Wrong Path – Direction 1

Author: Yuyu

Main Cast:

  • Choi Minho
  • Hwang Jungmi

Support Cast:

  • Key
  • Han Younji
  • Lee Jinki

Minor Cast:

  • Lee Taemin

Genre: Romance, sad, friendship

Length: Sequel

Note: Tulisan ber-italic dan berwarna ungu adalah flashback

WRONG PATH

Masih segar di dalam ingatanku, hari ketika garis takdir kita saling bertemu. Hari itu adalah satu dari sekian hari biasa yang kulalui dengan rutinitas serupa. Kelas untuk hari ini telah berakhir, bahkan latihan klub pun telah dibubarkan. Seperti biasa, aku adalah orang terakhir yang meninggalkan lapangan. Kali ini dikarenakan aku tidak memiliki hal lain untuk dilakukan sembari menunggu waktu berlalu sebelum tiba waktu bertemu dengan Key.

 

Suara dentuman terdengar saat bola basket menyentuh lantai lapangan indoor diikuti oleh derap langkah yang pelan. Bola terangkat ke udara, melesat cepat dan berputar-putar di bibir ring sebelum masuk ke tengah lingkaran dan kembali menimbulkan bunyi dentuman saat beradu dengan lantai.

Sedikit terengah, aku berlari untuk mengambil bola yang kini memantul semakin rendah. Terlalu hanyut dalam permainanku sendiri, aku sama sekali tidak menyadari pintu lapangan terbuka dan sosok yang kutunggu muncul bersama wanita yang sama tidak terlalu kukenal.

“Hoi!” sapaan yang diserukan mau tak mau membuatku yang telah dipenuhi oleh peluh keringat berhenti sejenak dari aktivitas sejak tadi.

Ketika itu aku mengernyit saat melihat wanita di samping Key. Aku tidak benar-benar tidak mengenalnya. Hwang Jungmi, nama wanita itu. Aku mengetahui namanya karena ia adalah kapten klub basket putri. Selain fakta tersebut, teman-teman satu klub kerap membicarakannya. Yah, wanita itu cukup terkenal dikalangan teman-temanku.

Melihat Key dan Jungmi yang berjalan ke arahku, aku menyempatkan diri untuk menyeka keringat disekitar kening menggunakan kaos yang kupakai.

Segera setelah Key berada cukup dekat, kedua alisku terangkat naik sebagai ganti pertanyaan atas alasan Key membawa wanita itu karena seingatku, hari ini kami sudah membuat rencana untuk belanja bersama. Aku memang ingin membeli sepatu olahraga yang baru sementara Key telah menyiapkan sederet daftar barang yang ingin ia beli.

“Kenalkan, dia teman baruku, Hwang Jungmi,” kata Key seolah mengerti bahasa tubuh yang kuberikan.

Jungmi segera tersenyum ramah saat Key memberikan perkenalan singkat untuknya. Satu tangan wanita itu terangkat, memberikan sapaan tidak formal dan langsung kubalas dengan anggukan kepala.

Key dan Jungmi mengobrol, seolah memberikan kesempatan padaku untuk menilai sosok wanita yang cukup populer.

Wanita itu mengenakan kemeja kotak-kotak ungu yang dua kancing teratasnya dipasang hingga menampakkan tank top hitam berleher tidak terlalu rendah. Lalu dipadankan dengan celana denim ketat serta sepasang sneaker. Pandanganku beralih ke wajah wanita itu. Dua anting masing-masing bermata satu terpasang di telinga kiri sementara daun telinga kanan tidak dipasang aksesoris apa pun. Ditambah rambut yang tidak terlalu panjang dan dikuncir kuda. Memang, harus kuakui, Jungmi terlihat cukup cantik meski tanpa polesan make-up. Hanya saja aku tahu dengan jelas, wanita ini bukan tipe Key.

“Bagaimana, Minho-ya?” tanya Key.

“Oh? Apa?” Aku balik bertanya, terlihat sedikit kebingungan karena tidak menyimak pembicaraan yang berlangsun tadi.

Key berdecak pelan, terlihat kesal. Kedua tangannya terlipat di depan dada, menatapku dengan tajam. Alih-alih mengomel seperti biasa, Key justru menarik napas dalam-dalam untuk menurunkan emosinya.

“Tadi kubilang kalau Jungmi bisa ikut kita hari ini, bagaimana? Kau tidak keberatan, ‘kan?”

“Aku—,”

“Oke, aku tahu kau tidak mungkin keberatan,” putus Key menentukan sesuka hati. Ia tersenyum lebar pada Jungmi dan mulai menarik wanita itu keluar lapangan. “Sudah kubilang, dia tidak mungkin kebetatan. Ayo, kita tunggu dia di luar saja.”

Setelah Key dan Jungmi—yang setengah ditarik—keluar, aku hanya berdecak pelan dan terdiam cukup lama. Saat itu, aku telah merasakan suatu perasaan aneh yang aku sendiri tak bisa pahami. Jika saja aku tahu bahwa suatu hari nanti—tak lama sejak saat itu—aku akan menyakitinya dan menyesali hal tersebut dengan segenap kesadaranku, haruskah aku mengubah jalan nasib kita?

***

Minho berdiri di samping jendela kelas, menatap jauh ke arah lapangan basket yang kini dipenuhi oleh klub basket putri. Kedua tangannya terselip di balik saku celana sementara perhatiannya berada pada sosok seorang wanita yang berlarian penuh semangat di tengah lapangan.

Wanita itu tertawa, suaranya menggelitik telinga Minho meski ia tak bisa mendengar suaranya berhubung jarak yang tidak memungkinkan. Raut wajah wanita itu terlihat begitu segar meski pun harus bermandikan keringat di tengah hari yang terik. Minho menghela napas panjang lalu menunduk.

“Hei, sedang apa kau?” panggil salah seorang teman Minho.

Yang dipanggil menoleh, tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala sebagai tanda bahwa tidak ada hal yang mengganggu pikirannya. Setelah melihat ke lapangan sekali lagi, Minho kembali ke mejanya.

“Kalian kenal Jungmi, tidak? Hwang Jungmi?”

Pertanyaan itu sontak membuat Minho mengangkat wajahnya dari tumpukan tugas yang menyebar di mejanya. Ia menatap lekat pada temannya yang menyebutkan nama wanita yang baru saja ia perhatikan, menanti cerita apa yang akan dibagikan padanya.

Sejak kegagalan pernikahannya, Minho nyaris tidak mengetahui apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari Jungmi. Ia selalu menghindar, tidak ingin terlibat dengan wanita itu dalam bentuk apa pun. Bahkan berpura-pura tidak peduli saja rasanya sulit karena setiap hari Key selalu datang dengan laporan apa-apa saja yang telah Jungmi lakukan, dengan siapa Jungmi berbicara, apa yang dimakannya, bahkan berapa kali Jungmi tertawa.

Sekarang sejak Key sudah tidak lagi kuliah di sini, Minho seakan kehilangan mata-matanya yang spesial. Karena itu ia hanya bisa mengandalkan penglihatan dan pendengarannya sendiri.

“Kudengar Taejun sunbae tertarik padanya.”

“Taejun sunbae? Tidak mungkin, dia kapten klub basket ‘kan?” tanya teman yang lain lalu menoleh pada Minho. “Kau pasti kenal dengan Taejun sunbae karena berada di klub yang sama.”

Minho diam, tidak berniat menjawab. Ia berpura-pura kembali sibuk dengan tugasnya.

“Kudengar lagi, respon Jungmi padanya cukup bagus. Sepertinya sebentar lagi akan ada perkembangan.”

Terdengar suara sorakan dari teman-teman Minho. Mereka melanjutkan pembicaraan yang tidak menentu, membiarkan Minho seorang diri. Kepalanya menoleh ke arah jendela tanpa disadari, memperhatikan lapangan basket yang tidak terlihat terlalu jelas dari tempat duduknya.

Minho sedang berbaring di atas tempat tidurnya sambil membaca majalah olahraga saat ia mendengar suara teriakan Key yang menyerukan namanya. Sambil sedikit mengangkat tubuh bagian atasnya dengan menggunakan kedua siku untuk menyanggah tubuh, ia melihat pintu kamarnya dibuka dengan kasar. Key menatap tajam ke arahnya sambil menghela napas kentara.

Yaaa, apa kau tahu?” tanya Key. Ia duduk di samping tempat tidur Minho yang kosong. Satu telapak tangannya sengaja memukul kaki Minho dengan sekuat tenaga yang mampu ia keluarkan.

Mwo?”

Minho mengubah posisinya menjadi duduk, sama sekali mengabaikan pukulan Key yang bahkan tidak meninggalkan sedikit kesan berarti. Majalah yang dipegangnya dilemparkan ke meja belajar dan mendarat dengan sempurna.

“Kau kenal Taejun sunbae, ‘kan?”

Minho menganggukkan kepala sebagai jawaban. Tentu, sebagai salah satu anggota klub basket, bagaimana dia tidak mengenal kaptennya sendiri? Minho memilih untuk mengerutkan keningnya dan tetap bungkam, menunggu Key menyelesaikan kepingan ceritanya yang belum lengkap.

“Ini terakhir kalinya aku akan ikut campur dengan urusanmu, ingat itu baik-baik,” tukas Key. “Taejun sunbae mengincar Jungmi.”

Kerutan pada kening Minho perlahan-lahan berkurang jumlahnya hingga menghilang sepenuhnya.

“Bagaimana? Kau kaget, bukan? Kau menyesal sekarang?” tuding Key tanpa ampun.

Setelah membiarkan senyap menyelimuti mereka selama beberapa waktu, Minho beranjak turun dari tempat tidur seolah keberadaan Key hanya berupa hiasan saja. Ia mengambil bola basket di sudut kamar lalu berjalan keluar.

Yaaa, eodiga?” tanya Key saat melihat Minho keluar dari kamar. Setelah mendengus pelan karena pertanyaannya tak digubris, Key berlari kecil untuk mengejar Minho yang tengah menuruni anak tangga.

Yaaa, Choi Minho, kau—oh, annyeong haseyo eommonim.”

Nyonya Choi baru saja kembali dari supermarket terdekat untuk berbelanja kebutuhan harian. Saat Key mengekor di belakang Minho, ia melihat Nyonya Choi sedang meletakkan kantung-kantung belanjaan di atas konter dapur dan menyempatkan diri untuk menyapa. Tak butuh waktu lama bagi Nyonya Choi untuk membalas sapaan dari sahabat putranya yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.

Suara pintu depan yang terbuka membuat Key harus buru-buru mengucapkan salam perpisahan tak sampai satu menit setelah ia menyapa. Key kembali berlari kecil. Langkah kaki Minho yang lebar-lebar membuatnya Key menyerah, ia melambatkan langkahnya, berjalan sesantai mungkin. Bagaimanapun ia tahu ke mana harus mencari Minho.

Suara pantulan basket segera terdengar sesampainya Key di lapangan basket tak jauh dari kediaman Choi. Key segera mendekati Minho yang sedang melakukan lay up. Ia berdiri tepat di belakang Minho sambil berkacak pinggang.

“Yaa, Choi Minho, kau mengabaikanku?”

Benar, Minho mengabaikannya. Lagi. Ia tidak menanggapi ucapan pria yang telah menjadi sahabatnya bertahun-tahun silam, justru berjalan memutar sambil mendribel bola.

Key mencibir, mengikuti Minho di belakang sementara pria yang lebih tinggi itu hanya sibuk pada permainannya sendiri.

Setengah jam kemudian, tubuh Minho telah dibanjiri keringat. Key yang lelah padahal tidak melakukan apa pun memilih untuk duduk tak jauh di pinggir. Minho mendekatinya, menghempaskan diri di samping Key seraya meletakkan bola basket.

Key mengambil alih bola yang diletakkan Minho. Ia memainkan benda bulat tersebut, mendorongnya dari kiri ke kanan menggunakan kedua telapak tangannya.

“Aku sangat ketakutan saat menyadari perasaanku pada Jungmi berkembang ke arah yang salah. Waktu itu seharusnya aku sibuk mempersiapkan segala macam kebutuhan pernikahanku, memikirkan bagaimana caranya membahagiakan Younji kelak. Dibandingkan hal-hal itu, terkadang aku justru menghabiskan waktu untuk merindukan Jungmi. Apa kau tahu betapa kalutnya aku ketika itu?”

Key menunduk, masih memainkan bola di tangannya.

Wajah Minho terbenam dibalik kedua telapak tangannya, mengusap wajahnya yang kusut.

“Aku tidak bisa mengacaukan pernikahan hanya karena perasaan dangkal yang tiba-tiba saja tumbuh. Aku lebih dulu mengenal Younji, aku menyukainya lebih lama dibandingkan perasaanku pada Jungmi. Maka dari itu, aku harus memangkas habis perasaanku terhadap Jungmi, apa pun yang terjadi.”

“Tapi Younji mundur, dia membatalkan pernikahan kalian. Tidak hanya itu, dia bahkan telah menikah sekarang. Itu juga termasuk pengkhianatan, ‘kan?” Key bersuara, mencoba agar tidak terdengar sinis. “Kalian impas, saling mengkhianati. Jadi mengapa kau tidak mengakui saja perasaanmu pada Jungmi?”

“Impas?” Minho tertawa kering. “Kau pikir hubungan itu seperti matematika yang jika satu dikurang satu maka hasilnya nol?”

“Kau sendiri yang memulai hitungan semacam itu,” cetus Key. “Apanya lebih dulu mengenal Younji, lebih lama menyukai Younji? Bukankah kau juga perhitungan terhadap perasaanmu sendiri?”

“Benar juga,” kekeh Minho meski tak bertahan lama karena raut wajahnya kembali serius. “Dan sekarang perasaanku menjadi kacau setelah mendengar berita yang kau bawakan untukku. Aneh, kupikir setelah menghindari Jungmi sekian waktu, perasaan semacam ini tidak seharusnya menggerogotiku?”

***

Minho duduk seorang diri di dalam cafe yang ramai sementara para pelayan lalu-lalang di sekitar mejanya yang terletak di tengah ruangan. Sudah tak terhitung berapa kali ia mengangkat pergelangan tangannya untuk memeriksa jarum-jarum yang terus bergerak pada jam tangannya. Ia tidak terlihat tenang.

“Berapa lama kau ingin berada di sini, Hyung?” tanya Taemin yang akhirnya jengah. Ia berdiri di depan Minho. Wajahnya mengguratkan ketidaksenangan yang ia rasakan terhadap pria yang ia kenali sebagai mantan kekasih Younji itu.

Minho mendongak, menatap Taemin sebentar lalu kembali menghidupkan layar ponselnya untuk memastikan belum ada pesan balasan yang masuk, seolah jika ia tidak membuka kunci layar maka pesan tersebut akan tertunda.

“Mereka sedang berlibur,” kata Taemin lagi. Ia melihat sekeliling sebentar untuk melihat apakah masih ada pelanggan yang belum terlayani sebelum ia putuskan untuk menarik satu kursi di depan Minho dan duduk. “Sudah kukatakan berkali-kali, Younji noona sudah lama tidak kemari sejak ia berhenti bekerja. Mengapa hyung tidak percaya?”

“Aku tahu, aku tidak berniat mengganggu liburan mereka. Hanya saja…,” Minho memotong ucapannya sendiri dengan benturan pikiran di dalam benaknya. Ia menghela napas pelan namun panjang sebelum akhirnya kembali menatap pria yang lebih muda di hadapannya. “Hanya saja ada hal yang harus kukatakan pada Younji saat ini juga. Tidak bisa ditunda.”

Taemin mendengus, mengejek tiap kata yang Minho lontarkan. Beberapa detik Taemin mendelik tajam. Sepertinya ada beberapa hal yang ingin ia beritahukan pada Minho, namun karena ia rasa cukup lancang memberikan nasehat pada orang yang tidak terlalu akrab dengannya, Taemin menelan kembali semua kata-katanya.

“Baiklah kalau begitu, selamat menikmati,” ujar Taemin kembali pada sikapnya sebagai seorang pelayan kepada pelanggannya.

Minho tersenyum tipis meski tidak lagi dilihat oleh orang yang telah meninggalkannya. Kepala Minho berputar ke samping, memperhatikan pengunjung yang telah berganti wajah sejak pertama kali ia masuk ke dalam cafe.

Drrrt! Drrrt!

Sontak kepala Minho kembali berputar ke tempat semula, ponselnya yang masih berada dalam genggaman. Harapan melambung tinggi dalam hati Minho bahkan sebelum ia membuka pesan dan memastikan pesan itu merupakan pesan yang ia tunggu-tunggu sejak tadi.

Aku tidak bisa, aku sedang berada di Busan saat ini.

–          Younji

Tanpa memedulikan penolakan dalam pesan yang dikirimkan Younji, Minho bergegas keluar cafe setelah meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja.

Hari telah cukup larut saat Minho tiba di Busan. Ia tidak berniat menghabiskan malam di sana mengingat kedatangannya yang terburu-buru tanpa membawa apa-apa kecuali dirinya sendiri dan sedikit kewarasan yang masih tersisa, karena itu ia harus bergegas.

Baru saja turun dari kereta, Minho segera merogoh sakunya untuk mengeluarkan ponsel dan menghubungi orang yang ingin ia temui lebih dari apa pun.

“Younji-ya, bisakah kita bertemu?” tanya Minho dengan nada memohon yang tak bisa disembunyikan.

“Sebentar saja,” tambah Minho dengan cepat sebelum wanita di seberang telepon mampu menjawabnya.

“Aku….” Suara Younji terdengar tak lama setelahnya. Jeda yang diberikan terlalu lama, membuat Minho tak yakin wanita itu masih tersambung dengannya.

“Aku sudah ada di Busan sekarang,”

Ne?! Kau ada di sini?!” jerit Younji tak mampu menutupi rasa kagetnya.

“Kau ada di hotel sekarang? Aku akan segera ke sana, aku benar-benar harus bertemu denganmu,” desak Minho.

“Minho-ya, jangan kemari. Aku tidak akan menemuimu.”

“Aku akan menunggu sampai kau datang. Berapa lama pun itu,” tegas Minho. Ia langsung memutuskan saluran telepon begitu mencapai jalan utama dan menghentikan sebuah taksi lalu meminta supir tersebut untuk mengantarkannya ke hotel tempat Younji menginap.

Tidak butuh waktu lama baginya untuk sampai. Setelah turun dari taksi dan mengucapkan terima kasih pada supir, Minho memandangi bangunan hotel yang menjulang lalu memperhatikan sekitar. Ia tidak melihat sosok Younji, belum.

Dengan sabar, Minho duduk di bangku dekat hotel. Ia memilih untuk menunggu Younji di sana. Dengan sedikit sisa kepercayaannya, ia bertahan untuk tidak menelepon Younji dan mengabari jika ia telah berada di depan hotel. Minho yakin bagaimana pun Younji pasti akan memenuhi permintaannya untuk bertemu.

Apa yang dilakukan Minho hari ini adalah keputusan berat yang harus ia ambil, sebuah keputusan yang ia ambil setelah kesadarannya kembali.

Akhir pekan, Minho menghabiskan waktunya di Apgujeong. Sambil menikmati waktu dengan santai, Minho menyeruput minuman dinginnya seraya berjalan menuju salon tempat ia dan Key telah membuat janji untuk bertemu.

Key keluar dari salon. Tangannya terangkat, membenarkan letak potongan rambut barunya yang sedikit bergeser dari tatanan seharusnya saat tertiup angin. Satu tangan Key yang lain memegang erat beberapa tas kertas berisi barang-barang belanjaannya. Beberapa meter dari sana, Minho melihat Key dan mempercepat langkahnya.

Mwoya? Kau seorang diri belanja sebanyak ini?” ejek Minho. Ia mengintip isi-isi di dalam tas kertas tersebut.

“Tentu saja,” sahut Key bangga. “Masih ada yang ingin kubeli, ayo temani aku.”

“Aku curiga, jangan-jangan kau belanja untuk kebutuhan rumah barumu.” Minho tergelak.

Yaaa!” hardik Key, langkahnya sontak terhenti. Ia menatap kesal ke arah Minho yang tiba-tiba saja mengungkit tentang rumah baru. Hal itu refleks mengingatkan Key tentang istrinya yang hampir selalu suskes membuat darahnya mendidih. “Jangan membicarakan apa pun yang bersangkutan dengan pernikahanku.”

“Mengapa kau malah kesal? Pernikahan itu adalah ikatan yang sakral, harusnya kau bahagia,” goda Minho.

“Kau akan mati kalau terus membicarakan hal itu,” ancam Key bersungguh-sungguh.

Minho kembali tergelak senang. Tapi, tahu dengan jelas bagaimana watak Key, Minho menurut dan tidak lagi membicarakan apa yang dilarang oleh Key. Sebagai gantinya, mereka membicarakan beberapa topik yang tidak penting yang pada akhirnya membawa perbincangan mereka ke hal-hal lain.

“Ah! Benar!” seru Key begitu saja saat Minho sedang menceritakan tentang pertandingan QPR semalam. Mau tidak mau, Minho menghentikan ceritanya, memberikan tatapan penuh tanda tanya. “Kebetulan kita sedang kemari, bagaimana kalau kita sekalian membeli hadiah untuk Jungmi?”

“Jungmi?”

“Kau…” Key menghentikan ucapannya sambil memicingkan mata dan mendekatkan wajah pada Minho. “Jangan katakan kalau kau tidak tahu minggu depan adalah hari ulang tahun Jungmi?”

Minho hanya diam karena pada kenyataannya ia memang tidak tahu. Key berdecak sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali, mencoba untuk mendramatisir keadaan.

“Teman macam apa kau,” sindir Key, tidak bersungut terlalu lama karena beberapa detik setelah menyuarakan sindirannya ia langsung menarik Minho memasuki toko pakaian di pinggir jalan.

Minho memegangi semua tas belanjaan Key karena pemilik aslinya sedang sibuk memilah-milah pakaian yang cocok untuk Jungmi. Minho tidak protes, ia tahu keahlian Key adalah selera berbusananya yang patut diacungi jempol serta kemampuannya untuk memanfaatkan situasi. Seperti sekarang, menggunakan alasan mencari hadiah ulang tahun Jungmi untuk memanfaatkan Minho agar membawakan belanjaannya.

Key terus berceloteh. Setiap pakaian yang ia lihat dan pegang selalu dikomentari tentang nilai positif dan negatifnya, atau tentang cocok atau tidaknya Jungmi mengenakan pakaian itu. Minho meletakkan kepalan tangannya di depan mulut, menguap kecil untuk menahan kantuk. Sekarang ia tahu, seperti inilah perasaan Key saat ia bercerita tentang pertandingan sepak bola atau basket yang sangat digemarinya.

Setengah jam lebih mereka habiskan di dalam toko tersebut dan Key masih belum putus asa mencari pakaian yang akan terlihat sangat sesuai untuk Jungmi. Minho menguap lagi untuk kesekian kalinya dalam tiga puluh menit terakhir. Merasa bosan, Minho berjalan ke jendela, melihat lautan manusia yang hilir-mudik di depan deretan pertokoan. Lalu, sosok seorang wanita di luar sana menarik perhatian Minho hingga dengan ajaibnya mampu menguapkan rasa kantuknya.

“Menurutmu yang ini atau yang ini, Minho-ya?” Key berjalan mendekati Minho dengan dua helai pakaian di tangannya. Ia mengangkat bergantian satu per satu pakaian tersebut saat meminta pendapat Minho. Sebenarnya, Key tidak terlalu memerlukan pendapat Minho karena pada akhirnya Key sendiri yang akan membuat keputusan tanpa mempertimbangkan pendapat temannya. Tapi tetap saja dia bertanya.

Yaaa, apa yang kau lihat?” Kedua alis Key bertautan. Ia ikut melihat keluar jendela, penasaran apa yang begitu menyita perhatian Minho hingga pertanyaannya terabaikan. Matanya melebar setelah menangkap apa yang sedang Minho amati.

“Oh!” seru Key pelan, tanpa sadar menunjuk Jungmi yang sedang tertawa pada pria di sampingnya. “Itu Jungmi dan Taejun sunbae, ‘kan?”

Minho mendengar dengan jelas setiap perkataan Key dari awal namun tidak berniat menyahut. Deretan gigi Minho yang saling beradu membuat bunyi gemeretak pelan. Semakin ia memperhatikan Jungmi dan seniornya, semakin ia merasa panas.

Sudah cukup lama sejak terakhir kali Minho melihat Jungmi tertawa bahagia seperti itu.  Biasanya ia bisa membuat Jungmi tertawa seperti itu setiap kali mereka bermain basket atau sekadar menghabiskan waktu di kampus untuk bertukar cerita. Kini, menyaksikan pria lain yang justru membuat Jungmi terlihat begitu gembira nyatanya membuat Minho merasa lebih dari iri.

Aku juga bisa membuat Jungmi bahagia seperti itu, batin Minho.

Satu baris kalimat yang digumamkan bantin Minho telah membuka pikirannya sendiri. Ya, ia memang selalu menyukai garis melengkung di wajah Jungmi. Ia juga suka mendengarkan suara tawa Jungmi yang selalu bertahan di pendengarannya meski tawa itu sendiri telah mereda cukup lama. Awalnya ia tidak berpikir terlalu jauh saat memutuskan untuk menghindari Jungmi dan memangkas perasaan dangkalnya. Ia hanya berpikir asalkan masih bisa melihat Jungmi tersenyum dan tertawa, ia akan tetap menikmatinya. Namun, salah besar. Minho tidak bisa menikmati hal-hal yang ia senangi dari Jungmi jika penyebabnya adalah pria lain.

“Key-ah, kurasa aku tidak bisa melepaskan Jungmi,” gumam Minho sangat pelan.

Butuh waktu beberapa saat bagi Key untuk mencerna dengan baik ucapan Minho. Bahkan setelah ia berhasil menangkap makna dari kata-kata Minho, Key tidak tahu apakah ia harus bersorak senang karena usahanya selama ini berbuah atau justru meninju wajah Minho yang sangat terlambat menyadari perasaannya sendiri. Tapi, sepertinya pilihan kedua akan Key hilangkan. Ia tidak ingin menyakiti tangannya sendiri dengan memberikan tinju yang tidak akan membuat Minho merasa kesakitan sama sekali.

Sekitar satu jam kemudian, sebuah senyum merekah di wajah Minho ketika dilihat seorang wanita berlari kecil keluar dari pintu hotel. Minho segera berdiri, ikut berlari kecil menghampiri Younji.

“Mengapa kau benar-benar menungguku di sini?” tanya Younji setengah protes.

“Karena aku tahu kau pasti tidak akan tega untuk mengabaikanku begitu saja,” tukas Minho serius.

Kening Younji berkerut. Pikirannya masih diliputi berbagai pertanyaan atas alasan Minho yang sepertinya sangat penting.

Menyadari hal itu, Minho melangkah maju hingga berada begitu dengan dengan Younji. Ujung sepatu mereka saling bersentuhan. Minho mengulurkan tangan, menggenggam tangan Younji dengan begitu erat.

Younji tersentak kaget. Ia menundukkan kepala, menatap lekat telapak tangannya yang kini telah dibungkus oleh tangan Minho yang besar. Sudah lama ia tidak merasakan kehangatan dari tangan Minho. Namun kini, baru ia sadari jika sentuhan Onew sedikit lebih hangat daripada Minho.

“Younji-ya, ketika kubilang aku menyukaimu, aku tidak berbohong. Ketika kukatakan aku akan bertanggung jawab saat mengetahui kau….” Minho terdiam. Ia baru saja mulai membuka mulut dan berbicara, namun lidahnya langsung kelu untuk mengucapkan kata hamil karena hal itu hanya akan mengingatkan tentang luka-luka yang mereka miliki.

Minho menelan air liurnya, menenangkan dirinya sendiri dari hamparan kenangan yang tiba-tiba saja menghampiri. Setelah berhasil menguasai diri, Minho melanjutkan pengakuannya. “Ketika kukatakan aku akan bertanggung jawab atas hidupmu, aku juga tidak berbohong. Apa pun itu, aku tidak pernah berbohong padamu. Karena itu, aku ingin tetap menjaga hubungan seperti itu denganmu, aku tidak ingin berbohong tentang apa pun.”

Younji mendongak, kali ini beralih menatap lekat sepasang mata bulat dan besar yang terlihat agak gelisah serta perasaan bersalah yang terbaca lebih jelas daripada yang pernah Younji lihat sebelumnya.

“Aku tahu aku selalu menyangkalnya, aku tahu,” kata Minho lagi. Ia tidak keberatan meski ia menjadi pembicara tunggal saati ini. “Tapi, perasaan ini sudah tidak bisa kuhentikan lagi. Aku selalu mencoba untuk membuang jauh-jauh perasaan itu, anehnya ia justru berkembang semakin besar.”

Perlahan-lahan, Younji mulai mengerti ke mana arah pembicaraan ini. Yah, sepertinya ia mulai tahu.

“Aku menyukainya, Hwang Jungmi.” Minho diam cukup lama. Ia memperhatikan reaksi wajah Younji yang sedikit berubah.

“Aku menyukainya. Maafkan aku Younji-ya, maafkan aku,” lanjut Minho dengan suara yang sedikit bergetar.

To Be Continue…

Note:

  • Belum diedit
  • Tulisan beritalic dan berwarna ungu adalah flashback
  • Disarankan membaca Incomplete Marriage dan Married By Accident terlebih dahulu.

©2011 SF3SI, Yuyu.

Officially written by Yuyu, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

31 thoughts on “Wrong Path – Direction 1

  1. awal baca nggak ngeh kalo ini lanjutan ff Jjong dan Jinki.
    agak bingung juga karena pergantian waktu antar paragrafnya kurang jelas, alur maju-alur mundur..

    saya baru tau kalau Minho-Key sahabatan, Mian Yuyu, agak lupa nih..

    Waktu polling buat pilih kisah siapa yang mo dibikin, saya pilih Key, karena dia lebih berhubungan ke Jinki, di kisah Married by Accident, makanya awal baca agak bingung dikit..😛

    Ok Yuyu, ditunggu part selanjutnya ya..🙂

  2. uhuuu….dah publish.!

    aku snyum sndiri pas younji bilang genggaman onew lbh hgt drpd minho,hahaha#ngarep pgen tau bgt kelanjtn onew-younji.

    blum ‘klik’ bgt ama jungho couple, alnya d MBA g bnyak d bahas. Tapi pgen tau slanjtnya bgmana, pastinya minho btuh perjuangan keras untk mdaptkan hati jungmi kmbli, dan ku harap onew-younji bnyak dimasukin ke cerita..kekkek#modus😉

  3. waa seru ceritanya!!! ngakak ama matematikanya. wkwkw.

    Hah?BLM DIEDIT? iya sih ada dikit typo atau mungkin aku yg salah lihat .-.

    Tapi aku suka!! ditunggu lanjutannya🙂

  4. Aku belum ngeh sama ceritanya….
    Hehe. Jelas banget karena aku blum baca series2 sebelumnya.
    Yap… Aku terbang ke library dlu.

    Secara dangkalnya, aku suka banget dengan sedikit kebingungan. Chu

  5. di akhir2 part ini baru ngeh klo ff ini smcm sequel–ato bisa diblg prequel–dari MBA. hahahaha

    di awal2 baca aku bingung T.T
    aku kira itu mereka masih SMA. eh trnyata udh kuliah. hahahaha hampir smpe setgh part ini aku gak dpt menangkap ceritanya. wkwkwkwk

    IM udh bc gak ya. oh udh deh kynya ._.
    klo gak slh IM itu ttg jjong sm istrinya kan ya? trus MBA lbh ke onyu n younji. trus ini mino n jungmi. nah klo key sm istrinya…. pasti ff key yg bakal publish itu kan? hahahahhaha

  6. Wahhh..
    part 1 nya mucul juga ternyata,
    hohhhh….masih ada kaitnannya dengan MBA ternyata,🙂
    ok ok baru ngerti sekarang, kenapa Minho langsung bilang suka sama jungmi di MBA, ini dia alasannya,
    hebat bisa nyambungin ceritanya, haduhhh T.O.P

    next part ditunggu, eon ^^

  7. ooh jadi makin ngerti nih gmna prasaan mino ke jungmi. jadi part ini kbnyakan flashback dan hubungan cerita ini sm yg MBA itu, kyknya kisah utamanya blm bgtu nampak nih, momen mino jungmi nya jg blm muncul, mngkn nnti d part dua ya eon?
    waaa~ next part asap eon😉

  8. dan ternyata ini ff di post juga setelah sekian lama saya menunggu/?
    dan juga baru nyadaaarrrrr ini nyambung di ff incomplete marriage sma married by accident dohhhh eon semuanya pada menyambung/? dan sekian memori tentang ff mu yg dua itu terekam diotakku/? elah apa ini–
    next eon next;))

  9. masih berhubungan dengan MBA?? Jadi sebenernya Minho emang suka sama Jungmi tapi dia takut nyakitin perasaan Younji…
    Daebak lah lanjuuuuuutt..

  10. wah, tau2 udah nongol aja si minho.. yuyu, aku rada bingung sama alurnya.. ini kejadiannya itu setelah onew-younji bersatu, ato pas younji masih galau? trus di sini key udah nikah ya ceritanya? berarti ini timeline-nya setelah MBA ya menurutku?🙄 flashbacknya agak mengganggu, yu.. tp ceritanya masih bisa ditangkep sih.. semangat bikin lanjutannya, ditunggu😉

  11. maafin kak Yuyu komennya menyusul sekarang, huehue..

    aku suka ceritanya. etapi karakter Taejun malah bikin aku ingat Minhi di TTBY.. hhehe
    lanjutannya semangat kak Yuyu ^^9

  12. maafin kak Yuyu komennya menyusul sekarang, huehue..

    aku suka ceritanya. etapi karakter Taejun malah bikin aku ingat Minhi di TTBY.. hhehe
    lanjutannya semangat kak Yuyu ^^9

  13. huwah, akhrnya wrong path menang dan rilis duluan.
    #soraklompat2
    dari setting waktunya ini pas onew-younji hyunji-jjong main kartu di kmr hotel jjong di busan kan ya? Berarti udah part2 akhir mba dong?
    Oh, aku kira bkal dicritain dr setting yg onew sering main sama jungmi pas younji mau keguguran itu. Hehe
    whateverlah, aku selalu suka cerita paralel kamu yu. Dr jaman hello bihyul, love still goes on, tpn, im, sampe mba kamu favorit deh.
    Semangat! Selama apapun update-annya, bkal selalu ditungguin. Hehe

  14. tiba2 pengen obrak-abrik librarynya yuyu lg deh.
    Hahaha
    kangen TPN gara-gara WP. Dan jagonya, yuyu bisa bikin minho jd 2 karakter yg super beda di dua ff ini.
    Semangat yuyu!🙂

  15. aku suka deh scene yg onew jealous gara2 tau minho dtg nemuin younji. (di WBA)😀
    nah, skg lg nungguin aksi minho mendapatkan hati jungmi kembali.
    Semangat bang minho.

  16. Awal baca aku mikir, koq rasanya g asing yaa?
    Hyaaa trnyata ini lanjutan incomplete marriage ama MBA yaa?
    Ehh.. MBA udh end kh? #kudet -_-
    Lanjutt dulu aaahhh~

  17. #NGEEEEK *suara biola rusak* #diinjek
    Aku baca IM tapi gabaca MBA (_ _)a maaf unnih baru baca soalnya syulit nehhh nyari waktu neeeh (??) Ngahahahah
    Aduh repot amat sih lo Minho. Tinggal ngelamar gue kan bisa #pletakkdzieengg
    Tapi tapi tapi, yg aku bingungin itu Younji udah nikah kan yak? Buat apah si Minho bilang… (?) *oke lupakan*
    Aku langsung ke lanjutannya yakkk… :3 #diinjek

  18. Daebak! Minho itu ya… assdgfhgklwlfh&*)$%*(#& /abaikan/
    Dapet banget feel-nya, dan cara penulisnya buat ngebangun suasana di cerita ini juga asik. Ga berat atau bertele-tele. Okeh, Lanjut ke part selanjutnyaaa~

  19. To: Note…
    #1. Gak masalah
    #2. Siap…
    #3. Udah dibaca… dan sukaaaaa….. bangeeettttttt……. peyuk jinki….

    Ehem, sekarang buat Wrong path…
    Apa yang menurut kita baik, belum tentu itu bener…
    dan apa yang menurut kita salah, mungkin itulah yang terbaik….
    Bingung…???? Eon juga….

    (Cengeng Part 1)
    Pas aku baca Incomplete Marriage, disitu Hyunji nangis sedih
    karena sahabat yang sangat dia cintai dan lindungi gagal menikah
    dengan kekasihnya, Minho, padahal mereka udah ‘melewati batas’
    dan Hyunji tahu, betapa younji sngat mencintai Minho
    sampe dia melepas apa yg seharusnya dia jaga buat Minho…
    Aku nyessekkk, ikutan nangis…

    (Cengeng Part 2)
    Aku baca Married By Accident.
    Younji dihadapkan kenyataan bahwa sang calon suami yg sangat dia cintai,
    yang mengajarkan dia ttg apa itu cinta, tak mungkin bisa mencintai dirinya
    dengan sepenuh hati jika dia juga menyimpan wanita lain di hatinya…
    Younji mengambil keputusan untuk membatalkan pernikahan.
    Satu2nya orang yg dia anggap bisa menariknya dr kukungan
    sang ayah ringan tangan, pupus… dia terpuruk. Dia hancur…
    sampe akhirnya dia harus menerima “pinangan” Onew.
    Disini, aku gak terlalu ngerti, apa yg bisa buat Minho
    berpaling dari Younji, padahal, Minho terkesan cukup bertanggungjawab
    ketika dia tahu Younji hamil, meskipun saat itu dia sdh berstatus istri Onew…
    Aku nangis… untuk Younji… untuk Onew…. karena aku anggap…
    nih, dua orang anak manusia terjebak situasi yang sangat rumit…
    Apakah ada jalan keluar…???
    Dan ternyata emang ada, dan sangat manis, malah… ^ ^
    Walaupun smpet banjirrr….. sepanjangan di Part 9 MBA… kekekekee, malunya….

    Nah, sekarang… keliatan…
    Minho emang gak SEBRENGSEK itu, ternyata…
    #Flamers siap2 asah golok…
    Dia pun berjuang keras untuk menyangkal perasaannya…
    tapi nyatanya emang dia gak bisa…
    Well, good luck Taejun…. O.O…
    Salah, yah…???
    Mian… aku inget “Kang Taejun” di drama MInho yg dia peranin…
    Maksudku…, Good Luck, Minho…
    Kejar cintamu, saeng… Kejar Hwang Jungmi mu…
    Eon tunggu di Wrong Path Part 2…
    Mudah2an kamu gak salah jalan…
    Insya Alloh…

    heh……….????????/:’#%!.<?//*&^,';

  20. Tukan bener. Awal baca wrong path aku ngerasa familiar banget sama ff ini karna sebelumnya kayak pernah baca tapi dengan cerita yg beda tapi tokohnya sama. Jadi ini ceritanya minho sama jungmi yaa?
    Kyaaa !!! Aku suka tapi lanjut dulu yaa kepart selanjutnya🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s