Beautiful Stranger [Chapter Seven]

Beautiful Stranger

KAKIKU gemetar hebat, usahaku untuk menutupinya terlihat sia-sia, mereka tidak mau berhenti. Kerongkongan pun tercekat seperti ada bulatan besar yang membendung jalannya udara dan cairan dalam mulut. Kelopak mata juga seperti macet hingga sulit untuk berkedip. Aku sudah tidak tahu lagi apa artinya pedih ketika angin menyerbu memasuki mata.

Trauma-trauma di masa lalu bermunculan layaknya konfeti besar yang tuasnya dicabut dan menyemburkan kenangan-kenangan pahit menyakitkan. Pintu-pintu luka di sekujur tubuh sebagai saksi bisu kepahitan di masa lalu perlahan-lahan terbuka, menyerukan diri bahwa mereka masih ada. Selalu ada. Dan akan terus ada. Continue reading Beautiful Stranger [Chapter Seven]

Advertisements