Graffiti [1.2]

Graffiti [1 of 2]

Author: ZaKy

Main Cast:

  • Kim Jonghyun
  • Kim Kibum

Support Cast:

  • Ishikawa Shuichi (OC)

Length: Two-shots

Genre: Friendship

Rating: General

Sebenernya ini buat ulang tahunnya Jjong, tapi karena pas itu aku UTS, terus sempat sakit, terus ada acara sekolah yang ribetnya minta ampun, akhirnya baru bisa di-publish sekarang. Mianhae, Jjongie-ya~~

~~~~~~~

“Aku membutuhkan manuskrip secepatnya, Jjong.”

Ishikawa Shuichi berkata tenang. Cangkir Americano-nya bertemu dengan tatakan, bertumbukan menimbulkan denting lirih ditelan alunan sendu musik lawas. Dari balik kacamata minus ia menelisik lelaki muda di seberang meja. Kacau, simpul Ishikawa perihal penampilan Kim Jonghyun.

Writer’s block,” Kim Jonghyun mengemukakan alasan klasik. Kedua tangannya bertelekan pada siku di atas meja, kesepuluh jemarinya saling menjalin dan menahan dahi. “Hasil dari rapat serialisasi, shocking result. Aku belum dapat berpikir.”

Konsekuensi menjadi editor seorang imigran bagi Ishikawa adalah terselipnya bahasa lain dalam kalimat Kim Jonghyun. Satu tahun lebih mereka bekerja bersama, ia masih belum paham mengapa mangaka1 tersebut lebih menguasai bahasa Inggris daripada Nihon-go2. Hal itu tak dipusingkan Ishikawa lantaran kemampuan Kim Jonghyun dalam memainkan garis dan tinta selalu berhasil membuatnya tercengang.

“Ini hal biasa bagi pendatang baru, boleh dibilang kau mujur karena Twist bisa diserialkan.” Ishikawa lantas tercenung, pandangannya terlempar ke luar jendela. “Meskipun aku sempat berpikir Twist dapat bertahan selama lebih dari tiga tahun.”

Jonghyun ikut tercenung. Kedua tangannya tersimpan di bawah meja dan ia membungkuk begitu rendah hingga dahinya nyaris menyentuh meja. “Moushiwake arimasen deshita3….”

Ishikawa berjengit, telapak tangannya terentang ke depan dan melambai-lambai cepat. “Tak perlu minta maaf, Jjong. Sudah kubilang, ini hal yang biasa,” kelitnya rikuh. “Kau hanya perlu menyelesaikan empat chapter terakhir kali ini. Bolehlah setelah itu kau pikirkan ide yang menarik dan sekiranya dapat diterbitkan di Jump4.”

“Oh, well….” Jonghyun menatap lesu Ishikawa yang sibuk mengemasi barang-barang ke dalam tas. Ketika matanya bersiborok dengan Jump edisi terbaru, helaan napasnya tak bisa ditahan. Berita bahwa serialnya harus dicopot dari daftar manga5 yang mengisi majalah mingguan itu tak pelak membuat pikirannya berkecamuk.

“Jika boleh kuberi saran, lain kali buatlah manga pertempuran. Ide cerita Twist tentang pengendalian pikiran sangat menarik, tapi pembaca lebih senang melihat aksi yang nyata,” Ishikawa berkata selagi mengetikkan sesuatu di ponsel, “Kau amati manga populer seperti Bleach, Naruto, dan One Piece. Semua tentang pertempuran, kan?”

“Maaf berkata begini, tapi bukankah Twist juga melibatkan aksi?” tanya Jonghyun ragu.

“Alur Twist terlalu tinggi untuk dibaca hanya sebagai selingan. Jika dilihat dari kuesioner, menurutku sudut pandangmu bahwa batas antara baik dan buruk sangat tipis tidak bisa diterima pembaca begitu saja. Terlalu serius. Terlalu gelap,” ungkap Ishikawa.

Terlalu gelap. Jonghyun tak percaya mendengar pembaca berkomentar seperti itu perihal karyanya. Namun pembacalah yang menilai, ia bukan apa-apa kecuali orang yang menyediakan bahan bacaan.

“Jujur saja, aku menyukai Twist, tapi kau harus mencoba meringankan sedikit ceritanya. Setidaknya untuk empat chapter terakhir—oh, maaf. Aku harus segera pergi.” Ishikawa menyimpan kembali ponsel ke dalam tasnya. “Jaa6, kita akan bertemu lagi di sini tanggal dua. Kuharap kau sudah siap.”

“Tentu saja—Ishikawa-san?”

Ishikawa tak jadi beranjak dari kursi. Tatapan mata Jonghyun memaksanya tetap duduk. “Ya?”

Do readers love a mainstream story?”

“Sayangnya statistik bisa membuktikannya. Aku tetap mengharapkan yang berbeda darimu, Jjong.”

Mata Jonghyun memicing. “Mainstream, huh?”

.

Malam makin larut, tetapi Jonghyun tidak memiliki kemauan untuk bergeser barang seinci dari kursi. Beberapa lembar kertas sketchbook yang telah dirobek berserakan di atas meja, semuanya bercoretkan sketsa karakter pahlawan yang berbeda. Sepintas lihat, tentulah karya-karya tersebut mengundang decak kagum, namun lelaki itu masih berkutat dengan sketsa lain.

Mainstream….” Bibirnya terus bergumul dengan kata tersebut. Ia tidak sedang berusaha mendoktrin diri sendiri—nada menanjak di suku kata terakhir menegaskan bahwa ia pun sangsi cerita perihal ide pasaran dapat menjadi kesuksesan. Namun apalah guna idealismenya jika—seperti kata Ishikawa—pembaca memang menyukai cerita pertempuran yang diselipi humor.

Ia membuang tatapan ke luar jendela, punggung tangan kanan menjadi penopang pipi. Omotesando masih ramai seperti dua jam lalu. Etalase-etalase yang memajang tren fashion teranyar berkelap-kelip di antara punggung ratusan manusia. Tidak seperti Takeshita-dori yang menjadi destinasi utama pada pemburu fashion eksentrik, Omotesando dijejali butik bermerek internasional—sebut saja Camper, Zara, Lacoste, dan Kangol. Tak heran jika jalan panjang yang mengarah pada kuil Meiji Jingu ini lebih dipadati orang dewasa ketimbang anak muda.

Jonghyun tak punya tambatan mata secara khusus—ia hanya menerawang duyunan orang-orang itu—ketika sekonyong-konyong seorang pemuda menginjak teritori jarak pandangnya. Terlihat sangat biasa, namun justru poin biasa tersebut yang membuat Jonghyun memilih memperhatikan gerak-geriknya. Ransel cokelat gelap bergelayut di punggung, tangan kiri terbenam dalam saku celana, sementara tangan kanannya menenteng tabung perak yang berkilat.

Pemuda itu melintasi kafe tempat Jonghyun mendekam dengan langkah lambat dan pongah. Lengan kanannya tertekuk ke depan, kemudian ia melempar tabung ke udara dan menangkapnya kembali. Hanya berlangsung sedetik, namun mata Jonghyun membelalak seketika. Kaleng aerosol?

Jonghyun terhenyak, akalnya menari-nari terhadap pemandangan yang ia lihat barusan. Kombinasi sedikit dengan imajinasi, menyambungkan dengan potongan ide lain yang berseliweran. Sejurus lelaki itu berdiri, secepat kilat merapikan semua barangnya, kemudian berlari keluar dari kafe.

Seseorang nyaris ditabraknya ketika merangsek ke trotoar. Ia menggumamkan maaf asal-asalan, lalu mengedarkan pandangan cepat. Dari balik punggung para pejalan kaki, sekelebat ransel cokelat menjadi targetnya. Kakinya seketika berayun cepat, kontras dengan kelajuan orang yang ia kejar. Kendati demikian, jarak mereka makin renggang oleh gelombang besar manusia yang mendadak menyesaki trotoar.

“Hei, tunggu!” Keputusan bodoh, suaranya bahkan telah tenggelam oleh euforia sebelum sampai di telinga pemuda itu. Dan bahasa apa yang ia gunakan tadi? Korea? Yang benar saja.

Pemuda itu berbelok ke antara dua bangunan terang-benderang. Sebuah gang sempit dengan lebar kurang dari satu meter yang tak mungkin dilirik orang sebelumnya. Jonghyun melambatkan langkah, napasnya memburu. Ia mulai pesimistis dapat mencapai si pemuda, lagipula ia tidak mengenal Harajuku sebaik Tamachi tempatnya tinggal.

Jonghyun mengintip gang tersebut, merogoh ponsel, kemudian mengarahkan ke ceruk. Gelap sekali, bahkan cahaya ponselnya hanya dapat menjangkau sebagian kecil dari jalan tikus itu. Baiklah, hanya mengecek kemana gang ini bermuara, kemudian dia akan pulang untuk mengerjakan name7.

Pemandangan yang ia dapatkan seusai keluar dari lorong gelap tersebut tak ubahnya trotoar dengan jajaran pertokoan yang menjejali sisi jalan. Lengang.

“Yeah, tidak ada masalah.”

Suara itu tersamarkan oleh desis kaleng cat semprot. Ribuan partikel berwarna merah cerah melesat dari lubangnya, menempel pada permukaan kasar dinding salah satu bangunan. Bolak-balik sehingga jejak tebal berkurva tampak tegas dan hidup. Teritori susunan alfabet tersebut cukup sempit, namun berada di titik yang dapat disadari hanya dengan sepintas lihat. Tampak mencolok menindih foto salah satu model berpotongan rambut bob.

Segalanya terpampang di seberang jalan tempat Jonghyun berdiri. Eksistensi mangaka itu tersaput larut malam serta—mungkin—percakapan telepon si pemuda sehingga tidak menyadari sedang diperhatikan lekat-lekat.

“Biarkan saja jika polisi-polisi idiot itu mencari jejak si pelopor vandalisme—aku tidak membuat kerusakan. Buktinya ratusan orang berdecak kagum melihat karyaku.”

Arogan, penuh percaya diri. Pernyataan besar kepala yang diutarakan tanpa dipikirkan masak-masak. Jonghyun tak melepaskan pandangan barang sedetik dari pekerjaan si pemuda. Menarik, tapi bukan apa-apa jika disejajarkan dengan graffiti yang pernah dilihat Jonghyun. Apakah pemuda tersebut hanya berkoar-koar?

Entah apa yang didengar sehingga pemuda itu mendadak tertawa keras. Nadanya serak. “Bukan masalah. Hapus saja semua karyaku, sudah ada banyak turis yang mengabadikannya. Di atas itu semua, arus imajinasiku bakal terus mengalir deras!”

Keterlaluan sekali kepercayaan diri pemuda ini. Tipikal orang yang dapat dibenci setelah mendengarnya berbicara. Anak muda zaman sekarang, memiliki kemampuan setitik saja dipamerkan ke seluruh dunia.

“Yup, aku akan ke sana sebentar lagi. Bye.”

Si pemuda menjejalkan ponsel ke dalam saku kemudian membalikkan badan. Sepasang mata sipitnya bersiborok dengan Jonghyun. Ditengarai perasaan aman yang sedari tadi menyelubunginya, ia tampak tak percaya menerima figur orang lain berdiri tanpa suara di belakangnya. Tatapan Jonghyun bergeser pada cat semprot di tangannya, ia mengikuti arah pandang lelaki itu.

Ojisan8, kau lihat apa?” tanyanya, nyaris mencemooh. Tujuannya hanya satu, mengulur waktu agar si pemergok tidak menyadari bahwa langkahnya sudah beringsut menjauh.

Jonghyun diam sejenak. “Tunjukkan karyamu yang lain,” ia memohon.

“Tahu apa kau soal karyaku? Kau tidak—”

“Graffiti.”

Mata pemuda itu membelalak. Tumitnya sedikit berputar, seketika kedua tungkainya saling susul-menyusul cepat. Hentakan reaksi itu menyebabkan ponsel dalam skinny jeans-nya terdorong keluar dan terlempar ke susunan batu trotoar. Agaknya ia tak menyadari hal itu.

Ya!” seru Jonghyun. Urung ia kejar pemuda itu demi memungut ponsel pintar yang tergeletak. Gema di dinding pertokoan saja tak cukup menjadi perlambatan langkah si pemuda. Dalam sekejap Jonghyun menjadi sendirian di sudut jalan yang tak dikenalnya.

Ia mendengus pelan. “Apa-apaan anak tadi. Padahal—oh!”

Tidak ada kesengajaan ketika Jonghyun menggeser kunci layar sentuh. Campuran puluhan warna menyambut mata, saling pilin dan memusat di satu titik tengah. Abstrak, kacau, tapi di sanalah letak nilai estetikanya. Ketika Jonghyun berpikir itu adalah salah satu gambar yang dicomot dari internet, tekstur kasar permukaan karya tersebut membuatnya sadar bahwa ia sedang melihat dinding batu bata. Susunan alfabet di sudut kiri bawah berwarna merah semakin meyakinkannya bahwa ini bukanlah hasil pemrograman komputer semata.

Jonghyun meneguk ludah pelan. Praduga bahwa pemuda tadi hanya senang menyombongkan diri agaknya salah besar.

~~~

Ishikawa memasukkan kunci serep ke dalam lubang di permukaan kenop logam bulat studio Jonghyun. Bekerja sebagai editor terkadang memang harus melangkah ke dalam lingkaran privasi mangaka yang bersangkutan, tapi toh mangaka jarang memiliki kehidupan pribadi yang cukup kompleks untuk disembunyikan.

Sunyi. Apartemen satu kamar yang disulap menjadi tempat kerja tersebut tampak lengang—ketiga asisten Jonghyun sudah pulang sejak dua jam yang lalu. Ishikawa melangkah masuk semakin dalam. Kepala Jonghyun tampak tenggelam di balik layar laptop. Earphone putih yang menjejali kedua lubang telinganya menjadi alasan logis darimana kesunyian ini berasal.

“Jjong, aku mengambil manuskripnya sekarang.”

Jonghyun menggerakkan bola mata ke atas, profil editor yang tahu-tahu menjulang di depan meja kerja membuatnya sedikit tersentak dan buru-buru memperbaiki sikap. Ia melepaskan kedua earphone, kemudian membungkuk kecil.

“Ah, Ishikawa-san. Selamat datang,” ia berujar. Tangannya sigap meraih setumpuk kertas dari meja di belakangnya. “Sudah kuperbaiki sesuai yang kita bicarakan tempo hari. Silakan dilihat.”

Ishikawa menarik kursi dari salah satu meja di dekatnya, lalu menghempaskan pantat sementara matanya menjelajah tiap panel dalam kedua puluh halaman. Sejurus sesungging senyum puas mengembang. Pekerjaan Jonghyun benar-benar mempesona, pun tatanan jalan cerita yang runtut dan padu. Tidak ada komplain untuk kali ini, ia mendesah lega dalam hati. Rupanya berita penghentian Twist satu bulan lalu tidak berdampak sedemikian negatif.

“Bagus, aku akan mengambil ini,” umum Ishikawa seraya mengetuk-ngetukkan ujung bawah kertas agar rapi lantas memasukkannya ke dalam amplop besar yang selalu ia bawa. Perhatiannya beralih pada laptop yang tak biasa eksis dalam studio Jonghyun.

“Kau sedang apa?” Ishikawa tidak bisa menahan diri untuk bertanya. Jonghyun, mengerti arah pembicaraan sang editor, hanya tersenyum kecil.

“Aku sedang memikirkan jalan cerita yang baru—mencari beberapa referensi di saat senggang agaknya bukan hal buruk,” jawabnya ringan. Ishikawa tercenung. Bahkan sebelum Twist benar-benar selesai, mangaka ini telah mencari ide baru. Entah kapan waktu yang diluangkan untuk beristirahat.

“Kalau begitu aku akan pulang. Kerja bagus, Jjong.”

“Ah, ya. Terima kasih untuk hari ini, Ishikawa-san,” ujar Jonghyun sigap sembari membungkuk. Tatapannya jatuh pada ponsel yang ia simpan di dalam laci, benda segi empat yang telah ia telusuri semua aplikasi di dalamnya.

Dibanding dengan referensi yang ia reguk dari internet, semua gambar yang diambil di dalam ponsel ini memberikan informasi lebih dari cukup dari yang dibutuhkannya.

~~~

Kim Kibum mendecak pelan. Matanya menyorot karya setengah jadi yang membentang sejauh enam meter di hadapannya. Entah sudah berapa minggu terlewat sejak ia dipergoki seseorang sedang melakukan perusakan pada fasilitas umum. Bisa-bisanya ia panik setengah mati saat itu, menyebabkan ponselnya jatuh dan lenyap tak berbekas—tidak perlu menjadi jenius untuk mencari pelakunya.

“Argh, sialan!” ia mengumpati dirinya sendiri, rambut bercat pirang favoritnya menjadi pelampiasan kekesalan tak berujung. Sejurus kaki kanannya menyepak kaleng-kaleng cat semprot yang berdiri bungkam di dekat dinding. Kelontang keras membelah malam, tapi toh Kim Kibum tak ambil pusing soal itu.

Kehilangan ponsel bukanlah hal besar bagi Kibum, yang ia resahkan justru penyaksian orang asing tersebut. Sudah jelas orang itu mendengar percakapannya di telepon sekaligus menyimaknya mencorat-coret kaca etalase. Hanya dibutuhkan langkah ke pos polisi, kemudian kekalutan masyarakat Harajuku soal pembuat graffiti misterius terkuak sudah. Ia tidak bisa membayangkan respon orang-orang ketika mengetahui pelakunya adalah seorang anak SMA. Marah atau semakin kagum, Kibum tak berani memprediksi. Sepak terjangnya bisa-bisa berakhir karena satu keteledoran.

Salah satu kaleng bergulir menjauh, kemudian menubruk keranjang sampah. Kibum melihatnya, namun memilih tak acuh sampai sesosok manusia memungut kaleng aerosol tersebut. Pemuda itu berjengit, kemudian segera membalikkan tubuh. Benarkah ia kepergok untuk kedua kali?

Sosok itu terselubung kegelapan, hanya kaleng cat semprot milik Kibum di tangannya yang terlihat mengilap. Tidak ada perbuatan apapun kecuali berdiri perlahan, hal yang membuat mata Kibum memicing. Ketimbang identitas, ia lebih curiga pada apa yang akan dilakukan orang asing tersebut.

“Umm….”

Kibum semakin waspada mendengar gumaman bernada ragu melayang di udara.

“Gambarmu bagus.”

“Apa?”

Jarak mereka menyempit—orang itu berjalan mendekat. Tangannya yang tidak membawa kaleng terulur, sesuatu berada dalam genggamannya. “Kau meninggalkan ini, bukan?”

Fokus mata Kibum beralih. Jantungnya mencelus melihat ponsel keluaran setahun silam disodorkan. Miliknya.

“Aku hanya ingin tahu bagaimana caranya kau menciptakan karya seindah itu. Itu saja.”

Kibum kembali menatap wajah orang tersebut. Sedikit kabur, tetapi ia dapat memasukkan dalam pikiran seraut paras tegas dengan kening setengah mengernyit. Jaket hitam yang dikenakan mengembalikan ingatan Kibum pada satu bulan lalu. Tidak salah lagi, ini orang yang sama.

“Kau mengikutiku?” selidik Kibum was-was.

“Tidak—”

“Hei, apa yang kalian lakukan di sana?”

Seberkas cahaya menyorot wajah Kibum setelah teguran keras itu sampai di telinganya. Kemudian ia mengumpat. Patroli malam, ia terlambat bersembunyi gara-gara kehadiran orang tak diundang ini. Ia menyambar ransel di tanah, lalu berlari ke salah satu gang sempit. Kenyataan bahwa karyanya malam ini belum terselesaikan membuatnya semakin geram. Kepalan tangannya meninju dinding bata di samping.

Apapun yang diinginkan orang itu, ia telah membawa kesialan pada Kibum.

..::To be Continued::..

Footnote

1. mangaka: penulis/pembuat komik

2. Nihon-go: bahasa Jepang

3. Moushiwake arimasen deshita: ekspresi meminta maaf yang sangat formal

4. Jump: majalah komik mingguan yang beredar di Jepang, diterbitkan oleh Shueisha

5. manga: komik Jepang

6. Jaa: oke/ya sudah

7. name: sketsa sekaligus jalan cerita sebuah komik sebelum dijadikan manuskrip/naskah seutuhnya

8. ojisan: paman, biasanya digunakan untuk memanggil seorang pria paruh baya

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

28 thoughts on “Graffiti [1.2]”

  1. wah ini ff keren banget thor.. aku suka sama ide ceritanya.. lanjutannya jangan lama-lama ya thor! fighting!!!!

  2. Aku nggak lihat identitas karakternya langsung baca dan ngirain ‘si sombong’ adalah magnae, tapi taunya om kibum.

    Great Job, ZaKy-ssi!
    Bacanya berasa lagi di kursi goyang, pelan tapi seru. Pokoknya ini cerita udah nambah ilmu nulis sama ilmu seni rupa. Thanks~

    Keep writing!

  3. Yes! Finally, ada juga yang bikin cerita tentang komikus! Daisuki yo, Author-san~ *kiss bye*

    Nggak ada yang bisa bener-bener aku komentarin, pas, bagus, keren, udah.

    Love it, ditunggu next partnya^^

  4. hoho castnya key toh emang pas muka key pan songong #plak plak
    hahaha seru , tapi kok c abang ojong bisa tau c key ad dimana? itu bukan rumahnya key kan? cman jalan? apa gak sengaja ketemu?
    crita.a serasa lagi nyetel film keren kegambar di pikiran heheheh

  5. Wah… Komik2 keren numpang iklan nih, Jump juga… Aigoo.
    Apakh zaKy-ssi hobi baca manga?
    Keren2, bahsanya wahh banget. Aku sangat suka.
    Tidak sabar mnunggu part selanjtnya.
    Jjong dianggap ojisan? Tsk… Ie!
    Ja.. Gambate ne?!

    1. Kebetulan aku kurang suka sama semua manga itu, haha.

      Iya, wajah Jjong kayak om-om sih #pletak. Key cuma iseng (?) kok manggil gitu :p

      Makasih sudah komen yaa 😀

  6. Yehaaaa,, akhirnya ada 2Kim brothers lagiii!!

    Ya ampuuunn, drtd aku membedah sf3si kog pas banget ketemunya sm FF yg maincastnya jonghyun..

    Kangen bebeb Jjong..

    Zaky,
    Ini keren bgt!
    Km penggemar manga ya?

    Ditunggu part-2nya, ne?
    Sm FF zaky yg lain2nya juga…

  7. late comment! hahaha baru main sf3si lagi soalnya, lagi seneng2 sama grafiti eh ada ff grafiti, bagus. as always suka diksinya ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s