Arti Sebuah Pengakuan – Part 1

Title          : Arti Sebuah Pengakuan Part 1

Author        : Natali Tamashii

Length        : Series

Main Casts    : Kim Eun Ri (OC)

Lee Jinki

Choi Minho

Support Casts : Han Rae Na (OC)

Kim Kibum a.k.a Key

Kim Hye Kyo (author numpang eksis)

Kim Jonghyun

Lee Taemin

Genre          : Angst

Friendship

Rate           : Teen

Summary      :

Setidaknya tidak hanya kesedihan berbalut senyum semu yang terlukis di wajahmu, namun juga kejengkelan. –Lee Jinki-

 

Disclamer     : This story is mine.The plot and the cast is mine.Don’t plagiat this story.

A/N : also published at :

  • esemaniafanfiction.wordpress.com
  • natalitamashii.wordpress.com
  • shiningstory.wordpress.com

Annyeong, ini adalah ff kedua yang saya kirim ke shiningstory setelah ff pertama Tae-Mi Couple : Because You’re…I Don’t Know. Sebenarnya ini ff oneshot, tapi entah mengapa menjadi ff series. Hanya otak saya dan Tuhan yang tahu (?). Tolong comment setelah baca ff ini biar saya tahu letak keabalan (?) ff  saya.

Note: Minho and Key are mine *pinjem tatapan Key waktu Hello Baby *

*plakk

Happy reading ^ _^

Arti Sebuah Pengakuan new

^^^

Seorang yeoja tengah duduk di sebuah bangku taman. Namun baginya, bangku yang tengah ia duduki sekarang adalah bangku pesakitannya. Ia mencengkram kuat dada sebelah kirinya. Rasanya begitu sakit. Begitu perih. Bagaikan tergores belati yang sangat tajam lalu disiram air cuka. Mata indahnya yang tadi berbinar sekarang menjadi sayu. Kepingan-kepingan kaca mulai terbentuk di mata coklatnya. Retina matanya tak mampu lagi menangkap bayangan yang ada. Dipejamkannya mata itu cukup lama. Butiran demi butiran cairan bening mulai meluncur bebas membentuk 2 aliran sungai di pipi mulusnya. Tiba-tiba sesuatu yang dingin menghujam tubuhnya berkali-kali. Matanya masih tertutup, enggan membuka apalagi mengintip. Tak perlu melihat pun ia tahu jika butiran-butiran air hujan menghujam tubuhnya. Untuk saat ini, ia senang ketika guyuran hujan menghujam tubuhnya. Setidaknya dengan adanya hujan, ia takkan ketahuan jika tengah menangis. Rasanya memang sakit ketika butiran-butiran hujan menyerangnya tanpa ampun, namun ada yang lebih sakit daripada itu. Di sini. Tepat di hati dan perasaannya kala ia melihat seseorang yang dicintainya tengah berpelukan dengan seorang yeoja tepat 100 meter di depannya. Dan dengan bodohnya ia hanya diam melihat itu semua. Hanya diam menikmati rasa sakit yang menghimpitnya perlahan namun pasti hingga ia merasa tak ada lagi oksigen yang dapat dihirupnya. Terlalu dramatis memang, namun itulah yang tengah ia rasakan. Tiba-tiba matanya terbuka tatkala ia tak merasakan guyuran hujan ditubuhnya. Ia mendapati seorang namja yang berdiri di depannya dengan sebuah payung yang melindungi mereka dari serangan hujan.

“Key? Sedang apa kamu di sini?”tanyanya dengan suara bergetar dan kening berkerut.

“Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu? Lihatlah bajumu basah kuyup seperti itu,ayo pulang.”

Key menarik tangan Eun Ri, namun yeoja itu tak bergeming. Key berjongkok di depan Eun Ri, menatapnya tepat di manic coklatnya. Namun Eun Ri menunduk, ia tak berani menatap Key. Ketika Key hendak berdiri, tiba-tiba Eun Ri memeluknya hingga membuatnya nyaris terjengkang. Key terkejut dengan tindakan Eun Ri padanya. Ia hendak melepaskan pelukan Eun Ri, namun dicegah oleh yeoja itu.

“Tolong biarkan seperti ini,kumohon.”

Setelah Key mengangguk, Eun Ri semakin menenggelamkan kepalanya di bahu kokoh Key. Samar-samar ia mendengar isakan Eun Ri. Tangannya pun terulur untuk mengusap kepala dan punggung Eun Ri perlahan. Setelah merasa cukup, Eun Ri melepaskan pelukannya. Ia menunduk, tak ingin Key melihat matanya yang mungkin kini bengkak dan memerah.

“Aku sebenarnya tak tahu apa yang terjadi padamu saat ini. Namun yang pasti, lebih baik sekarang kita pulang. Hujan semakin deras dan tubuhmu pun menggigil.”

Key melepaskan jaketnya dan mengenakannya di tubuh Eun Ri. Ia menggenggam tangan yeoja itu untuk membantunya berdiri. Ketika berdiri, sebuah kotak kecil jatuh dari tangan Eun Ri tepat di sebelah kakinya.

***

“Sebenarnya apa yang terjadi pada Eun Ri, Key?!”

Rae Na yang berdiri di tepat di depan kamar Eun Ri segera menyerang Key yang baru keluar dari kamar Eun Ri dengan pertanyaan. Terlihat raut kekhawatiran terpancar dari wajah cantiknya. Bagaimana tidak, tiba-tiba Key meneleponnya dan mengatakan kalau Eun Ri pingsan di tengah perjalanan pulang.

“Psssttt…”

Key meletakkan jari telunjuknya di depan bibir memberi isyarat pada Rae Na untuk mengecilkan volume suaranya yang memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya. Sejenak ia kemudian mengintip ke kamar Eun Ri, takut yeoja itu terbangun. Setelah memastikan Eun Ri masih tertidur, ia menatap Rae Na dengan tajam.

“Ja-jangan menatapku seperti itu. Kau membuatku takut.”

Rae Na mundur beberapa langkah. Ia benar-benar takut dengan tatapan Key padanya. Tatapannya seperti tatapan binatang buas yang hendak menerkam mangsanya, sangat menakutkan.

“Sudahlah. Sekarang jelaskan padaku sebenarnya apa yang terjadi pada Eun Ri hingga ia pingsan?”

Key hanya mengangkat bahu tanda tak tahu.

“Aku juga tak tahu. Mungkin ia pingsan karena kehujanan di taman.”

“Apa? Kehujanan di taman? Apa yang dilakukannya di taman?”

“Justru itu yang ingin aku tanyakan padamu. Apakah hari ini ada peristiwa penting bagi Eun Ri?”

Rae Na menggeleng.

“Kau yakin?”

“Iya aku sangat yakin. Memang ada apa kamu bertanya seperti itu?”

“Aku hanya heran melihat pakaian yang dikenakannya hari ini. Tak biasanya ia mengenakan gaun hanya untuk pergi ke taman. Biasanya ia mengenakannya untuk merayakan sesuatu bukan?”

Rae Na mengangguk membenarkan pernyataan Key. Memang benar Eun Ri jarang mengenakan gaun ke mana-mana kecuali untuk perayaan yang benar-benar penting. Tapi sekarang pertanyaannya adalah perayaan apa yang tengah dirayakan Eun Ri? Ia benar-benar yakin bahwa hari ini tak ada perayaan special apapun. Ia masih berusaha mengingat dengan keras, mungkin ada sesuatu yang terlupakan olehnya. Namun nihil, tak ada perayaan apapun yang muncul diotaknya. Rae Na terkesiap ketika Key menepuk bahunya.

“Rae Na!”

“Eh? Iya?”

“Kau tak mendengar dari tadi aku memanggilmu?”

Rae Na hanya menggeleng.

“Maaf tadi aku sibuk mengingat-ingat perayaan apa yang tengah dirayakan Eun Ri.”

“Sudahlah jika kau tak mengingatnya. Besok kita tanyakan padanya jika ia sudah baikan. Lebih baik sekarang kita pulang dan membiarkannya istirahat. Maaf jika tadi membuatmu khawatir.”

“Tak apa.”

Setelah berpamitan pada Hye Kyo, yeodongsaeng Eun Ri, Rae Na dan Key pulang. Dengan perlahan Eun Ri membuka matanya. Sebenarnya sejak dibaringkan ke ranjangnya, ia telah sadar. Dengan tenaga yang tersisa, ia pun menyandarkan tubuhnya di dashboard  ranjang lalu mengambil figura yang terletak di atas meja nakas di dekat ranjangnya. Diamatinya figura yang terpasang foto tiga orang remaja dengan seorang namja di tengah yang tersenyum riang.

Mianhae.”

Hanya kata-kata itulah yang meluncur dari bibir mungilnya. Lirih, hampir seperti bisikan. Dipeluknya figura itu erat-erat sembari membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata menuju alam mimpi. Tanpa disadari, sebutir kristal bening meluncur melewati pipinya.

***

Seorang namja tengah mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut taman mencari sesuatu. Namun nihil, ia tak menemukan apa yang tengah dicarinya. Ia menopangkan kedua tangan di atas lututnya. Terlihat peluh membanjiri wajah tampannya. Akhirnya ia memutuskan untuk duduk di bangku yang berada di dekatnya guna mengistirahatkan tubuhnya yang lelah karena berlari tanpa henti ketika menuju kemari. Ia menyandarkan punggungnya di bangku taman. Ia  mengacak-acak rambutnya frustasi. Bodoh, hanya kata itulah yang diucapkan pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia lupa akan hal sepenting ini? Kalau saja ia tak melihat kalender, ia pasti tak akan datang ke sini. Sungguh bodoh, runtuknya. Padahal tadi ia berada di sekitar taman ini untuk menenangkan sepupunya yang tengah bersedih. Dengan langkah gontai, ia bangkit untuk pulang. Mungkin orang yang dicarinya sudah pulang atau mungkin tak datang. Namun ketika berjalan, kakinya tanpa sengaja menendang sesuatu. Ia pun mengambil benda yang ditendangnya tadi. Ternyata sebuah kotak kecil berhiaskan pita biru, warna kesukaannya. Seketika seulas senyum terukir indah di wajah tampannya.

“Aku tahu kamu pasti datang.”

Dengan langkah pasti ia berjalan pulang sembari menggenggam erat kotak tersebut.

***

Eun Ri melenguh pelan. Tangannya dengan sigap menutupi mata yang masih terpejam karena terkena silau mentari. Dengan perlahan, ia menyandarkan tubuhnya di dashboard ranjang. Memegang kepalanya yang masih sedikit berdenyut. Sudah empat hari ia terbaring sakit karena kehujanan tempo hari.

Ceklek

Eun Ri mengarahkan pandangannya pada daun pintu yang baru saja terbuka. Kepala seorang yeoja yang usianya lebih muda darinya menyembul dari balik pintu sambil tersenyum. Eun Ri membalas senyum tersebut.

“Eun Ri Oennie sudah bangun?”

Eun Ri hanya mengangguk. Ia menepuk-nepuk kasur di dekatnya untuk memberi tanda agar yeoja yang berdiri di ambang pintu untuk duduk di dekatnya. Dengan senyum yang mengembang, yeoja tersebut duduk di tempat yang dimaksud Eun Ri dengan membawa sebuket bunga Lily di genggamannya. Dengan sigap yeoja tersebut meletakkan punggung tangannya di dahi Eun Ri.

“Sudah turun panasnya. Oennie, jangan sakit lagi ya? Hye Kyo takut.”

Hye Kyo memeluk Eun Ri erat. Eun Ri membelai lembut pungggung adiknya dengan sayang.

“Iya. Maafkan Oennie ya? Selama Oennie sakit kamu pasti repot merawat Oennie.”

Hye Kyo menggeleng.

“Hye Kyo, itu dari siapa?”tanya Eun Ri sambil menunjuk sebuket bunga yang berada di belakang Hye Kyo.

Hye Kyo melepaskan pelukannya dan mengambil buket bunga tersebut.

“Aku tidak tahu Oennie. Sewaktu aku membuka pintu, buket ini sudah ada di depan pintu. Ini untuk Oennie.”

Hye Kyo menyerahkan buket tersebut. Memang benar buket bunga tersebut untuk Eun Ri, terbukti dari namanya yang tertera di buket tersebut. Terdapat sebuah kartu di buket tersebut. Eun Ri mengambil dan membaca kartu tersebut. ’MIANHAE’, hanya kata itu yang tertulis di kartu tersebut. Tak memerlukan waktu lama bagi Eun Ri untuk menerka siapa yang mengirim buket tersebut. Ia menyerahkan buket tersebut pada Hye Kyo.

“Ini. Untukmu.”

“Untukku? Ini ‘kan buket untuk Oennie.”

“Ini untukmu saja. Lagipula di kamar ini sudah terlalu banyak buket bunga dari Rae Na dan Key. Aku tak mau kamar ini berubah menjadi taman bunga.”

“Baiklah. Terima kasih Oennie. Eun Ri Oennie istirahat ya? Aku mau berangkat sekolah dulu.”

Hye Kyo mencium tangan dan pipi Eun Ri. Setelah itu, ia keluar dari kamar Eun Ri. Begitu pintu ditutup, Eun Ri langsung meremas kartu tadi. Tanpa disadarinya, sebulir cairan bening keluar dari kelopak matanya. Dengan kasar ia menghapus cairan tersebut menggunakan pungggung tangannya. Ia kembali merebahkan tubuhnya dan mencoba memejamkan mata walau cairan tersebut masih keluar dari mata indahnya.

***

“Eun Ri, kau yakin kuat sampai nanti sore?”

Ish. Iya Key aku kuat. Sekali lagi kau menanyakan hal itu aku akan menghajarmu.”

Eun Ri kesal dengan pertanyaan Key. Entah sudah berapa kali Key menanyakan hal yang sama padanya sejak namja itu melihatnya di gerbang sekolah.

Pletak

“Aw…Appo Key,”ujarnya sembari memegang kepalanya yang baru saja dipukul Key.

“Aku itu khawatir dengan keadaanmu, kamu justru hendak menghajarku. Chingu  macam apa kamu?”

“Haish. Maka dari itu berhentilah bertanya. Aku sudah lelah menjawab pertanyaanmu itu. Toh istirahat lima hari sudah lebih dari cukup untukku, jadi tak perlu berlebihan seperti itu.”

“Bagaimana Key tak khawatir pada yeoja yang disukainya?”celetuk Rae Na yang baru saja datang.

    Pletak

    Pletak

Dua buah jitakan baru saja mendarat mulus di kedua sisi kepala Rae Na.

“Aw. Appoyo. Kalian kenapa memukulku?”

“Kami tidak memukulmu. Kami hanya membantumu membenahi otakmu yang tak beres.”

“Yaps itu betul. Lagipula Eun Ri bukanlah tipeku.”

“Kamu juga bukan tipeku Key,”jawabnya tak mau kalah.

“Sudah sudah. Lebih baik sekarang kita ke kantin, aku lapar,”kata Rae Na menengahi.

“Baiklah kajja,”kata Key dan Eun Ri bersamaan sambil menggandeng kedua tangan Rae Na.

“Ow ow. Sepertinya saranku salah. Sebentar lagi isi dompetku pasti akan berkurang dratis,”sungut Rae Na.

Key dan Eun Ri hanya berpandangan misterius mendengar sungutan Rae Na.

***

Eun Ri memutar bola matanya jengah. Telinganya terasa panas setiap kali mendengar Key melontarkan pertanyaan yang sama.

“Eun Ri, apa perlu aku antar hingga rumah? Aku akan meminta izin untuk tidak mengikuti latihan basket sore ini.”

Eun Ri menghembuskan napasnya. Bibirnya telah lelah memberikan Key jawaban yang sama sedari tadi. Sepertinya tenaganya mulai terkuras habis hanya untuk menjawab pertanyaan Key yang monoton. Terlebih sekarang perutnya mulai berdemo meminta jatah makan karena memang sedari tadi siang ia belum mengisi perutnya dengan makanan apapun. Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya.

“Key, bukankah itu Park Songsaengnim?”kata Eun Ri menunjuk sesuatu di belakang Key.

Key yang mendengar nama Park Songsaengnim segera menoleh ke belakang. Namun orang yang dimaksud tak ada.

“Mana Park Song-“

            Key membalikkan badan, namun Eun Ri sudah tak ada di depannya.

“Eun Ri!”geramnya karena telah ditipu sahabatnya.

Key segera memutar arah dan berjalan menuju lapangan basket sebelum ia benar-benar diomeli oleh Park Songsaengnim, pelatih basket yang terkenal killer.

“Hosh…hosh…hosh…”

Napas Eun Ri memburu setelah ia berhasil kabur dari Key. Ia yakin jika besok Key pasti akan memarahinya habis-habisan layaknya seorang ahjuma yang tengah memarahi anak yang nakal. Membayangkan betapa mengerikannya wajah Key ketika memarahinya saja sudah membuatnya bergidik ngeri, bagaimana jika besok ia mengalaminya langsung? Sepertinya ia harus mencari cara untuk menghindari kuliah Key besok yang pasti akan memakan waktu berjam-jam.

Ketika hendak melewati gerbang sekolah, tanpa sengaja retina matanya menangkap dua bayangan di parkiran yang seketika membuat dirinya diam mematung. Seluruh saraf di tubuhnya seakan-akan mati seketika hingga ia tak dapat merasakan apapun. Jantungnya yang tadi berdegup kencang karena lelah berlari, kini berdegup semakin kencang karena melihat  sebuah adegan dimana seorang namja tengah membelai pucuk kepala yeoja di hadapannya, sedangkan yeoja tersebut tersipu malu menerima perlakuan manis sang namja. Dadanya terasa sesak dan perih di saat bersamaan. Dengan perlahan digerakkan tangannya untuk meremas dadanya dengan harapan bisa mengurangi sakit tersebut. Namun sayang, hal itu tak berpengaruh apapun padanya. Pandangan matanya mulai mengabur terhalang oleh air mata yang memenuhi pelupuk matanya. Semakin lama ia semakin tak tahan dengan pemandangan yang tersuguh begitu manis namun menyakitkan baginya. Sebelum dadanya bertambah sakit, ia segera melangkahkan kaki meninggalkan tempat menyesakkan ini. Seiring dengan langkah kakinya, air mata yang tadi memenuhi pelupuk matanya kini mengalir sempurna di kedua pipi mulusnya.

***

Eun Ri mematut dirinya di depan cermin. Matanya terlihat bengkak akibat menangis semalaman. Ia kaget bukan main saat mengetahui jika matanya bengkak ketika hendak mencuci muka. Sebelum mandi, ia sudah mengompres matanya menggunakan air es, namun bengkaknya masih cukup besar. Apakah sebaiknya aku tak berangkat sekolah saja? Dengan cepat ia menggeleng-gelengkan kepala. Tak  mungkin ia tak masuk sekolah hanya karena matanya bengkak. Ia segera membuang jauh-jauh pikiran bodoh itu dari kepalanya. Ia segera meraih tas selempang yang tergeletak di ranjangnya dan turun ke bawah untuk sarapan. Di bawah, Hye Kyo telah duduk manis di bangkunya menunggu Oennie -nya turun untuk sarapan bersama. Ketika melihat mata Eun Ri yang bengkak, Hye Kyo terkejut.

Oennie, mata  Oennie kenapa bengkak?”

Eun Ri memutar bola matanya bingung.

“Ini…hm…ini digigit semut. Ya digigit semut,”dustanya.

Hye Kyo hanya mengangguk. Sepertinya alasan yang diberikannya dipercayai Hye Kyo. Thanks semut, ujarnya dalam hati. Kedua yeoja itu pun segera melahap sarapan yang tersedia di hadapan mereka.

***

Di sinilah Eun Ri sekarang. Berdiri di depan gerbang sekolahnya dengan kacamata hitam bertengger di hidung bangirnya. Tak mempedulikan tatapan aneh orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Ia pun menghembuskan napas perlahan sebelum melangkahkan kaki memasuki area sekolah. Ketika melewati parkiran, ekor matanya melirik sekilas. Seolah ia melihat kembali kejadian kemarin. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu melingkar di bahunya hingga membuatnya menoleh ke kiri. Sebuah cengiran dari Key menyambutnya. Ternyata lengan Key melingkar tepat di bahunya. Kening Key berkerut kala melihat kacamata yang membingkai mata Eun Ri. Mereka pun berjalan beriringan menuju kelas dengan lengan Key masih melingkar di bahunya.

“Kamu kenapa mengenakan kacamata?”tanyanya heran.

“Oh, ini?”katanya menunjuk kacamata yang bertengger di hidungnya.

Key hanya mengangguk.

“Ini, mataku semalam digigit semut hingga bengkak. Maka dari itu aku mengenakan kacamata ini,”ujarnya diakhiri dengan senyum termanis yang dimilikinya.

Key sepertinya tak percaya dengan apa yang dikatakan Eun Ri.

“Benar-“

“Key!”

Belum sempat Key melanjutkan ucapannya, sebuah suara memanggilnya dari arah lapangan. Key pun menoleh ke lapangan. Di sana terlihat Tao tengah melambai padanya, mengisyaratkan agar namja tersebut ke sana. Key melirik sekilas ke arah Eun Ri seolah meminta izin. Yeoja tersebut hanya tersenyum memberikan Key isyarat agar ke lapangan. Key pun berlari pelan menuju lapangan setelah sebelumnya mengacak-acak pelan rambut Eun Ri yang tergerai hingga membuat yeoja tersebut kesal.

“Ya! Key!”teriaknya kesal.

Key hanya terkekeh melihat kekesalan Eun Ri. Ia pun melanjutkan perjalanannya menuju kelas dengan bergumam tak jelas sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Karena sibuk merapikan rambut, Eun Ri tak sengaja menabrak seseorang  hingga membuat keduanya terjatuh. Hampir saja kacamata yang dipakainya terlepas kalau saja tangannya tak segera menahannya. Tangan seseorang terulur di depan wajahnya. Dengan perlahan ia pun menerima uluran tangan tersebut tanpa melihat orang yang membantunya. Sambil menahan rasa sakit pada tulang duduknya, ia merapikan seragamnya yang sedikit berantakan.

Gwaenchana Agasshi ?”

Terdengar suara seorang namja menyapa telinganya. Eun Ri pun mendongakkan kepalanya, menatap terkejut pada namja yang berdiri di hadapannya.

“Ah, nan gwaenchana. Mianhamnida,”katanya sambil membungkuk.

“Aku yang seharusnya minta maaf Agasshi.”

“Dan kenapa kamu…”

“Kim Eun Ri-ssi,”katanya setelah melihat name tag yang berada di seragam Eun Ri.

“Memakai kacamata hitam di sekolah? Bukankah itu dilarang?”lanjut namja tersebut melipat tangannya di depan dada.

“Oh, ini karena mataku sakit,”ujarnya agak kikuk.

“Benarkah? Coba aku lihat surat pengantarnya,”ucapnya mengansurkan tangan meminta secarik kertas yang disebut ‘surat pengantar’

Aduh, aku lupa memintanya tadi. Mati aku,’runtuk Eun Ri dalam hati.

“Eum, itu…a-aku…”

“Tak bisa menunjukkannya? Sekarang ikut aku.”

Namja tadi menarik tangan Eun Ri sepanjang koridor hingga membuat semua mata tertuju pada mereka. Bagaimana tidak jika namja yang tengah menarik tangan Eun Ri adalah president of student di sekolah mereka yang terkenal dingin dan disiplin dalam menangani pelanggaran sekecil apapun, seperti yang tengah dialami Eun Ri. Sepanjang koridor Eun Ri menggigit bibir bawahnya, menerka-nerka ‘hadiah’ apa yang akan diterimanya. Ketika sampai di sebuah ruangan yang dikhususkan untuk president of student, namja tadi melepaskan pegangan tangannya. Ia bersandar pada meja dengan lengan yang dilipat di depan dada setelah sebelumnya menanggalkan kacamata yang tadi membingkai matanya di atas meja. Eun Ri sekarang mengakui kabar burung yang mengatakan jika president of student yang berdiri di depannya ini memang tampan.

Sekarang bukan saatnya memikirkan ketampanannya Eun Ri, sekarang saatnya kamu memikirkan bagaimana nasibmu selanjutnya,’batinnya.

“Baiklah Eun Ri-ssi, karena kamu telah melanggar peraturan, maka kamu akan dihukum untuk membersihkan toilet sepanjang koridor ini.”

Mendengar apa yang menjadi hukumannya, Eun Ri membuka mulut dan matanya lebar-lebar.

“Mem-membersih-kan to-toilet sep-sepanjang koridor?”tanyanya memastikan dengan ucapan terbata-bata.

Hanya sebuah anggukan yang diterimanya sebagai jawaban.

“Dan kamu bisa melakukannya sekarang,”tambahnya.

“Sekarang? Tapi aku ada ulangan sebentar lagi,”ujarnya dengan harapan namja di hadapannya bersedia menunda hukuman untuk dirinya.

“Hwang Seonsangnim kan? Beliau tidak masuk hari ini,”balasnya sambil mengamati lembaran kertas yang kini berada di tangannya.

Eun Ri hanya mendesah. Sekarang gagal sudah rencananya untuk menunda hukumannya hingga istirahat pertama.

“Baiklah, aku akan melakukannya. Annyeong,”ujarnya sambil membungkukkan badan lalu keluar dari ruangan tersebut untuk melaksanakan hukumannya.

***

Brukk…

Eun Ri meletakkan tulang duduknya tepat di samping Key yang tengah mengobrol dengan Rae Na. Peluh bertebaran membingkai wajahnya.

“Eun Ri-ya kamu dari mana saja? Kenapa tidak masuk tadi? Kenapa wajahmu berpeluh?”tanya Key panjang  lebar.

Eun Ri tak langsung menjawab pertanyaan Key. Ia justru menyerobot minuman Key dan meminumnya yang tentu saja langsung mendapat jitakan dari namja tersebut. Ketika hendak membalas Key, tiba-tiba ada seorang hoobae yang menghampiri mereka.

Mianhae Eun Ri sunbae, Jinki sunbae memanggil sunbae.”

Sebuah lenguhan lolos dari bibir mungil Eun Ri. Dengan malas Eun Ri pun bangkit dari duduknya dan berjalan, namun belum ada lima langkah lengannya dipegang Key hingga membuatnya terpaksa berhenti dan menoleh pada Key.

“Akan aku jelaskan nanti.”

Perlahan Key melepaskan pegangan tangannya di lengan Eun Ri.

“Eun Ri.”

Mwo ?” Eun Ri berbalik dengan wajah kesal.

“Setidaknya bersihkan dulu peluh yang membanjiri wajahmu sebelum bertemu dengan Jinki-ssi,”ujar Rae Na sambil melempar sebungkus tissue.

Dengan sigap Eun Ri pun menangkapnya dan mulai membersihkan wajahnya dengan tissue.

Tok…tok…

Dengan perlahan yeoja itu membuka pintu yang tadinya tertutup setelah sebelumnya mengetuknya. Ia pun berjalan mendekati meja di depannya yang di baliknya tengah duduk seorang namja yang tengah sibuk menekuri laptop yang ada di hadapannya. Berdehem sebentar untuk mengingatkan namja ber-marga  Lee tersebut jika sekarang ada orang di ruangan ini selain dirinya.

“Oh, rupanya kau sudah datang? Silakan duduk,”ujarnya ramah setelah mematikan laptop-nya.

Dengan perlahan Eun Ri meletakkan tulang duduknya di atas kursi yang berhadapan langsung dengan Jinki.

“Untuk ukuran seorang yeoja, hasil kerjamu lumayan dan terbilang cepat,”ujarnya melipat tangan di depan dada.

Mendengar hal itu mulut Eun Ri menganga. Bagaimana tidak, setelah ia bermandikan peluh untuk membersihkan toilet yang ada di sepanjang koridor yang jumlahnya hampir dua puluh buah, namja itu hanya mengatakan ‘lumayan’?. Tidak tahukah president of student yang duduk di hadapannya ini bahwa ia harus menahan jengkel kala yeojadeul centil yang setiap menit bahkan setiap detik datang ke toilet hanya untuk mempertebal make up di wajah mereka dan membuang tissue sembarangan ketika pergi hingga membuat tugasnya bertambah berat? Jika saja ia tak memiliki sedikit perikemanusiaan, ia pasti sudah mencekik namja yang ada di depannya ini.

“Sekarang kau boleh pergi, aku hendak menyelesaikan tugasku.”

Jinki kembali mengenakan kacamata minus-nya tanpa memperhatikan wajah Eun Ri yang memerah menahan kesal.

Brak…

Eun Ri membanting pintu dengan kesal. Sebuah seringai samar terlukis di bibir Jinki.

“Setidaknya tidak hanya kesedihan berbalut senyum semu yang terlukis di wajahmu, namun juga kejengkelan.”

Jinki kembali menekuri laptop-nya.

***

Bagaimana ff abal (?) saya? Jelekkah atau hancurkah? Please comment ^_^

Friendly,

Natali Tamashii

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

 

36 thoughts on “Arti Sebuah Pengakuan – Part 1”

  1. eeeh, kayaknya si Eun Ri salah paham nih…
    agak bertanya-tanya siapa namja yg ditangisi Eun Ri, tp langsung nyambung klo itu Minho begitu Jinki si Presiden siswa muncul..
    *sok tau** 😛

    Si Jjong sama Taemin belum nongol nih..

    Ok Natali, ditunggu part selanjutnya.. 🙂

    1. salah paham?
      maybe
      *plakk
      wah tebak-tebakan ye?

      wah klo mereka ntuh nanti nongolnya
      sabar ya kalo gk slah part 2

      ne gomawo udah baca 🙂

  2. pasti Minho-ya yg ditangisi eun ri?! jangan” Rae na lgi cwe itu.. aishh bklan seru ni..

    lanjuuutt thor_ jg lama”…hhee

    1. wah saya gk tahu tuh
      *plakk
      hanya tuhan dan otak sya yg tahu siapa cewenya
      *sarap

      okey tunggu antrian ye
      gomawo udah baca

  3. yang di taman minho kan? soalnya dibilangnya tampan.. 😆
    waktu baca bagian eunri meluk key, aku langsung mikir “nah loh, u barusan nangis2 sakit hati liat cowok u meluk cewek laen, skrng malah u yg meluk cowok laen.. ckckckck” dan ternyata bener kan? si minho cuma nenangin sepupunya toh.. sama aja khan si eunri jg meluk2 key gegara minta ditenangin.. jujur, aku gak suka karakter eunri di sini.. egois dan lemah banget.. 😆 yeah, no offense ya, dear.. kalau dari segi cerita, masih biasa aja sih di part 1 ini.. mungkin akan ada yang mengejutkan di part selanjutnya.. ditunggu 😉

    1. emng yg tampan cuma minho ya eon?
      *plakk
      *perasaan bias sy juga minho deh
      whaaaaaa eonnie ternyata sya bru nyadar tentang itu dan yeah sya menyadari jika itu keteledoran sya, tapi sebenernya bukan itu tujuan sya. mungkin karakter eun ri yg itu tercipta secara tak sengaja. tapi thanks ya eonnie udah ngasih tahu kekuranganku. dgn ini sya bsa memperbaiki tulisan sya mendatang. yah maklum eonn ini kn ff perdanaku jadi masih kacau
      semoga part selanjutnya mengejutkan deh
      gomawo udah baca

      1. yeap, di mataku cuma minho yang tampan 😳 😆
        mwahahahaa, keep writing, dear.. udah bagus kok buat ff perdana.. ditunggu lanjutannya, ya.. 😉

  4. Kerenn….
    jinki oppa sadis bnget sih…
    kasihan eun ri
    masak cm pke kcmata item bersihin toilet se koridor sih..
    .
    trus siapa yg bikin eun ri nangis sih..
    .tapi bagus ni ffnya.
    lnjutkan thor
    keep writing
    ^^

  5. Ehm, masih bingung. Bingung dengan hubungan Jinki dengan Eun Ri. Apakah mereka berdua berpura2 tidak saling kenal di sekolah?
    Oh ya, kayaknya ada typo, kan ini ttg sekolah tapi kenapa ada kuliah? Wkwk.
    Ceritanya bikin penasaran, 🙂

    1. hmmmm, bingung ya?
      nanti bkalan terungkap kok tenang ya
      jinjja? tdi aq dah baca ulang tapi gk ada kok mungkin aq kurang teliti ya
      memang itu keinginanku
      *plakk
      gomawo udah baca 🙂

  6. aduh, ni aku bingung…..
    Aku ni terkenal nggak anti lelet…
    alias emang bener2 lelet mikir….

    Jadi, cowok yg bikin eun ri itu choi minho, yg emg belom nongol,
    eh, udah nongol tapi emg belon disebut secara gamblang….
    dan suami masa depanku, Si President Siswa, Jinki, tau kalo Eun Ri lg sedih
    makanya dia bikin eun ri jengkel aja, krn menurutnya
    perasaan jengkel atau marah, lebih baik dr perasaan sedih yang rada-rada
    berbau desperado… (desperate, putus asa…, red)

    Bener, gak?????
    ahahhaaaa….. Jinki-ya…. Aku padamu….. muah muah….

    Untuk author…, FFnya bagus…. Aku suka….
    aku kasih jempol deh….

    Lanjut ya…..

    1. ya kurang lebih seperti itu yaw
      hah? suami masa depan?
      saya diundang ya pas pernikahannya
      *plakk
      *digaplok mvp
      wuahhhh akhirnya ada yang nyadar sama summary saya
      *lempar jinki buat miina kim
      yeah karena sedih itu nyesek daripada nyesek mending jengkel kan? -menurutku tapi-

      udah ada tuh

  7. Pertama agak bingung
    Siapa namja Ɣªήğ ditangisin eun ri ditaman n Ɣªήğ pas ϑι̥ parkiran
    ªkŮ pikir si jinki
    Eeeee Κ̣̝̇o̶̲̥̅̊ҟ jinkinya muncul jα̲̅ϑΐ presiden sekolah
    Emmmmmm makin bikin penasaran!

  8. FFnya bgus thor,,jeongmal! 😀
    Kyaknya Eun Ri slah paham sma Minho wktu pas lgi d’taman dn d’skolah..
    Trus apa mksud perkataan Onew yg trakhir itu ya?? :/ Penasaran,, 🙂

    1. gomawo 🙂
      wah klo itu cuma permainan kata kok tapi bermakna
      udah ada lanjutannya
      makasih udah mampir 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s