbud sialan itu?! Aku ingin mereka selamat! Aku ingin mereka tidak kehilangan hidup mereka dengan sia-sia! Aku ingin menjaga mereka! AKU… aku… tidak ingin kehilangan orang-orang di sekitarku seperti aku kehilanganmu, Yunaya. Apa salah?! Sesulit inikah membuat mereka sadar betapa pentingnya keselamatan diri mereka?” Jonghyun berusaha menurunkan emosinya.

“Jika kamu masih ada di sini, apa yang mau kamu lakukan saat ulang tahun besok?” dari kejauhan, Joon menatapnya simpati. Begitu mendapat panggilan dari kakak Jonghyun bahwa ia menghilang, hanya tempat ini yang menghampiri otaknya.

“Hey Kim Jonghyun, tenanglah! Aku akan berusaha keras menemukan siapa pelakunya. Jika tidak bisa meminta keadilan, aku akan membuatnya bersujud dihadapanmu. Aku bersumpah, akan menemukan bajingan itu untukmu dan untuk Yuna, membuatnya bertanggung jawab atas perbuatan yang ia lakukan pada Yuna. Pegang janjiku!” dengan kasar Joon menyeka air mata yang mengalir tanpa izin itu.

Meski Jonghyun tak mendengar, namun baginya, pohon dan angin yang menjadi saksi sumpahnya sudah cukup. Selama ini ia berusaha menyusun karirnya dengan baik hanya untuk ini, hanya demi mengembalikan Jonghyun yang semula dan menuntut keadilan.

Rumah Yujin, Buam-dong

Sekali lagi, dengan geram Joong Ki mengetuk pintu ruang pakaian Yujin. “Yoon-yang, sudah jam sembilan. Bergeraklah lebih cepat! Aku kan tidak hanya ingin mempertemukanmu dengan teman-temanku, aku juga harus mengambil gambar untuk tugasku!”

“Iya oppa, aku tahu. Tapi pengertian sedikit dong, aku kan mau pergi dengan Min Soo hari ini. Jadi sabar saja, aku akan membuat semua orang terpesona.” Joong Ki memutar bola mata dan kembali menunggu, hingga, syukurlah, lima menit kemudian Yujin keluar.

“Bagus tidak?”

Joong Ki garuk-garu kepala. “Biasa saja, sudah ayo jalan.” Yujin menepuk kening, Joong Ki tidak akan pernah menganggapnya cantik.

“Sepertinya aku tidak asing dengan sweater-mu.” Ditengah kesunyian perjalanan, akhirnya Joong Ki bicara.

“Inikan koleksi musim gugur tahun kemarin, hadiah darimu oppa. Lupa ya?”

Joong Ki melirik sekali lagi.“Kapan kamu membeli celana model begitu?”

“Ini? Ini denim Levis milik ibu, waktu liburan ke sini ibu sedang beres-beres rumah. Berhubung di LA ada pembersih denim, jadi aku ambil, aku bawa ke Denim Refinery dan dicetak motif kulit ular. Banyak kok denim lama yang aku bawa ke LA lalu aku bersihkan, keren kan?” Joong Ki mangut-mangut.

Sebenarnya tidak ada yang tidak biasa dari gaya Yujin hari ini. Sweater rajutan merek American Apparel warna biru awan yang ia beli tahun lalu untuk Yujin, Denim Refinery’s kulit ular merek Levis warna putih, dan backpack kulit dari Casbah Café.

Sama saja, semua yang Yoon-yang pakai hari ini merek-merek favorite-nya selama masih pelajar di LA. Jadi… apa yang membuatnya memakan waktu satu jam untuk memilih baju?! Kalau ujungnya, kembali ke gaya awalnya. Ya ampun, Yoon-yang! Gerutu Joong Ki dalam hati.

“Eh! Itu kan, jam dariku. Masih ada? Wuaaahhh!” seru Yujin takjub. Senang melihat Joong Ki hari ini menggunakan jam tangan pemberian Yujin dua tahun yang lalu. Merek J-Crew, baginya yang waktu itu masih menuntut ilmu, membeli jam merek ini butuh perjuangan!

“Nah, itu dia mereka,” Joong Ki segera memakirkan mobilnya dengan gerakan cepat yang ekstrim, membuat Yujin meringkuk kaget.

Oppa! Bahaya tahu!” Joong Ki hanya bisa tercengir, kemudian cepat-cepat keluar dari mobil.

“Hai semuanya,” sapa Yujin ramah sambil membungkuk beberapa kali kepada teman-teman Joong Ki.

“Maaf ya menunggu lama, biasa, perempuan,” hina Joong Ki, membuat teman-temannya terkekeh sementara Yujin mencibir kesal.

“Kenalkan, ini Chae Yoo Jin. Panggil saja Yujin. Yujin, ini teman-teman ku, itu Kim Sung Kyu, lalu itu Kim Donghyun, sementara yang aku rangkul ini Jung Jinyoung. Mereka bertiga setahun di atasmu, jadi aku yang paling tua di sini. Anggap saja teman, tidak perlu formal. Kecuali dengan Sung Kyu, panggil dia oppa.” Yujin mengulurkan tangannya lalu tersenyum riang.

“Salam kenal, aku Chae Yoo Jin. Terima kasih banyak mau bergabung denganku,” ucap Yujin tulus.

“Tidak usah berterima kasih, karena mestinya kami yang bilang begitu. Bisa-bisanya ketumpahan kesempatan untuk mendapat pengalaman berharga. Bergabung dengan kru yang sudah ada saja belum tentu diterima, eh ini ada yang menawari.” Sahut Sung Kyu.

“Tidak juga, yaaa… intinya, terima kasih. Ngomong-ngomong, kalian akan mengambil gambar film documenter seperti apa?”

Donghyun menjentikkan jari. “Ah, untung ada senior!” Yujin langsung bersemu.

“Bantu kami sunbae, kami hampir mati kelimpungan meliput ini-itu!” sambung Jinyoung.

“Iya, bagi kami berempat, pembuatan film paling sulit adalah film documenter. Sangat menyebalkan dan membuat susah,” timpal Donghyun.

“Sebenarnya, justru film documenter yang paling asik dan menyenangkan, tidak terlalu sulit sih. Tapi memang tidak bisa dibilang mudah,” gumam Yujin.

“Pokoknya, ayo bantu kami.”

Selama setengah jam, kelima pemilik tangan di balik layar ini berdiskusi, menjelaskan soal ini dan itu, mengenai film documenter yang membutuhkan sentuhan tangan berpengalaman seperti Yujin. Kemudian, dengan perbincangan yang tidak berhenti dan sesekali tertawa, keenamnya telah tiba di lahan yang dipikir sesuai dengan kebutuhan.

Beberapa kali Yujin menyihir ketiga rekan Joong Ki dengan karisma tersembunyinya, ketika tersenyum, ketika berjalan, ketika berbicara, ketika menyentuh sesuatu, ketika menggunakan matanya seperti lensa kamera dan ketika dengan jeli menangkap materi menarik untuk direkam. Hal ini, membuat ketiganya bertanya-tanya bagaimana bisa Joong Ki tetap bermain wanita sementara di sisinya sudah ada perempuan yang bisa membuat para gay menjadi normal.

“Waktu itu aku pernah sekali kemari, dan… semestinya titik yang waktu itu menarik perhatianku ada di sini.” Ketika Yujin sibuk melihat ke sekitar, sebuah pesan menjatuhkan mood-nya.

Min Soo: Yoon-yanga, maaf ya, sepertinya hari ini aku batal mengajakmu nonton.

Sama sekali tidak berniat membalas, dengan wajah kesalnya, Yujin mengembalikan kamera milik Jinyoung.“Hey, maaf ya aku ada urusan.Lanjutkan sendiri, jangan lupa akhir pekan ini kita technical meeting, setelah itu kita rapat.Sampai jumpa!”

“Dia kenapa?”Donghyun merasa aneh tiba-tiba wajah Yujin jadi jutek.

“Mungkin tidak jadi nonton,” jawab Joong Ki asal.

“Dia sudah punya pacar? Yaaaahh…-“ Joong Ki langsung memukul lengan Sung Kyu.

Krispy Kreme Doughnuts, Sinchon-dong

“Selamat menikmati,” Ji Yong tersenyum kemudian membawa nampan berisi donat dan segelas jus jeruk menuju salah satu meja dekat jendela.Baru ia akan duduk, seseorang tiba-tiba berhenti di hadapannya kemudian menoleh. Melihat wajahnya, meski terhalang kaca membuatnya tegang. Gadis di hadapannya ini, entah bagaimana caranya, memiliki sebuah aura untuk membuat orang lain merasa terintimidasi.

Ia bahkan tidak berani bergerak, namun ketika wajah itu menunduk kan kepala padanya… Ji Yong justru semakin tidak tahu harus berbuat apa-apa, kecuali balas membungkuk kan kepala kemudian menunggu sosok itu masuk ke café ini.

“Maaf soal hari itu, Ji Yong-ssi.”Ji Yong langsung merasa aneh.

“Kamu selalu sangat formal begini ya?”

“Saya tidak bisa lebih sopan dari ini,”

“Santai saja, tidak bisa?”

“Jika santai… saya tidak pernah menyinggung soal perbedaan umur.Tidak apa-apa?”

Ji Yong makin canggung, “Ya sudah, santai saja.Panggil aku Ji Yong juga tidak apa-apa, aku tahu kamu sudah biasa dengan budaya di luar sana.”

“Jadi… masalah kalian, aku minta maaf karena ikut campur.Bukannya bermaksud buruk, tapi perempuan mana yang tidak marah keluarganya dihamili kemudian ditinggal. Walaupun anda kembali juga, orang akan berfikir untuk membalas dulu baru memaafkan. Aku tahu, aku terlalu emosional. Jadi mulai sekarang aku tidak akan ikut campur. Kalau kalian memang mau menikah, aku akan… coba mendukung.”

“Terima kasih banyak, justru dengan sikapmu waktu itu, aku jadi sadar tentang kesalahanku. Walaupun aku mencoba memperbaiki, tapi aku masih harus berjuang.Dari situ aku belajar untuk tidak menghancurkan jika tidak bisa memperbaiki. Sangat menyenangkan kalau bisa memiliki adik sepertimu,”

“Kamu pasti menyesal kalau punya adik sepertiku,” di luar dugaan, keduanya tertawa kecil.“Yoo Bi sudah memaafkanmu?”

“Sepertinya aku harus berjuang lebih keras, ia sudah berubah.Walaupun aku senang ia berubah, tapi ternyata jadi sulit didekati.”Ji Yong tersenyum sambil menatap kosong para pejalan kaki.

“Aku yang membuatnya begitu,” kata Yujin sambil meletakkan sesuatu di sisi meja Ji Yong.“Untuk sementara jangan potong rambutmu, ikat saja, aku yakin Yoo Bi akan menyukainya.” Ji Yong mengerutkan alis tapi mengambil ikat rambut biru pemberian Yujin, kemudian mengikat rambut ikalnya asal.

“Persis! Sekarang aku tahu kenapa Yoo Bi sangat menyukai Jang Geun Suk belakangan ini,” Yujin tersenyum ramah, membuat Ji Yong tiba-tiba ingin menjadi kakak gadis manis ini. Sebelumnya ia hanya terus menerus melihat wajah penuh amarah milik Yujin, tapi saat ini, Ji Yong benar-benar luluh dengan senyumnya.

High fashion, coat-mu.Koleksi Son Jung Wan tahun 2011,” gumam Yujin pelan, membuat Jiyong tersenyum kecil.

“Apa tidak berlebihan?” Jiyong menatap Yujin penuh arti. “Mengenakan gaun Valentino Red untuk jalan-jalan.”

Yujin tertawa kecil. “Aku baru saja menghadiri acara penting, kebetulan mendapat sponsor gaun ini.” Yujin merendah, tidak menyangka laki-laki ini bisa mengetahui karya Valentino.Setidaknya, mereka menemukan satu kesamaan.High fashion, is a must. Brand can wait.“Aku punya ide untuk kalian berdua.”

 

Rumah Yujin, Buam-dong

Yujin menghela nafas lega, akhirnya ia bisa beristirahat juga. Diam-diam berharap Joong Ki hari ini pulang larut, ia sedang ingin menyendiri di rumah. Yujin mematikan mesin mobil kemudian menarik kuncinya, baru ia akan keluar, sebuah mobil yang tiba-tiba berhenti di depan pekarangannya menarik perhatian.

“Sore… Yujina,” sapa Min Soo canggung. Padahal ia sudah menyiapkan scenario-nya, tapi ketika bertatapan langsung dengan gadis di hadapannya ini, otaknya mendadak macet.

“Silahkan masuk, kita bicara di dalam.” Kata Yujin datar, kemudian lebih dulu mengambil langkah.

“Tunggu Yujina.” Cepat-cepat Min Soo mengejar Yujin dan menahan langkahnya, “Kamu masih marah? Karena kita batal nonton?”

“Itu bukan alasan untuk marah, aku tahu kamu orang sibuk. Mau masuk atau tidak?” Yujin berusaha menahan nadanya agar tetap stabil, perlahan melepas cengkraman Min Soo di lengannya. Sebenarnya Yujin memang bukan marah karena itu, tapi ia hanya kesal karena dirinya terlalu banyak berharap.

“Ayo berkencan,” Yujin reflek menoleh kaget dan mendelik dengan alis berkerut, Min Soo sakit atau apa? “Aku menyukaimu, kamu juga, sepertinya.Jadi, ayo berkencan, jadilah pacarku.” Yujin benar-benar ingin tertawa keras. Ada apa dengan laki-laki di depannya ini? Omong-omong, tidak ada cara yang lebih manis dari ini? Biar bagaimanapun, Yujin kan perempuan.

“Aku anggap itu sebagai iya, jadi, kita resmi kan? Nah, ini, bunga untukmu. Pastikan bungnya tetap segar selama mungkin, karena rasa suka, rasa sayang, dan masa pacaran kita akan bertahan hingga bunga terakhir layu.”

“Hingga bunga terakhir layu?” Yujin mengulang.

“Jaga baik-baik ya, sampai jumpa besok… sayang.” Konyol, namun Yujin tetap melambai sambil menahan tawanya.

“Dasar laki-laki ini, sejak kapan dia jadi naif begitu. Bunga terakhir? Lihat saja sampai dia serius dengan pernyataannya.” Baru Yujin akan membuka pintu rumahnya, sebuah pesan masuk.

Min Soo: Aku serius loh… hubungan kita hanya akan berlangsung hingga bunga terakhir layu. Besok makan siang bersama ya ^^

“Bang Min Soooo!!” Yujin bersukur yang ia remas ponselnya, jika kaleng mungkin sudah remuk. Tapi kemudian matanya tertuju pada seikat bunga mawar merah di tangannya. Jika memang benar mereka akan pacaran hanya sampai bunga terakhir layu, maka Min Soo akan jadi laki-laki paling brengsek yang pernah ia kenal.

“Yoon-yang! Tidak masuk?”

“Aish! Oppa! Aku kaget tahu.” Joong Ki menangkap sebuah pemandangan tidak biasa.

“Bunga dari siapa?” dengan jahil ia merampas bunga pemberian Min Soo. “Ya ampun, dia niat memberi bunga atau tidak sih? Masa melengkapi jadi dua puluh tangkai saja pakai bunga palsu.” Joong Ki mengembalikan bunganya lalu segera membuka pintu.

“Bunga palsu?”

“Masa kamu tidak lihat bedanya? Dari dua puluh bunga mawar itu, ada satu yang palsu. Bentuk kelopaknya saja kaku begitu, masa tidak sadar?”

Ia sedang berfikir respon apa yang harus diberikan, senang? Terharu? Marah? Malu? Atau apa? Kalau rasa sayang dan masa pacaran mereka berakhir jika bunga terakhir layu, sementara bunga yang terakhir tidak akan pernah layu… artinya…. Satu pesan kembali masuk ke ponsel Yujin.

Min Soo: Tidak apa-apa, kamu bisa memelukku besok. Hehehe~, istirahat yang baik ya ^^

Akhirnya Yujin memutuskan untuk tertawa.“Dasar bodoh!”

“Yoon-yang, cepat masuk!”

“Okay!”

Gedung Su Coorp, Seoul.

“Rapat antar sutradara ini untuk membicarakan masalah technical meeting besok, juga mengenai beberapa hal penting yang harus diberitahukan, berkaitan dengan donator utama acara ini.”

“Ada bocoran, hal penting apa?”

“Mengenai pelarang 2NE untuk ikut berpartisipasi.”Yujin berhenti melangkah.2NE dilarang untung berpartisipasi?

“Apa mereka sudah memberitahu Jong, maaf, sajangnim, tentang ini?”

“Belum,”

“Kenapa hal ini harus dibicarakan dengan sutradara dari rumah produksi lain?”

“Karena pelarangan ini dilakukan secara tidak langsung, permainan kata.” Yujin baru akan kembali melangkah ketika mendengar suara langkah segerombol laki-laki berpakaian rapi.

“Siapa donator utama acara ini?”

“C.W Construction.” Yujin menyeringai, sudah ia duga siapa dalangnya. Tadinya ia ingin segera menyembunyikan diri, tapi jika menyangkut 2NE, maka ia harus berani menjatuhkan dirinya.

“Tolong bilang pada ketua pelaksana, aku akan sedikit terlambat.” Hye Jin mengangguk lalu berpisah dengan Yujin yang berjalan dengan langkah mantap, hendak menghadang tuan-tuan berjas itu.

“Wow, morning your majesty.Sungguh kebetulan kita bisa bertemu di sini.” Lelaki paruh baya yang masih berdiri tegap, dan dibalut jas biru tua tersebut tersenyum ramah.

“Tentu, betapa menyenangkannya bisa berpapasan di tempat ini.” Balas Yujin dingin, dagunya terangkat. Tanpa banyak bicara, Yujin mengikuti mereka menuju sebuah ruangan yang disediakan khusus bagi para tamu besar Su.

“Berniat kembali pada kami?”

YA! CHAIRMAN CHAE!!” Yujin nyaris membuat para pengawal itu terjengkang kaget.

“Yujin! Bersikaplah seperti perempuan! Seriously…, you know it takes almost a half years for me to find you.Don’t you wanna give me a hug, do you?”

“Jangan bercanda, kalian hanya perlu sekian menit untuk melacak posisiku. Kalian hanya mencari waktu yang tepat untuk menekanku, iya kan? Silahkan, but I’m not coming back. Bahkan kepada ibu, aku juga tidak mau kembali.”

Chae William, ayah angkat Yujin, pemilik perusahaan konstruksi besar. Semenjak kecelakaan yang menimpa Yujin, Tuan Will jadi bereaksi berlebihan, ia overprotective. Membawa Yujin jauh-jauh dari Korea, tapi tidak bersikap lebih baik, malah sibuk dengan urusan perusahaannya.Jadi Yujin merasa, tidak ada gunanya berada di bawah perlindungan ayahnya. Toh, perlindungannya justru lebih mengerikan dari realita.

“Ayolah Yujin, maaf aku jarang memperhatikanmu. Tapi jangan sampai kabur begini!”

“Aku cuma mau hidup dengan bebas, dad, mengertilah! Ada apa sih? Kenapa kalian selalu bersikap berlebihan? Menjagaku terlalu ketat, mengganggu proses sosialisasiku, dan menahan agar aku tidak lagi terapi untuk memulihkan ingatanku. Jangan-jangan ada sesuatu yang kalian tidak ingin aku ketahui.” Tuan Will tersenyum samar, menelan ludahnya hati-hati.

“Semua ayah pasti menjaga putrinya sebaik mungkin, terlebih, kamu pernah kecelakaan. Tidak akan aku biarkan hal itu terulang, mengerti?”

“Setidaknya, biarkan aku mengikuti kompetisi ini, dan biarkan aku hidup normal. Jangan harap aku menerima pengawal!”

“Yujin, apa artinya bisa bertemu lagi denganmu kalau tidak bisa melindungimu?”

“Aku mau dad temui Yoo Bi dulu. Ia anak kandungmu, jangan pernah menyayangi anak angkatmu lebih dari anak kandungmu sendiri, dad.” Tuan Will memukul meja.

“Jangan pernah membahas soal siapa anak angkat dan siapa anak kandung! Status kalian sama!”

“Kalau begitu temui Yoo Bi, secepatnya. Anaknya, tetaplah cucumu, dad. Seburuk apapun masa muda Yoo Bi, amarah dan rasa malumu tidak akan menyelesaikan segalanya, dan lagi, semuanya sudah berlalu lama. Setelah itu aku baru mau berhubungan denganmu lagi. Oh, satu lagi… jangan pernah coba-coba ikut campur dalam kompetisi ini. Aku harus bertanding dengan baik dan jujur!”

“Tunggu Yujin! Setidaknya… terimalah Pak Kwak sementara di sisimu, ya? Biar dia melindungimu.” Meski ragu, Yujin ingat ia sedang butuh bantuan anak buah ayahnya.

“Baiklah, tapi… you must know. Having those bodyguards is completely useless, you waste your money. Kita cuma pengusaha konstruksi, bisa hancur kapan saja. So, just start saving up some money, won’t you?” kemudian gadis ini benar-benar berbalik dan meninggalkan ayahnya.

“Pastikan Kwak-ssi mengawasi putriku dengan baik!”

Ingye-dong, Suwon-si

“Sudah selesai?” tanya Yoo Bi ketika putrinya menumpuk mangkuk nasinya.

“Sudah, terima kasih banyak atas makanannya malam ini.”

Yoo Bi tersenyum, “Sama-sama, letakkan saja di meja dapur, biar eomma yang cuci.Setelah ini Inna mandi, jangan lupa sikat giginya, baru tidur, ok? Eomma mau keluar sebentar bertemu imo, baik-baik di rumah ya.” Inna mengangguk, kemudian turun dari kursi sambil membawa mangkuknya.

Sebenarnya Yoo Bi malas keluar rumah malam-malam begini, apalagi ibunya sedang menginap di rumah saudaranya. Kalau bukan karena Yujin memaksa, ia tidak akan mau keluar. Lagi pula, kenapa Yujin tidak langsung datang ke hanok ini saja? Kenapa harus janjian di taman?

Yoo Bi mulai celingak-celinguk mencari sosok adiknya, tidak biasanya gadis itu terlambat. Ia baru akan menghubungi Yujin, hendak marah-marah, tapi lampu taman yang tiba-tiba menyala membuatnya terkejut. “Sudah diperbaiki rupanya,” dengan lampu yang menerangi taman ini, Yoo Bi baru berani masuk ke dalam.

Gyeouri gago bomi chajaojyo, urin sideulgo. Geurium soge mami meongdeureotjyo.—(The winter had passedand the spring has come, we have withered. And our hearts are bruised from longing)”

Yoo Bi langsung menoleh kaget, siapa yang malam-malam begini memutar lagu?

“(I’m singing my blues)Paran nunmure paran seulpeume gildeullyeojyeo(I’m singing my blues)Ddeungureume nallyeobonaen sarang oh oh—(Used to the blue tears, blue sorrow.The love that i have sent away with the floating clouds, oh oh)”

Ia semakin terkejut ketika menyadari suara ini amat tak asing baginya, dan saat itu sosoknya muncul. Seseorang yang dulu menjadi orang pertama yang bernyanyi untuknya, seseorang yang berjanji untuk membuatkan sebuah lagu untuknya, seseorang yang memeluknya kemudian bersumpah untuk menghabiskan sisa hidup bersama dengannya.

Gateun haneul dareun got—(Under the same sky, at different places)

Neowana wiheomhanikka—(Because you and i are dangerous)

Neoegeseo ddeonajuneun geoya—(I am leaving you)

Nimiran geuljae jeomhana bigeobhajiman—(One letter difference from ‘nim’ it’s cowardly, but)

Naega motna sumneun geoya—(I’m hiding because i’m not good enough)

Janinhan ibyeoreun sarangui mallo—(Cruel breakup is like the end of the road of love)

Geu eoddeon maldo wiro dwel suneun eobtdago—(No words can comfort me)

Ama nae insaengui majimak mello—(Perhaps my lifetime’s last melodrama)

Magi naeryeo-oneyo ije—(Now its final curtain is coming down)

“Kenapa kamu di sini?” tanya Yoo Bi ketus.

“Maafkan aku, Yoo Biya, kamu masih belum sadar kalau aku sungguh-sungguh?”

“Sudahlah, tidak akan ada gunanya.Bukannya aku tidak mau, hanya saja aku tidak bisa.”

“Kenapa? Karena adikmu? Kamu lebih memilih menjadi orang tua tunggal, dari pada melawan adikmu?” Yoo Bi menarik nafas berat. Tidak diragukan, rasanya untuk Jiyong tidak pernah berubah, sekeras apapun ia berusaha melupakan, laki-laki ini tetap memiliki ruang di hatinya. Namun, ia tidak ingin membuat adiknya kecewa. Ketika dulu ia melalui masa sulit, hanya ada Yujin di sana, meski terhalang jarak, namun adiknya tidak henti memberi dukungan. Rasanya egois, jika ia kembali kepada Jiyong sementara dulu Yujin susah payah mengobati luka Yoo Bi karena Jiyong. Kemudian sebuah pesan masuk ke ponselnya, dari Yujin!

Jijin Yujin: Sudah bertemu calon suamimu? Kejutannya manis kan? Itu lagu, dia yang buat loh.Tapi ide kejutannya buatanku, keren kaaaann??xD

Yoo Bi serasa hilang akal, bingung reaksi seperti apa yang harus diberikan. Senang? Terharu? Atau apa? Jiyong masih berdiri di hadapannya, menanti jawaban.

“Hubungan kita benar-benar tidak bisa diselamatkan? Kamu benar-benar tidak ingin menikah denganku?Aku pikir kejutannya akan berhasil.” Gumam Jiyong sedih. Tanpa menyahut, Yoo Bi segera memeluknya, calon suaminya.

“Aku diterima lagi?” Yoo Bi mengangguk, kemudian ia merasa Jiyong mempererat pelukannya. “Terima kasih banyak, terima kasih karena mengizinkanku memperbaiki segalanya, terima kasih karena menerimaku sebagai suamimu, terima kasih karena mengizinkan ku menjadi ayah dari anakmu, juga… terima kasih banyak atas cintamu.Sekarang aku bisa membayar tanggung jawab yang aku hindari dulu, terima kasih karena memberiku kesempatan kedua.”

—Dia yang Tak Bertanggung Jawab, END—

Sneak Peek:

“Di Naegok-ri, bukan kontrak, sekedar freelance.”

“Maaf, nama anda?”

“Joong Ki, Song Joong Ki.”

“Saya Jae Woo,”

“Ayo masuk, biar saya tunjukkan system-nya,”

“Oh? Anda… Joong Ki kan?”

Sajangnim,”

“Ini kekasihmu? Cantik, kalian serasi.”

“Terima kasih,”

“Ia sering kemari?”

“Dulu iya,”

“Kalian sudah putus atau…?”

“Meninggal beberapa tahun lalu.”

“Aku turut menyesal,

“Yuna…”

Mianhae…”

“Yuna… aku,”

“Aku sakit… Yuna….”

“Kim Jonghyun, untuk apa terus menerus memanggilnya?”

©2012 SF3SI, Zikey.

Officially written by Zika, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

24 thoughts on “2NE, SCENE 3 SHOT 3: Dia yang Tak Bertanggung Jawab

  1. Jonghyun koq cm muncul se iprit2,yujin ilang ingatan kpn?lupa apa aja aduuuuhhh uda lupa dh crta part sblumnya,abis lama bgt lanjutannya,,,

    1. Iya ._. next aku perbanyak deh yaa
      Huhuh maaf yaaaa~
      tapi lain kali aku percepet deh update nya😀

      makasih udah mampir dan komen *smooch*

  2. Sebenarnya udah bac dari awal, tapi telat jadi komennya baru di sini deh. Mian eonni. Keke

    Wah penasaran ama lanjutannya… Yujin hilang ingatan? Ayahnya Yujin kenapa?
    Wah Yoobi kbali ama Jiyong…

    Ya ampin, Taem keterlaluan bgt sih…

    Ditunggu part selanjutnya eon🙂 makin seru dan bikin penasaran nih…

    1. Gak apa-apa saay ^^ santai aja~ hoho
      Nah, itu dia yang bakal jadi cerita:D kekeke~
      baca terus ya biar tahu ayahnya Yujin kenapa ^^

      Makasih udah mampir dan komen *smooch*

  3. miannn baru komen di part ini aja aku bacanya bingungggggg harus 2 kali ehhh ternyata sambung menyambung di setiap part hahahah aku ketipu kebingunganku sendiri(?)

    penasaraaan itu yuna.a gmana???

    1. hahhaha
      Iya, tadinya mau biikin gak saling nyambung.. tapi akhirnya malah jadi berhubungan semua gini kekeke~
      Baca terus yaaa ^O^

      makasih udah mampir dan komen *smooch*

  4. Aaa kerennn…
    blm gt ngerti soalnya blm baca dr awal..tp ini udh sukses bikin penasaran..
    lanjut lanjut…

  5. tiap baca ni ff yg ku cari jjong doang.. Hehe..
    Ini ff bagus.. Tapi sayangnya aku ga mampu kasih komen setimpal.. Mianhamnida..#bow

    1. Yaah tapi Jjongnya seiprit doang ya munculnya T_T
      maaf yaa.. lain kali aku banyakin😀
      gak apa-apa say ^^
      makasih udah mampir dan komen *peluk*

  6. eum… kok aku rad gak rela ya kak Yujin sama Minsoo. maunya sama Jonghyun ini hehe

    tapi akhirnya Yoobin sama Jiyoung lagi ya, sama si Inna juga. aish, kelarga bahagia hehe

    part selanjutnya ditunggu kak.. bener2 suka tulisanmu kak d^^b

    1. Sabar sabar.. tenang aja😀
      Kekeke~ iya
      seriusan? aaaahh senengggnyaa~
      Makasih udah mampir dan komen ^O^ *peluk*
      btw, next part nya udah publish tuh kekeke

  7. rada lupa part sebelumnya,dah lama juga sih ^^
    minsoo cara nembaknya keren banget,yujin beruntung deh mau juga dong hihihi
    tapi kirain yujin bakalan ma jjong gitu eh ternyata engga atau bakal ada kejutan lain?kita tunggu saja *plak
    masih ga ngeh hubungan taemin-yoon ai ma yujin apa ya?yujin cuma sekedar bantu aja atau gimana? o.O

    ada typo tapi nemu cuma sebiji doang itu juga lupa dibagian mana tadi ga ditandain kkk ya udah anggap aja ga ada typo *ini komen gaje pemirsah kkkk ^^V

    1. Iyaa huhuh maaf yaa kelamaan~
      Hihihi.. sebenernya itu cara nembak paling aneh xD kkk~
      Iyak betul, kita tunggu sajaa hohoho
      Sabar, nanti ada kaitannya deh pasti ^^

      Oh ya? Waahh ini bahagia banget benera. Typo cuma sebiji itu luar biasa!! xD biasanya typo ku bisa segudang
      btw, makasih udah mampir dan komen yaaa *smooch* next part udah keluar looh😀

  8. sebenarnya
    sampai sekarang aku gak nangkep inti ceritanya. maaf ._.v

    castnya jg banyak. jd suka bingung T.T /nangis di pojokan/

    maafkan saya, author. kesalahan ada pada otak saya T.T

    1. Enggak kok
      emang awal-awal ini au ngaco banget nulisnya
      main ke belakang aku perjelas kok, tenang aja tenang ^^
      btw, makasih udah mampir dan komeeenn😀 *smooch*

  9. pas minsoo nembak pake mawar itu bener-benar. aaaaakkkkk…..
    ga tau mesti komen apa author~nim.
    terimakasih sudah update.
    jaga kesehatan dan update soon🙂
    fighting🙂

    1. Hahahaha, aku juga mau ditebak kayak gitu. Cool yet sweet xD
      Sama-samaaaa😀
      aduuh kamu perhatian banget siiih, jadi malu aku kekeke
      okay! btw, next part udah keluar kok ^^
      makasih udah mampir dan komeeenn~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s