Beautiful Stranger [Chapter Seven]

Beautiful Stranger

KAKIKU gemetar hebat, usahaku untuk menutupinya terlihat sia-sia, mereka tidak mau berhenti. Kerongkongan pun tercekat seperti ada bulatan besar yang membendung jalannya udara dan cairan dalam mulut. Kelopak mata juga seperti macet hingga sulit untuk berkedip. Aku sudah tidak tahu lagi apa artinya pedih ketika angin menyerbu memasuki mata.

Trauma-trauma di masa lalu bermunculan layaknya konfeti besar yang tuasnya dicabut dan menyemburkan kenangan-kenangan pahit menyakitkan. Pintu-pintu luka di sekujur tubuh sebagai saksi bisu kepahitan di masa lalu perlahan-lahan terbuka, menyerukan diri bahwa mereka masih ada. Selalu ada. Dan akan terus ada. Hal yang sangat kutakutkan di dunia ini adalah hadirnya orang-orang di masa lalu, namun belum selesai fase Kris kulewati, kini muncul orang nomor dua yang paling kubenci di dunia ini, Park Jiyul. Jika ditanya sebesar apa aku membencinya, sulit untuk dideskripsikan secara verbal maupun non-verbal. Aku benci, sangat benci, amat benci padanya. Seperti yang pernah kubilang, aku membencinya hingga tulang lapisan terdalam, dari lapisan tanah teratas hingga perut bumi, dari atas permukaan hingga dasar samudera, AMAT BENCI!

Sayangnya, manusia setengah iblis itu kini tengah berdiri di hadapanku, menatapku melalui mata angkuhnya dengan dagu yang ditinggi-tinggikan. Kedua tangannya dilipat dan terlihat sengaja ditekan pada dadanya supaya terlihat lebih besar. Mulutnya tidak berhenti mengunyah permen karet, kepalanya juga beberapa kali ia goyangkan ke kanan atau kiri. Aku muak melihat tingkahnya, jika tidak ingat kalau Jinki ada di sini, aku sudah muntah sekarang.

“Oh, hai, Kim Sena.” Kedua tanganku spontan terkepal ketika mulut kotor itu menyebutkan namaku. Ia mengubah posisinya menjadi lebih memuakkan dengan telunjuk diarahkan padaku. “Kupikir kau sudah mati kelaparan pasca kabur dari rumah tempo hari. Aku tidak ingat kalau kau punya uang untuk mengisi perut.”

Rahangku terkatup rapat, mengeras.

“Kalian saling kenal?” tanya Jinki bingung.

Jiyul terkikik menyebalkan, ia maju beberapa langkah menghampiriku, kedua tangannya melebar seperti hendak memelukku. “Dia kakakku yang hilang, Oppa.”

Aku mengayunkan kaki untuk menarik kursi terdekat dan menendangnya. Kursi itu menabrak lututnya disertai bunyi keras yang kemungkinan bisa saja meremukkan tulangnya. Manusia menjijikkan itu terjatuh. Ia merintih kesakitan. Tidak ada rasa iba sama sekali karena aku tahu itu hanya rekaan.

Di sudut lain Jinki tidak berkutik, ia terkejut melihat aksi ekstrimku. Napas memburu dariku seharusnya sudah cukup dijadikan jawaban mengapa aku seperti ini jika dia pintar. Hanya saja sayangnya dua orang di hadapanku ini sama saja bodohnya.

“Kakak?” gumam Jinki.

Aku tidak pernah sudi menjadi kakaknya sekalipun hanya tiri. Dia terlalu menjijikkan untuk dijadikan saudara, dia tidak memiliki kehidupan atau apapun yang kau sebut dengan ‘hati’. Selalu bertingkah tanpa berpikir, menyakiti orang semudah menodai kertas putih, dan yang terpenting adalah dia bukan termasuk spesies kami. Manusia memiliki hati, dia tidak.

“Saudara tidak akan pernah sengaja menumpahkan air raksa di tubuh saudaranya,” ujarku geram, akhirnya bisa mengeluarkan suara setelah beberapa menit bungkam.

Jinki bergidik, ia memandangi kami tak percaya. “Air raksa?” gumamnya.

Derap langkah kaki dari arah pintu masuk terdengar semakin keras dan mendekat. Aku bisa melihat rambut Kris menyembul di ambang pintu. Entah kenapa hatiku sedikit lega dengan keberadaannya di sini.

“Sena,” panggilnya. Ia berlari menghampiriku, menarik tanganku, membungkusku dalam dekapan tangan kanannya yang panjang. “Kau tidak bisa berlama-lama di sini,” ujarnya sambil membuang muka ketika Jiyul meliriknya.

Kris setengah menyeretku menuju pintu keluar ketika Jinki memanggilku, “Kim Sena. Jangan lupa apa yang kita bicarakan tadi!”

Aku mendengus dan menatapnya murka. Ini bukan saatnya bermain-main, aku sudah cukup tertekan dengan keadaan ini, kenapa ia tidak pernah berhenti menggangguku? Berapa banyak hal lagi yang harus kutebus atas insiden tumpahnya kopi tempo hari? Tidak bisakah dia jinak sedikit saja walau hanya untuk malam ini?!

***

Seminggu berlalu sejak kejadian malam itu. Hingga saat ini pun aku masih belum berani kembali ke gedung SM meski pekerjaan sudah sangat menumpuk dan auman Juyoung membahana di seberang telepon setiap beberapa menit sekali menerorku. Bukan takut dalam artian Jiyul memiliki derajat yang lebih tinggi dariku, jujur saja trauma itu masih ada. Setidaknya ia adalah salah satu orang yang pernah menganiayaku di masa lalu. Jadi tidak ada salahnya jika aku enggan, baik secara sengaja maupun tidak, berpapasan dengannya di gedung.

Aku baru tahu dari Kris kalau Jiyul merupakan salah satu trainee SM. Ia mengikuti audisi setahun setelah Kris terbang ke Seoul. Ia juga berpikir aku ada di kota ini, sengaja datang untuk melihat penderitaanku mengemis di jalanan. Padahal, aku hidup sangat baik di kota cantik di belahan bumi lain.

Selama hampir tujuh hari aku mengurung diri di rumah. Setiap hari yang kulakukan hanyalah merancang pakaian, membaca buku, menonton televisi, belajar memasak, membersihkan rumah, dan lain-lain. Appa tak henti menanyai ini dan itu perihal mengapa putri semata wayangnya ini secara tiba-tiba kerasan tinggal berlama-lama di rumah. Ia tahu aku tidak betah berada di rumah sendirian sebelumnya. Sejak hari pertama aku mogok bekerja ia telah berkali-kali menyuruhku keluar untuk menghirup udara segara. Aku ingin tapi sayangnya tidak bisa. Aku tak mau Jiyul menemukan tempat tinggalku. Aku tak mau ia mencoba mengambil hati Appa. Aku tahu hingga saat ini kebiasaannya menganggapku rival masih belum terhapuskan.

Harusnya aku bersiap-siap, karena beberapa jam lagi pesawat akan mengudara membawa kami terbang ke Jeju untuk menghadiri acara K-Pop Nature, tapi tubuhku terlalu enggan walau hanya untuk bangkit dari kursi malas ini.

“Sena,” panggil Appa sambil mengetuk pintu agak keras. Ia sudah tahu kalau aku takkan membukanya.

Aku berbalik memunggungi pintu, menempelkan wajah ke lengan kursi lebih lekat. “Sena, buka pintunya sekarang atau aku akan menghancurkannya!” ancamnya.

Tubuhku bergerak satu per satu menuruni kursi dan dengan lunglai berjalan menuju pintu. Appa berdiri dengan kedua tangan terlipat saat pintu baru setengah terbuka, ia meletakkan tangan kanannya di pintu untuk mencegahku menutupnya kembali.

“Ada apa?” tanyaku datar.

Ia menghela napas frustrasi. “Terus terang aku menyerah terhadap perubahan sikapmu akhir-akhir ini. Aku juga terlalu payah untuk mengurus satu anak perempuanku, pemahamanku terhadap perempuan adalah nol besar. Jadi satu-satunya yang masih bisa kulakukan untukmu saat ini adalah… turunlah ke bawah seseorang menunggumu!”

Keningku berkerut.

“Siapa?”

“Kau akan tahu ketika sampai di bawah.”

Masih dengan piyama usang melekat pada tubuh, aku menuruni tangga. Jantung berdebar tidak wajar, aku khawatir Jiyul yang sedang menunggu. Namun kekhawatiranku hilang ketika menemukan sosok Jinki tengah asik memperhatikan foto masa kecilku di sudut ruangan. Aku berdeham membuatnya sedikit melompat terkejut.

“Kenapa kau di sini?!”

Jinki menyeringai. “Galak sekali. Ayahmu yang memintaku kemari. Sepertinya Tuan Putri kita yang satu ini sedang dalam fase galau.”

Aku memutar bola mata, muak dengan kalimat-kalimat sok tahunya. Namun belum sempurna aku berputar hendak kembali ke atas, Jinki sudah memegangi tanganku, menyeretku keluar rumah dengan paksa.

“Mau apa kau? Lepaskan! Appa!” Aku teriak sangat kencang, tidak peduli ini masih pagi buta, langit pun masih sangat gelap. Appa di ambang pintu hanya melambaikan tangan dengan wajah masam, sama sekali tidak membantu.

Jinki mulai kesulitan mengatasiku yang tak berhenti memberontak, ia lantas melingkarkan lengan kanannya di sekitar pahaku dan memanggulku ke atas pundaknya. Aku kembali berteriak minta diturunkan.

“Tidak tahukah kau kalau berat badanmu sudah seperti babi gemuk? Berhenti bergerak!” teriaknya kasar.

Aku diam. Bukan karena menurut, aku terlalu terkejut mendengar ucapannya. Lelaki mana di dunia ini yang sanggup menyampaikan dua kata menyakitkan itu pada seorang gadis? Hanya dia yang bisa melakukannya. Si pemimpin tidak berguna.

Setelah melewati perjalanan yang sangat tidak menyenangkan karena dilalui dalam suasana gencatan senjata di antara kami, Jinki menghentikan mobilnya di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Seoul. Ini masih pagi, SANGAT PAGI, mall ini tidak berjalan selama 24 jam, namun ada satu toko pakaian yang sudah buka di dalam. Lampu-lampu terang yang mereka pancarkan sudah terlihat dari pintu masuk mall. Kupikir hal-hal seperti ini hanya ada di dalam drama.

Jinki menyambar sebuah koper berukuran sedang dari sebuah etalase, membuka penutupnya dan berjalan ke ujung ruangan sambil menarik seluruh baju dari rak besi gantung. Ia memasukkan seluruh ‘jarahannya’ ke dalam koper sambil menatapku dingin. “Mau aku atau kau yang memilih pakaian dalamnya?” tanyanya.

Alisku berkerut. “Apa?”

Ia memutar bola matanya sambil mendengus.

“Hari ini kita memiliki jadwal ke Jeju. SHINee dan EXO-K memiliki jadwal yang sama. Aku diminta ayahmu untuk menjemput dan tidak mau tahu kau sedang patah hati atau apapun saat ini, kau harus bersikap profesional sebagai coordi!”

Aku menatapnya kosong. Profesional katanya, bahkan perkataannya saja sudah membunuh dirinya sendiri. Jangan menasihatiku kalau kau saja sudah remuk seperti ini, Lee Jinki!

Ia menendang pelan koper yang terbuka dan dipenuhi baju hingga mendarat di ujung kakiku. Ia menatapku tanpa ekspresi, tapi matanya menyiratkan keingintahuan yang mendalam. Sepertinya dia belum mengetahui apa yang terjadi di malam tempo hari.

Dengan menurunkan sedikit harga diri, akhirnya aku berjongkok, menarik beberapa baju dan menaruhnya kembali ke rak gantungan besi. “Tidak usah berlebihan, kita hanya sehari di sana. Jeju masih Korea Selatan, aku tidak memerlukan banyak pakaian. Begini saja sudah cukup.”

Jinki tercenung, mungkin kaget menerima reaksiku yang berbicara lebih rendah dari sebelumnya.

“Kau sakit?” tanyanya dan kujawab dengan gelengan kepala. “Kita langsung ke perusahaan saja kalau begitu.”

Ia berjalan lebih dulu dan aku mengikutinya di belakang. Kulit mukanya benar-benar tebal pergi begitu saja setelah mengacak-acak rak pakaian tanpa membeli apapun. Kurasa otaknya benar-benar rusak atau ia terbagi menjadi dua kepribadian. Namun terlepas dari itu semua, aku sedikit senang setidaknya ia masih peduli membelikanku pakaian.

***

Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, aku dimarahi habis-habisan oleh Jooyoung dan mendapat kecaman hebat dari Hyojin. Mereka bersekongkol mendiamkanku, bahkan para manajer. Aku tahu sikapku seminggu ini tidak termaafkan dan memalukan. Tapi aku tidak peduli. Saat ini yang kuinginkan hanyalah bekerja dengan baik dan menebus kesalahanku pada anak-anak.

Aku bisa melihat Jinki dari sini. Ia seperti biasa mengenakan pakaian kasual dan berdiri diapit kedua anggota lainnya. Ketika mata kami tidak sengaja bertemu, ia selalu tersenyum tipis. Aku tahu di otaknya telah terancang ide-ide busuk untuk menyiksaku, dan hal itu hanya tinggal menunggu waktu.

Pesawat take off, aku mencoba memejamkan mata. Semalaman tidak tidur cukup untuk menciptakan bulatan hitam di bawah mata. Persis panda. Auraku sudah cukup buruk jadi aku tidak khawatir jika orang-orang berpikir aku jelek karena memang aku tidak menarik―dari segi manapun.

Bruk!

Tubuhku mengejang karena terkejut, aku buru-buru bangkit menegakkan punggung dan mendapati sebuah “bantal leher” di pangkuan. Seseorang sengaja menjatuhkannya. Secarik kertas kecil juga ada di sana bertuliskan, “Pakai ini sebelum lehermu patah.”

Aku memutar kepala ke kursi belakang, anak-anak tengah tidur kecuali Chanyeol yang sedang asyik mendengarkan musik sambil memandang keluar jendela.

“Chanyeol,” panggilku. Ia melepaskan earphone dan menunjuk dirinya sendiri. “Iya, kau. Boleh kutahu siapa yang memberiku ini?”

Anak itu membelalakkan matanya―satu-satunya ekspresi yang ia miliki kurasa―dan menatapku kosong. “Tidak tahu, aku tidak memperhatikan,” jawabnya. Aku mendesah. Baiklah, tidak peduli dari siapa, aku menerimanya. Keselamatan leherku adalah alasan utama.

Terima kasih, Pemberi.

Rasanya baru satu detik memejamkan mata, Juyoung sudah mengguncang-guncang lenganku sambil berteriak. Salah satu cara membangunkan paling tidak etis. Cukup panggil namaku dengan suara kecil, maka aku akan terbangun. Aku tidak sesulit Minho untuk dibangunkan. Benar-benar menyebalkan!

Aku merapikan penampilan, turun dari pesawat, mengambil koper-koper dan menaiki van untuk menuju ke hotel bersama dengan yang lainnya.

Decak kagum terlontar ketika memasuki lobi hotel. Kemewahannya yang dibuat sesederhana mungkin benar-benar menakjubkan. Lantai besar perpaduan granit dan marmer di tengah ruangan memberikan kesan elegan yang memikat. Hanya orang dengan sense rendah yang memandang kecil hal semacam ini. Bahkan bulu romaku hingga berdiri dan butuh waktu beberapa detik untuk bisa turun kembali seperti semula.

Tim SHINee lebih dulu memasuki lift untuk naik ke atas menuju kamar mereka. Kami, tim EXO-K, masih berkutat di lobi, menentukan teman sekamar siapa dengan siapa dan memberikan kunci pada masing-masing pasangan. Setelah menghabiskan kurang lebih lima belas menit di lobi, akhirnya kami bisa naik untuk beristirahat sejenak sebelum melakukan rehearsal. Sesaat sebelum menaiki lift, sudut mataku menangkap sebuah ruangan besar dengan pintu sedikit terbuka di ujung koridor. Kalau tidak salah lihat, ada grand piano di dalamnya. Hotel ini benar-benar membuatku jatuh cinta.

***

Matahari menyengat kulit seperti siksaan secara perlahan. Rehearsal diadakan ketika matahari sudah berada di atas kepala, panas bukan main. Anak-anak sulit untuk tidak menyipitkan mata ketika mencoba tampil di atas panggung. Kai lah yang kentara tidak bisa menahan silaunya sinar yang masuk ke mata. Dan yang membuatku kesal adalah kedua coordi senior di sampingku menyuruh mereka mengenakan ­t-shirt hitam bertuliskan ‘EXO-K’ di dada kanan hasil desain Chanyeol. Aku tahu ini adalah sebagian dari promosi, tapi mengenakan pakaian hitam di bawah siraman panasnya matahari merupakan kesalahan terbesar. Mereka terlihat begitu menderita.

Selang beberapa menit setelah latihan untuk perform selesai, Kai dan Chanyeol meneruskan latihan untuk memeragakan busana keluaran terbaru untuk musim gugur. Bayangkan, mengenakan pakaian tebal musim gugur di tengah hunjaman panasnya matahari adalah hal yang gila. Chanyeol menutupi deritanya dengan senyuman lebar. Itu membuatku sedikit lega meski khawatir setengah mati.

Selesai latihan, kami semua kembali ke hotel untuk makan siang. SHINee di sana, di meja lain, mereka terlihat lebih santai dan membuat sedikit kebisingan dengan canda dari Taemin dan Jonghyun. Inilah letak keuntungan sebagai senior, mereka dapat berulah tanpa harus takut dipelototi kelompok lain. Mereka cukup disegani di ruangan ini, karena BoA tidak ada di sini, mereka menjadi salah satu senior yang dihormati.

Aku beranjak menuju toilet sebelum duduk bersama kru lainnya di salah satu meja. Pipiku sangat panas. Sedikit percikan air rasanya tidak akan berakibat buruk.

“Hei.”

Aku menoleh dan menemukan Jinki berdiri tak jauh dariku. “Apa?” sahutku dingin.

“Kau yakin tidak membawa pakaian satu pun?”

“Bukan urusanmu!” Tangan kiriku refleks mendorong pintu toilet dan buru-buru masuk ke dalam. Aku takut. Menurutku Jinki sedikit berubah. Lebih baik mendapat serangan kalimat-kalimat buruk darinya daripada harus seperti ini. Peduli padaku bukan citra yang sebenarnya. Ini semua membuatku bergidik. Sepertinya kepalanya telah terbentur sesuatu.

Ketika keluar pun, Jinki masih ada di tempat semula, menungguiku di depan toilet. Tidak dapat dipungkiri kalau air mukanya hari ini nampak sangat tenang. Ketakutanku tadi rasanya tidak perlu.

“Nanti malam setelah acara selesai, kita bertemu di ruangan itu…,” ia menunjuk sebuah ruangan di belakangku, “…Kau harus datang! Kalau kau ingin ponselmu kembali tentunya.”

Jinki berbalik meninggalkanku dan aku berani bersumpah aku melihatnya melunakkan ekspresi dan tersenyum lembut. Dadaku terasa sesak, penuh, dan kenyang meski sejak bangun tidur belum makan apapun. Napas sedikit sulit, aku tak tahu gejala apa ini…

***

“Heal The World” mencapai akhir lagu, anak-anak dengan riang membungkuk mengucapkan terma kasih kepada para penonton dan berlarian kembali ke backstage. Aku di samping tangga menyambut mereka satu per satu memberikan handuk kecil dan botol air minum. Kai menghamburku dengan pelukan, membuat keringatnya menempel ke bajuku dan kentara terlihat basah.

“Ah, menyebalkan!” umpatku kesal.

“Aku merindukanmu. Itu hukuman karena sudah tak mengacuhkan kami seminggu terakhir ini,” katanya, membuatku refleks memutarkan bola mata.

“Bukan seperti ini caranya, Kim Jongin!” Aku berlari masuk ke dalam menuju ruang tunggu mereka untuk mengambil handuk dan menyemprotkan parfum. Ini memang bukan masalah besar kalau saja aku membawa baju ganti, si Kai itu benar-benar membuat penderitaanku semakin lengkap.

Juyoung memintaku dan Hyojin melepaskan aksesoris yang menempel pada anak-anak sementara ia dan manajer memeriksa situasi di luar stadion demi keamanan artis kami yang akan melewati jalan itu nanti. Suara para anggota SHINee mulai terdengar ketika mereka memasuki kawasan ruang tunggu. Tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang. Kejadian tadi siang bersama Jinki di depan toilet membuatku gugup entah karena apa. Mungkin aku terlalu khawatir menebak-nebak rencana apa yang akan ia lancarkan.

Aku keluar agak akhir. Begitu banyak barang yang harus dirapikan. Anak-anak sudah kembali ke hotel, begitupula dengan para manajer juga dua koordi-senior-jelek-nan-menyebalkan yang sampai saat ini masih saja menganggapku seperti tak terlihat.

Mata benar-benar sulit diajak bekerjasama. Berat. Sangat berat. Kalau saja aku tidak menekan jepitan rambut ke ibu jariku, mungkin aku sudah tertidur… sambil berjalan.

Lobi hotel masih dipenuhi para penggemar yang ikut mengantar idola mereka hingga kemari. Berisik sekali, bukan suara jerit lengkingan aneh yang biasa mereka buat, tapi suara klik ratusan kamera yang menganggu. Ditambah kilatan lampu blitz yang memusingkan mata. Tidak ada idola manapun saat ini, namun mereka tetap mengabadikan gambarku. Daya kuntit mereka sudah sampai ke tahap ini. Hingga nama dan ‘bentuk’ staf pun mereka ingin tahu. Benar-benar…

Tinggal beberapa sentimeter lagi jari-jari tangan kananku mencapai tombol lift, seseorang menarik lenganku kuat-kuat dan menyeretku ke koridor samping. Aku tidak sempat berteriak. Terlalu syok! Bahkan suara kamera pun ikut berhenti. Bulu romaku meremang, tak berani melihat ke belakang siapa yang telah menculikku (lagi, kedua kalinya dalam hari ini).

Orang itu mendudukkanku di sebuah bangku agak panjang dan empuk, punggungku bersandar pada sesuatu yang keras, masih belum berani untuk melihat siapa orang itu. Kudengar ia menutup pintu dan menguncinya. Aku menelan ludah, terlalu letih membuatku tidak mampu memasang posisi kuda-kuda. Niat menghubungi seseorang pun tertahan oleh kenyataan kalau ponselku masih disita Jinki.

Kudengar ia mendesah sambil memukul-mukul badannya. Sekali lagi, aku masih belum berani melihat penjahatnya. Detak jantungku meningkat berkali lipat.

“Berat sekali. Badanmu benar-benar seperti babi!” umpatnya. Kepalaku secepat mungkin menoleh. Berjarak sekitar tiga meter Lee Jinki berdiri di sampingku dengan ekspresi angkuh tentunya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantong celana jins.

Aku menatap berkeliling dan hanya menemukan bahwa ini adalah ruangan besar kosong. Tubuhku sedikit memanjat membenarkan posisi duduk dan melompat terkejut ketika kedua tangan tak sengaja menekan tuts piano menimbulkan bunyi tidak harmoni. Ternyata sedari tadi aku duduk di bangku hitam mengkilat dan bersandar pada grand piano.

“Setidaknya otakku tidak sama seperti babi!” sindirku, dan ia hanya tertawa sinis sambil melipat kedua lengannya. “Kembalikan ponselku!”

Ia mengeluarkan ponselku dari saku hoodie dan mengulurkan tangannya padaku. Saat aku hendak meraihnya, ia menarik tangannya kembali.

“Rugi sekali kalau aku tidak mengambil keuntungan dari ini semua,” katanya.

Aku mulai mengertakkan gigi. “Katakan apa maumu?” Kali ini aku sudah cukup kuat memasang posisi kuda-kuda dan mengepalkan kedua bogem.

Jinki sok terlihat berpikir dengan meletakkan tangan di bawah dagunya ditambah dahi berkerut. “Jadilah budakku! Hmm… kata itu terlalu mengerikan, tapi aku tidak peduli. Intinya, kau harus menuruti semua perintahku!”

Bastard! I won’t!” geramku.

Jinki menaikkan bahunya dan berbalik hendak keluar. “Terserah…” Ia melempar-lemparkan ponselku ke udara. Sial Lee Jinki, belum genap sebulan aku bekerja, gajiku belum dibayar. Kalau ponsel itu jatuh dan rusak, aku tidak akan segan-segan menghajarmu. Nomor penting relasi semuanya ada di sana, jika hilang, rasanya aku berani menceburkan kepala ke dalam mangkuk besar berisi air berkali-kali hingga kehabisan napas.

Okay, I do!” ucapku tak rela.

Ia berbalik perlahan-lahan dengan senyum kemenangan merekah di bibir membuatku muak. Lantas ia menghampiriku, duduk di sampingku menghadap grand piano dan melakukan pemanasan terhadap jari-jarinya.

“Akhir-akhir ini aku sibuk menggarap sebuah lagu untuk soundtrack drama Minho. Dengarkan!”

Belum sempat aku menjawab, ia sudah menekan tuts-tuts piano dan mulai bernyanyi:

“Dan hanbeondo malhan jeok eobtjiman

      (I have been told once but)

      Sasil mallya nan geunare i simjangi ttwineungeol neukkyeosseo

      (I felt the heart beating on that day)”

Aku menahan napas. Entah sensasi apa yang menelusup ke perasaanku. Satu hal yang tak ingin kuakui adalah aku terhanyut bersama suara indahnya. Jinki merapatkan posisi duduknya hingga satu sisi tubuh kami saling bersentuhan memunculkan sengatan listrik ajaib.

“Cheoeumbuteo nan al su isseosseo

      (I know from the start)

      Hwaksinhal sun eobseotjiman

      (I was not sure what)

      Imi urin jeonghaejinun myeonggatasseo

      (we sounded like it is destiny)”

Di bait terakhir ia mengerling ke arahku. Air mukanya begitu tenang membuatku semakin nyaman. Jantungku, sekali lagi, entah kenapa berdetak lebih cepat dan secara misterius otak memunculkan sensasi euforia yang menurutku tidak perlu.

Suaranya adalah the real suplemen buatku. Suara yang paling mudah dikenali dan menjadi ciri khas kelompok. Dulu aku akan langsung menebak mereka adalah SHINee ketika mendengar suaranya di lagu Stand By Me saat dunia drama sedang diguncang ‘Boys Before Flower’. Suaranya adalah identitas nyata bagi kelompok. Kau akan bisa merasakannya jika kau mendengarkan menggunakan hati bukan telinga. Suara itu sudah sangat berjasa, menurutku.

Beberapa detik kemudian ia merampungkan nyanyiannya. Muncul perasaan tidak rela, kecewa, dan ketagihan. Ini aneh! Seharusnya aku membencinya setelah perjanjian budak yang kami buat tadi. Sial!

“Sudah sangat malam, naik ke kamarmu!” titahnya. Aku sudah ingin mengumpat tapi ia menyela, “Jangan membantah. Kau budakku dimulai dari… sekarang!”

Aku mengerang kesal sambil berusaha menerbangkan poni rambut yang menghalangi pandangan dengan meniupnya keras-keras. Ia masih berdiri angkuh di depanku. Aku jadi sedikit menyesal sudah terbius nyanyiannya tadi, dan lama memandangi wajahnya membuatku semakin muak. Aku buru-buru berbalik menuju pintu keluar.

“Tunggu!” serunya. Langkahku terhenti. Ia berjalan menghampiriku. “Ini ambil. Jangan menolak pemberian tuanmu!”

Rahangku melunak ketika sebuah paper bag berisi pakaian dan ponsel ia kaitkan ke jari-jariku. Lantas aku kembali berjalan dan ia menyuruhku untuk berhenti lagi.

“Apa lagi?!” teriakku jengkel.

“Ketika seseorang memberimu hadiah, apa yang harusnya kau ucapkan?” tanyanya, sambil kembali berjalan mendekatiku. “Mana ucapan ‘terima kasih’-nya?”

Aku memutar bola mata dan menarik napas frustrasi.

“―kasih,” lirihku malas.

“Apa? Tidak terdengar. Kau bisu?”

“TERIMA KASIH!” ucapku lantang.

Jinki tersenyum arogan. Ia mengambil langkah dan menarik kepalaku, sedetik kemudian bibirnya sudah mendarat di kening.

“Anggap ini sebagai suatu pembiasaan, karena tugas abadimu adalah berakting menjadi pacarku di hadapan Eomma. Good night, Kim Sena.”

Jinki berjalan keluar lebih dulu, meninggalkanku dengan pikiran berkecamuk.

-to be continued

Author’s note:

– Ketika rehearsal berlangsung, Sena tidak tahu kalau ponselnya berdering, Kris menghubunginya. Namun, kau tahu siapa si pemegang ponsel saat itu. Yep, Mr. Lee Jinki. Ia mengangkat teleponnya dan sedikit terjadi ‘perang’ di antara mereka.

“Mau apa kau menghubungi Sena?” tanya Jinki tak sopan.

“Onew-hyung? Kenapa ponsel Sena ada padamu?”

“Jangan balik bertanya!”

Kris sedikit terkekeh di seberang sana. “Aku dan Sena pernah memiliki hubungan dekat saat masih di Vancouver. Ada masalah, Sunbaenim?”

“Ya,” Jinki menggenggam ponselnya lebih erat, “…aku tidak suka kau!”

©2011 SF3SI, Diya.

sf3si-signature-diya

Officially written by Diya, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

104 thoughts on “Beautiful Stranger [Chapter Seven]

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s